Saatnya Menutup Ruang Provokasi 1 Desember Demi Stabilitas Keamanan Papua

Oleh: Helena Weya *)

Menjelang tanggal 1 Desember, ruang publik Indonesia kembali diwarnai berbagai provokasi yang mencoba memanfaatkan momentum tersebut sebagai simbol perlawanan politik. Pola ini muncul berulang setiap tahun, menciptakan ketegangan sosial dan membuka ruang bagi aktor-aktor yang sengaja ingin mengganggu stabilitas nasional. Di tengah upaya pemerintah memperkuat pembangunan Papua dan menegakkan kebijakan afirmatif yang menyentuh lapisan masyarakat, provokasi semacam ini justru berpotensi mengganggu keamanan publik dan menghambat agenda pembangunan. Karena itu, penolakan terhadap provokasi 1 Desember bukan semata-mata sikap politik, melainkan bentuk tanggung jawab sosial untuk memastikan masyarakat tetap hidup dalam suasana damai.

Sikap tegas untuk menjaga stabilitas justru datang dari pihak yang selama ini sering dikaitkan dengan konflik. Panglima TPNPB Kodap I Mamta, Agustinus Kres, menyatakan bahwa wilayah Mamta yang meliputi Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Sarmi, Keerom, hingga Mamberamo Raya harus tetap menjadi zona damai. Ia menegaskan bahwa tidak boleh ada pihak yang memanfaatkan momentum menjelang 1 Desember untuk memicu kekacauan, serta menyampaikan bahwa dokumen mobilisasi massa yang beredar tidak pernah dikeluarkan oleh pihaknya. Penekanannya bahwa siapa pun yang masuk tanpa izin adat dianggap melanggar aturan lokal menunjukkan bahwa masyarakat Papua sendiri menginginkan ruang hidup yang aman tanpa intervensi kelompok eksternal. Sikap ini selaras dengan komitmen pemerintah untuk menjaga Papua tetap kondusif dan fokus pada pembangunan.

Di luar Papua, kekhawatiran tentang provokasi 1 Desember juga muncul dari komunitas yang memiliki kedekatan sosial dengan mahasiswa Papua. Ketua Aliansi Merah Putih Bergerak Jawa Timur, Sahrul Alamsyah, menilai bahwa aktivitas kelompok tertentu di Surabaya kerap membawa narasi yang dekat dengan agenda separatis. Ia memandang bahwa isu tersebut bukan sekadar bentuk ekspresi, tetapi dapat disusupi aktor yang tidak menginginkan stabilitas nasional. Kekhawatiran ini penting karena Surabaya merupakan salah satu wilayah dengan populasi mahasiswa Papua terbesar, dan setiap provokasi menjelang 1 Desember berpotensi mengganggu kenyamanan mereka dalam menempuh pendidikan. Narasi ini menegaskan bahwa ruang kampus dan ruang publik harus dijaga dari ajakan yang membelokkan orientasi generasi muda.

Sikap serupa juga disampaikan Koordinator Aliansi Merah Putih Bergerak di Makassar, Zainal Azis. Ia memandang bahwa kelompok yang berbicara atas nama “aspirasi 1 Desember” sering kali menciptakan keresahan publik dan membuka celah gesekan sosial. Menurutnya, kegiatan tersebut cenderung menggunakan tema demokrasi sebagai pembungkus, namun substansinya berpotensi memengaruhi mahasiswa Papua yang sedang membangun masa depan. Penekanannya bahwa agenda provokatif tidak boleh mengorbankan stabilitas sosial sejalan dengan pendekatan pemerintah yang terus memperluas ruang dialog, memperkuat kebijakan afirmatif, serta memastikan mahasiswa Papua mendapatkan perlindungan selama menempuh pendidikan di seluruh Indonesia.

Pernyataan dari berbagai komunitas di luar Papua tersebut menggambarkan bahwa isu 1 Desember bukan lagi persoalan lokal, melainkan fenomena nasional yang dampaknya dapat terasa di berbagai daerah. Pemerintah selama ini sudah menegakkan instrumen dialog, pembangunan, dan perlindungan warga negara untuk mengurangi sumber konflik. Provokasi yang mencoba menghidupkan kembali sentimen separatis jelas bertentangan dengan kepentingan publik yang menginginkan ketenangan dan kepastian sosial.

Menariknya, penolakan terhadap provokasi menjelang 1 Desember tidak hanya datang dari kelompok masyarakat dan aparat keamanan, tetapi juga dari pemerintah daerah di Papua. Sekretaris Daerah Papua Selatan, Ferdinandus Kainakaimu, menyampaikan bahwa pemerintah setempat memilih menjadikan Desember sebagai momentum kemeriahan Natal. Penekanannya bahwa masyarakat diajak untuk menyambut bulan damai tersebut dengan kegiatan positif menunjukkan bahwa pemerintah daerah memahami pentingnya menjaga energi sosial tetap konstruktif. Kebijakan semacam ini sejalan dengan upaya pemerintah pusat yang memprioritaskan pembangunan Papua melalui sektor pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan pemberdayaan ekonomi.

Ketua Panitia Natal Bersama Pemerintah dan Aparat Keamanan di Papua Selatan, Willem da Costa, juga mendorong agar perayaan Natal berlangsung meriah di seluruh wilayah. Pesan tersebut memperkuat narasi bahwa masyarakat Papua sendiri ingin bergerak menuju agenda kebersamaan, bukan konflik. Ketika seluruh unsur masyarakat bersuara konsisten menolak provokasi, maka jelas bahwa upaya memancing kekacauan pada 1 Desember tidak lagi relevan.

