Jelang 2 Tahun Prabowo, Asta Cita Didorong Jadi Semangat Membangun Negeri

JAKARTA – Menjelang dua tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, implementasi delapan misi utama atau yang dikenal dengan Asta Cita terus menunjukkan progres yang terukur dan signifikan. Berbagai elemen bangsa, mulai dari jajaran pemerintah pusat hingga lapisan masyarakat di tingkat desa, kini semakin solid menyatukan langkah. Mereka menjadikan Asta Cita sebagai motor penggerak utama percepatan pembangunan negeri, sekaligus instrumen vital menyongsong visi Indonesia Emas 2045.

Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai kesempatan selalu menggaungkan semangat persatuan nasional serta keyakinan mendalam akan potensi besar bangsa ini. Beliau menegaskan bahwa stabilitas politik dan kolaborasi dari seluruh pihak adalah kunci utama untuk mempertahankan tren positif pertumbuhan negara di tengah ragam tantangan global.

“Kita harus selalu optimistis bahwa Indonesia akan terus bangkit menggapai cita-cita. Dengan semangat kebersamaan, gotong royong, dan kerja keras pantang menyerah, tidak ada yang tidak mungkin bagi bangsa sebesar ini untuk menjadi negara yang kuat, adil, makmur, serta dihormati di mata dunia,” tegas Prabowo.

Optimisme yang dibangun oleh Kepala Negara tersebut selaras dengan langkah taktis jajaran kabinet di lapangan, khususnya pada aspek peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Peningkatan Kesejahteraan dan Pembangunan SDM Sekretariat Wakil Presiden, Eddy Cahyono Sugiarto, menjelaskan bahwa pengawalan ketat terhadap program prioritas pemerintah terus dilakukan, termasuk akselerasi penurunan angka stunting di berbagai daerah.

“Capaian Asta Cita di bidang pembangunan SDM pada era kepemimpinan Presiden Prabowo merupakan fondasi mutlak menuju Indonesia Maju. Kami terus memperkuat koordinasi dan komitmen lintas sektoral, seperti yang baru-baru ini diintensifkan bersama jajaran pemerintah daerah menjelang rakortek regional, agar percepatan penurunan stunting berjalan lebih optimal dan tepat sasaran,” ungkap Eddy.

Dukungan kuat terhadap keberlanjutan program strategis pemerintah ini rupanya juga mengalir deras dari basis akar rumput. Ketua DPD Asosiasi Kepala Desa Seluruh Indonesia (AKSI) Sumatera Utara, Wahid Iskandar Barus, menyatakan bahwa masyarakat desa siap menjadi garda terdepan dalam mengawal jalannya pemerintahan.

“Jelang dua tahun pemerintahan berjalan, kami mengajak seluruh elemen warga untuk terus bersatu, merapatkan barisan, dan mendukung penuh implementasi Asta Cita. Ini bukan sekadar deretan program kerja, melainkan jalan nyata demi mewujudkan kemajuan desa dan cita-cita besar Indonesia Emas,” ujar Wahid. (*)

Jelang 2 Tahun Prabowo, Asta Cita Dianggap Bisa Gerakkan Ekonomi Masyarakat

Jakarta – Menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sejumlah program yang menjadi bagian dari Asta Cita dinilai mulai diarahkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat dari tingkat nasional hingga desa. Salah satu yang mendapat perhatian adalah Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), yang dirancang menjadi instrumen untuk memperpendek rantai distribusi, memperkuat kegiatan usaha lokal, serta membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat.

Presiden Prabowo Subianto mengatakan KDKMP membutuhkan waktu agar manfaat ekonominya dapat dirasakan secara luas. Pemerintah saat ini terus mendorong realisasi koperasi tersebut agar dapat berfungsi sebagai bagian penting dalam rantai pasok kebutuhan masyarakat di tingkat desa.

“Dan ini nanti efeknya akan terasa saya kira beberapa bulan, mungkin tahun 2027, 2028 akhir. Ini kurang lebih,” ujar Prabowo. Ia menjelaskan koperasi tersebut diarahkan memangkas mata rantai distribusi sehingga produsen dapat lebih dekat dengan konsumen dan masyarakat memperoleh barang kebutuhan dengan harga yang lebih efisien.

Pemerintah menempatkan pembangunan dari desa dan dari bawah sebagai salah satu agenda Asta Cita. Melalui KDKMP, kegiatan ekonomi di daerah diharapkan tidak hanya bertumpu pada perdagangan, tetapi berkembang melalui penguatan produksi, distribusi, pembiayaan, serta pemasaran produk masyarakat. Dengan demikian, aktivitas ekonomi dapat tumbuh lebih dekat dengan kebutuhan dan potensi masing-masing wilayah.

Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan penguatan koperasi juga diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja dan mendorong inovasi ekonomi berbasis daerah. Pemerintah menargetkan KDKMP yang telah memenuhi kesiapan operasional dapat segera menjalankan fungsi ekonominya di berbagai wilayah.

“Dalam satu-dua hari ini akan diterbitkan SK pengangkatan manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, termasuk dengan besaran gaji, tunjangan, dan sebagainya,” kata Ferry. Sebanyak 28.626 manajer telah direkrut dan penempatannya diproyeksikan dilakukan setelah regulasi tata kelola diterbitkan.

Kementerian Koperasi juga menargetkan 17.288 KDKMP yang bangunan fisiknya telah selesai dapat mulai beroperasi pada akhir September atau awal Oktober 2026. Secara keseluruhan, pemerintah menargetkan sekitar 30.000 koperasi dapat beroperasi pada tahun ini.

Penguatan ekonomi berbasis masyarakat tersebut sejalan dengan arah Asta Cita yang menempatkan pembangunan manusia, pemerataan, industrialisasi, dan pembangunan dari desa sebagai bagian dari agenda menuju Indonesia maju. Pemerintah juga menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi perlu memberikan manfaat yang lebih luas, termasuk melalui peningkatan produktivitas, penciptaan pekerjaan, dan penguatan kapasitas masyarakat.

