Bansos Lebaran dan Janji Konstitusi: Negara Wajib Hadir di Saat Rakyat Paling Rentan

Oleh: Citra Kurnia Khudori)*

Menjelang Lebaran, kebutuhan rumah tangga masyarakat biasanya meningkat, mulai dari pangan hingga kebutuhan sosial lainnya. Pada momen seperti ini, kehadiran negara melalui bantuan sosial menjadi sangat penting untuk menjaga daya beli dan ketahanan ekonomi keluarga.

Bantuan sosial Lebaran tidak sekadar program rutin pemerintah, tetapi juga bentuk nyata perlindungan sosial bagi masyarakat yang paling rentan. Di tengah tekanan harga dan kebutuhan musiman, bansos menjadi penopang agar keluarga prasejahtera tetap dapat menjalani hari raya dengan layak.

Lebih jauh, kebijakan bantuan sosial sesungguhnya memiliki landasan konstitusional yang kuat dalam sistem negara kesejahteraan. Konstitusi menegaskan bahwa negara berkewajiban melindungi segenap warga dan memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar, terutama ketika masyarakat menghadapi situasi paling rentan.

Pemerintah melalui Kementerian Sosial (Kemensos) menyalurkan bantuan sosial (bansos) senilai Rp17,5 triliun menjelang lebaran. Bansos ini merupakan bagian dari stimulus ekonomi kuartal I tahun 2026.

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf alias Gus Ipul menerangkan, pemerintah menyalurkan dua jenis bansos dengan sasaran utama keluarga miskin dan rentan. Yang pertama adalah bansos regular, yaitu bantuan sembako dan Program Keluarga Harapan (PKH) yang menyasar 18 juta keluarga penerima manfaat dengan anggaran sebesar Rp17,5 triliun,

Sementara itu, bansos kedua merupakan bansos adaptif untuk penanganan kebencanaan. Gus Ipul memastikan bansos adaptif termasuk untuk bantuan penanganan kebencanaan di Sumatra dan beberapa wilayah lain dengan anggaran sebesar Rp2,3 triliun.

Di luar itu, Kemensos juga turut mengalokasikan anggaran bansos atensi atau asistensi rehabilitasi sosial. Sehingga total anggaran bansos yang digelontorkan tahun ini mencapai sekitar Rp20 triliun.

Gus Ipul meyakini, hingga saat ini realisasi penyaluran bansos sudah mencapai Rp17 triliun. Bansos akan terus didistribusikan hingga mendekati waktu Lebaran.

Guna memastikan penerimaan bansos tepat sasaran, pemerintah terus memutakhirkan data tunggal yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam proses penyaluran, Kemensos menggunakan berbagai kanal, termasuk pembukaan rekening dan distribusi melalui PT Pos Indonesia.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, penyaluran bantuan difokuskan menjelang Lebaran guna menjaga daya beli masyarakat sekaligus mengendalikan dampak inflasi. Fokus utama pemerintah tetap pada kelompok rentan agar dampak ekonomi global dan inflasi dapat diminimalisir.

Selain bansos yang disalurkan melalui Kemensos, pemerintah juga mendistribusikan bantuan berupa beras dan minyak goreng. Program ini merupakan hasil rapat koordinasi pengendalian inflasi pusat pada akhir Januari 2026.

Bantuan diberikan untuk alokasi Februari dan Maret sekaligus dalam satu pengiriman. Setiap KPM menerima total 20 kilogram beras dan 4 liter minyak goreng untuk dua bulan. Penyaluran beras dilakukan oleh Perum Bulog dengan total alokasi ratusan ribu ton secara nasional.

Di sektor Pendidikan, bantuan cair melalui Program Indonesia Pintar (PIP) guna membantu Pendidikan Masyarakat kurang mampu. Dana PIP disalurkan untuk siswa SD, SMP, hingga SMA/SMK melalui rekening Simpanan Pelajar di bank penyalur resmi.

Dalam Paket stimulus kuartal I 2026 jelang Lebaran juga mencakup diskon tiket transportasi dan potongan tarif jalan tol. Kebijakan ini diharapkan mampu mendukung mobilitas masyarakat menjelang Lebaran.

Selain bantuan bagi kelompok masyarakat rentan yang terdata oleh pemerintah, pemerintah juga memastikan adanya Bonus Hari Raya (BHR) bagi pengemudi ojek online (ojol) dan kurir. Besaranya 25 persen dari rata-rata pendapatan bersih mitra pengemudi selama 12 bulan terakhir. Total BHR dari aplikator naik signifikan dari Rp110 miliar di 2025, menjadi Rp220 miliar di 2026.

Menurut Pengamat Kebijakan Publik sekaligus Guru Besar Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansah, kebijakan BHR merupakan kabar gembira bagi para mitra pengemudi ojol sekaligus wujud nyata kehadiran negara bagi masyarakat di tengah gejolak ekonomi.

Di satu sisi, lanjut Trubus, negara berupaya memastikan kesejahteraan para mitra pengemudi. Di sisi lain, negara juga tetap menjaga keberlangsungan bisnis perusahaan aplikator agar tetap sehat dan berdaya saing.

Menurutnya, momen Lebaran memiliki makna sosial dan ekonomi yang besar bagi mitra pengemudi. Kebutuhan rumah tangga meningkat, sementara mereka tidak selalu memiliki kepastian pendapatan tetap seperti pekerja formal.

Trubus menegaskan, negara telah hadir untuk menjaga keseimbangan dan menata agar semua pihak dapat berkembang secara adil dan berkelanjutan. Hal itu sejalan dengan visi Presiden Prabowo untuk senantiasa menyejahterakan rakyat.