Sementara itu, pendekatan pemerintah terhadap isu ini selalu mengedepankan kebijakan yang persuasif namun tegas. Aparat keamanan menjaga area publik dengan pendekatan humanis agar tidak ada provokasi yang mengarah pada kekerasan. Pemerintah memastikan bahwa kebebasan berekspresi tetap dijamin selama tidak berubah menjadi ancaman terhadap ketertiban. Pendekatan ini penting untuk menunjukkan bahwa negara hadir dengan cara yang melindungi masyarakat sekaligus menjaga ruang demokrasi tetap berada pada koridor hukum.

Provokasi 1 Desember tidak boleh lagi menjadi panggung bagi aktor-aktor yang mengutamakan konflik. Dengan memperkuat narasi damai dan mengedepankan kepentingan masyarakat, Indonesia dapat memastikan bahwa Papua terus bergerak menuju masa depan yang lebih sejahtera. Saat negara dan masyarakat memiliki tujuan yang sama, maka upaya merawat stabilitas bukan hanya memungkinkan, tetapi menjadi fondasi bagi kemajuan bersama.

*) Aktivis Pemuda Papua

Pengamanan Diperkuat, Masyarakat Papua Diimbau Tidak Terprovokasi Aksi 1 Desember

SORONG – Aparat keamanan di Papua Barat Daya meningkatkan kewaspadaan untuk memastikan stabilitas tetap terjaga. Di Sorong, langkah preventif dilakukan melalui perluasan patroli, penguatan koordinasi, dan penempatan personel pada titik-titik strategis yang dianggap rawan. Upaya ini menjadi bagian dari antisipasi rutin terhadap potensi provokasi yang kerap muncul pada momentum 1 Desember.

Kabag Ops Polresta Sorong Kota Kompol, Andi Muhammad Nurul Yaqin menyampaikan bahwa patroli dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan kekuatan gabungan dari Polda dan TNI.

“Patroli difokuskan pada kawasan permukiman, gang atau lorong, serta tempat-tempat keramaian yang berpotensi menimbulkan gangguan kamtibmas,” ujar Kompol Andi Muhammad Nurul Yaqin.

Situasi lapangan yang dilaporkan jajaran intelijen menunjukkan Kota Sorong dalam kondisi terkendali. Meskipun demikian, langkah mitigasi tetap diperketat sebagai bentuk kehati-hatian menghadapi momentum yang kerap dikaitkan dengan agenda kelompok tertentu.

“Situasi kamtibmas di Kota Sorong masih kondusif. Rekan-rekan intel terus bergerak dan memantau perkembangan,” kata Kompol Andi.

Personel gabungan melakukan patroli skala besar untuk memastikan aktivitas masyarakat berjalan normal tanpa gangguan. Penempatan anggota dilakukan pada jam-jam rawan di berbagai titik mobilitas, termasuk ruang publik dan jalur antarkampung.

“Untuk pengamanan di wilayah Kota Sorong, kami tetap melakukan patroli dan penjagaan di titik yang diperlukan. Ini bagian dari upaya menjaga Harkamtibmas,” jelas Kompol Andi.

Selain langkah teknis, edukasi publik juga ditekankan. Kompol Andi mengimbau warga tetap menjaga ketertiban lingkungan dan berperan aktif mendukung suasana aman.

“Jadi bukan hanya tugas kepolisian atau TNI, masyarakat juga memiliki tanggung jawab menciptakan situasi kondusif di Sorong Kota,” ujar Kompol Andi.

Ia menambahkan pentingnya partisipasi warga dalam pelaporan jika menemukan potensi gangguan.

“Jika warga menemukan dugaan gangguan keamanan, segera laporkan kepada Polresta Sorong Kota. Patroli tetap dijalankan rutin, baik siang maupun malam menggunakan roda dua dan roda empat,” tambah Kompol Andi.

Di Kabupaten Nabire, upaya penguatan kesiapsiagaan turut dilakukan melalui sosialisasi yang digelar Lembaga Masyarakat Adat (LMA) setempat. Kegiatan berlangsung di kediaman Ketua LMA dan dihadiri berbagai unsur masyarakat adat. Sosialisasi ini menekankan pentingnya ketenangan publik serta kewaspadaan terhadap provokasi yang sering muncul pada 1 Desember.

Sekretaris LMA Nabire Gerson Ramandai membuka kegiatan dengan menyoroti peran sentral lembaga adat dalam menjaga harmonisasi sosial.

“LMA memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan masyarakat tetap tenang dan tidak mudah dipengaruhi isu,” ujar Gerson Ramandai.

Materi utama dipaparkan Ketua LMA Nabire Karel Misiro yang menjelaskan bahwa dinamika sosial biasanya meningkat pada periode tersebut. Ia mengajak masyarakat bersikap bijak dan tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

“Masyarakat harus tetap tenang, tidak terprovokasi, dan melapor jika menemukan indikasi gangguan,” tegas Karel Misiro.

Hal ini menunjukkan bahwa penguatan pengamanan dan imbauan untuk tetap tenang merupakan langkah penting dalam menjaga stabilitas keamanan. Kolaborasi aparat, pemerintah daerah, dan masyarakat adat menjadi kunci agar suasana Papua tetap aman, stabil, dan terbebas dari gangguan yang dapat menghambat aktivitas publik.

LMA Nabire Ajak Masyarakat Papua Tolak Provokasi 1 Desember

Nabire — Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kabupaten Nabire mengimbau masyarakat Papua untuk tetap waspada dan menolak segala bentuk provokasi menjelang 1 Desember. Seruan tersebut mengemuka dalam kegiatan sosialisasi peran masyarakat adat dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) yang digelar di kediaman Ketua LMA Nabire, Karel Misiro, pada Kamis (27/11).

Acara yang dihadiri sekitar 50 peserta dari berbagai unsur masyarakat adat itu dibuka oleh Sekretaris LMA Nabire, Gerson Ramandai. Dalam sambutannya, Gerson menegaskan pentingnya kewaspadaan kolektif jelang 1 Desember yang sering menjadi momentum sensitif di Papua. “Masyarakat adat memiliki peran strategis sebagai mitra pemerintah dalam menjaga harmonisasi sosial. Karena itu, seluruh tokoh adat perlu meningkatkan kewaspadaan dan tidak terpengaruh isu-isu yang dapat memecah persatuan,” ujarnya.

