Menkop Prioritaskan 20.000 Kopdes Merah Putih Dapat Kredit dari Himbara

Jakarta – Pemerintah menegaskan komitmennya memperkuat koperasi desa sebagai penggerak ekonomi rakyat. Menteri Koperasi Ferry Juliantono menyampaikan bahwa sebanyak 20.000 Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih akan diprioritaskan memperoleh kredit dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Jumlah ini naik dari target awal yang hanya 16.000 koperasi.

“Kemarin rapat di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan) kita bisa start (mulai menyalurkan pinjaman) di 20.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih,” ujar Ferry Juliantono.

Kebijakan tersebut mengikuti arahan Presiden Prabowo Subianto yang menetapkan plafon pinjaman Rp 3 miliar per koperasi. Dana ini akan digunakan tidak hanya untuk modal kerja, tetapi juga investasi strategis.

“Juga dipergunakan untuk modal investasi membangun gudang plus dengan truk dan lain sebagainya. Jadi angkanya relatif, tetapi itu syarat yang kemarin kami sudah mendapatkan arahan dari Presiden. Jadi tentu akan dilakukan secara bertahap,” ungkap Ferry.

Ia menjelaskan, pengembangan 20.000 Kopdes Merah Putih diarahkan agar ideal, mencakup kebutuhan modal kerja hingga investasi jangka panjang. Pemerintah juga tengah merancang lokasi strategis sebagai pusat pengembangan koperasi desa.

Sejauh ini, sudah ada 1.000 Kopdes yang siap mencairkan kredit dari Himbara. “Plafonnya Rp 3 miliar, yang 1.000 Koperasi Desa seperti tadi disampaikan oleh pak Dony (COO Danantara) ada sekitar Rp 1 triliunan hari ini sudah bisa dicarikan,” kata Ferry.

Sementara itu, 16.000 Kopdes lain telah mengajukan proposal rencana bisnis dan akan memanfaatkan sebagian dari dana Rp 200 triliun yang ditempatkan pemerintah di Himbara. Namun, pencairan masih menunggu terbitnya Peraturan Menteri Keuangan (PMK).

“Yang 16.000 yang sudah mengajukan proposal, tinggal menunggu, menggunakan anggaran yang dari Rp 200 triliun,” jelasnya.

Meski plafon pinjaman ditetapkan Rp 3 miliar, Ferry memastikan penyaluran akan dilakukan bertahap sesuai kelayakan koperasi. “Jadi asumsinya Rp 3 miliar kali 16.000, tapi itu berjenjang juga, (Nggak mungkin semua dapat Rp 3 miliar?) iya,” tegasnya.

Selain dukungan pembiayaan, pemerintah juga akan menugaskan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di setiap Kopdeskel Merah Putih. Kepala BKN Zudan Arif Fakrulloh menyebut kebutuhan pegawai tersebut cukup besar.

“Ada ratusan ribu. Saya enggak ingat. Sudah kita petakan. BKN bersama Bu Menteri PANRB sudah memetakan itu,” kata Zudan.**

Pemerintah Percepat Operasional Koperasi Desa Merah Putih Mulai Oktober 2025

Jakarta — Pemerintah memastikan percepatan operasional Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) akan dimulai pada Oktober 2025. Program strategis ini digadang sebagai salah satu solusi nyata untuk memperkuat ketahanan ekonomi desa sekaligus menjawab keresahan masyarakat di tengah dinamika sosial dan demonstrasi yang marak terjadi belakangan ini.

Koperasi Desa Merah Putih diproyeksikan mampu menjadi penopang distribusi kebutuhan pokok, memperluas akses permodalan, serta membuka peluang usaha baru bagi masyarakat desa. Dengan sistem yang lebih modern dan dukungan pendanaan dari bank-bank pemerintah, koperasi ini diharapkan segera berjalan efektif dan berkontribusi besar pada stabilitas ekonomi nasional.

Menteri Koperasi, Ferry Juliantono menegaskan bahwa percepatan ini bukan hanya rencana, melainkan langkah konkret yang sedang dipacu pemerintah.

“Kami sedang menyiapkan operasionalisasi dan pengembangan lebih dari 80 ribu Kopdes Merah Putih di seluruh Indonesia hingga Desember 2025. Targetnya, lebih dari satu juta lapangan kerja baru dapat tercipta melalui program ini,” ujar Ferry.

Ia menambahkan, setiap koperasi akan mendapat akses pembiayaan hingga Rp3 miliar dan difasilitasi gudang serta logistik agar kegiatan usaha berjalan lancar.

Sementara itu, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Yandri Susanto menekankan bahwa keberadaan Kopdes Merah Putih justru akan menjadi pintu masuk kesuksesan pembangunan desa.

“Intinya, kehadiran koperasi ini tidak boleh menjadi beban tambahan bagi desa. Sebaliknya, koperasi harus menjadi mitra strategis dan memastikan usaha yang dijalankan tidak akan merugi, karena menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat seperti sembako, pupuk, hingga LPG,” tegas Yandri.

Ia juga menjelaskan bahwa desa akan mendapatkan imbal jasa sekitar 20 persen dari keuntungan koperasi, yang akan menambah kekuatan APBDes untuk program-program rakyat.

Dari daerah, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan progres signifikan yang telah dicapai.

“Di Jawa Timur, 99 persen Kopdes Merah Putih sudah berbadan hukum, dan sebanyak 68 koperasi telah mulai beroperasi. Kami ingin memastikan koperasi ini bukan menjadi pesaing UMKM desa, tetapi mitra yang memperluas distribusi produk lokal sekaligus memperkuat pasar rakyat,” jelas Khofifah.

Percepatan operasional Kopdes Merah Putih juga dinilai relevan di tengah gelombang unjuk rasa yang menyoroti ketidakadilan ekonomi. Dengan hadirnya koperasi yang terstruktur dan didukung negara, masyarakat akan merasakan langsung manfaat berupa harga kebutuhan pokok yang lebih stabil, lapangan kerja yang terbuka, dan peluang usaha yang lebih adil.

Pemerintah optimistis, langkah ini tidak hanya meredam keresahan sosial, tetapi juga mengokohkan desa sebagai pilar pembangunan bangsa. Dengan gotong royong dan partisipasi aktif masyarakat, Koperasi Desa Merah Putih akan menjadi simbol kebangkitan ekonomi kerakyatan dan bukti nyata keberpihakan pemerintah pada rakyat.

