MBG di Papua Perkuat Gizi dan Gerakkan Ekonomi Lokal

PAPUA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua terus menunjukkan dampak positif dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Program yang menyasar anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita tersebut kini semakin diperkuat melalui pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah Papua.

Pemerintah daerah bersama pemerintah pusat terus mempercepat pembangunan infrastruktur dapur MBG agar pelayanan gizi dapat menjangkau masyarakat hingga wilayah terpencil. Gubernur Papua, Matius D Fakhiri, menegaskan bahwa program MBG merupakan langkah penting dalam membangun kualitas generasi muda Papua.

“Program ini bukan hanya soal makanan bergizi, tetapi tentang masa depan anak-anak Papua agar tumbuh sehat, kuat, dan siap bersaing,” ujar Matius saat meninjau pembangunan SPPG di Kabupaten Supiori.

Kabupaten Supiori sendiri dipersiapkan menjadi salah satu daerah percontohan pengembangan dapur MBG di Papua. Pemerintah setempat membangun 12 titik SPPG, termasuk di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), sebagai bentuk komitmen pemerataan pelayanan gizi.

Selain meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, MBG juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga lokal. Pemerintah Provinsi Papua mendorong pemanfaatan hasil kebun, perikanan, dan produk pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG. Langkah tersebut membuat petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil memiliki kesempatan lebih besar untuk terlibat dalam rantai pasok program.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional, Gunalan, mengatakan Papua memiliki potensi besar dalam pengembangan menu berbasis pangan lokal.

“Papua memiliki sumber pangan yang kaya dan bernilai gizi tinggi. Potensi ini dapat menjadi kekuatan utama dalam mendukung keberhasilan MBG,” katanya.

Program MBG juga dinilai memberi dampak positif terhadap dunia pendidikan. Anak-anak sekolah yang memperoleh makanan bergizi dinilai lebih fokus dan bersemangat mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Sementara itu, Ketua Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Velix V Wanggai, menilai MBG menjadi bagian penting dari pembangunan ekonomi masyarakat Papua.

“MBG bukan sekadar program gizi, tetapi bagian dari pembangunan ekosistem ekonomi masyarakat yang melibatkan sektor pertanian, perikanan, pendidikan, dan kesehatan,” ujar Velix.

Melalui sinergi pemerintah pusat dan daerah, program MBG diharapkan mampu menjadi fondasi penting dalam menciptakan generasi Papua yang sehat, cerdas, dan sejahtera.

Pelayanan Haji 2026 Mendapat Banyak Apresiasi

*) Oleh : Deva Baruna

Pelaksanaan ibadah haji tahun 2026 mendapat banyak apresiasi dari para jemaah Indonesia maupun berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraannya. Berbagai pembenahan layanan yang dilakukan sejak awal keberangkatan hingga kepulangan dinilai memberikan kenyamanan yang lebih baik. Tidak sedikit jemaah yang mengaku merasa lebih tenang karena sistem pelayanan yang semakin tertata dan responsif. Mulai dari proses pemberangkatan di embarkasi, pendampingan selama di Tanah Suci, hingga layanan kesehatan dan konsumsi, semuanya berjalan dengan lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Situasi ini menjadi gambaran bahwa upaya peningkatan kualitas pelayanan haji terus menunjukkan hasil positif.

Salah satu aspek yang paling banyak mendapat perhatian adalah peningkatan pelayanan transportasi dan akomodasi. Jemaah merasakan kemudahan saat perpindahan dari satu lokasi ibadah ke lokasi lainnya karena koordinasi petugas dinilai lebih sigap dan terorganisasi. Bus antarjemput yang tersedia lebih teratur sehingga mampu mengurangi kepadatan dan antrean panjang, terutama saat puncak pelaksanaan ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Selain itu, fasilitas penginapan juga dianggap semakin nyaman dengan kebersihan yang lebih terjaga serta jarak hotel yang relatif dekat dengan pusat kegiatan ibadah. Kondisi ini membuat jemaah, khususnya lanjut usia, merasa lebih terbantu dalam menjalankan rangkaian ibadah haji yang cukup menguras tenaga.

Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI, Saan Mustopa, melakukan peninjauan dan memberikan pengarahan langsung kepada jemaah haji Indonesia di pemondokan Makkah menjelang fase puncak ibadah haji (Armuzna). Dalam kunjungannya, Saan menyoroti peningkatan kualitas pelayanan haji tahun ini, khususnya terkait sistem pendataan, serta mengimbau jemaah untuk menjaga kesehatan dan ketertiban. Banyak jemaah mengaku merasa terbantu karena petugas tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga memberikan perhatian secara emosional kepada para peserta haji. Dalam berbagai kondisi, petugas terlihat aktif membantu jemaah yang mengalami kesulitan, baik terkait kesehatan, bahasa, maupun arah perjalanan. Sikap ramah dan cepat tanggap dari para petugas menjadi salah satu faktor yang membuat jemaah merasa aman selama berada di Tanah Suci. Kehadiran petugas yang siaga selama 24 jam turut memberikan rasa nyaman, terutama bagi jemaah yang baru pertama kali menunaikan ibadah haji.

