MBG 3B dan Strategi Memperkuat Fondasi Generasi Sehat

Oleh: Alexander Royce*)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menunjukkan arah kebijakan yang semakin matang dan terukur sebagai bagian dari strategi besar pemerintah dalam membangun fondasi generasi sehat Indonesia. Di tengah tantangan ketahanan pangan, inflasi harga bahan pokok, serta persoalan gizi yang masih dihadapi sebagian masyarakat, kebijakan MBG dengan fokus pada kelompok 3B—ibu hamil, ibu menyusui, dan balita—menjadi langkah strategis yang tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga preventif dan visioner. Pemerintah tidak sekadar membagikan makanan, tetapi sedang membangun ekosistem kesehatan publik yang berkelanjutan, berbasis pencegahan, dan berdampak jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Anggota DPR RI, Edy Wuryanto menegaskan bahwa kebijakan MBG 2026 yang memprioritaskan kelompok 3B merupakan pilihan yang sangat rasional dan berbasis kebutuhan nyata masyarakat. Menurutnya, fase awal kehidupan manusia adalah periode paling krusial dalam menentukan kualitas kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan. Dengan memastikan ibu hamil, ibu menyusui, dan balita memperoleh asupan gizi yang cukup, negara sedang melakukan investasi sosial yang sangat fundamental.

Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan UMKM lokal dalam rantai pasok MBG agar manfaat program ini tidak hanya dirasakan dari sisi kesehatan, tetapi juga dari sisi ekonomi kerakyatan. Pola ini menunjukkan bahwa MBG tidak berdiri sendiri sebagai program sosial, melainkan menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi inklusif yang memperkuat basis produksi lokal, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan ekonomi daerah secara simultan.

Pernyataan tersebut sejalan dengan pandangan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Sony Sonjaya, yang menegaskan bahwa kelompok 3B memang menjadi sasaran utama MBG karena memiliki tingkat kerentanan gizi paling tinggi. Pendekatan yang diambil pemerintah melalui BGN menunjukkan adanya pergeseran paradigma kebijakan publik, dari pola reaktif menuju pendekatan preventif dan promotif. Negara tidak lagi menunggu masyarakat jatuh dalam kondisi gizi buruk atau stunting, tetapi hadir lebih awal untuk memutus mata rantai masalah kesehatan sejak hulu.

Dalam konteks pembangunan nasional, kebijakan ini menjadi bagian dari strategi besar penguatan kualitas SDM yang berkelanjutan. Ketika generasi muda tumbuh sehat, produktif, dan cerdas, maka daya saing bangsa juga meningkat. Inilah logika pembangunan jangka panjang yang sedang dibangun pemerintah: menyiapkan manusia Indonesia unggul sebagai fondasi utama kemajuan bangsa.

Dari sisi implementasi daerah, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, Anggia Murni, mencatat ribuan warga kelompok 3B telah menerima layanan MBG. Fakta ini menunjukkan bahwa program tersebut tidak berhenti di tataran kebijakan, tetapi benar-benar hadir dalam praktik pelayanan publik. Implementasi di daerah menjadi bukti bahwa koordinasi pusat dan daerah berjalan efektif, serta menunjukkan adanya keseriusan pemerintah dalam memastikan program prioritas nasional sampai ke tingkat akar rumput. Keberhasilan distribusi layanan MBG juga mencerminkan penguatan sistem pelayanan kesehatan primer yang semakin adaptif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Dalam konteks desentralisasi, capaian ini memperlihatkan bahwa kebijakan nasional dapat diterjemahkan secara konkret melalui tata kelola daerah yang baik dan kolaboratif.

Kebijakan MBG 3B juga relevan dengan agenda nasional penurunan stunting, penguatan ketahanan pangan keluarga, serta peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak. Pemerintah secara konsisten mendorong sinergi lintas sektor antara kesehatan, pangan, pendidikan, dan ekonomi untuk memastikan dampak kebijakan bersifat holistik. Program ini tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan berbagai kebijakan strategis lainnya seperti penguatan pangan lokal, stabilisasi harga bahan pokok, serta pemberdayaan UMKM. Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, pendekatan terintegrasi seperti ini menjadi bukti bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi makro, tetapi juga pada kualitas hidup masyarakat secara nyata.

Lebih jauh, MBG 3B mencerminkan wajah negara yang hadir secara konkret dalam kehidupan rakyat. Negara tidak hanya hadir melalui regulasi, tetapi melalui layanan langsung yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Pendekatan ini memperkuat kepercayaan publik terhadap pemerintah, karena masyarakat merasakan langsung manfaat kebijakan. Kepercayaan publik inilah yang menjadi modal sosial penting dalam menjaga stabilitas nasional dan memperkuat kohesi sosial. Dalam perspektif pembangunan, stabilitas sosial yang dibangun melalui kebijakan kesejahteraan adalah fondasi utama bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dengan desain kebijakan yang terarah, implementasi yang nyata, serta dukungan lintas sektor, MBG 3B bukan sekadar program bantuan sosial, melainkan strategi pembangunan manusia yang komprehensif. Pemerintah sedang membangun fondasi generasi sehat yang akan menjadi tulang punggung Indonesia di masa depan. Investasi pada gizi ibu dan anak hari ini adalah investasi pada daya saing bangsa esok hari. Dengan langkah-langkah strategis ini, arah pembangunan nasional semakin menunjukkan keberpihakan yang kuat pada kualitas manusia sebagai pusat pembangunan. Pemerintah tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membangun infrastruktur manusia, yang menjadi kunci utama menuju Indonesia yang maju, kuat, dan berdaya saing global.

*) Penulis merupakan Pengamat Sosial

MBG 3B Didorong untuk Perkuat Gizi 1000 Hari Pertama Kehidupan

Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus diperkuat melalui pendekatan 3B sebagai strategi percepatan pemenuhan gizi pada fase 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Periode ini dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, merupakan fase krusial dalam pembentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

Sekretaris Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional (BGN), Ermia Sofiyessi menjelaskan pihaknya terus memperluas sasaran penerima program MBG untuk usia 6-59 bulan sesuai petunjuk teknis Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 tentang tata kelola penyelenggaraan program tersebut.

