Lindungi Keluarga Penerima, Pemerintah Perketat Pengawasan Bansos dari Judi Daring

Menjelang akhir tahun, pemerintah kembali mengimbau masyarakat agar menggunakan bantuan sosial (bansos) sesuai peruntukannya dan tidak menyalahgunakannya untuk aktivitas judi daring atau judi online yang kini semakin marak. Peringatan ini disampaikan menyusul meningkatnya temuan bahwa sejumlah penerima bansos terlibat dalam perjudian online melalui situs ilegal yang menyasar kelompok rentan.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengungkapkan bahwa hasil koordinasi antara Kementerian Sosial dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menunjukkan adanya penyalahgunaan dana bantuan oleh sebagian penerimanya. Ia menyebutkan bahwa jumlah penerima bansos yang teridentifikasi ikut bermain judi daring cukup mengkhawatirkan.

“Data yang kami terima menunjukkan adanya penerima bansos dari beragam latar belakang yang terlibat judi daring,” ujarnya.

Secara nasional, pemerintah juga memantau peningkatan aktivitas judi daring di berbagai daerah. PPATK mencatat Jawa Barat sebagai provinsi dengan jumlah pemain judi online tertinggi, dengan total transaksi deposit mencapai Rp5 triliun. Sebagian pelaku diketahui merupakan penerima bantuan sosial. Temuan ini disampaikan langsung oleh Direktur Analisis dan Pemeriksaan II PPATK, Shalehuddin Akbar.

“Kami menemukan pemain judi online yang statusnya penerima bansos. Data ini sudah kami serahkan ke Kemensos. Ada lebih dari 199 ribu pemain, dengan total deposit hampir Rp300 miliar,” tegasnya.

Shalehuddin menambahkan bahwa dana bansos harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, bukan dipertaruhkan dalam praktik ilegal yang merugikan. Ia mengingatkan bahwa penyalahgunaan bantuan akan berdampak langsung pada kesejahteraan keluarga penerima.

Menanggapi temuan tersebut, pemerintah mengambil langkah strategis. Asisten Deputi Koordinasi Perlindungan Data dan Transaksi Elektronik Kemenko Polkam, Syaiful Garyadi, menyatakan bahwa Jawa Barat akan dijadikan provinsi percontohan dalam upaya pemberantasan judi daring di Indonesia.

“Kami bersama Pemprov Jabar dan kementerian/lembaga terkait akan membentuk Tim Zero Judi Online. Kami targetkan pada 2026, Jawa Barat menjadi wilayah bebas judi online,” ujarnya.

Pemerintah berharap masyarakat lebih bijak dalam memanfaatkan bansos, terutama di tengah meningkatnya risiko penyalahgunaan akibat maraknya judi daring. Melalui edukasi, pengawasan, dan kerja sama lintas lembaga, pemerintah berupaya memastikan bahwa bantuan benar-benar digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan sebaliknya menjerumuskan mereka pada masalah ekonomi.

Pemerintah Jamin Cadangan Energi dan BBM Aman Jelang Natal & Tahun Baru

Oleh: Andika Pratama )*

Menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, isu keamanan pasokan energi kembali menjadi salah satu perhatian utama masyarakat. Mobilitas yang meningkat signifikan selama periode liburan panjang menuntut pemerintah untuk memastikan ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) tetap terkendali. Di tengah kekhawatiran publik akan potensi lonjakan konsumsi, pemerintah menegaskan bahwa seluruh cadangan energi nasional berada dalam kondisi aman dan terkendali. Penegasan ini bukan sekadar janji, tetapi didukung rangkaian langkah teknis, penguatan koordinasi, serta kesiapsiagaan seluruh pemangku kepentingan di sektor energi.

Komitmen untuk menjaga stabilitas pasokan energi menjadi prioritas penting, mengingat libur Natal dan Tahun Baru selalu diikuti peningkatan aktivitas masyarakat, mulai dari perjalanan antarkota, peningkatan konsumsi rumah tangga, hingga tingginya penggunaan energi di sektor transportasi dan logistik. Dalam konteks ini, pemerintah memastikan telah menyiapkan berbagai skenario guna mengantisipasi lonjakan konsumsi, mulai dari penambahan stok di terminal BBM, penguatan pasokan melalui kilang nasional, hingga percepatan distribusi di wilayah yang berpotensi padat.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Yuliot Tanjung, menyampaikan bahwa pemerintah melakukan pemantauan intensif terhadap seluruh cadangan BBM dan LPG nasional. Pemantauan rutin ini dianggap sebagai langkah strategis untuk menjaga kualitas dan kuantitas energi yang disalurkan ke masyarakat. Pemerataan energi selama libur akhir tahun merupakan bagian dari kewajiban negara untuk memberikan rasa aman dan kenyamanan kepada seluruh warga. Kesiapan Pertamina Patra Niaga dinilai juga baik yang telah melakukan penguatan suplai di berbagai wilayah, termasuk daerah-daerah yang rentan mengalami kendala distribusi. Upaya penambahan stok hingga antisipasi cuaca ekstrem adalah fondasi penting dalam menjaga keandalan layanan energi nasional.

Kesiapan pemerintah tidak hanya berada pada tingkat regulasi, tetapi juga diikuti dengan penguatan teknis dalam pengelolaan distribusi energi. Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi, Wahyudi Anas, menjelaskan bahwa perencanaan penyaluran BBM telah disusun secara menyeluruh, khususnya di titik-titik yang diprediksi mengalami peningkatan konsumsi. Penguatan distribusi ini mencakup evaluasi jalur pasok, peningkatan kapasitas logistik, hingga monitoring rutin terhadap stok di SPBU maupun depot penyimpanan. Seluruh proses tersebut diharapkan dapat memastikan kelancaran penyaluran energi sepanjang periode Natal dan Tahun Baru, terutama di daerah yang menjadi pusat mobilitas masyarakat seperti kawasan wisata dan jalur transportasi utama.

