Keamanan Energi Indonesia Terjaga, Peluang Resesi Tidak Terlihat

Oleh : Erlangga Pratama

Perang Iran melawan Amerika Serikat-Israel dikhawatirkan menimbulkan krisis energi global, dan kekhawatiran terjadinya resesi ekonomi global juga mulai mencuat setelah harga minyak global dalam ICE Brent (harga minyak yang ditentukan negara-negara Teluk) dan West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$ 100 per barel sampai US$ 130 per barel, namun Indonesia diyakini kuat secara ketahanan energi dan menjauh dari resesi.

Indonesia dinilai sebagai salah satu negara berkembang yang paling aman dari dampak krisis energi global akibat eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Posisi ini menempatkan Indonesia dalam kategori negara dengan paparan risiko rendah namun memiliki bantalan ketahanan yang kuat (low exposure, strong buffer).

“Beberapa negara, termasuk Indonesia, tampak relatif terisolasi (dari dampak buruk) berkat perpaduan sumber daya energi domestik dan kebijakan bantalan yang kuat,” tulis laporan terbaru The Economist bertajuk “Which country is the biggest loser from the energy shock”.

Analisis tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis yang jauh lebih stabil dibandingkan negara tetangga seperti Vietnam. Meski sama-sama berada di zona low exposure, Indonesia tercatat memiliki skor ketahanan (resilience score) yang lebih tinggi, mengungguli Vietnam yang lebih rentan terhadap gangguan rantai pasok manufaktur global.

Ketangguhan energi nasional ini didorong oleh status Indonesia yang sedang berada dalam jalur tepat (on track) menuju swasembada BBM jenis solar. Optimalisasi pemanfaatan minyak sawit domestik sebagai bahan baku bahan bakar nabati menjadi faktor kunci berkurangnya ketergantungan pada pasar luar negeri.

Selain itu, posisi Indonesia diperkuat oleh ketersediaan cadangan minyak (proven reserves) yang mencapai angka 2,4 hingga 4,4 miliar barel. Dengan kapasitas tersebut, ketahanan produksi minyak nasional diprediksi masih mampu menopang kebutuhan dalam negeri hingga 10 hingga 12 tahun ke depan.

Sektor ketenagalistrikan juga menjadi pilar pertahanan utama karena mayoritas pembangkit listrik di Indonesia tidak bergantung pada impor gas yang sensitif terhadap konflik Timur Tengah. Sebaliknya, pasokan listrik nasional didominasi oleh sumber daya dalam negeri, yakni batu bara serta pengembangan pembangkit energi terbarukan.

Langkah diversifikasi impor BBM bensin yang dilakukan pemerintah juga dinilai efektif dalam memitigasi risiko. Dengan memperluas sumber pasokan, Indonesia tidak lagi hanya bergantung pada satu kawasan tertentu, sehingga guncangan di Selat Hormuz tidak langsung melumpuhkan distribusi energi nasional.

Berdasarkan data ketahanan energi 2024, Indonesia bersanding dengan negara-negara seperti India dan Filipina dalam kategori strong buffers. Hal ini kontras dengan negara-negara seperti Mesir atau Pakistan yang berada di zona high exposure dengan bantalan yang lemah, sehingga sangat rawan terhadap lonjakan harga minyak.

Stabilitas harga energi domestik menjadi krusial untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian geopolitik. Struktur ekonomi Indonesia yang ditopang oleh konsumsi domestik dan komoditas ekspor juga menjadi nilai tambah dalam menyerap guncangan eksternal.

Dibandingkan negara yang murni mengandalkan impor energi untuk industri manufaktur, Indonesia memiliki ruang napas yang lebih lega. Dengan kombinasi kekayaan sumber daya alam dan kebijakan energi yang tepat sasaran, Indonesia optimistis mampu melewati badai krisis energi global. Ketahanan ini diharapkan menjadi daya tarik bagi investor global di tengah keraguan terhadap stabilitas ekonomi negara berkembang lainnya.

*Peta energi dunia*

Minyak memimpin di paling banyak negara, sementara batu bara tetap jadi pegangan di Asia. International Energy Agency dalam Energy Mapped 2026 memetakan 112 negara. Hasilnya tidak banyak berubah dari pola lama: minyak dominan di 39 negara, gas alam di 29 negara, lalu batu bara dan biomassa mengisi wilayah tertentu. Perbedaannya terlihat dari wilayah. Eropa dan Timur Tengah condong ke minyak dan gas. Asia bertahan dengan batu bara. Afrika masih mengandalkan biomassa untuk kebutuhan dasar. Minyak muncul sebagai sumber energi terbesar di 39 negara. Angka ini paling tinggi dibanding energi lain.

Gas alam berada di posisi kedua dengan 29 negara. Sumber ini banyak dipakai untuk listrik dan industri karena lebih fleksibel. Negara dengan jaringan pipa dan fasilitas LNG cenderung menempatkan gas sebagai sumber utama. Transisi energi di beberapa wilayah juga menjadikan gas sebagai tahap antara.

China, India, Indonesia, dan Vietnam masih mengandalkan batu bara. Konsumsi tinggi karena pasokan domestik tersedia dan pembangkit listrik sudah terbangun sejak lama. Dampaknya langsung ke emisi global. Negara-negara ini akan menentukan arah perubahan ke depan, terutama dalam pengurangan penggunaan batu bara.

Sementara, di banyak negara Afrika, biomassa masih dominan. Kayu bakar dan arang dipakai untuk kebutuhan rumah tangga. Akses listrik yang belum merata membuat pola ini bertahan. Di luar Afrika, hanya sedikit negara yang punya pola serupa, seperti Finlandia dan Pakistan.

*Indonesia tidak krisis energi minyak*

Menurut Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari (25 Maret 2026), Indonesia tidak mengalami krisis minyak. Situasi di Indonesia berbeda dengan Filipina, negara pertama di dunia yang mengumumkan status darurat energi nasional selama satu tahun.

Pertama, impor minyak Filipina sampai 85 persen dari kebutuhan. Jadi, produksi mereka hanya sekitar 15 persen. Kalau Indonesia, hampir 40 persen bisa diproduksi dari dalam negeri.

Kedua, ketergantungan Filipina pada Selat Hormuz di Iran sangat besar. Selat Hormuz adalah jalur pengiriman minyak dunia dari Asia Barat. Sedangkan, 80 persen minyak Filipina datang dari selat itu. Storage Filipina mungkin lebih banyak daripada Indonesia, bisa sampai 50 hari, tetapi kalau tidak ada pasokan yang continue karena impornya sangat besar, dan tergantung pada Selat Hormuz, maka angka 50 hari itu tidak ada artinya.