Dengan demikian, bantuan sosial Lebaran bukan sekadar instrumen ekonomi jangka pendek, melainkan wujud nyata tanggung jawab konstitusional negara untuk melindungi rakyatnya. Kehadiran negara pada saat masyarakat paling membutuhkan menjadi penegasan bahwa kebijakan publik harus berpihak pada kelompok rentan dan didistribusikan secara merata. Dengan komitmen tersebut, janji konstitusi tentang kesejahteraan sosial tidak berhenti sebagai norma, tetapi hadir nyata dalam kehidupan masyarakat.

)* Pemerhati isu sosial-ekonomi

MBG Jadi Angin Segar bagi UMKM di Berbagai Daerah

Jakarta – Pakar Kebijakan Publik Universitas Trisakti Trubus Rahardiansyah menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan dampak positif, tidak hanya dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat tetapi juga dalam mendorong pergerakan ekonomi lokal, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai daerah.

Menurut Trubus, pada tahap awal pelaksanaan program sempat muncul sejumlah keraguan dari masyarakat. Namun seiring waktu, penerimaan publik terhadap program tersebut mulai meningkat karena manfaatnya semakin dirasakan secara langsung.

“MBG memang sempat menghadapi resistensi di awal. Namun sekarang perlahan mulai diterima masyarakat dan pelayanan juga semakin membaik, termasuk dukungan dari sektor kesehatan,” kata Trubus di Jakarta.

Keterlibatan banyak pihak dalam rantai penyediaan makanan bergizi tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk memasok berbagai bahan pangan.

Petani, peternak, hingga pelaku UMKM lokal yang memproduksi bahan makanan seperti sayuran, telur, hingga produk pangan olahan mulai merasakan manfaat ekonomi dari keberadaan program ini.

Pendekatan berbasis potensi lokal tersebut dinilai dapat memperluas keterlibatan pelaku UMKM dalam rantai pasok program MBG. Selain meningkatkan kesejahteraan masyarakat, kebijakan ini juga membuka peluang bagi pelaku usaha kecil untuk memperluas pasar produk mereka.

Program MBG bahkan telah menjangkau wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Kehadiran SPPG di wilayah tersebut dinilai berpotensi menciptakan aktivitas ekonomi baru, termasuk bagi pelaku usaha kecil yang sebelumnya memiliki akses pasar yang terbatas.

“Awalnya MBG hanya dipandang sebagai kebijakan pemerintah. Namun saya melihat perlahan program ini berkembang menjadi gerakan moral,” kata Trubus.

Di sisi lain, peran asosiasi pelaku usaha juga dinilai sangat penting dalam membantu UMKM memanfaatkan peluang yang muncul dari program MBG. Hal ini disampaikan oleh Ketua DPD Asosiasi Industri Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (AKUMANDIRI) Kabupaten Sinjai, Jumain.

Jumain menilai, asosiasi berperan sebagai penghubung antara pelaku UMKM dengan berbagai program pemerintah, termasuk program MBG.

Melalui pendampingan dan edukasi, asosiasi membantu pelaku usaha memahami standar serta prosedur yang diperlukan agar dapat terlibat dalam program tersebut.

“Kami di asosiasi berupaya menjadi jembatan informasi bagi pelaku UMKM, mulai dari sosialisasi program, pendampingan administrasi hingga peningkatan kualitas produk agar bisa ikut terlibat dalam program MBG,” ujarnya.

[w.R]

MBG dan UMKM: Wajah Ekonomi Kerakyatan yang Sesungguhnya

Oleh : Rivka Mayangsari*)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah menjadi salah satu kebijakan strategis yang tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga membuka peluang besar bagi penguatan ekonomi kerakyatan. Dengan jangkauan program yang luas dan kebutuhan pasokan pangan dalam jumlah besar, MBG berpotensi menjadi penggerak ekonomi baru yang melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai daerah. Melalui keterlibatan UMKM dalam rantai pasok pangan, program ini tidak sekadar memenuhi kebutuhan gizi penerima manfaat, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi yang lebih merata di tingkat lokal.

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menilai bahwa keberadaan program MBG memiliki potensi besar untuk memperkuat integrasi UMKM dalam ekosistem ekonomi nasional. Menurutnya, selama ini banyak pelaku usaha kecil memiliki produk yang berkualitas dan potensi produksi yang cukup baik, tetapi belum sepenuhnya terhubung dengan pasar yang lebih besar. Program MBG dapat menjadi jembatan yang mempertemukan potensi ekonomi rakyat dengan kebutuhan pasokan pangan nasional yang stabil dan berkelanjutan. Dengan demikian, MBG tidak hanya berfungsi sebagai program sosial, tetapi juga menjadi instrumen yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis masyarakat.

Selama ini, salah satu tantangan utama yang dihadapi UMKM adalah keterbatasan akses terhadap teknologi produksi, pembiayaan, serta proses sertifikasi yang sering kali menjadi syarat untuk memasuki rantai distribusi yang lebih luas. Banyak pelaku UMKM mampu memproduksi berbagai komoditas pangan dengan kualitas baik, mulai dari produk pertanian, peternakan, hingga olahan pangan lokal. Namun tanpa dukungan teknologi pengolahan dan sistem distribusi yang memadai, potensi tersebut sering kali belum dapat terintegrasi secara optimal dalam sistem pasar nasional.

Dalam konteks ini, program MBG dapat menjadi katalis yang mendorong peningkatan kapasitas UMKM. Kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar mendorong terbukanya peluang kemitraan antara pemerintah, koperasi, serta pelaku usaha kecil di berbagai daerah. Dengan adanya kepastian permintaan yang relatif stabil, pelaku UMKM memiliki kesempatan untuk meningkatkan skala produksi, memperbaiki kualitas produk, serta mengembangkan standar usaha yang lebih baik.

Penguatan peran UMKM dalam program MBG juga memiliki dampak ekonomi yang luas. Ketika kebutuhan dapur MBG dipenuhi oleh petani lokal, peternak desa, koperasi pangan, serta pelaku usaha kecil di daerah, maka manfaat ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada industri besar. Perputaran ekonomi akan terjadi langsung di tingkat masyarakat, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional secara lebih merata.

Potensi tersebut terlihat jelas dalam berbagai komoditas pangan yang dibutuhkan dalam program MBG, seperti beras, sayuran, telur, daging, hingga produk susu. Banyak dari komoditas tersebut sebenarnya diproduksi oleh petani dan peternak lokal yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Jika rantai pasok tersebut dapat diorganisasi dengan baik dan melibatkan UMKM secara lebih luas, maka MBG dapat menjadi ekosistem ekonomi kerakyatan yang sangat besar dan berkelanjutan.

Rosan Roeslani menekankan bahwa pembangunan ekonomi nasional tidak dapat hanya bergantung pada kekuatan industri besar. Struktur ekonomi yang sehat membutuhkan keseimbangan antara sektor korporasi dan ekonomi rakyat. Oleh karena itu, berbagai kebijakan pembangunan ke depan perlu memberikan ruang yang lebih luas bagi pelaku UMKM agar dapat berperan secara aktif dalam rantai nilai ekonomi nasional.

Pendekatan ekonomi yang lebih inklusif juga penting untuk memastikan bahwa manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan oleh masyarakat secara lebih merata. Ketika pelaku UMKM memiliki akses pasar yang lebih luas, pendapatan masyarakat akan meningkat dan pada akhirnya mendorong daya beli domestik yang lebih kuat. Kondisi ini akan menciptakan siklus pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Program MBG memiliki potensi untuk menjadi salah satu fondasi penting dalam pembangunan ekonomi kerakyatan tersebut. Selain meningkatkan kualitas gizi generasi muda, program ini juga membuka ruang kolaborasi yang luas antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha kecil. Sinergi tersebut dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga pada pemerataan kesejahteraan.

Jika pengelolaan program ini dilakukan secara optimal, MBG dapat berkembang menjadi salah satu ekosistem ekonomi rakyat terbesar yang pernah dibangun di Indonesia. Melalui keterlibatan jutaan pelaku UMKM dalam rantai pasok pangan, program ini berpotensi menciptakan lapangan kerja baru, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di berbagai daerah.

Pada akhirnya, keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat atau besarnya anggaran yang digelontorkan. Keberhasilan sejati terletak pada sejauh mana program ini mampu memperkuat ekonomi rakyat dan menciptakan peluang usaha yang lebih luas bagi masyarakat. Dalam konteks inilah sinergi antara MBG dan UMKM dapat menjadi wajah nyata dari ekonomi kerakyatan yang sesungguhnya, di mana pembangunan tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan, tetapi juga pada pemerataan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.

*) Pemerhati ekonomi

Penerimaan Masyarakat terhadap MBG Meningkat, Ekonomi UMKM Ikut Terdongkrak

Jakarta – Penerimaan masyarakat terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) menunjukkan tren yang semakin positif. Sejumlah riset terbaru mengindikasikan bahwa program tersebut tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi siswa, tetapi juga membantu meringankan beban ekonomi keluarga sekaligus mendorong aktivitas ekonomi di tingkat lokal.

Temuan tersebut tercermin dalam riset yang dilakukan Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia (LabSosio UI) yang dirilis pada Maret 2026 serta kajian dari Research Institute of Socio-Economic Development (RISED). Kedua lembaga ini mencatat bahwa program MBG membawa dampak sosial dan ekonomi yang signifikan, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

Ketua LabSosio-LPPSP FISIP UI, Hari Nugroho, menjelaskan bahwa mayoritas orang tua siswa yang menjadi responden memberikan penilaian positif karena program ini membantu mengurangi pengeluaran keluarga sehari-hari.

“Bagi orang tua yang sibuk bekerja di pagi hari, program ini menjadi solusi praktis yang memastikan anak-anak mereka tidak kelaparan dan tetap mendapatkan akses makanan bergizi di sekolah,” ujar Hari.

Kemudian, dengan adanya program MBG, sebanyak 85,8 persen siswa tercatat selalu menghabiskan makanan yang disediakan di sekolah. Temuan ini menunjukkan bahwa program tersebut tidak hanya diterima dengan baik, tetapi juga benar-benar dimanfaatkan oleh para siswa.

Sementara itu, Pakar Kebijakan Publik Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansyah menilai bahwa meningkatnya penerimaan masyarakat menunjukkan program MBG mulai menemukan momentumnya. Seiring berjalannya waktu, berbagai perbaikan dalam mekanisme pelaksanaan dan distribusi membuat program tersebut semakin diterima oleh masyarakat.

“MBG memang sempat menghadapi resistensi di awal. Namun sekarang perlahan mulai diterima masyarakat dan pelayanan juga semakin membaik, termasuk dukungan dari sektor kesehatan,” ucap Trubus.

Lebih jauh, Trubus menilai bahwa dampak program MBG tidak berhenti pada aspek sosial dan kesehatan semata, tetapi juga berkontribusi pada penguatan ekonomi lokal. Permintaan terhadap bahan pangan seperti sayuran, telur, dan produk pangan lainnya meningkat seiring bertambahnya jumlah penerima manfaat program.

“Kondisi ini pada akhirnya ikut mendorong perputaran ekonomi di tingkat daerah serta memperluas kesempatan usaha bagi pelaku UMKM,” imbuhnya.