Dengan memasuki tahun kedua pemerintahan, implementasi Asta Cita diarahkan semakin menyentuh aktivitas ekonomi sehari-hari. Penguatan koperasi desa, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hilirisasi, serta penciptaan lapangan kerja menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat pembangunan sekaligus memperkuat fondasi ekonomi masyarakat di berbagai daerah.

Jelang 2 Tahun Prabowo Menjadi Ruang Mengawal Asta Cita agar Tepat Sasaran

Oleh: Dhita Karuniawati )*

Menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, berbagai capaian pemerintah menjadi sorotan. Namun, momentum tersebut juga menjadi ruang untuk memastikan agenda Asta Cita tidak berhenti pada pencapaian di atas kertas, melainkan benar-benar dirasakan masyarakat.

Dua tahun pemerintahan dapat menjadi momentum evaluasi terhadap pelaksanaan berbagai program prioritas. Ukurannya bukan hanya seberapa banyak program diluncurkan, tetapi sejauh mana kebijakan tersebut menjawab kebutuhan masyarakat dan memberikan dampak nyata di daerah.

Presiden Prabowo sebelumnya menyatakan semakin percaya diri menjelang dua tahun pemerintahannya. Prabowo menilai sudah banyak hal yang dikerjakan pemerintah selama hampir dua tahun dan hasilnya mulai terlihat. Pemerintah telah mencapai sejumlah hasil dalam menjalankan program-programnya. Pemerintah tidak ingin hanya banyak berbicara, tetapi berorientasi pada pekerjaan dan hasil nyata.

Pernyataan tersebut menempatkan capaian sebagai salah satu ukuran penting perjalanan pemerintahan. Namun, capaian tersebut tetap membutuhkan pengawasan agar pelaksanaan program berjalan sesuai sasaran dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara luas.

Asta Cita sendiri menjadi kerangka utama agenda pemerintahan Prabowo-Gibran. Implementasinya mencakup berbagai bidang, mulai dari pembangunan manusia, penguatan ekonomi, ketahanan pangan, penciptaan lapangan kerja, pemerataan pembangunan, hingga penguatan kehidupan sosial dan tata kelola pemerintahan. Besarnya cakupan tersebut membuat pengawalan tidak bisa hanya dilakukan pemerintah pusat. Pemerintah daerah dan DPRD juga memiliki peran penting untuk memastikan kebijakan nasional dapat diterapkan sesuai kondisi dan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah.

Gambaran itu terlihat dari langkah DPRD Sulawesi Tengah yang mengikuti rapat koordinasi terkait pelaksanaan Asta Cita di Kabupaten Tojo Una-Una. Forum tersebut menjadi bagian dari evaluasi sekaligus penguatan sinergi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat. DPRD Sulteng menyatakan kesiapan untuk mengawal program pemerintah agar pelaksanaannya berjalan efektif. Pengawasan tersebut mencakup berbagai program yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat, pembangunan daerah, ketahanan pangan, hingga Program Makan Bergizi Gratis.

Wakil Ketua I DPRD Sulawesi Tengah Arnila Hi. Moh. Ali menekankan pentingnya sinergi antara legislatif, pemerintah daerah, Forkopimda, serta instansi terkait dalam menjalankan agenda Asta Cita. Menurutnya, kolaborasi diperlukan agar program pemerintah dapat memberikan manfaat yang lebih nyata bagi masyarakat.

Pengawalan di tingkat daerah menjadi penting karena implementasi kebijakan nasional tidak selalu menghadapi kondisi yang sama. Perbedaan karakter wilayah, kemampuan pemerintah daerah, kondisi sosial, serta kebutuhan masyarakat dapat memengaruhi keberhasilan sebuah program.

Karena itu, evaluasi terhadap Asta Cita perlu melihat kondisi di lapangan. Program yang secara nasional dinilai berjalan baik tetap perlu diperiksa dari sisi penerima manfaat, kualitas pelaksanaan, ketepatan sasaran, dan keberlanjutannya. Partisipasi masyarakat juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Ajakan Aksi Sumut kepada masyarakat untuk bersatu mendukung Asta Cita menunjukkan salah satu dukungan dari kelompok masyarakat terhadap agenda pemerintah.

Dukungan masyarakat, bagaimanapun, dapat berjalan beriringan dengan fungsi kontrol. Masyarakat tetap memiliki ruang untuk menyampaikan masukan, mengawasi pelaksanaan program, serta melaporkan persoalan yang ditemukan di lapangan.

Dengan demikian, momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran tidak semestinya hanya menjadi ajang menampilkan daftar keberhasilan. Momentum ini juga dapat digunakan untuk melihat program mana yang sudah berjalan, mana yang masih menghadapi kendala, dan bagian mana yang membutuhkan perbaikan.

Pemerintah terus memastikan setiap program memiliki sasaran yang jelas dan indikator yang dapat diukur. Transparansi mengenai capaian dan kendala juga diperlukan agar publik dapat melihat perkembangan kebijakan secara lebih objektif.

Peran media menjadi penting dalam proses tersebut. Pemberitaan tidak hanya berfungsi menyampaikan capaian pemerintah, tetapi juga menghadirkan informasi mengenai pelaksanaan program dan dampaknya bagi masyarakat.

Hal yang sama berlaku bagi DPRD dan pemangku kepentingan di daerah. Pengawasan terhadap program nasional dapat menjadi instrumen untuk menemukan persoalan sejak dini sekaligus memperkuat koordinasi antara pusat dan daerah.

