Peringatan Hari Pahlawan Kondusif, Gelar Pahlawan untuk Soeharto Dapat Apresiasi Luas

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh bangsa melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025.

Dari sepuluh tokoh tersebut, dua di antaranya merupakan mantan Presiden RI, yaitu Presiden ke-2 Soeharto dan Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Selain itu, terdapat pula tokoh buruh, ulama, serta figur yang berjasa pada berbagai bidang strategis nasional.

Mantan Ketua Umum (Ketum) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin mengatakan bahwa gelar pahlawan nasional kepada Presiden Soeharto tersebut sangat tepat.

“Saya sungguh dari lubuk hati yang dalam dan juga pikiran, bahwa penetapan Presiden Soeharto sebagai pahlwan nasional adalah sangat-sangat tepat, walaupun terlambat,” kata Din Syamsuddin.

Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Rachmat Gobel, turut mengapresiasi pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 RI Soeharto.

“Kontribusi Pak Harto sangat besar bagi bangsa dan negara ini,” katanya,

Menurutnya Soeharto memiliki banyak jasa besar bagi bangsa dan negara, antara lain berperang melawan kolonialisme Belanda di masa revolusi dan peristiwa Serangan Oemoem 1 Maret 1949 adalah puncak prestasinya di masa itu.

“Memang di situ ada banyak peran dari sejumlah tokoh seperti Sri Sultan Hamengku Buwono IX maupun Jenderal Nasution, bahkan Panglima Soedirman, tapi fakta yang tak bisa dibantah adalah Pak Harto yang menjadi komandannya,” katanya.

Sementara itu, Presidium Nasional BEM PTNU Se-Nusantara, Achmad Baha’ur Rifqi, menyatakan dukungan penuh atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 RI Soeharto dan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

“Dengan menghargai jasa para pemimpin masa lalu, kita tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga belajar untuk menjadi bangsa yang lebih dewasa dan beradab,” ungkapnya.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi sebelumnya menjelaskan bahwa penetapan nama-nama ini melalui proses panjang, melibatkan masukan pimpinan Parlemen serta komunikasi intensif dengan sejumlah tokoh nasional dalam rapat terbatas. Keputusan ini sekaligus menjadi bentuk penghormatan negara atas kontribusi besar para pahlawan terhadap perjalanan sejarah bangsa.

“Cara bekerja beliau menugaskan beberapa untuk berkomunikasi dengan parah tokoh, mendapatkan masukan dari berbagai pihak sehingga diharapkan apa yang nanti diputuskan oleh bapak presiden, oleh pemerintah itu, sudah melalui berbagai masukan,” kata Prasetyo.

Dukungan publik, termasuk dari generasi muda, menegaskan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan pemimpinnya secara objektif demi memperkuat persatuan nasional. [-RWA]

Rakyat Apresiasi dan Syukuri Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto

Jakarta – Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025 menjadi momen bersejarah bagi bangsa Indonesia. Pemerintah secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, almarhum Soeharto. Keputusan ini disambut dengan penuh apresiasi dan rasa syukur oleh berbagai kalangan masyarakat, tokoh agama, dan organisasi kemasyarakatan.

Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin, menyampaikan bahwa penganugerahan gelar tersebut merupakan langkah yang sangat tepat dan penuh makna. Ia menilai, meski penghargaan ini baru diberikan setelah puluhan tahun pasca kepemimpinan Soeharto, keputusan pemerintah sudah sejalan dengan nilai keadilan sejarah dan pengakuan terhadap jasa besar beliau.

“Saya sungguh dari lubuk hati yang dalam dan juga pikiran, bahwa penetapan Presiden Soeharto sebagai Pahlawan Nasional adalah sangat-sangat tepat, walaupun terlambat,” ujar Din Syamsuddin. Menurutnya, Soeharto merupakan sosok pemimpin yang memiliki komitmen tinggi terhadap pembangunan bangsa dan kesejahteraan rakyat.

