Wujudkan Swasembada Pangan Pemerintah Ambil Langkah Strategis Cetak Sawah 20 ha di Kaltim

Kaltim – Pemerintah ambil langkah strategis wujudkan swaswembada pangan melalui cetak sawah baru di Kalimantan Timur. Perwujudan sawah ini merupakan pilar utama dalam menciptakan swasembada pangan yang ditargetkan tercapai sepenuhnya pada 2026.

Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menyampaikan bahwa dari total alokasi 20 ribu hektare yang disiapkan pemerintah pusat, saat ini realisasinya baru mencapai angka 6.600 hektare.

Seno Aji menegaskan perlu ada percepatan untuk dapat segera merealisasikan hal tersebut karena waktu terus berjalan.

“Jika 20 ribu hektare ini berhasil kami cetak dan mampu panen dua kali setahun, swasembada pangan Kaltim bukan mustahil. Kami bisa memproduksi sekitar 350 ribu hingga 400 ribu ton per tahun. Namun, jujur saja progres saat ini masih lambat, padahal target dari pusat sangat ketat,” ujar Wagub Seno Aji saat menerima audiensi Kelompok Tani Kabupaten Kutai Kartanegara (24/1/2026).

Dalam audiensi sejumlah hal disampaikan oleh petani. Hal yang mengemuka antara lain terkait keluhan para petani karena terdapat sejumlah kendala teknis, mulai dari penyusutan luasan lahan dari usulan awal hingga risiko gagal panen akibat fluktuasi debit air Sungai Mahakam.

sinergi antara organisasi perangkat daerah (OPD), pemerintah kabupaten/kota, dan kelompok tani adalah kunci utama. Penting juga didukung oleh teknologi modern sebagaimana telah sukses sepertu yang diterapkan di Bukit Biru.

Di Bukit Biru, lahan percontohan sepuluh hektare mampu menghasilkan 6,8 ton gabah berkat mekanisasi, pemetaan digital, dan pemupukan menggunakan drone. Ini bukti teknologi bisa melipatgandakan hasil,” jelasnya

Sementara Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim Fahmi Himawan menambahkan seluruh usulan lahan akan diverifikasi ketat melalui metode overlay peta. Hal ini dilakukan untuk memastikan lahan tidak berbenturan dengan kawasan hutan atau izin lainnya.

“Pertemuan ini mempertegas bahwa cetak sawah bukan sekadar proyek teknis, melainkan strategi kedaulatan pangan Kaltim untuk mencegah kerawanan pangan di masa depan,” jelas Fahmi.

Berdasarkan data provinsi, dari 12,7 juta hektare luas wilayah Kaltim, tersedia 3,6 juta hektare kawasan peruntukan pertanian. Adapun distribusi alokasi cetak sawah berdasarkan radiogram kementerian, meliputi Kutai Barat 11.500 hektare, Kutai Kartanegara 6.500 hektare dan Berau 2.000 hektare (telah memasuki tahap SID).

RI Capai Swasembada Beras, Selanjutnya Bidik Jagung Hingga Gula

Davos – Pemerintah menegaskan bahwa agenda swasembada pangan nasional tidak berhenti pada beras. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memastikan target bebas impor juga diarahkan ke komoditas strategis lain seperti jagung, gula, hingga sumber protein dalam empat tahun ke depan.

Hal itu disampaikan Presiden saat memberikan pidato kunci pada World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Swiss, Kamis (22/1) lalu. Di hadapan para pemimpin dunia, Prabowo memaparkan capaian dan arah kebijakan pangan Indonesia yang semakin agresif.

Presiden menyoroti keberhasilan percepatan swasembada beras yang semula ditargetkan empat tahun, namun berhasil dicapai hanya dalam satu tahun. Atas capaian tersebut, Prabowo optimistis target swasembada komoditas lain juga dapat direalisasikan.

“Saya yakin dalam empat tahun ke depan, kita akan swasembada dalam produk pangan lainnya, jagung, gula, protein,” ucap Prabowo.

Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menegaskan bahwa Indonesia tetap terbuka terhadap integrasi ekonomi global. Menurutnya, berbagai perjanjian perdagangan dan kemitraan ekonomi terus diperluas dengan mitra internasional demi menciptakan pertumbuhan yang saling menguntungkan.

“Kita adalah negara perdagangan selama ratusan tahun. Kita sekarang menyimpulkan perjanjian perdagangan, bukan karena itu sedang tren, tetapi kita menganggapnya perlu. Kita percaya pada konsep saling menguntungkan,” ujarnya.

Presiden menambahkan, perdagangan yang adil tidak mengancam kedaulatan negara. Indonesia, kata dia, memiliki visi menjadi negara modern yang terintegrasi dengan ekonomi global, sekaligus bebas dari kemiskinan melalui tata kelola pemerintahan yang baik, bersih, dan efisien.

Sejalan dengan arahan Presiden, Kementerian Pertanian juga memperluas fokus swasembada ke komoditas kedelai. Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Yudi Sastro menyebut pemerintah akan mendorong kemandirian kedelai secara bertahap mulai tahun ini.

“Swasembada beras, jagung, lalu masuk kedelai. Kemudian nanti pangan yang lain,” kata Yudi Sastro, Selasa (20/1) lalu.

