Investasi Nasional Jadi Kunci Ekonomi RI Tumbuh hingga 5,6 Persen

Jakarta – Investasi nasional menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026. Global Research on Economics, Advance Technology, and Politics (GREAT) Institute memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2026 tumbuh sekitar 5,3–5,6 persen, ditopang kuatnya konsumsi domestik, aktivitas dunia usaha, serta investasi yang mulai menunjukkan tren positif.

Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, menyampaikan bahwa proyeksi tersebut menunjukkan optimisme, meski tetap bergantung pada sejumlah kondisi pendukung. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia masih tergolong kuat, namun sumber utama pertumbuhan mulai mengalami pergeseran.

“Proyeksi pertumbuhan 5,3-5,6 persen adalah optimisme dengan prasyarat. Kita melihat fondasi pertumbuhan masih cukup kuat, tetapi komposisi mesin pertumbuhannya mulai berubah,” kata Adrian.

Mengacu pada laporan GREAT Mid-Year Economic Outlook 2026: Membangun Kembali Kepercayaan, Menumbuhkan Optimisme, Adrian menjelaskan bahwa optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia masih memiliki landasan yang kuat. Perekonomian nasional mencatat pertumbuhan kumulatif sebesar 5,45 persen pada semester I-2026, dengan konsumsi pemerintah tumbuh 18,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Konsumsi rumah tangga juga tumbuh 5,06 persen secara tahunan pada triwulan II-2026. Namun, GREAT Institute menilai ketahanan konsumsi perlu dicermati lebih mendalam.

“Karena konsumsi menyumbang porsi terbesar ekonomi, ketahanannya tetap menjadi fondasi proyeksi kami. Tetapi kita juga tidak boleh membaca konsumsi rumah tangga hanya dari satu angka PDB. Ada sinyal kehati-hatian yang meningkat. Karena itu, menjaga pendapatan riil dan pekerjaan menjadi lebih penting daripada sekadar mendorong konsumsi sesaat,” kata Adrian.

Dalam kondisi tersebut, investasi menjadi komponen strategis untuk memperkuat sisi produksi, meningkatkan kapasitas industri, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong nilai tambah melalui hilirisasi dan pengembangan sektor berbasis teknologi. Kepastian regulasi, kemudahan perizinan, infrastruktur, dan stabilitas ekonomi juga diperlukan untuk meningkatkan daya tarik investasi.

Prospek pertumbuhan berlanjut pada 2027. Ekonomi Indonesia berpotensi tumbuh hingga 6 persen, meski proyeksi saat ini berada di kisaran 5,1-5,9 persen.

“Ada tiga syarat utama yang menjadi kunci. Pertama, ekonomi global membaik sehingga permintaan ekspor dan aliran modal asing meningkat. Kedua, investasi perlu didorong melalui percepatan realisasi proyek strategis nasional. Ketiga, optimalisasi penerimaan devisa hasil ekspor (DHE) perlu terus diperkuat.” Ujar Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Aida S. Budiman.

Penguatan investasi bersama konsumsi domestik dan kebijakan fiskal diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan sekaligus memperkuat kapasitas ekonomi nasional menuju pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan.

Ekonomi RI Berpeluang Tembus 5,6 Persen Ditopang Investasi Produktif

JAKARTA — Perekonomian Indonesia dinilai memiliki peluang tumbuh hingga 5,6 persen sepanjang 2026. Optimisme tersebut didukung oleh fondasi ekonomi domestik yang relatif kuat, terutama melalui peningkatan investasi dan aktivitas produktif sektor swasta yang diperkirakan menjadi penggerak penting pertumbuhan pada semester II.

GREAT Institute memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran 5,3-5,6 persen pada 2026. Peneliti Ekonomi GREAT Institute Adrian Nalendra Perwira mengatakan pencapaian batas atas proyeksi tersebut membutuhkan sejumlah prasyarat, terutama penguatan investasi, kepastian kebijakan, serta terjaganya kepercayaan pelaku ekonomi.

“Proyeksi pertumbuhan 5,3-5,6 persen adalah optimisme dengan prasyarat. Kita melihat fondasi pertumbuhan masih cukup kuat, tetapi komposisi mesin pertumbuhannya mulai berubah,” kata Adrian.

Menurut GREAT Institute, ekonomi Indonesia tumbuh kumulatif 5,45 persen pada semester I-2026. Konsumsi pemerintah dan rumah tangga masih menjadi fondasi penting. Konsumsi pemerintah tercatat tumbuh 18,62 persen secara tahunan, sementara konsumsi rumah tangga pada triwulan II tumbuh 5,06 persen.

Namun, Adrian menilai momentum pertumbuhan pada semester II perlu semakin diperkuat melalui investasi dan aktivitas produktif. Hal ini sejalan dengan sejumlah indikator yang menunjukkan dunia usaha mulai bergerak positif.

“Semester I banyak terbantu oleh konsumsi dan dorongan fiskal. Memasuki Semester II, konsumsi tentu tetap menjadi fondasi pertumbuhan, tetapi tambahan akselerasi semakin perlu datang dari investasi dan aktivitas produktif sektor swasta,” ujarnya.

Optimisme terhadap pertumbuhan juga disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia meyakini ekonomi Indonesia dapat tumbuh 6 persen pada 2027. Dengan pertumbuhan tersebut, sekitar 2,4 juta lapangan kerja baru berpotensi tercipta.

“Kalau pertumbuhan ekonomi mencapai 6 persen, maka 6 dikali 400.000, artinya akan ada 2,4 juta lapangan kerja baru yang tercipta,” ujar Purbaya.

Pemerintah, lanjut Purbaya, akan mendorong pertumbuhan melalui efisiensi serta peningkatan kepatuhan perpajakan dan sektor kepabeanan. Langkah tersebut diharapkan menjaga daya saing perusahaan nasional sekaligus memperkuat ruang pertumbuhan ekonomi.

Di tengah ketidakpastian global, konsistensi kebijakan menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan rumah tangga dan dunia usaha. GREAT Institute menilai stabilitas makroekonomi, investasi berkualitas, produktivitas, dan penciptaan lapangan kerja akan menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai batas atas proyeksi 5,6 persen.

Investasi Nasional: Pengungkit Pertumbuhan Ekonomi Semester II

*) Oleh : Gavin Asadit

Pemerintah terus memperkuat investasi sebagai salah satu pengungkit utama pertumbuhan ekonomi nasional pada semester II 2026. Langkah tersebut menjadi semakin penting setelah ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tumbuh 5,45 persen secara tahunan. Pemerintah melihat momentum tersebut sebagai fondasi untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan melalui peningkatan investasi, hilirisasi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan kapasitas produksi nasional.

Realisasi investasi sepanjang semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun atau sekitar 49,5 persen dari target investasi nasional tahun ini sebesar Rp2.041,3 triliun. Capaian tersebut meningkat 7,2 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya dan sekaligus menciptakan 1.448.862 lapangan kerja langsung bagi tenaga kerja Indonesia. Angka tersebut menunjukkan bahwa investasi semakin memiliki peran penting dalam memperluas aktivitas ekonomi dan membuka kesempatan kerja.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani menilai kinerja investasi semester I mencerminkan masih kuatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek perekonomian Indonesia. Menurut Rosan, pemerintah akan terus memastikan investasi yang masuk tidak hanya menghasilkan nilai finansial, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan kapasitas industri, dan pengembangan sektor bernilai tambah.

Memasuki semester II, pemerintah memiliki ruang untuk mempercepat realisasi berbagai komitmen investasi yang telah masuk. Hal tersebut dilakukan melalui penyederhanaan perizinan, penyelesaian hambatan investasi di lapangan, serta percepatan pembangunan proyek. Pemerintah juga terus memperkuat sistem Online Single Submission (OSS) agar proses perizinan semakin memberikan kepastian kepada investor. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi menjaga momentum investasi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pada triwulan II 2026 investasi tumbuh 6,87 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang mencapai 5,06 persen. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi mulai semakin ditopang oleh peningkatan kapasitas produksi, bukan hanya oleh konsumsi masyarakat.

Pada periode yang sama, perekonomian Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan dan meningkat 3,73 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Kinerja tersebut memberikan modal positif bagi pemerintah untuk mempertahankan momentum pertumbuhan pada paruh kedua tahun ini. Penguatan investasi menjadi penting karena proyek baru dapat menciptakan aktivitas produksi, meningkatkan permintaan terhadap barang dan jasa, serta membuka kesempatan kerja di berbagai daerah.

Salah satu fokus utama pemerintah adalah hilirisasi. Pada semester I 2026, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun atau sekitar 29,7 persen dari total investasi nasional. Nilai tersebut tumbuh 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pemerintah mendorong agar investasi hilirisasi terus berkembang dari sektor pengolahan mineral menuju industri dengan teknologi lebih tinggi, termasuk energi bersih, manufaktur maju, infrastruktur digital, dan berbagai sektor strategis lainnya.

Presiden Prabowo Subianto juga menempatkan investasi dan hilirisasi sebagai bagian penting dalam membangun kemandirian ekonomi nasional. Dalam pidato kenegaraan pada Agustus 2026, Presiden menyampaikan bahwa realisasi investasi semester I telah mencapai lebih dari Rp1.010 triliun dan menciptakan lebih dari 1,4 juta lapangan kerja. Pemerintah melihat capaian tersebut sebagai bukti bahwa kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia tetap terjaga meskipun lingkungan ekonomi global masih menghadapi berbagai tantangan.

Selain hilirisasi berbasis sumber daya alam, pemerintah mulai memperluas perhatian kepada sektor ekonomi masa depan. Infrastruktur digital, pusat data, kecerdasan artifisial, energi bersih, manufaktur maju, dan mineral kritis dipandang memiliki potensi besar untuk menjadi sumber pertumbuhan baru. Rosan menilai arah investasi global semakin bergerak menuju sektor-sektor tersebut sehingga Indonesia perlu mengambil posisi strategis agar tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga menjadi tempat berlangsungnya produksi dan pengembangan teknologi.

Pemerintah juga berupaya memastikan investasi tersebar lebih merata di berbagai wilayah Indonesia. Jakarta tetap menjadi salah satu pusat investasi utama, tetapi pemerintah terus mendorong kawasan ekonomi khusus, kawasan industri, dan pusat pertumbuhan baru di luar Pulau Jawa. Strategi tersebut bertujuan memperluas kesempatan ekonomi sekaligus mengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah. Dengan investasi yang lebih tersebar, manfaat pembangunan diharapkan dapat dirasakan oleh masyarakat di berbagai daerah.

Dari sisi kebijakan ekonomi, pemerintah telah menyiapkan sejumlah stimulus untuk menjaga momentum pertumbuhan pada semester II 2026. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga daya beli, mendukung dunia usaha, memperkuat penciptaan lapangan kerja, serta mempertahankan stabilitas ekonomi. Sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, investasi, dan sektor riil menjadi penting agar arus modal yang masuk dapat segera diterjemahkan menjadi kegiatan ekonomi produktif.

Investasi nasional bukan sekadar angka realisasi penanaman modal, tetapi instrumen untuk memperbesar kapasitas ekonomi Indonesia. Ketika investasi diarahkan pada sektor produktif, hilirisasi, manufaktur, energi, teknologi, dan pembangunan wilayah, manfaatnya dapat mengalir melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan produktivitas, pertumbuhan usaha lokal, serta bertambahnya nilai tambah di dalam negeri. Dengan menjaga kepercayaan investor dan mempercepat realisasi proyek, pemerintah optimistis investasi dapat menjadi salah satu pengungkit utama untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester II 2026 sekaligus memperkuat fondasi menuju pertumbuhan jangka panjang.

)* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan

Investasi dan Hilirisasi Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi RI

Oleh Wiranti Anwar )*

Indonesia tengah memasuki fase penting dalam perjalanan pembangunan ekonominya. Ketika konsumsi rumah tangga selama ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan, investasi kini menunjukkan peran yang semakin strategis sebagai mesin baru untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional. Pertumbuhan investasi yang terus terjaga membuka peluang penciptaan lapangan kerja, penguatan industri domestik, peningkatan produktivitas, serta pembentukan sumber-sumber pertumbuhan baru yang lebih berkelanjutan.

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memiliki posisi penting dalam memastikan momentum tersebut tidak berhenti pada angka realisasi investasi. Penyederhanaan layanan perizinan, peningkatan kepastian hukum, serta fasilitasi penyelesaian berbagai hambatan investasi atau debottlenecking menjadi bagian penting dari upaya menciptakan iklim usaha yang lebih kompetitif. Investasi hanya akan memberikan dampak maksimal apabila proyek yang telah direncanakan dapat segera direalisasikan dan beroperasi secara optimal sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan masyarakat.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, kementerian dan lembaga, serta berbagai pemangku kepentingan dalam mengawal pelaksanaan investasi. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa investasi tidak dapat lagi diperlakukan semata-mata sebagai urusan administrasi perizinan. Keberhasilan investasi membutuhkan ekosistem yang terintegrasi, mulai dari kepastian regulasi, ketersediaan lahan dan infrastruktur, kesiapan tenaga kerja, akses energi, hingga kepastian pasar.

Tantangan tersebut semakin relevan karena arah investasi global juga mengalami perubahan. Modal internasional kini semakin tertarik pada sektor-sektor strategis yang diperkirakan menentukan struktur perekonomian masa depan. Infrastruktur digital, kecerdasan buatan, energi bersih, manufaktur maju, teknologi, inovasi, serta mineral kritis menjadi sektor yang semakin penting. Rosan Roeslani melihat bahwa tahap berikutnya dari hilirisasi Indonesia tidak lagi hanya berfokus pada mineral dan pengolahannya, tetapi mulai bergerak menuju infrastruktur digital, teknologi, inovasi, dan industri masa depan.

Perubahan arah tersebut harus ditangkap Indonesia secara serius. Keunggulan sumber daya alam memang menjadi modal penting, tetapi tidak cukup untuk menjamin daya saing dalam jangka panjang. Indonesia perlu mengubah posisi dari sekadar pemasok bahan mentah menjadi negara yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, menguasai teknologi, mengembangkan sumber daya manusia, dan membangun rantai pasok domestik yang kuat. Dengan demikian, investasi tidak hanya masuk ke Indonesia, tetapi juga berakar dan berkembang bersama industri nasional.

Di sinilah peran Danantara dapat menjadi semakin strategis. Wakil Ketua Komite Tetap Perencanaan Pengembangan Energi Terbarukan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Feiral Rizky Batubara menilai Danantara dapat berperan sebagai anchor investor dalam proyek-proyek berskala besar. Posisi tersebut dapat membuka ruang kolaborasi jangka panjang dengan perusahaan nasional melalui skema joint venture, co-investment, penyediaan barang dan jasa, serta keterlibatan perusahaan domestik dalam rantai pasok.

Investasi berskala besar harus memiliki keterkaitan yang kuat dengan industri domestik sehingga menciptakan efek berganda bagi pemasok lokal, UMKM, tenaga kerja, dan industri pendukung. Momentum tersebut mulai terlihat dari 19 proyek hilirisasi yang telah melakukan groundbreaking dengan nilai sekitar Rp225 triliun. Proyek-proyek tersebut mencakup sektor mineral, energi, hingga agrikultur. Kehadiran proyek tersebut memperlihatkan bahwa strategi hilirisasi mulai bergerak dari konsep menuju implementasi.

Secara makroekonomi, peran investasi juga semakin terlihat. Investasi tumbuh 6,87 persen pada kuartal II-2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang mencapai 5,06 persen. Pada periode yang sama, sektor hilirisasi tumbuh 6,9 persen. Sementara itu, realisasi investasi pada semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun dengan penyerapan 1,45 juta tenaga kerja langsung, meningkat 15 persen. Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa investasi telah menjadi salah satu penggerak penting aktivitas ekonomi nasional.

Ekonom Senior Didik J. Rachbini juga menilai perbaikan iklim investasi menjadi salah satu faktor yang dapat memperkuat fondasi nilai tukar rupiah dalam jangka panjang, terutama ketika ruang kebijakan moneter menghadapi berbagai persoalan struktural. Arus investasi asing dapat menjadi sumber devisa yang memperkuat sektor eksternal Indonesia. Karena itu, peningkatan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi bukan hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dengan ketahanan ekonomi nasional.

Ke depan, reformasi perizinan harus terus berjalan, kepastian hukum perlu diperkuat, dan koordinasi pusat-daerah harus semakin efektif. Pada saat yang sama, perusahaan nasional juga dipersiapkan agar mampu menjadi mitra utama dalam berbagai proyek strategis. Jika modal yang masuk mampu bertemu dengan kapasitas industri domestik, investasi akan menghasilkan efek berantai yang jauh lebih besar.

Menjadikan investasi sebagai mesin baru pertumbuhan adalah bagaimana modal tersebut diubah menjadi produktivitas, lapangan kerja, teknologi, nilai tambah, dan daya saing. Indonesia memiliki pasar yang besar, sumber daya alam yang melimpah, serta posisi strategis dalam perekonomian kawasan. Dengan iklim investasi yang semakin pasti dan strategi hilirisasi yang tepat, modal tersebut dapat dikonversi menjadi kekuatan ekonomi baru. Investasi yang berkualitas akan menjadi fondasi bagi pertumbuhan Indonesia yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan.

)* penulis merupakan pengamat kebijakan ekonomi

Pemerintah Perketat Disiplin Kepala SPPG untuk Perkuat Keamanan Pangan MBG

JAKARTA — Pemerintah memperketat disiplin kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai bagian dari upaya memperkuat keamanan pangan dan memastikan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP).

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengatakan kepala SPPG merupakan penanggung jawab utama operasional dapur sehingga wajib hadir pada jam-jam krusial untuk memastikan seluruh tahapan pengolahan makanan berjalan sesuai ketentuan.

“Dia kan pemimpin di dapur itu, harus memastikan SOP dijalankan. Maka, kami telah mengeluarkan surat edaran bahwa jam ASN PPPK kepala SPPG adalah jam operasional dapur, dari pukul 02.00 hingga 08.00 pagi, ditambah dua jam lagi saat penerimaan bahan baku di sore hari,” kata Sudaryono.

Menurutnya, kehadiran kepala SPPG penting untuk mengawasi secara langsung penerimaan bahan baku, proses pengolahan makanan, kebersihan dapur, hingga kesiapan makanan sebelum didistribusikan kepada penerima manfaat.

