PSN RDMP Balikpapan Perluas Lapangan Kerja di Sektor Energi dan Industri Pendukung

Balikpapan – Pemerintah meresmikan Proyek Strategis Nasional (PSN) Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan sebagai bagian dari penguatan industri energi nasional sekaligus perluasan lapangan kerja. Peresmian dilakukan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

RDMP Balikpapan merupakan proyek modernisasi kilang yang dikerjakan sejak 2019 dengan nilai investasi sekitar Rp123 triliun. Proyek ini mencakup pembangunan unit pengolahan baru, revitalisasi fasilitas eksisting, serta penguatan infrastruktur pendukung, termasuk tangki minyak mentah berkapasitas besar dan fasilitas Single Point Mooring (SPM).

Skala proyek tersebut mendorong keterlibatan tenaga kerja dalam jumlah besar, baik pada tahap konstruksi maupun saat memasuki fase operasi.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa penguatan sektor energi memiliki keterkaitan langsung dengan kemandirian nasional dan keberlanjutan pembangunan.

“Energi adalah fondasi utama kedaulatan bangsa. Dengan RDMP Balikpapan, Indonesia semakin berdiri di atas kaki sendiri, mampu memenuhi kebutuhan energi nasional secara mandiri dan berkelanjutan,” ujar Presiden Prabowo.

Selain meningkatkan kapasitas pengolahan minyak dalam negeri, RDMP Balikpapan juga memberikan dampak ekonomi langsung, khususnya melalui penciptaan lapangan kerja dan aktivitas industri pendukung.

Selama masa pembangunan, proyek ini menyerap puluhan ribu tenaga kerja dari berbagai bidang, mulai dari konstruksi, teknik, hingga jasa penunjang. Pada fase operasional, kilang modern ini juga membutuhkan tenaga kerja terampil untuk mendukung proses produksi dan pemeliharaan fasilitas berteknologi tinggi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa beroperasinya RDMP Balikpapan memperluas dampak ekonomi sektor energi, termasuk terhadap kesempatan kerja.

“Ini menandai tonggak pencapaian kemandirian energi nasional. Kita telah mencapai swasembada bahan bakar diesel, dan pemerintah akan terus bekerja memperluas dampaknya, termasuk penciptaan pekerjaan di sektor industri energi dan pendukungnya,” ujar Airlangga.

RDMP Balikpapan juga sejalan dengan agenda hilirisasi industri migas yang bertujuan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Peningkatan kapasitas kilang dan penerapan teknologi modern mendorong tumbuhnya kebutuhan tenaga kerja di sektor industri, logistik, jasa, serta rantai pasok energi nasional.

Dari sisi lingkungan, kilang Balikpapan mampu memproduksi bahan bakar minyak (BBM) berstandar Euro V yang lebih ramah lingkungan.

Proyek ini juga mendukung target pemerintah menuju Net Zero Emission 2060 melalui peningkatan efisiensi energi dan penggunaan teknologi yang lebih bersih.

Pemerintah menilai PSN ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga berkontribusi nyata dalam memperluas lapangan kerja dan menggerakkan perekonomian daerah, khususnya di Kalimantan Timur.

PSN Kilang Balikpapan Serap Puluhan Ribu Tenaga Kerja dan Gerakkan UMKM Lokal

Balikpapan – Pemerintah terus mendorong penciptaan lapangan kerja melalui pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN), salah satunya pembangunan Infrastruktur Energi Terintegrasi di Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur.

Proyek yang dijalankan PT Pertamina (Persero) tersebut tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap penyerapan tenaga kerja dan pergerakan ekonomi masyarakat di sekitar lokasi proyek.

PSN Kilang Balikpapan merupakan proyek terintegrasi dari hulu ke hilir yang mencakup pembangunan Pipa Gas Senipah, tangki penyimpanan Lawe-Lawe, Crude Distillation Unit (CDU), Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex, hingga Terminal Bahan Bakar Minyak (BBM) Tanjung Batu.

Selain berfungsi sebagai penopang distribusi energi nasional, khususnya di kawasan Indonesia Timur, proyek ini menjadi penggerak aktivitas ekonomi daerah.

Pada fase konstruksi, proyek tersebut telah menyerap sekitar 24.000 tenaga kerja, yang sebagian besar berasal dari tenaga kerja dalam negeri. Keberadaan ribuan pekerja ini turut menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat sekitar, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Manfaat tersebut dirasakan langsung oleh Yanti, pemilik warung makan di sekitar Kilang Pertamina Balikpapan. Selama pembangunan berlangsung, warung yang dikelolanya ramai dikunjungi para pekerja proyek, sehingga pendapatan hariannya meningkat dan mampu mencukupi kebutuhan keluarga.

“Alhamdulillah, kami bersyukur. Untuk sehari-hari perputaran ada. Mudah-mudahan pekerja Pertamina, Pertamina Hulu Mahakam, dan yang makan siang tetap bisa datang ke warung sekitar sini walau proses pembangunan telah selesai,” ujar Yanti.

