Pemerintah Adopsi Protokol Keamanan Pangan untuk Program Makan Bergizi Gratis

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat sistem keamanan pangan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen memastikan program berjalan aman, layak sesuai standar operasional, dan tepat sasaran.

“MBG adalah hak dasar warga negara dalam memenuhi asupan gizi yang layak agar menjadi generasi unggul di masa yang akan datang,” ujar Zulkifli Hasan.

Ia menekankan bahwa program berskala besar ini memiliki tantangan tersendiri.

“Ada tantangan dan kekurangan. Namun, pemerintah berkomitmen melakukan respons cepat sesuai instruksi Presiden untuk memperbaiki sistem dan memperkuat tata kelola MBG secara menyeluruh,” tambahnya.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menjelaskan mekanisme pengawasan yang akan diterapkan.

Ia menyebut Badan Gizi Nasional (BGN) akan mewajibkan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memiliki sertifikasi Layak Higiene dan Sanitasi dari Kementerian Kesehatan.

Selain itu, diterapkan pula sertifikasi hazard analysis and critical control point (HACCP) terkait standar gizi dan manajemen risiko, serta sertifikasi halal.

“Ketiga proses sertifikasi ini, ditambah satu lagi rekognisi dari BPOM. Kementerian Kesehatan, BPOM, dan BGN akan bekerja sama melakukan sertifikasi. Ini adalah proses standardisasi awal,” ujar Menkes.

Ia menambahkan bahwa pemerintah akan mempercepat penerbitan sertifikat tanpa mengurangi kualitas dan dengan biaya terjangkau.

Pengawasan lapangan dilakukan setiap hari oleh BGN dengan dukungan BPOM dan Kementerian Kesehatan, serta Kementerian Dalam Negeri yang akan melaksanakan pengawasan eksternal mingguan.

Jika terjadi kejadian luar biasa (KLB), pemerintah menyiapkan gugus cepat yang terdiri dari dinas kesehatan, rumah sakit daerah, sekolah, dan Kemenkes agar penanganan berjalan cepat dan terkoordinasi.

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menegaskan pentingnya pengawalan keamanan pangan MBG untuk memberi keyakinan kepada penerima manfaat.

“Identifikasi critical aspect pada setiap tahapan pengelolaan Program MBG penting dilakukan agar pengendalian dapat dilaksanakan lebih fokus dan terarah,” ungkapnya.

Taruna menambahkan, BPOM siap mendukung penuh dan memprioritaskan MBG sebagai program strategis nasional. Ia meyakini bahwa dengan pengelolaan yang optimal.

Program MBG dapat memperkuat kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

Program Makan Bergizi Gratis Capai Jutaan Penerima, Serap Tenaga Kerja Lokal

Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menunjukkan hasil menggembirakan. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyampaikan bahwa program ini telah menjangkau lebih dari 38,5 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.

Capaian tersebut disampaikan Dadan saat bertemu dengan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya.

“Kepala BGN menyampaikan bahwa hingga saat ini program MBG telah menjangkau 38.509.615 penerima manfaat yang dilayani oleh 13.514 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG,” demikian keterangan Sekretariat Kabinet melalui akun media sosial resminya.

Dadan menegaskan bahwa pengawasan mutu dan keamanan pangan terus diperkuat untuk memastikan makanan yang diberikan memenuhi standar gizi dan kebersihan.

Ia juga menyebut adanya peningkatan penyediaan test kit dan alat pemanas di dapur MBG demi menjamin kelayakan makanan.

Seskab Teddy Indra Wijaya mengapresiasi kerja keras BGN dan seluruh pihak yang terlibat.

Ia menekankan bahwa pemerintah akan terus melakukan penyempurnaan agar manfaat MBG dirasakan lebih luas dan berkelanjutan.

“Program MBG memberikan dampak nyata bagi masyarakat, tak hanya penerima manfaat, tapi juga ekosistem di dalamnya seperti UMKM, koperasi, dan BUMDes,” ujarnya.

Teddy menambahkan, pemerintah berkomitmen memastikan setiap komponen bangsa memperoleh manfaat dari MBG, baik dari sisi kesehatan masyarakat maupun kesejahteraan ekonomi di tingkat akar rumput.

BGN menargetkan jumlah penerima manfaat program MBG akan meningkat hingga 82,9 juta orang pada akhir 2025.

Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, mengatakan program ini tak hanya bermanfaat di sektor pangan, tetapi juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

“Program makan bergizi gratis dapat menyerap hingga 1,6 juta tenaga kerja langsung dan 2,5 juta tenaga kerja tak langsung,” ujarnya.

Ia menjelaskan, satu dapur MBG dapat melibatkan 10 hingga 15 supplier, dan tiap supplier mempekerjakan 5 sampai 10 orang.

“Itu artinya ada sekitar 2,5 juta tenaga kerja, belum termasuk industri yang tumbuh,” imbuhnya.

Nanik juga menyoroti munculnya industri baru akibat program ini.

“Dulu Indonesia tidak punya pabrik ompreng. Sekarang, dengan adanya program MBG, sudah tumbuh sekitar 35 industri, termasuk karoseri mobil pengangkut,” katanya.

Ia menegaskan, MBG bukan hanya memberi makan bergizi kepada anak-anak sekolah, tetapi juga menggerakkan ekonomi rakyat.