Kondisi cadangan minyak di Indonesia sangat bagus dengan alasannya. Pertama, kita punya kilang-kilang minyak yang bisa menampung dalam waktu sekitar katakanlah 25-30 hari, yang akan ditingkatkan kapasitasnya oleh Presiden menjadi beberapa puluh hari.

Kedua, Indonesia memiliki pasokan (supply) minyak yang terus berlanjut meski cadangannya lebih sedikit daripada Filipina. Di sisi lain, kebutuhan minyak Indonesia dari Selat Hormuz hanya sekitar 20 persen.

Sementara sejumlah strategi mitigasi sebagai upaya menjaga ketersediaan pasokan energi di tengah dinamika global dan konflik Timur Tengah saat ini antara lain : pertama, diversifikasi sumber pasokan energi, sehingga tidak bergantung pada satu wilayah atau negara tertentu. Strategi ini diharapkan bisa menjaga stabilitas pasokan apabila terjadi gangguan pada jalur distribusi atau dinamika geopolitik di kawasan tertentu. Kedua, dalam menjaga distribusi energi kepada masyarakat, Pertamina terus berkoordinasi dengan aparat penegak hukum serta Pemerintah Daerah untuk melakukan pengawasan terhadap distribusi di lapangan. Ketiga, masyarakat diimbau untuk bijak menggunakan energi, baik BBM dan LPG, serta melakukan penghematan sesuai kebutuhan dengan penggunaan alternatif energi dalam kegiatan sehari-hari, seperti penggunaan peralatan listrik rumah tangga untuk memasak maupun pemanas makanan.

*Indonesia masih jauh dari resesi*

Dalam beberapa bulan terakhir, probabilitas resesi di Amerika Serikat menunjukkan tren meningkat dan mendekati ambang psikologis 50 persen. Laporan dari Moody’s Analytics bahkan dinilai lebih pesimistis dibandingkan dengan konsensus Wall Street. Di sisi lain, pemodelan dari Oxford Economics memberikan perspektif penting, yaitu dunia baru akan terdorong ke jurang resesi jika harga minyak melonjak hingga sekitar 140 dolar AS per barel dan bertahan setidaknya selama dua bulan. Artinya, resesi global saat ini bukanlah keniscayaan, melainkan sangat bergantung pada intensitas dan durasi guncangan, terutama dari sisi energi dan geopolitik.

Menurut Dr. Aswin Rivai, Pemerhati Ekonomi Dan Dosen FEB-UPN Veteran, Jakarta, Indonesia memiliki sejumlah keunggulan struktural yang membuatnya relatif lebih tahan terhadap guncangan eksternal. Salah satu yang paling penting adalah dominasi konsumsi domestik. Sekitar 52–55 persen PDB Indonesia ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Artinya, selama daya beli masyarakat tetap terjaga, ekonomi nasional masih memiliki bantalan yang cukup kuat.

Selain itu, reformasi fiskal dalam beberapa tahun terakhir telah memperkuat ketahanan APBN. Rasio utang pemerintah terhadap PDB masih berada di kisaran 38–40 persen, relatif rendah dibanding banyak negara lain.

Defisit fiskal juga telah kembali dijaga di bawah 3 persen setelah sempat melebar selama pandemi. Ruang fiskal ini penting sebagai amunisi jika pemerintah perlu mengeluarkan stimulus untuk meredam dampak perlambatan global.

Indonesia perlu bergerak dari sekadar respons reaktif menuju strategi yang lebih antisipatif dan terstruktur. Setidaknya terdapat lima langkah kunci. Pertama, pemerintah perlu menjaga defisit tetap terkendali, tetapi juga fleksibel dalam merespons krisis. Reformasi subsidi energi menjadi krusial, terutama dengan memperbaiki targeting agar lebih tepat sasaran. Dalam kondisi harga minyak tinggi, mekanisme penyesuaian otomatis (automatic adjustment) dapat mengurangi tekanan mendadak pada APBN.

Kedua, menjaga stabilitas nilai tukar dan arus modal. Koordinasi erat antara pemerintah dan Bank Indonesia harus diperkuat untuk mengantisipasi capital outflow. Intervensi valas, kebijakan suku bunga yang terukur, serta pendalaman pasar keuangan domestik menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas rupiah.

Ketiga, mengurangi ketergantungan pada komoditas. Lonjakan harga komoditas memang menguntungkan dalam jangka pendek, tetapi menciptakan volatilitas tinggi.

Keempat, melindungi daya beli dan konsumsi domestik. Dengan konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 50 persen PDB, menjaga daya beli adalah prioritas utama.

Kelima, mempercepat transformasi ekonomi dan produktivitas. Dalam jangka panjang, ketahanan ekonomi ditentukan oleh produktivitas. Investasi pada pendidikan, teknologi, dan infrastruktur digital harus dipercepat.

Skenario dari Oxford Economics menunjukkan bahwa dunia masih memiliki peluang untuk menghindari resesi, selama guncangan energi tidak mencapai titik ekstrem. Namun, ketidakpastian geopolitik membuat risiko tersebut tetap nyata dan tidak bisa diabaikan.

Indonesia berada pada posisi yang relatif kuat, tetapi bukan tanpa risiko. Ketahanan yang dimiliki saat ini harus ditransformasikan menjadi ketangguhan jangka panjang melalui kebijakan yang tepat, reformasi struktural, dan kesiapan menghadapi berbagai skenario. Last but not least, masa depan ekonomi Indonesia akan sangat ditentukan oleh kualitas respons kebijakan hari ini.

Penulis adalah pemerhati masalah strategis. Alumnus pasca sarjana Kajian Strategik Intelijen, Universitas Indonesia

Distribusi MBG Dipercepat untuk Jangkau Seluruh Penerima Manfaat

Oleh: Masyitoh Salya *)

Percepatan implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat ini dijalankan dengan mekanisme yang lebih jelas dan akuntabel. Komitmen ini bertujuan untuk menghapus kesenjangan akses nutrisi bagi kelompok prioritas, sekaligus menegaskan keseriusan pemerintah dalam menginisiasi transformasi sumber daya manusia yang produktif melalui intervensi gizi yang tepat sasaran.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan menyampaikan optimisme bahwa target penerima manfaat MBG sebesar 82,9 juta jiwa berpotensi tercapai pada Maret 2026. Keyakinan ini bukan tanpa dasar, melainkan didukung oleh langkah konkret pemerintah yang segera menerbitkan Peraturan Presiden mengenai tata kelola program MBG. Regulasi tersebut dipandang sebagai instrumen penting untuk memperkuat koordinasi lintas sektor sekaligus memastikan pelaksanaan program berjalan tanpa celah risiko yang dapat merugikan masyarakat.

