⁠Masuk Board of Peace, Indonesia Pilih Perjuangan Diplomasi dari Dalam

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah diplomasi berani dengan membawa Indonesia resmi bergabung ke dalam Board of Peace (BoP).

Keputusan strategis tersebut bertujuan untuk mengawal stabilitas serta rekonstruksi pasca-konflik di Gaza, Palestina, langsung dari meja perundingan internasional.

Melalui keterlibatan aktif di lembaga rintisan Amerika Serikat itu, Indonesia berkomitmen memastikan hak kemerdekaan Palestina tetap menjadi prioritas utama dunia.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, menegaskan bahwa keanggotaan tersebut merupakan manifestasi strategi diplomasi proaktif.

“Strategi yang beliau (Prabowo) pilih adalah yang disebut dengan strategy from within,” katanya.

“Jadi setelah selama ini kita berada di luar, kita sekarang mencoba berjuang dari dalam,” ujar Muhadjir usai bertemu Presiden di Istana Merdeka, Jakarta.

Ia menambahkan bahwa langkah itu tetap berpijak pada mandat konstitusi.

“Juga tetap berkomitmen kepada tujuan awal, yaitu terciptanya dua negara yang berkoeksistensi damai, yaitu negara merdeka Palestina dan Israel,” tegasnya.

Visi serupa melandasi pandangan Menteri Agraria dan Tata Ruang, Nusron Wahid.

Ia menyebut BoP sebagai satu-satunya forum konkret saat ini untuk mewujudkan perdamaian di tanah Palestina.

“Karena forum untuk melakukan perundingan perdamaian di Palestina dan Gaza, itu satu-satunya hari ini adalah di BoP,” kata Nusron.

Ia menekankan agar publik memberi kesempatan pada upaya tersebut sebelum menghakimi hasilnya.

“Posisi Pak Presiden, bangsa Indonesia sudah menerima BoP ini sebagai sarana, sebagai ikhtiar menuju perdamaian. Setidaknya ikhtiar ini dicoba dulu,” ucapnya.

“Jangan sampai ikhtiar dan usahanya belum dilakukan, sudah diminta untuk keluar terlebih dahulu,” tuturnya.

Melengkapi perspektif tersebut, pengamat hubungan internasional Subhan Yusuf menilai keterlibatan itu sebagai langkah taktis menghadapi kebuntuan diplomasi global.

“Yang utamanya adalah Indonesia hadir untuk berperan dalam ‘addressing the elephant in the room’, di tengah masalah yang nyata seperti pendekatan diplomatis terus terhambat,” jelas Subhan.

Ia menekankan bahwa keanggotaan tersebut bukanlah aliansi militer yang mengikat kedaulatan negara.

“BoP bukan aliansi militer seperti NATO. Jadi Indonesia sebagai anggota dari BoP tidak bertanggung jawab atas kebijakan luar negeri Amerika Serikat,” pungkasnya.

Melalui posisi itu, Indonesia kini memiliki ruang lebih luas untuk menyuarakan keadilan bagi Palestina secara langsung di jantung pengambilan keputusan. (*)

Langkah Presiden Prabowo di Board of Peace Buka Peluang Perdamaian Dunia

JAKARTA – Presiden RI Prabowo Subianto mengambil langkah diplomasi berani dengan menandatangani Piagam Board of Peace (BoP) di Davos, Swiss.

Langkah strategis tersebut menandai era baru peran aktif Indonesia dalam mewujudkan stabilitas global, terutama dalam mengupayakan kemerdekaan Palestina melalui jalur formal internasional.

Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi, Bisnis, dan Industri Halal, Muhadjir Effendy, menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan hasil komunikasi mendalam dengan para pemimpin dunia.

Beliau menyebut Presiden Prabowo memilih strategi struggle from within untuk memperjuangkan keadilan dari dalam sistem.

“Jadi beliau menegaskan bahwa keterlibatan beliau di BoP itu tidak serta-merta, tetapi sudah melalui proses yang panjang, sudah dibicarakan dengan beberapa pimpinan negara yang ada di wilayah, terutama wilayah Teluk, yang kemudian sepakat untuk bergabung,” ujar Muhadjir di Istana Kepresidenan, Kamis (05/03/2026).

Muhadjir menambahkan bahwa komitmen terhadap solusi dua negara tetap menjadi kompas utama.

“Tujuan BoP itu adalah terciptanya negara Palestina, berkoeksistensi dengan Israel. Saya kira itu yang jadi pegangan kita,” imbuhnya.

Senada dengan hal tersebut, Menteri Agraria dan Tata Ruang, Nusron Wahid, menekankan bahwa pemerintah mengedepankan dialog daripada konfrontasi fisik.

Sebagai Ketua MUI Bidang Penanggulangan Bencana, ia meyakini efektivitas diplomasi dalam meminimalisir jatuhnya korban jiwa.

“Pemerintah tidak anti kritik, kita mendengarkan sambil mencermati keadaan, tetapi kita akan membuktikan di lapangan bahwa diplomasi ini jalan terbaik untuk menciptakan perdamaian, bukan dengan jalan peperangan,” ucap Nusron dengan optimis.

Sementara itu, Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, melihat keanggotaan Indonesia di BoP sebagai instrumen vital untuk meredam eskalasi konflik di Timur Tengah.

Ia menilai posisi Indonesia sangat tawar dalam menekan kekuatan besar agar menghentikan kekerasan.

“Semua itu nantinya akan bisa menjadi instrumen untuk menjadikan BoP ini justru wahana mendorong terjadinya deeskalasi dan perdamaian dari perang yang sekarang sedang terjadi terkait dengan Iran,” jelas Yahya.

Partisipasi Indonesia dalam BoP mencakup kesiapan mengirimkan 8.000 pasukan perdamaian serta peran sebagai Wakil Komandan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF).

Mandat tersebut memperkuat fokus pada rekonstruksi Gaza dan penghentian kekerasan secara permanen.

