Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*

Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalam menghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankan pemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagai instrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutan sektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.

Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasi lintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapat menghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.

Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telah disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksi tersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuat oleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.

Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomena yang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujan di berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikan kondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.

Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satu kekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkan pemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusan berdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektif dibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulai dirasakan masyarakat.

Di Jawa Barat, misalnya, BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah telah memasuki musim kemarau sejak Mei hingga Juni dengan puncak musim kering diprediksi terjadi pada Agustus dan sebagian wilayah berlanjut hingga September. Curah hujan diperkirakan berada pada kategori rendah hingga menengah sehingga memerlukan perhatian khusus dari seluruh pemangku kepentingan.

Faisal juga menjelaskan bahwa karakteristik musim kemarau di setiap daerah tidak selalu sama. Perbedaan zona musim menyebabkan sejumlah wilayah mengalami kondisi yang berbeda meskipun berada dalam provinsi yang sama. Oleh karena itu, pemantauan berbasis wilayah menjadi sangat penting agar kebijakan yang diterapkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan daerah masing-masing.

Selain teknologi informasi iklim, pembangunan infrastruktur air menjadi faktor penentu keberhasilan mitigasi kemarau. Ketersediaan sumber air yang memadai akan membantu masyarakat menghadapi penurunan curah hujan sekaligus menjaga aktivitas ekonomi tetap berjalan normal.

Kesadaran mengenai pentingnya infrastruktur air terlihat dari langkah yang diambil berbagai pihak. Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mendorong seluruh jajaran TNI AD untuk melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan dan menyiapkan langkah antisipasi sejak dini. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa penanganan kemarau kini dilakukan secara lebih sistematis dan berbasis data.

Maruli juga menegaskan pentingnya memiliki data antisipasi kemarau agar pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dapat mengetahui wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan serta menentukan langkah penanganan yang paling efektif. Dengan pemetaan yang baik, sumber daya dapat diarahkan ke daerah yang benar-benar membutuhkan perhatian.

Salah satu bentuk nyata dukungan terhadap masyarakat adalah program penyediaan air bersih melalui pengeboran sumur yang terus dilanjutkan. Program tersebut menjadi solusi praktis bagi wilayah yang mengalami keterbatasan akses air selama musim kemarau. Keberadaan sumur air bersih membantu menjaga kebutuhan dasar masyarakat sekaligus mengurangi risiko krisis air.

Di tingkat daerah, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga menunjukkan komitmen kuat dalam menghadapi tantangan kemarau. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengingatkan bahwa sejumlah wilayah di provinsinya secara rutin menghadapi persoalan kekurangan air bersih saat musim kemarau berlangsung. Karena itu, percepatan pembangunan jaringan air bersih menjadi salah satu prioritas yang terus didorong pemerintah daerah.

Penguatan teknologi juga terlihat melalui pengembangan sistem peringatan dini cuaca yang semakin modern. BMKG memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat atas dukungan dalam pengadaan radar cuaca yang terintegrasi dengan sistem pemantauan nasional. Kehadiran radar tersebut memperkuat kemampuan pemerintah dalam memantau dinamika cuaca secara lebih akurat dan real time.

Investasi pada teknologi semacam ini merupakan langkah strategis karena informasi cuaca yang akurat dapat membantu berbagai sektor, mulai dari pertanian, pengelolaan sumber daya air, hingga penanggulangan bencana. Dengan informasi yang lebih cepat dan presisi, risiko kerugian akibat kondisi cuaca ekstrem dapat ditekan secara signifikan.

Kombinasi antara teknologi dan infrastruktur air menunjukkan bahwa pemerintah mengedepankan pendekatan yang komprehensif dalam menghadapi tantangan kemarau. Tidak hanya berfokus pada penyediaan sarana fisik, pemerintah juga memastikan tersedianya data dan informasi yang mendukung pengambilan keputusan secara tepat.

Pada akhirnya, keberhasilan mitigasi kemarau tidak hanya diukur dari kemampuan mengurangi dampak kekeringan, tetapi juga dari keberhasilan menjaga ketersediaan air, mendukung ketahanan pangan, dan memastikan aktivitas masyarakat tetap berjalan produktif.

Dengan arah kebijakan yang terencana dan dukungan teknologi yang semakin maju, pemerintah menunjukkan keseriusan dalam melindungi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan pembangunan nasional di tengah tantangan iklim yang terus berkembang.

*) Pengamat Sumber Daya Air

Utang Indonesia Dinilai Tetap Terkendali di Tengah Tantangan Global

Oleh: Dimas Mahardika

Di tengah berbagai tantangan ekonomi global, masyarakat perlu melihat kondisi utang luar negeri Indonesia secara lebih menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada besarnya angka nominal. Sejumlah indikator menunjukkan bahwa posisi utang Indonesia masih berada dalam batas yang terkendali dan tetap mampu mendukung pembangunan nasional secara berkelanjutan.

Bank Indonesia mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada April 2026 mencapai US$439,8 miliar atau tumbuh 1,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan kenaikan sebesar 1 persen yang tercatat pada Maret 2026. Peningkatan tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan utang sektor publik di tengah masih berlanjutnya kontraksi pada utang sektor swasta.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa posisi utang luar negeri pemerintah mencapai US$216,4 miliar pada April 2026 atau tumbuh 3,7 persen secara tahunan. Meskipun demikian, laju pertumbuhan tersebut sedikit melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 3,8 persen. Perlambatan itu terutama dipengaruhi oleh menurunnya pertumbuhan pinjaman luar negeri pemerintah.