Memasuki tahun ketiga pemerintahan, Asta Cita akan berhadapan dengan tuntutan yang semakin konkret. Masyarakat tidak hanya membutuhkan janji atau target, tetapi hasil yang dapat dilihat dan dirasakan. Oleh karena itu, momentum menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran dapat menjadi titik untuk memperkuat pengawalan Asta Cita. Capaian telah diraih dapat menjadi dasar untuk melanjutkan program, sementara kekurangan yang ditemukan menjadi bahan evaluasi.

Pengawalan tersebut membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah bekerja menjalankan program, pemerintah daerah menerjemahkannya sesuai kebutuhan wilayah, DPRD menjalankan fungsi pengawasan, sementara masyarakat dan media ikut memastikan kebijakan tetap berada pada jalurnya.

Keberhasilan Asta Cita tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya kebijakan yang dibuat, tetapi oleh kemampuan pemerintah memastikan kebijakan tersebut sampai kepada masyarakat yang menjadi sasaran. Dengan pendekatan tersebut, Asta Cita tidak hanya diukur dari banyaknya program yang telah dijalankan, tetapi dari seberapa tepat program tersebut menyentuh masyarakat. Momentum dua tahun pun dapat menjadi ruang untuk memastikan agenda pemerintahan berjalan lebih terukur, akuntabel, dan sesuai dengan kebutuhan pembangunan di berbagai daerah.

*) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

Jelang 2 Tahun Prabowo dan Asta Cita Perlu Dijaga sebagai Agenda Menuju Indonesia Emas

*) Oleh : Gavin Asadit

Menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, agenda Asta Cita menjadi salah satu fondasi penting yang perlu terus dijaga sebagai arah pembangunan menuju Indonesia Emas 2045. Berbagai program yang telah berjalan perlu dipastikan memiliki kesinambungan agar visi pembangunan jangka panjang dapat diterjemahkan menjadi hasil yang semakin nyata bagi masyarakat.

Asta Cita tidak hanya menjadi agenda politik pemerintahan, tetapi telah diterjemahkan ke dalam prioritas pembangunan nasional 2025 – 2029. Delapan agenda tersebut mencakup penguatan ideologi dan demokrasi, ketahanan pangan dan energi, pembangunan sumber daya manusia, hilirisasi, pembangunan dari desa, reformasi hukum dan birokrasi, pemberantasan korupsi, hingga penguatan pertahanan dan hubungan internasional.

Memasuki tahun ketiga pemerintahan, kesinambungan menjadi semakin penting. Program yang telah dimulai membutuhkan waktu untuk menghasilkan dampak, sehingga konsistensi kebijakan menjadi salah satu faktor penting agar pembangunan tidak terputus di tengah jalan.

Salah satu fokus utama Asta Cita adalah pembangunan sumber daya manusia. Pemerintah menempatkan peningkatan kualitas manusia sebagai investasi jangka panjang melalui penguatan gizi, kesehatan, pendidikan, keterampilan, serta akses terhadap kesempatan ekonomi.

Pembangunan SDM merupakan inti Asta Cita keempat dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai program pemerintah. Pendekatan pembangunan manusia dilakukan melalui siklus kehidupan, mulai dari pemenuhan gizi sejak dini, pendidikan bermutu, peningkatan keterampilan hingga penciptaan pekerjaan produktif.

Program seperti Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, revitalisasi sekolah, pemeriksaan kesehatan gratis, beasiswa, pendidikan vokasi, dan penguatan riset menjadi bagian dari implementasi agenda tersebut. Rangkaian program itu diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memutus rantai kemiskinan antargenerasi.

Agenda pembangunan SDM juga memiliki kaitan erat dengan target Indonesia Emas 2045. Generasi yang saat ini berada di usia sekolah akan menjadi bagian penting dari angkatan kerja ketika Indonesia memasuki periode tersebut.

Karena itu, investasi pada pendidikan dan kesehatan tidak dapat dipandang sebagai program jangka pendek. Kualitas manusia akan menentukan kemampuan Indonesia beradaptasi dengan perubahan teknologi, meningkatkan produktivitas, menciptakan inovasi, dan bersaing dalam perekonomian global.

Di sektor ekonomi, Asta Cita juga mendorong penguatan industri nasional melalui hilirisasi. Pemerintah ingin kekayaan sumber daya alam tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi menghasilkan nilai tambah lebih besar di dalam negeri.

Ketua Umum Ikatan Alumni Lemhannas RI periode 2026–2031, Purnomo Yusgiantoro, menilai kebijakan hilirisasi perlu terus didorong hingga menghasilkan produk yang benar-benar sampai kepada pengguna akhir. Menurut Purnomo, daerah memiliki peran penting dalam memastikan potensi sumber daya alam dapat diolah menjadi kekuatan industri yang memberikan manfaat ekonomi lebih luas.

Perkembangan investasi menunjukkan bahwa agenda hilirisasi mulai memberikan kontribusi terhadap perekonomian. Pada semester I 2026, realisasi investasi nasional mencapai Rp1.010,6 triliun dan menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja. Investasi hilirisasi sendiri mencapai Rp300,1 triliun atau sekitar 29,7 persen dari total investasi nasional.

Pemerataan pembangunan juga menjadi bagian penting dari Asta Cita. Pembangunan tidak hanya diarahkan kepada pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga desa dan daerah yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap infrastruktur maupun kesempatan ekonomi.

Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman menilai desa perlu dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. Menurut Dudung, pembangunan desa merupakan bagian dari implementasi Asta Cita keenam yang menekankan pembangunan dari bawah untuk pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.

Pendekatan tersebut menjadi relevan karena kekuatan ekonomi Indonesia tidak hanya berada di kota besar. Desa memiliki sumber daya alam, tenaga kerja, serta modal sosial yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi baru apabila mendapatkan dukungan infrastruktur, pembiayaan, teknologi, dan akses pasar.

