Diplomasi Presiden Prabowo di Inggris Tegaskan Kepemimpinan Indonesia di Kancah Global

Oleh: Nurma Kusmawanti Putri (*

Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Inggris menandai salah satu momentum diplomasi paling strategis dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks, Indonesia membutuhkan arah kebijakan luar negeri yang tegas, visioner, dan mampu menempatkan negara pada posisi yang menguntungkan di kancah internasional. Langkah Prabowo bertemu dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Raja Charles III, serta partisipasi aktifnya di World Economic Forum (WEF) Davos menunjukkan konsistensi pemerintah dalam mengukuhkan peran Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama di kawasan Indo-Pasifik dan pemain signifikan dalam isu global, terutama ekonomi, lingkungan, dan investasi masa depan.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa rangkaian agenda kerja Presiden Prabowo di London telah dirancang untuk memperluas cakupan kerja sama strategis antara Indonesia dan Inggris. Pertemuan dengan PM Keir Starmer akan difokuskan pada penguatan hubungan ekonomi dan maritim yang mana dua sektor tersebut menjadi tulang punggung pertumbuhan nasional. Inggris merupakan salah satu mitra dagang dan investasi utama di Eropa, dan membuka ruang kolaborasi yang lebih besar dengan London akan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Teddy menjelaskan bahwa pembahasan juga mencakup sejumlah kesepakatan strategis yang diharapkan membuka akses lebih luas bagi produk Indonesia serta memperdalam hubungan dalam bidang keamanan maritim, sebuah isu yang semakin penting di era rivalitas kekuatan global.

Agenda Presiden tidak berhenti di ranah ekonomi dan keamanan. Pertemuan dengan Raja Charles III menjadi platform tersendiri untuk memperkuat diplomasi lingkungan Indonesia. Menurut Teddy, salah satu fokus utama adalah pelestarian alam, konservasi satwa, termasuk gajah, serta upaya global untuk menghadapi dampak perubahan iklim. Isu ini selaras dengan prioritas pemerintah dalam mempercepat transisi energi bersih, mengurangi deforestasi, dan memperkuat ekosistem konservasi nasional. Keterlibatan tokoh filantropi dunia dalam pertemuan tersebut membuka peluang sinergi antara inisiatif pemerintah dan pendanaan internasional yang dapat mempercepat implementasi program konservasi jangka panjang.

Pada saat yang sama, perhatian internasional terhadap praktik pembangunan berkelanjutan membuat diplomasi lingkungan menjadi elemen penting dalam strategi kebijakan luar negeri Indonesia. Dengan menunjukkan komitmen kuat pada isu konservasi dan iklim, Prabowo mengirim pesan bahwa Indonesia siap menjadi pemimpin regional dalam agenda keberlanjutan. Pertemuan dengan Raja Charles III bukan hanya simbol kehormatan diplomatik, tetapi juga kanal strategis untuk meningkatkan peran Indonesia dalam forum-forum global yang membahas masa depan planet.

Setelah menyelesaikan rangkaian agenda di Inggris, Presiden Prabowo akan melanjutkan perjalanan ke Davos, Swiss untuk menghadiri World Economic Forum (WEF). Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Nurul Ichwan, menjelaskan bahwa forum tersebut akan dihadiri oleh 61 kepala negara dan lebih dari 1.000 peserta dari berbagai sektor industri global. Dalam forum bergengsi ini, Indonesia akan menampilkan diri sebagai negara dengan stabilitas politik kuat, pertumbuhan ekonomi yang solid, dan potensi besar dalam investasi jangka panjang. Kehadiran Presiden Prabowo di WEF bukan hanya simbol keterlibatan aktif Indonesia, tetapi juga ajang untuk memperluas jejaring strategis dengan para pengambil keputusan ekonomi dunia.

Nurul menambahkan bahwa salah satu agenda kunci Presiden Prabowo di Davos adalah dialog strategis dengan para-CEO perusahaan internasional terkemuka. Dialog ini diharapkan dapat membuka peluang kerja sama konkret, dari pembangunan infrastruktur hingga pengembangan teknologi baru, termasuk energi terbarukan, digitalisasi industri, dan manufaktur berkelanjutan. Pemerintah menargetkan agar partisipasi Indonesia di WEF dapat mendorong masuknya investasi asing baru sehingga membantu pencapaian target penanaman modal sebesar Rp 2.175 triliun tahun ini. Target tersebut ambisius, namun realistis jika melihat tren pertumbuhan ekonomi Indonesia dan meningkatnya kepercayaan investor global terhadap stabilitas politik serta arah reformasi ekonomi nasional.

Selain aspek ekonomi, partisipasi Indonesia di WEF juga memiliki nilai strategis dalam konteks diplomasi global. Di tengah dunia yang menghadapi berbagai krisis, mulai dari geopolitik, perubahan iklim, hingga ketidakpastian rantai pasok, Indonesia dapat memainkan peran sebagai negara penyeimbang yang mampu menawarkan solusi pragmatis. Dengan kepemimpinan baru di bawah Presiden Prabowo, Indonesia berkesempatan menegaskan dirinya sebagai mitra penting bagi negara-negara besar dan perusahaan multinasional yang mencari stabilitas serta peluang ekspansi di kawasan Asia Tenggara.

Kunjungan Presiden Prabowo ke Inggris dan Davos menggambarkan betapa pemerintah tengah memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang percaya diri dalam diplomasi internasional. Kebijakan luar negeri tidak lagi hanya berfokus pada isu bilateral atau regional, tetapi semakin menempatkan Indonesia sebagai pemain global yang diperhitungkan. Dengan memanfaatkan berbagai platform strategis seperti WEF, serta menjalin hubungan lebih erat dengan Inggris yang merupakan kekuatan global berpengaruh, Indonesia membuka ruang besar bagi pertumbuhan ekonomi, penguatan diplomasi lingkungan, dan perluasan peran geopolitik.