(*/rls)

Koperasi Desa Merah Putih Jadi Tonggak Kebangkitan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Dika Rachman
Di tengah berbagai dinamika perekonomian global yang berdampak pada masyarakat Indonesia, muncul kembali kesadaran bahwa kekuatan ekonomi rakyat harus menjadi penopang utama dalam menjaga stabilitas bangsa. Inflasi, fluktuasi harga pangan, serta tantangan distribusi kebutuhan pokok menuntut adanya sistem ekonomi yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pada keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat. Dalam konteks inilah, keberadaan koperasi kembali menemukan relevansinya. Salah satu contoh nyata yang mencuri perhatian adalah Koperasi Desa Merah Putih, yang kini menjadi simbol kebangkitan ekonomi kerakyatan di tingkat desa.

Koperasi Desa Merah Putih tidak sekadar berdiri sebagai lembaga ekonomi, melainkan sebagai wadah gotong royong yang mengakar pada nilai-nilai kebersamaan masyarakat desa. Filosofi koperasi yang menekankan prinsip dari, oleh, dan untuk anggota menjadi cermin nyata semangat persatuan yang saat ini sangat dibutuhkan. Di tengah arus modernisasi dan dominasi korporasi besar, koperasi hadir memberikan ruang bagi masyarakat desa untuk mandiri, berdaya, serta tidak mudah terpinggirkan oleh sistem pasar yang kerap tidak adil bagi kalangan kecil.

Menteri Sosial, Saifullah Yusuf menyatakan bahwa Kementerian Sosial siap mengerahkan jutaan Kelompok Penerima Manfaat (KPM) termasuk pelaku usaha mikro yang sudah “graduasi” dari bantuan sosial untuk terlibat dalam koperasi desa, baik sebagai anggota maupun sebagai pengurus. Kemensos juga siap memanfaatkan pendamping PKH, tenaga kesejahteraan sosial kecamatan, Tagana, dan pendamping rehabilitasi sosial untuk memperkuat kapasitas koperasi di lapangan.

Seiring dengan kebijakan pemerintah yang mendorong penguatan ekonomi desa, koperasi kembali didorong menjadi tulang punggung. Koperasi Desa Merah Putih memanfaatkan momentum tersebut dengan mengembangkan unit usaha yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Mulai dari penyediaan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau, akses pembiayaan mikro bagi pelaku usaha kecil, hingga pemasaran produk lokal melalui sistem digital. Dengan cara ini, koperasi tidak hanya menjaga daya beli masyarakat, tetapi juga menciptakan rantai ekonomi baru yang lebih sehat dan berkeadilan.

Keberhasilan Koperasi Desa Merah Putih juga tidak terlepas dari kemampuan mereka beradaptasi dengan perkembangan zaman. Jika dulu koperasi sering dipandang kuno dan birokratis, kini wajahnya berubah menjadi lebih modern. Digitalisasi layanan menjadi salah satu terobosan penting, di mana anggota dapat melakukan transaksi, menyetor simpanan, maupun mengakses informasi usaha melalui aplikasi sederhana di ponsel. Transformasi ini menjawab kebutuhan generasi muda yang semakin melek teknologi, sekaligus menarik minat mereka untuk kembali terlibat dalam gerakan koperasi. Hal ini penting, karena partisipasi generasi muda akan menentukan keberlangsungan dan inovasi koperasi di masa depan.

Anggota DPR, Said Abdullah, juga memberikan pendapat bahwa meskipun koperasi memiliki potensi besar sebagai wahana ekonomi kerakyatan, kontribusi koperasi terhadap PDB nasional saat ini masih sangat kecil. Data BPS menyebut bahwa volume usaha koperasi pada tahun 2024 mencapai sekitar Rp 214 triliun, atau kurang dari 1% dari PDB; sementara usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang lebih besar. Hal ini menandakan bahwa koperasi harus mampu bertransformasi agar tidak hanya berfungsi simbolis, tetapi juga sebagai aktor ekonomi yang lebih produktif dan efisien.

Tidak hanya pada aspek ekonomi, Koperasi Desa Merah Putih juga berperan sebagai perekat sosial masyarakat. Melalui kegiatan bersama seperti pelatihan kewirausahaan, penyuluhan pertanian, dan pengelolaan sumber daya desa, koperasi menghadirkan ruang interaksi yang memperkuat solidaritas warga.

Fenomena kebangkitan koperasi desa ini juga sejalan dengan arah pembangunan nasional yang menekankan pentingnya kemandirian ekonomi berbasis kerakyatan. Pemerintah mendorong agar koperasi tidak hanya eksis, tetapi mampu menjadi penopang ketahanan pangan, energi, dan usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Koperasi Desa Merah Putih menjawab tantangan tersebut dengan mengembangkan usaha pertanian terpadu. Mereka membangun sistem hulu-hilir, mulai dari penyediaan pupuk organik, pendampingan teknis pertanian, hingga distribusi hasil panen langsung ke pasar tanpa melalui tengkulak. Hasilnya, pendapatan petani meningkat, harga jual lebih stabil, dan konsumen memperoleh produk berkualitas dengan harga yang wajar. Inovasi seperti inilah yang menjadikan koperasi kembali relevan sebagai benteng perekonomian rakyat.

Ke depan, keberhasilan Koperasi Desa Merah Putih diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di seluruh Indonesia. Dengan lebih dari 74 ribu desa di tanah air, jika setiap desa memiliki koperasi yang dikelola profesional dan berorientasi pada pemberdayaan anggota, maka dampaknya akan sangat besar bagi perekonomian nasional.

Koperasi Desa Merah Putih telah membuktikan bahwa kebangkitan ekonomi kerakyatan bukan sekadar wacana. Dengan mengutamakan nilai kebersamaan, memanfaatkan teknologi, dan mengedepankan pemberdayaan anggota, mereka menjelma sebagai contoh nyata bahwa desa bukanlah entitas yang tertinggal, melainkan pusat inovasi ekonomi baru. Di tengah gempuran kapitalisme global, koperasi hadir sebagai jalan tengah yang humanis, berkeadilan, dan berpihak pada rakyat kecil. Dari desa, sebuah kebangkitan dimulai. Dari koperasi, sebuah harapan ekonomi kerakyatan kembali digelorakan. Dan dari semangat Merah Putih, lahirlah keyakinan bahwa kedaulatan ekonomi bangsa akan tetap tegak berdiri.
)* Pengamat Publik

Koperasi Desa Merah Putih Serap Jutaan Tenaga Kerja Baru

Oleh: Dimas Permana )*

Pemerintah Indonesia tengah memperkuat strategi pembangunan ekonomi yang inklusif dengan meluncurkan program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih). Program ini digagas sebagai salah satu solusi konkret untuk menjawab persoalan pengangguran sekaligus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat desa.

Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menegaskan bahwa hingga akhir Desember 2025, Kopdes Merah Putih memiliki potensi besar menyerap tenaga kerja hingga satu juta orang. Saat ini saja, lebih dari 907 ribu orang telah terdaftar sebagai anggota, dan lebih dari 640 ribu orang aktif sebagai pengurus serta pengawas koperasi di berbagai daerah. Angka tersebut menunjukkan betapa koperasi dapat menjadi motor penggerak ekonomi rakyat sekaligus wadah untuk meningkatkan kesejahteraan secara merata.

Kementerian Koperasi juga telah merekrut 1.104 Project Management Officer (PMO) yang tersebar di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Kehadiran para PMO ini diperkuat dengan 8.000 Business Assistant (BA) yang bertugas mendampingi koperasi di lapangan. Sinergi ini bukan hanya sekadar administrasi, melainkan upaya nyata dalam mengawal kinerja koperasi agar benar-benar memberikan dampak pada masyarakat. Setiap tenaga kerja yang direkrut dibekali dengan pelatihan peningkatan kapasitas, baik dari segi pengelolaan lembaga maupun usaha koperasi. Dengan bekal keterampilan tersebut, para pengelola koperasi memiliki daya saing yang mumpuni untuk mengelola potensi desa menjadi sumber pendapatan berkelanjutan.

Keberadaan Kopdes Merah Putih juga menjadi simbol nyata kebijakan afirmatif pemerintah yang berpihak pada masyarakat kecil. Melalui akses pembiayaan yang lebih inklusif, program ini membuka jalan bagi masyarakat desa untuk mendapatkan modal usaha yang sebelumnya sulit dijangkau. Selain itu, kolaborasi lintas kementerian dan lembaga memperkuat keberlangsungan koperasi sehingga mampu berdiri kokoh dalam jangka panjang. Kebijakan ini terbukti mampu menurunkan angka pengangguran sekaligus memperbaiki taraf hidup masyarakat secara berkelanjutan. Dengan demikian, Kopdes Merah Putih tidak hanya menjadi wadah ekonomi, tetapi juga instrumen pemerataan pembangunan yang nyata dirasakan rakyat.

Dukungan pemerintah pusat terhadap program ini sangat kuat, sebagaimana ditegaskan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Ia menyampaikan bahwa Presiden menaruh perhatian khusus pada program-program strategis yang berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja. Dari sejumlah inisiatif yang sedang berjalan, Kopdes Merah Putih menjadi prioritas utama karena jangkauannya luas dan potensinya besar. Tercatat ada sekitar 80 ribu koperasi desa merah putih yang diproyeksikan menyerap 681 ribu tenaga kerja baru, dengan target mencapai satu juta orang pada akhir tahun ini. Angka tersebut menjadi optimisme baru bagi bangsa dalam memperluas lapangan kerja.

Dengan skema yang terukur, Kopdes Merah Putih memberikan harapan besar bagi masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses pekerjaan. Program ini secara langsung menghubungkan potensi desa dengan kebutuhan tenaga kerja, sehingga rantai birokrasi dapat dipangkas dan peluang usaha lebih terbuka. Airlangga Hartarto menegaskan, pertumbuhan koperasi ini akan memberikan kontribusi signifikan dalam mengurangi pengangguran terbuka yang masih menjadi tantangan nasional. Hal ini juga menjadi bukti bahwa pemerintah konsisten memperkuat sektor riil yang berbasis masyarakat, bukan hanya terfokus pada pertumbuhan ekonomi makro semata.

Selain aspek tenaga kerja, peran strategis Kopdes Merah Putih juga ditegaskan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian lainnya, Zulkifli Hasan. Menurutnya, koperasi desa akan memberikan dampak positif bagi ekosistem ekonomi di tingkat akar rumput. Salah satu terobosan yang didorong adalah pembentukan koperasi desa di setiap pondok pesantren di seluruh Indonesia. Langkah ini memiliki nilai strategis karena pesantren selama ini berperan penting dalam pembinaan masyarakat sekaligus memiliki jaringan sosial yang kuat. Kehadiran koperasi di lingkungan pesantren akan mempercepat pemerataan ekonomi, memangkas rantai distribusi yang panjang, serta membuka akses ekonomi langsung dari produsen ke konsumen di tingkat desa.

Inisiatif koperasi berbasis desa ini juga merupakan jawaban atas tantangan kemandirian ekonomi bangsa. Dengan memperkuat fondasi ekonomi di desa, Indonesia sedang membangun sistem ekonomi yang berkeadilan, di mana masyarakat tidak lagi sekadar menjadi objek pembangunan, tetapi aktor utama dalam proses pertumbuhan. Program ini secara simultan menciptakan lapangan kerja baru, menggerakkan potensi lokal, serta memperkuat daya beli masyarakat. Dengan begitu, desa tidak hanya menjadi penonton dalam arus pembangunan, melainkan pusat pertumbuhan yang aktif menyumbang pada perekonomian nasional.

Kopdes Merah Putih juga memiliki makna strategis dalam memperkuat struktur ekonomi nasional. Selama ini, ketergantungan pada sektor tertentu membuat penyerapan tenaga kerja sering kali tidak merata. Kehadiran koperasi di desa menghadirkan diversifikasi sektor pekerjaan, mulai dari pertanian, peternakan, perdagangan, hingga jasa keuangan berbasis komunitas. Dengan basis anggota yang luas, koperasi ini mampu mendorong solidaritas sosial sekaligus meningkatkan produktivitas masyarakat. Sinergi antara program pemerintah dan partisipasi masyarakat menjadi kunci keberhasilan yang membedakan Kopdes Merah Putih dengan program sejenis di masa lalu.