Keterlibatan itu menjadi bukti nyata bahwa kepemimpinan Presiden Prabowo mampu membawa suara kemanusiaan ke meja perundingan tertinggi dunia demi mewujudkan tatanan global yang lebih adil dan damai. (*)

Pengawasan dan Transparansi MBG Jadi Prioritas Utama Pemerintah

Jakarta – Pemerintah menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan gizi masyarakat.

Melalui penguatan pengawasan dan transparansi program MBG, pemerintah berupaya memastikan setiap penggunaan anggaran publik benar-benar memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas gizi masyarakat, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sonny Sonjaya, menjelaskan seluruh mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diwajibkan untuk mengunggah menu program Makan MBG lewat media sosial sebagai bagian dari transparansi kepada masyarakat.

“BGN telah memerintahkan seluruh SPPG membuat media sosial sebagai sarana komunikasi antara SPPG dan masyarakat, dan wajib mengunggah menu makanan, kadar gizi serta harga,” ujar Sonny.

Ia menambahkan, langkah tersebut diambil untuk memastikan masyarakat dapat melihat secara transparan kualitas serta komposisi makanan yang diberikan kepada penerima manfaat program.

Di sisi lain, BGN juga mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasional 492 SPPG di wilayah Sumatra mulai 9 Maret 2026. Adapun kebijakan ini diambil karena ratusan dapur layanan tersebut belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS) yang menjadi standar kelayakan dalam pengelolaan makanan.

Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah I BGN, Harjito, menyatakan keputusan tersebut merupakan bagian dari dari penegakan standar keamanan dan kelayakan dapur dalam pelaksanaan program MBG.

“Suspend (penghentian sementara) ini merupakan langkah korektif agar seluruh dapur yang beroperasi benar-benar memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan. Karena program ini menyangkut kesehatan masyarakat, sehingga standar keamanan pangan tidak boleh ditawar,” tegas Harjito.

Langkah penghentian sementara tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat pengawasan pelaksanaan program MBG. Melalui penertiban ini, pemerintah ingin memastikan seluruh fasilitas penyedia makanan bagi penerima manfaat telah memenuhi standar kebersihan, keamanan, serta kualitas pangan sebelum kembali beroperasi.

BGN menegaskan bahwa kebijakan tersebut bersifat sementara hingga seluruh SPPG yang terdampak melengkapi persyaratan sertifikasi yang sudah ditetapkan. Dengan demikian, pelaksanaan program MBG diharapkan dapat berjalan lebih tertib, aman, dan tetap menjamin kualitas makanan yang diberikan kepada masyarakat, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.

Pemerintah Serius Awasi MBG dari Pusat hingga Akar Rumput

Jakarta – Pemerintah memperkuat pengawasan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) seiring dengan perluasan cakupan program di berbagai daerah. Pengawasan dilakukan di tingkat pusat serta melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat.

Hingga akhir Februari 2026, program MBG tercatat telah menjangkau sekitar 61,2 juta penerima manfaat di 38 provinsi melalui lebih dari 24 ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Pemerintah menargetkan jumlah penerima manfaat dapat mencapai 82,9 juta orang pada akhir 2026, mencakup pelajar, ibu hamil, serta kelompok rentan lainnya.

Seiring dengan perluasan jangkauan tersebut, pemerintah menilai pengawasan menjadi elemen penting agar kualitas makanan, distribusi, hingga penggunaan anggaran berjalan sesuai standar. Berbagai pihak mulai dari kementerian, pemerintah daerah, hingga lembaga pengawas dilibatkan untuk memastikan program ini berjalan akuntabel dan berkelanjutan.

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, menegaskan bahwa pengawasan terhadap dapur MBG tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Menurutnya, keterlibatan pemerintah daerah hingga tingkat paling bawah sangat diperlukan untuk memastikan kualitas layanan tetap terjaga.

“Bupati, camat, sampai lurah boleh ikut mengawasi dapur-dapur MBG. Ini penting agar pelaksanaannya benar-benar sesuai standar dan masyarakat juga bisa melihat langsung prosesnya,” ujar Nanik.

Ia menambahkan bahwa pendekatan kolaboratif tersebut bertujuan membangun sistem pengawasan yang terbuka. Dengan keterlibatan berbagai pihak, potensi kesalahan dalam pelaksanaan dapat segera diperbaiki dan kualitas pelayanan kepada masyarakat tetap terjaga.

Di sisi lain, pemerintah juga menilai kritik dari masyarakat sebagai bagian penting dalam memperkuat pengawasan program.

Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah RI, Hariqo Wibawa Satria, menilai partisipasi publik justru menjadi energi positif bagi penyempurnaan program.

“Kritik dari masyarakat justru menjadi bagian dari pengawasan publik yang penting. Pemerintah terbuka terhadap masukan karena tujuan utama program ini adalah memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang layak,” kata Hariqo.

Menurutnya, keterbukaan informasi dan pengawasan publik akan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap program strategis ini. Pemerintah juga terus mendorong transparansi dalam pelaksanaan MBG, termasuk melalui sistem pelaporan serta keterlibatan masyarakat dalam memantau implementasi di lapangan.

Program MBG tidak hanya menjadi kebijakan pemerintah semata, tetapi juga gerakan nasional untuk meningkatkan kualitas generasi masa depan. Pengawasan yang kuat, transparansi pelaksanaan, serta keterlibatan masyarakat menjadi fondasi penting agar MBG dapat berjalan secara berkelanjutan.*

MBG dan Transparansi Pemerintah Layak Mendapat Apresiasi

Oleh Andita Marlan )*

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah merupakan salah satu kebijakan strategis dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia sejak usia dini. Program ini tidak hanya dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok rentan, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi pembangunan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif di masa depan. Untuk pembangunan nasional yang berorientasi jangka panjang, kehadiran program MBG patut diapresiasi karena menunjukkan komitmen kuat pemerintah untuk memastikan bahwa setiap warga negara memiliki akses terhadap makanan bergizi yang memadai. Lebih dari sekadar program bantuan, MBG adalah bentuk investasi negara dalam memperkuat kualitas generasi penerus bangsa.

