Tekanan Global Tak Goyahkan Komitmen Pemerintah Jaga Rupiah

Jakarta – Pemerintah menegaskan komitmennya dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang masih berlangsung. Di tengah dinamika pasar keuangan internasional, langkah-langkah strategis terus ditempuh melalui koordinasi lintas sektor guna memastikan fundamental ekonomi nasional tetap kuat.

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan bahwa stabilitas ekonomi, termasuk nilai tukar rupiah, menjadi prioritas utama pemerintah dalam menjaga kepercayaan publik dan dunia usaha. Ia menekankan pentingnya kesiapan menghadapi gejolak global dengan kebijakan yang terukur. “Kita harus memastikan ekonomi nasional tetap stabil dan kuat, termasuk menjaga nilai rupiah agar tetap terkendali,” ujarnya.

Presiden Prabowo juga menegaskan bahwa sinergi antar lembaga menjadi kunci dalam merespons tekanan global secara efektif. “Kolaborasi yang kuat antar lembaga akan memastikan setiap kebijakan berjalan optimal dan tepat sasaran,” tegasnya.

Sementara itu, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tercatat melemah pada Kamis (9/4/2026). Mata uang Garuda dibuka di level Rp17.038 per dolar AS atau melemah 0,16% dibanding penutupan sebelumnya. Meski demikian, pemerintah memastikan kondisi tersebut masih dalam koridor yang telah diperhitungkan.

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, menegaskan bahwa level nilai tukar saat ini sudah masuk dalam asumsi pemerintah. “Itu sudah masuk dalam pertimbangan kita, kita tidak masalah,” kata Febrio.

Ia juga memastikan bahwa dampak pelemahan rupiah terhadap belanja negara akan dihitung secara cermat. “Kita pasti akan hitung dampaknya terhadap harga-harga yang kita asumsikan dalam belanja itu sudah masuk,” katanya.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa pemerintah terus memperkuat bauran kebijakan fiskal guna menjaga stabilitas makroekonomi. Menurutnya, pengelolaan anggaran dilakukan secara hati-hati namun tetap mendorong pertumbuhan. “Kami memastikan kebijakan fiskal tetap kredibel dan mampu menjaga stabilitas ekonomi, termasuk nilai tukar rupiah,” ujarnya.

Dengan koordinasi yang solid dan kebijakan yang adaptif, pemerintah optimistis stabilitas rupiah tetap terjaga di tengah tekanan global.*

Dampak Global Diantisipasi, Pemerintah Pastikan Stabilitas Ekonomi dan Rupiah Terjaga

Jakarta – Pemerintah menegaskan bahwa stabilitas ekonomi nasional tetap berada dalam kondisi terjaga meskipun dunia tengah dihadapkan pada ketidakpastian akibat eskalasi geopolitik dan meningkatnya volatilitas pasar keuangan global.

Berbagai indikator makroekonomi menunjukkan resiliensi yang kuat, didukung oleh koordinasi kebijakan yang solid antarotoritas serta langkah antisipatif yang terukur.

Dalam konteks ini, pemerintah memastikan bahwa dampak global dapat dikelola secara efektif tanpa mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi domestik.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menyampaikan bahwa kondisi makroekonomi Indonesia saat ini masih berada pada jalur yang stabil dan terkendali.

Ia menekankan bahwa pemerintah terus mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam merespons dinamika global yang penuh ketidakpastian.

“Kami akan terus menjaga stabilitas dan memastikan kebijakan yang diambil adaptif terhadap perkembangan global, sehingga perekonomian nasional tetap tumbuh positif dan berkelanjutan,” ujar Haryo.

Menurutnya, respons kebijakan yang adaptif dan terukur menjadi kunci dalam menjaga daya tahan ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal.

Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa penguatan fondasi ekonomi domestik menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Ia menjelaskan bahwa selama fundamental ekonomi tetap kuat, volatilitas nilai tukar dapat dikendalikan secara efektif.

“Pemantauan terhadap pergerakan nilai tukar juga dilakukan secara ketat guna mengantisipasi potensi gejolak,” ujarnya.