Gerson menambahkan bahwa penyebaran informasi yang belum terverifikasi harus dihindari agar situasi tetap kondusif. “Tokoh adat punya kedekatan dengan masyarakat. Ini modal penting untuk menenangkan situasi dan mencegah meluasnya kabar bohong,” tambahnya.

Materi inti disampaikan oleh Ketua LMA Nabire, Karel Misiro. Ia menjelaskan bahwa dinamika menjelang 1 Desember kerap ditandai meningkatnya aktivitas kelompok tertentu yang bisa berpotensi memicu gangguan keamanan. “Biasanya ada unjuk rasa, blokade jalan, hingga pembakaran ban. Kami mengajak masyarakat tetap tenang, tidak terprovokasi, dan segera lapor jika melihat hal-hal yang mencurigakan,” tegas Karel.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak menyebarkan isu yang tidak jelas sumbernya. “Informasi yang tidak benar bisa memperkeruh situasi. Lebih baik cek dulu kebenarannya agar tidak menimbulkan keresahan,” katanya. Karel menambahkan bahwa pemerintah daerah dan aparat keamanan telah meningkatkan pemantauan di sejumlah titik rawan dengan pendekatan persuasif demi memastikan keselamatan publik.

Dalam sesi diskusi, beberapa peserta mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan penutupan sementara toko minuman keras sepanjang bulan Desember untuk mengurangi potensi gangguan keamanan. Usulan tersebut mendapat respons positif dan dinilai sebagai langkah preventif yang dapat mendukung stabilitas sosial. Selain memperkuat tali silaturahmi, kegiatan ini menegaskan komitmen LMA Nabire dalam menjaga ketertiban jelang momen yang dianggap rawan oleh sebagian masyarakat Papua.

LMA Nabire berkomitmen melanjutkan koordinasi dengan pemerintah dan instansi terkait melalui program lanjutan seperti pelatihan keamanan komunitas, dialog rutin, serta pembentukan kelompok pemantau keamanan adat. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan sosial dan memastikan Nabire tetap aman dari berbagai upaya provokasi pada 1 Desember.

Menjaga Stabilitas Tanah Papua, Tolak Provokasi 1 Desember Demi Kedamaian

Oleh: Yohana Yobe*

Menjelang 1 Desember 2025, kewaspadaan di berbagai wilayah Papua kembali menguat. Tanggal tersebut kerap menjadi momentum sensitif yang berpotensi dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk memunculkan provokasi, mengganggu stabilitas keamanan, dan memecah konsentrasi masyarakat yang tengah fokus pada aktivitas sosial, ekonomi, maupun persiapan perayaan Natal. Dalam konteks ini, aparat keamanan, pemerintah daerah, dan tokoh-tokoh masyarakat kembali menegaskan pentingnya menolak berbagai bentuk provokasi yang dapat memicu instabilitas. Papua membutuhkan ruang aman, bukan kegaduhan; yang dibutuhkan masyarakat adalah ketenangan untuk bekerja, belajar, beribadah, dan menikmati kehidupan sehari-hari tanpa rasa cemas.

Komandan Kodim 1710/Mimika, Letkol Inf M. Slamet Wijaya, menegaskan bahwa kondisi keamanan di Kabupaten Mimika relatif terkendali, khususnya di wilayah perkotaan seperti Timika dan sekitarnya. Aparat tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama di distrik-distrik pegunungan seperti Jila, Alama, Hoeya, dan Tembagapura, yang berada dalam kategori rawan terkendali akibat faktor geografis dan kedekatannya dengan wilayah konflik. Penjelasan ini menunjukkan bahwa dinamika keamanan Papua bukanlah situasi yang mengancam secara menyeluruh, melainkan realitas spesifik yang dikelola secara serius oleh aparat keamanan melalui koordinasi terstruktur antara TNI, Polri, TNI AL, dan TNI AU.

Dalam berbagai kesempatan, Letkol Slamet menegaskan bahwa perintah untuk meningkatkan antisipasi bukanlah bentuk militerisasi berlebihan, melainkan langkah untuk memastikan masyarakat tetap dapat beraktivitas seperti biasa tanpa gangguan berarti. Kehadiran aparat di wilayah rawan bukan dimaksudkan untuk menimbulkan ketakutan, tetapi untuk memberi rasa aman serta mencegah potensi gangguan sebelum membesar. Ia menekankan pentingnya kolaborasi masyarakat dalam menjaga keamanan, karena stabilitas tidak dapat bertumpu pada aparat semata. Keterlibatan aktif warga menjadi fondasi kuat bagi terciptanya Papua yang damai dan kondusif.

Situasi di Distrik Jila menjadi salah satu contoh dinamika keamanan yang perlu dikelola dengan pendekatan berlapis. Setelah adanya operasi penindakan terhadap kelompok bersenjata beberapa waktu lalu, aparat tetap siaga mengantisipasi dampak lanjutan. Meski demikian, masyarakat perlu memahami bahwa operasi tersebut ditujukan untuk mengurangi ancaman terhadap warga, bukan untuk mencederai ketenteraman. Letkol Slamet menjelaskan bahwa aparat hadir sebagai pelindung yang bertugas memastikan agar masyarakat tidak menjadi korban provokasi atau tekanan pihak-pihak yang mengedepankan kepentingan ideologis sempit. Penegasan bahwa semua elemen masyarakat merupakan bagian dari NKRI menjadi pesan penting untuk menjaga persatuan di tengah upaya memecah belah yang terus muncul menjelang 1 Desember.

