Komitmen Negara Majukan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Dominikus Tebay *

Otonomi Khusus Papua merupakan kebijakan strategis negara yang menegaskan kehadiran dan keberpihakan pemerintah pusat dalam membangun Tanah Papua secara berkelanjutan, adil, dan bermartabat. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Otsus tidak diposisikan semata sebagai skema transfer fiskal, melainkan sebagai instrumen utama untuk mempercepat pemerataan pembangunan, memperkuat sumber daya manusia, serta memastikan Orang Asli Papua memperoleh manfaat nyata dari kemajuan nasional. Komitmen pemerintah untuk menjaga bahkan meningkatkan alokasi Dana Otsus pada 2026 memperlihatkan keseriusan negara dalam menjawab tantangan pembangunan Papua secara menyeluruh.

Kebijakan ini mencerminkan pemahaman mendalam bahwa Papua memiliki karakteristik geografis, sosial, dan demografis yang unik. Wilayah yang luas, sebaran penduduk yang terpencar, serta kebutuhan infrastruktur dasar yang tinggi menuntut dukungan anggaran yang konsisten dan berkelanjutan. Otsus menjadi fondasi penting agar pembangunan tidak berhenti pada simbol, tetapi benar-benar menjangkau masyarakat hingga ke kampung-kampung. Dalam konteks inilah, komitmen Presiden Prabowo dipandang sebagai langkah strategis yang memperkuat rasa keadilan dan kesetaraan antarwilayah di Indonesia.

Pemerintah pusat menempatkan Otsus sebagai bagian integral dari visi besar pembangunan nasional. Melalui penguatan kelembagaan percepatan pembangunan Papua, negara memastikan bahwa setiap kebijakan berjalan terkoordinasi, terarah, dan berorientasi hasil. Kepemimpinan langsung Presiden dan Wakil Presiden dalam mengawal agenda Papua menunjukkan bahwa pembangunan wilayah timur bukan sekadar delegasi administratif, melainkan prioritas nasional yang mendapat perhatian penuh dari pucuk pimpinan negara. Pendekatan ini memperkuat kepercayaan daerah bahwa aspirasi dan kebutuhan Papua didengar dan ditindaklanjuti secara serius.

Narasi positif Otsus juga tercermin dari respons para pemimpin daerah dan tokoh Papua yang melihat kebijakan ini sebagai peluang emas untuk mempercepat kemajuan. Gubernur Papua Mathius Fakhiri menegaskan bahwa tambahan dukungan Otsus menjadi pemacu semangat bagi pemerintah daerah untuk bekerja lebih optimal, menghadirkan negara secara nyata, serta memperkuat Papua sebagai etalase persatuan Indonesia. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Otsus bukan hanya tentang pembangunan fisik, tetapi juga tentang penguatan rasa kebangsaan dan integrasi nasional.

Dari kalangan pemikir dan pegiat pembangunan Papua, Theofransus Litaay menilai arah kebijakan Presiden Prabowo sangat tepat karena didasarkan pada realitas lapangan. Ia memandang bahwa Papua membutuhkan dukungan anggaran yang besar dan konsisten agar pusat-pusat pertumbuhan baru dapat berkembang dan kemiskinan struktural dapat ditekan. Dengan Otsus yang kuat, pembangunan tidak lagi terpusat, melainkan menyebar dan memberi dampak langsung bagi masyarakat luas. Pandangan ini memperkuat keyakinan bahwa Otsus adalah jawaban strategis atas tantangan jangka panjang Papua.

Sementara itu, generasi muda Papua juga melihat Otsus sebagai instrumen harapan. Billy Mambrasar menekankan bahwa keberlanjutan Dana Otsus sangat penting untuk memastikan investasi jangka panjang di sektor pendidikan, kesehatan, dan pengembangan sumber daya manusia. Ia memandang bahwa pembangunan Papua harus dimulai dari penguatan kualitas manusia, sehingga generasi muda Papua mampu bersaing, berkontribusi, dan menjadi aktor utama pembangunan di tanahnya sendiri. Perspektif ini menempatkan Otsus sebagai modal sosial dan intelektual, bukan sekadar anggaran rutin.

Pemerintah juga menegaskan bahwa Otsus harus dikelola secara bertanggung jawab, transparan, dan tepat sasaran. Prinsip akuntabilitas ini justru memperkuat legitimasi Otsus di mata publik. Dengan tata kelola yang baik, Dana Otsus dapat menjadi motor penggerak kesejahteraan, memperluas akses layanan dasar, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat Papua secara signifikan. Penekanan pada tanggung jawab bersama menunjukkan bahwa keberhasilan Otsus adalah hasil kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan seluruh elemen masyarakat.

Lebih dari itu, Otsus Papua kini menjadi simbol pendekatan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan. Negara hadir tidak dengan pendekatan seragam, melainkan dengan kebijakan afirmatif yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal. Langkah ini sejalan dengan semangat konstitusi untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, termasuk mereka yang berada di wilayah paling timur. Otsus menjadi bukti bahwa pembangunan Indonesia tidak meninggalkan siapa pun.

Dengan komitmen politik yang kuat, dukungan anggaran yang berkelanjutan, serta partisipasi aktif para pemangku kepentingan, Otonomi Khusus Papua memiliki potensi besar untuk menjadi kisah sukses pembangunan nasional. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Otsus diarahkan sebagai jalan percepatan menuju Papua yang maju, sejahtera, dan setara. Tantangan yang ada justru menjadi peluang untuk membuktikan bahwa dengan kebijakan yang tepat dan niat yang tulus, Papua dapat tumbuh sebagai pilar penting kekuatan Indonesia di masa depan.

*Penulis merupakan Analis Politik dan Kebijakan Papua

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *)

Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruang strategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. Sejak Otonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatan pembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam konteks tersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagai instrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan oleh sejarah dan kondisi geografis.

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatan terhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusat dan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkah tersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkan sebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintah pusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desain pembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah.

Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatan pembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistik telah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utama pembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapi menciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien dan menurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastruktur menjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat.

Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsus memberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengan karakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi pada kelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik.

Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa dan mahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depan Papua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secara global. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utama kemandirian Papua di masa depan.

Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagi terhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusi tenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatan pembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategi penting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal.

Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politik masyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagi Orang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hak kolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsus memberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskan bahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasis keadilan.

Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsung oleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadi perhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankan pentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsus benar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentang fragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukan koreksi.

Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasi anggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasan yang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalah konsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik.

Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berarti mendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan dan memperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, dan berkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidak meninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan.

*) Analis Kebijakan Publik

Otonomi Khusus Papua Diperkuat Melalui Akselerasi Layanan Pendidikan, Kesehatan, dan Lingkungan

BIAK NUMFOR – Implementasi Otonomi Khusus (Otsus) Papua terus menunjukkan arah penguatan yang lebih terukur, terutama dalam mendorong peningkatan kualitas layanan dasar dan tata kelola pembangunan daerah. Upaya tersebut terlihat dari kunjungan Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Billy Mambrasar, ke Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua, pada 7 Januari 2026 dengan rangkaian agenda strategis lintas sektor.

Kunjungan ini mencakup pertemuan dengan Bupati Biak Numfor Markus Octovianus Mansnembra, audiensi bersama pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program Makanan Bergizi Gratis (MBG), pertemuan dengan BPJS Kesehatan, serta peninjauan langsung Sekolah Rakyat, RSUD Biak, dan Bank Sampah. Rangkaian agenda tersebut menegaskan bahwa Otsus tidak hanya berbicara soal anggaran, tetapi juga efektivitas dampak bagi masyarakat.

“Tujuan kunjungan ke Biak ini sebenarnya ada empat akselerasi sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, terutama pada pembangunan sumber daya manusia melalui sektor pendidikan. Pertemuan dengan bupati, kepala dinas, serta kunjungan ke Sekolah Rakyat dan audiensi dengan Kepala SPPG dilakukan untuk mendengar langsung kendala di lapangan,” ujar Billy Mambrasar.

Fokus pada pendidikan diposisikan sebagai fondasi utama keberlanjutan Otsus. Program Sekolah Rakyat dan MBG dipandang sebagai instrumen strategis untuk memastikan generasi muda Papua memperoleh akses gizi dan pendidikan yang memadai, sekaligus memperkuat ketahanan sosial jangka panjang.

Di sektor kesehatan, peran RSUD Biak dinilai semakin strategis sebagai rumah sakit rujukan bagi wilayah utara Papua.

“RSUD Biak selama ini menjadi rujukan bagi beberapa kabupaten. Dalam pembahasan terakhir dengan Presiden, percepatan provinsi baru menuntut adanya rumah sakit rujukan dengan kapasitas dan kualitas setara rumah sakit provinsi. Diskusi awal dengan Direktur RSUD Biak dilakukan untuk menaikkan status tersebut,” ucap Billy Mambrasar.

Selain layanan dasar, dimensi lingkungan hidup juga mendapat perhatian. Kunjungan ke Bank Sampah Amanah Recycle Biak (ARB) menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan komunitas.

“ARB telah menjadi penggerak lingkungan di Biak Numfor. Penguatan ekosistem di luar pemerintah membutuhkan prinsip kolaboratif agar pembangunan berjalan berkelanjutan,” ujar Billy Mambrasar.

Penguatan Otsus juga menuntut disiplin tata kelola anggaran. Harapan agar APBD dan Dana Otsus digunakan secara efektif dan tepat sasaran disampaikan sebagai bagian dari pengawasan program prioritas nasional di daerah.

Sejalan dengan itu, penguatan perencanaan Otsus juga berlangsung di tingkat provinsi. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah Papua Tengah, Eliezer Yogi, menegaskan bahwa perencanaan Dana Otsus harus berbasis kebutuhan nyata masyarakat.

“Perencanaan Dana Otsus tidak boleh bersifat administratif rutin, tetapi harus berangkat dari kebutuhan riil masyarakat Papua Tengah dan didukung data yang akurat,” ujar Eliezer Yogi.

Melalui pendekatan terintegrasi antara akselerasi program, penguatan layanan dasar, dan perencanaan berbasis data, Otsus Papua diarahkan semakin adaptif dan berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat. (*)

Penambahan Dana Otsus Papua Percepat Pembangunan dan Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat

Jayapura – Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura menyambut baik rencana penambahan Dana Otonomi Khusus (Otsus) Papua yang disiapkan pemerintah pusat pada tahun anggaran 2026. Saat ini, alokasi Dana Otsus untuk Provinsi Papua tercatat sebesar Rp10 triliun dengan peluang peningkatan hingga Rp12 triliun. Pemkot berharap tambahan alokasi ini akan berdampak positif pada pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat, khususnya bagi Orang Asli Papua (OAP).

Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Jayapura, Desy Wanggai, menyampaikan bahwa alokasi Dana Otsus yang diterima Kota Jayapura pada tahun 2026 tercatat sebesar Rp176 miliar. Ia menegaskan, tambahan Dana Otsus sangat diperlukan mengingat tantangan keuangan daerah yang saat ini cukup berat.

“Pemkot Jayapura tentu berharap ada penambahan Dana Otsus. Apalagi tahun ini Provinsi Papua mendapatkan Dana Otsus tambahan dari pemerintah pusat sebesar Rp10 triliun,” ujar Desy, Kamis (1/1).

Desy menjelaskan, kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan di daerah menyebabkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) mengalami pengurangan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA). Sementara itu, beban belanja pegawai terus meningkat, sehingga mengelola anggaran yang tersedia menjadi tantangan tersendiri.

“Dengan adanya efisiensi anggaran, semua OPD terkena pengurangan DPA. Sementara di sisi lain, beban belanja pegawai terus meningkat. Ini tentu menjadi tantangan besar bagi Pemkot Jayapura dalam mengelola anggaran yang tersedia,” tambahnya.

Peningkatan Dana Otsus diharapkan mampu menjaga stabilitas pelayanan dasar dan mendorong program-program prioritas yang menyentuh langsung kepentingan masyarakat, termasuk sektor pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, dan program makan bergizi gratis. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan bahwa Dana Otsus harus digunakan secara akuntabel, tepat sasaran, dan tidak disalahgunakan.

Presiden Prabowo membuka peluang penambahan alokasi Dana Otsus hingga Rp12 triliun apabila terdapat penghematan di sektor lain, dengan fokus utama pada peningkatan kesejahteraan OAP. Penambahan ini diharapkan dapat memberikan ruang fiskal yang lebih besar bagi pemerintah daerah untuk mempercepat pembangunan, meningkatkan kualitas layanan publik, serta memperkuat program-program sosial yang langsung dirasakan masyarakat.

Pemkot Jayapura optimistis, bila penambahan Dana Otsus terealisasi, porsi anggaran kabupaten/kota, termasuk Kota Jayapura, akan meningkat. Hal ini diyakini akan menjadi dorongan signifikan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memastikan seluruh program prioritas pemerintah berjalan dengan efektif dan tepat sasaran.

Dengan adanya penambahan Dana Otsus, Pemkot Jayapura menegaskan komitmennya untuk memanfaatkan setiap rupiah anggaran secara transparan, akuntabel, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan rakyat, sekaligus memperkuat posisi Papua sebagai bagian integral dari pembangunan nasional.

Pemerintah Percepat Pembangunan 15.000 Hunian Sementara di Wilayah Terdampak Bencana Sumatra

Jakarta – Pemerintah memastikan percepatan pembangunan sebanyak 15.000 unit hunian sementara (huntara) bagi masyarakat terdampak bencana di sejumlah wilayah terus berjalan sesuai target. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen negara untuk segera memindahkan warga dari lokasi pengungsian menuju tempat tinggal yang lebih layak, aman, dan manusiawi sebagai tahapan awal pemulihan pascabencana.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan hunian sementara menjadi prioritas nasional dalam penanganan bencana, karena berkaitan langsung dengan perlindungan warga dan pemulihan kehidupan sosial masyarakat.

Presiden menekankan bahwa negara tidak boleh membiarkan warga terdampak bencana berlarut-larut tinggal di pengungsian tanpa kepastian tempat tinggal.

“Pemerintah bergerak cepat agar masyarakat bisa segera keluar dari tenda pengungsian dan menempati hunian sementara yang lebih layak, aman, dan mendukung pemulihan kehidupan keluarga,” tegas Presiden Prabowo Subianto.

Sejalan dengan arahan Presiden, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama kementerian dan pemerintah daerah terus memobilisasi sumber daya untuk mempercepat penyelesaian huntara di berbagai daerah terdampak. Proses pembangunan dilakukan dengan memperhatikan aspek keselamatan, sanitasi, akses air bersih, serta kedekatan dengan fasilitas umum agar aktivitas warga dapat kembali berjalan secara normal.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyampaikan bahwa percepatan pembangunan 15.000 huntara dilaksanakan melalui pola kerja terpadu dan pengawasan ketat di lapangan. BNPB memastikan seluruh tahapan pembangunan berjalan sesuai standar teknis kebencanaan dan target waktu yang telah ditetapkan.

“Kami mengoptimalkan koordinasi lintas sektor agar pembangunan hunian sementara dapat selesai tepat waktu dan segera dimanfaatkan oleh masyarakat terdampak,” ujar Suharyanto.

Pemerintah menegaskan bahwa pembangunan hunian sementara bukan sekadar solusi darurat, melainkan fondasi awal menuju pemulihan yang lebih menyeluruh, termasuk pembangunan hunian tetap dan pemulihan ekonomi warga.

Melalui langkah cepat, terukur, dan terkoordinasi ini, negara hadir memastikan masyarakat terdampak bencana dapat bangkit dan melanjutkan kehidupan dengan lebih aman dan bermartabat.

Investasi Hilirisasi Rp100 Triliun Dorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Oleh : Gavin Asadit )*

Pemerintah Indonesia terus memperkuat fondasi perekonomian nasional melalui kebijakan hilirisasi industri yang kini memasuki fase percepatan. Salah satu langkah strategis yang menjadi sorotan pada awal 2026 adalah rencana investasi hilirisasi senilai Rp100 triliun yang akan direalisasikan melalui sejumlah proyek besar di berbagai daerah. Investasi ini dipandang sebagai motor baru pertumbuhan ekonomi daerah, sekaligus upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap ekspor bahan mentah.

Hilirisasi menjadi kebijakan utama pemerintah dalam beberapa tahun terakhir karena dinilai mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat struktur industri nasional. Proyek hilirisasi senilai Rp100 triliun yang direncanakan akan mulai dibangun pada awal 2026 mencakup sektor industri pengolahan komoditas, energi, hingga pengelolaan limbah dan energi terbarukan. Proyek-proyek tersebut tidak hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa, tetapi juga menyasar wilayah-wilayah yang selama ini menjadi lumbung sumber daya alam, sehingga diharapkan mampu mendorong pemerataan pembangunan.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara langsung memberikan perhatian terhadap realisasi investasi hilirisasi tersebut. Dalam pertemuannya dengan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani, Presiden menegaskan bahwa hilirisasi merupakan kunci untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional. Presiden menilai, investasi besar di sektor hilir akan memberikan dampak jangka panjang bagi perekonomian daerah, terutama melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya percepatan realisasi proyek agar manfaatnya segera dirasakan oleh daerah.

Pemerintah mencatat, tren investasi hilirisasi menunjukkan pertumbuhan yang signifikan sepanjang 2025. Realisasi investasi di sektor hilirisasi hingga triwulan ketiga 2025 telah mencapai lebih dari Rp431 triliun, meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut menjadi indikator bahwa dunia usaha merespons positif arah kebijakan pemerintah, sekaligus menandakan meningkatnya kepercayaan investor terhadap iklim investasi di Indonesia. Dengan tambahan proyek hilirisasi baru senilai Rp100 triliun, pemerintah optimistis kinerja investasi nasional pada 2026 akan semakin kuat.

Dampak investasi hilirisasi tidak hanya tercermin pada angka pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga pada dinamika ekonomi daerah. Kehadiran industri pengolahan di dekat sumber bahan baku mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi baru, mulai dari sektor logistik, jasa, hingga usaha mikro dan kecil yang menopang kegiatan industri. Hal ini berkontribusi pada peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan penyerapan tenaga kerja lokal. Daerah-daerah yang sebelumnya bergantung pada sektor primer kini mulai memiliki basis industri yang lebih beragam.

Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan P. Roeslani menyatakan bahwa proyek hilirisasi Rp100 triliun ini dirancang untuk memberikan efek berganda yang luas. Menurutnya, hilirisasi bukan hanya soal membangun pabrik, tetapi juga membangun ekosistem industri yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Rosan menegaskan bahwa investasi tersebut diharapkan mampu memperkuat rantai pasok nasional, meningkatkan daya saing produk dalam negeri, serta mendorong transfer teknologi ke daerah. Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah daerah agar proyek dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.

Dukungan terhadap penguatan hilirisasi juga datang dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Ia menilai bahwa hilirisasi industri merupakan instrumen penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah di atas rata-rata nasional. Airlangga mengimbau pemerintah daerah untuk aktif menciptakan iklim usaha yang kondusif, termasuk melalui penyederhanaan perizinan dan penyediaan infrastruktur pendukung. Menurutnya, daerah yang mampu mengelola potensi hilirisasi dengan baik berpeluang mencatat pertumbuhan ekonomi tinggi sekaligus menurunkan tingkat kemiskinan dan ketimpangan.