Lebih jauh, keberhasilan Kopdes Merah Putih akan memberikan dampak domino yang luas. Penyerapan tenaga kerja tidak hanya menekan angka pengangguran, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas sosial dan politik nasional. Masyarakat yang memiliki pekerjaan dan penghasilan cenderung lebih produktif, sejahtera, serta terhindar dari potensi konflik sosial. Di sisi lain, peningkatan kesejahteraan desa juga akan memperkuat daya beli masyarakat sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi domestik. Efek berantai inilah yang membuat program Kopdes Merah Putih sangat strategis dalam memperkuat pondasi ekonomi nasional.

)* Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Publik.

Aparat dan Publik Kompak Teguhkan Demokrasi Damai dan Aman

Oleh: Ujang Supriyatman (*

Demokrasi pada hakikatnya bukan sekadar mekanisme memilih wakil rakyat atau pemimpin, melainkan sebuah ruang bersama yang memungkinkan rakyat menyampaikan aspirasi dengan cara yang tertib, damai, dan penuh tanggung jawab. Di dalamnya, peran aparat dan publik menjadi kunci penting untuk memastikan bahwa dinamika politik tidak mengganggu stabilitas sosial maupun pembangunan nasional. Semakin erat sinergi keduanya, semakin kokoh pula fondasi demokrasi Indonesia yang berlandaskan persatuan.

Kondisi ini juga tercermin di berbagai daerah, di mana komunikasi antara lembaga legislatif, aparat keamanan, dan masyarakat semakin terbuka. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Barat, Ahmad Yani, S.A.B., menegaskan bahwa kerja sama yang telah terjalin erat antara DPRK Aceh Barat dan aparat kepolisian diharapkan terus ditingkatkan demi stabilitas keamanan serta terciptanya suasana kondusif di daerah. Ia juga menambahkan bahwa DPRK berkomitmen untuk selalu menjadi wadah penyampaian aspirasi masyarakat secara terbuka dan demokratis. Sikap ini menunjukkan bahwa demokrasi lokal tidak berhenti pada retorika, tetapi benar-benar dijalankan dengan pendekatan yang partisipatif.

Sinergi antara aparat dan publik juga ditegaskan oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya, Brigjen Ade Ary Syam Indradi. Menurutnya, masyarakat dan Polri adalah mitra dalam menjaga kedamaian dan keamanan. Dalam konteks ini, penyampaian pendapat dijamin oleh konstitusi, namun tetap harus dilakukan dengan tertib, damai, dan penuh nilai kebersamaan. Pandangan ini memperlihatkan bagaimana Polri memosisikan diri bukan sebagai pihak yang berhadap-hadapan dengan rakyat, melainkan sebagai mitra yang memastikan agar ruang demokrasi tetap terjaga tanpa mengorbankan stabilitas publik.

Pernyataan Brigjen Ade Ary juga menegaskan paradigma baru Polri yang menekankan pendekatan humanis. Polri berupaya memastikan bahwa setiap gerakan sosial, seperti demonstrasi atau aksi penyampaian aspirasi, tidak ditanggapi dengan represif, melainkan dengan dialog, mediasi, dan pendampingan yang persuasif. Pola ini menjadi bagian penting dalam menumbuhkan rasa percaya masyarakat terhadap institusi keamanan sekaligus memperkokoh demokrasi yang sehat.

Contoh nyata keberhasilan pendekatan humanis aparat terlihat di Kalimantan Barat. Gubernur Kalbar, Ria Norsan, menyampaikan bahwa aksi penyampaian aspirasi mahasiswa di daerahnya berlangsung tertib dan damai. Menurutnya, aparat keamanan yang diterjunkan tidak hanya menjalankan tugas pengamanan, tetapi juga berperan sebagai pelindung masyarakat dari provokasi. Pendekatan persuasif tersebut terbukti efektif meredam potensi gesekan, sekaligus memperlihatkan wajah aparat sebagai pengayom yang hadir untuk menenangkan situasi, bukan memperkeruh keadaan.

Selain menjaga keamanan, Ria Norsan juga menekankan pentingnya memastikan pelayanan publik tetap berjalan optimal di tengah dinamika politik. Pendidikan, kesehatan, pemberdayaan UMKM, dan iklim investasi harus terus didorong agar tidak terpengaruh oleh isu-isu politik sesaat. Dengan demikian, masyarakat tetap mendapatkan manfaat langsung dari kehadiran negara, sementara demokrasi berjalan dalam jalurnya yang damai. Pesan ini penting karena demokrasi yang sehat tidak boleh memutus jalur pembangunan yang menyentuh kebutuhan dasar rakyat.

Jika dicermati, ketiga pernyataan tersebut menegaskan satu hal penting: sinergi antara masyarakat, aparat, dan pemerintah adalah pilar utama demokrasi yang aman dan damai. Di Aceh Barat, komitmen DPRK menjadi ruang terbuka bagi aspirasi warga. Di Jakarta, Polri meneguhkan diri sebagai mitra masyarakat dalam menjaga ketertiban. Sementara di Kalbar, pendekatan humanis aparat menjadikan demokrasi bukan ajang konflik, melainkan momentum memperkuat solidaritas sosial. Semua ini menunjukkan bahwa demokrasi di Indonesia tidak berjalan dalam ketegangan, tetapi dalam kebersamaan yang harmonis.

Dari perspektif pertahanan, kondisi tersebut memiliki makna strategis. Stabilitas keamanan domestik yang terjaga akan memperkuat ketahanan nasional. Ancaman non-militer seperti disinformasi, provokasi, atau potensi konflik horizontal dapat diminimalkan melalui keterlibatan aktif masyarakat bersama aparat keamanan. Ketika publik merasa dilibatkan, mereka akan menjadi bagian dari sistem pertahanan semesta yang kokoh, bukan sekadar objek kebijakan.

Selain itu, demokrasi damai juga menciptakan iklim investasi yang sehat. Investor akan lebih percaya menanamkan modalnya di wilayah yang stabil, di mana masyarakat bebas menyuarakan pendapat tanpa mengganggu ketertiban umum. Hal ini secara langsung mendukung agenda pemerintah dalam memperkuat fondasi ekonomi nasional, meningkatkan lapangan kerja, dan memperluas peluang kesejahteraan rakyat.

Lebih jauh, sinergi aparat dan masyarakat juga menjadi teladan bagi generasi muda. Mereka akan belajar bahwa menyampaikan aspirasi bukan berarti harus mengorbankan keamanan atau merusak fasilitas publik, tetapi dapat dilakukan dengan tertib, kreatif, dan konstruktif. Generasi inilah yang kelak akan melanjutkan estafet demokrasi dengan cara yang lebih matang, beradab, dan berlandaskan nilai gotong royong.

Ke depan, tantangan demokrasi Indonesia akan semakin kompleks, terutama dengan perkembangan teknologi informasi yang memungkinkan arus opini publik bergerak sangat cepat. Namun, jika aparat dan masyarakat terus menjalin komunikasi yang terbuka serta pemerintah konsisten menjaga pelayanan publik, maka setiap potensi konflik bisa dikelola menjadi ruang dialog yang produktif.

Pada akhirnya seluruh masyarakat Indonesia agar terus mempercayai pemerintah, aparat keamanan, dan lembaga perwakilan rakyat dalam menjaga harmoni demokrasi. Kepercayaan itu bukan berarti menutup kritik, melainkan meyakini bahwa mekanisme demokrasi telah memberi ruang yang aman bagi aspirasi. Dengan dukungan publik, pemerintah bersama aparat dapat semakin memperkokoh sinergi demi mewujudkan demokrasi yang damai, aman, dan bermanfaat bagi seluruh rakyat Indonesia.

(* Penulis merupakan Pemerhati Demokrasi

Pemerintah Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Pelatihan Digital dan Keuangan

Oleh: Raditya Anindyo )*

Upaya pemerintah dalam mendorong Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) naik kelas semakin mendapat perhatian luas melalui rangkaian program pelatihan digital dan keuangan. Transformasi UMKM menjadi lebih produktif, kompetitif, dan berkelanjutan kini dipandang sebagai agenda strategis nasional untuk memperkuat ketahanan ekonomi.

Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian UMKM, Riza Damanik, menekankan bahwa digitalisasi tidak boleh dimaknai semata sebagai kehadiran di platform e-commerce. Menurutnya, transformasi digital seharusnya merangkum seluruh rantai bisnis, mulai dari pengelolaan bahan baku, kemitraan, kontrak kerja, manajemen keuangan, hingga strategi pemasaran. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), harus dimanfaatkan sebagai instrumen produktif, bukan sekadar pelengkap.

Kerja sama antara Smesco Indonesia dan Mediawave menjadi salah satu contoh konkret dari dorongan pemerintah untuk menghadirkan akses teknologi bagi UMKM. Melalui platform AI marketplace MWX, para pelaku UMKM ditawarkan 15 solusi digital mulai dari pembuatan konten, iklan, laporan keuangan, legalitas, hingga analisis data bisnis. Skema uji coba yang menargetkan 100 ribu UMKM menjadi pintu awal agar pelaku usaha kecil merasakan langsung manfaat digitalisasi yang aplikatif.

Langkah ini sejalan dengan misi pemerintah untuk menyiapkan UMKM menghadapi persaingan global. Akses terhadap teknologi digital yang terjangkau memungkinkan UMKM menekan biaya produksi, memperluas jangkauan pemasaran, sekaligus meningkatkan kualitas manajemen usaha. Jika sebelumnya digitalisasi hanya dipahami sebatas jualan di marketplace, maka kehadiran platform berbasis AI seperti MWX membuka cakrawala baru tentang bagaimana teknologi dapat menyentuh aspek mendasar dalam pengelolaan bisnis.

Di berbagai daerah, semangat yang sama juga terus digerakkan melalui program literasi keuangan dan digitalisasi yang disesuaikan dengan potensi lokal. Misalnya di Aceh, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh bersama Pemerintah Aceh menghadirkan Meuseuraya Festival 2025 dengan mengusung tema penguatan daya saing melalui ekonomi dan keuangan syariah yang inklusif, digital, dan berkelanjutan.

Kepala Perwakilan BI Aceh, Agus Chusaini, menegaskan bahwa festival ini dirancang sebagai ruang kolaborasi sekaligus pembelajaran bagi UMKM, perbankan, akademisi, hingga masyarakat luas. Melalui expo, workshop, seminar, serta business matching, para pelaku UMKM berkesempatan memperkuat jejaring, mendapatkan literasi keuangan, dan memasarkan produk secara lebih luas.

Festival tersebut merepresentasikan semangat gotong royong untuk membawa UMKM Aceh naik kelas. Dengan menggabungkan kekuatan budaya, kreativitas, serta literasi keuangan, pemerintah daerah bersama BI membangun ekosistem yang lebih inklusif. Literasi keuangan syariah yang diperkenalkan menjadi salah satu kunci penting, mengingat sektor ini dapat menjadi alternatif pembiayaan yang sehat sekaligus sesuai dengan nilai-nilai lokal masyarakat Aceh.

Sementara itu, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, melalui Rumah BUMN Medan, menggelar pelatihan bertema “Strategi UMKM Menjadi Top of Mind” yang diikuti 39 UMKM binaan. Materi pelatihan mencakup aspek perizinan, standar keamanan produk, strategi branding, konten kreatif, hingga pengelolaan keuangan. Kehadiran narasumber dari Balai Besar POM, praktisi multimedia, hingga manajer penjualan Accurate.id menegaskan bahwa pembinaan dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya sebatas teori.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, menuturkan bahwa pelatihan ini ditujukan agar UMKM mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri sekaligus bersaing di pasar lebih luas. Program tersebut juga selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDG), khususnya dalam menciptakan lapangan kerja, mendorong inovasi, dan memastikan pola produksi yang berkelanjutan. Dengan demikian, pelatihan yang digelar Pertamina tidak hanya meningkatkan kapasitas usaha, tetapi juga mendukung agenda pembangunan berkelanjutan yang dicanangkan pemerintah.

Berbagai inisiatif ini memperlihatkan bahwa pelatihan digital dan keuangan untuk UMKM bukanlah program yang berjalan parsial, melainkan terintegrasi dalam kerangka besar pembangunan ekonomi nasional. Pemerintah berupaya memastikan bahwa setiap pelaku usaha, baik di pusat maupun daerah, mendapatkan akses yang sama terhadap teknologi, informasi, serta keterampilan manajerial. Hal ini penting agar UMKM tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang menjadi kekuatan ekonomi baru yang menopang ketahanan nasional.

