Harga Pupuk Subsidi Dijaga, Petani Tetap Terlindungi dari Dampak Global

Jakarta – Pemerintah memastikan stabilitas harga pupuk subsidi tetap terjaga di tengah dinamika global yang memengaruhi rantai pasok internasional. Kebijakan ini menjadi langkah strategis untuk melindungi petani sekaligus menjaga produktivitas sektor pertanian sebagai fondasi ketahanan pangan nasional.

Ketua Tim Kerja Alokasi Pupuk Bersubsidi Direktorat Pupuk, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian, Yustina Retno Widiati, mengatakan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai langkah antisipatif guna merespons perkembangan global yang berdampak pada harga pupuk dan bahan bakunya.

“Gejolak ini perlu diantisipasi karena dapat memicu kenaikan harga pupuk secara signifikan, terutama karena bahan baku tertentu masih bergantung pada pasar internasional,” ujarnya.

Meski demikian, pemerintah memastikan bahwa kebijakan yang diambil mampu menjaga stabilitas harga di dalam negeri. Hal ini dilakukan melalui perbaikan tata kelola pupuk subsidi yang semakin terarah dan berbasis kebutuhan riil petani.

Pada tahun 2026, alokasi pupuk bersubsidi difokuskan pada sektor pertanian dan perikanan, dengan prioritas pada komoditas strategis seperti padi, jagung, kedelai, hortikultura, hingga komoditas perkebunan. Pendekatan ini menunjukkan keberpihakan pemerintah dalam menjaga kesinambungan produksi pangan nasional.

Perbaikan sistem juga dilakukan melalui digitalisasi data kebutuhan pupuk. Hingga awal tahun, jutaan petani telah terdaftar dalam sistem e-RDKK, yang memastikan distribusi pupuk lebih tepat sasaran, transparan, dan akuntabel.

Di sisi distribusi, pemerintah melalui PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan penyaluran berjalan efektif dari proses produksi hingga ke tangan petani. Sistem distribusi yang terintegrasi melalui distributor, pengecer resmi, hingga kelompok tani dan koperasi memperkuat akses petani terhadap pupuk bersubsidi.

“Petani kini dapat menebus pupuk bersubsidi secara mudah melalui kios resmi dengan menunjukkan KTP dan Kartu Tani,” jelas Yustina.

SVP Pemasaran PT Pupuk Indonesia (Persero), Junianto Simare Mare, juga memastikan bahwa ketersediaan pupuk nasional tetap dalam kondisi aman dan terkendali. Hal ini memberikan kepastian bagi petani dalam merencanakan musim tanam tanpa kekhawatiran terhadap ketersediaan maupun harga.

Kebijakan ini disambut positif oleh petani karena memberikan rasa aman di tengah ketidakpastian global. Dengan harga pupuk yang stabil, petani dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga efisiensi biaya produksi.

Melalui langkah terukur dan kebijakan yang adaptif, pemerintah menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Stabilitas pupuk subsidi tidak hanya menjadi penopang sektor pertanian, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesejahteraan petani dan keberlanjutan ekonomi nasional.

Global Bergejolak, Pupuk Subsidi Indonesia Tetap Terjaga

Jakarta – Di tengah gejolak global yang sedang dipicu konflik, pemerintah memastikan ketersediaan pupuk bersubsidi nasional tetap terjaga. Berbagai langkah strategis disiapkan guna melindungi sektor pertanian dari dampak kenaikan harga dan gangguan distribusi bahan baku pupuk di pasar internasional.

Ketua Tim Kerja Alokasi Pupuk Bersubsidi Direktorat Pupuk, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian, Yustina Retno Widiati, mengatakan bahwa dinamika global memang membawa tekanan terhadap industri pupuk, namun pemerintah telah mengantisipasinya dengan kebijakan yang terukur.

