November 7, 2026
SAVE_20250712_064550.jpg

Jakarta – Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa Indonesia pada penghujung Oktober 2026 mencapai USD146,8 miliar atau mengalami peningkatan dibandingkan September 2026 yang tercatat sebesar USD146,3 miliar. Perkembangan positif ini menunjukkan terjaganya kemampuan ekonomi nasional dalam menghadapi ketidakpastian global. Ketahanan tersebut juga tercermin dari neraca perdagangan Indonesia yang berhasil membukukan surplus USD10,61 miliar hingga September 2026.

Berdasarkan keterangan BI, bertambahnya cadangan devisa dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa serta pencairan pinjaman luar negeri pemerintah. Peningkatan tersebut terjadi ketika pemerintah tetap memenuhi kewajiban pembayaran utang luar negeri, sementara bank sentral melakukan berbagai langkah untuk mengendalikan pergerakan rupiah di tengah gejolak pasar keuangan internasional.

banner 336×280
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa jumlah cadangan devisa Indonesia masih mencukupi kebutuhan pembiayaan impor dan pembayaran kewajiban luar negeri. Bahkan, posisinya melampaui ketentuan kecukupan internasional yang menjadi acuan.

“Cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2026 mampu membiayai kebutuhan impor selama 5,3 bulan, atau mencapai 5,2 bulan apabila turut memperhitungkan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan standar internasional yang menetapkan kecukupan sekitar tiga bulan impor,” ungkap Ramdan Denny Prakoso.

BI memandang kondisi tersebut sebagai modal penting untuk mempertahankan stabilitas makroekonomi dan memperkuat ketahanan sektor eksternal. Bank sentral juga optimistis aliran investasi asing tetap berpeluang meningkat karena prospek perekonomian Indonesia masih dipandang positif dan menawarkan tingkat pengembalian investasi yang menarik.

Di sisi perdagangan, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa surplus neraca perdagangan hingga September 2026 ditopang sektor nonmigas sebesar USD34,21 miliar. Nilai tersebut mampu menutupi defisit perdagangan migas yang mencapai USD23,60 miliar.

Budi menyebut keberhasilan mencatat surplus USD10,61 miliar menunjukkan kemampuan Indonesia mempertahankan ketahanan perdagangan di tengah tantangan ekonomi dunia. Menurutnya, pencapaian tersebut didukung kualitas komoditas ekspor serta hubungan perdagangan dengan negara mitra strategis.

Budi menilai penguatan industri pengolahan melalui hilirisasi menjadi faktor penting dalam meningkatkan nilai ekspor nasional. Pemerintah pun terus berupaya mempertahankan sinergi kebijakan agar cadangan devisa, stabilitas rupiah, dan kinerja perdagangan terus terjaga demi mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *