Reformasi Pasar Modal di Arah Tepat, Kredibilitas Bursa Makin Menguat

JAKARTA — Reformasi pasar modal yang dijalankan pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan berbagai pemangku kepentingan terus menunjukkan hasil positif.

Hal tersebut tercermin dari keputusan MSCI dalam 2026 Market Classification Review yang mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market, sekaligus memberikan pengakuan terhadap berbagai langkah pembenahan yang telah dilakukan untuk memperkuat transparansi, integritas, dan daya saing pasar modal nasional.

Keputusan tersebut menjadi indikator penting bahwa kredibilitas pasar modal Indonesia semakin menguat di mata investor global.

Di tengah dinamika ekonomi dan ketidakpastian pasar keuangan internasional, Indonesia dinilai mampu menjaga stabilitas sekaligus melanjutkan agenda reformasi yang berorientasi pada peningkatan kualitas tata kelola pasar.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan bahwa hasil penilaian MSCI mencerminkan kepercayaan dunia internasional terhadap ketahanan ekonomi nasional serta konsistensi reformasi yang dilakukan pemerintah dan regulator.

“Kami juga mencatat pengakuan MSCI atas berbagai langkah reformasi integritas pasar modal yang telah dilakukan. Adapun sejumlah area yang masih menjadi perhatian merupakan bagian dari proses evaluasi yang konstruktif dan akan terus kami tindak lanjuti bersama seluruh pemangku kepentingan,” ujar Friderica.

Sebelumnya, MSCI melalui Global Market Accessibility Review 2026 menempatkan aksesibilitas pasar Indonesia sebagai salah satu yang terbaik di antara negara-negara Emerging Markets di kawasan Asia-Pasifik.

Dari 18 indikator yang dievaluasi, sebanyak 10 indikator memperoleh penilaian tertinggi atau “double plus”, yang menunjukkan kesesuaian dengan praktik terbaik pasar global.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menegaskan bahwa capaian tersebut menunjukkan reformasi yang dijalankan berada pada jalur yang benar.

“Pengakuan terhadap capaian reformasi pasar modal ini tentu kita sambut positif. MSCI tidak hanya mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Markets, tetapi juga memberikan pengakuan bahwa berbagai langkah reformasi yang telah dan sedang kita jalankan berada pada arah yang tepat. Hal tersebut tercermin dari hasil penilaian market accessibility Indonesia yang terjaga baik,” kata Hasan.

Langkah-langkah tersebut dijalankan secara kolaboratif oleh OJK, Bursa Efek Indonesia (BEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), serta pelaku industri pasar modal.

Meski MSCI masih memberikan sejumlah catatan yang perlu ditindaklanjuti, OJK menegaskan bahwa masukan tersebut akan menjadi referensi penting dalam mempercepat agenda reformasi ke depan.

Komitmen untuk memperkuat integritas pasar, meningkatkan kualitas informasi, dan memperluas akses investasi akan terus dilanjutkan guna meningkatkan kepercayaan investor domestik maupun internasional.

Kebijakan Reformasi Pasar Modal Buka Peluang Arus Modal Asing Lebih Besar

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat reformasi pasar modal guna meningkatkan transparansi, integritas, dan daya saing pasar Indonesia.

Penegasan tersebut disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, saat menanggapi hasil MSCI Global Market Accessibility Review 2026. Menurutnya, hasil penilaian tersebut menunjukkan mayoritas aspek aksesibilitas pasar Indonesia tetap terjaga.

“OJK mencermati hasil MSCI Global Market Accessibility Review 2026 yang menunjukkan bahwa secara umum mayoritas aspek aksesibilitas pasar Indonesia tetap terjaga dan tidak mengalami perubahan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, namun juga terdapat sejumlah catatan yang menjadi arah perbaikan pasar modal ke depan,” ujar Hasan.

Hasil asesmen MSCI menunjukkan bahwa dari 18 kriteria penilaian, sebanyak 10 kriteria memperoleh kategori tertinggi atau “++”, enam kriteria mendapat nilai “+”, dan dua kriteria masih memperoleh penilaian negatif yang memerlukan perhatian lebih lanjut. Salah satu catatan yang menjadi sorotan adalah aspek Information Flow.

Menanggapi hal tersebut, Hasan menegaskan bahwa masukan MSCI akan menjadi bagian penting dalam proses penyempurnaan pasar modal nasional.

OJK bersama Bursa Efek Indonesia, Kustodian Sentral Efek Indonesia, Kliring Penjaminan Efek Indonesia, dan seluruh pelaku industri terus menjalankan reformasi struktural.

Upaya tersebut mencakup peningkatan kualitas data kepemilikan saham, penguatan keterbukaan informasi, pengembangan pelaporan beneficial ownership, serta peningkatan kapasitas pengawasan perdagangan.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyatakan keputusan MSCI yang mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Markets mencerminkan kepercayaan investor global terhadap perekonomian nasional.

“Kami juga mencatat pengakuan MSCI atas berbagai langkah reformasi integritas pasar modal yang telah dilakukan. Adapun sejumlah area yang masih menjadi perhatian merupakan bagian dari proses evaluasi yang konstruktif dan akan terus kami tindak lanjuti bersama seluruh pemangku kepentingan,” ujar Friderica.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai hasil MSCI 2026 menjadi momentum penting untuk mempercepat reformasi pasar modal.