“Gejolak global ini kami respons dengan langkah cepat agar ketersediaan pupuk bersubsidi tetap aman dan tidak mengganggu produktivitas petani,” ujarnya

Ia menjelaskan bahwa hambatan logistik, termasuk terganggunya jalur distribusi internasional, berpotensi memicu kenaikan harga bahan baku seperti P (phosphor) dan K (Kalium) yang masih bergantung pada impor. Namun demikian, pemerintah melakukan percepatan pembayaran subsidi sebagai langkah taktis.

“Pembayaran lebih awal memungkinkan pengadaan bahan baku dilakukan sebelum harga melonjak, sehingga pasokan tetap terjaga,” jelasnya.

Selain menjaga pasokan, pemerintah juga memastikan stabilitas harga melalui kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi yang tidak mengalami perubahan.

“Kami berkomitmen menjaga daya beli petani dengan memastikan harga tetap stabil meskipun tekanan global meningkat,” tambah Yustina.

Dalam jangka menengah, pemerintah mendorong pemanfaatan pupuk organik berbasis bahan lokal sebagai bagian dari strategi ketahanan sektor pertanian.

“Penggunaan pupuk organik menjadi solusi penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor,” katanya.

Perbaikan tata kelola distribusi juga terus dilakukan. Jutaan petani telah terdaftar dalam sistem e-RDKK dan dapat menebus pupuk bersubsidi secara mudah melalui kios resmi.

“Transparansi dan kemudahan akses menjadi prioritas agar pupuk tepat sasaran,” ujarnya.

Sementara itu, SVP Pemasaran PT Pupuk Indonesia (Persero), Junianto Simare Mare, memastikan kapasitas produksi nasional berada dalam kondisi aman dan bahkan surplus.

“Produksi urea nasional tidak hanya mencukupi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga membuka peluang ekspor di tengah situasi global,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa ketahanan produksi didukung oleh ketersediaan gas alam domestik sebagai bahan baku utama urea.

“Hal ini membuat Indonesia tidak bergantung pada impor untuk urea, sehingga relatif tahan terhadap gejolak global,” jelasnya.

Dengan kombinasi kebijakan pemerintah dan kekuatan industri nasional, Indonesia optimistis pupuk bersubsidi tetap terjaga, sehingga sektor pertanian dapat terus berjalan stabil meskipun kondisi global sedang bergejolak.

Targeting Nutrition: Peran MBG 3B dalam Menurunkan Stunting

Oleh : Ricky Rinaldi

Stunting masih menjadi salah satu tantangan utama dalam pembangunan kesehatanmasyarakat di Indonesia. Masalah ini tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisikanak yang mengalami gangguan pertumbuhan, tetapi juga berdampak padaperkembangan kognitif, kemampuan belajar, hingga produktivitas pada masa dewasa. Karena itu, penanganan stunting membutuhkan pendekatan yang tidakhanya bersifat kuratif, tetapi juga preventif dan berkelanjutan. Dalam kontekstersebut, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan pendekatan 3B menjadibagian penting dari strategi nasional untuk memperkuat intervensi gizi sejak dini.

Stunting terjadi akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung dalam jangkapanjang, terutama pada masa awal kehidupan anak. Faktor penyebabnya tidakhanya berkaitan dengan akses terhadap makanan, tetapi juga kualitas polakonsumsi, kondisi sanitasi, serta tingkat edukasi keluarga mengenai pentingnyanutrisi. Oleh karena itu, upaya penurunan stunting membutuhkan kebijakan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunansumber daya manusia harus dimulai dari pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, terutama gizi anak. Peningkatan kualitas generasi muda tidak dapat dipisahkan dariupaya memastikan bahwa anak-anak tumbuh sehat sejak usia dini. Program MBG menjadi salah satu instrumen penting dalam memastikan negara hadir memberikandukungan nyata terhadap kebutuhan gizi masyarakat.