Langkah pemerintah untuk memastikan pelaksanaan program ini berjalan transparan dan akuntabel menjadi aspek yang sangat penting dalam menjaga kepercayaan publik. Salah satu inovasi yang dilakukan adalah kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN) yang mewajibkan setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memiliki akun media sosial resmi di berbagai platform seperti Facebook, Instagram, dan TikTok. Kebijakan ini membuka ruang partisipasi publik dalam melakukan pengawasan terhadap kualitas makanan yang disajikan setiap hari kepada para penerima manfaat. Wakil Kepala BGN, Sony Sanjaya, menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat secara langsung dalam mengevaluasi program merupakan bagian dari mekanisme pengawasan yang efektif. Dengan adanya publikasi rutin terkait menu makanan, kualitas gizi, hingga rincian harga, masyarakat dapat menilai secara langsung apakah program tersebut telah dijalankan sesuai standar yang telah ditetapkan.

Pendekatan transparansi melalui media sosial ini mencerminkan upaya pemerintah untuk membangun sistem pelayanan publik yang terbuka dan partisipatif. Dalam praktiknya, transparansi tidak hanya sekadar membuka informasi kepada publik, tetapi juga menciptakan tanggung jawab moral bagi para pengelola program agar selalu memberikan pelayanan terbaik. Situasi ini pada akhirnya mendorong para pengelola program untuk menjaga kualitas layanan secara konsisten, karena setiap kekurangan akan dengan mudah diketahui oleh publik.

Upaya memperkuat transparansi juga terlihat dari kebijakan yang diterapkan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X memberikan arahan agar dilakukan evaluasi menu sekaligus peningkatan keterbukaan informasi terkait harga makanan dalam program MBG. Implementasi kebijakan ini diwujudkan melalui pencantuman label pada setiap paket makanan yang berisi rincian harga masing-masing komponen serta informasi kandungan gizi yang terdapat di dalamnya. Langkah ini menjadi bentuk konkret transparansi yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengetahui secara jelas kualitas makanan yang diterima oleh para siswa.

Keterbukaan informasi tersebut sekaligus menjawab berbagai kekhawatiran yang sempat muncul di tengah masyarakat mengenai kualitas dan pengelolaan program MBG. Dengan adanya informasi yang jelas mengenai komposisi makanan dan nilai gizi yang disajikan, masyarakat dapat menilai secara objektif apakah program tersebut telah berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Transparansi seperti ini tidak hanya memperkuat akuntabilitas, tetapi juga meningkatkan rasa percaya masyarakat terhadap komitmen pemerintah dalam menjalankan program sosial secara profesional dan bertanggung jawab.

Di sisi lain, dukungan terhadap program MBG juga datang dari lembaga legislatif. Anggota Komisi IX DPR RI, Indah Kurniawati, menegaskan bahwa DPR akan terus melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program tersebut agar dapat berjalan optimal dan tepat sasaran. Ia menilai bahwa pengawasan yang kuat dari berbagai pihak, termasuk masyarakat, merupakan faktor penting dalam memastikan bahwa program ini benar-benar memberikan manfaat bagi penerima. Menurut Indah Kurniawati, partisipasi publik dalam mengawasi implementasi program di lapangan akan memperkuat transparansi sekaligus meningkatkan kualitas pelaksanaan kebijakan pemerintah.

Lebih jauh, Indah Kurniawati juga menekankan bahwa program MBG memiliki nilai strategis sebagai investasi jangka panjang negara dalam menciptakan generasi yang unggul. Pemenuhan gizi yang baik sejak masa kanak-kanak bahkan sejak masa kehamilan menjadi faktor penting dalam membentuk kualitas kesehatan, kecerdasan, dan daya saing generasi masa depan. Oleh karena itu, program MBG tidak dapat dipandang semata sebagai bantuan sosial, tetapi sebagai bagian dari strategi besar pembangunan sumber daya manusia Indonesia menuju masa depan yang lebih maju.

Keberadaan Badan Gizi Nasional sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam mengoordinasikan program ini juga menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memperkuat tata kelola kebijakan pemenuhan gizi secara nasional. Kehadiran lembaga tersebut diharapkan mampu memastikan bahwa berbagai program pemenuhan gizi dapat berjalan secara terintegrasi, efektif, dan tepat sasaran. Dengan sistem pengawasan yang melibatkan pemerintah, parlemen, dan masyarakat, pelaksanaan program MBG memiliki peluang besar untuk terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari kualitas pelaksanaan program tersebut. Transparansi yang diterapkan melalui berbagai mekanisme pengawasan publik merupakan langkah maju dalam membangun tata kelola pemerintahan yang terbuka dan akuntabel. Dengan dukungan masyarakat serta komitmen kuat dari pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan, program MBG dapat menjadi fondasi penting dalam menciptakan generasi Indonesia yang sehat, kuat, dan siap menghadapi tantangan global di masa depan.

)* penulis merupakan pengamat kebijakan publik

Transparansi MBG: Bukti Pemerintahan Prabowo Kelola Program Rakyat dengan Hati dan Integritas

Oleh: Alexander Royce*)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sejak awal dirancang bukan sekadar sebagai kebijakan sosial, melainkan sebagai investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia. Program ini menargetkan pemenuhan gizi jutaan anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, serta balita di berbagai wilayah Tanah Air. Dalam perjalanannya, MBG tidak hanya menghadirkan manfaat kesehatan dan sosial, tetapi juga menunjukkan bagaimana pemerintah berupaya membangun tata kelola program publik yang transparan dan akuntabel.

Sejak diluncurkan secara bertahap pada 2025, MBG berkembang pesat dengan dukungan jaringan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai daerah. Pada awal 2026 saja, lebih dari 19 ribu SPPG telah beroperasi untuk melayani puluhan juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Program ini bahkan telah menjangkau sekitar 55 juta hingga lebih dari 58 juta penerima manfaat, menjadikannya salah satu program intervensi gizi terbesar yang pernah dijalankan pemerintah Indonesia.

