Apresiasi Publik terhadap Program Makan Bergizi Gratis sebagai Investasi Masa Depan Bangsa

Oleh : Rahmat Aditya )*

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto telah menjadi salah satu agenda prioritas dalam kerangka Astacita. Sejak diluncurkan, program ini berhasil menjangkau puluhan juta penerima manfaat, khususnya anak-anak sekolah dan ibu hamil, dengan tujuan memperbaiki kualitas gizi masyarakat. Meski diwarnai sejumlah insiden keracunan di beberapa daerah, pemerintah dengan sigap mengambil langkah evaluasi menyeluruh agar pelaksanaannya semakin baik, aman, dan tepat sasaran. Sikap Presiden yang langsung merespons dengan cepat patut diapresiasi sebagai wujud keseriusan pemerintah menjaga keberlangsungan program strategis ini.

Sekretaris Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Affandi Affan menilai langkah evaluasi Presiden Prabowo mencerminkan komitmen menjaga masa depan generasi bangsa. Menurutnya, evaluasi bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan dalam memastikan program tetap berjalan sehat dan bermanfaat. Pemuda Muhammadiyah, kata Affandi, memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Presiden yang berani melakukan pembenahan menyeluruh. Ia menekankan bahwa apabila ditemukan kelalaian ataupun pelanggaran hukum dalam pengelolaan dapur MBG, maka aparat penegak hukum perlu bertindak tegas demi keadilan dan perlindungan masyarakat. Dengan demikian, program tidak hanya menghadirkan makanan bergizi, tetapi juga menumbuhkan rasa aman di kalangan penerima manfaat.

Lebih jauh, Affandi menyatakan evaluasi ini merupakan momentum penting untuk memperkuat kualitas sistem dan menjaga integritas program. Menurutnya, MBG adalah amanah besar yang harus dijaga bersama, bukan hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh seluruh elemen masyarakat. Pemuda Muhammadiyah menegaskan kesediaannya berdiri bersama pemerintah dalam memastikan keberlangsungan program ini demi tercapainya Indonesia Emas 2045.

Apresiasi serupa juga datang dari kalangan industri dalam negeri. Eman Suryaman, Pembina Asosiasi Produsen Wadah Makan Indonesia (APMAKI), menyampaikan rasa bangganya karena produk wadah makan lokal ditetapkan sebagai standar dalam program MBG. Menurutnya, kebijakan ini tidak hanya menjamin kualitas dan keamanan pangan, tetapi juga memperlihatkan bukti nyata keberpihakan pemerintah terhadap industri dalam negeri. APMAKI berkomitmen menyediakan wadah makan yang sehat, bersih, berkualitas, serta bersertifikat halal sesuai standar keamanan pangan. Eman menegaskan bahwa kehadiran APMAKI dalam program MBG menjadi bagian dari kontribusi nyata membangun generasi unggul dan berintegritas.

Pihaknya juga menyoroti dampak positif kebijakan tersebut terhadap perekonomian nasional. Dengan adanya kewajiban penggunaan produk lokal, maka UMKM dan produsen dalam negeri berkesempatan meningkatkan kapasitas produksi sekaligus membuka lapangan kerja baru. Kolaborasi ini diyakini akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, baik sebagai produsen maupun penerima manfaat program MBG.

Dari sisi regulasi, Nanik Deyan, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), menegaskan bahwa setiap Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) baru wajib menggunakan wadah makanan produksi dalam negeri. Persyaratan itu mencakup kualitas material agar tahan lama, memenuhi standar keamanan pangan, hingga sertifikasi halal. Aturan tersebut bukan hanya soal teknis, melainkan strategi besar untuk memberdayakan industri nasional sekaligus memastikan produk yang dipakai memenuhi standar higienis.

Presiden Prabowo sendiri menegaskan target ambisius MBG dengan konsep zero accident. Meski tingkat kesalahan distribusi hanya 0,00017 persen dari total 30 juta penerima manfaat, ia menekankan bahwa pemerintah tidak boleh puas. Baginya, sekecil apa pun insiden tetap harus menjadi perhatian serius. Dalam pidatonya, Prabowo membandingkan pencapaian Indonesia dengan Brasil, yang membutuhkan 11 tahun untuk menjangkau 40 juta penerima manfaat, sementara Indonesia mampu mencapai hampir 30 juta hanya dalam 11 bulan. Perbandingan ini menunjukkan keberhasilan luar biasa, meski pemerintah tetap fokus melakukan perbaikan.

Presiden juga menyoroti pentingnya memperkuat standar operasional prosedur di dapur SPPG. Seluruh alat harus dicuci dengan teknologi modern, serta setiap dapur diwajibkan memiliki alat uji makanan sebelum distribusi. Langkah-langkah teknis ini membuktikan kesungguhan pemerintah menjamin keamanan pangan bagi anak-anak dan ibu hamil.

Dukungan terhadap program MBG juga datang dari dunia kesehatan. Lima organisasi profesi kesehatan, yakni Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), dan Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), menyatakan kesiapan terlibat aktif dalam menjaga kualitas MBG. Mereka melihat program ini sebagai tonggak penting dalam membangun fondasi generasi mendatang yang sehat, cerdas, dan tangguh. Dukungan mereka memperlihatkan sinergi kuat antara pemerintah dan tenaga profesional kesehatan untuk memastikan pengawasan mutu makanan berjalan efektif di 514 kabupaten/kota.

Pernyataan bersama organisasi kesehatan tersebut juga menekankan pentingnya memperluas cakupan MBG hingga ke seluruh daerah, serta memperkuat sistem quality control agar kejadian luar biasa keracunan tidak terulang. Keterlibatan mereka akan menjadi tambahan kekuatan dalam memastikan program berjalan konsisten sesuai standar kesehatan.