Momentum 1 Desember seringkali memunculkan aktivitas provokatif seperti pengibaran simbol-simbol tertentu, ajakan berunjuk rasa, atau penyebaran hoaks yang dapat memicu ketegangan. Dalam konteks sosial Papua, tindakan semacam ini bukan hanya merugikan masyarakat luas, tetapi juga mencederai semangat persatuan yang selama ini dibangun melalui kerja bersama semua pihak. Karena itu, imbauan untuk tetap tenang, menahan diri, dan tidak mudah terprovokasi menjadi sangat relevan. Masyarakat perlu menghindari penyebaran informasi tanpa verifikasi, karena arus kabar bohong menjelang 1 Desember biasanya meningkat dan berpotensi menciptakan kekacauan.

Di Nabire, Lembaga Masyarakat Adat (LMA) menunjukkan peran strategis dalam menjaga suasana kondusif. Melalui kegiatan sosialisasi yang dipimpin Ketua LMA Nabire, Karel Misiro, para tokoh adat diajak memperkuat harmonisasi sosial, meningkatkan kewaspadaan, serta mendorong warga untuk menyambut bulan Desember yang identik dengan suasana Natal dengan damai dan tertib. Karel menekankan bahwa 1 Desember sering digunakan oleh kelompok tertentu untuk memunculkan dinamika yang dapat mengganggu ketenteraman umum. Karena itu, masyarakat adat perlu menjadi garda depan dalam mengedepankan ketenangan, mencegah provokasi, dan mendukung tugas aparat keamanan.

Sosialisasi tersebut juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi terkait cara menjaga stabilitas. Usulan seperti pembatasan peredaran minuman keras selama Desember menunjukkan bahwa warga pun memiliki kepedulian tinggi untuk menciptakan lingkungan yang aman. Lebih jauh, LMA Nabire merancang program tindak lanjut seperti dialog rutin, pelatihan, hingga pembentukan kelompok pemantau keamanan adat di tingkat kampung. Pendekatan berbasis kearifan lokal ini memperkuat bahwa upaya menjaga keamanan bukan hanya tugas aparat, tetapi kerja gotong royong seluruh komponen masyarakat.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Papua Selatan mendorong terciptanya suasana positif dengan mengajak masyarakat memeriahkan perayaan Natal mulai 1 Desember. Imbauan untuk memasang hiasan dan pernak-pernik Natal di berbagai fasilitas publik mencerminkan komitmen pemerintah membangun atmosfer damai dan penuh kebersamaan. Pendekatan kultural ini menjadi pelengkap terhadap langkah-langkah keamanan yang dilakukan aparat, sehingga masyarakat tetap fokus pada kegiatan sosial yang bernilai positif.

Menolak provokasi 1 Desember bukan sekadar sikap politik, tetapi langkah melindungi masyarakat dari potensi gangguan yang dapat menghambat aktivitas harian dan merusak stabilitas daerah. Papua membutuhkan kedamaian agar pembangunan berjalan, ekonomi tumbuh, dan pelayanan publik menjangkau semua wilayah. Setiap individu memiliki peran untuk memastikan hal itu terwujud. Dengan sinergi aparat keamanan, pemerintah daerah, lembaga adat, dan seluruh masyarakat, Papua dapat melewati 1 Desember dengan aman, damai, dan penuh harapan menuju masa depan yang lebih baik.

*Penulis merupakan Jurnalis dan Pemerhati Perdamaian Papua

Langkah Cepat Pemerintahan Prabowo–Gibran Sukses Perkuat Infrastruktur dan Pelayanan Publik di Papua

PAPUA – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terus mendapat apresiasi luas atas komitmen kuat dalam mempercepat pembangunan Papua. Langkah-langkah strategis yang ditempuh pemerintah tidak hanya memperkuat stabilitas ekonomi nasional, tetapi juga menghadirkan perhatian khusus bagi pemerataan pembangunan di kawasan timur Indonesia.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegaskan bahwa situasi ekonomi nasional berada dalam tren positif, yang menjadi fondasi bagi keberhasilan pembangunan daerah, termasuk Papua.

“Inflasi nasional berada pada posisi terkendali dengan year-on-year 2,86 persen. Artinya cukup terkendali baik, terutama sektor pangan yang menjadi penyeimbang deflasi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa berbagai kebijakan pemerintah berhasil menstabilkan harga pangan pokok. “Harga beras sudah mengalami perbaikan signifikan dan keluar dari daftar pangan bermasalah. Ini tertangani baik oleh kementerian terkait dan pemerintah daerah,” jelas Tito.

Stabilitas harga tersebut turut mendukung program pembangunan manusia, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang juga dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di Papua.

Tito juga melaporkan kemajuan koordinasi antara pusat dan daerah, termasuk penguatan dukungan untuk percepatan pembangunan Papua. Presiden Prabowo disebut memberikan perhatian khusus agar seluruh program berjalan cepat, tepat, dan menyentuh kebutuhan masyarakat.

“Kita mendorong agar belanja daerah bisa optimal sehingga pembangunan dapat dipercepat,” tegasnya.

Di sisi lain, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga menegaskan pentingnya pelibatan generasi muda dalam memperkuat pembangunan Papua. Dalam pertemuan dengan PP Pemuda Katolik, Gibran menyampaikan pesan bahwa pembangunan harus dilakukan secara inklusif dan melibatkan berbagai elemen bangsa. Pesan itu disampaikan kembali oleh Ketua Umum PP Pemuda Katolik, Stefanus Gusma.

“Pemuda lintas agama harus membantu menjalin dialog yang efektif dan konsolidasi kebangsaan dalam menjaga persatuan dan kerukunan,” ujarnya.

Pemerintah juga memperlihatkan keberpihakan kuat terhadap tokoh lokal Papua sebagai mitra strategis pembangunan. Yosafat Sani, tokoh intelektual Intan Jaya, menerima sejumlah dukungan seperti pembangunan fasilitas MCK, akses air bersih, dan kendaraan operasional untuk memperkuat pelayanan masyarakat.