Besarnya skala program tentu menuntut tata kelola yang baik agar kepercayaan publik tetap terjaga. Di sinilah pemerintah menunjukkan komitmennya terhadap transparansi. Alih-alih menutup informasi, pengelola MBG justru mendorong keterbukaan dalam berbagai aspek, mulai dari pengadaan bahan makanan, komposisi menu, hingga penggunaan anggaran.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menekankan bahwa transparansi menjadi fondasi penting dalam penyelenggaraan program MBG. Ia mendorong seluruh dapur SPPG untuk mempublikasikan menu harian melalui media sosial atau saluran komunikasi publik lainnya. Langkah ini bertujuan agar masyarakat dapat melihat langsung jenis makanan yang disajikan kepada para penerima manfaat, sekaligus memastikan bahwa standar gizi yang ditetapkan pemerintah benar-benar diterapkan di lapangan. Menurutnya, keterbukaan informasi ini merupakan bagian dari upaya membangun kepercayaan publik serta memastikan program berjalan secara akuntabel.

Pendekatan transparansi tersebut juga memperlihatkan bahwa pemerintah tidak alergi terhadap pengawasan publik. Dengan membuka informasi menu dan aktivitas dapur MBG secara rutin, masyarakat dapat ikut mengawasi kualitas program. Model pengawasan sosial seperti ini menjadi bukti bahwa pemerintah ingin menjadikan MBG sebagai program publik yang partisipatif, bukan sekadar kebijakan yang berjalan secara tertutup.

Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya, juga menegaskan pentingnya keterbukaan dalam pengelolaan program MBG, terutama terkait isu anggaran dan pengadaan bahan pangan. Ia menjelaskan bahwa setiap SPPG didorong untuk mempublikasikan informasi mengenai harga bahan makanan serta komposisi menu yang digunakan. Transparansi tersebut diharapkan dapat mencegah munculnya spekulasi atau informasi yang tidak akurat mengenai pengelolaan anggaran program.

Menurutnya, MBG sejak awal tidak dirancang sebagai skema bisnis yang mengejar keuntungan, melainkan sebagai instrumen pelayanan publik yang berorientasi pada kualitas gizi masyarakat. Oleh karena itu, sistem anggaran dan insentif di dalamnya dirancang agar tetap efisien namun tetap akuntabel. Bahkan, BGN menegaskan bahwa pagu anggaran sekitar Rp15 ribu per menu sudah mencakup berbagai komponen operasional, termasuk insentif bagi penyelenggara SPPG, sehingga tidak ada ruang bagi praktik manipulasi anggaran seperti yang sering dispekulasikan di ruang publik.

Penjelasan ini sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah berupaya menjaga integritas program melalui tata kelola yang jelas dan terbuka. Dengan informasi yang dipublikasikan secara transparan, masyarakat dapat memahami bahwa dana negara digunakan untuk memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan makanan bergizi dengan standar yang terukur.

Di tingkat operasional, praktik transparansi juga terlihat langsung di lapangan. Asisten Lapangan SPPG Kademangan 2, Sekar Ayu Bulan Firdaus, menggambarkan bagaimana dapur MBG tidak hanya menyiapkan makanan, tetapi juga menyampaikan informasi terkait harga menu dan kandungan gizi kepada publik. Dengan memaparkan komposisi bahan makanan serta nilai gizinya, masyarakat dapat mengetahui bahwa setiap menu dirancang berdasarkan kebutuhan nutrisi penerima manfaat.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa program MBG tidak hanya fokus pada distribusi makanan, tetapi juga pada edukasi gizi. Ketika masyarakat mengetahui kandungan gizi dari menu yang disajikan, mereka sekaligus memperoleh pemahaman tentang pola makan sehat. Dengan demikian, MBG tidak sekadar memberikan makanan gratis, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya gizi bagi generasi masa depan.

Selain itu, program MBG juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Sebagian besar anggaran program dialokasikan untuk pembelian bahan pangan yang berasal dari produk pertanian domestik. Dengan demikian, program ini tidak hanya meningkatkan status gizi masyarakat, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi di tingkat lokal melalui keterlibatan petani, nelayan, serta pelaku usaha kecil di berbagai daerah.

Dalam konteks pembangunan nasional, MBG menunjukkan pendekatan kebijakan yang holistik. Program ini tidak hanya menyasar persoalan gizi, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal, meningkatkan kualitas pendidikan melalui kesehatan siswa, serta membangun budaya transparansi dalam pengelolaan program publik.

Di tengah dinamika informasi yang cepat dan sering kali dipenuhi spekulasi, langkah pemerintah membuka akses informasi mengenai menu, anggaran, dan operasional MBG menjadi sinyal kuat bahwa program ini dijalankan dengan integritas. Transparansi yang diterapkan bukan sekadar strategi komunikasi, tetapi merupakan bagian dari tata kelola yang ingin memastikan setiap rupiah anggaran negara benar-benar memberikan manfaat nyata bagi rakyat.

*) Penulis merupakan Pengamat Sosial

BoP Masih Menjadi Ruang Diplomasi Indonesia untuk Palestina

Oleh: Dananta Prawira *)

Dinamika geopolitik di Timur Tengah sering kali memicu reaksi emosional yang kuat di dalam negeri, terutama ketika berkaitan dengan isu kemerdekaan Palestina. Belakangan ini, muncul desakan dari berbagai pihak agar Pemerintah Indonesia segera menyatakan keluar dari keanggotaan Board of Peace (BoP). Namun, dalam menavigasi kebijakan luar negeri yang kompleks, keputusan strategis tidak boleh diambil berdasarkan tekanan sesaat atau sentimen reaktif. Langkah Indonesia untuk tetap bertahan dan mengkaji posisi di dalam BoP merupakan cerminan dari diplomasi yang matang, objektif, dan terukur demi kepentingan jangka panjang bangsa Palestina itu sendiri.