Dalam konteks ini, masyarakat Indonesia perlu memberikan dukungan penuh terhadap agenda Presiden Prabowo. Diplomasi internasional tidak hanya sekadar pertemuan antarpemimpin, tetapi merupakan investasi jangka panjang bagi stabilitas nasional, peningkatan daya saing ekonomi, serta pengakuan global terhadap peran Indonesia. Kunjungan ke Inggris dan kehadiran di Davos adalah bentuk nyata komitmen pemerintah untuk memastikan Indonesia semakin dihormati dan diperhitungkan di panggung dunia.

(* Penulis merupakan Pengamat Hubungan Internasional

Presiden Prabowo Bawa Isu Konservasi dan Investasi dalam Rangkaian Kunjungan ke Inggris

Jakarta – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melakukan kunjungan resmi ke Inggris sebagai bagian dari rangkaian lawatan kenegaraan yang telah dijadwalkan sejak tahun lalu. Kunjungan ini menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk memperkuat diplomasi internasional, khususnya dalam isu konservasi lingkungan dan penguatan kerja sama jangka panjang yang berdampak pada pembangunan nasional.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa salah satu agenda utama Presiden Prabowo di Inggris adalah pertemuan dengan Raja Charles III. Pertemuan tersebut difokuskan pada tindak lanjut komitmen kerja sama konservasi gajah di Provinsi Aceh, sebuah isu lingkungan yang telah lama menjadi perhatian bersama antara Indonesia dan Inggris.

“Pertama, ada rencana Bapak Presiden melakukan pertemuan dengan Raja Charles untuk menindaklanjuti kembali komitmen dari kita berkenaan konservasi gajah di Provinsi Aceh,” kata Prasetyo.

Menurut Prasetyo, pembahasan mengenai konservasi gajah Aceh bukanlah isu baru, melainkan kelanjutan dari komitmen bilateral yang telah terbangun sebelumnya. Pemerintah Indonesia memandang dukungan internasional sebagai faktor penting dalam menjaga kelestarian satwa liar yang terancam punah, sekaligus melindungi ekosistem hutan Aceh yang memiliki nilai ekologis tinggi.

Isu konservasi ini dinilai strategis karena tidak hanya menyangkut keberlanjutan lingkungan, tetapi juga upaya mitigasi konflik antara manusia dan satwa, serta penguatan posisi Indonesia dalam diplomasi hijau di tingkat global. Pemerintah ingin menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi nasional sejalan dengan komitmen perlindungan lingkungan dan keanekaragaman hayati.

Selain agenda konservasi, kunjungan Presiden Prabowo ke Inggris juga membawa pesan penting terkait investasi dan kerja sama jangka panjang. Pertemuan dengan Raja Charles III dipandang sebagai simbol kuat komitmen Indonesia dalam menjaga keanekaragaman hayati, sementara pembahasan kerja sama di bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia mencerminkan investasi strategis untuk masa depan bangsa.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menambahkan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari lawatan Presiden Prabowo ke Inggris dan Swiss untuk menghadiri sejumlah agenda penting di tingkat internasional.

“Pada Minggu siang ini, Presiden Prabowo Subianto berangkat ke Inggris dan Swiss untuk mengikuti beberapa agenda pertemuan,” ujar Teddy.

Ia menegaskan bahwa Presiden juga melakukan audiensi dengan Raja Charles III, dengan pelestarian lingkungan sebagai salah satu topik utama pembahasan.

“Presiden juga bertemu Raja Charles III dengan agenda pembahasan terkait pelestarian alam dan lingkungan, termasuk konservasi gajah, bersama sejumlah tokoh filantropi dunia,” kata Teddy.

Melalui kunjungan ini, pemerintah menegaskan komitmen Indonesia untuk aktif mengambil peran dalam isu global, sekaligus memastikan kepentingan nasional di bidang lingkungan, investasi, dan pembangunan berkelanjutan terus diperjuangkan di panggung internasional.

[edRW]

Lawatan Presiden Prabowo ke Inggris Dorong Diplomasi Ekonomi dan Komitmen Pelestarian Lingkungan

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto melakukan lawatan kerja ke Inggris pada Januari 2026 sebagai bagian dari agenda diplomasi awal tahun yang difokuskan pada penguatan kerja sama ekonomi serta peneguhan komitmen Indonesia terhadap isu pelestarian lingkungan global. Kunjungan ini menandai langkah strategis pemerintah dalam memperluas kemitraan dengan negara-negara kunci Eropa di tengah dinamika ekonomi dan geopolitik internasional.

Minggu 18 Januari 2026, Presiden Prabowo bertolak dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, dan tiba di London untuk menjalani sejumlah agenda bilateral dan kenegaraan. Dalam kunjungan tersebut, Presiden dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer guna membahas peningkatan hubungan ekonomi, perdagangan, investasi, serta kerja sama sektor maritim dan energi berkelanjutan.

Dalam pertemuan bilateral itu, Presiden Prabowo menegaskan bahwa Inggris merupakan mitra strategis Indonesia, khususnya dalam mendorong transformasi ekonomi nasional yang inklusif dan berorientasi pada nilai tambah. “Indonesia membuka ruang kerja sama yang luas dengan Inggris, terutama dalam investasi hijau, pengembangan industri berkelanjutan, dan penguatan perdagangan yang saling menguntungkan,” ujar Presiden Prabowo.

Selain diplomasi ekonomi, kunjungan ke Inggris juga memiliki dimensi lingkungan yang kuat. Presiden Prabowo dijadwalkan melakukan audiensi dengan Raja Charles III, yang dikenal memiliki perhatian besar terhadap isu perubahan iklim dan konservasi alam. Pertemuan ini membahas komitmen Indonesia dalam menjaga kelestarian hutan, keanekaragaman hayati, serta upaya penanggulangan perubahan iklim melalui kebijakan pembangunan berkelanjutan.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa lawatan ini mencerminkan arah kebijakan luar negeri Indonesia yang menempatkan isu ekonomi dan lingkungan sebagai dua pilar utama diplomasi.

“Presiden ingin memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia berjalan seiring dengan tanggung jawab menjaga lingkungan. Inggris adalah mitra penting dalam pengembangan ekonomi hijau dan konservasi,” kata Teddy kepada awak media.

Dari pihak Inggris, Perdana Menteri Keir Starmer menyambut baik komitmen Indonesia dalam mendorong kerja sama ekonomi berkelanjutan. Ia menilai Indonesia memiliki peran strategis di kawasan Indo-Pasifik dan merupakan mitra penting dalam agenda global terkait transisi energi dan perlindungan lingkungan.

Lawatan Presiden Prabowo ke Inggris ini juga menjadi bagian dari rangkaian diplomasi internasional yang dilanjutkan dengan kehadiran Indonesia dalam forum-forum global, termasuk pertemuan ekonomi internasional. Pemerintah berharap kunjungan ini dapat menghasilkan kesepakatan konkret yang memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis sekaligus aktor penting dalam diplomasi ekonomi dan lingkungan di tingkat global.

Paket Ekonomi 2026: Strategi Menjaga Momentum Pertumbuhan

Oleh : Ricky Hardi Novianto

Paket Ekonomi 2026 menjadi instrumen strategis pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan nasional di tengah dinamika global yang masih sarat ketidakpastian. Keberlanjutan kebijakan stimulus yang telah dijalankan sejak 2025 menunjukkan konsistensi negara dalam merawat stabilitas ekonomi sekaligus memastikan pertumbuhan yang lebih berkualitas dan inklusif. Dengan pendekatan terintegrasi yang menyentuh sektor riil, ketenagakerjaan, perlindungan sosial, hingga deregulasi investasi, Paket Ekonomi 2026 dirancang tidak sekadar sebagai respons jangka pendek, tetapi sebagai fondasi penguatan struktur ekonomi nasional.

Pengalaman implementasi Paket Ekonomi 2025 memberikan landasan empiris yang kuat bagi kelanjutan kebijakan pada 2026. Sejumlah program akselerasi terbukti mampu menahan tekanan eksternal sekaligus memperkuat daya beli masyarakat. Program magang nasional, misalnya, telah melampaui target awal dengan menyerap lebih dari seratus ribu lulusan perguruan tinggi. Capaian tersebut mencerminkan keseriusan pemerintah dalam menjembatani dunia pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja, sekaligus menekan potensi pengangguran terdidik di tengah perubahan struktur ekonomi.

Di sisi lain, perlindungan terhadap daya beli pekerja menjadi fokus penting dalam paket kebijakan ini. Kebijakan pajak yang bersifat countercyclical, seperti penanggungan PPh Pasal 21 bagi pekerja sektor pariwisata dan industri padat karya, telah berperan menjaga konsumsi rumah tangga. Juru bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menegaskan bahwa kebijakan fiskal tersebut tidak hanya bersifat sementara, melainkan dirancang adaptif dengan memperluas cakupan penerima manfaat pada 2026. Langkah ini memperlihatkan keberpihakan negara kepada kelompok pekerja yang rentan terhadap fluktuasi ekonomi.

Perlindungan sosial juga diperkuat melalui penyaluran bantuan pangan dan bantuan langsung tunai. Realisasi bantuan beras dan minyak goreng dengan tingkat penyaluran di atas 95 persen menunjukkan efektivitas koordinasi antarlembaga dalam menjaga ketahanan konsumsi masyarakat bawah. Program BLTS Kesra yang menjangkau puluhan juta keluarga penerima manfaat turut menjadi bantalan sosial yang krusial, terutama bagi wilayah yang terdampak bencana alam. Kebijakan ini menegaskan bahwa stabilitas ekonomi nasional tidak dapat dilepaskan dari ketahanan sosial masyarakat.

Dukungan terhadap pekerja sektor informal menjadi dimensi penting lainnya dalam Paket Ekonomi 2026. Insentif jaminan sosial ketenagakerjaan melalui diskon iuran JKK dan JKM bagi pekerja bukan penerima upah di sektor transportasi dan logistik menunjukkan pengakuan negara terhadap peran besar sektor informal dalam menopang perekonomian. Dengan dasar hukum yang kuat, kebijakan ini diharapkan memperluas jaring pengaman sosial sekaligus meningkatkan produktivitas tenaga kerja.

Pada saat yang sama, pemerintah terus mendorong penciptaan lapangan kerja melalui program padat karya tunai. Realisasi anggaran yang tinggi dan serapan puluhan ribu tenaga kerja mencerminkan efektivitas program ini dalam menjaga perputaran ekonomi di tingkat lokal. Program tersebut tidak hanya memberikan pendapatan langsung, tetapi juga menciptakan efek berganda melalui pembangunan infrastruktur dasar dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Aspek deregulasi dan percepatan investasi menjadi pilar penting dalam menjaga momentum pertumbuhan 2026. Pembentukan satuan tugas penyelesaian hambatan investasi melalui kanal pengaduan terpadu menandai perubahan pendekatan pemerintah yang lebih responsif terhadap kebutuhan dunia usaha. Upaya ini sejalan dengan agenda reformasi struktural untuk menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif dan ramah bagi pelaku usaha.

Sejalan dengan itu, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen pada 2026. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memandang target tersebut realistis dengan dukungan delapan program prioritas nasional, mulai dari ketahanan pangan dan energi hingga penguatan pendidikan, kesehatan, dan UMKM. Alokasi anggaran yang signifikan untuk program Makan Bergizi Gratis diproyeksikan menciptakan jutaan lapangan kerja baru sekaligus memperkuat ekonomi lokal melalui efek pengganda yang luas.

Hilirisasi industri dan pengembangan UMKM juga menjadi motor pertumbuhan jangka menengah. Pemerintah menempatkan hilirisasi sebagai strategi untuk meningkatkan nilai tambah domestik dan memperluas basis industri nasional. Airlangga menilai bahwa investasi besar di sektor ini berpotensi menciptakan jutaan lapangan kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung, serta meningkatkan kontribusi terhadap produk domestik bruto. Dukungan pembiayaan melalui peningkatan penyaluran kredit usaha rakyat pada 2026 menjadi katalis penting bagi pertumbuhan UMKM dan koperasi.

Di tengah transformasi ekonomi digital, pengembangan gig economy dan program upskilling serta reskilling tenaga kerja menjadi agenda strategis. Pemerintah mempersiapkan ratusan ribu pekerja terampil untuk memenuhi kebutuhan industri dalam dan luar negeri, termasuk sektor manufaktur, kesehatan, dan perhotelan. Langkah ini mencerminkan orientasi jangka panjang Paket Ekonomi 2026 dalam membangun sumber daya manusia yang adaptif dan berdaya saing global.

Secara keseluruhan, Paket Ekonomi 2026 merepresentasikan upaya komprehensif pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan melalui kombinasi stimulus fiskal, perlindungan sosial, deregulasi, dan penguatan sektor riil. Dengan konsistensi kebijakan dan penguatan koordinasi, paket ini diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas jangka pendek, tetapi juga mengantarkan perekonomian nasional menuju pertumbuhan yang berkelanjutan, inklusif, dan berkeadilan.

*Penulis adalah Pengamat Ekonomi

Kebijakan Ekonomi 2026 Perlihatkan Keseriusan Pemerintah Bangun Ketahanan Nasional

Oleh: Bara Winatha*)

Pemerintah memastikan keberlanjutan Paket Stimulus Ekonomi pada 2026 sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian. Paket ekonomi ini dirancang untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi agar lebih inklusif, berkelanjutan, dan mampu menciptakan lapangan kerja secara luas. Sejumlah program yang telah dijalankan pada 2025 dinilai memberikan dampak positif terhadap konsumsi domestik, penyerapan tenaga kerja, serta perlindungan kelompok rentan, sehingga diputuskan untuk dilanjutkan dengan berbagai penyesuaian pada 2026. Arah kebijakan ini menunjukkan pergeseran fokus pemerintah dari sekadar menjaga konsumsi jangka pendek menuju penguatan ketahanan nasional yang lebih struktural.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa pemerintah optimistis ekonomi nasional pada 2026 tetap berada dalam jalur pertumbuhan yang solid. Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 5,4 persen sebagaimana ditetapkan dalam target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Target tersebut mencerminkan keyakinan pemerintah terhadap fundamental ekonomi domestik yang relatif kuat, meskipun proyeksi sejumlah lembaga internasional menempatkan pertumbuhan Indonesia pada level yang lebih moderat.

Airlangga menjelaskan bahwa strategi mencapai target pertumbuhan tersebut bertumpu pada delapan program prioritas nasional yang menjadi tulang punggung kerja pemerintah pada 2026. Program-program tersebut mencakup penguatan ketahanan nasional dengan fokus pada kemandirian pangan dan kedaulatan energi, pemberdayaan UMKM sebagai motor utama penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pemanfaatan APBN di sektor pendidikan dan perlindungan sosial. Kombinasi kebijakan tersebut dirancang untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara nyata.

Dari sisi implementasi teknis paket stimulus, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan bahwa pemerintah telah merumuskan kebijakan secara terintegrasi sejak 2025. Ia menjelaskan bahwa Paket Ekonomi 2025 dan Penyerapan Tenaga Kerja terdiri dari delapan program akselerasi pada 2025, empat program yang berlanjut ke 2026, serta lima program andalan untuk mendukung penciptaan lapangan kerja. Seluruh kebijakan tersebut dirancang untuk menjaga stabilitas ekonomi, melindungi daya beli masyarakat, dan memperkuat ketahanan sektor ketenagakerjaan nasional secara simultan.

Sepanjang 2025, implementasi paket kebijakan tersebut mencatatkan capaian signifikan. Salah satu contohnya adalah realisasi Program Magang Nasional bagi lulusan perguruan tinggi yang menjangkau lebih dari 102 ribu peserta, melampaui target awal. Capaian ini menunjukkan tingginya minat generasi muda untuk meningkatkan kompetensi sekaligus mencerminkan peran aktif negara dalam menjembatani dunia pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja. Program ini kemudian dipersiapkan untuk dilanjutkan dan disempurnakan pada 2026 agar dampaknya semakin luas.

Dalam aspek perlindungan daya beli, pemerintah telah mengimplementasikan kebijakan Pajak Penghasilan Pasal 21 Ditanggung Pemerintah bagi pekerja di sektor pariwisata dengan gaji hingga Rp10 juta. Kebijakan tersebut ditetapkan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72 Tahun 2025 dan dinilai efektif dalam menjaga konsumsi pekerja formal di sektor terdampak. Selain itu, pemerintah juga menyalurkan bantuan pangan beras dan minyak goreng kepada puluhan juta keluarga penerima manfaat dengan tingkat realisasi yang tinggi, sebagai bentuk intervensi langsung untuk menahan tekanan inflasi dan menjaga stabilitas konsumsi rumah tangga.