Sudaryono menyebut sejumlah persoalan yang terjadi sebelumnya berkaitan dengan ketidakdisiplinan dalam menjalankan prosedur, termasuk kepala SPPG yang tidak berada di lokasi ketika dapur beroperasi. Karena itu, BGN menyiapkan sanksi tegas bagi kepala SPPG yang tidak memenuhi kewajibannya.

“Kalau Anda tidak hadir di jam kerja selama 10 hari berturut-turut tanpa adanya keterangan, itu ancamannya pemberhentian dengan tidak hormat,” tegasnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan 66 pegawai BGN yang baru diberhentikan terbukti tidak disiplin dalam menjalankan kewajiban sebagai pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK).

“Enggak disiplin, enggak ngantor, enggak datang ke kantor. Mereka kan P3K, kalau enggak ngantor berapa kali itu harus diberhentikan,” ujar Zulkifli.

Zulkifli menegaskan pemerintah terus melakukan perbaikan agar pelaksanaan MBG tidak hanya berorientasi pada perluasan jumlah SPPG dan penerima manfaat, tetapi juga menjamin kualitas layanan.

“Program MBG terus kita perbaiki. Bukan hanya mengejar jumlah SPPG atau penerima manfaat, tetapi yang paling penting kualitas pelaksanaannya harus terjaga. Standar harus dipenuhi dan aturan harus dipatuhi. Kalau tidak memenuhi persyaratan, kita tindak tegas,” katanya.

Penguatan disiplin dan pengawasan di tingkat SPPG diharapkan memastikan seluruh proses penyediaan MBG berjalan sesuai SOP, sehingga keamanan pangan dan kualitas layanan kepada masyarakat semakin terjamin.

Pemerintah Jaga Mutu MBG lewat Pengawasan Ketat Kepala Dapur

Jakarta – Pemerintah memperketat pengawasan operasional dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk memastikan kualitas makanan dan keamanan penerima manfaat tetap terjaga.

Melalui Badan Gizi Nasional (BGN), pemerintah mewajibkan kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hadir langsung di dapur pada jam operasional utama, mulai pukul 02.00 hingga 08.00 pagi.

Kebijakan ini diterapkan setelah ditemukan sejumlah pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) yang berpotensi memicu persoalan keamanan pangan, termasuk kasus keracunan.

Pengetatan pengawasan sekaligus menunjukkan komitmen pemerintah menjadikan aspek higienitas dan keamanan pangan sebagai prioritas dalam pelaksanaan MBG.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menjelaskan, ketentuan tersebut dibuat agar proses memasak tidak dilakukan sejak hari sebelumnya. Makanan yang terlalu lama disimpan berisiko mengalami penurunan kualitas sebelum dikonsumsi penerima manfaat.

“Ada sesuatu yang baru juga, perubahan yang penting saya kira di manajemen yang baru di badan ini, bahwa peran SPPG itu harus hadir di jam kerja. Nah, ini yang paling penting, jam operasional dapur. Nah, jam operasional dapur itu jam 2 pagi,” ujar Zulhas.

Ia menegaskan jam kerja kepala SPPG ditetapkan sejak pukul 02.00 hingga 08.00, dengan penyesuaian waktu di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur. Kehadiran tersebut akan dipantau BGN melalui sistem absensi daring dan pemantauan langsung menggunakan Zoom.

“Sekarang diwajibkan jam 2 pagi sampai jam 8 harus ada di tempat kepalanya itu, dan itu buka Zoom, absensinya dicek. Jadi teman-teman di BGN juga salat malam juga ini. Jam 1, jam 2 udah siap,” tutur Zulhas.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan kepala SPPG merupakan penanggung jawab utama yang harus memastikan setiap tahapan pengolahan makanan berjalan sesuai SOP.

“Dia kan pemimpin di dapur itu, harus memastikan SOP dijalankan. Maka, kami telah mengeluarkan surat edaran bahwa jam ASN PPPK kepala SPPG adalah jam operasional dapur, dari pukul 02.00 hingga 08.00 pagi, ditambah dua jam lagi saat penerimaan bahan baku di sore hari,” kata Sudaryono.

Menurut Sudaryono, pengawasan mencakup penyimpanan bahan pangan, penggunaan sarung tangan saat proses memasak dan pemorsian, hingga pemakaian penutup kepala. BGN juga menyiapkan sanksi tegas bagi kepala SPPG yang mengabaikan kewajiban tersebut.

“Kalau Anda tidak hadir di jam kerja selama 10 hari berturut-turut tanpa adanya keterangan, itu ancamannya pemberhentian dengan tidak hormat,” ujarnya.

Penegakan disiplin tersebut diharapkan memperkuat akuntabilitas pengelolaan dapur sehingga MBG dapat berjalan semakin aman, higienis, dan konsisten dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.

Perkuat Mutu MBG, Pemerintah Tegakkan Disiplin Kepala SPPG

Oleh: Rivka Mayangsari*)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program strategis pemerintah yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, khususnya dalam pemenuhan gizi bagi generasi penerus bangsa. Karena menyangkut kesehatan dan keselamatan jutaan penerima manfaat, penyelenggaraan program tersebut tidak dapat hanya mengandalkan semangat pelayanan. Dibutuhkan standar operasional yang ketat, pengawasan berlapis, serta kedisiplinan tinggi dari seluruh pihak yang terlibat. Dalam konteks inilah langkah tegas pemerintah terhadap Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi bukti bahwa kualitas dan keamanan pangan tidak boleh ditawar.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan bahwa seluruh pengelola SPPG harus menjalankan tugas berdasarkan aturan resmi dan prosedur yang telah ditetapkan. Ia bahkan meminta para mitra untuk segera melaporkan apabila menemukan oknum yang meminta imbalan uang dengan alasan operasional SPPG. BGN menegaskan bahwa tidak pernah memberikan otoritas kepada pihak mana pun untuk meminta uang, membuka akses, memfasilitasi, maupun berbicara atas nama lembaga terkait operasional SPPG tanpa kewenangan resmi.

Sikap tersebut menunjukkan pentingnya menjaga integritas dalam pelaksanaan MBG. Program sebesar MBG membutuhkan tata kelola yang transparan agar tidak membuka ruang bagi praktik penyalahgunaan kewenangan. Setiap pihak yang terlibat harus bekerja berdasarkan mekanisme yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, keberanian untuk melaporkan dugaan penyimpangan menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap program pemerintah.