Zulkifli Hasan menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin ada satu pun individu yang luput dari manfaat program ini. Pernyataan tersebut mencerminkan pendekatan kebijakan yang inklusif, di mana keberhasilan tidak hanya diukur dari capaian angka, tetapi juga dari jaminan kualitas distribusi dan keamanan pangan. Dalam konteks ini, evaluasi dan perbaikan tata kelola terus dilakukan sebagai bagian dari proses pembelajaran kebijakan publik yang adaptif.

Lebih jauh, pemerintah juga memperkuat sistem pengawasan hingga ke tingkat paling bawah. Koordinasi melibatkan berbagai kementerian, termasuk Kementerian Kesehatan dan Kementerian Dalam Negeri, serta pemerintah daerah mulai dari gubernur, bupati, wali kota, camat, hingga aparat desa.

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana memastikan bahwa Peraturan Presiden terkait tata kelola MBG telah rampung dan siap untuk didistribusikan. Kepastian ini menjadi angin segar bagi percepatan implementasi di lapangan, mengingat regulasi tersebut akan menjadi pedoman utama bagi seluruh pemangku kepentingan dalam menjalankan program.

Dadan juga menekankan adanya mekanisme sanksi tegas bagi pelanggaran standar operasional prosedur, khususnya pada dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Sanksi administratif berupa penghentian operasional telah diterapkan sebagai langkah preventif sekaligus korektif. Kebijakan ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak kompromi terhadap kualitas layanan, sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap program MBG.

Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto berulang kali menegaskan bahwa MBG bukan sekadar program bantuan sosial, melainkan strategi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat akar rumput. Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, pemerintah justru mengambil langkah progresif dengan menjadikan MBG sebagai stimulus ekonomi yang menyentuh langsung masyarakat kecil. Kebijakan ini dirancang untuk menggerakkan sektor riil melalui pelibatan UMKM, petani, pedagang pasar, dan koperasi desa dalam rantai pasok pangan.

Presiden Prabowo memandang bahwa kekuatan ekonomi nasional harus dibangun dari bawah, dengan memastikan distribusi manfaat yang adil dan merata. Program MBG diharapkan mampu meningkatkan daya beli masyarakat sekaligus menciptakan efek berganda bagi perekonomian lokal. Dengan target menjangkau lebih dari 80 juta penerima manfaat, program ini juga menjadi salah satu kontributor signifikan dalam struktur anggaran pemerintah pusat.

Menindaklanjuti arahan Presiden, Badan Gizi Nasional kini memprioritaskan standardisasi layanan pada setiap unit operasional. Menurut Dadan, Presiden menghendaki kualitas SPPG yang tanpa kompromi, di mana unit yang tidak memenuhi kriteria akan dinonaktifkan sementara hingga standar terpenuhi. Upaya ini diperkuat dengan pembentukan tim pemantau khusus guna memastikan seluruh SPPG memiliki sertifikasi yang sah dan konsisten.

Fokus awal pengawasan meliputi tiga sertifikasi utama, yaitu Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi, sertifikat halal, serta Hazard Analysis Critical Control Point. Ketiga sertifikasi ini menjadi fondasi dalam menjamin keamanan dan kualitas makanan yang disajikan kepada masyarakat. Ke depan, penguatan juga akan dilakukan pada aspek sumber daya manusia, termasuk peningkatan kompetensi koki dan tenaga penjamah makanan.

Selain itu, pemerintah juga tengah menyiapkan sistem klasifikasi SPPG untuk menciptakan standar mutu yang terukur. Sistem ini diharapkan dapat mendorong peningkatan kualitas layanan secara berkelanjutan sekaligus menjadi dasar dalam pengembangan sistem akreditasi nasional. Sebelum lembaga akreditasi terbentuk, Badan Gizi Nasional akan membentuk tim internal untuk melakukan penilaian dan persiapan secara sistematis.

Dalam kurun waktu setahun terakhir, berbagai capaian pemerintah semakin memperkuat fondasi pelaksanaan program strategis seperti MBG. Stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah tekanan global, inflasi terkendali, serta berbagai program perlindungan sosial berhasil menjangkau masyarakat luas. Pembangunan infrastruktur terus berjalan, digitalisasi layanan publik semakin meluas, dan reformasi birokrasi menunjukkan hasil nyata dalam peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Keberhasilan ini menjadi modal penting dalam memastikan program MBG dapat berjalan optimal dan memberikan dampak nyata.

Keberhasilan program MBG sangat bergantung pada sinergi semua pihak, mulai dari pemerintah pusat, daerah, hingga masyarakat itu sendiri. Konsistensi dalam pengawasan, komitmen terhadap kualitas, serta keterbukaan terhadap evaluasi menjadi kunci utama. Dengan semangat gotong royong dan tanggung jawab bersama, program MBG diharapkan tidak hanya mencapai target angka, tetapi juga menghadirkan perubahan nyata bagi kehidupan masyarakat Indonesia.

*) Pengamat Kebijakan Publik

MBG : Solusi Cerdas dan Patriotis Mempersiapkan Generasi Tangguh Masa Depan

Oleh : Erlangga Pratama*

Presiden Prabowo Subianto memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan di tengah efisiensi anggaran imbas krisis global. Menurutnya, penghematan bisa difokuskan pada sektor lain. Penegasan Prabowo itu disampaikan dalam sesi diskusi bersama jurnalis dan pengamat yang ditayangkan di YouTube Prabowo Subianto pada Minggu (22/3/2026).

Presiden menegaskan akan mempertahankan program MBG demi pemenuhan gizi ke rakyat, karena dirinya banyak menemukan anak-anak stunting saat kampanye.

“Saya akan bertahan sedapat mungkin daripada uang-uang dikorupsi. Lebih baik rakyat saya bisa makan. Anda tidak melihat anak-anak yang stunting. Saya lihat, saya kampanye sekian kali saya di desa-desa. Saya lihat anak ‘umurmu berapa?’ 11 tahun. Badannya anak 4 tahun,” kata Prabowo dan optimis anggaran negara mampu untuk meneruskan program MBG.