Selain itu, pemerintah melanjutkan Program Padat Karya Tunai atau cash for work guna menjaga penyerapan tenaga kerja dan daya beli masyarakat, terutama di wilayah-wilayah dengan keterbatasan lapangan kerja formal. Realisasi anggaran oleh Kementerian PUPR dan Kementerian Kehutanan menunjukkan serapan tenaga kerja yang signifikan. Program ini dinilai dapat berkontribusi pada pembangunan infrastruktur dasar dan pengelolaan lingkungan.

Dari sisi deregulasi dan percepatan investasi, pemerintah memperkuat Paket Deregulasi melalui pembentukan Satuan Tugas Penyelesaian Pengaduan dan Layanan Aduan Terpadu. Langkah ini bertujuan menghilangkan hambatan investasi dan mempercepat realisasi usaha. Haryo mengatakan bahwa hingga akhir 2025, satgas tersebut telah menindaklanjuti puluhan pengaduan, yang menjadi indikasi keseriusan pemerintah dalam memperbaiki iklim usaha. Upaya ini dilihat sebagai bagian dari strategi jangka menengah untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Sementara itu, penguatan ekonomi masa depan juga diarahkan pada sektor digital. Direktur Eksekutif Indonesia Information and Communication Technology Institute, Heru Sutadi mengatakan bahwa target kontribusi ekonomi digital nasional sebesar Rp155,57 triliun pada 2026 sebagaimana tertuang dalam Rencana Strategis Kementerian Komunikasi dan Digital dinilai realistis. Besarnya pasar domestik Indonesia, tingginya adopsi teknologi oleh UMKM, serta pertumbuhan sektor fintech, e-commerce, dan ekonomi berbasis data menjadi modal utama untuk mencapai target tersebut.

Transformasi digital layanan publik berpotensi menciptakan efek berganda bagi perekonomian. Menurutnya, sinergi kebijakan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sektor swasta menjadi kunci utama keberhasilan. Investasi pada infrastruktur digital, termasuk jaringan dan pusat data, dinilai fundamental untuk memastikan pemerataan manfaat ekonomi digital. Selain itu, pengembangan sumber daya manusia menjadi faktor penentu kualitas pertumbuhan ekonomi digital nasional.

Paket Ekonomi 2026 mencerminkan optimisme pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan sekaligus memperkuat ketahanan nasional. Dari konsumsi domestik melalui perlindungan daya beli dan bantuan sosial, hingga penguatan fondasi jangka panjang melalui ketahanan pangan, energi, dan transformasi digital, kebijakan ekonomi 2026 dirancang secara komprehensif. Ekonomi Indonesia diyakini tumbuh lebih kuat dan berdaya saing di tengah tantangan global yang terus berkembang.

*)Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan.

[edRW]

Pemerintah Siapkan Paket Ekonomi 2026 untuk Kesejahteraan dan Pertumbuhan Berkelanjutan

JAKARTA – Pemerintah terus menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga stabilitas dan memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional melalui penyiapan Paket Ekonomi 2026. Kebijakan ini dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menjaga daya beli, serta menciptakan kepastian dan keberlanjutan bagi dunia usaha, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Salah satu instrumen utama yang kembali dilanjutkan dalam Paket Ekonomi 2026 adalah insentif Pajak Penghasilan (PPh) final sebesar 0,5 persen bagi UMKM. Kebijakan ini dinilai strategis karena memberikan ruang yang lebih luas bagi pelaku usaha untuk mengembangkan kapasitas produksi, memperluas pasar, serta membuka lapangan kerja baru.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menegaskan bahwa pemerintah saat ini tengah mematangkan berbagai regulasi dan dukungan anggaran agar program stimulus ekonomi dapat berjalan berkesinambungan pada 2026.

“Pemerintah terus mempersiapkan kelanjutan paket ekonomi, termasuk program magang nasional serta kepastian pemanfaatan insentif PPh final 0,5 persen bagi UMKM hingga 2029,” ujar Haryo.

Pemerintah juga telah menetapkan skema jangka waktu pemanfaatan insentif PPh final UMKM yang jelas dan terukur, sesuai dengan karakteristik wajib pajak. Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2022 sebagai bentuk kepastian hukum dan kemudahan berusaha bagi pelaku UMKM di seluruh Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa keberlanjutan insentif PPh final UMKM mencerminkan keberpihakan pemerintah terhadap sektor usaha rakyat.

“Pajak final UMKM sebesar 0,5 persen kami lanjutkan hingga 2029. Kepastian ini penting agar pelaku usaha dapat merencanakan pengembangan bisnisnya dengan lebih percaya diri,” kata Airlangga.

Menurut Airlangga, fundamental ekonomi Indonesia tetap solid dan resilien. Stabilitas makroekonomi terjaga, inflasi berada dalam rentang sasaran, pasar keuangan menunjukkan kinerja positif, dan sektor riil terus bergerak ekspansif. Kondisi ini memperkuat optimisme bahwa target pertumbuhan ekonomi sekitar 5,4 persen pada 2026 dapat dicapai.

Sejalan dengan itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan bahwa kebijakan fiskal pemerintah tetap dijalankan secara disiplin dan kredibel.

“Pemerintah telah menyalurkan stimulus ekonomi secara terukur untuk menjaga daya beli masyarakat, mendukung UMKM, dan memperkuat sektor-sektor strategis,” ujarnya.

Melalui Paket Ekonomi 2026, pemerintah optimistis mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Dukungan terhadap UMKM, penguatan sumber daya manusia, serta kepastian kebijakan diyakini akan memperkuat fondasi ekonomi nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata.

