Pembangunan Kopdes Merah Putih Dipacu, Dukungan Berbagai Pihak Menguat

PT Suara Dewata Media - Suara dari Pulau Dewata

Jakarta – Pemerintah terus mempercepat pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes/Kel) Merah Putih sebagai upaya memperkuat ekonomi kerakyatan, dengan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari kementerian, BUMN, hingga organisasi masyarakat. Program ini ditargetkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi desa, membuka lapangan kerja, serta mengurangi ketimpangan pembangunan antarwilayah.

Menteri Koperasi Ferry Juliantono menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen mengembalikan koperasi sebagai “soko guru” perekonomian nasional. Ia menjelaskan bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, percepatan pembangunan Kopdes Merah Putih menjadi bagian dari strategi besar transformasi ekonomi berbasis rakyat.

Menurut Ferry, langkah ini diambil sebagai respons atas melemahnya aktivitas ekonomi lokal dalam tiga dekade terakhir akibat arus liberalisasi ekonomi.

“Kita ingin mengembalikan kekuatan ekonomi rakyat melalui koperasi yang kuat dan modern,” ujarnya.

Pemerintah telah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2025 tentang percepatan pembentukan Kopdes Merah Putih. Hingga kini, sebanyak 83.000 akta badan hukum koperasi telah diterbitkan di seluruh Indonesia. Selain itu, pembangunan fisik juga dipercepat melalui Inpres Nomor 17 Tahun 2025, dengan target 32.000 unit fasilitas koperasi seperti gudang dan gerai rampung dalam dua bulan mendatang.

Namun, dalam pelaksanaannya, pemerintah menemukan sejumlah tantangan, terutama terkait infrastruktur dasar di desa. Ferry mengungkapkan bahwa masih banyak desa yang belum memiliki akses listrik dan internet memadai. Untuk mengatasi hal tersebut, Kementerian Koperasi bekerja sama dengan PLN dalam penyediaan pembangkit listrik tenaga surya skala kecil, serta menggandeng Kominfo dan Telkom untuk mempercepat digitalisasi koperasi di daerah terpencil.

“Kita tidak ingin anak muda desa terus lari ke kota (urbanisasi). Dengan adanya koperasi desa, kita bangun ekosistem usaha di desa agar tercipta pertumbuhan ekonomi lokal dan lapangan kerja baru,” kata Ferry.

Di sisi lain, Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Adian Husaini menilai bahwa peluang yang dibuka pemerintah saat ini harus dimanfaatkan secara maksimal oleh organisasi masyarakat, khususnya dalam bidang ekonomi dan pendidikan. Ia menekankan pentingnya koordinasi dan konsolidasi agar potensi tersebut dapat memberikan dampak nyata bagi umat.

“Kita segera konsolidasi dan koordinasi semuanya. Insya Allah, saat ini pemerintah membuka diri, bahkan membuka jalan,” ujar Adian.

Menutup sambutannya, Ferry mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk pelaku UMKM, untuk aktif memproduksi kebutuhan sehari-hari seperti kecap, saus, dan roti yang dapat dipasarkan melalui jaringan koperasi desa. “Ini adalah revolusi ekonomi yang sedang berlangsung. Kita bangun industri dari desa untuk Indonesia yang lebih adil dan berdaulat,” pungkasnya.

Lebaran Jadi Penopang Utama Ekonomi Nasional 2026

PT Suara Dewata Media - Suara dari Pulau Dewata

Oleh : Aditya Akbar )*

 

Arus mudik dan perayaan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah kembali membuktikan perannya sebagai motor penggerak paling vital bagi mesin ekonomi nasional pada awal tahun 2026. Fenomena mobilisasi jutaan penduduk tersebut memicu lonjakan konsumsi rumah tangga yang sangat masif, sekaligus menjadi benteng pertahanan ekonomi domestik di tengah terpaan ketidakpastian global yang kian dinamis.

Peningkatan aktivitas belanja masyarakat di berbagai daerah menciptakan aliran likuiditas yang merata, sehingga pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di pusat-pusat industri, melainkan merambah hingga ke tingkat akar rumput di pelosok negeri.

Momentum musiman tersebut muncul sebagai penyelamat saat tekanan eksternal, terutama fluktuasi harga komoditas energi dunia, mulai membayangi daya beli masyarakat. Ekonom dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memaparkan pandangannya mengenai akselerasi konsumsi rumah tangga yang menunjukkan tren lebih baik dibandingkan periode sebelumnya.

Ia menilai bahwa meskipun terdapat kenaikan harga minyak global, gairah belanja masyarakat pada kuartal ini tetap terjaga dengan kuat. Menurut pengamatannya, Lebaran tahun ini memegang peranan krusial sebagai penyangga agar ritme pertumbuhan ekonomi nasional tidak mengalami penurunan yang tajam.

Yusuf Rendy Manilet menjelaskan bahwa sektor transportasi, perdagangan ritel, hingga pariwisata daerah menjadi penerima manfaat paling besar dari tingginya mobilitas mudik tersebut.

Peningkatan penjualan pada lini busana, makanan, minuman, serta jasa logistik memberikan kontribusi signifikan terhadap struktur pendapatan nasional. Ia juga menyoroti kebijakan fiskal pemerintah yang lebih berani dalam mengalirkan belanja negara di awal tahun, sehingga menciptakan efek pengganda yang memperkuat daya beli masyarakat.

Bagi Yusuf, fenomena Idulfitri kali ini berfungsi menjaga momentum agar perlambatan ekonomi tidak terjadi terlalu dalam, sembari tetap mewaspadai hambatan inflasi yang mungkin timbul dari sisi harga barang.

Sinergi antara mobilitas penduduk dan aktivitas belanja juga menjadi fokus perhatian dunia usaha. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, menyatakan optimismenya terhadap pencapaian target pertumbuhan ekonomi kuartal pertama tahun 2026 yang dipatok pada angka 5,4 hingga 5,5 persen.