Apresiasi publik terhadap langkah Presiden Prabowo Subianto tidak hanya mencerminkan dukungan moral, tetapi juga memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah. Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan mulai dari organisasi kepemudaan, industri lokal, badan pemerintah, hingga profesi kesehatan, MBG menjadi program nasional yang bersifat inklusif. Sinergi ini menegaskan bahwa upaya mencetak generasi emas bukan sekadar janji politik, melainkan kerja nyata yang dikerjakan bersama-sama.

Evaluasi yang dilakukan pemerintah merupakan bentuk kepemimpinan visioner. Alih-alih menghindari masalah, Presiden memilih menghadapinya secara terbuka dengan langkah perbaikan yang terukur. Inilah ciri kepemimpinan yang adaptif, yang tidak sekadar menuntut hasil, tetapi juga menjamin keberlangsungan program untuk kepentingan bangsa.

Program Makan Bergizi Gratis pada akhirnya bukan hanya soal makanan di meja anak-anak sekolah, tetapi juga simbol kehadiran negara dalam melindungi generasi penerus. Apresiasi publik, terutama dari kalangan pemuda, industri, dan profesi kesehatan, memperlihatkan bahwa MBG telah menjadi agenda bersama. Dengan semangat evaluasi berkelanjutan dan kolaborasi multisektor, cita-cita mewujudkan Indonesia Emas 2045 semakin nyata.

)* Penulis merupakan pengamat pembangunan SDM

Jelang Setahun Pemerintahan Prabowo, Program MBG Jadi Bukti Nyata Komitmen Gizi Nasional

JAKARTA – Menjelang satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tampil sebagai salah satu capaian kinerja paling menonjol. Dalam kurun waktu hanya 11 bulan, program prioritas nasional ini telah menjangkau hampir 30 juta penerima manfaat, terdiri dari anak-anak sekolah dan ibu hamil di seluruh Indonesia. Keberhasilan ini menegaskan komitmen pemerintah untuk mewujudkan generasi sehat dan kuat sebagai fondasi Indonesia Emas 2045.

Presiden Prabowo menekankan bahwa pemerintah tidak akan berpuas diri meskipun angka kesalahan distribusi program MBG sangat kecil, hanya 0,00017 persen. “Saudara-saudara sekalian, sampai hari ini sudah menjelang 30 juta penerima manfaat, 30 juta anak-anak dan ibu-ibu hamil tiap hari menerima makanan. Bahwa ada kekurangan, iya. Ada keracunan makanan, iya. Kita hitung, dari semua makanan yang keluar penyimpangan atau kekurangan atau kesalahan itu adalah 0,00017 persen. Ini tidak membuat kita puas dengan itu!” tegasnya dalam pidato di Musyawarah Nasional PKS, Senin (29/9).

Prabowo bahkan membandingkan capaian Indonesia dengan Brasil. “Brasil memerlukan waktu 11 tahun untuk mencapai 40 juta penerima manfaat. Kita 11 bulan sudah 30 juta penerima manfaat. Ada kekurangan? Ada. Tapi, manfaatnya sangat-sangat besar,” ujar Presiden. Ia menegaskan target pemerintah adalah zero accident dengan berbagai langkah perbaikan untuk memastikan keamanan pangan di setiap dapur Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG). “Kita sudah bikin SOP, semua alat harus dicuci pakai alat modern, dan kita juga perintahkan semua dapur harus punya test kit, alat uji sebelum distribusi harus diuji dulu semua,” jelasnya.

Langkah konkret pemerintah juga disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan. Ia menegaskan keselamatan anak adalah prioritas utama, termasuk melalui percepatan sertifikasi laik higiene dan sanitasi di seluruh dapur MBG. “Seluruh proses ini kami lakukan terbuka agar masyarakat tahu bahwa negara hadir dan tidak main-main dalam menjaga anak-anak Indonesia,” tegasnya.

Dukungan terhadap MBG datang dari lima organisasi profesi kesehatan seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI). Mereka menyatakan siap membantu pemerintah melakukan quality control di 514 kabupaten/kota.

Dengan cakupan luas dan manfaat ekonomi yang ikut menggerakkan petani, peternak, serta pelaku UMKM, program MBG menjadi bukti nyata kepemimpinan Prabowo–Gibran yang cepat, responsif, dan berpihak pada rakyat. Pencapaian besar ini memperkuat optimisme publik bahwa target 82 juta penerima manfaat dapat diwujudkan secara aman dan berkualitas, sekaligus mengokohkan MBG sebagai andalan kinerja pemerintahan Prabowo–Gibran jelang satu tahun kepemimpinan.

Presiden Prabowo Targetkan Nol Insiden MBG, IDI Nyatakan Dukungan Penuh

Jakarta– Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk mencapai target nol insiden atau zero accident dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dalam pidatonya di Musyawarah Nasional (Munas) Ke-6 Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di The Sultan Hotel & Residence, Jakarta, Senin (29/9), Presiden menilai capaian distribusi MBG cukup signifikan, namun belum sepenuhnya memuaskan.

“Saudara-saudara sekalian, sampai hari ini sudah menjelang 30 juta penerima manfaat, 30 juta anak-anak dan ibu-ibu hamil tiap hari menerima makanan. Bahwa ada kekurangan, iya. Ada keracunan makanan, iya. Kita hitung, dari semua makanan yang keluar penyimpangan atau kekurangan atau kesalahan itu adalah 0,00017 persen,” kata Prabowo.

“Ini tidak membuat kita puas dengan itu!” lanjutnya.

Kepala Negara membandingkan capaian Indonesia dengan Brasil yang memerlukan waktu 11 tahun untuk menjangkau 40 juta penerima manfaat.

“Kita 11 bulan sudah 30 juta penerima manfaat. Ada kekurangan? Ada. Tapi, manfaatnya sangat-sangat besar,” katanya.