Dampak positif PSN Kilang Balikpapan juga dirasakan Tuti, pemilik Warung Kube Mandiri di Mekar Sari, Kalimantan Timur. Ia mengungkapkan, pada jam makan siang warungnya kerap dipadati pekerja proyek pembangunan kilang Pertamina.

“Makan siang ramai sekali, kadang tempat duduknya juga kurang. Lumayan sekali ada proyek itu dan sangat membantu. Harapannya proyek bisa terus berjalan sehingga yang makan semakin banyak,” kata Tuti.

Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan, proyek PSN di Kilang Balikpapan dirancang untuk memberikan manfaat ekonomi yang luas.

Selain menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar pada fase konstruksi, pada fase operasi kilang tersebut diproyeksikan melibatkan sekitar 2.000 tenaga kerja secara langsung.

“Proyek yang dibangun dan dikembangkan Pertamina tidak hanya berfokus pada penguatan ketahanan energi nasional, tetapi juga memberikan multiplier effect yang nyata bagi masyarakat,” ujar Baron.

Ia menambahkan, keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok proyek, penyediaan jasa pendukung, serta kebutuhan logistik dan konsumsi selama masa konstruksi dan operasi turut memperkuat perekonomian daerah.

Anggota DPRD Riau Sambut Baik Program PSN: Buka Lapangan Pekerjaan Baru

Riau – Anggota DPRD Provinsi Riau menyambut positif pelaksanaan Program Proyek Strategis Nasional (PSN) yang akan direalisasikan di Kota Pekanbaru. Salah satu proyek yang mendapat perhatian adalah pembangunan pabrik pakan ternak yang dinilai memiliki dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat setempat.

Anggota DPRD Riau dari daerah pemilihan Kota Pekanbaru, Ginda Burnama, menilai kehadiran proyek PSN tersebut merupakan langkah strategis dalam mendorong pembangunan ekonomi berkelanjutan di Riau. Menurutnya, pembangunan pabrik pakan ternak tidak hanya berorientasi pada penguatan sektor peternakan, tetapi juga memberikan multiplier effect bagi perekonomian daerah.

“Dengan adanya pabrik pakan ternak ini, nantinya dapat memajukan perekonomian dan membuka lapangan pekerjaan, sehingga Provinsi Riau, khususnya Kota Pekanbaru, dapat berjalan dengan baik dan semakin berkembang,” ujar Ginda Burnama.

Ginda yang juga menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Riau menyampaikan bahwa proyek ini sejalan dengan komitmen pemerintah pusat dalam mempercepat pembangunan daerah melalui PSN. Ia menilai, keterlibatan pemerintah pusat menjadi faktor penting dalam memastikan proyek berjalan optimal dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Lebih lanjut, Ginda berharap pembangunan pabrik pakan ternak tersebut dapat segera direalisasikan dan mulai dikerjakan pada tahun 2026. Ia juga menginginkan agar informasi terkait proyek ini dapat disampaikan secara terbuka kepada masyarakat, sehingga publik mengetahui potensi manfaat ekonomi yang akan diperoleh dari kehadiran proyek strategis tersebut.

“Saya berharap pembangunan ini bisa segera dimulai pada 2026. Kabar baik ini juga perlu disampaikan kepada masyarakat agar dapat menumbuhkan optimisme dan semangat kebangkitan ekonomi, khususnya di Pekanbaru dan Riau secara umum,” katanya.

Sebagai bentuk dukungan konkret, Pemerintah Kota Pekanbaru telah menyiapkan lahan seluas sekitar 45 hektare yang berlokasi di Kawasan Industri Tenayan (KIT), tepatnya di sekitar area PLTU Tenayan Raya. Lahan tersebut diproyeksikan menjadi pusat kawasan peternakan terintegrasi yang akan menunjang operasional proyek PSN tersebut.

Di kawasan itu, tidak hanya akan dibangun pabrik pakan ternak, tetapi juga berbagai fasilitas pengolahan produk turunan. Sejumlah unit produksi direncanakan berdiri, mulai dari pengolahan pakan, produksi daging ayam, telur ayam, hingga industri turunan berbasis daging ayam.

Tingkatkan Lapangan Pekerjaan, Pemerintah Ajak Kampus Dukung 18 PSN Hilirisasi

Jakarta – Pemerintah menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mendukung percepatan hilirisasi industri nasional yang menjadi salah satu motor utama penciptaan lapangan pekerjaan. Presiden Prabowo Subianto meminta kampus di seluruh Indonesia untuk memperkuat riset dan inovasi yang selaras dengan kebutuhan industri, khususnya dalam mendukung 18 Proyek Strategis Nasional (PSN) berbasis hilirisasi. Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing tinggi.

