Sekolah Rakyat Fondasi Ketangguhan Anak Bangsa

Oleh: Nur Utunissa

Sekolah Rakyat bukan sekadar alternatif pendidikan, melainkan representasi keberanian negara dalam menjadikan pendidikan sebagai alat perubahan nasib. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto menegaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan wujud keberanian negara dalam mengubah nasib anak bangsa. Sekolah ini dipandang sebagai ruang tumbuh bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi diri secara optimal, tanpa dibatasi oleh latar belakang sosial dan ekonomi. Dengan pendekatan tersebut, pendidikan ditempatkan sebagai hak dasar sekaligus jalan pembebasan bagi anak-anak yang selama ini sulit menjangkau layanan pendidikan formal.

Keberadaan Sekolah Rakyat menjadi semakin relevan di tengah realitas kesenjangan pendidikan antara wilayah dan kelompok sosial. Masih banyak anak yang terancam putus sekolah atau tidak mendapatkan layanan pendidikan yang layak akibat faktor kemiskinan, jarak, dan keterbatasan fasilitas. Sekolah Rakyat menjawab persoalan tersebut melalui pendekatan inklusif dan adaptif yang menyesuaikan dengan kebutuhan nyata masyarakat, sehingga pendidikan menjadi lebih dekat, terjangkau, dan bermakna.

Dalam praktiknya, Sekolah Rakyat mengedepankan pembelajaran yang kontekstual dan membumi. Kurikulum dirancang agar selaras dengan realitas kehidupan peserta didik, sehingga proses belajar tidak terlepas dari lingkungan sosial mereka. Anak-anak diajak mengenali potensi diri, memahami lingkungan sekitar, serta mengembangkan keterampilan hidup yang relevan. Pendekatan ini mendorong peserta didik menjadi subjek aktif dalam proses pembelajaran, bukan sekadar penerima materi.

Dari sisi akademik, Sekolah Rakyat tetap mengacu pada standar pendidikan nasional. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti memastikan bahwa Sekolah Rakyat telah berjalan sesuai dengan kurikulum yang disiapkan pemerintah. Kurikulum tersebut dirancang fleksibel untuk mengakomodasi keberagaman latar belakang peserta didik, termasuk perbedaan usia, kemampuan, dan pengalaman belajar sebelumnya, sehingga proses pendidikan tetap terarah namun tidak kaku.

Dukungan terhadap tenaga pendidik menjadi aspek penting dalam keberhasilan Sekolah Rakyat. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah berkomitmen mendukung penyiapan dan pemenuhan guru Sekolah Rakyat melalui pelatihan khusus. Para guru dibekali pemahaman mengenai kurikulum multi-entry dan multi-exit yang memungkinkan peserta didik masuk dan keluar dari sistem pendidikan sesuai dengan kondisi masing-masing. Dengan pendekatan ini, proses pembelajaran diharapkan mampu menjawab kebutuhan siswa yang beragam secara lebih adil dan efektif.

Lebih dari sekadar penguatan akademik, Sekolah Rakyat berperan besar dalam pembentukan karakter dan ketahanan mental anak. Ketangguhan anak bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan kognitif, tetapi juga oleh nilai-nilai seperti disiplin, empati, kerja sama, dan daya juang. Lingkungan belajar yang humanis dan partisipatif memungkinkan anak-anak tumbuh dengan rasa percaya diri serta keberanian menghadapi tantangan hidup.

Pendidikan karakter menjadi pilar penting dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat. Nilai kebangsaan, gotong royong, toleransi, dan tanggung jawab sosial ditanamkan secara konsisten dalam kegiatan belajar maupun aktivitas keseharian. Anak-anak diajak memahami jati dirinya sebagai bagian dari bangsa yang majemuk, sehingga tumbuh kesadaran untuk menjaga persatuan dan memperkuat kohesi sosial sejak dini.

Selain itu, Sekolah Rakyat juga menaruh perhatian pada penguatan keterampilan dasar yang relevan dengan masa depan. Literasi, numerasi, serta kemampuan berpikir kritis dan kreatif menjadi fokus utama. Anak-anak dilatih untuk memecahkan masalah, berkomunikasi secara efektif, dan bekerja sama dalam tim. Keterampilan ini menjadi bekal penting dalam menghadapi perubahan sosial dan tantangan dunia kerja yang terus berkembang.

Ketangguhan anak bangsa juga berkaitan erat dengan kesehatan fisik dan mental. Sekolah Rakyat mengintegrasikan pendekatan kesejahteraan dalam proses pendidikannya melalui penciptaan lingkungan belajar yang aman, ramah anak, dan mendukung tumbuh kembang. Dengan demikian, peserta didik dapat belajar secara optimal tanpa tekanan berlebihan, sekaligus memiliki ruang untuk mengekspresikan diri dan mengembangkan potensi secara utuh.

Dalam perspektif yang lebih luas, Sekolah Rakyat memiliki fungsi strategis sebagai pintu masuk intervensi sosial yang terintegrasi. Menteri Sosial Republik Indonesia, Saifullah Yusuf menegaskan bahwa Sekolah Rakyat tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga menjadi sarana awal bagi pelaksanaan intervensi sosial yang lebih komprehensif. Melalui sekolah ini, pemerintah memiliki ruang untuk menyinergikan layanan kesehatan, penyaluran bantuan sosial, serta program pemberdayaan keluarga secara lebih terkoordinasi.