Yudi menjelaskan, pada 2026 pemerintah menargetkan perluasan areal tanam kedelai hingga 73 ribu hektare yang difokuskan di sentra produksi seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung.

Upaya tersebut didukung melalui bantuan benih, pupuk bersubsidi, serta alat dan mesin pertanian guna memperkuat produksi dalam negeri.***

Penegakan Hukum Tegas Aparat Keamanan Persempit Ruang Gerak OPM di Yahukimo

YAHUKIMO-Keberhasilan aparat keamanan menindak tegas kelompok separatis bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali tercatat di wilayah Papua Pegunungan. Satuan Tugas Komando Operasi (Koops) TNI Habema sukses merebut dua markas utama OPM Kodap XVI/Yahukimo dalam patroli keamanan terukur di Jalan Gunung, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Kamis (22/1/2026). Operasi ini dipandang sebagai langkah strategis dalam memperkuat stabilitas keamanan dan memberikan perlindungan nyata bagi masyarakat setempat.

Patroli keamanan tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut atas meningkatnya ancaman dan aksi kekerasan OPM yang selama ini mengganggu aktivitas warga. Wilayah Jalan Gunung diketahui kerap menjadi lokasi penembakan pesawat, penyerangan kendaraan aparat, pembakaran fasilitas pendidikan, hingga aksi kekerasan terhadap warga sipil. Kondisi tersebut mendorong aparat keamanan meningkatkan intensitas patroli demi memulihkan rasa aman.

Panglima Koops Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto, menegaskan bahwa keberhasilan penguasaan Markas Sisibia dan Markas Yalenang merupakan hasil dari perencanaan matang dan profesionalisme prajurit di lapangan.

“Keberhasilan merebut dua markas OPM Kodap XVI/Yahukimo ini menunjukkan kesiapsiagaan dan profesionalisme prajurit TNI di medan operasi,” tegas Mayjen TNI Lucky Avianto.

Operasi dimulai sejak Rabu malam (21/1/2026) dengan pergerakan pasukan melalui medan hutan untuk melakukan infiltrasi. Pada Kamis dini hari, kontak tembak terjadi ketika pasukan patroli mendapat serangan dari kelompok bersenjata. Situasi tersebut dapat dikendalikan melalui manuver taktis yang terukur hingga aparat berhasil memukul mundur perlawanan dan menguasai dua markas yang selama ini diduga menjadi pusat aktivitas OPM Kodap XVI/Yahukimo.

Dalam pengamanan lokasi, aparat menemukan berbagai barang bukti yang menguatkan fungsi strategis markas tersebut. Sejumlah senjata api, amunisi, puluhan selongsong peluru, senjata tajam, perlengkapan panah, alat komunikasi, perangkat navigasi, telepon genggam, bendera Bintang Kejora, hingga dokumen milik OPM Kodap XVI/Yahukimo berhasil diamankan. Temuan ini dinilai signifikan dalam upaya memutus jalur logistik dan komunikasi kelompok bersenjata.

“Penguasaan Jalan Gunung menjadi langkah strategis untuk memutus ruang gerak dan jalur logistik OPM serta menjamin keamanan masyarakat di wilayah Yahukimo,” ujar Mayjen TNI Lucky Avianto.
Keberhasilan tersebut tidak hanya mencerminkan ketegasan aparat keamanan dalam menegakkan kedaulatan negara, tetapi juga menjadi sinyal kuat bahwa negara hadir melindungi masyarakat di wilayah rawan. Dengan penguasaan titik-titik strategis, diharapkan aktivitas sosial dan ekonomi warga dapat kembali berjalan normal tanpa bayang-bayang ancaman kekerasan.

Langkah tegas aparat keamanan ini mendapat perhatian luas sebagai bagian dari upaya berkelanjutan menjaga stabilitas dan kedamaian di Papua Pegunungan. Patroli keamanan yang berjalan aman dan terkendali diharapkan terus mempersempit ruang gerak kelompok bersenjata serta memperkuat rasa aman bagi masyarakat Yahukimo dan sekitarnya.

Kesiapsiagaan dan Profesionalisme TNI Berhasil Rebut Markas OPM

Papua Pegunungan- Operasi keamanan yang dilaksanakan Tentara Nasional Indonesia (TNI) kembali menunjukkan tingkat kesiapsiagaan dan profesionalisme tinggi dalam menjaga stabilitas keamanan nasional. Melalui Satuan Tugas Komando Operasi (Koops) Habema, TNI berhasil merebut dan menguasai dua markas utama Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kodap XVI/Yahukimo dalam operasi terukur di kawasan Jalan Gunung, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Keberhasilan ini menjadi bukti konkret kesigapan aparat dalam merespons ancaman bersenjata yang mengganggu keamanan masyarakat sipil.

Operasi tersebut merupakan tindak lanjut atas rangkaian aksi kekerasan yang dilakukan kelompok OPM, mulai dari penembakan terhadap pesawat dan kendaraan aparat serta warga sipil, hingga pembakaran fasilitas pendidikan. Patroli keamanan dimulai sejak Rabu (21/1/2026) petang dan dilaksanakan secara senyap melalui infiltrasi ke dua markas OPM, yakni Markas Sisibia dan Yalenang. Pada Kamis (22/1/2026) dini hari, pasukan TNI terlibat kontak tembak dengan kelompok bersenjata OPM yang tengah melakukan patroli di wilayah tersebut.

