Indonesia Tetap Kondusif, Tak Bisa Disamakan dengan Nepal

Gelombang protes di Nepal semakin memanas. Ribuan orang kembali memenuhi jalan-jalan di Kathmandu dan membakar gedung parlemen hanya beberapa jam setelah Perdana Menteri KP Sharma Oli mengumumkan pengunduran dirinya.

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan ad interim, Sjafrie Sjamsoeddin, mengatakan kondisi Indonesia saat ini tetap aman.

Sjafrie menegaskan pemerintah mengedepankan komunikasi dengan masyarakat sambil menjaga kewaspadaan terhadap potensi aksi di berbagai daerah.

“Kami terus melakukan komunikasi sosial, sambil menjaga kesiapsiagaan baik secara operasional maupun melalui dialog dengan masyarakat di wilayah,” ujarnya.

Sjafrie menambahkan, gagasan para demonstran perlu diserap melalui komunikasi agar terbangun kesamaan pandangan dalam menjaga kedaulatan negara.

Sebagai Ketua Dewan Pertahanan Nasional, ia memastikan kondisi nasional berada dalam keadaan terkendali.

“Saya menjamin wilayah nasional dalam keadaan kondusif,” tegasnya.

Sementara itu, politisi Partai Demokrat Andi Arief turut mengingatkan generasi muda Indonesia untuk tidak meniru tindakan anarkis seperti di Nepal.

Ia menyebut bahwa aksi di Kathmandu hanya menimbulkan kerusakan, sedangkan di Indonesia ada contoh unjuk rasa damai dengan jumlah besar.

“Anak-anak Gen Z jangan meniru gerakan brutal seperti di Nepal. Lebih baik mencontoh aksi 212 yang jutaan orang hadir dengan damai. Apalagi kalau hanya menuntut 17+8,” katanya melalui akun X.

Untuk diketahui, demonstrasi di Indonesia sempat terjadi pada 25 Agustus hingga 1 September 2025.

Meski demikian, situasi di Indonesia tetap dapat dikelola dengan pendekatan persuasif dan berjalan kondusif.

Sebelumnya, mantan Penasihat Ekonomi Utama Pemerintah India, Sanjeev Sanyal, menilai bahwa gerakan mahasiswa di Asia Selatan memiliki pola yang serupa dan mencurigakan.

Sanyal bahkan menarik benang merah antara gejolak di Nepal dengan unjuk rasa di sejumlah negara lain seperti Bangladesh hingga Srilanka. ***

Waspadai Isu Nepal Jadi Provokasi di Tanah Air

Haidar Alwi Institut (HAI) mengingatkan seluruh elemen bangsa untuk bahu membahu menjaga persatuan di tengah krisis politik global.

Lembaga ini menilai Indonesia harus belajar dari situasi di Nepal agar tidak mengalami hal serupa.

Gelombang demonstrasi di Nepal dalam sepekan terakhir berubah menjadi tragedi besar.

Aksi tersebut menelan korban jiwa, menghancurkan bangunan negara, serta menyeret tokoh-tokoh politik papan atas ke dalam pusaran krisis.

Direktur HAI, Sandri Rumanama, menyampaikan bahwa gejolak di Nepal harus dapat menjadi pelajaran bangsa Indonesia.

“Kita sama-sama negara demokrasi, pendapatan per kapita tidak jauh berbeda, bahkan grafik ekonomi nasional juga tidak signifikan bedanya. Karena itu kita harus belajar dari situasi di Nepal, bersatu di tengah ketidakpastian geopolitik global,” ujarnya di Jakarta.

Sandri menegaskan perlunya kewaspadaan aparat keamanan pascakericuhan di Indonesia beberapa waktu lalu.

Menurutnya, antisipasi sejak dini penting agar potensi konflik tidak berkembang.

“Pemerintah harus bersama aparat keamanan bersiap menghadapi kondisi global yang tidak menentu. Apalagi kita baru saja mengalami tragedi yang hampir mirip dengan Nepal, sehingga potensi krisis politik bisa saja muncul,” tegasnya.

Sementara itu, Kepolisian RI menegaskan masyarakat jangan sampai terprovokasi isu-isu yang beredar di media sosial.

Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko, menekankan agar publik bijak menyikapi pesan berantai maupun ajakan demonstrasi.

“Saya mengimbau masyarakat agar menyikapi informasi dengan jernih. Rujuklah pada media massa dan jurnalis yang menyajikan fakta,” katanya.

Trunoyudo menekankan, media memiliki peran strategis untuk menjernihkan isu.

Ia mengajak masyarakat lebih selektif sebelum mempercayai dan menyebarkan informasi.

“Setiap informasi harus disaring dan diperiksa sumbernya. Jadikan media massa sebagai rujukan utama,” tegasnya.

Sebelumnya, influencer dan aktivis Aalia Mauro juga menyoroti demonstrasi di Nepal melalui akun X miliknya. Ia menyebut semangat yang dibawa para demonstran adalah melawan korupsi dan mendorong pemerintahan yang bersih. ***

Papua Butuh Kedamaian, Bukan Demo Anarkis

Oleh : Loa Murib

Beberapa kota besar di Indonesia belakangan ini diguncang oleh aksi demonstrasi yang berujung ricuh. Fasilitas umum rusak, ketertiban terganggu, bahkan warga biasa ikut menjadi korban. Fenomena ini menjadi peringatan bahwa kebebasan berpendapat bisa kehilangan makna ketika disertai tindakan anarkis. Papua tentu tidak boleh mengikuti jejak yang sama. Dengan segala keragaman budaya, agama, dan etnis yang dimiliki, Papua justru membutuhkan suasana yang damai agar masyarakatnya bisa menatap masa depan dengan optimisme. Kedamaian itulah yang akan menjaga harmoni, memperkuat persatuan, dan membuka jalan bagi pembangunan yang lebih merata.