Pemerintah Gencarkan Program CKG Demi Wujudkan Masyarakat Lebih Sehat

Oleh : Bambang Suwito )*

Pemerintah semakin menunjukkan keseriusannya dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui program nasional Cek Kesehatan Gratis atau CKG. Inisiatif ini merupakan langkah nyata dalam mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dengan pendekatan pencegahan dan deteksi dini penyakit.

Program tersebut tidak hanya menekankan aspek pelayanan, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan sejak dini. Upaya ini menjadi bentuk tanggung jawab negara untuk memastikan bahwa setiap warga memiliki kesempatan yang sama dalam memperoleh layanan kesehatan dasar secara gratis, mudah, dan merata.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, menyampaikan bahwa hingga saat ini tercatat sebanyak 46 juta masyarakat telah berpartisipasi dalam program CKG di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Pemeriksaan yang dilakukan mencakup kesehatan gigi, status gizi, serta pengukuran indeks massa tubuh sebagai indikator utama untuk mengetahui kondisi kesehatan seseorang.

Maria Endang Sumiwi juga menilai bahwa antusiasme masyarakat terhadap program ini sangat tinggi, menandakan meningkatnya kesadaran publik terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin. Fakta ini sekaligus menjadi bukti bahwa upaya pemerintah untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat mulai membuahkan hasil positif.

Program CKG menjadi simbol komitmen pemerintah dalam memperkuat sistem kesehatan nasional melalui pendekatan promotif dan preventif. Dengan pelaksanaan yang dilakukan serentak di 10 ribu puskesmas dan 125 ribu sekolah di seluruh Indonesia, program ini memperlihatkan betapa seriusnya pemerintah dalam memperluas jangkauan deteksi dini penyakit.

Langkah ini tidak hanya sebatas kegiatan rutin pemeriksaan kesehatan, melainkan bagian dari strategi besar untuk membangun budaya hidup sehat di tengah masyarakat. Melalui CKG, masyarakat didorong untuk memahami kondisi kesehatannya sendiri dan lebih peduli terhadap faktor risiko penyakit.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya mengungkapkan optimisme bahwa hingga akhir tahun 2025, program ini akan mampu menjangkau lebih dari 70 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Menurutnya, keberhasilan program CKG tidak terlepas dari sinergi antara berbagai pihak di Kementerian Kesehatan dan dukungan lintas sektor, termasuk peran aktif Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus.

Ia menilai bahwa kerja sama tersebut menjadi faktor penting dalam memperluas cakupan pelayanan, terutama di area perkantoran dan institusi pendidikan. Pendekatan ini menjadi strategi efektif untuk menjangkau kelompok produktif dan pelajar, yang memiliki peran besar dalam menjaga kesinambungan pembangunan nasional.

Selain fokus pada pelayanan langsung, Kementerian Kesehatan juga memastikan bahwa data hasil pemeriksaan CKG dimanfaatkan untuk menyusun kebijakan kesehatan nasional berbasis bukti. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menegaskan bahwa program CKG bukan hanya tentang pemeriksaan kesehatan semata, melainkan juga upaya besar untuk mengubah paradigma masyarakat terhadap pentingnya kesehatan.

Menurut Aji Muhawarman, CKG merupakan gerakan nasional yang bertujuan membangun kesadaran kolektif agar masyarakat mulai menjaga kesehatannya sebelum jatuh sakit. Dengan demikian, program ini diharapkan dapat menekan angka penyakit tidak menular yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Pendekatan berbasis data yang diterapkan pemerintah dalam program CKG menjadi langkah strategis untuk memperkuat kebijakan kesehatan yang lebih efisien dan tepat sasaran. Setiap hasil pemeriksaan menjadi bagian penting dari upaya pemerintah dalam mengidentifikasi pola penyakit di masyarakat, serta menentukan langkah intervensi yang sesuai dengan kondisi wilayah. Dengan demikian, kebijakan yang lahir dari hasil program ini bukan sekadar wacana, melainkan keputusan yang didasarkan pada fakta lapangan dan kebutuhan nyata masyarakat.

Program CKG juga menandai langkah penting dalam reformasi pelayanan publik di sektor kesehatan. Dengan adanya akses yang merata di seluruh wilayah Indonesia, masyarakat di daerah terpencil pun kini dapat merasakan manfaat layanan pemeriksaan kesehatan gratis tanpa terkendala biaya maupun jarak. Ini menjadi wujud nyata dari keinginan pemerintah untuk menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia di bidang kesehatan.

Ke depan, tantangan terbesar dari pelaksanaan program ini adalah menjaga konsistensi dan keberlanjutan. Pemerintah terus memastikan agar antusiasme masyarakat tetap tinggi dan berkelanjutan. Karena sejatinya, keberhasilan program CKG bukan hanya diukur dari jumlah peserta yang diperiksa, tetapi dari sejauh mana masyarakat menerapkan pola hidup sehat sebagai bagian dari gaya hidup mereka.

Dalam konteks yang lebih luas, CKG bukan sekadar program kesehatan, tetapi sebuah gerakan nasional untuk memperkuat ketahanan bangsa melalui masyarakat yang sehat. Ketika masyarakat sadar dan peduli terhadap kesehatannya, maka produktivitas meningkat dan kualitas hidup pun membaik. Hal ini pada akhirnya akan mendukung tujuan besar pemerintah dalam membangun Indonesia yang kuat dan sejahtera.

Pemerintah telah menyediakan sarana dan fasilitas, namun keberhasilan program sepenuhnya bergantung pada partisipasi aktif masyarakat itu sendiri. Menjaga kesehatan bukan hanya kewajiban individu, melainkan juga kontribusi terhadap masa depan bangsa. Dengan semangat gotong royong dan kesadaran bersama, Indonesia dapat bergerak menuju masa depan yang lebih sehat, lebih kuat, dan lebih berdaya.