Sebagian besar utang pemerintah digunakan untuk mendukung sektor-sektor strategis yang berkaitan langsung dengan pelayanan publik. Sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial menjadi penerima terbesar dengan porsi 22 persen, disusul administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,5 persen. Selain itu, sektor pendidikan memperoleh porsi 16,2 persen, konstruksi 11,5 persen, serta transportasi dan pergudangan sebesar 8,5 persen.

Struktur utang pemerintah juga dinilai cukup aman karena hampir seluruhnya merupakan utang jangka panjang. Porsi utang jangka panjang mencapai 99,99 persen dari total utang luar negeri pemerintah, sehingga memberikan ruang yang lebih luas bagi pemerintah dalam mengelola kewajiban pembayaran dan menjaga stabilitas fiskal.

Sementara itu, utang luar negeri swasta tercatat sebesar US$193,2 miliar pada April 2026. Nilai tersebut masih mengalami kontraksi sebesar 0,7 persen, namun lebih baik dibandingkan penurunan sebesar 1,4 persen pada Maret 2026. Penurunan tersebut terutama berasal dari kelompok lembaga keuangan yang mengalami kontraksi sebesar 5 persen, lebih baik dibandingkan penurunan 6,3 persen pada bulan sebelumnya.

Empat sektor utama yang memberikan kontribusi terbesar terhadap utang luar negeri swasta meliputi industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta sektor pertambangan dan penggalian. Keempat sektor tersebut menyumbang sekitar 79,6 persen dari total utang luar negeri swasta. Sama seperti pemerintah, utang swasta juga didominasi oleh tenor jangka panjang dengan porsi mencapai 75,8 persen.

Bank Indonesia menilai struktur utang luar negeri Indonesia secara keseluruhan masih sehat. Hal itu tercermin dari rasio utang luar negeri terhadap produk domestik bruto yang tetap berada pada level 29,6 persen pada April 2026. Selain itu, sekitar 84,5 persen dari total utang luar negeri Indonesia merupakan utang jangka panjang.

Ramdan Denny Prakoso menegaskan bahwa Indonesia akan terus mengoptimalkan peran utang luar negeri untuk mendukung pembiayaan pembangunan serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan. Berbagai langkah juga akan dilakukan untuk meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian nasional.

Pandangan serupa disampaikan Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman. Menurutnya, posisi utang luar negeri Indonesia yang setara sekitar Rp7.784 triliun masih berada dalam kategori aman dan belum dapat dinilai mengkhawatirkan hanya berdasarkan nominalnya.

M Rizal Taufikurahman menilai indikator yang lebih penting adalah keberlanjutan utang. Rasio utang terhadap PDB yang masih berada di sekitar 30 persen, dominasi utang jangka panjang, serta kemampuan pemerintah memenuhi kewajiban pembayaran menjadi faktor yang menunjukkan bahwa kondisi utang Indonesia masih relatif terkendali.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tren kenaikan utang tetap harus diwaspadai karena berpotensi meningkatkan beban bunga dan mempersempit ruang fiskal di masa mendatang. Ia juga menjelaskan bahwa besarnya utang luar negeri tidak otomatis menyebabkan pelemahan rupiah. Pergerakan nilai tukar lebih dipengaruhi oleh fundamental ekonomi, arus modal asing, serta ketersediaan cadangan devisa. Namun, apabila kebutuhan pembayaran utang dalam valuta asing terus meningkat tanpa diimbangi pertumbuhan ekspor dan investasi, tekanan terhadap rupiah dapat semakin besar.

Menurutnya, pemerintah perlu terus memperkuat penerimaan pajak, meningkatkan efisiensi belanja negara, serta mendorong investasi dan ekspor bernilai tambah. Pendalaman pasar keuangan domestik juga diperlukan agar pembiayaan pembangunan lebih banyak berasal dari sumber dalam negeri.

Sepanjang setahun terakhir, pemerintah juga mencatat sejumlah keberhasilan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Inflasi yang terkendali, peningkatan investasi, pembangunan infrastruktur yang berlanjut, serta penguatan sektor kesehatan dan pendidikan menjadi modal penting dalam menjaga kepercayaan pasar di tengah ketidakpastian global.

Pada akhirnya, persoalan utama bukan terletak pada besarnya jumlah utang, melainkan pada kualitas pemanfaatannya. Selama pembiayaan tersebut digunakan untuk kegiatan produktif yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkuat kapasitas fiskal negara, risiko yang muncul masih dapat dikelola. Karena itu, pengelolaan utang yang prudent dan berorientasi pada pembangunan menjadi kunci agar perekonomian Indonesia tetap tumbuh secara sehat di tengah dinamika ekonomi dunia.

*) Pengamat Fiskal dan Keuangan Negara

Utang Luar Negeri Indonesia Tetap Aman, Rasio terhadap PDB Stabil dan Terkendali

Jakarta – Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada April 2026 tetap menunjukkan kondisi yang sehat dan terkendali. Di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tetap stabil sehingga mencerminkan kemampuan Indonesia dalam menjaga keberlanjutan pembiayaan pembangunan nasional.