Di sisi hulu, kesiapan produksi kilang juga menjadi komponen yang tidak kalah krusial dalam menjamin ketersediaan energi nasional. Pjs. Corporate Secretary Kilang Pertamina Internasional, Milla Suciyani, menegaskan bahwa Satgas Pengendalian dan Pemantauan Kelancaran Penyaluran Energi telah melaksanakan tugas sejak akhir November 2025. Satgas ini bertanggung jawab memastikan kilang tetap beroperasi optimal meskipun berada dalam masa libur panjang Nataru. Keberlanjutan operasi kilang adalah elemen penting agar distribusi energi tidak terganggu dan masyarakat tetap mendapatkan pasokan sesuai kebutuhan. KPI tidak hanya berfokus pada pencapaian target produksi, tetapi juga menjaga kualitas serta ketepatan waktu distribusi ke seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah yang memiliki karakteristik geografis menantang.

Kesiapan lintas lembaga dalam menghadapi libur panjang akhir tahun menunjukkan bahwa pemerintah memiliki sistem koordinasi yang solid dan adaptif. Penguatan stok, peningkatan pelayanan distribusi, hingga kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem menjadi bagian integral dalam manajemen energi nasional. Seluruh langkah ini dilakukan dengan pendekatan preventif untuk meminimalisir potensi gangguan, baik yang berasal dari kondisi alam maupun lonjakan aktivitas masyarakat.

Dalam konteks yang lebih luas, keberhasilan menjaga keandalan energi jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) memiliki dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi nasional. Kelancaran suplai BBM dan LPG memungkinkan sektor transportasi, perdagangan, serta mobilitas masyarakat tetap beroperasi tanpa hambatan. Selain itu, jaminan pasokan energi juga menjadi indikator penting bagi dunia usaha, khususnya sektor logistik dan pariwisata, yang biasanya mengalami momentum kenaikan pada periode akhir tahun.

Opini publik yang selama ini menaruh perhatian pada aspek kesiapan energi mendapatkan kepastian melalui langkah konkret pemerintah. Berbagai pemangku kepentingan telah menunjukkan dedikasi penuh untuk memastikan seluruh kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara tepat waktu dan berkualitas. Keseriusan ini memperlihatkan bahwa negara hadir secara efektif dalam menjamin hak dasar masyarakat terhadap akses energi yang memadai.

Dengan demikian, jelang perayaan Nataru, masyarakat dapat menyambut momen sukacita dengan rasa aman dan nyaman. Pemerintah memastikan bahwa seluruh cadangan energi, mulai dari BBM hingga LPG, berada dalam kondisi stabil berkat kesiapan menyeluruh dari hulu hingga hilir. Koordinasi lintas sektor dan kesigapan para petugas di lapangan menjadi bukti bahwa negara hadir untuk mengantisipasi seluruh dinamika kebutuhan energi di akhir tahun. Keandalan ini sekaligus memperkuat optimisme bahwa pelayanan publik, khususnya di sektor energi, terus berkembang ke arah yang semakin profesional.

)* Penulis adalah Pengamat Sosial

Pemerintah Terus Tambah Pasokan, Jaga Stok BBM Aman Selama Nataru

Oleh: Anggina Weningrum*

Pemerintah kembali menunjukkan kesigapan dan kepemimpinan kuat dalammenjaga stabilitas energi nasional dengan memastikan pasokan BBM tetap amanmenjelang libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Setiap momentum Nataru selalumenjadi periode penting yang menuntut ketelitian perencanaan dan ketangguhansistem distribusi energi. Tahun ini, pemerintah hadir dengan kesiapan yang lebihmatang melalui strategi antisipatif, koordinasi lintas lembaga yang solid, sertapenguatan operasional Pertamina Group. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadahlia menegaskan bahwa ketahanan stok BBM nasional telahditempatkan pada level optimal, setara dengan 18 hingga 21 hari pasokan khususuntuk menghadapi peningkatan permintaan akhir tahun. Langkah ini mencerminkankomitmen pemerintah dalam memastikan masyarakat dapat beraktivitas, bepergian, dan berlibur dengan rasa aman dan nyaman tanpa kekhawatiran soal pemenuhanenergi.

Penguatan pasokan yang dilakukan pemerintah memberikan dampak positiflangsung bagi masyarakat. Pertamina Patra Niaga, sebagai badan usaha penugasan, meningkatkan suplai untuk berbagai jenis BBM melalui dua jalur utama: peningkatanproduksi kilang dalam negeri dan impor terukur guna mempertebal ketahanan stoknasional. Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Ega Legowo Putra memastikanbahwa Pertamax Turbo dan Pertalite menjadi produk yang paling diperkuatdistribusinya, mengingat tingginya kebutuhan masyarakat terhadap kedua jenis BBM tersebut. Penambahan pasokan Pertalite mencapai lebih dari satu juta kiloliter, yang menempatkan status ketahanan stok dalam kategori sangat aman. Denganpengelolaan suplai yang terencana dan berbasis prediksi konsumsi, Pertamina menunjukkan kemampuan manajerial yang selaras dengan arahan pemerintahdalam menjaga kelancaran kebutuhan energi nasional.

Tidak hanya BBM, pemerintah juga memastikan ketersediaan LPG berada pada kondisi prima melalui pemantauan intensif di seluruh wilayah. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menjelaskan bahwa cadangan LPG telah diamankan melaluiserangkaian langkah penguatan stok serta peningkatan kesiapsiagaan menghadapipotensi kenaikan permintaan. Ia mengapresiasi kesiapan Pertamina Patra Niaga yang terus memperkuat suplai dan menjaga layanan tetap berjalan optimal. Menurutnya, penguatan stok, pengaturan distribusi, dan kesiapsiagaan menghadapi cuacaekstrem merupakan elemen krusial dalam menjaga kenyamanan masyarakat selamaNataru. Pemantauan berlapis dari pemerintah menunjukkan perhatian seriusterhadap kebutuhan energi rumah tangga dan transportasi, sekaligus memastikanmasyarakat dapat menjalani liburan dengan tenang.

Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menegaskan bahwa seluruh sistem distribusi BBM telah direncanakan dengan baik melalui pemetaan wilayah yang diperkirakanmengalami peningkatan konsumsi. Data BPH Migas menunjukkan bahwa kuotaPertalite dan Solar Subsidi sepanjang tahun berada dalam kondisi aman, disertaicadangan nasional yang dapat dialihkan secara fleksibel untuk memperkuat wilayah tertentu sesuai dinamika konsumsi. Dengan ketahanan stok nasional yang telahmencapai lebih dari 20 hari per 23 November 2025, pemerintah menunjukkankemampuan menjaga kestabilan energi melalui perencanaan cermat dan koordinasiintensif bersama badan usaha penugasan. Ini menjadi penegasan bahwa penyediaanenergi nasional berjalan di jalur yang tepat, terutama dalam menghadapi puncakmobilitas masyarakat.

Dari sisi operasional kilang, Kilang Pertamina Internasional (KPI) memastikan seluruhfasilitas pengolahan tetap beroperasi secara handal sepanjang libur Nataru. Pjs. Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani, menyampaikan bahwa kilang akan bekerjapenuh untuk menjaga kontinuitas produksi dan memastikan distribusi energiberjalan tepat waktu ke seluruh daerah. KPI, melalui Satuan Tugas Pengendalian dan Pemantauan Kelancaran Penyaluran Energi yang telah bertugas sejak akhirNovember, menjalankan fungsi strategis dalam memastikan suplai BBM nasionalberada dalam posisi aman. Penerapan standar operasi yang tinggi dan pengawasanmenyeluruh memperlihatkan kesiapan KPI dalam menghadapi momentum puncakkebutuhan energi tanpa gangguan.

Pada titik distribusi utama seperti Integrated Terminal Plumpang, pemerintah dan Pertamina memastikan seluruh infrastruktur didukung sistem mitigasi risiko yang lebih kuat. Direktur Logistik Pertamina Jaffee Arizon Suardin menuturkan bahwaterminal ini telah diperkuat melalui buffer recovery unit serta kesiapsiagaan personeluntuk menjaga kualitas produk dan kelancaran distribusi. Dengan suplai yang mengalir melalui jaringan pipa dari Kilang Balongan dan Kilang Cilacap, sistemdistribusi BBM menuju kawasan perkotaan tetap terjaga dan stabil. KesiapanPlumpang sebagai simpul strategis distribusi energi nasional menjadi buktikeseriusan pemerintah dalam memperkuat keandalan logistik BBM menjelang liburpanjang.

Pemerintah juga memastikan bahwa penguatan pasokan tidak hanya terfokus pada wilayah perkotaan, tetapi juga menjangkau daerah 3T seperti Mentawai dan Kepulauan Seribu. Pertamina telah menambah fasilitas penyimpanan modular, memperkuat kesiapan awak mobil tangki, serta menyiapkan dukungan cadanganpersonel untuk memastikan distribusi ke daerah terpencil berjalan lancar. Upaya inimencerminkan kebijakan energi yang inklusif, memastikan seluruh warga negara dapat menikmati kenyamanan yang sama dalam akses energi selama Nataru.

Sementara itu, Kementerian ESDM melalui Juru Bicara Dwi Anggia menegaskanbahwa seluruh persiapan penyaluran BBM telah dinyatakan dalam kondisi siap, tidakhanya untuk menghadapi Nataru tetapi juga untuk menyambut Ramadan dan IdulFitri yang jatuh berdekatan pada tahun berikutnya. Pemerintah mengedepankanstrategi berkelanjutan dalam menjaga pasokan energi, memberikan rasa tenang bagimasyarakat untuk menjalani aktivitas sepanjang awal 2026.

Dengan rangkaian penguatan pasokan, koordinasi lintas lembaga, peningkatankualitas layanan distribusi, serta komitmen pemerintah dan Pertamina Group untukmenjaga ketahanan energi nasional, masyarakat dapat memasuki libur Natal dan Tahun Baru dengan penuh keyakinan. Pemerintah memastikan bahwa pasokan BBM dan LPG tetap aman, stabil, dan berkualitas, sekaligus menunjukkan bahwamanajemen energi nasional semakin solid untuk mendukung kenyamanan publik. Dalam momentum mobilitas puncak tahunan, keberhasilan menjaga stok energimenjadi bukti nyata bahwa pemerintah hadir mengupayakan yang terbaik bagikebutuhan masyarakat luas.

*Penulis merupakan Analis Kebijakan Energi Nasional

Pemerintah Siapkan SPBU Modular di Jalur Macet Nataru untuk Jaga Suplai BBM

Semarang – Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Tengah-DIY menyiapkan langkah khusus untuk menjaga kelancaran suplai bahan bakar minyak (BBM) selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026.

Salah satu upaya utama yang dilakukan adalah penyediaan SPBU modular di jalur padat dan rest area yang belum memiliki fasilitas pengisian BBM, serta penyiagaan mobil tangki dan layanan motoris di titik rawan kemacetan.

General Manager Pertamina Patra Niaga Jateng-DIY, Fanda Chrismianto, mengatakan Satuan Tugas (Satgas) Nataru tahun ini diaktifkan lebih awal, yakni sejak 13 November 2025 hingga 11 Januari 2026.

Percepatan ini dilakukan untuk memastikan seluruh infrastruktur dan distribusi BBM siap sebelum puncak arus libur.

“Biasanya Satgas dimulai pertengahan Desember. Tahun ini kami majukan supaya penyiapan sarana penerimaan, penimbunan, dan pendistribusian bisa lebih matang,” kata Fanda.

