Pemerintah Dorong Koperasi Desa Jadi Motor Produksi Nasional

Oleh : Ricky Rinaldi

Pemerintah semakin menegaskan pentingnya koperasi desa sebagai tulang punggung ekonomi nasional melalui percepatan program Kopdes Merah Putih. Program ini dirancang agar desa menjadi pusat produksi, distribusi, dan pemberdayaan ekonomi yang mandiri. Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi di Kementerian Koperasi, Destry Anna Sari, menyatakan penguatan kapasitas SDM pengurus dan pendamping koperasi desa menjadi prioritas utama. Per Oktober–November 2025, pelatihan telah dilaksanakan di berbagai provinsi, menargetkan ribuan pengurus dan pendamping yang akan mengelola Kopdes Merah Putih secara profesional. Tujuan utama pelatihan ini adalah memastikan koperasi mampu menjalankan fungsi ekonomi nyata di desa, baik dalam distribusi sarana produksi, pengelolaan hasil tani, maupun akses pasar bagi pelaku UMKM lokal.

Menurut Destry Anna Sari, koperasi desa memiliki potensi strategis untuk memperpendek rantai distribusi, mengurangi ketergantungan pada tengkulak, serta meningkatkan margin keuntungan bagi pelaku ekonomi desa. Dengan pengelolaan profesional, koperasi bisa menjadi pusat aktivitas ekonomi lokal sekaligus sarana pemberdayaan masyarakat, di mana warga desa berperan sebagai pemilik sekaligus pelaku ekonomi yang demokratis. Program Kopdes Merah Putih diharapkan menciptakan ekosistem ekonomi desa yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan, sejalan dengan misi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dari akar rumput dan memastikan desa tidak tertinggal.

Selain penguatan SDM, pemerintah melalui Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menetapkan regulasi yang mendukung kelancaran program. Salah satunya adalah PMK 81/2025 yang mensyaratkan pembentukan Kopdes Merah Putih sebagai prasyarat pencairan Dana Desa tahap II. Kebijakan ini disahkan pada November 2025 dan berlaku efektif pada bulan yang sama. Desa yang ingin mencairkan Dana Desa harus memiliki koperasi yang legal dan beroperasional. Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengintegrasikan pendanaan pembangunan desa dengan penguatan kelembagaan koperasi, sehingga setiap dana yang digelontorkan tidak hanya untuk pembangunan fisik tetapi juga memberdayakan ekonomi masyarakat.

Program ini menargetkan seluruh unit Kopdes Merah Putih yang telah terbentuk beroperasional penuh paling lambat akhir Desember 2025. Sejumlah koperasi desa telah mulai melakukan aktivitas nyata, seperti pendistribusian sarana produksi pertanian, penyediaan logistik dan kebutuhan pokok, penyimpanan hasil tani, serta pengelolaan usaha UMKM. Penerapan sistem koperasi terpadu ini diharapkan memperpendek rantai pasok, menstabilkan harga, dan meningkatkan efisiensi distribusi dari desa ke pasar regional maupun nasional. Keberadaan koperasi desa yang mandiri memungkinkan masyarakat memperoleh akses ke modal usaha tanpa bergantung pada lembaga keuangan komersial yang memberatkan.

Pemerintah menyadari bahwa pembentukan dan regulasi saja tidak cukup. Keberhasilan koperasi desa sangat bergantung pada manajemen profesional, partisipasi aktif anggota, dan kesinambungan operasional. Kemenkop telah memulai langkah pendampingan, pelatihan, serta supervisi reguler terhadap pengurus koperasi desa. Dengan kombinasi pelatihan SDM, regulasi pendanaan, dan target operasional yang jelas, diharapkan akhir 2025 menjadi titik balik transformasi ekonomi desa di seluruh Indonesia.

Kopdes Merah Putih dirancang bukan sekadar lembaga simpan-pinjam, tetapi jaringan ekonomi terpadu yang mencakup distribusi sarana produksi pertanian, pengelolaan hasil tani, penyimpanan, distribusi kebutuhan pokok, serta akses pasar bagi petani dan pelaku UMKM. Petani dan pelaku usaha lokal dapat menjual produk dengan harga lebih adil, sementara konsumen memperoleh harga kebutuhan pokok lebih stabil. Sistem ini mendorong kemandirian ekonomi desa dan memperkuat ketahanan pangan nasional.

Pelibatan dua pejabat utama, Destry Anna Sari dan Purbaya Yudhi Sadewa, mencerminkan sinergi lintas kementerian. Dengan koordinasi antara Kemenkop dan Kemenkeu, regulasi, pelatihan SDM, dan pendanaan desa berjalan beriringan, sehingga koperasi berjalan profesional dan berkelanjutan. Program ini menunjukkan pemerintah tidak hanya memikirkan pembentukan koperasi dari sisi administratif, tetapi juga memastikan implementasi di lapangan sesuai prinsip efisiensi, transparansi, dan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dampak sosial-ekonomi dari program ini mulai terlihat di beberapa desa. Dengan hadirnya Kopdes Merah Putih, pelaku ekonomi desa memiliki wadah menabung, mengakses modal, memasarkan produk, dan memperoleh layanan logistik serta distribusi pangan lebih efisien. Hal ini menciptakan ekosistem ekonomi desa yang inklusif, memperkuat daya saing produk lokal, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Keberadaan koperasi desa yang mandiri diharapkan mengurangi kesenjangan ekonomi antara desa dan kota serta memperkuat pemerataan pembangunan nasional.

Secara keseluruhan, pemerintah optimis bahwa melalui penguatan SDM, dukungan regulasi, integrasi pendanaan, serta pengawasan operasional berkesinambungan, Kopdes Merah Putih akan menjadi motor produksi nasional nyata. Program ini tidak hanya memfokuskan pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membangun kesadaran kolektif masyarakat desa sebagai pelaku ekonomi yang mandiri, berpartisipasi, dan bertanggung jawab. Jika semua elemen dijalankan konsisten, Kopdes Merah Putih berpotensi menjadi ujung tombak pembangunan ekonomi desa, memberikan manfaat nyata bagi warga, mendukung ketahanan pangan, dan mendorong pemerataan ekonomi di seluruh Indonesia.

Dengan melihat data dan implementasi program hingga Oktober–November 2025, terlihat optimisme bahwa koperasi desa dapat menjadi fondasi ekonomi nasional yang kuat. Keberhasilan program ini membuktikan bahwa koperasi desa bukan sekadar lembaga administratif, tetapi penggerak ekonomi rakyat dari akar rumput, memperkuat ketahanan ekonomi nasional, dan berkontribusi langsung pada kesejahteraan masyarakat.