Dari hasil kontak tersebut, sejumlah anggota OPM dilaporkan tewas, termasuk salah satu tokoh penting Kodap XVI/Yahukimo. Selain itu, aparat berhasil mengamankan berbagai barang bukti berupa senjata api, munisi, puluhan selongsong peluru, alat komunikasi, perangkat navigasi, telepon genggam, senjata tajam, perlengkapan panah, bendera Bintang Kejora, serta dokumen penting milik TPNPB Kodap XVI/Yahukimo. Penguasaan penuh atas dua markas tersebut semakin mempersempit ruang gerak kelompok separatis bersenjata di wilayah Yahukimo.

Panglima Koops Habema, Mayor Jenderal TNI Lucky Avianto, menegaskan bahwa keberhasilan operasi ini merupakan hasil dari perencanaan matang, disiplin tinggi, dan profesionalisme prajurit di lapangan. “Keberhasilan merebut dua markas OPM Kodap XVI/Yahukimo ini menunjukkan kesiapsiagaan dan profesionalisme prajurit TNI di medan operasi. Penguasaan Jalan Gunung menjadi langkah strategis untuk memutus ruang gerak dan jalur logistik OPM serta menjamin keamanan masyarakat di wilayah Yahukimo,” ujar Lucky dalam keterangan tertulisnya.

Menurut Lucky, operasi tersebut tidak hanya berorientasi pada aspek penegakan keamanan, tetapi juga bertujuan menciptakan rasa aman bagi masyarakat setempat agar dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari secara normal. Ia berharap, keberhasilan ini mampu melemahkan kekuatan OPM secara signifikan dan mencegah terulangnya aksi-aksi kekerasan yang merugikan warga sipil. “Kami berkomitmen untuk terus hadir melindungi masyarakat dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.

Keberhasilan Koops Habema ini sekaligus menegaskan peran TNI sebagai garda terdepan dalam menjaga kedaulatan negara, dengan tetap mengedepankan profesionalisme, kehati-hatian, dan kepatuhan terhadap hukum dalam setiap pelaksanaan tugas operasi di wilayah rawan keamanan.

CKG di Papua, Fondasi Kuat Membangun Papua Sehat dan Produktif

Oleh : Loa Murib

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digulirkan pemerintah nasional semakinmenunjukkan perannya sebagai fondasi penting dalam membangun Papua yang sehat dan produktif. Di tengah tantangan geografis, keterbatasan akses layanan, serta beragampersoalan kesehatan yang masih dihadapi masyarakat Papua, kehadiran CKG menjadiinstrumen strategis negara untuk memastikan setiap warga memperoleh hak dasar ataslayanan kesehatan, sekaligus mendorong perubahan paradigma dari kuratif menuju preventif.

Pelaksanaan CKG di Papua Tengah menjadi contoh konkret komitmen pemerintah daerahdalam mengakselerasi agenda kesehatan nasional. Pemerintah Provinsi Papua Tengah melaluiDinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana secara aktifmelaksanakan program ini dengan memanfaatkan berbagai ruang publik. Plt Kepala DP2KB Papua Tengah, Dokter Agus, menegaskan bahwa CKG telah berjalan dan saat ini difokuskanpada pendataan cakupan seluruh penduduk melalui puskesmas dan pemerintah kabupaten. Menurutnya, proses pendataan tersebut penting agar intervensi kesehatan dapat dilakukansecara terukur dan berkelanjutan.

Upaya mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat juga dilakukan melaluipendekatan yang adaptif dan inklusif. DP2KB Papua Tengah secara rutin membuka layananCKG dalam kegiatan Car Free Day di Nabire dengan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten dan puskesmas setempat. Dokter Agus memandang kehadiran layanan kesehatandi ruang publik tidak hanya memudahkan akses masyarakat, tetapi juga memperkuat interaksisosial serta menggerakkan aktivitas ekonomi lokal, khususnya UMKM. Sinergi antarakesehatan dan ekonomi ini menunjukkan bahwa pembangunan kesehatan tidak berdirisendiri, melainkan saling terkait dengan sektor lain dalam mendorong kesejahteraanmasyarakat.

Sementara itu, capaian CKG di Kabupaten Manokwari, Papua Barat, memperlihatkandampak positif program ini dalam menjangkau kelompok usia strategis, yakni anak sekolah. Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari mencatat ribuan anak usia 7 hingga 18 tahun telahmemperoleh layanan CKG, atau sekitar 70 persen dari total sasaran. Plt Kepala Dinas Kesehatan Manokwari, Marthen Rantetampang, menyampaikan bahwa pemeriksaankesehatan sejak usia dini merupakan langkah krusial untuk mendeteksi potensi penyakit lebihawal dan memastikan tumbuh kembang anak berlangsung optimal.