Selain itu, agenda ketahanan pangan dan energi juga menjadi fondasi penting menuju Indonesia Emas. Presiden Prabowo menegaskan pentingnya kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri di tengah ketidakpastian global. Kemandirian pangan dan energi dipandang sebagai bagian dari kekuatan nasional.

Ketahanan tersebut perlu diikuti dengan pembangunan industri yang kuat. Ketika produksi pangan, energi, dan berbagai kebutuhan strategis semakin mampu dipenuhi dari dalam negeri, Indonesia memiliki ruang lebih besar untuk menghadapi perubahan ekonomi global.

Di sisi lain, penguatan hukum, birokrasi, dan tata kelola pemerintahan tetap menjadi bagian penting dari agenda pembangunan. Program besar membutuhkan institusi yang mampu menjalankannya secara efektif, transparan, dan konsisten.

Menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, tantangan berikutnya adalah memastikan setiap agenda Asta Cita terus berjalan secara berkelanjutan. Evaluasi tetap diperlukan agar program yang belum optimal dapat diperbaiki, sementara program yang telah memberikan manfaat dapat diperluas.

Indonesia Emas 2045 bukan target yang dicapai dalam satu periode pemerintahan. Karena itu, fondasi yang dibangun hari ini perlu memiliki kesinambungan lintas waktu dan mampu diteruskan oleh pemerintahan berikutnya.

Menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan kerja panjang dan kesinambungan. Asta Cita dapat menjadi pijakan bersama agar pembangunan Indonesia tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membangun manusia yang unggul, negara yang mandiri, serta masyarakat yang semakin sejahtera.

)* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan

Pemerintah Pastikan Stok BBM Aman di Tengah Ketidakpastian Minyak Dunia

Jakarta — Pemerintah memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) nasional tetap aman di tengah dinamika harga minyak dunia dan ketidakpastian geopolitik yang berpotensi mengganggu rantai pasok energi global.

Pemerintah terus memperkuat pengelolaan cadangan, pasokan minyak mentah, serta distribusi BBM agar kebutuhan masyarakat dan aktivitas ekonomi nasional tetap terpenuhi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan cadangan BBM nasional saat ini tetap berada pada standar minimal 18–21 hari.

“Yang terpenting sekarang adalah pemerintah memastikan cadangan BBM kita itu ada pada standar minimal, 18 sampai dengan 21 hari,” ujar Bahlil.

Bahlil menjelaskan pemerintah juga menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi sebagai bagian dari perlindungan masyarakat.

“Harga minyak subsidi sampai dengan akhir tahun tidak akan ada kenaikan,” tegasnya.

Ia menambahkan, kebijakan tersebut merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto. “Itu sudah deal. Itu perintah Bapak Presiden Prabowo.”

Di sisi lain, pemerintah tetap mencermati perkembangan harga minyak mentah global yang tercermin melalui Indonesian Crude Price (ICP).

“Kalau harga minyak nonsubsidi mengikuti harga pasar global, ketika ICP naik, otomatis harganya akan naik. Kalau ICP turun, tentu akan dilakukan koreksi,” lanjutnya.

Senada, Anggota Komisi XII DPR RI Ramson Siagian menyampaikan bahwa stok BBM nasional secara umum masih aman.

“Stock rata-ratanya bisa berkurang mungkin jadi beberapa hari,” ujar Ramson.

Ramson menambahkan, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan distribusi agar ketersediaan nasional dapat diterjemahkan menjadi pelayanan yang lancar di setiap wilayah.

“Memang sistem kontrolnya ini BPH Migas juga harus lebih ketat mengontrol langsung di lapangan,” katanya.

Penguatan ketahanan energi juga dilakukan melalui peningkatan produksi domestik dan diversifikasi sumber energi. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan Indonesia terus memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong transisi energi berkeadilan.

“Kami terus memperkuat ketahanan energi nasional dengan tetap mendorong transisi energi yang berkeadilan menuju Net Zero Emissions pada 2060 atau lebih cepat,” kata Yuliot.

Yuliot menambahkan pemerintah mendorong pemanfaatan sumber daya dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.

“Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menjalankan program B50,” tegasnya.

Program tersebut menjadi bagian dari strategi diversifikasi energi dan penguatan pasokan BBM nasional.

Dengan menjaga kecukupan cadangan, memperkuat produksi dalam negeri, dan mendorong diversifikasi energi, pemerintah memastikan ketahanan pasokan BBM tetap menjadi prioritas di tengah perubahan pasar minyak dunia. (*)

Cadangan BBM Aman, Pemerintah Pastikan Pasokan Terjaga

Jakarta, Pemerintah terus memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga di tengah dinamika geopolitik global yang berdampak terhadap pasar energi internasional. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) nasional masih berada dalam standar minimal sehingga kebutuhan masyarakat dapat terus dipenuhi secara aman dan berkelanjutan. Pemerintah sebelumnya juga menegaskan cadangan BBM berada di atas standar minimum nasional di tengah ketidakpastian energi global.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah memberikan perhatian serius terhadap kecukupan cadangan BBM sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas energi nasional. Menurutnya, ketersediaan cadangan menjadi salah satu instrumen penting untuk menghadapi perubahan kondisi pasar dan gejolak geopolitik yang berpotensi memengaruhi pasokan energi dunia.

“Yang terpenting sekarang adalah pemerintah memastikan cadangan BBM kita itu ada pada standar minimal, 18–21 hari,” ujar Bahlil dalam acara Electricity Connect 2026 di Tangerang, Banten.

Kepastian cadangan tersebut menunjukkan pemerintah terus melakukan langkah antisipatif untuk menjaga kesinambungan pasokan energi. Pengelolaan cadangan BBM juga menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional sehingga aktivitas masyarakat dan perekonomian tetap dapat berjalan di tengah perubahan situasi global.