Ia memproyeksikan konsumsi rumah tangga selama masa libur panjang tersebut mampu meroket antara 10 hingga 15 persen. Lonjakan tersebut dinilai sebagai kelanjutan dari rangkaian momentum konsumsi yang sudah terbangun sejak awal tahun melalui perayaan Natal, Tahun Baru, serta Imlek.

Sarman Simanjorang menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menjaga kestabilan psikologi konsumen di tengah ketegangan geopolitik internasional. Ia berpendapat bahwa kepastian stok bahan bakar minyak dan gas selama periode mudik sangat menentukan keberanian masyarakat untuk membelanjakan uang mereka di daerah asal.

Menurut pandangannya, jaminan ketersediaan energi akan menghalau kekhawatiran publik terhadap dampak konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang berisiko mengganggu rantai pasok global. Kepercayaan diri masyarakat untuk bertransaksi di daerah masing-masing itulah yang menjadi kunci perputaran uang yang lebih berkualitas.

Langkah strategis pemerintah dalam merangsang transaksi domestik pun semakin intensif melalui berbagai program stimulus. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengutarakan dukungannya terhadap inisiatif yang mampu menjaga daya beli masyarakat pada hari besar keagamaan.

Melalui program Belanja di Indonesia Aja yang melibatkan ratusan pusat perbelanjaan dan puluhan ribu toko retail, pemerintah menargetkan nilai transaksi yang jauh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Airlangga Hartarto memperkirakan transaksi domestik tersebut dapat menyentuh angka lebih dari 53 triliun rupiah, yang berarti terjadi kenaikan sebesar 20 persen.

Airlangga Hartarto meyakini bahwa kombinasi antara lonjakan konsumsi alami dan stimulus program belanja akan memastikan aktivitas ekonomi tetap stabil meski risiko eksternal terus mengintai.

Melalui integrasi antara tradisi sosial dan kekuatan finansial, Indonesia mampu menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya dapat berjalan beriringan dengan kemajuan ekonomi. Ketika jutaan orang membelanjakan uangnya di kampung halaman, mereka sedang melakukan investasi sosial yang menghidupkan kembali harapan para pedagang kecil dan pengelola wisata lokal.

Aliran modal tersebut mengalir langsung ke jantung ekonomi kerakyatan, menciptakan ketahanan yang tidak hanya bersandar pada statistik makro di ibu kota, tetapi juga pada denyut nadi pasar-pasar tradisional di pelosok negeri.

Pergerakan dana itu sekaligus menjadi jaring pengaman sosial alami yang memperkecil ketimpangan antara wilayah urban dan rural melalui distribusi kekayaan yang mengalir secara organik.

Penyerapan tenaga kerja musiman di daerah serta meningkatnya omzet UMKM kuliner hingga kerajinan tangan membuktikan bahwa momentum ini merupakan katalisator produktivitas yang masif.

Transformasi ekonomi dari pusat ke daerah tersebut secara otomatis memperkuat daya beli masyarakat kelas menengah-bawah, yang pada gilirannya menjaga stabilitas permintaan domestik secara keseluruhan.

Inilah bukti otentik bahwa Lebaran merupakan napas buatan bagi ekonomi daerah yang menjamin kesejahteraan nasional tetap terjaga dengan kokoh, sekaligus membuktikan bahwa kekuatan konsumsi domestik adalah benteng pertahanan paling tangguh dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. (*)

 

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Lebaran 2026 Hidupkan UMKM, Perputaran Ekonomi Daerah Meningkat

PT Suara Dewata Media - Suara dari Pulau Dewata

 

JAKARTA – Momentum Idulfitri 1447 Hijriah memicu lonjakan aktivitas ekonomi lokal secara signifikan di berbagai penjuru daerah.

Pergerakan jutaan pemudik tahun ini menjadi angin segar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mengandalkan peningkatan konsumsi rumah tangga untuk memperkuat struktur ekonomi kerakyatan.

Anggota MPR RI, Aboe Bakar Alhabsyi, mendorong masyarakat luas agar memprioritaskan belanja pada warung dan usaha di lingkungan tempat tinggal.

Saat melakukan sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Kalimantan Selatan, ia menegaskan bahwa keberpihakan pada pedagang lokal merupakan wujud nyata gotong royong ekonomi.

“Momentum Idulfitri, kebutuhan rumah tangga pasti meningkat. Saya mengajak masyarakat berbelanja di sekitar rumah saja,” ujar pria yang akrab disapa Habib Aboe tersebut.

Ia menambahkan bahwa perputaran uang di tingkat akar rumput memberikan dampak kesejahteraan yang lebih merata.

“Kalau belanja di luar daerah, uang tidak berputar di lingkungan sendiri. Belanja lokal membuat manfaat langsung dirasakan masyarakat,” ucapnya.

Potensi pasar domestik tersebut memang menjadi tumpuan pertumbuhan nasional.

Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, menyoroti besarnya kontribusi konsumsi dalam negeri yang menjadi mesin utama perekonomian.

Ia menilai bahwa kekuatan daya beli masyarakat saat Ramadan dan Lebaran harus dioptimalkan secara konsisten.

“Kontribusi konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai sekitar 50 persen. Ini menunjukkan strategisnya kekuatan pasar dalam negeri,” tegas Maman dalam forum ekonomi di Jakarta.

Sementara itu, Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM, Temmy Satya Permana, memproyeksikan lonjakan pendapatan pelaku usaha kecil hingga berkali lipat dari hari biasanya.

Dengan estimasi perputaran uang mencapai Rp190 triliun, pelaku UMKM memiliki peluang emas untuk meningkatkan skala bisnis mereka.