Pendekatan lintas sektor tersebut memperkuat peran Sekolah Rakyat dalam memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Ketika pendidikan berjalan seiring dengan perlindungan sosial dan pemberdayaan keluarga, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh peserta didik, tetapi juga oleh keluarga dan komunitas di sekitarnya. Dalam jangka panjang, hal ini akan berkontribusi pada terbentuknya masyarakat yang lebih sejahtera dan berdaya saing.

Pada akhirnya, Sekolah Rakyat merupakan fondasi strategis dalam membangun ketangguhan anak bangsa. Melalui pendidikan yang inklusif, berkarakter, dan terintegrasi dengan intervensi sosial, Sekolah Rakyat membuka jalan bagi lahirnya generasi yang tangguh, percaya diri, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Investasi pada Sekolah Rakyat adalah investasi pada masa depan Indonesia, di mana setiap anak memiliki kesempatan yang adil untuk tumbuh, belajar, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

*) Penulis adalah Penulis adalah Pegiat Literasi pada Narasi Nusa Institute

Ketahanan Energi Papua Perkuat Keadilan Pembangunan dan Kemandirian Nasional

Papua – Pemerintah terus mempercepat agenda ketahanan energi di Papua sebagai bagian dari strategi nasional untuk mewujudkan pembangunan yang berkeadilan, inklusif, dan berkelanjutan. Ketahanan energi di Papua diposisikan sebagai fondasi utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, memperkuat layanan publik, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara merata.

Papua dengan kondisi geografis yang beragam memerlukan kebijakan energi yang terintegrasi dan berorientasi jangka panjang. Pemerintah memastikan bahwa penyediaan energi tidak hanya berfokus pada pusat-pusat pertumbuhan, tetapi menjangkau seluruh wilayah hingga daerah terpencil. Pendekatan ini mencerminkan komitmen negara dalam menghadirkan keadilan pembangunan di seluruh pelosok Tanah Air.

Salah satu langkah strategis yang terus diperkuat adalah pengembangan energi baru dan terbarukan berbasis potensi lokal Papua. Presiden Prabowo Subianto menempatkan Papua sebagai wilayah yang memiliki peluang besar dalam pengembangan energi nabati melalui komoditas pertanian seperti kelapa sawit, singkong, dan tebu. Kebijakan ini tidak hanya ditujukan untuk memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga membuka ruang penciptaan lapangan kerja dan pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat.

Dari sisi perencanaan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melihat Papua sebagai bagian penting dari agenda bioenergi nasional. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyampaikan bahwa Papua diproyeksikan memiliki kontribusi strategis ke depan. “Papua merupakan salah satu wilayah yang diproyeksikan berkontribusi signifikan terhadap target nasional produksi bioetanol,” ujar Eniya.

Ia menegaskan bahwa pengembangan yang dilakukan secara bertahap merupakan fondasi awal menuju sistem energi terbarukan yang berkelanjutan dan selaras dengan kondisi lingkungan setempat.

Di sisi lain, pemerintah juga memastikan penguatan energi konvensional tetap berjalan optimal. Anggota Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Erika Retnowati, menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur energi di Papua. “Peningkatan kapasitas penyimpanan BBM dan avtur menjadi langkah antisipatif untuk menjaga keandalan pasokan, terutama dalam menghadapi tantangan distribusi dan kondisi cuaca,” kata Erika.

Komitmen pemerintah tersebut didukung oleh peran aktif BUMN energi. Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga PT Pertamina Patra Niaga, Alimuddin Baso, menegaskan kesiapan perusahaan dalam menjaga keberlanjutan pasokan energi. “Pengelolaan stok BBM dan avtur dilakukan secara terukur dan berlapis agar ketersediaan energi di Papua tetap aman dan terjaga,” ujarnya.

Melalui sinergi kebijakan antara pemerintah pusat, regulator, dan BUMN, ketahanan energi Papua terus dipercepat. Upaya ini menegaskan bahwa ketahanan energi bukan sekadar soal pasokan, tetapi wujud nyata kehadiran negara dalam membangun Papua sebagai bagian integral dari kemandirian energi dan masa depan Indonesia yang berdaulat.

Ketahanan Energi di Papua Perkuat Kemandirian dan Kesejahteraan Masyarakat

Jakarta — Program ketahanan energi nasional terus dikembangkan pemerintah sebagai bagian dari strategi mendorong pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Papua. Kebijakan ini diarahkan untuk mengoptimalkan potensi sumber daya lokal agar memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.

Politisi Partai Golkar sekaligus putra asli Papua, Yance Mote, menyampaikan bahwa kebijakan ketahanan energi yang digagas pemerintah sejalan dengan kebutuhan masyarakat Papua untuk terlibat aktif dalam pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

“Kesejahteraan masyarakat Papua menjadi hal yang utama diperhatikan oleh Pemerintah Pusat. Dengan kata lain, masyarakat Papua harus diberi kesempatan untuk mengolah tanahnya sendiri yang memberi hasil positif bagi warga di sana, bukan diberikan kepada kelompok kapitalis dari luar,” ujar Yance.

Ia menilai Pemerintah Pusat telah menunjukkan keberpihakan melalui peran fasilitasi dan supervisi dalam mendorong kemandirian masyarakat.

“Pemerintah Pusat cukup mensupervisi saja dan melengkapi kebutuhan masyarakat untuk mengolah tanahnya,” kata Yance.

Yance juga menyambut baik pelantikan Anggota Dewan Energi Nasional yang diketuai oleh Bahlil Lahadalia. Menurutnya, penguatan kelembagaan energi nasional menjadi fondasi penting untuk memastikan arah kebijakan ketahanan energi berjalan terintegrasi hingga ke daerah.

Dukungan terhadap program ketahanan energi juga datang dari masyarakat Papua, seiring dengan dorongan untuk meningkatkan kapasitas dan peran ekonomi rakyat dalam pembangunan daerah.

“Bagi kami, sudah saatnya masyarakat Papua naik kelas. Dari yang tadinya sebagai obyek menjadi subyek,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, ketahanan energi di Papua dapat diimplementasikan melalui pengembangan komoditas berbasis sumber daya lokal seperti kopi, tebu, cokelat, cengkeh, dan pala yang terintegrasi dengan agenda hilirisasi nasional.

“Nanti hasil panennya akan dijual kembali kepada pemerintah, bisa dilakukan hilirisasi maupun untuk keperluan ekspor,” urainya.

Skema ini dinilai mampu menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan energi dan ekonomi daerah.

Selain itu, Yance menilai keterlibatan langsung masyarakat dalam pengelolaan lahan akan memperkuat perlindungan lingkungan serta menjaga keberlanjutan tanah adat.

“Selain itu, masyarakat tentu akan berjuang sungguh-sungguh mengelola lahannya karena akan mendapat hasil. Dengan kata lain, rakyat akan naik kelas dengan terlibat langsung dengan program ketahanan energi,” pungkasnya. #

Swasembada Energi, Jalan Papua Naik Kelas dan Mandiri Ekonomi

Oleh: Lua Murib

Swasembada energi semakin menempati posisi strategis dalam agenda pembangunan nasional, dan Papua memiliki peluang besar untuk menjadi motor penggerak dalam mewujudkan kemandirian tersebut. Dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, bentang geografis yang mendukung energi terbarukan, serta posisi geopolitik yang penting di kawasan timur Indonesia, Papua dapat melangkah naik kelas dari sekadar wilayah kaya potensi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis energi. Gagasan swasembada energi di Papua bukan hanya soal penyediaan listrik atau bahan bakar, tetapi menyangkut transformasi ekonomi daerah, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta penguatan kedaulatan nasional di bidang energi.

Arah kebijakan pemerintah yang mendorong Papua mencapai swasembada energi sejalan dengan visi besar pembangunan berbasis potensi lokal. Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa Papua tidak cukup hanya swasembada pangan, tetapi juga perlu mandiri dalam energi agar setiap daerah mampu berdiri di atas kekuatan sendiri. Pandangan tersebut berangkat dari keyakinan bahwa Papua memiliki sumber energi yang sangat baik, baik energi konvensional maupun terbarukan, dan hasil produksinya harus dapat dinikmati oleh masyarakat Papua sendiri. Pemerintah melalui Kementerian ESDM juga telah merancang skema agar daerah-daerah di Papua menjadi bagian utama dari rantai produksi dan pemanfaatan energi di wilayahnya.

Pemanfaatan energi surya dan tenaga air menjadi solusi rasional untuk menjawab tantangan geografis Papua yang luas dan banyak memiliki wilayah terpencil. Teknologi energi terbarukan yang semakin terjangkau membuka peluang elektrifikasi yang lebih merata tanpa harus bergantung pada distribusi BBM yang mahal dan kompleks. Dengan pendekatan ini, desa-desa di pegunungan, pesisir, dan pulau-pulau kecil dapat memperoleh akses energi yang stabil, yang pada akhirnya mendorong aktivitas ekonomi lokal seperti pengolahan hasil pertanian, perikanan, dan usaha mikro. Energi yang hadir secara konsisten akan memicu tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru di luar kota-kota besar.

Dorongan swasembada energi juga berkaitan erat dengan upaya mengurangi beban impor BBM nasional yang nilainya ratusan triliun rupiah. Ketika ketergantungan impor dapat ditekan secara bertahap, ruang fiskal negara menjadi lebih longgar untuk dialihkan ke pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan di daerah. Presiden memandang bahwa penghematan dari pemangkasan impor energi dapat berdampak besar hingga ke tingkat kabupaten. Dalam konteks Papua, hal ini berarti peluang percepatan pembangunan yang lebih merata dan berkelanjutan.

Namun, swasembada energi di Papua tidak boleh hanya dimaknai sebagai proyek teknokratis dari pusat. Dimensi sosial dan kultural Papua harus menjadi pertimbangan utama. Di sinilah pentingnya menempatkan masyarakat asli Papua sebagai subjek utama pembangunan. Politisi muda Papua Yance Mote menekankan bahwa kesejahteraan masyarakat Papua harus menjadi prioritas, dan masyarakat perlu diberi kesempatan mengolah tanahnya sendiri dengan dukungan pemerintah. Pandangan ini memperkuat gagasan bahwa swasembada energi akan berhasil jika berbasis pada pemberdayaan masyarakat, bukan semata investasi besar dari luar.

Konsep menjadikan masyarakat sebagai subjek berarti membuka ruang kepemilikan, partisipasi, dan manfaat ekonomi langsung bagi warga. Usulan pengembangan komoditas seperti kopi, tebu, cokelat, cengkeh, dan pala menunjukkan bahwa swasembada energi dapat diintegrasikan dengan penguatan sektor perkebunan rakyat. Tanaman-tanaman tersebut tidak hanya bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga dapat menjadi bahan baku industri hilir, termasuk bioenergi. Ketika setiap keluarga diberi akses bibit dan pendampingan, tercipta fondasi ekonomi kerakyatan yang kuat sekaligus menjaga hak atas tanah adat.

Pendekatan berbasis masyarakat juga berpotensi menekan konflik lahan dan kerusakan lingkungan. Jika masyarakat menjadi pelaku utama, mereka memiliki kepentingan langsung untuk menjaga kelestarian hutan dan tanah ulayat. Skema kerja sama yang adil antara pemerintah, BUMN, dan masyarakat dalam pengolahan komoditas energi seperti kelapa sawit dapat diarahkan pada model plasma rakyat, bukan konsesi besar yang meminggirkan warga lokal. Dengan demikian, pembangunan energi tidak bertentangan dengan prinsip keberlanjutan dan keadilan sosial.

Lebih jauh, swasembada energi dapat menjadi pintu masuk industrialisasi Papua. Ketersediaan energi yang cukup dan murah merupakan prasyarat utama tumbuhnya industri pengolahan. Papua tidak harus selamanya mengekspor bahan mentah. Dengan energi yang memadai, hilirisasi produk pertanian, perkebunan, dan tambang dapat dilakukan di dalam wilayah Papua, menciptakan lapangan kerja dan nilai tambah. Ini sejalan dengan agenda nasional hilirisasi yang bertujuan mengangkat posisi Indonesia dalam rantai nilai global.

Papua yang mandiri energi juga memiliki dampak psikologis dan politik yang penting. Kemandirian memberi rasa percaya diri daerah bahwa pembangunan tidak selalu bergantung pada pasokan dari luar. Hal ini memperkuat integrasi nasional karena masyarakat merasakan langsung manfaat kehadiran negara. Otonomi khusus Papua menemukan makna konkretnya ketika diterjemahkan dalam kemandirian ekonomi dan peningkatan kesejahteraan riil.

Pada akhirnya, swasembada energi di Papua adalah jalan strategis untuk membawa Papua naik kelas. Naik kelas dalam arti ekonomi yang lebih produktif, masyarakat yang lebih sejahtera, dan daerah yang lebih mandiri. Kunci keberhasilannya terletak pada sinergi antara visi besar pemerintah pusat, perencanaan teknis yang matang, serta pemberdayaan masyarakat lokal sebagai aktor utama. Jika dikelola dengan tepat, Papua tidak hanya menjadi lumbung energi bagi dirinya sendiri, tetapi juga pilar penting ketahanan energi nasional sekaligus contoh pembangunan inklusif berbasis potensi daerah.

*penulis adalah mahasiswa Papua di Jawa Timur

Pemerintah Perkuat Ketahanan Energi Papua sebagai Fondasi Keadilan Pembangunan

Oleh : Yohanes Wandikbo )*

Ketahanan energi Papua terus menjadi perhatian serius pemerintah sebagai bagian dari agenda besar pembangunan nasional yang berkeadilan dan berkelanjutan. Papua memiliki tantangan geografis yang kompleks, mulai dari wilayah pegunungan, kepulauan, hingga keterbatasan infrastruktur, sehingga penyediaan energi tidak dapat disamakan dengan wilayah lain. Pemerintah memahami bahwa tanpa energi yang andal dan terjangkau, percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua akan sulit terwujud. Oleh karena itu, berbagai langkah strategis ditempuh secara terintegrasi untuk memastikan energi hadir secara merata hingga ke wilayah paling timur Indonesia.

Salah satu upaya penting pemerintah adalah mendorong pengembangan energi baru dan terbarukan berbasis potensi lokal Papua. Presiden Prabowo Subianto menempatkan Papua sebagai wilayah yang memiliki peluang besar dalam pengembangan komoditas pertanian yang dapat diolah menjadi energi nabati. Tanaman seperti kelapa sawit, singkong, dan tebu dipandang tidak hanya mampu mendukung ketahanan energi nasional, tetapi juga membuka ruang baru bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Kebijakan ini mencerminkan pendekatan pemerintah yang mengaitkan ketahanan energi dengan kemandirian pangan, penciptaan lapangan kerja, serta pemberdayaan masyarakat lokal.

Langkah tersebut diperkuat oleh perencanaan teknis yang disiapkan pemerintah pusat. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, memandang Papua sebagai salah satu wilayah yang diproyeksikan berkontribusi signifikan terhadap target nasional produksi bioetanol. Meski saat ini pengembangan masih berada pada tahap pembibitan dan perluasan tanaman, proses ini dinilai sebagai fondasi awal yang krusial. Pemerintah secara sadar memilih pendekatan jangka panjang agar pengembangan energi terbarukan di Papua tidak bersifat eksploitatif, melainkan berkelanjutan dan selaras dengan kondisi sosial serta lingkungan setempat.

Di sisi lain, pemerintah juga memastikan ketahanan energi Papua tetap terjaga melalui penguatan energi konvensional. Penyediaan bahan bakar minyak dan avtur tetap menjadi kebutuhan utama, terutama untuk mendukung transportasi, logistik, dan aktivitas ekonomi masyarakat. Anggota Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi, Erika Retnowati, menekankan pentingnya peningkatan kapasitas penyimpanan BBM dan avtur di Papua sebagai langkah antisipatif terhadap tantangan distribusi dan kondisi cuaca yang kerap berubah. Dengan wilayah yang kini terbagi menjadi beberapa provinsi, kebutuhan energi meningkat dan memerlukan manajemen stok yang lebih kuat.

Penguatan infrastruktur penyimpanan dipandang sebagai kunci untuk menjaga keberlanjutan pasokan, khususnya pada periode dengan tingkat konsumsi tinggi. Pemerintah memahami bahwa keterlambatan distribusi akibat cuaca atau hambatan geografis dapat berdampak langsung pada aktivitas masyarakat. Oleh karena itu, kebijakan penambahan tangki timbun menjadi bagian dari strategi nasional untuk memastikan energi selalu tersedia, sekaligus menekan biaya distribusi agar lebih efisien.