)* Penulis merupakan Pakar Kesehatan Masyarakat

Pemerintah Ajak Masyarakat Manfaatkan Program CKG untuk Deteksi Dini Penyakit

Oleh : Aditia Rahmat )*

Pemerintah terus mendorong masyarakat untuk aktif mengikuti program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai langkah konkret dalam mendeteksi dini berbagai penyakit. Upaya ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan strategi nasional yang menekankan pentingnya pencegahan daripada pengobatan. Kini, menjaga kesehatan bukan hanya tanggung jawab pribadi, melainkan juga bagian dari upaya kolektif membangun bangsa yang lebih produktif dan sehat.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menilai, inisiatif CKG merupakan bagian dari strategi besar pemerintah untuk menekan angka penyakit kronis melalui pendekatan deteksi dini. Ia menekankan bahwa banyak penyakit berat berawal dari gejala ringan yang sebenarnya bisa diketahui lebih awal jika masyarakat rutin melakukan pemeriksaan kesehatan. Melalui program ini, masyarakat bisa memahami kondisi kesehatannya secara lebih menyeluruh, sehingga pengobatan dan pencegahan dapat dilakukan tepat waktu.

Budi Gunadi Sadikin juga menjelaskan bahwa dari hasil CKG yang telah dijalankan di berbagai daerah, pemerintah menemukan bahwa masalah kesehatan yang paling banyak diderita masyarakat antara lain sakit gigi, tekanan darah tinggi, dan gula darah. Ketiga penyakit ini menjadi tanda peringatan bagi masyarakat agar lebih peduli terhadap pola hidup dan tidak menunda untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan sederhana bisa menjadi langkah awal yang menyelamatkan dari risiko penyakit kronis di masa depan.

Lebih lanjut, Budi menuturkan bahwa CKG memiliki peran penting sebagai sarana edukasi kesehatan bagi masyarakat, terutama generasi muda. Ia ingin menumbuhkan kesadaran baru bahwa kesehatan adalah investasi jangka panjang yang harus dijaga sejak dini. Pemerintah, melalui berbagai fasilitas kesehatan, terus membuka akses agar masyarakat tidak memiliki alasan untuk mengabaikan pemeriksaan rutin.

Sementara itu, anggota Komisi IX DPR RI Rahmawati Herdian juga menyerukan agar masyarakat ikut berpartisipasi aktif dalam program ini. Ia menegaskan bahwa layanan Cek Kesehatan Gratis merupakan bagian penting dari upaya deteksi dini kondisi tubuh yang difasilitasi langsung oleh pemerintah. Dalam kegiatan Sosialisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) di Kotaagung, Kabupaten Tanggamus, Lampung, Rahmawati mengajak masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia di puskesmas-puskesmas, tanpa rasa ragu.

Rahmawati menekankan bahwa semakin banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya deteksi dini, semakin besar pula peluang untuk menekan angka risiko penyakit di masyarakat. Ia berharap agar kesadaran ini tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan menjadi budaya yang ditanamkan di setiap lapisan masyarakat. Menurutnya, edukasi yang menyentuh akar rumput akan menjadi kunci perubahan pola pikir dan kebiasaan hidup masyarakat Indonesia.

Ia juga meminta agar peserta sosialisasi tidak berhenti pada tahap menerima informasi, tetapi turut menyebarkannya ke lingkungan masing-masing. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan bisa dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan masyarakat sekitar agar manfaatnya lebih luas. Dengan cara ini, program Germas dan CKG tidak hanya menjadi program pemerintah semata, tetapi benar-benar menjadi gerakan masyarakat yang aktif menjaga kesehatan bersama.

Dari sisi pemerintah daerah, di Kotaagung, Kabupaten Tanggamus, Lampung, Anggota Komisi IX DPR RI, Rahmawati Herdian, mengajak masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas Cek Kesehatan Gratis sebagai bagian dari upaya deteksi dini kondisi kesehatan. Perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Lampung menyoroti bahwa peningkatan angka penyakit tidak menular (PTM) saat ini banyak dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup. Pola makan yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, serta kebiasaan merokok menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi kesehatan masyarakat. Oleh karena itu pentingnya perubahan perilaku menuju gaya hidup sehat dengan langkah sederhana seperti rutin berolahraga, makan makanan bergizi, tidak merokok, menjaga kebersihan tangan, serta menciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman.

Kesadaran akan pentingnya pemeriksaan dini juga terus digaungkan oleh tenaga kesehatan di tingkat puskesmas. Kepala Puskesmas Kecamatan Kembangan Jakarta Barat, Rosvita Nur Aini, menjelaskan bahwa masyarakat kini bisa melakukan Cek Kesehatan Gratis kapan saja tanpa harus menunggu momentum tertentu seperti ulang tahun. Program ini bersifat terbuka dan dapat diakses di seluruh fasilitas kesehatan terdekat di Indonesia. Bahkan warga di luar wilayah Kembangan juga diperbolehkan memanfaatkan layanan CKG di Puskesmas Kecamatan Kembangan.

Rosvita menambahkan bahwa program CKG yang digagas pemerintah bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang sehat, produktif, dan terlindungi sejak dini. Program ini mencakup empat kelompok usia, mulai dari bayi baru lahir, balita dan usia pra sekolah, remaja dan dewasa, hingga lanjut usia. Setiap kelompok mendapatkan pemeriksaan yang disesuaikan dengan kebutuhannya.