Sudaryono menekankan bahwa sejumlah insiden keamanan pangan yang pernah terjadi harus menjadi pelajaran penting bagi seluruh pengelola program. Setiap kasus yang berkaitan dengan kesehatan penerima manfaat tidak boleh dianggap sebagai persoalan kecil. Karena itu, disiplin dalam menjalankan SOP menjadi salah satu fondasi utama untuk mencegah terjadinya kesalahan dalam proses penyediaan makanan.

Kepala SPPG diwajibkan memastikan standar penyimpanan bahan pangan dilaksanakan dengan benar. Pengawasan juga mencakup penggunaan sarung tangan dalam proses yang membutuhkan standar kebersihan, pengawasan saat memasak dan pemorsian, hingga penggunaan penutup kepala untuk menjaga higienitas. Seluruh prosedur tersebut merupakan bagian dari upaya membangun sistem keamanan pangan yang konsisten dari dapur hingga makanan diterima oleh masyarakat.

Pemerintah bahkan menyiapkan sanksi tegas bagi Kepala SPPG yang tidak menjalankan tanggung jawabnya. Sudaryono menyatakan bahwa Kepala SPPG yang tidak hadir di dapur selama 10 hari berturut-turut dapat diberhentikan secara tidak hormat. Kebijakan tersebut menegaskan bahwa jabatan Kepala SPPG bukan sekadar posisi administratif, melainkan amanah dengan tanggung jawab besar terhadap keselamatan penerima manfaat.

Ketegasan tersebut juga tercermin dalam hasil evaluasi pemerintah terhadap ribuan SPPG yang telah beroperasi di berbagai wilayah Indonesia. Pemerintah melakukan evaluasi terhadap 27.485 SPPG sebagai bagian dari upaya memastikan perluasan program tidak mengorbankan standar pelayanan. Dari hasil evaluasi tersebut, pemerintah mengambil langkah penertiban terhadap unit-unit yang dinilai tidak memenuhi persyaratan.

Sebanyak 455 SPPG direncanakan ditutup secara permanen karena tidak memenuhi persyaratan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Penutupan tersebut menjadi pesan penting bahwa peningkatan jumlah dapur MBG harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pelayanan.

Penertiban tidak berhenti pada aspek kelembagaan. Pemerintah juga telah memberhentikan 249 Kepala SPPG akibat berbagai pelanggaran. Pelanggaran tersebut mencakup persoalan keamanan pangan, dugaan phishing, ketidakhadiran lebih dari 10 hari kerja, serta berbagai bentuk pelanggaran disiplin lainnya.

Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah menerapkan prinsip pertanggungjawaban secara nyata. Ketika terdapat pelanggaran, evaluasi tidak hanya dilakukan terhadap sistem, tetapi juga terhadap pihak yang memiliki tanggung jawab langsung dalam pelaksanaan operasional. Dengan demikian, disiplin menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari standar profesionalisme pengelola MBG.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa perluasan Program MBG tidak boleh mengabaikan standar pelayanan dan keamanan pangan. Pesan tersebut menjadi penting karena program berskala nasional membutuhkan keseimbangan antara percepatan pelaksanaan dan kualitas pengawasan. Pemerintah tidak ingin perluasan jangkauan program justru menimbulkan risiko akibat lemahnya penerapan standar.

Kebijakan disiplin Kepala SPPG merupakan bagian dari upaya membangun budaya kerja baru dalam penyelenggaraan layanan publik. Program yang menyangkut kebutuhan dasar masyarakat harus dikelola dengan standar tinggi, profesional, dan penuh tanggung jawab. Tidak ada ruang bagi kelalaian ketika yang dipertaruhkan adalah kesehatan penerima manfaat.

Ketegasan pemerintah dalam menutup dapur yang tidak memenuhi standar serta memberhentikan pengelola yang melakukan pelanggaran menjadi bukti bahwa perbaikan program terus dilakukan secara serius. Evaluasi dan penindakan bukan tanda kegagalan sebuah program, melainkan bagian dari proses memperkuat sistem agar semakin baik dan terpercaya.

Melalui disiplin yang diperketat, pengawasan yang diperkuat, serta sanksi yang diterapkan secara tegas, pemerintah berupaya memastikan Program MBG terus berjalan dengan standar mutu yang semakin tinggi. Keselamatan, kebersihan, dan kualitas makanan harus menjadi prioritas utama. Dengan komitmen tersebut, MBG diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi contoh bahwa negara serius membangun sistem pelayanan publik yang profesional, bertanggung jawab, dan berpihak pada kepentingan rakyat.
*) Pemerhati kebijakan pemerintah

Pemerintah Tepat Mendisiplinkan SPPG agar MBG Tidak Berjalan Asal-asalan

Oleh: Revan Ananda )*

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu agenda strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak. Dengan cakupan program yang luas, pelaksanaannya membutuhkan tata kelola yang kuat, standar pelayanan yang jelas, serta pengawasan berkelanjutan. Karena itu, langkah pemerintah dalam mendisiplinkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) penting untuk memastikan MBG tidak sekadar mengejar jumlah penerima manfaat, tetapi juga memperhatikan keamanan, kualitas, dan kelayakan makanan.

Penguatan disiplin menjadi semakin penting seiring bertambahnya jumlah SPPG dan luasnya wilayah pelaksanaan MBG. Setiap unit memiliki tanggung jawab besar karena berhubungan langsung dengan makanan yang dikonsumsi masyarakat. Kesalahan dalam pengadaan bahan, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi dapat berdampak terhadap penerima manfaat. Penerapan standar operasional prosedur (SOP) karena itu tidak dapat dipandang sebagai formalitas, melainkan menjadi fondasi untuk menjaga kualitas pelayanan.

Pengawasan terhadap pelaksanaan MBG menunjukkan bahwa persoalan yang ditemukan di lapangan mendapat perhatian dan menjadi bahan evaluasi. Langkah pemerintah mengevaluasi terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program strategis nasional Presiden menunjukkan komitmen yang serius.