Selain menjaga ketersediaan stok, pemerintah memberikan kepastian terhadap harga BBM bersubsidi. Bahlil menyampaikan bahwa harga BBM bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir 2026. Kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut atas arahan Presiden Prabowo Subianto sekaligus bagian dari upaya menjaga daya beli masyarakat. Pemerintah sebelumnya telah menyampaikan komitmen yang sama dan mengaitkannya dengan kondisi pasokan serta ruang fiskal yang tersedia.

Kebijakan tersebut memberikan kepastian bagi masyarakat, khususnya kelompok yang menggunakan BBM bersubsidi untuk mendukung aktivitas sehari-hari. Stabilitas harga BBM diharapkan turut menjaga keberlangsungan kegiatan ekonomi masyarakat sekaligus memberikan ruang bagi pemerintah untuk menghadapi dinamika harga energi global secara terukur.

Di sisi lain, Bahlil menjelaskan bahwa mekanisme BBM nonsubsidi berbeda karena harganya mengikuti perkembangan pasar. Penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan perubahan harga minyak mentah dunia yang tercermin melalui Indonesian Crude Price (ICP).

“Harga BBM nonsubsidi itu akan mengikuti harga pasar. Kalau harga pasar globalnya itu ICP-nya naik, otomatis dia akan naik. Tetapi kalau harga ICP-nya turun, pasti juga dia akan melakukan koreksi,” kata Bahlil.

Dengan menjaga kecukupan cadangan, memastikan kelancaran pasokan, serta memberikan kepastian harga BBM bersubsidi, pemerintah terus memperkuat ketahanan energi nasional. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi di tengah ketidakpastian geopolitik global. (*)

Cadangan BBM Terjaga, Pemerintah Perkuat Kemandirian Energi Nasional

Oleh: Dwi Saputri)*

Ketidakpastian geopolitik dan dinamika pasar energi global menjadi tantangan yang perlu terus diantisipasi Indonesia. Konflik di berbagai kawasan dapat memengaruhi rantai pasok, distribusi, hingga pergerakan harga minyak dunia. Dalam situasi tersebut, kemampuan pemerintah menjaga ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) menjadi penting untuk memberikan kepastian bahwa kebutuhan energi masyarakat tetap dapat terpenuhi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan cadangan BBM nasional masih berada pada standar minimal, yakni sekitar 18–21 hari. Ketersediaan cadangan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga pasokan energi nasional di tengah dinamika global yang masih sulit diprediksi.

Bahlil menyampaikan pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap ketersediaan energi seiring perkembangan situasi geopolitik dunia. Pemerintah perlu memastikan stok BBM tetap tersedia agar kebutuhan masyarakat tidak terganggu apabila terjadi perubahan pada rantai pasok energi global.

Langkah pemerintah dalam menjaga kecukupan cadangan BBM patut diapresiasi sebagai bentuk antisipasi terhadap ketidakpastian pasar energi global. BBM masih memiliki peran besar dalam mendukung mobilitas masyarakat maupun aktivitas ekonomi. Gangguan pasokan dapat berdampak pada transportasi, distribusi barang, kegiatan industri, hingga berbagai aktivitas produktif lainnya. Karena itu, memastikan ketersediaan stok menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Selain menjaga ketersediaan pasokan, pemerintah juga memberikan kepastian mengenai harga BBM bersubsidi. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan harga BBM bersubsidi tidak akan naik hingga akhir 2026. Kepastian tersebut menjadi kebijakan yang positif di tengah fluktuasi harga energi dunia karena dapat membantu masyarakat menjaga pengeluaran sekaligus mempertahankan daya beli.

Stabilitas harga BBM bersubsidi juga memiliki dampak yang lebih luas. Perubahan harga energi dapat memengaruhi biaya transportasi dan distribusi yang kemudian berpotensi berdampak terhadap harga berbagai kebutuhan masyarakat. Keputusan pemerintah menjaga harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun karena itu layak diapresiasi sebagai upaya melindungi masyarakat dari dampak gejolak harga energi global.

Namun, mekanisme harga BBM nonsubsidi berbeda. Airlangga mengungkapkan bahwa harga BBM nonsubsidi mengikuti perkembangan harga minyak dunia dengan mengacu pada indikator Indonesian Crude Price (ICP). Ketika ICP meningkat, harga BBM nonsubsidi dapat ikut naik, sedangkan saat ICP turun, harga dapat kembali mengalami koreksi.

Perbedaan mekanisme tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tetap perlu mencermati perkembangan pasar energi global. Pada saat yang sama, kebijakan mempertahankan harga BBM bersubsidi menjadi instrumen pemerintah dalam memberikan perlindungan kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan di tengah potensi perubahan harga energi.

Meski demikian, menghadapi ketidakpastian energi tidak cukup hanya dengan menjaga cadangan dan harga BBM. Ketahanan energi yang kuat membutuhkan kemampuan memenuhi kebutuhan energi secara lebih mandiri. Dalam jangka panjang, pemerintah juga mendorong peningkatan produksi migas, optimalisasi sumur minyak, serta pengembangan bahan bakar nabati.

Arah kebijakan tersebut merupakan langkah strategis yang perlu terus didorong. Penguatan produksi domestik dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus memperkuat kemampuan Indonesia menghadapi gangguan pasokan global. Semakin besar kebutuhan energi yang dapat dipenuhi dari dalam negeri, semakin kecil pula kerentanan Indonesia terhadap perubahan kondisi pasar internasional.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya juga telah mengarahkan jajarannya untuk menyiapkan pengembangan bensin campuran etanol 50 persen atau E50. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Pengembangan bahan bakar berbasis etanol dapat menjadi salah satu pilihan untuk memperluas pemanfaatan sumber energi dalam negeri. Jika dilaksanakan secara terukur dan didukung kesiapan produksi serta infrastruktur, pengembangan bahan bakar nabati dapat membantu memperkuat diversifikasi energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi impor.