“Batasan usia kelompok anak balita juga sudah ditambah. Kalau mengikuti Perpres 115 Tahun 2025, anak 6-59 bulan itu menerima. Ini menjadi tantangan karena itu usia yang cukup kritis bagi anak-anak untuk menerima makanan,” katanya.

Pendekatan MBG 3B menitikberatkan pada prinsip Bergizi, Beragam, dan Berimbang. Skema ini dirancang untuk memastikan asupan nutrisi ibu hamil, ibu menyusui, serta balita terpenuhi secara optimal, baik dari sisi protein, energi, vitamin, maupun mineral esensial.

“Dengan intervensi yang tepat pada fase awal kehidupan, risiko stunting, wasting, dan gangguan perkembangan kognitif dapat ditekan secara signifikan,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Tata Kelola Pemenuhan Gizi BGN, Prof Sitti Aida Adha Taridala mengatakan masalah kekurangan gizi pada anak masih menjadi tantangan nasional. Penguatan MBG 3B tidak hanya berorientasi pada distribusi makanan, tetapi juga edukasi gizi, pengawasan kualitas bahan pangan, serta sinergi lintas sektor antara pemerintah pusat, daerah, tenaga kesehatan, dan pemangku kepentingan lainnya.

“Kekurangan gizi pada anak masih menjadi tantangan nasional. Karena itu, perlu sinergi lintas sektor agar tercipta intervensi yang terintegrasi dan berkelanjutan” ujarnya.

Selain itu, program ini juga mendorong pemberdayaan ekonomi lokal melalui pelibatan UMKM pangan dan pemanfaatan bahan baku domestik. Strategi tersebut tidak hanya meningkatkan kualitas konsumsi masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional.

“MBG 3B menjadi instrumen kebijakan yang berdampak ganda yaitu meningkatkan kesehatan generasi mendatang sekaligus menggerakkan roda perekonomian daerah,” jelasnya.

Dengan komitmen bersama dan pengawasan yang berkelanjutan, MBG 3B diharapkan menjadi tonggak penting dalam memperkuat pembangunan SDM Indonesia sejak awal kehidupan.

Pemerintah Pastikan MBG 3B Prioritaskan Ibu Hamil, Menyusui, dan Balita Non‑PAUD

Jakarta – Pemerintah Republik Indonesia menegaskan bahwa pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan memprioritaskan kelompok 3B yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non‑PAUD sebagai sasaran utama sebelum memperluas cakupan ke sekolah atau peserta didik lainnya.

Prioritas ini menjadi bagian dari strategi nasional dalam pencegahan stunting dan peningkatan kualitas kesehatan generasi muda sejak masa seribu hari pertama kehidupan. Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sony Sonjaya, menegaskan pentingnya fokus awal tersebut dalam konferensi pers di Jakarta

“Harus saya tekankan di sini karena ada perbedaan pemahaman. Pada saat SPPG baru dibangun, bahkan ada mitra yang aktif langsung membuat kerja sama dengan sekolah. Seharusnya, ketika dapur baru dibangun oleh mitra, yang pertama dicari adalah kelompok rentan ini (balita, ibu hamil, dan ibu menyusui). Ini yang diutamakan,” ujarnya.

Menurut Sony, kebijakan tersebut membedakan Indonesia dari praktik di banyak negara lain yang hanya mengimplementasikan program makan sekolah (school meal).

“Indonesia bukan sekadar school meal, tetapi school meal plus karena memikirkan yang 3B,” tambahnya.

Pemerintah juga melakukan adaptasi pelaksanaan di berbagai daerah sesuai kondisi lokal. Di Bali, misalnya, Koordinator BGN Provinsi Menegaskan bahwa meskipun masa libur panjang berlangsung, distribusi MBG tetap fokus pada penerima manfaat 3B.

“Untuk MBG itu tetap berjalan, tapi berfokus pada penerima manfaat 3B bumil, busui, dan balita saat libur panjang kemarin sampai saat ini,” kata Koordinator BGN Bali, Risca Christina saat ditemui di Jakarta.

Kebijakan prioritas ini juga selaras dengan upaya lintas lembaga pemerintah untuk memperkuat pemenuhan gizi dan kesehatan masyarakat. Menurut data terbaru, MBG telah menjangkau puluhan juta penerima manfaat sejak peluncurannya, termasuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di berbagai wilayah Indonesia.

Program MBG bagi kelompok 3B bukan sekadar pemberian makanan bergizi, tetapi merupakan investasi strategis dalam kualitas sumber daya manusia Indonesia guna mendukung Indonesia Emas 2045. Pemerintah terus memperkuat koordinasi dan implementasi kebijakan agar distribusi makanan bergizi tepat sasaran, aman, dan efektif.

Bank Indonesia Optimistis Inflasi 2026 Terkendali, Ramadan Tetap Kondusif

Oleh Aulia Rahmah )*

Menjaga stabilitas inflasi di tengah momentum Ramadan merupakan langkah strategis pemerintah dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional. Ramadan dan Idul Fitri selalu identik dengan peningkatan konsumsi masyarakat, terutama pada sektor pangan dan kebutuhan pokok. Dalam situasi seperti ini, konsistensi kebijakan dan koordinasi antarlembaga menjadi kunci agar lonjakan permintaan tidak berujung pada kenaikan harga yang membebani daya beli masyarakat. Komitmen pemerintah dan otoritas moneter untuk memastikan inflasi tetap terkendali menjadi fondasi penting bagi ketenangan sosial dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.