Presiden menegaskan MBG telah memberi dampak besar bagi perbaikan gizi masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat. Meski target penerima manfaat ke depan akan ditingkatkan hingga 82 juta orang, Presiden Prabowo menilai percepatan harus dilakukan secara hati-hati.

Presiden juga mengungkapkan langkah korektif yang telah dijalankan pemerintah, seperti memperketat SOP di dapur Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG).

“Kita sudah bikin SOP, semua alat harus dicuci pakai alat modern, dan kita juga perintahkan semua dapur harus punya test kit, alat uji sebelum distribusi harus diuji dulu semua,” ujarnya.

Dukungan terhadap program MBG juga datang dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Ketua Umum PB IDI, dr. Slamet Budiarto, menegaskan pihaknya menyambut baik program ini karena mampu meningkatkan kualitas gizi masyarakat.

Ia menambahkan tentang perlunya peningkatan pengawasan kualitas yang lebih baik terhadap program tersebut.

“Program MBG perlu dibuat quality control yang lebih baik untuk mencegah kejadian yang tidak diharapkan,” tutur dr. Slamet.

IDI menyatakan siap mendukung pemerintah melalui keterlibatan dalam pengawasan mutu di 514 kota/kabupaten di seluruh Indonesia serta mendorong agar cakupan program diperluas ke kelompok rentan lainnya.

Pemerintah Fokus pada UMKM sebagai Motor Ekonomi Inklusif

Jakarta – Pemerintah menegaskan komitmennya menjadikan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai motor penggerak utama ekonomi inklusif. Dengan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional, UMKM dipandang bukan hanya menopang pertumbuhan, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi keluarga dan daerah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menekankan pentingnya penguatan data berbasis digital untuk mendorong UMKM naik kelas.

“UMKM harus terdata dengan baik melalui sistem digitalisasi. Pemerintah menekankan pentingnya data UMKM yang jumlahnya lebih dari 50 juta sebagai basis, karena yang utama bukan hanya pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga ekonomi keluarga. Jika ekonomi keluarga kuat, maka ekonomi nasional pun lebih terjamin,” ujarnya.

Selain memperkuat data, pemerintah juga memperluas akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Skema ini diharapkan membuka peluang lebih besar bagi pelaku usaha untuk mengembangkan bisnis.

Airlangga menambahkan, transformasi digital turut menjadi penopang pertumbuhan, salah satunya lewat pemanfaatan digital payment yang digunakan oleh UMKM binaan SRC.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) juga menjadikan keberlanjutan UMKM di ruang digital sebagai prioritas. Wakil Menteri, Nezar Patria, menegaskan jika ekosistem digital harus sehat dan aman agar bisa dimanfaatkan secara optimal.

“Kita akan membangun komunikasi dan memahami adanya kebutuhan UMKM serta kegiatan masyarakat yang menggunakan platform digital. Fitur-fitur yang ada dapat terus dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas ekonomi,” jelas Nezar.

Ia menambahkan, pemerintah ingin memastikan keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan keselamatan masyarakat di ruang digital.

Dari sisi perbankan, Bank Mandiri memperkuat dukungan bagi UMKM melalui penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp 55 triliun dari Kementerian Keuangan.

Direktur Corporate Banking, M. Rizaldi, mengatakan, “Penempatan dana ini memperkuat likuiditas serta kapasitas pembiayaan Bank Mandiri untuk meningkatkan penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas pemerintah, terutama UMKM.”

Ia menambahkan, kredit ke segmen UMKM mencatat pertumbuhan 12,6% secara tahunan pada kuartal II 2025, lebih tinggi dibanding rata-rata industri. Penyaluran juga diarahkan ke sektor produktif, seperti perdagangan, industri padat karya, dan makanan-minuman.

Dengan kolaborasi kebijakan pemerintah, dukungan perbankan, dan transformasi digital, UMKM diyakini semakin siap menjadi motor ekonomi inklusif yang memperkuat fondasi pertumbuhan nasional.

Program Pemberdayaan UMKM Dorong Kemandirian Ekonomi Daerah

Jakarta – Pemerintah semakin serius mendorong kemandirian ekonomi daerah melalui penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Menteri UMKM, Maman Abdurahman, menyampaikan bahwa pemerintah menyediakan dua skema pembiayaan utama, yaitu Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan subsidi pemerintah serta pembiayaan alternatif di luar KUR.

Maman mengingatkan pentingnya pengelolaan dana secara disiplin. “Sebagus apapun akses permodalan ke usaha tapi tidak akan bermanfaat tanpa disiplin dalam mengelola keuangan,” ujarnya.

Ia menambahkan, penyalahgunaan modal justru bisa memperburuk catatan kredit di SLIK OJK sehingga menghambat UMKM naik kelas.

Selain KUR, pemerintah juga membuka peluang pemanfaatan Sertifikat Hak Atas Tanah (SHAT) sebagai jaminan pinjaman.

Dukungan ini diperkuat dengan kerja sama bersama Baznas, PT Pegadaian, PNM, dan Bank BJB.

“Pemerintah selalu siap membantu rakyatnya. Tapi jangan menyalahgunakan kemudahan akses yang diberikan,” kata Maman.

Upaya serupa dilakukan Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) melalui program “Berdaya Bersama” bersama Loid Ventures.

Deputi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Leontinus Alpha Edison, menjelaskan program ini dirancang untuk memberikan inkubasi intensif.

“Tugas kami bukan hanya memberi pelatihan, tapi membuka pintu konkret: pintu modal dan pintu pasar,” ujarnya.

Program tersebut akan berlangsung selama tiga bulan, menghadirkan kurikulum terstruktur, pendampingan dari CEO dan praktisi industri, serta kesempatan bagi sepuluh UMKM terbaik untuk memperoleh dukungan pendanaan awal.

Data pemerintah menunjukkan UMKM berkontribusi lebih dari 60 persen terhadap PDB nasional, menyerap hampir 97 persen tenaga kerja, dan menopang 15,7 persen ekspor Indonesia.