Masukan dari berbagai pihak untuk melakukan pemantauan langsung di sejumlah daerah dan mengevaluasi pelaksanaan MBG menjadi koreksi yang positif bagi pemerintah. Fakta menemukan adanya pelaksanaan yang berjalan kurang baik, masih terdapat persoalan, khususnya kasus keracunan makanan. Atas temuan tersebut, mereka merekomendasikan BGN menutup secara permanen Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terbukti menyebabkan keracunan, sekaligus memperkuat koordinasi antarpihak dalam penyelenggaraan program MBG.

Rekomendasi tersebut menunjukkan bahwa evaluasi dan penindakan merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan program. Ketika terdapat unit yang tidak menjalankan standar secara benar, tindakan korektif diperlukan agar persoalan tidak berulang dan tidak memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap keseluruhan MBG. Penutupan SPPG yang terbukti menyebabkan keracunan juga dapat menjadi bentuk penegakan standar sekaligus pembelajaran bagi unit lainnya.

Keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan oleh banyaknya makanan yang berhasil disalurkan. Program berskala nasional membutuhkan kualitas pelaksanaan yang konsisten di setiap daerah. Penerima manfaat membutuhkan makanan yang tersedia tepat waktu, bergizi, higienis, aman, dan diproses melalui prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, penerapan SOP perlu dilakukan sejak pemilihan bahan baku, pemeriksaan kualitas, kebersihan dapur, pengolahan, pengemasan, hingga distribusi.

Ketegasan terhadap pelanggaran menjadi bagian dari pembenahan tata kelola. Kepala BGN, Sudaryono mengatakan akan memberikan sanksi tegas kepada pihak SPPG yang terbukti melanggar SOP, ketentuan hukum, maupun menyebabkan kejadian fatal dalam pelaksanaan program MBG. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya BGN memperbaiki tata kelola serta memastikan penerapan SOP berjalan sesuai ketentuan. Sudaryono mengakui masih terdapat oknum di sejumlah SPPG yang melakukan pelanggaran, namun menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak dapat mewakili kinerja mayoritas SPPG yang telah menjalankan tugas sesuai aturan.

Sikap tegas tersebut memperlihatkan bahwa keselamatan penerima manfaat menjadi bagian penting dalam pelaksanaan MBG. SPPG yang menjalankan tugas sesuai ketentuan perlu terus didukung untuk meningkatkan pelayanan, sementara unit yang melakukan pelanggaran harus menjalani evaluasi dan menerima sanksi sesuai tingkat kesalahannya. Dengan demikian, penegakan aturan tidak hanya menjadi instrumen penindakan, tetapi juga mendorong terbentuknya budaya kerja yang lebih bertanggung jawab.

Pembenahan juga perlu dilakukan melalui penguatan standar higienitas dan keamanan pangan. Kebersihan tempat pengolahan, kualitas bahan makanan, sanitasi, serta kedisiplinan tenaga pengolah merupakan faktor penting untuk memastikan makanan yang diterima masyarakat berada dalam kondisi aman. Pengawasan berkala dapat membantu menemukan potensi persoalan lebih awal sehingga langkah perbaikan dapat segera dilakukan.

Pelaksanaan MBG juga membutuhkan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Pemerintah pusat memiliki peran dalam menetapkan standar dan memastikan kebijakan berjalan secara nasional, sedangkan pemerintah daerah memiliki pemahaman mengenai kondisi serta karakteristik wilayah masing-masing. Sinergi antara BGN, pemerintah daerah, dinas terkait, SPPG, dan unsur pengawasan dapat membuat pemantauan lebih efektif serta mempercepat penanganan apabila ditemukan persoalan.

Adanya pelanggaran pada sebagian SPPG juga tidak seharusnya menjadi gambaran terhadap keseluruhan pelaksanaan MBG. Penindakan terhadap unit bermasalah justru menunjukkan adanya mekanisme untuk menjaga kualitas program sekaligus melindungi SPPG yang telah menjalankan tugas sesuai ketentuan. Evaluasi setiap kejadian juga dapat menjadi bahan untuk memperbaiki prosedur dan memperkuat sistem pencegahan.

Transparansi dalam penanganan persoalan turut diperlukan untuk menjaga kepercayaan publik. Masyarakat perlu mengetahui bahwa terdapat standar keamanan yang harus dipenuhi dan mekanisme pengawasan terhadap pelaksana MBG. Respons yang cepat dan terukur terhadap pelanggaran dapat memperlihatkan bahwa pemerintah menempatkan kualitas dan keselamatan penerima manfaat sebagai prioritas.

Dengan penerapan SOP yang konsisten, pengawasan berlapis, koordinasi antarpihak, serta sanksi terhadap pelanggaran serius, MBG dapat semakin kuat sebagai program pelayanan publik. Pembenahan terhadap SPPG menjadi langkah penting agar manfaat program benar-benar diterima masyarakat secara optimal. Ketegasan pemerintah dalam menjaga standar pada akhirnya dapat memperkuat pelaksanaan MBG sekaligus memastikan tujuan peningkatan gizi dan kualitas sumber daya manusia tetap menjadi prioritas.

)* Pemerhati Masalah Sosial

RUU Perampasan Aset Menjadi Jalan Baru Melawan Korupsi yang Makin Canggih

Oleh: Rania Zafirah )*

Pemberantasan korupsi menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring berkembangnya modus kejahatan dan cara pelaku menyembunyikan hasil tindak pidana. Korupsi tidak lagi hanya berkaitan dengan pemberian uang secara langsung, tetapi dapat melibatkan jaringan luas, pemindahan aset, penggunaan pihak lain, hingga penyamaran kepemilikan kekayaan. Kondisi tersebut membuat penindakan terhadap pelaku perlu diikuti strategi untuk memastikan hasil kejahatan dapat ditelusuri dan dikembalikan kepada negara.

Dalam konteks tersebut, Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset menjadi instrumen yang relevan untuk memperkuat pemberantasan korupsi. Regulasi ini diharapkan melengkapi perangkat hukum yang telah tersedia, terutama ketika aset hasil tindak pidana sulit dijangkau melalui mekanisme penindakan konvensional. Ketika pelaku semakin mampu mengalihkan atau menyembunyikan kekayaan, negara membutuhkan mekanisme hukum yang efektif untuk melacak dan mengamankan aset tersebut.