Dalam konteks demokrasi, menyampaikan aspirasi adalah hak yang dijamin oleh undang-undang. Akan tetapi, hak itu tidak berarti bebas dilakukan dengan cara merusak fasilitas umum atau menciptakan ketakutan di tengah masyarakat. Tokoh Papua, Charles Kossay, menegaskan bahwa demonstrasi yang berubah menjadi anarkis tidak bisa dipuji dan tidak bisa dibenarkan oleh siapapun. Menurutnya, aksi anarkis justru mengajarkan hal yang berbahaya dan bertentangan dengan nilai persatuan. Pesan ini sangat penting diingat, sebab masyarakat Papua membutuhkan ruang demokrasi yang sehat, bukan ajakan destruktif yang memecah belah.

Nilai-nilai luhur yang dimiliki masyarakat Papua sejatinya menjadi modal utama dalam menolak segala bentuk provokasi. Seperti disampaikan oleh Yohanes Wandikbo, toleransi dan persatuan merupakan fondasi bagi terciptanya kehidupan yang harmonis di Papua. Budaya gotong royong yang kuat serta ikatan persaudaraan lintas suku dan agama adalah warisan sosial yang tidak boleh ternodai oleh isu-isu provokatif. Apabila narasi perpecahan terus dihembuskan, konsekuensinya bukan hanya mengganggu keamanan, tetapi juga merusak kepercayaan sosial yang telah lama dibangun.

Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, juga menekankan pentingnya menjaga kerukunan dan persatuan demi terciptanya kehidupan yang rukun dan damai. Baginya, Papua, Papua Barat, dan Manokwari adalah rumah bersama yang harus dirawat. Pesan ini menggambarkan bahwa harmoni adalah syarat utama agar Papua tetap menjadi tanah yang diberkati dan mampu memberikan kontribusi positif bagi Indonesia. Tanpa stabilitas sosial, pembangunan tidak akan berjalan maksimal.

Sejumlah tokoh Papua lainnya juga menyuarakan penolakan terhadap aksi demonstrasi anarkis. Abdul Rashid Fimbai, Ketua Umum Badan Koordinasi Majelis Muslim Papua Barat, menyerukan agar masyarakat menjadikan Manokwari sebagai rumah bersama yang damai bagi semua orang, tanpa membeda-bedakan suku maupun agama. Sementara itu, Ketua LMA Fakfak, Valentinus Kabes, mengingatkan bahwa aspirasi harus disampaikan dengan cara damai, bukan dengan tindakan anarkis. Menurutnya, masyarakat Papua memiliki nilai luhur yang menjunjung persaudaraan dan etika, sehingga tidak pantas terjebak dalam provokasi yang merusak.

Pandangan serupa disampaikan oleh Ismail Sireffa dari Pokja Polhukam BP3OKP Papua Barat, yang menekankan pentingnya stabilitas keamanan bagi pembangunan. Baginya, persoalan keamanan hanya bisa diselesaikan dengan cara arif dan bijaksana. Hal ini menunjukkan bahwa kekerasan dan anarkisme bukanlah solusi, melainkan justru hambatan bagi terwujudnya kesejahteraan masyarakat.

Dari Teluk Bintuni, Fauzan Fimbay, Ketua Forum Intelektual Risaturi Bersatu, juga menyerukan agar masyarakat tetap waspada terhadap isu-isu yang memecah belah. Ia menekankan pentingnya menjaga toleransi antarumat beragama dan antarsuku, serta tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu nasional yang berpotensi merusak harmoni lokal. Pesan ini memperlihatkan bahwa kedamaian harus dijaga mulai dari komunitas terkecil agar stabilitas Papua secara keseluruhan tetap terpelihara.

Selain tokoh agama dan intelektual, suara tokoh adat juga meneguhkan komitmen untuk menjaga Papua tetap damai. Kepala Suku Biak, Erens Wakum, mengimbau agar seluruh kepala suku menjaga masyarakatnya supaya tetap tertib dan aman. Kepala Suku Moile Pegunungan Arfak pun menegaskan bahwa demonstrasi anarkis tidak boleh terjadi karena hanya akan merusak nama baik daerah. Kehadiran tokoh adat dalam mengingatkan masyarakat sangat penting, karena mereka memiliki otoritas moral yang dihormati.

Dalam era digital, provokasi mudah menyebar melalui media sosial. Hal ini menuntut kewaspadaan baru agar masyarakat tidak terjebak pada informasi palsu yang memecah belah. Generasi muda Papua memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam melawan hoaks. Dengan literasi digital yang baik, mereka dapat menjadi agen perdamaian yang menyebarkan pesan positif, sekaligus memperkuat toleransi di ruang publik.

Upaya menjaga kedamaian Papua juga didukung oleh aparat keamanan yang bekerja sama dengan pemerintah daerah. Pendekatan humanis yang dilakukan aparat dalam mengawal kegiatan masyarakat menunjukkan bahwa stabilitas bukan sekadar hasil operasi keamanan, melainkan buah dari kolaborasi yang melibatkan semua pihak. Ketika masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan aparat bersatu menjaga harmoni, Papua akan semakin kokoh menghadapi berbagai tantangan.

