Danantara Kelola Dividen Rp150T : Dukung Program Ekonomi dan Optimalisasi Investasi Nasional

Oleh : Naura Astika )*
Pemerintah Indonesia kini tengah berada dalam fase transisi penting menuju model pembangunan yang lebih mandiri, modern, dan berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang. Di tengah semangat reformasi sistem pembiayaan nasional, hadirnya Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menjadi salah satu kebijakan strategis paling signifikan di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Salah satu tonggak penting dari transformasi ini ditandai dengan pengelolaan dana dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) oleh Danantara yang diperkirakan mencapai Rp150 triliun pada tahun ini. Dana dalam jumlah besar ini tidak lagi dikembalikan ke kas negara, tetapi akan dikelola ulang untuk mendanai proyek-proyek investasi yang produktif, berkelanjutan, dan strategis bagi masa depan ekonomi nasional.
Menurut pandangan yang berkembang di lingkungan manajemen Danantara, kebijakan ini bukan hanya merupakan efisiensi fiskal, tetapi juga langkah menuju kemandirian investasi nasional. Dana dari dividen BUMN yang sebelumnya langsung masuk ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), kini dimanfaatkan kembali untuk memperkuat struktur pembiayaan proyek strategis dan menopang kebutuhan pendanaan BUMN tanpa harus menunggu skema Penyertaan Modal Negara (PMN) yang rumit dan panjang prosesnya. Dalam hal ini, Danantara berperan sebagai katalis utama pendanaan nasional, menggantikan skema lama yang terlalu bergantung pada keputusan politik dan alokasi anggaran rutin.
Langkah ini dinilai sejalan dengan arah kebijakan ekonomi Presiden Prabowo, yang menekankan pentingnya investasi sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Pemerintah menargetkan pertumbuhan sebesar 8% pada tahun 2029. Untuk mencapai target tersebut, dibutuhkan investasi dalam jumlah besar, cepat, dan efisien. Dalam hal ini, peran Danantara menjadi sangat vital. CEO Danantara, Rosan Roeslani, pernah menyampaikan bahwa selama 10 tahun terakhir, total investasi yang masuk ke Indonesia mencapai Rp9.100 triliun. Untuk lima tahun ke depan, targetnya ditingkatkan menjadi Rp13.000 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa investasi bukan sekadar bagian dari strategi ekonomi, melainkan motor utama pembangunan.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa dana sebesar Rp150 triliun yang berasal dari dividen BUMN akan dimanfaatkan untuk investasi yang berkelanjutan. Skema PMN untuk perusahaan-perusahaan pelat merah, kini berubah setelah terbentuknya Danantara. Adapun diketahui, suntikan modal untuk BUMN tidak lagi melalui APBN yang disetujui Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), namun langsung dari Danantara.
Dengan dana kelolaan yang diperkirakan mencapai US$7 miliar atau sekitar Rp120–150 triliun pada tahun ini saja, Danantara berencana memanfaatkan kekuatan finansial tersebut sebagai alat untuk mengakselerasi pertumbuhan sektor riil. Investasi yang dilakukan tidak hanya berfokus pada aspek keuntungan finansial semata, tetapi juga mencakup penciptaan lapangan kerja yang berkualitas, transfer teknologi, dan peningkatan kapasitas industri nasional. Danantara ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang diinvestasikan memberikan dampak ganda bagi perekonomian Indonesia.
Opini yang berkembang dari berbagai pihak melihat kebijakan pengelolaan dividen BUMN ini sebagai bentuk keberanian pemerintah dalam mengambil jalur baru untuk mendanai pembangunan. Selama ini, ketergantungan pada APBN membuat proses pendanaan proyek infrastruktur dan pengembangan sektor strategis menjadi sangat birokratis. Dengan mengalihkan sumber dana dari APBN ke dividen yang dikelola secara profesional, pemerintah tidak hanya mengurangi beban fiskal, tetapi juga membuka ruang lebih luas bagi pengelolaan aset negara yang berbasis pada prinsip value creation.
CEO Danantara, Rosan Roeslani Danantara akan mengelola aset sebesar Rp 15.000 triliun. Menariknya, pendanaan Danantara tidak lagi bergantung pada penyertaan modal negara melalui APBN, melainkan dari dividen perusahaan negara yang akan dikelola ulang untuk proyek-proyek strategis.
Transformasi peran Danantara ini juga dinilai mampu meningkatkan daya tarik investasi asing. Dengan mekanisme leverage yang disebutkan oleh CEO Danantara, yaitu mengalikan dana awal hingga empat hingga lima kali lipat, potensi pertumbuhan investasi menjadi jauh lebih besar. Danantara tidak hanya bertindak sebagai pengelola dana, tetapi juga sebagai jembatan untuk membangun kepercayaan pasar, baik domestik maupun global. Ketika dana dalam negeri dapat dikelola dengan profesional dan hasilnya berdampak nyata, maka iklim investasi di Indonesia akan semakin solid dan kompetitif.
Kebijakan ini sekaligus menjadi jawaban atas kritik lama terhadap inefisiensi pengelolaan BUMN yang selama ini sering mengandalkan dana negara tanpa menunjukkan performa yang memadai. Kini, dengan adanya mekanisme baru di bawah Danantara, setiap suntikan dana akan disertai tanggung jawab kinerja yang jelas, transparan, dan terukur. BUMN dituntut untuk menunjukkan kesiapan dan potensi bisnis yang konkret, bukan hanya mengandalkan status sebagai entitas milik negara.
Pada akhirnya, kebijakan pengelolaan dividen BUMN oleh Danantara mencerminkan arah baru perekonomian Indonesia yang ingin lepas dari ketergantungan fiskal, sekaligus bergerak ke arah sistem pembiayaan modern berbasis investasi produktif. Inisiatif ini sangat relevan dalam mendukung visi besar pemerintahan Presiden Prabowo untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global. Dengan pengelolaan yang profesional dan bertumpu pada tata kelola yang baik, Danantara bukan hanya simbol perubahan, tetapi juga alat konkret untuk membangun masa depan ekonomi Indonesia yang lebih kuat dan mandiri.