“Bantuan ini sangat membantu kami dalam mempercepat pelayanan masyarakat, terutama untuk kebutuhan fasilitas dasar,” tuturnya.

Yosafat juga menegaskan pentingnya menjaga ruang aman bagi pembangunan. “Kami terus mengajak semua pihak memberi ruang bagi pembangunan, karena fasilitas ini kembali untuk kepentingan masyarakat sendiri,” katanya.

Dengan stabilitas ekonomi, sinergi pusat-daerah, pelibatan generasi muda, serta pemberdayaan tokoh lokal, pemerintah Prabowo–Gibran dinilai berhasil menghadirkan optimisme baru dalam pembangunan Papua. Langkah-langkah strategis ini memperkuat harapan akan terwujudnya Papua yang lebih maju, inklusif, dan berkeadilan.

HIPMI Papua Tengah Sampaikan Dukungan dan Apresiasi Pembangunan Era Prabowo–Gibran di Bumi Cenderawasih

Nabire – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Papua Tengah menyampaikan dukungan penuh sekaligus apresiasi terhadap arah kebijakan pembangunan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Komitmen ini ditegaskan sebagai bentuk keselarasan dunia usaha muda Papua dengan visi besar pemerintah dalam mempercepat pemerataan ekonomi dan mendorong bangkitnya pelaku usaha daerah.

Ketua HIPMI Papua Tengah, Yoti Gire, menegaskan bahwa era kepemimpinan Prabowo–Gibran memberikan ruang lebih luas bagi anak muda Papua untuk berkembang dalam sektor usaha produktif. Menurutnya, arah pembangunan yang pro-transformasi ekonomi membuka peluang besar bagi daerah pemekaran seperti Papua Tengah.

“Arah pembangunan nasional dari Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran memberi peluang nyata bagi anak muda Papua untuk maju sebagai pengusaha,” ujar Yoti Gire.

Ia menilai bahwa kebijakan tersebut menjadi angin segar bagi daerah yang tengah memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi.

Yoti juga memberikan apresiasi terhadap perhatian pemerintah pusat terhadap percepatan pembangunan Papua, baik melalui agenda pemerataan ekonomi maupun penguatan sektor-sektor strategis. Sinergi antara pemerintah daerah dan pusat, menurutnya, menjadi kunci mempercepat lahirnya ekosistem usaha yang sehat.

“Saya meyakini dukungan penuh dari Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa semakin selaras dengan visi Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran untuk membangun Papua dari berbagai sektor,” jelas Yoti Gire.

Ia menilai bahwa kolaborasi pemerintah daerah dengan dunia usaha akan memperbesar dampak pembangunan di wilayah tersebut.

Di sisi lain, HIPMI Papua Tengah tengah menyiapkan program peningkatan kapasitas bagi pengusaha muda sebagai bentuk dukungan terhadap visi Prabowo–Gibran untuk memperkuat SDM unggul dan mandiri. Pelatihan kewirausahaan, pembinaan usaha, hingga kelas bisnis di kampus akan diperluas agar semakin banyak anak muda Papua yang mampu bersaing.

“HIPMI adalah rumah besar pengusaha muda, dan pelatihan akan dibuka agar anak muda memiliki pemahaman yang kuat dalam memulai usaha,” ujar Yoti Gire.
Ia menambahkan bahwa langkah ini merupakan kontribusi konkret HIPMI dalam mendukung prioritas pemerintah untuk memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan produktivitas daerah.

Yoti turut menekankan bahwa potensi ekonomi Papua Tengah sangat relevan dengan arah pembangunan Prabowo–Gibran yang menitikberatkan pada penguatan sektor strategis berbasis sumber daya alam dan potensi lokal. Karena itu, HIPMI memperluas fokus pengembangan usaha ke sektor UMKM, pertanian, perkebunan, pariwisata, pertambangan, dan ekonomi kreatif.

“Dalam masa jabatan ini, peningkatan kapasitas anak muda melalui pembinaan berkelanjutan sangat penting, termasuk membuka kelas kewirausahaan dan bekerja sama dengan Kadin serta asosiasi usaha lainnya,” imbuh Yoti Gire.
Ia menyampaikan bahwa program tersebut diharapkan dapat mempercepat terwujudnya pengusaha muda tangguh sesuai dengan visi transformasi ekonomi nasional.

Komitmen yang disampaikan HIPMI tidak hanya mencerminkan kesiapan berkontribusi, tetapi juga menggambarkan tumbuhnya semangat kolaboratif generasi muda Papua dalam mendukung visi besar Prabowo–Gibran menuju Indonesia yang lebih maju dan merata. Dengan sinergi yang terus terjaga, Papua Tengah diharapkan mampu menjadi salah satu motor penggerak pembangunan di kawasan timur Indonesia.

Pemerintahan Prabowo–Gibran Perkuat Fondasi Pembangunan Papua yang Inklusif dan Berkelanjutan

Oleh : Yohanes Wandikbo )*

Pembangunan Papua di era pemerintahan Prabowo–Gibran memasuki fase penting yang ditandai oleh pendekatan yang lebih inklusif, partisipatif, dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Pemerintah tidak hanya fokus membangun infrastruktur fisik, tetapi juga menggerakkan energi sosial melalui pelibatan generasi muda, penguatan budaya lokal, serta strategi keamanan humanis. Berbagai kebijakan yang diambil menunjukkan kesungguhan pemerintah dalam menghadirkan pemerataan dan keadilan pembangunan hingga wilayah paling timur Indonesia. Dukungan luas dari pemimpin nasional hingga tokoh masyarakat Papua semakin menguatkan bahwa pembangunan yang berlangsung saat ini berjalan pada jalur yang tepat dan memberi dampak nyata bagi kesejahteraan rakyat.