[edRW]

Paket Ekonomi 2026 Disiapkan untuk Dorong Ekonomi Riil

Jakarta – Pemerintah terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional melalui penyiapan Paket Ekonomi 2026 yang berorientasi pada penguatan sektor riil. Langkah ini menjadi respons strategis atas dinamika global yang masih penuh ketidakpastian, sekaligus upaya memastikan ekonomi domestik tetap tumbuh inklusif dan berkelanjutan. Dengan fondasi kebijakan makro yang terjaga serta kesinambungan reformasi struktural, Paket Ekonomi 2026 diarahkan untuk memperkuat daya beli masyarakat, memperluas investasi, dan meningkatkan produktivitas nasional.

Dalam berbagai kesempatan, pemerintah menegaskan bahwa kebijakan ekonomi tahun 2026 tidak disusun secara parsial, melainkan melanjutkan capaian positif dari paket-paket kebijakan sebelumnya. Fokus utama diarahkan pada kemudahan berusaha, percepatan proyek strategis nasional, penguatan UMKM, serta optimalisasi insentif fiskal dan nonfiskal agar manfaatnya langsung dirasakan pelaku usaha dan masyarakat. Pendekatan ini dinilai krusial untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin dalam angka statistik, tetapi benar-benar menggerakkan ekonomi riil di lapangan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan optimisme pemerintah terhadap prospek ekonomi nasional pada 2026.

“Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,4 persen pada 2026. Untuk mencapai target tersebut, kita akan terus mendorong konsumsi domestik, meningkatkan investasi, mempercepat hilirisasi industri, serta memperluas pasar ekspor,” ujar Airlangga.

Ia menegaskan bahwa pemerintah juga akan menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat melalui koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang erat, serta memastikan program perlindungan sosial tetap berjalan efektif.

Airlangga juga menekankan pentingnya keberlanjutan reformasi struktural sebagai penopang utama pertumbuhan. Menurutnya, penyederhanaan regulasi, percepatan perizinan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci agar Indonesia mampu bersaing di tengah perubahan ekonomi global.

“Upaya reformasi yang sudah berjalan akan terus diperkuat agar iklim usaha semakin kondusif dan investor memiliki kepastian,” tambahnya.

Sementara itu, Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menyoroti capaian implementasi paket ekonomi sebelumnya yang menjadi landasan kuat bagi kebijakan 2026.

“Implementasi Paket Ekonomi 2025 telah mencatat berbagai capaian signifikan, mulai dari peningkatan realisasi investasi, penguatan sektor UMKM, hingga perbaikan iklim usaha. Program-program yang terbukti efektif tersebut akan dilanjutkan dan disempurnakan pada 2026,” kata Haryo.

Ia menjelaskan bahwa keberlanjutan kebijakan menjadi kunci agar dunia usaha memiliki kepastian dan kepercayaan jangka panjang terhadap arah ekonomi pemerintah.

Sejalan dengan itu, berbagai indikator ekonomi terkini menunjukkan tren yang positif. Realisasi investasi nasional terus meningkat, konsumsi rumah tangga tetap terjaga, dan inflasi berada dalam rentang sasaran. Pemerintah juga aktif mendorong percepatan belanja negara di awal tahun serta penguatan sinergi pusat dan daerah guna mempercepat perputaran ekonomi di daerah.

Dengan Paket Ekonomi 2026 yang disiapkan secara komprehensif dan berkesinambungan, pemerintah optimistis perekonomian nasional akan semakin kokoh, adaptif, dan berdaya saing. Kebijakan yang berpihak pada sektor riil ini diharapkan menjadi motor penggerak utama menuju Indonesia yang lebih maju, sejahtera, dan berdaulat secara ekonomi di bawah kepemimpinan pemerintahan saat ini.***

Pembangunan Pabrik Pupuk di Fakfak Dorong Produktivitas Petani Papua dan Ketahanan Pangan

JAKARTA – Rencana pembangunan Kawasan Industri Pupuk (KIP) di Fakfak, Papua Barat, dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di kawasan timur Indonesia. Kehadiran industri pupuk di wilayah yang dekat dengan sentra pertanian dipandang mampu menjawab tantangan struktural yang selama ini membebani sektor pertanian Papua, terutama persoalan tingginya biaya distribusi.

Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan (KEPP) Otonomi Khusus Papua, Gracia Josaphat Jobel Mambrasar (Billy Mambrasar), menilai biaya logistik pupuk selama ini menjadi penghambat utama peningkatan produktivitas petani. Kondisi geografis Papua membuat distribusi pupuk sangat bergantung pada jalur panjang dan mahal.

“Biaya pengiriman pupuk itu hampir lebih sepertiga dari biaya pertanian selain tenaga kerja. Dengan adanya hilirisasi pupuk di Papua, biaya logistik bisa jauh lebih murah,” ujar Billy Mambrasar di Jakarta, Minggu (18/1/2026).

Efisiensi distribusi tersebut diyakini akan membawa dampak langsung terhadap daya saing produk pertanian Papua. Penurunan biaya produksi membuka peluang bagi petani untuk memperoleh margin pendapatan yang lebih sehat, sekaligus memperluas akses pasar.

“Kita bisa menekan biaya hingga sepertiga dari kondisi sekarang. Artinya produk pertanian Papua bisa bersaing,” tegas Billy Mambrasar.

Selain faktor biaya, kedekatan akses pupuk juga berpengaruh besar terhadap produktivitas. Selama ini, keterlambatan pasokan kerap mengganggu jadwal tanam, terutama di wilayah dengan tantangan geografis tinggi.

“Selama ini petani harus menunggu berjam-jam bahkan berhari-hari untuk mendapatkan pupuk. Dengan ketersediaan yang lebih dekat, produktivitas pasti meningkat,” tambah Billy Mambrasar.