Bank Indonesia (BI) mencatat posisi ULN Indonesia pada April 2026 mencapai US$ 439,8 miliar atau tumbuh 1,9 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan Maret 2026 yang sebesar 1,0 persen (yoy), terutama didorong oleh peningkatan utang sektor publik di tengah masih berlanjutnya kontraksi utang luar negeri swasta.

Direktur Eksekutif Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menegaskan bahwa kondisi utang luar negeri Indonesia masih berada pada level yang aman.

“Posisi utang luar negeri Indonesia pada April 2026 tetap terjaga. Posisi utang luar negeri Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar US$ 439,8 miliar, atau secara tahunan tumbuh sebesar 1,9% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret 2026 sebesar 1,0% (yoy),” ujar Ramdan dalam keterangan resminya.

BI menjelaskan, utang luar negeri pemerintah tercatat sebesar US$ 216,4 miliar atau tumbuh 3,7 persen (yoy). Pembiayaan tersebut mayoritas digunakan untuk mendukung sektor-sektor produktif seperti kesehatan, pendidikan, administrasi pemerintahan, konstruksi, serta transportasi dan pergudangan. Selain itu, hampir seluruh utang pemerintah merupakan utang jangka panjang dengan porsi mencapai 99,99 persen dari total utang pemerintah.

Sementara itu, utang luar negeri swasta tercatat sebesar US$ 193,2 miliar dan masih mengalami kontraksi 0,7 persen (yoy). Kondisi ini menunjukkan sektor swasta tetap berhati-hati dalam melakukan ekspansi pembiayaan dari luar negeri.

Ramdan menegaskan, kesehatan struktur utang Indonesia tercermin dari rasio ULN terhadap PDB yang tetap stabil di level 29,6 persen pada April 2026. Selain itu, sebanyak 84,5 persen dari total utang luar negeri Indonesia merupakan utang jangka panjang sehingga risiko pembiayaan jangka pendek dapat diminimalkan.

“Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan utang luar negeri. Indonesia akan terus mengoptimalkan peran utang luar negeri untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” kata Ramdan.

Pemerintah Pastikan Utang Indonesia Masih Aman

Jakarta – Pemerintah menegaskan bahwa kondisi utang luar negeri (ULN) Indonesia masih dalam kategori aman dan terkendali meskipun mengalami peningkatan pada April 2026. Bank Indonesia (BI) menyatakan struktur utang nasional tetap sehat karena didominasi oleh utang berjangka panjang serta rasio terhadap produk domestik bruto (PDB) yang masih terjaga.

Berdasarkan data BI, posisi utang luar negeri Indonesia mencapai US$439,8 miliar pada April 2026 atau tumbuh 1,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan tersebut terutama berasal dari kenaikan utang sektor publik, sementara utang sektor swasta masih mencatatkan kontraksi.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengungkapkan bahwa utang luar negeri pemerintah mencapai US$216,4 miliar atau meningkat 3,7 persen secara tahunan. Kenaikan tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya.

“Posisi ULN pemerintah mencapai US$216,4 miliar pada April 2026 atau tumbuh 3,7 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 3,8 persen pada bulan sebelumnya. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan pinjaman luar negeri pemerintah,” ujar Denny.

Bank Indonesia mencatat bahwa sebagian besar utang pemerintah dialokasikan untuk sektor kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22 persen, administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib sebesar 20,5 persen, serta sektor pendidikan sebesar 16,2 persen. Selain itu, hampir seluruh utang pemerintah merupakan utang jangka panjang dengan porsi mencapai 99,99 persen dari total ULN pemerintah.

Di sisi lain, utang luar negeri swasta tercatat sebesar US$193,2 miliar atau masih mengalami penurunan sebesar 0,7 persen. Kontribusi terbesar utang swasta berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian.

“Indonesia akan terus mengoptimalkan pemanfaatan utang luar negeri guna mendukung pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” kata Denny.

Sementara itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menilai utang luar negeri Indonesia yang setara sekitar Rp7.784 triliun masih berada pada tingkat yang aman. Namun, ia mengingatkan agar tren peningkatan utang tetap menjadi perhatian.

“Meskipun masih dalam batas yang aman, tren kenaikan utang perlu diwaspadai karena berpotensi menambah beban bunga dan mempersempit ruang fiskal pada masa mendatang,” ujarnya.

Rizal menambahkan bahwa risiko utang masih dapat dikendalikan selama dana yang diperoleh digunakan untuk kegiatan yang produktif dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Selama utang dimanfaatkan untuk kegiatan produktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan memperkuat kapasitas fiskal, maka risiko yang muncul masih dapat dikelola dengan baik,” pungkasnya.

Pemerintah Jamin Keberlanjutan Fiskal dengan Pengelolaan Utang yang Aman

Oleh: Andika Saputra
Pemerintah dinilai berhasil menjaga keberlanjutan fiskal nasional melalui pengelolaan utang yang aman, terukur, dan berlandaskan prinsip kehati-hatian di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh tantangan. Berbagai indikator makroekonomi menunjukkan kondisi fiskal Indonesia tetap berada dalam batas yang sehat, dengan rasio utang dan defisit anggaran yang masih terkendali serta fundamental ekonomi yang tetap kuat.

Kondisi tersebut turut didukung oleh pertumbuhan pendapatan negara yang positif, stabilitas sektor keuangan yang terjaga, serta kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia yang masih kuat. Sejumlah capaian tersebut menjadi modal penting bagi pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus mendukung pembangunan yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Penilaian tersebut disampaikan Sekretaris Bidang Kebijakan Ekonomi DPP Partai Golkar, Abdul Rahman Farisi. Menurutnya, kondisi fiskal Indonesia saat ini masih berada dalam batas aman berdasarkan indikator makro fiskal yang diakui secara internasional. Ia menilai ukuran kerentanan fiskal tidak dapat disederhanakan hanya dengan narasi bahwa utang lama dibayar dengan utang baru.

Abdul Rahman Farisi menjelaskan bahwa dalam praktik pengelolaan fiskal modern, pembiayaan ulang utang atau refinancing merupakan mekanisme yang lazim dilakukan berbagai negara. Selama rasio fiskal tetap terjaga dan kemampuan pembayaran negara masih kuat, langkah tersebut dianggap sebagai bagian normal dari pengelolaan keuangan negara.

Menurut Abdul Rahman Farisi, posisi Indonesia masih relatif lebih sehat dibandingkan sejumlah negara anggota G20. Rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto masih berada di bawah 40 persen, jauh di bawah batas maksimal 60 persen sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Keuangan Negara. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ruang fiskal Indonesia masih cukup memadai untuk menopang pembangunan nasional.

Selain itu, defisit APBN terhadap PDB juga masih dijaga di bawah batas tiga persen. Hal tersebut dinilai mencerminkan disiplin fiskal pemerintah yang tetap terpelihara di tengah tekanan ekonomi global. Ia menjelaskan bahwa defisit keseimbangan primer pada awal 2026 dipengaruhi oleh strategi percepatan belanja pemerintah pada triwulan pertama untuk menjaga daya beli masyarakat, mempercepat proyek prioritas, dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Target defisit keseimbangan primer tahun 2026 sebesar Rp89,7 triliun, sedangkan hingga Maret telah mencapai Rp95,8 triliun. Meski demikian, Abdul Rahman Farisi menilai kondisi tersebut masih dapat dikelola karena penerimaan negara secara historis cenderung meningkat pada triwulan kedua dan ketiga, terutama dari sektor perpajakan dan aktivitas ekonomi domestik.

Kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia juga dinilai masih kuat. Hal tersebut tercermin dari stabilitas permintaan terhadap Surat Berharga Negara, tingginya cadangan devisa, serta pertumbuhan ekonomi yang tetap positif di tengah perlambatan ekonomi global. Menurut Abdul Rahman Farisi, fundamental ekonomi Indonesia masih kokoh dengan inflasi yang terkendali, sektor perbankan yang stabil, dan konsumsi domestik yang tetap menjadi penopang utama pertumbuhan nasional.

Karena itu, Abdul Rahman Farisi mengajak seluruh pihak untuk menjaga optimisme publik dan menyampaikan kritik yang konstruktif serta berbasis data. Ia menilai narasi yang tidak proporsional berpotensi memunculkan ketidakpercayaan terhadap kondisi ekonomi nasional. Mantan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin tersebut juga mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan memberikan kesempatan kepada pemerintah sebagai otoritas fiskal serta Bank Indonesia sebagai otoritas moneter untuk menjalankan kebijakan secara tepat dan terukur demi menjaga stabilitas ekonomi.

Di sisi lain, Purbaya menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih aman. Posisi APBN tetap terjaga dengan defisit sebesar 0,70 persen terhadap PDB dan keseimbangan primer yang masih mencatatkan surplus sebesar Rp58,6 triliun. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator positif bagi keberlanjutan fiskal nasional.

Kinerja APBN hingga akhir Mei 2026 juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Pendapatan negara mencapai Rp1.185 triliun atau tumbuh 19,1 persen secara tahunan. Sementara itu, belanja negara telah terealisasi sebesar Rp1.365,4 triliun atau meningkat 34,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan pendapatan negara yang kuat serta kebijakan belanja yang ekspansif memungkinkan pemerintah menjaga perlindungan sosial, mempertahankan daya beli masyarakat, dan memperkuat aktivitas ekonomi nasional.

Selama setahun terakhir, pemerintah juga mencatat sejumlah keberhasilan dalam menjaga stabilitas ekonomi. Inflasi tetap terkendali, pertumbuhan ekonomi mampu dipertahankan pada jalur positif, investasi terus meningkat, serta berbagai program pembangunan dan perlindungan sosial tetap berjalan. Kepercayaan investor juga masih terjaga yang terlihat dari masuknya kembali arus modal asing serta stabilitas pasar surat berharga negara.

Pemerintah berkomitmen menjaga APBN tetap sehat, adaptif, dan kredibel guna memperkuat stabilitas ekonomi, mempertahankan momentum pertumbuhan, serta mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Pengelolaan utang yang hati-hati dan disiplin fiskal menjadi bukti bahwa keberlanjutan ekonomi Indonesia masih berada pada jalur yang positif. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan terus menjaga optimisme dan mendukung berbagai upaya pemerintah dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

*) Akademisi Ekonomi dan Pembangunan

Penguatan Infrastruktur Air Menjadi Kunci Keberhasilan Menghadapi Kemarau 2026

Jakarta – Penguatan infrastruktur air dan peningkatan kesiapsiagaan lintas sektor menjadi langkah penting dalam menghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan lebih kering dibandingkan kondisi normal.

Pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, dan BMKG terus memperkuat koordinasi untuk meminimalkan risiko kekeringan serta menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengingatkan seluruh pemangku kepentingan agar meningkatkan kesiapan menghadapi potensi dampak kemarau panjang.

“Kami telah menyampaikan sejak bulan Maret bahwa tahun ini akan terjadi fenomena El Nino. Kemudian pada tanggal 2 Juni kemarin, WMO juga telah merilis bahwa El Nino akan terjadi pada tahun 2026,” ujarnya.

Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomena yang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi curah hujan di Indonesia. Berdasarkan pemantauan BMKG hingga akhir Mei 2026, indeks ENSO telah mencapai +1,0 yang menunjukkan kondisi El Nino, sementara sekitar 28 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.

Khusus di Jawa Barat, sebagian besar wilayah diperkirakan memasuki musim kemarau pada Mei hingga Juni dengan puncaknya terjadi pada Agustus dan berlanjut hingga September di beberapa daerah.

Curah hujan diprediksi berada pada kategori rendah hingga menengah dan cenderung lebih kering dari kondisi normal.

“Sebagian wilayah seperti pesisir utara Jawa Barat sudah memasuki musim kemarau, sementara wilayah lain seperti Bogor memiliki karakteristik yang berbeda sehingga masih berpotensi mengalami hujan. Karena itu pemantauan perlu dilakukan secara spesifik berdasarkan zona musim,” jelasnya.

Menghadapi kondisi tersebut, Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, meminta seluruh jajaran TNI AD melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan dan menyiapkan langkah antisipasi sejak dini.

“Kalau dulu kita punya data bencana, sekarang kita harus punya data antisipasi kemarau. Daerah mana saja yang selama ini terjadi kekeringan dan juga berdasarkan hasil penjelasan BMKG, daerah mana yang terancam kekeringan. Kira-kira apa yang harus kita lakukan,” kata Maruli.

Ia menegaskan program penyediaan air bersih melalui pengeboran sumur akan terus dilanjutkan.

Sejalan dengan itu, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mendorong percepatan pembangunan jaringan air bersih untuk mengantisipasi wilayah yang rutin mengalami kekurangan air saat kemarau.

Melalui penguatan infrastruktur air, sistem peringatan dini, dan koordinasi antarlembaga, pemerintah optimistis dampak kemarau 2026 dapat ditekan sehingga kebutuhan air masyarakat, ketahanan pangan, dan keberlanjutan lingkungan tetap terjaga.

Program Magang Nasional 2026 Didorong Lebih Merata ke Seluruh Provinsi

Jakarta – Pemerintah terus memperluas jangkauan Program Magang Nasional 2026 agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata oleh generasi muda di seluruh Indonesia. Program ini dirancang untuk menjangkau seluruh wilayah, dari Aceh hingga Papua, dengan melibatkan berbagai instansi pemerintah, BUMN, dan dunia usaha guna meningkatkan kesiapan kerja lulusan muda serta memperkuat daya saing tenaga kerja nasional.

Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, mengatakan bahwa pemerataan menjadi prinsip utama dalam pelaksanaan Program Magang Nasional 2026. Menurutnya, kesempatan memperoleh pengalaman kerja tidak boleh hanya terpusat di kota-kota besar atau Pulau Jawa.

“Dalam pelaksanaannya nanti, Kemnaker berkomitmen menjunjung prinsip pemerataan. Daerah dengan tingkat pengangguran yang tinggi diharapkan dapat memperoleh proporsi kuota magang yang lebih besar,” ujarnya.

Yassierli menjelaskan bahwa tingginya antusiasme masyarakat terhadap program tersebut mendorong pemerintah mengusulkan penambahan kuota peserta hingga 150 ribu orang pada 2026. Langkah ini diharapkan mampu membuka lebih banyak kesempatan bagi lulusan baru yang membutuhkan pengalaman kerja sebelum memasuki pasar tenaga kerja secara penuh.

Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Kementerian Ketenagakerjaan, Darmawansyah, menyampaikan bahwa penguatan kualitas program juga dilakukan melalui sertifikasi kompetensi yang terintegrasi dengan pelaksanaan magang. Menurutnya, sertifikasi menjadi instrumen penting untuk memastikan keterampilan peserta sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

“Sertifikat kompetensi menjadi bukti bahwa kompetensi yang dimiliki telah memenuhi standar yang dibutuhkan dunia kerja,” jelasnya.

Darmawansyah menambahkan bahwa pemerintah terus memperluas kolaborasi dengan dunia industri agar peserta memperoleh pengalaman kerja yang relevan dan memiliki peluang lebih besar untuk terserap ke pasar kerja setelah menyelesaikan program. Pendekatan tersebut diharapkan mampu memperkuat hubungan antara pendidikan, pelatihan vokasi, dan kebutuhan industri.

Selain memperluas kuota, pemerintah juga mendorong pemanfaatan platform digital MagangHub untuk mempermudah proses pendaftaran, seleksi, dan pemantauan peserta dari berbagai daerah. Sistem tersebut diharapkan mampu meningkatkan transparansi sekaligus memperluas akses bagi peserta di wilayah yang selama ini belum terjangkau secara optimal.