Arahan tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam dialog tertutup bersama sekitar 1.200 rektor dan guru besar dari berbagai perguruan tinggi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Pemerintah memandang kampus sebagai fondasi utama dalam menyiapkan SDM unggul yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, seiring dengan agenda besar industrialisasi dan hilirisasi yang akan dipercepat dalam beberapa tahun ke depan.

Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa riset perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menopang program prioritas pemerintah, mulai dari swasembada pangan dan energi hingga penguatan industri nasional. Menurutnya, percepatan hilirisasi tidak hanya membutuhkan investasi fisik, tetapi juga kesiapan SDM yang mumpuni. “Mempersiapkan industrialisasi dan hilirisasi yang tahun ini akan mulai dilakukan groundbreaking besar-besaran tentunya membutuhkan sumber daya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujar Prasetyo dalam konferensi pers usai pertemuan tersebut.

Sebagai bentuk komitmen nyata, Presiden Prabowo memutuskan penambahan anggaran riset perguruan tinggi sebesar Rp4 triliun. Prasetyo menegaskan, tambahan anggaran ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem riset nasional dan mendorong kolaborasi yang lebih erat antara universitas dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). “Harapannya ini dapat memperkuat riset-riset untuk seluruh universitas, termasuk bekerja sama dengan BRIN,” katanya.

Penguatan riset kampus dinilai penting karena pemerintah menargetkan kemandirian teknologi nasional. Presiden juga meminta civitas akademika untuk terlibat aktif dalam pengembangan inovasi yang aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan industri. Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru melalui inovasi dan kewirausahaan berbasis teknologi.

Selain isu riset, pemerintah turut menyoroti pembiayaan pendidikan tinggi dan perluasan akses beasiswa bagi mahasiswa. Prasetyo mengungkapkan bahwa dari sekitar 9,9 juta mahasiswa aktif di Indonesia, jumlah penerima beasiswa masih relatif terbatas. “Bapak Presiden memberikan arahan kepada kami untuk menghitung ulang dan memformulasikan kembali bagaimana memperbesar sebanyak-banyaknya penerima beasiswa,” ujarnya.

Pemerintah berharap sinergi yang kuat antara kampus, industri, dan negara dapat melahirkan SDM unggul yang menjadi tulang punggung hilirisasi industri. Upaya ini diyakini tidak hanya memperkuat daya saing nasional, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan luas dan berkelanjutan menuju visi Indonesia Emas 2045.

HKI Apresiasi Program Hilirisasi Dorong Investasi dan Lapangan Kerja

Jakarta – Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) menyambut positif arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya peran pendidikan tinggi dalam mendukung investasi strategis dan agenda hilirisasi nasional. Arahan tersebut dinilai mempertegas arah kebijakan pembangunan industri yang semakin terintegrasi antara penguatan sumber daya manusia, riset, dan investasi, guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Ketua Umum HKI, Akhmad Ma’ruf Maulana menilai penekanan Presiden terhadap dukungan perguruan tinggi pada 18 proyek strategis hilirisasi yang dikelola Danantara menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun fondasi industri nasional yang kuat. Menurutnya, keterlibatan dunia pendidikan menjadi kunci untuk memastikan ketersediaan tenaga kerja terampil dan inovasi yang mampu mendukung kebutuhan industri masa depan.

“HKI melihat arahan Presiden sebagai sinyal kuat bahwa pembangunan industri ke depan harus bertumpu pada kesiapan SDM, riset terapan, dan inovasi. Hal ini sangat relevan untuk memastikan investasi strategis benar-benar memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional,” ujar Akhmad Ma’ruf Maulana di Jakarta.

HKI menilai keberadaan Danantara sebagai badan pengelola investasi strategis memiliki peran penting dalam mempercepat pembiayaan dan pelaksanaan proyek-proyek hilirisasi. Dalam konteks tersebut, kawasan industri dipandang sebagai simpul eksekusi yang memastikan proyek berjalan efektif melalui ketersediaan lahan siap bangun, utilitas memadai, kepastian layanan, serta ekosistem industri yang terintegrasi.

Ma’ruf menjelaskan bahwa relasi antara Danantara dan kawasan industri bersifat saling melengkapi. Danantara memperkuat sisi pembiayaan dan portofolio proyek strategis, sementara kawasan industri memastikan kesiapan lokasi dan ekosistem usaha sehingga investasi dapat segera direalisasikan dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat.

“Keberhasilan proyek hilirisasi akan menciptakan siklus pertumbuhan yang saling menguatkan. Ketika investasi tumbuh, ekonomi akan bergerak, dan lapangan kerja tercipta. Pada saat yang sama, ekosistem industri nasional menjadi semakin kuat dan berdaya saing,” katanya.

Dalam rangka mempercepat realisasi investasi, HKI menyatakan kesiapan untuk memperkuat koordinasi dengan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM. Langkah tersebut mencakup dukungan terhadap kesiapan kawasan industri, fasilitasi perizinan, serta pengawalan berbagai hambatan atau debottlenecking yang kerap dihadapi investor di lapangan.