Billy menilai peningkatan produktivitas dan efisiensi biaya akan berdampak langsung pada stabilitas harga pangan di Papua. Kondisi tersebut dinilai penting untuk memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus menekan ketergantungan pasokan dari luar wilayah.
“Gas alam yang sebelumnya diekspor bisa dialokasikan sebagian untuk industri pupuk. Ini menciptakan nilai tambah di dalam negeri,” pungkas Billy Mambrasar .

Di tingkat daerah, komitmen percepatan pembangunan juga ditunjukkan oleh Bupati Fakfak, Samaun Dahlan, yang menempatkan proyek pabrik pupuk sebagai prioritas strategis pascakeikutsertaannya dalam Human Capital Summit 2025. Pemerintah daerah menilai kesiapan investasi harus berjalan seiring dengan penguatan sumber daya manusia lokal.

“Kami sudah sepakat dengan PT Pupuk Kaltim dan SKK Migas. Pemda Fakfak menjamin bahwa seluruh persoalan lahan akan kami selesaikan secepatnya sebagai bentuk dukungan penuh terhadap investasi ini,” ujar Samaun Dahlan.

Pertemuan dengan SKK Migas dan pihak industri menegaskan keseriusan daerah dalam mempercepat perizinan dan administrasi pendukung. Sertifikasi lahan menjadi salah satu syarat utama agar pembangunan dapat segera direalisasikan.

“Tidak ada lagi hambatan berarti. Kami hanya menunggu surat permohonan resmi dari pihak Pupuk Indonesia. Setelah itu, proses penerbitan sertifikasi lahan akan langsung kami laksanakan,” tutup Samaun Dahlan.

Dengan dukungan pusat dan kesiapan daerah, pembangunan pabrik pupuk Fakfak diharapkan menjadi fondasi baru bagi ketahanan pangan Papua sekaligus penggerak kesejahteraan petani secara berkelanjutan.

Industri Pupuk Fakfak Perkuat Ketahanan Pangan di Papua

Papua- Pembangunan Kawasan Industri Pupuk (KIP) Fakfak di Papua Barat dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan timur Indonesia. Keberadaan industri pupuk di wilayah tersebut diyakini mampu menjawab tantangan tingginya biaya produksi pertanian yang selama ini membebani petani Papua akibat mahalnya distribusi pupuk dari luar daerah.

Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan (KEPP) Otonomi Khusus Papua, Billy Mambrasar, menyampaikan bahwa rencana pembangunan industri pupuk di Fakfak memiliki dampak positif yang signifikan, tidak hanya bagi sektor pertanian, tetapi juga bagi perekonomian Papua secara keseluruhan. Menurutnya, pembangunan ini menjadi wujud nyata dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional berbasis wilayah timur.

“Pembangunan industri pupuk di Fakfak dapat memperkuat ketahanan pangan, sekaligus mendorong hilirisasi di kawasan timur Indonesia,” ujar Billy Minggu (18/1/2026).

Billy menjelaskan bahwa selama ini biaya logistik pupuk menjadi salah satu komponen terbesar dalam struktur biaya produksi pertanian di Papua. Kondisi geografis yang menantang menyebabkan ongkos pengiriman pupuk dari luar daerah sangat tinggi, bahkan dapat mencapai hampir sepertiga dari total biaya yang harus ditanggung petani.

“Bayangkan ketika terjadi hilirisasi pupuk, maka biaya logistiknya akan lebih murah,” katanya.

Dengan adanya industri pupuk di Fakfak, distribusi pupuk ke sentra-sentra pertanian di Papua diharapkan menjadi lebih efisien. Penurunan biaya logistik tersebut diyakini akan berdampak langsung pada penurunan biaya produksi, sehingga produk pertanian Papua memiliki daya saing yang lebih kuat di pasar regional maupun nasional.

Selain meningkatkan daya saing, akses pupuk yang lebih dekat dan mudah juga diproyeksikan akan mendorong peningkatan produktivitas petani. Ketersediaan pupuk yang stabil menjadi faktor penting dalam menjaga kesinambungan produksi pertanian dan mendukung program ketahanan pangan di Papua.

Berdasarkan rencana pemerintah, pembangunan industri pupuk di Kabupaten Fakfak diproyeksikan masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) dan akan digarap oleh PT Pupuk Indonesia. Proyek ini ditujukan untuk memperkuat ketahanan pangan, mendukung program food estate, serta menekan biaya logistik pupuk di wilayah Papua.

Industri pupuk yang berlokasi di Distrik Tomage tersebut ditargetkan mampu memproduksi sekitar 1,15 juta ton urea dan 825 ribu ton amonia per tahun, dengan nilai investasi mencapai puluhan triliun rupiah. Keberadaan bahan baku gas alam di Papua menjadi salah satu faktor pendukung utama pembangunan industri tersebut.

Billy menambahkan bahwa dampak pembangunan industri pupuk tidak hanya terbatas pada sektor pertanian. Hilirisasi sumber daya alam dinilai akan menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah, mulai dari peningkatan pendapatan masyarakat hingga penciptaan lapangan kerja baru.

“Dampak bergandanya itu luar biasa, dari sisi income, revenue, sampai penyerapan tenaga kerja,” tuturnya.

Dengan berbagai potensi tersebut, pembangunan industri pupuk di Fakfak diharapkan menjadi motor penggerak baru bagi pembangunan ekonomi Papua yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Pabrik Pupuk Fakfak Ciptakan Hilirisasi dan Masa Depan Pertanian Orang Papua

Oleh: Yohanes Wanimbo )*

Pembangunan Pabrik Pupuk di Fakfak, Papua Barat, semakin menegaskan arah kebijakan negara dan daerah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui pendekatan industrialisasi berbasis wilayah. Proyek Kawasan Industri Pupuk (KIP) Fakfak tidak hanya diposisikan sebagai investasi ekonomi semata, tetapi sebagai instrumen strategis untuk menjawab tantangan struktural pertanian Papua yang selama ini dibebani biaya logistik tinggi, keterbatasan akses sarana produksi, serta rendahnya efisiensi rantai pasok. Dalam konteks ini, pembangunan pabrik pupuk menjadi simbol keberpihakan negara terhadap petani Papua dan upaya nyata mewujudkan pembangunan yang lebih adil dan merata.