Transformasi digital dan literasi keuangan yang digulirkan melalui kolaborasi lintas sektor pada akhirnya bertujuan menjadikan UMKM sebagai motor penggerak ekonomi yang tangguh. Dengan memanfaatkan teknologi AI, memperluas akses pembiayaan, serta membangun ekosistem yang inklusif, pemerintah mengarahkan UMKM menuju kelas baru yang lebih modern, adaptif, dan kompetitif.

Ke depan, keberhasilan program-program pelatihan ini akan sangat ditentukan oleh keseriusan pelaku UMKM dalam mengadopsi pengetahuan baru serta keberlanjutan dukungan dari berbagai pihak. Namun yang jelas, arah kebijakan pemerintah sudah tepat, yakni menempatkan UMKM sebagai bagian integral dari agenda pembangunan nasional dengan pendekatan digital dan keuangan yang terukur.

Dengan strategi yang berkesinambungan, UMKM Indonesia tidak hanya berperan sebagai penyerap tenaga kerja, tetapi juga sebagai pemain utama dalam rantai pasok global. Transformasi ini menunjukkan bahwa pemerintah benar-benar hadir untuk memastikan UMKM naik kelas, berdaya saing, dan mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri sekaligus kompetitif di kancah internasional.

*) Analis Perekonomian dan Pembangunan Nasional

Pemerintah Dukung UMKM Kembangkan Produk Inovatif Berdaya Saing

Oleh: Rivka Mayangsari )*

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus mendapat perhatian besar dari pemerintah pusat maupun daerah. Sebagai tulang punggung perekonomian nasional, UMKM terbukti mampu menyerap tenaga kerja, menggerakkan roda ekonomi, serta menjadi benteng pertahanan bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan global. Oleh karena itu, pemerintah menunjukkan komitmen nyata melalui pemberian bantuan, fasilitasi, serta pembinaan yang berkelanjutan demi mendorong UMKM semakin berdaya saing dan berorientasi pada inovasi.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa UMKM tidak hanya menjadi penggerak ekonomi lokal, melainkan juga pilar strategis yang menopang perekonomian nasional. Dalam kunjungannya ke Jawa Tengah bersama Gubernur Ahmad Luthfi, ia menyerahkan bantuan kepada koperasi dan pelaku UMKM sebagai wujud nyata dukungan pemerintah. Menurutnya, akses permodalan yang luas, peningkatan produktivitas, serta pembukaan peluang pasar baru akan menjadi kunci agar UMKM bisa tumbuh lebih adaptif, khususnya dalam menghadapi era digitalisasi.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menambahkan bahwa bantuan berupa fasilitas usaha dan dukungan finansial yang diberikan pemerintah daerah diharapkan dapat menjadi stimulus penting bagi para pelaku UMKM. Di tengah tantangan ekonomi global yang tidak menentu, UMKM perlu mendapat dorongan agar mampu meningkatkan kualitas produk sekaligus daya saing. Menurutnya, kehadiran pemerintah menjadi jembatan bagi UMKM agar tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu berkembang secara berkelanjutan.

Dukungan yang sama juga ditunjukkan oleh Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa. Ia menegaskan komitmen pemerintah daerahnya untuk terus mendorong program pemberdayaan UMKM sebagai bagian dari strategi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di Maluku, peran UMKM dinilai sangat vital karena selain menyerap tenaga kerja, juga menjadi penggerak utama ekonomi di berbagai sektor. Ia menekankan bahwa para pelaku UMKM perlu memanfaatkan platform digital, tidak sekadar untuk promosi, tetapi juga untuk efisiensi operasional serta perluasan pasar. Dengan cara ini, UMKM lokal bisa lebih kompetitif, bahkan menjangkau pasar internasional.

Di Sulawesi Barat, Wakil Gubernur Salim S Mengga memastikan bahwa dukungan terhadap UMKM dilakukan secara tepat sasaran. Ia mencontohkan pemberian mesin percetakan kepada sejumlah pelaku usaha yang dinilai benar-benar membutuhkan. Bantuan ini bukan sekadar formalitas, melainkan langkah nyata pemerintah provinsi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor UMKM. Menurutnya, setiap bantuan yang disalurkan harus dapat dimanfaatkan secara maksimal agar hasilnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

Salim juga menegaskan, UMKM bukan hanya sekadar usaha kecil, tetapi memiliki fungsi strategis dalam menyerap tenaga kerja, meningkatkan ekonomi masyarakat, dan menjadi solusi nyata dalam mengatasi kemiskinan. Oleh karena itu, dukungan pemerintah dalam bentuk bantuan fasilitas, pelatihan, maupun akses pasar adalah bentuk nyata dari komitmen memberdayakan UMKM agar semakin mandiri dan mampu bersaing. Ia berharap, dengan adanya bantuan ini, UMKM lokal dapat tumbuh lebih kuat, tidak hanya di tingkat daerah, tetapi juga mampu bersaing di pasar regional dan nasional.

Lebih jauh, ia menilai UMKM harus didorong untuk lebih inovatif dalam menciptakan produk yang berdaya saing tinggi. Dengan bantuan mesin percetakan, misalnya, pelaku usaha dapat meningkatkan kualitas kemasan, yang menjadi salah satu faktor penting dalam memperluas pangsa pasar. Kemasan yang menarik dan berkualitas tinggi akan memberikan nilai tambah bagi produk lokal, sekaligus meningkatkan daya saing di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Keseriusan pemerintah dalam mendukung UMKM juga tercermin dalam upaya menghubungkan pelaku usaha dengan platform digital. Digitalisasi dinilai sebagai langkah penting agar UMKM bisa memperluas pasar, mengefisiensikan rantai distribusi, serta mengurangi biaya operasional. Pelaku usaha yang melek digital tidak hanya mampu menjangkau konsumen lokal, tetapi juga memiliki kesempatan besar menembus pasar nasional bahkan internasional.

Dengan berbagai langkah konkret tersebut, pemerintah menunjukkan bahwa penguatan UMKM bukan sekadar slogan, melainkan sebuah gerakan nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta para pelaku UMKM menjadi fondasi kuat untuk membangun ekonomi nasional yang mandiri, inklusif, dan berdaya saing.

Ke depan, harapan besar tertuju pada UMKM agar tidak hanya menjadi penggerak ekonomi lokal, tetapi juga bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi nasional yang mampu bersaing di tingkat global. Dukungan penuh pemerintah melalui berbagai program bantuan, fasilitas, hingga pelatihan akan menjadi modal berharga bagi UMKM dalam menghadapi tantangan zaman. Dengan demikian, UMKM Indonesia bukan hanya bertahan, tetapi juga melaju sebagai motor penggerak utama pembangunan ekonomi bangsa.