Upaya regulator tersebut berjalan seiring dengan komitmen badan usaha milik negara di sektor energi. Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga PT Pertamina Patra Niaga, Alimuddin Baso, menegaskan kesiapan perusahaan dalam menjaga keandalan pasokan BBM dan avtur di Papua. Dengan tingkat konsumsi yang cenderung meningkat, pengelolaan stok dilakukan secara terukur dan berlapis. Pemerintah melalui BUMN memastikan bahwa ketersediaan energi tidak hanya cukup dari sisi jumlah, tetapi juga terjaga secara berkelanjutan melalui distribusi rutin.

Selain menjamin pasokan, pemerintah juga memberi perhatian besar pada aspek kualitas dan tata kelola distribusi energi. Pengawasan mutu BBM dilakukan secara konsisten dengan melibatkan lembaga teknis guna memastikan masyarakat Papua memperoleh energi yang sesuai standar. Pendekatan ini mencerminkan komitmen negara dalam melindungi hak konsumen sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap layanan energi nasional.

Kunjungan dan pemantauan langsung terhadap infrastruktur kelistrikan di Papua juga menjadi bagian dari upaya menyeluruh pemerintah. Sistem kelistrikan yang andal dipandang sebagai elemen penting dalam mendukung aktivitas ekonomi, layanan publik, serta kehidupan sosial masyarakat. Dengan memastikan pembangkit, gardu induk, dan jaringan distribusi berfungsi optimal, pemerintah memperlihatkan keseriusan dalam membangun ketahanan energi yang tidak parsial, melainkan menyentuh seluruh rantai pasok.

Secara keseluruhan, upaya pemerintah mewujudkan ketahanan energi Papua menunjukkan pendekatan yang komprehensif dan berorientasi jangka panjang. Energi terbarukan dikembangkan sebagai solusi masa depan, sementara energi konvensional diperkuat untuk menjawab kebutuhan saat ini. Sinergi antara pemerintah pusat, regulator, dan BUMN menjadi bukti bahwa Papua ditempatkan sebagai bagian strategis dari agenda besar kemandirian energi nasional. Ketahanan energi Papua bukan hanya tentang pasokan, tetapi tentang kehadiran negara, keadilan pembangunan, dan masa depan Indonesia yang lebih inklusif dan berdaulat.

Pemerintah juga memandang ketahanan energi Papua sebagai instrumen strategis untuk memperkuat stabilitas sosial dan ekonomi kawasan. Ketersediaan energi yang andal diyakini mampu mendorong tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru, memperkuat layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan, serta mengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah. Dalam kerangka tersebut, kebijakan energi di Papua tidak diposisikan sebagai proyek sektoral semata, melainkan sebagai bagian dari strategi pembangunan terpadu yang saling menguatkan dengan program infrastruktur, pangan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

)* Penulis merupakan pengamat pembangunan Papua

Swasembada Energi Dipercepat, Ketergantungan Impor Kian Ditekan

Jakarta – Pemerintah mempercepat agenda swasembada energi sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto kepada Dewan Energi Nasional (DEN) untuk menekan impor BBM. Langkah ini ditegaskan sebagai strategi memperkuat kemandirian energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada pasokan luar negeri.

Ketua Harian DEN sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengatakan, Presiden Prabowo memerintahkan DEN segera menyusun strategi untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).

“Ada empat fokus Bapak Presiden, yang pertama itu adalah kedaulatan energi, itu enggak boleh ada intervensi dari pihak mana pun. Yang kedua itu adalah tentang ketahanan energi. Kita tahu ketahanan energi kita hanya 21 hari, dan ini kita akan up (tingkatkan) menjadi tiga bulan, dan ini pasti kita akan membangun storage,” kata Bahlil.

Bahlil mengatakan Presiden Prabowo juga menginstruksikan DEN agar menyusun strategi untuk memperkuat kemandirian energi, dan menyusun peta jalan menuju swasembada energi.

“Kita tahu kita hari ini masih impor BBM kurang lebih sekitar 30 juta lebih kiloliter, baik solar maupun bensin, dan yang keempat itu adalah swasembada. Pasti kami akan melakukan bertahap dan tujuan pada akhirnya itu adalah swasembada,” jelasnya.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan pembentukan DEN bertujuan mempercepat pencapaian swasembada energi nasional. Dengan adanya DEN, perlahan Indonesia mengurangi impor dan ketergantungannya terhadap negara lain.

“Harapannya dengan dilantiknya Dewan Energi Nasional hari ini, proses persiapan untuk mengejar sejumlah program prioritas dapat semakin dipercepat,” pungkas Prasetyo.

Ke depan, percepatan swasembada energi akan terus diarahkan untuk menekan ketergantungan impor secara bertahap dan berkelanjutan. Komitmen ini diharapkan memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus mengurangi kerentanan Indonesia terhadap gejolak pasokan global.

Selain penguatan kebijakan, pemerintah juga mendorong optimalisasi sumber energi domestik melalui peningkatan produksi migas, percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), serta penguatan infrastruktur pendukung. Upaya tersebut dipandang penting untuk memastikan ketersediaan energi dalam jangka panjang sekaligus mengurangi tekanan fiskal akibat tingginya belanja impor BBM. Pemerintah menilai langkah ini sejalan dengan visi pembangunan nasional yang menempatkan energi sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah Tegaskan Swasembada Energi Makin Dekat

JAKARTA – Pemerintah menegaskan komitmen kuat untuk mewujudkan swasembada energi nasional yang menjadi salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Langkah konkret terbaru ditandai dengan pelantikan 15 anggota Dewan Energi Nasional (DEN) oleh Presiden di Istana Negara, yang diharapkan mampu mempercepat proses menuju kemandirian energi Indonesia.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan, pembentukan dan penguatan peran DEN menjadi bagian penting dalam mengorkestrasi berbagai kebijakan lintas sektor di bidang energi. Menurutnya, secara teknis sejumlah program menuju swasembada energi telah dijalankan oleh kementerian terkait, namun kehadiran DEN diharapkan mampu mempercepat proses persiapan secara menyeluruh dan terintegrasi.