Menurutnya, masih banyak sektor lain yang bisa dihemat tanpa harus mengorbankan program strategis tersebut. MBG sudah diterapkan lebih dari 100 negara. Indonesia merupakan negara ke-77 yang memulai program tersebut.

Prabowo mengungkapkan bahwa program MBG mendapat perhatian dari lembaga internasional, termasuk Rockefeller Institute dan World Food Programme (WFP) PBB. Berdasarkan kajian mereka, setiap dolar yang diinvestasikan dalam program tersebut dapat menghasilkan manfaat berlipat, baik dalam jangka pendek maupun panjang.

“Saya didatangi Rockefeller Institute dari Amerika Serikat datang ngecek kita punya SPPG dan dia datang ke saya, dia mengatakan, ‘This is the best investment, Mr. President you have made the best’. Do you know why? Karena satu dolar di spend di MBG the return is between 7 and 35, in the long run 35, in the short run 7 dolar, dan ini dari Rockef Institute ya. Ini juga world food program dari PBB,” ujarnya.

Presiden mengakui masih terdapat berbagai kekurangan dalam pelaksanaan di lapangan. Pemerintah telah menindak sejumlah pelanggaran, termasuk menutup lebih dari seribu titik layanan yang tidak sesuai standar.

Menurutnya, program MBG menjadi sangat berarti bagi kelompok yang selama ini belum menikmati pertumbuhan ekonomi secara merata, khususnya di daerah-daerah di luar Pulau Jawa yang dinilai masih sangat membutuhkan dukungan tersebut.

“The top 10-20% maybe menikmati. Tapi kebanyakan kita sangat susah hidupnya selama ini. Can you imagine begitu bahagianya mereka terima? Kalau anak orang kaya yang di Menteng ya dia enggak perlu ini,” imbuhnya.

Pesan Jelas terkait MBG

Melalui program MBG, kita dapat menangkap pesan jelas bahwa Prabowo memiliki good will untuk merealisasikan program populis ini selama dirinya menjadi Presiden. Kita harus melihat bahwa program MBG ini adalah “program revolusioner”, khususnya terkait cara mempercepat pemerataan kesejahteraan dan upaya menerapkan amanah konstitusi untuk meningkatkan daya saing global anak-anak Indonesia yang diawali langkah membenahi dan meningkatkan kualitas kesehatan serta kecukupan gizi anak anak Indonesia.

Tentunya sebagai program yang “revolusioner”, tidak mengherankan program mulia ini mendapatkan kritikan dan resistensi, namun tampaknya kurang perlu diatensi karena materi kritikan terhadap MBG tidak proporsional, terutama dari kelompok kepentingan yang merasakan “backfire” akibat program ini.

Kritikan tidak masuk akal seperti banyak SPPG dilarang beroperasi oleh Badan Gizi Nasional (BGN) sebelum mendapat Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) justru menunjukkan ketegasan jajaran pemerintahan untuk menjaga mutu MBG dengan memperhatikan segala aspek fundamentalnya.

Sementara itu, adanya kasus keracunan makanan yang bersumber dari program MBG oleh SPPG juga diakui oleh pemerintah, namun yang perlu dicatat kasus-kasus seperti ini minim jumlahnya, yang sengaja di blow up kelompok penentang MBG. Namun perlu dicatat, Presiden sudah memerintahkan jajarannya menindak tegas segala bentuk pelanggaran dan penyimpangan terkait MBG. “No mercy” dan rakyat tidak perlu meragukan ketegasan kepala negara dalam menegakkan hukum.

Sementara, sebagai upaya memperbaiki tata kelola dan transparansi pelaksanaan program MBG, jajaran BGN semakin cermat dan teliti terkait kesiapan operasional, serta pendataan sasaran, sehingga distribusi kepada kelompok rentan (ibu hamil, ibu menyusui, dan balita) juga menunjukkan adanya evaluasi konsisten dan tindak lanjut hasil pemeriksaan program MBG oleh pihak terkait.

Kritikan tidak masuk akal terkait MBG juga dilakukan mantan anggota Hizbut Tahrir Indonesia atau HTI melalui media sosial, dengan mengglorifikasi bahwa program MBG telah menimbulkan berbagai permasalahan seperti pemborosan anggaran, kualitas makanan, dan dugaan kepentingan elite, serta dibandingkan dengan konsep pengelolaan kesejahteraan rakyat dalam sistem Islam.

Program MBG menjadi sasaran propaganda negatif oleh kelompok mantan HTI yang memanfaatkan isu operasional untuk menyebarkan narasi ideologis dan mendiskreditkan pemerintah. Penulis juga yakin kelompok kepentingan anti MBG juga kesulitan membuktikan tuduhan dan kritikan mereka yang seperti banyak diselimuti agenda politis dibanding kebenarannya.

Masyarakat yang cerdas jelas akan mendukung pelaksanan MBG seperti ditunjukkan SPPG Papua Pegunungan secara aktif terus mendorong percepatan sertifikasi halal serta mengadakan pelatihan keamanan dan kebersihan pangan bagi pengelola dapur MBG.

Presiden beserta jajaran pemerintahan akan mengapresiasi langkah langkah elemen masyarakat dalam mendukung dan memberikan saran konstruktif terkait MBG, termasuk saran agar penerima manfaat diperluas dengan menjangkau anak jalanan dan kalangan pensiunan. Sebuah saran yang humanis dan layak diatensi Presiden karena menunjukkan intensi yang positif mendukung MBG.

Program MBG Jawaban Negara atas Masalah Gizi Anak

Program MBG merupakan kebijakan strategis yang dilandasi kepedulian negara terhadap kondisi gizi anak-anak Indonesia. Banyak kajian menunjukkan persentase anak Indonesia mengalami kekurangan gizi mencapai lebih dari 20 hingga 30 persen. Dari kondisi tersebut menuntut kehadiran negara untuk melakukan intervensi langsung dan terukur demi menyelamatkan masa depan generasi bangsa melalui program MBG.

Program MBG yang telah berjalan tepat satu tahun lalu, yaitu pada 6 Januari 2026, telah berhasil menjangkau 55 juta penerima manfaat dengan tingkat keberhasilan MBG mencapai angka 99 persen.

Melalui program MBG, Presiden menegaskan bahwa pemimpin yang bertanggung jawab harus bekerja keras untuk menghilangkan kelaparan dan kemiskinan. Untuk itu, Presiden pun mengajak seluruh jajaran pemerintahan untuk tetap yakin berada di jalan yang benar dalam memberantas kemiskinan dan menghilangkan kelaparan demi masa depan bangsa.