Meski menjanjikan peluang besar, implementasi investasi hilirisasi juga menghadapi sejumlah tantangan. Kesiapan infrastruktur, ketersediaan tenaga kerja terampil, serta harmonisasi kebijakan pusat dan daerah menjadi faktor krusial yang harus diperhatikan. Selain itu, aspek keberlanjutan lingkungan menjadi perhatian penting mengingat sebagian proyek hilirisasi beririsan langsung dengan pengelolaan sumber daya alam. Pemerintah menegaskan bahwa setiap proyek harus memenuhi prinsip pembangunan berkelanjutan dan memperhatikan aspek lingkungan serta sosial.

Ke depan, keberhasilan investasi hilirisasi Rp100 triliun ini sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sektor swasta. Jika dijalankan secara konsisten dan terkoordinasi, hilirisasi berpotensi menjadi pendorong utama transformasi ekonomi daerah, dari yang semula berbasis komoditas mentah menuju ekonomi bernilai tambah tinggi. Dengan dukungan kebijakan yang kuat dan pengawasan yang efektif, proyek hilirisasi ini diharapkan mampu menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan pada 2026 dan tahun-tahun berikutnya.

)* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan

Pemerintah Pacu Hilirisasi Industri di KEK, Target Investasi Besar dan Lapangan Kerja

Oleh : Rivka Mayangsari )*

Pemerintah terus mempercepat pengembangan hilirisasi industri melalui penguatan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sebagai motor baru pertumbuhan ekonomi nasional. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar untuk mendorong investasi bernilai tambah tinggi, memperluas lapangan kerja, sekaligus memperkuat ketahanan sektor-sektor strategis Indonesia. Melalui kebijakan yang terarah dan terintegrasi, KEK diposisikan sebagai ruang akselerasi transformasi industri nasional menuju struktur ekonomi yang lebih kuat, mandiri, dan berdaya saing global.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan komitmennya untuk terus mengakselerasi pengembangan kawasan industri tematik yang selaras dengan prioritas pembangunan nasional. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa ke depan, pengembangan kawasan industri tidak lagi sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi semata, melainkan juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan nasional. Dalam konteks ini, kawasan industri tematik akan diproyeksikan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) maupun Kawasan Ekonomi Khusus, sesuai dengan karakteristik wilayah dan kebutuhan pembangunan jangka panjang.

Agus menjelaskan bahwa penguatan ketahanan energi dan ketahanan pangan menjadi fokus utama dalam arah kebijakan pengembangan kawasan industri. Melalui hilirisasi, bahan mentah tidak lagi diekspor dalam bentuk mentah, tetapi diolah di dalam negeri sehingga menciptakan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja, serta mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Pendekatan ini diyakini mampu memperkuat fondasi ekonomi nasional di tengah dinamika global yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian.

Selain sektor energi dan pangan, pengembangan kawasan industri juga diarahkan untuk mendukung pelaksanaan Asta Cita pemerintah, khususnya Asta Cita kelima yang menekankan pentingnya layanan kesehatan yang berkualitas, adil, dan merata. Dalam kerangka industri, kebijakan ini diterjemahkan sebagai upaya memperkuat kemandirian sektor kesehatan nasional, termasuk industri farmasi, alat kesehatan, dan bioteknologi. Dengan demikian, KEK diharapkan menjadi pusat pertumbuhan industri kesehatan yang mampu menjawab kebutuhan dalam negeri sekaligus berorientasi ekspor.

Sejalan dengan itu, Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (DN KEK) mencatat respons positif dari investor global terhadap rencana penetapan enam KEK baru pada 2026. Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal DN KEK Rizal Edwin Manansang mengungkapkan bahwa investor dari China, Jepang, dan Eropa telah menyampaikan minat serius serta rencana bisnis untuk berinvestasi di kawasan-kawasan tersebut. Minat tersebut mencerminkan kepercayaan dunia usaha internasional terhadap iklim investasi dan arah kebijakan industri Indonesia.

Enam KEK baru tersebut akan berlokasi di Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi dengan fokus sektor yang beragam, terutama hilirisasi sumber daya alam dan pengembangan teknologi maju. Rizal menjelaskan bahwa para investor tidak hanya tertarik pada potensi sumber daya dan pasar domestik, tetapi juga pada kesiapan pemerintah dalam menyediakan infrastruktur, kepastian regulasi, serta dukungan kebijakan yang berkelanjutan. Pembangunan infrastruktur di dalam KEK oleh para pengembang kawasan diyakini akan menciptakan efek berganda yang signifikan bagi perekonomian daerah.

Lebih lanjut, Rizal menegaskan bahwa KEK memiliki sejumlah keunggulan strategis yang menjadikannya sangat kompetitif dibandingkan kawasan industri di negara lain. Keunggulan tersebut meliputi layanan perizinan terpadu satu pintu yang cepat dan efisien, penguatan infrastruktur dasar, penyelarasan regulasi lintas sektor, fleksibilitas jenis usaha, serta pemberian insentif fiskal dan nonfiskal yang menarik. Kombinasi kebijakan tersebut dirancang untuk menurunkan biaya investasi dan meningkatkan kepastian usaha bagi pelaku industri.