Di sisi lain, HKI juga menegaskan komitmen dalam menjembatani kebutuhan industri dengan dunia pendidikan tinggi. Komitmen tersebut sebelumnya diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM pada Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia 2025.

“HKI siap terlibat aktif menindaklanjuti arahan Presiden. Kawasan industri dapat menjadi laboratorium nyata bagi riset terapan, pengembangan talenta, serta penyerapan lulusan perguruan tinggi yang sesuai dengan kebutuhan industri masa depan,” ujar Ma’ruf.

HKI berharap sinergi antara pemerintah, Danantara, perguruan tinggi, dan pelaku kawasan industri dapat berjalan konsisten dan terukur. Dengan demikian, agenda hilirisasi dan investasi strategis tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi jangka pendek, tetapi juga memperkuat struktur industri nasional serta menciptakan lapangan kerja secara berkelanjutan.

Program KUR UMKM Terbukti Perluas Lapangan Pekerjaan

Jakarta – Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) terus menunjukkan peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru. Sepanjang tahun 2025, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk berhasil menyalurkan KUR senilai Rp40,99 triliun kepada 355.658 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di berbagai daerah. Capaian tersebut dinilai memperkuat kontribusi UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, menegaskan bahwa penyaluran KUR tidak semata berorientasi pada pembiayaan, tetapi juga pada upaya pemberdayaan pelaku usaha. Menurutnya, akses permodalan yang inklusif menjadi kunci bagi UMKM untuk meningkatkan kapasitas usaha dan menyerap tenaga kerja. “Melalui akses modal yang lebih luas, Bank Mandiri ingin membantu pelaku UMKM memperkuat kapasitas produksi, memperluas lapangan pekerjaan, dan meningkatkan daya saing,” ujar Riduan dalam keterangan resminya.

Penyaluran KUR Bank Mandiri sepanjang 2025 selaras dengan fokus pemerintah dalam membangun ekonomi kerakyatan berbasis sektor produktif. Hal tersebut tercermin dari dominasi pembiayaan ke sektor produksi yang mencapai 61,54 persen atau setara Rp25,13 triliun dari total KUR yang disalurkan. Sektor ini dinilai memiliki daya ungkit tinggi terhadap penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sektor pertanian sebagai pilar ketahanan pangan nasional menjadi penerima pembiayaan terbesar dengan nilai Rp12,75 triliun atau 31,23 persen dari total penyaluran KUR. Selain itu, sektor jasa produksi memperoleh pembiayaan sebesar Rp8,76 triliun atau 21,45 persen, sektor industri pengolahan Rp3,03 triliun atau 7,43 persen, serta sektor perikanan sebesar Rp562 miliar atau 1,38 persen. Distribusi pembiayaan ini menunjukkan keberpihakan terhadap sektor-sektor yang memiliki potensi besar dalam menyerap tenaga kerja lokal.

Riduan menambahkan bahwa Bank Mandiri berkomitmen menjaga kualitas penyaluran KUR melalui pendekatan pembiayaan berbasis ekosistem. Pendekatan ini terintegrasi dengan nasabah wholesale, khususnya pada sektor-sektor produksi unggulan di berbagai wilayah. “Melalui skema pembiayaan yang berkelanjutan ini, Bank Mandiri berperan aktif dalam mendorong pergerakan perekonomian nasional, terutama di sektor produksi,” katanya.

Ke depan, Bank Mandiri menyatakan kesiapan untuk mendukung upaya pemerintah dalam mengakselerasi penyaluran KUR pada 2026. Dukungan tersebut diwujudkan melalui penguatan strategi pembiayaan berbasis ekosistem dan sinergi Mandiri Group yang terintegrasi. Riduan meyakini, UMKM yang semakin tangguh akan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas serta menjadi fondasi bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan nasional.

Tingkatkan Lapangan Pekerjaan, AGTI Apresiasi Pemerintah Perkuat Hilirisasi Industri Tekstil dan Garmen Nasional

Jakarta – Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI) mengapresiasi komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat hilirisasi industri tekstil dan garmen nasional sebagai langkah strategis untuk meningkatkan penciptaan lapangan pekerjaan. Sektor tekstil dan garmen dinilai memiliki peran vital sebagai industri padat karya yang selama ini menjadi penopang utama perekonomian nasional sekaligus menjaga stabilitas sosial di berbagai daerah.

Ketua Umum AGTI, Anne Patricia Sutanto, menilai perhatian langsung Presiden terhadap industri tekstil dan garmen merupakan sinyal politik dan ekonomi yang sangat kuat bagi keberlanjutan sektor tersebut. Menurutnya, penguatan hilirisasi tidak hanya berdampak pada peningkatan nilai tambah produk dalam negeri, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap perluasan kesempatan kerja formal. “Industri tekstil dan garmen memiliki peran strategis dalam penciptaan lapangan kerja dan menjaga stabilitas sosial-ekonomi nasional,” ujar Anne.