Sikap tenang pemerintah dalam menghadapi desakan ini sejatinya selaras dengan mandat konstitusi UUD 1945 untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia. Keluar dari sebuah forum internasional secara tergesa-gesa justru berisiko menutup pintu dialog yang selama ini telah dibangun dengan susah payah. Board of Peace harus dilihat sebagai instrumen, bukan tujuan akhir. Sebagai sebuah wadah yang relatif baru, BoP memberikan ruang bagi Indonesia bersama negara-negara Islam lainnya untuk menyuarakan kepentingan Gaza di meja perundingan yang melibatkan aktor-aktor kunci global.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Ukhuwah, KH Zaitun Rasmin, memberikan perspektif yang sangat relevan mengenai hal ini. KH Zaitun Rasmin menyarankan agar Indonesia tidak terburu-buru meninggalkan BoP karena forum ini masih menyimpan peluang nyata untuk membantu warga di Gaza. Menurut pandangannya, BoP saat ini merupakan wadah yang paling memungkinkan untuk membicarakan perdamaian dan kemerdekaan Palestina secara formal. Jika Indonesia menarik diri sekarang, timbul pertanyaan mendasar mengenai saluran alternatif apa yang lebih efektif dan instan yang bisa digunakan pemerintah untuk menghentikan penderitaan di Palestina. Menarik diri tanpa rencana substitusi yang lebih kuat hanya akan melemahkan posisi tawar Indonesia di kancah internasional.

Lebih lanjut, KH Zaitun Rasmin menekankan pentingnya objektivitas dalam menilai situasi. Banyak pihak mencoba mengaitkan keberadaan BoP dengan ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Padahal, jika ditelaah secara kronologis, konflik tersebut sudah terjadi jauh sebelum BoP terbentuk. Oleh karena itu, menyalahkan BoP atas eskalasi keamanan di kawasan tersebut adalah sebuah kekeliruan logika. Alih-alih terprovokasi oleh situasi yang cair, para pemuka agama dan tokoh masyarakat diharapkan tetap jernih melihat bahwa diplomasi adalah perjuangan maraton, bukan lari cepat.

Keberadaan Indonesia di dalam BoP juga didasarkan pada substansi yang konkret, bukan sekadar formalitas keanggotaan. Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia, memaparkan bahwa terdapat poin-poin rencana perdamaian Gaza yang sangat menguntungkan posisi Palestina di dalam kerangka kerja BoP. Salah satu poin krusial menyebutkan bahwa Gaza direncanakan akan berada di bawah pemerintahan transisi yang dipimpin oleh Komite Palestina, bukan oleh kekuatan asing atau penjajah. Selain itu, terdapat penekanan tegas bahwa Israel harus meninggalkan Gaza dan tidak diperbolehkan melakukan okupansi maupun aneksasi lebih lanjut.

Data yang dipaparkan Ulta Levenia tersebut menepis anggapan bahwa BoP tidak berpihak pada kepentingan Palestina. Bahkan, terdapat peta jalan menuju penentuan nasib sendiri atau self-determination bagi rakyat Palestina. Melalui BoP, dunia internasional didorong untuk mengakui otoritas Palestina sebagai representasi sah masyarakat Gaza. Jika Indonesia keluar, maka satu suara vokal yang konsisten mengawal poin-poin keadilan tersebut akan hilang dari ruang sidang BoP. Hal ini justru akan merugikan perjuangan diplomasi yang sedang berjalan menuju solusi dua negara.

Pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri juga telah menegaskan bahwa partisipasi di BoP adalah bagian dari upaya memperkuat rekonstruksi pascakonflik dan stabilitas di kawasan. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Yvonne Mewengkang, menyatakan bahwa setiap langkah kebijakan luar negeri Indonesia diambil dengan mempertimbangkan prinsip konstitusi serta komitmen abadi terhadap kemerdekaan Palestina. Menurutnya, komunikasi intensif terus dilakukan dengan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) seperti Arab Saudi, Qatar, Turki, dan Pakistan yang juga tergabung dalam BoP. Kolaborasi ini penting untuk memastikan bahwa blok negara Islam tetap solid dan tidak terpecah oleh narasi yang merugikan.

Saat ini, pemerintah memang mengambil langkah untuk menangguhkan atau meletakkan status keanggotaan pada posisi on hold guna melakukan kajian mendalam. Langkah ini jauh lebih bijaksana daripada menyatakan keluar secara permanen. Dengan status tersebut, Indonesia tetap memiliki akses informasi dan pengaruh, sembari menunjukkan sikap kritis terhadap efektivitas forum. Diplomasi tidak selamanya tentang setuju atau tidak setuju, melainkan tentang bagaimana tetap berada di dalam sirkulasi pengambilan keputusan agar kepentingan nasional dan kemanusiaan tetap terjaga.

Perjuangan untuk Palestina membutuhkan strategi yang berlapis. Ada kalanya perjuangan dilakukan melalui aksi massa dan bantuan kemanusiaan, namun ada kalanya pula perjuangan harus dilakukan melalui lobi-lobi di meja perundingan yang dingin. Penting bagi bangsa ini untuk tidak melupakan sejarah perjuangan panjang yang telah dilakukan sejak era Bung Karno. Indonesia tidak boleh berhenti bersuara sampai genosida berhenti dan Palestina merdeka, namun suara tersebut akan terdengar lebih lantang jika diteriakkan dari dalam sistem yang sedang merumuskan masa depan kawasan.

*) Peniliti dan Pengamat Dinamika Geopolitik Global

Tidak Perlu Keluar dari Board of Peace, Jalur Diplomasi Tetap Efektif

Oleh: Dimas Aditya Putra
Keputusan Indonesia untuk tetap berada dalam forum Board of Peace (BoP) menghadirkan perdebatan di ruang publik. Sejumlah pihak mendesak pemerintah agar segera keluar dari forum tersebut. Namun pendekatan diplomasi yang dijalankan dari dalam forum justru menunjukkan potensi yang jauh lebih efektif dibandingkan sikap menarik diri secara tergesa-gesa.