Pembahasan RUU Perampasan Aset oleh DPR RI menjadi bagian dari proses menghadirkan landasan hukum yang lebih kuat. Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman mengatakan telah menargetkan pembahasan dan pengesahan regulasi tersebut dapat dirampungkan pada akhir 2026. Proses pembahasan tetap memperhatikan aspek kehati-hatian, kepastian hukum, serta masukan dari berbagai pihak. Percepatan diperlukan agar regulasi dapat segera hadir, namun kualitas dan ketepatan setiap ketentuan tetap harus menjadi perhatian.

Pentingnya regulasi tersebut berkaitan dengan kebutuhan memastikan hasil tindak pidana tidak tetap berada di tangan pelaku atau pihak lain. Pengesahan RUU Perampasan Aset penting untuk memperkuat upaya pemberantasan korupsi, termasuk melalui pemiskinan koruptor. Regulasi tersebut dapat menutup celah dalam pengembalian aset hasil korupsi yang selama ini sulit dijangkau, terutama ketika pelaku melarikan diri, meninggal dunia, atau proses hukum berlangsung lama sehingga aset telah dialihkan maupun disamarkan. RUU Perampasan Aset menjadi terobosan penting dalam pemberantasan korupsi apabila didukung pengawasan ketat dan kelembagaan yang kuat.

Perampasan aset memiliki arti strategis karena pemberantasan korupsi tidak cukup hanya berorientasi pada pemidanaan pelaku. Hukuman penting sebagai bentuk pertanggungjawaban, tetapi pemulihan kerugian negara juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Tanpa mekanisme pengembalian aset yang efektif, hasil kejahatan berpotensi tetap berada di tangan pelaku atau pihak lain meskipun proses pidana telah berjalan.

Persoalan tersebut semakin rumit ketika aset telah dipindahkan atau disamarkan. Kekayaan hasil tindak pidana dapat dialihkan kepada pihak lain, ditempatkan dalam berbagai bentuk investasi, atau diubah menjadi aset dengan kepemilikan yang sulit dilacak. Proses hukum juga dapat menghadapi kendala apabila pelaku melarikan diri, meninggal dunia, atau proses peradilan berlangsung lama. Karena itu, pendekatan pemberantasan korupsi perlu memperhatikan keberadaan aset, bukan hanya keberadaan pelaku.

Dengan mekanisme perampasan aset yang dirancang secara tepat, negara memiliki peluang lebih besar untuk mengejar hasil kejahatan sekaligus mempersempit ruang bagi pelaku menikmati kekayaan yang diperoleh secara ilegal. Kebijakan tersebut juga dapat memberikan efek pencegahan karena pelaku tidak hanya menghadapi risiko kehilangan kebebasan, tetapi juga kehilangan manfaat ekonomi dari tindak pidana.

Namun, efektivitas RUU Perampasan Aset harus dibangun di atas prinsip hukum yang kuat. Perampasan harta menyangkut hak kepemilikan warga negara sehingga prosedur yang jelas, mekanisme pembuktian yang terukur, pengawasan, serta kesempatan bagi pihak berkepentingan memberikan klarifikasi menjadi unsur penting. Kepastian tersebut diperlukan agar kewenangan negara tetap digunakan secara tepat sasaran dan berada dalam koridor hukum.

Proses penyusunan RUU yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan menjadi bagian penting untuk memastikan keseimbangan tersebut. DPR RI melalui Komisi III terus menyerap aspirasi dan masukan melalui rapat dengar pendapat umum. Partisipasi masyarakat, akademisi, praktisi hukum, aparat penegak hukum, serta kelompok terkait dapat memperkaya substansi sekaligus mengidentifikasi potensi persoalan sebelum regulasi diberlakukan.

Aspek pemulihan aset juga memiliki arti penting bagi negara. Kekayaan yang berhasil dikembalikan dapat menjadi bagian dari pemulihan kerugian akibat tindak pidana dan memberikan manfaat bagi kepentingan publik. Dengan demikian, pemberantasan korupsi tidak berhenti pada proses hukum terhadap pelaku, tetapi juga memastikan sumber daya yang semestinya menjadi hak negara dapat kembali digunakan untuk kepentingan masyarakat.

Kehadiran RUU Perampasan Aset dapat menjadi bagian dari pembaruan strategi pemberantasan korupsi di Indonesia. Perkembangan teknologi dan sistem keuangan membuat cara menyembunyikan kekayaan semakin beragam sehingga pendekatan penegakan hukum perlu terus menyesuaikan diri. Negara membutuhkan instrumen yang mampu menghadapi pola kejahatan yang terus berkembang.

Pembahasan RUU Perampasan Aset yang diarahkan selesai pada akhir 2026 menjadi momentum untuk memperkuat fondasi pemberantasan korupsi. Proses yang melibatkan berbagai masukan diharapkan memastikan setiap ketentuan memiliki dasar yang kuat, sementara pengawasan dan kesiapan kelembagaan menjadi penopang implementasinya.

Pemberantasan korupsi membutuhkan lebih dari sekadar penindakan terhadap pelaku. Negara perlu memastikan hasil kejahatan tidak mudah disembunyikan, dipindahkan, atau dinikmati pelaku dan jaringannya. Dengan kepastian hukum, pengawasan ketat, kelembagaan kuat, serta mekanisme perlindungan hak yang memadai, RUU Perampasan Aset berpotensi menjadi instrumen penting untuk mempersempit ruang gerak korupsi sekaligus memastikan hasil kejahatan dapat dikembalikan bagi kepentingan publik.

*) Penulis adalah Content Writer di Biro Kajian Hukum Indonesia

RUU Perampasan Aset: Babak Baru Perang Negara Melawan Korupsi Modern

Oleh: Dhita Karuniawati )*

Pemberantasan korupsi memasuki babak baru. Negara tidak lagi cukup hanya mengejar pelaku dan menjatuhkan hukuman, tetapi juga harus memastikan hasil kejahatan tidak tetap dinikmati, disembunyikan, atau dialihkan melalui berbagai bentuk aset. Arah tersebut tercermin dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset yang kini memasuki tahap penting di DPR.