Lebih lanjut, Purbaya menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.

“Jika kondisi ekonomi domestik terjaga dan likuiditas sistem keuangan tetap kuat, tekanan terhadap nilai tukar dapat dikendalikan dengan lebih baik. Dengan pemantauan yang berkelanjutan, pemerintah optimistis stabilitas rupiah dapat tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi dunia,” katanya.

Sementara itu, Bank Indonesia juga menunjukkan optimisme terhadap ketahanan eksternal Indonesia. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengungkapkan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 masih berada pada level tinggi dan melampaui standar kecukupan internasional.

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa cadangan devisa yang memadai memberikan ruang intervensi yang cukup bagi otoritas moneter dalam meredam gejolak pasar.

Lebih jauh, prospek masuknya aliran modal asing juga dinilai tetap terbuka seiring persepsi positif investor terhadap ekonomi Indonesia. Imbal hasil investasi yang kompetitif serta stabilitas kebijakan menjadi daya tarik tersendiri di tengah ketidakpastian global.

Ekonomi Indonesia Berpotensi Tumbuh 6–7 Persen di Momentum Krisis Energi Global

JAKARTA – Lonjakan harga minyak global akibat dinamika geopolitik kembali menjadi perhatian. Namun di tengah tekanan tersebut, arah kebijakan nasional dinilai mampu menjaga stabilitas sekaligus membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi. Krisis energi kini dipandang sebagai momentum untuk mengoptimalkan kekuatan sektor domestik.

Ekonom INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Prof Didik J Rachbini, menilai respons terhadap krisis perlu tetap rasional dan berbasis pengalaman ekonomi Indonesia.

“Diskusi di media sosial dan media online tentang dampak krisis harga minyak karena perang AS-Israel vs Iran cenderung berlebihan. Padahal dalam sejarahnya Indonesia sudah beberapa kali menghadapi situasi serupa dan tetap mampu menjaga stabilitas ekonomi dengan memanfaatkan kekuatan domestik,” ujar Didik J Rachbini.

Fundamental ekonomi yang kuat dinilai menjadi modal utama. Indonesia memiliki keunggulan pada sektor sumber daya alam yang justru diuntungkan saat harga energi global meningkat, terutama pada komoditas ekspor.

Menurut Didik J Rachbini, krisis perlu dilihat sebagai peluang strategis untuk mendorong pertumbuhan.

“Perspektif kita harus out of the box dengan melihat bahwa di balik krisis terdapat peluang besar, khususnya bagi negara yang memiliki basis sumber daya alam kuat seperti Indonesia,” tegas Didik J Rachbini.

Sektor seperti batubara, migas, panas bumi, hingga logam strategis dan perkebunan dinilai memiliki daya tahan tinggi. Struktur biaya domestik dan pendapatan ekspor dalam valuta asing membuat sektor ini mampu menjadi penopang ekonomi.

“Semua sektor tersebut basis inputnya domestik rupiah tetapi outputnya ekspor menghasilkan devisa, sehingga mampu menjadi bantalan kuat ketika terjadi tekanan global,” jelas Didik J Rachbini.

Selain itu, pengembangan energi alternatif seperti biofuel berbasis CPO turut memperkuat ketahanan energi nasional.

“Produk CPO berperan strategis sebagai substitusi energi biofuel yang mendukung ketahanan energi sekaligus meningkatkan nilai tambah,” pungkas Didik J Rachbini.

Permintaan global terhadap komoditas logam juga diperkirakan tetap tinggi, terutama untuk kebutuhan industri masa depan seperti kendaraan listrik.

“Permintaan komoditas tetap tinggi bahkan meningkat saat krisis untuk memenuhi kebutuhan industri global, sehingga prospeknya tetap sangat kuat,” ungkap Didik J Rachbini.

Dengan penguatan hilirisasi dan kebijakan fiskal yang adaptif, peluang mendorong pertumbuhan ekonomi semakin terbuka lebar.