Selama bertahun-tahun, mahalnya distribusi pupuk menjadi hambatan utama bagi produktivitas pertanian di Papua. Biaya pengiriman pupuk dari luar daerah bahkan mencapai porsi yang sangat besar dalam struktur biaya produksi, sehingga margin keuntungan petani tergerus dan daya saing produk pertanian melemah. Kehadiran pabrik pupuk di Fakfak dipandang sebagai solusi mendasar karena memotong mata rantai distribusi yang panjang dan mahal. Dengan hilirisasi pupuk di Papua, biaya logistik dapat ditekan secara signifikan, membuat biaya produksi lebih efisien dan hasil pertanian lebih kompetitif di pasar.

Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Gracia Josaphat Jobel Mambrasar, melihat proyek ini sebagai momentum penting bagi transformasi sektor pertanian Papua. Menurutnya, efisiensi biaya yang dihasilkan dari kedekatan sumber pupuk akan memberikan ruang yang lebih luas bagi petani untuk meningkatkan skala usaha dan kualitas produksi. Akses pupuk yang lebih cepat dan terjangkau juga diyakini mampu mendorong peningkatan produktivitas, terutama di wilayah-wilayah dengan tantangan geografis tinggi yang selama ini paling merasakan dampak keterbatasan distribusi.

Peningkatan produktivitas dan efisiensi biaya produksi akan membawa dampak lanjutan berupa stabilitas harga pangan dan penguatan ketahanan pangan daerah. Ketika petani mampu berproduksi dengan biaya lebih rendah dan pasokan input terjamin, ketersediaan pangan lokal menjadi lebih stabil. Hal ini tidak hanya mengurangi ketergantungan Papua pada pasokan dari luar daerah, tetapi juga memperkuat fondasi kemandirian pangan sebagai bagian dari ketahanan pangan nasional.

Lebih jauh, pembangunan pabrik pupuk di Fakfak diproyeksikan mendorong penguatan ekosistem industri pertanian secara menyeluruh. Industri hulu seperti benih unggul, pupuk, dan alat mesin pertanian akan terhubung secara lebih efisien dengan industri hilir berupa pengolahan, pengemasan, dan distribusi yang dibangun dekat sentra produksi. Pola ini membuka peluang penciptaan lapangan kerja baru, meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih inklusif.

Dari perspektif pembangunan daerah, proyek ini juga memperkuat agenda hilirisasi sumber daya alam. Pemanfaatan gas alam sebagai bahan baku utama pupuk dinilai mampu menciptakan nilai tambah yang jauh lebih besar dibandingkan ekspor bahan mentah. Dengan mengalokasikan sebagian gas alam untuk industri pupuk domestik, Papua Barat tidak hanya menjadi lokasi produksi, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berbasis industri strategis nasional. Efek berganda dari investasi ini diharapkan menjalar ke berbagai sektor, mulai dari peningkatan pendapatan masyarakat, penerimaan daerah, hingga penguatan basis ekonomi lokal.

Komitmen kuat pemerintah daerah Fakfak semakin menegaskan keseriusan proyek ini. Bupati Fakfak, Samaun Dahlan, menempatkan pembangunan pabrik pupuk sebagai prioritas strategis pascakeikutsertaannya dalam Human Capital Summit 2025. Pemerintah daerah memandang bahwa kesiapan investasi harus berjalan seiring dengan penguatan sumber daya manusia lokal agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal diposisikan sebagai bagian tak terpisahkan dari agenda pembangunan industri pupuk.

Pemerintah Kabupaten Fakfak juga menunjukkan dukungan penuh terhadap percepatan realisasi proyek melalui penyelesaian berbagai aspek krusial, terutama persoalan lahan. Samaun Dahlan menyampaikan bahwa telah terbangun kesepahaman yang kuat dengan PT Pupuk Kaltim dan SKK Migas, di mana pemerintah daerah menjamin seluruh persoalan lahan akan diselesaikan dengan cepat sebagai bentuk dukungan nyata terhadap investasi strategis ini. Keseriusan tersebut tercermin dari langkah-langkah konkret dalam mempercepat perizinan dan administrasi pendukung.

Pertemuan intensif antara pemerintah daerah, SKK Migas, dan pihak industri menegaskan bahwa tidak ada lagi hambatan berarti dalam proses persiapan. Sertifikasi lahan yang menjadi salah satu syarat utama pembangunan dipastikan akan segera diterbitkan setelah adanya permohonan resmi dari pihak Pupuk Indonesia. Pemerintah daerah berkomitmen untuk bergerak cepat agar tahapan konstruksi dapat segera dimulai dan manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh masyarakat Fakfak dan Papua secara luas.

Dengan dukungan kuat pemerintah pusat, kesiapan daerah, serta sinergi dengan pelaku industri, pembangunan Pabrik Pupuk Fakfak diharapkan menjadi fondasi baru bagi ketahanan pangan Papua. Proyek ini bukan hanya menjawab kebutuhan pupuk petani, tetapi juga menjadi penggerak kesejahteraan, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia lokal. Dalam jangka panjang, Fakfak berpotensi tumbuh sebagai simpul industri strategis yang menopang pertanian berkelanjutan dan memperkokoh ketahanan pangan nasional.

)* Akademisi dan Peneliti Pembangunan Papua