Dengan adanya dukungan nyata dari pemerintah pusat maupun daerah, UMKM Indonesia semakin menunjukkan peran strategisnya sebagai tulang punggung ekonomi bangsa. Keberpihakan pemerintah bukan hanya sekadar kebijakan, melainkan wujud tanggung jawab negara dalam memastikan rakyat kecil mendapatkan ruang untuk tumbuh dan berdaya. Inilah momentum kebangkitan ekonomi nasional yang digerakkan dari akar rumput: UMKM yang kreatif, inovatif, dan berdaya saing. Jika seluruh elemen bangsa bersatu mendukung UMKM, maka Indonesia akan semakin mandiri, kokoh menghadapi krisis global, serta berdiri tegak sebagai negara yang berdaulat di bidang ekonomi.

*) Pemerhati Ekonomi

Pemerintah Dorong UMKM Masuk Ekosistem Digital Demi Perluasan Pasar dan Efisiensi

Jakarta – Di era serba modern seperti saat ini, cara kerja Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) harus diubah. Cara kerja UMKM yang tadinya tradisional didorong untuk beralih ke pola paling mutakhir melalui adaptasi teknologi digital.

Asisten Deputi Bidang Produksi dan Digitalisasi UMKM, Ali mengatakan, digitalisasi berperan vital dalam memperkuat hiliriasi usaha kecil. Pasalnya, pemanfaatan teknologi digital ridak hanya digunakan sebatas untuk pemasaran daring, tapi juga sebagai instrument untuk meningkatkan efisiensi produksi.

“Padahal digitalisasi juga berperan vital dalam memperkuat hilirisasi, mulai dari pencatatan produksi, distribusi bahan baku, sampai memastikan produk kita memenuhi standar internasional,” jelas Ali.

Ali menyadari bahwa kondisi transformasi digital di sektor UMKM saat ini masih jadi PR besar. Banyak dari pelaku UMKM masih menghadapi tantangan, seperti rendahnya literasi digital, keterbatasan investasi alat produksi, hingga kebutuhan pendampingan teknis berkelanjutan.

Oleh karena itu, Kementerian UMKM menekankan pentingnya membangun ekosistem digital yang inklusif dan kolaboratif, melibatkan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, serta komunitas pengusaha UMKM.

“Saat ini mayoritas UMKM masih mengandalkan peralatan manual atau semi-manual, sehingga produktivitasnya rendah. Melalui teknologi digital, kita ingin mendorong percepatan hilirisasi agar produk UMKM memiliki nilai tambah yang lebih tinggi,” terang Ali.

Sementara itu, untuk lebih menggaungkan pasar UMKM hingga ke tingkat global, Anggota Komisi VII DPR R, Eva Monalisa mendorong pelibatan generasi Z (Gen Z) dalam pengembangan dan pemasaran UMKM. Menurutnya, peran generasi muda dapat memperkuat digitalisasi UMKM.

“Digitalisasi itu penting, sekarang semua penjualan sudah melalui platform digital. Karena itu, UMKM perlu melibatkan generasi penerus agar mampu terus berkembang dan masuk pasar global,” kata Eva.

Dari penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengadopsian teknologi digital dalam proses kerja UMKM dilakukan dalam berbagai aspek bisnis UMKM, mulai dari penjualan, pemasaran, hingga manajemen operasional. Hal itu diharapkan mampu meningkatkan efisiensi, daya saing, dan perluasan jangkauan pasar.

Pemerintah Resmi Perpanjang Insentif Pajak UMKM Untuk Perkuat Ekonomi Kerakyatan

JAKARTA – Pemerintah resmi memperpanjang insentif Pajak Penghasilan (PPh) Final sebesar 0,5 persen bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) hingga 2029. Kebijakan ini diputuskan dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto bersama jajaran menteri terkait, sebagai bagian dari Paket Ekonomi 2025.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan perpanjangan insentif pajak UMKM bertujuan memberikan kepastian hukum, meringankan beban pajak, serta menyederhanakan kewajiban administrasi bagi jutaan pelaku usaha kecil.

“PPh final bagi UMKM yang pendapatannya Rp4,8 miliar setahun, pajak finalnya 0,5 persen dilanjutkan sampai 2029. Jadi tidak kita perpanjang satu tahun-satu tahun, tetapi diberikan kepastian sampai dengan 2029,” ujarnya.

Wakil Menteri Keuangan Anggito Abimanyu menambahkan, perpanjangan kebijakan ini tidak akan mengganggu penerimaan negara pada 2026. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026, penerimaan negara direvisi naik menjadi Rp3.153,6 triliun, dengan target penerimaan perpajakan mencapai Rp2.693,7 triliun.

“PPh Final 0,5 persen untuk UMKM dengan omzet hingga Rp4,8 miliar per tahun dipastikan berlanjut hingga 2029.” tambahnya

Pemerintah juga telah menyiapkan alokasi anggaran sebesar Rp2 triliun pada 2025 untuk mendukung keberlanjutan insentif ini. Data Direktorat Jenderal Pajak mencatat, hingga kini jumlah wajib pajak UMKM yang terdaftar mencapai 542 ribu pelaku usaha. Melalui kebijakan tersebut, diharapkan UMKM dapat lebih leluasa mengembangkan usaha sekaligus memperkuat kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, menyampaikan bahwa Presiden Prabowo berkomitmen menjaga beban pajak UMKM serendah mungkin.

“Pemerintahan Pak Prabowo akan menjaga pengeluaran UMKM untuk pajak sekecil-kecilnya. Pajak sekecil-kecilnya untuk UMKM selamanya harus diterapkan,” ucapnya.

Menurut Muhaimin, insentif ini menjadi instrumen penting untuk memastikan UMKM dapat bertumbuh secara konsisten, naik kelas, dan tetap berdaya saing di tengah tantangan global.

“Pemerintah akan terus berkolaborasi dengan pelaku UMKM agar target pertumbuhan ekonomi nasional dapat tercapai,” pungkasnya.