Pemerintah juga menargetkan agar pengembangan KEK mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, khususnya tenaga kerja lokal. Dengan masuknya investasi baru di sektor hilirisasi dan teknologi, lapangan kerja yang tercipta tidak hanya bersifat padat karya, tetapi juga membuka peluang peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui alih teknologi dan peningkatan keterampilan. Hal ini sejalan dengan visi pembangunan industri yang inklusif dan berkelanjutan.

Di tingkat daerah, kehadiran KEK diharapkan menjadi katalis transformasi ekonomi regional. Aktivitas industri yang terintegrasi dengan rantai pasok lokal akan mendorong tumbuhnya usaha kecil dan menengah, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta mempercepat pemerataan pembangunan antarwilayah. Dengan demikian, manfaat hilirisasi tidak hanya dirasakan di pusat-pusat industri besar, tetapi juga menjangkau daerah-daerah penyangga.

Secara keseluruhan, percepatan hilirisasi industri melalui KEK mencerminkan keseriusan pemerintah dalam membangun ekonomi nasional yang tangguh, mandiri, dan berorientasi masa depan. Dengan dukungan kebijakan yang konsisten, sinergi antarkementerian, serta partisipasi aktif investor global, KEK diyakini akan menjadi pilar penting dalam mendorong investasi besar dan penciptaan lapangan kerja, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta industri dan perdagangan dunia.

Ke depan, pemerintah memastikan pengembangan KEK akan terus dikawal melalui penguatan tata kelola, pengawasan investasi, serta evaluasi berkala agar seluruh target hilirisasi dapat tercapai secara optimal. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola kawasan, dan pelaku usaha menjadi kunci agar KEK benar-benar berfungsi sebagai pusat pertumbuhan industri bernilai tambah tinggi. Dengan langkah yang terukur dan berkelanjutan, KEK diharapkan mampu mempercepat transformasi ekonomi nasional, memperluas kesempatan kerja yang berkualitas, serta memperkokoh kemandirian industri Indonesia dalam menghadapi persaingan global.

)* Penulis adalah Pemerhati Sosial

Presiden Prabowo Siap Groundbreaking 6 Proyek Hilirisasi, Dorong Nilai Tambah Industri Nasional

JAKARTA – Pemerintah memastikan komitmennya dalam mempercepat agenda hilirisasi nasional sebagai strategi utama mendorong nilai tambah industri dan memperkuat ketahanan ekonomi. Presiden RI Prabowo Subianto dijadwalkan melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking terhadap enam proyek hilirisasi strategis pada Januari 2026.

Kepastian tersebut disampaikan Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi usai mengikuti Retret Kabinet Merah Putih di Hambalang. Prasetyo mengatakan, enam proyek tersebut menjadi tahap awal dari total sekitar 18 proyek hilirisasi yang telah disepakati pemerintah dan akan dibangun secara bertahap hingga Maret 2026.

“Di bulan Januari direncanakan ada enam groundbreaking dari program hilirisasi. Kemudian akan dilanjutkan di bulan Februari dan Maret untuk menyelesaikan kurang lebih 18 program yang sudah kita sepakati,” ujar Prasetyo.

Menurut Prasetyo, proyek tersebut bersifat mendesak karena berkaitan langsung dengan persoalan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Salah satu proyek yang menjadi perhatian utama pemerintah adalah pembangunan fasilitas waste to energy atau pengolahan sampah menjadi energi.

“Akan dibangun di 34 kabupaten dan kota yang saat ini menghadapi persoalan sampah dengan volume lebih dari 1.000 ton per hari, perlu segera ditangani agar sampah tidak terus menggunung dan menimbulkan berbagai permasalahan,” tegasnya.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan proyek hilirisasi di sektor energi, termasuk pembangunan fasilitas gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME). Proyek ini dinilai strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor energi.

Presiden Prabowo juga secara khusus membahas perkembangan proyek-proyek hilirisasi bersama CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani dalam pertemuan di Hambalang. Dalam pertemuan tersebut, dibahas lima hingga enam proyek yang siap groundbreaking pada awal 2026 dengan total nilai investasi mencapai US$6 miliar atau sekitar Rp100 triliun.

“Program tersebut akan dilakukan di beberapa provinsi Indonesia dan diharapkan memberikan dampak ekonomi yang nyata, baik dari sisi investasi maupun penciptaan lapangan kerja,” jelas Rosan.

Rosan sebelumnya juga mengungkapkan bahwa beberapa proyek yang akan memulai pembangunan antara lain Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR), pabrik bioavtur di Cilacap, serta pabrik bioetanol di Banyuwangi.

“Seluruh proyek tersebut merupakan bagian dari 18 proyek hilirisasi baru yang dirancang untuk memperkuat rantai pasok industri nasional,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Strategi Hilirisasi dan Mineral Mining Industry Indonesia (MIND ID), Tedy Badrujaman mengapresiasi kemajuan proyek hilirisasi nikel PT Vale Indonesia Tbk di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Ia menilai proyek tersebut menunjukkan progres signifikan dan mencerminkan keseriusan pemerintah serta pelaku industri dalam menjalankan agenda hilirisasi.