“Dari perkiraan kami, dari estimasi biasanya hari-hari biasa, UMKM rata-rata 1 juta, bisa 4 kali lipat naik di momen Ramadan ini,” kata Temmy.

Ia pun mengingatkan agar para pelaku usaha tidak sekadar menjadi penonton dalam perhelatan tahunan itu.

“Dan ini momentum untuk UMKM bisa mengambil pasar ini. Bukan hanya di penonton, tapi juga ikut tampil untuk bisa menikmati lonjakan omzet yang akan terjadi,” tuturnya.

Melalui kualitas produk yang terjaga, Lebaran 2026 dipastikan menjadi titik balik penguatan ekonomi daerah melalui tangan-tangan kreatif pelaku UMKM. (*)

Lebaran sebagai Mesin Penggerak Ekonomi Nasional

PT Suara Dewata Media - Suara dari Pulau Dewata

Oleh : Muhammad Zaki )*

 

Arus mudik Lebaran 2026 kembali membuktikan kekuatannya sebagai mesin utama yang memutar roda perekonomian Indonesia hingga ke pelosok desa. Fenomena perpindahan manusia dalam skala masif tersebut tidak lagi sekadar ritual pertemuan keluarga, melainkan sebuah instrumen redistribusi kekayaan yang sangat efektif dari pusat ke daerah.

Pergerakan jutaan penduduk secara serentak memicu gelombang konsumsi yang luar biasa besar, sehingga mampu menjaga resiliensi ekonomi nasional di tengah berbagai tantangan global yang fluktuatif.

Data menunjukkan bahwa lebih dari 143 juta orang atau separuh dari populasi penduduk Indonesia melakukan mobilisasi pada momentum Idulfitri tahun ini. Angka fantastis tersebut membawa implikasi ekonomi yang sangat nyata melalui transaksi di berbagai lini usaha.

Sekretaris Jenderal MUI, Buya Amirsyah Tambunan, memandang fenomena itu sebagai bentuk transformasi ekonomi sosial yang sangat berdampak pada sektor transportasi dan perdagangan. Menurutnya, arus mudik menciptakan efek domino yang meluas, mulai dari gairah pada sektor riil hingga peningkatan pendapatan bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta pariwisata.

Meskipun aktivitas tersebut bersifat musiman, Buya Amirsyah Tambunan menekankan bahwa perpindahan uang dari wilayah urban menuju daerah asal pekerja merupakan mekanisme pemerataan yang unik.

Sebagian besar perputaran uang itu memang masih berpusat di Pulau Jawa, namun aliran dana yang masuk ke daerah-daerah terpencil mampu menghidupkan pasar-pasar tradisional dan sektor jasa lokal. Perspektif tersebut menempatkan mudik sebagai jembatan yang menghubungkan kemakmuran kota dengan kebutuhan ekonomi di wilayah perdesaan secara langsung.

Dukungan terhadap penguatan ekonomi daerah melalui momentum Lebaran juga disuarakan oleh Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Lamhot Sinaga. Ia menilai mobilitas tinggi masyarakat dan lonjakan wisatawan domestik merupakan pendorong utama bagi produktivitas di daerah.

Kebijakan pemerintah dalam mengelola arus mudik tidak hanya memastikan kenyamanan perjalanan, tetapi juga memperkuat fundamental ekonomi di berbagai sektor. Lamhot Sinaga menyatakan bahwa perputaran uang yang mencapai ratusan triliun rupiah selama periode tersebut menjadi pengungkit pertumbuhan nasional yang sangat strategis.

Bagi Lamhot Sinaga, lonjakan konsumsi pada sektor kuliner, transportasi, hingga penginapan adalah peluang emas yang harus dimanfaatkan secara maksimal oleh para pelaku usaha lokal. Ia mendorong UMKM untuk terus meningkatkan standar kualitas layanan dan produk agar mampu menangkap potensi pasar yang besar tersebut.

Selain itu, peningkatan okupansi hotel dan kunjungan ke destinasi wisata alam maupun budaya menunjukkan bahwa daerah memiliki daya tarik ekonomi yang kuat. Sinergi antara infrastruktur yang memadai dengan pelayanan prima akan memastikan bahwa manfaat ekonomi dari tradisi mudik dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat di daerah tujuan.

Sektor pariwisata memang menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari hiruk-pikuk perayaan hari raya. Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, mengungkapkan bahwa pergerakan wisatawan nusantara merupakan faktor krusial dalam menggerakkan perekonomian nasional.

Masa libur panjang memberikan ruang bagi masyarakat untuk melakukan mobilisasi serentak yang berdampak langsung pada kenaikan omzet pelaku usaha pariwisata. Penambahan pengeluaran belanja masyarakat selama liburan tersebut melampaui rata-rata konsumsi harian pada periode normal, sehingga menciptakan lonjakan likuiditas di daerah.

Ni Made Ayu Marthini menjelaskan bahwa kementerian terkait terus menggencarkan kampanye untuk mencintai destinasi dalam negeri guna menekan minat masyarakat berwisata ke luar negeri.

Melalui pemberian berbagai insentif seperti diskon tiket transportasi dan penyediaan paket wisata yang menarik, pemerintah berupaya agar perputaran uang tetap berada di dalam ekosistem ekonomi domestik.

Upaya kolaboratif dengan agen perjalanan daring dan penyediaan informasi destinasi yang komprehensif menjadi langkah strategis untuk memastikan pengalaman berwisata yang aman dan menyenangkan bagi semua pihak.

Melihat data dari tahun sebelumnya, pengeluaran wisatawan nusantara yang mencapai angka jutaan rupiah per orang memberikan kontribusi yang tidak sedikit terhadap produk domestik bruto.