“Kita buktikan. Kalau niat kita bersih, niat kita tidak mencuri uang rakyat, kita berbuat untuk kepentingan rakyat, kepentingan bangsa kita, keselamatan bangsa kita, kita tidak perlu ragu-ragu, kita tidak perlu sedikitpun gentar,” tegas Presiden.

Sekali lagi, program MBG adalah bentuk kehadiran dan jawaban negara atas situasi problematik kebangsaan yang belum terselesaikan oleh pemerintahan sebelumnya. Sejauh ini tidak ada kondisi yang mengganggu MBG, dan kapasitas pemerintah telah dipersiapkan dengan baik untuk mengantisipasi hal tersebut, sehingga tidak ada pilihan lain selain lanjutkan MBG dan dukung total program populis ini untuk masa depan anak-anak kita.

Penulis adalah pemerhati masalah internasional dan Alumni Fisipol Universitas Jember dan Pasca Sarjana Universitas Indonesia

Pemerintah Optimalkan MBG untuk Perkuat Perekonomian Nasional

Jakarta — Pemerintah memfokuskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai instrumen strategis untuk memperkuat fundamental ekonomi nasional. Selain meningkatkan kesejahteraan masyarakat bawah, program ini berfungsi sebagai stimulus ekonomi akar rumput guna menjaga daya beli di tengah tekanan krisis global.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa MBG dirancang untuk memberikan kontribusi ekonomi langsung bagi rakyat kecil. Baginya, program ini melampaui bantuan sosial konvensional; ia adalah bagian dari strategi besar mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

“Dorongan bagi pertumbuhan ekonomi di level masyarakat bawah,” tegas Presiden.

Dalam implementasinya, pemerintah menetapkan target program ini dapat menjangkau lebih dari 80 juta penerima manfaat pada tahun 2026. Kelompok sasaran mencakup pelajar, balita, ibu hamil, serta ibu menyusui.

“Program ini disiapkan untuk menyediakan makanan bagi lebih dari 80 juta orang hampir setiap hari, serta berkontribusi sekitar 11 persen terhadap anggaran pemerintah pusat tahun ini,” jelasnya.

Sementara itu, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto menyatakan bahwa Program MBG dapat mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.

Ia menilai program ini tidak hanya berpengaruh pada pola konsumsi warga, tetapi juga berperan dalam menggerakkan perekonomian lokal melalui peningkatan produktivitas di tingkat desa.

“Insya Allah, program MBG ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa,” katanya.

Lebih lanjut, Yandri menjelaskan bahwa Program MBG turut mendorong terbentuknya desa tematik yang berfungsi sebagai pemasok bahan pangan sesuai dengan potensi lokal masing-masing wilayah, seperti desa penghasil ikan nila, jagung, hingga peternakan ayam.

“Kini mulai bermunculan desa ayam petelur, desa jagung, desa ikan lele, ikan nila, hingga desa ayam pedaging sebagai bagian dari program ketahanan pangan,” ungkapnya.

Ia juga menilai program ini memiliki peran penting dalam mengatasi masalah kekurangan gizi di wilayah pedesaan, mengingat masih banyak masyarakat yang belum memperoleh asupan gizi yang memadai.

“Dengan hadirnya MBG, masyarakat desa merasa sangat terbantu dan berterima kasih. Karena itu, anggapan untuk menghentikan program ini tidak tepat, justru perlu terus kita dukung,” tegasnya.

Dengan berbagai manfaat tersebut, Program MBG dapat menjadi solusi terpadu yang tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi nasional secara menyeluruh

Program MBG Dorong Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat

Jakarta – Pemerintah memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap menjadi prioritas nasional untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemenuhan gizi dan penciptaan lapangan kerja, meski di tengah kebijakan efisiensi anggaran negara.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa MBG tidak akan terdampak penghematan anggaran. Ia menyebut efisiensi hanya akan dilakukan pada program yang kurang efektif dan bersifat seremonial.

“Saya akan bertahan (melanjutkan MBG) sedapat mungkin. Daripada uang-uang dikorupsi, lebih baik rakyat saya bisa makan,” ujar Prabowo.

Program MBG dinilai penting karena menyasar kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan lansia. Prabowo menekankan program ini sebagai bentuk keberpihakan negara dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mengatasi masalah gizi buruk dan stunting.

“Anak umur 11 tahun, badannya seperti anak 4 tahun. Saya lihat sendiri di lapangan,” katanya.

Selain dampak sosial, MBG juga memberikan efek ekonomi yang luas. Program ini membuka peluang kerja dari dapur produksi hingga distribusi bahan pangan. Pada tahap puncak, diperkirakan terdapat 30 ribu hingga 31 ribu dapur layanan di seluruh Indonesia. Dengan asumsi setiap dapur mempekerjakan 50 orang, potensi tenaga kerja yang terserap mencapai sekitar 1,5 juta orang.

Penyerapan tenaga kerja juga diperluas melalui keterlibatan vendor pemasok bahan pangan. Setiap dapur diperkirakan bekerja sama dengan 5 hingga 10 vendor, yang melibatkan petani sehingga menambah potensi tenaga kerja hingga 1,5 juta orang.

Meski demikian, pemerintah mengakui masih ada kendala di lapangan. Lebih dari 1.000 dapur telah ditutup karena tidak memenuhi standar, sebagai upaya menjaga kualitas layanan dan keamanan pangan.

Prabowo memastikan pembiayaan MBG tidak berasal dari utang baru, melainkan dari efisiensi dan pengurangan kebocoran anggaran.

“Uang kita ada. Tinggal kita organisir dan kita kurangi kebocoran,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara mengatakan, berdasarkan data Kementerian Keuangan pada awal Maret 2026, penerima manfaat program MBG ini sudah sebanyak 61,62 juta orang melalui 25.082 dapur umum atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Penerima MBG siswa sebanyak 50 juta orang, dan 10,5 juta penerima yang non-siswa seperti ibu hamil, ibu menyusui, lansia juga ada yang mendapatkan makan bergizi,” jelas Suahasil.

“Kemenkeu akan memastikan anggaran program MBG dijalankan dengan tata kelola yang baik dan efisien,” pungkasnya.

Stabilitas Harga Pangan sebagai Prioritas di Era Ketidakpastian

Oleh: Rivka Mayangsari*)

Pemerintah terus menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga stabilitas harga pangan nasional di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian. Gejolak geopolitik, khususnya konflik yang melibatkan kawasan Timur Tengah seperti Iran, berpotensi memengaruhi rantai pasok global, termasuk sektor pangan. Namun demikian, negara hadir dengan langkah terukur untuk memastikan masyarakat tetap dapat memenuhi kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau, terutama pada momentum strategis Ramadan hingga Idulfitri 2026.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kondisi stok pangan nasional saat ini berada dalam posisi yang sangat aman. Berdasarkan hasil pemantauan di berbagai pasar di seluruh Indonesia, harga bahan pokok relatif stabil dan tidak menunjukkan gejolak signifikan. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa kebijakan pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara produksi, distribusi, dan konsumsi berjalan efektif.

Keberhasilan ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan hasil kerja kolaboratif lintas sektor. Pemerintah telah memperkuat produksi dalam negeri, meningkatkan cadangan pangan, serta memperketat pengawasan distribusi untuk mencegah praktik penimbunan dan spekulasi harga. Dalam konteks komoditas beras, misalnya, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola oleh Perum Bulog saat ini mencapai sekitar 4,09 juta ton. Ditambah dengan stok beras yang beredar di masyarakat sebesar 11–12 juta ton serta potensi panen dalam waktu dekat mencapai 12 juta ton, total kekuatan stok nasional diperkirakan mencapai 28 juta ton.

Angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki ketahanan pangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga sekitar 11 bulan ke depan. Bahkan, tren produksi beras nasional terus mengalami peningkatan seiring dengan berlangsungnya panen raya di berbagai daerah pada Maret 2026. Kondisi ini tidak hanya memperkuat stok nasional, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap harga gabah di tingkat petani, sehingga kesejahteraan mereka tetap terjaga.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah mengingatkan adanya potensi tekanan harga pangan akibat konflik global. Oleh karena itu, pemerintah bergerak cepat dengan mengimplementasikan berbagai program intervensi yang dirancang khusus untuk menjaga stabilitas harga selama Ramadan dan Idulfitri. Program-program tersebut antara lain Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), Gerakan Pangan Murah (GPM), serta penyaluran bantuan pangan kepada masyarakat.

Realisasi program SPHP hingga pertengahan Maret 2026 telah mencapai 42,3 ribu ton dari target tahunan sebesar 828 ribu ton. Sementara itu, Gerakan Pangan Murah telah dilaksanakan sebanyak 789 kali di 24 provinsi dan 153 kabupaten/kota. Program ini terbukti efektif dalam mendekatkan akses pangan murah kepada masyarakat sekaligus menekan potensi lonjakan harga di pasar.

Di sisi lain, distribusi bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng telah mulai disalurkan sejak awal Maret kepada lebih dari 33 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Percepatan distribusi ini dilakukan melalui ratusan cabang Bulog untuk memastikan bantuan tepat waktu dan tepat sasaran. Kebijakan ini tidak hanya membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok, tetapi juga berperan dalam meredam tekanan permintaan di pasar.

Stabilitas harga pangan juga tercermin dari indikator makroekonomi. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa inflasi pangan secara bulanan pada Februari 2026 tercatat sebesar 2,50 persen, sedangkan secara tahunan berada di level 4,64 persen. Angka ini masih berada dalam rentang target pemerintah untuk komponen harga bergejolak, yaitu antara 3 hingga 5 persen. Hal ini menegaskan bahwa pengendalian harga pangan berjalan sesuai dengan rencana.

Menteri Perdagangan Budi Santoso turut menegaskan bahwa stabilitas harga dan pasokan bahan pangan selama Ramadan hingga Idulfitri tetap terjaga. Ia menyebut bahwa kondisi ini merupakan hasil dari pengawasan ketat yang dilakukan secara masif di lapangan. Melalui Tim Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), pemerintah melakukan monitoring intensif untuk memastikan tidak terjadi kelangkaan maupun lonjakan harga yang merugikan masyarakat.

Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, tidak ditemukan adanya gejolak harga yang signifikan di berbagai daerah. Ketersediaan stok yang mencukupi menjadi faktor utama dalam menjaga rasa aman bagi konsumen di tengah meningkatnya permintaan musiman. Keberhasilan ini juga tidak lepas dari peran aktif pemerintah daerah, distributor, pedagang, serta seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga kelancaran rantai distribusi.

Lebih dari sekadar kebijakan jangka pendek, upaya menjaga stabilitas harga pangan merupakan bagian dari strategi besar pemerintah dalam memperkuat kedaulatan pangan nasional. Kolaborasi lintas sektor yang telah terbukti efektif selama Ramadan dan Idulfitri diharapkan dapat menjadi model berkelanjutan dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan.

Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, stabilitas pangan menjadi fondasi utama bagi ketahanan ekonomi dan sosial. Pemerintah telah menunjukkan bahwa dengan kebijakan yang tepat, koordinasi yang solid, dan komitmen yang kuat, Indonesia mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen. Dengan demikian, masyarakat dapat menjalani ibadah Ramadan dan merayakan Idulfitri dengan tenang, sementara perekonomian nasional tetap bergerak stabil dan berdaya tahan tinggi.

*) Pemerhati ekonomi

Pemerintah Jaga Stabilitas Harga Pangan di Tengah Gejolak Global

Jakarta – Pemerintah memastikan stabilitas harga pangan tetap terjaga di tengah dinamika global dan meningkatnya konsumsi masyarakat pasca Lebaran 2026. Di saat berbagai negara menghadapi ancaman krisis pangan akibat konflik geopolitik, lonjakan harga energi, dan gangguan rantai pasok global, Indonesia justru mampu menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga bahan pokok.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kondisi pangan nasional berada dalam posisi aman, dengan stok yang cukup serta harga yang relatif stabil di berbagai daerah. Momentum Lebaran tahun ini menjadi bukti nyata bahwa sistem pangan nasional semakin kuat dan adaptif terhadap tekanan global.

“Kita ingin semua tersenyum. Petani tersenyum karena harga hasil panennya baik, pedagang tersenyum karena barang tersedia dan bisa dijual, dan masyarakat juga tersenyum karena harga pangan terjangkau. Itulah tujuan pemerintah menjaga pangan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa stok beras nasional saat ini sangat kuat, ditopang cadangan pemerintah dan hasil panen raya di berbagai daerah, sehingga mampu menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan konsumsi masyarakat.