Dari sisi kebijakan moneter, Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S Budiman menegaskan bahwa inflasi sepanjang 2026 diproyeksikan tetap terjaga dan bahkan berada di bawah level 3 persen. Optimisme ini mencerminkan keyakinan bahwa fundamental ekonomi nasional masih solid. Meski demikian, terdapat faktor teknis yang perlu dicermati, yakni efek basis dari kebijakan diskon tarif listrik pada Januari dan Februari 2025 yang berdampak pada perhitungan inflasi tahunan di awal 2026. Dampak tersebut membuat inflasi Januari berada sedikit di atas sasaran, namun sifatnya sementara dan tidak mencerminkan tekanan permintaan yang berlebihan.

Pemahaman terhadap efek basis ini penting agar masyarakat tidak keliru menafsirkan angka inflasi jangka pendek. Kenaikan yang terjadi lebih disebabkan oleh faktor administered prices, bukan karena ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran. Oleh karena itu, kebijakan moneter tetap berada pada jalur yang hati-hati dan terukur, dengan fokus menjaga ekspektasi inflasi agar tetap terkendali. Di bulan Ramadan, stabilitas ini menjadi sangat krusial karena menyangkut kebutuhan sehari-hari masyarakat luas.

Dari sisi pasokan, kondisi pangan nasional relatif mendukung upaya pengendalian inflasi. Sejumlah komoditas hortikultura strategis seperti bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit tengah memasuki masa panen. Situasi ini membantu menjaga ketersediaan pasokan di pasar sekaligus meredam potensi lonjakan harga. Bank Indonesia juga secara aktif melakukan pemantauan harga mingguan untuk memastikan pergerakan harga tetap berada dalam kisaran proyeksi. Langkah ini menunjukkan pendekatan yang proaktif, bukan sekadar reaktif, dalam menjaga stabilitas harga selama periode sensitif seperti Ramadan.

Penguatan koordinasi juga menjadi elemen penting dalam strategi pengendalian inflasi. Bank Indonesia terus memperkuat sinergi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama kementerian serta pemerintah daerah. Selain itu, peluncuran Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera menjadi bukti keseriusan dalam memperkuat ketahanan pangan, terutama dari sisi peningkatan pasokan dan kelancaran distribusi. Implementasi program ini di berbagai daerah diharapkan mampu menutup celah distribusi yang kerap menjadi pemicu kenaikan harga di momen tertentu.

Di tingkat daerah, komitmen menjaga inflasi juga terlihat jelas. Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kalimantan Selatan, Miftahul Chair, menyampaikan bahwa inflasi di wilayah tersebut masih berada dalam kondisi terkendali. Komoditas strategis seperti bawang merah, cabai rawit, ayam, dan daging sapi dinilai relatif stabil dan tidak menunjukkan lonjakan signifikan. Pemerintah daerah terus menyiapkan langkah antisipatif selama Ramadan untuk memastikan ketersediaan bahan pokok tetap terjaga. Upaya ini penting agar daya beli masyarakat tidak tergerus oleh kenaikan harga yang tidak perlu.

Pengendalian inflasi di daerah tidak bisa dilepaskan dari peran aktif pemerintah provinsi dan kabupaten/kota. Operasi pasar, pengawasan distribusi, serta koordinasi dengan pelaku usaha menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas harga. Ketika kebijakan pusat dan daerah berjalan seiring, potensi gejolak harga dapat ditekan secara lebih efektif. Hal ini sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat bahwa negara hadir dalam menjamin kebutuhan dasar mereka.

Dari sisi legislatif, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun menegaskan bahwa pengendalian inflasi dan perlindungan daya beli masyarakat harus menjadi prioritas utama kebijakan ekonomi nasional. Menurutnya, peningkatan konsumsi saat Ramadan merupakan pola yang berulang setiap tahun, sehingga negara harus hadir lebih awal dengan instrumen kebijakan yang tepat. Sebab, stabilitas harga menyangkut ketenangan masyarakat dalam menjalankan ibadah dan menyambut hari raya.

Stabilitas inflasi juga memiliki implikasi luas terhadap perputaran ekonomi daerah. Ketika harga terkendali, aktivitas usaha dapat berjalan lebih lancar dan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi lokal. Pedagang, petani, dan pelaku usaha kecil menengah dapat merencanakan kegiatan usahanya dengan lebih pasti. Pada akhirnya, kondisi ini menciptakan siklus ekonomi yang sehat dan inklusif, di mana manfaat pertumbuhan dapat dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat.

Dengan berbagai langkah yang telah ditempuh, komitmen menjaga inflasi di tengah Ramadan menunjukkan bahwa pengelolaan ekonomi nasional berjalan dengan perencanaan yang matang. Tantangan memang selalu ada, namun melalui koordinasi yang kuat, kebijakan yang antisipatif, dan komunikasi yang jelas kepada publik, stabilitas harga dapat terus dijaga. Ramadan harus menjadi momentum penguatan solidaritas sosial dan ketenangan batin, bukan kekhawatiran akan melonjaknya harga kebutuhan pokok. Oleh karena itu, komitmen pemerintah dalam menjaga inflasi ini menjadi bagian integral dari upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

)* penulis merupakan pengamat kebijakan ekonomi

Inflasi Terkendali, Kepercayaan Publik Menguat di Bulan Suci

Oleh: Nadira Citra Maheswari)*

Inflasi yang terkendali pada bulan Ramadan menjadi fondasi penting bagi stabilitas ekonomi nasional sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap arah kebijakan pemerintah. Ramadan identik dengan peningkatan konsumsi rumah tangga, terutama pada komoditas pangan, sandang, serta kebutuhan penunjang ibadah dan tradisi sosial. Dalam kondisi normal, lonjakan permintaan tersebut berpotensi memicu tekanan harga. Namun ketika inflasi tetap berada dalam rentang yang terjaga, hal itu mencerminkan efektivitas koordinasi kebijakan, kelancaran distribusi, serta kesiapan pasokan di berbagai daerah.