Berbagai langkah pemerintah tersebut patut mendapat apresiasi karena menunjukkan bahwa penguatan ketahanan energi dilakukan melalui kebijakan jangka pendek dan jangka panjang secara bersamaan. Dalam jangka pendek, kecukupan cadangan dan stabilitas harga BBM bersubsidi memberikan kepastian bagi masyarakat. Dalam jangka panjang, peningkatan produksi domestik dan pengembangan energi alternatif menjadi fondasi untuk memperkuat kemandirian energi.

Pemerintah saat ini berupaya menjaga dua aspek utama, yakni ketersediaan BBM dan stabilitas harga BBM bersubsidi. Sementara itu, konsumen BBM nonsubsidi tetap menghadapi kemungkinan perubahan harga seiring pergerakan harga minyak mentah dunia melalui indikator ICP.

Ke depan, konsistensi pemerintah dalam menjaga cadangan BBM sekaligus memperkuat produksi dan diversifikasi energi perlu terus dipertahankan. Upaya tersebut diharapkan dapat memberikan kepastian pasokan bagi masyarakat, menjaga aktivitas ekonomi, serta memperkuat kemandirian energi nasional. Kepastian pasokan juga penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat dan pelaku usaha agar aktivitas ekonomi tetap berjalan di tengah ketidakpastian global. Dengan ketahanan energi yang semakin kuat, Indonesia akan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menghadapi gejolak pasar energi global.

)* Pemerhati isu sosial-ekonomi

BBM Aman dan Harga Terkendali Menjadi Bukti Perlindungan Pemerintah bagi Masyarakat

Oleh: Bara WInatha*)

Ketersediaan bahan bakar minyak menjadi salah satu kebutuhan penting yang berkaitan langsung dengan aktivitas masyarakat dan pergerakan ekonomi. Karena itu, pemerintah terus memperkuat pengelolaan BBM melalui pengamanan stok, optimalisasi distribusi, serta pengawasan di tingkat penyalur. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan masyarakat memperoleh akses energi secara merata sekaligus menjaga agar dinamika penyaluran tidak menimbulkan beban tambahan bagi konsumen. Kondisi distribusi yang terpantau dan harga yang tetap terkendali menjadi bagian dari bentuk perlindungan pemerintah terhadap kebutuhan dasar masyarakat.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah terus memastikan ketersediaan energi nasional tetap terjaga dengan memperhatikan kondisi stok dan distribusi di berbagai wilayah. Upaya tersebut menjadi semakin penting karena kebutuhan BBM masyarakat dapat berubah sesuai aktivitas ekonomi, mobilitas kendaraan, serta kondisi geografis masing-masing daerah. Pemerintah juga memastikan pasokan dapat diterima masyarakat melalui jaringan penyaluran hingga tingkat SPBU.

Bahlil menjelaskan bahwa ketahanan energi membutuhkan pengelolaan yang menyeluruh dari sisi pasokan, distribusi, hingga pengawasan. Pemerintah sebelumnya juga memastikan cadangan BBM nasional berada pada tingkat yang memadai untuk menghadapi kebutuhan masyarakat. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa perlindungan terhadap konsumen tidak berhenti pada penyediaan stok, tetapi juga membutuhkan sistem distribusi yang mampu merespons kondisi lapangan secara cepat.

Penguatan distribusi terlihat dari langkah Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi yang melakukan pemantauan secara berkala di seluruh wilayah Sulawesi. Secara umum penyaluran BBM berada dalam kondisi kondusif, meskipun kepadatan kendaraan masih ditemukan pada waktu tertentu dan untuk jenis BBM tertentu. Perbedaan kondisi antarwilayah membuat pola penyaluran perlu disesuaikan berdasarkan kebutuhan masing-masing daerah.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Lilik Hardiyanto mengatakan bahwa Pertamina melakukan penyesuaian distribusi berdasarkan perkembangan kebutuhan di lapangan. Langkah tersebut mencakup penguatan suplai, penambahan jam operasional, peningkatan fasilitas pengisian, serta penguatan pengawasan di SPBU. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa distribusi BBM membutuhkan fleksibilitas agar perubahan kebutuhan masyarakat dapat direspons tanpa mengganggu kesinambungan pasokan.

Di Sulawesi Tenggara, misalnya, rata-rata penyaluran harian selama September meningkat 22,7 persen dibandingkan rata-rata normal pada Januari hingga Mei. Pertamina merespons kondisi tersebut dengan menambah jam operasional SPBU, mengoptimalkan nozzle Pertalite, serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan unsur terkait untuk menertibkan pengecer. Batas maksimal pengisian juga diterapkan dengan menyesuaikan kapasitas tangki standar kendaraan agar pasokan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat. Pengawasan penyaluran juga diperketat melalui pencocokan QR Code dengan nomor polisi kendaraan sebagai bagian dari upaya memastikan BBM disalurkan sesuai ketentuan.

Di Gorontalo, distribusi juga diperkuat melalui percepatan pengiriman dari Depot Gorontalo, optimalisasi nozzle Pertalite, serta peningkatan stok pada SPBU yang berpotensi mengalami kondisi kritis. Monitoring transaksi dilakukan untuk mengurangi potensi pembelian berulang maupun penyalahgunaan. Langkah tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan BBM perlu dibarengi dengan pengawasan agar manfaat subsidi dapat diterima masyarakat yang berhak.

Kondisi serupa diterapkan di Sulawesi Utara. Pertamina meningkatkan penyaluran harian Biosolar sebesar 8 persen dibandingkan Agustus dan menambah nozzle Biosolar untuk merespons antrean di Kota Manado. Sementara di Sulawesi Selatan dan Barat, kondisi antrean telah kembali normal dengan tambahan suplai Pertalite sebesar 35 persen dan Solar sebesar 4,4 persen. Pengaturan operasional juga dilakukan melalui penambahan jalur pelayanan, peningkatan jam operasional SPBU dan Depot Makassar, serta pengaturan waktu pengisian kendaraan besar.