)* Pengamat Kebijakan Ekonomi

Danantara Jadi Motor Pembaruan Bagi Ekosistem BUMN

Oleh : Abdul Syukur )*

Pembentukan Danantara Indonesia sebagai Badan Pengelola Investasi merupakan tonggak penting dalam transformasi pengelolaan aset dan perusahaan milik negara. Melalui pendekatan yang terukur dan profesional, Danantara diharapkan mampu memperbaiki struktur pengelolaan BUMN yang selama ini dinilai kurang efisien dan belum optimal.
Hingga saat ini, jumlah perusahaan BUMN dan afiliasinya mencapai hampir 900 entitas, yang tersebar mulai dari induk, anak hingga cucu perusahaan. Jumlah ini tidak hanya merepotkan secara administratif, tetapi juga menimbulkan duplikasi model bisnis dan inefisiensi sumber daya. Dalam konteks inilah Danantara hadir membawa misi besar: menyederhanakan, memperkuat, dan mengonsolidasikan seluruh aset BUMN agar dapat memberikan manfaat nyata bagi perekonomian nasional.
Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa lembaganya mengusung empat tahap dalam transformasi BUMN, dimulai dari tinjauan fundamental terhadap bisnis. Tinjauan ini dilakukan dengan memetakan perkembangan industri, analisis daya saing antarperusahaan, serta mengevaluasi kemampuan internal setiap entitas. Seluruh temuan tersebut dimasukkan dalam peta industri yang komprehensif untuk membantu pengambilan keputusan.
Hasilnya mengungkapkan adanya banyak tumpang tindih. Di sektor logistik, misalnya, tercatat hampir 20 perusahaan BUMN yang bergerak di bidang serupa, namun tidak cukup kompetitif karena skala usaha yang kecil. Kondisi serupa ditemukan di sektor asuransi dan pariwisata. Tak kurang dari 16 entitas asuransi beroperasi di bawah naungan negara, serta sekitar 130 hotel milik BUMN tersebar tanpa manajemen terpadu.
Tahap kedua yang kini mulai dijalankan adalah konsolidasi, yaitu penggabungan perusahaan-perusahaan dengan model bisnis serupa menjadi satu entitas yang lebih kuat dan fokus. Sebagai contoh, sektor logistik akan diintegrasikan menjadi satu pemain besar yang mampu bersaing secara nasional bahkan global. Demikian pula di bidang asuransi, yang akan dikerucutkan menjadi tiga jenis perusahaan inti, masing-masing untuk asuransi jiwa, umum, dan kredit. Langkah serupa diterapkan dalam industri perhotelan yang nantinya akan dikelola dalam satu holding profesional, dengan potensi menjadi operator terbesar kedua di Indonesia.
Menurut Dony, transformasi ini baru mungkin dilakukan karena Danantara memiliki kewenangan langsung atas aset dan dividen seluruh BUMN. Artinya, merger dan akuisisi bisa dijalankan dengan lebih luwes, tanpa perlu melewati prosedur birokrasi yang kompleks antarperusahaan negara. Hal ini menjadi keunggulan utama Danantara dalam melakukan penataan ulang secara cepat dan strategis.
Tahun 2025 menjadi tonggak penting karena Danantara mulai mengonsolidasikan empat hingga lima sektor utama, termasuk perusahaan konstruksi milik negara yang selama ini bergerak di berbagai lini, dari properti hingga pembangkit listrik. Ke depan, setiap entitas akan diarahkan untuk fokus pada satu inti bisnis agar menjadi lebih efisien dan berdaya saing tinggi.
Setelah konsolidasi, tahap berikutnya adalah penataan ulang model bisnis dan sumber pendapatan. Roadmap baru akan disusun untuk memastikan setiap BUMN memiliki arah pertumbuhan yang jelas dan berkelanjutan. Terakhir, Danantara akan menilai potensi penciptaan nilai tambah dari tiap aset yang dimiliki, apakah lebih baik dikelola oleh negara, dialihkan ke mitra swasta, atau bahkan diprivatisasi secara terbuka demi transparansi dan efisiensi.