Kepala Perwakilan Ombudsman Sumatera Selatan, M. Adrian Agustiansyah juga mengapresiasi peningkatan tata kelola dan kualitas pelayanan ibadah haji tahun 2026, yang kini dikelola perdana oleh Kementerian Haji dan Umrah. Dari sisi pemeriksaan Kesehatan, dilakukan sejak sebelum keberangkatan dilakukan lebih ketat sehingga kondisi jemaah dapat dipantau dengan baik. Selama di Arab Saudi, layanan medis juga dinilai lebih cepat dan mudah diakses. Tim kesehatan yang tersebar di berbagai titik strategis mampu memberikan penanganan awal secara sigap bagi jemaah yang membutuhkan bantuan. Selain itu, edukasi mengenai pentingnya menjaga kondisi tubuh selama beribadah juga semakin masif dilakukan. Langkah ini dinilai efektif dalam mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat cuaca panas dan aktivitas fisik yang tinggi selama pelaksanaan ibadah haji.

Di sisi lain, pemanfaatan teknologi digital dalam pelayanan haji tahun ini turut mendapat respons positif dari masyarakat. Sistem informasi berbasis aplikasi membantu jemaah memperoleh berbagai informasi penting secara cepat, mulai dari jadwal kegiatan, lokasi hotel, data transportasi, hingga layanan pengaduan. Kehadiran teknologi tersebut dinilai mempermudah komunikasi antara petugas dan jemaah sehingga berbagai persoalan dapat segera ditangani. Bagi keluarga di Indonesia, kemudahan akses informasi juga memberikan ketenangan karena mereka dapat memantau perkembangan perjalanan anggota keluarganya dengan lebih mudah. Transformasi digital dalam pelayanan haji dianggap menjadi langkah maju yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.

Keberhasilan pelayanan haji 2026 juga tidak terlepas dari koordinasi yang semakin baik antara pemerintah, petugas lapangan, dan pihak terkait lainnya. Berbagai persiapan dilakukan jauh hari sebelum musim haji dimulai sehingga potensi kendala dapat diminimalkan. Evaluasi dari pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya dijadikan bahan pembelajaran untuk memperbaiki berbagai aspek pelayanan. Kerja sama lintas sektor yang berjalan solid mampu menciptakan sistem pelayanan yang lebih efektif dan efisien. Hal tersebut terlihat dari semakin minimnya keluhan jemaah dibandingkan periode sebelumnya.

Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal menjelaskan secara keseluruhan, peningkatan kualitas layanan penyelenggaraan ibadah haji patut diapresiasi. Pihaknya menilai agar kualitas pelayanan terus ditingkatkan menjadi perhatian penting agar penyelenggaraan ibadah haji Indonesia semakin baik setiap tahunnya. Evaluasi yang berkelanjutan dianggap menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas pelayanan sekaligus menjawab kebutuhan jemaah yang terus berkembang.

Apresiasi luas terhadap pelayanan haji 2026 menjadi momentum positif bagi upaya peningkatan kualitas penyelenggaraan ibadah haji Indonesia di masa depan. Pelayanan yang semakin baik tidak hanya memberikan kenyamanan bagi jemaah, tetapi juga menunjukkan keseriusan pemerintah dan seluruh pihak terkait dalam melayani umat. Keberhasilan tersebut diharapkan dapat dipertahankan sekaligus ditingkatkan agar jemaah Indonesia dapat menjalankan ibadah dengan aman, nyaman, dan khusyuk.

*)Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan.

Apresiasi Pelayanan Haji sebagai Buah Perbaikan Tata Kelola

Oleh : Ricky Rinaldi )*

Penyelenggaraan ibadah haji selalu menjadi perhatian besar masyarakat Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah jemaah haji terbesar di dunia, kualitas pelayanan haji tidak hanya berkaitan dengan aspek administratif, tetapi juga menyangkut kenyamanan, keamanan, dan kepercayaan publik terhadap negara. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai perbaikan tata kelola terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan bagi jemaah. Apresiasi masyarakat terhadap pelaksanaan haji menjadi cerminan bahwa pembenahan sistem dan penguatan koordinasi mulai memberikan hasil yang nyata.

Pelayanan haji merupakan proses yang kompleks karena melibatkan jutaan orang, koordinasi lintas negara, serta pengelolaan logistik dalam skala besar. Mulai dari proses keberangkatan, akomodasi, transportasi, hingga pendampingan ibadah membutuhkan sistem yang terintegrasi dan profesional. Karena itu, tata kelola yang kuat menjadi faktor utama dalam menentukan kualitas pelayanan yang diterima jemaah.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa pelayanan publik harus dijalankan dengan prinsip profesionalisme dan orientasi pada kepentingan masyarakat. Dalam konteks penyelenggaraan haji, negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa jemaah memperoleh pelayanan yang aman, nyaman, dan layak selama menjalankan ibadah. Upaya perbaikan tata kelola menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas pelayanan tersebut.

Perbaikan tata kelola haji dilakukan melalui penguatan koordinasi antarinstansi, peningkatan sistem pelayanan digital, serta penguatan pengawasan terhadap seluruh proses penyelenggaraan. Langkah ini membantu menciptakan sistem yang lebih tertib, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan jemaah. Dengan pengelolaan yang lebih baik, berbagai kendala yang sebelumnya sering muncul dapat ditekan secara bertahap.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan bahwa pelayanan haji harus terus ditingkatkan agar mampu menjawab harapan masyarakat. Menurutnya, kualitas pelayanan tidak hanya diukur dari aspek teknis, tetapi juga dari kemampuan petugas memberikan pendampingan yang humanis dan responsif terhadap kebutuhan jemaah. Pendekatan pelayanan yang lebih baik akan memperkuat kenyamanan dan kekhusyukan ibadah.

