Mendukung Seleksi Masuk Sekolah Rakyat yang Berintegritas dan Transparan

*) Oleh : Mahfud Satria

Gagasan Sekolah Rakyat muncul sebagai harapan baru bagi dunia pendidikan di Indonesia, khususnya bagi keluarga yang selama ini merasa tersisih oleh praktik-praktik tidak adil dalam penerimaan peserta didik. Istilah “titipan” sudah lama menjadi bisik-bisik publik yang merusak kepercayaan masyarakat terhadap sekolah, terutama sekolah negeri. Ketika akses pendidikan dipengaruhi oleh kedekatan, jabatan, atau kekuatan ekonomi, maka esensi pendidikan sebagai hak dasar warga negara menjadi kabur. Sekolah Rakyat hadir membawa semangat koreksi terhadap praktik tersebut.

Sekolah Rakyat pada dasarnya menegaskan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk mengenyam pendidikan, tanpa melihat latar belakang sosial, ekonomi, maupun relasi orang tuanya. Konsep ini mengembalikan sekolah pada fungsinya sebagai ruang pembelajaran yang adil dan inklusif. Anak-anak dari keluarga kurang mampu, pekerja informal, buruh, petani, hingga masyarakat marginal mendapat kesempatan yang setara untuk berkembang. Dengan demikian, sekolah benar-benar menjadi alat mobilitas sosial, bukan sekadar ruang reproduksi ketimpangan.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan larangan keras terhadap praktik titipan dalam proses seleksi siswa Sekolah Rakyat, karena dinilai mencederai prinsip keadilan dan tujuan utama program tersebut. Ia mengingatkan bahwa Sekolah Rakyat dirancang untuk membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan, sehingga seluruh proses seleksi harus berjalan objektif, transparan, dan bebas dari kepentingan apa pun. Menurutnya, jika praktik titipan masih terjadi, maka kepercayaan publik akan runtuh dan semangat menghadirkan pendidikan yang berpihak pada rakyat kecil akan kehilangan maknanya.

Dukungan terhadap Sekolah Rakyat tanpa titipan juga berarti memperkuat nilai kejujuran dan integritas sejak dini. Ketika anak diterima di sekolah melalui proses yang transparan dan adil, mereka belajar bahwa keberhasilan tidak harus diraih melalui jalan pintas. Nilai ini penting ditanamkan sejak usia sekolah agar generasi muda tumbuh dengan karakter yang kuat, percaya diri pada kemampuan sendiri, dan menghargai proses. Pendidikan karakter semacam ini sering kali lebih bermakna dibandingkan sekadar capaian akademik.

Selain itu, Sekolah Rakyat dapat mendorong peningkatan kualitas sekolah secara menyeluruh. Tanpa intervensi kepentingan, sekolah memiliki ruang yang lebih bebas untuk fokus pada peningkatan mutu pembelajaran, pengembangan guru, serta pelayanan kepada peserta didik. Guru pun dapat bekerja secara profesional tanpa tekanan non-akademik. Lingkungan sekolah menjadi lebih sehat, kondusif, dan berorientasi pada prestasi yang wajar serta berkeadilan.

Dari sisi tata kelola, dukungan publik terhadap Sekolah Rakyat mendorong pemerintah dan pengelola pendidikan untuk memperkuat sistem seleksi yang transparan dan akuntabel. Pemanfaatan teknologi, keterbukaan informasi, serta pengawasan dari masyarakat menjadi kunci penting. Ketika proses penerimaan siswa dapat diakses dan dipahami oleh publik, potensi penyalahgunaan kewenangan dapat ditekan. Kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan pun akan meningkat secara perlahan namun pasti.

Bupati Pinrang, Sulawesi Selatan, H.A. Irwan Hamid, menegaskan komitmennya untuk mendukung penuh program prioritas nasional tersebut. Menurutnya, Sekolah Rakyat membuka akses pendidikan yang lebih adil bagi masyarakat kurang mampu. Sekolah Rakyat juga memiliki dampak sosial yang luas. Anak-anak yang diterima berdasarkan kebutuhan dan kemampuan akan tumbuh bersama dalam keberagaman latar belakang. Interaksi ini membentuk empati, solidaritas, dan rasa kebersamaan antar siswa. Sekolah menjadi miniatur masyarakat yang plural, tempat anak belajar hidup berdampingan dan saling menghargai. Nilai-nilai ini sangat relevan untuk membangun kohesi sosial di tengah masyarakat yang majemuk.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Abdul Mu’ti menegaskan larangan titipan juga menjadi sinyal kuat bahwa Sekolah Rakyat tidak boleh tercemar oleh praktik lama yang selama ini merugikan masyarakat kecil. Sekolah ini diharapkan benar-benar menjadi ruang aman dan adil bagi anak-anak yang selama ini sulit mengakses pendidikan berkualitas. Dengan seleksi yang bersih, Sekolah Rakyat dapat menjalankan fungsinya sebagai jaring pengaman sosial di bidang pendidikan, sekaligus menjadi contoh bahwa negara hadir secara nyata untuk melindungi hak belajar setiap anak.

Narasi Sekolah Rakyat tanpa titipan juga penting untuk terus disampaikan kepada publik agar tidak menimbulkan salah persepsi di tengah masyarakat. Keterbukaan informasi mengenai mekanisme seleksi, kriteria penerimaan, hingga pengawasan pelaksanaannya akan memperkuat kepercayaan orang tua dan masyarakat luas. Ketika prinsip keadilan dijaga sejak awal, Sekolah Rakyat tidak hanya menjadi program bantuan pendidikan, tetapi juga simbol komitmen bersama dalam membangun sistem pendidikan yang bersih, berintegritas, dan berpihak pada rakyat.

Pada akhirnya, mendukung Sekolah Rakyat adalah investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Pendidikan yang bersih, adil, dan inklusif akan melahirkan generasi yang kompeten sekaligus berkarakter. Ketika sekolah benar-benar menjadi milik rakyat, bukan milik segelintir orang dengan akses khusus, maka cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa bukan lagi slogan, melainkan kenyataan yang dirasakan bersama.