Pendekatan jemput bola menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan CKG di lingkungansekolah. Dinas Kesehatan Manokwari secara aktif berkoordinasi dengan pihak sekolah, di mana guru berperan menginformasikan jadwal kegiatan kepada puskesmas terdekat agar petugas kesehatan dapat langsung melakukan pemeriksaan. Pola ini tidak hanyameningkatkan cakupan layanan, tetapi juga menanamkan kesadaran kesehatan sejak dinikepada peserta didik, guru, dan orang tua.

Selain anak sekolah, CKG di Manokwari juga menyasar masyarakat umum melaluipelayanan di berbagai ruang publik, termasuk rumah ibadah dan lokasi keramaian. Marthen menilai strategi ini penting untuk menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini jarangmengakses fasilitas kesehatan. Namun demikian, ia juga mengakui bahwa tantangan utamamasih terletak pada rendahnya kesadaran sebagian warga untuk memeriksakan kesehatan saatmerasa sehat. Pandangan bahwa fasilitas kesehatan hanya didatangi ketika sakit masih cukupkuat, sehingga perlu upaya edukasi yang berkelanjutan.

Dalam konteks ini, CKG sesungguhnya menjadi instrumen edukatif yang strategis. Program ini menegaskan bahwa deteksi dini penyakit adalah hak setiap warga negara dan merupakaninvestasi jangka panjang bagi kualitas hidup. Dengan mengetahui kondisi kesehatan lebihawal, potensi penyakit kronis dapat dicegah atau ditangani sejak dini, sehingga menekanbiaya pengobatan dan meningkatkan produktivitas masyarakat.

Meski demikian, pelaksanaan CKG di Papua juga menghadapi kendala struktural, terutamaterkait ketersediaan bahan medis habis pakai. Marthen mengungkapkan bahwa keterlambatandistribusi BMHP dari pemerintah pusat berdampak pada optimalisasi layanan di lapangan. Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan koordinasi lintas level pemerintahan agar dukungan logistik sejalan dengan kesiapan tenaga kesehatan yang sudah ada.

Secara keseluruhan, CKG di Papua merepresentasikan wajah kehadiran negara yang semakinnyata dalam menjamin hak kesehatan warga. Program ini tidak hanya menyentuh aspekmedis, tetapi juga membangun kesadaran kolektif akan pentingnya hidup sehat sebagaiprasyarat pembangunan manusia. Papua yang sehat adalah Papua yang produktif, dan produktivitas masyarakat menjadi modal utama dalam mendorong kemajuan daerah secaraberkelanjutan.

Ke depan, keberhasilan CKG sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan, penguatansosialisasi, serta dukungan sarana prasarana yang memadai. Dengan sinergi antarapemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, CKG berpotensimenjadi fondasi kuat dalam mewujudkan Papua yang lebih sehat, berdaya saing, dan sejahtera. Program ini sekaligus menegaskan bahwa pembangunan kesehatan adalah investasistrategis untuk masa depan Papua dan Indonesia secara keseluruhan.

*Penulis adalah Mahasiswa Papua di Jawa Timur

Ketegasan Negara Menjaga Papua melalui Keberhasilan Apkam Menindak OPM

Oleh: Yohan Yikwa *)

Keberhasilan Satuan Tugas Komando Operasi (Satgas Koops) TNI Habema merebut dua markas utama Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kodap XVI/Yahukimo pada 22 Januari 2026 merupakan tonggak penting dalam upaya menjaga kedaulatan NKRI sekaligus memberikan perlindungan riil kepada masyarakat yang selama bertahun-tahun hidup di bawah ancaman kelompok bersenjata. Operasi yang berlangsung di kawasan Jalan Gunung, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan menunjukkan efektivitas pendekatan negara dalam memenuhi fungsi keamanan dengan tetap memprioritaskan keselamatan masyarakat sipil. Peristiwa ini bukanlah sekadar keberhasilan taktis di medan, tetapi juga refleksi dari kebijakan pemerintah yang konsisten menegaskan bahwa tindakan tegas terhadap kelompok yang melakukan kekerasan adalah bagian integral dari upaya menciptakan stabilitas dan pembangunan.

Patroli keamanan yang digelar sejak malam hari pada 21 Januari 2026 dan berujung pada penguasaan Markas Sisibia serta Markas Yalenang memperlihatkan kedalaman perencanaan serta disiplin militer yang kuat. Operasi ini dijalankan sebagai respons terhadap berbagai ancaman nyata yang selama ini mengganggu aktivitas warga dan jalannya layanan publik setempat, termasuk penembakan terhadap pesawat dan kendaraan aparat serta pembakaran fasilitas pendidikan, yang sempat menjadi berita utama lokal beberapa pekan sebelum operasi diluncurkan. Fakta bahwa gangguan-gangguan tersebut terjadi secara berulang menegaskan bahwa ancaman yang dihadapi bukanlah klaim semu, melainkan tantangan keamanan nyata yang harus ditangani secara tegas dan profesional.

Keputusan pemerintah melalui TNI untuk melakukan tindakan terukur semacam ini sejatinya adalah wujud tanggung jawab konstitusional dalam menjamin keselamatan warga negara di seluruh penjuru tanah air. Panglima Koops Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto, menegaskan bahwa penguasaan Jalan Gunung memiliki nilai strategis penting untuk memutus ruang gerak dan jalur logistik OPM serta menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi warga di Kabupaten Yahukimo. Pernyataan ini selaras dengan kebijakan pemerintah yang menempatkan keamanan sebagai prasyarat bagi terselenggaranya proses pembangunan sosial-ekonomi di Papua, khususnya di wilayah pegunungan yang selama ini menjadi titik rawan konflik.