Digitalisasi menjadi salah satu bagian penting dalam perbaikan tata kelola haji. Pemanfaatan teknologi membantu mempercepat proses administrasi, mempermudah akses informasi, serta meningkatkan efisiensi pelayanan. Sistem digital juga memungkinkan pengawasan yang lebih baik terhadap alur pelayanan sehingga proses penyelenggaraan dapat berjalan lebih tertata.

Selain aspek administrasi, penguatan layanan kesehatan juga menjadi perhatian utama. Kondisi fisik jemaah, khususnya lansia, memerlukan perhatian khusus selama pelaksanaan ibadah haji. Pemerintah memperkuat layanan kesehatan melalui pemeriksaan sebelum keberangkatan, pendampingan medis, hingga kesiapan tenaga kesehatan di lokasi pelaksanaan ibadah.

Perbaikan tata kelola juga terlihat dari peningkatan kualitas koordinasi antara pemerintah Indonesia dan otoritas Arab Saudi. Komunikasi yang lebih baik membantu memastikan bahwa kebutuhan jemaah Indonesia dapat dipenuhi secara optimal. Sinergi ini menjadi penting mengingat penyelenggaraan haji melibatkan berbagai aspek teknis dan regulasi lintas negara.

Apresiasi masyarakat terhadap pelayanan haji menunjukkan bahwa pembenahan yang dilakukan mulai dirasakan secara langsung. Kelancaran proses keberangkatan, peningkatan kualitas akomodasi, serta respons petugas yang lebih baik menjadi bagian dari perubahan yang diapresiasi jemaah. Hal ini penting dalam memperkuat kepercayaan publik terhadap pelayanan negara.

Namun demikian, evaluasi tetap perlu dilakukan secara konsisten. Penyelenggaraan haji memiliki tantangan yang terus berkembang setiap tahun, baik dari sisi jumlah jemaah maupun dinamika kebijakan internasional. Karena itu, perbaikan tata kelola harus dilakukan secara berkelanjutan agar kualitas pelayanan terus meningkat.

Peran petugas haji juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan pelayanan. Profesionalisme, kedisiplinan, dan kemampuan komunikasi petugas sangat memengaruhi pengalaman jemaah selama menjalankan ibadah. Penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam mendukung kualitas tata kelola pelayanan haji.

Di sisi lain, partisipasi aktif jemaah juga membantu menciptakan penyelenggaraan yang lebih tertib. Kesadaran untuk mengikuti aturan, menjaga kesehatan, dan mematuhi arahan petugas akan memperkuat efektivitas pelayanan. Dengan kerja sama yang baik antara pemerintah dan masyarakat, pelaksanaan ibadah haji dapat berjalan lebih lancar.

Dalam jangka panjang, perbaikan tata kelola pelayanan haji juga mencerminkan penguatan kualitas pelayanan publik secara umum. Ketika sistem pelayanan mampu berjalan lebih profesional, transparan, dan responsif, kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara akan semakin meningkat. Hal ini menjadi modal penting dalam membangun pelayanan publik yang lebih modern dan berorientasi pada masyarakat.

Selain meningkatkan kenyamanan jemaah, tata kelola yang baik juga membantu menciptakan efisiensi dalam pengelolaan anggaran dan sumber daya. Pengelolaan yang transparan dan terukur akan memperkuat akuntabilitas serta memastikan bahwa pelayanan benar-benar berfokus pada kebutuhan jemaah.

Penguatan tata kelola haji juga menjadi bukti bahwa reformasi pelayanan publik dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Ketika sistem terus diperbaiki dan pelayanan semakin responsif, masyarakat akan merasakan manfaat langsung dari kebijakan yang dijalankan pemerintah. Hal ini penting dalam membangun budaya pelayanan publik yang profesional dan terpercaya.

Pada akhirnya, apresiasi terhadap pelayanan haji merupakan hasil dari proses pembenahan tata kelola yang dilakukan secara konsisten. Perbaikan sistem, penguatan koordinasi, dan peningkatan kualitas pelayanan menunjukkan komitmen negara dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Dengan tata kelola yang semakin kuat, penyelenggaraan haji Indonesia memiliki peluang besar untuk terus berkembang menjadi lebih profesional, nyaman, dan berkualitas di masa mendatang.

*) Pengamat Isu Strategis

Pelayanan Haji Indonesia Dinilai Semakin Profesional dan Responsif

Jakarta, – Pemerintah terus memperkuat kualitas penyelenggaraan ibadah haji agar semakin profesional, responsif, dan berorientasi pada kenyamanan jemaah. Berbagai langkah antisipasi dan pembenahan layanan dilakukan secara menyeluruh, terutama menghadapi fase puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), yang menjadi tahapan paling krusial dalam pelaksanaan haji.

Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan pemerintah telah mengerahkan tim dan menyiapkan berbagai langkah mitigasi guna memastikan seluruh kebutuhan jemaah terpenuhi selama pelaksanaan Armuzna.

“Ini tinggal dua hari lagi masa puncak haji atau Armuzna; Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Tentu kami sudah mempersiapkan dengan maksimal upaya-upaya antisipasi dan mitigasi beberapa masalah yang bisa muncul,” ujar Dahnil.

Menurutnya, penyelenggaraan haji tahun ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kualitas pelayanan publik bagi umat Islam Indonesia. Pemerintah ingin memastikan seluruh jemaah dapat menjalankan ibadah dengan aman, nyaman, dan khusyuk tanpa terkendala persoalan teknis di lapangan.

Dahnil menegaskan bahwa penguatan layanan haji saat ini berjalan sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pelayanan kepada jemaah sebagai prioritas utama negara.