“Secara teknis, beberapa program untuk mencapai swasembada energi sudah dilakukan kementerian. Dengan dilantiknya Dewan Energi Nasional diharap bisa mempercepat proses-proses persiapan menuju swasembada energi,” ujar Prasetyo.

Prasetyo menambahkan, sejumlah program prioritas telah disiapkan pemerintah, mulai dari peningkatan lifting minyak dan gas bumi hingga pengalihan sumber daya energi ke energi baru dan terbarukan, seperti biofuel dan tenaga surya.

“Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi sekaligus memperkuat ketahanan nasional.” imbuhnya.

Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa arah kebijakan energi Presiden Prabowo berfokus pada kedaulatan energi, ketahanan energi, dan swasembada energi. Salah satu instrumen utama untuk mencapai target tersebut adalah penyusunan roadmap kebijakan energi nasional yang dibangun bersama Dewan Energi Nasional. Menurutnya, DEN telah bekerja mempersiapkan berbagai tahapan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), termasuk pembangunan energi baru dan terbarukan serta pengembangan pemanfaatan tenaga nuklir.

“Untuk kemandirian energi, pemanfaatan B50 akan mengurangi impor BBM. Saat ini impor kita masih sekitar 30 juta kiloliter,” kata Bahlil.

Dukungan terhadap agenda swasembada energi juga datang dari sektor hulu migas. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menilai capaian produksi minyak PGN SAKA di Wilayah Kerja Pangkah sepanjang 2025 yang melampaui target APBN sebagai kontribusi nyata dalam menjaga pasokan energi nasional. Ia menegaskan arahan Presiden agar tidak ada kebocoran sumber daya alam dan capaian tersebut terus ditingkatkan demi swasembada energi yang berkelanjutan.

Dewan Energi Nasional terdiri atas unsur pemerintah dan pemangku kepentingan. Dari unsur pemerintah, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia ditunjuk sebagai Ketua Harian DEN, dengan anggota antara lain Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian, Menteri Pertanian, Menteri Lingkungan Hidup, hingga Menteri PPN/Bappenas. Sementara dari unsur pemangku kepentingan, DEN melibatkan perwakilan akademisi, industri, teknologi, lingkungan hidup, serta konsumen, guna memastikan kebijakan energi disusun secara komprehensif dan inklusif.

Mendukung Strategi Negara Merealisasikan Swasembada Energi

Oleh : Irfan Aditya )*

Mendukung strategi negara dalam merealisasikan swasembada energi bukan sekadar pilihan kebijakan, melainkan sebuah keniscayaan sejarah bagi Indonesia sebagai bangsa besar yang dianugerahi kekayaan sumber daya alam melimpah. Energi adalah nadi pembangunan nasional. Dari sektor industri, transportasi, pertanian, hingga kebutuhan rumah tangga, seluruh aktivitas ekonomi dan sosial bertumpu pada ketersediaan energi yang cukup, terjangkau, dan berkelanjutan. Oleh karena itu, upaya negara untuk mencapai swasembada energi patut dipandang sebagai langkah strategis yang visioner, progresif, dan berpihak pada kepentingan jangka panjang rakyat.

Swasembada energi pada dasarnya mencerminkan kedaulatan bangsa dalam mengelola sumber dayanya sendiri tanpa ketergantungan berlebihan pada pasokan luar negeri. Ketergantungan impor energi, khususnya bahan bakar fosil, selama ini telah menempatkan Indonesia pada posisi rentan terhadap gejolak harga global dan tekanan geopolitik. Ketika harga minyak dunia melonjak, dampaknya langsung dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga barang dan jasa. Dengan memperkuat produksi energi nasional, negara berupaya melindungi stabilitas ekonomi domestik sekaligus menjaga daya beli rakyat.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengatakan swasembada energi merupakan instrumen penting untuk memperkuat posisi tawar Indonesia di tingkat global. Ketika pasokan energi dalam negeri terjamin, Indonesia tidak mudah terpengaruh oleh gejolak eksternal. Lebih jauh, kebijakan penghentian impor BBM bukan dimaknai sebagai langkah proteksionis semata, melainkan sebagai upaya membangun ekosistem energi yang efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Strategi negara menuju swasembada energi juga menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengoptimalkan potensi energi nasional secara menyeluruh. Indonesia memiliki cadangan energi fosil yang masih signifikan, namun juga menyimpan potensi energi baru dan terbarukan yang sangat besar, mulai dari panas bumi, tenaga air, surya, angin, hingga bioenergi. Diversifikasi sumber energi menjadi kunci agar ketahanan energi nasional tidak bergantung pada satu komoditas saja. Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa swasembada energi tidak hanya dimaknai sebagai peningkatan produksi, tetapi juga transformasi menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Kemudian dalam konteks pembangunan nasional, strategi swasembada energi memberikan efek berganda yang luas. Peningkatan kapasitas produksi dan infrastruktur energi mendorong tumbuhnya investasi, membuka lapangan kerja, serta memperkuat industri dalam negeri. Hilirisasi sektor energi, misalnya, tidak hanya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, tetapi juga menciptakan rantai ekonomi baru yang melibatkan tenaga kerja lokal, pelaku usaha nasional, dan daerah penghasil energi.