Pesan para tokoh Papua jelas: jangan mudah terprovokasi. Aspirasi harus disampaikan secara damai, persaudaraan harus dipelihara, dan kedamaian harus dijadikan prioritas. Papua yang damai adalah Papua yang mampu berkembang, memberi manfaat bagi masyarakatnya, serta berdiri teguh dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan komitmen bersama, Papua tidak hanya menjadi tanah yang kaya, tetapi juga tanah yang penuh persaudaraan, rukun, dan damai.

*Penulis adalah Mahasiswa Papua di Jawa Timur

Menjaga Toleransi dan Menolak Provokasi Demi Papua yang Damai

Oleh : Yohanes Wandikbo )*

Toleransi dan persatuan merupakan fondasi utama bagi kehidupan bermasyarakat yang harmonis, terutama di wilayah Papua yang memiliki keanekaragaman etnis, budaya, dan agama. Dalam dinamika sosial yang kerap kali diwarnai tantangan, provokasi bisa menjadi ancaman serius bagi stabilitas. Oleh karena itu, menolak segala bentuk provokasi sekaligus memperkuat persaudaraan lintas identitas menjadi langkah yang tidak bisa ditunda. Papua membutuhkan kedamaian yang lahir dari sikap saling menghormati, mengedepankan dialog, serta menjaga nilai-nilai spiritualitas yang hidup di tengah masyarakat.

Masyarakat Papua dikenal dengan budaya gotong royong yang kuat. Nilai kebersamaan ini seharusnya terus dirawat dan tidak boleh ternodai oleh isu-isu provokatif yang datang dari pihak manapun. Saat narasi perpecahan dihembuskan, konsekuensinya bukan hanya mengganggu keamanan, tetapi juga merusak kepercayaan sosial yang sudah lama dibangun. Oleh sebab itu, memperkuat toleransi antarsuku dan antaragama merupakan tameng paling efektif dalam menjaga Papua tetap aman dan damai.

Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan menegaskan pentingnya masyarakat menjaga kerukunan, kebersamaan, serta persatuan demi terciptanya kehidupan yang rukun dan damai. Pesan ini tidak hanya relevan bagi jemaat yang hadir dalam acara kebaktian, tetapi juga menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat Papua agar senantiasa menolak ajakan yang mengarah pada perpecahan. Dengan komitmen bersama, Papua dapat berdiri kokoh sebagai bagian dari tanah Indonesia yang diberkati.

Papua telah banyak memberikan kontribusi bagi Indonesia, mulai dari kekayaan alam, prestasi olahraga, hingga peran generasi mudanya dalam pembangunan nasional. Semua itu hanya dapat berkembang optimal jika situasi sosial tetap stabil. Persatuan yang dirajut melalui toleransi lintas identitas akan menjadi modal besar bagi percepatan pembangunan. Tanpa ketenangan sosial, upaya pemerintah maupun masyarakat sipil untuk meningkatkan kesejahteraan hanya akan berjalan setengah jalan. Oleh karena itu, menjaga perdamaian berarti juga menjaga masa depan Papua.

Nilai-nilai spiritualitas juga tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat Papua. Dalam setiap acara keagamaan, selalu ditanamkan pesan perdamaian, cinta kasih, dan kebersamaan. Spiritualitas ini seharusnya menjadi benteng yang melindungi masyarakat dari ajakan provokatif yang hanya menumbuhkan permusuhan.

Dominggus Mandacan mengingatkan bahwa Papua, Papua Barat, dan Manokwari adalah rumah bersama yang harus dijaga dengan rukun. Pernyataan ini selaras dengan kebutuhan mendesak agar masyarakat tidak terpecah belah oleh sentimen sempit.

Provokasi sering kali memanfaatkan sentimen keagamaan dan perbedaan identitas untuk memecah belah. Di sinilah pentingnya meningkatkan literasi publik agar masyarakat lebih kritis dalam menerima informasi. Upaya ini tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah atau aparat, melainkan harus melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan kalangan akademisi. Kolaborasi multipihak akan membuat benteng toleransi semakin kuat, sekaligus menutup ruang bagi penyebaran hoaks dan ujaran kebencian yang berpotensi menciptakan konflik horizontal.

Kehadiran tokoh agama dalam berbagai acara rohani juga memiliki pengaruh penting untuk meneguhkan semangat damai. Dalam konteks Papua, tokoh agama kerap menjadi panutan moral yang mampu mengikat komunitas lintas etnis. Pesan yang disampaikan dalam ibadah, khotbah, atau doa bersama menjadi energi positif yang meneguhkan kebersamaan. Hal ini menjadi modal sosial yang tidak ternilai dalam menolak provokasi dan menjaga keutuhan masyarakat.

Selain itu, aparat keamanan bersama pemerintah daerah telah menunjukkan keseriusan dalam menjaga stabilitas di Papua. Sinergi yang dibangun tidak hanya berfokus pada pendekatan keamanan, tetapi juga memberikan dukungan terhadap kegiatan masyarakat. Pendekatan yang humanis ini mencerminkan bahwa kedamaian Papua bukan sekadar retorika, melainkan hasil kerja bersama yang nyata. Dukungan aparat, jika diiringi kesadaran masyarakat untuk saling menghormati, akan menjadi formula jitu menghadirkan Papua yang lebih damai.

Di era informasi saat ini, provokasi bisa dengan cepat menyebar melalui media sosial. Oleh karena itu, kewaspadaan digital juga perlu diperkuat. Generasi muda Papua harus menjadi garda terdepan dalam melawan informasi palsu. Dengan literasi digital yang baik, generasi muda tidak hanya mampu menyaring informasi, tetapi juga dapat menjadi agen perdamaian yang menyebarkan pesan positif di ruang publik. Langkah ini akan memperkuat semangat toleransi di tengah masyarakat luas.

Kehidupan yang damai di Papua hanya bisa terwujud apabila semua pihak menyadari tanggung jawabnya. Pemerintah daerah telah menegaskan pentingnya menjaga persatuan, tokoh agama menyerukan pesan damai, aparat mendukung keamanan, sementara masyarakat menjadi subjek utama yang mempraktikkan nilai toleransi. Kombinasi dari semua peran ini akan menghasilkan ekosistem sosial yang harmonis. Kedamaian Papua bukanlah mimpi, melainkan tujuan nyata yang dapat dicapai dengan sikap saling menghargai dan menolak provokasi.

Ke depan, tantangan Papua tidak hanya pada menjaga stabilitas keamanan, tetapi juga memastikan agar semangat persaudaraan tetap hidup di tengah perubahan zaman. Pembangunan yang sedang berjalan akan memberikan manfaat nyata apabila fondasi toleransi dan persatuan terus dipelihara. Dengan demikian, Papua akan menjadi teladan bagi wilayah lain di Indonesia bahwa keberagaman bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk bersatu.

Papua membutuhkan kedamaian yang lahir dari hati masyarakatnya sendiri. Toleransi dan persatuan menjadi jalan menuju masa depan yang lebih cerah, sementara penolakan terhadap provokasi adalah sikap bijak untuk menjaga harmoni. Dengan tekad bersama, Papua akan terus berdiri sebagai tanah yang damai, penuh persaudaraan, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari Indonesia yang berdaulat.

)* Penulis merupakan pengamat pembangunan Papua

Bersama Menjaga Papua Aman Rukun dan Sejahtera

Papua – Persatuan dan kesatuan adalah harga mati bagi masyarakat Papua. Di tengah keragaman etnis, budaya, dan agama, menjaga harmoni berarti menjaga masa depan. Provokasi yang mengarah pada demonstrasi anarkis harus ditolak, karena hanya akan merusak tatanan sosial dan menghambat pembangunan. Papua membutuhkan suasana damai agar rakyatnya bisa menatap masa depan dengan optimisme. Dengan semangat toleransi, persaudaraan, dan kebersamaan, Papua akan semakin kokoh berdiri sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tokoh Papua, Charles Kossay, menegaskan bahwa aksi anarkis tidak dapat dibenarkan. “Demonstrasi di muka umum adalah hak yang dijamin undang-undang, tetapi ketika berubah menjadi anarkis, itu tidak bisa dipuji dan tidak bisa dibenarkan oleh siapapun,” ujarnya. Menurutnya, demokrasi hanya akan bermakna bila dijalankan dengan cara damai dan bertanggung jawab.

Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, juga mengingatkan pentingnya menjaga kerukunan. “Papua, Papua Barat, dan Manokwari adalah rumah bersama yang harus kita jaga. Tanpa persatuan, pembangunan tidak akan berjalan maksimal,” tegasnya. Ia menekankan bahwa stabilitas sosial adalah fondasi utama agar Papua tetap menjadi tanah yang diberkati.

Sejumlah tokoh agama dan adat pun menyuarakan hal senada. Abdul Rashid Fimbai dari Badan Koordinasi Majelis Muslim Papua Barat mengatakan, “Mari jadikan Manokwari rumah damai untuk semua orang tanpa membeda-bedakan suku maupun agama.” Sementara itu, Ketua LMA Fakfak, Valentinus Kabes, mengingatkan, “Aspirasi harus disampaikan dengan cara damai, bukan dengan tindakan anarkis.”

Tokoh adat Biak, Erens Wakum, juga menegaskan pentingnya menjaga ketertiban. “Kepala suku punya tanggung jawab moral menjaga masyarakat agar tetap aman,” ucapnya. Sedangkan Kepala Suku Moile Pegunungan Arfak menambahkan, “Demonstrasi anarkis tidak boleh terjadi karena hanya akan merusak nama baik daerah.”

Generasi muda Papua didorong untuk menjadi pelopor literasi digital dalam menangkal provokasi di media sosial. Dengan sikap kritis, mereka dapat menyaring informasi dan menjadi agen perdamaian yang menyebarkan pesan positif.

Selain itu, aparat keamanan bersama pemerintah daerah terus memperkuat stabilitas melalui pendekatan humanis. Sinergi ini menunjukkan bahwa kedamaian Papua bukan sekadar retorika, melainkan hasil kerja nyata semua pihak.

Pesan para tokoh Papua jelas: jangan mudah terprovokasi, jaga persaudaraan, dan utamakan kedamaian. Papua yang damai adalah Papua yang mampu berkembang, memberi manfaat bagi rakyatnya, serta berdiri teguh dalam bingkai NKRI.