Keikutsertaan Indonesia dalam BoP membuka akses langsung terhadap proses perundingan yang membahas masa depan Gaza dan Palestina. Posisi tersebut memungkinkan Indonesia tidak sekadar menyampaikan sikap moral, tetapi juga berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan yang menentukan arah perdamaian.

Dalam dinamika diplomasi internasional, kehadiran di meja perundingan sering kali menjadi faktor pembeda antara negara yang mampu memengaruhi kebijakan global dan negara yang hanya menjadi pengamat dari luar.

Strategi diplomasi dari dalam forum tersebut sejalan dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Pendekatan itu memberi ruang bagi Indonesia untuk memperjuangkan kepentingan kemanusiaan sekaligus memperkuat posisi diplomatik di tingkat global. Dengan berada di dalam forum, Indonesia memiliki peluang membangun koalisi bersama negara-negara lain yang memiliki kepedulian serupa terhadap kemerdekaan Palestina.

Ketua MUI Bidang Ukhuwah KH Zaitun Rasmin memandang desakan agar Indonesia keluar dari BoP perlu disikapi secara objektif dan tidak reaktif. Ia menilai konflik serta serangan militer di kawasan Timur Tengah sudah berlangsung jauh sebelum forum tersebut terbentuk. Oleh karena itu, mengaitkan seluruh dinamika konflik dengan keberadaan BoP dinilai kurang tepat.

Zaitun Rasmin juga mempertanyakan langkah konkret yang dapat dilakukan jika Indonesia justru memilih keluar dari forum tersebut. Menurutnya, peluang untuk memperjuangkan nasib masyarakat Gaza masih terbuka selama Indonesia memiliki ruang berpartisipasi dalam forum internasional yang membahas konflik tersebut. Keberadaan BoP bahkan dianggap sebagai salah satu wadah yang memungkinkan negara-negara, khususnya negara mayoritas Muslim, mendorong agenda perdamaian secara langsung.

Pandangan tersebut menekankan bahwa diplomasi tidak selalu memberikan hasil instan. Upaya memperjuangkan kemerdekaan Palestina telah berlangsung selama puluhan tahun dan memerlukan kesabaran serta konsistensi. Karena itu, keterlibatan Indonesia dalam BoP dapat dipandang sebagai bagian dari ikhtiar diplomatik yang harus dijalankan secara maksimal.

Zaitun Rasmin juga mengingatkan bahwa bangsa Indonesia memiliki sejarah panjang dalam mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina. Komitmen tersebut bahkan telah menjadi bagian dari amanat konstitusi yang menolak segala bentuk penjajahan di dunia. Oleh sebab itu, upaya memperjuangkan Palestina tidak boleh berhenti hanya karena adanya perbedaan pandangan mengenai strategi diplomasi.

Pendekatan yang lebih bijak menurutnya adalah menjaga komunikasi yang sehat antara pemerintah dan para tokoh masyarakat. Para ulama dan pemuka agama memiliki peran penting dalam memberikan masukan yang konstruktif, sementara pemerintah menjalankan tugas diplomasi sesuai dengan mandat yang dimilikinya.

Pemerintah sendiri menunjukkan sikap terbuka terhadap berbagai kritik terkait keanggotaan Indonesia dalam BoP. Menteri Agraria dan Tata Ruang sekaligus Kepala Badan Pertanahan Nasional Nusron Wahid menyampaikan bahwa pemerintah tidak menutup diri terhadap pandangan publik. Pemerintah mendengarkan berbagai masukan sembari terus mencermati perkembangan situasi geopolitik.

Nusron menilai diplomasi melalui BoP tetap menjadi salah satu jalan yang patut dicoba untuk mendorong terciptanya perdamaian di Gaza. Pemerintah melihat forum tersebut sebagai ruang perundingan yang saat ini tersedia untuk membahas penyelesaian konflik Palestina secara lebih terarah. Tanpa forum tersebut, proses negosiasi perdamaian berisiko kehilangan wadah yang jelas.

Ia juga menjelaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto tidak ingin mengambil keputusan secara gegabah terkait keanggotaan Indonesia dalam BoP. Pemerintah menilai langkah diplomatik yang telah diambil perlu terlebih dahulu dijalankan dan dievaluasi secara objektif sebelum muncul keputusan untuk menarik diri.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa diplomasi internasional tidak selalu bersifat hitam putih. Dalam banyak kasus, negara perlu tetap berada di dalam sebuah forum untuk memantau dinamika yang terjadi sekaligus memperjuangkan kepentingannya secara langsung.

Pandangan serupa disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar. Ia menegaskan bahwa keterlibatan Indonesia dalam BoP bertujuan membuka jalur diplomasi baru agar bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Gaza dapat tersalurkan dengan lebih efektif.

Muhaimin menilai berbagai upaya diplomasi global yang dijalankan pemerintah selama ini berfokus pada pencarian akses yang lebih luas untuk distribusi bantuan kemanusiaan. Hambatan dalam penyaluran bantuan selama konflik berlangsung membuat diplomasi menjadi instrumen penting untuk membuka jalur bantuan yang lebih aman dan terkoordinasi.

Menurutnya, keberadaan Indonesia di dalam forum internasional seperti BoP memungkinkan koordinasi yang lebih kuat dengan berbagai negara dalam membantu masyarakat Palestina. Langkah tersebut juga memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang aktif memperjuangkan isu kemanusiaan di panggung global.

Diplomasi dari dalam forum internasional pada akhirnya memberi peluang lebih besar untuk memengaruhi arah kebijakan dibandingkan sikap menarik diri secara prematur. Dengan tetap berada di dalam Board of Peace, Indonesia memiliki kesempatan untuk memastikan bahwa suara solidaritas terhadap Palestina tetap terdengar kuat dalam proses perundingan global.

