Resiliensi Media dan Arah Baru Literasi Digital di Era AI

*) Oleh : Gavin Asadit

Transformasi digital yang berlangsung semakin cepat telah membawa Indonesia memasuki fase baru dalam pembangunan nasional. Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) tidak lagi dipandang sebagai teknologi masa depan, melainkan telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi, layanan publik, pendidikan, hingga produksi dan distribusi informasi sehari-hari.

Dalam konteks tersebut, pemerintah menempatkan penguatan literasi digital dan resiliensi media sebagai dua fondasi penting untuk memastikan percepatan teknologi dapat berjalan beriringan dengan kualitas ruang publik yang sehat, aman, dan produktif. Pemerintahan Presiden Prabowo memandang bahwa kemampuan masyarakat memahami teknologi dan mengelola arus informasi akan menjadi faktor penentu dalam membangun daya saing Indonesia di era ekonomi digital.

Di tengah perubahan besar tersebut, pemerintah menilai transformasi digital tidak hanya menghadirkan peluang, tetapi juga tantangan yang memerlukan kesiapan institusi dan masyarakat. Penggunaan AI membuka ruang peningkatan produktivitas, efisiensi layanan publik, serta penguatan inovasi di berbagai sektor. Namun pada saat yang sama, perkembangan teknologi juga memunculkan tantangan baru seperti disinformasi, manipulasi konten, perlindungan data pribadi, hingga perubahan pola konsumsi informasi yang semakin cepat dan kompleks. Karena itu, pemerintah mulai memperkuat pendekatan yang tidak hanya berfokus pada adopsi teknologi, tetapi juga pembangunan kapasitas masyarakat agar mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dan produktif.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menempatkan pengembangan AI nasional dalam kerangka yang lebih luas daripada sekadar modernisasi teknologi. Pemerintah saat ini tengah mematangkan peta jalan AI nasional periode 2026–2029 yang diarahkan untuk menjadi pedoman pengembangan kecerdasan artifisial di berbagai sektor strategis. Menurut Meutya, keberhasilan transformasi digital sangat bergantung pada kemampuan negara membangun tata kelola yang kuat agar teknologi dapat berkembang secara aman, etis, dan memberikan manfaat yang merata. Pemerintah memandang bahwa penguatan regulasi, tata kelola data, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia harus berjalan seiring agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga mampu menjadi pelaku utama dalam ekosistem digital global.

Dalam berbagai agenda transformasi digital sepanjang 2026, pemerintah juga mulai memperluas definisi literasi digital. Jika sebelumnya literasi lebih banyak dipahami sebagai kemampuan menggunakan perangkat dan mengakses internet, kini pendekatan tersebut berkembang menjadi kemampuan memahami cara kerja algoritma, mengenali pola penyebaran informasi, menjaga keamanan data pribadi, hingga memanfaatkan teknologi untuk aktivitas yang bernilai tambah. Pemerintah menilai masyarakat yang memiliki kemampuan digital yang kuat akan lebih siap menghadapi perubahan dan tidak mudah terdampak oleh risiko penyalahgunaan teknologi.

Penguatan kapasitas tersebut menjadi semakin relevan karena tingkat adopsi teknologi AI di Indonesia menunjukkan perkembangan yang cepat. Data pemerintah pada awal 2026 menunjukkan tingkat adopsi AI di Indonesia telah mencapai sekitar 92 persen dalam berbagai bentuk penggunaan, mulai dari kebutuhan operasional bisnis, pendidikan, komunikasi, hingga layanan digital. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa AI telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Karena itu, pemerintah memperkuat program pengembangan talenta digital agar masyarakat tidak berhenti sebagai pengguna teknologi, tetapi memiliki kemampuan untuk beradaptasi, menciptakan inovasi, dan mengambil peran dalam ekonomi digital nasional.

Di tengah perubahan lanskap informasi, media juga menghadapi tantangan baru yang menuntut kemampuan beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip dasar jurnalisme. Pemerintah memandang resiliensi media sebagai elemen penting dalam menjaga kualitas demokrasi dan ruang publik nasional. Kemampuan media untuk mempertahankan standar verifikasi, akurasi, independensi, dan tanggung jawab editorial menjadi semakin penting ketika teknologi AI memungkinkan produksi informasi berlangsung dalam skala yang jauh lebih besar dan cepat. Karena itu, penguatan media dipandang bukan sebagai upaya mempertahankan model lama, tetapi membangun kemampuan baru agar media tetap relevan dalam ekosistem digital yang terus berkembang.

Pandangan tersebut juga diperkuat oleh pengamat komunikasi digital Universitas Indonesia, Firman Kurniawan. Menurutnya, tantangan utama pada era AI bukan semata akses terhadap teknologi, melainkan kemampuan masyarakat memahami bagaimana informasi diproduksi, diprioritaskan, dan disebarkan dalam ekosistem digital modern. Ia melihat bahwa kemampuan berpikir kritis menjadi kompetensi yang semakin penting agar masyarakat dapat memilah informasi secara lebih objektif dan tidak mudah terpengaruh oleh konten yang menyesatkan. Dalam konteks tersebut, literasi digital harus berkembang menjadi kemampuan memahami struktur informasi, bukan hanya kemampuan menggunakan perangkat teknologi.

Selain pemerintah dan akademisi, pelaku industri digital juga mulai menempatkan pengembangan sumber daya manusia sebagai prioritas menghadapi perubahan teknologi. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menilai bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi digital di kawasan apabila mampu memperkuat talenta dan tata kelola teknologi secara bersamaan. Menurutnya, kemampuan membangun keseimbangan antara inovasi dan perlindungan masyarakat akan menentukan keberhasilan transformasi digital Indonesia dalam jangka panjang.

)* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan

Akal Imitasi (AI) dan Pentingnya Literasi Digital yang Lebih Kritis

Oleh: Dhita Karuniawati )*

Perkembangan Akal Imitasi atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, hingga mengambil keputusan. Kehadiran AI membawa banyak manfaat, mulai dari membantu menyelesaikan pekerjaan secara lebih cepat, mendukung riset ilmiah, meningkatkan efisiensi bisnis, hingga mempermudah layanan publik. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, AI juga menghadirkan tantangan baru yang jauh lebih kompleks dibandingkan era digital sebelumnya.

Kemampuan AI menghasilkan teks, gambar, video, maupun suara yang sangat menyerupai karya manusia membuat batas antara informasi yang benar dan yang palsu menjadi semakin kabur. Deepfake, disinformasi, manipulasi visual, hingga penyebaran hoaks kini dapat diproduksi secara lebih cepat dan masif dengan bantuan teknologi AI. Kondisi tersebut menuntut masyarakat memiliki kemampuan literasi digital yang tidak lagi sekadar memahami cara menggunakan internet atau media sosial, melainkan mampu berpikir kritis terhadap setiap informasi yang diterima.

Perubahan tantangan tersebut juga disadari pemerintah. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengatakan bahwa pendekatan literasi digital yang selama ini berfokus pada kemampuan dasar menggunakan perangkat digital dan internet sudah tidak lagi memadai menghadapi perkembangan AI. Ia menyampaikan bahwa program literasi digital kini diarahkan pada peningkatan keterampilan atau upskilling yang lebih kontekstual, produktif, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di era kecerdasan artifisial. Menurutnya, masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk menghadapi disinformasi, misinformasi, serta hoaks yang semakin berkembang seiring pesatnya teknologi AI.

Pergeseran paradigma tersebut menunjukkan bahwa literasi digital memasuki babak baru. Jika sebelumnya fokus utama adalah mengurangi kesenjangan akses internet dan meningkatkan kemampuan menggunakan teknologi, kini orientasinya bergeser pada kemampuan memahami, mengevaluasi, dan memanfaatkan AI secara bertanggung jawab.

Literasi digital di era AI tidak lagi cukup diukur dari kemampuan mengoperasikan aplikasi atau mencari informasi melalui mesin pencari. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan mempertanyakan validitas informasi, mengenali kemungkinan manipulasi digital, memahami cara kerja algoritma AI, serta menyadari bahwa hasil yang diberikan AI bukanlah kebenaran mutlak. AI bekerja berdasarkan data yang dipelajari sehingga tetap memiliki kemungkinan menghasilkan informasi yang keliru, bias, atau bahkan mengarang fakta (hallucination).

Dalam konteks ini, masyarakat perlu membangun kebiasaan melakukan verifikasi informasi melalui berbagai sumber yang kredibel. Setiap informasi yang diterima, terutama yang memancing emosi atau mengandung klaim luar biasa, sebaiknya diperiksa kembali sebelum dipercaya maupun disebarkan. Sikap skeptis yang sehat menjadi bagian penting dari literasi digital modern.

AI juga membawa tantangan etika yang tidak sederhana. Persoalan hak cipta, privasi data, keamanan siber, hingga penyalahgunaan teknologi menjadi isu yang semakin sering muncul. Berbagai pekerjaan kini mulai memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas, tetapi di sisi lain muncul kekhawatiran mengenai hilangnya sejumlah jenis pekerjaan akibat otomatisasi. Oleh karena itu, kemampuan beradaptasi dan meningkatkan kompetensi menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar.

Perhatian terhadap dampak AI bahkan disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Prabowo mengingatkan bahwa perkembangan AI menawarkan peluang besar bagi kemajuan bangsa, tetapi juga memiliki risiko apabila tidak dikelola secara bijaksana. Teknologi yang sangat kuat tersebut dapat memberikan manfaat besar bagi kesejahteraan manusia, namun pada saat yang sama berpotensi menimbulkan ancaman apabila disalahgunakan. Ia bahkan mengaitkan besarnya potensi risiko AI dengan teknologi strategis lain, termasuk nuklir, sehingga diperlukan tata kelola, regulasi, dan kesiapan sumber daya manusia yang memadai.

Peringatan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan AI tidak cukup hanya mengejar inovasi teknologi. Yang lebih penting adalah memastikan manusia tetap menjadi pengendali utama dalam pemanfaatannya. AI harus diposisikan sebagai alat bantu untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, bukan menggantikan kemampuan berpikir manusia.

Dunia pendidikan menjadi salah satu sektor yang paling terdampak oleh perkembangan AI. Siswa dan mahasiswa kini dapat memperoleh jawaban instan hanya dalam hitungan detik. Namun, kemudahan tersebut berpotensi menurunkan kemampuan berpikir kritis apabila AI digunakan tanpa pemahaman yang benar. Proses belajar seharusnya tidak berhenti pada memperoleh jawaban, melainkan memahami alasan di balik jawaban tersebut, menguji keabsahannya, serta mampu mengembangkan pemikiran secara mandiri.

Hal yang sama berlaku di lingkungan kerja. Perusahaan mulai mengintegrasikan AI dalam berbagai aktivitas operasional, mulai dari layanan pelanggan, analisis data, pemasaran, hingga pengelolaan sumber daya manusia. Karyawan tidak hanya dituntut mampu menggunakan AI, tetapi juga memahami keterbatasannya. Kemampuan mengevaluasi hasil kerja AI menjadi kompetensi baru yang semakin dibutuhkan di berbagai profesi.

Perubahan arah kebijakan literasi digital yang dilakukan Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan bahwa pemerintah menyadari tantangan tersebut. Berdasarkan evaluasi terhadap program literasi digital yang telah berjalan hampir satu dekade, pemerintah memandang masyarakat telah melewati tahap pembelajaran dasar penggunaan internet. Fokus berikutnya adalah meningkatkan kecakapan AI, kemampuan berpikir kritis, serta ketahanan masyarakat dalam menghadapi disinformasi dan hoaks yang semakin canggih.