Dukungan terhadap strategi negara ini juga sejalan dengan amanat konstitusi yang menegaskan bahwa sumber daya alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Kebijakan energi yang berpihak pada kepentingan nasional mencerminkan tanggung jawab negara dalam memastikan bahwa kekayaan alam tidak hanya dieksploitasi, tetapi dikelola secara berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi generasi kini dan mendatang. Dalam kerangka ini, penguatan peran BUMN energi dan sinergi dengan sektor swasta nasional menjadi pilar penting untuk mempercepat pencapaian target swasembada.

Sementara itu, Peneliti Laboratorium Rekayasa Termal dan Sistem Energi (RTSE) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Ary Bachtiar Krishna Putra mengatakan pihaknya mendukung agenda Presiden Prabowo Subianto yang mendorong pemanfaatan energi nuklir sebagai bagian dari strategi swasembada energi nasional. Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) memiliki keunggulan teknis signifikan dibandingkan sumber energi konvensional, terutama dari sisi kapasitas dan keberlanjutan pasokan. PLTN termasuk energi bersih karena tidak menghasilkan emisi karbon dioksida dalam proses pembangkitannya. Hal tersebut membuat energi nuklir sejalan dengan target penurunan emisi nasional dan agenda transisi energi.

Tidak kalah penting, strategi swasembada energi juga memiliki dimensi sosial dan lingkungan yang kuat. Transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan merupakan bagian dari komitmen Indonesia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global. Dengan mengembangkan energi terbarukan dan meningkatkan efisiensi energi, negara tidak hanya mengurangi emisi karbon, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Akses energi yang andal dan bersih di daerah terpencil, misalnya, dapat mendorong peningkatan pendidikan, kesehatan, dan produktivitas ekonomi lokal.

Mendukung strategi negara berarti pula melibatkan seluruh elemen bangsa dalam semangat gotong royong. Pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, akademisi, media, serta masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menyukseskan agenda besar ini. Edukasi publik mengenai pentingnya efisiensi energi, penggunaan produk energi dalam negeri, serta inovasi teknologi lokal menjadi bagian integral dari upaya mencapai swasembada. Kesadaran kolektif bahwa energi adalah aset strategis bangsa akan memperkuat legitimasi dan keberlanjutan kebijakan energi nasional.

Pada akhirnya, swasembada energi bukan hanya tentang angka produksi atau kapasitas pembangkit, tetapi tentang martabat dan kemandirian bangsa. Dukungan terhadap strategi negara dalam merealisasikan swasembada energi adalah bentuk nyata cinta tanah air dan kepercayaan pada kemampuan bangsa sendiri. Dengan visi yang jelas, kebijakan yang konsisten, serta dukungan masyarakat luas, Indonesia memiliki modal kuat untuk mewujudkan kedaulatan energi. Keberhasilan agenda ini akan menjadi warisan penting bagi generasi mendatang, sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai negara berdaulat, mandiri, dan berdaya saing di tengah dinamika global.

)* Pengamat kebijakan publik

Indonesia Makin Percaya Diri Swasembada Energi Segera Tercapai

Oleh : Rivka Mayangsari )*

Langkah Indonesia menuju swasembada energi kini semakin nyata dan terukur. Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menempatkan kemandirian energi sebagai salah satu fondasi utama transformasi ekonomi nasional. Arah kebijakan tidak lagi sekadar menjaga pasokan, tetapi membangun kekuatan domestik agar Indonesia terbebas dari ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM). Strategi ini dipandang sebagai lompatan besar untuk memperkuat kedaulatan nasional sekaligus memperkokoh daya tahan ekonomi menghadapi dinamika global.

Presiden Prabowo Subianto telah memberikan instruksi tegas kepada Dewan Energi Nasional (DEN) untuk secara bertahap menghentikan impor BBM hingga Indonesia benar-benar mencapai swasembada energi. Instruksi tersebut menjadi penanda dimulainya fase baru kebijakan energi nasional yang lebih berani, mandiri, dan berorientasi jangka panjang. Energi tidak lagi dipandang semata sebagai komoditas, tetapi sebagai instrumen strategis penentu kemakmuran bangsa.

Ketua Harian DEN, Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa arahan Presiden menegaskan sektor energi sebagai fokus utama pembangunan nasional. Menurutnya, kebijakan energi ke depan dirancang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia di tengah persaingan global agar tidak bergantung pada pihak luar. Dalam kerangka ini, DEN memegang peran sentral dalam merumuskan arah kebijakan energi jangka panjang yang terintegrasi lintas sektor.

Pemerintah juga telah menyiapkan peta jalan kebijakan energi nasional yang kini memasuki tahap implementasi. Peta jalan tersebut mencakup penguatan produksi dalam negeri, modernisasi infrastruktur energi, kerja sama strategis dengan sejumlah negara, serta penataan kelembagaan pendukung sektor energi. Untuk mempercepat pelaksanaannya, pemerintah tengah menyiapkan regulasi dalam bentuk Peraturan Presiden sebagai payung hukum percepatan swasembada energi. Dengan kerangka regulasi yang kuat, pelaksanaan program diharapkan lebih konsisten dan terukur.

Optimisme menuju swasembada energi juga diperkuat oleh berbagai proyek strategis di sektor pengolahan migas. Salah satu yang paling menonjol adalah pengembangan kilang melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Proyek ini menjadi simbol kebangkitan kapasitas pengolahan energi nasional, sekaligus bukti keseriusan pemerintah membangun fondasi industri energi dari hulu hingga hilir.

Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Hendry Cahyono, menilai peningkatan kapasitas kilang dan efisiensi pengolahan bahan bakar dari proyek RDMP Balikpapan akan berdampak langsung pada penurunan ketergantungan impor BBM. Selama ini, impor energi menjadi salah satu faktor yang membebani neraca perdagangan dan fiskal negara. Dengan kapasitas pengolahan dalam negeri yang semakin besar, tekanan tersebut dapat dikurangi secara bertahap.

Menurut Hendry, peningkatan kapasitas kilang Balikpapan yang kini mampu mengolah lebih dari 300 ribu barel per hari menjadi faktor penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Produksi BBM dalam negeri yang meningkat akan membuat pasokan lebih terjamin, distribusi lebih stabil, dan harga lebih terkendali. Dampaknya tidak hanya terasa di sektor energi, tetapi juga merambat ke stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Lebih jauh, keberhasilan proyek RDMP Balikpapan juga memberikan efek psikologis positif bagi iklim investasi. Proyek energi berskala besar yang berjalan dan menunjukkan hasil akan meningkatkan kepercayaan investor terhadap kapasitas Indonesia dalam mengeksekusi proyek strategis. Ini memperkuat pesan bahwa Indonesia bukan hanya pasar energi, tetapi juga pusat produksi dan pengolahan energi yang kompetitif.

Penguatan kapasitas kilang domestik juga membuat perekonomian nasional lebih tahan terhadap gejolak harga energi global. Ketika harga minyak dunia berfluktuasi tajam, negara dengan ketergantungan impor tinggi akan lebih rentan. Sebaliknya, dengan kapasitas produksi dan pengolahan sendiri, Indonesia memiliki bantalan yang lebih kuat untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga di dalam negeri.

Arah kebijakan swasembada energi juga berjalan seiring dengan agenda transisi energi dan keberlanjutan. Pemerintah mendorong pemanfaatan sumber energi domestik yang lebih beragam, termasuk gas alam dan energi baru terbarukan, untuk memperkuat bauran energi nasional. Diversifikasi ini penting agar swasembada tidak hanya dicapai dari sisi volume, tetapi juga dari sisi kualitas dan keberlanjutan lingkungan.

Langkah menghentikan impor BBM secara bertahap bukan sekadar target teknis, melainkan simbol kemandirian bangsa. Selama puluhan tahun, ketergantungan pada energi impor menjadi titik lemah yang membatasi ruang gerak ekonomi. Kini, dengan strategi terpadu, penguatan kilang, regulasi pendukung, serta koordinasi lintas lembaga, fondasi menuju kemandirian energi dibangun semakin kokoh.

Kepercayaan diri nasional pun meningkat. Publik melihat adanya arah yang jelas, program yang konkret, dan eksekusi yang berjalan. Swasembada energi tidak lagi sekadar slogan, tetapi menjadi agenda kerja dengan tahapan yang terukur. Sinergi antara pemerintah, BUMN energi, lembaga kebijakan, dan kalangan akademisi memperkuat keyakinan bahwa target tersebut realistis untuk dicapai.

Dengan kombinasi kepemimpinan yang tegas, perencanaan strategis, dan proyek-proyek penguatan kapasitas dalam negeri, Indonesia berada di jalur yang semakin mantap menuju swasembada energi. Kemandirian ini diharapkan menjadi pengungkit besar bagi pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Indonesia pun makin percaya diri menatap masa depan sebagai bangsa yang berdaulat di bidang energi.

)* Pemerhati masalah Energi

Presiden Prabowo Pastikan Kemandirian Sikap Indonesia Ditengah Standar Ganda Global

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto mengatakan banyak negara besar kerap menerapkan standar ganda dengan melanggar prinsip demokrasi, hak asasi manusia, rule of law, dan perlindungan lingkungan yang selama ini mereka ajarkan kepada negara lain.

Menurutnya berangkat dari pengalaman sejarah Panjang, intervensi dan penjajahan, Indonesia didorong untuk bersikap waspada, memahami realitas dunia apa adanya, serta menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional dengan kepemimpinan yang sadar sejarah dan berorientasi pada keadilan global.

Pada kesempatan yang sama, Presiden mengkritik negara-negara besar yang melanggar praktik-pratik yang mereka ajarkan, dari demokrasi hingga lingkungan hidup. Kritikan itu disampaikan Prabowo saat memberikan taklimat dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026).

Awalnya, Presiden Prabowo mengungkapkan, selama ratusan tahun, bangsa Indonesia diintervensi, diganggu, dan dijajah.

“Ini harus kita mengerti, kita harus paham. Mereka yang melupakan sejarah akan dihukum oleh sejarah mereka yang melupakan sejarah akan terbelit dalam kesalahan-kesalahan yang dilakukan di masa lalu,” ujar Prabowo.

“Kenapa saya katakan itu? Saudara-saudara, karena kita mendapat kesempatan hari ini, kita dapat kesempatan untuk melihat bagaimana dunia sebenarnya, kita melihat sekarang negara-negara besar, yang mengajarkan kita untuk demokrasi, untuk hak asasi manusia, untuk the rule of law, menjaga lingkungan hidup, mereka melanggar apa yang mereka ajarkan,” lanjutnya.

Prabowo bilang, puluhan ribu wanita dan anak tidak berdosa dibantai dan banyak negara yang diam.

“Di mana hak asasi manusia, di mana demokrasi yang mereka ajarkan, karena itu saudara-saudara kita sebagai pemimpin, kita harus waspada kita harus mengerti,” pungkasnya.

Continue Reading