Langkah besar Danantara ini mendapat perhatian dan apresiasi dari parlemen. Anggota Komisi VI DPR RI Firnando Ganinduto menilai, kehadiran Danantara sebagai wujud nyata komitmen pemerintah dalam memperbaiki tata kelola investasi negara. Ia menilai lembaga ini merupakan terobosan penting untuk menciptakan struktur BUMN yang lebih adaptif dan mampu bersaing di pasar global.
Firnando juga menekankan bahwa pemberian modal kepada BUMN harus berbasis kajian kelayakan, dan dikelola dengan prinsip transparansi yang tinggi. DPR RI, khususnya Komisi VI, akan terus menjalankan fungsi pengawasan agar seluruh investasi yang dilakukan melalui Danantara memberikan dampak positif bagi ekonomi nasional.
Tak hanya itu, sinergi antara Danantara, Kementerian BUMN, serta pelaku industri dinilai krusial untuk membangun ekosistem investasi yang sehat. Dengan pendekatan berbasis data, efisiensi, dan integrasi, model baru yang ditawarkan Danantara diharapkan bisa menghindari jebakan birokrasi masa lalu dan menghasilkan portofolio BUMN yang jauh lebih sehat dan strategis.
Apa yang dilakukan Danantara sejatinya adalah bentuk reformasi struktural yang sudah lama dinantikan. Di tengah tantangan global yang makin kompleks dan kompetitif, Indonesia membutuhkan lembaga pengelola aset negara yang tidak hanya responsif, tetapi juga visioner. Danantara hadir untuk menjawab kebutuhan itu, dengan fondasi yang kuat dan desain kelembagaan yang memungkinkan pengambilan keputusan cepat namun tetap akuntabel.
Jika dijalankan dengan konsistensi dan diawasi secara cermat, Danantara berpotensi menjadi katalis utama pertumbuhan ekonomi nasional melalui pengelolaan aset negara yang lebih produktif. Lembaga ini dapat menjadi contoh bahwa transformasi di sektor publik bukanlah mimpi jika dilakukan secara serius, dengan pemetaan yang tepat, eksekusi yang disiplin, dan semangat kolaboratif lintas institusi.
Kehadiran Danantara adalah harapan baru. Tidak hanya bagi efisiensi BUMN, tetapi juga bagi rakyat Indonesia yang layak memperoleh manfaat optimal dari setiap rupiah yang diinvestasikan oleh negara. Kini saatnya memberikan kepercayaan dan dukungan penuh, agar Danantara bisa bekerja maksimal untuk masa depan investasi negara yang lebih baik.

)* Penulis adalah Pengamat Kebijakan Publik

Pendanaan Tak Lagi Lewat APBN, Danantara Jadi Pilar Baru Investasi Nasional

Jakarta – Pemerintah resmi menghentikan skema Penyertaan Modal Negara (PMN) sebagai instrumen pembiayaan untuk perusahaan pelat merah maupun swasta. Kebijakan ini menjadi tonggak penting dalam reformasi pembiayaan nasional, sekaligus mencerminkan komitmen pemerintah dalam menciptakan mekanisme pendanaan yang lebih sehat, efisien, dan mandiri tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Sebagai gantinya, pemerintah mengandalkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sebagai entitas baru yang akan berperan sebagai penyelamat pendanaan melalui model investasi yang berasal dari pengelolaan dividen BUMN. Model ini dinilai lebih fleksibel dan profesional, serta mengurangi beban fiskal yang selama ini timbul dari skema PMN.

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa mekanisme PMN seperti sebelumnya tidak lagi diberlakukan. Meski demikian, perusahaan tetap dapat memperoleh dukungan permodalan melalui Danantara.

“Dulu kan equity-nya dari pemerintah sekarang equity-nya oleh Danantara, dulu masuknya lewat APBN, sekarang oleh Danantara melalui hasil pengelolaan dari BUMN. Jadi kalau ada perusahaan yang butuh tambahan modal yang dari Danantara,” ujar Dony.