Din menambahkan, selama lebih dari tiga dekade memimpin Indonesia, Soeharto berhasil meletakkan fondasi ekonomi dan stabilitas nasional yang kuat. “Beliau adalah pemimpin yang berkomitmen membangun bangsa dan negara, dengan dedikasi yang tulus dan kerja nyata untuk rakyat,” tuturnya.

Apresiasi juga datang dari Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) sekaligus cucu Pahlawan Nasional asal Nusa Tenggara Barat, Dr. TGKH. Muhammad Zainuddin Atsani. Ia menilai, penganugerahan ini bukan hanya bentuk penghargaan kepada sosok Soeharto, tetapi juga menjadi simbol rekonsiliasi sejarah yang meneguhkan semangat persatuan bangsa.

“Soeharto dikenal karena perannya dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang sangat penting dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia dari Belanda,” ujar Zainuddin. Ia menambahkan, jasa besar Soeharto tidak hanya tercermin dalam perjuangan fisik di masa kemerdekaan, tetapi juga dalam membangun bangsa melalui kebijakan pembangunan ekonomi, pendidikan, dan ketahanan nasional.

Menurutnya, keputusan pemerintah untuk memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto patut disyukuri karena menunjukkan bahwa bangsa Indonesia tidak melupakan jasa para pemimpin yang telah berjuang demi kemerdekaan dan kemajuan negeri. “Kami dari Nahdlatul Wathan menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada pemerintah. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap sejarah dan jasa besar Pak Harto bagi bangsa Indonesia,” tegasnya.

Penganugerahan gelar ini juga disambut hangat oleh berbagai elemen masyarakat. Mereka menilai, langkah ini menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan, semangat persatuan, dan penghargaan terhadap jasa para tokoh bangsa.

Melalui momen Hari Pahlawan ini, masyarakat berharap agar semangat pengabdian dan keteladanan para pemimpin terdahulu dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda. Sebab, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan dan terus melanjutkan perjuangan mereka dalam membangun Indonesia yang lebih maju, adil, dan sejahtera.

Hari Pahlawan 2025: Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto Disambut Hangat dan Kondusif

Jakarta — Suasana khidmat mewarnai peringatan Hari Pahlawan tahun ini, seiring dengan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto. Berbagai kalangan menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada pemerintah atas pelaksanaan penetapan gelar yang dinilai sebagai wujud kedewasaan bangsa dalam menghargai jasa para pemimpin terdahulu. Proses penganugerahan berlangsung aman, kondusif, dan diterima dengan penuh penghormatan oleh masyarakat di seluruh Indonesia.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan gelar tersebut merupakan bentuk penghormatan negara terhadap kontribusi besar Soeharto bagi bangsa.

“Pemerintah memberikan gelar pahlawan kepada mantan Presiden Soeharto untuk menghormati tokoh pendahulu,” ujarnya.

Dari parlemen, Anggota DPR RI Fraksi NasDem Rachmat Gobel mengapresiasi langkah pemerintah yang dinilai mampu mempersatukan pandangan bangsa terhadap jasa pemimpin masa lalu.

“Setiap orang pasti punya kelemahan dan kekurangan, namun kontribusi Pak Harto sangat besar bagi bangsa dan negara ini,” kata Rachmat.

Dukungan juga datang dari kalangan Nahdlatul Ulama. Tokoh muda Nahdliyin Jawa Timur KH Achmad Syamsul Askandar (Gus Aan) menyebut bahwa bangsa besar adalah bangsa yang menghormati sejarah dan tokohnya.

“Sebagai manusia biasa tentu beliau dalam memimpin negeri ini tidak akan bisa luput dari salah dan khilaf. Bahkan Presiden Gus Dur pun pernah mengatakan bahwa Presiden Soeharto adalah orang yang memiliki jasa sangat besar bagi bangsa ini, walaupun dosanya juga besar,” ungkapnya.

Apresiasi juga mengalir dari Nusa Tenggara Barat. Cucu Pahlawan Nasional sekaligus Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW), Dr. TGKH. Muhammad Zainuddin Atsani, menegaskan kiprah Soeharto dalam mempertahankan kedaulatan bangsa.

