Pemerintah Perkuat Sinergi KB dan MBG untuk Tingkatkan Kualitas Gizi Daerah

Oleh: Florensa Flobamora (*

Upaya peningkatan kualitas gizi masyarakat di Indonesia tengah memasuki fase baru yang lebih terintegrasi, khususnya melalui kolaborasi antara program Keluarga Berencana (KB) dan skema Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah, melalui berbagai kementerian dan lembaga, kini menempatkan kerja sama lintas sektor sebagai fondasi utama dalam mempercepat perbaikan gizi, menurunkan stunting, serta memperkuat kualitas kesehatan keluarga. Pendekatan ini mencerminkan keseriusan negara dalam memastikan bahwa intervensi gizi tidak berjalan sendiri, melainkan melekat dengan pembangunan keluarga secara menyeluruh.

Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menegaskan bahwa penguatan sinergi ini bukan hanya gagasan, tetapi telah dituangkan dalam desain program MBG. Ia menjelaskan bahwa 10 persen alokasi MBG diberikan kepada BKKBN melalui kerja sama dengan Badan Gizi Nasional (BGN). Porsi ini diarahkan khusus untuk mendukung tiga kelompok sasaran utama, yakni 3B: ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD.

Menurutnya, pemilihan ketiga kelompok ini didasarkan pada urgensi intervensi gizi pada periode-periode emas pertumbuhan anak. BKKBN juga telah menyiapkan berbagai strategi agar penyaluran MBG kepada kelompok 3B berlangsung efektif dan tepat sasaran. Salah satunya adalah memastikan pendataan keluarga berjalan komprehensif. Pendataan ini menjadi dasar dalam menentukan keluarga penerima manfaat, terutama yang memiliki risiko stunting lebih tinggi. Dengan demikian, program gizi dapat langsung menyasar mereka yang paling membutuhkan.

Di tingkat daerah, upaya integratif ini sudah mulai terlihat. Pelaksana Tugas Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Tengah, Brigjen Pol Hery Wiyanto, menyebut bahwa MBG untuk kelompok 3B akan menjadi fokus utama pada tahun mendatang. Namun, ia menambahkan bahwa keberhasilan peningkatan gizi tidak dapat dilepaskan dari keberhasilan program Keluarga Berencana itu sendiri. Karena itu, penargetan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) dan KB pasca-persalinan perlu terus diperkuat.

Menurut Hery, penyelesaian berbagai persoalan gizi dan kesehatan keluarga memiliki karakteristik yang berbeda di setiap daerah. Tantangan pada remaja, misalnya, membutuhkan intervensi edukasi yang tepat. Edukasi ini tidak hanya menjadi ruang kerja BKKBN, tetapi juga berbagai instansi lain yang perlu bersinergi. Ia mencontohkan, edukasi mengenai stunting dapat diperluas melalui program Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) yang mendorong partisipasi masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah daerah. Melalui kolaborasi ini, dukungan nutrisi dan pemahaman gizi dapat diperoleh secara lebih merata.

Di Lombok Timur, strategi kolaboratif ini bahkan sudah berjalan melalui pelibatan Tim Pendamping Keluarga (TPK). Kepala Dinas DP3AKB Lombok Timur, dr. Hasbi Santoso, mengungkapkan bahwa pihaknya saat ini tengah mengoptimalkan peran TPK untuk memastikan keberhasilan program MBG 3B. TPK menjadi garda terdepan dalam mengidentifikasi kebutuhan gizi, memantau perkembangan ibu hamil dan balita, serta memberikan edukasi gizi secara langsung di lapangan.

Program 3B di Lombok Timur juga mendapatkan dukungan tambahan melalui kunjungan tim dari Kementerian dan BKKBN ke Kecamatan Sembalun. Sebagai salah satu sentra penghasil bahan makanan bergizi, Sembalun dinilai strategis untuk menyusun model pemenuhan gizi berbasis potensi lokal. Kunjungan tersebut difokuskan untuk menggali hambatan implementasi MBG sekaligus merumuskan strategi yang paling efektif dan berkelanjutan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa upaya pemenuhan gizi tidak hanya mengandalkan distribusi makanan, tetapi juga menyasar penguatan sumber bahan pangan lokal sebagai bagian dari ketahanan gizi nasional.

Langkah-langkah ini menggambarkan bahwa pemerintah tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga membangun sistem yang memungkinkan peningkatan gizi berlangsung secara berkelanjutan dan adaptif pada kebutuhan daerah. Integrasi antara KB, edukasi gizi, dan program MBG ini menjadi krusial mengingat tantangan gizi di Indonesia tidak dapat diselesaikan oleh satu sektor saja. Perlu ada koneksi antara perencanaan keluarga, penguatan layanan kesehatan, pemenuhan nutrisi, edukasi masyarakat, serta pemberdayaan daerah penghasil pangan.

Lebih dari itu, program MBG yang terintegrasi dengan KB memiliki nilai strategis dalam memperluas cakupan edukasi kesehatan reproduksi, perencanaan keluarga, hingga gizi seimbang bagi ibu dan anak. Dengan memastikan bahwa setiap keluarga memahami pentingnya pengasuhan yang sehat, maka manfaat program gizi akan lebih berjangka panjang, bukan hanya sesaat. Model kolaboratif ini ideal untuk direplikasi di berbagai wilayah lain, terutama daerah dengan tingkat kerentanan gizi yang cukup tinggi.

Pada akhirnya, keberhasilan program MBG sangat ditentukan oleh dukungan semua pihak—pemerintah, masyarakat, dan komunitas lokal. Maka dari itu, perlu ada dorongan bersama untuk memperluas jangkauan program ini agar manfaatnya semakin merata. Dengan memperkuat kolaborasi antara KB, gizi, dan pemberdayaan keluarga, masyarakat dapat bergerak menuju masa depan yang lebih sehat, berdaya, dan berkualitas. Program MBG bukan hanya bantuan makanan, tetapi investasi jangka panjang untuk generasi Indonesia yang lebih cerdas dan kuat. Mari bersama mendukung implementasi MBG agar mencakup lebih luas, lebih merata, dan semakin meningkatkan kualitas gizi keluarga di seluruh Indonesia.