Langkah ini sekaligus menutup celah potensi penyalahgunaan dalam proses PMN, yang sebelumnya melibatkan pertimbangan politik di DPR. Kini, proses pendanaan dilakukan secara profesional, berbasis penilaian kelayakan bisnis dan kebutuhan strategis.

“Saya rasa tidak ya, karena kita lihat semuanya kan profesional, prosesnya juga sangat jelas, tahapan-tahapannya sampai dengan penambahan equity, jadi saya rasa sangat clear dan Danantara sangat transparan,” imbuhnya.

Sebagai bentuk konkret dari reformasi ini, Presiden Prabowo Subianto telah mencabut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 34 Tahun 2022 tentang Penambahan PMN ke dalam Modal Saham PT Waskita Karya Tbk. Pemerintah kemudian menerbitkan PP No. 20 Tahun 2025 yang ditandatangani pada 6 Mei 2025.

“PP Nomor 34 Tahun 2022 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara ke dalam Modal Saham PT Waskita Karya Tbk dicabut dan dinyatakan tidak berlaku,” demikian bunyi Pasal 1 PP No 20/2025.

Pandu Sjahrir, Chief of Investment Danantara, menegaskan bahwa Danantara tidak hanya berfokus pada pengelolaan aset, tetapi juga memainkan peran penting dalam transformasi ekonomi nasional melalui kolaborasi dengan berbagai sektor.

“Tujuan strategis Danantara Indonesia adalah menciptakan pertumbuhan ekonomi melalui investasi, penciptaan lapangan kerja, manajemen risiko, dan keuntungan investasi. Dan kami harus bekerja sama dengan sektor swasta serta bermitra dengan investor global untuk mendorong inovasi,” jelas Pandu.

Pandu menuturkan bahwa Pemerintah juga mendorong keterlibatan sektor swasta dalam negeri untuk memperkuat iklim investasi nasional. Danantara diharapkan menjadi mitra aktif bagi pelaku usaha lokal yang memiliki keahlian spesifik dan potensi untuk mendorong pertumbuhan industri serta penciptaan lapangan kerja bernilai tinggi.

“Kolaborasi dengan sektor swasta lintas industri artinya kami bertindak sebagai penyedia pembiayaan modal dan mitra lokal, sementara pihak swasta akan membangun nilai dari investasi tersebut,” tegas Pandu.

Dengan peran strategis yang kini diemban, Danantara diharapkan menjadi fondasi baru pembiayaan nasional yang sehat secara fiskal, berkelanjutan, dan mampu memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

Gandeng Kampus, Danantara Ciptakan Lapangan Kerja Masa Depan

Padang – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) semakin menegaskan perannya sebagai motor pembangunan ekonomi nasional. Kali ini, Danantara membuka ruang kolaborasi dengan dunia kampus demi mendorong pengembangan sumber daya manusia (SDM) unggul.

Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menyampaikan bahwa pihaknya terbuka terhadap berbagai inisiatif pendidikan dan akademik dari universitas di seluruh Indonesia.

“Danantara terbuka bagi kalangan kampus, kami ingin memberikan kontribusi terhadap pengembangan sumber daya manusia (SDM) Indonesia,” kata Dony.

Ia menjelaskan, Danantara yang saat ini membawahi 888 BUMN bukan hanya hadir bagi para pencari kerja, tetapi juga mahasiswa aktif.

Kerja sama yang dimaksud antara lain berupa program magang, magang dosen, hingga pengembangan kurikulum bersama perguruan tinggi.

Menurutnya, kolaborasi ini sejalan dengan pendekatan Triple Helix, yang mengintegrasikan kekuatan akademisi, industri (BUMN), dan kebijakan publik melalui Danantara.

“Sektor-sektor baru akan tumbuh terutama hilirisasi, maka kampus harus merespon ini. Kami bertekad menjadikan Danantara sebagai motor pembangunan,” ujar Dony.

Di tempat terpisah, Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, menyebut bahwa Danantara memiliki mandat penting untuk mendorong investasi strategis demi menjawab tantangan bonus demografi Indonesia.

“Karena ini tantangan untuk Indonesia bagaimana kita bisa menciptakan lebih banyak pekerjaan. Dan menciptakan pekerjaan adalah prioritas utama di Indonesia,” tegas Rosan.

Ia berharap Danantara dapat menjadi magnet investasi global, khususnya dalam sektor hilirisasi dan infrastruktur, untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas bagi generasi muda.