“Kalau produksi surplus dan distribusi lancar, maka harga akan stabil. Itu yang kita jaga terus, dari hulu sampai hilir. Keberhasilan ini merupakan hasil kerja terintegrasi mulai dari peningkatan produksi, penguatan cadangan pangan, hingga pengawasan distribusi yang dilakukan secara konsisten,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Amran menekankan bahwa kunci stabilitas harga terletak pada kesinambungan produksi dan kelancaran distribusi. Pemerintah juga menjaga keseimbangan harga agar tidak merugikan petani sekaligus tetap terjangkau bagi masyarakat.

“Harga pangan tidak boleh terlalu tinggi karena memberatkan masyarakat, tetapi juga tidak boleh terlalu rendah karena merugikan petani. Pemerintah harus menjaga keseimbangan itu,” katanya.

Sementara itu, pengamat pertanian dari Institut Pertanian Bogor, Prima Gandhi, menilai kebijakan pemerintah yang berbasis data dan pemantauan harian terbukti efektif dalam meredam gejolak harga, khususnya selama Ramadan hingga Idulfitri. Koordinasi lintas sektor menjadi kunci dalam menjaga stabilitas tersebut.

“Dengan pengelolaan pasokan yang terkoordinasi dan respons kebijakan yang cepat, stabilitas harga dapat terjaga, daya beli masyarakat terlindungi, dan petani tetap memperoleh kepastian pasar,” tuturnya.

Ke depan, pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui sinergi lintas sektor, deregulasi, serta penguatan sistem produksi dan distribusi. Stabilitas harga pangan yang terjaga tidak hanya menjadi indikator keberhasilan kebijakan, tetapi juga fondasi penting dalam menjaga kesejahteraan masyarakat di tengah ketidakpastian global.

Menahan Laju Inflasi Lewat Stabilitas Harga Pangan

Oleh: Adnan Ramdani )*

Menahan laju inflasi merupakan salah satu tantangan utama dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional, terlebih di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian. Dalam konteks Indonesia, salah satu kunci penting untuk mengendalikan inflasi terletak pada kemampuan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan. Hal ini bukan tanpa alasan, mengingat komponen pangan memiliki kontribusi signifikan terhadap pembentukan inflasi, khususnya inflasi kelompok volatile food yang cenderung berfluktuasi mengikuti musim, distribusi, hingga kondisi cuaca.

Upaya menjaga stabilitas harga pangan sejatinya bukan sekadar kebijakan jangka pendek, melainkan bagian dari strategi besar dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Pemerintah telah menunjukkan komitmen yang kuat melalui berbagai langkah konkret, mulai dari penguatan cadangan pangan pemerintah, optimalisasi peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor pangan, hingga pengendalian distribusi agar tetap efisien dan tepat sasaran. Langkah ini menjadi bukti bahwa stabilitas harga pangan tidak dibiarkan mengikuti mekanisme pasar semata, tetapi juga diintervensi secara terukur demi kepentingan masyarakat luas.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman mengatakan BI mengantisipasi kenaikan inflasi pangan bergejolak seiring potensi musim kemarau yang datang lebih dini. Kondisi ini dinilai berisiko menekan pasokan dan mendorong lonjakan harga bahan pokok. BI juga menilai, tekanan pada volatile food perlu diantisipasi melalui penguatan pasokan dan kelancaran distribusi. Upaya ini penting untuk menjaga stabilitas harga pangan sekaligus mengendalikan inflasi secara keseluruhan.

Kemudian salah satu aspek krusial dalam menjaga harga pangan tetap stabil adalah ketersediaan pasokan. Pemerintah terus mendorong peningkatan produksi dalam negeri melalui berbagai program, seperti pemberian subsidi pupuk, bantuan alat dan mesin pertanian, serta penguatan infrastruktur irigasi. Dengan produksi yang terjaga, risiko lonjakan harga akibat kelangkaan dapat diminimalisasi. Selain itu, kebijakan diversifikasi pangan juga menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada komoditas tertentu, seperti beras, sehingga tekanan inflasi dapat lebih terkendali.

Di sisi lain, perbaikan sistem distribusi menjadi faktor penting yang tidak bisa diabaikan. Selama ini, disparitas harga antarwilayah sering kali terjadi akibat hambatan logistik dan rantai pasok yang panjang. Pemerintah merespons hal ini dengan memperkuat konektivitas antarwilayah, termasuk melalui pembangunan infrastruktur jalan, pelabuhan, dan fasilitas penyimpanan. Digitalisasi sistem distribusi juga mulai diperluas, memungkinkan pemantauan harga secara real-time serta intervensi yang lebih cepat ketika terjadi gejolak di pasar.

Kehadiran operasi pasar dan program stabilisasi harga juga menjadi instrumen efektif dalam menjaga daya beli masyarakat. Ketika harga komoditas tertentu mengalami kenaikan signifikan, pemerintah melalui instansi terkait segera melakukan intervensi dengan menggelontorkan stok ke pasar. Kebijakan ini tidak hanya mampu menahan lonjakan harga, tetapi juga memberikan sinyal kuat bahwa negara hadir untuk melindungi masyarakat dari tekanan ekonomi. Dalam jangka panjang, langkah ini turut memperkuat kepercayaan publik terhadap kebijakan ekonomi pemerintah.

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, mengatakan pemerintah telah menjaga stabilitas harga agar tetap dalam batas wajar sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Presiden Prabowo sebelumnya mengakui adanya potensi kenaikan harga pangan akibat konflik global. Namun, Amran menilai kondisi harga pangan domestik selama Ramadan masih terkendali. Hal ini menunjukkan bahwa berbagai langkah stabilisasi yang telah dilakukan pemerintah berjalan efektif dan mampu meredam potensi gejolak harga di pasar.

Selain itu, sinergi antar lembaga juga menjadi kunci keberhasilan pengendalian inflasi pangan. Koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bank Indonesia, serta pelaku usaha terus diperkuat melalui forum-forum pengendalian inflasi seperti Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Melalui kolaborasi ini, setiap potensi gangguan pasokan maupun distribusi dapat diantisipasi lebih dini. Pendekatan berbasis data dan pemantauan lapangan yang intensif menjadikan kebijakan yang diambil lebih tepat sasaran dan efektif.

Tidak kalah penting, peran masyarakat juga menjadi bagian dari ekosistem pengendalian inflasi. Kesadaran untuk berbelanja secara bijak, tidak melakukan panic buying, serta mendukung konsumsi produk lokal turut membantu menjaga stabilitas harga. Dalam hal ini, edukasi publik menjadi elemen penting agar masyarakat memahami bahwa stabilitas harga pangan adalah tanggung jawab bersama.

Dalam perspektif yang lebih luas, keberhasilan menahan laju inflasi melalui stabilitas harga pangan akan memberikan dampak positif yang signifikan terhadap perekonomian nasional. Inflasi yang terkendali akan menjaga daya beli masyarakat, meningkatkan kepercayaan investor, serta menciptakan iklim usaha yang kondusif. Hal ini pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.

Dengan berbagai langkah strategis yang telah dan terus dilakukan, optimisme terhadap kemampuan Indonesia dalam mengendalikan inflasi tetap terjaga. Stabilitas harga pangan bukan hanya menjadi indikator keberhasilan kebijakan ekonomi, tetapi juga cerminan keberpihakan negara terhadap kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu, konsistensi kebijakan, penguatan koordinasi, serta partisipasi aktif seluruh elemen bangsa menjadi kunci untuk memastikan bahwa inflasi tetap terkendali dan ekonomi nasional terus tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.

)* Pengamat ekonomi

Harga Pangan Dijaga Tetap Stabil, Risiko Inflasi Global Diantisipasi

Jakarta – Pemerintah terus menjaga stabilitas harga pangan nasional di tengah dinamika ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian. Berbagai langkah strategis ditempuh guna memastikan ketersediaan pasokan tetap aman dan harga kebutuhan pokok terkendali, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini.

Sejumlah indikator menunjukkan tekanan inflasi pangan relatif terkendali. Harga komoditas utama seperti beras, minyak goreng, gula, dan daging terpantau stabil, bahkan di beberapa wilayah mengalami penurunan. Kondisi ini tidak lepas dari intervensi pemerintah melalui operasi pasar, penguatan distribusi logistik, serta sinergi lintas kementerian dan lembaga.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan optimisme terhadap kinerja ekonomi nasional di tengah tantangan global seperti fluktuasi harga energi dan ketidakpastian geopolitik.

“Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 5,5 persen. Konsumsi masyarakat yang meningkat selama Ramadan dan Idulfitri menjadi salah satu pendorong utama, ditopang oleh stabilitas harga dan inflasi yang terjaga,” kata Airlangga.

Ia menilai keberhasilan menjaga inflasi, khususnya dari sektor pangan, merupakan hasil koordinasi erat antara pemerintah pusat dan daerah serta dukungan kebijakan moneter oleh Bank Indonesia. Kebijakan fiskal yang adaptif juga dinilai memperkuat ketahanan ekonomi domestik dalam menghadapi tekanan eksternal.

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan stok komoditas pangan nasional dalam kondisi cukup dan harga tetap stabil pasca Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Berdasarkan pantauan di berbagai pasar tradisional dan modern, ketersediaan bahan pokok tetap terjaga dengan harga yang relatif terkendali.

“Kita ingin semua tersenyum. Petani tersenyum karena harga hasil panennya baik, pedagang tersenyum karena barang tersedia dan bisa dijual, dan masyarakat juga tersenyum karena harga pangan terjangkau. Itulah tujuan pemerintah menjaga pangan,” ujar Amran.

Ia menjelaskan, posisi stok beras nasional sangat kuat dengan cadangan pemerintah di gudang Bulog sekitar 4,09 juta ton, ditambah ketersediaan di masyarakat dan potensi panen yang masih berlangsung. Secara keseluruhan, ketahanan stok beras nasional dinilai mampu mencukupi kebutuhan hingga sekitar 11 bulan ke depan.

Produksi pangan yang meningkat, terutama pada periode panen raya awal tahun 2026, turut memperkuat stok sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat petani dan konsumen. Neraca sejumlah komoditas strategis juga menunjukkan kondisi surplus, termasuk beras, cabai, daging ayam, dan bawang merah.

“Kalau produksi surplus dan distribusi lancar, maka harga akan stabil. Itu yang kita jaga terus, dari hulu sampai hilir,” pungkas Amran.

Pemerintah Terus Perkuat Ketahanan Pangan Nasional di Tengah Gejolak Global

JAKARTA – Pemerintah memastikan stabilitas pangan dan energi nasional tetap terjaga di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian. Masyarakat pun diimbau untuk tetap bijak dalam mengelola konsumsi sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan nasional secara kolektif.

Laporan terbaru dari World Food Programme (WFP) memperingatkan potensi peningkatan jumlah penduduk dunia yang mengalami kelaparan akut pada 2026. Eskalasi konflik di Timur Tengah serta tingginya harga energi global disebut dapat mendorong tambahan hingga 45 juta orang masuk dalam kategori rawan pangan apabila situasi memburuk.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya penguatan ketahanan pangan nasional sebagai langkah strategis menghadapi ancaman global.

“Dunia sedang menghadapi ancaman krisis pangan yang serius. Karena itu, setiap negara harus memperkuat ketahanan pangannya dan tidak boleh bergantung pada negara lain,” ujarnya.

Pemerintah juga terus mendorong peningkatan produksi melalui strategi intensifikasi dan ekstensifikasi. Modernisasi pertanian, penggunaan benih unggul, serta pembukaan lahan baru menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi produksi nasional. Selain itu, deregulasi sektor pertanian juga dilakukan untuk mempercepat realisasi program di lapangan.

“Stok kita kuat, produksi naik, cadangan aman. Ini menandakan program berada di jalur yang benar,” jelasnya.

Upaya penguatan ketahanan pangan juga dilakukan di tingkat daerah. Misalnya, Pemerintah Provinsi Papua Tengah mengamankan 95 persen lahan baku sawah dalam Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan melalui Rencana Tata Ruang Wilayah (RT/RW) 2026–2046.

Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa menegaskan bahwa langkah ini bertujuan melindungi lahan pertanian dari alih fungsi sekaligus memastikan keberlanjutan produksi pangan. Penataan ruang menjadi instrumen penting dalam menghadapi tantangan global sekaligus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.

“Dengan tingginya persentase lahan baku sawah yang dimasukkan dalam kawasan pertanian pangan berkelanjutan, diharapkan dapat mengamankan luasan fisik sawah sebagai fondasi ketahanan pangan nasional serta mengendalikan alih fungsi lahan,” ucapnya.

Dengan berbagai langkah strategis tersebut, pemerintah optimistis stabilitas pangan nasional tetap terjaga. Di sisi lain, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan konsumsi berlebihan serta menghindari pemborosan, terutama pada komoditas pangan dan energi.

Sinergi antara kebijakan pemerintah dan perilaku konsumsi masyarakat yang bijak diyakini menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan nasional di tengah tekanan global yang terus berkembang. (*/rls)