“Pesan utama Presiden adalah kalian melayani mimpi besar umat muslim. Setiap muslim mimpinya naik haji. Jadi kami melayani mimpi-mimpi mereka agar menjadi
lebih sempurna,” ungkapnya.

Pemerintah juga terus memperkuat koordinasi dengan otoritas Arab Saudi dan seluruh petugas lapangan guna memastikan pelayanan kesehatan, transportasi, konsumsi, hingga akomodasi berjalan optimal selama fase puncak haji berlangsung.

Sementara itu, Anggota DPD RI, Lia Istifhama, menilai pembentukan kementerian khusus yang fokus menangani urusan haji dan umrah membawa dampak positif terhadap peningkatan kualitas layanan.

Menurutnya, pemisahan kelembagaan dari kementerian induk membuat fokus penanganan jemaah menjadi lebih terarah dan responsif terhadap kebutuhan di lapangan.

“Sejak dikelola langsung secara mandiri oleh Kemenhaj, banyak terobosan inovasi baru dan perbaikan sistem secara menyeluruh. Hal inilah yang membuat potret pelaksanaan ibadah haji tahun ini terasa semakin tertata, maksimal, dan minim komplain,” papar Lia.

Ia menilai berbagai pembenahan sistem layanan menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menghadirkan pelayanan haji yang modern dan profesional. Mulai dari penguatan koordinasi petugas, percepatan layanan aduan, hingga peningkatan sistem pendampingan jemaah dinilai mampu memberikan rasa aman dan nyaman selama menjalankan ibadah.

Pemerintah optimistis berbagai langkah perbaikan yang dilakukan akan semakin meningkatkan kualitas penyelenggaraan haji Indonesia di masa mendatang. Dengan pelayanan yang semakin tertata dan responsif, Indonesia diharapkan mampu menghadirkan pengalaman ibadah haji yang lebih baik sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap kualitas layanan negara bagi umat.

Tata Kelola Haji 2026 Mendapat Pengakuan Berbagai Pihak

Jakarta — Pemerintah terus memperkuat tata kelola penyelenggaraan ibadah haji 2026 melalui berbagai langkah pembenahan yang mendapat apresiasi dari banyak pihak. Peningkatan transparansi, efisiensi pelayanan, perlindungan jamaah, hingga penguatan koordinasi lintas lembaga dinilai menjadi fondasi penting dalam menghadirkan pelayanan haji yang semakin profesional dan berorientasi pada kebutuhan jamaah Indonesia.

Transformasi tata kelola haji 2026 menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya penyelenggaraan haji dikelola sepenuhnya oleh Kementerian Haji dan Umrah. Langkah ini dipandang strategis untuk memperkuat sistem pelayanan sekaligus menjawab berbagai tantangan penyelenggaraan haji yang selama ini menjadi perhatian publik.

Salah satu capaian yang mendapat perhatian ialah tata kelola pembayaran dam jamaah haji Indonesia yang dinilai semakin resmi dan transparan. Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan Pemerintah Arab Saudi memberikan apresiasi khusus terhadap sistem pembayaran dam jamaah haji Indonesia tahun 2026.

“Ini sejarah pertama dalam pengelolaan dam jemaah haji Indonesia. Data pembayaran dam kita mendapat apresiasi dari Kementerian Haji Arab Saudi. Capaian ini belum pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, dan tentu menjadi catatan positif bagi penyelenggaraan haji Indonesia tahun ini,” ujar Dahnil.

Apresiasi tersebut memperkuat keyakinan bahwa reformasi tata kelola haji Indonesia mulai menunjukkan hasil positif. Sejumlah pembenahan dinilai mencerminkan keseriusan pemerintah menghadirkan penyelenggaraan haji yang lebih efisien dan berpihak pada jamaah, mulai dari penguatan layanan penerbangan, pengembangan fasilitas pendukung, hingga peningkatan sistem pengawasan dan pelayanan lapangan.

Pemerintah bersama berbagai pemangku kepentingan juga terus memperkuat koordinasi dan konsolidasi untuk memastikan penyelenggaraan ibadah haji berjalan optimal, tertib, dan profesional. Menjelang puncak ibadah haji, edukasi dan pendampingan kepada jamaah terus ditingkatkan agar seluruh rangkaian ibadah dapat berjalan lancar.

Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Ichsan Marsha mengatakan menjelang puncak haji, Kemenhaj kembali mengingatkan seluruh jamaah untuk menjaga kesehatan, menghemat tenaga, memperbanyak istirahat, serta fokus mempersiapkan diri menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

“Jangan sungkan meminta bantuan kepada petugas. Petugas haji Indonesia hadir untuk mendampingi, melayani, dan melindungi jamaah selama menjalankan ibadah di Tanah Suci,” kata Ichsan.

Kemenhaj juga mengajak masyarakat Indonesia untuk terus mendoakan kelancaran ibadah seluruh jamaah haji Indonesia agar seluruh proses ibadah berjalan aman, nyaman, dan lancar hingga jamaah kembali ke Tanah Air.

MBG Papua Membangun Generasi Sehat dan Menggerakkan Ekonomi Lokal

Oleh: Markus Yarangga*

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua semakin menunjukkan perannya sebagai salah satu langkah strategis pemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia di Tanah Papua. Program ini bukan hanya menghadirkan makanan bergizi bagi anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru yang melibatkan masyarakat lokal secara langsung. Kehadiran MBG menjadi bukti bahwa pembangunan di Papua kini bergerak lebih menyentuh kebutuhan dasar masyarakat sekaligus membangun masa depan generasi muda yang lebih sehat, cerdas, dan produktif.

