Kolaborasi Bersama Jaga Stabilitas Keamanan Papua Tetap Kondusif

Papua – Sinergi yang erat antara aparat keamanan dan masyarakat terus memperkuat stabilitas keamanan di berbagai wilayah Papua. Kolaborasi yang terbangun secara konsisten melalui koordinasi lintas sektor dan pendekatan humanis menjadi fondasi penting dalam menciptakan suasana yang aman, nyaman, serta mendukung kelancaran aktivitas masyarakat sehari-hari.

Komitmen tersebut terlihat dalam patroli dan pengamanan kegiatan ibadah di Kampung Gigobak, Distrik Sinak, Kabupaten Puncak. Kehadiran aparat di tengah masyarakat memberikan rasa tenang sekaligus mempererat hubungan yang harmonis. Pendekatan humanis yang diterapkan menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan dan menciptakan interaksi yang positif.

Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Irjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani menegaskan bahwa pendekatan humanis menjadi prioritas dalam setiap kegiatan. “Patroli dan pengamanan ibadah ini merupakan bentuk komitmen untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat dengan tetap mengedepankan pendekatan yang humanis,” tegasnya.

Kegiatan patroli dialogis di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, juga menunjukkan hasil yang positif. Aparat secara aktif menyapa dan berdialog dengan masyarakat di berbagai titik aktivitas, termasuk permukiman dan pasar tradisional. Interaksi tersebut memperkuat hubungan yang harmonis serta mendukung terciptanya rasa aman di tengah masyarakat.

Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Pol. Adarma Sinaga menyampaikan bahwa pola pendekatan persuasif terus diperkuat melalui kehadiran langsung di lapangan. “Pendekatan persuasif melalui interaksi langsung memungkinkan terciptanya komunikasi yang baik serta mendukung terjaganya stabilitas keamanan secara berkelanjutan,” tambahnya.

Dukungan dari masyarakat semakin memperkuat upaya menjaga keamanan. Semangat kebersamaan dan persatuan menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan yang damai serta mendukung pembangunan di Papua.

Tokoh pemuda Suku Kamoro, Edison Manikiuta mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga kebersamaan. “Kami mengajak seluruh masyarakat untuk tetap tenang, tidak mudah terprovokasi, dan bersama-sama menjaga persatuan serta kesatuan demi terciptanya Papua yang aman dan damai,” pungkasnya.

Dengan sinergi yang terus terjaga, stabilitas keamanan Papua semakin kokoh. Kolaborasi antara aparat dan masyarakat menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan wilayah yang aman, damai, dan sejahtera.

Pendekatan Humanis Perkuat Stabilitas Keamanan di Papua

PAPUA – Upaya menjaga stabilitas keamanan di Papua terus menunjukkan perkembangan positif melalui pendekatan yang mengedepankan sisi humanis serta sinergi antara aparat dan masyarakat. Kehadiran aparat keamanan di lapangan tidak hanya berfungsi sebagai penjaga ketertiban, tetapi juga sebagai representasi negara yang memberikan rasa aman dan perlindungan bagi seluruh warga.

Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Faizal Ramadhani, menegaskan bahwa pendekatan berbasis kemanusiaan menjadi kunci dalam menjaga keamanan. Ia menyatakan bahwa aparat tidak hanya menjalankan fungsi pengamanan, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat melalui interaksi yang positif. “Polri hadir bukan hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga memberikan rasa nyaman dan membangun kepercayaan masyarakat,” ujarnya.

Senada dengan itu, Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Adarma Sinaga, menekankan pentingnya konsistensi kehadiran aparat di lapangan. Menurutnya, patroli rutin dan pengamanan kegiatan masyarakat menjadi langkah strategis dalam menjaga situasi tetap kondusif. “Kami memastikan setiap kegiatan masyarakat, termasuk ibadah, dapat berlangsung dengan aman,” ungkapnya.

Dukungan terhadap upaya tersebut juga disampaikan tokoh pemuda Papua Tengah, Edison Manikiuta. Ia menilai bahwa masyarakat Papua menginginkan kehidupan yang damai dan menolak segala bentuk kekerasan. “Kami mengajak seluruh masyarakat untuk tetap tenang, tidak mudah terprovokasi, dan bersama-sama menjaga persatuan,” katanya.

Perkembangan positif juga terlihat dari kembalinya sejumlah eks anggota kelompok bersenjata ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini menjadi bukti bahwa pendekatan persuasif dan pembinaan yang dilakukan aparat mampu membuka ruang rekonsiliasi serta mendorong perubahan ke arah yang lebih baik.

Kepala Penerangan Komando Operasi TNI Papua, M. Wirya Arthadiguna, menyampaikan bahwa momentum tersebut menjadi awal penting bagi terciptanya stabilitas jangka panjang. “Kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal perubahan agar mereka tidak kembali ke kelompok tersebut,” ujarnya.

Tokoh masyarakat Distrik Sinak, Nopinus Kagoya, turut mengapresiasi langkah aparat keamanan. Ia berharap upaya pembinaan yang dilakukan dapat terus berlanjut dan menjadi contoh bagi pihak lain.

Dengan kolaborasi yang kuat antara aparat keamanan dan masyarakat, stabilitas keamanan di Papua diharapkan terus terjaga. Kondisi yang aman dan kondusif menjadi landasan penting bagi percepatan pembangunan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah.

Stabilitas Keamanan sebagai Jalan Menuju Kesejahteraan

Oleh: Yonas Wenda*

Stabilitas keamanan di Papua bukan sekadar kebutuhan jangka pendek, melainkan fondasi strategis bagi terwujudnya masa depan yang damai, sejahtera, dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat. Dalam beberapa waktu terakhir, pendekatan yang dilakukan aparat keamanan menunjukkan arah yang semakin konstruktif, dengan menempatkan sisi kemanusiaan sebagai inti dari setiap langkah. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat rasa aman, tetapi juga membangun optimisme kolektif bahwa Papua sedang bergerak menuju fase baru yang lebih stabil dan penuh harapan.

Kehadiran aparat keamanan di tengah masyarakat kini semakin dirasakan sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar instrumen penegakan hukum. Melalui patroli rutin, pengamanan aktivitas masyarakat, serta interaksi yang lebih humanis, negara menunjukkan komitmennya dalam melindungi seluruh warga tanpa terkecuali. Situasi yang aman dan kondusif memungkinkan masyarakat menjalankan aktivitas sosial, ekonomi, dan keagamaan dengan lebih tenang, yang pada akhirnya berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas hidup.

Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Faizal Ramadhani, menegaskan bahwa pendekatan humanis menjadi strategi utama dalam menjaga stabilitas keamanan di Papua. Ia menyampaikan bahwa Polri hadir bukan hanya untuk menjaga ketertiban, tetapi juga untuk memberikan rasa nyaman dan membangun kepercayaan masyarakat. Pernyataan tersebut mencerminkan transformasi pendekatan keamanan yang semakin adaptif terhadap kebutuhan sosial masyarakat Papua, di mana kepercayaan menjadi modal utama dalam menciptakan ketertiban yang berkelanjutan.

Hal senada disampaikan oleh Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Adarma Sinaga, yang menekankan pentingnya konsistensi kehadiran aparat di lapangan. Ia menyatakan bahwa setiap aktivitas masyarakat, termasuk ibadah, harus dapat berlangsung dengan aman sebagai bagian dari hak dasar warga negara. Konsistensi ini menjadi bukti nyata bahwa negara tidak pernah abai terhadap kondisi masyarakat Papua, melainkan terus hadir untuk memastikan rasa aman terjaga di setiap lini kehidupan.

Lebih dari itu, stabilitas keamanan yang terjaga juga memberikan dampak positif terhadap percepatan pembangunan di Papua. Dengan situasi yang kondusif, berbagai program pemerintah dapat berjalan lebih optimal, mulai dari pembangunan infrastruktur, peningkatan layanan pendidikan, hingga penguatan sektor ekonomi berbasis masyarakat. Dalam konteks ini, keamanan dan pembangunan memiliki hubungan yang saling menguatkan, di mana stabilitas menjadi prasyarat utama bagi kemajuan.

Dukungan terhadap upaya menjaga keamanan juga datang dari tokoh pemuda Papua Tengah, Edison Manikiuta. Ia menyatakan bahwa masyarakat Papua pada dasarnya menginginkan kehidupan yang damai dan sejahtera, serta menolak segala bentuk kekerasan yang justru merugikan masyarakat itu sendiri. Edison menegaskan bahwa penegakan hukum terhadap kelompok yang mengganggu keamanan merupakan langkah yang tepat dan diperlukan untuk melindungi masyarakat luas. Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang tidak jelas kebenarannya, serta tetap menjaga persatuan sebagai kekuatan utama Papua.

Pernyataan tersebut menjadi refleksi bahwa kesadaran masyarakat Papua terhadap pentingnya stabilitas keamanan semakin meningkat. Masyarakat tidak lagi melihat keamanan sebagai tanggung jawab aparat semata, tetapi sebagai tanggung jawab bersama yang harus dijaga secara kolektif. Narasi ini sekaligus menjadi bentuk propaganda positif yang menegaskan bahwa Papua memiliki modal sosial yang kuat untuk keluar dari berbagai tantangan yang ada.

Perkembangan positif lainnya terlihat dari kembalinya sejumlah eks anggota kelompok bersenjata ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Langkah ini menunjukkan bahwa pendekatan persuasif dan humanis yang dilakukan aparat mampu membuka ruang dialog dan rekonsiliasi. Para eks anggota tersebut memilih untuk meninggalkan jalan kekerasan dan kembali menjalani kehidupan yang lebih produktif, seperti bertani, berkebun, serta mendukung pembangunan di wilayahnya.

Kepala Penerangan Komando Operasi TNI Papua, M. Wirya Arthadiguna, menyampaikan bahwa momentum ini diharapkan menjadi titik awal perubahan yang lebih luas. Ia menegaskan bahwa negara memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk kembali dan berkontribusi secara positif bagi masyarakat. Pendekatan ini mencerminkan wajah negara yang tidak hanya tegas, tetapi juga terbuka dan inklusif dalam merangkul seluruh elemen bangsa.

Dukungan dari tokoh masyarakat juga memperkuat optimisme tersebut. Tokoh Masyarakat Distrik Sinak, Nopinus Kagoya menyampaikan apresiasi terhadap upaya pembinaan yang dilakukan aparat keamanan. Ia berharap keberhasilan ini dapat menjadi contoh bagi pihak lain untuk mengikuti langkah yang sama, sehingga tercipta lingkungan yang lebih damai dan harmonis. Peran tokoh masyarakat dalam menyuarakan pesan damai menjadi sangat penting dalam memperkuat kohesi sosial di tingkat akar rumput.

Dalam perspektif yang lebih luas, berbagai perkembangan ini menunjukkan bahwa Papua sedang berada pada jalur yang tepat menuju stabilitas yang berkelanjutan. Pendekatan humanis, penegakan hukum yang profesional, serta dukungan masyarakat menjadi kombinasi yang efektif dalam menciptakan situasi yang kondusif. Narasi positif ini perlu terus diperkuat agar mampu mengimbangi berbagai informasi negatif yang berpotensi merusak kepercayaan publik.

Dengan semangat kebersamaan dan komitmen yang kuat dari seluruh elemen bangsa, Papua memiliki peluang besar untuk menjadi wilayah yang aman, damai, dan sejahtera. Stabilitas keamanan yang terjaga bukan hanya menjadi capaian saat ini, tetapi juga investasi jangka panjang bagi masa depan generasi Papua. Dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, Papua akan terus menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa menuju kemajuan yang inklusif dan berkeadilan.

*Penulis merupakan Pemerhati Sosial Papua

Stabilitas Papua Jadi Pilar Utama Kesejahteraan Masyarakat

Oleh : Yohanes Wandikbo )*

Stabilitas keamanan di Papua terus menunjukkan tren yang semakin positif seiring dengan konsistensi pemerintah dalam memperkuat kolaborasi antara aparat keamanan dan masyarakat. Pendekatan terpadu yang dijalankan tidak hanya berfokus pada penguatan pengamanan wilayah, tetapi juga pada pembangunan kepercayaan publik melalui komunikasi yang intensif dan keterlibatan langsung di tengah masyarakat. Kebijakan ini menjadi bukti nyata kehadiran negara dalam memastikan rasa aman sekaligus mendorong percepatan pembangunan di Papua.

Berbagai langkah konkret yang dilakukan pemerintah melalui Operasi Damai Cartenz 2026 memperlihatkan efektivitas strategi yang mengedepankan pendekatan humanis. Pengamanan kegiatan ibadah di Kampung Gigobak, Distrik Sinak, Kabupaten Puncak menjadi contoh bagaimana aparat hadir tidak hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai pelindung hak masyarakat dalam menjalankan aktivitas sosial dan keagamaan secara aman dan nyaman. Kehadiran ini memperkuat rasa percaya masyarakat terhadap negara.

Pendekatan humanis yang diterapkan menjadi bagian penting dari kebijakan pemerintah dalam menciptakan stabilitas yang berkelanjutan. Aparat tidak hanya menjalankan fungsi pengamanan, tetapi juga membangun kedekatan dengan masyarakat melalui interaksi yang terbuka dan penuh empati. Hal ini semakin memperkuat hubungan harmonis antara negara dan masyarakat Papua, sehingga menciptakan lingkungan yang kondusif bagi berbagai aktivitas kehidupan.

Kepala Operasi Damai Cartenz 2026 Irjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani menegaskan bahwa kehadiran aparat merupakan representasi komitmen pemerintah dalam memberikan rasa aman sekaligus membangun kepercayaan publik melalui pendekatan yang humanis dan persuasif. Pandangan ini mencerminkan keberhasilan arah kebijakan pemerintah yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara tepat dan berkelanjutan.

Selain itu, pelaksanaan patroli dialogis di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang semakin memperkuat efektivitas strategi pemerintah dalam menjaga stabilitas wilayah. Melalui komunikasi langsung, aparat dapat menyerap aspirasi masyarakat serta memastikan situasi tetap kondusif. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya responsif, tetapi juga proaktif dalam menjaga keamanan dan ketertiban.

Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz 2026 Kombes Pol. Adarma Sinaga menyampaikan bahwa pendekatan persuasif yang dijalankan merupakan strategi unggulan pemerintah dalam menciptakan rasa aman yang berkelanjutan, karena mampu memperkuat hubungan antara aparat dan masyarakat sekaligus memastikan setiap potensi gangguan dapat diantisipasi dengan baik. Pernyataan ini menegaskan bahwa kebijakan pemerintah berjalan efektif dan tepat sasaran.

Peran pemuda Papua juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan menjaga stabilitas keamanan. Pemerintah terus mendorong keterlibatan aktif generasi muda sebagai garda terdepan dalam menjaga persatuan dan mendukung pembangunan. Pemuda Papua kini semakin menunjukkan kontribusi nyata dalam menciptakan suasana damai yang mendukung kemajuan daerah.

Tokoh pemuda Suku Kamoro Edison Manikiuta menilai bahwa upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas keamanan telah memberikan dampak positif bagi masyarakat, sehingga seluruh elemen, khususnya pemuda, perlu terus mendukung kebijakan tersebut dengan menjaga persatuan dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan. Pandangan ini menunjukkan adanya sinergi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga kondusivitas wilayah.

Stabilitas yang terjaga dengan baik memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat. Mobilitas warga menjadi lebih lancar, kegiatan usaha berkembang, dan berbagai program pembangunan dapat berjalan optimal. Hal ini menegaskan bahwa kebijakan pemerintah dalam menjaga keamanan memiliki implikasi langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua.

Selain itu, penguatan stabilitas keamanan juga mendorong peningkatan kualitas pelayanan publik di berbagai sektor. Akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan layanan dasar lainnya semakin terbuka luas karena situasi yang kondusif memungkinkan distribusi program pemerintah berjalan lebih efektif. Kondisi ini memperlihatkan bahwa keamanan yang terjaga menjadi faktor utama dalam memastikan keberhasilan pembangunan yang merata dan berkelanjutan di Papua.

Keberhasilan ini merupakan hasil dari kerja nyata pemerintah yang konsisten dalam mengedepankan pendekatan kolaboratif dan inklusif. Sinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan pemuda menjadi kekuatan utama dalam menjaga stabilitas sekaligus mendorong percepatan pembangunan. Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa kebijakan pemerintah mampu menciptakan harmoni sosial yang kuat.