*) *Penulis adalah Mahasiswa yang tinggal di Jakarta

Sekolah Rakyat: Tanpa Titipan, Sogok dan Suap

Oleh: Bara Winatha*)

Program Sekolah Rakyat (SR) menjadi salah satu terobosan penting pemerintah dalam memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Kehadiran Sekolah Rakyat diposisikan sebagai jaring pengaman sosial di bidang pendidikan yang diharapkan mampu memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Program ini tidak hanya menargetkan pembangunan fisik sekolah, tetapi juga menekankan pada tata kelola yang bersih, seleksi yang objektif, serta integrasi dengan sistem perlindungan sosial nasional.

Menteri Sosial, Saifullah Yusuf mengatakan bahwa Kementerian Sosial saat ini tengah mematangkan tahapan seleksi peserta Sekolah Rakyat untuk tahun 2026 dengan target menampung hingga 30.000 siswa di seluruh Indonesia. Ia menjelaskan bahwa realisasi kapasitas tersebut sangat bergantung pada penyelesaian pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat yang dikebut bersama Kementerian Pekerjaan Umum. Setiap unit gedung dirancang menampung sekitar 300 peserta didik yang dibagi merata ke dalam tiga jenjang pendidikan, yakni sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas.

Saifullah menegaskan bahwa program ini secara khusus diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem yang masuk dalam desil 1 serta keluarga miskin pada desil 2. Oleh karena itu, akurasi data dan integritas proses seleksi menjadi kunci utama. Sementara Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan tegas agar seluruh tahapan seleksi dilakukan secara objektif, transparan, dan bersih dari praktik tidak sehat. Tidak boleh ada titipan, sogok, maupun suap dalam proses penentuan calon siswa, karena hal tersebut akan merusak tujuan utama program.

Proses seleksi SR melibatkan lintas instansi, mulai dari Dinas Sosial, Dinas Pendidikan Dasar dan Menengah, hingga Badan Pusat Statistik (BPS). Keterlibatan banyak pihak ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa data calon penerima manfaat benar-benar akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Penetapan akhir calon siswa juga memerlukan persetujuan kepala daerah, sehingga terdapat mekanisme kontrol berlapis dalam prosesnya.

Pemerintah tidak hanya menyiapkan gedung sekolah, tetapi juga sumber daya manusia pendukung, seperti tenaga pendidik, tenaga kependidikan, serta tim khusus yang mengawal seleksi. Dengan pendekatan tersebut, Sekolah Rakyat diharapkan mampu memberikan layanan pendidikan yang bermutu sekaligus berkeadilan. Bagi pemerintah, keberhasilan Sekolah Rakyat tidak semata diukur dari jumlah siswa yang tertampung, tetapi dari sejauh mana program ini benar-benar menyasar anak-anak yang paling membutuhkan.

Literasi publik mengenai pentingnya seleksi tanpa titipan, sogok, dan suap menjadi bagian tak terpisahkan dari keberhasilan program. Masyarakat perlu memahami bahwa setiap bentuk intervensi tidak sah dalam proses seleksi justru akan merugikan anak-anak dari keluarga miskin ekstrem yang seharusnya menjadi prioritas. Dengan kata lain, menjaga integritas seleksi Sekolah Rakyat sama artinya dengan menjaga hak anak-anak paling rentan atas pendidikan yang layak.

Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya mengatakan bahwa Program Sekolah Rakyat merupakan ikhtiar negara yang sangat strategis dalam membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Ia menilai program ini memiliki potensi besar menjadi jaring pengaman sosial agar tidak ada anak yang terhambat belajar hanya karena keterbatasan ekonomi. Namun, keberhasilan program sangat ditentukan oleh ketepatan sasaran, kualitas pendampingan, serta integrasinya dengan layanan perlindungan sosial lainnya.

Berdasarkan data BPS awal 2025, angka kemiskinan di Nusa Tenggara Timur masih berada jauh di atas rata-rata nasional. Kondisi ini memperkuat urgensi kehadiran program-program afirmatif seperti Sekolah Rakyat. Atalia juga menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dan sinergi lintas sektor antara Kementerian Pendidikan, Kementerian Sosial, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, KPAI, pemerintah daerah, masyarakat, serta sekolah.

Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo mengatakan bahwa Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) memegang peranan penting dalam memastikan seluruh program pengentasan kemiskinan, termasuk Sekolah Rakyat, berjalan tepat sasaran. DTSEN yang dikelola oleh BPS dan dimutakhirkan melalui Kementerian Sosial menjadi satu-satunya sumber data bagi berbagai program kementerian dan lembaga. Pemutakhiran data yang dinamis dinilai sangat penting untuk menghindari fragmentasi data dan potensi salah sasaran.

Menurut Agus, Sekolah Rakyat merupakan miniatur pengentasan kemiskinan terpadu. Anak-anak yang dapat mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat adalah mereka yang berasal dari desil 1–2 DTSEN. Tidak hanya pendidikan gratis, orang tua siswa juga berpotensi menerima bantuan usaha atau renovasi rumah tidak layak huni jika hasil asesmen menunjukkan kebutuhan tersebut. Tujuan akhirnya adalah memperbaiki kualitas hidup keluarga penerima manfaat secara menyeluruh. Program Sekolah Rakyat ini menunjukkan bahwa negara telah hadir melalui sistem yang adil dan berintegritas.

Sekolah Rakyat telah mencerminkan komitmen pemerintah dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. Literasi publik mengenai pentingnya seleksi tanpa titipan, sogok, dan suap perlu terus diperkuat agar masyarakat turut mengawasi jalannya program. Dengan dukungan semua pihak, Sekolah Rakyat diharapkan mampu menjadi pintu masuk bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem untuk meraih masa depan yang lebih baik, sekaligus menjadi fondasi kuat bagi upaya pengentasan kemiskinan nasional.

*)Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan.