Keseriusan pemerintah terlihat dari percepatan pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai wilayah Papua. Peninjauan langsung yang dilakukan Gubernur Papua, Matius D Fakhiri, terhadap pembangunan SPPG di Kabupaten Supiori memperlihatkan komitmen kuat pemerintah daerah dalam memastikan program berjalan optimal. Infrastruktur dapur MBG yang dibangun secara permanen menunjukkan bahwa program ini dirancang untuk jangka panjang dan menjadi bagian penting dari sistem pelayanan masyarakat di Papua.

Langkah Pemerintah Provinsi Papua yang mendorong pemanfaatan hasil kebun dan tangkapan ikan masyarakat lokal untuk mendukung MBG merupakan kebijakan yang sangat tepat. Pendekatan tersebut membuat manfaat program semakin luas karena tidak hanya meningkatkan kualitas gizi penerima manfaat, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil kini memiliki peluang lebih besar untuk memasok kebutuhan pangan bagi dapur MBG. Dengan demikian, perputaran ekonomi di tingkat kampung dan distrik dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Kabupaten Supiori bahkan dipersiapkan menjadi salah satu daerah percontohan pengembangan dapur MBG di Papua. Langkah ini patut diapresiasi karena menunjukkan kesiapan daerah dalam mendukung program nasional dengan pendekatan yang terstruktur dan berbasis kebutuhan masyarakat. Pembangunan 12 titik SPPG di Supiori, termasuk di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), memperlihatkan bahwa pemerintah ingin memastikan pelayanan gizi dapat menjangkau seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

Program MBG juga semakin memperlihatkan dampak positif terhadap dunia pendidikan. Kehadiran makanan bergizi di sekolah membantu anak-anak lebih bersemangat mengikuti kegiatan belajar. Kondisi ini sangat penting bagi Papua karena kualitas pendidikan sangat dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan kesehatan peserta didik. Anak-anak yang memperoleh asupan gizi cukup akan lebih fokus belajar dan memiliki energi yang baik untuk beraktivitas di sekolah.

Upaya Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mendorong inovasi variasi menu MBG di Papua juga menjadi langkah maju yang patut didukung. Papua memiliki kekayaan pangan lokal yang sangat melimpah dan bernilai gizi tinggi. Kehadiran menu berbasis pangan lokal seperti ikan, sayuran, ubi, sagu, dan hasil kebun masyarakat dapat memperkuat kualitas pelayanan MBG sekaligus memperkenalkan kekayaan pangan Papua kepada generasi muda. Pendekatan ini membuat program MBG tidak hanya menjadi program pemenuhan gizi, tetapi juga sarana edukasi tentang pentingnya pangan lokal yang sehat dan berkualitas.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional, Gunalan, menyampaikan bahwa Papua memiliki potensi inovasi MBG yang sangat baik. Hal tersebut terlihat dari perhatian pemerintah dalam memperkuat kualitas pelayanan gizi melalui sosialisasi modul edukasi dan peningkatan kapasitas SPPG. Dukungan berbagai pihak, termasuk apresiasi dari lembaga internasional, semakin memperlihatkan bahwa pelaksanaan MBG di Papua berjalan ke arah yang positif dan mendapat perhatian luas.

Di wilayah Papua Pegunungan, percepatan program MBG juga terus dilakukan secara serius. Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua menunjuk Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Ones Pahabol, sebagai simbol percepatan pelaksanaan MBG di delapan kabupaten. Langkah tersebut menunjukkan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam memastikan program berjalan efektif hingga ke wilayah pegunungan dan daerah terpencil.

Kehadiran MBG di Papua Pegunungan memberikan manfaat besar bagi masyarakat karena mampu membantu pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak sekolah sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru. Setiap dapur MBG membutuhkan tenaga kerja yang melibatkan masyarakat lokal, mulai dari pengelola dapur, distribusi, hingga pemasok bahan pangan. Kondisi ini menciptakan peluang ekonomi baru bagi anak-anak muda Papua dan mama-mama Papua yang selama ini membutuhkan ruang pemberdayaan ekonomi yang lebih luas.

Ketua Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Velix V Wanggai, menilai bahwa MBG harus dipandang sebagai bagian dari pembangunan ekosistem ekonomi masyarakat. Pandangan tersebut sangat relevan karena program ini mampu menghubungkan sektor pertanian, perikanan, distribusi pangan, hingga pelayanan pendidikan dan kesehatan dalam satu rantai pembangunan yang saling mendukung.

Program MBG di Papua pada akhirnya menjadi simbol kehadiran negara yang semakin nyata dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Pemerintah tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membangun generasi Papua yang sehat, kuat, dan siap bersaing di masa depan. Dengan dukungan seluruh elemen masyarakat, MBG memiliki potensi besar menjadi fondasi penting dalam menciptakan Papua yang maju, mandiri, dan sejahtera melalui pembangunan manusia yang berkelanjutan.

*Penulis merupakan Pegiat Pemberdayaan Masyarakat

Rupiah dan Resiliensi Ekonomi Nasional

Oleh: Alexandro Dimitri*)

Di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga komoditas, hingga perubahan arah kebijakan moneter negara-negara maju, ketahanan ekonomi Indonesia kembali diuji. Salah satu indikator yang paling sering menjadi perhatian publik adalah pergerakan nilai tukar rupiah. Setiap kali rupiah mengalami tekanan, muncul kekhawatiran mengenai stabilitas ekonomi nasional. Namun jika dicermati lebih mendalam, kondisi Indonesia saat ini justru menunjukkan fondasi yang relatif kuat untuk menghadapi berbagai gejolak eksternal.