“Hilirisasi menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan karena mampu menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, serta memperkuat daya saing industri nasional,” tutur Tedy. (*/rls)

Proyek Hilirisasi Nasional Dorong Pertumbuhan Ekosistem Industri Dalam Negeri

Jakarta – Proyek hilirisasi nasional dinilai semakin memperkuat pertumbuhan ekosistem industri, ekonomi daerah, serta daya saing Indonesia di tingkat global. Penguatan hilirisasi sektor mineral dan tambang disebut menjadi fondasi penting dalam membangun struktur ekonomi berkelanjutan berbasis nilai tambah.

Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch (IMEW) Ferdy Hasiman mengatakan keterlibatan holding BUMN tambang MIND ID dalam proyek-proyek hilirisasi menjadi tonggak penting pengembangan industri hijau dan energi bersih di Indonesia. Menurutnya, penguasaan proyek hilirisasi tidak hanya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

“MIND ID memiliki segala persyaratan untuk bersaing. Dengan masuk ke proyek hilirisasi, perusahaan sudah melangkah lebih maju. Proyek seperti smelter di Halmahera Timur milik Antam hingga fasilitas bauksit terintegrasi mempertegas posisi MIND ID sebagai pelopor hilirisasi pemerintah,” ujar Ferdy.

Ia menilai keberadaan holding BUMN tambang turut menghilangkan ego sektoral dan memperkuat sinergi antaranggota grup, termasuk kolaborasi dengan sektor swasta dan dukungan pasokan listrik dari PT PLN (Persero). Dari sisi keberlanjutan, Ferdy juga menyoroti penerapan tata kelola dan praktik hijau oleh sejumlah perusahaan, meski tantangan pertambangan ilegal masih menjadi perhatian serius.

“IUP ilegal memberi stigma negatif terhadap industri tambang dan mengganggu perusahaan yang sudah menjalankan ESG dengan baik,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Kajian Mineral Strategis, Mineral Kritis, dan Hilirisasi Mineral Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) M Toha menyebut permintaan global terhadap logam seperti nikel akan terus meningkat. Indonesia dinilai memiliki peluang besar mengambil peran strategis apabila hilirisasi diselesaikan hingga tahap produk akhir.

“Pertumbuhan ekonomi diharapkan terwujud jika hilirisasi diselesaikan sampai produk akhir. Dengan tumbuhnya industri turunan, dampak bergandanya akan terus bergulir,” kata M Toha.

Pandangan serupa disampaikan Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu. Menurutnya, hilirisasi sektor mineral pada dasarnya adalah membangun ekosistem industri yang terintegrasi.

“Peningkatan nilai tambah tambang menjadi produk yang dibutuhkan industri manufaktur akan berkontribusi signifikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.

Todotua menekankan pentingnya pelayanan perizinan yang cepat, iklim investasi yang kondusif, serta sinergi antarpemangku kepentingan agar manfaat hilirisasi dapat dirasakan secara luas. Ia juga menegaskan bahwa hilirisasi bukan hanya soal ekonomi, tetapi bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok rendah karbon dan membangun fondasi ekonomi masa depan yang berkelanjutan.

Kolaborasi Relawan dan Pemerintah Perkuat Penanganan Banjir di Sumatra

Oleh: Alexander Royce*)

Krisis banjir dan tanah longsor yang melanda Pulau Sumatra pada akhir tahun 2025 telah menjadi salah satu tantangan terbesar bangsa Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Hujan ekstrem yang terus mengguyur Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat memicu gelombang bencana yang tidak hanya merusak infrastruktur dan rumah warga, tetapi juga menghimpun dampak luas terhadap sektor sosial-ekonomi dan kesehatan masyarakat. Korban jiwa, ribuan rumah rusak, dan hampir satu juta jiwa mengungsi menunjukkan betapa massifnya tantangan ini. Namun di tengah badai kesulitan itu, muncul kebersamaan tanpa sekat antara pemerintah dan elemen masyarakat yang membuktikan kekuatan gotong royong bangsa Indonesia.

Pemerintah Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, telah merespons dengan cepat dan tegas untuk mengatasi dampak bencana. Strategi respons nasional mencakup pemulihan layanan dasar, restorasi ekonomi, serta percepatan pembukaan infrastruktur vital yang sebelumnya terputus akibat banjir bandang. Penyediaan tenaga cadet dari lembaga pemerintahan dan dukungan koordinasi lintas kementerian menunjukkan komitmen kuat pemerintah untuk kembali memulihkan kehidupan masyarakat terdampak.