Dengan komitmen yang terus dijaga, stabilitas keamanan Papua diyakini akan semakin kokoh dan berkelanjutan. Pemerintah telah menunjukkan keseriusan dalam menghadirkan keamanan yang merata dan berkeadilan, sehingga seluruh masyarakat dapat merasakan manfaatnya secara langsung. Kondisi ini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan Papua yang maju, damai, dan sejahtera.

Penguatan kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, dan pemuda Papua menjadi fondasi strategis dalam menjaga stabilitas yang berkelanjutan sekaligus mempercepat pembangunan di berbagai sektor. Sinergi yang terbangun tidak hanya menciptakan rasa aman, tetapi juga memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan negara yang berpihak pada kesejahteraan rakyat. Dengan komitmen yang konsisten dan partisipasi aktif seluruh elemen bangsa, Papua akan terus bergerak maju sebagai wilayah yang damai, produktif, dan berdaya saing dalam kerangka pembangunan nasional yang inklusif.

)* Penulis merupakan Pengamat Pembangunan Papua

MBG Serap Tenaga Kerja Lokal, Pendapatan Warga Meningkat

Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah tidak hanya berfokus pada peningkatan gizi peserta didik, tetapi juga memberikan dampak nyata dalam membuka lapangan pekerjaan dengan pendapatan layak bagi masyarakat lokal. Implementasi program ini dinilai mampu menggerakkan ekonomi di tingkat daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyampaikan bahwa pelaksanaan MBG dirancang tidak hanya tepat sasaran, tetapi juga memberi manfaat luas bagi masyarakat sekitar.

“Program ini tidak hanya memastikan pemenuhan gizi anak, tetapi juga menciptakan peluang kerja bagi warga lokal melalui berbagai aktivitas di dapur layanan MBG,” ujarnya.

Menurutnya, kebijakan penyaluran MBG yang mengikuti hari aktif sekolah tetap mempertimbangkan kondisi khusus di lapangan.

“Di daerah dengan risiko stunting tinggi, distribusi tetap dilakukan hingga hari Sabtu agar kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi secara optimal,” kata Dadan Hindayana.

Penyaluran program ini juga dilakukan berbasis kehadiran siswa serta didukung oleh data akurat dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024. Pendataan yang komprehensif menjadi dasar dalam menentukan wilayah prioritas sekaligus memastikan program berjalan efektif.

“Integritas data sangat penting karena program ini menyangkut kesehatan generasi muda sekaligus keberlanjutan manfaatnya bagi masyarakat,” tegas Dadan Hindayana.

Selain manfaat gizi, dampak ekonomi dari MBG dirasakan langsung oleh warga lokal, Juru Masak di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Banjarwangunan 1 Kabupaten Cirebon, Adha Sidik Hidayat, mengungkapkan bahwa program ini membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar.

“Banyak relawan yang sebelumnya menganggur kini memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang layak, bahkan membantu orang tua tunggal dalam memenuhi kebutuhan keluarga,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pendapatan relawan berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per hari, sementara tenaga chef rata-rata memperoleh Rp200 ribu per hari.

“Jika dihitung bulanan, penghasilan tersebut sudah melampaui UMK Cirebon, sehingga sangat membantu meningkatkan kesejahteraan,” jelas Adha.

Menurutnya, seluruh tenaga kerja di SPPG berasal dari warga sekitar sesuai ketentuan BGN. Hal ini diwajibkan agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.

Dengan berbagai manfaat tersebut, MBG tidak hanya memperkuat kualitas gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan warga lokal, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. ****

MBG Tak Hanya Soal Gizi, Juga Buka Peluang Kerja bagi Warga

Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) semakin menunjukkan dampak strategis yang melampaui tujuan awal pemenuhan gizi anak. Di tengah fokus pemerintah memperkuat kualitas sumber daya manusia sejak usia sekolah, program unggulan Presiden Prabowo Subianto itu juga berkembang menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan melalui penciptaan lapangan kerja baru, khususnya di tingkat lokal.

Berbagai dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terus bertambah telah membuka ruang kerja bagi juru masak, tim persiapan, distribusi, hingga pemasok bahan baku dari lingkungan sekitar. Situasi ini menjadikan MBG relevan dengan kebutuhan nasional saat ini.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan bahwa MBG bukan sekadar program bantuan makanan, tetapi investasi besar negara untuk masa depan generasi sekaligus instrumen pemerataan ekonomi. Dengan target puluhan ribu dapur aktif hingga akhir 2026, pemerintah memproyeksikan jutaan peluang kerja baru dapat tercipta dari ekosistem program tersebut.

“MBG ini pada puncaknya akan menjangkau lebih dari 82 juta penerima manfaat. Dari sana, dapur-dapur yang beroperasi bisa mencapai sekitar 30 ribu unit, dan setiap dapur mempekerjakan sekitar 50 orang. Itu artinya, kita sedang membuka sedikitnya 1,5 juta lapangan kerja baru,” ujar Presiden.

Menurut Presiden, angka tersebut bahkan berpotensi terus bertambah seiring penguatan rantai pasok pangan nasional, mulai dari petani, peternak, nelayan, pelaku UMKM, hingga jasa distribusi yang menopang operasional dapur MBG di berbagai daerah. Penegasan ini memperlihatkan arah kebijakan pemerintah yang tidak hanya fokus pada output konsumsi, tetapi juga dampak ekonomi jangka panjang yang inklusif dan menyentuh masyarakat akar rumput.

Di SPPG Banjarwangunan 1, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, warga sekitar terlibat langsung dalam aktivitas harian dapur, dari menyiapkan bahan, memasak, hingga pengemasan dan distribusi. Adha Sidik Hidayat, salah satu juru masak, menyebut kehadiran MBG telah menjadi harapan baru bagi banyak warga yang sebelumnya belum memiliki pekerjaan tetap.