Rosan juga menyoroti bahwa Danantara kini mengelola aset strategis nasional lebih dari US$900 miliar, memperkuat posisinya sebagai ujung tombak pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan.*

Danantara Optimistis Raup Rp 13T dalam 5 Tahun, Siap Dongkrak Perekonomian RI

JAKARTA — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) optimistis mampu meraih pendapatan hingga Rp13 triliun dalam lima tahun ke depan.

Angka ini berasal dari pengelolaan nilai investasi masuk ke Indonesia selama satu dekade terakhir yang mencapai Rp 9.100 triliun.

Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa proyeksi tersebut sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi nasional yang dicanangkan pemerintah melalui Kementerian PPN/Bappenas.

“Jadi lima tahun ke depan memang diharapkan pertumbuhannya jump very significant, dalam rangka kita mencapai pertumbuhan 8%,” ujar Rosan.

Sebagai pengelola dana abadi negara, Danantara kini membawahi lebih dari 888 BUMN dengan total aset melebihi Rp15.000 triliun. Rosan menjelaskan, Danantara memperoleh dana kelolaan dari pembagian dividen BUMN yang kemudian dikelola untuk menghasilkan imbal hasil optimal.

“Sekarang ini bisa kita kelola untuk harus menghasilkan return. Kalau Indonesia ini kurang lebih, you would like to have return at least like 10%,” jelas Rosan.

Ia juga menuturkan bahwa Danantara akan mengalokasikan sekitar 20% investasinya ke luar negeri. Dengan strategi itu, sekitar US$185 miliar diperkirakan dapat dimanfaatkan setiap lima tahun sekali untuk investasi produktif, baik domestik maupun internasional.

“Again, to create more jobs. Investasi menjadi sangat penting dan menjadi salah satu ujung tombak untuk perekonomian, penciptaan lapangan pekerjaan, dan yang lain-lain,” ungkap Rosan.

Sementara itu, Wakil Menteri BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menambahkan bahwa Danantara juga terbuka untuk dunia akademik.

“Danantara terbuka bagi kalangan kampus, kami ingin memberikan kontribusi terhadap pengembangan sumber daya manusia (SDM) Indonesia,” kata Dony.

Ia menegaskan bahwa Danantara bukan hanya tempat untuk para pencari kerja, tetapi juga bisa menjadi wadah pengembangan bagi mahasiswa dan institusi pendidikan.*

Tingkatkan Daya Saing, Danantara Siap Restrukturisasi BUMN Tak Kompetitif

Jakarta – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) resmi memulai langkah strategis dalam restrukturisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan memangkas jumlah perusahaan dari 888 menjadi kurang dari 200.

Langkah ini diyakini akan membuat BUMN lebih efisien, fokus, dan mampu bersaing di level global.

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria menjelaskan bahwa konsolidasi ini dilakukan melalui empat tahapan, dimulai dari kajian mendalam terhadap bisnis tiap entitas.

“Jumlah perusahaan kita 888 perusahaan yang ada di induk sampai cucu BUMN yang kita masukkan di dalam matrix industri,” kata Dony.

Ia mencontohkan banyak perusahaan dengan model bisnis serupa namun terlalu kecil untuk bersaing, seperti 18 perusahaan di sektor logistik dan 16 perusahaan asuransi.

Maka dari itu, Danantara akan mengkonsolidasikan perusahaan-perusahaan tersebut agar terbentuk entitas yang lebih kuat dan terfokus.

“Sehingga akan terjadi konsolidasi bisnis dari tadinya 888 perusahaan, kita harapkan nanti menjadi tinggal di bawah 200 perusahaan yang memang kokoh dan kuat,” ungkapnya.

Tahap kedua adalah konsolidasi bisnis, termasuk pembentukan holding di sektor perhotelan, logistik, dan asuransi. Sementara tahap ketiga melibatkan penulisan ulang roadmap model bisnis dan sumber pendapatan masing-masing perusahaan.

Tahap terakhir adalah penciptaan nilai tambah (value creation), termasuk penentuan perusahaan mana yang akan diprivatisasi dan mana yang dipertahankan negara.

Dony menegaskan bahwa langkah-langkah ini tidak akan mungkin dilakukan tanpa keberadaan Danantara.

“Kami bisa melakukan itu karena kami pemiliknya secara perusahaan. Kita cukup dengan melakukan merger and acquisition di antara perusahaan kita,” jelasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi VI DPR RI, Firnando Ganinduto, menyambut positif inisiatif ini.

“Danantara adalah terobosan besar untuk mempercepat transformasi BUMN agar lebih adaptif, kompetitif, dan mampu bersaing secara global,” ujarnya.
Firnando juga menekankan pentingnya tata kelola yang transparan dan akuntabel.

“Suntikan modal harus selektif, didasarkan pada studi kelayakan,” tegasnya.