Melalui pemerataan Program Magang Nasional 2026, pemerintah optimistis kualitas sumber daya manusia Indonesia akan semakin meningkat. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam menciptakan tenaga kerja yang kompeten, adaptif, dan siap menghadapi kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.

Pemerintah Siapkan 150 Ribu Kuota Magang Nasional untuk Fresh Graduate pada Juli 2026

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperluas akses kesempatan kerja bagi lulusan baru perguruan tinggi. Melalui Program Magang Nasional atau MagangHub, pemerintah menyiapkan sebanyak 150 ribu kuota peserta yang akan dibuka mulai awal Juli 2026. Program ini ditujukan bagi lulusan sarjana dan diploma agar memperoleh pengalaman kerja, peningkatan kompetensi, serta peluang lebih besar untuk memasuki dunia industri.

Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, mengatakan pemerintah telah memutuskan untuk tetap menanggung seluruh biaya uang saku peserta magang melalui anggaran negara. Menurutnya, keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan berbagai alternatif skema pembiayaan yang sebelumnya sempat dibahas.

“Uang saku peserta tetap ditanggung 100 persen oleh pemerintah, sama seperti pelaksanaan pada angkatan sebelumnya,” ujar Yassierli. Ia menjelaskan bahwa para peserta nantinya akan memperoleh kompensasi bulanan yang besarannya disesuaikan dengan Upah Minimum Provinsi (UMP) maupun Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di lokasi penempatan masing-masing. Saat ini, pemerintah tengah menyelesaikan proses finalisasi dukungan anggaran bersama Kementerian Keuangan dan Kementerian Sekretariat Negara.

“Kami saat ini berada pada tahap akhir terkait finalisasi anggaran dan masih menunggu penyelesaian proses bersama kementerian terkait,” kata Yassierli.

Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menegaskan bahwa program MagangHub 2026 akan dibuka dalam tiga batch dengan target total 150 ribu peserta. Program tersebut merupakan kelanjutan dari pelaksanaan Magang Nasional tahun 2025 yang dinilai memberikan hasil positif baik bagi peserta maupun perusahaan penyelenggara.

“Program magang nasional tahun 2026 akan dimulai pada awal Juli dan ditargetkan menjangkau 150.000 peserta yang dibuka dalam tiga batch,” ujar Haryo.

Berdasarkan hasil evaluasi pemerintah, program magang sebelumnya berhasil meningkatkan kompetensi peserta, terutama dalam aspek komunikasi, kerja sama tim, dan keterampilan teknis. Selain itu, tingkat kepuasan peserta maupun perusahaan penyelenggara juga berada pada level yang tinggi. Bahkan sekitar 35 persen peserta memperoleh tawaran pekerjaan setelah menyelesaikan masa magang.

Pemerintah optimistis perluasan kuota MagangHub 2026 dapat menjadi instrumen efektif dalam mempercepat penyerapan tenaga kerja muda sekaligus meningkatkan daya saing lulusan perguruan tinggi. Dengan dukungan pelatihan, pengalaman kerja nyata, serta kesempatan memperoleh sertifikasi kompetensi setelah program berakhir, Magang Nasional diharapkan menjadi jembatan penting antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri yang terus berkembang.

Pemerataan Magang Nasional dan Jalan Baru Kesempatan Kerja Anak Muda

Oleh: Nur Utunissa

Perkembangan dunia kerja yang semakin cepat menuntut tenaga kerja muda tidak hanya memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga pengalaman praktis. Dalam konteks tersebut, program magang menjadi jembatan penting antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Melalui magang, generasi muda dapat mengenal budaya kerja, meningkatkan keterampilan, serta memahami kebutuhan industri secara langsung. Karena itu, pemerataan akses magang menjadi langkah strategis untuk membuka kesempatan kerja yang lebih luas bagi anak muda di seluruh Indonesia.

Magang kini bukan lagi sekadar pelengkap pendidikan. Banyak perusahaan menjadikan pengalaman magang sebagai salah satu indikator kesiapan kerja calon karyawan. Pengalaman tersebut membantu peserta mengembangkan kemampuan teknis maupun keterampilan nonteknis seperti komunikasi, kerja sama tim, disiplin, dan kemampuan beradaptasi. Namun, akses terhadap program magang masih belum merata karena sebagian besar kesempatan terkonsentrasi di kota-kota besar.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menyebut, sebaran peserta magang nasional masih terpusat di Pulau Jawa, terutama Jakarta. Yassierli mengatakan, kesimpulan tersebut merupakan hasil evaluasi dari pelaksanaan Program Magang Nasional Batch III yang secara resmi telah ditutup.

Menurut Yassierli, lulusan perguruan tinggi cenderung memilih lokasi magang di Jakarta karena mempertimbangkan upah minimum provinsi (UMP) atau pengalaman di Ibu Kota. Fenomena ini menunjukkan bahwa pusat-pusat ekonomi nasional masih menjadi tujuan utama para peserta magang. Di satu sisi, Jakarta memang menawarkan lebih banyak pilihan industri dan peluang pengembangan diri. Namun di sisi lain, konsentrasi peserta di wilayah tertentu berpotensi memperlebar kesenjangan kesempatan bagi anak muda di daerah.