Stabilitas harga selama Ramadan berdampak langsung pada daya beli masyarakat dan membentuk persepsi kolektif mengenai ketahanan ekonomi nasional. Inflasi yang terkendali memberi ruang bagi masyarakat untuk menjalankan ibadah dengan tenang tanpa dibayangi kekhawatiran terhadap lonjakan harga bahan pokok. Kondisi ini menunjukkan bahwa instrumen pengendalian harga berjalan optimal, mulai dari penguatan cadangan pangan, operasi pasar, hingga pengawasan distribusi di sentra perdagangan.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman mengatakan inflasi pada periode Ramadan dan Lebaran tetap terkendali. Aida menegaskan pengendalian inflasi akan terus diperkuat melalui koordinasi antara Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah, seluruh kantor perwakilan Bank Indonesia, serta kementerian terkait di bawah koordinasi Kemenko Perekonomian. Pernyataan ini menegaskan bahwa stabilitas harga merupakan hasil kerja terpadu lintas lembaga, bukan sekadar faktor musiman.

Ramadan dan periode menjelang Idulfitri secara historis menjadi fase krusial bagi stabilitas harga. Permintaan terhadap beras, gula, minyak goreng, daging, telur, dan komoditas hortikultura meningkat signifikan. Sektor transportasi dan pariwisata pun mengalami kenaikan aktivitas seiring mobilitas masyarakat. Ketika lonjakan permintaan ini mampu diantisipasi melalui manajemen pasokan dan distribusi yang baik, tekanan inflasi dapat ditekan. Keberhasilan menjaga stabilitas dalam periode sensitif ini menunjukkan kesiapan kebijakan yang terukur.

Kepercayaan publik menjadi variabel penting dalam dinamika ekonomi. Inflasi yang terkendali berkontribusi pada ekspektasi positif masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan. Pelaku usaha memperoleh kepastian dalam menyusun strategi produksi dan distribusi, sementara konsumen lebih percaya diri dalam membelanjakan pendapatannya. Siklus kepercayaan ini memperkuat konsumsi domestik sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi.

Di tingkat nasional, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, menyampaikan bahwa tingkat inflasi nasional secara year on year pada Januari 2026 tercatat sebesar 3,55 persen, melampaui batas atas target pemerintah. Namun ia menegaskan bahwa lonjakan tersebut tidak disebabkan oleh kenaikan harga pangan. Inflasi perlu dipandang secara seimbang karena Indonesia tidak hanya berperan sebagai negara konsumen, tetapi juga produsen. Perspektif ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan keberlanjutan sektor produksi.

Di daerah, pengendalian inflasi dilakukan melalui langkah-langkah konkret. Kepala Bagian Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Tangerang Selatan, Ucok Siagian mengatakan Pemerintah Kota Tangerang Selatan memastikan kondisi inflasi daerah masih terkendali menjelang Ramadan 2026. Sejumlah langkah strategis disiapkan untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan bahan pokok. Upaya ini menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi merupakan hasil kolaborasi pusat dan daerah dalam memantau distribusi serta mengantisipasi potensi gangguan pasokan.

Stabilitas inflasi juga memberi dampak positif bagi pelaku usaha kecil dan menengah. Selama Ramadan, UMKM di sektor kuliner, busana muslim, dan jasa transportasi mengalami peningkatan permintaan. Ketika harga bahan baku stabil, pelaku usaha dapat mempertahankan harga jual yang wajar tanpa mengorbankan margin usaha. Hal ini mendorong keberlanjutan bisnis sekaligus membuka peluang kerja musiman menjelang Idulfitri.

Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, kemampuan menjaga inflasi tetap terkendali mencerminkan ketahanan ekonomi nasional. Fluktuasi harga energi dan pangan dunia sering kali memengaruhi harga domestik. Namun melalui kebijakan mitigasi yang tepat, dampak eksternal dapat diredam sehingga tidak sepenuhnya membebani konsumen. Ketahanan ini memperkuat persepsi positif terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia.

Kepercayaan publik yang menguat selama bulan suci tercermin dari meningkatnya optimisme konsumen. Masyarakat cenderung menyusun rencana belanja secara lebih terukur ketika harga relatif stabil. Aktivitas ekonomi di pasar tradisional maupun pusat perbelanjaan modern pun bergerak lebih sehat. Stabilitas ekspektasi mencegah kepanikan belanja dan praktik spekulasi yang dapat memperburuk tekanan harga.

Penguatan koordinasi antarwilayah juga berperan dalam mengurangi disparitas harga. Distribusi dari sentra produksi ke daerah konsumsi harus berjalan lancar agar tidak terjadi kesenjangan pasokan. Infrastruktur logistik yang semakin baik membantu menjaga stabilitas di berbagai wilayah, sehingga manfaat pengendalian inflasi dirasakan secara merata.

Momentum Ramadan memperlihatkan bahwa stabilitas ekonomi bukan sekadar angka statistik, melainkan kondisi nyata yang dirasakan masyarakat. Harga yang terjangkau dan pasokan yang cukup menciptakan suasana kondusif bagi pelaksanaan ibadah dan kegiatan sosial. Ketika masyarakat merasakan langsung manfaat stabilitas harga, tingkat kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi meningkat.

Dengan inflasi yang tetap terkendali, bulan suci menjadi momentum penguatan solidaritas sosial sekaligus refleksi atas ketahanan ekonomi nasional. Stabilitas harga tidak hanya mencerminkan efektivitas kebijakan, tetapi juga menghadirkan rasa aman bagi masyarakat. Dalam suasana ekonomi yang terjaga, kepercayaan publik terus menguat dan menjadi fondasi bagi pertumbuhan yang inklusif serta berkelanjutan.