Komisi III DPR RI mengusulkan 13 jenis tindak pidana yang dapat dikenai mekanisme perampasan aset. Cakupannya tidak hanya korupsi, tetapi juga narkotika dan psikotropika, terorisme, penyelundupan manusia, penyelundupan senjata, amunisi dan bahan berbahaya, kehutanan, lingkungan hidup, perpajakan, perbankan, perasuransian, pertambangan, kelautan dan perikanan, serta perdagangan orang.

Perluasan tersebut menunjukkan bahwa perang terhadap korupsi modern tidak dapat dilakukan dengan pendekatan konvensional. Kejahatan ekonomi semakin kompleks karena hasil kejahatan dapat disamarkan melalui rekening, perusahaan, properti, investasi, maupun berbagai bentuk kekayaan lainnya. Karena itu, keberhasilan penegakan hukum tidak hanya diukur dari banyaknya pelaku yang dipidana, tetapi juga dari kemampuan negara mengembalikan aset yang berasal dari tindak pidana.

Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, mengatakan bahwa daftar 13 tindak pidana tersebut disusun melalui riset, pendalaman, serta perbandingan dengan mekanisme perampasan aset di sejumlah negara. Para ahli mendorong agar mekanisme perampasan aset tanpa melalui putusan pidana atau non-conviction based forfeiture dibatasi pada tindak pidana bermotif ekonomi, merugikan negara dan masyarakat luas, atau memiliki tingkat keseriusan serta dampak ekonomi yang besar.

RUU Perampasan Aset memiliki posisi strategis dalam memperkuat pendekatan follow the money. Negara tidak berhenti pada pertanyaan mengenai siapa pelakunya, tetapi menelusuri dari mana keuntungan ilegal berasal, ke mana dialihkan, siapa yang menguasai, serta bagaimana aset tersebut dapat dikembalikan kepada negara atau masyarakat.

Pendekatan tersebut semakin relevan karena korupsi tidak berdiri sendiri. Kejahatan yang menghasilkan keuntungan ilegal dapat berkaitan dengan pertambangan, kehutanan, lingkungan hidup, perpajakan, perbankan hingga perdagangan orang. Ketika keuntungan dari kejahatan dapat diubah menjadi aset yang tampak legal, penindakan terhadap pelaku saja tidak cukup untuk memutus rantai ekonomi kejahatan.

Namun, kewenangan besar harus disertai pengawasan yang kuat. Habiburokhman mengingatkan agar aturan perampasan aset tidak berubah menjadi instrumen kekuasaan untuk memeras masyarakat, mengriminalisasi lawan politik, atau membungkam pihak yang kritis. Karena itu, Komisi III mendorong formula pengawasan yang memungkinkan aparat penegak hukum yang menyalahgunakan kewenangan dikenai sanksi etik, profesi maupun pidana.

Peringatan tersebut menjadi bagian penting dalam agenda pemberantasan korupsi. Negara memang membutuhkan kewenangan kuat untuk mengambil kembali hasil kejahatan, tetapi kewenangan tanpa pengawasan dapat menciptakan risiko baru. RUU ini harus mampu membangun keseimbangan antara efektivitas pemberantasan kejahatan dan perlindungan terhadap hak masyarakat.

Dimensi teknis juga menjadi perhatian. Akademisi Hukum Universitas Negeri Surabaya, Aditya Wiguna Sanjaya, menyoroti persoalan penilaian aset hasil tindak pidana yang tidak memiliki harga pasar. Ia mencontohkan perdagangan tumbuhan dan satwa liar seperti harimau atau gajah yang dapat menjadi objek tindak pidana, tetapi tidak memiliki harga pasar yang dapat dijadikan patokan ketika aset harus dinilai atau dikelola.

Catatan tersebut menunjukkan bahwa perang melawan kejahatan ekonomi tidak cukup hanya dengan memberikan kewenangan perampasan. Negara membutuhkan sistem pengelolaan aset yang profesional, mekanisme valuasi yang jelas, standar pembuktian yang kuat, serta prosedur yang memastikan aset hasil kejahatan benar-benar memberikan manfaat bagi negara.

Pembahasan RUU juga menyentuh mekanisme perampasan aset tanpa putusan pidana, pembuktian, perlindungan pihak ketiga yang memiliki aset secara sah, hingga pengelolaan aset yang telah dirampas. Standar yang jelas diperlukan agar negara tidak dipersepsikan dapat mengambil aset seseorang hanya berdasarkan dugaan.

Komisi III DPR menargetkan pembahasan RUU Perampasan Aset dapat diselesaikan pada 2026. Proses tersebut membutuhkan perumusan cermat karena konsep perampasan aset merupakan pendekatan yang relatif baru dalam sistem hukum Indonesia. Komisi III juga berencana memperbanyak forum dengar pendapat untuk memastikan partisipasi publik dalam penyusunan regulasi.

RUU Perampasan Aset bukan sekadar regulasi mengenai penyitaan kekayaan. Regulasi ini berpotensi mengubah paradigma pemberantasan korupsi di Indonesia. Jika selama ini fokus utama berada pada pelaku, babak baru tersebut menempatkan hasil kejahatan sebagai sasaran utama yang harus dikejar.

Paradigmanya sederhana tetapi strategis yakni kejahatan tidak boleh menghasilkan keuntungan. Ketika hasil korupsi, narkotika, kejahatan lingkungan, pertambangan ilegal, kejahatan perpajakan, atau tindak pidana ekonomi lainnya dapat dirampas secara sah dan dikembalikan kepada negara, insentif ekonomi untuk melakukan kejahatan ikut dipukul.

Keberhasilan RUU Perampasan Aset tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa besar kewenangan negara dalam merampas aset. Ukuran utamanya adalah kemampuan negara memutus hubungan antara kejahatan dan keuntungan, memulihkan kerugian publik, sekaligus menjaga kepastian hukum.

RUU Perampasan Aset menjadi babak baru perang negara melawan korupsi modern. Pelaku dapat dipenjara, tetapi keuntungan kejahatan tidak boleh ikut menikmati kebebasan. Negara harus mampu mengejar uang, aset, dan kekayaan yang menjadi bahan bakar kejahatan hingga ke ujung rantainya. Dengan pengawasan kuat dan aturan yang presisi, perampasan aset dapat menjadi senjata penting untuk memastikan korupsi dan kejahatan ekonomi tidak lagi menjadi bisnis yang menguntungkan.

*) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia