Jakarta Memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober, pemerintah kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun generasi muda yang sehat, cerdas, dan berdaya melalui penguatan program gizi bagi anak-sekolah. Inisiatif unggulan ini dilatar-belakangi oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan secara nasional sebagai langkah strategis untuk mendukung pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan pemuda Indonesia.
Dalam pidato satu tahun pemerintahan, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan gizi anak-sekolah bukan sekadar subsidi biasa melainkan fondasi pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia.
Alhamdulillah kita mampu menjaga pertumbuhan ekonomi masih tetap tinggi
dan yang paling penting, kita memprioritaskan generasi muda dengan gizi yang cukup agar siap menghadapi tantangan global, ujar Presiden.
Program MBG sendiri mulai menyentuh banyak sekolah dan pelajar di berbagai jenjang. Berdasarkan keterangan resmi, program ini telah menjangkau sekitar 20 juta anak sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui hingga Agustus 2025. Juga dilaporkan bahwa sejak Januari 2025 telah dibagikan 1,410,000,000 porsi MBG kepada 36,7 juta anak sekolah, ibu hamil dan ibu menyusui.
Tenaga Ahli Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Fadhly, menegaskan bahwa MBG adalah inisiatif strategis Presiden Prabowo untuk menekan angka stunting dan malnutrisi di Indonesia.
Tujuannya jelas, yaitu memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi seimbang agar tumbuh optimal dan mampu berprestasi. Program ini juga berdampak ekonomi karena memberdayakan sektor pangan lokal, ujar Fadhly.
Sementara itu, Koordinator Lembaga Aspirasi dan Kebijakan Publik Indonesia (LAKSI) Azmi Hidzaqi menyoroti aspek pengawasan program.
Kami mendukung penuh langkah Badan Gizi Nasional (BGN) membenahi seluruh mitra penyedia makanan dengan pengetatan prosedur keamanan mulai dari dapur hingga distribusi, kata Azmi.
Beliau juga mengingatkan agar insiden seperti keracunan makanan tidak menghambat jalannya program yang bernilai strategis ini.
Di tengah tantangan global dan domestik, pemerintah menghadirkan MBG sebagai solusi holistik yang menggabungkan aspek gizi, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. Selain itu, pelaksanaan program terus diperkuat dengan mekanisme distribusi yang tetap berjalan meski masa libur sekolah, untuk memastikan kontinuitas manfaat.
Dalam spirit perayaan Hari Sumpah Pemuda, pemerintah menempatkan pemuda sebagai ujung tombak perubahan. Dengan gizi yang memadai, anak-sekolah diharapkan tidak hanya sehat secara fisik tetapi juga tangguh dalam berpikir, kreatif dalam menghadapi tantangan 4.0, dan produktif dalam membangun negeri. Program MBG pun memperkuat pemberdayaan sektor pangan lokal, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat ketahanan pangan dan edukasi gizi yang berkelanjutan.
Menutup pernyataannya, Presiden Prabowo menegaskan kembali bahwa generasi muda Indonesia harus mampu berdiri tegak, berdaya saing, dan berkontribusi besar bagi bangsa.
Dengan gizi yang baik, kita akan punya pemuda yang berani, berkarya, dan membawa Indonesia menuju kejayaan, tutur Prabowo.*
Oleh: Citra Kurnia Khudori)*
Pemerintah melalui pelaksanaan program Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menunjukkan sebuah langkah nyata dalam mewujudkan visi pembangunan manusia sebagai dasar dari kemajuan bangsa. Program MBG bukan sekadar memberikan makanan kepada anak-anak sekolah, tetapi juga memperkuat kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Heri Herdiawanto menilai Program MBG merupakan bukti nyata keberpihakan Presiden Prabowo Subianto pada rakyat dan masa depan bangsa. Ia menjelaskan, MBG sangat strategis karena menyentuh aspek paling dasar dalam pembangunan manusia. Untuk mewujudkan masyarakat adil, makmur, dan berkeadilan, kita harus mulai dari manusia yang bergizi cukup dan berkualitas
Apabila kita melihat bagaimana program ini dirancang untuk menyasar aspek paling dasar pembangunan manusia, yaitu pemenuhan gizi yang cukup dan berkualitas, maka dapat dipahami bahwa pendekatan yang digunakan bukan hanya berbasis sektor pendidikan atau kesehatan saja, melainkan pembangunan sumber daya manusia secara komprehensif.
Generasi muda, yang saat ini masih duduk di sekolah dasar, menengah pertama, bahkan menengah atas, merupakan fondasi dari masa depan Indonesia. Jika mereka tumbuh dengan kondisi gizi yang kurang, risiko tertinggal dalam kapasitas belajar, dalam potensi fisik, maupun dalam daya saing global menjadi nyata.
Dengan program MBG, pemerintah mengambil posisi bahwa jangan tunggu nanti untuk memperkuat generasi muda, melainkan dimulai saat ini, melalui intervensi yang bersifat sistemik dan massal. Hal ini menunjukkan bahwa kepedulian pemerintah bukan sekadar janji kampanye, tetapi terejawantah dalam kebijakan konkret.
Keberadaan MBG juga mendapat dukungan dari elemen masyarakat sipil, termasuk pemuda. Sebagaimana disampaikan oleh Ketua Umum Perkumpulan Pemuda dan Mahasiswa (PPM) Kabupaten Ciamis, Yuda?Nugraha, bahwa program MBG merupakan wujud nyata kehadiran negara dalam memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan gizi yang layak sejak dini.
Ia menambahkan bahwa para pemuda siap mengawal agar program ini tepat sasaran. Pernyataan ini menegaskan bahwa MBG tidak hanya sebuah program top-down, tetapi juga membuka ruang partisipasi masyarakat dan pemuda sebagai pengawas sosial, sebuah praktik demokrasi pembangunan yang sehat.
Tanpa akses yang merata di lapangan, maka ketimpangan akan tetap ada, generasi muda di pusat kota maupun di daerah harus mendapatkan fasilitas sama baiknya. Jika kita sungguh-sungguh peduli terhadap masa depan pemuda Indonesia di seluruh wilayah, maka distribusi dan kualitas program MBG harus merata. Dan hal itu, kata Yuda, didukung oleh pengawasan yang baik.
Kisah-kisah nyata di lapangan semakin menguatkan argumen bahwa MBG bukan sekadar kebijakan simbolis. Salah satunya adalah pengalaman seorang pemuda 18 tahun bernama Danang?Dubra?Setyo dari Jayanti, Kabupaten Tangerang, yang kini bekerja di dapur MBG dan merasa bangga bisa membantu ekonomi keluarganya melalui program ini.
Kisah Danang menjadi salah satu refleksi bagaimana program pemerintah menembus batas sektor pendidikan/gizi saja, tetapi juga berdampak pada aspek pemberdayaan ekonomi lokal, kesempatan kerja anak muda, serta pemutaran rantai nilai di tingkat komunitas. Dari sudut pandang sosial, seorang pemuda tidak hanya menjadi penerima manfaat tetapi juga menjadi agen dalam ekosistem program tersebut.
Melalui ketiga landasan tersebut, kepedulian pemerintah, partisipasi aktif pemuda/sipil, dan dampak nyata di lapangan, maka program MBG bisa dikatakan sebagai bukti nyata bahwa pemerintah serius menempatkan masa depan pemuda sebagai prioritas.
MBG perlu diapresiasi sebagai langkah penting. Sehingga mengingatkan kita bersama untuk sama-sama memastikan bahwa tidak terjadi hal-hal tidak diinginkan, seperti mis-alokasi, kualitas yang turun, kontrol lokal yang lemah, serta risiko bahwa program menjadi alat politik semata tanpa substansi jangka panjang.
Sebagai bangsa, kita memiliki kewajiban bersama untuk memastikan bahwa program MBG benar-benar menjadi pilar penguatan masa depan. Sekolah-sekolah harus aktif mengawal kualitas makanan, orang tua dan komite sekolah harus diberdayakan untuk mengontrol. Pemuda, seperti yang telah dilakukan Yuda Nugraha dan rekan-rekannya, harus menjadi pengawas sekaligus mitra pelaksanaan. Pemerintah daerah harus menyinergikan antar-instansi: pendidikan, kesehatan, pertanian, UMKM, dan infrastruktur logistik.
Dengan demikian, program MBG menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berbicara tentang masa depan generasi muda, tetapi mengambil tindakan nyata, bukan sekadar mendanai makan anak sekolah, tetapi membangun ekosistem gizi, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi yang menyasar akar permasalahan ketimpangan SDM.
Jika dijalankan dengan penuh integritas, kualitas, dan pemerataan, maka generasi muda Indonesia akan lebih siap menghadapi tantangan global. Dan melalui partisipasi aktif pemuda dan masyarakat sipil, program ini dapat menjadi warisan kebijakan yang memberi dampak nyata untuk generasi muda Indonesia, bukan hanya hari ini, tetapi untuk puluhan tahun mendatang.
)* Pemerhati Isu Sosial-Ekonomi
Jakarta Dalam momentum Hari Sumpah Pemuda ke-97, pemerintah menegaskan kembali komitmennya untuk meningkatkan kualitas hidup generasi muda Indonesia melalui pemenuhan gizi seimbang dan pembangunan karakter. Upaya ini sejalan dengan semangat Sumpah Pemuda yang menjadi simbol persatuan, kerja keras, dan tekad untuk memajukan bangsa.
Program MBG terus diperluas pelaksanaannya di berbagai daerah, salah satunya di Kalimantan Selatan. Kegiatan Sosialisasi Program MBG di Kantor Desa Pagatan Besar, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut, menjadi contoh sinergi nyata antara pemerintah pusat dan daerah dalam memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan hak atas gizi yang layak.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Anggota Komisi IX DPR RI Mariana, Perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN) Teguh Suparngadi, serta Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Laut Isna Farida, M.Kes, dan ratusan peserta dari berbagai lapisan masyarakat.
Dalam sambutannya, Mariana menegaskan bahwa program MBG merupakan wujud nyata komitmen pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam membangun generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkualitas.
Melalui MBG, kita tidak hanya menghadirkan makanan bergizi gratis, tetapi juga menanamkan kesadaran tentang pentingnya pola makan sehat, seimbang, dan berkelanjutan, ujarnya.
Sementara itu, perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN), Teguh Suparngadi, menambahkan bahwa program MBG tidak hanya berorientasi pada kesehatan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal.
Program ini akan memenuhi kebutuhan gizi anak dan ibu hamil sekaligus menggerakkan ekonomi daerah. Dapur MBG memerlukan bahan makanan dari petani, nelayan, dan peternak setempat, sehingga terjadi sirkulasi ekonomi yang positif, jelas Teguh.
Kepala Dinas Kesehatan Tanah Laut, Isna Farida, M.Kes, juga menegaskan pentingnya kolaborasi dalam menjaga kualitas gizi program tersebut. Makanan bergizi berarti asupan yang seimbang sesuai kebutuhan tubuh.
Dinas Kesehatan akan berperan aktif dalam sertifikasi dapur MBG serta pelatihan staf agar standar kebersihan dan kandungan gizi tetap terjaga, ungkapnya.
Melalui momentum Hari Sumpah Pemuda, pemerintah mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama memperkuat ketahanan gizi dan karakter anak muda Indonesia. Asupan gizi yang seimbang bukan sekadar soal makanan, tetapi merupakan bagian penting dari upaya menyiapkan generasi yang sehat jasmani dan rohani, tangguh menghadapi tantangan global, serta siap membawa Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.*
Oleh: Alexander Royce*)
Dalam momentum satu tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, visi besar membangun sumber daya manusia unggul semakin kuat mengemuka. Presiden Prabowo dalam pidato kenegaraan menyampaikan bahwa pemerintah akan terus memperkuat komitmen untuk menjadikan anak muda Indonesia sebagai tulang punggung pembangunan nasional. Ia menegaskan, bahwa kemajuan bangsa akan sangat ditentukan oleh kualitas generasi muda dan akses pendidikan bermutu.
Sesuai arahan tersebut, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mulai menyiapkan konsep sekolah unggulan terintegrasi non-asrama yang akan hadir di setiap kecamatan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengungkap bahwa pihaknya telah meninjau model di Samarinda sebagai acuan, dan bahwa Presiden Prabowo telah meminta agar sekolah unggulan ini dirancang agar SD, SMP, dan SMA dapat berintegrasi dalam satu lokasi demi efisiensi dan kohesi pembelajaran. Menurut MuŹti, hal ini bukan sekadar fisik sekolah, tetapi juga mencakup penerapan kurikulum yang relevan teknologi dan karakter, serta peran guru yang diperkuat secara profesional.
Tak kalah penting, dari sisi demografi dan pembinaan keluarga, pemerintah melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) meletakkan fondasi pengembangan generasi unggul mulai dari unit terkecil, keluarga. Wakil Menteri Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka mengatakan bahwa pemerintahan Prabowo-Gibran memfokuskan programnya secara holistik pada pembangunan kualitas SDM hingga 2045, dan bahwa sekolah unggulan merupakan salah satu titik capaian dalam sistem ini. Ia menegaskan bahwa keberadaan sekolah unggulan tidak boleh menjadi eksklusif, namun harus inklusif dan menjangkau seluruh anak-muda dari berbagai kalangan.
Dalam konteks terkini, langkah pemerintah memang menunjukkan percepatan. Untuk contoh konkret, pada awal Oktober 2025 pemerintah meresmikan sebuah sekolah terpadu di Samarinda yang menjadi rujukan model sekolah unggul non-asrama. Sekolah ini dilengkapi fasilitas teknologi modern seperti Interactive Flat Panel (IFP) yang memungkinkan pembelajaran mendalam (deep learning) dan interaksi aktif siswa-guru.
Menteri Muti menegaskan bahwa sekolah ini adalah salah satu referensi dalam program revitalisasi satuan pendidikan, di mana tahun ini ditargetkan ada sekitar 15.850 sekolah yang direvitalisasi, naik lebih dari 30 persen dari target awal. Program revitalisasi ini sekaligus menjadi bagian dari respons pemerintah terhadap tantangan kualitas pendidikan di masa digital, yang harus menjangkau anak-muda di luar kota besar atau wilayah tertinggal agar mereka tidak tertinggal dalam persaingan global.
Inisiatif ini menjadi sangat penting karena Indonesia sedang berada dalam masa bonus demografi yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Dengan jumlah anak muda yang besar, pembangunan sekolah unggulan dari seluruh kalangan menjadi langkah strategis untuk memastikan setiap potensi generasi muda dapat berkembang optimal. Di tengah persaingan global yang semakin ketat dalam bidang sains, teknologi, dan industri, pemerintah menempatkan penguasaan teknologi serta pembentukan karakter kuat sebagai fondasi utama sejak jenjang pendidikan dasar. Dalam pidato KSTI 2025, Presiden Prabowo menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai motor penggerak utama menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Inklusivitas pendidikan menjadi kebutuhan mendesak. Dengan sekolah unggulan terbuka untuk seluruh kalangan anak muda, maka kesenjangan pendidikan dapat dipangkas, dan kesempatan menjadi setara bagi semua. Pernyataan Wakil Menteri Isyana bahwa program sekolah unggulan tidak boleh tertutup untuk elit saja menjadi signal kuat bahwa pemerintahan saat ini menjunjung keadilan akses pendidikan.
Tentu saja, tantangan tetap ada. Konsep sekolah unggulan terintegrasi memerlukan lahan, guru berkualitas, dan sumber daya yang memadai di setiap kecamatan. Seperti yang disampaikan Mendikdasmen, pembahasan teknis, termasuk bagaimana sekolah ini dibentuk di daerah yang jumlah siswanya sedikit atau lahan terbatas, masih berlangsung. Namun, semangat pemerintah untuk bergerak cepat sangat terasa dengan adanya rencana konkret dan alokasi revitalisasi sekolah yang ambisius.
Bagi anak-muda seluruh Indonesia, ini adalah waktu yang tepat untuk mata mereka menatap masa depan dengan harapan baru. Sekolah unggulan yang dirancang pemerintahan Prabowo-Gibran membuka peluang bagi talenta muda dari Sabang sampai Merauke untuk tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga siap bersaing di dunia global dan berkarakter kuat sebagai warga negara Indonesia.
Langkah pemerintah dalam membangun sekolah unggulan dari seluruh kalangan anak muda bukan sekadar retorika politik, melainkan sebuah strategi nasional yang menyentuh akar pendidikan dan masa depan generasi bangsa. Anak muda, orang tua, guru, masyarakat serta pemangku kebijakan didorong untuk bersama-sama mendukung gerakan ini. Karena ketika pendidikan berkualitas terbuka untuk semua, maka Indonesia akan tumbuh dengan kekuatan manusia dan karakter yang utuh. Dan di tangan generasi muda dari berbagai latar belakang itulah harapan besar bangsa ini terbentang. Pemerintah, dengan komitmen kuatnya, telah membuka pintu. Kini saatnya kita melangkah bersama ke dalam masa depan yang lebih gemilang.
*) Penulis merupakan Pengamat Sosial
Oleh : Deka Prawira )
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, arah pembangunan nasional mulai menunjukkan wajah baru yang berpihak pada kualitas sumber daya manusia. Salah satu inisiatif yang paling menonjol adalah pembentukan Sekolah Unggulan Garuda, sebuah program strategis nasional yang dirancang untuk mencetak generasi muda unggul, berkarakter kuat, dan siap bersaing di tingkat global. Program ini bukan sekadar proyek pendidikan, tetapi manifestasi nyata dari visi besar Indonesia Emas 2045sebuah cita-cita untuk menjadikan bangsa ini berdaulat, maju, dan bermartabat melalui kekuatan intelektual anak bangsanya.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa keberhasilan bangsa di masa depan tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, melainkan oleh kemampuan anak-anak Indonesia dalam mengelola dan mengembangkannya melalui sains dan teknologi. Ia menilai, Indonesia memiliki banyak anak cerdas di berbagai pelosok, dan tugas negara adalah menemukan mereka, mendidik mereka, serta memberi ruang agar bisa berkembang tanpa hambatan ekonomi dan sosial. Pandangan ini menjadi dasar lahirnya Sekolah Garudasebuah lembaga pendidikan menengah atas berstandar internasional yang dirancang dengan sistem asrama, kurikulum global, dan pendekatan berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics).
Program ini tidak hanya menargetkan anak-anak dari perkotaan, tetapi juga menjangkau daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Dengan dua skema utama, yaitu Sekolah Garuda Baru dan Sekolah Garuda Transformasi, pemerintah ingin memastikan setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan terbaik. Sekolah Garuda Baru akan dibangun di daerah 3T, sementara Sekolah Garuda Transformasi merupakan hasil peningkatan kualitas sekolah unggulan yang sudah ada agar sejajar dengan standar internasional. Hingga Oktober 2025, tercatat sudah ada 16 Sekolah Unggul Garuda yang beroperasi12 di antaranya merupakan sekolah transformasi, dan 4 lainnya sekolah baru di wilayah 3T.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menyebut Sekolah Garuda sebagai terobosan strategis untuk mewujudkan sistem pendidikan inklusif dan adaptif. Ia menekankan bahwa visi Presiden Prabowo bukan sekadar mencetak siswa pintar, tetapi juga membangun generasi yang inovatif, nasionalis, dan tangguh menghadapi perubahan zaman. Pemerintah, lanjutnya, percaya bahwa potensi Einstein dan Marie Curie masa depan bisa lahir dari setiap pelosok Indonesiadari Sabang hingga Merauke, dari keluarga sederhana sekalipun. Pandangan tersebut mencerminkan semangat egalitarian dalam pendidikan: bahwa kecerdasan dan bakat bukan milik segelintir orang, melainkan hak seluruh anak bangsa.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menegaskan bahwa pemerataan akses pendidikan unggulan menjadi fokus utama pemerintah. Menurutnya, perluasan akses dan peningkatan mutu pembelajaran menjadi dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Melalui Sekolah Garuda, pemerintah berupaya mempersiapkan anak-anak Indonesia agar siap menghadapi disrupsi teknologi, sekaligus menumbuhkan karakter kebangsaan yang kuat.
Dukungan terhadap program ini juga datang dari berbagai kalangan. Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Tengah, Dr. Muhdi, menyebut Sekolah Garuda sebagai inisiatif visioner yang sangat relevan dengan kebutuhan zaman. Ia menilai langkah pemerintah menghadirkan ruang bagi anak-anak bertalenta dan berprestasi adalah bentuk apresiasi terhadap potensi generasi muda yang kerap kali terhambat oleh keterbatasan ekonomi. Dengan catatan, prinsip keadilan pendidikan tetap dijaga, sehingga semua anak mendapatkan kesempatan yang setara untuk berkembang.
Dengan standar internasional seperti International Baccalaureate (IB), Sekolah Garuda diharapkan mampu melahirkan lulusan yang diterima di universitas ternama dunia seperti Harvard, MIT, dan Oxford. Lebih dari itu, para lulusan ini nantinya diharapkan kembali mengabdi kepada bangsa, menjadi ilmuwan, insinyur, dan inovator yang mengelola kekayaan alam Indonesia secara mandiri. Presiden Prabowo bahkan menyebut bahwa Sekolah Garuda adalah investasi jangka panjang untuk mencetak pemenang-pemenang hadiah Nobel dari Indonesiagenerasi yang mampu membawa bangsa ini ke panggung dunia bukan hanya sebagai pasar, tetapi sebagai pencipta inovasi global.
Dalam konteks sosial, kehadiran Sekolah Garuda juga memiliki nilai simbolik yang besar. Ia menjadi bukti bahwa pemerintah tidak tinggal diam menghadapi ketimpangan pendidikan yang selama ini membatasi mobilitas sosial masyarakat bawah. Dengan sistem asrama dan beasiswa penuh, anak-anak dari keluarga sederhana kini memiliki peluang yang sama untuk menembus jenjang pendidikan internasional tanpa terbebani biaya. Di sinilah letak makna sejati dari keadilan sosial dalam pendidikanketika negara hadir bukan hanya sebagai penyedia layanan, tetapi sebagai penggerak perubahan.
Sekolah Unggulan Garuda bukan sekadar proyek pembangunan fisik, melainkan perwujudan tekad kolektif bangsa untuk mencerdaskan kehidupan rakyat sebagaimana diamanatkan konstitusi. Dalam jangka panjang, sekolah ini akan menjadi pusat unggulan yang menyiapkan generasi muda dengan kompetensi global, karakter nasionalis, dan jiwa kepemimpinan yang kuat. Sebuah investasi yang mungkin tidak langsung terlihat hasilnya hari ini, tetapi akan menentukan wajah Indonesia di masa depansebuah bangsa besar yang berdiri tegak di antara peradaban dunia berkat kecerdasan dan integritas generasinya.
Dan dari setiap ruang kelas Sekolah Garuda, kita menaruh harapan: di sanalah sedang lahir para pemimpin masa depan, ilmuwan unggul, dan patriot muda yang akan membawa bendera Merah Putih berkibar di puncak kemajuan dunia.
)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute
Jakarta Pemerintah terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional dengan membangun jaringan sekolah unggulan di berbagai daerah. Program ini menjadi bagian dari upaya strategis untuk menyiapkan generasi muda yang cerdas, kompetitif, dan berkarakter dalam menghadapi tantangan global.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan generasi baru yang unggul di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan kepemimpinan global.
Presiden menekankan bahwa kecerdasan tidak hanya lahir dari keluarga kaya. Banyak anak-anak pintar yang tidak terlihat karena keterbatasan ekonomi dan akses pendidikan. Karena itu, negara akan hadir untuk menjemput mereka.
Kita harus cari anak-anak terpintar Republik Indonesia. Kita beri pendidikan terbaik, supaya kelak bisa menjadi pemenang-pemenang hadiah Nobel. Sekolah unggulan full beasiswa ini bukan proyek pendidikan biasa, tetapi investasi negara untuk melahirkan generasi ilmuwan, peneliti, dan pemimpin masa depan dari anak-anak Indonesia terbaik,ujar Presiden Prabowo.
Sekolah unggulan ini akan menggunakan kurikulum berstandar internasional (IB / International Baccalaureate) sehingga lulusannya diakui oleh universitas terbaik dunia. Melalui program ini, anak-anak Indonesia nantinya dapat langsung mendaftar ke kampus seperti Harvard, Oxford, atau MIT tanpa perlu ujian penyetaraan tambahan.
Yang tidak kalah penting, Presiden menekankan bahwa rekrutmen tidak hanya menyasar kelompok mampu atau kota besar.
Banyak anak dari kalangan bawah yang memiliki kecerdasan luar biasa. Mereka harus ditemukan, dipersiapkan, dan diberi beasiswa penuh, ujar Presiden Prabowo.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Muti mengatakan pihaknya mulai menyiapkan konsep dan kurikulum untuk Sekolah Unggul Terintegrasi non-asrama sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Pak Presiden waktu sidang kabinet menyampaikan agar kami menyiapkan konsep Sekolah Unggul Terintegrasi non-asrama, ujar Abdul Muti.
Abdul Muti menjelaskan, Sekolah Unggul Terintegrasi akan menggabungkan tiga jenjang pendidikan, yakni SD, SMP, dan SMA, dalam satu kawasan pendidikan. Rencananya, satu sekolah terintegrasi akan dibangun di setiap kecamatan.
Abdul Muti menambahkan, pembahasan teknis seperti skema penyediaan lahan atau pemanfaatan sekolah dengan jumlah murid sedikit masih akan dibicarakan kemudian.
Yang sekarang menjadi fokus kami adalah penyiapan kurikulum, rekrutmen guru, dan aspek akademik lainnya. Soal teknis seperti lahan dan skema pendirian akan dibahas pada tahap berikutnya, ujarnya.
Program ini mendapat sambutan positif dari masyarakat dan pemerintah daerah. Selain itu, pembangunan sekolah unggulan diharapkan mempersempit kesenjangan pendidikan antarwilayah dan mempercepat terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Jakarta Pemerintah Republik Indonesia melalui program strategis nasional Sekolah Garuda, menunjukkan komitmen kuat dalam meningkatkan kompetensi pemuda Indonesia agar mampu bersaing di kancah global.
Program ini digagas langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagai upaya nyata menyiapkan generasi unggul di bidang sains, teknologi, dan inovasi yang menjadi kunci kemajuan bangsa di abad ke-21.
Tepat satu tahun pemerintahannya, Presiden Prabowo menegaskan pentingnya Sekolah Garuda sebagai bagian dari program prioritas.
“Kita harus mencari anak-anak terpintar dari seluruh pelosok negeri, tidak hanya dari golongan menengah ke atas, tapi juga dari latar belakang ekonomi yang kurang beruntung,” tegas Prabowo.
Presiden menjelaskan bahwa Sekolah Garuda dirancang dengan standar internasional, menggunakan kurikulum International Baccalaureate (IB) yang memungkinkan lulusannya diterima di universitas terbaik dunia seperti Harvard, MIT, dan Oxford.
Menurutnya, kekayaan alam Indonesia, seperti mineral kritis dan rare earth, harus dikelola oleh para ilmuwan, insinyur, dan ahli teknologi dari dalam negeri.
Masa depan bangsa kita tergantung pada kemampuan anak-anak pintar kita di bidang sains dan teknologi. Sekolah Garuda adalah investasi jangka panjang untuk mencetak para pemenang hadiah Nobel dan penggerak kemajuan bangsa, tambahnya.
Program Sekolah Garuda terbagi dalam dua skema utama, yakni Sekolah Garuda Baru yang dibangun di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta Sekolah Garuda Transformasi, yang mengintegrasikan sekolah unggulan yang sudah ada agar menerapkan standar global. Pemerintah menargetkan pembangunan 20 Sekolah Garuda Baru dan transformasi 80 sekolah hingga tahun 2029.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menegaskan bahwa program ini bukan hanya soal membangun gedung, tetapi juga membuka akses pendidikan berkualitas tanpa diskriminasi sosial ekonomi.
Presiden percaya bahwa setiap pelosok Indonesia memiliki anak-anak cerdas luar biasa. Sekolah Garuda hadir untuk menjawab kebutuhan mereka dan menjamin pemerataan akses pendidikan, ujar Stella.
Kehadiran Sekolah Garuda juga mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Wakil Ketua Komisi X DPR, Kurniasih Mufidayati, menyampaikan dukungannya terhadap program ini sebagai langkah strategis untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.
Sekolah Garuda memperkuat SDM Indonesia dengan kurikulum berbasis kompetensi dan standar internasional, serta beasiswa penuh untuk semua siswa berprestasi, tanpa memandang latar belakang, ujar Kurniasih.
Namun, Kurniasih juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan dan perhatian terhadap sekolah reguler agar tidak menimbulkan kesenjangan pendidikan.
Program Sekolah Garuda, dengan sistem asrama, kurikulum internasional, dan fokus pada bidang STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics), diharapkan menjadi motor penggerak generasi muda Indonesia yang mampu bersaing secara global dan menjadi pilar utama dalam kemajuan bangsa. *
Oleh: Sidny Pramesta )*
Peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun 2025 menjadi momentum penting bagi bangsa Indonesia untuk meneguhkan kembali semangat persatuan dan kesatuan di tengah derasnya arus perubahan zaman. Di era modern yang sarat dengan disrupsi informasi, makna Sumpah Pemuda tidak lagi berhenti pada simbol sejarah, melainkan harus diwujudkan dalam perilaku nyata yang mencerminkan tanggung jawab sosial dan kedewasaan berpikir.
Pemerintah mengingatkan seluruh generasi muda agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang menyesatkan, terutama menjelang momentum nasional yang sering kali dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk menebar kebencian dan memecah belah masyarakat.
Semangat Sumpah Pemuda tahun ini menjadi panggilan moral agar kaum muda kembali menegaskan jati dirinya sebagai penggerak harmoni dan stabilitas sosial. Nilai-nilai persatuan, toleransi, dan gotong royong yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 kini menemukan bentuk baru dalam kehidupan digital.
Menjaga kondusivitas di media sosial dan ruang publik menjadi wujud pengamalan semangat itu di era kini. Sikap bijak dalam menyebarkan informasi, menolak ujaran kebencian, serta berpartisipasi aktif menciptakan ruang damai merupakan refleksi nyata semangat Sumpah Pemuda di zaman modern.
Staf Ahli Bidang Hubungan Pusat, Daerah, dan Internasional Kementerian Pemuda dan Olahraga, Suyadi Pawiro, menilai bahwa semangat persatuan harus diwujudkan tidak hanya dalam tindakan sosial, tetapi juga dalam interaksi dunia maya yang kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Suyadi Pawiro menyampaikan bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan lingkungan sosial yang aman, damai, dan produktif di tengah derasnya arus informasi. Karena itu, Kemenpora memperluas fokus pembinaan kepemudaan dengan memperkuat karakter dan literasi digital. Upaya ini dirancang agar pemuda menjadi garda terdepan dalam membangun ruang publik yang sehat, beretika, serta bebas dari provokasi.
Pemerintah memandang langkah tersebut sebagai strategi jangka panjang dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu, tetapi juga matang dalam moral dan karakter. Literasi digital menjadi kunci untuk memperkuat daya tahan masyarakat terhadap penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi sosial.
Bagi pemerintah, membangun karakter pemuda sejatinya sama dengan membangun masa depan bangsa. Karena itu, pendidikan nilai dan etika bermedia menjadi prioritas utama dalam menyiapkan generasi muda yang mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan identitas kebangsaannya.
Novelis J.S. Khairen menilai, menjaga kondusivitas di ruang digital membutuhkan kepekaan dan rasa tanggung jawab sosial yang tinggi. Anak muda, dengan energi dan idealismenya, perlu ditempatkan pada posisi strategis dalam membangun budaya digital yang sehat.
Menurut J.S. Khairen, kemampuan berpikir kritis dan kebiasaan membaca merupakan modal penting agar generasi muda tidak mudah terseret dalam arus informasi yang menyesatkan. Ia berpendapat, pembiasaan literasi yang baik akan memperkuat karakter bangsa sekaligus memperluas wawasan anak muda agar mampu menilai isu dengan jernih dan proporsional.
Senada dengan itu, musisi sekaligus penulis lagu, Indra Prasta dari grup The Rain, menekankan pentingnya keseimbangan antara semangat dan etika dalam bermedia sosial. Ia menilai bahwa pemuda adalah representasi dari karakter bangsa. Oleh sebab itu, energi dan kreativitas generasi muda harus diarahkan untuk hal-hal positif, seperti menyebarkan inspirasi, membangun solidaritas, dan memperkuat semangat kebangsaan.
Menurut Indra, kolaborasi adalah kunci untuk menjaga kondusivitas sosial di tengah keberagaman. Melalui kerja sama lintas generasi dan komunitas, pemuda dapat menjadi penggerak inovasi dan penjaga perdamaian di masyarakat.
Dalam konteks pembangunan bangsa, menjaga kondusivitas di era digital bukan sekadar upaya menciptakan ketertiban, tetapi juga menghadirkan ruang yang inklusif bagi setiap warga untuk tumbuh dan berkontribusi bersama.
Pemerintah menilai, kedewasaan berpikir dan ketenangan dalam bersikap merupakan bentuk kecerdasan baru yang wajib dimiliki oleh generasi muda masa kini. Karena itu, kampanye literasi digital, pelatihan kepemimpinan, serta program penguatan karakter yang digagas Kemenpora merupakan langkah konkret memperkuat ketahanan sosial bangsa.
Peringatan Hari Sumpah Pemuda 2025 bukan hanya seremoni tahunan, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali komitmen kebangsaan di tengah gempuran provokasi dan disinformasi. Pemerintah menyerukan agar generasi muda menjadikan peringatan ini sebagai ajang introspeksi dan refleksi, bukan reaksi terhadap isu-isu yang memecah belah. Semangat Sumpah Pemuda sejatinya adalah tentang keberanian untuk bersatu, berpikir jernih, dan bertindak demi kepentingan bersama.
Dengan semangat gotong royong dan jiwa persatuan yang terus hidup, pemerintah percaya bahwa generasi muda Indonesia mampu menjaga kedamaian, memperkuat persaudaraan, dan menjadi pelopor perubahan positif di setiap bidang kehidupan. Di tangan pemuda yang cerdas, berintegritas, dan tidak mudah terprovokasi, cita-cita besar bangsa untuk menjadi negara yang kuat, damai, dan berdaulat akan tetap terjaga.
)* Pemerhati Kebijakan Publik
Oleh: Aditya Hutomo
Peringatan Hari Sumpah Pemuda 2025 berlangsung dalam suasana aman, tertib, dan penuh semangat kebersamaan. Di berbagai daerah, kolaborasi antara TNI, Polri, dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas serta mencegah gangguan yang dapat menodai momentum kebangsaan. Kondisi kondusif ini menjadi bukti bahwa semangat persatuan yang diwariskan para pemuda 1928 terus hidup dan berkembang seiring dengan tantangan zaman, termasuk di era digital yang sarat dengan potensi provokasi dan disinformasi.
Tema nasional Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu menggambarkan semangat baru generasi muda untuk memperkuat kesatuan bangsa di tengah perbedaan yang kian kompleks. Di era di mana informasi menyebar begitu cepat, semangat Sumpah Pemuda tidak hanya berbicara tentang perlawanan fisik atau perjuangan politik, tetapi juga tentang ketahanan moral dan intelektual dalam menghadapi ancaman provokasi di ruang digital.
Sinergi yang terjalin antara aparat keamanan dan masyarakat menjadi pilar utama dalam memastikan bahwa peringatan ini berlangsung damai. Pemerintah menilai bahwa keberhasilan menjaga ketertiban nasional merupakan hasil kerja kolektif seluruh elemen bangsa. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, memandang bahwa ketenangan dalam peringatan Sumpah Pemuda kali ini menegaskan kekuatan sosial bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan global. Ia menilai, di tengah ancaman perubahan iklim, krisis pangan, dan disrupsi teknologi, hanya bangsa yang bersatu dan berdaya saing tinggi yang mampu bertahan. Karena itu, ia menekankan bahwa peran pemuda sangat vital bukan hanya sebagai penerus bangsa, tetapi juga sebagai penggerak utama pembangunan yang tangguh dan berintegritas.
Dalam perspektif keamanan nasional, TNI dan Polri memandang peringatan Sumpah Pemuda sebagai momentum penting untuk memperkuat rasa aman dan solidaritas publik. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menilai bahwa kondisi stabil selama perayaan mencerminkan keberhasilan kolaborasi antara aparat dan masyarakat. Ia menilai, terciptanya suasana kondusif di berbagai daerah bukan semata hasil operasi pengamanan, tetapi wujud nyata partisipasi publik yang semakin matang. Ia juga menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap potensi provokasi digital yang kerap muncul menjelang peringatan nasional. Menurutnya, penyebaran berita palsu atau narasi provokatif di media sosial dapat mengancam persatuan jika tidak dihadapi dengan literasi dan kesadaran kolektif.
Senada dengan itu, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menilai bahwa kerja sama lintas institusi antara TNI, Polri, dan masyarakat telah menjadi simbol nyata gotong royong bangsa dalam menjaga keamanan. Ia memandang perayaan Sumpah Pemuda 2025 sebagai refleksi keberhasilan seluruh pihak dalam mewujudkan suasana damai di tengah keragaman. Menurutnya, keamanan nasional bukan hanya tanggung jawab aparat, tetapi juga hasil kerja sama antara rakyat dan negara. Ia menilai, keterlibatan masyarakat dalam menjaga keamanan di tingkat lokal, mulai dari kegiatan pengamanan lingkungan hingga partisipasi dalam patroli siber, menjadi bukti bahwa kesadaran kebangsaan semakin tumbuh kuat.
Dari sisi sosial-politik, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat melihat suasana damai dalam peringatan ini sebagai tanda keberhasilan bangsa dalam menjaga nilai-nilai luhur Sumpah Pemuda. Ia menilai bahwa cinta tanah air, semangat gotong royong, dan komitmen terhadap persatuan adalah fondasi moral yang harus terus diwariskan kepada generasi muda. Ia juga menyoroti data Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang mencatat bahwa lebih dari separuh pemilih pada Pemilu 2024 berasal dari kalangan milenial dan generasi Z. Baginya, hal tersebut memperlihatkan bahwa generasi muda kini memegang peran strategis dalam menentukan arah demokrasi Indonesia, termasuk dalam menjaga stabilitas dan keutuhan bangsa dari ancaman provokasi politik.
Perayaan Sumpah Pemuda 2025 juga memperlihatkan bagaimana upaya kolaboratif antara pemerintah, aparat, dan masyarakat dalam menciptakan ruang publik yang sehat. Di berbagai daerah, kegiatan upacara, pawai budaya, dan dialog kebangsaan berlangsung tertib dan produktif. Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) aktif mengampanyekan literasi digital dan sikap bijak bermedia sosial. Upaya ini dinilai efektif dalam mencegah penyebaran narasi kebencian serta memperkuat kesadaran pemuda untuk menjadikan media sosial sebagai ruang kolaborasi, bukan konflik.
Dari sisi akademik, Ketua Program Studi Magister Ilmu Politik Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Dr. H. Darsono, M.Si, memandang bahwa semangat Sumpah Pemuda di era digital harus diterjemahkan sebagai gerakan literasi kebangsaan. Ia menilai bahwa ruang digital kini menjadi medan baru bagi perjuangan moral generasi muda. Baginya, pemuda harus mampu menjadi penjaga kebenaran di tengah banjir informasi. Ia menyebut munculnya nasionalisme kritis di kalangan muda sebagai hal positif, yaitu bentuk cinta tanah air yang tidak dogmatis, melainkan rasional dan berbasis pengetahuan.
Kehadiran sinergi antara TNI, Polri, dan masyarakat dalam perayaan Sumpah Pemuda 2025 menegaskan bahwa keamanan dan persatuan tidak lahir dari instruksi, tetapi dari kesadaran kolektif bangsa. Ketika aparat dan rakyat bersatu, ancaman provokasi dan disinformasi dapat diredam dengan cara yang elegan melalui dialog, literasi, dan kolaborasi.
Perayaan Sumpah Pemuda tahun ini menjadi bukti bahwa semangat 1928 tetap hidup dalam bentuk baru: semangat kolaboratif yang berpadu dengan kewaspadaan digital. Sumpah Pemuda kini tidak hanya diucapkan dalam teks sejarah, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata menjaga harmoni sosial dan memperkuat ketahanan nasional dari segala bentuk provokasi. Dengan semangat itu, Indonesia menegaskan diri sebagai bangsa yang dewasa, berkarakter, dan mampu menjaga persatuannya di tengah arus perubahan global. (*)
Analis Keamanan Publik
Jakarta – Peringatan Hari Sumpah Pemuda 2025 di seluruh Indonesia berlangsung aman, tertib, dan penuh semangat kebersamaan. Suasana kondusif tersebut tidak hanya menjadi hasil kerja aparat keamanan, tetapi juga wujud nyata partisipasi masyarakat yang berperan aktif menjaga ketertiban di lingkungannya masing-masing. Sinergi antara TNI, Polri, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menciptakan keamanan nasional yang stabil di tengah dinamika sosial serta tantangan digital yang kian kompleks.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan apresiasi atas peran aktif masyarakat dan generasi muda dalam mendukung kerja aparat keamanan selama rangkaian peringatan berlangsung. Ia menilai bahwa stabilitas nasional tidak dapat dicapai tanpa kolaborasi dan rasa tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.
Kondusifitas nasional tidak bisa dicapai hanya oleh aparat. Ini hasil kerja bersama antara TNI, Polri, dan seluruh elemen masyarakat, ujar Kapolri di Jakarta.
Kapolri juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan publik terhadap penyebaran berita palsu dan provokasi di dunia maya yang kerap muncul menjelang momentum kebangsaan.
Jaga ruang digital dari berita palsu dan ujaran kebencian. Jangan beri ruang bagi pihak yang ingin memecah persatuan bangsa, tegasnya.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menilai kondisi aman dan tertib yang tercipta menunjukkan semakin matangnya kesadaran publik terhadap pentingnya persatuan dan kolaborasi lintas elemen bangsa. Ia mengatakan bahwa semangat Sumpah Pemuda saat ini bukan lagi perjuangan fisik, melainkan upaya bersama menjaga keutuhan bangsa di tengah derasnya arus informasi dan tantangan global.
Senada dengan itu, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menegaskan komitmen TNI untuk terus bersinergi dengan Polri dalam menjaga keamanan nasional. Ia menyebut kerja sama erat antara aparat dan masyarakat menjadi bukti bahwa keamanan nasional lahir dari semangat gotong royong.
Kami bersama Polri memastikan perayaan Sumpah Pemuda berjalan aman, damai, dan penuh semangat persaudaraan, ujarnya.
Perayaan yang berjalan damai dari Sabang hingga Merauke memperlihatkan bahwa sinergi antara aparat dan masyarakat menjadi pilar penting dalam menjaga persatuan bangsa. Dengan kolaborasi TNI, Polri, dan publik yang solid, Indonesia menegaskan diri sebagai bangsa yang tangguh, dewasa, dan siap menghadapi tantangan zaman dengan semangat persatuan yang kokoh. (*)