Era AI bukan sekadar tentang kecanggihan teknologi, melainkan tentang kualitas manusia dalam memanfaatkannya. Literasi digital harus berkembang menjadi kemampuan berpikir kritis, kemampuan memverifikasi informasi, memahami etika digital, menjaga keamanan data pribadi, serta menggunakan AI secara bertanggung jawab. Tanpa kemampuan tersebut, masyarakat berisiko menjadi korban manipulasi informasi yang semakin sulit dikenali.

AI akan terus berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, investasi terbesar bukan hanya pada pembangunan teknologi, tetapi juga pada pembangunan manusia yang mampu menggunakan teknologi secara cerdas, etis, dan kritis. Dengan literasi digital yang lebih matang, masyarakat Indonesia tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga mampu menjadi pihak yang mengendalikan arah pemanfaatannya demi kemajuan bangsa.

*) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

Aparat Keamanan Berhasil Tindak Anggota OPM yang Pernah Terlibat Penembakan Pekerja Sipil

INTAN JAYA – Aparat keamanan menegaskan komitmennya melindungi masyarakat Papua dari berbagai aksi kekerasan yang dilakukan kelompok bersenjata. Komitmen tersebut kembali ditegaskan setelah operasi pengamanan di Kampung Mamba, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, yang berujung pada penindakan terhadap Okto Tigau, anggota TPNPB-OPM yang terlibat dalam sejumlah aksi penembakan terhadap warga sipil dan aparat keamanan.

Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf Wirya Arthadiguna, menjelaskan bahwa insiden bermula saat personel TNI mendeteksi empat orang bergerak secara sembunyi-sembunyi menuju pos pengamanan pada Selasa (30/6/2026) malam. Sesuai prosedur, aparat memberikan peringatan, namun tidak diindahkan dan justru mendapat tembakan balasan sehingga terjadi kontak senjata.

“Dengan mempertimbangkan faktor keamanan, penyisiran tidak dilakukan pada malam itu. Keesokan harinya, tim gabungan Koops TNI Habema melaksanakan penyisiran sesuai prosedur dan menemukan satu jenazah laki-laki beserta sebuah parang,” ujar Wirya.

Berdasarkan pencocokan ciri fisik, dokumentasi, dan informasi yang dimiliki aparat, jenazah tersebut diidentifikasi sebagai Okto Tigau. Aparat menyebut yang bersangkutan merupakan Wakil Komandan Operasi Batalyon Metua Kodap VIII/Intan Jaya TPNPB-OPM dan diduga terlibat dalam berbagai aksi kekerasan, termasuk penembakan aparat keamanan, pekerja sipil, penyiksaan warga, serta intimidasi terhadap masyarakat.

“Yang bersangkutan terlibat dalam sejumlah aksi kekerasan di Intan Jaya, antara lain penembakan terhadap aparat keamanan, penembakan pekerja sipil, penyiksaan warga, serta berbagai aksi intimidasi terhadap masyarakat,” kata Wirya.

Usai proses identifikasi, jenazah diserahkan kepada tokoh adat setempat untuk dimakamkan sesuai ketentuan adat. Koops TNI Habema juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan serta berharap konflik bersenjata tidak terus berulang.

“Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan. Besar harapan kami agar peristiwa seperti ini tidak terus berulang sehingga masyarakat Papua dapat hidup dalam suasana yang aman, damai, dan penuh harapan,” tutup Wirya.

Keberhasilan aparat menindak anggota OPM yang terlibat dalam penembakan pekerja sipil diharapkan dapat mempersempit ruang gerak kelompok bersenjata sekaligus memperkuat rasa aman masyarakat. Aparat juga menegaskan akan terus mengedepankan pendekatan profesional, terukur, dan sesuai prosedur hukum dalam menjaga keamanan serta melindungi warga sipil di Papua.

Menolak Aksi Kekerasan OPM, Pemerintah Perkuat Stabilitas Keamanan

PAPUA – Pemerintah terus memperkuat upaya menjaga stabilitas keamanan di Papua sebagai bagian dari komitmen menghadirkan pembangunan yang merata, pelayanan publik yang berkualitas, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Situasi yang aman dan kondusif menjadi modal utama agar berbagai program strategis pemerintah dapat berjalan optimal hingga menjangkau wilayah-wilayah terpencil di Tanah Papua.

Melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, tokoh adat, tokoh agama, akademisi, insan pers, dan seluruh elemen masyarakat, berbagai langkah terus dilakukan untuk menciptakan lingkungan yang aman sekaligus mendukung percepatan pembangunan. Pendekatan tersebut tidak hanya berorientasi pada penegakan hukum, tetapi juga mengedepankan dialog, pelayanan publik, penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta pemberdayaan masyarakat sebagai mitra pembangunan.

Kepala Kepolisian Daerah Papua, Irjen Pol. Patrige Renwarin, menegaskan bahwa seluruh jajaran kepolisian terus mengedepankan langkah yang prediktif, responsif, dan adaptif melalui pendekatan humanis serta menghormati kearifan lokal.

“Sinergi antara Polri, TNI, pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, dan seluruh elemen masyarakat merupakan kunci utama dalam menjaga keamanan di Tanah Papua,” ujarnya.

Komitmen pemerintah juga diwujudkan melalui penguatan berbagai program pembangunan yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung. Program Makan Bergizi Gratis, pengembangan ketahanan pangan, peningkatan layanan kesehatan dan pendidikan, pembangunan infrastruktur, hingga pengawalan investasi menjadi bagian dari strategi menghadirkan manfaat pembangunan yang berkelanjutan.

Stabilitas keamanan yang terjaga akan mempercepat distribusi layanan publik sekaligus membuka lebih banyak peluang ekonomi bagi masyarakat Papua.

Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf. M. Wirya Arthadiguna, menegaskan bahwa setiap pelaksanaan tugas selalu mengedepankan profesionalisme, proporsionalitas, serta keselamatan masyarakat sipil.