Dengan berbagai temuan tersebut, program MBG dinilai semakin menunjukkan relevansinya sebagai kebijakan publik yang memiliki dampak multidimensi. Selain memperkuat pemenuhan gizi anak sekolah, program ini juga memberikan perlindungan sosial bagi keluarga serta menciptakan efek pengganda terhadap ekonomi lokal.

MBG dan UMKM: Simbiosis yang Nyata Hasilnya

Oleh: Asep Faturahman)*
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menjadi upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga menghadirkan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Salah satu sektor yang merasakan manfaat langsung dari program ini adalah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Keterlibatan UMKM dalam rantai penyediaan bahan pangan untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menunjukkan adanya hubungan yang saling menguatkan antara program sosial pemerintah dengan pertumbuhan ekonomi lokal.

Kehadiran program MBG membuka ruang bagi pelaku usaha lokal untuk terlibat dalam penyediaan bahan pangan yang dibutuhkan setiap hari oleh SPPG. Dengan skala program yang luas dan kebutuhan bahan pangan yang besar, UMKM memiliki peluang untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan kapasitas usahanya. Hubungan ini menciptakan pola simbiosis yang saling menguntungkan: program MBG mendapatkan dukungan pasokan dari masyarakat lokal, sementara UMKM memperoleh peluang peningkatan pendapatan dan pengembangan usaha.

Guru Besar Universitas Indonesia (UI), Prof. Fentiny Nugroho, mengatakan potensi keterlibatan UMKM dalam program MBG sangat besar dan dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Berdasarkan hasil penelitian yang dipimpinnya, UMKM lokal memiliki peluang untuk terlibat lebih jauh dalam ekosistem program MBG sehingga dapat meningkatkan pendapatan serta memperluas aktivitas usaha mereka di tingkat daerah.

Namun demikian, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa sebagian UMKM masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan pasokan berskala besar yang diperlukan oleh SPPG. Kebutuhan bahan pangan yang tinggi dan berkelanjutan memerlukan kesiapan produksi, distribusi, serta manajemen usaha yang baik. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan kapasitas UMKM menjadi faktor penting agar mereka dapat berperan lebih optimal dalam program tersebut.

Penguatan kapasitas UMKM juga diyakini akan memberikan dampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja di tingkat lokal. Ketika usaha berkembang, kebutuhan tenaga kerja pun meningkat. Hal ini membuka peluang kerja baru bagi masyarakat sekitar, sehingga manfaat program MBG tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga oleh masyarakat yang terlibat dalam kegiatan produksi, distribusi, dan pengelolaan pangan.

Selain UMKM, program MBG memberikan dampak positif bagi masyarakat yang terlibat sebagai relawan di SPPG. Berdasarkan penelitian yang dipimpin oleh Guru Besar Universitas Indonesia (UI), Prof. Fentiny Nugroho, para relawan memperoleh penghasilan harian yang membantu meningkatkan kesejahteraan mereka. Bagi sebagian masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap, program ini memberikan kesempatan untuk mendapatkan sumber pendapatan yang lebih stabil.

Penghasilan harian yang diterima para relawan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan keluarga mereka. Dengan adanya pendapatan tersebut, kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi dengan lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa program MBG tidak hanya berperan dalam pemenuhan gizi, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi di tingkat masyarakat.

Dalam jangka pendek, program MBG menghadirkan berbagai manfaat yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Program ini membantu pemenuhan kebutuhan makanan bergizi bagi anak-anak, meningkatkan aktivitas ekonomi di tingkat lokal, memperkuat peran UMKM, serta membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar.

Lebih jauh lagi, manfaat program MBG juga terlihat dalam jangka panjang. Ketika UMKM semakin berkembang dan keterlibatan masyarakat semakin luas, aktivitas ekonomi lokal akan semakin meningkat. Pertumbuhan usaha kecil, peningkatan pendapatan masyarakat, serta bertambahnya lapangan kerja menjadi indikator nyata dari dampak ekonomi program ini.

Selain dampak ekonomi, program MBG juga berkontribusi pada pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Dengan terpenuhinya kebutuhan gizi yang baik sejak usia sekolah, anak-anak diharapkan dapat tumbuh dengan kondisi fisik yang sehat, kemampuan belajar yang lebih baik, serta perkembangan kognitif yang optimal. Kondisi ini menjadi fondasi penting dalam membangun generasi masa depan yang berkualitas.

Sementara itu, Direktur Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat Badan Gizi Nasional (BGN), Tengku Sahdan, mengatakan sinergi antara UMKM, koperasi, dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi faktor penting dalam memastikan kelancaran penyediaan bahan pangan untuk program MBG.

Potensi desa seperti hasil pertanian, peternakan, dan berbagai usaha masyarakat dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku dalam program MBG. Dengan memanfaatkan potensi lokal tersebut, program ini tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi anak-anak, tetapi juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat desa.

Sinergi antara program MBG dan UMKM pada akhirnya menunjukkan hubungan yang saling menguntungkan dan memberikan hasil nyata bagi masyarakat. Program pemerintah memberikan peluang pasar bagi pelaku usaha kecil, sementara UMKM membantu memastikan ketersediaan bahan pangan bagi program pemenuhan gizi nasional.

Hubungan yang saling menguatkan ini menjadikan MBG dan UMKM sebagai contoh nyata simbiosis yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Melalui pembinaan yang berkelanjutan, kolaborasi berbagai pihak, serta pemanfaatan potensi ekonomi lokal, program MBG tidak hanya meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan menuju Indonesia yang lebih sejahtera.