Ia memastikan bahwa DPR akan melakukan pengawasan ketat agar investasi melalui Danantara benar-benar berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional. *

Danantara Siap Dorong Investasi Strategis dan Ciptakan Lapangan Kerja Berkualitas

Jakarta – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) terus menunjukkan langkah konkret dalam memperkuat perannya sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.

Tahun ini, Danantara diproyeksikan akan mengelola dividen dari sejumlah BUMN sebesar US$ 7 miliar atau setara Rp 120 – 150T. Dana ini akan difokuskan untuk memperkuat sektor riil melalui investasi strategis.

Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa kebijakan ini menandai transformasi penting dalam pengelolaan dividen negara yang sebelumnya langsung masuk ke kas negara. Kini, dana tersebut dimanfaatkan secara produktif untuk mendukung penciptaan lapangan kerja berkualitas.

“Dividen yang sebelumnya langsung masuk ke negara, kini bisa kita manfaatkan untuk investasi di sektor industri yang menciptakan quality jobs,” jelas Rosan.

Rosan menambahkan, Danantara akan mengelola total aset hingga Rp 15.000T. Seluruh sumber pendanaan berasal dari dividen perusahaan negara, bukan dari Penyertaan Modal Negara (PMN) melalui APBN. Skema ini menandai kemandirian Danantara dalam membiayai proyek-proyek strategis nasional tanpa membebani anggaran publik.

Lebih lanjut, Rosan menyoroti tantangan struktural dalam ketenagakerjaan nasional. Dari 140 juta angkatan kerja Indonesia, sekitar 36% hanya menempuh pendidikan sampai tingkat Sekolah Dasar, dan 24% bahkan tidak menyelesaikan pendidikan dasar.

“Ini adalah tantangan besar bangsa, Karena itu, Danantara memiliki misi ganda, yakni menciptakan lapangan kerja yang berkualitas sekaligus meraih keuntungan yang berkelanjutan’” tegasnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Danantara berkomitmen menjalankan misi investasi yang tak hanya mengejar profitabilitas, tetapi juga mendukung peningkatan kualitas tenaga kerja.

“Setiap tahun ada 2 juta bayi lahir di Indonesia. Kita harus mulai sekarang untuk memastikan sebagian besar dari mereka kelak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak,” tambah dia.

Dalam pelaksanaannya, strategi investasi Danantara dirancang dengan komposisi alokasi sebesar 80% untuk proyek di dalam negeri dan 20% di luar negeri. Pendekatan ini dikombinasikan dengan strategi leverage untuk mengoptimalkan dana investasi hingga empat sampai lima kali lipat dari nilai awal.

“Danantara akan menjadi jembatan untuk meningkatkan kepercayaan investor asing. Dengan dana yang kami miliki, kami bisa leverage investasi menjadi 4 hingga 5 kali lipat dari jumlah awal,” jelasnya.

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, turut menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan pengganti skema lama PMN yang selama ini mengandalkan APBN dan persetujuan DPR.

“Totalnya sekitar Rp 150 triliun yang akan kami kelola. Itu berasal dari setoran seluruh BUMN dan akan digunakan sebagai modal investasi,” ujar Dony.

Ia juga menambahkan bahwa dana dividen kini diarahkan untuk mendukung investasi berkelanjutan, sesuai dengan arah baru kebijakan pendanaan nasional.

“Dividen tersebut akan difokuskan untuk investasi berkelanjutan, menggantikan skema lama Penyertaan Modal Negara (PMN) yang selama ini melalui APBN dan disetujui DPR,” jelas Dony.

Langkah strategis Danantara ini diharapkan dapat memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berdaya saing. Dengan pengelolaan aset yang transparan dan orientasi jangka panjang, Danantara ditargetkan menjadi motor utama dalam pencapaian pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% pada tahun 2029.

Danantara Jadi Strategi Kunci Pemerintah Capai Target Ekonomi 2029

Jakarta – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terus menunjukkan komitmen nyata dalam mewujudkan visi pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8%. Salah satu langkah strategis yang tengah didorong adalah peluncuran dan optimalisasi platform Danantara, sebagai katalis transformasi ekonomi digital berbasis pemanfaatan aset negara.

Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan optimisme besar terhadap masa depan platform tersebut. Ia menyatakan bahwa potensi pendapatan Danantara dalam beberapa tahun ke depan bisa mencapai Rp13 triliun, seiring dengan pengelolaan dan digitalisasi arus investasi yang masuk ke Indonesia dalam satu dekade terakhir, yang nilainya mencapai Rp9.100 triliun.

“Kita ingin kontribusi Danantara bisa membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 8% di tahun 2029. Caranya dengan memastikan seluruh investasi bisa terpantau, diawasi, dan diarahkan ke sektor-sektor produktif,” ujar Rosan.

Lebih lanjut, Rosan juga mengungkapkan bahwa Danantara memiliki potensi untuk melakukan investasi ke luar negeri hingga 20%. Jika digabungkan dengan investasi dalam negeri sebesar 15%, maka total potensi investasi Danantara bisa mencapai 35%.

Menurutnya, dengan estimasi tersebut, terdapat sekitar US$185 miliar yang dapat dioptimalkan untuk kegiatan investasi setiap lima tahun. Hal ini menempatkan Danantara sebagai katalis utama dalam memperkuat posisi ekonomi Indonesia di tingkat global.

“Again, to create more jobs. Investasi menjadi sangat penting dan menjadi salah satu ujung tombak untuk perekonomian, penciptaan lapangan pekerjaan, dan yang lain-lain. Karena di satu sisi itu investasi,” terangnya.

Dalam pernyataan terpisah, Menteri BUMN, Erick Thohir juga menegaskan bahwa model bisnis Danantara merupakan langkah besar untuk menghadirkan transparansi, efisiensi, serta keterlibatan publik dalam pemanfaatan aset negara.

“Kami akan bekerja sama dengan seluruh jajaran untuk memastikan Danantara beroperasi secara transparan, akuntabel, dan profesional,” ujar Erick.

Erick Thohir menyebut langkah ini sepenuhnya sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo, yang menempatkan pertumbuhan ekonomi berkualitas sebagai prioritas utama. Danantara diharapkan mampu mendorong lompatan besar dalam penciptaan lapangan kerja, pemerataan pendapatan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, optimalisasi Danantara juga menegaskan arah baru kebijakan pemerintah dalam membangun sistem ekonomi digital nasional yang tangguh, transparan, dan berdaya saing tinggi, sekaligus adaptif terhadap dinamika geopolitik dan ketidakpastian global.

Danantara: Investasi Jadi Kunci Capai Target Pertumbuhan Ekonomi 8%

Jakarta — Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Dana Anagata Nusantara (Danantara), Rosan Roeslani, menegaskan bahwa investasi merupakan elemen vital dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% sebagaimana dicanangkan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Dalam forum Meet The Leaders di Universitas Paramadina, Rosan menyampaikan bahwa capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini yang berada di kisaran 5% sudah tergolong baik jika dibandingkan dengan negara lain. Namun, untuk mencapai target ambisius 8%, dibutuhkan dorongan signifikan, khususnya melalui penguatan sektor investasi.

Ia memaparkan bahwa struktur perekonomian Indonesia saat ini terdiri atas 54% konsumsi domestik, 29% investasi, 9% belanja pemerintah, dan 2% ekspor. Selebihnya berasal dari sektor lain-lain.

“Nah kalau kita lihat struktur seperti ini, investasi itu menyumbang nomor 2 terbesar dari our economic growth. Dan kalau kita melihat situasi sekarang, pertumbuhan perekonomian kita bisa terdorong dari mana? Yang paling mungkin kan dari investment. At this moment,” ungkap Rosan.

Sebagai lengan investasi pemerintah, Danantara bertugas mengelola dana dari dividen BUMN untuk diinvestasikan secara produktif dan menghasilkan imbal hasil optimal bagi negara.

“Sekarang ini bisa kita kelola untuk harus menghasilkan return. Kalau Indonesia ini kurang lebih, you would like to have return at least like 10%,” ujar Rosan.

Rosan menjelaskan, selama satu dekade terakhir, total nilai investasi yang masuk ke Indonesia — baik dari dalam negeri maupun luar negeri — telah mencapai Rp9.100 triliun. Angka ini menunjukkan besarnya potensi investasi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi serta perluasan lapangan kerja.

Dalam strategi jangka menengahnya, Danantara juga merencanakan ekspansi investasi internasional hingga 20% dari total portofolio.

“Danantara mungkin akan melakukan investasi ke luar negeri sebanyak 20%. Sehingga total investasi dalam dan luar negeri sebesar 35%,” lanjutnya.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi portofolio jangka panjang, dengan target total investasi domestik dan global mencapai US$185 miliar dalam lima tahun mendatang.

“Again, to create more jobs. Investasi menjadi sangat penting dan menjadi salah satu ujung tombak untuk perekonomian, penciptaan lapangan pekerjaan, dan yang lain-lain. Karena di satu sisi itu investasi,” tambahnya.

Danantara memiliki mandat strategis untuk mengelola dan mengoptimalkan portofolio aset milik BUMN yang nilainya melebihi Rp10.000 triliun dan mengarahkannya ke investasi jangka panjang sesuai prioritas pembangunan nasional. Untuk mendukung hal ini, dibentuk dua divisi utama: induk operasional dan induk investasi. Induk operasional yang dipimpin oleh Dony Oskaria bertugas mengawasi aktivitas BUMN, memastikan efisiensi pengelolaan aset, dan menerapkan tata kelola yang akuntabel.

“Sebagai induk operasional, kami ingin membangun perusahaan kelas dunia. Saat ini, ada sekitar 845 perusahaan yang telah dinaungi oleh Danantara Indonesia. Tugas kami adalah merampingkan bisnis perusahaan-perusahaan tersebut dan fokusnya ialah optimalisasi, efisiensi, memaksimalkan dividen, dan menjadi bagian dari perusahaan Global Fortune 500,” jelas Pandu Sjahrir, Chief of Investment Danantara.

Pemerintah mendorong keterlibatan swasta nasional dalam memperkuat iklim investasi. Danantara pun menargetkan kemitraan strategis dengan pelaku usaha lokal yang kompeten untuk mendorong pertumbuhan industri dan penciptaan lapangan kerja berkualitas.

“Kolaborasi dengan sektor swasta lintas industri artinya kami bertindak sebagai penyedia pembiayaan modal dan mitra lokal, sementara pihak swasta akan membangun nilai dari investasi tersebut,” pungkas Pandu.

Danantara Indonesia Perkuat Daya Tarik Investasi Nasional

Jakarta – Indonesia terus menunjukkan daya tariknya sebagai destinasi investasi yang stabil dan menjanjikan. Dalam lima tahun terakhir, Penanaman Modal Asing (PMA) meningkat dari Rp98 triliun pada kuartal pertama 2020 menjadi Rp230 triliun pada kuartal pertama 2025. Lonjakan ini menjadi indikator meningkatnya kepercayaan investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Untuk menjaga momentum tersebut, pemerintah membentuk Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) pada Februari 2024. Lembaga ini bertugas mengelola aset BUMN senilai lebih dari Rp10.000 triliun serta menarik investor global melalui investasi strategis jangka panjang.

Dalam East Ventures Summit 2025, Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara, memaparkan peran ganda lembaganya melalui dua divisi utama: induk operasional dan induk investasi.

“Sebagai induk operasional, kami ingin membangun perusahaan kelas dunia. Saat ini, ada sekitar 845 perusahaan yang telah dinaungi oleh Danantara Indonesia. Tugas kami adalah merampingkan bisnis perusahaan-perusahaan tersebut dan fokusnya ialah optimalisasi, efisiensi, memaksimalkan dividen, dan menjadi bagian dari perusahaan Global Fortune 500,” jelas Pandu.

Danantara juga tengah menjalankan restrukturisasi guna meningkatkan efisiensi, manajemen risiko, dan transformasi bisnis BUMN. Sementara itu, induk investasi berfokus pada pengelolaan dividen dan penanaman modal di sektor strategis seperti energi terbarukan, pangan, kesehatan, dan properti.

“Tujuan strategis Danantara Indonesia adalah menciptakan pertumbuhan ekonomi melalui investasi, penciptaan lapangan kerja, manajemen risiko, dan keuntungan investasi. Dan kami harus bekerja sama dengan sektor swasta serta bermitra dengan investor global untuk mendorong inovasi,” tambah Pandu.

Komitmen tersebut mendapat dukungan dari sektor swasta. Jesslyne Widjaja, Direktur Eksekutif Golden Agri-Resources (GAR), menyampaikan bahwa perusahaannya melihat peluang besar dalam pengembangan agribisnis berkelanjutan dan transformasi digital.

“Kami mendorong pengembangan kapabilitas digital dalam bisnis kami, namun kami juga melihat potensi ke luar. Perusahaan akan mencari solusi yang dapat mendorong transformasi, meningkatkan efisiensi, bahkan mendisrupsi model bisnis yang sudah ada,” ujar Jesslyne.

Lebih lanjut GAR mengedepankan strategi transformasi digital dan eksplorasi sektor baru demi menciptakan bisnis berkelanjutan jangka panjang. Dengan pendekatan purpose-driven business, perusahaan seperti GAR meyakini bahwa keberlanjutan akan menarik talenta dan mitra strategis yang relevan untuk mendorong pertumbuhan jangka panjang.

“Kami percaya bahwa memiliki bisnis yang berlandaskan tujuan (purpose-driven business) juga sangat penting. Karena dengan memiliki tujuan, Anda bisa menarik talenta, mitra, dan pelanggan ke dalam bisnis Anda, serta membangun bisnis yang berkelanjutan dalam jangka panjang,” lanjut Jesslyne.

Dengan strategi terarah dan kolaborasi lintas sektor, Danantara menjadi penggerak penting dalam memperkuat fondasi investasi nasional demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.