“TNI berkomitmen menjalankan tugas sesuai ketentuan hukum yang berlaku serta terus mengutamakan keselamatan warga sipil dalam setiap pelaksanaan tugas,” katanya.

Pemerintah optimistis kolaborasi seluruh komponen bangsa akan semakin memperkuat stabilitas keamanan di Papua. Dengan suasana yang aman, masyarakat dapat menjalankan aktivitas secara produktif, pelayanan publik semakin optimal, serta pembangunan dapat berlangsung lebih cepat dan merata. Semangat persatuan, gotong royong, dan kepercayaan kepada institusi negara menjadi kekuatan penting dalam mewujudkan Papua yang damai, maju, dan sejahtera demi masa depan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat.

Menghentikan Rantai Kekerasan OPM Demi Masa Depan Papua yang Damai

Oleh : Loa Murib

Rangkaian aksi kekerasan yang kembali terjadi di Papua menjadi pengingat bahwa ancaman terhadap keamanan masyarakat sipil masih menjadi tantangan serius yang harus dihadapi secara bersama. Insiden pembakaran pesawat perintis milik Associated Mission Aviation (AMA) di Lapangan Terbang Balinggama, Kabupaten Yahukimo, serta kontak tembak yang menewaskan seorang anggota TPNPB-OPM di Kabupaten Intan Jaya menunjukkan bahwa kekerasan bersenjata masih terus menghambat cita-cita mewujudkan Papua yang aman, damai, dan sejahtera. Dalam situasi seperti ini, kepentingan utama yang harus dikedepankan adalah perlindungan terhadap masyarakat sipil, keberlangsungan pelayanan publik, serta terjaminnya pembangunan yang mampu meningkatkan kualitas hidup seluruh masyarakat Papua.

Pembakaran pesawat AMA merupakan tindakan yang membawa dampak luas, bukan hanya terhadap aspek keamanan, tetapi juga terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat pedalaman. Transportasi udara di Papua memiliki peran vital karena kondisi geografis yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Pesawat perintis menjadi sarana utama untuk mengangkut masyarakat, tenaga kesehatan, guru, logistik, hingga kebutuhan pokok. Ketika moda transportasi tersebut menjadi sasaran kekerasan, maka yang paling dirugikan adalah masyarakat Papua sendiri yang bergantung pada layanan penerbangan tersebut untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Cahyo Sukarnito menyampaikan bahwa aparat memperoleh informasi dari jajaran Polres Yahukimo mengenai pembakaran pesawat sesaat setelah mendarat di Lapangan Terbang Ipedehik, Distrik Sobaham. Ia juga menjelaskan bahwa proses evakuasi menghadapi tantangan besar karena lokasi kejadian hanya dapat dijangkau melalui transportasi udara. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa aparat keamanan tidak hanya menghadapi ancaman kelompok bersenjata, tetapi juga hambatan geografis yang sangat kompleks dalam menjalankan tugas penyelamatan dan penegakan hukum.

Sementara itu, Kaops Damai Cartenz Brigjen Pol Faizal Ramadhani menyatakan bahwa kasus pembakaran pesawat masih dalam proses penyelidikan. Langkah investigasi tersebut menjadi bagian penting untuk mengungkap pelaku, memastikan fakta secara menyeluruh, sekaligus memberikan kepastian hukum terhadap setiap aksi kekerasan yang terjadi. Penegakan hukum yang profesional dan berdasarkan bukti merupakan fondasi penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap negara.

Di sisi lain, perkembangan di Kabupaten Intan Jaya memperlihatkan bahwa aparat keamanan juga menghadapi ancaman nyata ketika menjalankan tugas pengamanan wilayah. Berdasarkan penjelasan Koops TNI Habema, kontak tembak bermula ketika personel mendeteksi pergerakan mencurigakan sejumlah orang yang mendekati pos secara sembunyi-sembunyi pada malam hari. Setelah peringatan tidak direspons dan terjadi serangan, aparat melakukan tindakan sesuai prosedur operasi yang berlaku. Dalam proses penyisiran pada keesokan harinya ditemukan jenazah yang kemudian diidentifikasi sebagai Okto Tigau.

Kepala Penerangan Koops TNI Habema Letkol Inf Wirya Arthadiguna menjelaskan bahwa berdasarkan data aparat keamanan, Okto Tigau merupakan anggota TPNPB-OPM yang menjabat sebagai Wakil Komandan Operasi Batalyon Metua Kodap VIII Intan Jaya. Ia juga menyampaikan bahwa yang bersangkutan diduga terlibat dalam berbagai aksi kekerasan, mulai dari penembakan aparat keamanan, penembakan pekerja sipil, penyiksaan warga, hingga intimidasi terhadap masyarakat. Penjelasan tersebut memberikan konteks mengenai tantangan keamanan yang dihadapi aparat di lapangan dalam menjalankan Operasi Militer Selain Perang sesuai ketentuan perundang-undangan.

Meskipun demikian, aspek kemanusiaan tetap harus menjadi perhatian utama. Letkol Inf Wirya Arthadiguna juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta berharap agar peristiwa serupa tidak terus berulang sehingga masyarakat Papua dapat hidup dalam suasana yang aman, damai, dan penuh harapan. Pernyataan tersebut mencerminkan bahwa penyelesaian konflik tidak semata-mata berorientasi pada aspek keamanan, tetapi juga pada terciptanya kondisi sosial yang memungkinkan masyarakat menjalani kehidupan secara normal.

Berbagai aksi kekerasan yang dilakukan kelompok bersenjata selama ini telah memberikan dampak multidimensi terhadap Papua. Korban bukan hanya aparat keamanan, tetapi juga tenaga kesehatan, guru, pekerja pembangunan, tokoh masyarakat, bahkan warga sipil yang tidak memiliki keterkaitan dengan konflik. Ketika rasa aman terganggu, investasi menjadi terhambat, pelayanan publik terganggu, dan pembangunan infrastruktur berjalan lebih lambat. Akibatnya, masyarakat Papua kehilangan kesempatan memperoleh manfaat pembangunan yang seharusnya dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.

Papua saat ini tengah menjadi fokus berbagai program strategis pemerintah, mulai dari pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, penguatan ekonomi masyarakat adat, hingga pengembangan sumber daya manusia. Seluruh program tersebut membutuhkan situasi keamanan yang kondusif agar dapat berjalan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, penghentian rantai kekerasan merupakan prasyarat penting bagi keberhasilan pembangunan di Tanah Papua.
Di saat yang sama, dukungan masyarakat terhadap upaya menjaga keamanan menjadi faktor yang tidak kalah penting. Tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, akademisi, dan seluruh elemen masyarakat memiliki peran strategis dalam membangun budaya damai, memperkuat dialog, serta mencegah berkembangnya provokasi yang dapat memperpanjang konflik. Pendekatan keamanan yang diiringi pembangunan, penghormatan terhadap hak masyarakat, serta pemberdayaan ekonomi akan memberikan fondasi yang lebih kuat dalam menciptakan perdamaian jangka panjang. Harapan besar masyarakat Papua sesungguhnya sederhana, yaitu hidup dalam suasana aman, memperoleh pelayanan publik yang layak, menikmati hasil pembangunan, serta membesarkan generasi penerus tanpa bayang-bayang kekerasan.
*Penulis adalah Mahasiswa Papua di Jawa Timur

Keamanan Papua Prioritas, Pemerintah Tindak Tegas Gangguan OPM

Oleh: Yonas Kogoya*

Keamanan merupakan fondasi utama bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat dan pembangunan di Papua. Tanpa situasi yang aman, berbagai program peningkatan kesejahteraan akan sulit berjalan optimal. Oleh karena itu, setiap bentuk gangguan keamanan yang mengancam keselamatan masyarakat sipil, merusak fasilitas umum, maupun menghambat aktivitas ekonomi harus ditolak bersama karena tidak memberikan manfaat bagi siapa pun, terutama masyarakat Papua sendiri yang menjadi pihak paling terdampak.

Berbagai aksi kekerasan yang dilakukan kelompok bersenjata OPM atau TPNPB dalam beberapa waktu terakhir kembali menunjukkan bahwa pendekatan kekerasan hanya melahirkan penderitaan. Pembakaran pesawat perintis PT AMA di Balinggama, Yahukimo, yang mengakibatkan meninggalnya seorang pilot serta mengganggu pelayanan penerbangan di wilayah pegunungan merupakan contoh nyata bagaimana aksi teror berdampak langsung terhadap kepentingan masyarakat. Transportasi udara di Papua bukan sekadar sarana mobilitas, melainkan jalur utama distribusi bahan pangan, obat-obatan, pelayanan kesehatan, pendidikan, hingga kebutuhan pokok bagi masyarakat di daerah-daerah terpencil. Ketika pesawat perintis menjadi sasaran serangan, yang paling dirugikan bukan hanya pemerintah atau operator penerbangan, tetapi masyarakat yang kehilangan akses terhadap berbagai layanan dasar.

Tindakan kekerasan terhadap fasilitas publik juga berpotensi menghambat percepatan pembangunan yang selama ini terus diupayakan pemerintah. Berbagai proyek infrastruktur, pelayanan kesehatan, pendidikan, hingga pengembangan ekonomi membutuhkan situasi yang kondusif agar dapat berjalan sesuai rencana. Tidak ada investor, tenaga kesehatan, guru, maupun pelaku usaha yang dapat bekerja secara optimal apabila ancaman keamanan terus membayangi aktivitas mereka. Dengan demikian, menjaga keamanan sesungguhnya merupakan kepentingan bersama demi menciptakan masa depan Papua yang lebih sejahtera.

Kelompok separatis sering berupaya membangun narasi yang bertujuan memengaruhi opini publik melalui berbagai klaim atas setiap peristiwa yang terjadi di lapangan. Dalam situasi seperti ini, masyarakat perlu bersikap bijaksana dengan tidak mudah mempercayai informasi yang belum melalui proses verifikasi. Perbedaan informasi mengenai insiden di Intan Jaya menunjukkan pentingnya penyelidikan yang objektif dan transparan berdasarkan fakta. Aparat penegak hukum saat ini telah mengedepankan profesionalisme, akuntabilitas, serta kepatuhan terhadap aturan hukum.

Pemerintah terus mengedepankan pendekatan yang lebih komprehensif dalam menjaga stabilitas keamanan di Papua. Upaya tersebut tidak hanya dilakukan melalui penegakan hukum terhadap kelompok yang melakukan kekerasan, tetapi juga melalui pembangunan kesejahteraan, peningkatan pelayanan publik, serta penguatan kemitraan dengan masyarakat. Pendekatan keamanan modern menempatkan masyarakat sebagai mitra utama, bukan sekadar objek pengamanan. Karena itu, sinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, dan insan pers menjadi faktor penting dalam menciptakan situasi yang kondusif.

Kepala Kepolisian Daerah Papua, Irjen Pol. Patrige Renwarin, menegaskan bahwa aparat keamanan telah melalukan berbagai langkah yang prediktif, responsif, dan adaptif dengan mengedepankan pendekatan humanis, penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta penghargaan terhadap kearifan lokal. Menurutnya, sinergi antara Polri, TNI, pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, dan seluruh elemen masyarakat merupakan kunci utama dalam menjaga keamanan di Tanah Papua. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa stabilitas keamanan hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi seluruh komponen bangsa.

Komitmen pemerintah dalam menjaga keamanan juga diwujudkan melalui penguatan berbagai program pembangunan yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung. Dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis, pengembangan ketahanan pangan, pengawalan investasi, pemberantasan peredaran narkotika, penyelundupan, perjudian daring, dan berbagai tindak kriminal lainnya merupakan bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang aman sekaligus produktif. Keamanan yang terpelihara akan mempercepat hadirnya manfaat pembangunan hingga ke wilayah-wilayah yang selama ini masih menghadapi keterbatasan akses.

Di sisi lain, aparat keamanan juga terus menjalankan tugas berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku dalam menghadapi kelompok bersenjata. Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf. M. Wirya Arthadiguna, menyampaikan bahwa setiap kehilangan nyawa merupakan duka yang tidak diharapkan dan menegaskan komitmen TNI untuk bertindak secara profesional, proporsional, serta mengutamakan keselamatan warga sipil dalam setiap pelaksanaan tugas. Ia juga mengajak kelompok yang masih memilih jalan kekerasan agar meninggalkan aksi bersenjata. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tetap membuka ruang penyelesaian konflik melalui jalur yang lebih konstruktif tanpa mengabaikan penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan.

Masyarakat Papua pada hakikatnya menginginkan kehidupan yang aman, kesempatan bekerja, pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak, pelayanan kesehatan yang memadai, serta pembangunan yang mampu meningkatkan kesejahteraan. Aspirasi tersebut tidak akan terwujud apabila aksi kekerasan. Teror, intimidasi, dan perusakan fasilitas publik hanya akan memperpanjang penderitaan masyarakat serta memperlambat kemajuan daerah. Oleh sebab itu, setiap bentuk gangguan keamanan yang dilakukan OPM patut ditolak karena bertentangan dengan kepentingan masyarakat Papua yang mendambakan kedamaian.

Masa depan Papua tidak boleh ditentukan oleh kekerasan, melainkan oleh semangat persatuan, pembangunan. Negara telah menunjukkan komitmennya melalui penguatan pelayanan publik, pembangunan kesejahteraan, penegakan hukum yang profesional, serta pendekatan humanis dalam menjaga stabilitas keamanan. Dengan dukungan masyarakat yang menolak aksi teror dan memilih jalan damai, Papua memiliki peluang besar untuk terus bergerak menuju kemajuan yang berkeadilan, aman, dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh rakyatnya.

*Penulis merupakan Pengamat Sosial dan Pembangunan Papua

Stabilitas Keamanan Jadi Kunci Percepatan Pembangunan Papua

PAPUA – Stabilitas keamanan di Papua terus menjadi perhatian pemerintah sebagai salah satu faktor penting dalam mendukung percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kondisi yang aman dinilai menjadi prasyarat agar berbagai layanan publik, mulai dari pendidikan, kesehatan, transportasi, hingga aktivitas ekonomi dapat berlangsung secara berkelanjutan di seluruh wilayah Papua.

Pemerintah terus mengedepankan pendekatan yang komprehensif dalam menjaga keamanan, yakni melalui penegakan hukum yang profesional, penguatan pelayanan publik, pembangunan kesejahteraan, serta kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat. Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan situasi yang kondusif sekaligus mendukung pelaksanaan berbagai program strategis nasional di Papua.

Di sisi lain, sejumlah gangguan keamanan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, termasuk terhadap sarana transportasi perintis di wilayah pegunungan, dinilai berpotensi menghambat distribusi logistik, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan pokok masyarakat. Pemerintah menegaskan bahwa perlindungan terhadap masyarakat serta fasilitas publik menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan pembangunan di daerah.

Kepala Kepolisian Daerah Papua, Irjen Pol. Patrige Renwarin, mengatakan pendekatan keamanan di Papua dilaksanakan dengan mengedepankan profesionalisme dan kemitraan bersama masyarakat.

“Kami terus membangun sinergi dengan pemerintah daerah, TNI, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, dan insan pers. Kolaborasi tersebut menjadi modal penting untuk menjaga keamanan sekaligus mendukung pembangunan yang berkelanjutan di Papua,” ujarnya.

Selain penguatan stabilitas keamanan, pemerintah juga terus memperluas berbagai program yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat, antara lain melalui Program Makan Bergizi Gratis, pengembangan ketahanan pangan, pembangunan infrastruktur, peningkatan layanan pendidikan dan kesehatan, serta penguatan iklim investasi yang diharapkan mampu membuka lebih banyak kesempatan kerja bagi masyarakat.

Sementara itu, Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf. M. Wirya Arthadiguna, menegaskan bahwa setiap pelaksanaan tugas aparat selalu berpedoman pada ketentuan hukum yang berlaku.

“TNI berkomitmen menjalankan tugas secara profesional, proporsional, dan mengutamakan keselamatan warga sipil. Stabilitas keamanan merupakan tanggung jawab bersama yang perlu dijaga melalui sinergi seluruh komponen bangsa,” katanya.

Pemerintah berharap sinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat dapat terus diperkuat sehingga situasi yang kondusif tetap terjaga. Dengan demikian, berbagai program pembangunan dan pelayanan publik dapat berjalan optimal serta memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat Papua.

Pemerintah Perkuat Stabilitas Keamanan Papua untuk Dukung Pembangunan dan Pelayanan Publik

PAPUA – Pemerintah terus memperkuat upaya menjaga stabilitas keamanan di Papua sebagai fondasi utama dalam mendukung pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Situasi yang kondusif dinilai menjadi prasyarat penting agar pelayanan publik, aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, serta berbagai program strategis pemerintah dapat berjalan secara optimal hingga menjangkau wilayah-wilayah terpencil.

Dalam beberapa waktu terakhir, gangguan keamanan di sejumlah wilayah Papua masih menjadi tantangan bagi keberlangsungan pelayanan masyarakat. Salah satunya adalah insiden pembakaran pesawat perintis PT AMA di Balinggama, Kabupaten Yahukimo, yang mengganggu transportasi udara sebagai jalur distribusi logistik, pelayanan kesehatan, pendidikan, serta kebutuhan pokok bagi masyarakat di wilayah pegunungan.

Pemerintah menilai bahwa setiap bentuk gangguan terhadap keamanan dan fasilitas publik berpotensi menghambat percepatan pembangunan serta pelayanan dasar kepada masyarakat. Oleh karena itu, upaya menjaga situasi yang aman terus dilakukan melalui penegakan hukum yang profesional, peningkatan koordinasi antarlembaga, serta penguatan kemitraan dengan masyarakat.

Kepala Kepolisian Daerah Papua, Irjen Pol. Patrige Renwarin, mengatakan pendekatan yang diterapkan aparat tidak hanya berorientasi pada aspek keamanan, tetapi juga mengedepankan penghormatan terhadap hak asasi manusia dan kearifan lokal.

“Kami mengedepankan langkah yang prediktif, responsif, dan adaptif dengan pendekatan humanis. Sinergi antara Polri, TNI, pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, dan insan pers menjadi elemen penting dalam menjaga situasi keamanan yang kondusif di Papua,” ujarnya.

Selain penguatan aspek keamanan, pemerintah juga terus menjalankan berbagai program pembangunan yang menyentuh kebutuhan masyarakat, mulai dari peningkatan layanan pendidikan dan kesehatan, penguatan ketahanan pangan, Program Makan Bergizi Gratis, pembangunan infrastruktur, hingga pengawalan investasi agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata.

Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf. M. Wirya Arthadiguna, menegaskan bahwa setiap pelaksanaan tugas TNI dilakukan sesuai ketentuan hukum dengan mengutamakan perlindungan terhadap masyarakat sipil.

“Setiap kehilangan nyawa merupakan duka yang tidak diharapkan. Dalam setiap pelaksanaan tugas, TNI berkomitmen bertindak secara profesional, proporsional, serta mengutamakan keselamatan warga sipil sesuai aturan yang berlaku,” katanya.

Pemerintah berharap stabilitas keamanan yang terus terjaga dapat mendukung kelancaran pembangunan dan pelayanan publik di Papua. Dengan kolaborasi antara aparat, pemerintah daerah, serta seluruh elemen masyarakat, berbagai program pembangunan diharapkan dapat berjalan secara berkesinambungan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua.

Penindakan terhadap OPM Menjadi Langkah Penting Mewujudkan Papua yang Aman, Damai, dan Kondusif

Oleh : Fransiskus Nawipa

Situasi keamanan di Papua kembali menjadi perhatian publik setelah terjadinya aksi pembakaran pesawat milik Associated Mission Aviation (AMA) di Lapangan Terbang Ipedehik, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Peristiwa tersebut bukan hanya mengakibatkan hilangnya sarana transportasi udara yang sangat vital bagi masyarakat pedalaman, tetapi juga memperlihatkan bahwa kelompok bersenjata masih menjadikan fasilitas publik dan masyarakat sipil sebagai sasaran tindakan kekerasan. Di tengah berbagai upaya pemerintah mempercepat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua, aksi semacam ini justru menghambat pelayanan publik, mengganggu aktivitas ekonomi, serta menimbulkan rasa takut di tengah masyarakat. Oleh karena itu, penindakan terhadap Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang melakukan aksi kekerasan merupakan langkah penting untuk memastikan Papua tetap berada dalam kondisi aman, damai, dan kondusif.

Insiden pembakaran pesawat AMA menunjukkan bahwa ancaman kelompok bersenjata tidak hanya menyasar aparat keamanan, tetapi juga mengancam keselamatan warga sipil. Berdasarkan informasi dari aparat, pesawat tersebut mengangkut tujuh penumpang yang merupakan masyarakat asli Papua dengan tujuan melayani penerbangan perintis menuju wilayah pedalaman. Kehadiran penerbangan perintis memiliki arti yang sangat strategis karena menjadi penghubung utama distribusi logistik, pelayanan kesehatan, pendidikan, hingga mobilitas masyarakat di daerah yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Ketika pesawat dibakar, yang dirugikan bukan hanya operator penerbangan, melainkan seluruh masyarakat yang bergantung pada layanan tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes Pol Cahyo Sukarnito menjelaskan bahwa berdasarkan data dari Polres Yahukimo, pesawat AMA dibakar sesaat setelah mendarat di Lapangan Terbang Ipedehik. Dari hasil pemantauan udara, pesawat telah hangus terbakar dan hanya menyisakan puing-puing. Aparat gabungan TNI dan Polri masih melakukan koordinasi untuk proses evakuasi karena lokasi kejadian berada di kawasan pegunungan yang hanya dapat dijangkau melalui jalur udara. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa aparat bergerak secara cepat untuk menangani situasi sekaligus memastikan proses penyelidikan berjalan secara profesional meskipun dihadapkan pada tantangan geografis yang sangat berat.

Kondisi geografis Papua memang menjadi salah satu tantangan terbesar dalam menjaga keamanan wilayah. Medan pegunungan, hutan lebat, serta keterbatasan akses transportasi membuat proses penanganan berbagai insiden membutuhkan koordinasi yang matang. Namun, kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan bagi kelompok bersenjata untuk terus melakukan aksi teror yang merugikan masyarakat. Justru dalam situasi seperti inilah kehadiran aparat keamanan menjadi semakin penting agar masyarakat memperoleh perlindungan sekaligus kepastian bahwa negara hadir dalam menjaga keselamatan setiap warga tanpa membedakan latar belakang maupun wilayah tempat tinggalnya.

Peristiwa lain yang memperkuat pentingnya penindakan terhadap kelompok bersenjata adalah kontak tembak di Kabupaten Intan Jaya yang mengakibatkan tewasnya Okto Tigau. Berdasarkan penjelasan Koops TNI Habema, insiden tersebut bermula ketika personel TNI mendeteksi pergerakan empat orang yang mendekati pos secara sembunyi-sembunyi pada malam hari. Aparat telah memberikan peringatan sesuai prosedur, namun tidak mendapat respons. Situasi kemudian berkembang menjadi kontak tembak setelah kelompok tersebut terlebih dahulu melakukan penyerangan. Fakta ini memperlihatkan bahwa tindakan aparat dilakukan dalam rangka mempertahankan keamanan personel sekaligus menjalankan tugas negara sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Kepala Penerangan Koops TNI Habema Letkol Inf Wirya Arthadiguna menerangkan bahwa setelah situasi dinilai aman, tim gabungan melakukan penyisiran dan menemukan satu jenazah yang kemudian diidentifikasi sebagai Okto Tigau. Berdasarkan data aparat keamanan, yang bersangkutan merupakan anggota TPNPB-OPM yang menjabat sebagai Wakil Komandan Operasi Batalyon Metua Kodap VIII Intan Jaya. Aparat juga menyampaikan bahwa Okto Tigau diduga terlibat dalam berbagai aksi kekerasan, mulai dari penembakan aparat keamanan, penembakan pekerja sipil, penyiksaan warga, hingga intimidasi terhadap masyarakat. Penjelasan tersebut memberikan gambaran mengenai kompleksitas ancaman yang dihadapi aparat di lapangan serta alasan mengapa langkah penegakan hukum terhadap kelompok bersenjata harus terus dilakukan.

Meskipun demikian, pendekatan keamanan harus tetap dijalankan secara profesional, proporsional, dan berlandaskan hukum. Penegakan hukum tidak boleh dipahami sebagai upaya represif semata, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab negara dalam melindungi masyarakat dari ancaman kekerasan. Aparat keamanan memiliki kewajiban untuk memastikan setiap tindakan dilaksanakan sesuai prosedur operasional dan ketentuan peraturan perundang-undangan, sehingga keamanan dapat terwujud tanpa mengabaikan penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Keamanan yang kondusif merupakan prasyarat utama bagi keberhasilan pembangunan Papua. Berbagai program pemerintah di bidang pendidikan, kesehatan, pembangunan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia hanya dapat berjalan secara optimal apabila situasi keamanan terkendali. Ketika aksi kekerasan terus terjadi, masyarakat menjadi takut beraktivitas, tenaga kesehatan enggan bertugas, guru kesulitan menjalankan proses belajar mengajar, dan investor maupun pelaku usaha akan mempertimbangkan kembali kehadirannya di wilayah tersebut. Akibatnya, masyarakat Papua sendiri yang paling merasakan dampak negatif dari ketidakstabilan keamanan.

Di sisi lain, semakin banyak masyarakat Papua yang menginginkan kehidupan yang damai dan jauh dari konflik. Aspirasi tersebut terlihat dari dukungan masyarakat terhadap pembangunan, pelayanan publik, serta berbagai program pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan. Keinginan hidup aman menjadi harapan bersama yang harus diwujudkan melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan, termasuk aparat keamanan, pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen bangsa.

*Penulis adalah Mahasiswa Papua di Yogyakarta

Aparat Keamanan Berhasil Tindak Okto Tigau Anggota OPM yang Pernah Terlibat Penembakan Pekerja Sipil

INTAN JAYA – Aparat keamanan menegaskan komitmennya untuk terus melindungi masyarakat Papua dari berbagai aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok bersenjata. Komitmen tersebut kembali ditegaskan menyusul operasi pengamanan di Kampung Mamba, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, yang berujung pada penindakan terhadap Okto Tigau, anggota TPNPB-OPM yang selama ini disebut terlibat dalam sejumlah aksi penembakan terhadap warga sipil maupun aparat keamanan.

Komando Operasi (Koops) TNI Habema menjelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (30/6/2026) malam ketika personel TNI yang sedang melaksanakan tugas pengamanan wilayah mendeteksi empat orang bergerak secara sembunyi-sembunyi mendekati pos pengamanan. Sesuai prosedur, aparat memberikan peringatan secara bertahap kepada kelompok tersebut. Namun, peringatan tidak direspons dan justru dibalas dengan tembakan yang memicu terjadinya kontak senjata.

Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf Wirya Arthadiguna, menjelaskan bahwa situasi yang berlangsung pada malam hari membuat personel mengutamakan faktor keselamatan sehingga penyisiran tidak langsung dilakukan. Keesokan harinya, tim gabungan Koops TNI Habema melaksanakan penyisiran sesuai prosedur dan menemukan satu jenazah laki-laki beserta sebuah parang di sekitar lokasi kejadian.

“Berdasarkan pencocokan ciri fisik, dokumentasi, dan informasi yang dimiliki aparat, jenazah tersebut diidentifikasi sebagai Okto Tigau,” ujar Letkol Inf Wirya Arthadiguna dalam keterangan tertulis, Kamis (2/7/2026).

Menurut aparat, Okto Tigau diketahui merupakan Wakil Komandan Operasi Batalyon Metua Kodap VIII/Intan Jaya dari TPNPB-OPM. Berdasarkan data yang dimiliki aparat keamanan, yang bersangkutan diduga terlibat dalam berbagai aksi kekerasan di wilayah Intan Jaya, termasuk penembakan terhadap aparat keamanan, penembakan pekerja dan warga sipil, penyiksaan masyarakat, serta tindakan intimidasi yang mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Yang bersangkutan terlibat dalam sejumlah aksi kekerasan di Intan Jaya, antara lain penembakan terhadap aparat keamanan, penembakan pekerja sipil, penyiksaan warga, serta berbagai aksi intimidasi terhadap masyarakat. Penyampaian informasi ini dimaksudkan untuk memberikan konteks mengenai situasi yang dihadapi personel di lapangan,” kata Wirya.

Aparat menegaskan bahwa seluruh tindakan yang dilakukan di lapangan berpedoman pada prosedur operasional dan mengedepankan aspek keselamatan personel maupun masyarakat. Setelah proses identifikasi selesai, penanganan jenazah diserahkan kepada tokoh adat setempat agar proses pemakaman dapat dilaksanakan sesuai adat dan menghormati keluarga yang ditinggalkan.