Government Relations Specialist Loid Ventures, Tanti Senjaya, menegaskan komitmen pihaknya mendukung ekosistem usaha nasional.

“Dengan pendekatan end-to-end yang mencakup edukasi, fasilitas, dan permodalan, kami berharap inisiatif ini memberi dampak nyata serta mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi nasional sejalan dengan visi Bapak Presiden Prabowo Subianto,” katanya.

Program ini diharapkan mampu mencetak UMKM yang lebih adaptif terhadap perubahan pasar, terutama di era digitalisasi.

Melalui transformasi digital, pelaku usaha kecil bisa memperluas jangkauan pemasaran, meningkatkan daya saing, serta memperkuat rantai pasok lokal.

Pemerintah juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, baik dengan swasta, lembaga pendidikan, maupun komunitas, agar tercipta ekosistem yang berkelanjutan.

Pemerintah Tegaskan Komitmen Naikkan Daya Saing UMKM

Oleh: Wahyudi Tama )*

Pemerintah menegaskan komitmennya dalam memperkuat daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai bagian penting dari strategi pembangunan ekonomi nasional. Kebijakan, fasilitasi perbankan, serta dukungan standardisasi dijalankan secara terpadu untuk memastikan UMKM tidak hanya bertahan di pasar lokal, tetapi juga siap bersaing di kancah global.

Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, menyampaikan bahwa negara memberikan perhatian khusus pada aspek perpajakan bagi usaha kecil. Ia menegaskan, pemerintah tidak akan memungut pajak dari pelaku UMKM dengan omzet di bawah Rp500 juta per tahun. Kebijakan ini sejalan dengan Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2018, yang membebaskan usaha kecil dari kewajiban Pajak Penghasilan (PPh) Final.

Menurut Maman, langkah ini bertujuan untuk meringankan beban pelaku usaha pada tahap awal serta menciptakan ruang agar mereka dapat berkembang lebih cepat. Ia menilai kebijakan tersebut bukan sekadar keringanan fiskal, tetapi juga afirmasi nyata bahwa negara ingin melindungi UMKM dan menjadikannya fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Peran UMKM memang sangat vital. Data Kementerian Koperasi dan UKM pada 2024 menunjukkan jumlah UMKM mencapai lebih dari 64,2 juta unit, atau sekitar 99,99 persen dari total unit usaha di Indonesia. Sektor ini menyerap lebih dari 123 juta tenaga kerja, setara dengan 97 persen total pekerja nasional. Fakta tersebut memperlihatkan bahwa memperkuat daya saing UMKM sama artinya dengan memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat luas.

Dukungan juga datang dari sektor swasta. Direktur BCA, Antonius Widodo Mulyono, menegaskan bahwa pihaknya konsisten mendorong UMKM naik kelas melalui program Bakti BCA. Salah satu langkah nyata diwujudkan dalam kegiatan business matching antara 37 UMKM binaan dengan pembeli potensial dari Jerman, Go Asia. Program ini difokuskan pada kategori produk makanan dan minuman agar UMKM semakin siap menembus pasar Eropa.

Widodo menilai kegiatan ini mampu meningkatkan kepercayaan diri para pelaku usaha sekaligus memperluas jaringan pasar internasional. Ia menambahkan, selain mempertemukan UMKM dengan pembeli, BCA juga menyediakan workshop dan fasilitasi sertifikasi. Upaya tersebut bertujuan agar UMKM binaan memiliki kapasitas lebih baik dan kontribusi yang lebih optimal bagi perekonomian nasional.

Peningkatan daya saing UMKM juga diperkuat dari sisi kualitas produk. Direktur Sistem dan Harmonisasi Akreditasi Badan Standardisasi Nasional (BSN), Sugeng Raharjo, menjelaskan bahwa lembaganya mendukung Instruksi Presiden No. 2 Tahun 2022 tentang percepatan penggunaan produk dalam negeri. Salah satunya melalui program SNI Bina UMK, yang memberikan hak penggunaan tanda SNI bagi usaha mikro dan kecil dengan risiko rendah.

Sugeng menjelaskan, integrasi SNI ke dalam sistem Online Single Submission (OSS) memudahkan pelaku usaha yang mengajukan Nomor Induk Berusaha (NIB) untuk memperoleh hak tersebut. Dengan cara ini, UMKM memiliki akses lebih sederhana terhadap standar nasional, sehingga bisa lebih fokus dalam meningkatkan kualitas produk dan memperluas pasar.

Langkah pemerintah bersama perbankan dan lembaga standardisasi menunjukkan arah kebijakan yang konsisten. Negara berusaha memastikan agar UMKM mendapat perlindungan di tahap awal, kemudahan dalam akses pasar, serta dukungan kualitas produk. Seluruhnya bermuara pada tujuan agar UMKM tidak hanya menjadi penopang ekonomi lokal, tetapi juga motor penggerak daya saing nasional di kancah internasional.

Dengan strategi menyeluruh yang melibatkan kementerian, lembaga keuangan, dan badan standardisasi, komitmen pemerintah untuk menaikkan daya saing UMKM semakin jelas. Dukungan ini menjadi pondasi penting agar jutaan pelaku usaha kecil di Indonesia bisa terus tumbuh, memperkuat ekonomi keluarga, serta membawa produk lokal berkualitas menembus pasar global.

Pemerintah juga menyadari bahwa penguatan daya saing UMKM tidak hanya bergantung pada aspek fiskal, perbankan, maupun standardisasi, tetapi juga pada kemampuan pelaku usaha dalam memanfaatkan teknologi digital. Oleh karena itu, berbagai program transformasi digital terus diperluas, mulai dari pelatihan e-commerce, literasi keuangan digital, hingga fasilitasi kerja sama dengan marketplace besar.