)* Penulis adalah Mahasiswa Bandung tinggal di Garut

Jelang Lebaran, Pemerintah Siap Gulirkan 4 Bansos Sekaligus

Jakarta – Pemerintah memastikan empat program bantuan sosial (bansos) akan kembali disalurkan pada Maret 2026 menjelang Hari Raya Idul Fitri. Empat program tersebut meliputi Bantuan Pangan Nontunai (BPNT), Program Keluarga Harapan (PKH), Program Indonesia Pintar (PIP), serta bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng.

Penyaluran bansos ini ditujukan untuk membantu menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok rentan, di tengah meningkatnya kebutuhan selama Ramadan hingga Lebaran.

Kementerian Sosial mencatat realisasi penyaluran bansos tahap pertama hingga pertengahan Maret 2026 telah mencapai sekitar 90 persen kepada 18 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di seluruh Indonesia. Penyaluran tersebut mencakup program PKH dan BPNT untuk periode Januari hingga Maret 2026.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengatakan proses distribusi masih berlangsung untuk menjangkau seluruh penerima yang telah terdata.

“Sisanya masih dalam proses karena ada penerima-penerima baru hasil pemutakhiran Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) yang perlu buka rekening kolektif,” ujar Gus Ipul.

Dalam program PKH, bantuan tunai disalurkan setiap tiga bulan dengan besaran berbeda sesuai kategori penerima. Ibu hamil atau nifas serta anak usia 0–6 tahun menerima Rp750.000. Anak SD mendapat Rp225.000, anak SMP Rp375.000, dan anak SMA Rp500.000. Lansia berusia 60 tahun ke atas serta penyandang disabilitas berat masing-masing menerima Rp600.000 per periode penyaluran.

Sementara itu, BPNT disalurkan sebesar Rp200.000 per bulan atau Rp600.000 untuk akumulasi pencairan tiga bulan.

Selain itu, pemerintah juga menyalurkan Program Indonesia Pintar (PIP) bagi peserta didik dari keluarga kurang mampu serta bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng untuk membantu pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat.

Pemerintah juga menegaskan bahwa masyarakat harus terdaftar secara aktif dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) untuk dapat menerima bansos. Data yang tidak diperbarui berpotensi membuat bantuan tidak dapat disalurkan kepada calon penerima.

Masyarakat dapat mengecek status penerima bansos menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) melalui laman cekbansos.kemensos.go.id.

Melalui penyaluran empat program bansos tersebut, pemerintah berharap masyarakat tetap memiliki daya beli yang memadai serta dapat memenuhi kebutuhan pokok menjelang Idul Fitri. #

Masyarakat Apresiasi Tindakan Tegas terhadap OPM yang Semakin Meresahkan

YAHUKIMO – Upaya penegakan hukum terhadap kelompok bersenjata di Papua kembali menunjukkan perkembangan signifikan. Satuan Tugas (Satgas) Operasi Damai Cartenz berhasil menangkap Philip Kobak, komandan Organisasi Papua Merdeka (OPM) wilayah Kodap XVI Yahukimo, yang diduga terlibat dalam sejumlah aksi kekerasan di wilayah tersebut.

Penangkapan ini dinilai sebagai langkah penting dalam menjaga keamanan masyarakat sekaligus menegaskan komitmen negara untuk melindungi warga sipil dari ancaman kelompok bersenjata.

“Saat mengetahui keberadaan aparat, tersangka sempat meninggalkan kendaraan dan melarikan diri ke arah hutan. Setelah dilakukan penyisiran, tersangka akhirnya berhasil diamankan pada pukul 16.44 WIT,” ujar Kombes Pol Yusuf Sutejo.

Penangkapan tersebut bermula dari deteksi tim Gakkum terhadap keberadaan pelaku di pertigaan Jalan Jhon Banua, Dekai. Aparat kemudian melakukan pengejaran ketika tersangka mencoba melarikan diri menuju kawasan Gereja Kali Brasa.

Setelah berhasil diamankan, penyidik melakukan penggeledahan di rumah tersangka serta beberapa lokasi lain yang diduga menjadi tempat persinggahan kelompok bersenjata di wilayah Yahukimo. Dari hasil penggeledahan tersebut, aparat menemukan sejumlah barang bukti yang diduga berkaitan dengan aktivitas kelompok tersebut.

Barang bukti yang disita antara lain empat butir amunisi kaliber 5,56 mm, dua butir amunisi kaliber 9 mm, besi runcing, busur dan 31 anak panah, empat parang, tiga kapak, satu sangkur, dua pisau dapur, satu proyektil kaliber 5,56 mm, serta 45 selongsong amunisi kaliber 7,62 mm dan 5,56 mm.

“Tersangka juga diduga terlibat dalam beberapa aksi kekerasan, di antaranya pembacokan terhadap Muhammad Syarif pada 11 Januari 2026 serta pembakaran SMK Negeri 2 Dekai pada 14 Februari 2026,” tegas Kombes Pol Yusuf Sutejo.

Sementara itu, meningkatnya aksi kekerasan yang menyasar warga sipil di Papua turut mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Serangan terhadap masyarakat sipil dinilai sebagai tindakan yang tidak dapat dibenarkan dalam situasi apa pun.

Direktur Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) Noor Azhari menegaskan bahwa warga sipil tidak boleh menjadi sasaran kekerasan, terlebih mereka yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Warga sipil, termasuk para pekerja tambang yang mencari nafkah, tidak boleh menjadi target kekerasan. Mereka bukan bagian dari konflik. Oleh karena itu, mereka harus mendapatkan perlindungan,” ujar Noor Azhari.

Kekerasan terhadap warga sipil, menurutnya, bukan hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga memunculkan ketakutan dan trauma berkepanjangan bagi masyarakat di wilayah sekitar. Situasi tersebut berpotensi mengganggu stabilitas sosial sekaligus aktivitas ekonomi masyarakat.

“Para pekerja tambang adalah masyarakat sipil yang menjalankan aktivitas ekonomi. Kekerasan terhadap mereka hanya akan memperburuk situasi kemanusiaan dan menambah daftar korban dalam konflik yang berkepanjangan,” tambah Noor Azhari.

Lebih lanjut, Noor menilai perlindungan terhadap masyarakat sipil harus menjadi prioritas utama dalam setiap upaya menjaga stabilitas keamanan di Papua. Koordinasi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, serta tokoh masyarakat dinilai penting untuk memastikan masyarakat dapat menjalankan kehidupan secara aman dan bermartabat.

Komitmen Negara dan Dukungan Masyarakat Perkuat Stabilitas Keamanan di Papua

PAPUA – Upaya menjaga stabilitas keamanan di Papua terus diperkuat melalui sinergi antara aparat keamanan, pemerintah, dan masyarakat. Langkah ini menjadi bagian penting dalam memastikan masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari secara aman, sekaligus mendukung percepatan pembangunan di berbagai wilayah Papua.

Salah satu contoh nyata komitmen tersebut terlihat dari respons cepat aparat keamanan dalam menangani insiden yang melibatkan warga sipil di kawasan Tembagapura, Kabupaten Mimika. Tim patroli Koops TNI Papua bergerak cepat memberikan pertolongan kepada seorang warga yang membutuhkan bantuan dan segera mengevakuasinya ke fasilitas kesehatan agar mendapatkan penanganan medis.

Kepala Penerangan Koops TNI Papua Letkol Inf Wirya Arthadiguna menegaskan bahwa perlindungan masyarakat menjadi prioritas utama dalam setiap pelaksanaan tugas aparat di wilayah Papua. Menurutnya, seluruh personel yang bertugas terus meningkatkan kesiapsiagaan guna memastikan situasi keamanan tetap kondusif bagi masyarakat.

“Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama. Aparat keamanan terus memperkuat pengamanan wilayah agar masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan aman dan nyaman,” ujarnya.

Selain menjaga keamanan di kawasan permukiman, aparat juga memperkuat pengamanan berbagai objek vital yang memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat. Salah satu fokus pengamanan dilakukan di sejumlah bandara perintis di wilayah pedalaman Papua yang menjadi jalur penting bagi distribusi logistik, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III Letjen TNI Bambang Trisnohadi menjelaskan bahwa keberadaan bandara perintis memiliki peran strategis dalam menjaga konektivitas masyarakat Papua, khususnya di daerah terpencil.

“Bandara perintis bukan hanya sarana transportasi, tetapi juga penghubung utama bagi masyarakat untuk memperoleh berbagai layanan penting. Karena itu, pengamanan dilakukan secara optimal agar aktivitas masyarakat dapat berjalan lancar,” jelasnya.

Di sisi lain, aparat keamanan juga terus melakukan langkah penegakan hukum untuk memastikan stabilitas wilayah tetap terjaga. Satgas Operasi Damai Cartenz berhasil mengamankan salah satu individu yang diduga terlibat dalam aktivitas yang mengganggu ketertiban masyarakat di wilayah Dekai, Kabupaten Yahukimo.

Kepala Operasi Damai Cartenz Kombes Pol Yusuf Sutejo mengatakan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil dari kerja sama tim yang solid serta dukungan informasi dari masyarakat.

“Langkah ini merupakan bagian dari upaya kami untuk menjaga keamanan masyarakat. Aparat akan terus bekerja secara profesional dan terukur demi memastikan situasi tetap aman dan kondusif,” ungkapnya.

Dengan stabilitas keamanan yang terus diperkuat serta dukungan masyarakat yang semakin solid, Papua diharapkan terus bergerak menuju masa depan yang aman, damai, dan sejahtera. Kondisi yang kondusif akan membuka ruang yang lebih luas bagi pembangunan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat di berbagai wilayah Tanah Papua.

Penegakan Hukum terhadap OPM Demi Keamanan Aktivitas Masyarakat

Oleh : Yohanes Wandikbo )*

Upaya penegakan hukum terhadap kelompok bersenjata di Papua kembali menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam menjaga keamanan masyarakat serta melindungi warga sipil dari ancaman kekerasan. Penangkapan Philip Kobak yang diketahui merupakan komandan Organisasi Papua Merdeka wilayah Kodap XVI Yahukimo oleh Satgas Operasi Damai Cartenz menjadi bukti nyata bahwa negara hadir secara tegas dan konsisten untuk menjaga stabilitas keamanan di Papua. Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah tidak memberi ruang bagi kelompok yang melakukan tindakan kekerasan yang dapat mengganggu ketenteraman masyarakat.

Keberhasilan aparat dalam mengamankan pelaku terjadi setelah tim melakukan deteksi terhadap keberadaan tersangka di wilayah Dekai, Kabupaten Yahukimo. Ketika aparat mendekati lokasi, pelaku sempat berupaya melarikan diri dengan meninggalkan kendaraan dan masuk ke area hutan. Namun berkat kerja cepat dan koordinasi yang solid, aparat akhirnya berhasil melakukan penangkapan setelah proses penyisiran yang terukur. Operasi tersebut memperlihatkan profesionalitas aparat dalam menjalankan tugas serta komitmen kuat negara untuk menjaga keamanan masyarakat Papua.

Kepala Operasi Damai Cartenz, Kombes Pol Yusuf Sutejo menjelaskan bahwa penangkapan dilakukan setelah aparat memperoleh informasi mengenai keberadaan tersangka di kawasan pertigaan Jalan Jhon Banua, Dekai. Ia menyampaikan bahwa aparat segera melakukan pengejaran ketika pelaku mencoba melarikan diri menuju kawasan Gereja Kali Brasa sebelum akhirnya berhasil diamankan pada sore hari setelah dilakukan penyisiran di sekitar lokasi. Menurutnya, tindakan tersebut merupakan bagian dari upaya aparat dalam menegakkan hukum sekaligus memastikan masyarakat dapat hidup dengan aman tanpa ancaman kekerasan.

Setelah pelaku berhasil diamankan, aparat keamanan melakukan penggeledahan di rumah tersangka serta sejumlah lokasi yang diduga berkaitan dengan aktivitas kelompok bersenjata tersebut. Dari proses tersebut, aparat menemukan berbagai barang bukti yang diduga digunakan dalam berbagai aktivitas kekerasan. Barang bukti yang diamankan antara lain amunisi berbagai kaliber, senjata tajam, serta perlengkapan lain yang diduga berkaitan dengan kegiatan kelompok tersebut.

Dalam keterangannya, Kombes Pol Yusuf Sutejo juga menyampaikan bahwa tersangka diduga terlibat dalam sejumlah aksi kekerasan yang menimbulkan keresahan di masyarakat, termasuk kasus pembacokan terhadap seorang warga pada Januari 2026 serta pembakaran fasilitas pendidikan SMK Negeri 2 Dekai pada Februari 2026. Ia menegaskan bahwa aparat akan terus mengembangkan penyelidikan guna memastikan seluruh jaringan yang terlibat dapat diungkap sehingga keamanan masyarakat dapat semakin terjamin.

Langkah tegas aparat keamanan tersebut mendapat apresiasi dari berbagai kalangan masyarakat karena dinilai sebagai bentuk nyata perlindungan negara terhadap warga sipil. Stabilitas keamanan menjadi faktor penting bagi masyarakat Papua agar dapat menjalankan aktivitas sosial dan ekonomi secara normal. Ketika keamanan terjaga, masyarakat dapat bekerja, belajar, dan menjalani kehidupan sehari-hari dengan rasa aman dan penuh optimisme.

Direktur Merah Pusaka Stratejik Indonesia, Noor Azhari menilai bahwa tindakan tegas aparat merupakan langkah penting dalam memastikan perlindungan terhadap masyarakat sipil. Ia menyampaikan bahwa warga sipil yang menjalankan aktivitas ekonomi sehari-hari merupakan bagian dari masyarakat yang harus mendapatkan jaminan keamanan dari negara. Menurutnya, tindakan kekerasan yang menyasar warga sipil tidak dapat dibenarkan dan harus ditindak secara tegas agar tidak menimbulkan keresahan yang lebih luas.

Lebih lanjut, Noor Azhari menegaskan bahwa keberhasilan aparat keamanan dalam menindak pelaku kekerasan menunjukkan bahwa negara benar-benar hadir untuk melindungi masyarakat Papua. Ia menilai langkah tersebut juga memberikan rasa percaya diri bagi masyarakat bahwa pemerintah memiliki komitmen kuat dalam menjaga stabilitas keamanan dan memastikan masyarakat dapat hidup dengan aman.

Ketegasan pemerintah dalam menindak kelompok bersenjata juga menjadi bagian penting dari upaya menciptakan kondisi yang kondusif bagi pembangunan di Papua. Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah terus mendorong berbagai program pembangunan di wilayah tersebut, mulai dari pembangunan infrastruktur, peningkatan akses pendidikan, hingga penguatan ekonomi masyarakat. Seluruh program tersebut memerlukan situasi keamanan yang stabil agar dapat berjalan secara optimal dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dalam konteks tersebut, langkah tegas aparat keamanan terhadap kelompok yang melakukan kekerasan menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam menciptakan Papua yang aman dan sejahtera. Keamanan yang terjaga akan membuka ruang bagi masyarakat untuk berkembang, memperkuat aktivitas ekonomi, serta meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh.

Penegakan hukum yang konsisten juga memperlihatkan bahwa negara memiliki komitmen kuat dalam menjaga kedaulatan serta melindungi seluruh warga negara tanpa terkecuali. Pemerintah melalui aparat keamanan terus bekerja secara profesional dan terukur untuk memastikan bahwa ancaman terhadap masyarakat dapat diatasi secara cepat dan tepat.

Ke depan, sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat diharapkan semakin memperkuat stabilitas di Papua. Dukungan masyarakat terhadap upaya penegakan hukum menjadi faktor penting dalam menjaga keamanan wilayah serta memastikan pembangunan dapat berjalan secara berkelanjutan.

Dengan komitmen pemerintah yang kuat serta profesionalitas aparat keamanan, Papua diharapkan terus bergerak menuju masa depan yang aman, damai, dan sejahtera. Ketegasan negara dalam menindak kelompok yang melakukan kekerasan merupakan wujud nyata perlindungan terhadap masyarakat sekaligus bukti bahwa pemerintah hadir untuk menjaga keamanan dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

)* Penulis merupakan pengamat pembangunan Papua

Sinergi Negara dan Masyarakat Menjaga Stabilitas Papua

Oleh: Markus Wenda*

Stabilitas keamanan merupakan fondasi utama bagi keberlangsungan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di setiap wilayah Indonesia, termasuk Papua yang memiliki posisi strategis dalam agenda pembangunan nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, negara terus menunjukkan komitmen kuat untuk memastikan masyarakat Papua dapat menjalankan aktivitas kehidupan secara aman, produktif, dan penuh harapan. Melalui penguatan keamanan yang profesional serta percepatan pembangunan di berbagai sektor, pemerintah menghadirkan kebijakan yang bertujuan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi kemajuan daerah.