Untuk mengantisipasi lonjakan mobilitas kendaraan, Pertamina menyiapkan SPBU modular di sejumlah rest area yang belum memiliki SPBU permanen. Selain itu, mobil tangki mobile storage disiagakan di titik-titik macet guna mempercepat penyaluran BBM.

“Jadi rest area yang belum ada SPBU kami menyiapkan SPBU modular, kemudian di titik-titik macet juga kami siapkan standby mobil tangki mobile storage untuk mendekatkan dan mempercepat waktu pengiriman,” jelasnya.

Layanan motoris juga disiapkan untuk membantu pengendara yang kehabisan BBM saat terjebak kemacetan dan belum dapat menjangkau SPBU.

“Kemudian menyiapkan motoris. Barangkali masyarakat ada yang terkena macet, belum sampai di SPBU, bisa call di 135 dan motoris kami akan mengirimkan BBM itu,” lanjut Fanda.

Pertamina memproyeksikan konsumsi produk gasolin seperti Pertalite dan Pertamax Series meningkat sekitar 5,6 persen pada periode 15 Desember 2025 hingga 7 Januari 2026. Sementara itu, konsumsi gasoil seperti solar dan dexlite diperkirakan turun sekitar 4,7 persen.

“Ini sejalan dengan kebijakan dari pemerintah untuk membatasi pergerakan kendaraan logistik yang bukan mengangkut bahan pokok utama,” ujar Fanda.

Selain menjaga suplai BBM, Pertamina juga menyiapkan langkah antisipasi kebencanaan seperti banjir dan longsor dengan menyiapkan skema distribusi alternatif dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah.

“Antisipasi kebencanaan tidak lepas dari dukungan stakeholder terkait, dari pemerintah provinsi ada BPBD, Dinas PU, Disdukcapil, yang menangani kondisi banjir, longsor, dan kebencanaan, agar bisa tertangani dengan baik,” pungkasnya.

Pemerintah Pastikan Stok BBM Nasional Aman Hadapi Libur Nataru 2025/2026

Jakarta – Menjelang periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026, pemerintah memastikan ketersediaan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam kondisi aman dan sesuai standar ketahanan nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan pemerintah telah menetapkan standar ketahanan stok khusus untuk menghadapi lonjakan mobilitas masyarakat pada akhir tahun.

“Natal dan Tahun Baru untuk stok BBM nasional masih sesuai standar kita, 18 sampai 21 hari. Insyaallah tidak ada masalah,” ujar Bahlil

Bahlil menegaskan pemerintah terus memonitor pergerakan distribusi untuk memastikan tidak ada kendala signifikan di lapangan. Ia juga menyoroti adanya sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) milik swasta yang sempat mengalami kekosongan pasokan pada beberapa waktu tertentu.

“Kalau mereka mau berbisnis monggo, tapi harus ikut aturan yang berlaku,” lanjutnya

Sementara itu, Pertamina Patra Niaga menyatakan telah menyiapkan tambahan pasokan untuk mengamankan kebutuhan energi masyarakat selama puncak libur Nataru. Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Ega Legowo Putra, menjelaskan bahwa tambahan pasokan tersebut bersumber dari peningkatan produksi kilang serta impor.

“Tentu kami akan menambah produksi dari kilang dan juga ada beberapa tambahan impor yang kita akan datangkan,” ujar Ega.

Menurut Ega, langkah antisipatif itu merupakan bentuk komitmen Pertamina dalam mendukung kebijakan pemerintah serta memastikan distribusi energi berjalan lancar di seluruh daerah, termasuk jalur-jalur mudik dan wilayah dengan peningkatan aktivitas wisata.

Kesiapan pasokan BBM juga diperkuat oleh langkah Kilang Pertamina Internasional (KPI) yang mempercepat pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Pengendalian dan Pemantauan Penyaluran Energi. Satgas ini bertugas sejak akhir November 2025 hingga awal Januari 2026 dan bekerja secara terintegrasi mulai dari kantor pusat hingga seluruh unit operasi. Pjs. Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani, mengatakan Satgas akan fokus pada tiga aspek utama, yakni kesiapan stok, kapasitas produksi, dan kelancaran distribusi.

“KPI memastikan kilang tetap beroperasi sepanjang libur Nataru. Kami menjaga agar seluruh fasilitas menghasilkan produk sesuai perencanaan dengan andal dan aman,” ucap Milla.

Milla menjelaskan bahwa KPI menerapkan manajemen stok yang ketat demi menjaga kelancaran produksi selama puncak konsumsi. Ketersediaan bahan kimia dijaga di atas dua bulan, katalis di atas enam bulan, serta material cepat bergerak dipersiapkan khusus selama periode kerja Satgas. Selain itu, stok minyak mentah dipertahankan pada kisaran 15 hari kebutuhan kilang untuk memastikan proses produksi tetap optimal.

Apresiasi Komitmen Pemerintah Rangkul UMKM Jaga Pemerataan Ekonomi Terus Berlanjut

Oleh : Dewi Utari )*

Pemerintah terus menunjukkan komitmennya dalam merangkul pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Sejumlah kebijakan dan inisiatif baru yang dirilis sepanjang tahun ini kembali menegaskan bahwa pemberdayaan UMKM bukan sekadar program pendukung, tetapi bagian penting dari strategi pemerataan ekonomi nasional. Upaya ini patut diapresiasi karena memberikan ruang yang lebih inklusif bagi pelaku usaha kecil untuk berkembang di tengah dinamika ekonomi global yang semakin kompetitif.

Menteri UMKM, Maman Abdurrahman menjelaskan UMKM selama ini berkontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Data Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah menunjukkan bahwa lebih dari 97 persen lapangan kerja diserap oleh sektor UMKM, menjadikannya pilar ketahanan ekonomi nasional. Dengan kontribusi sebesar ini, maka kemampuan UMKM untuk bertahan, beradaptasi, dan berkembang harus menjadi prioritas dalam agenda pembangunan ekonomi. Pemerintah melihat hal ini sebagai kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi, terutama dalam menghadapi perubahan kondisi global dan ancaman ketidakpastian yang sering kali berdampak pada sektor informal.

Komitmen pemerintah tercermin dari berbagai program strategis seperti fasilitasi pembiayaan berbunga rendah, perluasan akses pasar melalui digitalisasi, pelatihan peningkatan kapasitas, hingga perluasan kemitraan dengan sektor swasta. Salah satu kebijakan yang mendapat respons positif adalah dukungan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang terus diperluas. Penurunan suku bunga, kemudahan persyaratan, serta percepatan penyaluran KUR menjadi angin segar bagi pelaku UMKM yang selama ini kesulitan mendapatkan akses modal dari lembaga keuangan formal. Kebijakan ini tidak hanya membantu UMKM memperkuat pondasi bisnisnya, tetapi juga meningkatkan kemampuan ekspansi usaha ke pasar yang lebih luas.

Selain dukungan finansial, pemerintah juga mendorong penguatan ekosistem usaha melalui digitalisasi. Transformasi digital menjadi aspek penting agar UMKM tetap relevan dalam persaingan pasar modern. Berbagai pelatihan dan pendampingan terkait pemasaran digital, penggunaan platform e-commerce, hingga pemanfaatan alat pembayaran digital membuat pelaku UMKM semakin siap memasuki pasar yang lebih dinamis. Langkah ini menunjukkan adanya keseriusan pemerintah dalam memastikan UMKM dapat mengakses peluang baru yang tercipta dari perubahan teknologi, sekaligus menekan kesenjangan digital antarwilayah.

Di sisi lain, perluasan kemitraan antara UMKM dengan sektor swasta, termasuk BUMN, menjadi langkah strategis yang tidak kalah penting. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita mendorong perusahaan besar untuk melibatkan UMKM dalam rantai pasok, baik melalui mekanisme kurasi produk, pembinaan kualitas, maupun penyediaan bahan baku. Langkah ini dipandang efektif dalam meningkatkan daya saing UMKM, karena tidak hanya membuka peluang pasar, tetapi juga menghadirkan proses pembelajaran yang mendorong peningkatan standar produksi. Dengan demikian, UMKM tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga dapat memasuki pasar industri yang sebelumnya sulit dijangkau.

Upaya menjaga pemerataan ekonomi juga terlihat melalui dorongan pemerintah agar UMKM hadir sebagai aktor utama dalam perekonomian daerah. Penguatan UMKM lokal dianggap penting untuk menekan ketimpangan ekonomi antarwilayah. Program seperti pendampingan terpadu, pembangunan sentra produksi, dan penyediaan fasilitas inkubasi usaha menjadi langkah nyata yang diarahkan langsung untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis komunitas. Melalui program-program tersebut, pelaku UMKM di daerah tidak hanya mendapatkan akses modal dan pasar, tetapi juga dukungan dalam peningkatan kualitas produk dan manajemen usaha.

Selain itu, keberlanjutan kebijakan afirmatif seperti alokasi minimal 40 persen belanja barang dan jasa pemerintah untuk produk UMKM juga menjadi bukti keseriusan negara. Kebijakan ini memberikan ruang besar bagi UMKM untuk berperan dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah, yang nilainya mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahunnya. Dengan adanya kepastian pasar tersebut, UMKM dapat merencanakan produksi secara lebih baik dan melakukan inovasi yang berkelanjutan. Hal ini tentu menjadi pendorong utama bagi peningkatan kapasitas dan daya saing pelaku usaha kecil.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menjelaskan Pemerintah juga menunjukkan komitmen terhadap perlindungan UMKM melalui regulasi yang lebih adaptif. Penyederhanaan perizinan, pemangkasan birokrasi, serta kemudahan akses terhadap standar sertifikasi pangan dan produk menjadi langkah penting untuk menghilangkan hambatan-hambatan struktural yang sebelumnya membatasi gerak UMKM. Kebijakan seperti OSS berbasis risiko, sertifikasi halal gratis untuk usaha kecil, hingga penyederhanaan izin edar produk pangan olahan menunjukkan komitmen kuat pemerintah untuk menciptakan iklim usaha yang lebih bersahabat.

Semua langkah ini menjadi bagian dari konsistensi pemerintah dalam menciptakan ekonomi yang inklusif, merata, dan berkelanjutan. UMKM tidak lagi sekadar dipandang sebagai pelengkap sektor industri, tetapi sebagai motor penggerak yang mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional. Dengan terus dirangkul, didampingi, dan diberdayakan, UMKM berpeluang besar menjadi kekuatan utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih setara.

Ke depan, tantangan UMKM tentu semakin kompleks, mulai dari peningkatan kualitas produk, adaptasi teknologi, hingga persaingan dengan produk global. Namun dengan komitmen pemerintah yang terus berlanjut dan dukungan ekosistem usaha yang semakin kuat, UMKM Indonesia diyakini dapat tumbuh lebih kokoh. Inilah momentum penting untuk terus mengapresiasi dan memperkuat kebijakan yang menjadikan UMKM sebagai fondasi pemerataan ekonomi nasional. Pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat memiliki peran yang sama penting untuk memastikan semangat pemberdayaan UMKM ini terus hidup dan membawa perubahan positif bagi perekonomian Indonesia.

)* Pengamat Kebijakan Pemerintah

UMKM Jadi Pilar Utama Pemerataan Ekonomi, Beri Kontribusi Terhadap PDB Nasional

Oleh: Bara Winatha*)

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kembali mendapatkan sorotan sebagai kekuatan fundamental dalam memperkuat perekonomian Indonesia. Di tengah dinamika global dan kompetisi pasar yang semakin ketat, UMKM telah menjadi mesin utama pertumbuhan, pemerataan ekonomi, serta penciptaan stabilitas sosial di berbagai daerah. Kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional yang mencapai lebih dari 60 persen menunjukkan bahwa struktur ekonomi Indonesia bertumpu pada aktivitas produktif masyarakat di level akar rumput. Peran strategis ini juga tercermin dari kapasitas UMKM dalam menyerap hampir seluruh tenaga kerja Indonesia, sehingga menjadikan sektor ini krusial bagi pembangunan berkelanjutan.