Kehadiran teknologi diyakini mampu memperluas jangkauan pemasaran, menghubungkan UMKM dengan konsumen global, serta menekan biaya operasional. Langkah ini sejalan dengan visi pemerintah menjadikan ekonomi digital sebagai motor pertumbuhan baru yang inklusif dan berkeadilan.

Selain itu, upaya meningkatkan akses pembiayaan terus diperkuat melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang bunganya disubsidi pemerintah. Skema ini tidak hanya memberikan modal kerja, tetapi juga mendorong UMKM masuk ke ekosistem keuangan formal sehingga lebih siap berkembang. Pemerintah menekankan pentingnya disiplin dalam pengelolaan modal agar bantuan tidak disalahgunakan. Dengan tata kelola yang baik, UMKM dapat membangun rekam jejak kredit yang positif dan membuka peluang memperoleh pembiayaan lebih besar di masa depan.

Ke depan, sinergi lintas sektor akan semakin ditingkatkan untuk memastikan UMKM tidak hanya naik kelas, tetapi juga mampu bertahan menghadapi tantangan global seperti persaingan produk impor dan fluktuasi ekonomi dunia. Dengan kombinasi kebijakan afirmatif, dukungan pembiayaan, fasilitasi pasar, standardisasi, serta digitalisasi, UMKM Indonesia diyakini mampu menjadi tulang punggung kemandirian ekonomi nasional sekaligus pemain penting di pasar internasional.

)* Pengamat Ekonomi

Pemberdayaan UMKM Jadi Prioritas dalam Pembangunan Nasional

Oleh: Lilis Rabbani )*

Pemerintah menegaskan bahwa pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi prioritas utama dalam pembangunan nasional. Berbagai kebijakan strategis terus digulirkan untuk memastikan jutaan pelaku usaha kecil dapat bertahan, tumbuh, dan naik kelas, sehingga mampu menjadi motor penggerak ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, menekankan bahwa program pembangunan tiga juta rumah yang saat ini dijalankan pemerintah bukan sekadar menghadirkan hunian layak, melainkan juga membangun ekosistem ekonomi baru. Menurutnya, rantai nilai usaha yang muncul dari proyek tersebut melibatkan banyak pihak, mulai dari pengembang menengah, penyedia material yang sebagian besar berasal dari UMKM, hingga pedagang kecil yang menghidupkan kawasan sekitar perumahan. Ia menyebut terdapat lebih dari seratus ribu UMKM yang bergerak di sektor konstruksi dan penyediaan bahan bangunan yang siap terlibat langsung.

Untuk mendukung keberhasilan program ini, pemerintah telah menyiapkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp130 triliun dengan bunga rendah berkat subsidi dari negara. Skema ini memberi kesempatan bagi pengusaha kecil di sektor perumahan untuk mengakses pembiayaan yang lebih terjangkau. Maman menilai, keberhasilan program akan memberikan manfaat ganda: membantu masyarakat memperoleh rumah, sekaligus memperluas peluang bagi UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Komitmen penguatan UMKM juga ditegaskan oleh Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian. Ia menyoroti peran vital sektor ini dalam menjaga ketahanan ekonomi, khususnya saat pandemi Covid-19 melanda. Menurutnya, UMKM terbukti mampu menopang ekonomi daerah ketika banyak sektor lain mengalami kontraksi. Ia mencontohkan Daerah Istimewa Yogyakarta yang tetap mencatat pertumbuhan ekonomi positif berkat kekuatan UMKM, sementara di banyak daerah lain kondisi ekonomi justru terpuruk.

Tito menilai pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bahwa pemberdayaan UMKM harus dijadikan prioritas. Ia mengingatkan bahwa banyak daerah masih sangat bergantung pada transfer dana dari pusat, sehingga perlu mendorong sumber pendapatan asli daerah melalui penguatan UMKM.

Tito juga menekankan pentingnya kepemimpinan kepala daerah yang memiliki jiwa kewirausahaan, karena hanya dengan cara itu daerah bisa membaca peluang, menciptakan iklim usaha yang sehat, dan menghidupkan swasta lokal. Menurutnya, daerah yang maju adalah daerah di mana UMKM dan dunia usaha tumbuh secara dinamis.

Di sisi lain, dukungan terhadap UMKM juga datang dari lembaga keuangan. PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) menegaskan komitmennya dengan menyelenggarakan program KriyativePreneur 2025 di Yogyakarta. Program ini berfokus pada sektor kriya yang tidak hanya berkontribusi pada ekonomi daerah, tetapi juga menjaga warisan budaya bangsa.

Sekretaris Perusahaan Jamkrindo, Krisna Johan, menjelaskan bahwa melalui pelatihan intensif, pendampingan, hingga strategi pengembangan pasar, pihaknya ingin mencetak wirausaha kriya yang tangguh dan berdaya saing tinggi.

Krisna optimistis bahwa pendampingan yang tepat akan membantu UMKM kriya naik kelas, memperluas pasar, dan menciptakan nilai tambah bagi perekonomian lokal. Ia menekankan bahwa program ini bukan hanya soal memberikan keterampilan praktis, tetapi juga menyediakan peta jalan dan jejaring strategis agar UMKM dapat bertahan sekaligus berkembang.

Upaya berlapis dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga keuangan tersebut memperlihatkan sinergi yang semakin kuat dalam memberdayakan UMKM. Dengan dukungan kebijakan, akses permodalan, dan peningkatan kapasitas, UMKM diharapkan semakin siap menghadapi tantangan global. Pemberdayaan UMKM kini bukan hanya agenda sektoral, melainkan bagian integral dari pembangunan nasional yang menentukan arah kemandirian ekonomi bangsa.

Komitmen pemberdayaan UMKM juga terlihat dari kebijakan pemerintah dalam mendorong penggunaan produk lokal di berbagai sektor strategis. Instruksi Presiden tentang percepatan belanja produk dalam negeri terus diperkuat agar UMKM dapat menjadi bagian dari rantai pasok nasional.