“Soeharto dikenal karena perannya dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang sangat penting dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia dari Belanda,” katanya.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menilai keputusan ini sangat tepat sebagai bentuk penghormatan terhadap dedikasi Soeharto selama memimpin Indonesia selama tiga dekade.

“Karena selama 30 tahun dari kepemimpinan beliau sebagai presiden, saya tahu pasti beliau adalah seorang pemimpin yang mempunyai komitmen untuk membangun bangsa dan negara,” ujarnya.

Presidium Nasional BEM PTNU se-Nusantara Achmad Baha’ur Rifqi juga menyampaikan dukungan dari kalangan muda.

“Soeharto dikenal sebagai pemimpin yang berperan penting dalam menciptakan stabilitas nasional dan kemajuan pembangunan,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif ToBe Institute Mochamad Imamudinussalam menilai penganugerahan ini mencerminkan sikap objektif dan kematangan demokrasi bangsa Indonesia.

“Soeharto hadir melalui program seperti swasembada pangan, pembangunan infrastruktur desa, teknologi, peningkatan kesejahteraan petani, hingga kebijakan ekonomi yang pro-rakyat. Soeharto adalah bagian penting dari perjalanan republik ini,” jelasnya.

Di tengah suasana Hari Pahlawan yang damai dan kondusif, apresiasi masyarakat terhadap pemerintah menegaskan bahwa Indonesia semakin matang dalam berdemokrasi, besar dalam hati, dan teguh dalam menghargai sejarah perjuangannya.

Resmi! Soeharto Dapat Gelar Pahlawan Nasional, Pemerintah Tegaskan Proses Sesuai Aturan

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, dalam Upacara Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional yang digelar di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (10/11).

Dalam upacara tersebut, Sekretaris Militer Presiden Wahyu Yudhayana membacakan daftar penerima penghargaan sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan alasan pemerintah memberikan gelar tersebut. Ia menegaskan bahwa keputusan Presiden Prabowo merupakan bentuk penghormatan kepada para pemimpin bangsa yang telah berjasa besar.

“Sekali lagi, sebagaimana kemarin juga kami sampaikan, itu kan bagian dari bagaimana kita menghormati para pendahulu, terutama para pemimpin kita, yang apapun sudah pasti memiliki jasa yang luar biasa terhadap bangsa dan negara,” kata Prasetyo.

Menurutnya, nama-nama tokoh yang ditetapkan telah melalui proses pembahasan panjang, termasuk masukan dari Parlemen dan berbagai tokoh nasional.

Apresiasi terhadap keputusan ini datang dari berbagai kalangan. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) Dr. TGKH. Muhammad Zainuddin Atsani menyebut, Soeharto layak menerima gelar tersebut karena jasanya mempertahankan kedaulatan Indonesia dan membangun bangsa.

“Soeharto dikenal karena perannya dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang sangat penting dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia dari Belanda,” ujarnya di Mataram.

Ia juga menambahkan bahwa Soeharto pantas disebut sebagai Bapak Pembangunan Nasional, karena di masa kepemimpinannya Indonesia mengalami industrialisasi dan kemajuan ekonomi signifikan. “Julukan itu bahkan diberikan secara resmi oleh MPR tahun 1982,” kata Atsani.

Sementara itu, Direktur Eksekutif ToBe Institute, Mochamad Imamudinussalam, menjelaskan bahwa proses pemberian gelar Pahlawan Nasional telah melalui mekanisme ketat dan transparan.

“Usulan Soeharto menjadi pahlawan nasional itu sudah berkali-kali diusulkan, tahun 2008, 2010, 2015, dan 2016. Dan sebagian besar suara DPR dan para tokoh juga setuju. Jadi mau apalagi,” ujarnya.

Ia menegaskan, tudingan bahwa proses ini sarat kepentingan politik tidak berdasar karena seluruh tahapan telah melewati verifikasi resmi oleh Dewan Gelar dan Kementerian Sosial.(*)

Masyarakat Apresiasi Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto

Jakarta — Berbagai elemen masyarakat menyampaikan apresiasi atas keputusan pemerintah yang menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto. Keputusan tersebut dianggap sebagai langkah bersejarah dalam menghormati jasa besar seorang pemimpin yang telah berjasa membangun fondasi ekonomi dan menjaga stabilitas bangsa selama masa kepemimpinannya.

Apresiasi datang dari berbagai kalangan yang menilai keputusan pemerintah tersebut mencerminkan sikap objektif dan kedewasaan bangsa dalam menilai sejarah. Mereka sepakat bahwa jasa Soeharto dalam pembangunan nasional, stabilitas politik, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat layak mendapat penghormatan negara.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa penganugerahan ini merupakan bentuk penghormatan negara terhadap para pemimpin terdahulu yang telah berjuang dan berkontribusi besar bagi Indonesia.

“Pemerintah memberikan gelar pahlawan kepada Mantan Presiden Soeharto untuk menghormati tokoh pendahulu yang berjasa besar bagi bangsa dan negara,” ujar Prasetyo Hadi.

Ia menjelaskan, pemberian gelar tersebut juga merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam menjaga kesinambungan sejarah bangsa dan memperkuat keteladanan bagi generasi muda.

“Nilai-nilai pengabdian dan semangat pembangunan yang diwariskan beliau akan menjadi inspirasi bagi pemimpin masa depan,” tambahnya.

Sementara itu, Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem, Rachmat Gobel, menilai langkah pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto sebagai bentuk pengakuan yang adil atas kontribusi besar seorang pemimpin bangsa.

“Setiap orang pasti punya kelemahan dan kekurangan, namun kontribusi Pak Harto sangat besar bagi bangsa dan negara ini,” tegas Rachmat Gobel.

Menurutnya, penghargaan tersebut menjadi momentum untuk menumbuhkan semangat persatuan dan kebanggaan nasional. Ia berharap masyarakat dapat menilai sejarah dengan bijak tanpa terjebak pada perdebatan masa lalu.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai jasa para pendahulunya,” pungkasnya.

Dukungan juga datang dari mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, yang menilai keputusan pemerintah ini sudah tepat dan selaras dengan semangat keadilan sejarah.

“Karena selama 32 tahun dari kepemimpinan beliau sebagai presiden, saya tahu pasti beliau adalah seorang pemimpin yang mempunyai komitmen untuk membangun bangsa dan negara,” ujar Din Syamsuddin.

Din menekankan bahwa penghargaan ini bukan hanya bentuk penghormatan personal, tetapi juga simbol penghargaan terhadap semangat pengabdian dan nilai-nilai nasionalisme yang pernah dijalankan Soeharto. Ia mengajak masyarakat untuk melihat penganugerahan ini sebagai refleksi bahwa bangsa Indonesia tidak melupakan jasa pemimpinnya.

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto mendapat sambutan luas sebagai langkah yang memperkuat semangat kebangsaan dan mengingatkan generasi muda akan pentingnya menghargai sejarah. Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penghormatan terhadap jasa para pemimpin merupakan bagian dari membangun karakter bangsa yang beradab dan berterima kasih.

Soeharto Resmi Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, Bentuk Apresiasi Sebagai Bapak Pembangunan

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, dalam upacara kenegaraan di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (10/11/2025). Penganugerahan ini tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116/TK Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Soeharto menjadi satu dari sepuluh tokoh yang mendapatkan gelar tersebut tahun ini.

Presiden Prabowo dalam arahannya menyebut bahwa pemberian gelar kepada Soeharto merupakan bentuk penghormatan dan apresiasi bangsa terhadap jasa besar beliau dalam membangun fondasi Indonesia modern. “Negara ini berdiri kokoh karena perjuangan banyak tokoh besar, dan Pak Harto adalah salah satunya. Kita menghormati jasa-jasa beliau dalam menjaga stabilitas dan pembangunan nasional,” ujar Presiden Prabowo dalam sambutannya.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa keputusan Presiden didasarkan pada pertimbangan yang matang dan penilaian objektif terhadap kiprah Soeharto sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga masa kepemimpinannya sebagai presiden. “Bapak Presiden memberikan gelar ini sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh pendahulu yang memiliki peran penting dalam sejarah bangsa. Soeharto adalah sosok yang berjasa besar, terutama dalam menjaga keutuhan NKRI dan mendorong kemajuan ekonomi nasional,” kata Prasetyo di Istana Negara.

Dukungan terhadap penetapan gelar ini juga datang dari berbagai kalangan, termasuk tokoh agama. Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, menilai keputusan pemerintah sangat tepat dan layak diberikan. “Saya sungguh dari lubuk hati yang dalam dan juga pikiran, bahwa penetapan Presiden Soeharto sebagai pahlawan nasional adalah sangat-sangat tepat, walaupun terlambat,” ujarnya.

Din menambahkan, Soeharto merupakan pemimpin yang memiliki komitmen kuat terhadap pembangunan bangsa. “Selama 30 tahun kepemimpinan beliau, saya tahu pasti beliau adalah seorang pemimpin yang mempunyai komitmen untuk membangun bangsa dan negara,” katanya.

Anak sulung Soeharto, Siti Hardijanti Hastuti Rukmana atau Tutut Soeharto, menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Prabowo dan seluruh masyarakat Indonesia atas penghargaan yang diberikan kepada ayahandanya. “Kami tadi sampaikan terima kasih kepada Bapak Presiden dan masyarakat Indonesia, kepada seluruh yang telah mendukung,” ujar Tutut seusai upacara penganugerahan.

Upacara penetapan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto berjalan dengan khidmat dan kondusif. Seluruh rangkaian acara di Istana Negara berlangsung tertib, mencerminkan semangat penghormatan bangsa terhadap tokoh yang berjasa besar bagi Indonesia. Penetapan ini menjadi simbol bahwa bangsa Indonesia tidak melupakan jasa para pemimpinnya dalam mengantarkan negeri menuju kemajuan.

Generasi Muda Apresiasi Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto: Momentum Belajar Menghargai Pemimpin Bangsa

Jakarta – Kalangan muda dari berbagai organisasi menyampaikan apresiasi dan dukungan atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Jenderal Besar H.M. Soeharto.

Mereka menilai keputusan pemerintah tersebut sebagai langkah bersejarah yang dapat menjadi pelajaran penting bagi generasi muda untuk menghargai jasa para pemimpin bangsa serta memperkuat semangat kebangsaan.

Presidium Nasional BEM PTNU Se-Nusantara, Achmad Baha’ur Rifqi, mengatakan bahwa penganugerahan ini bukan hanya bentuk penghormatan terhadap jasa Soeharto, tetapi juga momentum refleksi nasional bagi anak muda. Rifqi juga menyoroti pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid.

“Keduanya adalah figur bersejarah yang telah memberi warna besar bagi perjalanan Indonesia. Soeharto berjasa dalam membangun ketahanan ekonomi nasional, sedangkan Gus Dur menjadi simbol kebebasan berpikir dan kemanusiaan universal. Sebaik-baiknya pemimpin tentu memiliki kekurangan, namun bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati pendahulunya,” ujarnya.

Menurut Rifqi, generasi muda perlu meneladani semangat kepemimpinan dan tanggung jawab dari para tokoh tersebut.

“Dengan menghargai jasa para pemimpin masa lalu, kita belajar untuk menjadi bangsa yang lebih dewasa dan beradab,” tambahnya.

Pandangan serupa disampaikan oleh KH Achmad Syamsul Askandar (Gus Aan), Tokoh Muda Nahdliyin Jawa Timur. Ia menilai keputusan pemerintah memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto sudah tepat dan memberikan pesan moral bagi generasi muda untuk meneladani nilai pengabdian kepada bangsa.