AGTI menekankan bahwa penempatan industri tekstil dan garmen sebagai sektor strategis perlu segera ditindaklanjuti dengan kebijakan konkret di tingkat kementerian, lembaga, hingga pemerintah daerah. Anne menilai komitmen nasional harus diterjemahkan dalam regulasi yang berpihak, instrumen fiskal yang tepat sasaran, serta mekanisme pelaksanaan yang efektif di lapangan agar industri mampu tumbuh berkelanjutan dan menyerap tenaga kerja secara optimal.

Terkait arahan Presiden mengenai revitalisasi rantai pasok, AGTI memandang penguatan supply chain tekstil harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Struktur rantai pasok yang panjang membutuhkan kebijakan terintegrasi agar industri nasional mampu meningkatkan daya saing dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Anne menilai penguatan industri hulu dalam negeri menjadi langkah penting, meski dalam jangka pendek impor bahan baku masih dibutuhkan untuk menjaga kelancaran produksi. “Impor bahan baku bagi produsen yang patuh aturan perlu berjalan cepat dan efisien agar daya saing industri tetap terjaga,” katanya.

Selain itu, AGTI menilai hilirisasi industri tekstil dan garmen menjadi kunci peningkatan nilai tambah sekaligus memperkuat peran sektor ini sebagai penyerap tenaga kerja. Dengan hilirisasi yang konsisten, industri tekstil nasional diharapkan mampu naik kelas, tidak hanya sebagai produsen bahan mentah, tetapi juga menghasilkan produk bernilai tinggi yang mampu bersaing di pasar global.

Anne juga menyoroti pentingnya adaptasi teknologi dan pengembangan industri permesinan dalam negeri. Menurutnya, ketergantungan terhadap mesin impor masih tinggi sehingga penguatan industri pendukung, termasuk penguasaan teknologi dan semikonduktor, perlu menjadi bagian dari agenda industrialisasi nasional. Langkah tersebut diyakini mampu mendorong penerapan Industri 4.0 sekaligus meningkatkan produktivitas dan kualitas tenaga kerja.

Ke depan, AGTI berharap arahan Presiden Prabowo dapat segera diwujudkan dalam kebijakan teknis yang konkret, termasuk deregulasi perizinan, penyediaan energi yang kompetitif, serta dukungan fiskal dan pembiayaan yang tepat sasaran. Dengan kebijakan yang terintegrasi dan konsisten, AGTI optimistis industri tekstil dan garmen nasional mampu memperkuat daya saing, memperluas lapangan pekerjaan, dan kembali menjadi tulang punggung manufaktur padat karya Indonesia.

Hilirisasi Sawit dan Bauksit Tingkatkan Penyerapan Tenaga Kerja Indonesia

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat kebijakan hilirisasi sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus penciptaan lapangan kerja. Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi di bidang hilirisasi sepanjang 2025 mencapai Rp584,1 triliun atau tumbuh 43,3 persen secara tahunan. Angka tersebut setara dengan 30,2 persen dari total realisasi investasi nasional tahun 2025 yang mencapai Rp1.931,2 triliun dan melampaui target yang ditetapkan pemerintah.

Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyampaikan bahwa capaian investasi hilirisasi menunjukkan kepercayaan investor terhadap kebijakan pemerintah yang konsisten mendorong peningkatan nilai tambah di dalam negeri. Menurutnya, hilirisasi tidak hanya berdampak pada peningkatan penerimaan negara, tetapi juga berkontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja Indonesia. “Hilirisasi memberikan dampak ekonomi yang tinggi, menciptakan lapangan pekerjaan, hingga mendorong perekonomian nasional secara berkelanjutan,” ujar Rosan.

Berdasarkan data BKPM, sektor mineral dan batu bara menjadi kontributor terbesar investasi hilirisasi dengan nilai Rp373,1 triliun. Kontribusi tersebut berasal dari komoditas nikel sebesar Rp185,2 triliun, tembaga Rp65,8 triliun, bauksit Rp53,1 triliun, besi dan baja Rp39,2 triliun, timah Rp11,3 triliun, serta komoditas lainnya Rp18,5 triliun. Selain itu, sektor perkebunan dan kehutanan mencatatkan investasi hilirisasi sebesar Rp144,5 triliun, dengan kelapa sawit dan kayu log menjadi penyumbang utama.

Rosan menegaskan bahwa memasuki 2026 pemerintah akan menggeber hilirisasi kelapa sawit dan bauksit karena dinilai memiliki efek berganda yang besar bagi perekonomian dan tenaga kerja. Ia menjelaskan bahwa hilirisasi bauksit hingga menjadi aluminium memerlukan investasi yang signifikan dan berpotensi menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. “Hilirisasi kelapa sawit akan terus kita dorong, dan di bauksit juga akan meningkat. Tahun ini bauksit akan masuk ke tahap aluminium, dan investasi aluminium cukup besar,” kata Rosan.

Selain sektor mineral dan perkebunan, hilirisasi juga dilakukan di sektor minyak dan gas bumi serta perikanan dan kelautan. Di sektor migas, realisasi hilirisasi mencakup pengolahan minyak dan gas bumi, sementara sektor perikanan meliputi komoditas garam, tuna, cakalang, tongkol, udang, rumput laut, rajungan, hingga tilapia. Diversifikasi sektor ini dinilai mampu memperluas basis industri nasional dan membuka peluang kerja di berbagai daerah.

Secara keseluruhan, realisasi investasi nasional tahun 2025 meningkat 12,7 persen secara tahunan dan berhasil menyerap 2,71 juta tenaga kerja atau tumbuh 10,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Rosan menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan bukti konkret bahwa investasi dan hilirisasi berjalan seiring dalam menciptakan lapangan kerja. “Ini adalah penciptaan lapangan pekerjaan yang tercipta dari total investasi Rp1.931,2 triliun pada tahun 2025,” pungkasnya.

Dari Hilirisasi hingga UMKM: Strategi Pemerintah Memperluas Kesempatan Kerja

Oleh: Rizky Adiwicaksono *)

Upaya pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja nasional semakin menunjukkan arah yang konsisten melalui penguatan hilirisasi industri, pemberdayaan UMKM, serta percepatan Proyek Strategis Nasional (PSN). Ketiga agenda tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling menopang dalam membentuk struktur ekonomi yang lebih produktif, berdaya saing, dan mampu menyerap tenaga kerja secara berkelanjutan. Di tengah tantangan global yang masih berfluktuasi, strategi ini mencerminkan keberanian pemerintah untuk menggeser orientasi pembangunan dari sekadar pertumbuhan menuju penciptaan nilai tambah dan kesempatan kerja yang nyata bagi masyarakat.

Peresmian PSN Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan oleh Presiden Prabowo Subianto menjadi gambaran konkret bagaimana pembangunan industri strategis diarahkan langsung pada penguatan ketenagakerjaan nasional. Proyek modernisasi kilang yang telah berjalan sejak 2019 dengan investasi sekitar Rp123 triliun ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga menghadirkan efek berlapis terhadap penyerapan tenaga kerja, baik pada tahap konstruksi maupun operasional. Dalam berbagai kesempatan, Presiden Prabowo menegaskan bahwa penguatan sektor energi merupakan fondasi kemandirian bangsa, sekaligus prasyarat penting bagi keberlanjutan pembangunan dan stabilitas ekonomi nasional.

RDMP Balikpapan memperlihatkan bahwa PSN tidak lagi semata diukur dari kapasitas produksi atau besaran investasi, melainkan dari kemampuannya menggerakkan ekonomi lokal dan membuka ruang kerja yang luas. Puluhan ribu tenaga kerja terlibat selama masa pembangunan, mencakup sektor konstruksi, rekayasa, logistik, hingga jasa pendukung. Ketika memasuki fase operasi, kilang modern berteknologi tinggi ini juga membutuhkan tenaga kerja terampil yang berkelanjutan, sehingga mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah. Penilaian Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memperkuat pandangan tersebut, bahwa beroperasinya RDMP Balikpapan menjadi tonggak penting kemandirian energi sekaligus perluasan dampak ekonomi, termasuk penciptaan pekerjaan di sektor industri energi dan turunannya.

Agenda hilirisasi yang menjadi kerangka besar pembangunan industri nasional semakin mempertegas arah penciptaan lapangan kerja berbasis nilai tambah. Data Kementerian Investasi/BKPM menunjukkan bahwa sepanjang 2025, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun atau lebih dari 30 persen total investasi nasional, dengan pertumbuhan tahunan yang signifikan. Angka ini merefleksikan meningkatnya kepercayaan investor terhadap kebijakan pemerintah yang konsisten mendorong pengolahan di dalam negeri, sekaligus menunjukkan potensi besar penciptaan lapangan kerja dari sektor-sektor strategis.

Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menekankan bahwa sektor mineral dan batu bara masih menjadi tulang punggung investasi hilirisasi, khususnya pada komoditas seperti nikel, tembaga, bauksit, dan besi baja. Namun demikian, arah kebijakan pemerintah tidak berhenti pada sektor ekstraktif. Hilirisasi di bidang perkebunan, kehutanan, migas, hingga perikanan dan kelautan juga terus diperkuat, menciptakan spektrum lapangan kerja yang lebih luas dan inklusif. Pendekatan ini penting untuk memastikan bahwa penciptaan kerja tidak terpusat pada satu sektor, melainkan menyebar ke berbagai wilayah dan lapisan ekonomi.