“Jadi dilihat dari relawan sendiri yang asalnya menganggur sudah pasti mendapat pekerjaan yang layak. Ada beberapa relawan kami sebagai orang tua tunggal (single parent) dengan keberadaan MBG ini sangat membantu untuk menafkahi anaknya,” kata Adha.

Ia menambahkan, skema penghasilan yang diterapkan cukup kompetitif dan mampu meningkatkan kesejahteraan pekerja.

“Patokan dari BGN untuk relawan itu Rp100-200 ribu per hari. Untuk chef rata-rata Rp200 ribu per hari. Tinggal dikalikan jumlah hari kerja. Ini cukup layak karena UMK di Cirebon hampir Rp3 juta, jadi sudah melebihi UMK Cirebon,” tuturnya.

Adha juga menegaskan bahwa kebijakan perekrutan warga lokal memberi efek domino yang sangat positif.

“Memang diwajibkan oleh BGN bahwa yang bekerja di SPPG tersebut wajib warlok (warga lokal). UMKM di sekitar juga tumbuh berkembang, termasuk warung dan pemasok bahan baku,” tegas Adha.

Di tengah evaluasi dan penguatan standar kualitas yang terus dilakukan pemerintah, perkembangan ini memperlihatkan bahwa MBG telah tumbuh menjadi kebijakan sosial-ekonomi yang komprehensif. Program ini bukan hanya menjawab kebutuhan gizi generasi muda, tetapi juga membuktikan keberpihakan pemerintah pada penciptaan kerja, penguatan UMKM, dan perputaran ekonomi daerah. Dengan tata kelola yang terus dibenahi, MBG kian menegaskan arah pemerintahan saat ini yang pro rakyat, produktif, dan berorientasi pada kesejahteraan berkelanjutan.***

MBG sebagai Motor Penggerak Ekonomi Masyarakat Lokal

Oleh: Yusuf Rinaldi)*

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi pemerintah bukan sekadar kebijakan sosial untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, melainkan sebuah desain besar pembangunan ekonomi berbasis kerakyatan. Dalam konteks ekonomi nasional yang tengah menghadapi tantangan global, mulai dari perlambatan pertumbuhan hingga disrupsi rantai pasok, MBG hadir sebagai instrumen strategis yang mampu menggerakkan ekonomi dari level paling bawah, yakni daerah dan komunitas lokal.

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara tegas memposisikan MBG sebagai investasi jangka panjang negara. Perspektif ini penting untuk dipahami, sebab selama ini program bantuan sosial kerap dipandang sebagai beban fiskal. Padahal, melalui MBG, pemerintah justru menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang signifikan. Dengan alokasi anggaran yang mencapai ratusan triliun rupiah dan disalurkan langsung ke daerah, perputaran ekonomi tidak lagi terpusat di kota besar, melainkan menyebar hingga ke pelosok.

Skema distribusi anggaran yang diterapkan juga mencerminkan pendekatan ekonomi yang progresif. Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Sony Sonjaya, menjelaskan bahwa sekitar 93 persen anggaran MBG atau setara Rp249 triliun, langsung disalurkan ke daerah melalui mekanisme virtual account. Model ini tidak hanya memangkas birokrasi, tetapi juga mempercepat sirkulasi uang di tingkat lokal. Ketika dana tersebut digunakan untuk membeli bahan baku, membayar tenaga kerja, hingga mendukung operasional, maka ekonomi desa dan kota kecil akan bergerak secara simultan.

Lebih jauh, komposisi penggunaan anggaran memperlihatkan keberpihakan yang kuat terhadap sektor riil. Sebanyak 70 persen dialokasikan untuk bahan baku, yang berarti permintaan terhadap produk pertanian, peternakan, dan perikanan meningkat secara signifikan. Bagi petani, peternak, dan nelayan, ini adalah kabar baik yang selama ini dinantikan: kepastian pasar. Dalam teori ekonomi pembangunan, kepastian permintaan merupakan kunci untuk mendorong produksi dan investasi. Dengan adanya MBG, pelaku usaha kecil di sektor pangan tidak lagi menghadapi ketidakpastian harga dan distribusi.

Selain itu, program ini juga menciptakan lapangan kerja dalam skala besar. Pemerintah memproyeksikan sekitar 1,5 juta tenaga kerja dapat terserap, baik dalam operasional dapur, distribusi, maupun manajemen layanan gizi. Ini menjadi solusi konkret di tengah tantangan ketenagakerjaan global yang semakin kompetitif. Lebih dari itu, sifat pekerjaan yang tersebar di berbagai daerah menjadikan MBG sebagai instrumen pemerataan ekonomi. Tidak hanya menciptakan pekerjaan, tetapi juga meningkatkan pendapatan masyarakat lokal secara langsung.

Dari perspektif perencanaan pembangunan, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy bahkan menyebut MBG sebagai “game changer”. Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Program ini menciptakan permintaan pasar yang stabil dan berkelanjutan, khususnya di sektor peternakan. Proyeksi kebutuhan tambahan hingga 1,5 juta liter susu dan 47.000 ton daging sapi hingga 2029 menunjukkan adanya lonjakan permintaan yang dapat mendorong investasi dan peningkatan kapasitas produksi dalam negeri.

Transformasi ini juga mengarah pada tujuan yang lebih besar, yakni kedaulatan pangan. Jika sebelumnya fokus hanya pada ketahanan pangan, kini pemerintah bergerak menuju kemandirian produksi. Target peningkatan produksi susu domestik hingga 96 persen dan daging sapi hingga 70 persen menjadi indikator keseriusan tersebut. Dalam konteks ini, MBG tidak hanya menjadi program konsumsi, tetapi juga katalis bagi reformasi struktural di sektor pangan dan peternakan.