*) Penulis adalah Content Writer di Galaswara Digital Bureau

Inflasi Ramadan dan Idulfitri 2026 Diproyeksikan Tetap Terkendali

Jakarta – Tekanan inflasi pada periode Ramadan 2026 hingga Idulfitri 1447 Hijriah diproyeksikan tetap berada dalam koridor yang aman. Bank Indonesia (BI) memastikan lonjakan permintaan musiman yang terjadi setiap tahun masih dapat dikelola melalui koordinasi kebijakan yang solid dan stabilitas pasokan pangan. Optimisme ini menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional di tengah dinamika global yang masih dibayangi ketidakpastian.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Aida S. Budiman menegaskan bahwa inflasi Ramadan dan Lebaran tahun ini diperkirakan tetap terkendali dalam kisaran target 2,5 persen plus minus 1 persen, atau berada di rentang 1,5 persen hingga 3,5 persen. Menurutnya, stabilitas pasokan pangan dan terkendalinya inflasi inti menjadi faktor utama yang menopang proyeksi tersebut.

“Kondisi untuk di bulan Ramadan dan Lebaran ini, semuanya masih terjaga. Tapi masih ada dampak daripada administered prices akibat diskon listrik yang terjadi di tahun lalu, sehingga diperkirakan angkanya sedikit di atas 3 persen,” kata Aida.

Aida menjelaskan bahwa BI melakukan pemantauan harga secara mingguan untuk memastikan perkembangan inflasi tetap sesuai proyeksi. Sejauh ini, tren harga berbagai komoditas dinilai masih dalam jalur yang terkendali.

“Kami melakukan monitoring mingguan untuk harga-harga semuanya masih dalam kisaran proyeksi dari Bank Indonesia. Jadi mudah-mudahan ini akan terus terjaga sampai dengan bulan Maret,” imbuhnya.

Sementara itu, Gubernur BI, Perry Warjiyo menyatakan bahwa bank sentral akan terus mencermati ruang kebijakan suku bunga dengan mempertimbangkan dinamika global dan data ekonomi terkini. Menurutnya, prospek ekonomi global menunjukkan tren perlambatan dengan tingkat ketidakpastian pasar keuangan yang masih tinggi.

“Saat ini, prospek ekonomi global menunjukkan tren melambat dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tinggi. Tapi stabilitas domestik yang terjaga memberi ruang bagi kebijakan moneter untuk tetap akomodatif secara terukur,” ujarnya.

Di tingkat daerah, pengendalian inflasi juga menjadi perhatian serius pemerintah provinsi. Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman menyampaikan bahwa pihaknya bersama berbagai pemangku kepentingan terus memantau situasi agar tetap aman dan kondusif selama Ramadan dan Idulfitri.

“Kami ingin memastikan stok aman, transportasi lancar, dan komunikasi antarinstansi berjalan efektif,” ucapnya.

Herman menambahkan, berdasarkan pemantauan sementara, harga sejumlah komoditas di berbagai daerah masih relatif terkendali. Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan bergerak cepat apabila terjadi lonjakan harga.

“Kami akan cek dari berbagai sisi, mulai harga, pasokan, distribusi, hingga koordinasi antar pihak. Empat hal itu yang terus kami jaga selama Ramadan,” pungkas Herman.

Dengan pengawasan yang konsisten dan respons kebijakan yang adaptif, optimisme terhadap stabilitas ekonomi domestik tetap terjaga.

Pemerintah Jinakkan Inflasi Ramadan, Stabilitas Harga Tetap Terjaga

JAKARTA — Pemerintah memastikan stabilitas harga kebutuhan pokok tetap terjaga saat Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah, meskipun tekanan inflasi diperkirakan meningkat secara musiman. Berbagai langkah terkoordinasi antara otoritas moneter dan kementerian/lembaga terus diperkuat untuk memastikan masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan tenang tanpa dibayangi lonjakan harga.

Bank Indonesia (BI) memproyeksikan inflasi tahunan menjelang Ramadan dan Lebaran 2026 sedikit melampaui 3 persen, setelah pada Januari 2026 tercatat 3,55 persen (year on year). Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman, menjelaskan kenaikan tersebut dipengaruhi faktor base effect kebijakan diskon tarif listrik 50 persen pada awal 2025, sehingga secara statistik mendorong angka inflasi tahun ini.

“Bagaimana kondisi untuk di bulan Ramadan dan Lebaran ini? Semuanya masih terjaga. Memang ada dampak administered prices akibat diskon listrik tahun lalu, sehingga kami perkirakan angkanya sedikit di atas 3 persen. Namun ini sifatnya sementara,” ujar Aida.

Aida menegaskan, dari sisi fundamental, inflasi inti tetap rendah di kisaran 2,45 persen (yoy), sementara inflasi volatile food terjaga 1,14 persen (yoy). Pasokan pangan juga aman seiring berlangsungnya panen hortikultura seperti bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit. BI melakukan pemantauan harga secara mingguan dan memastikan seluruhnya masih dalam kisaran proyeksi.

Ke depan, BI meyakini inflasi 2026–2027 tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menambahkan bahwa ruang penurunan suku bunga tetap terbuka setelah BI mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen, dengan tetap mempertimbangkan dinamika global dan stabilitas nilai tukar rupiah. Dukungan pengendalian inflasi juga diperkuat melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah di bawah koordinasi Kemenko Perekonomian.

Di sisi pangan, pemerintah mengoptimalkan program Gerakan Pangan Murah (GPM) yang diinisiasi Badan Pangan Nasional. Hingga pertengahan Februari 2026, GPM telah menjangkau 1.218 titik di 497 kabupaten/kota dengan realisasi 447 titik pelaksanaan, mendistribusikan 16,2 ribu kilogram bahan pokok strategis.

Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan kolaborasi lintas sektor akan terus diperkuat dan pelaku usaha diminta mematuhi Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Acuan Penjualan (HAP).

“Ini adalah bentuk kolaborasi kita, kita bekerja. Tahun lalu kita melihat harga pangan cukup relatif stabil. Kalaupun pun terkadang ada kenaikan, (hanya) satu atau dua pangan komoditas strategis. Kami minta dengan segala kerendahan hati agar diturunkan harganya,” ucap Kepala Bapanas Amran.

Pelaksanaan program pemerintah yang diperuntukan untuk menjaga stabilitas harga pangan telah dilaksanakan secara serentak pada Februari 2026, dan kini telah meningkat mencapai angka 69%.

Hunian Terjangkau Jadi Prioritas: Rusun Subsidi dan Keadilan Sosial

Oleh: Dhita Karuniawati )*

Penyediaan hunian terjangkau menjadi salah satu isu strategis dalam pembangunan nasional. Di tengah pertumbuhan penduduk dan urbanisasi yang terus meningkat, kebutuhan akan rumah layak huni semakin mendesak, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Ketimpangan akses terhadap perumahan tidak hanya berdampak pada kualitas hidup warga, tetapi juga berpengaruh pada produktivitas, kesehatan, hingga stabilitas sosial. Karena itu, penguatan kebijakan hunian terjangkau, termasuk pembangunan rumah susun (Rusun) subsidi, menjadi prioritas penting dalam mewujudkan keadilan sosial.

Rusun subsidi hadir sebagai alternatif hunian vertikal yang efisien dan terjangkau. Konsep hunian ini dirancang untuk memaksimalkan penggunaan lahan, terutama di kota-kota besar yang mengalami tekanan kepadatan penduduk. Dengan sistem subsidi, harga sewa maupun cicilan rusun menjadi lebih ringan sehingga dapat dijangkau oleh pekerja sektor informal, buruh, guru honorer, tenaga kesehatan, serta kelompok masyarakat rentan lainnya.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) mengatakan bahwa pada tahun 2026, program prioritas Kementerian PKP adalah pembangunan rumah susun atau rusun subsidi sebagai solusi atas keterbatasan lahan hunian, khususnya di kawasan perkotaan dan industri.

Menurut Ara, salah satu program prioritas yang saat ini tengah dilaksanakan adalah pembangunan rusun subsidi di kawasan Meikarta, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Pembangunan rusun subsidi di sana dirancang sebagai model pengembangan hunian vertikal terjangkau yang terintegrasi dengan kawasan industri, sehingga dapat menjawab tingginya kebutuhan hunian pekerja sekaligus menekan biaya hidup masyarakat. Ara menegaskan bahwa sektor perumahan memiliki peran penting dalam memperkuat ketahanan nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Penyediaan hunian layak dan terjangkau dinilai menjadi fondasi utama bagi stabilitas sosial dan peningkatan produktivitas masyarakat. Aturan terkait rusun subsidi tengah dimatangkan oleh pemerintah dan para pemangku kepentingan terkait agar implementasi target ini dapat berjalan baik dan adil. Penyusunan aturan ini dilakukan dengan mempertimbangkan tiga kepentingan utama, yakni rakyat, negara, dan dunia usaha.

Sementara itu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menegaskan bahwa lahan dan unit rumah susun di proyek Meikarta yang direncanakan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman/PKP) untuk program hunian bersubsidi berstatus bersih secara hukum.

Wakil Ketua KPK, Johanis Tanak mengatakan, meskipun proyek Meikarta pernah terseret perkara suap perizinan pada 2018, objek perkara tersebut adalah tindak pidana suap terhadap pejabat, bukan unit rumah susunnya. Dalam proses penegakan hukum, KPK tidak menyita unit hunian, melainkan aset dan uang hasil tindak pidana dari pihak swasta.

Menurut Tanak, status proyek Meikarta sudah jelas tidak bermasalah dan dapat dimanfaatkan untuk rusun subsidi. Penegasan ini adalah bentuk akuntabilitas KPK agar penegakan hukum tidak menghambat pemanfaatan aset untuk kepentingan masyarakat luas.

KPK menilai, kepastian hukum menjadi prasyarat penting agar kebijakan strategis pemerintah tidak tersendat akibat kekhawatiran risiko hukum di kemudian hari. Namun demikian, KPK mengingatkan agar Kementerian PKP tidak berhenti pada nota kesepahaman (MoU) semata. Kerja sama dengan pengembang perlu segera dituangkan dalam perjanjian kerja formal, detail, dan mengikat secara hukum.

Menanggapi penegasan KPK, Menteri PKP Maruarar Sirait menyampaikan apresiasi. Menurutnya, kepastian hukum tersebut memberikan rasa aman bagi kementeriannya untuk mengeksekusi arahan Presiden Prabowo Subianto dalam mempercepat penyediaan hunian layak bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Ara menjelaskan, pembangunan rusun subsidi akan dirancang dengan tetap menjaga kualitas dan keterjangkauan. PT Lippo Cikarang selaku pengembang akan membangun dengan dukungan fasilitas pemerintah, antara lain melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) serta pembebasan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).

Selain kualitas bangunan, Maruarar Sirait menekankan pentingnya ketepatan sasaran program rumah subsidi. Pemerintah mencatat masih terdapat hunian bersubsidi yang tidak berpenghuni akibat lemahnya komitmen sebagian pengembang. Untuk itu, pemerintah menyiapkan mekanisme penghargaan dan sanksi (reward and punishment) agar program perumahan dijalankan secara bertanggung jawab.

Keadilan sosial dalam konteks hunian terjangkau berarti memastikan tidak ada kelompok masyarakat yang terpinggirkan dari akses tempat tinggal layak. Rusun subsidi menjadi instrumen nyata untuk mengurangi kesenjangan antara kelompok berpenghasilan tinggi dan rendah dalam menikmati ruang kota. Ketika pekerja dengan penghasilan terbatas dapat tinggal dekat dengan pusat aktivitas ekonomi, biaya transportasi dapat ditekan, waktu tempuh berkurang, dan produktivitas meningkat.

Komitmen terhadap pembangunan rusun subsidi harus terus dijaga sebagai bagian dari strategi besar pembangunan nasional. Perencanaan yang matang, pendanaan yang berkelanjutan, serta pengawasan yang ketat akan memastikan program ini benar-benar menjadi solusi, bukan sekadar proyek fisik. Partisipasi masyarakat dalam menjaga dan merawat hunian juga menjadi elemen penting agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Hunian terjangkau bukan sekadar kebutuhan dasar, melainkan fondasi bagi terciptanya masyarakat yang adil dan sejahtera. Ketika setiap warga memiliki akses terhadap tempat tinggal yang layak, maka peluang untuk meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan ekonomi terbuka lebih luas. Rusun subsidi menjadi simbol keberpihakan negara kepada rakyat kecil dan wujud konkret dari upaya menghadirkan keadilan sosial di tengah dinamika pembangunan yang terus bergerak maju.

*) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

Transformasi Hunian Vertikal Dipercepat, Rusun Subsidi Hadir sebagai Jawaban Urbanisasi

Oleh: Dewi Lestari Putri*

Transformasi pembangunan hunian perkotaan memasuki fase yang semakin progresif dengan ditegaskannya rumah susun subsidi sebagai solusi strategis bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Di tengah pertumbuhan kota yang pesat dan kebutuhan tempat tinggal yang terus meningkat, kebijakan pembangunan hunian vertikal menjadi jawaban visioner yang tidak hanya realistis, tetapi juga berpihak pada rakyat kecil. Langkah yang ditempuh Maruarar Sirait selaku Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) dalam menyiapkan skema rusun subsidi bersama Danantara menegaskan bahwa pemerintah tidak sekadar menetapkan target, melainkan memastikan realisasi konkret di lapangan.

Rusun subsidi kini diposisikan sebagai instrumen pemerataan akses hunian di kawasan perkotaan. Hunian vertikal memungkinkan optimalisasi lahan secara efisien sekaligus menciptakan lingkungan tempat tinggal yang tertata, modern, dan terintegrasi dengan fasilitas publik. Pemerintah memahami bahwa tantangan kota besar memerlukan pendekatan berbeda dari pola pembangunan rumah tapak. Karena itu, penguatan rusun subsidi menjadi langkah adaptif yang selaras dengan dinamika urbanisasi dan kebutuhan generasi produktif.

Komitmen kuat tersebut terlihat dari penegasan Maruarar Sirait bahwa tahun 2026 menjadi momentum aksi nyata pembangunan rusun subsidi. Ia menekankan pentingnya memastikan program perumahan benar-benar berdampak langsung bagi rakyat kecil. Arah kebijakan ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang konsisten menempatkan kesejahteraan masyarakat berpenghasilan rendah sebagai prioritas utama pembangunan nasional. Dalam kerangka besar itu, rusun subsidi bukan sekadar proyek fisik, melainkan bagian dari strategi memperkuat fondasi sosial dan ekonomi bangsa.

Kolaborasi dengan dunia usaha melalui Danantara menunjukkan pendekatan baru yang lebih progresif dan inklusif. Sinergi pemerintah dan sektor swasta membuka ruang percepatan pembangunan tanpa mengurangi orientasi pelayanan publik. Skema kolaboratif ini memperluas kapasitas pembiayaan, meningkatkan efisiensi pelaksanaan, dan memastikan standar kualitas tetap terjaga. Dengan dukungan regulasi yang matang dan koordinasi lintas lembaga, model kemitraan ini menjadi contoh bahwa pembangunan perumahan rakyat dapat berjalan selaras dengan prinsip tata kelola yang baik.

Pengembangan rusun subsidi yang terintegrasi dengan kawasan industri menghadirkan nilai strategis yang signifikan. Hunian yang berada dekat dengan pusat aktivitas ekonomi memungkinkan pekerja menekan biaya transportasi dan meningkatkan produktivitas. Model ini menciptakan ekosistem perkotaan yang lebih efisien, di mana tempat tinggal dan tempat kerja saling terhubung secara fungsional. Dengan demikian, rusun subsidi tidak hanya menyediakan ruang tinggal, tetapi juga mendukung mobilitas sosial dan peningkatan kesejahteraan keluarga pekerja.

Realisasi pembangunan rusun subsidi di kawasan Meikarta, Kabupaten Bekasi, menjadi bukti konkret bahwa program ini bergerak menuju implementasi nyata. Proyek tersebut dirancang sebagai model hunian vertikal terjangkau yang dapat direplikasi di berbagai kota besar lainnya. Kepastian tata kelola dan kesiapan lahan memperlihatkan keseriusan pemerintah dalam memastikan program berjalan efektif dan tepat sasaran. Target pembangunan ratusan unit pada 2026 semakin mempertegas orientasi kebijakan dari perencanaan menuju hasil yang terukur.

Rusun subsidi juga dirancang untuk melengkapi berbagai inisiatif perumahan rakyat lainnya, seperti rumah subsidi tapak dan bantuan rumah swadaya. Pendekatan komprehensif ini menunjukkan bahwa pemerintah membangun sistem perumahan nasional yang inklusif dan berlapis. Masyarakat memiliki pilihan hunian sesuai kebutuhan dan kemampuan, sementara negara memastikan setiap segmen memperoleh akses yang adil. Dengan demikian, kebijakan perumahan tidak lagi bersifat parsial, melainkan terintegrasi dalam satu kerangka pembangunan yang menyeluruh.

Kepercayaan diri terhadap kualitas hunian vertikal dalam negeri semakin menguat. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno bahkan menilai bahwa standar rumah susun di Jakarta sangat baik dan mampu bersaing dengan hunian sejenis di Singapura. Pernyataan ini mencerminkan optimisme bahwa rusun subsidi bukan hunian kelas dua, melainkan tempat tinggal modern dengan fasilitas memadai, tata ruang yang nyaman, dan pengelolaan profesional. Citra positif ini penting untuk menghapus stigma lama terhadap hunian vertikal bersubsidi.

Dari sisi ekonomi makro, pembangunan rusun subsidi memiliki dampak berganda yang luas. Sektor konstruksi bergerak, industri bahan bangunan tumbuh, dan lapangan kerja tercipta. Perputaran ekonomi di kawasan sekitar proyek meningkat, mendorong aktivitas usaha kecil dan menengah. Dalam jangka panjang, penyediaan hunian layak memperkuat stabilitas sosial, meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, dan mendukung keberlanjutan pembangunan sumber daya manusia. Hunian yang aman dan nyaman menjadi fondasi penting bagi generasi produktif yang berdaya saing.

Narasi besar yang dibangun pemerintah jelas dan konsisten: rusun subsidi adalah solusi hunian perkotaan yang konkret, terencana, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Dari target menuju realisasi, program ini memperlihatkan keseriusan negara menghadirkan kebijakan yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Dengan kepemimpinan yang tegas, kolaborasi lintas sektor, dan perencanaan matang, rusun subsidi berpotensi menjadi tonggak reformasi perumahan nasional. Kota-kota Indonesia diarahkan menjadi lebih tertata, inklusif, dan produktif, sementara masyarakat berpenghasilan rendah memperoleh kesempatan nyata untuk memiliki hunian layak di lokasi strategis.

Optimisme terhadap keberhasilan program ini bukan tanpa dasar. Fondasi regulasi yang dipersiapkan secara matang, dukungan politik yang kuat, serta partisipasi dunia usaha menjadi kombinasi yang solid. Rusun subsidi bukan sekadar bangunan bertingkat, melainkan simbol kehadiran negara dalam memastikan setiap warga memiliki tempat tinggal yang bermartabat. Dengan langkah yang terukur dan konsisten, solusi hunian vertikal ini diyakini mampu menjawab tantangan perkotaan sekaligus memperkuat arah pembangunan Indonesia yang berkeadilan dan berkelanjutan.

*Penulis merupakan Peneliti Perkotaan dan Permukiman

Rusun Subsidi Digenjot, Akses Hunian Layak bagi Rakyat Kian Nyata

Jakarta – Pemerintah terus mempercepat pembangunan rumah susun (rusun) subsidi sebagai bagian dari strategi besar memperluas akses hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Langkah ini dinilai semakin relevan di tengah keterbatasan lahan perkotaan dan tingginya kebutuhan rumah di kota-kota besar. Kota Bandung menjadi salah satu titik awal realisasi proyek hunian vertikal bersubsidi yang diharapkan menjadi model percontohan nasional.

Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho menyampaikan bahwa pihaknya bersama Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) akan merealisasikan pembangunan rumah susun subsidi di Kota Bandung.

Ia menjelaskan bahwa lokasi yang telah disiapkan memiliki luas sekitar 3.456 meter persegi dan akan dikembangkan menjadi hunian vertikal bersubsidi bagi masyarakat yang belum memiliki rumah.

“Lokasi yang disiapkan memiliki luas sekitar 3.456 meter persegi dan direncanakan akan dikembangkan menjadi hunian vertikal bersubsidi bagi masyarakat Kota Bandung yang belum memiliki rumah,” ujarnya.

Heru menambahkan bahwa rusun tersebut nantinya dapat diakses melalui skema KPR Subsidi FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan). Skema ini menjadi instrumen utama pemerintah dalam memastikan masyarakat berpenghasilan rendah memperoleh hunian yang layak dengan cicilan terjangkau.

“Rumah susun ini nantinya dapat diakses melalui skema KPR Subsidi FLPP, sebagai bentuk dukungan pemerintah dalam membantu masyarakat berpenghasilan rendah memperoleh hunian yang layak, terjangkau, dan berada di lokasi strategis,” tegasnya.

Menurutnya, pendekatan ini bukan sekadar proyek pembangunan fisik, melainkan bagian dari komitmen negara menghadirkan keadilan akses terhadap perumahan.

Sementara itu, Menteri PKP Maruarar Sirait menekankan bahwa pembangunan rusun harus memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekitar.

Ia menyatakan kementeriannya tengah menginisiasi skema pembangunan rumah susun subsidi yang lebih terintegrasi dan berorientasi jangka panjang.

“Pembangunan hunian vertikal ini diharapkan tidak hanya menyediakan tempat tinggal. Namun juga berkontribusi pada stabilitas sosial dan ketahanan nasional,” ujarnya.

Menurutnya, perumahan merupakan fondasi utama yang menyangkut kualitas hidup, keadilan sosial, dan daya saing bangsa.

Maruarar menilai bahwa penyediaan hunian vertikal di wilayah perkotaan menjadi solusi rasional atas keterbatasan lahan sekaligus upaya menekan kawasan permukiman kumuh.

Dengan konsep pembangunan yang terencana, rusun subsidi diharapkan mampu menciptakan lingkungan hunian yang sehat, tertata, dan terintegrasi dengan akses transportasi serta fasilitas publik.

Langkah ini sekaligus mempertegas keberpihakan pemerintah kepada masyarakat berpenghasilan rendah agar tidak tersisih dari pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.

Di tingkat daerah, Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman menyatakan bahwa pembangunan hunian vertikal selaras dengan kebijakan daerah dalam menjaga lahan hijau.

“Kota Bandung diharapkan menjadi proyek percontohan penyediaan rumah susun, yang selanjutnya dapat direplikasi di kabupaten dan kota lain di Jawa Barat,” jelasnya.

Ia menilai pendekatan vertikal menjadi solusi strategis untuk menyeimbangkan kebutuhan hunian dan komitmen pelestarian lingkungan.

Secara keseluruhan, percepatan pembangunan rusun subsidi mencerminkan konsistensi pemerintah dalam menjadikan perumahan sebagai prioritas pembangunan nasional.

Melalui sinergi antara pusat dan daerah serta dukungan skema pembiayaan yang terjangkau, akses terhadap hunian layak bagi rakyat kian nyata. Kebijakan ini bukan hanya menjawab kebutuhan papan, tetapi juga memperkuat fondasi sosial dan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.