Capaian realisasi investasi nasional sebesar Rp1.931,2 triliun sepanjang 2025 yang melampaui target turut berbanding lurus dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja hingga lebih dari 2,7 juta orang. Fakta ini memperkuat argumen bahwa kebijakan hilirisasi bukan hanya strategi industri, tetapi juga instrumen efektif untuk menjaga dinamika pasar kerja nasional. Dominasi Penanaman Modal Dalam Negeri dalam struktur investasi juga menandakan semakin kuatnya peran pelaku usaha nasional dalam mendukung agenda penciptaan lapangan kerja.

Di sisi lain, pemerintah menyadari bahwa penciptaan kerja tidak hanya bergantung pada proyek besar dan investasi skala industri, tetapi juga pada keberlangsungan UMKM sebagai penyerap tenaga kerja terbesar. Keberlanjutan Paket Ekonomi pada 2026 menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan perlindungan tenaga kerja. Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menyampaikan bahwa berbagai insentif fiskal dan program penguatan UMKM terus dimatangkan untuk memastikan daya tahan sektor usaha kecil di tengah dinamika ekonomi.

Perpanjangan insentif PPh Final UMKM, PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah bagi sektor padat karya, serta keberlanjutan Program Magang Nasional menunjukkan pendekatan komprehensif pemerintah dalam mengelola pasar tenaga kerja. Kebijakan ini tidak hanya menjaga lapangan kerja yang telah ada, tetapi juga menyiapkan tenaga kerja baru agar lebih siap memasuki dunia kerja. Realisasi Program Magang Nasional yang melampaui target awal menjadi indikator positif bahwa kebijakan ketenagakerjaan pemerintah mulai menyentuh aspek kesiapan dan kualitas sumber daya manusia.

Program padat karya tunai dan perluasan perlindungan jaminan sosial bagi pekerja informal turut melengkapi strategi penciptaan kerja yang inklusif. Dengan menyasar sektor-sektor yang rentan, pemerintah memperlihatkan bahwa agenda penciptaan lapangan kerja tidak bersifat eksklusif, melainkan menjangkau berbagai kelompok masyarakat. Ke depan, pengembangan ekonomi perkotaan dan gig economy berbasis digital di sejumlah kota juga membuka peluang baru bagi UMKM dan pekerja informal untuk beradaptasi dengan perubahan struktur ekonomi.

Secara keseluruhan, sinergi antara PSN, hilirisasi industri, dan penguatan UMKM menegaskan arah kebijakan pemerintah yang berpihak pada penciptaan lapangan kerja berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanya menjawab kebutuhan jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi ekonomi nasional yang lebih mandiri, inklusif, dan berdaya saing. Dengan konsistensi kebijakan dan penguatan implementasi di lapangan, agenda pemerintah dalam memperluas kesempatan kerja memiliki pijakan yang kuat untuk terus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan perekonomian nasional.

*) Analis Ekonomi dan Industri Strategis

Hilirisasi, UMKM, dan PSN Jadi Lokomotif Penciptaan Kerja

Oleh: Rizky Adi Pratama *)

Penciptaan lapangan kerja tetap menjadi isu sentral dalam agenda pembangunan nasional, terutama di tengah tantangan global yang menuntut daya saing ekonomi semakin kuat dan berkelanjutan. Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan arah kebijakan yang konsisten dengan menempatkan hilirisasiindustri, penguatan UMKM, dan percepatan Proyek Strategis Nasional (PSN) sebagai tiga pilar utama perluasan kesempatan kerja. Ketiganya tidak berdiri sendiri, melainkan saling menguatkan dalam membangun fondasi ekonomi yang produktif dan inklusif.

Arah tersebut tercermin dari penekanan Presiden terhadap pentingnya peran pendidikan tinggi dalam mendukung investasi strategis dan hilirisasi nasional. Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) menilai kebijakan ini sebagai langkah krusial untuk memastikan proyek-proyek hilirisasi tidak hanya menghasilkan nilai tambah ekonomi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja secara luas dan berkelanjutan. Ketua Umum HKI Akhmad Ma’ruf Maulana memandang dukungan perguruan tinggi terhadap 18 proyek strategis hilirisasi yang dikelola Danantara sebagai sinyal bahwa pembangunan industri ke depan dirancang semakin terstruktur dan berbasis kesiapan sumber daya manusia.

Menurut pandangan HKI, proyek-proyek hilirisasi tersebut memiliki potensi besar dalam menyerap tenaga kerja, baik pada tahap konstruksi maupun saat industri mulai beroperasi. Lebih dari itu, hilirisasi mendorong terciptanya ekosistem industri yang lebih dalam, mulai dari kegiatan riset terapan, inovasi teknologi, hingga pengembangan talenta lokal. Dengan pendekatan ini, investasi tidak berhenti pada pembangunan fisik semata, melainkan berlanjut pada penguatan kapasitas nasional yang mampu menopang pertumbuhan jangka panjang.