“Sebagai manusia biasa tentu beliau tidak akan bisa luput dari salah dan khilaf. Bahkan Presiden Gus Dur pun pernah mengatakan bahwa Presiden Soeharto adalah orang yang memiliki jasa sangat besar bagi bangsa ini,” ujarnya.

Sementara itu, Cucu Pahlawan Nasional asal Nusa Tenggara Barat (NTB) yang juga menjabat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW), Dr. TGKH. Muhammad Zainuddin Atsani, juga menyampaikan dukungan terhadap penganugerahan pahlawan nasional kepada Mantan Presiden Soeharto.

Ia menilai Soeharto layak dikenang oleh generasi muda karena peran pentingnya dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan Indonesia dan memajukan pembangunan nasional.

“Soeharto dikenal karena perannya dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 dan juga sebagai Bapak Pembangunan Nasional, karena di masa kepemimpinannya Indonesia mengalami industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi yang signifikan,” ungkapnya.

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto pada Hari Pahlawan 2025 ini dinilai menjadi simbol kedewasaan bangsa dalam menghargai sejarahnya.

Kalangan muda dari berbagai latar belakang keorganisasian berharap momentum ini menjadi inspirasi untuk menumbuhkan rasa hormat terhadap perjuangan para pendahulu dan memperkuat semangat kebangsaan menuju Indonesia yang lebih maju. #

Keputusan Pemerintah Beri Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto Tuai Apresiasi Publik

Jakarta — Gelombang apresiasi mengalir dari berbagai kalangan atas keputusan pemerintah yang menetapkan Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, sebagai Pahlawan Nasional. Keputusan yang diumumkan oleh Istana ini dinilai sebagai langkah tepat dalam menghormati jasa besar pemimpin terdahulu yang telah meletakkan fondasi bagi pembangunan bangsa.

Dukungan dan penghormatan terhadap kebijakan tersebut tidak hanya datang dari pejabat negara, tetapi juga dari tokoh agama dan masyarakat lintas daerah.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan pemerintah memberikan penghargaan ini sebagai bentuk pengakuan terhadap kontribusi Soeharto bagi Indonesia.

“Pemerintah memberikan gelar pahlawan kepada mantan Presiden Soeharto untuk menghormati tokoh pendahulu yang telah mengabdikan hidupnya bagi bangsa dan negara,” kata Prasetyo.

Ia menilai, penghargaan ini bukan hanya simbol sejarah, tetapi juga refleksi atas komitmen pemerintah dalam menjaga kontinuitas penghormatan terhadap pemimpin yang telah berjasa besar bagi negara.

“Soeharto memiliki peran strategis dalam menata stabilitas nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi selama masa kepemimpinannya,” imbuhnya.

Dukungan juga datang dari kalangan pesantren. Tokoh Muda Nahdliyin Jawa Timur, KH Achmad Syamsul Askandar (Gus Aan), mengapresiasi langkah pemerintah yang dinilainya penuh kebijaksanaan.

“Sebagai manusia biasa tentu beliau dalam memimpin negeri ini tidak akan bisa luput dari salah dan khilaf. Bahkan Presiden Gus Dur pun pernah mengatakan di dalam suatu acara televisi bahwa Presiden Soeharto adalah orang yang memiliki jasa sangat besar bagi bangsa ini, walaupun dosanya juga besar,” ujar Gus Aan.

Menurutnya, penetapan gelar tersebut menunjukkan kematangan bangsa dalam melihat sejarah secara menyeluruh. Ia menambahkan bahwa pengakuan terhadap jasa Soeharto bukan berarti menafikan kekurangan masa lalu, melainkan upaya untuk menempatkan sejarah pada porsinya dengan adil dan objektif.

Pandangan senada disampaikan cucu Pahlawan Nasional asal Nusa Tenggara Barat (NTB) sekaligus Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW), Dr. TGKH. Muhammad Zainuddin Atsani.

“Soeharto dikenal karena perannya dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang sangat penting dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia dari Belanda,” ungkap Zainuddin.