Perpanjangan insentif PPh Final 0,5 persen menjadi salah satu klausul penting dalam Paket Ekonomi 2025. Program ini mencakup delapan program akselerasi pada 2025, empat program lanjutan di 2026, serta lima program penyerapan tenaga kerja. Melalui rangkaian kebijakan tersebut, pemerintah berupaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, memperluas lapangan kerja, dan memperkuat iklim investasi.

Dengan adanya kepastian perpanjangan hingga 2029, UMKM diharapkan memiliki ruang lebih luas untuk mengembangkan usaha, meningkatkan daya saing, serta memperkokoh peran sebagai tulang punggung ekonomi kerakyatan Indonesia.

(*/rls)

Pemerintah Teguhkan Komitmen Jaga Higienitas dan Keamanan MBG

Oleh: Citra Kurnia Khudori)*
Kasus dugaan keracunan yang dialami siswa akibat dari produk Makan Bergizi Gratis (MBG) terus terjadi di sejumlah daerah. Pemerintah langsung melakukan evaluasi terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang merupakan pusat dapur dan operasionalnya.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana meminta SPPG untuk segera memperbaiki pola memasak. Hasil keterangan menunjukkan adanya kesalahan teknis dari SPPG, seperti memasak terlalu awal, sehingga makanan tersimpan terlalu lama sebelum dikonsumsi.

Setelah indikasi awal penyebab keracunan diketahui, BGN langsung melakukan koordinasi dengan seluruh SPPG dan meminta agar jarak proses memasak dan distribusi makanan tidak lebih dari empat jam. Harapannya, seluruh SPPG dapat menaati aturan tersebut mengingat keselamatan seluruh penerima manfaat MBG menjadi tanggung jawab pemerintah.

Kemudian BGN juga menyampaikan, melalui Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati bahwa insiden keracunan menjadi perhatian serius pemerintah. BGN berkomitmen untuk memperkuat pemantauan dan pengawasan agar makanan yang diterima oleh masyarakat memang makanan yang sehat, layak, bergizi seimbang, dan aman.

BGN telah memiliki prosedur serta aturan ketat terkait keamanan pangan dalam tata kelola program MBG, termasuk pedoman bagi SPPG di lapangan. Sistem pelaporan juga telah diterapkan untuk memperkuat pengawasan dan pengendalian kendala di lapangan.

Terkait dengan higienitas, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendorong SPPG untuk memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) terkait Keamanan Pangan dalam menjalankan program MBG. Kepala Staf Kepresidenan (KSP) M. Qodari menyebutkan, data per September 2025, pada 1.379 SPPG ada sebanyak 413 yang memiliki SOP Keamanan pangan dan 312 SPPG yang telah menjalankan sesuai SOP.

Temuan itu juga menjadi titik terang dalam penyelesaian masalah di setiap rangkaian peristiwa keracunan yang terjadi. Qodari menegaskan, SPPG wajib memiliki dan menjalankan SOP tersebut.

Di samping itu, lanjut Qodari, Kemenkes memiliki Sertifikasi Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS) sebagai bukti tertulis untuk pemenuhan standar baku mutu dan persyaratan keamanan pangan olahan dan pangan siap saji. Namun sayangnya, temuan Kemenkes menunjukkan kepemilikan SLHS oleh SPPG masih sangat minim.

Qodari mengungkapkan, dari 8.583 SPPG per 22 September baru ada 34 SPPG yang sudah memiliki SLHS. Artinya, masih ada 8.549 SPPG lagi yang perlu memenuhi syarat kepemilikan SLHS.

Tindak lanjut pemerintah untuk memastikan keamanan dan higienitas produk MBG menandakan bahwa pemerintah serius memperbaiki program andalan Presiden Prabowo Subianto tersebut. Pemerintah masih meyakini bahwa program MBG akan membawa dampak yang besar untuk generasi bangsa ke depannya.

Sejak awal, program MBG dirancang dengan fokus utama pada aspek gizi dan keamanan pangan. Makanan yang disediakan harus memenuhi standar kalori dan gizi seimbang. Tak kalah penting, aspek higienitas dan keamanan pangan menjadi perhatian serius dalam proses penyediaan makanan.

Pemerintah menyadari bahwa pemenuhan gizi yang baik sejak dini akan sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Makanan bergizi akan mendukung perkembangan kognitif dan fisik anak secara optimal. Secara tidak langsung, program ini juga akan turut memberikan dampak pada penurunan angka stunting dan masalah gizi lainnya. Hal itu sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia menuju Generasi Emas 2045.

Generasi Emas 2045 diharapkan menjadi agen perubahan yang cerdas, sehat, dan kompetitif baik di level nasional maupun global. Sehingga program MBG tidak bisa dilihat hanya sebatas “memberi makan secara gratis”, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.

Adanya kasus keracunan bukan berarti program harus dihentikan. Pemerintah hanya perlu fokus pada perbaikan akar masalah penyebab keracunan tersebut. SPPG harus diawasi lebih ketat.

Direktur Literatur Institut Asran Siara menegaskan, pemilik SPPG tidak boleh mengutamakan kepentingan bisnis dengan mengabaikan kesehatan dan kebersihan makanan. Aspek kesehatan dan kebersihan harus menjadi prioritas utama SPPG.

Menurut Asran, kesuksesan program MBG bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Masyarakat juga dapat mengambil peran dalam pengawasan.

Ia menjelaskan, masyarakat berperan besar memastikan program berjalan lancar. Misalnya, dapur MBG dijaga oleh masyarakat secara bergotong-royong atau bergiliran untuk memastikan makanan diolah sesuai dengan ketentuan.

Masyarakat juga dapat melaporkan bila terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan prosedur. Sehingga edukasi terhadap masyarakat terkait program MBG bukan hanya sekedar pada proses distribusi dan konsumsi, tetapi juga proses produksinya.

Asran melanjutkan, aspek transparansi, pengawasan, serta partisipasi aktif warga dinilai krusial demi memastikan program dapat berjalan efektif dan mencapai tujuan yang diharapkan.

Dengan demikian, di samping komitmen pemerintah untuk menjaga higienitas dan keamanan MBG, partisipasi aktif masyarakat juga diperlukan dalam melakukan pengawasan langsung di lapangan. Harapannya, kontrol terhadap kualitas pangan MBG semakin meningkat dan tidak ada lagi kasus keracunan yang merugikan anak-anak bangsa.

)* Penulis merupakan Pemerhati Isu Sosial-Ekonomi