Operasi yang berhasil merebut markas OPM tidak dilakukan secara gegabah. Pasukan infiltrasi secara terukur mengidentifikasi dua basis penting kelompok bersenjata di Markas Sisibia dan Markas Yalenang, kemudian memasuki wilayah tersebut pada dini hari. Kontak senjata tidak terhindarkan, namun keberhasilan pasukan TNI menguasai lokasi dan menemukan berbagai bukti materiil, seperti senjata api, amunisi, perangkat komunikasi, serta dokumen organisasi, menunjukkan bahwa dampak operasional ini jauh lebih besar daripada sekadar simbol kemenangan. Bukti-bukti ini menjadi bahan penting bagi aparat untuk melakukan pendalaman intelijen dan merancang langkah lanjutan yang lebih efektif dalam mengatasi jaringan OPM secara struktural.

Salah satu aspek yang layak diapresiasi adalah profesionalisme prajurit TNI di medan operasi. Tidak adanya korban jiwa maupun luka dari pihak TNI mencerminkan tingkat kesiapsiagaan dan standar operasi yang tinggi. Penguasaan markas dilakukan dengan upaya semaksimal mungkin untuk mengurangi risiko terhadap pasukan sendiri dan masyarakat. Hal ini tidak hanya memperkuat kredibilitas TNI sebagai alat pertahanan negara, tetapi juga sejalan dengan prinsip kebijakan pemerintah yang menempatkan keselamatan warga sebagai prioritas utama dalam setiap tindakan keamanan.

Selain itu, operasi ini mendapat dukungan signifikan dari elemen masyarakat setempat. Dukungan semacam ini penting karena tanpa kepercayaan dan kerja sama warga, mustahil upaya stabilisasi keamanan dapat berjalan efektif. Ketika warga merasakan negara hadir untuk melindungi, bukan justru menjadi ancaman bagi kesejahteraan mereka, maka ruang bagi kelompok ekstrem untuk meraih dukungan sosial akan menyusut. Keberhasilan operasi ini membuka kesempatan lebih luas bagi dialog yang lebih konstruktif antara pemerintah dan masyarakat Papua, untuk bersama-sama membangun kondisi yang damai dan produktif.

Kerja keras TNI di Yahukimo bahkan mencerminkan konsistensi pendekatan komprehensif yang selama ini digulirkan pemerintah di Papua. Misalnya, operasi TNI yang dilakukan beberapa minggu sebelumnya berhasil menyelamatkan belasan pekerja PT Freeport Indonesia yang terjebak di pegunungan Papua Tengah, tanpa kontak senjata, menegaskan bahwa TNI mampu menjalankan beragam tugas, dari aksi kemanusiaan sampai penegakan keamanan, berdasarkan kebutuhan situasi di lapangan. Pendekatan yang bervariasi ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah tidak semata-mata menitikberatkan pada kekuatan militer, tetapi juga pada perlindungan warga dan pemulihan kondisi masyarakat.

Skeptisisme terhadap pendekatan keamanan sering kali muncul dalam perdebatan publik. Namun, dari apa yang terjadi di Yahukimo, jelas bahwa tindakan tegas terhadap kelompok yang secara konsisten menggunakan kekerasan dan intimidasi adalah pilihan yang paling bertanggung jawab dari sisi negara. Negara tidak hanya menegakkan hukum, tetapi juga melindungi hak warga untuk hidup bebas dari rasa takut. Keberhasilan ini selaras dengan prinsip bahwa stabilitas adalah prasyarat bagi setiap bentuk kemajuan, baik sosial, ekonomi, maupun budaya.

Keberhasilan Satgas Koops TNI Habema merebut markas OPM Kodap XVI/Yahukimo harus diapresiasi sebagai bukti bahwa kebijakan pemerintah Indonesia dalam menjaga kedaulatan dan keamanan warganya berada pada jalur yang tepat. Ini bukan sekadar soal kekuatan, tetapi integritas negara dalam menegakkan hukum, melindungi warga, dan membuka jalan bagi masa depan yang damai dan sejahtera.

*) Pengamat Sosial/Analis Isu Strategis

Koperasi Desa Merah Putih Instrumen Negara Melawan Ketimpangan Ekonomi

Oleh : Sintia Arfi )*

Gagasan Koperasi Desa Merah Putih hadir di tengah realitas ketimpangan ekonomi yang masih menjadi persoalan struktural di Indonesia. Di banyak daerah, aktivitas ekonomi masih terpusat pada kelompok tertentu, sementara masyarakat kecil hanya menjadi penonton dalam arus besar pembangunan. Negara melalui Koperasi Desa Merah Putih mencoba mengambil posisi lebih aktif, bukan sekadar sebagai regulator, tetapi sebagai penggerak ekosistem ekonomi rakyat. Koperasi ini dirancang sebagai wadah bersama yang memungkinkan masyarakat berproduksi, berdagang, dan mengakses layanan ekonomi secara lebih adil dan terjangkau.

Menteri Koperasi, Ferry Juliantono menegaskan bahwa Koperasi Desa Merah Putih tidak hanya dimaknai sebagai badan usaha simpan pinjam, tetapi sebagai pusat kegiatan ekonomi masyarakat. Dengan konsep gerai, pergudangan, dan layanan pendukung seperti klinik serta logistik, koperasi ini diharapkan mampu memotong rantai distribusi yang selama ini merugikan produsen kecil. Petani, nelayan, UMKM, dan pelaku ekonomi lokal bisa langsung terhubung dengan pasar tanpa harus bergantung pada tengkulak atau perantara yang mengambil margin berlebihan. Dalam konteks ini, koperasi menjadi alat negara untuk menghadirkan keadilan ekonomi secara konkret.

Peran negara dalam Koperasi Desa Merah Putih terlihat dari dukungan kebijakan, pembiayaan, hingga pembangunan infrastruktur fisik. Ini menandai pergeseran pendekatan pembangunan yang tidak lagi sepenuhnya diserahkan pada mekanisme pasar bebas. Negara menyadari bahwa tanpa intervensi yang tepat, pasar justru memperlebar jurang ketimpangan. Dengan koperasi sebagai instrumen, negara berupaya memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati oleh pelaku usaha besar, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat akar rumput.

Dari sisi sosial, Koperasi Desa Merah Putih membawa semangat gotong royong yang selama ini menjadi nilai dasar bangsa. Anggota koperasi tidak diposisikan sebagai konsumen semata, melainkan sebagai pemilik sekaligus pengelola. Pola ini mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pengambilan keputusan ekonomi di lingkungannya sendiri. Ketika keuntungan koperasi kembali ke anggota, maka perputaran ekonomi lokal menjadi lebih sehat dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat kohesi sosial di tingkat komunitas.

Dalam praktiknya, Koperasi Desa Merah Putih juga berpotensi menjadi solusi atas keterbatasan akses modal dan layanan dasar. Banyak pelaku usaha kecil kesulitan mendapatkan pembiayaan dari perbankan formal karena terbentur persyaratan administrasi. Koperasi dapat menjembatani kesenjangan ini dengan skema yang lebih inklusif dan berbasis kepercayaan. Selain itu, keberadaan layanan logistik dan pergudangan membantu pelaku usaha menjaga kualitas produk serta menekan biaya distribusi, yang selama ini menjadi salah satu sumber ketimpangan.

Namun demikian, keberhasilan Koperasi Desa Merah Putih tidak bisa dilepaskan dari tata kelola yang baik. Transparansi, akuntabilitas, dan profesionalisme pengelolaan menjadi kunci agar koperasi tidak sekadar menjadi proyek simbolik. Negara perlu memastikan bahwa koperasi dikelola oleh sumber daya manusia yang kompeten, sekaligus diawasi secara berkelanjutan. Tanpa pengelolaan yang sehat, koperasi justru berisiko kehilangan kepercayaan publik dan gagal menjalankan misi pemerataan ekonomi.

Masyarakat dituntut untuk beradaptasi dengan pola ekonomi kolektif ini. Budaya individualisme dan ketergantungan pada bantuan jangka pendek perlu bergeser menuju kemandirian bersama. Koperasi Desa Merah Putih hanya akan kuat jika anggotanya aktif berpartisipasi, disiplin, dan memiliki kesadaran bahwa keuntungan bersama lebih penting daripada kepentingan sesaat. Pendidikan koperasi dan literasi ekonomi menjadi faktor penting agar masyarakat memahami hak dan kewajibannya sebagai anggota.

Kekuatan koperasi terletak pada partisipasi aktif dan kedisiplinan anggotanya. Tanpa keterlibatan nyata, koperasi hanya akan menjadi nama tanpa ruh. Kesadaran bahwa keuntungan bersama lebih bernilai daripada kepentingan pribadi jangka pendek menjadi fondasi utama. Karena itu, pendidikan koperasi dan peningkatan literasi ekonomi perlu dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat benar benar memahami hak, kewajiban, serta peran strategisnya sebagai anggota. Dengan pemahaman yang kuat, koperasi tidak hanya bertahan, tetapi mampu tumbuh sebagai pilar pemerataan ekonomi di daerah.

Pada akhirnya, Koperasi Desa Merah Putih dapat dibaca sebagai jalan negara melawan ketimpangan ekonomi melalui pendekatan yang membumi. Koperasi Desa Merah Putih tidak menawarkan solusi instan, tetapi membangun fondasi ekonomi rakyat secara bertahap dan berkelanjutan. Jika dijalankan dengan konsisten, koperasi ini berpotensi menjadi ruang perjumpaan antara kebijakan negara dan kebutuhan riil masyarakat. Di sanalah keadilan ekonomi tidak hanya menjadi jargon, tetapi hadir dalam kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia. Di titik inilah keadilan ekonomi tidak berhenti sebagai jargon kebijakan, tetapi benar-benar hadir dan dirasakan dalam kehidupan sehari hari rakyat Indonesia, terutama mereka yang selama ini berada di pinggiran arus utama pembangunan.