Suara Damai dari Manokwari: KKR Dorong Toleransi Antarumat di Papua Barat

Manokwari – Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) dan Kesembuhan Ilahi yang dipimpin oleh Pdt. Markus Nome, berlangsung meriah sekaligus penuh khidmat di Lapangan Parkir Pusat Pendidikan Bara Api Penuai Amban, Manokwari, Selasa (9/9/2025). Kegiatan yang mengusung tema “Yesusku Luar Biasa” ini dihadiri sekitar 1.000 jemaat dari berbagai klasis di Kabupaten Manokwari dan Papua Barat.

Suasana kebaktian terlihat semarak sejak pagi hari. Jemaat dari berbagai daerah hadir dengan penuh antusias, menandai besarnya semangat kebersamaan untuk merayakan momentum rohani tersebut. Selain rangkaian ibadah dan doa, kegiatan ini juga dipenuhi dengan pujian, musik rohani, serta doa bersama yang membawa suasana kekeluargaan dan persaudaraan.

Acara pembukaan turut dihadiri oleh Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, yang sekaligus meresmikan pelaksanaan KKR selama tiga hari, mulai 9 hingga 11 September 2025. Dalam sambutannya, Dominggus menegaskan pentingnya menjaga nilai toleransi dan kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk.

“Kita yakin dan percaya bahwa kegiatan KKR ini akan berlangsung dengan penuh damai dan sukacita, oleh karena itu saya berpesan untuk seluruh jemaat dan masyarakat di Provinsi Papua Barat ini, untuk saling menjaga toleransi, kerukunan, kebersamaan, persatan dan kesatuan kita, dengan demikian kita akan hidup rukun dan damai di tanah yang diberkati Indonesia,” ujarnya.

Dominggus juga menekankan bahwa Papua merupakan rumah bersama yang wajib dijaga.

“Indonesia, Papua, Papua Barat, Manokwari, merupakan rumah kita yang wajib dan harus kita jaga dengan rukun. Sehingga melalui momentum ini diharapkan dapat mempererat tali persaudaraan dan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan bermasyarakat,” tambahnya.

Momentum KKR ini menjadi ajang penting tidak hanya bagi umat Kristiani, tetapi juga masyarakat luas sebagai pengingat akan pentingnya toleransi antaragama. Kehadiran ribuan jemaat dari berbagai latar belakang memperlihatkan wajah kebersamaan yang menjadi modal utama dalam menjaga harmoni sosial di Papua Barat.

Ketua panitia penyelenggara menjelaskan bahwa kegiatan ini dapat terselenggara berkat kolaborasi berbagai pihak serta dukungan pemerintah daerah. Panitia juga bekerja sama dengan aparat kepolisian, pemerintah desa dan kelurahan, serta unsur kecamatan untuk memastikan acara berjalan tertib, aman, dan lancar.

“Sinergi ini menjadi bukti bahwa kerukunan dapat diwujudkan dengan kerja sama nyata lintas pihak,” jelasnya.

Dengan terselenggaranya KKR di Manokwari ini, diharapkan tercipta suasana damai, penuh persaudaraan, serta tercermin semangat menjaga toleransi di wilayah Papua.

Soliditas TNI – Polri Pertegas: Negara Tidak Akan Takluk pada Anarkis

Oleh : Gavin Asadit )*

Pemerintah menegaskan kembali komitmennya menjaga kedaulatan, ketertiban, dan keselamatan publik di tengah rangkaian unjuk rasa yang sempat memanas di sejumlah daerah pada akhir Agustus dan awal September 2025. Presiden menyampaikan secara terbuka bahwa negara tidak akan tunduk pada tekanan, apalagi pada tindakan anarkis yang berpotensi merusak tatanan kehidupan bersama. Dalam arahan langsung, Presiden menugaskan TNI dan Polri untuk menjaga stabilitas, menindak setiap bentuk kekerasan, serta memastikan rasa aman bagi seluruh rakyat Indonesia.

Instruksi kepala negara ini segera direspons oleh institusi keamanan. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menekankan bahwa demonstrasi adalah hak konstitusional warga negara, tetapi ketika aksi berubah menjadi perusakan, pembakaran, dan penyerangan, maka hal tersebut sudah masuk dalam ranah pidana. Bagi Kapolri, langkah penegakan hukum yang tegas justru menjadi bentuk perlindungan terhadap mayoritas warga yang ingin tetap beraktivitas dengan aman. Penanganan aksi yang berujung anarkis, menurutnya, akan dilakukan secara profesional, proporsional, serta dengan menjunjung tinggi prinsip hak asasi manusia. Ia memastikan bahwa setiap tindakan aparat di lapangan akan berpegang pada aturan yang berlaku, sehingga soliditas Polri bersama TNI benar-benar menjadi instrumen negara yang berpihak pada kepentingan rakyat.

Di sisi lain, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menyatakan bahwa peran TNI dalam menghadapi situasi ini adalah menjaga agar kondisi keamanan tidak semakin terprovokasi. Ia menyampaikan bahwa masyarakat diminta tidak mudah terbawa oleh ajakan yang bernuansa provokatif atau menyesatkan. Bagi Panglima, TNI – Polri harus berdiri di garis depan untuk memastikan aksi yang sah tetap mendapat ruang, tetapi juga menutup celah bagi kelompok yang mencoba menunggangi demonstrasi dengan kepentingan destruktif. Dalam pandangannya, kehadiran aparat di lapangan bukan untuk menekan aspirasi, melainkan untuk menghadirkan rasa aman, mencegah kekacauan, dan mempertegas bahwa negara memiliki kemampuan untuk mengendalikan situasi.