Namun, pemerintah juga menyadari adanya tantangan, seperti rendahnya produktivitas peternak kecil dan keterbatasan sumber daya. Oleh karena itu, pendekatan yang diambil tidak semata-mata berbasis anggaran, tetapi juga inovasi dan kolaborasi. Pengembangan sapi berbasis teknologi genomik, serta keterlibatan sektor swasta dan akademisi, menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas dan skala produksi.

Yang tak kalah penting, MBG juga berkontribusi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dengan memastikan asupan gizi yang cukup bagi anak-anak, program ini membangun fondasi bagi generasi emas 2045. Dalam jangka panjang, investasi pada kesehatan dan kecerdasan akan menghasilkan tenaga kerja yang lebih produktif dan kompetitif. Ini adalah bentuk pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga keberlanjutan.

Dengan demikian, MBG dapat dipahami sebagai kebijakan multidimensi yang mengintegrasikan aspek sosial dan ekonomi. Ia bukan sekadar program pemberian makanan, tetapi ekosistem ekonomi yang menghubungkan produksi, distribusi, konsumsi, hingga pembangunan manusia. Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, langkah pemerintah ini menunjukkan keberanian untuk berpikir jauh ke depan sekaligus bertindak konkret di lapangan.

Jika implementasinya dijaga tetap disiplin, transparan, dan akuntabel, MBG berpotensi menjadi model baru dalam pembangunan ekonomi berbasis daerah. Program ini membuktikan bahwa penguatan ekonomi nasional tidak harus selalu dimulai dari pusat, tetapi bisa tumbuh dari desa, dari petani, dari dapur-dapur sederhana yang kini menjadi pusat aktivitas ekonomi baru. Pada akhirnya, MBG bukan hanya tentang memberi makan, tetapi tentang menggerakkan kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia secara menyeluruh.

)*Penulis Merupakan Pengamat Ekonomi

MBG dan Terbukanya Lapangan Kerja untuk Masyarakat Lokal

Oleh : Dora Rentalita Manurung )*

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah bukan sekadar kebijakan sosial untuk mengatasi persoalan gizi, melainkan juga sebuah strategi ekonomi yang berpotensi besar dalam membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal. Dalam konteks pembangunan nasional, pendekatan yang mengintegrasikan pemenuhan kebutuhan dasar dengan penciptaan kesempatan kerja merupakan langkah yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Selama ini, persoalan gizi buruk dan stunting berjalan beriringan dengan kemiskinan struktural dan terbatasnya akses terhadap pekerjaan yang layak. Oleh karena itu, MBG hadir sebagai intervensi yang menyentuh dua persoalan sekaligus, yakni peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penguatan ekonomi rakyat dari tingkat akar rumput.

Komitmen pemerintah untuk melanjutkan MBG menunjukkan adanya kesadaran bahwa anggaran negara harus diarahkan pada kebutuhan nyata masyarakat. Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa program ini menjadi prioritas karena menyasar langsung kesejahteraan rakyat, terutama kelompok rentan. Ia memandang bahwa dana publik seharusnya tidak terbuang sia-sia akibat kebocoran atau praktik korupsi, melainkan dimanfaatkan untuk memastikan masyarakat mendapatkan akses terhadap pangan bergizi. Dalam pandangannya, MBG bukan hanya program bantuan, tetapi investasi jangka panjang dalam membangun generasi yang sehat dan produktif.

Lebih jauh, dimensi ekonomi dari MBG tidak bisa diabaikan. Target pembangunan puluhan ribu dapur operasional di seluruh Indonesia membuka peluang kerja dalam skala besar. Setiap dapur membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah signifikan, mulai dari tenaga pengolah makanan hingga pengelola distribusi. Dengan asumsi penyerapan puluhan pekerja per dapur, program ini secara langsung menciptakan jutaan lapangan kerja baru. Dampak ini menjadi sangat penting di tengah tantangan ketenagakerjaan yang masih dihadapi Indonesia, terutama di daerah-daerah dengan tingkat pengangguran tinggi.

Namun, dampak MBG tidak berhenti pada penciptaan pekerjaan langsung. Efek berganda dari program ini justru terlihat lebih luas pada sektor hulu. Rantai pasok pangan yang terbentuk membuka peluang bagi pelaku usaha kecil, petani, peternak, hingga nelayan untuk terlibat sebagai pemasok bahan baku. Dengan meningkatnya permintaan terhadap bahan pangan berkualitas, aktivitas ekonomi di tingkat lokal akan terdorong secara signifikan. Dalam hal ini, MBG berfungsi sebagai katalisator yang menghubungkan kebutuhan konsumsi dengan produksi lokal, sehingga menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif.

Pandangan serupa disampaikan oleh Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Operasional, Sony Sonjaya, yang menilai bahwa peningkatan permintaan produk pertanian, peternakan, dan perikanan akan berdampak langsung pada penciptaan lapangan kerja di sepanjang rantai pasok. Ia menekankan bahwa keberhasilan program pemenuhan gizi sangat bergantung pada kekuatan sektor-sektor tersebut. Dalam perspektifnya, penguatan ekosistem pangan tidak hanya meningkatkan ketersediaan bahan baku, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan pelaku usaha di sektor primer.