Ia menilai, pemberian gelar ini tidak hanya layak, tetapi juga menjadi pengingat bagi generasi muda tentang arti pengorbanan dan pengabdian terhadap bangsa.

Sementara itu, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin turut menyampaikan dukungan penuh atas keputusan pemerintah.

“Selama 32 tahun dari kepemimpinan beliau sebagai presiden, saya tahu pasti beliau adalah seorang pemimpin yang mempunyai komitmen untuk membangun bangsa dan negara,” tegas Din.

Din menilai penghargaan ini memperlihatkan sikap kenegarawanan yang kuat dan patut diapresiasi oleh seluruh elemen masyarakat.

“Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto menjadi simbol penghormatan atas dedikasi, kerja keras, dan pengabdian tanpa pamrih dalam membangun Indonesia,” tuturnya. [*]

Pemberian Gelar Pahlawan Kepada Presiden RI kedua, Apresiasi Negara Terhadap Tokoh dan Pemimpin Bangsa

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto memberikan gelar Pahlawan Nasional terhadap 10 tokoh yang berjasa terhadap Republik Indonesia di Istana Negara, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Senin (10/11/2025).

Dari 10 tokoh, ada dua nama Presiden RI yang diberikan gelar. Mereka adalah Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dan Presiden ke-2 RI Soeharto.

Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Rachmat Gobel, mendukung pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 RI Soeharto. Presiden RI kedua memiliki jasa besar terhadap bangsa ini. Kontribusi sangat besar sehingga layak menyadang gelar Pahlawan Nasional.

“Setiap orang pasti punya kelemahan dan kekurangan, namun kontribusi Pak Harto sangat besar bagi bangsa dan negara ini,” katanya.

Anggota DPR RI tersebut mengatakan ada banyak jasa Soeharto. Pertama, berperang melawan kolonialisme Belanda di masa revolusi. Peristiwa Serangan Oemoem 1 Maret 1949 adalah puncak prestasinya di masa itu.

“Memang di situ ada banyak peran dari sejumlah tokoh seperti Sri Sultan Hamengku Buwono IX maupun Jenderal Nasution, bahkan Panglima Soedirman, tapi fakta yang tak bisa dibantah adalah Pak Harto yang menjadi komandannya,” katanya.

Kedua, Pak Harto berhasil menyelamatkan Indonesia dari tragedi 1965. “Memang di sini banyak kontroversi, namun ujungnya Indonesia selamat dari krisis politik dan ekonimi yang berpotensi mengancam Indonesia dari bahaya perpecahan serta sekaligus mengembalikan Indobesia dari ambiguitas dalam masalah sistem politik dan ideologi Pancasila,” katanya.

Tokoh Muhammadiyah Din Syamsuddin memberikana apresiasi. Gelar Pahlawan nasional kepada Soeharto sudah sangat layak. Din menegaskan kepemimpinan beliau sebagai Presiden adalah seorang yang memiliki komitmen membangun bangsa dan negara.

Mantan Ketua Umum (Ketum) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin mengaku bahwa dirinya mengikuti kabar terkait usulan penyematan gelar pahlawan nasioal kepada Presiden ke-2 RI Soeharto.

“kiranya tak terbantahkan apa yang dilakukan oleh Presiden Soeharto selama memimpin Indonesia. Maka tidak salah kalau ada yang menyebut beliau sebagai bapak pembangunan,” ujarnya.

Berikut ini 10 nama yang dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh Prabowo: Abdurrahman Wahid, tokoh dari Jawa Timur Jenderal Besar TNI Soeharto, tokoh dari Jawa Tengah Marsinah, tokoh dari Jawa Timur Mochtar Kusumaatmaja, tokoh dari Jawa Barat Hajjah Rahma El Yunusiyyah, tokoh dari Sumatera Barat Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo, tokoh dari Jawa Tengah Sultan Muhammad Salahuddin, tokoh dari NTB Syaikhona Muhammad Kholil, tokoh dari Jawa Timur Tuan Rondahaim Saragih, tokoh dari Sumatera Utara Zainal Abisin Syah, tokoh dari Maluku Utara.

Generasi Muda Apresiasi Penganugerahan Gelar Pahlawan untuk Soeharto

Jakarta – Pemerintah secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada mantan Presiden Soeharto sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa dan pengabdiannya bagi bangsa Indonesia. Pemberian gelar tersebut menjadi bagian dari upaya negara untuk menghargai kontribusi besar para pemimpin terdahulu yang telah berperan penting dalam perjalanan sejarah Republik Indonesia.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa keputusan pemberian gelar tersebut telah melalui proses panjang dan pertimbangan mendalam dari Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. “Pemerintah memberikan gelar pahlawan kepada mantan Presiden Soeharto untuk menghormati tokoh pendahulu yang telah memberikan dedikasi dan jasa besar kepada bangsa. Ini merupakan bentuk penghargaan negara terhadap kontribusi beliau dalam pembangunan dan ketahanan nasional,” ujar Prasetyo di Jakarta.

Menurutnya, pengakuan terhadap jasa Soeharto tidak bisa dilepaskan dari peran besar beliau dalam menjaga stabilitas nasional pasca-peralihan kekuasaan di era 1960-an, serta keberhasilannya memimpin Indonesia menuju periode pembangunan yang signifikan. Pemberian gelar ini, lanjut Prasetyo, bukan semata-mata bentuk glorifikasi, melainkan pengakuan terhadap fakta sejarah dan sumbangsih konkret dalam memperkuat fondasi negara.

Apresiasi juga datang dari kalangan mahasiswa. Presidium Nasional Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (BEM PTNU) Se-Nusantara, Achmad Baha’ur Rifqi, menyatakan dukungannya terhadap keputusan pemerintah tersebut. Menurutnya, Soeharto adalah sosok pemimpin yang memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas nasional dan mendorong kemajuan pembangunan di berbagai sektor.

“Bagi kami, keputusan pemerintah ini sangat tepat. Soeharto adalah tokoh yang berperan penting dalam menciptakan stabilitas politik dan ekonomi di masa sulit. Banyak capaian pembangunan, terutama di bidang pertanian dan infrastruktur, yang menjadi warisan nyata beliau bagi bangsa ini,” ungkap Rifqi. Ia menilai generasi muda perlu belajar dari semangat kepemimpinan Soeharto yang berorientasi pada kemajuan dan ketahanan nasional.

Sementara itu, Direktur Eksekutif ToBe Institute, Mochamad Imamudinussalam, menegaskan bahwa penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional sudah melalui mekanisme dan prosedur yang sah. Ia menilai Soeharto merupakan bagian penting dari perjalanan republik ini dengan jasa yang nyata dalam menjaga kedaulatan bangsa serta memajukan kesejahteraan rakyat.

“Soeharto hadir melalui berbagai program pembangunan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Mulai dari swasembada pangan, pembangunan infrastruktur desa, peningkatan kesejahteraan petani, hingga kebijakan ekonomi yang pro-rakyat. Semua itu menunjukkan kontribusi besar beliau dalam membangun pondasi ekonomi dan sosial Indonesia,” ujar Imamudinussalam.

Ia menambahkan, sejarah tidak bisa dilepaskan dari peran para tokoh yang telah mengabdikan hidupnya bagi negara. Karena itu, penghargaan terhadap Soeharto harus dimaknai sebagai bagian dari penghormatan atas jasa dan pengorbanan pemimpin terdahulu yang telah menorehkan capaian besar dalam perjalanan bangsa.

Pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto menjadi momentum reflektif bagi seluruh elemen masyarakat untuk melihat sejarah secara lebih utuh. Terlepas dari dinamika politik masa lalu, pengakuan ini menegaskan bahwa jasa dan pengabdian seorang pemimpin tetap layak dihormati demi menjaga semangat persatuan dan kebangsaan Indonesia. (*)