“Krisis ini bagi pemerintah yang cerdas justru menjadi peluang untuk mendorong transformasi ekonomi sehingga pertumbuhan 6 hingga 7 persen dapat dicapai,” tutup Didik J Rachbini. (*)

Optimisme Masyarakat: Ekonomi Indonesia Tetap Terjaga Kuat

Optimisme masyarakat terhadap ekonomi Indonesia pada Maret 2026 tetap terjaga kuat, didukung oleh Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 122,9, yang berada di zona optimistis (di atas 100).

Keyakinan ini didorong oleh persepsi positif terhadap kondisi ekonomi saat ini (IKE 115,4) dan ekspektasi yang kuat (IEK 130,4) untuk enam bulan ke depan, meskipun ada kehati-hatian terhadap ketidakpastian lapangan kerja.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun 2026 mencapai 5,5 – 5,6 persen. Pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 didorong oleh sektor pertanian dan konsumsi rumah tangga yang masih kuat.

Pemerintah optimistis ekonomi nasional bisa tumbuh sebesar 5,5 persen di tahun 2026. Direktur Jenderal Strategi Ekonomi Dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu di Jakarta, Kamis (9/4) menyebut ada sejumlah faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, salah satunya ditopang oleh sektor pertanian.

Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional masih terjaga pada level yang kuat.

Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia pada periode Maret 2026 menunjukkan angka tetap berada di zona optimis.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menegaskan bahwa optimisme ini terlihat dari angka Indeks Keyakinan Konsumen atau IKK yang berada jauh di atas ambang batas 100.

“Survei Konsumen Bank Indonesia pada Maret 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen Maret 2026 yang berada pada level optimis sebesar 122,9,” ujar Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan tertulisnya di Jakarta (10/4/2026).

Kekuatan keyakinan konsumen tersebut ditopang oleh dua faktor utama, yaitu penilaian terhadap kondisi ekonomi saat ini serta ekspektasi masyarakat untuk jangka waktu 6 bulan mendatang.

“Tetap kuatnya keyakinan konsumen pada Maret 2026 dipengaruhi oleh keyakinan pada kondisi ekonomi saat ini dan 6 bulan ke depan,” tuturnya.

Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 masih berpotensi berada di atas proyeksi Bank Dunia, meskipun sulit menembus level lima persen di tengah ketidakpastian global saat ini.

“Saya rasa Indonesia akan tumbuh di atas proyeksi World Bank, tetapi sulit untuk bisa tembus lima persen,” kata.

Lebih lanjut Wijayanto menerangkan pertumbuhan ekonomi pada 2026 sangat bergantung pada konsumsi domestik di tengah terbatasnya dorongan dari komponen lain seperti proyeksi investasi yang cenderung landai, belanja pemerintah yang terbatas, serta kinerja ekspor yang diperkirakan tidak mengalami lonjakan signifikan.

Ketahanan Ekonomi Indonesia Menguat di Tengah Dinamika Global

Jakarta – Perekonomian Indonesia terus menunjukkan ketahanan yang kokoh di tengah dinamika global, termasuk lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik. Situasi ini justru menjadi peluang strategis untuk memperkuat struktur ekonomi nasional berbasis sumber daya alam (SDA) serta meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.

Ekonom dari INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menegaskan bahwa Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang kuat dan adaptif dalam menghadapi berbagai gejolak global. Ia menilai, cara pandang optimistis menjadi kunci dalam memanfaatkan momentum yang ada.

“Diskusi di media sosial dan media online tentang dampak krisis harga minyak karena perang AS-Israel vs Iran seperti mau kiamat. Perspektif kita harus out of the box dengan melihat bahwa di balik krisis juga ada peluang,” ujarnya.

Menurut Didik, keunggulan Indonesia terletak pada kekayaan sumber daya alam yang mampu menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Sektor pertambangan seperti batubara, minyak dan gas, serta komoditas logam seperti nikel dan bauksit dinilai memiliki potensi besar untuk terus berkembang.

“Kita harus memanfaatkan penguatan sektor natural hedge sumber daya alam Indonesia sebagai kekuatan ekonomi nasional,” tegasnya.

Selain itu, sektor perkebunan seperti crude palm oil (CPO) juga memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan energi global melalui pengembangan biofuel. Kondisi ini semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain kunci dalam rantai pasok energi dan komoditas dunia.

“Semua sektor tersebut basis inputnya domestik, sementara outputnya menghasilkan devisa dalam mata uang asing,” jelas Didik.

Ia menambahkan bahwa momentum ini perlu dimanfaatkan untuk mempercepat hilirisasi industri guna meningkatkan nilai tambah komoditas nasional. Dengan strategi yang tepat, Indonesia berpeluang mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan.

“Krisis ini bagi pemerintah yang cerdas justru menjadi peluang untuk transformasi menuju pertumbuhan yang lebih kuat,” katanya.

Dengan kebijakan yang adaptif dan pemanfaatan potensi nasional secara optimal, Indonesia dinilai mampu menjaga stabilitas sekaligus memperkuat posisinya sebagai negara dengan ekonomi yang tangguh, resilien, dan kompetitif di tengah tantangan global.

Optimisme Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tetap Terjaga di Tengah Dinamika Global

Jakarta – Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 tetap menunjukkan sinyal positif. Berbagai indikator menunjukkan bahwa fundamental ekonomi nasional masih cukup kuat untuk menopang pertumbuhan, meskipun tekanan eksternal seperti ketegangan geopolitik, fluktuasi harga energi, dan kehati-hatian investor global terus membayangi.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan pihaknya optimis terhadap performa ekonomi nasional ke depan. Menurutnya, Indonesia memiliki modalitas yang cukup kuat untuk menepis dampak perlambatan ekonomi global melalui penguatan mesin ekonomi di dalam negeri.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 berpotensi melampaui proyeksi Bank Dunia, meskipun sulit mencapai lima persen,” ujar Wijayanto.

Bank Dunia sebelumnya memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 4,8 persen menjadi 4,7 persen. Namun, Wijayanto memperkirakan pertumbuhan pada kuartal I 2026 bisa mencapai 5,5 persen berkat dukungan faktor musiman seperti Natal, Tahun Baru, Imlek, dan Lebaran.

Namun demikian, tekanan ekonomi diprediksi meningkat pada kuartal II hingga IV, dipengaruhi oleh penurunan daya beli, pelemahan nilai tukar, peningkatan inflasi, dan ketidakpastian global yang membuat investor bersikap wait and see. Potensi El Nino juga dapat memperburuk situasi ekonomi.

Menurut Wijayanto, pertumbuhan ekonomi pada 2026 sangat bergantung pada konsumsi domestik karena dorongan dari komponen lain seperti investasi, belanja pemerintah, dan ekspor diperkirakan terbatas.

“Beberapa sektor yang diprediksi menjadi penggerak pertumbuhan meliputi perdagangan, keuangan, pertambangan dan hilirisasi, makanan-minuman, kesehatan, telekomunikasi, dan ritel,” kata Wijayanto.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menanggapi revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi oleh Bank Dunia. Ia menyebutkan bahwa penurunan tersebut wajar di tengah ketegangan geopolitik global yang memengaruhi banyak negara. Airlangga menilai proyeksi tersebut masih optimistis karena berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi global yang 3,4 persen.

Bank Dunia dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026 menyatakan perlambatan ini dipengaruhi oleh tekanan eksternal seperti kenaikan harga minyak global dan kehati-hatian investor di pasar keuangan internasional. Meski demikian, Indonesia masih memiliki penyangga ekonomi seperti ekspor komoditas dan inisiatif investasi pemerintah yang dapat membantu meredam dampak kenaikan biaya energi dalam jangka pendek.

Pemerintah optimistis bahwa Indonesia mampu menjaga momentum pertumbuhan di atas rata-rata global. Kombinasi antara konsumsi domestik yang kuat, peran sektor strategis, serta kebijakan ekonomi yang adaptif menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Dengan fondasi tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh secara berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global yang semakin kompleks.

Ekonom: Tambang dan CPO Indonesia Jadi Pemenang di Tengah Krisis Global

Jakarta – Lonjakan harga minyak global akibat konflik geopolitik memicu kekhawatiran terhadap tekanan ekonomi domestik. Namun di balik sentimen tersebut, ekonom menilai ada sektor-sektor yang justru diuntungkan, terutama pertambangan dan crude palm oil (CPO), yang berpotensi menjadi “pemenang” saat krisis.

Ekonom INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Prof Didik J Rachbini, menilai krisis energi tidak selalu identik dengan ancaman. Ia menyoroti bahwa respons publik terhadap gejolak harga minyak kerap berlebihan.

“Diskusi di media sosial dan media online tentang dampak krisis harga minyak karena perang AS-Israel vs Iran seperti mau kiamat,” ujarnya.

Menurut Didik, perspektif dalam melihat krisis perlu diubah agar tidak hanya fokus pada risiko.

“Perspektif kita harus out of the box dengan melihat bahwa di balik krisis juga ada peluang,” katanya.

Ia menjelaskan, struktur ekonomi Indonesia yang masih ditopang sumber daya alam menjadi keunggulan saat terjadi guncangan global. Sektor pertambangan seperti batubara, minyak dan gas, panas bumi, serta komoditas logam seperti nikel dan bauksit dinilai memiliki ketahanan tinggi. Sementara itu, sektor perkebunan seperti CPO juga ikut terdongkrak.

“Namun di balik tekanan tersebut terdapat sejumlah sektor yang justru menunjukkan ketahanan resilience bahkan menjadi pemenang winner dalam kondisi tersebut,” jelasnya.

Menurut Didik, keunggulan sektor tersebut terletak pada biaya produksi berbasis domestik, sementara pendapatan berasal dari ekspor dalam mata uang asing. Kondisi ini membuat kinerja sektor tersebut cenderung menguat saat rupiah melemah.

“Semua sektor tersebut basis inputnya domestik rupiah tetapi outputnya ekspor menghasilkan valuta asing dolar yen atau yuan,” katanya.

Ia menambahkan, sektor batubara dapat menjadi substitusi energi dalam jangka pendek, sementara komoditas logam seperti nikel dan bauksit tetap kuat didorong tingginya permintaan industri global. Di sisi lain, CPO dinilai memiliki peran strategis sebagai alternatif energi.

“Produk CPO berperan strategis sebagai substitusi energi biofuel,” ujarnya.

Didik juga menekankan pentingnya strategi fiskal yang adaptif untuk memanfaatkan windfall profit dari sektor-sektor tersebut guna memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Sejalan dengan itu, Bank Dunia menilai kebijakan hilirisasi tambang Indonesia memiliki potensi besar dalam meningkatkan nilai tambah ekonomi. Laporan World Bank East Asia and Pacific Economic Update April 2026 mencatat kebijakan pembatasan ekspor bahan mentah telah mendorong pertumbuhan produksi dan ekspor, khususnya pada komoditas nikel.

“Data menunjukkan bahwa pelarangan ekspor berkontribusi terhadap pesatnya pertumbuhan produksi dan ekspor Indonesia di produk-produk nikel serta penanaman modal asing di ekstraksi dan pengolahan nikel,” jelas Bank Dunia.

Dengan kombinasi kebijakan yang tepat, krisis energi dinilai tidak hanya menjadi tekanan, tetapi juga peluang untuk memperkuat peran sektor tambang dan CPO sebagai penopang utama ekonomi nasional. #

Pakar Sebut Ekonomi RI Tahan Guncangan Global, Permintaan Domestik Jadi Andalan

JAKARTA — Di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik dan tekanan ekonomi dunia, perekonomian Indonesia dinilai tetap tangguh dengan ditopang kuatnya permintaan domestik. Kondisi ini diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus memberikan rasa tenang bagi masyarakat.

Kepala Ekonomi Asian Development Bank, Albert Park, menyampaikan bahwa kawasan Asia Pasifik memang menghadapi perlambatan pertumbuhan akibat dinamika global, termasuk konflik di Timur Tengah.

“Konflik berkepanjangan di Timur Tengah menjadi risiko terbesar proyeksi pertumbuhan ekonomi di kawasan ini. Karena konflik menyebabkan tingginya harga energi dan pangan, kondisi keuangan juga lebih ketat,” kata Albert Park.

Meski demikian, Indonesia justru menunjukkan ketahanan yang relatif lebih kuat dibandingkan negara lain di kawasan. ADB memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2 persen pada 2026, meningkat dari 5,1 persen pada 2025.
Menurut Park, ketahanan ini ditopang oleh faktor domestik yang solid.

“Ketangguhannya didukung permintaan domestik yang masih bagus, pasar tenaga kerja yang stabil dan pengeluaran infrastruktur publik yang lebih tinggi,” ujarnya.

Optimisme terhadap ekonomi nasional juga disampaikan pemerintah. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar menegaskan fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat menghadapi gejolak global.

“Kita optimistis dan sudah menunjukkan fakta bahwa ekonomi kita kuat menghadapi berbagai kondisi global terutama perang. Insya Allah kita akan bekerja total untuk kita memiliki daya tahan atau daya kekuatan menghadapi krisis yang terjadi di tingkat global terutama akibat perang. Kita kuat, fondasi ekonomi kuat,” ujarnya.

Dari sisi domestik, tingkat kepercayaan masyarakat juga tetap terjaga. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menyebut optimisme konsumen masih berada pada level tinggi.

“Survei Konsumen Bank Indonesia pada Maret 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen Maret 2026 yang berada pada level optimis sebesar 122,9,” ujarnya.

Sejumlah ekonom juga melihat peluang di tengah tekanan global. Ekonom INDEF Didik J. Rachbini menilai kondisi krisis justru dapat dimanfaatkan sebagai momentum transformasi ekonomi.

“Krisis ini bagi pemerintah yang cerdas justru menjadi peluang untuk transformasi menuju pertumbuhan 6-7 persen,” katanya.

Dengan kombinasi permintaan domestik yang kuat, kebijakan pemerintah yang adaptif, serta optimisme pelaku ekonomi, Indonesia dinilai memiliki fondasi yang kokoh untuk menjaga pertumbuhan dan stabilitas di tengah dinamika global.

Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berpeluang terus tumbuh secara berkelanjutan.

Belanja Negara Ekspansif Dinilai Jaga Momentum Pertumbuhan Ekonomi

JAKARTA — Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada triwulan I 2026 dinilai memberikan sinyal positif bagi perekonomian nasional. Peningkatan belanja negara yang diiringi pertumbuhan penerimaan dianggap mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika global.

Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, menilai realisasi fiskal pada awal tahun ini mencerminkan kebijakan yang ekspansif namun tetap terjaga dalam koridor disiplin. “Perkembangan yang terjadi saat ini memberikan sinyal positif. Penyerapan belanja pemerintah naik, penerimaan negara juga tumbuh tinggi, sehingga gairah pergerakan ekonomi memberikan harapan baik ke depan,” ujarnya.

Data Kementerian Keuangan mencatat realisasi penerimaan negara hingga akhir Maret 2026 mencapai Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5 persen secara tahunan. Kinerja tersebut ditopang oleh penerimaan pajak yang meningkat 20,7 persen menjadi Rp394,8 triliun. “Pencapaian ini memberikan ruang fiskal yang lebih sehat untuk menopang belanja yang meningkat,” kata Christiantoko.

Christiantoko menjelaskan, pemerintah secara aktif terus mengakselerasi belanja negara sebagai instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik. Realisasi belanja pada triwulan I 2026 telah mencapai 21,2 persen dari target tahunan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis sekitar 17 persen.

“Belanja yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya menunjukkan adanya upaya ekspansif yang memang diperlukan, terutama di awal tahun, untuk menjaga momentum pemulihan dan memperkuat daya dorong ekonomi domestik,” ucapnya.

Peningkatan belanja tersebut antara lain didorong oleh pelaksanaan program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), serta faktor musiman seperti momentum Hari Raya Idulfitri. Selain itu, pemerintah juga menggelontorkan paket stimulus senilai Rp15 triliun guna menjaga konsumsi masyarakat, termasuk bantuan pangan, diskon transportasi, serta penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) bagi aparatur negara.