Pemerintahan Prabowo–Gibran mempertegas komitmennya dalam membangun Papua secara menyeluruh melalui strategi yang memadukan percepatan pembangunan fisik, penguatan sumber daya manusia, serta pembinaan sosial berbasis dialog dan kerukunan. Dengan menempatkan Papua sebagai prioritas strategis nasional, pemerintah mendorong pendekatan yang membuka ruang partisipasi luas bagi generasi muda, organisasi masyarakat, maupun tokoh adat. Seluruh langkah tersebut menunjukkan bahwa pembangunan Papua bukan sekadar program, tetapi misi besar untuk menghadirkan keadilan dan kesetaraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Arah kebijakan itu kembali ditegaskan oleh Wakil Presiden, Gibran Rakabuming saat menerima audiensi organisasi pemuda lintas agama. Pemerintah mendorong generasi muda untuk menempati posisi strategis dalam proses percepatan pembangunan Papua, terutama melalui dialog inklusif dan konsolidasi kebangsaan. Pelibatan pemuda lintas agama dipandang sebagai elemen penting untuk memperkuat persatuan dan menjaga stabilitas sosial, dua aspek yang menjadi fondasi bagi kemajuan Papua. Dengan membuka ruang kolaborasi bersama Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Papua, pemerintah memastikan bahwa pembangunan tidak berjalan satu arah, melainkan berbasis pada kebutuhan dan aspirasi masyarakat.

Wakil Presiden juga menekankan pentingnya fungsi kontrol publik dari generasi muda untuk memastikan implementasi pembangunan berjalan tepat sasaran. Pemerintah melihat kritik konstruktif sebagai bagian dari demokrasi yang sehat, selama disampaikan dengan data lapangan dan semangat perbaikan. Sejumlah organisasi pemuda pun memperkuat komitmen ini melalui pembentukan struktur khusus yang fokus pada pemberdayaan, edukasi, dan penguatan kapasitas masyarakat Papua. Langkah tersebut sejalan dengan arah pembangunan inklusif yang menjadi fokus pemerintah dalam memastikan Papua berkembang melalui partisipasi masyarakatnya sendiri.

Komitmen pemerintah terhadap pembangunan manusia Papua juga dipertegas oleh Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago dalam kunjungan kerjanya ke Papua Youth Creative Hub. Fasilitas ini menjadi pusat pengembangan kreativitas dan inovasi pemuda Papua, sekaligus wadah bagi mereka untuk membangun kemandirian ekonomi melalui kewirausahaan dan kegiatan produktif lain. Pemerintah menilai pemuda sebagai kekuatan strategis yang dapat mendorong transformasi sosial ekonomi Papua ke level yang lebih maju. Melalui kehadiran fasilitas kreatif tersebut, pemerintah ingin memastikan bahwa pemuda Papua memiliki akses terhadap ruang belajar, berkarya, dan berkembang secara berkelanjutan.

Dalam aspek keamanan, pemerintah memperkuat peran TNI dan Polri sebagai pilar utama yang menjaga stabilitas wilayah. Pendekatan keamanan yang diterapkan bersifat humanis, menggabungkan ketegasan operasi dengan pembinaan masyarakat secara persuasif dan solutif. Pemerintah ingin memastikan bahwa masyarakat Papua merasakan kehadiran negara bukan hanya melalui pengamanan, tetapi juga layanan publik, rasa aman yang berkesinambungan, dan kesempatan yang adil untuk berkembang. Dengan stabilitas yang terjaga, percepatan pembangunan dapat berjalan lebih efektif dan menyentuh wilayah-wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau.

Keberhasilan kebijakan pemerintah juga tercermin dari apresiasi yang datang langsung dari masyarakat. Kepala Suku Mewoluk, Yohanes Murib menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas perhatian dan bantuan pemerintah yang dirasakan nyata oleh warga, terutama melalui pembangunan honai sebagai rumah adat masyarakat Papua. Bantuan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar berupa tempat tinggal, tetapi juga memperkuat identitas budaya dan solidaritas komunitas. Kehadiran program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menghadirkan pembangunan yang berkeadilan.

Harapan masyarakat terhadap pembangunan Papua masih terus berkembang, terutama terkait ketersediaan air bersih, fasilitas permukiman yang layak, dan dukungan berkelanjutan untuk pemberdayaan masyarakat. Namun kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan nasional menjadi modal sosial yang sangat penting. Ketika masyarakat merasakan perhatian dan hasil pembangunan secara konkret, semangat untuk menjaga kedamaian dan mendukung program nasional semakin kuat. Hal ini menciptakan suasana kondusif yang mempercepat pembangunan serta memperkuat hubungan kepercayaan antara pemerintah pusat dan masyarakat Papua.

Seluruh langkah strategis dalam pemerintahan Prabowo–Gibran mencerminkan arah pembangunan Papua yang lebih modern, inklusif, dan berpihak pada masyarakat lokal. Pelibatan pemuda sebagai motor penggerak sosial, penyediaan ruang kreativitas, penguatan identitas budaya, hingga pendekatan keamanan yang humanis, seluruhnya diarahkan untuk memastikan Papua bergerak menuju masa depan yang lebih cerah. Dengan dukungan dari pemerintah pusat, keterlibatan generasi muda, dan kepercayaan masyarakat, pembangunan Papua melaju dalam jalur yang tepat sebagai bagian penting dari perjalanan Indonesia menuju pemerataan dan kemajuan nasional.

)* Penulis merupakan Pengamat Pembangunan Papua

Pembangunan Papua Kian Inklusif: Bukti Keseriusan Pemerintah Hadirkan Keadilan Sosial

Oleh: Loa Murib

Pembangunan Papua menunjukkan arah yang semakin inklusif dan terukur melalui langkah-langkah strategis pemerintah pusat, khususnya setelah terbentuknya Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Papua. Kebijakan ini menegaskan komitmen pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam menghadirkan pemerataan pembangunan dan memperkuat keadilan sosial bagi seluruh masyarakat di Tanah Papua. Upaya tersebut tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga penguatan sumber daya manusia, pemberdayaan ekonomi lokal, dan penguatan partisipasi pemuda lintas agama sebagai elemen penting dalam menjaga stabilitas sosial.