Karena itu, pemerataan magang nasional menjadi penting agar seluruh generasi muda memiliki peluang yang sama untuk mengembangkan kompetensi dan memperoleh pengalaman kerja. Program ini tidak hanya ditujukan bagi mahasiswa di kota besar, tetapi juga bagi lulusan dan mahasiswa dari berbagai daerah yang selama ini memiliki akses terbatas terhadap industri.

Magang juga berperan dalam mengurangi kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar kerja. Banyak lulusan memiliki pemahaman teori yang baik, tetapi belum memiliki pengalaman menghadapi tantangan pekerjaan secara langsung. Melalui magang, peserta dapat memahami proses kerja nyata, mengenal standar profesional, dan meningkatkan kesiapan mereka sebelum memasuki dunia kerja.

Sebagai bentuk komitmen memperluas kesempatan tersebut, pemerintah menyatakan akan membuka 150.000 lowongan Magang Nasional. Jumlah ini menjadi langkah besar dalam memberikan ruang belajar dan pengalaman kerja bagi generasi muda Indonesia. Selain itu, peserta juga akan mendapatkan uang saku sesuai UMP yang ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah.

Kebijakan ini diharapkan mampu mengurangi hambatan ekonomi yang selama ini membuat sebagian anak muda sulit mengikuti program magang. Dengan dukungan pembiayaan tersebut, kesempatan memperoleh pengalaman kerja menjadi lebih terbuka bagi semua kalangan, termasuk mereka yang berasal dari daerah dan keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Perluasan program magang juga memberikan manfaat bagi dunia usaha. Perusahaan dapat menjangkau lebih banyak talenta dari berbagai wilayah yang selama ini mungkin belum memiliki akses ke kesempatan pengembangan diri. Indonesia memiliki potensi sumber daya manusia muda yang besar dan tersebar di seluruh daerah. Melalui pemerataan magang, potensi tersebut dapat dioptimalkan untuk mendukung kebutuhan industri sekaligus meningkatkan kualitas tenaga kerja nasional.

Di era digital, peluang pemerataan magang semakin terbuka. Banyak perusahaan kini menerapkan sistem kerja jarak jauh atau hibrida yang memungkinkan peserta mengikuti program tanpa harus berpindah ke kota besar. Teknologi komunikasi dan platform kolaborasi digital membantu proses pembelajaran tetap berjalan efektif meskipun dilakukan dari lokasi yang berbeda. Model ini dapat menjadi solusi untuk mengatasi hambatan geografis sekaligus memperluas jangkauan program magang.

Komitmen pemerintah terhadap keberlanjutan program ini juga terus diperkuat. Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menegaskan, pemerintah akan membuka Program Magang Nasional Batch IV atau angkatan kedua pada awal Juli 2026. Langkah tersebut menunjukkan bahwa program magang tidak hanya bersifat sementara, tetapi menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam pengembangan sumber daya manusia.

Haryo juga memastikan bahwa Kemenko Perekonomian dan Kemnaker menjalankan monitoring secara berkala terhadap implementasi pelaksanaan program magang nasional. Evaluasi dan pengawasan menjadi penting untuk memastikan kualitas program tetap terjaga serta memberikan manfaat nyata bagi peserta maupun industri.

Pemerataan magang nasional pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan penyediaan tempat belajar, tetapi juga menjadi instrumen untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia. Pengalaman kerja yang diperoleh selama magang dapat membantu lulusan lebih siap menghadapi proses rekrutmen dan kebutuhan industri yang terus berkembang.

Kebijakan yang merupakan program prioritas nasional ini mencerminkan kepedulian Presiden Prabowo terhadap generasi muda, khususnya para lulusan baru, agar mereka memiliki kesempatan nyata untuk memperoleh pengalaman kerja dan meningkatkan daya saing di pasar tenaga kerja. Melalui perluasan akses magang, pemerintah berupaya menciptakan peluang yang lebih adil bagi seluruh anak muda Indonesia.

*) Penulis adalah Penulis adalah Pegiat Literasi pada Narasi Nusa Institute

Magang Nasional: Jembatan Fresh Graduate Masuk Pasar Kerja Formal

Oleh: Dhita Karuniawati )*

Persoalan transisi dari dunia pendidikan menuju dunia kerja masih menjadi tantangan besar bagi banyak lulusan baru di Indonesia. Di satu sisi, perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang memiliki pengalaman dan kompetensi yang siap pakai. Di sisi lain, sebagian besar fresh graduate justru kesulitan memperoleh pengalaman kerja pertama karena terbatasnya kesempatan memasuki industri formal. Kondisi tersebut menciptakan paradoks yang berpotensi meningkatkan angka pengangguran terdidik.

Dalam konteks tersebut, Program Magang Nasional menjadi salah satu strategi penting pemerintah untuk menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar kerja. Program ini tidak hanya memberikan pengalaman kerja nyata kepada lulusan baru, tetapi juga membuka akses yang lebih luas terhadap peluang kerja formal di berbagai sektor industri.

Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan terus memperkuat pelaksanaan Program Magang Nasional agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih merata di seluruh Indonesia. Salah satu perhatian utama adalah menghindari penumpukan peserta magang di wilayah tertentu, terutama Jakarta dan Pulau Jawa, sehingga kesempatan bagi lulusan di daerah lain juga semakin terbuka.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan bahwa pemerintah berupaya menerapkan distribusi peserta magang yang lebih proporsional berdasarkan sebaran lulusan perguruan tinggi di setiap provinsi. Kebijakan tersebut sekaligus mempertimbangkan jumlah perusahaan yang membuka kesempatan magang di masing-masing wilayah sehingga pemerataan dapat berjalan lebih efektif.

Langkah ini memiliki makna strategis bagi pembangunan ketenagakerjaan nasional. Selama ini, banyak lulusan dari daerah memilih berpindah ke Jakarta karena menganggap peluang karier lebih besar. Akibatnya, terjadi konsentrasi pencari kerja di ibu kota yang memicu persaingan semakin ketat, sementara potensi industri di daerah belum dimanfaatkan secara optimal.

Dengan distribusi peserta magang yang lebih merata, lulusan perguruan tinggi memiliki kesempatan memperoleh pengalaman profesional tanpa harus meninggalkan daerah asalnya. Selain mengurangi urbanisasi tenaga kerja, kebijakan tersebut juga dapat memperkuat ekosistem industri lokal melalui penyediaan sumber daya manusia yang kompeten.

Program magang pada hakikatnya merupakan investasi pengembangan sumber daya manusia. Selama mengikuti magang, peserta tidak hanya mempelajari aspek teknis pekerjaan, tetapi juga memperoleh pengalaman mengenai budaya organisasi, komunikasi profesional, disiplin kerja, kolaborasi tim, hingga kemampuan menyelesaikan masalah. Kompetensi tersebut sering kali menjadi faktor pembeda ketika lulusan memasuki proses rekrutmen tenaga kerja formal.

Bagi perusahaan, program magang juga memberikan keuntungan karena menjadi sarana identifikasi talenta potensial sebelum proses perekrutan permanen dilakukan. Perusahaan dapat menilai kemampuan, adaptasi, dan etos kerja peserta secara langsung sehingga risiko kesalahan rekrutmen menjadi lebih kecil.

Pemerintah sendiri menargetkan pelaksanaan Magang Nasional secara bertahap hingga mencapai 150 ribu peserta. Tahap awal pelaksanaan tahun 2026 direncanakan dimulai dengan target sekitar 50 ribu peserta sebagai bagian dari upaya memperluas akses lulusan perguruan tinggi terhadap pengalaman kerja yang berkualitas.

Selain pemerataan wilayah, pemerintah juga menaruh perhatian terhadap prinsip inklusivitas dalam pelaksanaan program tersebut. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan bahwa kesempatan mengikuti Magang Nasional harus dapat diakses secara setara, termasuk bagi lulusan penyandang disabilitas maupun berbagai latar belakang program studi. Pendekatan afirmatif dilakukan agar seluruh kelompok masyarakat memiliki peluang yang sama untuk meningkatkan kompetensi dan daya saing di pasar kerja.

Pendekatan inklusif tersebut sejalan dengan kebutuhan dunia kerja modern yang semakin menghargai keberagaman talenta. Perusahaan kini tidak hanya mencari kemampuan akademik, tetapi juga adaptabilitas, kreativitas, kemampuan bekerja sama, dan perspektif yang beragam dalam menyelesaikan tantangan bisnis.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan program magang nasional batch 4 akan dilaksanakan pada Juli 2026 untuk 150 ribu peserta dengan anggaran sebesar Rp4,14 triliun.

Kepastian itu disepakati setelah Airlangga dan sejumlah menteri Kabinet Merah Putih, termasuk Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, menggelar rapat membahas sejumlah stimulus untuk masyarakat pada semester II 2026.

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan struktur ekonomi, pengalaman kerja menjadi modal yang semakin penting. Banyak perusahaan menetapkan pengalaman sebagai salah satu syarat utama dalam proses seleksi. Oleh karena itu, program magang menjadi alternatif efektif bagi lulusan baru untuk membangun portofolio profesional sekaligus memperluas jejaring di dunia industri.

Keberhasilan Program Magang Nasional juga memerlukan sinergi berbagai pihak. Perguruan tinggi perlu menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan industri agar lulusan memiliki kompetensi yang relevan. Dunia usaha perlu memperluas partisipasi sebagai mitra penyelenggara magang dengan menyediakan lingkungan belajar yang berkualitas. Sementara pemerintah berperan sebagai penghubung yang memastikan proses penempatan berjalan transparan, proporsional, dan berkeadilan.

Jika dikelola secara konsisten, Magang Nasional bukan sekadar program pelatihan jangka pendek, melainkan sebuah ekosistem transisi yang mempercepat lahirnya tenaga kerja profesional. Program ini dapat menjadi jembatan yang menghubungkan dunia pendidikan dengan pasar kerja formal, mengurangi kesenjangan keterampilan, sekaligus meningkatkan produktivitas nasional.

Dengan pemerataan kesempatan, perluasan kuota, serta komitmen terhadap inklusivitas, Program Magang Nasional berpotensi menjadi instrumen strategis dalam menyiapkan generasi muda Indonesia menghadapi persaingan kerja yang semakin kompetitif. Bagi para fresh graduate, magang bukan lagi sekadar pengalaman tambahan dalam curriculum vitae, melainkan pintu masuk menuju karier profesional dan masa depan yang lebih menjanjikan.

*) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia