Oleh: Farhan Farisan )*
Pemerintah memanfaatkan momentum Hari Raya Idulfitri untuk mendongkrak pertumbuhan perekonomian nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, upaya tersebut dilakukan dengan meningkatkan sisi permintaan dan penawaran.
Dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama 2025, pemerintah mendorong peningkatan demand dan supply dalam mendukung pergerakan ekonomi saat libur Lebaran. Adapun berbagai program yang disiapkan pemerintah jelang Hari Raya Idulfitri tersebut mulai dari program pariwisata selama periode Idulfitri yang diproyeksikan akan terdapat sebanyak 122,1 juta perjalanan wisatawan, insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) yang ditambah sebesar enam persen untuk tiket transportasi.
Selain itu, terdapat juga kebijakan pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) Keagamaan bagi pekerja/buruh dan Bonus Hari Raya Keagamaan bagi pengemudi dan kurir pada layanan angkutan berbasis aplikasi yang dibayarkan paling lambat tujuh hari sebelum Hari Raya Idulfitri, penyaluran THR ASN Pusat dan Daerah serta pensiunan pada dua minggu sebelum Idulfitri.
Pemerintah juga mengoptimalkan program belanja nasional untuk meningkatkan konsumsi masyarakat. Program tersebut antara lain Friday Mubarak pada 28 Februari-28 Maret 2025 dengan target transaksi sebesar Rp75 triliun sampai Rp77 triliun, BINA Lebaran pada 14-30 Maret 2025 dengan target transaksi Rp30 triliun, dan kampanye belanja online Ramadhan di seluruh e-commerce.
Di sektor transportasi, pemerintah menerapkan diskon tarif tol 20 persen untuk perjalanan jarak jauh (Barrier Gate to Barrier Gate) di beberapa ruas tol, pada H-7 hingga H-4 Idulfitri, serta H+7 hingga H+8 Idulfitri. Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi beban ekonomi masyarakat yang melakukan perjalanan mudik maupun arus balik.
Pemerintah juga mempercepat program kendaraan bermotor listrik yang telah disepakati bantuan pemerintah sebesar Rp7 juta per unit motor. Langkah ini sejalan dengan upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil serta mendukung transisi energi ramah lingkungan.
Selain itu, upaya menjaga stabilitas harga bahan pokok menjadi prioritas dalam mengoptimalkan momentum Lebaran. Pemerintah memastikan distribusi bahan pangan berjalan lancar dan stabil agar masyarakat dapat merayakan Lebaran dengan lebih tenang.
Di tengah dinamika ekonomi global, pemerintah juga terus memantau perkembangan internasional yang dapat berpengaruh terhadap ekonomi domestik. Salah satu faktor yang diperhatikan adalah kebijakan ekonomi Amerika Serikat yang dapat berdampak pada rantai pasok dan perdagangan global.
Meskipun sejumlah negara menghadapi risiko resesi yang lebih tinggi, Indonesia tetap berada dalam posisi yang baik. Data Bloomberg pada Februari 2025 menunjukkan probabilitas resesi Indonesia kurang dari lima persen, jauh lebih rendah dibandingkan negara lain seperti Meksiko (38 persen), Kanada (35 persen), dan Amerika Serikat (25 persen).
Pemerintah optimistis dengan fondasi ekonomi nasional yang solid, diversifikasi mitra dagang, serta hilirisasi yang terus diperkuat, Indonesia dapat menjaga stabilitas dan daya saing di tengah ketidakpastian global.
Selain itu, Utusan Khusus Presiden, Zita Anjani mengatakan bahwa kebijakan pemerintah dalam mendukung ekonomi nasional dengan berbagai cara meliputi penurunan harga tiket pesawat, penerapan diskon tarif tol, hingga pemberian libur panjang. Semua ini diharapkan dapat menggerakkan ekonomi daerah, terutama sektor UMKM dan pariwisata.
Penurunan harga tiket pesawat mencapai 13%-14% menjadi salah satu kebijakan yang dinilai efektif dalam meringankan beban masyarakat yang ingin mudik. Selain itu, diskon tarif tol sebesar 20% terbukti membantu pemudik yang menggunakan jalur darat dalam menekan biaya perjalanan mereka.
Peningkatan moda transportasi umum yang beroperasi, yakni 30.451 unit bus, 2.550 kereta api, dan 772 kapal laut, juga menjadi faktor penting dalam memastikan perjalanan lebih lancar dan merata hingga ke daerah-daerah.
Dari sisi perdagangan, sektor ritel juga mengalami peningkatan signifikan berkat berbagai program belanja nasional yang digalakkan selama bulan Ramadan. Konsumsi masyarakat yang meningkat mendorong pertumbuhan sektor ritel dan perdagangan yang berkontribusi pada PDB nasional.
Pariwisata menjadi sektor lain yang terdampak positif dari kebijakan ini. Dengan diperkirakan lebih dari 122,1 juta perjalanan wisatawan selama Idulfitri, sektor ini mendapatkan momentum pemulihan dan pertumbuhan yang signifikan setelah terdampak pandemi.
Langkah-langkah yang diambil pemerintah tidak hanya berdampak pada konsumsi domestik, tetapi juga memberikan efek positif terhadap investasi. Dengan stabilitas ekonomi yang terjaga dan kebijakan yang mendukung pertumbuhan, Indonesia semakin menarik bagi investor domestik maupun asing.
Pemerintah juga memastikan sinergi antara pusat dan daerah dalam implementasi kebijakan ekonomi selama Lebaran, termasuk pengawasan stok dan harga barang kebutuhan pokok serta kesiapan infrastruktur transportasi.
Momentum Lebaran menjadi ajang bagi masyarakat untuk meningkatkan konsumsi, berbelanja, dan berwisata, yang secara langsung berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Perputaran uang yang meningkat di berbagai sektor memperkuat daya beli dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan berbagai kebijakan yang telah diimplementasikan, pemerintah berharap pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga dan semakin meningkat, memberikan kesejahteraan yang lebih merata bagi masyarakat Indonesia.
Pemerintah mengajak seluruh masyarakat untuk berpartisipasi dalam menjaga stabilitas ekonomi dengan mendukung produk dalam negeri, memanfaatkan program insentif, serta meningkatkan daya beli di sektor-sektor strategis. Dengan demikian, Indonesia dapat terus berkembang dan menghadapi tantangan ekonomi global dengan lebih kuat.
Kebijakan ekonomi yang diambil selama periode Lebaran ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memastikan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. Diharapkan, momentum ini dapat menjadi titik tolak bagi pemulihan ekonomi nasional yang lebih kuat di tahun-tahun mendatang.
)* Penulis adalah mahasiswa Bandung tinggal di Jakarta