)* Mahasiswa Pascasarjana Universitas Darma Persada Jakarta

Koperasi Desa Merah Putih, Strategi Negara Persempit Jurang Ekonomi

Oleh : Andhika Rachma )*

Dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan ekonomi, Indonesia terus mencari solusi yang inovatif dan menyentuh akar rumput. Salah satu inisiatif strategis terbaru yang tengah dijalankan pemerintah adalah pembentukan Koperasi Desa Merah Putih , sebuah jejaring koperasi desa dan kelurahan yang dirancang untuk memperkuat ekonomi masyarakat di seluruh pelosok negeri.

Program ini bukan sekadar jargon pembangunan, tetapi telah dijalankan secara nyata dengan dukungan lintas kementerian, pemerintah daerah, hingga pelaku usaha dan masyarakat sendiri, sebagai bagian dari upaya negara mempersempit jurang ekonomi yang selama ini masih terasa sangat tajam antara desa dan kota.

Koperasi Desa Merah Putih lahir dari arahan Presiden Prabowo Subianto, yang melihat peran sentral desa sebagai basis ekonomi kerakyatan. Menteri Koordinator Bidang Pangan sekaligus Ketua Satuan Tugas (Satgas) Koperasi Desa Merah Putih , Zulkifli Hasan, menyatakan percepatan pembangunan koperasi menjadi prioritas lintas kementerian dan lembaga.

Presiden Prabowo secara simbolis menyerahkan surat keputusan badan hukum kepada perwakilan koperasi dari berbagai daerah, menandai dimulainya gerakan besar yang diharapkan menjangkau hingga pelosok tanah air. Esensi dari Koperasi Desa Merah Putih terletak pada fungsinya sebagai pusat kegiatan ekonomi masyarakat setempat.

Kolaborasi strategis dengan berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan program ini. Misalnya, dukungan PT Rajawali Nusantara Indonesia melalui ID FOOD dalam menyediakan pasokan pangan strategis seperti gula, beras, dan minyak goreng bagi koperasi merupakan wujud sinergi antara BUMN dengan ekonomi rakyat. Dukungan ini juga memperlihatkan bagaimana koperasi dapat memanfaatkan teknologi dan platform digital untuk meningkatkan efisiensi operasional dan keterjangkauan bagi anggota serta konsumen.

Tidak hanya itu, keterlibatan lembaga pendidikan tinggi dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia koperasi menunjukkan bahwa Koperasi Desa Merah Putih juga dipandang sebagai wahana pemberdayaan masyarakat yang berbasis pada pengetahuan. Kemitraan antara Kementerian Koperasi dan universitas-universitas negeri di Indonesia membuka peluang pengembangan kapasitas pengurus dan anggota koperasi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Wakil Gubernur Bengkulu Mian menyampaikan bahwa pembangunan Koperasi Desa Merah Putih memiliki peran strategis dalam meningkatkan perekonomian masyarakat desa serta memperkuat ketahanan ekonomi dari tingkat paling bawah. Program ini merupakan bagian dari semangat Bantu Rakyat yang menjadi komitmen Gubernur dan Wakil Gubernur Bengkulu lima tahun ke depan. Kolaborasi antara Pemprov Bengkulu, TNI, dan Forkopimda menjadi kekuatan utama dalam percepatan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih. Saat ini, sejumlah titik pembangunan koperasi telah berjalan di berbagai wilayah Bengkulu.

Sosialisasi dan implementasi program ini juga mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan daerah. Misalnya, Provinsi Bengkulu mencatatkan prestasi signifikan dalam realisasi pembangunan koperasi, menempatkan provinsi tersebut dalam lima besar capaian tingkat nasional. Hal ini menunjukkan bahwa ketika pemerintah daerah dan komunitas setempat bersinergi, kemajuan ekonomi berbasis koperasi bisa dirasakan secara nyata oleh masyarakat luas.

Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menegaskan program Koperasi Desa Merah Putih bukan sekadar pembangunan kelembagaan, melainkan transformasi koperasi menjadi entitas bisnis produktif yang terintegrasi dengan ekosistem ekonomi desa. Dari total 41.000 titik lahan yang telah terinventarisasi, sekitar 23.000 titik telah diverifikasi dan sedang dibangun, dengan target mulai beroperasi pada Maret–April 2026.

Respons masyarakat terhadap peluncuran Koperasi Desa Merah Putih juga menggambarkan antusiasme dan harapan besar terhadap perubahan ekonomi. Di desa-desa yang menjadi lokasi peluncuran awal, warga menyambut gerakan ini dengan penuh semangat. Mereka melihat koperasi sebagai jawaban atas keluhan harga yang tidak stabil, praktik dagang yang tidak sehat, dan keterbatasan akses terhadap produk kebutuhan pokok yang terjangkau.

Strategi besar Koperasi Desa Merah Putih sejatinya adalah merajut kembali jaringan ekonomi nasional melalui fondasi kerakyatan. Dengan menempatkan koperasi sebagai simpul aktivitas ekonomi lokal yang dikelola secara profesional dan modern, diharapkan generasi muda juga semakin tertarik untuk terlibat. Modernisasi pengelolaan koperasi melalui penerapan sistem digital dan transparansi keuangan menjadi salah satu langkah penting untuk menarik partisipasi generasi produktif, yang selanjutnya akan memperkuat keberlanjutan koperasi di masa mendatang.