*)Pengamat Isu Strategis

MBG Jangkau Puluhan Juta Penerima Manfaat untuk Pemerataan Gizi Nasional

Jakarta — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menunjukkan capaian yang signifikan dalam upaya pemerataan akses nutrisi di seluruh wilayah Indonesia. Presiden RI, Prabowo Subianto menyebut program MBG telah menjangkau 49 juta penerima manfaat. Presiden mengatakan MBG saat ini telah bisa disalurkan ke daerah-daerah pelosok dan terpencil.

“Saat ini sudah 49 juta makanan tiap hari, 49 juta penerima manfaat tiap hari. Lebih dari tujuh kali Singapura kita kasih makan setiap hari. Dan sampai di pelosok-pelosok, di tempat-tempat terpencil kita berhasil untuk masuk,” ungkap Presiden Prabowo.

Distribusi layanan makanan bergizi dilakukan melalui jaringan yang terintegrasi, memanfaatkan sekolah, fasilitas kesehatan, lembaga sosial, serta perangkat desa dan daerah sebagai simpul pelayanan. Sistem ini memberikan kepastian bahwa makanan yang disalurkan tepat sasaran, tersusun dengan standar nutrisi yang sesuai, serta dapat menjangkau daerah yang sebelumnya kurang terfasilitasi.

Pemanfaatan teknologi pendataan turut memastikan tidak terjadi tumpang tindih penerima manfaat dan membantu pemerintah memetakan wilayah dengan tingkat kerentanan gizi yang lebih tinggi untuk percepatan penanganan.

Implementasi program terus disempurnakan melalui penguatan koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, hingga tingkat pelaksana teknis. Infrastruktur penyimpanan, transportasi logistik, tenaga pendamping, dan fasilitas penyajian makanan menjadi fokus pembenahan berkelanjutan.

Kebijakan yang dikembangkan sebagai program jangka panjang ini tidak sekadar menjadi agenda penanggulangan gizi buruk, melainkan juga sebuah gerakan besar yang menyasar peningkatan kualitas kesehatan masyarakat melalui pemenuhan kebutuhan pangan bernutrisi.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Rini Widyantini mengatakan untuk memperkuat efektivitas MBG dengan layanan Badan Gizi Nasional (BGN), juga akan dilakukan penataan dan penambahan jumlah Unit Pelaksana Teknis (UPT) BGN yaitu Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) di daerah.

“Penguatan kelembagaan KPPG merupakan isu strategis yang perlu segera dilaksanakan, mengingat KPPG merupakan ujung tombak BGN dalam pelayanan dan distribusi MBG di daerah,”ujar Menteri Rini.

Keberlanjutan program menjadi langkah strategis dalam memastikan kualitas manusia Indonesia tetap terjaga dan meningkat. Anak-anak yang hari ini tercukupi gizinya adalah generasi masa depan yang akan membawa bangsa menuju kemajuan. Masyarakat yang sehat dan produktif akan semakin kompetitif dalam perekonomian modern. Melalui upaya bersama yang terus diperkuat, MBG tidak hanya menjadi kebijakan intervensi, tetapi warisan besar untuk pembangunan manusia Indonesia.

[edRW]

Mendorong Peran Kopdes Sebagai Basis Ekonomi Lokal Produktif

Oleh: Dimas Permana )*

Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih semakin meneguhkan perannya sebagai fondasi penting dalam memperkuat ekonomi berbasis kerakyatan di tingkat desa. Dalam konteks pembangunan ekonomi nasional yang menempatkan desa sebagai sentrum pertumbuhan baru, keberadaan struktur kelembagaan seperti Kopdes menjadi sangat strategis untuk memastikan masyarakat memiliki akses terhadap kegiatan usaha yang stabil dan berkelanjutan. Pemerintah melalui berbagai kebijakan mendorong peran Kopdes sebagai wadah produktif yang mampu memanfaatkan sumber daya lokal secara optimal. Langkah ini tidak hanya memperkuat struktur ekonomi pedesaan, tetapi juga berkontribusi pada pemerataan kesejahteraan dan ketahanan ekonomi nasional. Dengan demikian, penguatan Kopdes merupakan bagian integral dari visi besar pemerintah dalam membangun kemandirian ekonomi dari akar rumput.

Wakil Menteri Koperasi, Farida Farichah, menegaskan bahwa Koperasi Desa Merah Putih dapat menjadi unit usaha penopang kebutuhan masyarakat sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi desa. Ia menyampaikan bahwa pemerintah secara konsisten mendorong Kopdes Merah Putih agar mampu berada di garis terdepan dalam pemanfaatan sumber daya lokal dan pemberdayaan masyarakat. Pernyataannya menunjukkan bahwa Kopdes tidak hanya dilihat sebagai organisasi simpan pinjam, tetapi juga motor penggerak kegiatan ekonomi produktif di desa. Dalam perspektif pemerintah, koperasi menjadi medium yang memungkinkan masyarakat mengonsolidasikan potensi kolektif sehingga nilai tambah yang dihasilkan dapat dinikmati secara merata. Oleh karena itu, pengembangan Kopdes menjadi prioritas strategis dalam memastikan desa mampu tumbuh sebagai pusat aktivitas ekonomi yang mandiri dan berdaya saing.

Peran strategis Kopdes sebagai pilar ekonomi desa juga mendapat dukungan legislatif, khususnya dari para pemimpin daerah. Wakil Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Bogor, KH. Ahmad Yaudin Shogir, SE, menyatakan dukungan tegas terhadap penguatan Koperasi Desa Merah Putih sebagai program nasional. Menurutnya, Kopdes Merah Putih merupakan gagasan Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong kekuatan ekonomi desa melalui wadah koperasi yang terstruktur, profesional, dan berbasis kebutuhan masyarakat. Pandangannya memberikan legitimasi politik yang penting bagi keberlangsungan program ini, terutama di tingkat daerah di mana implementasi kebijakan sering kali memerlukan harmonisasi dengan pemerintah lokal. Dukungan legislatif juga mencerminkan kesadaran bahwa desa adalah ruang yang sangat potensial untuk menampung dan mengembangkan kegiatan usaha rakyat secara terarah. Karena itu, keberadaan Kopdes dianggap relevan untuk mempercepat kebangkitan ekonomi desa.

Pendukung lain datang dari kalangan akademisi yang memandang Kopdes sebagai instrumen penting penggerak kegiatan ekonomi rakyat. Akademisi Universitas Ngurah Rai, Dr. Ni Putu Yuliana Ria Sawitri, SE., MM, menilai bahwa Kopdes Merah Putih memiliki fungsi strategis sebagai lembaga ekonomi rakyat yang mampu menggerakkan berbagai aktivitas produktif. Menurutnya, Kopdes dapat menjadi pusat kegiatan ekonomi mulai dari pengolahan hasil pertanian, penguatan UMKM, perdagangan lokal, hingga layanan keuangan mikro. Ia menilai bahwa keberadaan Kopdes membawa dampak signifikan terhadap akses permodalan yang lebih mudah bagi masyarakat desa. Hal tersebut secara langsung membuka ruang bagi terciptanya lapangan kerja dan usaha baru yang disesuaikan dengan potensi lokal masing-masing wilayah. Dengan demikian, Kopdes Merah Putih mampu menghadirkan nilai tambah yang luas bagi masyarakat desa melalui aktivitas produktif yang terarah dan berkelanjutan.

Lebih jauh, pandangan akademisi tersebut memperkuat pemahaman bahwa keberadaan koperasi bukan sekadar fungsi administratif atau lembaga pinjaman, tetapi pusat transformasi ekonomi. Ketika masyarakat diberikan akses terhadap modal dan pendampingan usaha, peluang untuk berkembang menjadi pelaku ekonomi produktif menjadi semakin besar. Dalam konteks ini, Kopdes berperan sebagai lembaga yang memastikan aliran modal dan sumber daya tetap berada di dalam desa, sehingga distribusi manfaat ekonomi menjadi lebih merata. Hal ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah untuk memperkuat ekonomi domestik melalui pengembangan sektor UMKM dan hilirisasi berbasis potensi lokal. Dengan demikian, penguatan Kopdes Merah Putih sejalan dengan upaya strategis pemerintah dalam menciptakan ekonomi desa yang inklusif, modern, dan kompetitif.

Di sisi lain, keberadaan Kopdes juga memberikan ruang bagi inovasi desa dalam mengembangkan produk unggulan yang memiliki daya saing. Melalui dukungan koperasi, masyarakat dapat melakukan pengolahan hasil pertanian atau produk lokal lain dengan standar yang lebih baik dan berorientasi pasar. Kopdes dapat menjadi fasilitator untuk menghubungkan pelaku usaha desa dengan jejaring pemasaran yang lebih luas, termasuk sektor industri dan ritel nasional. Dengan demikian, kegiatan ekonomi di desa tidak hanya berhenti pada tahap hulu, tetapi dapat bergerak menuju proses hilirisasi yang meningkatkan nilai tambah. Keterlibatan Kopdes dalam proses ini juga memastikan bahwa keuntungan tidak hanya dinikmati oleh segelintir pihak, melainkan oleh seluruh anggota masyarakat desa secara kolektif.

Peran Kopdes Merah Putih merupakan refleksi dari komitmen pemerintah dalam membangun struktur ekonomi yang lebih tahan terhadap gejolak global. Ketika desa mampu menjadi pusat produksi dan penggerak ekonomi, maka ketergantungan terhadap pusat-pusat ekonomi besar menjadi berkurang. Ini menjadikan ekonomi nasional lebih resilien karena keberagaman basis ekonomi menjadi semakin luas. Penguatan ekonomi desa melalui Kopdes juga memastikan pemerataan pembangunan yang lebih efektif sehingga kesenjangan antarwilayah dapat ditekan. Dengan dukungan kebijakan pemerintah, Kopdes Merah Putih dapat menjadi katalisator penting dalam mempercepat transformasi ekonomi nasional.

)* Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Publik.

MBG Jadi Program Strategis Penguatan Gizi Anak Indonesia

Jakarta — Pemerintah melalui Program Makan Bergizi Gratis atau MBG terus menunjukkan komitmen kuat dalam memperkuat kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia. Program ini dipandang sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Di tengah tantangan ketahanan pangan dan isu stunting, MBG hadir bukan hanya sebagai penyedia makanan, tetapi sebagai investasi besar dalam menciptakan generasi unggul.

Data terbaru menunjukkan bahwa program MBG telah menjangkau lebih dari dua belas juta siswa di lebih dari sembilan puluh enam ribu satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Pemerintah juga meluncurkan enam modul edukasi gizi sebagai bagian dari upaya memperluas pemahaman siswa dan sekolah mengenai pentingnya pola makan sehat. Langkah ini memastikan bahwa program berjalan tidak hanya pada aspek distribusi, tetapi juga pada penguatan literasi gizi melalui pendekatan pendidikan.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Gogot Suharwoto, mengungkapkan bahwa pendidikan tidak akan optimal apabila kesehatan dan konsentrasi siswa belum terpenuhi. Menurutnya, kecukupan gizi merupakan prasyarat bagi peningkatan kemampuan kognitif anak.

“Kita harus meluruskan pemahaman bersama. Program MBG bukan hanya program logistik atau program sosial. Ini adalah program strategis investasi sumber daya manusia,” tegas Gogot.

Pemerintah juga memperkuat integrasi MBG dengan kegiatan sekolah melalui edukasi gizi, pembiasaan hidup sehat, serta penguatan Usaha Kesehatan Sekolah. Pendekatan ini dirancang untuk memastikan bahwa siswa tidak hanya menerima makanan bergizi, tetapi juga memahami manfaat dan prinsip gizi seimbang dari usia dini. Penguatan pola makan sehat sejak dini diyakini menjadi fondasi penting bagi pembangunan karakter dan daya saing generasi muda Indonesia.

Rektor UNUSA, Prof. Dr. Ir. Triyogi Yuwono, DEA, IPU, ASEAN Eng, menegaskan bahwa sinergi antara lembaga pendidikan tinggi dengan program nasional seperti MBG akan mempercepat lahirnya ekosistem kesehatan dan pendidikan yang saling menguatkan.

“Program MBG ini, apa yang mungkin dianggap biasa oleh sebagian orang, justru merupakan sesuatu yang luar biasa bagi banyak masyarakat. Dan dalam konteks ini, mahasiswa gizi punya peran yang sangat besar dalam menyiapkan generasi sehat,” ujar Prof. Triyogi.

Kepala SPPG Cerme, Erna Dwi Murtasiyah, S Gz, menyampaikan bahwa MBG bukan sekadar kegiatan memberikan makanan kepada siswa, tetapi juga memastikan kualitas nutrisi, kebersihan, dan pengawasan yang memadai agar hasilnya benar benar dirasakan oleh anak anak. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, pemerintah daerah, dan masyarakat agar program dapat berjalan maksimal.

“Pengawas program MBG memang harus seorang ahli gizi. Peran mereka sangat fundamental dan tidak bisa digantikan profesi lain,” tegas Erna.

Dengan berbagai langkah strategis ini, MBG semakin menegaskan posisinya sebagai program unggulan dalam pembangunan manusia Indonesia. Pemerintah berkomitmen menjadikan anak Indonesia sebagai generasi yang sehat, kuat, cerdas, dan siap bersaing di tingkat global.

Melalui kebijakan ini, pemerintah kembali membuktikan kesungguhan dalam membangun fondasi masa depan bangsa. MBG adalah bukti nyata bahwa negara hadir untuk memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan terbaik untuk tumbuh dan belajar dalam kondisi yang sehat dan bergizi. Pemerintah optimistis program ini akan menjadi pilar penting dalam mewujudkan Generasi Emas Indonesia.*

Dapur MBG Beroperasi di 38 Provinsi, Sediakan Makan Sehat untuk Puluhan Juta Anak

Oleh: Juana Syahril)*

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini memasuki fase penting dalam pelaksanaannya, ditandai dengan beroperasinya ribuan dapur MBG di 38 provinsi. Program nasional yang digagas untuk memperkuat kualitas gizi anak Indonesia ini berkembang pesat, baik dari sisi cakupan layanan maupun kesiapan infrastruktur dapur. Dengan operasional yang semakin luas, MBG diproyeksikan mampu menyediakan makan sehat untuk puluhan juta anak di seluruh Indonesia, sekaligus memperkuat fondasi pembangunan sumber daya manusia sejak usia dini.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengatakan progres signifikan yang telah dicapai hingga saat ini telah terbentuk 16.503 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar merata di 38 provinsi, 509 kabupaten, dan 7.022 kecamatan. Cakupan ini menunjukkan bahwa dapur MBG sudah benar-benar beroperasi di skala nasional dan menjadi instrumen utama penyedia makanan sehat bagi anak-anak dari berbagai latar belakang sosial dan wilayah geografis.

Keberhasilan ini tidak datang begitu saja. Pemerintah melalui BGN terus membangun sistem yang solid untuk memastikan seluruh dapur MBG memiliki standar layanan yang sama, baik di kota besar maupun di daerah terpencil. Dengan lebih dari 14 ribu SPPG tambahan yang sedang dipersiapkan, cakupan layanan MBG diperkirakan akan terus meningkat. Besarnya animo calon mitra bahkan membuat portal pendaftaran ditutup secara permanen, sebagai langkah untuk memfokuskan pembinaan pada mitra yang telah terdaftar dan memastikan penguatan kualitas layanan.

Untuk menjaga kualitas makanan yang diberikan kepada anak-anak, setiap dapur MBG di seluruh provinsi diwajibkan mengikuti standar operasional prosedur yang ketat. Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang mengatakan pentingnya kedisiplinan seluruh mitra, yayasan, dan kepala SPPG dalam menjalankan SOP tersebut. Menurutnya, keberadaan dapur MBG tidak hanya soal memenuhi target jumlah dapur, tetapi juga memastikan bahwa setiap porsi makan yang disajikan aman, higienis, dan bernilai gizi tinggi.

Penekanan terhadap mutu ini sangat relevan mengingat dapur MBG melayani puluhan juta anak setiap harinya. Dengan skala yang begitu besar, keamanan pangan menjadi kunci utama agar program berjalan konsisten tanpa gangguan. Oleh karena itu, pemerintah memberikan dukungan berupa insentif fasilitas SPPG sebesar Rp6 juta per hari operasional bagi setiap dapur. Insentif ini bukan didasarkan pada jumlah porsi yang disajikan, tetapi diberikan sebagai kompensasi atas kesiapsiagaan fasilitas yang harus selalu memenuhi standar BGN.

Insentif tersebut berlaku selama dua tahun pertama dan akan dievaluasi di periode berikutnya. Kebijakan ini, yang dijelaskan oleh Direktur Sistem Pemenuhan Gizi Kedeputian Sistem dan Tata Kelola BGN Eny Indarti, mengatakan setiap dapur tetap siap beroperasi dengan kualitas yang konsisten, tanpa terkendala kekurangan peralatan maupun kondisi dapur yang tidak memenuhi standar. Dengan adanya dukungan ini, setiap dapur di 38 provinsi dapat menjalankan tugasnya secara optimal dalam menyediakan makanan bergizi.

Cakupan operasional MBG yang tersebar di seluruh provinsi memberikan dampak luas bagi pemenuhan gizi anak-anak Indonesia. Bukan hanya di kota besar, tetapi juga di kawasan perdesaan, kepulauan, dan daerah terluar. Dengan hadirnya dapur MBG yang berfungsi sebagai pusat distribusi menu sehat, pemerintah memastikan bahwa akses terhadap gizi berkualitas tidak lagi menjadi hambatan bagi perkembangan anak. Hal ini sekaligus memperkuat komitmen nasional untuk mewujudkan generasi muda yang lebih sehat, cerdas, dan produktif.

MBG juga menciptakan efek pengganda bagi masyarakat. Selain menyediakan makan sehat, program ini membuka peluang kolaborasi dengan petani lokal, UMKM pangan, serta tenaga ahli gizi dan pengelola dapur di daerah. Dapur-dapur MBG di 38 provinsi menjadi simpul yang menggerakkan rantai pasok pangan sehat yang lebih terorganisasi. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh anak-anak, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi lokal melalui penguatan ekosistem pangan bergizi.

Keberhasilan penyebaran dapur MBG di 38 provinsi tidak terlepas dari kerja terencana yang melibatkan berbagai pihak. Komitmen kuat dari pemerintah, Kementerian dan lembaga lainnya memastikan bahwa setiap keputusan strategis diarahkan untuk menjamin kualitas dan keberlanjutan program. Pengawasan ketat terhadap SOP, penyediaan insentif fasilitas, dan pembentukan ribuan SPPG menjadi pilar utama dalam memastikan layanan makan sehat dapat diberikan secara merata.

Dengan operasional yang semakin matang, program MBG diproyeksikan mampu menyentuh puluhan juta anak secara berkelanjutan. Ketersediaan menu sehat setiap hari bukan hanya meningkatkan kondisi gizi, tetapi juga mendukung konsentrasi belajar, menurunkan risiko stunting, dan meningkatkan kualitas hidup anak-anak Indonesia. Pada akhirnya, dapur MBG yang telah berdiri kokoh di 38 provinsi menjadi bukti bahwa negara hadir secara konkret dalam membangun fondasi generasi masa depan.

Program Makan Bergizi Gratis bukan hanya solusi jangka pendek, melainkan investasi strategis untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sehat dan berdaya saing. Dengan beroperasinya dapur MBG di seluruh penjuru negeri, langkah menuju masa depan generasi emas semakin nyata dan terukur.

)* Penulis adalah Mahasiswa Bogor tinggal di Jakarta

17.060 SPPG Telah Berdiri di 38 Provinsi, MBG Makin Merata Hingga Pelosok Daerah

Oleh: Citra Kurnia Khudori)*

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menunjukkan akselerasi nyata dengan berdirinya 17.060 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di 38 provinsi. Capaian ini menandai keseriusan negara dalam memastikan akses gizi yang merata hingga ke pelosok daerah, tanpa terkecuali.

Sebaran SPPG yang kian meluas menjadi indikator bahwa kebijakan gizi tidak lagi terpusat di wilayah perkotaan. MBG kini menjelma sebagai program strategis yang menjangkau kelompok rentan dan memperkuat fondasi kualitas sumber daya manusia Indonesia sejak dini.

Jumlah capaian SPPG itu ditegaskan oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana. Ia menegaskan bahwa pertumbuhan layanan MBG meningkat jauh lebih cepat dari perkiraan awal. Sebanyak 17.060 SPPG yang tersebar di seluruh Indonesia itu telah menyasar ke 49 juta penerima manfaat.

Dadan bahkan yakin pada pekan kedua Desember 2025, jumlah peneriman manfaat MBG bisa mencapai populasi Korea Selatan, yakni sebanyak 51,5 juta jiwa. Kemudian di akhir tahun ditargetkan mencapai 60 juta penerima manfaat.

Dadan menjelaskan, target awal pemerintah pada 2025 sebenarnya hanya membangun 5.000 SPPG dengan anggaran Rp71 triliun untuk melayani maksimal 17,5 juta masyarakat. Namun tingginya antusias publik mendorong Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat perluasan layanan MBG menjadi 82,9 juta penerima manfaat.

Meski target penuh kemungkinan belum tercapai tahun ini, namun BGN tetap optimistis mampu melayani minimal 60 juta penerima manfaat hingga akhir tahun 2025. Selain itu, lanjut Dadan, ia memperkirakan Pembangunan 20.000 SPPG di wilayah aglomerasi serta sekitar 300 SPPG di daerah terpencil akan rampung pada akhir Desember 2025.

Dengan percepatan ini, layanan pemenuhan gizi diharapkan semakin merata, terutama bagi kelompok rentan dan wilayah dengan akses pangan yang terbatas. Program ini menjadi bagian penting strategi pemerintah untuk memperkuat ketahanan gizi nasional dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui makanan bergizi yang mudah diakses di seluruh wilayah Indonesia.

Percepatan pembangunan SPPG juga membawa dampak langsung terhadap penguatan ekonomi lokal. Kebutuhan bahan pangan yang terus meningkat mendorong keterlibatan petani, peternak, nelayan, hingga pelaku UMKM di daerah sebagai bagian dari rantai pasok MBG. Dengan pola penyerapan bahan baku berbasis wilayah, program ini tidak hanya menjadi instrumen pemenuhan gizi, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian desa dan mengurangi ketimpangan antara daerah produsen dan konsumen. MBG secara tidak langsung menciptakan siklus ekonomi yang berkelanjutan, di mana manfaatnya tidak berhenti pada penerima makanan, tetapi juga pada masyarakat yang terlibat dalam proses penyediaannya.

Di sisi lain, perluasan skala program juga bukan hanya sebatas wacana, tetapi terlihat upaya penguatan tata kelola oleh pemerintah agar kualitas layanan tetap terjaga. Mulai dari standar keamanan pangan, distribusi logistik, hingga pengawasan penggunaan anggaran dilakukan secara ketat dan transparan.

Dalam mendukung program prioritas pemerintah tersebut, Anggota Komisi IX DPR RI, Achmad Ru’yat mengatakan, pembentukan BGN merupakan komitmen pemerintah untuk memastikan manfaat program MBG dapat dirasakan langsung oleh Masyarakat. Program MBG menyediakan langkah konkret dalam membangun generasi sehat dan produktif di masa depan.

Achmad Ru’yat pun menjelaskan bahwa pemerataan distribusi makanan bergizi hingga ke pelosok desa harus dijaga agar seluruh lapisan masyarakat, termasuk anak-anak dan ibu hamil, mendapatkan manfaatnya. Program ini pun memerlukan pengawasan Bersama dari Masyarakat agar manfaatnya semakin optimal dirasakan.

Keberhasilan MBG tidak semata diukur dari angka penerima manfaat, tetapi juga dari dampaknya terhadap perbaikan status gizi nasional. Dalam jangka panjang, program ini diharapkan mampu menekan angka stunting, gizi buruk, dan berbagai penyakit akibat kekurangan nutrisi. Anak-anak yang tumbuh dengan asupan gizi yang cukup memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara optimal, baik secara fisik, kognitif, maupun sosial. Dengan demikian, MBG menjadi investasi strategis negara dalam menyiapkan generasi emas Indonesia.

Namun demikian, tantangan implementasi di lapangan tetap perlu diantisipasi secara serius. Akses geografis, keterbatasan infrastruktur, hingga perbedaan kapasitas daerah menjadi faktor yang harus dikelola dengan pendekatan yang adaptif. Pemerintah pusat dan daerah dituntut untuk terus bersinergi, memastikan bahwa standar layanan setara antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil.

Pada akhirnya, MBG bukan sekadar program bantuan pangan, melainkan fondasi kebijakan pembangunan manusia yang berkelanjutan. Dengan dukungan penuh dari pemerintah, DPR, serta partisipasi aktif masyarakat, MBG berpotensi menjadi tonggak penting dalam sejarah kebijakan gizi nasional. Ketika akses terhadap makanan bergizi benar-benar merata, maka cita-cita menghadirkan keadilan sosial di bidang kesehatan bukan lagi sekadar wacana, melainkan kenyataan yang dirasakan hingga ke pelosok negeri.

)* Penulis merupakan Pemerhati Isu Sosial-Ekonomi

Sekolah Rakyat Tahap II Dimulai, Harapan Baru bagi Anak dari Keluarga Pra-Sejahtera

Jakarta — Pemerintah resmi memulai program Sekolah Rakyat Tahap II sebagai kelanjutan dari upaya memperluas akses pendidikan gratis dan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga pra-sejahtera di seluruh Indonesia. Program ini hadir sebagai wujud nyata komitmen pemerintah dalam memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan inklusif, terukur, dan berkelanjutan.

Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo mengatakan setelah merampungkan renovasi 165 Sekolah Rakyat Rintisan Tahap I, Kementerian PU memulai pembangunan Sekolah Rakyat Tahap II yang tersebar di 104 lokasi di seluruh Indonesia.

“Pembangunan Sekolah Rakyat ini adalah bentuk nyata komitmen pemerintah untuk membangun sumber daya manusia yang unggul. Kementerian PU ingin memastikan fasilitas pendidikan ini dibangun secara cepat dan berkualitas,” kata Dody.

Dody juga menegaskan bahwa proyek ini merupakan prioritas pemerintah dalam membangun sumber daya manusia (SDM) unggul.

“Pembangunan Sekolah Rakyat ini adalah bentuk nyata komitmen pemerintah untuk membangun sumber daya manusia yang unggul. Kementerian PU ingin memastikan fasilitas pendidikan ini dibangun secara cepat dan berkualitas,” kata Dody.

Setiap Sekolah Rakyat Tahap II dibangun secara permanen di atas lahan seluas 5–10 hektare dan akan dilengkapi dengan fasilitas modern, seperti ruang kelas berbasis teknologi, laboratorium keterampilan, perpustakaan digital, kantin dan dapur sehat, klinik kesehatan siswa, serta berbagai sarana olahraga.

Sementara itu, General Manager PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) Departemen Gedung, Bagus Prima Anugerah mengatakan Adhi Karya telah menandatangani kontrak Pembangunan Sekolah Rakyat Tahap II Provinsi Jawa Tengah bersama Kementerian Pekerjaan Umum Ditjen Prasarana Strategis.

“Sebagai kontraktor utama, Adhi Karya akan membangun fasilitas pendidikan di enam titik lokasi di Jawa Tengah, tersebar mulai dari Kabupaten Jepara, Pati, Rembang, Sragen, dan Sukoharjo hingga Kota Semarang,” ujar Bagus.

“Seluruh bangunan dirancang dengan mengedepankan prinsip sehat, aman, adaptif, serta mendukung pembelajaran modern,” lanjutnya.

Bagus optimistis pekerjaan ini dilaksanakan tepat mutu, tepat waktu, tepat biaya, tepat administrasi, dan tepat manfaat.

“Sebagai perusahaan konstruksi nasional, ADHI Karya menegaskan posisinya sebagai mitra pemerintah dalam membangun infrastruktur yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Bagus.

Dengan dimulainya tahap lanjutan ini, pemerintah mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus mendukung pendidikan yang merata dan berkeadilan demi Indonesia yang maju dan sejahtera.

Pemerintah Percepat Pembangunan Infrastruktur Sekolah Rakyat demi Pemerataan Akses Pendidikan

JAKARTA – Pemerintah terus menunjukkan komitmennya dalam memperluas akses pendidikan yang merata dan berkualitas melalui percepatan pembangunan infrastruktur Sekolah Rakyat (SR) sebagai bagian dari Program Sekolah Rakyat Tahap II. Langkah strategis ini menjadi bukti nyata upaya pemerintah dalam memastikan seluruh anak Indonesia, tanpa terkecuali, memperoleh kesempatan belajar di lingkungan yang modern, aman, dan sesuai standar pendidikan masa depan.

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengungkapkan bahwa pembangunan Sekolah Rakyat Tahap II kini memasuki tahap konstruksi setelah tahap pertama berhasil merampungkan renovasi 165 Sekolah Rakyat Rintisan. Program lanjutan ini mencakup 104 lokasi yang tersebar di berbagai provinsi. Menteri PU, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa proyek ini merupakan bagian penting dalam mewujudkan pemerataan pendidikan.

“Pemerintah mempercepat pembangunan Sekolah Rakyat sebagai komitmen untuk menghadirkan akses pendidikan yang setara di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Sejumlah daerah telah memulai pembangunan, termasuk Kalimantan Tengah di Kabupaten Gunung Mas, Katingan, Kotawaringin Timur, dan Kota Palangka Raya. Kalimantan Selatan juga menunjukkan progres positif di Banjarbaru, Barito Kuala, dan Tanah Bumbu. Adapun Sulawesi Selatan menjadi salah satu wilayah yang tercepat dalam memenuhi kesiapan lahan serta dokumen teknis, sehingga konstruksi dapat berjalan di Kabupaten Soppeng, Wajo, Barru, Sidrap, Tana Toraja, Bone, Sinjai, Takalar, hingga Kota Makassar.

Menteri Dody menambahkan bahwa pemerintah memastikan pembangunan berlangsung sesuai standar keamanan dan keberlanjutan.

“Semua paket yang telah memasuki tahap konstruksi memenuhi readiness criteria, mulai dari kepastian lahan hingga kelengkapan dokumen tata ruang dan lingkungan,” tegasnya.

Menurutnya, pemenuhan dokumen seperti AMDAL, UKL-UPL, dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) menjadi bagian krusial untuk menjamin kualitas dan ketepatan pelaksanaan pembangunan.

Program Sekolah Rakyat Tahap II dirancang menampung hingga 112.320 siswa melalui 3.744 rombongan belajar, mencakup jenjang SD, SMP, dan SMA. Setiap sekolah dibangun di atas lahan 5–10 hektare yang disiapkan pemerintah daerah dan ditargetkan dapat beroperasi pada Tahun Ajaran 2026/2027. Fasilitas modern telah dipersiapkan, mulai dari ruang kelas berbasis teknologi, laboratorium keterampilan, pusat literasi digital, fasilitas olahraga, kantin sehat, hingga klinik kesehatan siswa.

General Manager Departemen Gedung ADHI, Bagus Prima Anugerah, menegaskan dukungan penuh perusahaan terhadap percepatan pembangunan Sekolah Rakyat.

“ADHI berkomitmen mendukung percepatan pembangunan fasilitas pendidikan yang berkualitas sebagai kontribusi kami dalam penguatan sumber daya manusia Indonesia,” ujarnya.

Penerapan prinsip bangunan sehat, adaptif, dan efisien energi menjadi fokus utama pembangunan. Dengan percepatan pembangunan infrastruktur pendidikan ini, pemerintah berharap Sekolah Rakyat dapat menjadi pilar utama dalam mencetak generasi muda yang kompeten, berkarakter, serta siap bersaing di tingkat nasional maupun global. Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa pemerataan pendidikan adalah prioritas yang terus digenjot demi masa depan Indonesia yang lebih inklusif dan maju.

Sekolah Rakyat Jadi Jalan Pendidikan dan Harapan bagi Generasi Muda dari Pelosok

Oleh : Andhika Pratama

Di berbagai pelosok Indonesia, akses terhadap pendidikan yang layak masih menjadi tantangan besar bagi banyak anak. Jarak yang jauh, keterbatasan infrastruktur, serta minimnya tenaga pendidik kerap menjadi hambatan utama bagi mereka yang ingin mengenyam pendidikan yang berkualitas. Namun, di tengah berbagai keterbatasan ini, hadir gerakan Sekolah Rakyat sebagai salah satu bentuk inovasi sosial yang terus tumbuh dan memberikan harapan baru bagi generasi muda. Sekolah Rakyat menjadi simbol komitmen masyarakat dan para relawan untuk memastikan bahwa hak memperoleh pendidikan tidak hanya dirasakan oleh mereka yang tinggal di perkotaan, tetapi juga oleh anak-anak dari daerah terpencil yang kerap terpinggirkan.

Konsep Sekolah Rakyat muncul sebagai alternatif pendidikan nonformal yang memadukan semangat gotong royong, kesadaran literasi, dan upaya pemberdayaan komunitas. Kehadirannya semakin relevan di tengah upaya pemerintah memperluas pemerataan akses pendidikan melalui berbagai program nasional. Sekolah Rakyat tidak menggantikan sekolah formal, tetapi menjadi pelengkap yang memberi ruang belajar tambahan, terutama bagi anak-anak yang masih berjuang dengan berbagai keterbatasan. Banyak komunitas di daerah pedalaman memanfaatkan rumah warga, balai desa, bahkan gubuk sederhana untuk dijadikan ruang belajar.

Salah satu kekuatan utama Sekolah Rakyat adalah pendekatannya yang sangat humanis dan kontekstual. Para relawan yang datang mengajar bukan hanya berorientasi pada kurikulum, tetapi juga memahami kondisi sosial dan emosional para siswa. Pembelajaran dilakukan dengan metode kreatif, memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Anak-anak tidak hanya diajarkan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga diajak mengenali potensi daerah mereka, mencintai lingkungan, serta mengembangkan keterampilan hidup. Pendekatan ini membuat proses belajar terasa lebih dekat dengan keseharian mereka, sehingga lebih mudah dipahami dan diterapkan.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan Kehadiran Program Sekolah Rakyat diharapkan dapat menciptakan generasi muda yang berkarakter, siap berkontribusi dalam kemajuan daerah, serta memberikan harapan baru bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk meraih cita-cita dan memperbaiki standar hidup mereka.

Dalam beberapa tahun terakhir, Sekolah Rakyat semakin dikenal luas berkat peran berbagai komunitas dan organisasi sosial yang mendorong gerakan literasi di desa-desa terpencil. Program seperti perpustakaan berjalan, taman baca masyarakat, hingga kelas literasi digital menjadi bagian penting dalam mendukung kegiatan Sekolah Rakyat. Di beberapa wilayah, para penggerak juga menghadirkan pelatihan bagi orang tua dan warga desa agar mereka turut aktif mendampingi anak-anak belajar. Ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya menjadi urusan sekolah, tetapi juga menjadi tanggung jawab kolektif seluruh masyarakat.

Selain memberikan manfaat langsung kepada anak-anak, keberadaan Sekolah Rakyat turut memperkuat kohesi sosial dalam masyarakat. Banyak warga desa yang kemudian ikut terlibat, baik dengan menyediakan tempat, membantu menyediakan alat tulis, atau ikut hadir dalam kegiatan belajar. Semangat kebersamaan ini menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya rasa percaya diri anak-anak.

Asisten Bidang Pemerintahan Sekda Papua, Yohanes Walilo menegaskan Program pendidikan ini tidak hanya sekadar menyediakan fasilitas belajar, tetapi juga sejalan dengan kebijakan nasional yang berfokus pada pengentasan kemiskinan ekstrem. Melalui peningkatan akses pendidikan, diharapkan kualitas hidup masyarakat Papua dapat terangkat secara signifikan, memberikan masa depan yang lebih cerah bagi generasi muda.

Di sisi lain, kehadiran para relawan dari luar daerah juga membuka wawasan baru bagi anak-anak di pelosok. Mereka bisa bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang yang datang dengan niat tulus untuk berbagi ilmu. Sering kali, ini menjadi inspirasi besar bagi anak-anak untuk memiliki cita-cita tinggi, percaya bahwa mereka pun mampu meraih masa depan cerah meski tinggal jauh dari pusat kota. Para relawan pun mengaku mendapatkan pengalaman berharga, karena terlibat langsung dalam transformasi kecil namun bermakna yang terjadi di desa-desa.

Pemerintah pun kini semakin menyadari peran penting komunitas pendidikan alternatif seperti Sekolah Rakyat. Seiring mendorong pemerataan pendidikan melalui teknologi dan perluasan akses sekolah formal, pemerintah melihat bahwa kolaborasi dengan masyarakat sipil mampu mempercepat peningkatan literasi dasar di daerah 3T.

Pada akhirnya, Sekolah Rakyat bukan hanya tentang menyediakan ruang belajar tambahan, tetapi tentang menghadirkan harapan. Harapan bahwa setiap anak Indonesia, tanpa memandang di mana mereka tinggal, memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi dan belajar. Harapan bahwa pendidikan dapat menjadi jembatan yang menghubungkan anak-anak dari pelosok menuju masa depan yang lebih cerah. Dan harapan bahwa semangat gotong royong yang menjadi identitas bangsa ini terus hidup melalui gerakan-gerakan sederhana namun penuh makna.

Dengan terus berkembangnya gerakan Sekolah Rakyat dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya literasi, masa depan pendidikan Indonesia tampak semakin inklusif. Anak-anak dari desa terpencil kini tidak lagi berdiri di pinggir jalan peradaban, melainkan mulai menapaki jalur yang membawa mereka menuju masa depan. Sekolah Rakyat menjadi bukti bahwa ketika masyarakat, relawan, dan pemerintah bersatu, pintu-pintu harapan dapat terbuka lebar bagi generasi muda negeri ini.

)* Pengamat Kebijakan Publik

Rekrutmen PPPK Guru Sekolah Rakyat 2025 Dibuka: Serap Tenaga Kerja untuk Dunia Pendidikan

Oleh : Antonius Googie)*

Pemerintah kembali mengambil langkah strategis dalam peningkatan kualitas pendidikan nasional melalui pembukaan seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Tenaga Kependidikan dan Guru Sekolah Rakyat tahun 2025. Rekrutmen yang digelar oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI) ini bukan sekadar proses seleksi rutin, melainkan bagian dari proyek strategis nasional yang menindaklanjuti Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2025 serta Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang optimalisasi penanggulangan kemiskinan. Melalui program ini, pemerintah berharap dapat memperkuat Sekolah Rakyat sebagai institusi pendidikan alternatif yang dirancang untuk menjangkau kelompok rentan, termasuk anak-anak dari keluarga miskin, mereka yang putus sekolah, atau berada dalam kondisi sosial yang sulit.

Seleksi ini dibuka pada 3–7 Desember 2025 dan diumumkan secara resmi melalui situs web dan akun Instagram Kemensos RI. Total 3.003 formasi disediakan untuk lima posisi tenaga kependidikan, yaitu Wali Asuh, Wali Asrama, Operator Sekolah, Pengelola Keuangan, dan Tenaga Administrasi. Setiap posisi memiliki peran vital dalam mendukung operasional Sekolah Rakyat yang tersebar di seluruh Indonesia. Selain itu, para pendaftar diwajibkan berusia 20 hingga 50 tahun serta bersedia bekerja dalam sistem shift—bahkan tinggal di asrama tempat mereka bertugas. Hal ini menjadi bagian dari karakteristik Sekolah Rakyat yang mengedepankan pendekatan pendidikan berbasis komunitas dan pembinaan 24 jam terhadap peserta didiknya.

Di sisi lain, Kemensos juga mulai membuka perekrutan PPPK untuk tenaga pendidik yang akan ditempatkan di Sekolah Rakyat seluruh Indonesia. Kebutuhan guru menjadi perhatian penting mengingat banyaknya sekolah baru yang diresmikan pada tahun 2025. Kepala Dinas Sosial Tanjungpinang, Endang Susilawati, membenarkan bahwa proses seleksi guru PPPK tersebut telah berjalan. Ia menuturkan bahwa pendaftaran dibuka pada 3 sampai 7 Desember 2025 dan dilanjutkan dengan pengumuman hasil seleksi administrasi pada 4–8 Desember 2025 sebelum masuk ke tahap berikutnya, yaitu penetapan Nomor Induk PPPK.

Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Tanjungpinang, Reni Putri, mengungkapkan bahwa sekolahnya masih kekurangan guru untuk tiga mata pelajaran penting—Bahasa Inggris, Seni dan Budaya, serta Pendidikan Agama Islam (PAI)—sejak peresmian sekolah tersebut pada September 2025. Ia telah mengajukan permohonan kepada Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang dan Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau agar kebutuhan tenaga pengajar tersebut dapat segera dipenuhi. Meski sementara ini kebutuhan tersebut ditopang oleh guru-guru lokal yang bersedia membantu, Reni berharap agar rekrutmen PPPK tahun ini mampu mengisi kekosongan tersebut secara permanen. Menurutnya, keberadaan guru-guru baru akan memperkuat kapasitas Sekolah Rakyat dalam menyediakan pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu.

Langkah Kemensos dalam meningkatkan kualitas guru juga ditunjukkan melalui penyelenggaraan Pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) tahap II yang dibuka oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul pada 6 Desember 2025. Pelatihan ini diikuti 66 peserta dari Sekolah Rakyat tahap IC dan dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting. Dalam arahannya, Gus Ipul menekankan pentingnya kepemimpinan humanis dalam mengelola sekolah—sebuah model kepemimpinan yang mengedepankan kedekatan, empati, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman dan suportif bagi seluruh warga sekolah.

Ia menjelaskan bahwa seluruh peserta pelatihan pada dasarnya telah menjabat sebagai Kepala Sekolah setelah melewati seleksi administrasi dan substansi. Namun, penguatan kapasitas tetap dipandang mutlak diperlukan berdasarkan Permendikdasmen No. 7 Tahun 2025 Pasal 14. Para peserta menerima berbagai materi penting, mulai dari pembelajaran mendalam (deep learning), pola pikir bertumbuh (growth mindset), hingga implementasi program unggulan sekolah. Pelatihan ini bukan hanya bertujuan meningkatkan kompetensi manajerial, tetapi juga mempersiapkan kepala sekolah agar dapat mendorong mutu pendidikan dan mengawal perjalanan siswa menuju masa depan yang lebih baik.

Dalam kesempatan itu, Gus Ipul juga menekankan lima kompetensi utama kepala sekolah, yaitu kepribadian, manajerial, supervisi, kewirausahaan, dan sosial. Ia mengajak kepala sekolah untuk lebih cermat dalam mengidentifikasi potensi setiap siswa agar mereka bisa diarahkan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, memasuki dunia kerja, atau bahkan menjadi wirausahawan. Kepala sekolah juga diminta menciptakan budaya kolaboratif, melibatkan relawan, tokoh masyarakat, serta dinas sosial dalam membangun ekosistem pembelajaran yang sehat. Pelatihan ini akan berlangsung hingga 15 Desember 2025 dan disaksikan pula oleh lebih dari 100 kepala sekolah lainnya secara daring.

Program rekrutmen PPPK Guru dan Tenaga Kependidikan Sekolah Rakyat tahun 2025 menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam memperluas akses pendidikan bagi kelompok rentan sekaligus menyerap tenaga kerja di sektor pendidikan. Dengan dukungan regulasi yang jelas, pelatihan intensif, dan kebutuhan formasi yang besar, langkah ini diharapkan mampu menghadirkan tenaga pendidik profesional yang siap berkontribusi bagi masa depan pendidikan Indonesia. Keberadaan guru dan tenaga kependidikan yang kompeten akan menjadi pondasi utama keberhasilan Sekolah Rakyat dalam mencetak generasi baru yang lebih tangguh, mandiri, dan mampu keluar dari lingkaran kemiskinan.

)* Pengamat Pendidikan