Pemerintah Tegaskan Program Sekolah Rakyat Tanpa Titipan

Jakarta – Pemerintah menegaskan komitmennya untuk memastikan Program Sekolah Rakyat berjalan secara adil, bersih, dan tepat sasaran tanpa praktik titipan maupun suap. Penegasan tersebut disampaikan Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul sebagai bentuk keseriusan negara dalam menjamin hak pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Gus Ipul mengimbau seluruh petugas seleksi siswa Sekolah Rakyat agar menjalankan tugas secara profesional dan berintegritas. Ia menekankan bahwa proses seleksi harus bebas dari kepentingan pribadi maupun intervensi pihak tertentu yang berpotensi merusak tujuan mulia program tersebut. “Jadi kami berharap tim seleksi untuk tidak main-main, tidak ada titipan, tidak ada suap-menyuap,” kata Gus Ipul. Ia menegaskan bahwa hanya anak-anak yang benar-benar memenuhi kriteria yang berhak diterima di Sekolah Rakyat. “Tapi benar-benar mereka yang memenuhi kriteria untuk bisa sekolah di sekolah rakyat. Itu adalah jelas arahan Presiden,” tambahnya.

Lebih lanjut, Gus Ipul menekankan pentingnya sinergi antarlembaga dalam proses seleksi agar penerimaan siswa benar-benar menyasar kelompok yang membutuhkan. Ia berharap tim seleksi di lapangan mampu berkoordinasi secara intensif dengan Dinas Sosial, Dinas Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Badan Pusat Statistik di daerah masing-masing. “Kita ingin petugas di lapangan benar-benar konsisten, bekerja sama dengan Dinsos setempat, Dikdasmen setempat, dan BPS setempat untuk menyasar mereka yang berada di Desil 1 dan Desil 2,” ujarnya.

Penegasan pemerintah tersebut mendapat dukungan dari DPR RI. Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Singgih Januratmoko, meminta agar Program Sekolah Rakyat dilaksanakan secara selektif dan tepat sasaran, khususnya bagi anak-anak dari keluarga miskin dan rentan. Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah siswa yang diterima, tetapi juga dari dampak sosial yang dihasilkan.

Singgih juga menyoroti pentingnya penguatan peran Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) serta pekerja sosial lainnya. Ia menilai, para pendamping sosial harus aktif turun langsung ke lapangan untuk mendeteksi secara dini kerentanan keluarga, termasuk tekanan psikologis yang dialami anak-anak dari keluarga kurang mampu. Hal tersebut dinilai krusial agar intervensi negara melalui Sekolah Rakyat benar-benar menyentuh aspek kebutuhan pendidikan dan kesejahteraan anak secara menyeluruh.

Selain itu, Singgih mengingatkan agar pelaksanaan Sekolah Rakyat berbasis pada data kemiskinan yang mutakhir dan terverifikasi. Program ini, menurutnya, tidak boleh sekadar mengejar target fisik atau administratif, melainkan harus berorientasi pada keberlanjutan masa depan generasi muda. “Masa depan Indonesia ditentukan oleh bagaimana kita memperlakukan anak-anak hari ini,” kata Singgih.

Dengan komitmen kuat pemerintah dan dukungan parlemen, Program Sekolah Rakyat diharapkan menjadi instrumen strategis untuk memutus rantai kemiskinan melalui akses pendidikan yang adil, transparan, dan berkeadilan sosial. (*)

Pemerintah Tegaskan Tak Ada Titipan dalam Seleksi Sekolah Rakyat

Jakarta, – Pemerintah Republik Indonesia kembali menegaskan komitmennya untuk memastikan pelaksanaan program Sekolah Rakyat berjalan secara transparan, adil, dan tanpa praktik titipan siswa dari siapapun. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk memperluas akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak berasal dari keluarga kurang mampu, sekaligus upaya nyata untuk memutus mata rantai kemiskinan di Indonesia.

Hingga awal tahun 2026, pemerintah telah meresmikan sebanyak 166 Sekolah Rakyat yang tersebar di 34 provinsi dan 131 kabupaten/kota, yang telah memberikan layanan pendidikan bagi hampir 16.000 peserta didik dari keluarga di desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Sekolah-sekolah tersebut menawarkan layanan pendidikan gratis mulai dari tingkat SD hingga SMA, termasuk fasilitas asrama penuh, makan 3 kali sehari, seragam, dan perlengkapan belajar.

Menanggapi anggapan atau kekhawatiran publik soal potensi titipan siswa, Menteri Sosial Republik Indonesia, Saifullah Yusuf, menegaskan bahwa proses seleksi dan penetapan peserta didik dilakukan secara akurat dan berbasis data.

“Jadi, Menteri Sosial tidak bisa titip, Menteri Sosial tidak bisa menitipkan siapa pun yang bisa sekolah di Sekolah Rakyat. Arahan Presiden cukup jelas: tidak boleh ada sogok-menyogok, tidak boleh ada suap-menyuap untuk bisa sekolah di Sekolah Rakyat,” ujar Gus Ipul.

Pemerintah juga menerapkan mekanisme penjangkauan langsung keluarga melalui pendamping sosial dan koordinasi dengan Badan Pusat Statistik (BPS), Dinas Sosial, dan Dinas Pendidikan Dasar serta Menengah setempat. Penentuan calon peserta didik dilakukan setelah kunjungan rumah, dialog dengan orang tua, serta verifikasi dan validasi data keluarga yang masuk dalam skala prioritas.

“Mohon ini kita awasi bersama. Tidak boleh ada sogok-menyogok, suap-menyuap, dan tidak boleh ada kongkalikong dalam menyeleksi siswa Sekolah Rakyat,” tambah Saifullah.

Komitmen pemerintah untuk menjauhkan praktik titipan juga ditegaskan dalam berbagai kebijakan operasional. Di antaranya, pendaftaran siswa tidak dilakukan secara umum, melainkan melalui sistem seleksi yang berbasis data nasional, sehingga hanya yang benar-benar memenuhi kriteria sosial-ekonomi saja yang dapat mengikuti proses dan ditetapkan sebagai peserta didik. Hal ini sekaligus menjadi bentuk nyata sikap negara dalam menegakkan keadilan pendidikan bagi seluruh anak bangsa tanpa diskriminasi.

Sebelumnya, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan menyampaikan bahwa Sekolah Rakyat merupakan strategi besar pemerintah untuk menjamin hak pendidikan sekaligus mengatasi ketimpangan sosial.

“Sekolah berasrama ini ditujukan bagi anak-anak yang mungkin selama ini tidak memiliki harapan agar mereka kembali percaya pada masa depan,” tegas presiden.

Pemerintah berjanji akan terus memperkuat integritas proses seleksi, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta memperluas jangkauan program Sekolah Rakyat sesuai target nasional, sehingga setiap anak yang memenuhi syarat mendapatkan kesempatan pendidikan bermutu tanpa adanya diskriminasi atau intervensi titipan dari pihak manapun.***

Evaluasi MBG sebagai Kunci Keberlanjutan Kebijakan Gizi Nasional

Oleh: Alexander Royce*)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan strategispemerintah yang dirancang untuk menjawab tantangan mendasar pembangunansumber daya manusia Indonesia. Di tengah bonus demografi dan masih adanyapersoalan gizi, stunting, serta ketimpangan akses pangan, MBG hadir bukan sekadarsebagai program bantuan sosial, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitasgenerasi masa depan. Karena itu, keseriusan pemerintah dalam mengevaluasipelaksanaan MBG patut diapresiasi dan didukung secara konstruktif oleh seluruhpemangku kepentingan.

Dalam berbagai kesempatan, pemerintah menegaskan bahwa MBG bukan program yang berjalan tanpa pengawasan. Evaluasi berkala menjadi kunci agar manfaatnyatepat sasaran, berkelanjutan, dan benar-benar berdampak. Menteri Koordinator BidangPangan Zulkifli Hasan, misalnya, menekankan pentingnya evaluasi berbasis data akuratuntuk memastikan bahwa penerima manfaat MBG benar-benar mereka yang membutuhkan. Menurutnya, ketepatan data penerima menjadi fondasi utamakeberhasilan program, karena kesalahan sasaran akan berujung pada inefisiensianggaran dan melemahnya kepercayaan publik. Penekanan pada akurasi data inimenunjukkan bahwa pemerintah tidak ingin MBG sekadar terlihat besar dari sisianggaran, tetapi juga kuat dari sisi tata kelola.

Pendekatan berbasis data tersebut relevan dengan kondisi terkini, di mana pemerintahterus melakukan pemutakhiran Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) sertasinkronisasi dengan data sektoral lainnya. Dengan cara ini, MBG diharapkan mampumenjangkau kelompok rentan, termasuk anak sekolah dan keluarga berpenghasilanrendah, secara lebih presisi. Keseriusan ini mencerminkan pola pikir pemerintah yang adaptif dan terbuka terhadap perbaikan, bukan defensif terhadap kritik.

Di sisi lain, aspek kesehatan dan keamanan pangan juga menjadi perhatian utama. Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menggarisbawahi bahwakeberhasilan MBG tidak hanya diukur dari jumlah porsi makanan yang dibagikan, tetapijuga dari kualitas, keamanan, dan higienitasnya. Ia mengingatkan bahwa layanan giziyang belum memenuhi standar higienitas berpotensi menimbulkan risiko kesehatanbaru, sehingga sertifikasi dan pengawasan unit layanan gizi menjadi hal yang tidak bisaditawar. Pernyataan ini menegaskan bahwa pemerintah tidak menutup mata terhadaptantangan di lapangan, melainkan menjadikannya sebagai bahan evaluasi untukperbaikan berkelanjutan.

Penekanan pada standar kesehatan tersebut sejalan dengan meningkatnya kesadaranpublik terhadap keamanan pangan. Dalam konteks ini, evaluasi MBG menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa tujuan mulia program tidak justru berbalik menjadimasalah kesehatan. Upaya pemerintah dalam mendorong sertifikasi, peningkatankapasitas pengelola, serta pengawasan lintas sektor menunjukkan komitmen bahwaMBG harus memenuhi standar nasional, bahkan internasional, dalam layanan gizi.

Sementara itu, dari perspektif kebijakan gizi nasional, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menempatkan MBG sebagai bagian integral dari strategi besarpeningkatan kualitas gizi masyarakat. Ia memandang bahwa evaluasi diperlukan untukmengukur dampak nyata program terhadap status gizi penerima, bukan hanya output administratif. Dengan kata lain, keberhasilan MBG harus tercermin pada perbaikanindikator gizi, penurunan stunting, serta meningkatnya kesehatan anak dan remaja. Pandangan ini memperkuat argumen bahwa evaluasi bukanlah tanda kegagalan, melainkan mekanisme pembelajaran kebijakan.

Dalam perkembangan terbaru, sejumlah laporan media menunjukkan bahwapemerintah juga mulai melibatkan akademisi dan lembaga independen dalam proses evaluasi. Langkah ini penting untuk menjaga objektivitas serta memperkaya perspektifdalam menilai efektivitas MBG. Selain itu, sinergi dengan pemerintah daerah terusdiperkuat agar pelaksanaan di lapangan selaras dengan kebijakan pusat. Pendekatankolaboratif ini mencerminkan tata kelola pemerintahan yang inklusif dan responsifterhadap dinamika sosial.

Dukungan publik terhadap evaluasi MBG juga menjadi faktor penentu. Kritik yang konstruktif, masukan dari masyarakat, serta pengawasan media justru dapatmemperkuat program ini. Pemerintah telah menunjukkan keterbukaan terhadapmasukan tersebut, sebagaimana tercermin dari penyesuaian kebijakan dan perbaikanteknis yang terus dilakukan. Dalam konteks demokrasi, sikap ini patut diapresiasikarena menunjukkan bahwa pemerintah tidak alergi terhadap evaluasi, melainkanmenjadikannya sebagai bagian dari proses pembangunan.