Konsep MBG 3B mengacu pada pendekatan yang menitikberatkan pada makananbergizi yang baik, berimbang, dan berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanyamemastikan kecukupan asupan nutrisi, tetapi juga memperhatikan kualitas bahanpangan dan kesinambungan distribusi. Dengan demikian, program tidak hanyamemberikan dampak jangka pendek, tetapi juga mendukung perubahan polakonsumsi yang lebih sehat.

Pendekatan baik dalam MBG 3B menekankan pentingnya kualitas makanan yang diberikan. Nutrisi yang dikonsumsi anak harus memenuhi kebutuhan dasarpertumbuhan, termasuk protein, vitamin, mineral, dan zat gizi mikro lainnya. Pemenuhan nutrisi yang tepat akan membantu memperbaiki kondisi kesehatan anakserta meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit.

Sementara itu, unsur berimbang menggarisbawahi pentingnya komposisi makananyang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Asupan gizi yang hanya berfokus pada satujenis makanan tidak cukup untuk mendukung tumbuh kembang optimal. Anakmemerlukan kombinasi sumber karbohidrat, protein, lemak sehat, serta sayur danbuah agar perkembangan fisik dan mental dapat berjalan secara maksimal.

Unsur berkelanjutan dalam MBG 3B menjadi faktor penting yang membedakanprogram ini dari pendekatan bantuan sesaat. Program dirancang agar dapatberlangsung secara konsisten dan terintegrasi dengan sistem pangan lokal. Dengankeberlanjutan, manfaat program tidak berhenti pada satu periode, tetapi dapat terusmendukung upaya penurunan stunting dalam jangka panjang.

Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana menekankan bahwa intervensi giziharus dilakukan secara tepat sasaran dan berbasis kebutuhan masyarakat. Program MBG tidak hanya berorientasi pada distribusi makanan, tetapi juga padapembentukan pola konsumsi sehat. Dengan pendekatan berbasis data, intervensidapat diarahkan pada kelompok yang paling membutuhkan sehingga dampaknyalebih efektif.

MBG 3B juga memiliki hubungan erat dengan penguatan edukasi keluarga. Penurunan stunting tidak cukup hanya dengan menyediakan makanan bergizi, tetapijuga membutuhkan perubahan perilaku dalam rumah tangga. Orang tua perlumemahami pentingnya asupan nutrisi seimbang, kebersihan lingkungan, serta polaasuh yang mendukung kesehatan anak.

Selain berdampak pada kesehatan, program ini juga memberikan kontribusiterhadap ekonomi lokal. Kebutuhan bahan pangan untuk MBG dapat melibatkanpetani, peternak, serta pelaku usaha kecil di daerah. Dengan memanfaatkan produklokal, rantai pasok menjadi lebih efisien dan manfaat ekonomi dapat dirasakan olehmasyarakat sekitar.

Program MBG 3B juga menunjukkan bahwa penanganan stunting membutuhkansinergi lintas sektor. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, serta masyarakat memiliki peran masing-masing dalammendukung keberhasilan program. Pendekatan kolaboratif memungkinkan kebijakanberjalan lebih efektif dan menjangkau lebih banyak kelompok sasaran.

Dalam jangka panjang, penurunan angka stunting akan berdampak langsungterhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia. Anak-anak yang tumbuh dengannutrisi yang baik memiliki kemampuan belajar yang lebih optimal, kesehatan yang lebih stabil, serta potensi produktivitas yang lebih tinggi. Hal ini menjadi modal penting bagi pembangunan nasional.

Namun, keberhasilan program tetap membutuhkan pengawasan dan evaluasi yang konsisten. Pemerintah perlu memastikan bahwa distribusi makanan berlangsungtepat sasaran dan kualitas gizi tetap terjaga. Monitoring yang berkelanjutan akanmembantu mengidentifikasi hambatan sekaligus memperbaiki pelaksanaan program di lapangan.

