Menu Kering dan Bebas UPF, MBG Ramadan Utamakan Kualitas Gizi

Jakarta – Pemerintah memastikan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan tetap mengutamakan kualitas gizi dengan penyesuaian menu yang lebih praktis, sehat, dan sesuai kebutuhan peserta didik. Salah satu langkah yang diterapkan adalah penyediaan menu kering yang mudah dibawa pulang serta bebas dari ultra-processed food (UPF).

Presiden Prabowo Subianto, menegaskan bahwa kualitas gizi menjadi prinsip utama dalam pelaksanaan MBG, termasuk pada periode Ramadan. “Program Makan Bergizi Gratis harus tetap menjaga kualitas dan nilai gizi makanan. Anak-anak kita harus mendapatkan asupan terbaik, meskipun dalam suasana Ramadan,” katanya.

Penyesuaian menu dilakukan dengan mempertimbangkan waktu konsumsi yang bergeser ke saat berbuka puasa. Paket menu kering disiapkan agar tetap higienis, bernutrisi seimbang, serta memiliki daya tahan yang baik tanpa mengurangi kualitas kandungan protein, serat, vitamin, dan mineral.

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa pihaknya memastikan menu MBG tidak mengandung UPF dan tetap memenuhi standar gizi seimbang. “Kami menekankan penggunaan bahan pangan segar dan minim proses agar manfaat gizinya optimal bagi anak-anak,” ujarnya.

Menurut Dadan, pengawasan kualitas dilakukan secara ketat melalui standar operasional yang telah ditetapkan, termasuk uji kelayakan bahan dan proses distribusi. “Momentum Ramadan justru menjadi kesempatan untuk memperkuat edukasi gizi dan pola makan sehat sejak dini,” tegasnya.

Penyesuaian MBG selama Ramadan menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga kualitas program tanpa mengurangi tujuan utamanya, yakni meningkatkan status gizi anak dan mendukung tumbuh kembang generasi muda. Dengan pendekatan yang adaptif dan berbasis kualitas, MBG terus menjadi instrumen strategis dalam membangun sumber daya manusia yang sehat dan unggul.

Cek Kesehatan Gratis Dorong Intervensi Cepat bagi Warga Berisiko

Oleh: Aisyah Maharani )*

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi salah satu kebijakan strategis pemerintah dalam mempercepat intervensi bagi warga yang terdeteksi memiliki faktor risiko kesehatan. Program ini tidak hanya memperluas akses pemeriksaan, tetapi memastikan setiap temuan klinis segera ditindaklanjuti melalui pengobatan, konseling, maupun rujukan yang terintegrasi dengan layanan primer.

Prabowo Subianto, menegaskan bahwa penguatan sektor kesehatan merupakan fondasi pembangunan modal manusia. Pemerintah menjamin layanan CKG dapat diakses seluruh warga Indonesia secara rutin setiap tahun sepanjang hidup. Kebijakan tersebut dirancang sebagai hak dasar masyarakat dan akan terus diperluas cakupannya hingga menjangkau seluruh populasi dari berbagai kelompok usia.

Presiden memandang CKG sebagai langkah rasional untuk meningkatkan produktivitas nasional melalui deteksi dini penyakit. Ia menilai investasi pada skrining kesehatan akan menghasilkan penghematan besar dalam jangka panjang karena penyakit dapat ditangani sebelum berkembang menjadi komplikasi yang lebih mahal dan kompleks. Dengan pendekatan preventif tersebut, pemerintah optimistis kualitas sumber daya manusia meningkat dan beban pembiayaan kesehatan dapat ditekan.

Sejalan dengan itu, pemerintah juga mengakselerasi pembangunan 83.000 apotek desa guna memastikan ketersediaan obat generik bersubsidi. Kebijakan ini memperkuat mata rantai intervensi cepat, sehingga masyarakat yang terdeteksi berisiko tidak hanya menerima diagnosis, tetapi langsung memperoleh terapi yang dibutuhkan tanpa hambatan distribusi obat.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menekankan bahwa tujuan utama CKG adalah mencegah keterlambatan pengobatan. Ia menjelaskan bahwa menjaga kesehatan bukan sekadar mengetahui kondisi tubuh, melainkan memastikan setiap potensi gangguan segera ditangani agar tidak berkembang menjadi penyakit berat. Pendekatan ini mengubah orientasi layanan kesehatan dari kuratif menjadi preventif dan promotif yang lebih berkelanjutan.

Temuan CKG pada kelompok lansia semakin menegaskan urgensi intervensi cepat. Kementerian Kesehatan mencatat bahwa skrining terhadap jutaan lansia menunjukkan adanya gangguan mobilitas, penurunan fungsi kognitif, hingga risiko malnutrisi yang memerlukan tindak lanjut klinis dan sosial. Data ini menjadi pijakan penting dalam merancang kebijakan berbasis bukti.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menjelaskan bahwa Indonesia menghadapi tantangan penuaan penduduk yang serupa dengan sejumlah negara lain di kawasan. Pertambahan populasi lanjut usia diiringi peningkatan penyakit tidak menular akibat perubahan gaya hidup. Menurutnya, CKG telah membangun infrastruktur skrining luas yang memadukan layanan primer dan dukungan digital sehingga mampu menjangkau sekitar 6 juta lansia atau lebih dari sepertiga target nasional.

Imran menilai capaian tersebut signifikan, namun perlu diperluas agar intervensi semakin merata. Imran juga menekankan bahwa diagnosis saja tidak cukup untuk mendorong perubahan perilaku jangka panjang. Karena itu, jalur tindak lanjut harus sistematis, mencakup konseling gaya hidup, intervensi nutrisi, layanan kesehatan mental, serta penguatan manajemen penyakit kronis di tingkat puskesmas.

Penguatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Pelatihan pendekatan geriatri, penggunaan modul skrining, serta peningkatan keterampilan konseling dinilai akan meningkatkan kualitas tindak lanjut. Selain itu, inklusi digital melalui aplikasi dan kanal pendaftaran multi-platform memastikan lansia dan kelompok rentan tetap dapat mengakses layanan meski memiliki keterbatasan literasi teknologi.

Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, dalam peninjauan pelaksanaan CKG di daerah menyampaikan bahwa banyak penyakit kronis baru teridentifikasi setelah pemeriksaan laboratorium.

Menurut Dante, sejumlah warga tidak merasakan gejala, tetapi hasil tes menunjukkan kadar gula darah tinggi atau tekanan darah meningkat. Ia menegaskan bahwa peserta yang terdeteksi langsung memperoleh pengobatan awal sambil difasilitasi akses pembiayaan kesehatan apabila belum terdaftar dalam jaminan sosial.

Pendekatan jemput bola yang diterapkan pemerintah, termasuk pelaksanaan skrining di ruang publik seperti pasar, sekolah, kantor, hingga lingkungan permukiman, mempercepat identifikasi warga berisiko. Strategi ini dinilai efektif menghilangkan hambatan jarak dan waktu, sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat.

Secara keseluruhan, Cek Kesehatan Gratis telah berkembang menjadi mekanisme intervensi cepat yang terstruktur dan berbasis data. Dengan dukungan kebijakan di tingkat nasional, penguatan layanan primer, serta integrasi sistem farmasi dan digital, pemerintah menunjukkan keseriusan membangun sistem kesehatan yang responsif.

Melalui deteksi dini yang luas dan tindak lanjut yang terukur, CKG tidak hanya melindungi warga berisiko, tetapi juga memperkuat fondasi pembangunan nasional yang bertumpu pada masyarakat sehat dan produktif.

Keberlanjutan program ini menjadi penentu utama keberhasilannya dalam jangka panjang. Pemerintah terus memperkuat koordinasi antara pusat dan daerah agar standar pelayanan dan kualitas tindak lanjut tetap terjaga di seluruh wilayah. Evaluasi berkala berbasis data skrining juga dimanfaatkan untuk menyempurnakan kebijakan serta mengidentifikasi kebutuhan intervensi baru.

Dengan arah kebijakan yang konsisten dan dukungan pembiayaan yang memadai, CKG diharapkan mampu menurunkan prevalensi penyakit tidak menular secara signifikan serta meningkatkan harapan hidup masyarakat Indonesia secara bertahap dan berkelanjutan.

*) Analis Kebijakan Publik

Cek Kesehatan Gratis Jadi Solusi Akses Kesehatan Merata

Oleh: Chandra Arif Pratama )*

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) kian menegaskan posisinya sebagai instrumen strategis pemerintah dalam mewujudkan akses kesehatan yang merata dan berkeadilan. Di tengah tantangan geografis, kesenjangan layanan, serta meningkatnya beban penyakit tidak menular, kehadiran CKG menjadi jawaban konkret atas kebutuhan pemeriksaan kesehatan yang mudah dijangkau seluruh lapisan masyarakat.

Pelaksanaan CKG kini tidak lagi terbatas di puskesmas. Pemerintah memperluas cakupan layanan hingga ke sekolah, tempat kerja, serta berbagai institusi publik lainnya. Langkah ini mencerminkan komitmen negara untuk mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat, bukan sebaliknya.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan capaian program ini terus meningkat. Hingga awal 2026, lebih dari 4,5 juta masyarakat telah mengikuti pemeriksaan melalui skema CKG. Angka tersebut menggambarkan tingginya respons publik sekaligus efektivitas pendekatan jemput bola yang diterapkan pemerintah.

Fokus utama program ini adalah deteksi dan pengobatan hipertensi, diabetes, obesitas, serta gangguan kesehatan gigi yang masih banyak ditemukan di berbagai kelompok usia. Penyakit-penyakit tersebut kerap berkembang tanpa gejala, sehingga membutuhkan skrining rutin untuk mencegah komplikasi serius.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa tujuan utama CKG adalah memastikan masyarakat tidak terlambat mendapatkan pengobatan. Ia menjelaskan bahwa menjaga kesehatan bukan sekadar mengetahui kondisi tubuh, melainkan memastikan setiap potensi gangguan dapat ditangani sejak dini agar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih berat.

Pendekatan preventif ini memperlihatkan perubahan paradigma kebijakan kesehatan nasional. Pemerintah tidak lagi hanya berfokus pada pengobatan kuratif, tetapi menempatkan deteksi dini sebagai fondasi utama pembangunan kesehatan.

Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya intervensi yang menyeluruh, berkelanjutan, dan melibatkan berbagai sektor, terutama dalam menghadapi tantangan penuaan penduduk. Temuan dari pelaksanaan CKG serta pembelajaran dari studi Health, Aging, and Retirement in Thailand menunjukkan bahwa Indonesia menghadapi dinamika serupa dengan negara lain di kawasan, yakni peningkatan populasi lanjut usia yang diiringi risiko penyakit tidak menular.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menjelaskan bahwa pemerintah telah membangun infrastruktur skrining yang luas melalui CKG dengan memanfaatkan layanan primer dan dukungan sistem digital. Program ini dirancang menjangkau seluruh siklus hidup, termasuk kelompok lansia yang membutuhkan perhatian khusus.

Capaian skrining pada lansia menunjukkan hasil yang signifikan. Sekitar 6 juta lansia atau lebih dari sepertiga target nasional telah mengikuti pemeriksaan. Meski demikian, data hasil skrining juga mengungkap adanya tantangan klinis yang memerlukan strategi tindak lanjut yang lebih terarah. Temuan tersebut justru memperkuat urgensi keberlanjutan program agar cakupan semakin luas dan intervensi semakin tepat sasaran.

Di lapangan, implementasi CKG terus diperkuat. Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, saat meninjau pelaksanaan di Puskesmas Cikupa, Kabupaten Tangerang, menegaskan bahwa pemeriksaan mencakup deteksi diabetes, hipertensi, hingga gangguan pernapasan. Ia menyampaikan bahwa banyak penyakit baru teridentifikasi melalui tes laboratorium karena sebelumnya tidak bergejala.

Menurutnya, peserta yang terdeteksi memiliki masalah kesehatan langsung memperoleh layanan pengobatan awal selama sekitar 10 hingga 15 hari. Sambil menjalani terapi, mereka juga difasilitasi untuk mengurus kepesertaan BPJS Kesehatan apabila belum terdaftar. Skema ini memastikan tidak ada peserta yang terhenti pada tahap diagnosis semata.

Cakupan CKG di Kabupaten Tangerang sendiri telah mencapai sekitar 1,3 juta pemeriksaan. Pemerintah daerah bersama Kementerian Kesehatan memperluas titik layanan tidak hanya di fasilitas kesehatan, tetapi juga di pasar, sekolah, kantor, perusahaan, hingga lingkungan RT dan RW. Strategi ini dinilai efektif dalam mengurangi hambatan akses sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat.

Perluasan ini juga menunjukkan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam memastikan program berjalan optimal. Dukungan lintas sektor memperkuat efektivitas layanan, sekaligus membangun kesadaran kolektif bahwa kesehatan merupakan tanggung jawab bersama. Dengan model pelayanan yang adaptif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat, CKG berpotensi menjadi fondasi jangka panjang bagi sistem kesehatan yang lebih tangguh.

Secara keseluruhan, Cek Kesehatan Gratis telah berkembang menjadi solusi sistemik untuk pemerataan layanan kesehatan. Program ini bukan sekadar agenda pemeriksaan rutin, melainkan bagian dari transformasi layanan primer yang memperkuat fondasi kesehatan nasional.

Melalui deteksi dini, pengobatan cepat, dan perluasan akses hingga ke tingkat komunitas, pemerintah menunjukkan komitmen nyata dalam membangun masyarakat yang lebih sehat, produktif, dan terlindungi secara berkelanjutan.

Ke depan, konsistensi pelaksanaan dan penguatan kualitas tindak lanjut menjadi kunci agar manfaat program semakin optimal. Pemerintah telah meletakkan dasar kebijakan yang kuat dengan menjadikan skrining sebagai pintu masuk pelayanan kesehatan yang terintegrasi.

Dengan dukungan data yang semakin akurat, koordinasi lintas sektor yang solid, serta partisipasi aktif masyarakat, CKG berpotensi menekan beban pembiayaan kesehatan jangka panjang sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Upaya ini memperlihatkan bahwa pembangunan kesehatan tidak dilakukan secara sporadis, melainkan melalui perencanaan terukur yang berorientasi pada hasil dan keberlanjutan.

*) Pengamat Kebijakan Sosial – Lembaga Sosial Madani Institute

Pemerintah Intensifkan Layanan Cek Kesehatan Gratis di Berbagai Daerah

Jakarta – Pemerintah terus memperluas dan mengintensifkan pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di berbagai daerah sebagai bagian dari penguatan sektor kesehatan nasional.

Presiden RI, Prabowo Subianto, menegaskan komitmen negara dalam membangun modal manusia melalui jaminan pemeriksaan kesehatan rutin bagi seluruh warga setiap tahun sepanjang hidupnya.

Presiden menyampaikan bahwa lebih dari 70 juta masyarakat telah menerima layanan pemeriksaan gratis sejak program ini dijalankan.

CKG disebut sebagai bagian dari transformasi layanan kesehatan primer yang dirancang menjadi hak dasar seluruh rakyat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Presiden menekankan bahwa kebijakan tersebut bukan langkah populis, melainkan strategi rasional untuk meningkatkan produktivitas nasional melalui deteksi dini penyakit.

“Ini adalah program peningkatan produktivitas. Para ahli saya menyatakan bahwa dalam jangka panjang, kita akan menghemat miliaran dolar AS,” tegas Presiden Prabowo.

Selain memperkuat skrining, pemerintah juga mempercepat pemerataan akses obat dengan membangun 83.000 apotek desa yang menyediakan obat generik bersubsidi langsung bagi masyarakat.

Hipertensi dan diabetes yang dikenal sebagai silent killer menjadi perhatian utama karena kerap berkembang tanpa gejala.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Endang Sumiwi, mengungkapkan masih banyak warga yang tidak menyadari dirinya mengidap penyakit kronis.

“Kami menemukan peserta dengan kadar gula darah sampai 400. Artinya banyak yang sudah bermasalah tapi tidak merasakan gejala. Kalau dibiarkan, bisa berujung cuci darah, operasi jantung, bahkan stroke. Inilah pentingnya CKG,” ujarnya di Jakarta.

Ia mengingatkan pemeriksaan perlu dilakukan setidaknya setahun sekali.

“Bisa jadi tahun lalu tekanan darah normal, tahun ini sudah tinggi. Karena itu jangan berhenti cek kesehatan,” tegasnya.

Untuk memperluas jangkauan, layanan tidak hanya dilakukan di puskesmas dan sekolah, tetapi juga menyasar komunitas seperti kampung nelayan, kelompok tani, hingga pekerja informal.

“Kami datang langsung ke tempat masyarakat berada, supaya akses layanan makin mudah,” jelas Endang.

Di daerah, langkah serupa dilakukan Pemerintah Kabupaten Buleleng. Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, Sucipto, mengatakan pihaknya menargetkan partisipasi 46 persen tahun ini.