“Indonesia yang tetap berstatus Emerging Market menunjukkan fundamental ekonomi nasional dan aksesibilitas pasar Indonesia tetap kuat. Fokus kami adalah memastikan setiap agenda reformasi tidak berhenti pada tataran kebijakan, tetapi benar-benar diimplementasikan secara konsisten sehingga memberi dampak nyata terhadap transparansi, integritas pasar, dan kepercayaan investor,” kata Airlangga.

Pemerintah Perluas Ruang Partisipasi, Terima Aspirasi dari Mahasiswa Secara Terbuka

Jakarta – Pemerintah terus memperluas ruang partisipasi publik dengan membuka dialog yang inklusif terhadap berbagai aspirasi masyarakat, termasuk yang disampaikan mahasiswa. Komitmen untuk menerima masukan, kritik, maupun dukungan secara terbuka dinilai mencerminkan upaya pemerintah dalam memperkuat praktik demokrasi sekaligus menjadikan partisipasi publik sebagai bagian penting dalam penyempurnaan berbagai kebijakan nasional.

Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Bakom RI, Kurnia Ramadhana, membantah anggapan adanya pengkondisian pemerintah terhadap aksi yang mendukung program MBG. Menurutnya, pemerintah tidak membedakan aspirasi masyarakat, baik yang mendukung maupun yang mengkritik kebijakan.

“Terkait dengan dugaan ada pengkondisian dari pemerintah terhadap demo yang mendukung MBG, saya rasa itu tidak benar. Karena posisi pemerintah adalah menghargai setiap pendapat, suara masyarakat baik yang pro maupun yang kontra,” ujar Kurnia.

Ia menambahkan bahwa pemerintah saat ini terus melakukan pembenahan terhadap pelaksanaan MBG. “Pada intinya yang saat ini sedang pemerintah lakukan adalah berusaha berbenah diri dalam hal Program Makan Bergizi Gratis. Sembari itu juga perbaikan-perbaikan dilakukan oleh pimpinan BGN yang baru,” katanya.

Upaya tersebut diwujudkan melalui penataan tata kelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Wakil Kepala sekaligus Juru Bicara BGN, Agustina Arumsari, menjelaskan bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak menerima insentif selama masa libur sekolah sebagai bagian dari standardisasi tata kelola dan efisiensi anggaran. Dengan 27.820 SPPG yang beroperasi, kebijakan tersebut diperkirakan menghemat anggaran hingga sekitar Rp3 triliun.

Sikap pemerintah yang membuka ruang dialog mendapat apresiasi dari Direktur Eksekutif Kata Rakyat, Alwan Ola Riantobi. Menurutnya, pemerintah menunjukkan sikap demokratis karena bersedia menerima aspirasi dan berdialog dengan mahasiswa.

“Demonstrasi itu bagus untuk negara demokrasi. Hal yang perlu diapresiasi kepada pemerintah adalah mau menerima dan membuka dialog dengan demonstran. Hal itu menunjukan pemerintahan Pak Prabowo demokratis dan tidak anti kritik,” ujar Alwan.

Ia juga menilai pemerintah menunjukkan keseriusan dalam mengevaluasi MBG. “MBG merupakan bentuk komitmen Pak Prabowo dalam menepati janji politik kampanyenya. Ketika ada kekurangan dalam implementasi MBG, pemerintah langsung melakukan mitigasi dan membuka ruang perbaikan ke depan,” tuturnya.

Dengan komunikasi yang terbuka, aspirasi mahasiswa dapat menjadi masukan berharga untuk menyempurnakan kebijakan sehingga manfaat program pemerintah dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Pemerintah Pastikan Tidak Ada Pengondisian Demo Mahasiswa, Kebebasan Berpendapat Tetap Dijamin

Jakarta – Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI menegaskan pemerintah tidak melakukan intervensi maupun pengondisian terhadap aksi demonstrasi yang digelar berbagai kelompok masyarakat dan mahasiswa, termasuk aksi yang mendukung maupun mengkritik Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah menekankan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat merupakan hak konstitusional yang dihormati tanpa membedakan pandangan yang disampaikan.

Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Bakom RI, Kurnia Ramadhana, membantah tudingan yang menyebut pemerintah berada di balik aksi demonstrasi yang mendukung program MBG. Menurutnya, narasi tersebut tidak sesuai dengan sikap pemerintah yang menghormati seluruh bentuk penyampaian aspirasi masyarakat.

“Terkait dengan dugaan ada pengondisian dari pemerintah terhadap demo yang mendukung MBG. Saya rasa itu tidak benar,” kata Kurnia.

Ia menegaskan pemerintah memberikan ruang yang sama bagi masyarakat untuk menyampaikan dukungan maupun kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah. Kebebasan berpendapat, lanjutnya, merupakan hak yang dijamin oleh peraturan perundang-undangan.

“Di dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia, siapapun boleh menyatakan pendapat. Baik pendapat yang sepakat dengan kebijakan pemerintah maupun yang mengkritik kebijakan pemerintah,” ujarnya.

Kurnia menambahkan, pemerintah tidak membedakan perlakuan terhadap kelompok yang memiliki pandangan berbeda. Seluruh aspirasi yang disampaikan melalui mekanisme yang sesuai ketentuan akan dihormati sebagai bagian dari kehidupan demokrasi.

“Posisi pemerintah menghormati kedua belah pihak tersebut,” tegasnya.

Lebih lanjut, Kurnia juga menanggapi berbagai dinamika dan polemik yang berkembang terkait pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menyampaikan bahwa pemerintah saat ini memusatkan perhatian pada upaya penyempurnaan tata kelola program agar implementasinya dapat berjalan lebih efektif dan memberikan manfaat yang lebih optimal bagi masyarakat luas.

“Pada intinya yang saat ini sedang pemerintah lakukan adalah berusaha berbenah diri dalam hal program MBG. Sembari itu juga perbaikan-perbaikan dilakukan oleh pimpinan BGN yang baru,” ungkap Kurnia.

Melalui penegasan tersebut, pemerintah kembali menekankan bahwa setiap penyampaian aspirasi masyarakat merupakan bagian dari proses demokrasi yang berlangsung secara terbuka. Pemerintah memastikan bahwa seluruh masukan yang disampaikan akan dicatat dan dipertimbangkan dalam proses perumusan maupun penyempurnaan kebijakan publik, termasuk pelaksanaan Program MBG.

Ekonom Ajak Publik Sikapi Isu Ekonomi secara Objektif di Tengah Aksi Mahasiswa

Jakarta – Ekonom Konstitusi Defiyan Cori mengajak masyarakat bersikap objektif dalam menyikapi dinamika ekonomi di tengah aksi mahasiswa yang menyoroti berbagai kebijakan pemerintah. Menurutnya, perubahan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi merupakan bagian dari mekanisme pasar yang dipengaruhi kondisi global sehingga perlu dipahami secara utuh.

Defiyan mengatakan kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Series kerap memicu keluhan publik. Namun, ketika harga mengalami penurunan beberapa kali, respons masyarakat cenderung tidak sebesar saat terjadi kenaikan. Menurut dia, naik-turunnya harga komoditas merupakan hal yang wajar dalam mekanisme ekonomi yang dipengaruhi permintaan dan penawaran.

“Perubahan harga komoditas adalah sesuatu yang lumrah dalam teori ekonomi,” kata Defiyan dalam keterangannya beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan Pasal 33 Ayat (2) UUD 1945 mengamanatkan negara hadir dan melakukan intervensi terhadap sektor yang menyangkut hajat hidup orang banyak, termasuk energi. Meski demikian, harga BBM tetap dipengaruhi perkembangan harga minyak dunia karena produksi minyak nasional belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan dalam negeri.

Menurut Defiyan, kondisi geopolitik global, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, turut memberi tekanan terhadap harga minyak mentah dunia. Karena itu, penyesuaian harga Pertamax Series dinilai sebagai langkah yang wajar. “Penyesuaian harga juga menjadi bagian dari upaya mendukung target swasembada energi,” ujarnya.

Ia menambahkan pemerintah tidak menaikkan harga BBM bersubsidi agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Defiyan juga mengajak masyarakat mengawasi penyaluran BBM subsidi agar tepat sasaran.

“Jangan sampai kelompok elite menikmati subsidi yang seharusnya diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Di tempat terpisah, Direktur Eksekutif Kata Rakyat Alwan Ola Riantobi menilai pemerintahan Presiden Prabowo tetap membuka ruang dialog terhadap aspirasi mahasiswa. Menurutnya, komitmen pemerintah memperbaiki kondisi ekonomi semestinya direspons dengan menurunnya eskalasi aksi.

“Memang eskalasi demonstrasi mahasiswa juga perlu didalami, apakah tuntutannya memang berdasarkan hasil kajian dan riset yang mendalam. Kita berharap tidak ada oknum yang menunggangi aksi mahasiswa yang ingin menggembosi pemerintah. Maka jika pemerintah sudah berkomitmen memperbaiki dan membuka ruang dialog semestinya eskalasi massa aksi harus berkurang dan dihentikan,” ujarnya.

Pemerintah Membuka Ruang Aspirasi, Mahasiswa Papua Harus Utamakan Dialog dan Menjaga Persatuan

Oleh: Samuel Wenda*

Papua terus bergerak menuju masa depan yang lebih baik melalui berbagai program pembangunan yang mengedepankan kesejahteraan masyarakat, pemerataan pelayanan publik, serta penghormatan terhadap keberagaman sosial dan budaya. Dalam proses tersebut, pemerintah menunjukkan komitmen untuk membuka ruang dialog dengan seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, tokoh adat, tokoh agama, dan pemerintah daerah. Pendekatan yang mengedepankan komunikasi, musyawarah, dan kolaborasi menjadi modal penting dalam memastikan setiap kebijakan mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat persatuan di Tanah Papua.

Penyampaian aspirasi oleh mahasiswa merupakan bagian dari kehidupan demokrasi yang dijamin dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Aspirasi yang disampaikan secara damai, tertib, dan bertanggung jawab menjadi masukan yang berharga bagi penyempurnaan berbagai kebijakan pembangunan. Oleh karena itu, kehadiran lembaga-lembaga negara yang bersedia menerima, mendengar, dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat menunjukkan bahwa pemerintah terus memperkuat tata kelola pemerintahan yang partisipatif dan terbuka.

Komitmen tersebut tercermin dari sikap Anggota DPR Papua sekaligus tokoh intelektual, tokoh adat Port Numbay, dan tokoh agama, Dr. Ir. Alberth Merauje, A.Md.Tek., S.T., M.T., IPM, yang menegaskan bahwa setiap aspirasi masyarakat merupakan bagian dari amanat yang harus diperjuangkan oleh wakil rakyat. Menurutnya, seluruh masukan yang disampaikan mahasiswa akan diteruskan kepada pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sesuai mekanisme yang berlaku. Sikap tersebut memperlihatkan bahwa demokrasi di Papua berjalan melalui jalur konstitusional yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan kebijakan.

Langkah DPR Papua untuk menindaklanjuti berbagai aspirasi menjadi bukti bahwa komunikasi antara masyarakat dan pemerintah terus dibangun secara konstruktif. Pendekatan seperti ini jauh lebih produktif karena membuka peluang lahirnya solusi yang mampu mengakomodasi berbagai kepentingan secara seimbang. Semakin kuat komunikasi yang terjalin, semakin besar pula peluang terciptanya pembangunan yang selaras dengan kebutuhan masyarakat Papua.

Komitmen pemerintah dalam membangun Papua melalui pendekatan yang lebih humanis juga semakin nyata. Wakil Menteri Hak Asasi Manusia, Mugiyanto, menegaskan bahwa pemerintah kini mengedepankan pendekatan kesejahteraan sebagai fondasi utama penyelesaian berbagai persoalan di Papua. Pendekatan tersebut menempatkan pembangunan manusia sebagai prioritas melalui peningkatan pelayanan dasar, perlindungan hak masyarakat, pemberdayaan ekonomi, penguatan pendidikan, serta peningkatan kualitas layanan publik. Kebijakan ini menunjukkan bahwa pembangunan Papua diarahkan untuk menciptakan kesejahteraan yang dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.

Komitmen tersebut diperkuat dengan berbagai langkah kelembagaan yang dilakukan pemerintah bersama lembaga legislatif. Pembentukan Panitia Khusus Penanganan Konflik dan Kemanusiaan Papua oleh DPD RI menjadi salah satu bentuk keseriusan negara dalam menghimpun berbagai aspirasi masyarakat secara komprehensif. Wakil Ketua DPD RI, Yorrys Raweyai, menegaskan bahwa pansus akan menginventarisasi berbagai masukan masyarakat sebagai dasar penyusunan rekomendasi kebijakan yang berpihak pada pembangunan berkelanjutan, perlindungan masyarakat adat, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua. Kehadiran pansus tersebut menunjukkan bahwa pemerintah terus memperkuat mekanisme dialog sebagai instrumen utama dalam menghasilkan kebijakan yang lebih inklusif.

Semangat dialog juga tercermin dalam ajakan Bupati Yalimo, Nahor Nekwek, yang mengimbau masyarakat dan generasi muda agar menyampaikan aspirasi secara tertib sehingga pelayanan publik dan pembangunan daerah tetap berjalan optimal. Stabilitas sosial merupakan prasyarat penting bagi percepatan pembangunan. Ketika situasi tetap kondusif, berbagai program pemerintah di bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, pemberdayaan ekonomi, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia dapat dilaksanakan secara maksimal demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Mahasiswa Papua memiliki posisi strategis sebagai generasi intelektual yang diharapkan mampu menjadi mitra pemerintah dalam memberikan gagasan-gagasan yang konstruktif. Sikap kritis yang disampaikan melalui dialog akan memberikan kontribusi yang jauh lebih besar dibandingkan tindakan yang berpotensi menghambat pembangunan. Oleh sebab itu, mahasiswa perlu terus mengedepankan semangat persatuan, menjaga suasana yang kondusif, serta tidak mudah terpengaruh oleh berbagai informasi yang belum tentu benar atau ajakan yang dapat menghambat proses pembangunan yang sedang berlangsung.

Pesan tersebut sejalan dengan pandangan Kepala Suku Besar Moni, Musa Kobogau, yang mengajak seluruh masyarakat Papua untuk terus menjaga keamanan, ketertiban, dan kedamaian. Menurutnya, seluruh tokoh masyarakat memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan informasi yang benar serta memperkuat semangat persatuan di tengah masyarakat. Ia juga mengingatkan pentingnya meningkatkan kualitas pendidikan generasi muda Papua agar semakin siap mengambil peran dalam pembangunan daerah. Pendidikan yang berkualitas akan melahirkan sumber daya manusia yang mampu bersaing, berinovasi, dan menjadi motor penggerak kemajuan Papua pada masa mendatang.

Pembangunan Papua akan semakin optimal apabila seluruh elemen masyarakat terus memperkuat budaya dialog, saling menghormati, dan menjaga persatuan. Perbedaan pandangan hendaknya dipandang sebagai kekuatan untuk memperkaya proses pengambilan kebijakan, bukan menjadi sumber perpecahan. Dengan semangat kolaborasi, pemerintah dapat terus menyempurnakan berbagai program pembangunan, sementara masyarakat berperan aktif memberikan masukan yang konstruktif. Melalui kebersamaan tersebut, Papua akan terus melangkah menjadi wilayah yang semakin maju dengan kualitas pendidikan yang lebih baik, pelayanan kesehatan yang semakin merata, perekonomian yang tumbuh, serta kesejahteraan masyarakat yang terus meningkat. Dialog yang terbuka, stabilitas yang terjaga, dan partisipasi seluruh komponen bangsa akan menjadi fondasi kokoh bagi terwujudnya pembangunan Papua yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

*Penulis merupakan Pemerhati Sosial Papua

Di Balik Gelombang Aksi, Mahasiswa Perlu Waspadai Agenda Terselubung

Oleh: Rizky Pratama

Gelombang aksi mahasiswa yang kembali mengemuka di berbagai daerah merupakan bagian dari dinamika demokrasi. Namun, di balik semangat menyuarakan aspirasi, mahasiswa perlu meningkatkan kewaspadaan agar gerakan yang lahir dari idealisme dan kepentingan publik tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang membawa agenda terselubung. Independensi, landasan kajian ilmiah, serta etika dalam menyampaikan kritik menjadi modal utama agar marwah gerakan mahasiswa tetap terjaga sebagai kekuatan moral bangsa.

Aspirasi yang disampaikan hendaknya lahir dari kajian yang objektif, argumentasi yang kuat, serta tetap berada dalam koridor etika dan hukum. Demokrasi yang sehat bukan sekadar memberi ruang bagi kritik, tetapi juga memastikan kritik tersebut membangun serta berorientasi pada kepentingan publik.

Belakangan ini, meningkatnya intensitas demonstrasi mahasiswa di sejumlah daerah memunculkan perhatian dari berbagai kalangan. Kekhawatiran yang muncul bukan diarahkan untuk membatasi kebebasan berpendapat, melainkan agar gerakan mahasiswa tetap mempertahankan independensinya sebagai kekuatan moral bangsa. Kekhawatiran mengenai kemungkinan adanya pihak-pihak yang memanfaatkan aksi mahasiswa untuk kepentingan politik tertentu menjadi hal yang patut diwaspadai.

Direktur Eksekutif Kata Rakyat, Alwan Ola Riantobi, berpandangan bahwa demonstrasi merupakan bagian yang sah dalam sistem demokrasi. Namun, menurutnya, eskalasi aksi mahasiswa perlu dicermati untuk memastikan tuntutan yang disampaikan benar-benar lahir dari hasil kajian akademis dan riset yang mendalam, bukan dipengaruhi kepentingan pihak tertentu yang memiliki agenda terselubung. Dalam pandangannya, gerakan mahasiswa akan tetap memiliki legitimasi apabila berpijak pada data, fakta, serta kepentingan masyarakat luas.

Pandangan tersebut relevan mengingat sejarah menunjukkan bahwa tidak sedikit gerakan sosial yang pada akhirnya dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk mencapai tujuan politik yang tidak selalu sejalan dengan kepentingan publik. Oleh karena itu, independensi mahasiswa menjadi modal utama yang harus terus dijaga agar gerakan intelektual tidak kehilangan kredibilitas di mata masyarakat.

Di sisi lain, kritik terhadap pemerintah juga akan lebih efektif apabila disampaikan kepada pemerintahan yang membuka ruang komunikasi. Dalam konteks ini, Alwan menilai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memperlihatkan sikap terbuka terhadap berbagai kritik yang berkembang. Menurutnya, pemerintah tidak hanya menerima demonstran, tetapi juga menyediakan ruang dialog sebagai bentuk penghormatan terhadap mekanisme demokrasi.

Sikap terbuka tersebut, menurut Alwan, terlihat pula dalam berbagai isu kebijakan ekonomi maupun program prioritas nasional. Ketika muncul masukan mengenai pelemahan nilai tukar rupiah maupun kondisi pasar modal, pemerintah dinilai melakukan evaluasi terhadap kebijakan fiskal dan moneter sesuai perkembangan situasi. Begitu pula terhadap implementasi Program Makan Bergizi Gratis yang menjadi salah satu perhatian publik. Berbagai kekurangan dalam pelaksanaan program tersebut disebut mendapat respons melalui langkah mitigasi dan perbaikan sehingga kebijakan dapat terus disempurnakan.

Artinya, kritik yang berbasis argumentasi tetap memperoleh ruang untuk didengar. Kondisi demikian semestinya mendorong berkembangnya budaya dialog yang lebih produktif dibandingkan sekadar memperbesar eskalasi konfrontasi di ruang publik. Demokrasi akan semakin matang apabila setiap aspirasi direspons melalui komunikasi yang terbuka dan penyempurnaan kebijakan secara berkelanjutan.

Selain substansi tuntutan, aspek etika dalam menyampaikan pendapat juga menjadi perhatian penting. Tuan Guru Batak Syekh Dr. H. Ahmad Sabban el-Rahmaniy Rajagukguk berpandangan bahwa kebebasan berpendapat merupakan hak konstitusional seluruh warga negara. Namun, hak tersebut harus dijalankan dengan tetap menjunjung nilai moral, adab, dan budaya bangsa yang selama ini menjadi identitas Indonesia.

Menurut pandangannya, bangsa Indonesia dibangun di atas nilai agama, Pancasila, serta budaya ketimuran yang mengedepankan sopan santun. Karena itu, perbedaan pendapat tidak seharusnya diwujudkan melalui penghinaan, cacian, ataupun ujaran yang merendahkan martabat pihak lain. Kritik tetap dapat disampaikan secara tegas tanpa harus menghilangkan penghormatan terhadap sesama warga negara.

Pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa kualitas demokrasi tidak hanya diukur dari luasnya kebebasan berbicara, tetapi juga dari kedewasaan masyarakat dalam menggunakan kebebasan tersebut. Semakin tinggi budaya berdialog dan saling menghormati, semakin kuat pula fondasi demokrasi Indonesia.

Tuan Guru Batak juga mengingatkan bahwa perhatian bangsa saat ini seharusnya tetap diarahkan pada berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, mulai dari tantangan ekonomi, kenaikan harga kebutuhan pokok, hingga dinamika global yang memengaruhi stabilitas nasional. Karena itu, seluruh elemen bangsa, baik pemerintah maupun masyarakat, perlu berkolaborasi menghadirkan solusi yang berpihak kepada kepentingan rakyat, khususnya kelompok yang paling rentan.

Pada akhirnya, demokrasi bukanlah arena pertarungan untuk saling menjatuhkan, melainkan ruang bersama untuk mencari jalan keluar atas berbagai persoalan bangsa. Mahasiswa tetap memiliki posisi strategis sebagai penjaga nurani publik, tetapi peran tersebut akan semakin bermakna apabila dijalankan secara independen, berbasis kajian ilmiah, serta bebas dari kepentingan politik yang tersembunyi. Pada saat yang sama, etika, moralitas, dan adab harus terus menjadi fondasi dalam setiap penyampaian aspirasi sehingga demokrasi Indonesia dapat tumbuh semakin dewasa, beradab, dan mampu menghasilkan kebijakan yang benar-benar bermanfaat bagi seluruh rakyat.

*) Pengamat Sosial dan Kebijakan Publik

Mahasiswa sampai Anak Desa, Presiden Mendengar Aspirasi Bangsa

Oleh: Ganesh Lepen Wengi *)

Demonstrasi mahasiswa selalu memiliki tempat penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Mahasiswa seringkali menjadi kelompok pertama yang menangkap kegelisahan publik, mengartikulasikan persoalan bangsa, sekaligus mendorong lahirnya berbagai pembaruan kebijakan. Karena itu, kehadiran aksi mahasiswa adalah bagian dari mekanisme koreksi dalam negara demokrasi.

Namun demikian, kualitas demokrasi tidak hanya diukur dari seberapa bebas masyarakat menyampaikan kritik. Demokrasi juga diukur dari sejauh mana pemerintah bersedia mendengarkan, membuka ruang dialog, dan menerjemahkan berbagai aspirasi menjadi kebijakan yang lebih baik. Pada titik inilah dinamika demokrasi Indonesia hari ini layak diapresiasi.

Belakangan berbagai aksi mahasiswa mengangkat isu mulai dari kondisi ekonomi, Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga Koperasi Desa Merah Putih. Aspirasi tersebut merupakan hak konstitusional yang patut dihormati. Yang menarik, pemerintah tidak memilih jalan penolakan ataupun pembatasan ruang berekspresi. Sebaliknya, berbagai kritik justru dijawab melalui evaluasi kebijakan, penyempurnaan program, hingga penguatan koordinasi lintas kementerian.

Direktur Eksekutif Kata Rakyat, Alwan Ola Riantobi, menilai salah satu indikator penting pemerintahan yang demokratis adalah kesediaannya menerima kritik dan membuka ruang dialog. Menurutnya, pemerintah tidak menutup diri terhadap demonstrasi mahasiswa, bahkan melakukan evaluasi terhadap berbagai program yang menjadi sorotan publik, termasuk pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis yang kini memasuki fase pembenahan tata kelola dan mitigasi. Ia juga menilai berbagai respons pemerintah terhadap pelemahan rupiah dan dinamika pasar menunjukkan bahwa kritik masyarakat dijadikan salah satu bahan dalam penyusunan langkah kebijakan.

Lebih jauh, Presiden Prabowo Subianto sendiri memberikan gambaran menarik mengenai bagaimana pemerintah memandang aspirasi masyarakat. Dalam penutupan Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia, Presiden menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya mendengarkan masukan para profesor maupun akademisi, tetapi juga memperhatikan usulan masyarakat biasa, termasuk anak-anak desa yang menyampaikan aspirasi melalui media sosial seperti TikTok. Menurut Presiden, teknologi justru memungkinkan pemerintah mengetahui persoalan hingga ke pelosok daerah dan menindaklanjutinya secara lebih cepat.

Komitmen tersebut mengandung makna penting dalam perspektif kebijakan publik modern. Saluran partisipasi warga kini tidak lagi terbatas pada forum formal ataupun demonstrasi di jalan. Teknologi digital memperluas ruang komunikasi antara pemerintah dan masyarakat sehingga proses penyusunan kebijakan menjadi lebih responsif terhadap persoalan nyata yang dihadapi warga.

Dalam konsep responsive governance, pemerintahan yang efektif bukanlah pemerintahan yang bebas kritik, melainkan pemerintahan yang memiliki kemampuan menyerap berbagai sumber informasi untuk memperbaiki kebijakan. Aspirasi dapat datang dari ruang akademik, organisasi masyarakat sipil, media sosial, hingga demonstrasi mahasiswa. Seluruhnya memiliki nilai apabila diproses melalui mekanisme yang objektif.

Semangat kolaboratif tersebut juga terlihat dari ajakan Presiden kepada kalangan perguruan tinggi. Melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, pemerintah menegaskan bahwa Presiden memandang guru besar, dekan, dan rektor sebagai sumber daya intelektual terbaik bangsa yang perlu dilibatkan dalam menyelesaikan berbagai persoalan nasional. Pemerintah berharap setiap bidang keilmuan dapat memberikan kontribusi nyata sesuai kompetensinya, sehingga pembangunan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi proyek bersama seluruh elemen bangsa.

Pandangan itu memperoleh respons positif dari kalangan akademisi. Dosen Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Indri Arrafi, menilai arahan Presiden membangkitkan optimisme terhadap masa depan Indonesia. Menurutnya, berbagai tantangan global memang nyata, tetapi yang dibutuhkan bukan sekadar memperbesar rasa pesimis, melainkan membangun aksi nyata yang mampu memberikan solusi bagi masyarakat.

Senada dengan itu, Dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Suhadi Lili, memandang ajakan Presiden mampu menjadi inspirasi bagi komunitas akademik untuk menyelaraskan kembali peran perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan nasional di tengah ketidakpastian global.

Bagi mahasiswa sendiri, perkembangan ini selayaknya menjadi momentum penting. Demonstrasi tetap merupakan instrumen demokrasi yang sah. Akan tetapi, ketika pemerintah menunjukkan keterbukaan terhadap dialog dan evaluasi kebijakan, ruang partisipasi dapat diperluas melalui kajian akademik, riset kebijakan, inovasi sosial, hingga rekomendasi yang berbasis bukti. Kontribusi intelektual semacam inilah yang justru memiliki dampak jangka panjang terhadap kualitas pengambilan keputusan publik.

Demokrasi yang matang bukanlah demokrasi yang diwarnai pertentangan tanpa akhir. Demokrasi yang matang adalah demokrasi yang mampu mengubah kritik menjadi kebijakan, mengubah aspirasi menjadi solusi, dan mengubah perbedaan pandangan menjadi kolaborasi pembangunan.

Mahasiswa tetap memiliki peran sebagai penjaga nurani bangsa. Pemerintah pun memiliki kewajiban untuk terus mendengar dan memperbaiki diri. Ketika kedua peran itu berjalan beriringan, maka yang lahir bukan sekadar demonstrasi atau respons sesaat, melainkan proses demokrasi yang sehat, produktif, dan benar-benar menghadirkan manfaat bagi masyarakat Indonesia.

*) Pengamat Kebijakan Publik

Ekonom Ajak Mahasiswa Sikapi Isu Ekonomi Secara Objektif

Oleh : Aditia Rahman )*

Perkembangan ekonomi nasional selalu menjadi perhatian publik karena berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Perubahan harga bahan bakar minyak (BBM), inflasi, investasi, hingga nilai tukar rupiah sering kali memunculkan berbagai respons, terutama di kalangan mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok intelektual dan agen perubahan. Namun, di tengah derasnya arus informasi digital, berbagai isu ekonomi tidak jarang dipersepsikan secara emosional dan dipengaruhi narasi yang belum tentu didukung fakta. Oleh karena itu, mahasiswa perlu membangun tradisi berpikir objektif agar mampu memahami setiap kebijakan ekonomi secara utuh, berdasarkan data, teori, dan kepentingan nasional.

Objektivitas menjadi modal penting dalam menjaga kualitas diskursus publik. Mahasiswa memiliki peran strategis sebagai kelompok yang tidak hanya kritis, tetapi juga mampu menghadirkan analisis yang rasional. Kritik terhadap kebijakan pemerintah merupakan bagian dari demokrasi yang sehat, tetapi kritik tersebut akan lebih bermakna apabila disampaikan berdasarkan pemahaman menyeluruh terhadap kondisi ekonomi nasional maupun tantangan global yang sedang dihadapi Indonesia.

Salah satu isu yang kerap menjadi perhatian masyarakat adalah penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Perubahan harga tersebut sering kali memicu reaksi yang cukup besar, sementara ketika harga mengalami penurunan, respons publik cenderung tidak sebesar saat terjadi kenaikan. Kondisi ini menunjukkan pentingnya membangun literasi ekonomi agar masyarakat memahami bahwa perubahan harga komoditas merupakan bagian dari mekanisme ekonomi yang dipengaruhi banyak faktor.

Ekonom Konstitusi, Defiyan Cori berpandangan bahwa naik dan turunnya harga komoditas merupakan sesuatu yang wajar dalam teori ekonomi karena dipengaruhi keseimbangan antara permintaan dan penawaran. Menurutnya, harga BBM nonsubsidi di Indonesia juga tidak dapat dilepaskan dari perkembangan harga minyak mentah dunia, terlebih produksi minyak nasional belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kondisi geopolitik internasional yang memengaruhi pasar energi global turut memberikan tekanan terhadap harga minyak sehingga penyesuaian harga menjadi bagian dari mekanisme yang lazim terjadi.

Pandangan tersebut memberikan perspektif bahwa kebijakan energi tidak dapat dilihat secara sederhana. Pemerintah harus mempertimbangkan berbagai aspek secara bersamaan, mulai dari keberlanjutan pasokan energi, kesehatan fiskal negara, hingga perlindungan terhadap daya beli masyarakat. Dalam situasi ekonomi global yang dinamis, menjaga keseimbangan tersebut merupakan tantangan yang tidak ringan.

Pemerintah selama ini juga menunjukkan komitmennya untuk tetap melindungi masyarakat melalui kebijakan subsidi energi. BBM bersubsidi tetap dipertahankan agar masyarakat yang berhak memperoleh perlindungan dari gejolak harga internasional. Sementara itu, harga BBM nonsubsidi mengikuti ketentuan yang berlaku dengan tetap mempertimbangkan kondisi ekonomi nasional. Kebijakan tersebut mencerminkan upaya pemerintah menjaga keseimbangan antara mekanisme pasar dan tanggung jawab negara dalam memenuhi amanat konstitusi.

Ekonom Konstitusi, Defiyan Cori juga menilai harga Pertamax dan Pertamax Green saat ini masih belum sepenuhnya mengikuti harga keekonomian. Menurutnya, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tetap melakukan penyesuaian agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Ia juga mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap penyaluran BBM bersubsidi sehingga benar-benar dinikmati oleh kelompok masyarakat yang berhak menerima manfaat subsidi dari negara.

Bagi kalangan mahasiswa, penjelasan tersebut menjadi pelajaran penting bahwa kebijakan publik selalu lahir melalui proses pertimbangan yang kompleks. Tidak semua keputusan dapat dinilai hanya dari satu aspek, apalagi jika hanya mengandalkan informasi yang beredar di media sosial. Kemampuan memahami konteks ekonomi secara menyeluruh akan membantu mahasiswa menghasilkan kritik yang konstruktif sekaligus memberikan solusi yang relevan bagi pembangunan nasional.

Selain isu energi, pemerintah juga terus melakukan pembenahan terhadap tata kelola sumber daya alam sebagai bagian dari upaya memperkuat fondasi ekonomi nasional. Pengelolaan sumber daya alam yang lebih transparan dan memberikan nilai tambah di dalam negeri menjadi salah satu agenda strategis untuk menciptakan pemerataan kesejahteraan serta memperkuat kemandirian ekonomi Indonesia.

Dalam konteks tersebut, Ketua Umum Pengurus Pusat Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia, Nasrullah Larada menilai langkah Presiden Prabowo Subianto dalam membenahi tata kelola sumber daya alam menunjukkan komitmen kuat untuk memastikan kekayaan alam Indonesia memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat. Menurutnya, kebijakan tersebut mencerminkan keberanian pemerintah dalam memperkuat kedaulatan ekonomi sekaligus menghadirkan pemerataan hasil pembangunan melalui pengelolaan sumber daya alam yang lebih adil.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa agenda pembangunan ekonomi tidak hanya berfokus pada pertumbuhan, tetapi juga pada pemerataan manfaat pembangunan. Hilirisasi industri, peningkatan investasi produktif, penguatan ketahanan energi, serta pembenahan tata kelola sumber daya alam merupakan bagian dari strategi jangka panjang agar Indonesia mampu keluar dari ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah dan memiliki daya saing yang lebih tinggi di tingkat global.

Mahasiswa memiliki posisi strategis dalam mendukung agenda tersebut melalui penelitian, diskusi akademik, maupun pengembangan gagasan yang berbasis ilmu pengetahuan. Kampus harus menjadi ruang lahirnya solusi terhadap berbagai persoalan bangsa, bukan sekadar tempat berkembangnya opini yang belum tentu didukung data empiris. Tradisi akademik yang kuat akan melahirkan generasi muda yang mampu berkontribusi secara nyata terhadap penyempurnaan kebijakan publik.

Dengan mengedepankan analisis berbasis data, memahami dinamika ekonomi global, serta melihat setiap kebijakan secara proporsional, mahasiswa dapat menjadi mitra strategis dalam mengawal pembangunan nasional. Sikap tersebut tidak hanya memperkuat kualitas demokrasi, tetapi juga membantu menciptakan ruang publik yang lebih sehat sehingga berbagai kebijakan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat dapat dipahami secara utuh dan didukung demi kemajuan Indonesia.

)* Penulis merupakan Pengamat Isu Strategis

Tuntutan Mahasiswa Diharapkan Berbasis Kajian Demi Perbaikan Kebijakan

Jakarta – Gerakan mahasiswa diharapkan mampu memberikan kontribusi yang lebih signifikan dalam mengawal kebijakan negara. Mahasiswa didorong menyampaikan tuntutan berbasis kajian ilmiah agar kritik yang diberikan menjadi solusi nyata yang konstruktif.

Direktur Eksekutif Kata Rakyat, Alwan Ola Riantobi, menekankan pentingnya tuntutan demonstrasi mahasiswa dibangun atas kajian yang mendalam, bukan sekadar upaya menggembosi pemerintah.

“Kita berharap tidak ada oknum yang menunggangi aksi mahasiswa yang ingin menggembosi pemerintah,” kata Alwan.

Dirinya menyebut, Presiden Prabowo Subianto justru menunjukkan sikap terbuka terhadap kritik.

“Demonstrasi itu bagus untuk negara demokrasi. Hal yang perlu diapresiasi kepada pemerintah adalah mau menerima dan membuka dialog dengan demonstran,” jelasnya.

Menurutnya, gerakan moral mahasiswa harus bertransformasi menjadi gerakan intelektual yang berbasis data dan analisis objektif.

Dengan pendekatan yang konstruktif, aspirasi mahasiswa dapat menjadi masukan berharga bagi pemerintah untuk melakukan perbaikan kebijakan.

Alwan menilai, kritik yang disertai dengan solusi konkret akan lebih didengar dan sulit untuk diabaikan oleh para pembuat kebijakan.

Salah satu contoh krusial yang memerlukan kawalan ketat adalah program Makan Bergizi Gratis.

“MBG merupakan bentuk komitmen Pak Prabowo dalam menepati janji politik kampanyenya. Ketika ada kekurangan dalam implementasi MBG, pemerintah langsung melakukan mitigasi dan membuka ruang perbaikan ke depan,” ungkap Alwan.

Alwan menyatakan harapannya agar aksi mahasiswa tetap berpijak pada kajian ilmiah dan kepentingan publik, bukan dimanfaatkan pihak tertentu untuk agenda politik.

Perubahan strategi pergerakan ini akan berdampak besar pada kualitas demokrasi kita.

Ketika aksi jalanan disinergikan dengan riset yang kuat, maka demonstrasi berkontribusi positif bagi kemajuan bangsa dan melahirkan kebijakan publik yang jauh lebih berpihak pada kepentingan rakyat luas. [-RWA]