Pada akhirnya, MBG adalah program besar dengan tujuan besar. Tantangan dalampelaksanaannya adalah hal yang wajar, mengingat skala dan kompleksitasnya. Yang terpenting adalah adanya komitmen kuat untuk terus memperbaiki, sebagaimanaditunjukkan oleh pernyataan dan langkah para pemangku kebijakan. Evaluasi berbasisdata, peningkatan standar kesehatan, serta pengukuran dampak gizi yang nyatamenjadi bukti bahwa pemerintah serius memastikan MBG berjalan efektif dan berkelanjutan.

Dengan terus mendukung keseriusan evaluasi Program MBG, publik turut berkontribusidalam menjaga arah kebijakan tetap berada pada rel yang benar. Pemerintah telahmenunjukkan itikad baik dan kerja nyata dalam mengawal program ini, dan dengansinergi semua pihak, MBG berpotensi menjadi tonggak penting dalam mewujudkangenerasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.

*) Penulis merupakan Pengamat Sosial

Negara Berkomitmen Jaga Kualitas Program MBG

Oleh: Dhita Karuniawati )*

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu kebijakan strategis negara dalam menjawab tantangan pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Di tengah persoalan gizi, stunting, ketimpangan akses pangan, serta kualitas kesehatan anak dan generasi muda, kehadiran MBG tidak hanya dipandang sebagai program bantuan sosial, tetapi sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Oleh karena itu, negara menegaskan komitmennya untuk menjaga kualitas Program Makan Bergizi Gratis agar benar-benar memberikan manfaat optimal dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Sejak awal perancangannya, MBG dirumuskan dengan pendekatan komprehensif. Program ini tidak semata-mata menyalurkan makanan, tetapi memastikan bahwa setiap porsi yang diberikan memenuhi standar gizi seimbang sesuai kebutuhan usia dan kondisi penerima manfaat. Pemerintah menyadari bahwa keberhasilan MBG sangat ditentukan oleh kualitas, bukan sekadar kuantitas distribusi. Komitmen ini yang menjadi landasan utama negara dalam mengawal implementasi program di berbagai daerah.

Komitmen negara dalam menjaga kualitas MBG tercermin melalui penguatan tata kelola program. Pemerintah membangun sistem pengawasan yang melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, tenaga kesehatan, sekolah, serta masyarakat. Monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkala untuk memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan.

Selain itu, transparansi dan akuntabilitas menjadi prinsip penting dalam pelaksanaan MBG. Negara berupaya menutup celah penyimpangan, baik dalam pengadaan bahan pangan maupun dalam proses distribusi. Dengan tata kelola yang kuat, MBG diharapkan dapat terhindar dari persoalan klasik program bantuan, seperti penurunan mutu, keterlambatan penyaluran, atau ketidaktepatan sasaran.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan kesiapan perusahaan dalam menjalankan penugasan pemerintah untuk mendukung Program MBG, khususnya dalam penyediaan bahan pangan pokok berupa beras.

Rizal mengatakan sesuai dengan Instruksi Presiden, Bulog ditugaskan untuk menyiapkan bahan dasar, khususnya beras. Dalam Inpres tersebut juga diatur bahwa Badan Gizi Nasional menyerap beras dari Bulog. Bulog siap menyuplai beras berkualitas untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis.

Rizal memastikan bahwa beras yang disiapkan Bulog untuk mendukung Program MBG memenuhi standar kualitas yang ketat, mulai dari aspek kebersihan, mutu, hingga kelayakan konsumsi.

Perum Bulog berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi dengan kementerian dan lembaga terkait guna memastikan ketersediaan pangan yang aman, berkualitas, dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Komitmen menjaga kualitas program MBG juga dilakukan oleh berbagai pemerintah daerah. Salah satunya di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng). Dalam struktur pelaksanaan program, Dinas Pendidikan Kalteng tergabung dalam Satuan Tugas MBG dan dipercaya sebagai Wakil Ketua II.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kalteng Reza Prabowo mengatakan pengawasan MBG dilakukan rutin setiap hari melalui aplikasi Pena Kalteng yang memungkinkan pemantauan pelaksanaan secara real time di sekolah. Melalui platform digital ini, sekolah melaporkan menu harian, waktu makanan tiba, hingga waktu penyajian. Seluruh proses tercatat dan dapat dipantau setiap hari.

Menurut Reza, pengawasan digital ini sejalan dengan arahan BGN guna menjamin kualitas gizi, ketepatan distribusi, serta keamanan pangan dalam pelaksanaan program di lapangan.

Reza mengatakan dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah terhadap MBG juga tercermin dari keterlibatan aktif Forkopimda dalam berbagai kunjungan Gubernur ke sekolah-sekolah penerima program. Kehadiran Forkopimda dalam setiap kunjungan menunjukkan keseriusan bersama untuk memastikan program MBG berjalan lancar dan tepat sasaran, termasuk di wilayah dengan tantangan geografis.

Reza menjelaskan respons peserta didik terhadap Program MBG sangat positif. Selain membantu pemenuhan gizi, program ini juga meringankan beban pengeluaran keluarga. Sebelumnya, Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional, Dadang Hendrayudha menekankan Program MBG tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi anak, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang luas bagi daerah.

Program MBG memiliki multiplier effect (dampak ganda), mulai dari pemberdayaan UMKM, petani, peternak, sektor katering, hingga logistik, serta membuka lapangan kerja dan memperkuat sistem pangan lokal.

Dalam menjaga kualitas MBG, negara juga memberi ruang bagi pelibatan daerah dan pemanfaatan kearifan lokal. Menu makanan dapat disesuaikan dengan potensi pangan setempat tanpa mengabaikan standar gizi yang telah ditetapkan. Pendekatan ini tidak hanya menjaga kualitas asupan gizi, tetapi juga meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap program.

Pemanfaatan bahan pangan lokal dinilai mampu menjaga kesegaran bahan, menekan biaya logistik, serta mendukung perekonomian daerah. Dengan melibatkan petani, nelayan, dan pelaku usaha pangan lokal, MBG menjadi program yang berdampak ganda: memperbaiki gizi masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat.