Dari sudut pandang pemerintah, penegakan hukum terhadap tindakan anarkis merupakan wujud nyata perlindungan negara terhadap seluruh warga negara. Kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum tetap dijamin, tetapi kebebasan itu tidak boleh disalahgunakan untuk merusak fasilitas publik, menyerang aparat, atau mengganggu ketertiban masyarakat. Oleh karena itu, soliditas TNI–Polri menjadi penting sebagai benteng terakhir yang memastikan kebebasan tidak berubah menjadi ancaman. Pemerintah melihat bahwa kekompakan kedua institusi ini akan menutup ruang bagi aktor-aktor yang mencoba melemahkan legitimasi negara melalui kekacauan jalanan.

Kapolri dalam evaluasi bersama dengan Presiden dan jajaran keamanan menyatakan bahwa upaya penegakan hukum akan diperluas hingga menyasar aktor intelektual maupun penyandang dana aksi anarkis. Baginya, keberhasilan menjaga keamanan tidak hanya terletak pada pengendalian massa di jalan, melainkan juga pada kemampuan membongkar jaringan yang berada di balik aksi. Dengan demikian, aparat tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga proaktif dalam mencegah terulangnya eskalasi serupa. Bagi pemerintah, sikap ini menunjukkan komitmen bahwa negara tidak akan sekadar menunggu, melainkan akan bertindak strategis demi keamanan nasional.

Sementara itu, Panglima TNI menilai bahwa keutuhan bangsa sangat bergantung pada kemampuan rakyat dan aparat untuk bersatu. Ia memandang TNI – Polri harus menunjukkan contoh bahwa aparat keamanan dapat bekerja bersama tanpa rivalitas, dengan satu tujuan: menjaga keselamatan negara dan rakyat. Dalam beberapa kesempatan, ia mengingatkan bahwa soliditas bukan hanya simbol, melainkan energi kolektif untuk mengirim pesan kuat kepada semua pihak bahwa negara hadir dengan satu suara.

Dalam praktiknya, aparat keamanan telah menggelar patroli gabungan, pengamanan objek vital, dan penertiban di sejumlah titik yang dianggap rawan. Tindakan ini bukan sekadar operasi rutin, melainkan manifestasi nyata dari soliditas TNI – Polri. Pemerintah berharap langkah-langkah tersebut memberi rasa aman, memulihkan kepercayaan masyarakat, dan mengembalikan stabilitas aktivitas sosial-ekonomi. Kehadiran aparat di lapangan ditujukan untuk memastikan bahwa roda kehidupan tidak berhenti akibat gangguan kecil dari kelompok yang memilih jalur anarkis.

Pemerintah juga menegaskan pentingnya pemulihan pasca-aksi. Perbaikan fasilitas publik yang rusak, pemulihan kegiatan ekonomi, serta dukungan bagi masyarakat terdampak menjadi prioritas. Kapolri dan Panglima TNI sama-sama mendorong agar aparat tidak hanya berhenti pada penindakan, tetapi juga berkontribusi dalam memulihkan kepercayaan publik. Hal ini menunjukkan bahwa negara tidak semata-mata hadir dengan wajah keras, melainkan juga dengan komitmen membangun kembali rasa aman dan kebersamaan.

Pesan utama dari pemerintah melalui soliditas TNI – Polri adalah jelas: negara tidak akan tunduk pada kekerasan, tidak akan memberi ruang pada anarkisme, dan tidak akan membiarkan demokrasi disandera oleh tindakan destruktif. Kapolri dengan fokus pada penegakan hukum dan Panglima TNI dengan penekanan pada stabilitas keamanan menghadirkan dua wajah negara yang bersatu: tegas dalam tindakan, namun tetap menjaga nilai-nilai demokrasi. Pemerintah percaya bahwa kombinasi inilah yang akan memastikan Indonesia tetap berdiri tegak menghadapi setiap tantangan.

)* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan

Sinergi TNI Polri Sukses Hentikan Gelombang Anarkisme

Oleh: Mahmud Sutramitajaya)*

Upaya menjaga keamanan dan ketertiban di ibu kota kembali menunjukkan hasil nyata. Gelombang anarkisme yang sempat dikhawatirkan muncul dalam aksi unjuk rasa berhasil dihentikan berkat sinergi yang kuat antara TNI, Polri, dan unsur pemerintah daerah. Koordinasi matang serta kesiapan ribuan personel di lapangan membuktikan bahwa kekompakan aparat negara menjadi benteng utama dalam meredam potensi kericuhan sekaligus memastikan demokrasi tetap berjalan damai.

Kasi Humas Polres Metro Jakarta Pusat, Ipda Ruslan Basuki, mengatakan bahwa total 1.364 personel gabungan diturunkan untuk pengamanan di kawasan Jakarta Pusat. Pasukan ini terdiri dari jajaran Polri, TNI, serta unsur pengamanan Pemda DKI Jakarta. Kekuatan bersama ini membuktikan bahwa pengamanan tidak hanya bergantung pada satu institusi, melainkan menjadi tanggung jawab kolektif demi kepentingan masyarakat luas.

Ipda Ruslan Basuki menegaskan bahwa penyampaian aspirasi tetap diperbolehkan karena merupakan hak konstitusional warga negara, tetapi harus dilakukan secara damai, tanpa provokasi, tanpa melawan petugas, dan tanpa merusak fasilitas umum.

Aparat juga mengingatkan bahwa masyarakat sebaiknya menghindari kawasan DPR yang selama aksi terus berlangsung dan tidak menentu untuk mengurangi potensi gangguan aktivitas sehari-hari. Selain itu, rekayasa lalu lintas disiapkan secara situasional menyesuaikan jumlah massa di lapangan. Langkah ini terbukti efektif menjaga kelancaran arus kendaraan sekaligus mencegah kepadatan yang berpotensi memicu keributan.

Juru Bicara Kemenhan Brigjen TNI, Frega Wenas Inkiriwang, mengatakan bahwa keterlibatan TNI murni sebagai bentuk perbantuan, bukan pengambilalihan peran Polri. Seluruh langkah di lapangan dilakukan sesuai ketentuan perundang-undangan serta merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya stabilitas keamanan nasional.

Menurut Brigjen TNI Frega Wenas Inkiriwang, kerja sama ini dilaksanakan dalam satu komando agar tidak terjadi dualisme. Hal ini penting untuk memastikan setiap langkah tetap berada dalam koridor hukum. Ia menegaskan bahwa TNI tidak memiliki niat mengambil alih kewenangan Polri, melainkan semata-mata mendukung pengamanan agar aksi tidak berkembang menjadi gelombang anarkisme.

Kehadiran TNI di lapangan sepenuhnya untuk memperkuat soliditas pengamanan. Dengan kekuatan gabungan, potensi aksi sporadis yang biasanya muncul di tengah demonstrasi dapat diantisipasi sejak dini. Sinergi ini sekaligus menunjukkan bahwa negara hadir sepenuhnya untuk melindungi rakyat dari segala bentuk gangguan keamanan, tanpa mengurangi ruang demokrasi yang dijamin undang-undang.

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, mengatakan bahwa kerja sama antarinstansi bukan sekadar simbol, melainkan strategi konkret untuk menghadirkan rasa aman dan nyaman di tengah masyarakat. Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa seluruh kekuatan yang dikerahkan selalu dalam kerangka hukum dan mendukung Polri sebagai institusi utama penegak keamanan dalam negeri.

Keberhasilan menghentikan gelombang anarkisme melalui sinergi TNI dan Polri menjadi bukti kuat bahwa kerja sama lintas institusi adalah kunci menjaga stabilitas nasional. Aparat keamanan tidak hanya menjalankan tugas formal, tetapi juga memastikan ruang demokrasi tetap terlindungi. Masyarakat tetap dapat menyampaikan aspirasi tanpa harus menimbulkan kerusakan atau mengganggu ketertiban umum.

Dengan strategi yang terukur dan kekompakan di lapangan, tidak ada insiden besar yang mencederai jalannya aksi. Aktivitas masyarakat tetap berjalan normal, dan potensi konflik berhasil ditekan. Hal ini menegaskan bahwa pendekatan preventif, komunikasi yang solid, dan kehadiran aparat yang humanis mampu meredam gejolak tanpa harus menggunakan tindakan represif.

Sinergi yang ditunjukkan TNI, Polri, dan Pemda DKI Jakarta juga memberikan teladan bagi wilayah lain dalam menghadapi dinamika demokrasi. Pola pengamanan yang kolaboratif dan penuh tanggung jawab ini dapat dijadikan standar baru untuk mencegah anarkisme di masa depan. Dengan adanya pola kerja sama yang efektif, aparat di seluruh Indonesia memiliki contoh nyata bagaimana mengelola aksi besar tanpa menimbulkan kekacauan.

Ke depan, tantangan pengamanan tentu akan semakin kompleks. Perkembangan media sosial, mobilisasi massa yang cepat, serta potensi provokasi digital bisa menjadi pemicu munculnya aksi sporadis. Namun, pengalaman kali ini membuktikan bahwa negara siap menghadapi segala bentuk ancaman dengan strategi yang tepat. Sinergi TNI dan Polri tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi juga fondasi jangka panjang bagi terciptanya stabilitas nasional yang berkelanjutan.

Keberhasilan menghentikan gelombang anarkisme sekaligus mengirim pesan positif kepada masyarakat: demokrasi tetap berjalan, aspirasi tetap tersalurkan, dan keamanan tetap terjaga. TNI dan Polri berdiri bersama, memastikan bangsa ini tetap kokoh menghadapi dinamika sosial politik, sekaligus menjaga persatuan di atas segalanya. Sinergi ini membuktikan bahwa persatuan aparat negara adalah kunci utama menjaga ketertiban dan ketenangan masyarakat. Dengan hasil yang dicapai, masyarakat dapat merasa tenang menjalani aktivitas sehari-hari tanpa khawatir akan gangguan keamanan.

Sinergi TNI dan Polri dalam menghentikan gelombang anarkisme diharapkan menjadi fondasi kokoh bagi terciptanya budaya demokrasi yang sehat di Indonesia. Dengan kolaborasi yang solid, aparat keamanan bukan hanya menjaga ketertiban, tetapi juga merawat persatuan bangsa. Semangat kebersamaan inilah yang akan terus memastikan Indonesia mampu menghadapi berbagai tantangan, sekaligus melangkah maju sebagai negara yang aman, damai, dan berdaulat.

)* Penulis adalah mahasiswa Bandung tinggal di Jakarta

Soliditas TNI Polri Tegas Tumpas Provokator dan Penebar Hoaks

Jakarta – Pemerintah memastikan bahwa stabilitas keamanan nasional tetap kokoh berkat soliditas TNI dan Polri. Kedua institusi pertahanan dan keamanan negara ini menunjukkan sinergi nyata dalam menjaga ketertiban serta menumpas segala bentuk provokasi maupun penyebaran hoaks yang berpotensi memecah belah bangsa.