Upaya pemerintah dan tenaga kesehatan ini menunjukkan keseriusan dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan berkala. Program CKG bukan hanya sekadar layanan gratis, melainkan bentuk nyata komitmen negara dalam melindungi warganya dari ancaman penyakit. Dengan adanya kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat, diharapkan Indonesia dapat menekan angka penyakit kronis dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.

Kini, saatnya masyarakat mengambil peran lebih aktif dalam menjaga kesehatan diri sendiri dan lingkungan. Pemeriksaan rutin, pola makan sehat, serta gaya hidup aktif harus menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Dengan memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis, setiap orang memiliki kesempatan untuk mengetahui kondisi tubuhnya lebih awal dan mengambil langkah pencegahan sebelum terlambat. Kesehatan bukan hanya tanggung jawab tenaga medis atau pemerintah, tetapi juga komitmen pribadi untuk hidup lebih sadar, sehat, dan sejahtera bersama.

)* Penulis merupakan pengamat isu strategis

Pemerintah Optimis Cakupan CKG Tembus 50 Juta dalam Waktu Seminggu

Pemerintah menargetkan cakupan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) mencapai 50 juta orang dalam waktu satu minggu, seiring meningkatnya antusiasme masyarakat di berbagai daerah. Program ini merupakan wujud konkret komitmen pemerintah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin sebagai langkah awal dalam mencegah munculnya penyakit.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, menyampaikan bahwa hingga Selasa, sudah tercatat sekitar 46 juta masyarakat yang berpartisipasi dalam program tersebut di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

“Pemeriksaannya tetap mencakup kesehatan gigi, gizi, dan pengukuran indeks massa tubuh. Respons masyarakat sangat luar biasa,” ujar Maria Endang Sumiwi.

Pelaksanaan program berskala nasional ini digelar serentak di 10 ribu puskesmas serta 125 ribu sekolah di berbagai wilayah Indonesia, sebagai bukti komitmen kuat pemerintah dalam memperluas akses layanan kesehatan preventif dan promotif bagi seluruh lapisan masyarakat.Program ini tidak hanya sekadar pemeriksaan kesehatan gratis, tetapi juga upaya untuk membangun kesadaran hidup sehat secara berkelanjutan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menuturkan bahwa pemerintah optimis cakupan layanan CKG dapat terus meningkat hingga menembus lebih dari 70 juta penerima manfaat pada akhir tahun 2025.

“Kami yakin dengan kerja sama semua pihak, terutama dukungan Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus, cakupan program ini akan semakin luas, termasuk di area perkantoran dan institusi pendidikan,” ujarnya.

Kementerian Kesehatan juga memastikan bahwa hasil pemeriksaan dari program CKG akan digunakan sebagai dasar penyusunan kebijakan kesehatan nasional berbasis bukti. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menekankan perlunya perubahan cara pandang masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan.

“Program Cek Kesehatan Gratis tidak hanya sekadar layanan pemeriksaan, tetapi merupakan gerakan nasional untuk menumbuhkan kesadaran agar masyarakat menjaga kesehatan sebelum mengalami sakit,” ujarnya.

Program CKG yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto dinilai berhasil membangun kesadaran baru di tengah masyarakat bahwa kesehatan adalah aset berharga bangsa. Sementara itu, perhatian terhadap kesehatan anak dan remaja juga menjadi prioritas utama pemerintah.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, menyampaikan bahwa inisiatif ini mencerminkan kepedulian negara terhadap pemenuhan hak kesehatan bagi anak-anak.

“Program CKG merupakan bentuk kasih sayang negara kepada generasi muda. Melalui pemeriksaan rutin seperti ini, kita memastikan anak-anak tumbuh dengan sehat, cerdas, dan bahagia,” tutup Arifah Fauzi.

Dengan optimisme yang tinggi dan dukungan lintas sektor, pemerintah yakin target 50 juta peserta dalam sepekan dapat tercapai, sekaligus memperkuat komitmen Indonesia menuju masyarakat yang lebih sehat dan produktif.

Pemerintahan Prabowo Tingkatkan Layanan Kesehatan Lewat Program CKG

JAKARTA – Pemerintahan menegaskan komitmennya dalam meningkatkan layanan kesehatan dasar bagi masyarakat melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Program ini menjadi salah satu capaian nyata selama satu tahun masa kepemimpinan mereka dalam memperluas akses layanan kesehatan, memperkuat kesadaran masyarakat, serta mengoptimalkan efisiensi anggaran kesehatan nasional.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat kemajuan signifikan dalam pelaksanaan tiga Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC), yang meliputi Cek Kesehatan Gratis, pengendalian Tuberkulosis (TBC), serta pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di wilayah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan (DTPK).

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyampaikan di Jakarta pada Selasa bahwa program CKG menjadi simbol nyata keberpihakan pemerintah terhadap peningkatan pelayanan publik.

“Program CKG menjadi bukti nyata keberpihakan pemerintah pada pelayanan publik. Per 20 Oktober 2025, lebih dari 46,9 juta orang telah mendaftar dan 43,9 juta di antaranya sudah mendapatkan layanan,” ujar Aji.

Pemeriksaan dilakukan di 10 ribu puskesmas dan 125 ribu sekolah dengan layanan yang mencakup pengukuran tekanan darah, kadar gula, anemia, serta status gizi.

Aji menambahkan bahwa hasil CKG menunjukkan tiga masalah kesehatan utama yang paling banyak ditemukan, yakni obesitas sentral, diabetes, dan hipertensi. Menurutnya, masyarakat dengan perut buncit memiliki risiko dua kali lipat terkena diabetes dan hipertensi yang berpotensi berujung pada stroke atau penyakit jantung.

Ia juga mengungkapkan bahwa masalah kesehatan gigi masih cukup tinggi di kalangan peserta pemeriksaan.

“Kami melihat antusiasme masyarakat yang luar biasa. Program CKG bukan hanya tentang pemeriksaan, tapi tentang membangun budaya peduli kesehatan di semua lapisan masyarakat,” katanya.

Lebih dari 7.000 puskesmas kini telah menggunakan sistem pemantauan digital untuk memperkuat deteksi dini dan pengawasan pengobatan. Pemerintah juga terus menjalankan strategi door-to-door screening di daerah padat penduduk dan wilayah terpencil guna menjangkau lebih banyak masyarakat.

Di sisi infrastruktur, pemerintah mempercepat pembangunan RSUD di 66 kabupaten dan kota, dengan 32 rumah sakit mulai dibangun pada 2025. Hingga awal Oktober, lebih dari 22 RSUD telah memasuki tahap konstruksi dengan rata-rata progres di atas 50 persen.

Aji menyebut RSUD Tarempa di Kepulauan Anambas sebagai proyek dengan progres tercepat mencapai 73 persen, disusul RSUD Bengkulu Tengah, RSUD Pongtiku di Toraja Utara, dan RSUD Maba di Halmahera Timur.

“Tidak boleh ada warga yang tertinggal hanya karena tinggal jauh dari pusat kota. Pemerintah memastikan fasilitas kesehatan di daerah tertinggal dibangun setara dengan wilayah lain,” tegasnya.

Wakil Menteri Kesehatan, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P(K), menambahkan bahwa program CKG dirancang tidak hanya untuk memperluas layanan publik, tetapi juga untuk meningkatkan efisiensi pembiayaan kesehatan.

“Pembiayaan kesehatan di Indonesia dan dunia mengalami inflasi lebih cepat dari pertumbuhan ekonomi. Dengan fokus pada deteksi dini dan skrining massal, pemerintah berharap dapat menekan biaya pengobatan jangka panjang,” ujarnya.

Pengelolaan Aset Negara oleh Danantara Perkuat Struktur Fiskal dan Kurangi Ketergantungan APBN

Oleh: Bagus Pratama

Pemerintah Indonesia menegaskan arah baru kebijakan fiskal nasional dengan meluncurkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Lembaga ini dirancang bukan hanya sebagai wadah investasi strategis, tetapi juga sebagai instrumen utama untuk memperkuat struktur fiskal dan mengurangi ketergantungan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Melalui pengelolaan aset negara yang profesional dan terintegrasi, Danantara menjadi katalisator penting bagi transformasi ekonomi yang berkelanjutan.

Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa pembentukan Danantara merupakan langkah reformasi besar dalam pengelolaan kekayaan negara. Ia memandang lembaga tersebut sebagai terobosan yang membawa dampak signifikan terhadap stabilitas dan ketahanan fiskal nasional.

Dalam pandangannya, Danantara tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pengelola investasi, tetapi juga sebagai sumber pembiayaan alternatif untuk proyek strategis tanpa harus menambah beban APBN atau memperbesar utang negara.

Rosan menekankan bahwa mandat utama Danantara adalah mengoptimalkan aset-aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang selama ini belum dikelola secara maksimal. Dengan total aset mencapai sekitar 900 miliar dolar AS, Danantara diarahkan untuk mengubah aset pasif menjadi sumber kekuatan ekonomi yang produktif.

Ia meyakini, pengelolaan aset yang efisien dan berorientasi hasil akan memperkuat kemampuan fiskal pemerintah, sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja dan pengembangan sektor industri strategis.

Dalam arahannya, Presiden Prabowo Subianto meminta agar Danantara dikelola dengan tata kelola yang kuat, transparan, dan berintegritas tinggi. Rosan menjelaskan bahwa prinsip kehati-hatian dan good governance menjadi pedoman utama dalam setiap keputusan investasi yang dilakukan. Melalui struktur organisasi yang terdiri dari dewan pengawas, komite audit, hingga komite etika, Danantara memastikan akuntabilitas publik dalam seluruh prosesnya.

Rosan menilai kehadiran Danantara juga menjadi bentuk nyata upaya pemerintah memperkuat pondasi ekonomi nasional melalui investasi produktif. Ia meyakini lembaga tersebut dapat menjadi instrumen penting dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga mencapai 8 persen per tahun, sejalan dengan target pemerintah menuju negara berpendapatan tinggi. Bagi Rosan, Danantara bukan sekadar pengelola dana, melainkan mesin penggerak baru untuk pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Pandangan serupa disampaikan oleh ekonom dari NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan. Ia menilai bahwa Danantara berperan besar dalam memperkuat struktur fiskal dengan menciptakan sumber pendanaan alternatif di luar APBN.

Dalam pandangannya, keberadaan lembaga tersebut mampu mengurangi ketergantungan pemerintah terhadap pembiayaan berbasis utang dan memberi ruang fiskal yang lebih luas bagi belanja sosial maupun pembangunan prioritas.