Anggota Komisi II DPR RI, Indrajaya, menilai pembentukan Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Papua sebagai langkah besar yang akan mempercepat pemerataan pembangunan di enam provinsi Papua. Menurut pandangan Indrajaya, komite tersebut menjadi wadah koordinasi penting yang menjembatani kebijakan pusat dengan dinamika di daerah. Ia menekankan bahwa kehadiran komite mampu memastikan seluruh program pembangunan berjalan searah, terintegrasi, dan mampu menghasilkan dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Selain itu, ia menyoroti peran komite sebagai perpanjangan pemerintah pusat yang dapat memantau kondisi di lapangan secara lebih dekat, sehingga setiap agenda pembangunan dapat disesuaikan dengan kebutuhan riil masyarakat Papua.

Indrajaya juga menekankan pentingnya delapan agenda besar dalam kerangka Astacita kontekstual Papua, yang mencakup pembangunan politik, ekonomi, infrastruktur, hingga tata kelola pemerintahan. Baginya, sektor pendidikan dan kesehatan harus menjadi prioritas utama karena menjadi fondasi yang menentukan arah kemajuan Papua. Ia optimistis bahwa dengan koordinasi yang kuat antara pemerintah pusat, daerah, serta komite, Papua akan semakin maju, sejahtera, dan memiliki kualitas hidup masyarakat yang setara dengan wilayah lain di Indonesia.

Secara paralel, pemerintah daerah juga menunjukkan gairah yang sama dalam mendorong pembangunan inklusif. Di wilayah Papua Tengah, Gubernur Meki Nawipa menegaskan bahwa pengusaha muda harus tampil sebagai lokomotif pembangunan. Dalam sebuah forum bersama dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Papua Tengah, Nawipa menilai bahwa pertumbuhan ekonomi daerah tidak mungkin tercapai tanpa peran aktif sektor usaha. Menurutnya, para pelaku usaha muda harus mampu menciptakan peluang kerja, memperkuat sektor UMKM, serta mengembangkan ekonomi berbasis potensi lokal yang menjadi kekuatan khas di Papua Tengah.

Nawipa juga menyampaikan kebanggaannya terhadap kepemimpinan Hipmi Papua Tengah yang kini diisi oleh putra asli daerah, yang menurutnya merupakan capaian bersejarah bagi dunia usaha lokal. Ia memandang bahwa pengusaha muda harus memiliki keberanian dalam memanfaatkan jejaring dan relasi, karena aspek tersebut menjadi modal penting dalam menggerakkan ekonomi. Dengan penguatan kapasitas, inovasi kewirausahaan, dan kolaborasi strategis bersama pemerintah, Nawipa melihat Hipmi berpotensi menjadi mitra kunci dalam mendorong Papua Tengah menuju kemandirian ekonomi dan kesejahteraan berkelanjutan.

Komitmen pemerintah dalam mewujudkan pembangunan inklusif juga terlihat dari peran strategis generasi muda lintas agama. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menegaskan pentingnya keterlibatan pemuda sebagai motor perubahan sekaligus penjaga persatuan sosial di Papua. Dalam pertemuan bersama Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Wapres memberikan perhatian khusus pada penguatan dialog, komunikasi inklusif, dan kolaborasi antarorganisasi kepemudaan. Baginya, stabilitas sosial hanya dapat terbangun bila generasi muda mampu menjaga ruang dialog yang terbuka dan konstruktif dalam keberagaman.

Ketua Umum Pemuda Katolik, Stefanus Gusma, menyampaikan bahwa Wapres memberikan arahan agar organisasi kepemudaan memperkuat koordinasi dengan Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Papua. Pemerintah membuka ruang kolaborasi yang luas agar program-program yang dijalankan pemuda dapat tepat sasaran dan menyentuh kebutuhan masyarakat Papua secara langsung. Di sisi lain, Wapres juga mendorong generasi muda untuk tetap menjalankan fungsi kontrol publik secara sehat, sehingga setiap persoalan di lapangan dapat segera direspons dengan solusi yang efektif.

Pemuda Katolik diketahui telah membentuk Gugus Tugas Papua yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat, edukasi, dan pengembangan kapasitas. Langkah ini sejalan dengan semangat pemerintah dalam mendorong pembangunan yang partisipatif dan berkeadilan. Inisiatif tersebut menegaskan bahwa pembangunan Papua bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga merupakan ruang kolaborasi luas antara dunia usaha, pemuda, organisasi masyarakat, serta masyarakat adat.

Seluruh perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan Papua kini bergerak dalam kerangka yang lebih inklusif, terkoordinasi, dan berbasis kolaborasi. Pemerintah pusat mengambil langkah strategis melalui pembentukan Komite Eksekutif, sementara pemerintah daerah memperkuat peran sektor usaha dan pemberdayaan ekonomi lokal. Di sisi lain, generasi muda lintas agama turut didorong untuk menjadi penggerak stabilitas sosial dan mitra aktif dalam pembangunan.

Arah pembangunan yang semakin progresif ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam mewujudkan keadilan sosial bagi masyarakat Papua. Keterlibatan semua pemangku kepentingan menjadi kunci agar percepatan pembangunan berjalan optimal dan memberikan manfaat nyata. Dengan semangat kolaborasi, Papua berada pada jalur transformasi yang memberi harapan besar bagi masa depan yang lebih sejahtera, mandiri, dan berkelanjutan.