Di sisi lain, pengelolaan BBM subsidi juga membutuhkan pengawasan dari hulu hingga hilir. Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies Ali Ahmudi Achyak mengatakan bahwa munculnya antrean di SPBU tidak selalu dapat langsung disimpulkan sebagai tanda kekurangan stok nasional. Kondisi tersebut perlu ditelusuri berdasarkan rantai pasokan secara menyeluruh, mulai dari stok nasional, regional, terminal BBM, hingga ketersediaan di masing-masing SPBU.

Ali menjelaskan bahwa antrean dapat dipengaruhi oleh persoalan logistik, distribusi, kapasitas penyalur, maupun potensi penyimpangan. Faktor geografis juga berpengaruh, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan infrastruktur dan konektivitas transportasi. Karena itu, pengawasan perlu dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik setiap daerah dan tidak hanya melihat besaran kuota yang telah ditetapkan.

Menurut Ali, pengaturan kuota harus berjalan bersama pengawasan agar BBM subsidi benar-benar diterima pengguna yang berhak. Praktik pembelian berulang maupun pengalihan BBM subsidi untuk dijual kembali secara ilegal dapat mengganggu distribusi dan memperpanjang antrean masyarakat. Penguatan digitalisasi, koordinasi antarlembaga, serta pengawasan terhadap penyalur menjadi instrumen penting untuk mencegah penyimpangan tersebut.

Dengan sistem pasokan yang terus dipantau, distribusi yang disesuaikan dengan kebutuhan wilayah, serta pengawasan yang diperkuat, pemerintah berupaya memastikan BBM tetap tersedia bagi masyarakat. Perlindungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan jumlah stok, tetapi juga menyangkut keterjangkauan, ketepatan sasaran, keamanan distribusi, dan pencegahan penyalahgunaan. Karena itu, BBM yang aman, tersedia, dan harga yang tetap terkendali menjadi bagian penting dari upaya pemerintah menjaga kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung kelancaran aktivitas ekonomi nasional.

*)Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan.

Tax Holiday Industri Tekstil Dapat Menjadi Momentum Mendorong Investasi dan Lapangan Kerja

Oleh Yudi Ilham Saputra )*

Rencana pemerintah memberikan insentif perpajakan bagi industri tekstil dan garmen berorientasi ekspor menjadi salah satu langkah yang dapat membuka ruang penguatan investasi sekaligus menjaga penyerapan tenaga kerja. Kebijakan yang sedang dikaji tersebut mencakup fasilitas Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk kegiatan outsourcing dan percepatan restitusi pajak. Di tengah persaingan industri manufaktur global yang semakin ketat, kemudahan fiskal semacam ini dapat menjadi instrumen untuk membantu perusahaan menjaga efisiensi produksi, memenuhi pesanan ekspor, serta mempertahankan keberlangsungan usaha.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa rencana pemberian fasilitas tersebut telah dibicarakan bersama Menteri Keuangan. Pemerintah masih melakukan pengkajian mengenai bentuk dan mekanisme insentif yang tepat, dengan harapan sejumlah industri dapat memperoleh kemudahan pada tahun ini. Bagi industri tekstil, kebijakan tersebut menjadi penting karena karakter produksinya sangat bergantung pada dinamika pesanan pasar internasional yang tidak selalu memiliki volume dan periode pengerjaan sama.

Airlangga menjelaskan bahwa salah satu fasilitas yang sedang dibahas berkaitan dengan kegiatan outsourcing. Industri tekstil yang berorientasi ekspor dapat menghadapi perubahan kebutuhan produksi sesuai musim dan permintaan pasar, misalnya untuk pesanan koleksi musim dingin (winter), musim panas (summer), musim semi (spring), maupun musim gugur (autumn). Ketika volume pesanan meningkat atau berubah dalam waktu tertentu, perusahaan dapat menggunakan tenaga atau fasilitas outsourcing untuk menyesuaikan kapasitas produksinya. Karena itu, pemerintah mempertimbangkan pemberian fasilitas PPN agar biaya yang muncul dalam proses tersebut tidak semakin membebani perusahaan.

Menurut Airlangga, bentuk fasilitas PPN yang akan diterapkan masih berada dalam tahap pembahasan. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah pembebasan PPN untuk kegiatan outsourcing tertentu. Kebijakan tersebut, apabila diterapkan dengan mekanisme yang tepat, dapat memberikan ruang bagi perusahaan untuk mengelola biaya produksi secara lebih fleksibel. Pada akhirnya, efisiensi tersebut diharapkan dapat mendukung kemampuan industri dalam mempertahankan pasar ekspor sekaligus meningkatkan daya saing produk tekstil Indonesia.

Selain fasilitas PPN, pemerintah juga membahas percepatan proses restitusi pajak bagi perusahaan tekstil yang memiliki orientasi ekspor. Airlangga menilai perusahaan eksportir pada umumnya membutuhkan proses pengembalian kelebihan pembayaran pajak yang tidak berlarut-larut. Kecepatan restitusi menjadi bagian penting dari pengelolaan arus kas karena dana yang kembali dapat digunakan perusahaan untuk mendukung kebutuhan produksi, pembelian bahan baku, pembayaran tenaga kerja, hingga pengembangan kapasitas usaha.