Targeting nutrition melalui MBG 3B memperlihatkan bahwa penanganan stunting membutuhkan strategi yang menyeluruh. Program ini tidak hanya menyalurkanmakanan, tetapi juga membangun fondasi kesehatan jangka panjang. Dengankombinasi pendekatan yang baik, berimbang, dan berkelanjutan, MBG menjadisalah satu instrumen penting dalam mempercepat penurunan stunting.

Pada akhirnya, keberhasilan menurunkan stunting tidak hanya diukur dari angkastatistik, tetapi juga dari kualitas hidup generasi yang dihasilkan. Ketika anak-anaktumbuh sehat dan mendapatkan akses nutrisi yang memadai, masa depan bangsaakan menjadi lebih kuat. MBG 3B menjadi bagian dari upaya memastikan bahwapembangunan manusia dimulai dari pemenuhan kebutuhan paling mendasar, yaitugizi yang cukup dan berkualitas.

*) Pengamat Isu Strategis

MBG dan Strategi Nasional Menekan Stunting sejak Dini

Oleh : Abdul Razak)*

Upaya menekan angka stunting di Indonesia terus diperkuat melalui berbagai kebijakan strategis yang terintegrasi. Salah satu program unggulan yang kini menjadi perhatian nasional adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia sejak dini.

Komitmen ini terlihat dari berbagai kegiatan sosialisasi yang digelar di sejumlah daerah. Di Sidoarjo, Jawa Timur, Anggota Komisi IX DPR RI, Arzeti Bilbina, mendorong optimalisasi MBG sebagai langkah konkret dalam menekan prevalensi stunting. Dalam kegiatan sosialisasi di Gedung Serba Guna Bumdes Kepuh Jaya pada 26 April 2026, ia menegaskan bahwa peran negara sangat krusial dalam memastikan terpenuhinya kebutuhan gizi masyarakat, terutama bagi kelompok rentan.

Mnurutnya stunting bukan hanya persoalan pertumbuhan fisik, tetapi menyangkut masa depan bangsa. Program MBG diharapkan memastikan setiap anak mendapatkan asupan nutrisi yang layak. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa stunting bukan sekadar isu kesehatan, melainkan tantangan multidimensional yang berdampak pada kualitas generasi mendatang.

Program MBG sendiri dirancang tidak hanya memberikan makanan gratis, tetapi juga memastikan kandungan gizi yang seimbang sesuai kebutuhan. Pendekatan ini menjadi penting mengingat salah satu penyebab utama stunting adalah kekurangan gizi kronis yang terjadi sejak masa kehamilan hingga usia dini. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan implementasi program ini.

Hal senada disampaikan oleh Anggota DPR RI, Ade Rezki Pratama, dalam sosialisasi MBG di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Ia menilai program ini sebagai investasi jangka panjang dalam menciptakan generasi unggul. Menurutnya, pemenuhan gizi yang optimal pada anak usia sekolah akan berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan dan daya saing bangsa.

Ade menyebut bahwa program MBG bukan sekadar bantuan pangan, melainkan strategi pembangunan manusia yang berkelanjutan. Ia juga menekankan pentingnya sosialisasi agar masyarakat memahami manfaat serta mekanisme program secara menyeluruh. Dengan pemahaman yang baik, implementasi di lapangan diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.

Penguatan MBG juga dilakukan melalui pendekatan berbasis layanan, seperti yang dilakukan di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Wakil Bupati Dion Agasi Setiabudi meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kaligono sebagai bagian dari perluasan cakupan program. Tidak hanya menyasar anak sekolah, MBG kini juga menjangkau kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Dion menegaskan bahwa intervensi gizi sejak masa kehamilan menjadi kunci utama dalam mencegah stunting. Dengan pemenuhan gizi yang berkelanjutan, tumbuh kembang anak dapat berlangsung secara optimal sejak dalam kandungan. Selain itu, keberadaan SPPG juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar, terutama melalui pelibatan pelaku UMKM dan pengembangan usaha berbasis komunitas.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa MBG tidak berdiri sendiri sebagai program bantuan sosial, melainkan bagian dari ekosistem pembangunan yang menyentuh berbagai sektor, termasuk ekonomi lokal. Pengelolaan yang profesional, termasuk penerapan standar keamanan pangan dan pengolahan limbah, menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan program.

Di sisi lain, implementasi MBG juga mendapat respons positif dari pemerintah daerah. Pemerintah Kota Pekanbaru, misalnya, menilai program ini telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Wali Kota Agung Nugroho menyebut bahwa MBG mampu meringankan beban ekonomi keluarga sekaligus memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang lebih baik selama di sekolah.

Manfaat langsung ini dirasakan oleh para orang tua yang sebelumnya harus menyediakan uang saku tambahan untuk kebutuhan makan siang anak. Dengan adanya MBG, kebutuhan tersebut kini dapat terpenuhi secara lebih terjamin dan terstandar dari sisi gizi.

Lebih jauh, program ini juga menjadi bagian dari strategi penanganan stunting di daerah. Di Pekanbaru, pemerintah setempat terus melakukan intervensi berkelanjutan, termasuk melalui program orang tua asuh bagi anak-anak yang mengalami stunting. Kolaborasi dengan dunia usaha melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) juga menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan penanganan.

Pendekatan kolaboratif ini memperkuat keyakinan bahwa penanganan stunting tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah, legislatif, swasta, hingga masyarakat, agar intervensi yang dilakukan dapat memberikan hasil optimal.

Secara nasional, MBG sejalan dengan visi pembangunan jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045. Peningkatan kualitas gizi masyarakat menjadi fondasi utama dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif. Dalam konteks ini, stunting bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga tantangan strategis dalam pembangunan bangsa.

Dengan berbagai upaya yang terus diperkuat, MBG diharapkan mampu menjadi solusi komprehensif dalam menekan angka stunting sejak dini. Keberhasilan program ini akan sangat ditentukan oleh konsistensi implementasi, pengawasan yang ketat, serta partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.

Jika dijalankan secara optimal, MBG tidak hanya akan memperbaiki kualitas gizi masyarakat, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang dalam membangun masa depan Indonesia yang lebih unggul dan berdaya saing.

)* Analis Kebijakan

MBG 3B Jadi Andalan, Stunting Ditekan dari Hulu ke Hilir

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan fokus pada kelompok rentan 3B, yakni ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), dan Balita. Pendekatan ini dinilai strategis untuk menekan angka stunting secara komprehensif, mulai dari fase pra-kelahiran hingga usia emas anak.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kategori 3B berjalan tepat sasaran sebagai upaya percepatan penurunan stunting. Program ini menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD yang menjadi kelompok prioritas.

“Program untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita ini sangat sensitif karena berkaitan langsung dengan kesehatan generasi masa depan. Kita cek kepastiannya, mulai dari SPPG sampai penerima manfaatnya,” ujar Wihaji.

Menurutnya, program ini merupakan bagian dari target nasional penurunan stunting hingga 18,8 persen pada 2026 dan 14 persen pada 2029. Pemerintah pun terus memperkuat intervensi sejak masa kehamilan serta memperluas implementasi SPPG dan MBG 3B di berbagai daerah.

“MBG 3B bukan sekadar distribusi makanan. Layanan negara yang harus dijaga kualitasnya melalui pengawasan dan evaluasi secara berkelanjutan,” katanya.

3B merupakan kelompok rentan yang memerlukan perhatian khusus dalam pemenuhan gizi dan kesehatan. Kelompok ini menjadi fokus utama pemerintah dalam upaya percepatan penurunan stunting dan perlindungan sosial.

Senada, Kepala Perwakilan BKKBN Jateng Rusman Effendi mengatakan Program MBG 3B adalah MBG dari Badan Gizi Nasional (BGN) untuk langkah intervensi stunting pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK).