Khusus pada sektor peternakan, peluang yang muncul dari MBG sangat besar, terutama dalam pengembangan produksi susu dan protein hewani lainnya. Selama ini, peternak lokal masih didominasi oleh skala kecil dengan berbagai keterbatasan, mulai dari akses terhadap teknologi hingga pembiayaan. Dengan adanya permintaan yang stabil dari program MBG, peternak memiliki kepastian pasar yang dapat mendorong peningkatan produksi. Sony Sonjaya menegaskan bahwa penguatan sektor peternakan tidak hanya berdampak pada peningkatan produksi nasional, tetapi juga membuka lapangan kerja baru serta meningkatkan kesejahteraan peternak.

Meski demikian, implementasi MBG tidak lepas dari tantangan. Penutupan sejumlah dapur yang tidak memenuhi standar menunjukkan bahwa aspek kualitas dan tata kelola menjadi hal yang krusial. Program sebesar ini memerlukan sistem pengawasan yang ketat agar tidak menimbulkan masalah baru, seperti inefisiensi atau penyimpangan. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap unit pelaksana memenuhi standar operasional yang telah ditetapkan, sehingga tujuan program dapat tercapai secara optimal.

Selain itu, keberhasilan MBG juga sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan dari pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat. Dalam konteks ini, penting untuk memastikan bahwa pelaku lokal benar-benar menjadi bagian utama dari ekosistem yang dibangun. Dukungan dalam bentuk pelatihan, akses teknologi, dan pembiayaan menjadi kunci agar mereka mampu memenuhi standar kualitas yang dibutuhkan.

Dalam jangka panjang, MBG berpotensi menjadi model kebijakan yang mengintegrasikan aspek sosial dan ekonomi secara seimbang. Program ini menunjukkan bahwa upaya mengatasi masalah gizi tidak harus berdiri sendiri, melainkan dapat dirancang untuk sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan pendekatan yang tepat, MBG dapat menjadi instrumen pemerataan yang efektif, terutama bagi masyarakat di daerah yang selama ini kurang tersentuh pembangunan.

Pada akhirnya, keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang didistribusikan atau angka penurunan stunting, tetapi juga dari sejauh mana program ini mampu menciptakan peluang kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Jika dikelola dengan baik, MBG dapat menjadi bukti bahwa kebijakan publik yang berpihak pada rakyat mampu menghasilkan dampak yang luas dan berkelanjutan, baik dari sisi sosial maupun ekonomi.

*Penulis adalah Pengamat Ekonomi

Pemerintah Ajak Masyarakat Gunakan BBM Secara Bijak dan Tenang

Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam membeli bahan bakar minyak (BBM). Menurut Bahlil, untuk kendaraan pribadi, pengisian sekitar 50 liter per hari dinilai sudah mencukupi kebutuhan harian.

Pernyataan itu disampaikan Bahlil dalam agenda pengumuman kebijakan pemerintah untuk mengantisipasi potensi krisis global yang disiarkan dari Seoul, Korea Selatan.

“Dalam pandangan kami sebagai mantan sopir angkot, wajar dan bijak itu kalau isi mobil satu hari 50 liter itu tangki sudah penuh satu hari. Kami akan mendorong ke sana,” ujar Bahlil.

Ketua Umum Partai Golkar itu menegaskan bahwa pemerintah tidak dapat bekerja sendirian dalam menghadapi tantangan global. Karena itu, ia mengharapkan dukungan dan kerja sama seluruh masyarakat.

“Yang tidak terlalu penting-penting, kami mohon agar kita juga bisa lakukan dengan bijak,” kata Bahlil.

Pemerintah sendiri telah mengumumkan sejumlah kebijakan sebagai langkah mitigasi dan antisipasi terhadap dinamika global, salah satunya melalui pengendalian konsumsi BBM agar lebih terukur.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa stok BBM nasional saat ini berada dalam kondisi aman. Ia juga menegaskan bahwa perekonomian nasional tetap terjaga. Meski demikian, pemerintah menilai perlunya penyesuaian perilaku konsumsi agar masyarakat tetap tenang dan dapat beraktivitas secara produktif.

Pemerintah pun mengimbau masyarakat untuk menggunakan BBM secara bijak dan sesuai kebutuhan harian, agar distribusi energi tetap merata dan stabil di tengah berbagai tantangan global.

Untuk mendukung konsumsi BBM yang lebih tertib, pemerintah akan mengatur pembelian melalui barcode MyPertamina. Setiap kendaraan nantinya dibatasi hingga 50 liter per hari, sementara ketentuan ini tidak diberlakukan bagi truk dan angkutan umum.

“Untuk memastikan distribusi BBM, pemerintah akan melakukan pengaturan pembelian,” kata Airlangga.

Selain itu, dalam rangka memperkuat kemandirian energi dan meningkatkan efisiensi, pemerintah akan mulai menjalankan program B50, yaitu mandatori pencampuran 50 persen bahan bakar nabati (biodiesel) berbasis minyak kelapa sawit (CPO) dengan 50 persen solar. Kebijakan ini akan mulai berlaku pada 1 Juli 2026 dan diyakini mampu menekan penggunaan BBM fosil hingga jutaan kiloliter (KL).

“Pertamina telah siap untuk mengimplementasikan blending (pencampuran) dan ini berpotensi mengurangi penggunaan BBM berbasis fosil sebanyak 4 juta KL. Dalam 6 bulan juga ada penghematan subsidi dari biodiesel yang diperkirakan nilainya Rp 48 triliun,” kata Airlangga.

Pemerintah Pastikan Ketahanan Energi Nasional Tetap Stabil di Tengah Tekanan Global

Oleh: Arga Pratama Wijaya

Di tengah meningkatnya tensi geopolitik global yang berdampak langsung pada rantai pasok energi dunia, pemerintah menegaskan bahwa kondisi stok energi nasional tetap dalam keadaan aman dan terkendali. Pernyataan ini menjadi sinyal penting bagi publik bahwa stabilitas energi domestik masih terjaga meskipun konflik di kawasan Timur Tengah terus memicu ketidakpastian global.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa ketersediaan bahan bakar minyak, baik bensin maupun solar, serta liquefied petroleum gas masih mencukupi kebutuhan masyarakat. Dalam pandangannya, kondisi ini patut disyukuri mengingat tekanan global yang cukup signifikan terhadap distribusi energi. Ia menekankan bahwa meskipun terjadi gangguan di tingkat internasional, suplai energi di dalam negeri tidak mengalami kendala berarti.

Lebih lanjut, Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa cadangan minyak nasional saat ini berada di atas ambang batas minimal yang ditetapkan, yakni berkisar antara 21 hingga 28 hari. Namun demikian, angka tersebut bukanlah indikator bahwa stok akan habis dalam rentang waktu tersebut, melainkan bagian dari sistem cadangan yang terus diperbarui melalui distribusi berkelanjutan dan optimalisasi kilang dalam negeri. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya bergantung pada stok, tetapi juga memastikan siklus pasokan tetap berjalan secara dinamis.

Langkah strategis lain yang ditempuh pemerintah adalah melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah. Ketergantungan terhadap pasokan dari kawasan Selat Hormuz yang selama ini mencapai sekitar 20 persen mulai dialihkan ke sumber lain. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah antisipatif yang tepat untuk mengurangi risiko gangguan distribusi akibat konflik di kawasan tersebut. Upaya ini sekaligus mencerminkan respons cepat pemerintah dalam membaca situasi global dan mengambil keputusan yang adaptif.

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada akhir Februari 2026 menjadi pemicu utama terganggunya distribusi energi global. Ketegangan yang berujung pada penguasaan Selat Hormuz oleh Iran berdampak luas terhadap jalur distribusi minyak dunia.

Di tengah kondisi tersebut, Indonesia justru menunjukkan ketahanan yang relatif kuat. Hal ini tidak terlepas dari kebijakan pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara produksi dalam negeri dan impor energi. Selain itu, peran badan usaha milik negara seperti Pertamina juga menjadi faktor kunci dalam memastikan distribusi berjalan lancar hingga ke daerah.

Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara, misalnya, telah menyiapkan berbagai langkah untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan energi, khususnya selama periode arus balik Lebaran 1447 Hijriah. Area Manager Communication, Relations dan CSR Fahrougi Andriani Sumampouw menyampaikan bahwa pihaknya melakukan peningkatan stok di terminal BBM dan LPG sebagai langkah awal pengamanan pasokan.

Selain itu, optimalisasi distribusi dan peningkatan kesiapsiagaan operasional juga dilakukan di seluruh titik layanan. Berdasarkan data yang dihimpun, terjadi peningkatan konsumsi BBM jenis gasoline hingga 16 persen dibandingkan kondisi normal. Sebaliknya, konsumsi gasoil mengalami penurunan sebesar 9,7 persen, sementara penggunaan LPG meningkat sekitar satu persen. Data ini menunjukkan adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat selama periode mudik dan arus balik.

Di sisi lain, fasilitas pendukung seperti Serambi MyPertamina juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kenyamanan masyarakat selama perjalanan. Layanan ini menyediakan ruang istirahat di sejumlah lokasi strategis sehingga pemudik dapat beristirahat dengan aman sebelum melanjutkan perjalanan. Kehadiran aplikasi MyPertamina juga semakin memudahkan masyarakat dalam mengakses informasi terkait lokasi SPBU, promo energi, hingga perencanaan perjalanan.

Pandangan positif terhadap kondisi energi nasional juga disampaikan oleh Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru. Ia menilai bahwa stok BBM, khususnya di wilayah Sumatera Selatan, masih dalam kondisi aman dan terkendali. Menurutnya, stabilitas harga dan pasokan energi di Indonesia merupakan hasil dari kebijakan pemerintah pusat yang mampu mengelola sektor energi secara efektif di tengah dinamika global.

Herman Deru juga mengapresiasi kepemimpinan presiden bersama jajaran kabinet yang dinilai berhasil menjaga keseimbangan antara kebutuhan domestik dan tekanan global. Ia menambahkan bahwa meskipun energi dapat dihemat melalui efisiensi penggunaan, sektor pangan tetap menjadi prioritas utama yang tidak bisa dikompromikan. Dalam konteks ini, Sumatera Selatan memiliki peran strategis sebagai salah satu daerah penyangga produksi beras nasional.

Dalam satu tahun terakhir, pemerintah juga mencatat sejumlah capaian penting di sektor energi, mulai dari peningkatan kapasitas kilang domestik, optimalisasi distribusi BBM satu harga hingga ke daerah terpencil, hingga penguatan cadangan energi nasional. Selain itu, percepatan transisi energi melalui pengembangan energi baru terbarukan juga terus didorong sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada penanganan jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi ketahanan energi yang berkelanjutan.

Melihat berbagai langkah dan capaian tersebut, dapat disimpulkan bahwa ketahanan energi nasional saat ini berada dalam kondisi yang cukup solid. Pemerintah tidak hanya mampu merespons krisis global dengan cepat, tetapi juga menjaga stabilitas pasokan di dalam negeri melalui kebijakan yang terukur dan kolaboratif. Ke depan, tantangan tentu masih akan terus muncul, terutama seiring dinamika geopolitik yang sulit diprediksi. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan energi nasional sekaligus memastikan bahwa kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi secara merata dan berkeadilan.

*) Analis Energi dan Geopolitik