Koordinasi antar-pemangku kepentingan dalam menyelenggarakan berbagai acara promosi dan pameran belanja semakin memperkuat daya beli masyarakat. Momentum Lebaran 2026 ini bukan sekadar tentang pulang kampung, melainkan tentang bagaimana jutaan orang secara kolektif menyelamatkan dan memperkuat kedaulatan ekonomi nasional.

Melalui integrasi antara tradisi sosial dan kekuatan finansial, Indonesia mampu menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya dapat berjalan beriringan dengan kemajuan ekonomi. Ketika jutaan orang membelanjakan uangnya di kampung halaman, mereka sedang melakukan investasi sosial yang menghidupkan kembali harapan para pedagang kecil dan pengelola wisata lokal.

Aliran modal tersebut mengalir langsung ke jantung ekonomi kerakyatan, menciptakan ketahanan yang tidak hanya bersandar pada statistik makro di ibu kota, tetapi juga pada denyut nadi pasar-pasar tradisional di pelosok negeri.

Pergerakan dana itu sekaligus menjadi jaring pengaman sosial alami yang memperkecil ketimpangan antara wilayah urban dan rural. Inilah bukti otentik bahwa Lebaran merupakan napas buatan bagi ekonomi daerah yang menjamin kesejahteraan nasional tetap terjaga dengan kokoh, sekaligus membuktikan bahwa kekuatan konsumsi domestik adalah benteng pertahanan paling tangguh dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. (*)

 

)* Penulis adalah pengamat sosial kemasyarakatan

 

Lonjakan Konsumsi Lebaran 2026 Perkuat Daya Tahan Ekonomi Nasional

PT Suara Dewata Media - Suara dari Pulau Dewata

JAKARTA – Momentum Hari Raya Idulfitri 1447 H menjadi katalisator utama yang memacu mesin ekonomi domestik melalui lonjakan konsumsi rumah tangga secara masif.

Aktivitas belanja masyarakat selama periode tersebut terbukti efektif memperkokoh fundamental ekonomi nasional di tengah tantangan ketidakpastian global yang masih membayangi.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, menegaskan bahwa kenaikan pengeluaran masyarakat pada kuartal I 2026 merupakan sinyal positif bagi pertumbuhan bruto.

“Perputaran uang selama perayaan dan libur Idulfitri 1447 H dengan konsumsi rumah tangga yang melonjak rata-rata 10%–15% menjadi momentum untuk mengerek pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I 2026 yang ditargetkan sebesar 5,4% sampai 5,5%,” kata Sarman Simanjorang.

Ia menambahkan bahwa kestabilan pasokan energi menjadi kunci utama dalam menjaga psikologi pasar.

“Hal ini penting karena masyarakat juga mengikuti perkembangan geopolitik perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang berpotensi mengganggu pasokan BBM dan gas ke dalam negeri,” katanya.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Peneliti IDEAS, Agung Pardini, memproyeksikan perputaran uang mudik mencapai angka fantastis Rp417,20 triliun.

Menurutnya, distribusi kekayaan dari kota ke desa melalui tradisi tersebut menciptakan efek pengganda yang signifikan.

“Tradisi mudik Lebaran dipastikan menjadi salah satu penopang utama perputaran ekonomi nasional. Lonjakan mobilitas masyarakat dalam waktu singkat mendorong peningkatan konsumsi yang berdampak luas terhadap berbagai sektor ekonomi,” kata Agung.

Ia mengamati bahwa kelompok menengah ke atas mendominasi kontribusi ekonomi itu.

“Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi mudik tidak semata ditentukan oleh jumlah pergerakan masyarakat, tetapi juga oleh daya beli, terutama dari kelas menengah yang semakin dominan dalam struktur ekonomi nasional,” ujarnya.

Sektor riil pun merasakan dampak langsung dari tingginya permintaan pasar.

Ketua Umum Apindo, Shinta W. Kamdani, menyebutkan bahwa industri ritel dan barang konsumsi mengalami masa panen pada periode itu.

“Sektor ritel dan fast moving consumer goods (FMCG) menjadi yang paling terdorong momentum Lebaran,” ujarnya.

Shinta menekankan bahwa sinergi antara mobilitas orang dan distribusi barang mempercepat pemulihan berbagai lini usaha.

“Melonjaknya mobilitas tidak hanya mendorong pergerakan orang, tetapi juga distribusi barang secara lebih intensif,” kata Shinta.

Optimisme pelaku usaha tersebut mengonfirmasi bahwa konsumsi domestik tetap menjadi tulang punggung yang menjaga resiliensi ekonomi Indonesia sepanjang 2026. (*)

 

Transparansi dan Profesionalisme Jadi Kunci Kopdes Merah Putih Dongkrak Ekonomi Desa

PT Suara Dewata Media - Suara dari Pulau Dewata

Oleh: Yusuf Maulana )*

 

Di tengah dorongan besar pemerintah untuk memperkuat fondasi ekonomi dari tingkat paling bawah, kehadiran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih muncul sebagai salah satu taruhan kebijakan yang paling serius. Program ini tidak hanya dimaksudkan sebagai instrumen ekonomi biasa, melainkan sebagai jalan untuk memastikan bahwa perputaran usaha di desa tidak terus mengalir keluar, melainkan kembali menjadi sumber kesejahteraan warga. Di sinilah transparansi dan profesionalisme menjadi dua kata kunci yang menentukan apakah Kopdes Merah Putih benar-benar mampu menjadi mesin baru Pendapatan Asli Desa atau sekadar berhenti sebagai proyek ambisius di atas kertas.

Pemerintah kini bergerak cepat mengakselerasi pembangunan dan operasional Kopdes Merah Putih di berbagai daerah. Langkah ini menunjukkan bahwa desa tidak lagi diposisikan hanya sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto menegaskan bahwa Kopdes Merah Putih merupakan program strategis nasional yang patut disukseskan secara bersama-sama. Penegasan itu menggambarkan bahwa pemerintah melihat koperasi desa bukan sekadar pelengkap kebijakan, tetapi sebagai instrumen utama untuk memperkuat ekonomi lokal, termasuk dalam meningkatkan Pendapatan Asli Desa.