Kepala Penerangan Koops TNI Papua Letkol Inf Wirya Arthadiguna menegaskan bahwa aparat keamanan terus memperkuat pengamanan wilayah guna menjamin keselamatan masyarakat. Ia menyampaikan bahwa seluruh personel yang bertugas di Papua menjalankan tugas secara profesional, terukur, dan berorientasi pada perlindungan masyarakat. Menurutnya, kehadiran aparat keamanan di berbagai wilayah merupakan bentuk nyata komitmen negara untuk memastikan masyarakat Papua dapat menjalankan kehidupan sehari-hari dengan rasa aman dan penuh kepercayaan terhadap masa depan daerahnya.

Selain menjaga keamanan masyarakat di kawasan permukiman, negara juga menunjukkan perhatian serius terhadap perlindungan berbagai objek vital yang memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah pengamanan bandara perintis di berbagai wilayah pedalaman Papua. Bandara-bandara tersebut menjadi jalur vital yang menghubungkan masyarakat dengan berbagai layanan penting, mulai dari distribusi bahan pokok, pelayanan kesehatan, akses pendidikan, hingga kegiatan ekonomi yang mendukung kesejahteraan masyarakat di daerah terpencil.

Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III Letjen TNI Bambang Trisnohadi menyampaikan bahwa pengamanan bandara perintis merupakan langkah penting untuk memastikan konektivitas masyarakat Papua tetap terjaga. Ia menilai bahwa bandara di wilayah pedalaman tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi udara, tetapi juga menjadi infrastruktur strategis yang memungkinkan masyarakat memperoleh akses terhadap berbagai kebutuhan dasar.

Upaya pengamanan tersebut memperlihatkan bahwa negara hadir secara nyata dalam menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat Papua. Kehadiran aparat keamanan di berbagai titik strategis bukan hanya bertujuan menciptakan rasa aman, tetapi juga memastikan bahwa berbagai layanan publik dapat berjalan secara maksimal. Kondisi wilayah yang aman dan stabil memberikan ruang bagi masyarakat untuk menjalankan aktivitas ekonomi, pendidikan, dan sosial secara lebih produktif. Stabilitas tersebut juga memperkuat optimisme masyarakat bahwa Papua memiliki masa depan yang semakin cerah.

Dalam konteks penegakan hukum, ketegasan aparat keamanan dalam menindak kelompok bersenjata yang melakukan tindakan kekerasan juga menunjukkan komitmen kuat negara dalam melindungi masyarakat. Penangkapan Philip Kobak yang diketahui merupakan komandan kelompok bersenjata wilayah Kodap XVI Yahukimo oleh Satgas Operasi Damai Cartenz menjadi bukti nyata bahwa pemerintah tidak tinggal diam terhadap ancaman yang mengganggu ketenteraman masyarakat. Operasi yang dilakukan secara profesional tersebut menunjukkan keseriusan negara dalam menjaga keamanan serta memastikan masyarakat dapat menjalankan aktivitas sosial dan ekonomi tanpa rasa takut.

Kepala Operasi Damai Cartenz Kombes Pol Yusuf Sutejo menjelaskan bahwa penangkapan dilakukan setelah aparat memperoleh informasi mengenai keberadaan tersangka di kawasan pertigaan Jalan Jhon Banua, Dekai. Ketika aparat mendekati lokasi, pelaku sempat berupaya melarikan diri menuju kawasan Gereja Kali Brasa sebelum akhirnya berhasil diamankan setelah dilakukan penyisiran di sekitar lokasi. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari upaya penegakan hukum yang bertujuan menjaga keamanan masyarakat sekaligus memastikan situasi tetap kondusif.

Langkah tegas aparat keamanan tersebut mendapat apresiasi dari berbagai kalangan masyarakat karena dinilai sebagai bentuk nyata perlindungan negara terhadap warga sipil. Direktur Merah Pusaka Stratejik Indonesia Noor Azhari menilai bahwa tindakan tegas aparat merupakan langkah penting dalam memastikan masyarakat dapat menjalankan aktivitas kehidupan tanpa ancaman kekerasan. Ia menegaskan bahwa warga sipil yang menjalankan aktivitas ekonomi sehari-hari harus mendapatkan jaminan keamanan dari negara agar dapat bekerja, belajar, dan menjalani kehidupan secara normal.

Keberhasilan aparat dalam menegakkan hukum sekaligus menunjukkan bahwa negara memiliki komitmen kuat dalam menjaga stabilitas Papua. Penegakan hukum yang konsisten tidak hanya bertujuan mengatasi ancaman keamanan, tetapi juga menciptakan lingkungan yang kondusif bagi percepatan pembangunan di berbagai sektor. Pemerintah terus mendorong pembangunan infrastruktur, peningkatan akses pendidikan, penguatan layanan kesehatan, serta pengembangan ekonomi masyarakat agar kesejahteraan masyarakat Papua dapat terus meningkat.

Papua memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi wilayah yang maju dan sejahtera. Kekayaan sumber daya alam, keragaman budaya, serta semangat masyarakat yang kuat menjadi modal penting bagi pembangunan daerah. Dengan dukungan keamanan yang semakin kuat dan stabilitas yang terus terjaga, potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta memperkuat kontribusi Papua dalam pembangunan nasional.

Ke depan, sinergi antara negara dan masyarakat akan menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas Papua. Kerja sama yang erat antara pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen warga akan memperkuat fondasi keamanan sekaligus mempercepat pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan komitmen negara yang terus hadir serta dukungan masyarakat yang semakin solid, Papua memiliki peluang besar untuk melangkah menuju masa depan yang aman, damai, maju, dan sejahtera bagi seluruh generasi.

*Penulis merupakan Peneliti Kebijakan Publik dan Pembangunan Papua