Presiden Indonesia Marketing Association (IMA) Pusat, Suparno Djasmin, menilai bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional karena kemampuannya menjaga daya tahan ekonomi, terutama saat menghadapi tekanan global. Besarnya jumlah UMKM yang kini melampaui 64 juta unit menjadi bukti bahwa sektor ini memiliki ekosistem kuat dan terus berkembang. Suparno juga menilai bahwa kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional yang mencapai sekitar 15,7 persen menjadi indikator bahwa pelaku usaha kecil Indonesia tidak hanya mampu bersaing di pasar domestik, tetapi juga mulai memperluas penetrasi ke pasar internasional.

Daya saing UMKM akan semakin meningkat apabila didukung strategi pemasaran yang adaptif. Lingkungan bisnis yang berubah cepat menuntut pelaku UMKM untuk memperkuat kemampuan positioning, diferensiasi produk, hingga pengelolaan merek. Pentingnya literasi pemasaran yang mumpuni menjadi strategi yang tepat dapat membuka akses pasar baru serta memperkuat posisi produk Indonesia di tingkat global. UMKM terus memiliki potensi menciptakan kontribusi devisa yang signifikan bagi negara dalam jangka panjang.

Sementara itu, Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman menyampaikan bahwa pemerintah berkomitmen memperkuat daya saing produk lokal, khususnya di sektor kosmetik dan kecantikan yang saat ini tumbuh pesat. Kesempatan bagi UMKM di sektor beauty sangat besar karena dominasi produk lokal di pasar domestik sudah terbukti kuat. Maman menilai bahwa industri kecantikan Indonesia telah memasuki fase kematangan yang memungkinkan ekspansi ke pasar global.

Maman melihat bahwa perkembangan industri kecantikan nasional juga memperlihatkan geliat UMKM sebagai pemain utama dalam sektor yang mengandalkan kreativitas, inovasi, dan branding. Data BPOM dan Kementerian Perindustrian yang menunjukkan pertumbuhan jumlah pengusaha kosmetik serta kenaikan pendapatan industri memperkuat pandangan bahwa UMKM telah menjadi motor penggerak berbagai sektor ekonomi kreatif. Dukungan pemerintah berupa fasilitasi investasi, penguatan rantai pasok melalui Holding UMKM, serta perluasan akses pasar dapat menjadi katalis bagi UMKM untuk naik kelas dan berkontribusi lebih besar dalam meningkatkan PDB nasional.

Dari sisi dunia usaha, Presiden Direktur PT Medco Energi Internasional Tbk, Hilmi Panigoro, memandang bahwa UMKM tidak hanya berperan sebagai penggerak ekonomi rakyat, tetapi juga sebagai elemen penting dalam menjaga keberlanjutan industri besar. Pembinaan UMKM melalui program CSR perusahaan merupakan investasi jangka panjang yang akan menciptakan dampak luas bagi masyarakat dan ekonomi daerah. Ia menilai bahwa pembiayaan mikro atau microfinancing dapat mengisi celah pembiayaan yang tidak dijangkau perbankan karena UMKM sering tidak memenuhi syarat formal seperti jaminan atau rekam jejak keuangan.

Salah satu strategi terbaik untuk memastikan keberhasilan UMKM adalah memberikan kepastian pasar melalui integrasi ke dalam rantai pasok perusahaan. Dengan menjadikan UMKM sebagai pemasok kebutuhan operasional, sebuah perusahaan besar dapat meningkatkan kapasitas produksi UMKM sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok. Hilmi melihat bahwa keberagaman produk UMKM dari berbagai daerah menandakan bahwa Indonesia memiliki potensi ekonomi lokal yang sangat kuat apabila diberikan akses, pendampingan, dan ruang kolaborasi.

Selain pembiayaan dan pendampingan, Hilmi menekankan pentingnya pemetaan sosial atau social mapping untuk memastikan bahwa program pemberdayaan UMKM sesuai dengan karakteristik daerah. Setiap wilayah, menurutnya, memiliki keunggulan spesifik seperti pertanian, perikanan, maupun ekonomi kreatif yang dapat dioptimalkan untuk memperkuat kontribusi UMKM terhadap ekonomi nasional. Integrasi UMKM ke dalam perekonomian daerah akan menciptakan multiplier effect yang signifikan, mulai dari peningkatan pendapatan masyarakat hingga terciptanya lapangan kerja baru.

Dari perspektif pemerataan ekonomi, UMKM memiliki peran strategis karena tersebar di seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah terpencil, wilayah pedesaan, dan kawasan pinggiran kota. Keberadaan UMKM membuat distribusi aktivitas ekonomi lebih merata dan tidak terpusat di kota besar saja. Semakin banyak pelaku UMKM yang berkembang, semakin besar pula potensi tumbuhnya sentra ekonomi baru yang dapat mendorong pemerataan kesejahteraan. Dengan kontribusi PDB yang besar, penyerapan tenaga kerja yang dominan, dan penyebaran geografis yang luas, UMKM menjadi instrumen paling efektif untuk memperkecil kesenjangan ekonomi antardaerah.

UMKM bukan hanya kebijakan ekonomi, tetapi strategi nasional untuk menciptakan struktur ekonomi yang inklusif. Melalui kolaborasi antara pemerintah, organisasi profesional, dan perusahaan besar, UMKM memiliki peluang lebih besar untuk naik kelas serta berperan aktif dalam penguatan ekspor, industrialisasi lokal, dan peningkatan kualitas produk nasional. Sinergi ini juga menjadi landasan penting untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, di mana UMKM diproyeksikan menjadi salah satu penopang utama perekonomian modern Indonesia.