Untuk potensi sasaran penerima manfaat Program MBG 3B di Jateng saat ini sebanyak 788.920 orang sehingga cakupan sasaran yang sudah terdistribusi mencapai 79,24 persen.

“BKKBN mendapat peran dan fungsi dalam sasaran 3B ini, yakni untuk menyiapkan datanya, kemudian membantu mendistribusikannya, dan ikut membantu dalam hal pencatatan dan pelaporannya,” katanya.

Menurut dia, dari seluruh satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) di Jateng yang berjumlah 4.000 unit, baru 43,61 persen yang melayani untuk sasaran 3B, yakni 1.745 SPPG.

“Ini memang masih perlu dukungan dari semua pihak agar semua dapur SPG ini nanti juga melaksanakan untuk sasaran 3B,” katanya.

Dengan sinergi kuat antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, MBG 3B diharapkan menjadi motor utama percepatan penurunan stunting, sekaligus mendorong terwujudnya visi Indonesia Emas 2045 melalui generasi unggul dan berdaya saing.

Pemerintah Optimalkan MBG 3B, Stunting Ditekan Lewat Intervensi Gizi

Jakarta, – Pemerintah terus memperkuat upaya penurunan stunting melalui optimalisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 3B yang menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD. Program ini menjadi bagian penting dari strategi nasional dalam meningkatkan kualitas gizi sejak fase awal kehidupan, sekaligus memastikan lahirnya generasi sehat dan produktif di masa depan.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, menegaskan bahwa pelaksanaan MBG 3B harus tepat sasaran dan berjalan tanpa penyimpangan, mulai dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hingga ke penerima manfaat di tingkat keluarga.

“Program untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita ini sangat sensitif karena berkaitan langsung dengan kesehatan generasi masa depan. Karena itu kita cek kepastiannya, mulai dari SPPG sampai penerima manfaatnya,” ujar Wihaji.

Ia menekankan bahwa MBG 3B bukan sekadar program distribusi makanan, melainkan layanan negara yang harus dijaga kualitasnya secara berkelanjutan. Oleh karena itu, pengawasan dan evaluasi lapangan perlu dilakukan secara cepat dan kolaboratif agar setiap potensi kendala dapat segera diatasi.

Menurut Wihaji, intervensi gizi pada fase awal kehidupan merupakan langkah krusial dalam mencegah stunting. Dengan memastikan asupan gizi yang cukup sejak masa kehamilan hingga usia balita, risiko gangguan pertumbuhan dapat ditekan secara signifikan.

Sejalan dengan itu, Kepala Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Bangkalan, Sudiyo, menyatakan bahwa MBG 3B menjadi salah satu program prioritas pemerintah dalam mendukung kesehatan masyarakat, khususnya dalam upaya penurunan stunting.

“Program MBG 3B merupakan program prioritas dan menjadi program penunjang utama dalam berupaya menurunkan kasus stunting,” ungkapnya.

Sudiyo menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memperkuat intervensi sejak masa kehamilan serta memperluas jangkauan layanan pemenuhan gizi melalui SPPG di berbagai daerah. Dengan pendekatan yang terintegrasi, pemerintah menargetkan penurunan angka stunting hingga 18,8 persen pada 2026 dan 14 persen pada 2029.

Dengan cakupan yang lebih luas, MBG 3B kini tidak hanya menyasar anak usia sekolah, tetapi juga kelompok rentan yang membutuhkan perhatian khusus sejak dini. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam membangun fondasi kesehatan masyarakat secara menyeluruh.

Melalui penguatan intervensi gizi, pengawasan ketat, serta sinergi lintas sektor, pemerintah optimistis program MBG 3B mampu menjadi solusi efektif dalam menekan angka stunting. Upaya ini sekaligus menjadi investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing tinggi.