Dengan begitu, produk lokal tidak hanya menjadi pilihan alternatif, melainkan kebutuhan utama dalam pembangunan infrastruktur, penyediaan logistik, maupun kebutuhan konsumsi masyarakat luas. Langkah ini tidak hanya memperbesar pangsa pasar bagi UMKM, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga menggunakan produk dalam negeri.

Di sisi lain, kolaborasi lintas sektor juga menjadi strategi penting. Pemerintah bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk menghadirkan riset dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan UMKM. Melalui dukungan akademisi, pelaku usaha kecil dapat mengakses teknologi tepat guna, desain produk kreatif, hingga strategi pemasaran yang lebih efektif. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas produk, sekaligus membantu UMKM menembus pasar internasional dengan standar yang lebih tinggi.

Tidak kalah penting, program pemberdayaan perempuan dan pemuda dalam sektor UMKM juga menjadi prioritas. Keduanya dipandang sebagai motor baru dalam pertumbuhan ekonomi kreatif. Perempuan yang terlibat aktif dalam UMKM terbukti mampu menopang perekonomian keluarga, sementara pemuda diharapkan membawa semangat inovasi dan keberanian berwirausaha. Dukungan khusus, seperti akses pelatihan, mentoring, hingga pembiayaan berbasis kelompok, terus dikembangkan untuk mendorong kontribusi dua segmen penting ini.

Dengan berbagai upaya tersebut, arah pembangunan nasional semakin jelas: UMKM ditempatkan sebagai ujung tombak perekonomian yang inklusif. Pemerintah bersama dunia usaha, lembaga keuangan, akademisi, serta komunitas masyarakat berkomitmen menghadirkan ekosistem yang sehat dan berkelanjutan bagi UMKM.

Sinergi semua pihak ini diyakini mampu memperkuat ketahanan ekonomi nasional, menciptakan lebih banyak lapangan kerja, dan memastikan bahwa manfaat pembangunan dirasakan secara merata hingga ke tingkat daerah. Pada akhirnya, pemberdayaan UMKM bukan hanya strategi ekonomi, tetapi juga jalan menuju kemandirian bangsa.

)* Pemerhati Dunia Ekonomi

MBG Jadi Penopang Kesehatan Anak Menuju Generasi Emas 2045

Oleh: Setya Permana )*

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menempati posisi strategis dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Pemerintah menempatkan program ini bukan hanya sebagai bentuk pemenuhan hak anak untuk memperoleh asupan gizi seimbang, tetapi juga sebagai langkah fundamental untuk mewujudkan generasi emas pada tahun 2045. Melalui program ini, anak-anak di seluruh Indonesia diharapkan dapat tumbuh sehat, cerdas, dan produktif sehingga mampu berkontribusi secara nyata dalam pembangunan bangsa.

Dukungan nyata terhadap program MBG datang dari berbagai lembaga pemerintah yang melihat keterkaitannya dengan target besar Indonesia di masa depan. Deputi Sistem dan Tata Kelola Badan Pangan Nasional, Tigor Pangaribuan, menegaskan bahwa manfaat MBG tidak hanya dirasakan dari sisi kesehatan anak, tetapi juga memberikan dampak signifikan pada perputaran roda ekonomi masyarakat.

Tigor mencontohkan, kebutuhan bahan pangan yang sangat besar dari dapur-dapur penyelenggara MBG mampu menciptakan pasar yang stabil bagi para peternak dan pelaku usaha kecil di sektor pangan. Dalam hitungan sederhana, jika satu dapur mengolah 300 kilogram ayam sekali masak, maka seribu dapur membutuhkan 300 ton ayam.

Apabila jumlah dapur mencapai 30 ribu di seluruh Indonesia, maka dampaknya terhadap perekonomian nasional akan sangat besar. Gambaran ini menunjukkan bagaimana MBG menjadi instrumen penggerak ekonomi kerakyatan.

Di sisi lain, Badan Gizi Nasional juga menekankan pentingnya keberlanjutan program MBG sebagai investasi jangka panjang. Kepala Regional BGN Sulawesi Tenggara, Rifani Agnes Eka Wahyuni, menyatakan bahwa MBG tidak boleh dilihat sekadar sebagai distribusi makanan, melainkan sebagai upaya sistematis menyiapkan masa depan bangsa. Menurutnya, dengan gizi yang tercukupi, anak-anak dapat tumbuh lebih sehat, terhindar dari stunting, serta memiliki kemampuan belajar yang lebih baik. Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan MBG akan menjadi pondasi bagi terwujudnya Indonesia Emas 2045.

Pelaksanaan MBG di Sulawesi Tenggara saat ini didukung oleh 110 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai wilayah. SPPG berperan sebagai ujung tombak dalam memastikan makanan bergizi tersaji dengan standar kualitas yang terjaga. Pemerintah melalui BGN Sultra terus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kinerja SPPG agar program berjalan tepat sasaran.

Rifani menekankan bahwa BGN Sultra terbuka terhadap evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan, tidak hanya kepada siswa penerima manfaat langsung, tetapi juga kepada anak-anak di luar program yang ikut merasakan manfaat. Upaya ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam menjaga kualitas program sekaligus memperluas jangkauannya.

Kesadaran akan tantangan mewujudkan generasi emas mendorong BGN Sultra untuk terus meningkatkan efektivitas program. Pemerintah menyadari bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak dapat dilakukan secara instan. Oleh karena itu, setiap langkah dalam penyediaan gizi melalui MBG selalu diarahkan agar memberi dampak jangka panjang. Anak-anak yang memperoleh makanan sehat dan bergizi di sekolah diharapkan tumbuh menjadi generasi yang memiliki daya saing tinggi di tengah persaingan global.

Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan, Fithra Faisal, menegaskan bahwa tujuan utama MBG adalah meningkatkan kapasitas sumber daya manusia Indonesia. Menurutnya, asupan gizi yang baik tidak hanya menopang kesehatan fisik, tetapi juga mendukung perkembangan kognitif siswa. Dengan demikian, program ini berfungsi sebagai pendorong daya pikir dan kreativitas anak bangsa. Lebih jauh lagi, ia menilai kualitas gizi yang baik menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas nasional sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi.

MBG juga tidak berdiri sendiri. Program ini ditopang oleh dua inisiatif strategis lain, yakni Cek Kesehatan Gratis dan Sekolah Rakyat. Cek Kesehatan Gratis diberikan untuk memastikan anak-anak, mulai dari balita hingga siswa sekolah menengah, mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan dasar secara rutin. Sementara itu, Sekolah Rakyat hadir sebagai wadah untuk mengangkat harkat martabat keluarga miskin melalui pendidikan. Ketiga program ini—MBG, Cek Kesehatan Gratis, dan Sekolah Rakyat—ibarat trisula pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan serta meningkatkan kualitas hidup generasi mendatang.

Keterpaduan program tersebut menegaskan bahwa pemerintah melihat pembangunan sumber daya manusia secara komprehensif. Pemenuhan gizi melalui MBG, pemeriksaan kesehatan melalui layanan gratis, serta pendidikan yang terjangkau menjadi kombinasi yang saling melengkapi. Tujuannya jelas: menciptakan generasi emas yang sehat, cerdas, dan siap menghadapi tantangan global.

Dalam konteks pembangunan nasional, keberadaan MBG memperlihatkan keseriusan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam menjawab tantangan jangka panjang. Dengan memperhatikan kebutuhan dasar anak-anak sejak usia sekolah, program ini diyakini dapat menurunkan angka stunting, meningkatkan kualitas pendidikan, dan memperkuat produktivitas ekonomi.

Menuju 2045, ketika Indonesia menargetkan menjadi salah satu kekuatan besar dunia, fondasi sumber daya manusia yang kuat menjadi kunci utama. MBG adalah salah satu instrumen untuk mencapai tujuan besar tersebut. Dengan asupan gizi yang baik, generasi muda Indonesia diharapkan tumbuh menjadi tenaga kerja terampil, pemimpin yang visioner, serta warga negara yang mampu bersaing di tingkat global.

Melalui evaluasi berkelanjutan, pengawasan yang ketat, dan dukungan masyarakat, program MBG diharapkan terus berkembang dengan kualitas yang semakin baik. Pemerintah menaruh perhatian besar agar setiap anak mendapatkan manfaat nyata dari program ini. Dengan langkah yang konsisten, MBG benar-benar menjadi penopang kesehatan anak-anak bangsa menuju terwujudnya Generasi Emas 2045.

)* Analisis Kebijakan Publik

Pemerintah Tegaskan MBG Sebagai Investasi Jangka Panjang Bangsa

Oleh: Amelia Rani )*

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini semakin mendapat perhatian luas sebagai salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Kehadiran program ini tidak sekadar memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam menyiapkan fondasi generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045. Pemerintah menegaskan bahwa MBG bukanlah beban anggaran, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.

Dalam sosialisasi MBG di Banjarbaru, Anggota Komisi IX DPR RI, Mariana, menyampaikan bahwa pemenuhan gizi sejak dini merupakan landasan penting untuk mencetak generasi unggul. Ia menekankan bahwa MBG bukan hanya menghadirkan makanan bergizi gratis, tetapi juga memberi pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya pola makan sehat, seimbang, dan berkelanjutan. Dengan demikian, program ini bekerja di dua sisi sekaligus, yaitu menyediakan kebutuhan langsung dan menanamkan kesadaran jangka panjang.

Komitmen yang sama juga ditegaskan Anggota Komisi IX DPR RI, Sihar Sitorus. Menurutnya, MBG adalah bukti nyata perhatian pemerintah dalam memastikan akses gizi merata di seluruh lapisan masyarakat, khususnya bagi anak usia sekolah, ibu hamil, dan lansia. Ia menekankan bahwa anak-anak sehat hari ini adalah pemimpin bangsa di masa depan, sehingga pemenuhan gizi harus ditempatkan sebagai prioritas utama. Sihar juga menjelaskan bahwa program MBG disusun dengan standar Angka Kecukupan Gizi sehingga setiap penerima memperoleh nutrisi sesuai kebutuhan tubuh mereka.

Lebih jauh, Sihar menyoroti bahwa manfaat MBG tidak berhenti pada aspek kesehatan semata. Dengan keberadaan Sentra Penyedia Program Gizi (SPPG), program ini juga berperan dalam menggerakkan perekonomian daerah. Setiap sentra mampu melayani ribuan penerima manfaat sekaligus, serta menyerap puluhan tenaga kerja lokal.

Artinya, selain memperkuat ketahanan gizi, MBG juga membuka peluang ekonomi baru yang langsung dirasakan masyarakat. Data dari Tapanuli Tengah menunjukkan adanya sembilan titik SPPG yang aktif beroperasi, menjadi bagian dari total 239 SPPG di Sumatera Utara. Kehadiran fasilitas ini diharapkan mampu menekan angka kekurangan gizi sekaligus memperkokoh daya tahan sosial-ekonomi masyarakat.

Dari sisi kebijakan makro, pakar ekonomi Fakhrul Fulvian menilai program MBG sepatutnya dipahami sebagai investasi jangka panjang yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan. Menurutnya, makanan bergizi gratis bukanlah beban negara, melainkan uang muka bagi lahirnya generasi produktif di masa depan.

Fakhrul menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi sejati dimulai dari hal-hal mendasar, seperti meja makan keluarga pedesaan dan kotak makan siang anak sekolah yang tidak lagi kosong. Dengan kata lain, kebijakan pangan gratis ini membangun kapasitas manusia secara langsung, yang pada akhirnya akan berdampak pada meningkatnya daya saing bangsa.

Fakhrul juga mengkritisi pola pikir lama dalam wacana fiskal yang cenderung menganggap belanja modal sebagai investasi utama, sementara belanja sosial dipandang sebagai beban. Padahal, investasi pada sumber daya manusia melalui penyediaan makanan bergizi, kesehatan, dan pendidikan dini justru memberikan keuntungan produktivitas jangka panjang. Dengan perspektif tersebut, program MBG layak dipandang sebagai salah satu strategi pembangunan yang visioner.

Pemerintah sendiri telah menargetkan agar manfaat MBG dapat dirasakan secara merata di seluruh wilayah Indonesia pada akhir 2025. Target ini dinilai realistis mengingat dukungan masyarakat semakin besar, serta adanya peningkatan kapasitas penyelenggaraan di daerah. Monitoring dan evaluasi dilakukan secara rutin untuk memastikan program berjalan efektif dan tepat sasaran. Upaya ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak sekadar menyalurkan bantuan, tetapi juga membangun sistem yang berkelanjutan demi tercapainya hasil maksimal.

Jika dilihat secara menyeluruh, MBG memadukan berbagai dimensi pembangunan bangsa. Dari sisi kesehatan, program ini menekan risiko stunting dan memperbaiki kualitas gizi generasi muda. Dari sisi pendidikan, gizi yang baik mendukung perkembangan kognitif anak sehingga mereka lebih siap menyerap ilmu pengetahuan. Dari sisi ekonomi, keberadaan SPPG menyerap tenaga kerja lokal dan menggerakkan usaha mikro, kecil, dan menengah. Sedangkan dari sisi sosial, MBG menjadi bukti nyata hadirnya negara di tengah masyarakat dengan perhatian yang menyentuh kebutuhan dasar.

Sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, MBG berfungsi sebagai salah satu motor penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. Pemerintah telah menegaskan bahwa langkah ini adalah bentuk investasi jangka panjang, bukan sekadar program bantuan sesaat. Dengan pemahaman yang kuat mengenai pentingnya gizi sejak dini, bangsa Indonesia semakin dekat dengan cita-cita menghadirkan generasi yang mampu memimpin dengan kualitas dan kapasitas terbaik.

Melalui MBG, pemerintah tidak hanya menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga menyiapkan pondasi kokoh untuk masa depan. Sebuah pondasi yang dibangun dari anak-anak sehat, keluarga yang berdaya, dan masyarakat yang semakin sadar akan pentingnya gizi. Dengan dukungan semua pihak, program ini akan menjadi salah satu kunci utama bagi tercapainya Indonesia Emas 2045 yang dicita-citakan. Pemerintah pun percaya bahwa dengan konsistensi kebijakan dan kesungguhan pelaksanaan, manfaat jangka panjang dari MBG akan dirasakan lintas generasi dan menjadi warisan berharga bagi bangsa.

)* Pemerhati Kebijakan Publik

MBG Dukung Ketahanan Pangan Nasional dengan Rantai Pasok Lokal

Jakarta – Pemerintah terus mempercepat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) sebagai bentuk komitmen membangun generasi sehat, aktif, dan produktif.

Kabupaten Morotai, Maluku Utara, menjadi salah satu fokus utama karena meskipun menghadapi tantangan logistik, daerah ini justru kaya akan potensi pangan lokal yang dapat dimanfaatkan.

Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan NFA, Andriko Noto Susanto, menegaskan bahwa keberhasilan MBG tidak boleh lepas dari kekuatan daerah.

“Morotai adalah daerah surplus ikan, sumber protein berkualitas tinggi, yang bisa menjadi andalan gizi anak-anak sekolah,” ujarnya.

Ia menambahkan, ikan bukan satu-satunya kekuatan Morotai. Hasil pertanian berupa sayur dan buah juga memiliki peran penting dalam pemenuhan gizi harian anak-anak.

“Pemanfaatan pangan lokal bukan hanya memenuhi amanat Perpres 81 Tahun 2024, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus menggerakkan perekonomian setempat,” katanya.

Dengan demikian, rantai pasok pangan berbasis lokal dapat terbangun secara berkelanjutan.

Dalam hal penyediaan bahan pangan strategis, Andriko menilai Koperasi Desa Merah Putih memiliki peran besar.

“KopDes Merah Putih dapat menjadi pemasok beras SPHP, minyak, gula, dan pangan lainnya. Keberadaannya penting untuk memperkuat kemandirian pangan dan mengurangi ketergantungan dari luar daerah,” jelasnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan pernyataan Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kemenko Pangan, Nani Hendiarti.

Ia menekankan pentingnya sinergi antar pihak dalam memanfaatkan bahan pangan lokal.

“Program ini sebaiknya tidak mengambil bahan pokok MBG dari luar daerah apabila tersedia di Morotai. Peran pemerintah daerah sangat dibutuhkan untuk mendorong petani, nelayan, peternak, dan mitra lokal,” ujarnya.

Dengan begitu, rantai pasok dapat menyerap hasil produksi masyarakat.

Dari sisi kualitas gizi, Direktur Tata Kelola Pemenuhan Gizi Badan Gizi Nasional, Sitti Aida Adha Taridala, menegaskan pentingnya standar menu.

“Keberhasilan MBG diukur bukan hanya dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga mutu dan keberlanjutan menu. Setiap menu MBG harus memenuhi standar gizi dengan kombinasi karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral sesuai panduan teknis,” tegasnya.

Ia menambahkan, penguatan tata kelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akan terus dilakukan.

“Dengan pengelolaan yang baik, kita tidak hanya memberi makan, tapi membangun generasi yang sehat, cerdas, dan siap berkompetisi,” ujarnya.