Karena itu, keputusan untuk tidak tergesa-gesa keluar dari BoP dapat dipahami sebagai strategi diplomatik yang rasional. Pendekatan tersebut tidak hanya menjaga pengaruh Indonesia di panggung internasional, tetapi juga membuka peluang yang lebih nyata bagi upaya perdamaian di Gaza dan kemerdekaan Palestina. (*)

*) Pakar Hubungan Internasional

Meluasnya Peran Danantara: Dari Proyek Mercusuar ke Rumah Layak untuk Rakyat

Oleh: Bara Winatha*)

Upaya pemerintah memperluas akses hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) semakin menunjukkan arah yang konkret melalui kolaborasi lintas sektor. Salah satu perkembangan penting terlihat dari keterlibatan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia dalam pengembangan kawasan hunian terjangkau di Cikarang, Jawa Barat. Langkah ini menandai perluasan peran lembaga investasi negara yang sebelumnya identik dengan proyek-proyek besar dan strategis nasional, kini mulai menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat. Keterlibatan Danantara mencerminkan perubahan orientasi investasi negara yang tidak hanya berfokus pada proyek mercusuar, tetapi juga pada penyediaan rumah layak bagi rakyat.

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani mengatakan bahwa peninjauan lokasi hunian di Cikarang merupakan tahap awal untuk memastikan pembangunan kawasan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah dapat dilakukan secara terencana dan berkelanjutan. Kawasan yang dipilih memiliki keunggulan akses transportasi intermoda, sehingga dinilai strategis untuk mendukung kehidupan masyarakat yang bekerja di kawasan industri sekitar. Pengembangan kawasan tersebut akan dilanjutkan dengan pematangan konsep pembangunan, termasuk penyusunan skema pengembangan kawasan, mekanisme harga, hingga kriteria kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Proyek hunian tersebut tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga menyangkut tata kelola ekosistem perumahan yang lebih luas. Melalui kerja sama antara pemerintah, Danantara, BUMN, serta sektor usaha swasta, pembangunan kawasan hunian dapat dirancang secara lebih matang dan berkelanjutan. Tujuan utama kolaborasi ini adalah memperluas akses masyarakat terhadap hunian yang layak, aman, dan terjangkau, sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan langsung oleh kelompok masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses perumahan.

Salah satu implementasi konkret dari kolaborasi tersebut terlihat pada proyek pembangunan rumah susun subsidi di kawasan Meikarta, Cikarang, Kabupaten Bekasi. Proyek ini merupakan bagian dari Program 3 Juta Rumah yang menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Dalam proyek tersebut, Danantara mengambil peran sebagai penyedia pendanaan utama, sementara pelaksanaan konstruksi melibatkan kolaborasi antara BUMN karya dan kontraktor swasta.

Rosan menjelaskan bahwa pembangunan tahap awal mencakup area sekitar 12,8 hektare yang direncanakan menjadi 18 menara apartemen dengan ketinggian sekitar 32 lantai. Ia memperkirakan kebutuhan investasi untuk pembangunan tahap ini berada pada kisaran Rp14 triliun hingga Rp16 triliun. Peran Danantara tidak hanya terbatas pada pembiayaan, tetapi juga memastikan bahwa kolaborasi antara berbagai pihak berjalan efektif sehingga proyek dapat diselesaikan sesuai target.

Dari sisi kebijakan pemerintah, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait mengatakan bahwa pembangunan kawasan hunian di Cikarang merupakan bagian dari upaya percepatan pelaksanaan Program 3 Juta Rumah. Pemerintah tengah mengkaji berbagai model pengembangan kawasan yang memungkinkan masyarakat berpenghasilan rendah memperoleh akses perumahan dengan harga yang terjangkau.

Menurut Maruarar, keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Danantara dan sektor swasta, menjadi kunci untuk mempercepat realisasi program tersebut. Pembangunan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah tidak dapat sepenuhnya bergantung pada anggaran negara, melainkan memerlukan dukungan investasi dan kolaborasi lintas sektor. Maruarar juga menilai bahwa lokasi pembangunan yang terhubung dengan akses transportasi publik akan memberikan nilai tambah bagi penghuni.

Kontribusi sektor swasta juga memainkan peran penting dalam proyek ini. Pendiri Grup Lippo, Mochtar Riady mengatakan bahwa hibah lahan seluas 30 hektare yang diberikan kepada pemerintah merupakan bentuk dukungan terhadap program prioritas nasional di bidang perumahan. Ia menjelaskan bahwa keputusan tersebut didorong oleh keinginan untuk berkontribusi dalam upaya pemerintah menyediakan hunian bagi masyarakat yang membutuhkan.

Lahan hibah tersebut menjadi fondasi penting bagi pengembangan kawasan hunian yang dirancang untuk menampung puluhan ribu unit rumah susun subsidi. Dalam rencana jangka panjang, proyek ini diproyeksikan berkembang hingga mencapai puluhan menara apartemen dengan total unit yang dapat menampung ratusan ribu penghuni. Dengan harga jual yang diperkirakan mulai dari sekitar Rp350 juta per unit, pemerintah berharap masyarakat berpenghasilan rendah memiliki peluang lebih besar untuk memiliki hunian sendiri.

Keberadaan proyek hunian berskala besar di kawasan industri seperti Cikarang juga memiliki dampak strategis terhadap pembangunan wilayah. Dengan tersedianya hunian yang dekat dengan pusat aktivitas ekonomi, masyarakat dapat mengurangi biaya transportasi dan meningkatkan kualitas hidup. Selain itu, pembangunan kawasan hunian baru berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan aktivitas ekonomi di sekitar kawasan tersebut.

Meluasnya peran Danantara dalam proyek perumahan rakyat menunjukkan bahwa lembaga investasi negara dapat berfungsi tidak hanya sebagai pengelola aset strategis, tetapi juga sebagai katalis pembangunan sosial. Dengan memanfaatkan kapasitas pembiayaan yang besar, Danantara dapat membantu mempercepat realisasi proyek-proyek yang memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.

Meluasnya Peran Danantara hingga memberikan akses perumahan rakyat yang terjangkau ini menggambarkan transformasi penting dalam arah kebijakan pembangunan. Investasi negara tidak lagi hanya terfokus pada proyek-proyek simbolik berskala besar, tetapi juga diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Dengan pendekatan yang terencana dan kolaboratif, pembangunan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah diharapkan dapat menjadi salah satu tonggak penting dalam mewujudkan kesejahteraan yang lebih merata di Indonesia.