Keberhasilan MBG sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia pendidikan, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Negara mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama menjaga kualitas program agar tujuan besar MBG dapat tercapai.

Dengan komitmen kuat, tata kelola yang baik, serta pengawasan yang konsisten, Program Makan Bergizi Gratis diharapkan mampu menjadi fondasi penting dalam mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. Negara, melalui MBG, menunjukkan keberpihakannya pada masa depan bangsa dengan memastikan bahwa setiap anak mendapatkan hak dasar atas gizi yang berkualitas.

*) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

Evaluasi MBG Diperkuat, Program Gizi Nasional Disiapkan Lebih Akurat

Jakarta – Pemerintah memperkuat evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari upaya memastikan kebijakan gizi nasional berjalan lebih akurat, terukur, dan tepat sasaran. Fokus utama evaluasi diarahkan pada ketepatan data penerima manfaat serta pengukuran dampak program dalam jangka menengah hingga panjang.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menegaskan, evaluasi MBG akan dilakukan dengan membandingkan kondisi penerima manfaat sebelum dan sesudah program berjalan. Evaluasi tersebut menjadi dasar penilaian efektivitas program yang menyasar puluhan juta masyarakat.

“Nanti setelah satu tahun MBG kita ukur. Kalau sebelum makan bergizi bagaimana (perbandingannya),” ujar Zulhas.

Menurut Zulhas, evaluasi tidak hanya menyoroti aspek konsumsi makanan, tetapi juga dampaknya terhadap pertumbuhan fisik penerima manfaat. Bahkan, pemerintah membuka kemungkinan pengukuran dampak yang lebih luas, termasuk perkembangan fungsi otak dan kualitas sumber daya manusia.

“Fisiknya, pertumbuhannya, termasuk tentu pertumbuhan otak. Nanti setelah setahun-setahun bagaimana? Dua tahun bagaimana? Tiga tahun seperti apa,” katanya.

Untuk mendukung evaluasi yang komprehensif, pemerintah akan melakukan pencocokan dan perapihan data lintas kementerian dan lembaga. Proses ini melibatkan pejabat eselon I dari sejumlah instansi, seperti Kementerian Agama, BKKBN, Kementerian Kesehatan, serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Langkah tersebut dinilai krusial agar basis data penerima manfaat MBG benar-benar akurat dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai dasar pengukuran dampak kebijakan.

Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menekankan pentingnya independensi dalam pengukuran hasil program MBG. Ia menyatakan, pengukuran output program sebaiknya dilakukan oleh lembaga independen agar hasilnya objektif.

“Nanti yang mengukur harus lembaga independen,” tegas Dadan.

Dadan mencontohkan pengalaman Jepang, di mana program makan bergizi menunjukkan dampak nyata terhadap perubahan indikator fisik masyarakat dalam jangka panjang. Menurutnya, kualitas gizi yang berkelanjutan berperan besar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

“Jadi bukan hanya potensi genetik, tapi juga kualitas gizi. Nah, Indonesia akan seperti itu,” ujarnya.

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Pangan per akhir Januari 2026, terdapat 22.091 satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang telah beroperasi, dengan jumlah penerima manfaat MBG menembus lebih dari 60 juta orang.

Pemerintah menegaskan, penguatan akurasi data dan evaluasi berbasis dampak akan menjadi fondasi utama agar Program Makan Bergizi Gratis berjalan berkelanjutan, tepat sasaran, dan memberikan manfaat nyata bagi pembangunan kualitas manusia Indonesia.

Pemerintah Terus Perketat Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis

Jakarta – Pemerintah menegaskan komitmennya untuk tidak membiarkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan tanpa pengawasan ketat. Mulai 2026, evaluasi menyeluruh dan berlapis akan diperkuat guna memastikan program strategis nasional tersebut benar-benar memberikan manfaat optimal dan merata bagi masyarakat.

Penegasan ini sekaligus menjawab ekspektasi publik agar MBG dijalankan dengan standar tinggi, akuntabel, dan berorientasi pada kualitas.

Presiden RI Prabowo Subianto menekankan bahwa MBG harus dilaksanakan dengan prinsip zero defect atau tanpa cacat, meskipun program ini merupakan operasi kemanusiaan berskala besar dengan kompleksitas tinggi.

“Tentunya kita harapkan zero defect. Itu yang harus kita capai. Kita tidak puas dengan kekurangan 0,00 sekian persen, itu pun harus kita atasi,” kata Prabowo.

Ia menegaskan pengawasan dan langkah pengamanan akan terus diperketat demi memastikan pemerataan penerima manfaat secara sempurna.

Presiden juga menekankan bahwa MBG bukan sekadar program distribusi makanan, melainkan investasi jangka panjang negara dalam membangun kualitas sumber daya manusia.

Pemerintah, kata Prabowo, tidak akan ragu melakukan penyesuaian kebijakan berbasis temuan faktual agar tujuan besar MBG benar-benar tercapai.

Di tingkat daerah, dukungan terhadap penguatan evaluasi MBG juga disuarakan oleh Bupati Buol, Palu, H. Risharyudi Triwibowo. Ia menilai perbaikan berkelanjutan dan kepatuhan terhadap prosedur serta standar pelaksanaan merupakan kunci keberhasilan program.

“MBG adalah program strategis yang berkaitan langsung dengan pemenuhan gizi masyarakat, sehingga aspek kualitas, keamanan pangan, dan tata kelola harus menjadi perhatian utama,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Buol bersama Satuan Tugas MBG, lanjut Risharyudi, aktif memberikan masukan, saran, dan solusi teknis untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan program. Selain aspek gizi dan mutu makanan, perhatian serius juga diarahkan pada pengelolaan limbah.

“Seluruh SPPG agar mengelola sisa makanan dan sampah organik dengan baik. Hal ini penting mengingat operasional dapur MBG berpotensi menjadi salah satu penyumbang sampah organik dalam jumlah besar,” tegasnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa pemerintah tengah menyiapkan evaluasi dampak MBG secara komprehensif. Evaluasi tersebut menitikberatkan pada ketepatan data penerima manfaat sebagai dasar pengukuran hasil program.

Menurut dia, evaluasi akan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah MBG dilaksanakan, khususnya pada aspek pertumbuhan fisik.

“Fisiknya, pertumbuhannya, termasuk tentu pertumbuhan otak. Nanti setelah setahun-setahun bagaimana? Dua tahun bagaimana? Tiga tahun seperti apa,” ujar Zulkifli Hasan.

Dengan pengawasan yang diperketat, evaluasi berbasis data, serta keterlibatan aktif pemerintah pusat dan daerah, MBG ditegaskan tidak dibiarkan berjalan sendiri. Pemerintah optimistis program ini akan menjadi fondasi kuat dalam menciptakan generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan berdaya saing di masa depan.

Menjaga Ketahanan Energi di Papua melalui Penguatan Sektor Hulu Migas

Oleh: Sjaichul Anwari )*

Papua memiliki peran strategis dalam peta ketahanan energi nasional, terutama melalui potensi sektor hulu minyak dan gas bumi yang masih besar. Pengelolaan yang tepat menjadi kunci agar potensi tersebut dapat mendukung kemandirian energi sekaligus pembangunan wilayah timur Indonesia.

Di tengah dinamika geopolitik energi global dan fluktuasi harga migas, penguatan sektor hulu di Papua menjadi langkah antisipatif yang relevan. Upaya ini tidak hanya berkaitan dengan produksi energi, tetapi juga dengan menjaga stabilitas pasokan dan kepastian investasi jangka panjang.

Lebih dari sekadar isu ekonomi, ketahanan energi di Papua berkaitan erat dengan keadilan pembangunan dan pemerataan akses energi. Melalui penguatan sektor hulu migas yang berkelanjutan, Papua diharapkan mampu menjadi penopang ketahanan energi nasional sekaligus motor pertumbuhan daerah.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Papua memiliki potensi sumber daya energi yang besar dan strategis, baik dari sektor energi terbarukan maupun minyak dan gas bumi, yang harus dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Oleh karena itu, pemerintah terus memperkuat langkah menuju kemandirian energi nasional dengan menjadikan Papua sebagai salah satu pilar utama pengembangan ketahanan energi.

Presiden Prabowo juga menyampaikan bahwa Papua memiliki sumber energi yang sangat baik dan Menteri ESDM juga telah merancang bahwa daerah-daerah Papua harus menikmati hasil daripada energi yang diproduksi di Papua. Ia menekankan pembangunan energi di Papua tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada pemerataan manfaat bagi masyarakat setempat.

Komitmen pemerintah pusat tersebut mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Saat ini, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya menyambut positif rencana investor sektor hulu migas oleh RH Petrogas Companies in Indonesia yang dinilai mampu memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Diharapkan aktivitas usaha hulu migas Petrogas dapat berjalan optimal dan memberikat manfaat bagi daerah. Jika produksi berjalan optimal, tentu akan berdampak pada penerimaan negara maupun daerah melalui skema hasil migas, serta memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Sementara itu, koordinasi dengan pemerintah daerah menjadi bagian penting dalam mendukung peningkatan produksi energi nasional. Hal ini merupakan bagian dari kerja sama berkelanjutan guna memastikan kelancaran operasi migas serta mendukung ketahanan energi, khususnya di Papua Barat Daya.

Dukungan dalam mewujudkan ketahanan energi di Papua juga hadir dari pihak legislatif. Komisi VI DPR RI mendukung penuh terhadap langkah Presiden Prabowo Subianto yang menetapkan Papua sebagai salah satu kawasan prioritas pengembangan energi berkelanjutan nasional. Kebijakan ini merupakan kabar baik yang harus ditindaklanjuti secara serius agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat Papua.

Papua juga dinilai memiliki potensi energi yang besar dan strategis, mulai dari energi air, tenaga surya, migas, hingga sumber energi baru dan terbarukan lainnya yang dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong kesejahteraan masyarakat lokal sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Pemerintah diharapkan tidak berhenti pada tataran kebijakan, tetapi memastikan implementasi yang terukur, berkelanjutan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat daerah.

Penguatan sektor hulu migas di Papua pada akhirnya mencerminkan kehadiran negara dalam mengelola sumber daya strategis secara bertanggung jawab. Pemerintah berupaya memastikan bahwa kekayaan energi Papua tidak hanya menopang kebutuhan nasional, tetapi juga memberi dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat setempat.

Kebijakan ini juga menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang sehat dan berkelanjutan di wilayah timur Indonesia. Dengan kepastian regulasi dan sinergi pusat-daerah, sektor hulu migas di Papua diharapkan tumbuh optimal tanpa mengabaikan aspek sosial dan lingkungan.

Lebih jauh, penguatan hulu migas menjadi fondasi penting bagi pembangunan infrastruktur energi yang merata. Akses listrik dan energi yang lebih luas akan membuka peluang ekonomi baru, meningkatkan produktivitas, serta mempercepat peningkatan kualitas hidup masyarakat Papua.

Kolaborasi antara pemerintah, BUMN, swasta, dan masyarakat lokal menjadi kunci keberhasilan agenda ketahanan energi ini. Pendekatan kolaboratif tersebut menegaskan bahwa pembangunan energi di Papua tidak berjalan sepihak, melainkan berbasis kepentingan bersama.

Dengan langkah yang terarah dan komitmen yang konsisten, Papua berpotensi menjadi simbol keberhasilan pembangunan energi yang inklusif dan berkeadilan. Penguatan sektor hulu migas bukan hanya strategi energi nasional, tetapi juga jalan menuju kemandirian dan kemajuan Papua dalam bingkai NKRI.