Keberadaan Danantara sebagai badan pengelola investasi strategis dinilai mempercepat realisasi proyek hilirisasi melalui dukungan pembiayaan yang lebih terarah. Dalam kerangka penciptaan lapangan kerja, kawasan industri memainkan peran sebagai simpul utama yang memastikan proyek dapat segera berjalan melalui kesiapan lahan, utilitas, dan kepastian layanan. Akhmad Ma’ruf Maulana menekankan bahwa hubungan antara Danantara dan kawasan industri bersifat saling melengkapi, di mana pembiayaan dan portofolio proyek strategis bertemu dengan kesiapan lokasi dan ekosistem usaha yang terintegrasi. Sinergi inilah yang mempercepat investasi masuk dan membuka peluang kerja dalam skala besar.

Di saat yang sama, pemerintah tidak mengabaikan peran UMKM sebagai tulang punggung penciptaan lapangan kerja nasional. Penguatan UMKM, khususnya yang dipimpin perempuan, dipandang sebagai strategi untuk memastikan pertumbuhan ekonomi berjalan inklusif. Kerja sama internasional dengan Pemerintah Kanada menjadi contoh konkret bagaimana agenda nasional diperkuat melalui kolaborasi global. Dukungan pendanaan lebih dari 22 juta dolar Kanada untuk lima inisiatif penguatan UMKM di Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kapasitas usaha, daya saing, serta kemampuan menyerap tenaga kerja.

Pemerintah Indonesia memandang kerja sama ini sebagai bagian dari penguatan ekosistem UMKM secara menyeluruh, mulai dari akses pembiayaan, peningkatan keterampilan, hingga pemanfaatan teknologi yang berorientasi pada keberlanjutan. Menteri Muda Pembangunan Internasional Kanada Randeep Sarai dalam kunjungannya ke Jakarta menyampaikan bahwa dukungan tersebut ditujukan untuk memperkuat kemitraan ekonomi kedua negara. Bagi Indonesia, kolaborasi ini sejalan dengan agenda nasional dalam mendorong UMKM naik kelas, memperluas pasar ekspor, dan pada akhirnya menciptakan lapangan kerja baru, terutama di sektor makanan olahan.

Program seperti Climate Resilient Agri-Food Trade Promotion Support (CRAFTS) dan Economic Linkages for Enhanced Value, Trade and Exports (ELEVaTE) memperlihatkan bagaimana penguatan kapasitas UMKM berkontribusi langsung pada penyerapan tenaga kerja. Ketika UMKM semakin produktif dan terhubung dengan pasar global, peningkatan produksi menjadi keniscayaan, dan kebutuhan tenaga kerja pun bertambah. Pendekatan ini menegaskan bahwa penciptaan lapangan kerja tidak selalu harus bertumpu pada industri besar, tetapi juga dapat tumbuh dari usaha-usaha kecil yang diperkuat secara sistematis.

Selain melalui hilirisasi dan UMKM, pemerintah juga menunjukkan komitmen kuat dalam menciptakan lapangan kerja melalui percepatan PSN. Pembangunan Infrastruktur Energi Terintegrasi di Kilang Balikpapan menjadi contoh nyata bagaimana proyek nasional memberikan dampak langsung bagi penyerapan tenaga kerja dan perekonomian daerah. Proyek yang dijalankan PT Pertamina (Persero) tersebut pada fase konstruksi telah menyerap puluhan ribu tenaga kerja, mayoritas dari dalam negeri, sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.

Manfaat PSN tidak berhenti pada angka penyerapan tenaga kerja. Kehadiran ribuan pekerja mendorong tumbuhnya usaha lokal, khususnya UMKM di sekitar proyek. Cerita pelaku usaha kecil di Balikpapan menunjukkan bahwa proyek nasional mampu menciptakan efek berganda yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Vice PresidentCorporate Communication Pertamina Muhammad Baron menegaskan bahwa PSN Kilang Balikpapan dirancang untuk memberikan manfaat ekonomi yang luas, tidak hanya pada masa konstruksi, tetapi juga pada fase operasi yang diproyeksikan melibatkan ribuan tenaga kerja secara langsung.

Kebijakan pemerintah dalam mendorong hilirisasi, memperkuat UMKM, dan mempercepat PSN menunjukkan pendekatan pembangunan yang komprehensif dalam menciptakan lapangan kerja. Sinergi antara investasi strategis, kesiapan SDM, dan penguatan ekonomi lokal membentuk siklus pertumbuhan yang berkelanjutan. Dengan arah kebijakan yang konsisten dan kolaborasi lintas sektor, agenda penciptaan lapangan kerja tidak hanya menjadi target jangka pendek, tetapi fondasi kokoh bagi ketahanan ekonomi nasional di masa depan.

*) Pengamat Kebijakan Publik