*)Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan.

Danantara dan Akselerasi Program 3 Juta Rumah

Oleh : Destri Amanda )*
Masuknya Danantara ke sektor hunian dalam program pembangunan 3 juta rumah menjadi langkah strategis untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan perumahan masyarakat Indonesia. Program ini tidak hanya dipandang sebagai agenda pembangunan fisik semata, tetapi juga sebagai upaya besar untuk memperkuat kesejahteraan rakyat melalui penyediaan hunian yang layak, terjangkau, dan berkualitas. Keterlibatan Danantara diharapkan mampu memperkuat kapasitas pendanaan dan mempercepat realisasi proyek-proyek perumahan yang selama ini menghadapi berbagai kendala, terutama dalam hal pembiayaan jangka panjang dan pengembangan kawasan hunian yang berkelanjutan.

Ketua Satgas Perumahan sekaligus Utusan Khusus Presiden RI, Hashim Djojohadikusumo menjelaskan Danantara mendapatkan hibah lahan seluas 30 hektare (ha) untuk mendukung Program 3 Juta Rumah di wilayah Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Berdasarkan data pemerintah pula terdapat sekitar 27 juta rumah tangga yang masih tinggal di rumah tidak layak huni. Karena itu, program pembangunan rumah menjadi salah satu prioritas pemerintah.

Sektor perumahan dinilai memiliki efek ganda yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Setiap pembangunan rumah dapat menggerakkan lebih dari 180 sektor industri, mulai dari bahan bangunan hingga perabot rumah tangga. Selain proyek di lahan hibah tersebut, pemerintah juga menyiapkan sejumlah lokasi lain untuk pembangunan hunian vertikal, termasuk di Depok yang direncanakan memanfaatkan sekitar 45 ha lahan untuk ratusan ribu unit rumah.

Diketahui, selama beberapa tahun terakhir, kebutuhan rumah di Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan urbanisasi yang semakin pesat. Di sisi lain, masih terdapat kesenjangan antara jumlah rumah yang tersedia dengan kebutuhan masyarakat, khususnya bagi kelompok berpenghasilan rendah. Program pembangunan 3 juta rumah hadir sebagai solusi untuk mengurangi backlog perumahan tersebut. Dengan masuknya Danantara sebagai salah satu penggerak investasi, diharapkan proyek perumahan dapat berjalan lebih cepat, terstruktur, dan memiliki dukungan pembiayaan yang kuat serta berkelanjutan.

Keterlibatan lembaga investasi seperti Danantara memberikan sinyal positif bagi ekosistem pembangunan perumahan nasional. Hal ini menunjukkan bahwa sektor hunian memiliki prospek ekonomi yang besar sekaligus berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat. Investasi di sektor perumahan tidak hanya menghasilkan pembangunan rumah semata, tetapi juga mendorong pertumbuhan sektor lain seperti industri bahan bangunan, konstruksi, transportasi, hingga jasa pendukung lainnya. Dengan demikian, efek pengganda ekonomi dari pembangunan perumahan dapat dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat.

Selain itu, masuknya Danantara ke sektor hunian juga dapat membantu meningkatkan kualitas tata kelola proyek perumahan. Pengelolaan investasi yang profesional, transparan, dan akuntabel akan menjadi faktor penting untuk memastikan program pembangunan rumah berjalan efektif dan tepat sasaran. Pendekatan ini sangat penting agar pembangunan hunian tidak hanya fokus pada kuantitas, tetapi juga memperhatikan kualitas bangunan, kelayakan lingkungan, serta akses terhadap fasilitas publik seperti pendidikan, kesehatan, dan transportasi.

Program 3 juta rumah juga memiliki peran penting dalam mendorong pemerataan pembangunan di berbagai daerah. Selama ini pembangunan perumahan cenderung terkonsentrasi di wilayah perkotaan besar, sementara kebutuhan rumah layak di daerah masih cukup tinggi. Dengan dukungan investasi yang lebih kuat, pembangunan hunian dapat diperluas ke berbagai wilayah sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Kehadiran proyek perumahan baru di daerah juga berpotensi membuka lapangan pekerjaan serta meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Keterlibatan Danantara dapat memperkuat sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga keuangan dalam membangun ekosistem perumahan nasional. Pembangunan rumah dalam jumlah besar tentu membutuhkan kolaborasi yang kuat antar berbagai pihak. Pemerintah berperan dalam penyediaan regulasi dan dukungan kebijakan, sementara sektor swasta dan investor berkontribusi dalam pembiayaan serta pengembangan proyek. Kolaborasi yang terjalin secara baik akan membuat proses pembangunan lebih efisien dan berkelanjutan.

Tidak kalah penting, pembangunan hunian dalam program ini juga diharapkan memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan. Konsep hunian masa depan tidak lagi sekadar menyediakan tempat tinggal, tetapi juga menghadirkan lingkungan yang sehat, nyaman, dan ramah lingkungan. Penerapan teknologi konstruksi yang efisien, penggunaan material yang berkualitas, serta pengelolaan kawasan yang terintegrasi menjadi hal penting dalam memastikan kawasan hunian dapat berkembang secara berkelanjutan. Dengan dukungan investasi yang memadai, inovasi dalam pembangunan perumahan dapat semakin berkembang.

Pada akhirnya, masuknya Danantara ke sektor hunian dalam program pembangunan 3 juta rumah menunjukkan komitmen kuat untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Hunian yang layak merupakan fondasi penting bagi peningkatan kualitas hidup dan stabilitas sosial. Ketika masyarakat memiliki tempat tinggal yang aman dan nyaman, mereka dapat lebih fokus dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan keluarga. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, investor, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci utama agar program ini benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia.

)* Pengamat Kebijakan Publik – Lembaga Kajian Kebijakan Publik Bentang Nusantara