Dalam konteks penanganan kesehatan pascabanjir, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menekankan bahwa gotong royong menjadi modal sosial utama dalam mempercepat pemulihan. Ia menyampaikan bahwa arahan Presiden Prabowo menuntut bantuan kemanusiaan yang cepat dan koordinasi erat antara pemerintah pusat, Palang Merah Indonesia (PMI), serta elemen masyarakat. Menurut Menkes, meskipun sebanyak 87 rumah sakit sempat terdampak dan beberapa puskesmas tidak beroperasi, kolaborasi tim kesehatan dari berbagai pihak telah berhasil mengembalikan seluruh rumah sakit ke fungsi maksimal dalam waktu sekitar dua minggu pascabanjir. Ia juga menggambarkan tantangan logistik di wilayah terpencil yang hanya bisa dijangkau melalui perahu atau kendaraan khusus, serta upaya rotasi ribuan relawan kesehatan agar layanan dasar tetap berjalan di pusat pengungsian dan daerah akses sulit. Dukungan PMI turut mendapat apresiasi karena perannya dalam mendistribusikan bantuan kemanusiaan secara efektif di lokasi terdampak.

Atmosfer kolaboratif ini juga tampak dari keterlibatan partai politik dan organisasi masyarakat sipil. Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Almuzzammil Yusuf, menyatakan bahwa relawan yang dikirim ke Sumatra bukan hanya bersifat umum, melainkan terdiri atas tenaga dengan keahlian khusus yang sangat dibutuhkan di lapangan. Relawan tersebut mencakup montir untuk perbaikan kendaraan dan peralatan, tenaga kesehatan, ahli bangunan, hingga psikolog yang mendukung proses trauma healing bagi korban. Dalam pidatonya saat melepas relawan, Almuzzammil menegaskan bahwa semangat awal tahun baru diisi dengan pengabdian nyata kepada saudara-saudara kita yang terdampak musibah, bukan sekadar perayaan. Ia juga menyoroti kontribusi relawan PKS dalam penyediaan listrik tenaga surya dan pengeboran air bersih, sebagai solusi atas kebutuhan mendesak di beberapa titik wilayah terdampak. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa upaya pemulihan tidak hanya bersifat reaktif, tetapi terencana dan berkelanjutan dengan fokus pada kebutuhan masyarakat.

Kontribusi relawan dari berbagai provinsi, baik yang dikirim oleh partai politik, organisasi kemanusiaan, perguruan tinggi, maupun organisasi profesi, turut memperkuat respons nasional. Ribuan relawan dari berbagai latar belakang bekerja bahu-membahu membersihkan puing, menyalurkan bantuan logistik, serta mengelola pos layanan kesehatan dan dapur umum di pusat pengungsian. Dunia akademik pun tak ketinggalan; lembaga pendidikan tinggi mengirimkan tim dukungan psikososial dan bantuan logistik, menunjukkan bahwa kemanusiaan tak mengenal batas sektor.

Tak hanya itu, dukungan terhadap pemulihan sosial-ekonomi juga tampak nyata. Pemerintah melalui berbagai kementerian telah meluncurkan program pemulihan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kawasan terdampak dengan target pemulihan dalam satu tahun, termasuk dukungan finansial dan restrukturisasi pinjaman untuk usaha yang terkena dampak. Hal ini memperlihatkan bahwa respons tidak hanya fokus pada penyelamatan jangka pendek, tetapi juga pembangunan kembali kehidupan warga secara komprehensif.

Kerja sama lintas elemen telah menciptakan momentum kebangkitan bersama. Solidaritas nasional tercermin melalui pengiriman bantuan dari daerah jauh seperti Jawa, Bali, hingga Kalimantan, menunjukkan bahwa solidaritas masyarakat Indonesia melampaui batas geografis. Kolaborasi antara sektor publik dan masyarakat membuktikan bahwa Indonesia memiliki modal sosial yang tinggi ketika menghadapi ujian besar. Di sisi lain, pemerintah menegaskan bahwa upaya ini merupakan ekspresi nyata dari prinsip nasional Bhinneka Tunggal Ika, bahwa di tengah perbedaan, kita tetap satu tekad untuk meringankan beban saudara-saudara kita di Sumatra.

Seiring berjalannya waktu, fokus saat ini tidak hanya pada pemulihan darurat, tetapi juga pada pembangunan kembali kehidupan masyarakat secara berkelanjutan. Pemerintah terus memperkuat koordinasi dengan organisasi internasional dan lokal, memperluas akses layanan dasar di komunitas terpencil, serta mendorong partisipasi masyarakat dalam tahap rekonstruksi. Semua ini dilakukan untuk memastikan bahwa Sumatra bukan hanya pulih dari dampak banjir dan longsor, tetapi bangkit menjadi lebih tangguh menghadapi tantangan masa depan.

Dengan peran aktif pemerintah yang sinergis bersama relawan dan seluruh elemen masyarakat, Indonesia menunjukkan bahwa solidaritas dan kepemimpinan yang kuat mampu menghadirkan solusi nyata di tengah krisis. Kebersamaan ini adalah cerminan nilai luhur bangsa, sekaligus bukti nyata bahwa kolaborasi antara pemerintah dan relawan amat krusial dalam memperkuat penanganan bencana. Dengan semangat gotong royong yang terus menyala, kita optimis bahwa pemulihan Sumatra akan berjalan cepat dan berkualitas, menciptakan harapan baru bagi masyarakat terdampak.

*) Penulis merupakan Pengamat Sosial