Herry menjelaskan bahwa mandat Danantara sejalan dengan praktik terbaik lembaga sovereign wealth fund (SWF) di berbagai negara, seperti Temasek dan GIC di Singapura, yang mampu menyumbang hingga 20 persen dari total belanja pemerintah pusat.

Ia menilai, Danantara berpotensi menjadi sumber pembiayaan berkelanjutan melalui hasil investasi dan optimalisasi aset negara, yang pada akhirnya memperkuat posisi fiskal Indonesia di kancah global.

Lebih lanjut, Herry menyoroti peran penting Danantara dalam meningkatkan efisiensi BUMN dan memperdalam pasar modal domestik. Melalui konsolidasi lebih dari seribu BUMN di 12 sektor strategis, Danantara berpotensi menciptakan sinergi bisnis yang memperbaiki kinerja keuangan korporasi pelat merah. Ia menilai, langkah ini tidak hanya memperkuat fundamental ekonomi nasional, tetapi juga menarik minat investor global untuk menanamkan modal di Indonesia.

Danantara, dalam pandangan Herry, juga memiliki efek pengganda bagi perekonomian nasional. Melalui pengelolaan aset yang transparan dan investasi pada sektor prioritas seperti energi hijau, infrastruktur digital, dan kesehatan, lembaga tersebut dapat memperluas basis ekonomi produktif dan menciptakan lapangan kerja berkualitas. Dengan demikian, kontribusinya tidak hanya bersifat fiskal, tetapi juga struktural dalam memperkuat daya saing ekonomi Indonesia.

Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto menilai kinerja Danantara selama satu tahun pertama sebagai fondasi penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Ia menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap stabil di kisaran lima persen, di tengah ketidakpastian global, merupakan hasil sinergi kebijakan fiskal dan peran lembaga investasi strategis seperti Danantara. Presiden juga menekankan keberhasilan menjaga defisit APBN di bawah tiga persen dari PDB serta peningkatan indeks kepercayaan pasar yang tercermin dari rekor IHSG di level 8.000 poin.

Melalui capaian tersebut, Danantara berhasil menunjukkan kemampuannya sebagai motor baru fiskal nasional. Lembaga ini telah mengelola aset senilai lebih dari satu triliun dolar AS dan menerima dividen BUMN sebesar Rp140 triliun untuk diinvestasikan ke berbagai proyek strategis nasional. Dalam lima tahun mendatang, nilai investasi itu diproyeksikan menembus Rp750 triliun, yang akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan negara di luar sektor pajak.

Dengan tata kelola yang profesional, integritas tinggi, dan fokus pada investasi berkelanjutan, Danantara diharapkan menjadi fondasi utama dalam mewujudkan kemandirian fiskal Indonesia.

Melalui optimalisasi aset produktif dan penciptaan nilai tambah ekonomi, lembaga ini tidak hanya memperkuat struktur fiskal negara, tetapi juga menegaskan arah baru pembangunan nasional yang bertumpu pada efisiensi, inovasi, dan keberlanjutan.

Peran Danantara mencerminkan transisi penting dari ekonomi berbasis anggaran menuju ekonomi berbasis aset. Dengan mengelola kekayaan negara secara produktif dan transparan, Indonesia semakin dekat menuju kemandirian fiskal yang tidak hanya menopang pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga memastikan kesejahteraan generasi mendatang. (*)

Analis Ekonomi Makro – Lembaga Riset Ekonomi Nusantara

Danantara Dorong Pertumbuhan Fiskal Melalui Investasi Strategis dan Pengelolaan Aset Produktif

Oleh: Agus Soepomo

Peluncuran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menandai babak baru dalam sejarah pengelolaan kekayaan negara. Pemerintah menegaskan arah baru fiskal nasional dengan menjadikan Danantara sebagai mesin pertumbuhan ekonomi berbasis investasi produktif dan pengelolaan aset strategis.

Langkah tersebut mencerminkan tekad untuk mentransformasi pengelolaan aset negara dari sekadar konsumtif menjadi instrumen pembangunan yang berkelanjutan dan bernilai tambah tinggi.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa kehadiran Danantara bukan semata pembentukan lembaga baru, melainkan perubahan paradigma dalam mengelola kekayaan bangsa.

Dalam pandangannya, Danantara berfungsi sebagai instrumen pembangunan nasional yang mengoptimalkan aset dan investasi negara agar menghasilkan manfaat nyata bagi rakyat. Ia menilai, pengelolaan fiskal harus berorientasi pada produktivitas, bukan hanya menjaga keseimbangan anggaran semata.

Dalam 100 hari pertama pemerintahannya, Presiden mencatat keberhasilan dalam mengamankan lebih dari Rp300 triliun atau hampir 20 miliar dolar AS sebagai bentuk disiplin fiskal.

Dana tersebut akan diinvestasikan melalui Danantara untuk proyek-proyek strategis nasional, terutama yang berfokus pada industrialisasi dan hilirisasi. Menurutnya, proyek bernilai tambah tinggi akan menciptakan lapangan kerja berkualitas dan memperkuat fondasi ekonomi jangka panjang. Ia menilai, Danantara merupakan wujud konkret komitmen pemerintah dalam mengelola kekayaan negara secara efisien, transparan, dan berorientasi hasil.

Presiden juga menekankan bahwa pengelolaan Danantara harus dijalankan dengan kehati-hatian dan akuntabilitas penuh. Ia memandang lembaga tersebut sebagai simbol energi baru bagi bangsa, yang akan membawa Indonesia menuju kemandirian ekonomi dan kesejahteraan berkelanjutan.

Dengan optimisme, ia menegaskan keyakinannya bahwa Indonesia sedang bergerak menuju status negara maju dan berdaulat secara ekonomi melalui reformasi tata kelola fiskal yang terukur.

Wakil Ketua Dewan Pengawas Danantara, Muliaman D. Hadad, menilai lembaga tersebut sebagai terobosan penting dalam membangun fondasi ekonomi yang lebih tangguh. Ia menjelaskan bahwa Danantara berfungsi layaknya sovereign wealth fund (SWF) yang mengelola aset dan dividen BUMN agar lebih produktif.

Menurutnya, potensi aset BUMN yang dapat dikonsolidasikan melalui Danantara mencapai sekitar satu triliun dolar AS—angka yang mencerminkan kekuatan ekonomi domestik jika dikelola dengan pendekatan profesional dan efisien.

Muliaman menekankan bahwa Danantara tidak hanya berfokus pada pengelolaan dana, tetapi juga pada penciptaan nilai ekonomi baru melalui investasi strategis di delapan sektor prioritas: energi terbarukan, mineral dan pertambangan, infrastruktur digital, jasa keuangan, kesehatan, pangan, kawasan industri, dan properti. Ia memandang arah kebijakan tersebut akan memperkuat kemandirian ekonomi nasional sekaligus mempercepat transformasi menuju Visi Indonesia Emas 2045.

Berbeda dengan SWF di negara-negara penghasil minyak, Muliaman menjelaskan bahwa model Danantara bersandar pada pengelolaan non-komoditas yang berbasis pada hasil usaha BUMN.

Pendekatan ini memungkinkan Danantara memaksimalkan aset domestik tanpa bergantung pada fluktuasi harga energi global. Ia menilai, hal tersebut menjadikan Danantara sebagai bentuk reformasi struktural dalam pengelolaan aset negara yang menempatkan efisiensi, kinerja, dan transparansi sebagai landasan utama.

Sementara itu, Anggota Komisi VI DPR RI, Firnando Ganinduto, menilai kehadiran Danantara sebagai langkah strategis pemerintah dalam memperkuat tata kelola BUMN agar lebih adaptif dan berdaya saing global. Menurutnya, Danantara bukan sekadar entitas investasi, tetapi juga instrumen transformasi korporasi negara menuju tata kelola yang lebih transparan dan profesional.

Firnando menegaskan bahwa Komisi VI DPR RI memandang Danantara sebagai katalisator restrukturisasi BUMN di sektor-sektor prioritas yang memiliki dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Ia menilai lembaga tersebut dapat berperan dalam mengisi pembiayaan proyek strategis dengan pendekatan investasi berbasis kinerja dan studi kelayakan yang ketat. Dengan begitu, setiap rupiah yang diinvestasikan akan memberikan imbal hasil yang nyata bagi perekonomian nasional, bukan hanya sebagai tambahan beban fiskal.

Ia menambahkan bahwa Komisi VI DPR RI siap menjalankan fungsi pengawasan untuk memastikan setiap investasi Danantara berjalan sesuai prinsip akuntabilitas publik. Menurutnya, sinergi antara Danantara, Kementerian BUMN, dan sektor swasta menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem investasi yang sehat dan inovatif. Reformasi model pendanaan melalui Danantara diharapkan dapat memperkecil ketergantungan terhadap APBN serta memperluas ruang fiskal negara untuk pembangunan produktif.

Firnando menilai bahwa reformasi investasi melalui Danantara memiliki makna strategis lebih dari sekadar pengelolaan dana. Ia memandang lembaga tersebut sebagai simbol perubahan menuju efisiensi dan daya saing global.

Dengan pendekatan profesional dan fleksibel, Danantara diharapkan mampu membangun struktur pembiayaan yang berkelanjutan dan memperkuat posisi Indonesia di tengah persaingan ekonomi internasional.

Transformasi fiskal yang digerakkan oleh Danantara menandai pergeseran penting dari paradigma pembiayaan tradisional menuju manajemen kekayaan negara yang produktif. Melalui pengelolaan aset strategis dan investasi di sektor prioritas, Danantara diharapkan menjadi jangkar fiskal yang memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Lebih dari sekadar lembaga investasi, Danantara mencerminkan arah baru ekonomi Indonesia—yang menempatkan pengelolaan aset sebagai sumber pertumbuhan, bukan sekadar pelengkap kebijakan fiskal.

Dengan fondasi tata kelola yang kuat, visi strategis jangka panjang, dan kolaborasi lintas sektor, Danantara berpotensi menjadi instrumen kunci dalam membawa Indonesia menuju kemandirian ekonomi dan kesejahteraan berkelanjutan. (*)

Konsultan Kebijakan Ekonomi – Forum Ekonomi Rakyat

Danantara Jadi Motor Baru Penguatan Fiskal Nasional dan Kemandirian Ekonomi

JAKARTA — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) kian menegaskan perannya sebagai motor baru dalam memperkuat fiskal nasional dan mewujudkan kemandirian ekonomi Indonesia.

Lembaga pengelola kekayaan negara tersebut berkomitmen mengoptimalkan aset-aset strategis melalui tata kelola profesional dan investasi produktif di berbagai sektor prioritas.

Chief Economist Danantara, Reza Yamora Siregar, menegaskan bahwa lembaganya memiliki peta jalan bisnis jangka panjang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

“Dengan kondisi saat ini kita bisa lima persen, kalau kita dorong, saya percaya diri 6-7 persen itu tidak sulit,” ujarnya dalam Seminar Nasional P3V XXV di Jakarta.