*)Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan.

Mendorong UMKM Naik Kelas Bagian dari Penggerak Pemerataan Ekonomi Nasional

Jakarta – Pemerintah kembali menunjukkan komitmennya memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan melalui program strategis Pasar 1001 Malam yang digagas Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM). Program ini diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan baru bagi UMKM sekaligus upaya pemerataan ekonomi nasional, terutama melalui optimalisasi aset negara yang selama ini tidak produktif.

Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, menegaskan bahwa Pasar 1001 Malam dirancang sebagai ruang inklusif bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif. “Tempat-tempat pemerintah yang idle dan berada di lokasi strategis akan kita optimalkan sebagai pusat usaha, ruang pamer, dan festival UMKM. Targetnya mencapai 1001 titik di berbagai daerah,” ujarnya.

Langkah ini dilakukan untuk menjawab persoalan klasik UMKM, yaitu tingginya biaya sewa lahan yang dapat mencapai Rp782.000 per meter persegi, sehingga pendapatan bersih sebagian pelaku UMKM hanya sekitar Rp2 juta per bulan. Melalui skema creative compound yang dikelola pihak ketiga, Pasar 1001 Malam menyediakan ruang usaha berbiaya rendah agar UMKM dapat tumbuh lebih stabil.

Muhaimin menuturkan bahwa program tersebut telah mendapat dukungan penuh dari Presiden. “Presiden Prabowo Subianto mendorong agar UMKM diberi ruang lebih luas sebagai penopang utama perekonomian nasional. Program ini menjadi bagian penting dari agenda pemerataan ekonomi,” katanya.

Selain ruang usaha, Pasar 1001 Malam juga diharapkan menjadi alternatif pameran yang lebih terjangkau. “Biaya mengikuti pameran besar sering menjadi kendala bagi pelaku UMKM. Dengan program ini, mereka bisa memamerkan produk secara terjangkau,” tambah Muhaimin.

Pada tahap awal, pengembangan difokuskan di kota-kota yang memiliki aset PT Pos Indonesia dan PT KAI yang berada di kawasan strategis. Tahap lanjutan akan disesuaikan dengan pendataan aset dan minat investor daerah agar manfaatnya menjangkau lebih banyak wilayah.

Program ini juga memperkuat implementasi PP No. 7 Tahun 2021 Pasal 60, yang mewajibkan kementerian/lembaga, BUMN, BUMD, dan swasta menyediakan minimal 30% area komersial untuk usaha mikro dan kecil. Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, mencatat pemanfaatan area publik oleh UMKM saat ini baru sekitar 40%. “Kami akan terus berkoordinasi dengan Kemenko PM untuk memperluas lokasi dan meningkatkan okupansi,” jelasnya.

Melalui Pasar 1001 Malam, UMKM mendapatkan ruang usaha terjangkau dan akses pasar lebih luas, sehingga mampu mempercepat pemerataan ekonomi di berbagai daerah.

Pemerintah Terus Berkomitmen Berikan Penguatan UMKM untuk Pemerataan Ekonomi

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat komitmennya dalam memberikan penguatan kepada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai upaya untuk menciptakan pemerataan ekonomi di seluruh wilayah Tanah Air. Komitmen ini ditandai dengan berbagai kebijakan strategis yang mendukung pertumbuhan UMKM, salah satunya melalui peningkatan kemudahan legalitas usaha dan akses pembiayaan.

Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum (Dirjen AHU) Kementerian Hukum dan HAM, Widodo menyampaikan arahan strategis untuk memberikan kemudahan dalam memperoleh legalitas usaha bagi pelaku UMKM di seluruh Indonesia.

“UMKM adalah tulang punggung perekonomian Indonesia. Dari merekalah stabilitas ekonomi kita dapat terjaga, dan dari merekalah pertahanan ekonomi nasional berdiri kuat,” ujar Widodo.

Kementerian Hukum bersama Kementerian Investasi/BKPM mencatat jumlah UMKM di terus meningkat dari 64,6 juta unit pada tahun 2021 menjadi 66 juta unit pada tahun 2025. Sektor UMKM juga memberikan kontribusi signifikan terhadap PDB nasional, yakni sebesar 61,9 persen, dan menyerap lebih dari 119 juta tenaga kerja.

“Fakta ini menunjukkan bahwa UMKM bukan hanya penopang, tetapi penggerak kesejahteraan nasional,” tegas Widodo.

Sebagai bagian dari kebijakan penguatan sektor UMKM, pemerintah juga memperkenalkan skema Perseroan Perorangan yang memungkinkan pelaku usaha untuk mendirikan badan usaha berbadan hukum dengan prosedur yang lebih sederhana, cepat, dan murah.

Sejak diluncurkan pada Oktober 2021, sebanyak 291.417 Perseroan Perorangan telah didaftarkan. Namun, Widodo mencatat adanya 8.760 pembubaran, yang menunjukkan tantangan besar yang masih dihadapi pelaku usaha, terutama dalam hal akses pembiayaan.

Untuk mengatasi hal ini, pemerintah telah meluncurkan program inkubasi di 10 kota besar pada 2024 untuk meningkatkan pemahaman pelaku usaha mengenai tata kelola dan pemanfaatan badan hukum. Pemerintah juga mengalokasikan dana sebesar Rp200 triliun pada bank-bank Himbara untuk memperkuat likuiditas dan memperluas penyaluran kredit sektor produktif.

“Ketika bank memiliki likuiditas yang kuat, mereka akan lebih agresif menyalurkan kredit, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan kredit modal kerja bagi pelaku usaha kecil dan menengah,” jelas Widodo.

Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menekankan pentingnya sektor jasa keuangan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan pemberdayaan UMKM. Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, mengajak seluruh pelaku industri jasa keuangan untuk memperkuat komitmen dan meningkatkan ketangguhan dengan memberikan layanan yang inklusif bagi masyarakat. OJK juga meluncurkan POJK 19/2025 yang mengatur kewajiban perbankan dan industri keuangan non-bank untuk meningkatkan pembiayaan bagi UMKM.

“Kami mengajak seluruh pelaku industri jasa keuangan untuk meningkatkan ketangguhan, memperkuat komitmen, serta memberikan layanan yang inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat. Bersama, kita bukan hanya bertahan, tapi juga memimpin perubahan,” ujar Mahendra.

Sektor swasta turut mendukung upaya pemerintah dalam penguatan UMKM. Presiden Direktur PT Medco Energi Internasional Tbk, Hilmi Panigoro, dalam Festival Pojok UMKM MedcoEnergi 2025, menyatakan bahwa pembinaan UMKM bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga pengusaha swasta.

“Di Medco, kami sisihkan sebagian untuk memastikan UMKM terbangun dan tumbuh,” ujar Hilmi. Melalui program microfinancing dan pemberdayaan dalam rantai pasok perusahaan, Medco berkomitmen untuk memperkuat UMKM agar lebih kompetitif dan berkembang.

Pemerintah berkomitmen untuk terus mendorong UMKM bukan hanya untuk bertahan, tetapi juga untuk berkembang, menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional, dan menjangkau pasar global.

Continue Reading

MBG Dorong Pertumbuhan Ekonomi Desa, Serap 1,5 Juta Tenaga Kerja

Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan Badan Gizi Nasional (BGN) terbukti memberikan dorongan signifikan bagi pertumbuhan ekonomi desa di seluruh Indonesia. Selain berfungsi sebagai upaya meningkatkan status gizi anak sekolah dan kelompok rentan, program ini menciptakan ekosistem ekonomi baru yang menggerakkan berbagai sektor, mulai dari penyediaan bahan baku hingga distribusi pangan.

Aktivitas ekonomi yang muncul dari operasional harian MBG telah memperkuat rantai pasok lokal dan mendorong peningkatan konsumsi di berbagai daerah. Dampak ini sejalan dengan tujuan pemerintah untuk membangun ekonomi berbasis kemandirian masyarakat dan memperluas peluang kerja di tingkat desa.

Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa program MBG kini didukung oleh sekitar 16.503 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi setiap hari.

“Ini otomatis sudah ada 700 ribu lebih relawan yang terlibat langsung di SPPG. Jadi, kemungkinan besar ini sudah 1,5 juta orang terlibat dalam MBG sampai hari ini,” ujar Dadan.

Ia menambahkan besarnya serapan tenaga kerja tersebut tidak terlepas dari keterlibatan pemasok bahan baku di tingkat lokal. Setiap SPPG membutuhkan sedikitnya 15 pemasok, yang masing-masing mempekerjakan 2 hingga 15 orang.

“Dengan rantai pasok yang melibatkan petani, peternak, produsen bahan makanan, hingga penyedia logistik, program MBG menciptakan perputaran ekonomi yang masif di daerah,” imbuhnya.

Dadan menekankan bahwa peningkatan ekonomi lokal tersebut menjadi salah satu dampak paling nyata dari pelaksanaan MBG. Manfaat ekonomi ini akan terus tumbuh seiring perluasan cakupan SPPG di berbagai kabupaten dan kota. Selain meningkatkan status gizi anak sekolah dan kelompok rentan, program ini menciptakan ruang usaha baru yang menopang pendapatan masyarakat.

“Dengan ekosistem yang semakin besar, MBG tidak hanya berdampak pada perbaikan gizi, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi baru di tingkat daerah,” katanya.

Dukungan serupa disampaikan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Sony Sonjaya, yang menyebut pelibatan masyarakat dalam penyediaan bahan baku sebagai faktor kunci keberhasilan MBG.

“Pelibatan masyarakat akan membantu menjaga kelancaran pasokan bahan baku, terutama seiring meningkatnya jumlah Satuan Pelaksana Pelayanan Gizi (SPPG),” ucapnya.

Sony mengungkapkan bahwa hampir 200 UMKM telah terlibat dalam pengadaan bahan baku untuk program tersebut. Keterlibatan UMKM ini tidak hanya memperluas peluang usaha lokal, tetapi juga memperkuat ketahanan rantai pasok pangan nasional.

“Antusiasme pelaku usaha lokal menunjukkan bahwa MBG telah menjadi program lintas sektor yang memberikan ruang kolaborasi luas antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha,” jelasnya.

Keberadaan UMKM sebagai bagian dari rantai pasok MBG juga membuka kesempatan bagi pelaku usaha kecil untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas jangkauan bisnis. Dengan meningkatnya kebutuhan komoditas pangan, UMKM di berbagai daerah kini mendapatkan permintaan yang lebih stabil dan terukur, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Sementara itu, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menegaskan bahwa Kadin telah membangun 500 SPPG dan menargetkan 1.000 SPPG dalam waktu dekat untuk memperluas dampak program.

“Setiap dapur MBG mampu menciptakan 50 lapangan kerja, yang berarti sekitar ribuan hingga jutaan pekerja kini terlibat dalam operasional program tersebut,” tutur Anindya.

Menurutnya, ekosistem ekonomi yang terbentuk melalui MBG menciptakan hubungan saling menguatkan antara petani, pelaku usaha kecil, dan lembaga pemerintah.

“Program ini menjadi bukti bahwa kebijakan sosial dapat memberikan multiplier effect yang luas terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkasnya.

MBG kini menjadi salah satu model pembangunan berbasis gizi yang memberikan manfaat ekonomi jangka panjang. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus memperluas cakupan program guna memastikan gizi anak terpenuhi sekaligus menggerakkan ekonomi desa secara berkelanjutan. Program ini diharapkan menjadi pondasi bagi terwujudnya masyarakat yang lebih sehat, produktif, dan mandiri secara ekonomi.