*Penulis adalah Mahasiswa Papua di Jawa Timur

Masyarakat Diimbau Jaga Stabilitas Keamanan Jelang Reuni 212

JAKARTA – Menjelang mencuatnya isu penyelenggaraan reuni kelompok 212, masyarakat kembali diajak menjaga stabilitas keamanan serta tidak mudah terpengaruh ajakan yang berpotensi mengganggu ketertiban umum. Kegiatan publik tetap diperbolehkan selama berlangsung sesuai aturan dan tidak menimbulkan kegaduhan di ruang sosial.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyampaikan bahwa Pemprov DKI mendukung kegiatan warga selama berlangsung tertib dan damai. “Kami menghormati pelaksanaan Reuni Akbar 212, tetapi kami mengimbau agar seluruh peserta menjaga ketenangan, ketertiban, dan kenyamanan publik. Silaturahim dan doa bersama dapat berjalan baik bila semua pihak saling menjaga,” ujarnya.

Ajakan ini disampaikan seiring meningkatnya percakapan publik terkait kegiatan tersebut. Pemerintah berharap masyarakat mengedepankan sikap tenang dan mempertimbangkan ulang ajakan yang berpotensi memicu kerumunan besar, terutama bila berisiko disusupi isu provokatif.

Sebelumnya, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Ace Hasan Syadzily, juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap maraknya provokasi di ruang digital. Ia menekankan bahwa derasnya arus informasi di media sosial kerap dimanfaatkan berbagai pihak untuk menimbulkan kegaduhan. “Pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap derasnya arus informasi di era media sosial,” ucapnya beberapa waktu lalu.

Ace menilai keberadaan aktor-aktor yang tidak menginginkan Indonesia terus maju perlu menjadi perhatian bersama. Ia menyebut ruang digital kerap dijadikan sarana memancing emosi publik. “Banyak pihak yang tidak menginginkan Indonesia maju, (mereka) memanfaatkan ruang digital untuk menyebarkan provokasi,” ungkap Ace.

Pemerintah mengimbau masyarakat tetap jernih menyikapi informasi yang berseliweran, terutama yang mengarah pada ajakan berkumpul dengan narasi provokatif. Masyarakat diharapkan mengutamakan ketenangan dan menjaga suasana kota agar tetap kondusif. Selain itu, aparat bersama pemerintah daerah memastikan aktivitas warga berjalan normal tanpa gangguan, termasuk dari ajakan-ajakan yang dapat mengganggu kestabilan sosial.

Dengan kewaspadaan bersama, pemerintah berharap masyarakat tidak mudah diarahkan oleh narasi yang tidak bertanggung jawab dan mengutamakan ketertiban demi kenyamanan seluruh warga Jakarta. ***

Jelang Reuni 212, Masyarakat Diimbau Untuk Tidak Terprovokasi

JAKARTA – Menjelang rencana penyelenggaraan Reuni 212 di Monas pada 2 Desember 2025, masyarakat diingatkan agar tetap waspada terhadap potensi provokasi dan penyusupan kelompok berkepentingan yang dapat mengganggu stabilitas nasional.

Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap acara tersebut, termasuk adanya kekhawatiran yang disampaikan sejumlah pihak mengenai kemungkinan ditunggangi kelompok berideologi transnasional.

Ketua Umum Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB), AR Waluyo Wasis Nugroho atau Gus Wal, menegaskan acara tersebut bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan berpotensi menjadi momentum konsolidasi kelompok berpaham khilafah, radikalisme, serta jaringan terorisme.

“Kelompok-kelompok terlarang seperti FPI, HTI, hingga simpatisan Ikhwanul Muslimin berpotensi memanfaatkan kegiatan itu untuk menghidupkan kembali agenda mereka,” tegasnya di Solo, Jawa Tengah.

Menurutnya, negara tidak boleh lengah terhadap ruang-ruang yang dapat dimanfaatkan ideologi ekstrem. Ia menilai langkah tegas aparat seperti Densus 88, BNPT, Polri, dan TNI sangat diperlukan untuk mencegah berkembangnya gerakan yang bertentangan dengan Pancasila dan mengancam keselamatan rakyat.

“Negara-negara seperti Malaysia, Arab Saudi, dan Amerika Serikat yang telah lama mengambil langkah keras terhadap kelompok radikal demi mencegah instabilitas sosial,” ujarnya.

Di sisi lain, perwakilan panitia Reuni 212 Buya Husen, menegaskan bahwa acara tahun ini mengusung tema “Revolusi Akhlak untuk Selamatkan Indonesia” dan berkomitmen tertib, damai, dan kondusif. Pihaknya telah menyiapkan koordinasi intensif dengan Polri guna menjaga keamanan, termasuk mengantisipasi potensi gesekan sosial yang mungkin muncul.

“Reuni 212 untuk memperkuat ukhuwah serta menjadi ruang silaturahmi umat Islam, ulama, dan tokoh bangsa. Kerja sama dengan aparat keamanan guna memastikan situasi tetap stabil hingga acara selesai adalah prioritas,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Steering Committee Reuni 212, Ahmad Shobri Lubis, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut akan memperkuat persatuan umat dan tetap mengusung spirit kebangsaan sebagaimana Aksi Bela Islam 2016.

“Panitia bahkan mengundang Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah pejabat negara untuk hadir dalam rangka membangun hubungan harmonis antara pemerintah dan umat,” ucapnya.

Meski panitia memberikan jaminan kondusivitas, pemerintah tetap mengingatkan pentingnya kewaspadaan publik. Potensi penumpang gelap dan penyebaran narasi provokatif di media sosial menjadi ancaman nyata yang harus diantisipasi bersama. Pemerintah menegaskan bahwa kebebasan berkumpul tetap dijamin konstitusi, tetapi tidak boleh dimanfaatkan untuk agenda yang mengancam keutuhan NKRI.

Masyarakat diminta tetap tenang, tidak terpancing informasi provokatif, dan mengutamakan persatuan. Aparat keamanan juga diminta bersiaga memastikan tidak ada celah hukum yang disalahgunakan oleh kelompok berideologi ekstrem.
(*/rls)