Ia menambahkan, Danantara mengelola aset mencapai Rp14 ribu triliun atau hampir setara US$1 triliun, yang mencakup sekitar 80 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Menurut Reza, pengelolaan aset negara secara optimal dapat menjadi sumber kekuatan fiskal baru tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Kalau kita kelola itu dengan baik, Insya Allah kita bisa mendorong target 2045 kita,” tambahnya.

Danantara pun menyasar investasi pada sektor-sektor strategis seperti mineral, energi, ketahanan pangan, kesehatan, asuransi, hingga dana pensiun, serta menarik minat investor dari Tiongkok, Jepang, dan Uni Eropa.

Managing Director Danantara, Setyanto Hantoro, menyampaikan bahwa transformasi BUMN menjadi agenda utama lembaganya.

“Tahap pertama adalah fundamental business review, atau peninjauan mendalam atas pondasi bisnis. Kami sedang meninjau lebih dari 900 entitas satu per satu secara menyeluruh,” jelasnya.

Ia menambahkan, proses restrukturisasi dilakukan untuk menghindari tumpang tindih peran dan meningkatkan efisiensi melalui konsolidasi bisnis.

“Tahap terakhir adalah inovasi dan eksekusi untuk membuka nilai tambah bagi negara, investor, dan rakyat,” tegasnya.

Sementara itu, Managing Director Global Relations and Governance Danantara, Mohamad Al-Arief, menargetkan pendanaan investasi sebesar US$5 miliar hingga akhir 2025.

“Selain pendanaan awal senilai $20 miliar, kami juga membidik dividen tahunan hingga US$8 miliar dari portofolio BUMN,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kemitraan global yang dijalin bukan sekadar transaksi, tetapi bagian dari transformasi tata kelola berbasis praktik internasional.

“Kolaborasi pertama dengan QIA dimulai April lalu dengan dana senilai USD4 miliar, difokuskan pada hilirisasi, energi terbarukan, dan layanan kesehatan,” ungkap Al-Arief.

Selain dengan Qatar Investment Authority, Danantara juga menjalin kerja sama dengan Future Fund Australia dan China Investment Corporation (CIC) untuk mempercepat restrukturisasi aset sesuai standar global.

Melalui langkah-langkah strategis tersebut, Danantara menempatkan diri sebagai katalisator penguatan fiskal nasional dan pendorong kemandirian ekonomi jangka panjang — menjadikan kekayaan negara bukan sekadar aset, melainkan sumber daya produktif bagi kemakmuran bangsa. (*)

Danantara Wujudkan Optimalisasi Kekayaan Negara untuk Pertumbuhan Fiskal Berkelanjutan

JAKARTA — Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya dalam memperkuat fondasi fiskal nasional melalui peluncuran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), lembaga pengelola kekayaan negara yang berperan strategis dalam mengonsolidasikan dan mengoptimalkan aset-aset nasional agar lebih produktif dan berkelanjutan.

Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa pembentukan Danantara menjadi langkah historis dalam mengubah paradigma pengelolaan kekayaan negara.

“Peluncuran Danantara Indonesia hari ini memiliki arti yang sangat penting karena Danantara Indonesia bukan sekadar badan pengelola investasi, melainkan harus menjadi instrumen pembangunan nasional yang akan mengoptimalkan cara kita mengelola kekayaan Indonesia,” ujar Presiden dalam acara peluncuran resmi di Jakarta.

Presiden menambahkan, pengelolaan aset oleh Danantara diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memperkuat kemandirian ekonomi nasional.

“Kami telah membuktikan komitmen dalam mengelola kekayaan negara dengan disiplin keuangan yang ketat dan tata kelola yang bertanggung jawab dalam 100 hari pertama pemerintahan yang saya pimpin, berhasil mengamankan lebih dari 300 triliun rupiah, hampir 20 miliar dolar dalam bentuk tabungan negara,” ungkapnya.

Dana tersebut selanjutnya akan dikelola Danantara untuk investasi pada sektor industrialisasi dan hilirisasi yang bernilai tambah tinggi.

Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menyambut positif kebijakan optimalisasi aset negara melalui Danantara.

Ia menilai langkah itu menjadi instrumen penting dalam memperkuat perekonomian nasional.

“Kebijakan pengelolaan aset negara diarahkan untuk memberi nilai tambah terhadap perekonomian nasional dan ditunjukan dengan indikator capaian yang terukur,” kata Misbakhun.

“Pengalihan Barang Milik Negara (BMN) menjadi aset Danantara dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Kekayaan Negara Rionald Silaban menegaskan bahwa mekanisme pengelolaan BMN oleh Danantara akan dilakukan secara selektif dan sesuai regulasi.

“Itu menurut saya benar, jadi kan aset BMN itu misalnya kalau ada aset negara yang mau di PMPP-kan ya sesuai UU,” katanya.

Ia menjelaskan, hanya aset negara yang idle atau tidak dimanfaatkan yang akan dialihkan ke Danantara agar bisa dikelola secara produktif.

“Ya kan ada yang masih dipakai kementerian, jadi ada saja di kemudian hari ada aset BMN yang idle yang menurut saya bisa dikelola Danantara,” jelasnya.

Melalui langkah ini, Danantara diharapkan mampu menjadi motor penggerak penguatan fiskal nasional, menciptakan efisiensi ekonomi, dan menghadirkan nilai tambah berkelanjutan bagi kesejahteraan bangsa. (*)

Continue Reading