Peran koperasi tidak berhenti pada aspek ekonomi semata. Program ini juga diharapkan bisa turut menyelesaikan persoalan sosial lain seperti kemiskinan dan keterbatasan akses ke layanan dasar. Dengan meningkatkan produktivitas masyarakat desa, membuka peluang usaha lokal, dan menyediakan akses permodalan yang adil, Koperasi Desa Merah Putih berpotensi menjadi pendorong utama dalam pencapaian pembangunan yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pemerataan kesejahteraan.

Koperasi Desa Merah Putih bukan hanya program ekonomi biasa. Ia adalah sebuah strategi nasional yang dirancang untuk mempersempit jurang ekonomi antara desa dan kota, menghidupkan kembali nilai-nilai gotong royong dan ekonomi kerakyatan, serta meletakkan fondasi kuat bagi masa depan Indonesia yang lebih inklusif dan sejahtera. Dengan perhatian dan dukungan yang terus meningkat dari berbagai pihak, koperasi ini memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan transformasi sosial-ekonomi yang membawa kemakmuran ke seluruh lapisan masyarakat.

)* Pengamat Kebijakan Publik

Pemerintah Akselerasi Koperasi Desa Merah Putih untuk Perkuat Ekonomi Rakyat

Jakarta – Pemerintah terus mempercepat pembangunan dan pengoperasian Koperasi Desa Merah Putih sebagai upaya strategis memperkuat ekonomi kerakyatan dan mendorong pemerataan kesejahteraan nasional. Program ini dirancang menjadi tulang punggung baru perekonomian desa dengan menghadirkan ekosistem usaha yang terintegrasi, modern, dan berkelanjutan hingga ke tingkat akar rumput.

Menteri Koperasi, Ferry Juliantono menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan sebanyak 27 ribu Kopdes Merah Putih siap beroperasi pada April 2026. Hingga Januari 2026, tercatat sebanyak 27.191 koperasi desa dan kelurahan tengah dibangun secara serentak di berbagai daerah di Indonesia.

Ferry menjelaskan, pembangunan fisik koperasi beserta gudang dan perlengkapan pendukung ditargetkan rampung pada Maret atau paling lambat April 2026. Pemerintah ingin memastikan koperasi dapat langsung beroperasi begitu infrastruktur selesai dibangun, sehingga manfaatnya dapat segera dirasakan masyarakat.

“Insyaallah Maret atau paling lambat April sudah selesai bangunan fisik, gudang, dan alat kelengkapannya,” ujar Ferry.

Selain pembangunan fisik, kesiapan sumber daya manusia dan sistem pendukung juga menjadi perhatian utama. Pemerintah saat ini tengah menyiapkan pengawas, pengurus, serta sistem informasi manajemen koperasi agar operasional Kopdes/Kel Merah Putih berjalan profesional, transparan, dan akuntabel sejak hari pertama beroperasi.

Program Kopdes Merah Putih diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi desa, memperkuat kemandirian masyarakat, sekaligus mewujudkan pemerataan ekonomi nasional. Dari sisi pendanaan, pemerintah mengombinasikan berbagai sumber, mulai dari APBN, APBD, Dana Desa, hingga dukungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Salah satu BUMN yang terlibat aktif adalah PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero), yang ditugaskan membangun gerai, gudang, dan sarana logistik koperasi.

Setiap unit koperasi akan mendapatkan plafon pendanaan hingga Rp3 miliar. Dari jumlah tersebut, Rp2,5 miliar dialokasikan untuk investasi capital expenditure (capex) berupa pembangunan fisik dan kelengkapan operasional, sementara Rp500 juta dialokasikan untuk biaya operasional (opex). Infrastruktur koperasi dirancang lengkap dengan tujuh gerai wajib, yakni kantor koperasi, gerai sembako, unit simpan pinjam, klinik desa, apotek desa, gudang berpendingin atau cold storage, serta sarana logistik.

Dari daerah, dukungan terhadap program ini juga terus menguat. Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Lampung Tengah, I Komang Koher, menilai kehadiran Koperasi Desa Merah Putih akan menjadi penggerak utama ekonomi desa jika dikelola secara profesional dan berkelanjutan.

“Pembangunan Koperasi Desa Koperasi Desa Merah Putih ini sejalan dengan visi pemerintah pusat dalam memperkuat ekonomi kerakyatan. Saya berharap koperasi ini nantinya dapat menjadi wadah usaha produktif masyarakat serta mendorong tumbuhnya UMKM di Kampung Tanjung Harapan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, perangkat kampung, dan masyarakat dalam mendukung operasional koperasi. Menurutnya, pemanfaatan potensi lokal di sektor pertanian, perdagangan, dan jasa harus menjadi fokus utama agar koperasi berkembang dan memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan pendapatan warga.

Dengan percepatan pembangunan dan dukungan lintas sektor, Koperasi Desa Merah Putih diproyeksikan menjadi fondasi kuat ekonomi rakyat yang berdaulat, inklusif, dan berkelanjutan di seluruh pelosok Indonesia.