“Belanja pemerintah yang lebih tinggi menjadi pendorong penting untuk menjaga daya beli dan memperkuat perputaran ekonomi,” kata Christiantoko.

Di sisi lain, komitmen menjaga disiplin fiskal tetap menjadi perhatian utama. Pemerintah mempertahankan target defisit di bawah 3 persen terhadap PDB guna menjaga kredibilitas kebijakan fiskal. “Dengan demikian, defisit sebesar 0,93 persen pada triwulan I 2026 harus dilihat sebagai bagian dari strategi kebijakan fiskal yang terukur. Selama dikelola secara hati-hati dan tetap dalam batas yang telah ditetapkan, langkah ini justru berpotensi memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi ke depan,” ujarnya.

Kebijakan belanja negara ini patut diapresiasi sebagai langkah strategis pemerintah dalam menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan tetap mengedepankan disiplin fiskal dan pengelolaan defisit yang berhati-hati, kebijakan ini tidak hanya memperkuat daya beli masyarakat dalam jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi ekonomi yang lebih kokoh dan berkelanjutan ke depan. (*)

Ekonom : Meski Sulit, Ekonomi RI Masih Bisa Tumbuh Di Atas Proyeksi Bank Dunia

Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dinilai masih berpotensi berada di atas proyeksi Bank Dunia, meskipun sulit menembus level lima persen di tengah ketidakpastian global saat ini.

“Saya rasa Indonesia akan tumbuh di atas proyeksi World Bank, tetapi sulit untuk bisa tembus lima persen,” kata Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen dari 4,8 persen.

Wijayanto memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 masih berpotensi mencapai sekitar 5,5 persen, karena aktivitas ekonomi terbantu oleh faktor musiman, seperti momentum Natal dan Tahun Baru, Imlek, serta Lebaran.

Namun pada kuartal II hingga IV perekonomian Indonesia diperkirakan menghadapi tekanan dari penurunan daya beli, pelemahan nilai tukar, peningkatan inflasi, serta ketidakpastian global yang mendorong investor bersikap wait and see.

Di samping itu ada potensi El Nino yang dapat memperburuk kondisi ekonomi.

Ditambahkannya, pertumbuhan ekonomi pada 2026 sangat bergantung pada konsumsi domestik di tengah terbatasnya dorongan dari komponen lain seperti proyeksi investasi yang cenderung landai, belanja pemerintah yang terbatas, serta kinerja ekspor yang diperkirakan tidak mengalami lonjakan signifikan.

Dalam kondisi ini, sejumlah sektor diperkirakan menjadi motor pertumbuhan.

“Sektor yang berpotensi menjadi motor pertumbuhan, antara lain perdagangan, keuangan, pertambangan dan hilirisasi, makanan-minuman, kesehatan, telekomunikasi, dan ritel,” imbuhnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons pemangkasan proyeksi pertumbuhan dari Bank Dunia. Menurutnya, revisi tersebut merupakan hal yang wajar di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global yang memengaruhi banyak negara.

“Dengan situasi perang kan, ya mereka semua menurunkan (proyeksi) di berbagai wilayah,” ucap Airlangga.

Airlangga menilai proyeksi ini masih tergolong optimistis karena berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi global.

“Kita lihat angka itu juga masih di atas pertumbuhan global rata-rata. Pertumbuhan global rata-rata kan di 3,4 persen, tapi kalau Indonesia sendiri optimis karena nanti di kuartal I (2026) lihat aja hasilnya seperti apa,” ujarnya.

Untuk diketahui, dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026, Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen dari sebelumnya 4,8 persen pada Oktober 2025.

Perlambatan ini dipengaruhi tekanan eksternal, terutama kenaikan harga minyak global serta meningkatnya kehati-hatian investor di pasar keuangan internasional.

Meski demikian, Bank Dunia menilai Indonesia masih memiliki penyangga ekonomi, antara lain dari ekspor komoditas dan inisiatif investasi pemerintah, yang dapat membantu meredam dampak kenaikan biaya energi dalam jangka pendek. [*]