Kepala Pusat Penerangan TNI (Kapuspen TNI), Brigjen TNI (Mar) Freddy Ardianzah, menegaskan bahwa hubungan TNI dan Polri tidak tergoyahkan. Menurutnya, koordinasi kedua institusi terus ditingkatkan untuk memastikan situasi tetap aman, tertib, dan kondusif.

“Sampai dengan saat ini, TNI-Polri itu solid dalam menjaga stabilitas keamanan nasional, serta akan terus bersinergi untuk menciptakan rasa aman, tertib, dan kondusif,” ujarnya.

Freddy menambahkan, TNI dan Polri telah melakukan pengamanan ketat dalam mengawal berbagai aksi unjuk rasa. Ia tidak menampik adanya upaya pihak tertentu yang sengaja mencoba memecah belah dengan menyebarkan berita bohong. Salah satu yang mencuat adalah isu yang menuding prajurit TNI sebagai provokator kerusuhan.

“Potensi untuk membentur-benturkan TNI dan Polri, serta aparat dengan masyarakat, itu sangat besar. Dan itu otomatis akan memecah-belah persatuan dan kesatuan bangsa,” tegasnya.

Senada, Karopenmas Divhumas Polri, Brigjen. Pol. Trunoyudo mengungkapkan kerja sama TNI dan Polri tidak hanya sebatas simbolik, tetapi juga diwujudkan melalui langkah nyata di lapangan. Patroli gabungan berskala besar telah digelar untuk memulihkan situasi serta menjamin keamanan masyarakat.

“Ini adalah wujud kehadiran negara. TNI dan Polri hadir bersama dan berada di tengah-tengah masyarakat untuk memberikan rasa aman dan nyaman. Atas perintah Bapak Presiden, kami berkonsentrasi penuh dalam pemulihan keamanan dengan segera,” tegasnya.

Lebih lanjut, Polri juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Trunoyudo menekankan pentingnya peran media arus utama dalam menyampaikan informasi yang kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Teman-teman media adalah saluran utama informasi yang kredibel. Kami harap publik mengedepankan klarifikasi dan konfirmasi sebelum mempercayai suatu informasi,” imbuhnya.

Soliditas TNI-Polri yang terus diperkuat menjadi benteng utama dalam menghadapi rongrongan provokator dan penyebar hoaks. Pemerintah berkomitmen menindak tegas siapa pun yang berupaya mengacaukan stabilitas nasional. Dengan sinergi aparat, dukungan media yang sehat, dan kewaspadaan masyarakat, Indonesia diyakini mampu menghadapi setiap tantangan serta menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

TNI-Polri Bersatu Meredam Isu Hoaks Pemicu Kericuhan

Jakarta – Peran TNI dan Polri kembali mendapat sorotan positif pasca gelombang demonstrasi. Di tengah derasnya arus informasi yang kerap dibumbui isu hoaks, kedua institusi pertahanan dan keamanan negara ini dinilai berhasil menjaga stabilitas nasional serta meredam potensi kericuhan yang lebih luas.

Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat, Firdaus, mengapresiasi langkah TNI-Polri yang dinilai sigap dan terukur.

“Kami mengapresiasi peran dan tugas TNI/Polri dalam menghadapi dinamika yang terjadi beberapa waktu ini, sehingga mampu menjaga kondusifitas tanpa mengundang masalah baru yang dapat mengganggu kedaulatan NKRI,” ujarnya.

Firdaus juga menekankan pentingnya peran pers sebagai pilar keempat demokrasi. Menurutnya, media harus terus meningkatkan fungsi edukasi dan literasi publik agar masyarakat tidak mudah terprovokasi informasi menyesatkan. Ia juga menyerukan agar insan pers bersama masyarakat serta pemangku kepentingan dapat bergandengan tangan mendorong pengesahan Rancangan Undang-Undang Perampasan Aset untuk menekan praktik korupsi.

Sejalan dengan itu, Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menko Polkam) ad interim, Sjafrie Sjamsoeddin, memastikan bahwa keamanan nasional tetap terkendali.

“Selaku Ketua Dewan Pertahanan Nasional, saya menjamin bahwa wilayah nasional dalam keadaan aman,” tegas Sjafrie dalam sambutannya usai resmi menjabat menggantikan Budi Gunawan.

Ia menjelaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan khusus agar roda kerja Kemenko Polkam tetap berjalan efektif. Salah satu langkah awal yang dilakukan Sjafrie adalah melakukan revitalisasi organisasi guna meningkatkan koordinasi lintas kementerian dan lembaga.

“Saya diberi kewenangan untuk mengambil langkah-langkah efisien dan efektif, agar semua pekerjaan bisa berjalan lancar,” jelasnya.

Konsistensi TNI dan Polri dalam menjaga ketertiban menjadi penopang utama bagi terciptanya iklim pembangunan nasional yang kondusif. Stabilitas keamanan dinilai sebagai fondasi penting menuju visi Indonesia Emas 2045 yang tengah digagas pemerintah.

Dengan sinergi aparat keamanan, dukungan pers, serta partisipasi masyarakat, harapan besar muncul agar Indonesia mampu menghadapi tantangan global tanpa terjebak dalam provokasi dan disinformasi yang berpotensi memecah persatuan bangsa.