(* Penulis merupakan Pengamat gizi asal Flores

Pemerintah Perkuat Koordinasi Mitra MBG untuk Jamin Kualitas Makanan Bergizi

Oleh: Bara Winatha*)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menjadi salah satu prioritas nasional dalam memperkuat kualitas kesehatan masyarakat, terutama ibu hamil, balita, dan kelompok rentan lainnya. Pemerintah memastikan bahwa distribusi makanan sehat tidak hanya dilakukan secara rutin, tetapi juga berkualitas, tepat sasaran, serta didukung oleh tata kelola yang kuat. Dalam upaya tersebut, kolaborasi antara Badan Gizi Nasional (BGN), kementerian terkait, serta para mitra layanan menjadi fondasi penting dalam menjalankan program secara berkelanjutan. Di berbagai daerah, monitoring dan evaluasi intensif terus dilakukan demi memastikan bahwa setiap Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) bekerja sesuai standar.

Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, mengatakan bahwa pemerintah mengharapkan mitra dan pengelola SPPG dapat menunjukkan komitmen moral dan sosial dalam menjalankan program. Ia mengatakan bahwa yayasan yang terlibat harus memahami bahwa MBG bukan hanya tentang memproduksi makanan, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap kondisi sekolah atau komunitas tempat program itu berjalan. Ia menjelaskan bahwa fasilitas sekolah, terutama yang menjadi lokasi distribusi, harus menjadi perhatian bersama.

Nanik juga mengatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto sejak awal telah menetapkan bahwa pengelola SPPG harus berasal dari yayasan pendidikan, keagamaan, atau sosial yang telah bekerja lama di masyarakat. Keputusan tersebut diambil agar program MBG benar-benar dikelola oleh lembaga yang memiliki orientasi pengabdian, bukan sekadar mencari keuntungan. Ia mengingatkan bahwa sejumlah yayasan baru memang muncul karena adanya percepatan pembangunan SPPG, dan pemerintah menilai perlu pengawasan ekstra agar lembaga-lembaga tersebut tetap beroperasi secara etis dan sesuai arahan Presiden.

BGN akan terus memperketat regulasi agar tidak ada pihak yang mengambil keuntungan berlebihan dari program. BGN memastikan bahwa mitra harus menjalankan program dengan cara yang manusiawi, wajar, dan berorientasi pada peningkatan gizi penerima manfaat. Pedoman teknis baru sedang difinalisasi dan akan mewajibkan setiap mitra menyalurkan sebagian pendapatannya untuk kegiatan sosial dan pendidikan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa tujuan mulia MBG tidak berubah menjadi ajang keuntungan yang tidak proporsional.

Sementara itu, pemerintah juga melihat bahwa pengawasan lapangan harus tetap berjalan konsisten. Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Indonesia, Isyana Bagoes Oka, mengatakan bahwa pemerintah terus mengawal pelaksanaan MBG di berbagai daerah melalui kunjungan langsung. Dalam peninjauan di Kota Palembang, ia mengatakan bahwa mekanisme distribusi MBG sudah berjalan disiplin dan menjangkau penerima manfaat setiap hari, termasuk pada hari Sabtu. Hal ini menjadi bukti bahwa pengelolaan SPPG di daerah dapat menunjukkan komitmen tinggi bila koordinasi antara pemerintah daerah, keluarga penerima, dan SPPG berjalan baik.

Isyana mengatakan bahwa intervensi MBG memiliki peran strategis dalam penurunan stunting, terutama karena program itu menyasar ibu hamil, ibu menyusui, serta bayi. Kualitas makanan harus terus dijaga sejak proses pemilihan bahan baku hingga penyajiannya. Menurutnya, kebersihan dapur, ketepatan gramasi, serta perhatian terhadap penerima manfaat dengan alergi merupakan bagian dari standar mutu yang tidak boleh dinegosiasikan. Sementara itu, Peran keluarga, terutama ayah, juga sangat penting untuk memastikan ibu hamil mendapatkan dukungan penuh dalam pemenuhan gizi.

Dari sisi kebijakan dan regulasi nasional, Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengatakan bahwa pemerintah akan segera menerapkan skema insentif berbasis kualitas layanan untuk mendorong peningkatan mutu SPPG. SPPG akan diaudit oleh lembaga independen untuk menilai kualitas layanannya, mulai dari aspek fasilitas, kebersihan, hingga ketepatan pelaporan. Hasil audit kemudian akan menentukan kategori mutu seperti unggul, baik sekali, atau baik, dan kategori tersebut akan memengaruhi besaran insentif yang diterima.

Menurut Dadan, pendekatan insentif ini dilakukan agar SPPG tidak hanya terpacu untuk memenuhi target distribusi, tetapi juga termotivasi untuk meningkatkan standar kualitas makanan dan tata kelola. Kebijakan ini akan mulai diterapkan pada bulan depan dan diharapkan dapat meningkatkan akuntabilitas mitra.

Selain itu, Dadan mengatakan bahwa BGN juga memperbaiki mekanisme pencairan dana yang selama ini dinilai rawan penyalahgunaan. Seluruh transaksi kini dilakukan melalui sistem virtual account yang mewajibkan persetujuan dua pihak sebelum dana dicairkan. Mekanisme reimbursment ditiadakan agar tidak ada celah penyimpangan seperti yang terjadi pada kasus tertentu sebelumnya. Langkah digitalisasi ini akan memberikan transparansi penuh dan memperkuat sistem pengawasan di seluruh unit SPPG.

Dari keseluruhan kebijakan dan sinergi tersebut, terlihat bahwa pemerintah berkomitmen kuat memperkuat kerja sama dengan mitra layanan MBG melalui peningkatan koordinasi, penegakan standar mutu, serta pengawasan yang ketat. Pemerintah menilai bahwa keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan oleh jumlah makanan yang didistribusikan, tetapi oleh kualitas makanan, ketepatan sasaran, dan integritas lembaga yang mengelolanya.

Dengan pendekatan kolaboratif yang melibatkan BGN, kementerian terkait, pemerintah daerah, dan yayasan pengelola SPPG, distribusi makanan bergizi diharapkan semakin merata dan berkualitas. Pemerintah menegaskan bahwa program MBG dirancang sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia. Karena itu, peningkatan kualitas layanan menjadi prioritas sekaligus amanat moral agar masa depan anak-anak Indonesia dapat dibangun di atas fondasi kesehatan yang kuat.

*)Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan.

Continue Reading

Presiden Prabowo Tegaskan Penindakan Tegas Penebangan Hutan Pasca Bencana di Sumatera

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk mengambil langkah tegas terhadap praktik pembalakan liar yang masih terjadi di sejumlah wilayah Sumatera.

Penegasan tersebut disampaikan Presiden usai meninjau lokasi pengungsian korban bencana di Sumatera Utara

Dalam keterangannya kepada awak media, Prabowo menyatakan pemerintah telah mulai melakukan penertiban terhadap aktivitas penebangan hutan ilegal yang diduga memperparah dampak banjir di beberapa daerah Sumatera.

“Saya ingin semua aktivitas pembalakan liar itu dihentikan. Langkah penertiban sudah mulai dijalankan,” kata Prabowo.

Selain penegakan hukum, Presiden menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Ia mengingatkan bahwa perusakan alam, khususnya penebangan pohon tanpa kendali, tidak boleh lagi terjadi.

“Kita wajib merawat lingkungan dan alam kita. Penebangan pohon tanpa kendali tidak boleh lagi terjadi,” ujarnya menegaskan.

Prabowo juga mengakui adanya kendala alam yang menyebabkan penanganan bencana tidak sepenuhnya berjalan sesuai harapan.

Meski demikian, ia memastikan kondisi para pengungsi tetap terpantau dengan baik, termasuk di wilayah yang sulit dijangkau.

“Saya sudah mengecek langsung. Pelayanan kepada para pengungsi berjalan baik, kebutuhan pangan tercukupi, dan kondisi mereka relatif aman,” tutup Prabowo.

Di sisi lain, Ketua Umum DePA-RI TM Luthfi Yazid menilai respons penanganan bencana, termasuk penegakan hukum terhadap perusak lingkungan, masih perlu dipercepat.

Ia menegaskan bahwa pemerintah harus bersikap tanpa kompromi terhadap pelaku kejahatan lingkungan.

“Bencana ini bukan semata-mata faktor alam, tetapi buah dari kerakusan dan kerusakan lingkungan yang dibiarkan selama bertahun-tahun,” ujarnya.

Sementara itu, anggota Komisi IV DPR RI, Riyono menyatakan DPR telah membentuk Panitia Kerja (Panja) Alih Fungsi Lahan untuk mengusut penyebab banjir bandang dan longsor di tiga provinsi di Sumatera.

Ia menegaskan Komisi IV telah meminta pemerintah menghentikan seluruh aktivitas penebangan kayu, baik legal maupun ilegal.

“Komisi 4 tegas mengatakan kepada Pak Menteri: hentikan semua penebangan kayu, baik yang legal maupun yang ilegal,” kata Riyono.

Riyono menambahkan DPR tidak akan ragu menindak siapa pun yang terbukti bertanggung jawab atas kerusakan hutan.

“Komisi 4 tidak pandang bulu, mau bintang 1, bintang 2 atau bintang 3 dan 4 sekalipun. Semua yang terbukti harus ditindak tegas,” ujarnya.***

Presiden Prabowo Pastikan Kebutuhan Dasar Korban Bencana Sumatera Terpenuhi

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto memastikan ketersediaan pangan dan kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana di sejumlah wilayah Sumatera dalam kondisi aman dan tercukupi.

Presiden mengatakan dirinya telah melakukan pengecekan langsung terhadap stok pangan dan logistik bantuan di berbagai titik pengungsian.

Berdasarkan hasil peninjauan tersebut, Presiden meyakini pasokan kebutuhan dasar masyarakat, termasuk di wilayah yang terisolasi, dapat terpenuhi dengan baik.

“Saya cek terus di sana-sini. Suplai pangan cukup, di tempat yang paling terisolasi,” kata Presiden Prabowo.

Meski demikian, Kepala Negara mengakui masih terdapat kendala dalam proses pendistribusian bantuan, terutama akibat faktor cuaca yang memengaruhi kelancaran pengiriman logistik ke beberapa lokasi terdampak.

“Memang keadaan alam, ada keterlambatan sedikit, tapi saya cek semua tempat pengungsi. Kondisi mereka baik, pelayanan kepada mereka baik,” ujarnya.

Presiden Prabowo menegaskan pemerintah terus mempercepat pemulihan pascabencana, salah satunya dengan membuka kembali akses jalan darat yang terputus akibat banjir dan longsor. Upaya ini dinilai penting untuk memperlancar distribusi bantuan serta mendukung mobilitas masyarakat.

Ia mencontohkan wilayah Takengon, Aceh, yang sebelumnya sempat terisolasi. Presiden menyampaikan bahwa akses penghubung antarwilayah di daerah tersebut kini mulai pulih secara bertahap.

“Kita kerja terus untuk membuka jalan. Jalur Bener Meriah saya kira jembatan sudah berfungsi. Saya kemarin dari Takengon ke Bener Meriah, lalu ke Tamiang sudah tembus,” imbuh Presiden.

Sebelumnya, Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, menyatakan pemerintah pusat bergerak cepat untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana terpenuhi.

Ia menegaskan bahwa pemenuhan bahan makanan, air bersih, obat-obatan, dan pakaian menjadi prioritas utama sesuai arahan Presiden.

“Yang paling utama itu adalah bahan makanan, kemudian air bersih, obat-obatan, dan pakaian untuk keluarga. Itu paling pertama sekali,” kata Bima Arya.

Selain menyalurkan bantuan logistik, pemerintah juga mengerahkan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil untuk memberikan layanan pencetakan dokumen kependudukan bagi warga terdampak.

Pemerintah turut memastikan pencarian korban jiwa dilakukan secara maksimal dengan melibatkan BNPB, Basarnas, dan aparat gabungan.

Dari sisi ketahanan pangan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan penyaluran bantuan pangan kemanusiaan dilakukan secara cepat, termasuk ke daerah terisolasi menggunakan helikopter.

“Penyaluran ke daerah-daerah terisolir menggunakan helikopter. Tim kami sudah bergerak,” kata Mentan Amran.***

.

Presiden Prabowo Kawal Langsung Pemulihan Sosial dan Pendidikan Pascabencana di Sumatera

Oleh: Ardi Wirabuana )*

Presiden Prabowo Subianto mendorong percepatan normalisasi kehidupan masyarakat di wilayah Sumatera yang terdampak bencana banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. Pemerintah menempatkan pemulihan pascabencana sebagai prioritas utama agar masyarakat dapat segera kembali menjalani aktivitas sosial, ekonomi, dan pendidikan secara bertahap. Pendekatan ini mencerminkan komitmen negara untuk tidak hanya hadir pada fase darurat, tetapi juga memastikan proses pemulihan berlangsung menyeluruh dan berkelanjutan.

Kunjungan Presiden ke sejumlah posko pengungsian di Sumatera Utara dan Aceh menjadi wujud nyata kepedulian langsung kepala negara terhadap kondisi masyarakat terdampak. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa meskipun Presiden baru kembali dari lawatan luar negeri, ia segera turun ke lapangan untuk memastikan kondisi para pengungsi serta mendorong percepatan penanganan di wilayah terdampak. Kehadiran Presiden dinilai memberi dorongan moril sekaligus memastikan seluruh jajaran pemerintah bekerja secara terkoordinasi.

Dalam peninjauan ke Posko Pengungsian MAN 1 Langkat di Kabupaten Langkat, Presiden memastikan bahwa proses penanganan darurat telah berjalan dan kini memasuki tahap pemulihan. Pemerintah pusat membawa serta sejumlah menteri terkait guna memastikan kebijakan yang diambil dapat langsung diterjemahkan menjadi langkah teknis di lapangan.

Menurut Prasetyo Hadi, Presiden ingin memastikan bahwa proses penanganan, pemulihan, dan rehabilitasi berjalan cepat serta tidak terhambat oleh kendala koordinasi antarinstansi.

Rangkaian peninjauan juga dilanjutkan Presiden ke Provinsi Aceh, tepatnya di posko pengungsian SMPN 2 Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah. Pemerintah menilai bahwa kehadiran langsung di wilayah yang sempat terisolasi penting untuk melihat secara nyata kondisi masyarakat dan hambatan yang dihadapi dalam distribusi bantuan. Pemerintah pusat memastikan berbagai langkah pemulihan telah disiapkan, termasuk perbaikan jembatan, pembukaan akses jalan yang tertutup longsor, serta pemulihan jaringan listrik yang terdampak.

Dalam proses normalisasi kehidupan warga, pemerintah mengerahkan seluruh sumber daya yang dimiliki, termasuk dukungan transportasi udara untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit diakses. Langkah ini dipandang penting agar distribusi bantuan, pemulihan infrastruktur, dan layanan dasar dapat berjalan paralel, sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali pulih secara bertahap.

Seiring dengan mulai terkendalinya kebutuhan logistik dasar, pemerintah mengarahkan fokus pemulihan pada aspek yang lebih luas, termasuk pemulihan aktivitas pendidikan. Pemerintah menilai keberlanjutan proses belajar mengajar memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas psikologis anak-anak pascabencana. Dengan memastikan sekolah kembali beroperasi, anak-anak diharapkan dapat kembali ke rutinitas yang aman dan terstruktur, sehingga membantu proses pemulihan mental mereka.

Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, menegaskan bahwa normalisasi sekolah merupakan bagian integral dari pemulihan menyeluruh yang dilakukan pemerintah. Ia menyampaikan bahwa pemerintah pusat dan daerah terus bekerja keras agar sekolah-sekolah di wilayah terdampak dapat kembali berjalan secara normal. Langkah ini dilakukan untuk memastikan hak anak atas pendidikan tetap terpenuhi meskipun berada dalam situasi pascabencana.

Pemerintah juga memastikan bahwa tidak ada Sekolah Rakyat yang terdampak secara langsung, namun tetap memberikan asistensi kepada sekolah-sekolah yang mengalami gangguan akibat bencana. Tim khusus telah dikerahkan untuk membantu pengamanan fasilitas pendidikan serta mempercepat pemulihan lingkungan sekolah. Pemerintah menargetkan bahwa kendala di wilayah yang masih terisolasi dapat diatasi dalam waktu singkat dengan pengerahan seluruh kekuatan yang ada.

Di sisi lain, dukungan logistik bagi warga terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus diperkuat. Kementerian Sosial mencatat penyaluran bantuan bufferstock senilai sekitar Rp14,5 miliar, serta bantuan natura melalui dapur umum dan dapur mandiri senilai sekitar Rp4,5 miliar. Kehadiran dapur umum di puluhan titik di tiga provinsi tersebut memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi selama masa pemulihan.

Distribusi makanan siap saji dilakukan secara masif, dengan puluhan ribu bungkus makanan diproduksi setiap hari di berbagai titik layanan. Pemerintah daerah bersama kementerian terkait terus memperbarui jumlah dan lokasi dapur umum sesuai dengan perkembangan kondisi di lapangan, sehingga bantuan dapat menjangkau masyarakat secara tepat sasaran.

Pemulihan kehidupan warga pascabencana tidak dapat dilepaskan dari koordinasi lintas lembaga yang solid. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, BPBD, serta berbagai unsur terkait menjalankan koordinasi intensif untuk mempercepat pemulihan layanan dasar, termasuk pendidikan dan infrastruktur. Di wilayah yang masih menghadapi kendala akses, pembukaan jalur terus dilakukan agar distribusi bantuan dan layanan publik dapat berjalan lancar.

Data BNPB menunjukkan bahwa dampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sangat besar, dengan ratusan korban jiwa, ribuan korban luka, serta jutaan warga terdampak dan mengungsi. Kondisi ini menegaskan bahwa proses pemulihan membutuhkan langkah terukur dan berkelanjutan. Pemerintah memastikan bahwa upaya normalisasi kehidupan warga akan terus berjalan seiring dengan perbaikan infrastruktur, pemulihan lingkungan, dan perhatian khusus bagi kelompok rentan, sehingga masyarakat dapat bangkit dan menata kembali kehidupan mereka secara lebih kuat.

)* Penulis adalah pemerhati kebijakan publik

Presiden Prabowo Instruksikan Pemulihan Lingkungan di Wilayah Terdampak Bencana

Oleh: Innayah Putri )*

Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan pemulihan lingkungan dan kehidupan masyarakat di wilayah Sumatera Utara yang terdampak bencana banjir, banjir bandang, dan tanah longsor berjalan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Sejak awal terjadinya bencana hidrometeorologi yang dipicu badai siklon Senyar, Presiden secara aktif memantau perkembangan penanganan di lapangan dan memastikan seluruh elemen negara bergerak terkoordinasi. Pemerintah memandang pemulihan pascabencana bukan sekadar upaya mengatasi dampak sesaat, melainkan proses strategis untuk membangun kembali ketahanan lingkungan dan sosial masyarakat.

Dalam kunjungan langsung ke lokasi pengungsian di MAN 1 Tanjungpura, Kabupaten Langkat, Presiden menilai kondisi penanganan warga terdampak menunjukkan perbaikan dibandingkan situasi pada kunjungan sebelumnya. Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah dinilai berhasil memperbaiki tata kelola pengungsian, memastikan ketersediaan logistik, serta menjaga keamanan dan layanan dasar bagi masyarakat. Presiden memastikan pemantauan akan terus dilakukan secara berkala agar setiap kendala yang muncul dapat segera ditangani.

Pemulihan yang diarahkan Presiden tidak hanya berfokus pada kebutuhan darurat, tetapi juga mencakup perbaikan infrastruktur rusak, pemulihan akses air bersih dan sanitasi, serta pendampingan psikologis bagi warga terdampak, khususnya anak-anak dan kelompok rentan. Pemerintah menilai bahwa pemulihan lingkungan dan sosial harus berjalan beriringan, karena keduanya saling memengaruhi dalam membangun kembali kualitas hidup masyarakat pascabencana.

Berdasarkan data pemerintah daerah, bencana hidrometeorologi tersebut berdampak pada 18 kabupaten dan kota di Sumatera Utara, dengan Kabupaten Langkat menjadi salah satu wilayah yang paling parah terdampak. Kerusakan tanggul di sejumlah titik menyebabkan banjir meluas hingga merendam permukiman warga. Menyikapi kondisi tersebut, pemerintah pusat mengerahkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang untuk mempercepat perbaikan tanggul serta infrastruktur pengendali banjir. Presiden memastikan bahwa seluruh sumber daya negara, termasuk TNI dan Polri, dikerahkan untuk mendukung percepatan pemulihan fisik dan lingkungan.

Presiden juga menegaskan bahwa pengerahan aparat tidak hanya ditujukan untuk menjaga keamanan, tetapi juga membantu percepatan pembangunan, distribusi bantuan, serta menjangkau wilayah-wilayah yang sulit diakses akibat kerusakan infrastruktur. Pemerintah berupaya memastikan tidak ada warga yang terisolasi atau terabaikan dalam proses pemulihan.

Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, yang mendampingi Presiden dalam peninjauan tersebut, menekankan pentingnya solidaritas antar pemerintah daerah dalam menghadapi bencana berskala besar. Ia menilai bahwa tidak semua daerah terdampak memiliki kapasitas anggaran yang memadai, sehingga dukungan lintas daerah menjadi elemen penting dalam keberhasilan penanganan bencana. Pemerintah pusat, menurutnya, terus mendorong koordinasi dan gotong royong antardaerah agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara merata dan berkelanjutan.

Mendagri juga menyoroti tingginya kebutuhan dasar masyarakat terdampak yang sering kali luput dari perhatian, seperti pakaian layak, perlengkapan perempuan, serta kebutuhan bayi dan anak-anak. Pemerintah mencatat bahwa pemenuhan kebutuhan tersebut menjadi bagian penting dari pemulihan sosial, karena berkaitan langsung dengan martabat, kesehatan, dan kenyamanan warga selama masa pengungsian.

Upaya pemerintah dalam pemulihan pascabencana turut diperkuat oleh partisipasi sektor swasta dan lembaga kemanusiaan. Sun Life Indonesia, melalui kolaborasi dengan Save the Children, menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk mendukung tanggap darurat dan pemulihan di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Bantuan tersebut difokuskan pada penyediaan akses air bersih, distribusi logistik, serta dukungan transportasi ke wilayah yang masih terisolasi akibat terputusnya akses jalan, listrik, dan komunikasi.

Chief Executive Officer Save the Children Indonesia, Dessy Kurniwary Ukar, menilai dukungan tersebut memberikan dampak signifikan, terutama pada fase awal respons bencana ketika kebutuhan dasar dan akses menjadi tantangan terbesar. Menurutnya, kondisi geografis dan kerusakan infrastruktur menuntut dukungan tambahan agar bantuan dapat menjangkau keluarga-keluarga yang kehilangan tempat tinggal dan akses kebutuhan pokok secara cepat dan aman. Kolaborasi dengan sektor swasta dinilai memperkuat kapasitas organisasi kemanusiaan untuk bekerja sejalan dengan strategi pemerintah dalam pemulihan masyarakat terdampak.

Pemerintah memandang kolaborasi lintas sektor sebagai bagian penting dari strategi pemulihan nasional. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, lembaga kemanusiaan, dan sektor swasta dinilai mampu mempercepat proses pemulihan sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat dan lingkungan.

Dengan pendekatan yang terencana, terkoordinasi, dan berorientasi pada keberlanjutan, instruksi Presiden Prabowo dalam pemulihan lingkungan di wilayah terdampak bencana mencerminkan kepemimpinan yang responsif dan bertanggung jawab, serta komitmen negara untuk memastikan masyarakat dapat bangkit dan menata kembali kehidupan mereka dengan lebih kuat ke depan.

)* Penulis adalah pengamat sosial kemasyarakatan

Pemulihan Bencana Sumatera Dipercepat, Presiden Prabowo Kerahkan Semua Kekuatan

Jakarta – Pemerintah menegaskan komitmennya mempercepat penanganan dan pemulihan bencana banjir serta longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Presiden Prabowo Subianto menargetkan aktivitas masyarakat di wilayah terdampak dapat kembali normal dalam kurun waktu dua hingga tiga bulan ke depan.

Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12) Presiden Prabowo menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat karena penanganan bencana tidak dapat diselesaikan dalam hitungan hari. Meski demikian, Kepala Negara memastikan seluruh jajaran pemerintah terus bekerja secara maksimal di lapangan.

“Saya telah minta maaf, saya tidak punya tongkat Nabi Musa. Kita tidak bisa selesaikan dalam 3 hari, 4 hari, 5 hari. Mungkin 2-3 bulan aktivitas akan benar-benar normal,” ujar Prabowo.

Sebagai langkah konkret, Kepala Negara telah menginstruksikan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait serta Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo untuk segera membangun 2.000 unit hunian sementara dan hunian tetap bagi warga terdampak. Pemerintah juga mengerahkan dukungan logistik dan infrastruktur secara masif.

Sebanyak 1.000 alat berat telah dikirim ke lokasi bencana, termasuk ekskavator, tangki air bersih dan air minum, toilet portable, serta jembatan bailey. Presiden menyebutkan penambahan bantuan terus dilakukan untuk mempercepat pemulihan akses dan layanan dasar masyarakat.

“Kemarin kita juga tambahkan lagi alat berat, truk air minum, dan persediaan air bersih, serta toilet-toilet portable, 50 jembatan bailey sedang kita kerjakan. Tadi akses jalan darat sebagian besar telah pulih, memang ada wilayah-wilayah tertentu yang masih terisolasi,” kata Prabowo.

Selain jalur darat, pemerintah mengoptimalkan dukungan udara dengan mengerahkan 60 helikopter dan belasan pesawat yang beroperasi setiap hari untuk distribusi bantuan ke wilayah sulit dijangkau.

Di sektor kesehatan, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin melaporkan pemerintah menyiapkan 600 tenaga kesehatan dan perawat untuk wilayah terdampak. Dari jumlah tersebut, 450 dokter akan diberangkatkan pada tahap awal.

“Kalau berkenan, diangkutnya pakai Hercules saja biar mereka merasakan Hercules gitu, Pak. Kalau Bapak berkenan, itu 450-nya bisa kita kumpulkan dan Bapak foto-foto dan flag off,” tutur Budi.

Ia menjelaskan, para relawan berasal dari berbagai perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, dan profesi, mulai dari dokter magang hingga spesialis. Para tenaga kesehatan akan dirotasi setiap dua minggu guna menjaga kondisi fisik mereka selama bertugas. ****

Presiden Prabowo Tegaskan Indonesia Mampu Tangani Bencana Sumatra, Tolak Bantuan Asing

Jakarta – Pemerintah menegaskan kesiapan dan kemampuan nasional dalam menangani bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra. Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa meskipun banyak pemimpin negara sahabat menawarkan bantuan, Indonesia memilih mengandalkan kekuatan sendiri karena kapasitas penanganan bencana dinilai memadai.

“Saya ditelepon banyak pimpinan kepala negara ingin kirim bantuan, saya bilang, ‘Terima kasih, konsen Anda, kami mampu. Indonesia mampu mengatasi ini,’” kata Prabowo saat memimpin sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12/2025).

Presiden menekankan bahwa negara memiliki perangkat yang kuat dan terlatih, mulai dari TNI, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Basarnas. Seluruh unsur tersebut bergerak terpadu dalam operasi kemanusiaan, termasuk pengerahan puluhan helikopter dan belasan pesawat untuk menjangkau daerah terdampak yang sulit diakses.

“TNI kuat, Polri kuat, BNPB kuat, Basarnas kuat. Mampu kita kerahkan puluhan helikopter dalam waktu singkat, belasan pesawat terbang. Ada tempat-tempat yang tiap hari BBM diantar dengan pesawat terbang, dengan Hercules. Ini hanya bisa oleh negara yang kuat,” tegas Prabowo.

Di lapangan, pemerintah pusat dan daerah terus membuka akses darat menuju desa-desa yang masih terisolasi akibat banjir dan longsor. Sambil menunggu jalur darat pulih, helikopter TNI AU dikerahkan untuk memastikan bantuan logistik, obat-obatan, dan kebutuhan pokok tetap sampai kepada warga. Presiden menyebut kehadiran aparat di tengah masyarakat sebagai cerminan negara yang bekerja.

“Ini adalah suatu hal yang perlu kita banggakan. Saya terus terang saja, saya sebagai Presiden Republik Indonesia, saya bangga lihat aparat-aparat kita di setiap tingkatan berada di tengah rakyat,” ujarnya.

Sebagai bentuk komitmen pengawasan langsung, Prabowo berencana rutin mengunjungi wilayah terdampak. “Saya merencanakan minimal satu minggu sekali saya lihat daerah itu untuk memantau perkembangan,” kata dia.

Dari sisi legislatif, Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang menegaskan negara tidak akan membiarkan warga menghadapi bencana sendirian. “Pemerintah pasti hadir, tetapi mohon kesabaran. Curah hujan masih sangat tinggi,” ujar Marwan saat meninjau pengungsian di Deli Serdang. Ia juga menyoroti pentingnya evaluasi tata kelola lingkungan pascabencana agar kejadian serupa tidak terulang.

Dengan koordinasi lintas lembaga, kehadiran langsung pimpinan negara, serta dukungan penuh aparat dan relawan, pemerintah optimistis penanganan dan pemulihan bencana di Sumatra dapat berjalan cepat, tepat, dan berkelanjutan.

Mengawal Ketegasan Presiden, Rantai Solidaritas Menjaga Sumatera

Oleh: Gendhis Sathiti *)

Gelombang banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah menguji daya lenting kita sebagai bangsa. Di tengah kehilangan dan kelelahan yang panjang, terlihat satu hal yang patut dicatat, kinerja bersama yang saling menguatkan antara relawan, warga, dan perangkat negara. Di lapangan, rantai solidaritas bekerja. Warga menjadi penolong pertama, relawan menambal celah layanan, sementara institusi negara menyalakan mesin penanganan darurat, dari evakuasi, penyediaan logistik, hingga perbaikan konektivitas. Kerja tiga serangkai inilah yang mengubah bencana dari sekadar peristiwa alam menjadi momentum pemulihan sosial, ekologis yang lebih dewasa.

Presiden Prabowo Subianto menempatkan persoalan pada muaranya, tata kelola lingkungan. Ia menegaskan bahwa perusakan lingkungan akibat aktivitas ilegal memperparah dampak bencana, mulai dari illegal logging hingga pertambangan liar. Penegakan hukum tidak boleh ragu. Presiden juga meminta Panglima TNI dan Kapolri menindak tegas oknum yang melindungi jejaring penyelundupan sumber daya, sembari mengingatkan bahwa regulasi yang tidak menguntungkan rakyat harus berani dirombak. Di sini, orientasi Pasal 33 UUD 1945 ditegaskan kembali, cabang produksi penting dan kekayaan alam harus berada dalam kendali negara, bukan korporasi yang mengalahkan kepentingan publik. Arah kebijakannya menata hulu, agar hilir bencana tidak terus mengulang luka yang sama.

Di lapangan, data resmi BNPB per 15 Desember 2025 menunjukkan skala kerusakan yang besar, lebih dari 158 ribu rumah rusak, 1.022 jiwa meninggal, ratusan ribu pengungsi, 206 orang hilang, dan sekitar 7.000 luka-luka. Infrastruktur umum, fasilitas kesehatan, pendidikan, rumah ibadah, perkantoran, hingga jembatan ikut terdampak. Namun di balik angka-angka itu, ada ribuan tindakan kecil yang menyelamatkan nyawa, rakit darurat yang dibuat warga, dapur umum komunitas, hingga tenaga kesehatan relawan yang bergerak dari tenda ke tenda. Pemerintah pusat memperkuat sendi ini, dimana Rp268 miliar dana hasil efisiensi dialokasikan untuk daerah bencana; TNI mengerahkan batalyon untuk percepatan pembangunan jembatan Bailey, membuka akses logistik dan layanan dasar; serta kebijakan penghapusan KUR bagi pelaku usaha terdampak di tiga provinsi sebagai bantalan pemulihan ekonomi keluarga.

Satu simpul yang penting dari sorotan adalah pendidikan. Mendikdasmen Prof. Abdul Mu’ti melaporkan 3.274 satuan pendidikan terdampak, dengan 6.431 ruang kelas dan 3.489 sarana–prasarana rusak. Responsnya bertingkat, tenda kelas darurat, 15 ribu school kit, 7.500 bingkisan anak, 2.000 sepatu, 700 family kit, dan 65 ribu eksemplar buku; hibah tunai dari anggaran eksisting dan revisi; serta tunjangan khusus bagi 16.500 guru terdampak. Di sisi pedagogi, kurikulum adaptif berbasis krisis diterapkan: pada fase tanggap darurat (0–3 bulan) fokus ke literasi–numerasi, kesehatan dan keselamatan diri, serta dukungan psikososial; fase pemulihan dini (3–12 bulan) mendorong pembelajaran fleksibel dan asesmen berbasis portofolio; fase lanjutan (1–3 tahun) mengintegrasikan pendidikan kebencanaan dan sistem monitoring evaluasi pendidikan darurat. Ini bukan sekadar mengganti buku; ini menata kembali pengalaman belajar agar anak-anak bencana tidak tertinggal lebih jauh.

Presiden juga mengingatkan etika kehadiran di lokasi bencana. Ia menolak “wisata bencana”—kunjungan yang mengutamakan pose ketimbang solusi. Standar moralnya konkret dimana setiap kunjungan harus menghasilkan tindakan, air bersih untuk pengungsi, BBM untuk daerah terisolasi, jembatan darurat untuk akses obat dan pangan. Pesan ini penting karena menjaga simpul kepercayaan antara warga yang terluka dan negara yang menjanjikan pulih. Di sinilah kerja relawan, warga, dan negara bertemu, relawan memetakan kebutuhan mikro, warga memastikan keberterimaan sosial dan gotong royong, sedangkan negara mengeksekusi intervensi makro yang butuh wewenang dan sumber daya besar.

Apresiasi juga patut diberikan pada keberanian memadukan pemulihan sosial dan penataan ekologis. Penegasan penertiban perusak lingkungan harus diikuti peta jalan rehabilitasi berbasis DAS, reforestasi, penguatan tutupan lahan, early warning system komunitas, serta contingency planning lintas kabupaten/kota. Komponen ini adalah jembatan dari darurat ke ketahanan. Ketika hulu dipulihkan dan tata kelola diperbaiki, relawan dan warga tidak lagi berjibaku pada titik yang sama setiap musim hujan; energi publik bisa dipindahkan ke penguatan mata pencaharian, perbaikan gizi, dan literasi kebencanaan.

Kerja bersama ini pada akhirnya bertumpu pada kepercayaan. Di lapangan, kita melihatnya, warga membuka rumah sebagai pos singgah; relawan menembus medan untuk distribusi; TNI/Polri menjaga keamanan sekaligus membantu logistik; kementerian/lembaga menyusun kebijakan yang responsive dan accountable. Ketika masing-masing unsur melakukan bagiannya, rantai penyintas menjadi rantai kemajuan. Di sinilah apresiasi menemukan makna, bukan pujian kosong, melainkan pengakuan atas ekosistem yang bergerak, dari tanggul darurat hingga reformasi kebijakan.

Bencana selalu menyisakan duka. Tetapi dari cara kita merespons, kita bisa menulis bab baru, Sumatera yang pulih dengan lebih hijau, sekolah-sekolah yang kembali hidup, dan warga yang lebih berdaya. Untuk itu, mari jaga kemitraan yang sudah terbangun, relawan yang sigap, warga yang tangguh, negara yang hadir. Karena hanya dengan kinerja bersama yang konsisten, hujan deras tak lagi harus berujung duka, dan setiap musim basah menjadi musim belajar untuk menjadi bangsa yang lebih siaga, adil, dan lestari.

*) pemerhati isu lingkungan

Penanganan Terpadu Pemerintah Dorong Pemulihan Sumatera

Oleh : Malik Abdullah )*

Kecepatan pemerintah dalam menangani bencana di sejumlah wilayah Sumatera menjadi penegasan kuat bahwa negara hadir secara nyata di saat masyarakat menghadapi situasi paling sulit. Penanganan bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tidak hanya dilakukan dalam fase tanggap darurat, tetapi diarahkan sejak awal menuju pemulihan yang terukur, terencana, dan berkelanjutan. Pendekatan ini menunjukkan perubahan pola penanganan bencana yang lebih sistematis, berbasis kesiapan fiskal, serta berpihak pada pemulihan kehidupan warga terdampak.

Dalam berbagai kesempatan, Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa pemerintah memiliki kemampuan anggaran yang memadai untuk membiayai penanganan dan pemulihan pascabencana. Ketersediaan anggaran tersebut bersumber dari kebijakan efisiensi pengelolaan keuangan negara yang diterapkan sejak awal 2025. Efisiensi ini bukan sekadar penghematan administratif, melainkan strategi memperkuat daya tahan fiskal agar negara memiliki ruang gerak cepat saat menghadapi kondisi darurat, termasuk bencana alam berskala besar.

Penegasan tersebut menjadi penting di tengah kerusakan infrastruktur dan permukiman yang luas di wilayah terdampak. Pemerintah memandang bahwa prinsip efisiensi bukanlah kebijakan populis jangka pendek, melainkan amanat konstitusi yang menekankan pengelolaan perekonomian nasional secara berkeadilan dan berorientasi pada kemakmuran rakyat. Dengan efisiensi, kebocoran anggaran dapat ditekan, ruang penyalahgunaan dipersempit, dan dana publik benar-benar dialokasikan untuk kebutuhan paling mendesak, seperti pemulihan pascabencana.

Keseriusan pemerintah juga tercermin dari perhitungan kebutuhan pemulihan yang disusun secara komprehensif. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyampaikan bahwa estimasi biaya pemulihan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai Rp51,82 triliun. Angka ini mencerminkan skala kerusakan yang luas, mulai dari puluhan ribu rumah warga hingga fasilitas publik strategis seperti jalan, jembatan, sekolah, rumah ibadah, rumah sakit, puskesmas, serta sektor pertanian dan peternakan yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat setempat.

Di Aceh saja, kebutuhan anggaran pemulihan diperkirakan mencapai lebih dari Rp25 triliun, seiring rusaknya puluhan ribu rumah dengan tingkat kerusakan beragam. Data ini menjadi dasar bagi pemerintah untuk menyusun langkah pemulihan yang tidak bersifat tambal sulam, melainkan menyasar perbaikan menyeluruh agar kualitas hidup masyarakat dapat kembali, bahkan lebih baik dibandingkan sebelum bencana terjadi.

Arah kebijakan tersebut ditegaskan melalui perintah langsung agar pembangunan hunian sementara dan hunian tetap dipercepat. Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan seluruh jajaran kabinet untuk memastikan pembangunan hunian berjalan tanpa hambatan birokrasi, dengan target waktu yang jelas. Pembangunan fisik hunian ditempatkan sebagai prioritas utama, sejalan dengan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi agar proses pemulihan berlangsung manusiawi dan bermartabat.

Arahan ini diperkuat oleh Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, yang menegaskan bahwa penanganan bencana harus berjalan paralel antara pembangunan hunian dan pemenuhan kebutuhan dasar, seperti air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, dan logistik. Pendekatan paralel ini dinilai krusial agar masyarakat terdampak tidak terjebak terlalu lama dalam situasi darurat yang berpotensi menimbulkan masalah sosial lanjutan.

Di tingkat operasional, pemerintah mengerahkan tambahan alat berat, memperkuat distribusi air bersih, serta menyediakan toilet portabel di lokasi-lokasi dengan dampak terparah. Langkah ini menunjukkan perhatian terhadap aspek sanitasi dan kesehatan lingkungan yang kerap menjadi tantangan besar pascabencana. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto juga menjelaskan bahwa pembangunan hunian sementara akan melibatkan unsur TNI dan Polri untuk mempercepat pengerjaan, dengan model hunian tipe 36 beranggaran sekitar Rp30 juta per unit dan target penyelesaian dalam enam bulan.

Selain pembangunan hunian, pemerintah menyiapkan skema relokasi bagi warga yang tinggal di zona rawan dan tidak lagi memungkinkan untuk dihuni. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa tanah negara yang telah diinventarisasi akan dimanfaatkan sebagai lokasi relokasi, sehingga proses pemindahan warga dapat berjalan cepat tanpa terkendala pembebasan lahan. Skema ini sekaligus menjadi upaya mitigasi jangka panjang agar risiko bencana serupa dapat diminimalkan.

Dalam konteks rehabilitasi rumah rusak, pemerintah menyetujui anggaran renovasi hingga Rp60 juta per unit, dengan perhitungan yang disesuaikan terhadap kondisi inflasi dan kenaikan harga material. Kebijakan ini menunjukkan keberpihakan negara agar masyarakat terdampak tidak menanggung beban tambahan dalam membangun kembali kehidupan mereka.

Keseluruhan langkah tersebut mencerminkan pendekatan negara yang tegas, cepat, dan terkoordinasi dalam menangani bencana di Sumatera. Dengan dukungan fiskal yang kuat, koordinasi lintas lembaga, serta kepemimpinan yang menekankan kerja nyata, pemerintah menunjukkan bahwa penanganan bencana bukan sekadar respons darurat, melainkan investasi kemanusiaan dan pembangunan jangka panjang demi memastikan masyarakat dapat bangkit dengan lebih tangguh.

Pada akhirnya, percepatan penanganan bencana di Sumatera memperlihatkan arah kebijakan pemerintah yang tidak reaktif, melainkan antisipatif dan berorientasi pada pemulihan menyeluruh. Kehadiran negara tidak berhenti pada penyaluran bantuan awal, tetapi berlanjut hingga fase rehabilitasi dan rekonstruksi yang memastikan masyarakat terdampak dapat kembali menjalani kehidupan secara layak, aman, dan produktif. Konsistensi kebijakan ini sekaligus memperkuat kepercayaan publik bahwa setiap rupiah anggaran negara dikelola untuk kepentingan rakyat, terutama dalam situasi krisis.

)* Penulis merupakan Pengamat Isu Strategis