Ketahanan rupiah pada hakikatnya tidak berdiri sendiri. Kekuatan mata uang nasional sangat bergantung pada kondisi ekonomi riil, daya beli masyarakat, aktivitas investasi, serta kepercayaan pelaku pasar terhadap prospek perekonomian. Dalam konteks tersebut, berbagai indikator ekonomi terbaru menunjukkan bahwa Indonesia memiliki modal yang cukup kuat untuk menjaga stabilitas di tengah lingkungan global yang menantang.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I tahun 2026 mencapai 5,61 persen, salah satu capaian terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, motor utama pertumbuhan tersebut berasal dari konsumsi rumah tangga yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menilai kondisi ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tetap terjaga dan aktivitas ekonomi domestik terus bergerak positif. Selain konsumsi masyarakat, investasi dan belanja pemerintah juga memberikan kontribusi penting terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan kata lain, kekuatan ekonomi Indonesia tidak hanya bertumpu pada satu sektor, melainkan ditopang oleh beberapa mesin pertumbuhan yang berjalan secara simultan.

Pandangan tersebut menjadi penting karena daya beli yang kuat merupakan fondasi utama stabilitas ekonomi dan nilai tukar. Ketika konsumsi rumah tangga tetap tumbuh, dunia usaha memperoleh kepastian pasar, investasi terus bergerak, dan penerimaan negara meningkat. Dalam beberapa kesempatan, Purbaya juga menyampaikan optimisme bahwa ekonomi Indonesia tetap berada dalam fase ekspansi meskipun dunia menghadapi tekanan geopolitik dan perlambatan ekonomi di sejumlah negara besar. Optimisme tersebut bukan sekadar narasi, melainkan didukung data pertumbuhan, peningkatan aktivitas ekonomi domestik, serta kinerja fiskal yang tetap terjaga.

Fondasi ekonomi yang kuat kemudian diperkuat oleh kebijakan moneter dan makroprudensial yang dijalankan Bank Indonesia. Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, Dhaha P. Kuantan, menjelaskan bahwa setelah penyesuaian suku bunga acuan, fokus Bank Indonesia tidak hanya menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi, tetapi juga memastikan fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan optimal. Menurutnya, penguatan sektor perbankan menjadi langkah strategis agar penyaluran kredit kepada dunia usaha dan masyarakat tetap terjaga.

Pendekatan tersebut menunjukkan keseimbangan kebijakan yang penting. Di satu sisi, Bank Indonesia menjaga stabilitas makroekonomi untuk meredam tekanan eksternal terhadap rupiah. Di sisi lain, sektor keuangan tetap didorong agar mampu mendukung pertumbuhan ekonomi melalui penyaluran pembiayaan produktif. Kebijakan makroprudensial yang akomodatif menjadi instrumen untuk memastikan bahwa momentum pertumbuhan tidak terganggu hanya karena meningkatnya ketidakpastian global. Dengan perbankan yang sehat dan kredit yang tetap tumbuh, aktivitas ekonomi domestik memiliki bantalan yang cukup kuat ketika terjadi tekanan dari luar negeri.

Selanjutnya, upaya memperkuat ketahanan rupiah juga dilakukan melalui pendalaman pasar keuangan dan pengurangan ketergantungan terhadap mata uang asing dalam transaksi internasional. Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia, Ruth A. Cussoy Intama, menyoroti semakin luasnya implementasi transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) dengan negara-negara mitra. Menurutnya, penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan dan investasi memberikan manfaat besar karena mengurangi kebutuhan penggunaan dolar Amerika Serikat sebagai mata uang perantara.

Kebijakan tersebut memiliki arti strategis dalam jangka panjang. Semakin besar penggunaan rupiah dan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara, semakin kecil eksposur pelaku usaha terhadap volatilitas pasar valuta asing global. Biaya transaksi menjadi lebih efisien, risiko nilai tukar dapat ditekan, dan stabilitas pasar keuangan domestik menjadi lebih kuat. Langkah ini juga menunjukkan bahwa Indonesia tidak sekadar bersikap defensif menghadapi gejolak global, tetapi secara aktif membangun arsitektur keuangan yang lebih mandiri dan berdaya tahan tinggi.

Berbagai perkembangan global belakangan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang negara berkembang masih berpotensi terjadi sewaktu-waktu. Kebijakan suku bunga bank sentral negara maju, konflik geopolitik, hingga ketidakpastian rantai pasok internasional dapat memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang. Namun pengalaman Indonesia dalam beberapa tahun terakhir membuktikan bahwa kombinasi kebijakan fiskal yang kredibel, moneter yang terukur, serta reformasi sektor keuangan mampu menjaga kepercayaan investor dan stabilitas ekonomi nasional.

Karena itu, melihat pergerakan rupiah semata-mata dari perubahan harian nilai tukar sering kali tidak memberikan gambaran utuh mengenai kondisi ekonomi Indonesia. Yang jauh lebih penting adalah melihat kualitas fundamental ekonomi yang menopangnya. Pertumbuhan ekonomi yang kuat, daya beli yang terjaga, sektor perbankan yang sehat, serta perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional merupakan indikator bahwa resiliensi ekonomi Indonesia terus menguat.

Pada akhirnya, tantangan global memang tidak dapat dihindari, tetapi Indonesia telah menunjukkan kapasitas yang semakin baik dalam mengelola risiko dan menjaga stabilitas. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah dan Bank Indonesia, serta berbagai kebijakan yang terus memperkuat fondasi ekonomi nasional, rupiah tidak hanya menjadi simbol kedaulatan ekonomi, tetapi juga cerminan ketahanan bangsa dalam menghadapi perubahan zaman.