“Di tahun ini kita ditargetkan 46 persen. Karena itu kita lakukan gebyar-gebyar di desa agar masyarakat lebih mudah mengakses layanan,” ujarnya.

Ia menambahkan deteksi dini berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup. “Semakin awal kita tahu kondisi kesehatan masyarakat, semakin baik penanganannya. Harapannya tentu umur harapan hidup bisa meningkat,” pungkasnya.

Ratusan Ribu Warga Telah Manfaatkan Program Pemeriksaan Gratis

Jakarta – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) terus menunjukkan capaian signifikan. Layanan yang semula terpusat di puskesmas kini diperluas hingga menjangkau sekolah, tempat kerja, serta berbagai institusi lainnya.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hingga awal 2026 lebih dari 4,5 juta masyarakat telah mengikuti program ini. Fokus pemeriksaan mencakup deteksi serta penanganan hipertensi, diabetes, obesitas, dan gangguan kesehatan gigi yang masih banyak ditemukan di berbagai kelompok usia.

CKG merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (Quick Win) bidang kesehatan yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto. Namun, pemerintah menegaskan bahwa program ini tidak berhenti pada tahap skrining.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menekankan pentingnya tindak lanjut setelah pemeriksaan.

“Yang penting itu follow up-nya. Setelah cek, kemudian follow up-nya itu yang harus dijaga. Kalau ada yang tensinya tinggi, langsung dikonsultasikan ke poli dan diberikan obat supaya tidak hilang nanti,” ujarnya saat meninjau satu tahun pelaksanaan CKG di Puskesmas Cilandak, Jakarta Selatan.

Data Puskesmas Kecamatan Cilandak sepanjang 2025 mencatat dari 81.573 peserta yang diperiksa, sekitar 17,05 persen atau 13.908 orang membutuhkan tindakan medis langsung.

Sementara 1,85 persen atau lebih dari 1.500 kasus dirujuk ke rumah sakit. Artinya, hampir 19 persen hasil skrining memerlukan intervensi segera.

Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes, Rizka Andalusia, memastikan sistem CKG kini dirancang agar tidak ada kasus terlewat.

“CKG bukan hanya menemukan kasus, tetapi juga melakukan tata laksana lanjutan dari hasil CKG. Jadi ini bukan sekadar deteksi, melainkan benar-benar perawatan,” jelasnya.

Ia menambahkan, penanganan langsung diberikan untuk hipertensi dan diabetes di puskesmas, sementara kasus kritis seperti kekurangan enzim pada bayi atau penyakit jantung bawaan segera dirujuk.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan tujuan utama program ini adalah mencegah keterlambatan pengobatan.

“Yang paling penting sekarang, cek kesehatan gratis itu bukan hanya dicek, tapi juga diobati. Kalau tekanan darahnya normal tidak perlu diobati, tapi kalau tinggi harus diobati. Gula darah juga sama, kalau tinggi harus langsung diobati,” ujarnya.

Ia juga mengimbau agar masyarakat melakukan pemeriksaan rutin minimal setahun sekali.

“Cek kesehatan gratis itu harus dilakukan setiap tahun sekali. Apalagi kalau sudah punya darah tinggi atau gula, itu wajib rutin,” tegasnya.

Pemerintah Kawal Distribusi Demi Stabilitas Harga Pangan di Bulan Ramadan

Oleh: Arga Praatma Wisesa )*

Pemerintah memperkuat pengawalan distribusi pangan nasional guna memastikan stabilitas harga tetap terjaga sepanjang Ramadan 2026. Langkah ini ditempuh melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga agar masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan tenang tanpa kekhawatiran terhadap lonjakan harga bahan pokok.

Melalui laman resminya, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan bahwa Gerakan Pangan Murah (GPM) menjadi instrumen utama stabilisasi pasokan dan harga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional. Program ini dilaksanakan secara kolaboratif dengan pemerintah daerah, BUMN, BUMD, serta pelaku usaha swasta sehingga intervensi pasar dapat berjalan terukur dan tepat sasaran.

Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menekankan pentingnya sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga harga pangan pokok strategis tetap stabil. Ia menegaskan bahwa pelaku usaha tidak diperkenankan menjual komoditas melebihi Harga Eceran Tertinggi maupun Harga Acuan Penjualan di tingkat konsumen. Menurutnya, pengalaman tahun sebelumnya menunjukkan harga relatif terkendali dan kenaikan hanya terjadi pada satu atau dua komoditas strategis dalam durasi terbatas.

Pelaksanaan GPM pada Februari 2026 meningkat signifikan dan telah menjangkau 1.218 titik di 497 kabupaten dan kota. Hingga pertengahan Februari, kegiatan telah terlaksana di 447 titik dengan capaian sekitar 69 persen dari target nasional. Distribusi dilakukan secara langsung ke masyarakat untuk memperpendek rantai pasok sekaligus menekan potensi spekulasi harga.

Sebanyak 16,2 ribu kilogram bahan pokok dilepas ke pasar melalui program ini. Komoditas yang disalurkan meliputi beras, cabai, gula, bawang merah, bawang putih, daging sapi, daging ayam, telur, daging kerbau, terigu, dan minyak goreng. Intervensi tersebut dirancang untuk menjaga daya beli sekaligus memastikan pasokan mencukupi di tengah peningkatan konsumsi selama Ramadan.

Pemerintah juga menggulirkan program Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras bekerja sama dengan Perum Bulog. Skema ini diperkuat melalui Fasilitasi Distribusi Pangan dan penyaluran bantuan beras serta minyak goreng kepada lebih dari 33 juta keluarga penerima manfaat pada Februari hingga Maret 2026. Kebijakan ini menjadi bantalan sosial sekaligus instrumen pengendali harga di pasar terbuka.

Dari sisi perdagangan, Kementerian Perdagangan terus melakukan pemantauan harga secara intensif. Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menyampaikan bahwa monitoring dilakukan secara langsung di pasar maupun melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP). Pendekatan digital tersebut memungkinkan pemerintah merespons cepat apabila ditemukan kenaikan harga yang tidak sejalan dengan kondisi stok.

Data SP2KP menunjukkan rata-rata harga pangan nasional berada dalam batas wajar. Pada beberapa wilayah memang terjadi penyesuaian harga, namun secara umum kondisi tetap terkendali. Salah satu indikatornya adalah harga Minyakita yang berada di kisaran Rp16.020 per liter, lebih rendah dibandingkan rerata sebelumnya.

Penurunan harga itu tidak terlepas dari implementasi Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 43 Tahun 2025 yang mengatur tata kelola minyak goreng rakyat. Aturan tersebut mewajibkan 35 persen pasokan dari BUMN pangan disalurkan langsung ke konsumen sehingga distribusi lebih efisien dan tekanan harga dapat ditekan.

Kementerian Perdagangan juga menghimpun para pemasok komoditas strategis untuk memastikan kelancaran distribusi selama Ramadan. Konsolidasi dilakukan secara berkala guna menjaga kecukupan stok dan mencegah gangguan pada rantai pasok nasional. Penguatan koordinasi ini sekaligus menjadi bentuk antisipasi terhadap potensi hambatan logistik akibat peningkatan mobilitas dan permintaan musiman.

Dukungan terhadap langkah pemerintah turut disampaikan Ketua Umum Pedagang Pejuang Indonesia Raya (Papera), Don Muzakir. Berdasarkan pemantauan organisasinya, harga beras, daging sapi, ayam ras, cabai, dan bawang relatif stabil. Ia menilai stabilitas tersebut merupakan hasil kerja konkret pemerintah dalam menjaga stok dan mempercepat distribusi.

Papera juga mencatat bahwa ketika terjadi kenaikan pada komoditas tertentu, pemerintah segera merespons melalui penambahan stok beras SPHP dan penguatan operasi pasar murah. Langkah itu dinilai efektif menjaga keseimbangan pasar serta mencegah lonjakan harga berkepanjangan.

Menurut Don, distribusi kini lebih tertata, stok terjaga, dan pengawasan diperketat sehingga stabilitas dapat tercapai secara menyeluruh. Ia melihat kebijakan pangan saat ini semakin presisi dan berbasis data, mencerminkan kehadiran negara dalam melindungi pedagang maupun konsumen.

Rangkaian kebijakan yang dilakukan pemerintah tersebut menunjukkan komitmen pemerintah mengawal distribusi sebagai kunci stabilitas harga. Dengan koordinasi yang solid, dukungan pelaku usaha, serta pengawasan berlapis dari pusat hingga daerah, ekosistem pangan nasional bergerak dalam satu arah menjaga keseimbangan pasar.

Upaya yang telah dilakukan pemerintah ini memperlihatkan bahwa stabilitas bukan terjadi secara kebetulan, melainkan hasil perencanaan matang dan eksekusi konsisten, sehingga Ramadan 2026 dapat dilalui dengan pasokan cukup dan harga yang tetap terjangkau bagi seluruh masyarakat.

Ke depan, pemerintah menegaskan bahwa pola pengawalan distribusi pangan selama Ramadan akan menjadi model kebijakan jangka panjang dalam menjaga stabilitas harga pada periode permintaan tinggi lainnya. Evaluasi berkala terhadap efektivitas Gerakan Pangan Murah, SPHP beras, serta sistem pemantauan digital akan terus dilakukan agar respons kebijakan semakin cepat dan presisi. Dengan dukungan data real-time, sinergi antarlembaga, serta partisipasi pelaku usaha dan masyarakat, pemerintah optimistis ekosistem pangan nasional akan semakin tangguh menghadapi dinamika pasar. Langkah berkelanjutan ini diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas selama Ramadan 2026, tetapi juga memperkuat fondasi ketahanan pangan Indonesia dalam jangka panjang.

*) Analis Kebijakan Pangan Nasiona

MBG Ramadan Hadirkan Disiplin Gizi di Bulan Suci

Oleh : Revy Adriana )*

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di bulan Ramadan menghadirkan wajah kebijakan publik yang bukan sekadar responsif, tetapi juga visioner dalam membangun kualitas sumber daya manusia sejak dini. Di tengah dinamika ibadah puasa yang menuntut pengendalian diri, disiplin waktu, dan ketahanan fisik, kehadiran MBG justru memperkuat makna Ramadan sebagai momentum pembinaan lahir dan batin. Program ini tidak hanya memastikan anak-anak tetap mendapatkan asupan gizi seimbang saat sahur dan berbuka, tetapi juga menanamkan kesadaran kolektif bahwa disiplin gizi merupakan bagian tak terpisahkan dari ibadah itu sendiri. Ketika negara hadir menjamin kecukupan nutrisi, pesan yang disampaikan bukan semata tentang makanan gratis, melainkan tentang komitmen membangun generasi sehat, kuat, dan berdaya saing.

Ramadan kerap identik dengan perubahan pola makan yang drastis. Waktu makan yang terbatas, kecenderungan mengonsumsi makanan tinggi gula saat berbuka, hingga potensi penurunan energi di siang hari menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi anak-anak usia sekolah. Dalam konteks ini, MBG menjadi instrumen strategis untuk menjaga keseimbangan nutrisi. Menu yang dirancang dengan komposisi karbohidrat kompleks, protein hewani dan nabati, serat, serta vitamin dan mineral membantu tubuh tetap bugar sepanjang hari. Disiplin gizi di bulan suci bukan berarti mengurangi kenikmatan berbuka, melainkan mengelola asupan secara cerdas agar ibadah berjalan optimal dan aktivitas belajar tetap produktif. Dengan pendekatan ini, Ramadan tidak lagi dipandang sebagai bulan yang melemahkan fisik, tetapi sebagai ruang pembentukan karakter sehat.

Lebih jauh, MBG Ramadan memperkuat pesan bahwa ketahanan pangan dan kesehatan publik saling berkaitan erat. Ketika jutaan porsi makanan bergizi disalurkan secara terstruktur, dampaknya bukan hanya pada penerima manfaat, tetapi juga pada rantai pasok pangan lokal. Keterlibatan petani, peternak, pelaku UMKM katering, hingga distribusi logistik menciptakan efek berganda terhadap ekonomi daerah. Di bulan suci yang identik dengan solidaritas sosial, MBG menjadi wujud gotong royong modern: negara, pelaku usaha, dan masyarakat bergerak bersama memastikan tidak ada anak yang berpuasa dalam kondisi kekurangan gizi. Di sinilah disiplin gizi bertemu dengan disiplin tata kelola, menghadirkan kebijakan yang terukur sekaligus menyentuh nilai kemanusiaan.

Menteri Kordinator (Menko) Bidang Pangan, Zulkifli Hasan mengatakan selama bulan Ramadan, pola distribusi MBG akan dilakukan penyesuaian. MBG dibagi dalam bentuk makanan kering yang bisa dikondisikan saat buka atau sahur. Fleksibilitas tersebut justru memperkuat esensi disiplin gizi di bulan suci, karena keluarga dapat merencanakan asupan secara lebih terukur dan tidak terburu-buru.

Selain itu, aspek edukatif dari MBG juga patut diapresiasi. Ramadan adalah waktu yang tepat untuk membangun kebiasaan baik, termasuk pola makan sehat. Melalui sosialisasi menu seimbang dan pengawasan kualitas pangan, anak-anak belajar mengenali pentingnya protein untuk pertumbuhan, zat besi untuk mencegah anemia, serta cairan yang cukup untuk menjaga konsentrasi. Kebiasaan ini, jika ditanamkan secara konsisten, akan membentuk generasi yang lebih sadar kesehatan bahkan setelah Ramadan berakhir. Dengan kata lain, MBG tidak berhenti sebagai program musiman, melainkan menjadi pintu masuk transformasi perilaku gizi jangka panjang.

Sementara itu, Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengatakan pihaknya meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lebih kreatif dalam mengolah pangan lokal. Selain itu, mengurangi penggunaan produk pabrikan atau ultra processed food (UPF) pada program makan bergizi gratis (MBG) selama Ramadan. Selain itu, menu berbasis kearifan lokal perlu diperbanyak agar penyajian MBG tetap sehat dan aman dikonsumsi saat bulan puasa.

Narasi positif yang mengiringi pelaksanaan MBG Ramadan juga memperkuat optimisme publik terhadap arah pembangunan nasional. Investasi terbesar sebuah bangsa adalah manusia, dan kualitas manusia ditentukan salah satunya oleh status gizi. Ketika pemerintah menempatkan pemenuhan gizi sebagai prioritas, terutama di momen sakral seperti Ramadan, pesan strategisnya jelas: pembangunan tidak hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga infrastruktur biologis dan intelektual generasi muda. Disiplin gizi di bulan suci menjadi simbol bahwa penguatan spiritual berjalan seiring dengan penguatan fisik.

Tentu, setiap program berskala besar memerlukan pengawasan dan evaluasi berkelanjutan. Namun, semangat yang dibawa MBG Ramadan menunjukkan bahwa kebijakan publik dapat dirancang selaras dengan nilai budaya dan religius masyarakat. Puasa mengajarkan pengendalian diri; MBG mengajarkan pengelolaan asupan yang bijak. Puasa menumbuhkan empati; MBG menghadirkan solusi konkret bagi mereka yang membutuhkan. Kombinasi ini menjadikan Ramadan bukan hanya bulan ibadah personal, tetapi juga bulan penguatan fondasi kesehatan nasional.

Makan Bergizi Gratis (MBG) di bulan Ramadan adalah refleksi dari visi besar membangun generasi emas yang sehat, cerdas, dan berakhlak. Disiplin gizi bukan sekadar anjuran medis, melainkan bagian dari tanggung jawab kolektif. Ketika anak-anak mampu menjalani puasa dengan tubuh yang tetap kuat dan pikiran yang fokus, kita sedang menyemai masa depan yang lebih cerah. Ramadan pun menjadi momentum strategis untuk menegaskan bahwa kesehatan adalah prasyarat kemajuan, dan melalui MBG, disiplin gizi di bulan suci menjelma menjadi gerakan bersama menuju Indonesia yang lebih tangguh dan sejahtera.

)* Penulis merupakan Pengamat Gizi

Peningkatan Konsumsi Ramadan Tidak Ganggu Stabilitas Harga Pangan

Oleh: Rizky Fadillah Putra )*

Peningkatan konsumsi masyarakat selama Ramadan 1447 H dipastikan tidak mengganggu stabilitas harga pangan nasional. Pemerintah menilai lonjakan permintaan yang lazim terjadi setiap bulan suci telah diantisipasi melalui penguatan stok, pengawasan distribusi, serta pemantauan harga secara terpadu di seluruh wilayah.

Langkah pengendalian dilakukan dari hulu hingga hilir. Aparat penegak hukum turut dilibatkan untuk memastikan pasokan dan harga tetap terkendali. Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri melalui Satgas Sapu Bersih Pelanggaran Pangan memperkuat pengawasan pasar sebagai respons atas kenaikan harga pada sejumlah komoditas.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Ade Safri Simanjuntak menjelaskan bahwa Satgas Saber bekerja secara kolaboratif dari tingkat pusat hingga daerah, mulai dari Bareskrim, polda, polres, hingga polsek. Ia menegaskan strategi kolaborasi diperkuat untuk menjamin stabilitas pasokan, memastikan harga sesuai ketentuan HET, serta menjaga keamanan dan mutu pangan menjelang Ramadan dan Idulfitri.

Pengawasan tersebut tidak hanya difokuskan pada harga, tetapi juga pada kualitas produk yang beredar. Pemerintah ingin memastikan masyarakat memperoleh bahan pokok yang aman, layak konsumsi, dan tersedia dalam jumlah cukup selama periode hari besar keagamaan.

Di sisi lain, Kementerian Perdagangan terus memantau pergerakan harga melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP). Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan bahwa secara umum harga kebutuhan pokok masih terkendali, meskipun terdapat penyesuaian pada beberapa komoditas.

Ia menjelaskan bahwa SP2KP menjadi instrumen penting dalam menyediakan data harga secara berkala dan transparan. Melalui sistem tersebut, pemerintah dapat segera mengambil langkah korektif apabila ditemukan deviasi harga yang tidak wajar.

Harga Minyakita, misalnya, tercatat rata-rata nasional Rp16.020 per liter, sedikit di atas HET Rp15.700 per liter. Pemerintah merespons melalui kebijakan distribusi yang mewajibkan 35 persen pasokan BUMN pangan disalurkan langsung ke konsumen sesuai ketentuan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 43 Tahun 2025. Kebijakan ini dinilai efektif memotong rantai distribusi dan menekan tekanan harga.

Untuk komoditas telur ayam ras, harga rata-rata nasional berada di kisaran Rp30.750 per kilogram, sedikit di atas harga acuan Rp30.000 per kilogram. Namun pemerintah menilai kenaikan tersebut masih dalam batas wajar dan siap melakukan operasi pasar apabila diperlukan.

Sebaliknya, harga daging sapi dan bawang putih masih berada di bawah HET. Daging sapi tercatat sekitar Rp133.618 per kilogram, sementara bawang putih Rp36.875 per kilogram. Kondisi ini mencerminkan keseimbangan pasokan yang tetap terjaga di tengah peningkatan konsumsi.

Dukungan terhadap kebijakan stabilisasi juga datang dari Komisi IV DPR RI. Dalam kunjungan kerja spesifik yang dipimpin Siti Hediati Soeharto di Pasar Legi Surakarta, tim menemukan bahwa secara umum harga kebutuhan pokok relatif stabil. Kenaikan signifikan hanya terjadi pada cabai rawit merah akibat faktor musiman, terutama curah hujan yang memengaruhi produksi.

Komisi IV menilai penyaluran beras SPHP oleh Perum Bulog efektif menahan harga agar tetap sesuai daya beli masyarakat. Harga beras SPHP tercatat Rp12.500 per kilogram sesuai HET. Beras medium dan premium juga bergerak dalam rentang yang terkendali.

Data pemantauan menunjukkan minyak goreng Minyakita berada di level HET Rp15.700 per liter di Pasar Legi. Daging ayam ras stabil di kisaran Rp40.000 per kilogram, telur ayam ras Rp29.000 per kilogram, dan daging sapi antara Rp130.000 hingga Rp140.000 per kilogram.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa lonjakan konsumsi Ramadan tidak otomatis memicu gejolak harga secara luas. Intervensi terukur melalui penguatan stok, distribusi langsung, serta pengawasan berlapis menjadi faktor penentu stabilitas.

Pemerintah juga mengimbau masyarakat berbelanja secara bijak dan tidak melakukan pembelian berlebihan. Dengan koordinasi yang solid antara kementerian, aparat penegak hukum, BUMN pangan, serta dukungan legislatif, ekosistem pangan nasional bergerak dalam satu irama menjaga keseimbangan pasar.

Stabilitas harga pada Ramadan tahun ini menunjukkan bahwa kebijakan berbasis data dan kolaborasi lintas sektor mampu meredam tekanan musiman. Peningkatan konsumsi tetap terlayani tanpa mengorbankan keterjangkauan, mempertegas komitmen pemerintah dalam melindungi daya beli masyarakat.

Selain itu, sinergi pengawasan antara pemerintah pusat dan daerah memastikan setiap indikasi gangguan distribusi dapat segera ditangani sebelum berdampak luas. Pemerintah memilih pendekatan preventif dengan memperkuat stok, mempercepat distribusi, dan meningkatkan transparansi data harga.

Pola kerja terintegrasi ini menciptakan kepercayaan publik bahwa kebutuhan pokok tetap tersedia dalam jumlah memadai. Dengan fondasi kebijakan yang konsisten dan responsif, stabilitas pangan selama Ramadan menjadi bukti efektivitas tata kelola yang semakin adaptif terhadap dinamika permintaan musiman.

Ke depan, pemerintah akan terus memperbaiki sistem logistik pangan nasional agar lebih efisien dan terintegrasi. Optimalisasi gudang penyimpanan, pemanfaatan data digital secara real time, serta koordinasi rutin dengan pemerintah daerah menjadi bagian dari strategi berkelanjutan.

Pendekatan yang dilakukan pemerintah ini dirancang untuk memastikan setiap kenaikan permintaan dapat direspons cepat tanpa menimbulkan tekanan harga. Dengan kesiapan tersebut, momentum Ramadan justru menjadi ajang pembuktian bahwa ketahanan pangan nasional semakin kuat dan mampu menjaga stabilitas ekonomi masyarakat secara luas.

Jurnalis Ekonomi Kerakyatan

Continue Reading

Operasi Pasar Perkuat Stabilitas Harga di Bulan Suci Ramadan

Jakarta – Pemerintah menegaskan ketersediaan pangan nasional berada dalam kondisi aman menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026.

Neraca pangan hingga April 2026 menunjukkan sembilan komoditas strategis dalam posisi surplus produksi, yakni beras, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, jagung, minyak goreng, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Amran Sulaiman, menegaskan produksi dan stok nasional dalam posisi kuat.

“Produksi kita tinggi, stok kita banyak. Yang swasembada pangan kita sudah sembilan, yang belum ada tiga. Nah, yang tiga (belum swasembada) ini pun stoknya banyak. Jadi tidak boleh ada main-main,” ujar Amran.

Ia mengungkapkan stok beras nasional saat ini mencapai 3,4 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah dan dua kali lipat dari kondisi normal yang berkisar 1–1,5 juta ton.

Pemerintah juga menyiapkan cadangan beras program SPHP sebesar 1,5 juta ton dengan harga maksimal Rp12.500 per kilogram sebagai instrumen stabilisasi.

Pengawasan distribusi dan stok diperkuat melalui kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, serta Satgas Pangan. Pemerintah menegaskan penindakan akan difokuskan pada pelaku distribusi besar apabila ditemukan pelanggaran.

“Kalau ada yang mencoba menaikkan harga, pemerintah bersama Satgas Pangan akan menindak tegas. Pengawasan difokuskan pada sumber distribusi besar, bukan pedagang kecil. Yang diperiksa adalah pabrik, distributor utama, dan rantai pasok hulunya,” ungkapnya.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan, Isy Karim, menekankan pentingnya pemantauan harga secara intensif di pasar.

“Kalau harga melonjak tapi stok cukup, tentu bisa diambil tindakan. Segera laporkan ke pusat agar bisa dilakukan suplai dari daerah lain atau melalui BUMN pangan, sehingga harga tidak bergejolak,” tuturnya.

Pemerintah menggulirkan Gerakan Pangan Murah Serentak di seluruh Indonesia sebagai bagian dari operasi pasar untuk menjaga keterjangkauan harga.

Ketua Umum Pedagang Pejuang Indonesia Raya (Papera), Don Muzakir, menilai stabilitas harga saat Ramadan merupakan hasil kerja nyata pemerintah.

“Stabilitas ini bukan kebetulan. Ini hasil kerja nyata pemerintah yang serius memastikan rakyat bisa menjalani ramadan tanpa tekanan lonjakan harga,” katanya.

Ia menyebut penyaluran beras SPHP dan operasi pasar murah efektif menjaga keseimbangan pasar.

“Distribusi lebih tertata, stok terjaga, dan pengawasan diperketat. Ketika semua elemen bergerak bersama, stabilitas pasar tercapai. Ini contoh nyata kebijakan pangan yang bekerja untuk rakyat,” ujar Don.

Penguatan Stok Nasional Redam Potensi Lonjakan Harga Ramadan

Jakarta – Pemerintah memastikan kesiapan stok pangan nasional untuk meredam potensi lonjakan harga menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026.

Upaya penguatan pasokan dilakukan sejak dini guna menjaga stabilitas di tengah meningkatnya permintaan masyarakat.

Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, menilai dinamika harga menjelang hari besar keagamaan merupakan pola yang lazim terjadi setiap tahun.

“Secara umum ketersediaan pangan aman. Memang ada fluktuasi harga pada beberapa komoditas seperti cabai rawit merah. Namun kondisi ini masih dalam kendali dan kami pastikan akan bergerak turun mendekati Harga Acuan Penjualan (HAP),” ujar Ketut.

Bapanas juga melakukan pemantauan langsung ke sentra produksi, termasuk di Sleman, untuk memastikan kondisi di tingkat petani tetap terjaga. Koordinasi dilakukan agar keseimbangan hulu dan hilir berjalan selaras.

“Kami sudah berkoordinasi dengan petani. Kenaikan ini perlu diwajarkan, sehingga keseimbangan hulu hilir terjaga, jadi petani masih tetap mendapat keuntungan, pada saat yang sama konsumen juga memperoleh bahan pangan dengan harga yang wajar,” katanya.

Untuk komoditas lainnya, pemerintah memastikan situasi relatif stabil. Aparat bersama dinas pangan, perdagangan, dan pertanian memperkuat pengawasan melalui Satgas Saber Pelanggaran Pangan guna mencegah penimbunan dan praktik distribusi yang merugikan masyarakat.

“Kami bergerak bersama di lapangan, memastikan distribusi lancar dan harga tetap dalam batas kewajaran,” ujar Ketut.

Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional Februari 2026, stok pangan pokok strategis diperkirakan aman hingga akhir Maret 2026 atau setelah periode Ramadan dan Idulfitri

Ketut menambahkan produksi cabai diperkirakan meningkat seiring masuknya masa panen di sejumlah daerah. Tambahan pasokan diharapkan mendorong harga turun secara bertahap.

“Sedulur petani menyampaikan produksi mulai masuk menjelang Ramadan. Mudah-mudahan ini menjadi kabar baik dan harga semakin stabil,” katanya.

Dari sektor perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) turut memastikan pasokan aman. Direktur Kepelabuhanan Perikanan Ditjen Perikanan Tangkap, Ady Candra, menyebut produksi Januari–Maret 2026 mencapai sekitar 7,3 juta ton meski sedikit terkoreksi akibat musim barat.

“Memang ada sedikit penurunan karena pola musim, tetapi ini pola tahunan,” ujarnya.

Secara nasional, harga komoditas seperti cakalang, cumi, kakap, tongkol, dan tuna terpantau dominan stabil.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, T.B. Haeru Rahayu, menyatakan produksi budidaya triwulan I diproyeksikan tumbuh 19,09 persen.

“Kami optimistis kebutuhan selama puasa sampai Lebaran bisa terpenuhi dengan baik,” katanya.