Pembahasan mengenai insentif tersebut sebelumnya mengemuka setelah rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah mengevaluasi ketentuan PPN bagi industri tekstil dan garmen berorientasi ekspor sebagai bagian dari upaya menjaga daya saing sektor tersebut. Langkah ini menunjukkan bahwa kebijakan industri tidak hanya diarahkan untuk menarik investasi baru, tetapi juga memberikan perhatian kepada perusahaan yang telah menjalankan kegiatan produksi di Indonesia.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita turut menyampaikan bahwa pelaku industri menyambut positif rencana pemberian insentif. Menurut Agus Gumiwang Kartasasmita, dukungan pemerintah dibutuhkan oleh perusahaan tekstil yang sudah beroperasi karena sektor ini menghadapi berbagai tekanan sekaligus memiliki karakter sebagai industri padat karya. Dengan demikian, menjaga keberlangsungan perusahaan existing memiliki kaitan langsung dengan perlindungan lapangan pekerjaan.

Ekonomi nasional selama setahun terakhir juga memberikan gambaran bahwa investasi dan penciptaan lapangan kerja terus menjadi perhatian pemerintah. Pemerintah mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen pada semester I 2026, sementara realisasi investasi mencapai Rp1.010,6 triliun dan menyerap hampir 1,45 juta tenaga kerja. Dalam periode setahun terakhir, pemerintah juga mencatat penciptaan sekitar 1,9 juta lapangan kerja, disertai penurunan tingkat pengangguran menjadi 4,68 persen pada data yang disampaikan pada pertengahan 2026. Capaian tersebut dapat menjadi modal untuk memperkuat kebijakan industri yang berorientasi pada investasi produktif dan penyerapan tenaga kerja.

Industri tekstil sendiri tetap dipandang strategis karena memiliki rantai produksi dari sektor hulu hingga hilir serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, ekspor, dan tenaga kerja. Pemerintah juga menyatakan sektor industri memiliki peran penting dalam meningkatkan nilai tambah dan daya saing nasional. Karena itu, insentif perpajakan perlu dilihat sebagai bagian dari ekosistem kebijakan yang lebih luas, bukan sekadar pengurangan beban perusahaan. Keberhasilannya akan sangat bergantung pada ketepatan sasaran, kepastian aturan, pengawasan, serta kemampuan industri memanfaatkan fasilitas untuk meningkatkan produktivitas.

Dengan demikian, rencana insentif perpajakan bagi industri tekstil dan garmen berorientasi ekspor dapat menjadi momentum untuk memperkuat investasi dan menjaga lapangan kerja jika dilaksanakan secara terukur. Pemerintah berupaya memastikan fasilitas PPN dan percepatan restitusi benar-benar memberikan kepastian bagi pelaku usaha, sementara perusahaan diharapkan menggunakan ruang tersebut untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, kualitas tenaga kerja, dan daya saing ekspor. Dengan kolaborasi pemerintah dan dunia usaha, penguatan industri tekstil tidak hanya dapat menjaga perusahaan yang sudah ada, tetapi juga membuka peluang tumbuhnya investasi dan kesempatan kerja baru di masa mendatang.

)* penulis merupakan pengamat kebijakan publik

Pemerintah Dorong Kebangkitan Industri Tekstil dengan Insentif dan Pembiayaan

Jakarta – Pemerintah terus menyiapkan strategi untuk memperkuat kembali industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional melalui insentif fiskal, dukungan pembiayaan, serta pengembangan kawasan industri yang terintegrasi. Kebijakan ini ditujukan untuk meningkatkan daya saing, menarik investasi, memperkuat produksi dalam negeri, dan memperluas penyerapan tenaga kerja.

CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan pemerintah sedang mempertimbangkan pemberian fasilitas tax holiday bagi sektor tekstil. Insentif tersebut diharapkan mampu meningkatkan minat investasi sekaligus membantu industri TPT menghadapi persaingan yang semakin ketat. Selama ini, tax holiday lebih banyak diberikan untuk investasi baru.

“Nah, untuk industri tekstil ini akan dipertimbangkan untuk diberikan kembali tax holiday. Itu menjadi salah satu opsi yang sedang dibahas,” ujar Rosan.

Selain kebijakan perpajakan, Danantara menyiapkan rencana pembangunan kawasan khusus yang menghubungkan industri tekstil dari sektor hulu hingga hilir. Kawasan tersebut nantinya didukung teknologi untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat kemampuan industri dalam menghasilkan produk yang kompetitif.

“Jadi, inisiatif ini dibuat agar produk tekstil dan garmen kita bisa kembali menjadi salah satu industri yang maju, memberikan dampak positif dan besar bagi perekonomian, termasuk melalui penciptaan lapangan pekerjaan,” kata Rosan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan industri TPT memiliki peran penting terhadap perekonomian Indonesia. Sektor tersebut berkontribusi sekitar 0,97 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), menyerap sekitar 4 juta tenaga kerja, serta menghasilkan nilai ekspor sekitar US$12 miliar.

Airlangga menyebut pertumbuhan industri TPT masih mencapai 5,6 persen, sedangkan industri barang kulit dan alas kaki tumbuh 8,25 persen. Namun, sejumlah persoalan masih harus diselesaikan, salah satunya berkaitan dengan harmonisasi tarif dari sektor hulu hingga hilir.

“Khusus untuk persoalan industri tekstil dan produk tekstil, salah satunya tentu adalah harmonisasi tarif dari hulu sampai hilir,” jelas Airlangga.

Di sisi lain, utilisasi pabrik tekstil masih berada di kisaran 75 persen sehingga masih terdapat peluang untuk memperluas kapasitas produksi. Indonesia tercatat masih mengimpor bahan baku tekstil senilai US$8,4 miliar, sementara ekspornya sekitar US$3,1 miliar.

Berbeda dengan bahan baku, produk pakaian jadi Indonesia mencatat surplus perdagangan. Nilai ekspornya mencapai US$8,7 miliar, sedangkan impor sekitar US$690 juta.

“Artinya, untuk industri dari hulu sampai tengah kita masih menjadi net importir, sedangkan untuk produk garmen kita merupakan net eksportir,” tutur Airlangga. (*)