)* Pengamat Energi Terbarukan

SDM Hilir dan Masa Depan Ketahanan Energi Indonesia

Oleh : Andhika Rachma*

Ketahanan energi nasional menjadi salah satu agenda strategis utama Pemerintah Indonesia dalam menghadapi tantangan global dan kebutuhan domestik yang terus meningkat. Pemerintah telah menetapkan sejumlah kebijakan dan inisiatif untuk memperkuat kemandirian energi, mulai dari peningkatan kapasitas produksi hingga diversifikasi sumber energi, serta percepatan hilirisasi sumber daya alam dalam rangka menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

Penguatan sumber daya manusia (SDM) di sektor hilir energi dipandang sebagai fondasi fundamental yang tidak hanya menjamin keberlangsungan produksi dan distribusi energi, tetapi juga menciptakan sumber daya yang kompeten dalam menghadapi dinamika teknologi dan pasar global. Hal ini menjadi semakin penting di tengah transformasi industri energi yang terus mengalami percepatan, termasuk digitalisasi, transisi energi bersih, dan kebutuhan untuk menurunkan ketergantungan kepada impor energi.

Peran SDM hilir dalam strategi ketahanan energi nasional terdiri dari kemampuan untuk mengelola proses pengolahan, distribusi, dan pemasaran produk energi di dalam negeri dengan mengedepankan efisiensi, inovasi, serta adaptasi terhadap teknologi baru. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) secara eksplisit menegaskan pentingnya penguatan kompetensi SDM sektor hilir migas sebagai salah satu langkah strategis menuju swasembada energi nasional.

Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, menyatakan bahwa SDM bukan sekadar aset tetap, melainkan penggerak utama yang mampu memimpin Indonesia mencapai kedaulatan energi. Upaya ini terealisasi melalui berbagai program peningkatan kapasitas dan kolaborasi dengan lembaga pendidikan tinggi seperti kerja sama antara BPH Migas dan Politeknik Energi dan Mineral Akamigas, yang bertujuan menyiapkan tenaga kerja terampil dan berpengetahuan luas sesuai kebutuhan industri hilir.

Selain itu, konteks ketahanan energi nasional juga mendorong restrukturisasi dan penataan ulang di sektor energi untuk menciptakan efisiensi yang lebih tinggi, sebagai bagian dari upaya Pemerintah. Misalnya, langkah strategis PT Pertamina (Persero) yang telah menggabungkan tiga anak usaha hilirPatra Niaga, Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan Pertamina International Shipping (PIS) menjadi satu subholding hilir.

Restrukturisasi ini tidak hanya bertujuan meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional melalui integrasi yang lebih baik dari proses hilir, mulai dari pengolahan hingga distribusi energi dalam negeri. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari transformasi korporat yang selaras dengan tujuan nasional.

Pemerintah juga menjalankan kebijakan jangka panjang melalui pembentukan Satuan Tugas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional, yang diatur dalam keputusan presiden. Satgas ini dirancang untuk menyelaraskan kebijakan dan program lintas kementerian dan lembaga, serta memastikan hambatan administrasi mampu diatasi secara terkoordinasi.

Dalam era transformasi energi dan digitalisasi, SDM hilir dituntut tidak hanya memiliki kompetensi teknis dasar, tetapi juga pemahaman mendalam terhadap tren teknologi dan praktik terbaik dalam pengelolaan energi modern. Upaya peningkatan kapasitas SDM perlu difokuskan pada kecakapan digital, pemahaman terhadap rantai nilai energi terbarukan, serta manajemen operasional yang adaptif dalam menghadapi perubahan pasar energi global. Hal ini karena ketahanan energi tidak semata-mata tentang ketersediaan sumber energi, tetapi juga bagaimana sumber itu diolah, didistribusikan, dan dimanfaatkan secara efektif untuk kebutuhan nasional serta berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan.

Direktur SDM dan Penunjangan Bisnis PT Perusahaan Gas Negara (PGN), Rachmat Hutama mengatakan Transformasi SDM bukan sekedar mengikuti tren, melainkan langkahstrategis untuk memastikan Indonesia tetap berdaulat secara energi ditengah perubahan zaman.

Pentingnya SDM hilir juga diperkuat dengan munculnya dorongan dari pemangku kepentingan sektor energi untuk mengembangkan energi alternatif seperti biomassa. Anggota DPR mendorong pengembangan biomassa sebagai pilar ketahanan energi nasional, terutama karena sumber biomassa berasal dari limbah pertanian dan perkebunan yang berlimpah di Indonesia. Keberhasilan dalam pengembangan alternatif energi yang dikelola secara lokal akan memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor energi fosil.

Untuk menjawab tantangan tersebut, kolaborasi antara pemerintah, industri, dan akademisi merupakan kunci utama. Industri energi diharapkan tidak hanya menjadi pemberi kerja, tetapi juga menjadi mitra aktif dalam menyediakan pelatihan, magang, dan jalur pembelajaran yang relevan untuk lulusan perguruan tinggi maupun tenaga kerja yang sudah berpengalaman.

Hal ini sejalan dengan upaya Kementerian Perindustrian yang gencar memperkuat kolaborasi dengan akademisi untuk menyempurnakan strategi industrialisasi nasional. Keterlibatan lembaga pendidikan tinggi dalam mengembangkan kurikulum dan riset yang relevan akan memastikan bahwa tenaga kerja masa depan siap menghadapi tantangan industri hilir yang terus berkembang.

Secara keseluruhan, penguatan SDM hilir tidak bisa dipandang terpisah dari upaya strategis memperkokoh ketahanan energi nasional. Melalui investasi dalam pendidikan, pelatihan keterampilan, kolaborasi sektor publik dan swasta, serta kebijakan yang mendorong integrasi teknologi dan inovasi, Indonesia berada pada posisi yang lebih kuat untuk menghadapi tantangan energi hari ini dan di masa depan.

Ketahanan energi yang sejati bukan hanya soal pasokan fisik energi, tetapi juga tentang kesiapan manusia yang mengelola dan mengembangkan energi sebagai modal utama kemajuan nasional di tengah persaingan global yang semakin kompleks.

)* Pengamat Publik