Menurut Yandri Susanto, skema yang disusun dalam program ini memberi ruang bagi desa untuk memperoleh manfaat langsung dari aktivitas usaha koperasi. Minimal 20 persen dari keuntungan Kopdes akan masuk ke Pendapatan Asli Desa, sebagaimana diatur dalam Permendes PDT Nomor 10 Tahun 2025. Lebih jauh lagi, sisa hasil usaha sepenuhnya dikembalikan kepada masyarakat desa, terutama warga berpendapatan rendah pada desil 1 hingga desil 5. Gagasan ini memberi pesan yang jelas bahwa koperasi dirancang bukan untuk memperkaya segelintir pihak, melainkan untuk menjadi alat distribusi manfaat ekonomi yang lebih adil di level desa.

Dari sisi bisnis, Kopdes Merah Putih bertumpu pada model usaha yang cukup realistis, yakni sektor ritel kebutuhan pokok dan penyerapan hasil produksi desa. Model ini relevan dengan kebutuhan masyarakat sekaligus memberi ruang bagi produk-produk lokal untuk terserap dalam rantai usaha yang lebih teratur. Bila dikelola dengan baik, koperasi tidak hanya akan menjadi tempat transaksi ekonomi, tetapi juga simpul yang menghubungkan petani, pelaku UMKM, konsumen, dan pemerintah desa dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. Dengan kata lain, koperasi dapat menjadi pusat sirkulasi ekonomi desa yang selama ini sering terfragmentasi.

Menteri Koperasi Ferry Juliantono memandang percepatan pembangunan sebagai faktor penting agar koperasi segera mencapai skala ekonomi yang memadai. Ia menilai bahwa jika proses pengerjaan di lahan-lahan baru dapat dipercepat, maka progres signifikan bisa terlihat pada September mendatang. Pernyataan Ferry Juliantono menunjukkan bahwa tantangan program ini bukan hanya pada aspek gagasan, melainkan pada kecepatan eksekusi dan kemampuan mengubah pembangunan fisik menjadi kinerja ekonomi nyata. Sebab, koperasi tidak akan menghasilkan dampak berarti hanya dengan berdirinya bangunan, melainkan dari kemampuannya beroperasi secara efektif, konsisten, dan dipercaya masyarakat.

Pandangan serupa juga terlihat dari penekanan Ferry Juliantono terhadap pentingnya penguatan sistem distribusi, operasional, serta integrasi logistik pangan. Pemerintah saat ini masih berkonsentrasi pada pematangan ekosistem sebelum seluruh gerai beroperasi penuh. Termasuk di dalamnya memastikan standar layanan pada unit-unit usaha seperti gerai obat dan klinik. Ini menunjukkan bahwa Kopdes Merah Putih tidak dirancang sebagai koperasi konvensional yang bergerak tanpa standar, tetapi sebagai lembaga ekonomi desa yang diharapkan mampu menghadirkan layanan profesional dengan jangkauan luas.

Dari perspektif akademis, pengamat sosial dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh Firdaus Mirza melihat kehadiran koperasi desa sebagai upaya menghidupkan kembali tradisi ekonomi kolektif yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa. Ia menilai bahwa nilai-nilai seperti gotong royong dan solidaritas sosial merupakan modal penting yang dapat dioptimalkan melalui koperasi. Dengan pendekatan yang tepat, koperasi dapat menjadi wadah yang mengubah kekuatan sosial tersebut menjadi aktivitas ekonomi yang produktif.

Firdaus Mirza juga menekankan bahwa keberhasilan koperasi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh kekuatan modal sosial masyarakat. Kepercayaan, partisipasi aktif, dan rasa memiliki menjadi faktor utama dalam menjaga keberlanjutan koperasi. Tanpa keterlibatan masyarakat, koperasi berisiko kehilangan legitimasi dan gagal mencapai tujuan yang diharapkan.

Selama satu tahun terakhir, pemerintah dinilai telah menunjukkan sejumlah capaian dalam mendorong pembangunan ekonomi desa, mulai dari percepatan pembangunan infrastruktur, peningkatan akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, hingga penguatan program pemberdayaan masyarakat yang semakin terintegrasi. Berbagai langkah tersebut memperlihatkan komitmen pemerintah dalam menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang inklusif dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, Kopdes Merah Putih adalah peluang besar yang tidak boleh disia-siakan. Program ini dapat menjadi tonggak penting bagi kemandirian desa bila dijalankan secara jujur, profesional, dan melibatkan masyarakat sebagai pemilik sesungguhnya. Karena itu, semua pihak, dari pemerintah pusat, pemerintah desa, pengelola koperasi, hingga warga, perlu menjaga semangat transparansi dan partisipasi agar koperasi benar-benar menjadi alat perjuangan ekonomi rakyat. Jika fondasi ini dijaga, maka Kopdes Merah Putih bukan hanya akan mendongkrak ekonomi desa, tetapi juga mempertegas bahwa masa depan pembangunan Indonesia bertumpu pada desa yang kuat, mandiri, dan sejahtera.

 

*)  Praktisi Koperasi dan UMKM

Seluruh Elemen Masyarakat Kompak Jaga Stabilitas Keamanan Tanah Papua

PT Suara Dewata Media - Suara dari Pulau Dewata

 

Papua — Situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Papua dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan tren yang semakin positif. Stabilitas yang terjaga tidak hanya menghadirkan rasa aman, tetapi juga membuka ruang yang lebih luas bagi percepatan pembangunan di berbagai sektor strategis.

Kondisi kondusif ini dinilai sebagai hasil dari sinergi kuat antara pemerintah daerah, aparat keamanan, serta masyarakat yang terus menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman. Pendekatan kolaboratif yang konsisten menjadi fondasi penting dalam menciptakan suasana damai yang berkelanjutan.

Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan menegaskan bahwa stabilitas yang dirasakan saat ini merupakan buah dari koordinasi lintas sektor yang berjalan efektif. “Keamanan yang kita rasakan saat ini adalah buah dari kerja bersama. Pemerintah, aparat, dan masyarakat memiliki komitmen yang sama untuk menjaga Papua tetap aman dan damai,” ujar Dominggus Mandacan.

Pernyataan tersebut mencerminkan kuatnya komitmen pemerintah daerah dalam memastikan seluruh elemen bergerak selaras. Stabilitas yang terbangun tidak hanya bersifat situasional, tetapi juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam mendorong kemajuan wilayah.

Sejalan dengan itu, pendekatan keamanan yang humanis turut memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kepercayaan publik. Aparat keamanan terus memperkuat kehadiran di tengah masyarakat dengan mengedepankan dialog dan langkah preventif.

Kapolda Papua Barat, Irjen Pol Alfred Papare menyampaikan bahwa tren kamtibmas menunjukkan perbaikan yang konsisten dari waktu ke waktu. “Kami mengedepankan pendekatan persuasif dan kehadiran langsung di tengah masyarakat agar rasa aman benar-benar dirasakan,” tegas Alfred Papare.

Kehadiran aparat yang lebih dekat dengan masyarakat dinilai efektif dalam membangun rasa saling percaya. Pendekatan ini sekaligus menjadi upaya strategis dalam mencegah potensi gangguan keamanan sejak dini.

Dari sisi sosial, nilai-nilai kearifan lokal yang menjunjung tinggi toleransi turut menjadi kekuatan utama dalam menjaga kedamaian. Budaya saling menghormati terus terpelihara dan menjadi perekat dalam kehidupan bermasyarakat.

Ketua DPR Papua Barat, Orgenes Wonggor menekankan bahwa peran masyarakat sangat menentukan dalam menjaga stabilitas tersebut. “Masyarakat Papua memiliki budaya saling menghormati yang kuat. Ini menjadi modal besar dalam menjaga kedamaian,” ungkap Orgenes Wonggor.

Kesadaran kolektif masyarakat juga mendapat apresiasi dari jajaran pemerintah daerah. Partisipasi aktif warga dinilai sebagai faktor kunci dalam menciptakan lingkungan yang aman dan tertib.

Sekretaris Daerah Papua Barat, Ali Baham Temongmere menyampaikan apresiasi atas kontribusi masyarakat dalam menjaga kondusivitas wilayah. “Kesadaran kolektif masyarakat menjadi kekuatan utama dalam menjaga stabilitas yang ada,” tambah Ali Baham Temongmere.

Papua Aman dan Kondusif, Sinergi Jadi Pilar Utama Stabilitas

PT Suara Dewata Media - Suara dari Pulau Dewata

Papua — Kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Papua dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan situasi yang aman, stabil, dan kondusif. Keadaan ini menjadi bukti nyata keberhasilan kolaborasi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat dalam menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman yang ada.

Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, menegaskan bahwa stabilitas yang terjaga merupakan hasil dari koordinasi lintas sektor yang berjalan efektif dan berkesinambungan. “Keamanan yang kita rasakan saat ini adalah buah dari kerja bersama. Pemerintah, aparat, dan masyarakat memiliki komitmen yang sama untuk menjaga Papua tetap aman dan damai,” ujarnya.

Senada dengan itu, Kapolda Papua Barat, Alfred Papare, menyampaikan bahwa tren kamtibmas terus menunjukkan perbaikan signifikan. Pendekatan preventif dan humanis yang dilakukan aparat kepolisian dinilai mampu memperkuat kepercayaan masyarakat. “Kami mengedepankan pendekatan persuasif dan kehadiran langsung di tengah masyarakat agar rasa aman benar-benar dirasakan,” katanya.

Ketua DPR Papua Barat, Orgenes Wonggor, turut menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga stabilitas. Ia menyebut bahwa nilai toleransi yang tinggi menjadi kekuatan utama Papua. “Masyarakat Papua memiliki budaya saling menghormati yang kuat. Ini menjadi modal besar dalam menjaga kedamaian,” ungkapnya.

Dari sisi pemerintahan, Sekretaris Daerah Papua Barat, Ali Baham Temongmere, mengapresiasi kesadaran kolektif masyarakat yang terus mendukung terciptanya lingkungan yang aman. Sementara itu, Panglima Kodam XVII/Cenderawasih, Amrin Ibrahim, menegaskan bahwa TNI tidak hanya fokus pada aspek keamanan, tetapi juga berperan aktif dalam mendukung pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

Narasi positif tentang Papua yang aman juga diperkuat oleh berbagai kalangan, termasuk pegiat hukum. Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Papua Tengah, Yosep Temorubun, menyatakan bahwa pendekatan humanis dan penegakan hukum yang adil menjadi fondasi penting dalam menciptakan rasa aman yang berkelanjutan.

Dengan kondisi yang semakin kondusif, Papua kini menunjukkan wajahnya sebagai wilayah yang aman dan terbuka bagi pembangunan. Stabilitas ini tidak hanya memberikan rasa nyaman bagi masyarakat, tetapi juga menjadi sinyal kuat bahwa Papua adalah daerah yang siap maju, damai, dan sejahtera di masa depan.

Sinergi Pemerintah dan Masyarakat Ciptakan Stabilitas Keamanan Papua

PT Suara Dewata Media - Suara dari Pulau Dewata

Oleh: Yohanes Wandikbo )*

 

Situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di Papua dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan perkembangan yang semakin positif dan terkendali. Kondisi ini tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari kerja keras yang terintegrasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, serta masyarakat. Stabilitas yang terjaga menjadi fondasi utama dalam mendorong percepatan pembangunan di berbagai sektor, sekaligus menciptakan ruang sosial yang aman dan produktif bagi seluruh lapisan masyarakat di Papua.

Dalam konteks wilayah yang memiliki kompleksitas sosial dan geografis seperti Papua, keberhasilan menjaga stabilitas kamtibmas menjadi capaian yang patut diapresiasi. Pemerintah terus menunjukkan komitmen kuat melalui pendekatan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Upaya ini tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada penguatan kohesi sosial serta peningkatan kualitas pelayanan publik yang merata.

Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan menyampaikan bahwa stabilitas keamanan yang terjaga saat ini merupakan hasil dari koordinasi lintas sektor yang berjalan konsisten. Pemerintah daerah dinilai terus memperkuat komunikasi dengan aparat keamanan guna memastikan setiap potensi gangguan dapat diantisipasi sejak dini. Sinergi tersebut menjadi kunci dalam menciptakan rasa aman yang dirasakan langsung oleh masyarakat dalam aktivitas sehari-hari.

Sejalan dengan hal tersebut, Kapolda Papua Barat, Irjen Pol Alfred Papare menjelaskan bahwa kondisi kamtibmas di wilayahnya menunjukkan tren yang semakin kondusif dibandingkan periode sebelumnya. Pendekatan preventif melalui patroli rutin, pengamanan objek vital, serta interaksi aktif dengan masyarakat dinilai efektif dalam menjaga stabilitas. Pendekatan humanis yang diterapkan aparat kepolisian juga memperkuat kepercayaan publik, sehingga masyarakat berperan sebagai mitra strategis dalam menjaga keamanan lingkungan.

Dari sisi legislatif, Ketua DPR Papua Barat, Orgenes Wonggor menilai bahwa kondisi aman dan damai yang dirasakan saat ini merupakan cerminan dari kerja kolektif seluruh elemen masyarakat. Nilai toleransi yang tinggi di Papua menjadi modal sosial yang sangat penting dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman. Hubungan antarumat beragama dan antarkelompok masyarakat yang terjalin baik menjadi bukti kuat bahwa stabilitas sosial dapat terus dipertahankan.

Peran masyarakat dalam menjaga stabilitas juga mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Sekretaris Daerah Papua Barat, Ali Baham Temongmere menilai bahwa kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga kebersamaan menjadi faktor penting dalam menciptakan situasi yang kondusif. Partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga ketertiban serta menjunjung tinggi nilai toleransi menunjukkan bahwa keamanan bukan hanya tanggung jawab aparat, tetapi merupakan tanggung jawab bersama.

Dari perspektif pertahanan, Panglima Kodam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Amrin Ibrahim menegaskan bahwa penguatan stabilitas keamanan dilakukan melalui strategi yang terarah dan berkelanjutan. TNI tidak hanya menjalankan fungsi pertahanan, tetapi juga berperan aktif dalam mendukung pembangunan melalui program ketahanan pangan, pembangunan infrastruktur, serta pemberdayaan masyarakat. Pendekatan ini menunjukkan bahwa keamanan dan kesejahteraan merupakan dua aspek yang saling berkaitan.

Penguatan sinergi lintas sektor juga menjadi perhatian utama. Kepala Staf Kodam XVII/Cenderawasih, Brigjen TNI Thevi A. Zebua menekankan pentingnya kolaborasi antara TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun sistem deteksi dini terhadap potensi gangguan. Keterlibatan masyarakat dalam memberikan informasi yang akurat dinilai sangat membantu aparat dalam mengambil langkah cepat dan tepat, sehingga stabilitas dapat terus terjaga.

Sementara itu, Komandan Korem 181/Praja Vira Tama, Brigjen TNI Slamet Riyadi menjelaskan bahwa peningkatan kewaspadaan terus dilakukan di wilayah yang memiliki potensi kerawanan. Penguatan fungsi intelijen serta koordinasi antar-satuan menjadi langkah strategis dalam memastikan respons yang cepat terhadap setiap dinamika di lapangan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa upaya menjaga keamanan dilakukan secara adaptif sesuai dengan perkembangan situasi.

Dukungan terhadap terciptanya stabilitas keamanan juga datang dari kalangan masyarakat sipil. Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Papua Tengah, Yosep Temorubun menilai bahwa keamanan merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi untuk menjamin keberlangsungan kehidupan masyarakat. Pendekatan humanis serta penegakan hukum yang profesional dinilai menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap aparat.

Secara keseluruhan, stabilitas kamtibmas di Papua yang semakin baik mencerminkan keberhasilan pendekatan kolaboratif yang dijalankan pemerintah. Sinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat telah menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembangunan dan peningkatan kesejahteraan. Kondisi ini juga memberikan kepastian bagi aktivitas ekonomi serta pelayanan publik yang lebih optimal.

Ke depan, konsistensi dalam menjaga kolaborasi serta penguatan nilai toleransi menjadi kunci dalam mempertahankan stabilitas yang telah dicapai. Papua memiliki potensi besar untuk terus berkembang sebagai wilayah yang aman, damai, dan sejahtera. Dengan dukungan kebijakan pemerintah yang tepat serta partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat, Papua dapat melangkah menuju masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

 

)* Penulis merupakan Pengamat Pembangunan Papua

Sinergi Pemerintah dan Masyarakat Ciptakan Papua yang Aman

sharethis sharing button

PT Suara Dewata Media - Suara dari Pulau Dewata

Oleh: Yohanis Kambuaya)*

 

Situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Papua dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan kondisi yang relatif stabil dan terkendali. Stabilitas ini menjadi indikator penting bahwa berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah, aparat keamanan, serta masyarakat telah berjalan dalam satu arah yang sama, yakni menjaga ruang sosial tetap kondusif. Dalam konteks Papua yang memiliki keragaman sosial, budaya, dan geografis yang kompleks, terjaganya keamanan bukan hanya soal absennya konflik, tetapi juga tentang hadirnya rasa aman yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, menegaskan bahwa komitmen menjaga stabilitas telah dibangun melalui koordinasi lintas sektor yang konsisten. Ia menilai bahwa penguatan komunikasi antara pemerintah daerah dengan aparat keamanan menjadi faktor kunci dalam memastikan setiap potensi gangguan dapat diantisipasi sejak dini. Menurutnya, stabilitas yang terjaga saat ini merupakan hasil dari perencanaan yang matang dan kerja bersama yang berkelanjutan, sehingga masyarakat dapat menjalankan aktivitas dengan tenang tanpa rasa khawatir terhadap gangguan keamanan.

Sejalan dengan itu, Kapolda Papua Barat, Irjen Pol Alfred Papare, menyampaikan bahwa situasi kamtibmas di wilayahnya menunjukkan tren yang semakin terkendali dibandingkan periode sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa pendekatan preventif melalui patroli rutin, pengamanan wilayah strategis, serta interaksi langsung dengan masyarakat menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas. Selain itu, pendekatan humanis yang diterapkan oleh aparat kepolisian dinilai mampu membangun kepercayaan publik, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi objek pengamanan, tetapi juga mitra aktif dalam menjaga ketertiban.

Pandangan dari unsur legislatif juga memperkuat gambaran tersebut. Ketua DPR Papua Barat, Orgenes Wonggor, menyampaikan bahwa kondisi aman dan damai yang dirasakan masyarakat merupakan hasil dari kerja kolektif seluruh elemen. Ia menekankan bahwa nilai toleransi yang tinggi di Papua menjadi salah satu faktor utama dalam menjaga harmoni sosial. Hubungan antarumat beragama dan antarkelompok masyarakat yang berjalan dengan baik menunjukkan bahwa masyarakat Papua memiliki modal sosial yang kuat dalam menghadapi berbagai dinamika yang ada.

Sekretaris Daerah Papua Barat, Ali Baham Temongmere, turut memberikan apresiasi terhadap peran aktif masyarakat dalam menjaga stabilitas. Ia menyoroti bahwa keamanan yang terjaga tidak terlepas dari kesadaran kolektif masyarakat untuk saling menghormati dan mendukung satu sama lain. Praktik toleransi yang berkembang di tengah masyarakat menjadi bukti bahwa nilai-nilai kebersamaan masih sangat kuat. Kondisi ini menunjukkan bahwa stabilitas kamtibmas di Papua tidak hanya bergantung pada aparat, tetapi juga pada partisipasi aktif masyarakat.

Dari perspektif militer, Panglima Kodam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Amrin Ibrahim, menegaskan bahwa penguatan stabilitas keamanan dilakukan melalui evaluasi berkelanjutan serta perencanaan strategis yang terarah. Ia menyampaikan bahwa peran TNI tidak hanya terbatas pada aspek pertahanan, tetapi juga mencakup dukungan terhadap pembangunan di berbagai sektor. Program-program seperti ketahanan pangan, pembangunan infrastruktur, serta pemberdayaan masyarakat menjadi bagian dari upaya menciptakan keseimbangan antara keamanan dan kesejahteraan.

Kepala Staf Kodam XVII/Cenderawasih, Brigjen TNI Thevi A. Zebua, menambahkan bahwa sinergi antara TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dalam membangun sistem deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan. Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam memberikan informasi yang akurat menjadi bagian penting dalam menciptakan situasi yang kondusif. Dengan adanya komunikasi yang baik antara aparat dan masyarakat, potensi gangguan dapat diantisipasi secara lebih efektif.

Di sisi lain, Komandan Korem 181/Praja Vira Tama, Brigjen TNI Slamet Riyadi, menegaskan bahwa aparat terus meningkatkan kewaspadaan di wilayah-wilayah yang memiliki potensi kerawanan. Ia menjelaskan bahwa penguatan fungsi intelijen serta koordinasi antar-satuan dilakukan untuk memastikan respons yang cepat terhadap setiap dinamika yang berkembang. Langkah ini menunjukkan bahwa upaya menjaga stabilitas dilakukan secara adaptif dan responsif terhadap kondisi di lapangan, sehingga keamanan tetap terjaga secara menyeluruh.

Dukungan terhadap upaya menjaga kamtibmas juga datang dari kalangan pegiat hukum dan kemanusiaan. Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Papua Tengah, Yosep Temorubun, menilai bahwa keamanan merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus dipenuhi. Ia menekankan bahwa pendekatan humanis yang dilakukan aparat menjadi langkah penting dalam membangun kepercayaan masyarakat. Selain itu, penegakan hukum yang profesional dan berkeadilan dinilai sebagai faktor utama dalam menciptakan rasa aman yang berkelanjutan.

Secara keseluruhan, kondisi kamtibmas di Papua yang terjaga dengan baik mencerminkan kuatnya sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman dan harmonis. Stabilitas ini menjadi fondasi penting dalam membangun ruang sosial yang produktif serta mendorong percepatan pembangunan di berbagai sektor. Situasi yang kondusif juga memberikan kepastian bagi aktivitas ekonomi, pelayanan publik, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Dengan terus memperkuat kolaborasi, menumbuhkan nilai toleransi, serta meningkatkan profesionalisme aparat, Papua memiliki landasan yang kokoh untuk melangkah menuju kemajuan yang berkelanjutan dan inklusif di masa depan.

 

*)Penulis merupakan Pemerhati Sosial