*) Pengamat Ekonomi

Rupiah dan Pentingnya Optimisme terhadap Ekonomi Nasional

Oleh : Abdul Razak)*

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa pekan terakhir menjadi perhatian publik. Berdasarkan data Reuters, rupiah berada di level Rp17.645 per dolar AS atau melemah sekitar 1,17 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Situasi tersebut memunculkan berbagai spekulasi dan kekhawatiran di tengah masyarakat mengenai kondisi ekonomi nasional ke depan. Namun demikian, pemerintah dan otoritas moneter menegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam jalur yang kuat dan stabil.

Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, optimisme terhadap ekonomi nasional justru menjadi modal penting yang harus terus dijaga. Sebab, pelemahan nilai tukar bukan semata-mata disebabkan oleh persoalan domestik, melainkan juga dipengaruhi tekanan eksternal yang sedang dialami banyak negara berkembang.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir menghadapi kondisi tersebut. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia tetap baik, baik dari sisi fiskal maupun pertumbuhan ekonomi. Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Pada triwulan pertama 2026, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh sebesar 5,6 persen di tengah gejolak ekonomi global yang masih berlangsung.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa roda ekonomi nasional masih bergerak positif. Pertumbuhan itu juga ditopang oleh berbagai komponen penting, terutama konsumsi masyarakat yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi. Artinya, daya beli masyarakat masih terjaga dan aktivitas ekonomi domestik tetap berjalan kuat.

Selain konsumsi rumah tangga, investasi dan belanja pemerintah juga memberikan kontribusi besar dalam menjaga momentum pertumbuhan. Hal ini menunjukkan adanya sinergi antara sektor swasta dan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Pemerintah juga dinilai berhasil melakukan reformasi dan langkah antisipatif sebelum tekanan global semakin besar menghantam perekonomian dunia.

Dalam konteks tersebut, optimisme menjadi faktor penting yang tidak boleh hilang dari masyarakat. Kepercayaan publik terhadap ekonomi nasional sangat berpengaruh terhadap stabilitas pasar dan aktivitas ekonomi secara keseluruhan. Ketika masyarakat tetap percaya terhadap kondisi ekonomi, maka konsumsi, investasi, dan kegiatan usaha akan tetap berjalan normal.

Langkah pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah juga menunjukkan keseriusan negara menghadapi tekanan global. Presiden Prabowo Subianto bahkan menggelar rapat terbatas bersama jajaran menteri ekonomi dan pejabat terkait guna membahas kondisi ekonomi nasional secara menyeluruh.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyampaikan keyakinannya bahwa kondisi rupiah akan segera stabil. Bank Indonesia sendiri tetap optimistis rupiah akan kembali menguat setelah periode tingginya permintaan dolar AS pada Mei hingga Juni mulai mereda. Tekanan terhadap rupiah saat ini lebih dipicu oleh faktor global, seperti kenaikan yield obligasi AS, penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang dunia, hingga meningkatnya tensi geopolitik internasional, terutama di kawasan Timur Tengah dan Selat Hormuz.

Kondisi tersebut memang berdampak terhadap arus modal global dan memicu penguatan dolar AS. Namun, tekanan serupa juga dialami oleh banyak negara lain, sehingga pelemahan rupiah tidak dapat dipandang secara sempit sebagai cerminan lemahnya ekonomi Indonesia.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih sangat solid. Inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga, pengelolaan utang luar negeri yang prudent, hingga cadangan devisa yang memadai menjadi faktor utama penopang stabilitas ekonomi nasional.

Karena itu, BI masih mempertahankan proyeksi nilai tukar rupiah di kisaran rata-rata Rp16.500 per dolar AS sepanjang tahun ini. Optimisme tersebut diperkuat dengan langkah strategis BI melalui intervensi pasar valuta asing dan penguatan instrumen moneter domestik guna menjaga stabilitas nilai tukar.

Kepercayaan terhadap ekonomi nasional juga datang dari berbagai kalangan politik dan parlemen. Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh menilai optimisme merupakan modal terpenting bangsa dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Menurutnya, harapan dan keyakinan harus terus dijaga karena tanpa optimisme, bangsa akan kehilangan kekuatan untuk bangkit dan berkembang.

Pandangan tersebut sangat relevan mengingat ekonomi tidak hanya ditentukan oleh angka statistik semata, tetapi juga oleh psikologi pasar dan kepercayaan publik. Ketika optimisme terjaga, maka stabilitas ekonomi akan lebih mudah dipertahankan. Oleh karena itu, pemerintah senantiasa mengawal momentum ini dengan langkah-langkah mitigasi risiko yang matang dan terukur. Sinergi yang kuat melalui koordinasi lintas sektor terus dipertegas demi menjaga stabilitas fiskal, memperluas keran investasi, serta memperkokoh daya beli masyarakat sebagai pilar utama ekonomi. Sejalan dengan itu, masyarakat dan pelaku pasar juga menunjukkan kedewasaan dengan tetap tenang dan rasional, sehingga iklim pasar tetap kondusif dan stabil.

Pelemahan rupiah saat ini seharusnya tidak disikapi dengan kepanikan berlebihan. Justru yang diperlukan adalah penguatan optimisme kolektif bahwa ekonomi Indonesia mampu menghadapi tekanan global dan kembali tumbuh lebih kuat. Dengan sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, dunia usaha, dan masyarakat, stabilitas ekonomi nasional diyakini tetap dapat terjaga di tengah dinamika global yang terus berubah.

)* Analis Kebijakan

Pemerintah Perkuat Stabilitas Ekonomi untuk Kuatkan Rupiah

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat langkah strategis menjaga stabilitas ekonomi nasional guna memperkuat nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global.

Sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang dilakukan pemerintah bersama Bank Indonesia dinilai mampu menjaga ketahanan ekonomi nasional sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan stabilitas ekonomi Indonesia saat ini tetap terjaga dengan baik meskipun dunia menghadapi tekanan geopolitik dan volatilitas pasar keuangan global.

“Pemerintah bersama Bank Indonesia terus menjaga koordinasi yang kuat agar stabilitas ekonomi nasional tetap terpelihara. Fundamental ekonomi Indonesia masih solid dan pertumbuhan ekonomi terus menunjukkan tren positif,” ujar Purbaya.

Kementerian Keuangan terus melakukan berbagai upaya untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan di pasar obligasi negara demi menjaga imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN).

Senada, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menjelaskan upaya itu dilakukan untuk membantu bank sentral menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kini berada di level terlemah sepanjang masa.

“Tentu kalau bicara nilai tukar itu mandat BI (Bank Indonesia), tapi tentu saja banyak kaitannya juga dengan SBN. kalau BSN tidak menarik, akan ada outflow (aliran modal asing keluar) jadi rupiah melemah, dan seterusnya,” ujar Juda.

Juda menilai bahwa pelemahan nilai tukar rupiah tak berdampak signifikan terhadap tekanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dia menggambarkan, setiap 100 basispoin depresiasi rupiah akan berdampak pada defisit anggaran fiskal sebesar Rp800 miliar.

“Kalau dampak dari nilai tukar ke fiskal sebenarnya tidak sebesar kenaikan harga minyak, tapi tentu saja kami dari Kemenkeu punya concern yang sama terhadap pelemahan rupiah,” ujar Juda.

Sementara itu, Pakar Ekonomi Universitas Brawijaya, Dr. rer. pol. Wildan Syafitri mengingatkan masyarakat untuk menjaga optimisme dan tidak mudah terbawa persepsi negatif di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menembus kisaran Rp17.000.

“Kita jangan terlalu terpengaruh berita negatif karena itu bisa membentuk ekspektasi buruk terhadap ekonomi,” ujarnya.

Pemerintah optimistis penguatan koordinasi kebijakan nasional akan mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia sekaligus memperkuat posisi rupiah dalam jangka menengah.

Tenang dan Optimis, Pemerintah dan Bank Indonesia Terus Jaga Stabilitas Rupiah

Jakarta- Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) terus memperkuat langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan pasar keuangan global yang masih bergejolak. Berbagai kebijakan moneter dan intervensi pasar dilakukan secara terukur guna memastikan volatilitas rupiah tetap terkendali dan kepercayaan pasar tetap terjaga.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan bank sentral terus hadir di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global.

“Bank Indonesia terus berada di pasar untuk memastikan stabilitas nilai tukar Rupiah tetap terjaga. Kami melakukan intervensi secara terukur dan konsisten sesuai kondisi global yang sedang bergejolak,” ujar Ramdan.

Menurutnya, tekanan terhadap rupiah saat ini bukan hanya dialami Indonesia, tetapi juga terjadi di berbagai negara berkembang akibat perubahan ekspektasi pasar dan kebijakan suku bunga global.

“Apa yang terjadi saat ini merupakan fenomena global. Banyak mata uang negara berkembang juga mengalami tekanan akibat perubahan ekspektasi pasar dan kebijakan suku bunga global,” imbuhnya.

Untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik, BI sebelumnya memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk respons cepat dan antisipatif menghadapi tekanan eksternal yang masih berlangsung.

Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai kebijakan BI tersebut merupakan langkah tepat dan diperlukan untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap rupiah.

“Keputusan BI sudah tepat. Ini bukan sekadar kenaikan suku bunga, tetapi juga sinyal bahwa jangkar kebijakan Indonesia tetap dijaga. Jika terlambat, biaya stabilisasi akan jauh lebih mahal,” ujar Fakhrul.

Ia menjelaskan, langkah tegas BI mulai memberikan sentimen positif terhadap pasar dan memperkuat optimisme terhadap pergerakan rupiah ke depan.

“Rupiah sudah selesai melewati fase overshooting. Dengan respons BI yang tegas, pasar kini memiliki jangkar baru,” katanya.

Fakhrul memproyeksikan rupiah berpotensi menguat secara bertahap menuju kisaran Rp16.800 per dolar AS setelah sebelumnya sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS. Menurutnya, kombinasi kenaikan BI Rate, intervensi valas, penguatan instrumen DNDF/NDF, hingga perluasan transaksi Local Currency Transaction (LCT) mulai efektif meredam tekanan terhadap rupiah.

Ia juga menilai pelaku pasar tidak perlu terlalu defensif terhadap dolar AS karena pemerintah dan BI telah menunjukkan respons kebijakan yang cukup kuat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Ini saatnya mulai mengurangi kepemilikan dolar secara bertahap. Risiko global memang belum hilang, tetapi Indonesia akhirnya memberikan respons kebijakan yang cukup kuat,” tegas Fakhrul.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pemerintah dan BI memastikan koordinasi kebijakan akan terus diperkuat guna menjaga stabilitas sistem keuangan nasional. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga optimisme pasar sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia ke depan.