Pemerintah Percepat Hilirisasi Berbagai Komoditas, Antisipasi Gejolak Global

Jakarta – Pemerintah terus mempercepat program hilirisasi berbagai komoditas strategis nasional sebagai langkah memperkuat ketahanan ekonomi di tengah dinamika geopolitik dan fluktuasi harga komoditas global. Kebijakan ini diarahkan agar Indonesia tidak lagi hanya bergantung pada ekspor bahan mentah, melainkan mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi yang memberi manfaat lebih besar bagi perekonomian nasional.

Andi Amran Sulaiman, menekankan bahwa Indonesia harus memperkuat sektor hilir agar manfaat ekonomi dari komoditas unggulan dapat dinikmati secara optimal di dalam negeri. Ia menegaskan bahwa hilirisasi perkebunan, terutama kelapa sawit, memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak ekonomi nasional sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat desa.

“Kita tidak boleh lagi bergantung pada ekspor bahan mentah. Hilirisasi perkebunan harus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi desa, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan devisa, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional,” ujar Amran.

Melalui strategi tersebut, pemerintah menargetkan pengembangan kawasan perkebunan strategis seluas lebih dari 870 ribu hektare untuk mendukung penguatan industri hilir berbagai komoditas unggulan. Program ini juga diproyeksikan mampu menyerap hingga sekitar 8,6 juta tenaga kerja baru, sehingga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat.

Dalam konteks komoditas kelapa sawit, hilirisasi juga dinilai menjadi strategi penting untuk menjaga keberlanjutan industri sekaligus menghadapi dinamika pasar global. Pengembangan produk turunan sawit seperti oleokimia, biodiesel, hingga berbagai produk industri lainnya dapat memperluas pasar dan meningkatkan nilai tambah dari komoditas tersebut.

Amran mengatakan bahwa kelapa sawit memiliki keunggulan produktivitas dan efisiensi lahan yang tinggi dibandingkan minyak nabati lainnya. Karena itu, penguatan hilirisasi menjadi langkah strategis untuk memastikan komoditas tersebut memberikan manfaat maksimal bagi pembangunan nasional.

“Kelapa sawit merupakan salah satu kekuatan besar Indonesia. Produktivitasnya tinggi, efisien dalam penggunaan lahan, dan mampu menggerakkan ekonomi rakyat dari desa hingga industri besar,” ujar Amran.

Pemerintah akan terus mendorong integrasi antara sektor hulu dan hilir melalui pengembangan kawasan industri berbasis komoditas, peningkatan investasi di sektor pengolahan, serta penguatan inovasi teknologi. Langkah ini sekaligus menjadi strategi jangka panjang untuk menghadapi gejolak ekonomi dunia dan memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga.

Hilirisasi Ragam Komoditas, Strategi Rasional di Tengah Ketidakpastian Global

Oleh : Bara Winatha*)

Ketidakpastian ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir mendorong banyak negara untuk memperkuat fondasi ekonominya melalui strategi yang lebih mandiri dan berbasis nilai tambah. Bagi Indonesia, salah satu pendekatan yang semakin menonjol adalah kebijakan hilirisasi komoditas. Kebijakan ini tidak lagi dipahami sekadar sebagai upaya meningkatkan nilai tambah sektor mineral, melainkan sebagai strategi ekonomi nasional yang mencakup berbagai sektor produksi, mulai dari sumber daya alam, komoditas pertanian, hingga produk industri kreatif. Hilirisasi ragam komoditas menjadi strategi rasional untuk memperkuat daya tahan ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik, fluktuasi harga komoditas, serta perubahan struktur perdagangan global.

Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya mengatakan bahwa pemerintah mendorong hilirisasi produk kreatif lokal agar industri kreatif Indonesia mampu berkembang lebih kuat dan menjadi tuan rumah di pasar domestik. Ia menjelaskan bahwa konsep hilirisasi tidak seharusnya hanya melekat pada sektor tambang atau industri ekstraktif, tetapi juga harus diperluas pada sektor-sektor kreatif seperti fashion, kuliner, dan kriya yang memiliki potensi besar dalam menyerap tenaga kerja serta menciptakan nilai ekonomi baru.

Teuku menilai bahwa situasi geopolitik global yang tidak stabil, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah dan Eropa, berpotensi memengaruhi kinerja perdagangan internasional. Kondisi tersebut dapat berdampak pada sektor ekonomi kreatif Indonesia yang selama ini memiliki pasar ekspor cukup kuat di wilayah-wilayah tersebut. Oleh karena itu, strategi hilirisasi produk kreatif menjadi langkah penting untuk memperkuat pasar domestik sekaligus menjaga keberlanjutan industri kreatif nasional.

Menurutnya, hilirisasi pada sektor kreatif tidak hanya berkaitan dengan proses produksi, tetapi juga mencakup penguatan ekosistem pemasaran, inovasi desain, dan digitalisasi distribusi produk. Dengan memanfaatkan platform digital dan program pelatihan literasi digital bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, produk-produk lokal dapat menjangkau pasar yang lebih luas di dalam negeri. Pendekatan ini sekaligus memperkuat posisi brand lokal agar mampu bersaing dengan produk impor yang selama ini mendominasi pasar domestik.

Di sisi lain, pendekatan hilirisasi juga terus berkembang dalam sektor sumber daya alam dan komoditas strategis. Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas mengatakan bahwa pembangunan fasilitas pemurnian tembaga di Gresik merupakan bagian dari strategi nasional untuk menciptakan nilai tambah industri mineral di dalam negeri. Ia menjelaskan bahwa pengoperasian smelter tembaga di Kawasan Ekonomi Khusus Java Integrated Industrial and Port Estate menjadi tonggak penting dalam memperkuat rantai nilai industri mineral nasional.

Tony menilai bahwa selama bertahun-tahun Indonesia terlalu bergantung pada ekspor bahan mentah, sehingga sebagian besar nilai ekonomi dinikmati oleh negara lain yang memiliki industri pengolahan lebih maju. Dengan hadirnya fasilitas pemurnian tembaga berkapasitas besar, Indonesia kini mampu mengolah konsentrat tembaga menjadi katoda tembaga bernilai tinggi yang menjadi bahan baku penting bagi berbagai industri, termasuk kabel listrik, otomotif, dan teknologi energi terbarukan.

Ia menjelaskan bahwa kapasitas pengolahan yang mencapai jutaan ton konsentrat tembaga per tahun memungkinkan Indonesia meningkatkan produksi katoda tembaga secara signifikan. Produk tersebut memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi dibandingkan bahan mentah, sekaligus membuka peluang pengembangan industri turunan seperti komponen kelistrikan dan material kendaraan listrik.

Selain menciptakan nilai tambah ekonomi, proyek hilirisasi ini juga memberikan dampak sosial yang luas. Tony menyampaikan bahwa pembangunan dan operasional fasilitas pengolahan tembaga tersebut telah membuka ribuan lapangan kerja dan mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi di sekitar kawasan industri. Kehadiran proyek ini tidak hanya melibatkan tenaga kerja lokal, tetapi juga mendorong perkembangan sektor logistik, konstruksi, serta usaha kecil dan menengah di wilayah sekitarnya.

Sementara itu, dari perspektif kebijakan nasional, perluasan hilirisasi ke berbagai komoditas juga mendapat perhatian dari kalangan legislatif. Anggota Komisi XII DPR RI, Jalal Abdul Nasir mengatakan bahwa kebijakan hilirisasi perlu diperluas melampaui sektor mineral dan energi dengan mengoptimalkan komoditas pertanian, perkebunan, dan kelautan yang memiliki potensi besar di berbagai daerah.

Ia menjelaskan bahwa banyak wilayah di Indonesia memiliki kekuatan produksi pada komoditas tertentu yang dapat menjadi basis pengembangan industri hilir. Ketika potensi tersebut dipetakan dengan baik dan dikembangkan secara terfokus, setiap daerah dapat membangun ekosistem ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Jalal menilai bahwa komoditas seperti kelapa, kakao, karet alam, tebu, kopi, jagung, singkong, hingga rempah-rempah memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui strategi hilirisasi. Dengan meningkatkan proses pengolahan di dalam negeri, komoditas-komoditas tersebut tidak lagi hanya dijual sebagai bahan mentah, melainkan sebagai produk olahan bernilai tinggi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Hilirisasi memberikan peluang bagi pengembangan teknologi industri domestik. Ketika proses produksi semakin kompleks, kebutuhan terhadap tenaga kerja terampil, riset teknologi, serta inovasi industri akan meningkat. Hal ini pada akhirnya mendorong transformasi ekonomi dari berbasis sumber daya menjadi berbasis pengetahuan dan teknologi.

Pada akhirnya, hilirisasi ragam komoditas dapat dipahami sebagai strategi ekonomi jangka panjang yang tidak hanya meningkatkan nilai tambah produksi, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Dengan memperluas hilirisasi ke berbagai sektor, Indonesia dapat membangun struktur ekonomi yang lebih berimbang, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan daya saing produk nasional di pasar global.

*) Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan

Hilirisasi dan Kebangkitan Ekonomi Berbasis Komoditas Rakyat

Oleh : Abdul Razak )*
Di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah dan Eropa, Indonesia mempercepat agenda hilirisasi sebagai strategi memperkuat fondasi ekonomi nasional. Hilirisasi tidak lagi dipahami semata sebagai pengolahan mineral dan tambang, tetapi diperluas ke sektor kreatif, perkebunan rakyat, hingga energi dan riset teknologi. Pendekatan menyeluruh ini menjadi bagian dari upaya membangkitkan ekonomi berbasis komoditas rakyat agar mampu menjadi penopang pertumbuhan di masa krisis.

Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya menegaskan hilirisasi produk kreatif lokal menjadi langkah penting agar industri kreatif Indonesia mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Ia menyampaikan bahwa hilirisasi tidak hanya hilirisasi tambang, tetapi juga hilirisasi fashion, kuliner, kriya, dan subsektor kreatif lainnya. Menurutnya, produk-produk yang sebelumnya didominasi impor harus digantikan oleh brand lokal yang memiliki daya saing tinggi di pasar domestik maupun global.

Dijelaskannya bahwa perang geopolitik yang terjadi di Timur Tengah dan kawasan Eropa berpotensi berdampak pada ekspor subsektor fashion, kuliner, dan kriya yang selama ini mencatat kinerja cukup baik. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengantisipasi dampak tersebut melalui kebijakan hilirisasi produk lokal agar produktivitas UMKM meningkat dan perputaran ekonomi tetap terjadi di dalam negeri. Ia menekankan pentingnya menjaga pasar domestik agar diisi oleh produk dan merek lokal sebagai fondasi ketahanan ekonomi nasional.

Dukungan pemerintah pusat, pemerintah daerah, perbankan, akademisi, dan asosiasi menjadi kunci keberhasilan strategi tersebut. Sistem pemasaran berbasis digital dan penguatan literasi digital juga menjadi instrumen penting dalam memperluas jangkauan pasar UMKM. Program pelatihan seperti Emak-Emak Matic dan Genmatic yang berkolaborasi dengan platform belanja daring diharapkan mampu mempercepat transformasi digital pelaku usaha kecil di seluruh Indonesia. Ia berharap industri kreatif dan UMKM dapat menjadi tulang punggung perekonomian nasional di tengah tekanan global.

Di sektor agraris, arah hilirisasi juga diperkuat melalui kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang memerintahkan pengembangan tujuh komoditas perkebunan rakyat. Direktur Perlindungan Perkebunan Kementerian Pertanian, Hendratmojo Bagus Hudoro, menyebut komoditas tersebut meliputi tebu, kelapa, kopi, lada, kakao, jambu mete, dan pala yang hampir 90 persen dikelola oleh perkebunan rakyat.

Jika pertumbuhan tujuh komoditas itu dapat didorong menyerupai pengembangan kelapa sawit melalui skema kemitraan inti-plasma, Indonesia berpotensi menjadi negara adidaya agraris. Ia mengakui bahwa di luar kelapa sawit, komoditas lain masih kurang diminati investor. Karena itu, dalam dua hingga tiga tahun ke depan, Direktorat Jenderal Perkebunan akan membangun fondasi hulu terlebih dahulu melalui peremajaan tanaman tua guna menjamin keberlanjutan bahan baku sebelum investasi hilirisasi masuk. Membangun pabrik pengolahan relatif mudah jika investasi tersedia, namun yang lebih krusial adalah memastikan kesinambungan pasokan bahan baku. Penguatan aspek hulu menjadi prasyarat mutlak sebelum hilirisasi skala besar dijalankan. Targetnya, pada 2035 investasi hilir sudah dapat didudukkan secara matang dengan basis produksi yang kuat dan berkelanjutan.

Penguatan hilirisasi juga mendapat dukungan dari arsitektur riset nasional yang berbasis problem statement. Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan Aziman, menyampaikan bahwa riset nasional kini diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata industri dan tantangan strategis negara. Problem statement tidak hanya datang dari kampus, tetapi juga dari industri, BUMN, dan Dewan Energi Nasional. Peningkatan anggaran riset dari Rp8 triliun menjadi Rp12 triliun pada 2025 ditujukan untuk mempercepat penguasaan teknologi, khususnya di sektor hilirisasi mineral dan ketahanan energi. Tanpa penguasaan teknologi, Indonesia akan terus berada pada posisi eksportir bahan mentah dan bergantung pada teknologi impor. Karena itu, kerja sama industri diperkuat, termasuk dengan holding pertambangan MIND ID yang mengonsolidasikan sejumlah entitas strategis nasional.

Peran MIND ID sangat krusial dalam mengamankan pasokan energi sekaligus membangun ekosistem hilirisasi. Selain penguatan teknologi, integrasi riset dengan pengembangan sumber daya manusia juga menjadi prioritas agar industri nasional adaptif terhadap disrupsi global. Teknologi dan manusianya harus dibangun secara bersamaan agar hilirisasi tidak hanya bertumpu pada investasi fisik, tetapi juga pada kemandirian inovasi dalam negeri.

Sementara itu, di tingkat daerah, praktik hilirisasi komoditas rakyat mulai digerakkan melalui pengembangan kelapa genjah di Kabupaten Sleman. Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto melakukan penanaman 3.300 bibit kelapa genjah bersama Bupati Sleman Harda Kiswaya dan kelompok tani setempat. Titiek Soeharto menyampaikan bantuan bibit dari Kementerian Pertanian tersebut bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani karena kelapa genjah memiliki masa produktivitas lebih cepat, yakni tiga hingga empat tahun. Kelapa genjah harus dipandang sebagai aset produktif desa yang dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti santan, minyak kelapa, hingga olahan sabut. Keberhasilan program sangat bergantung pada kekompakan kelompok tani dalam merawat tanaman secara berkelanjutan.

Bupati Sleman berharap sinergi pemerintah pusat, daerah, dan petani mampu memperkuat daya saing pertanian Sleman. Pengembangan kelapa genjah berpotensi menjadi program unggulan berbasis kawasan yang tidak hanya menggerakkan sektor pertanian, tetapi juga mendukung agrowisata dan ekonomi kreatif desa. Pemerintah Kabupaten Sleman juga mendorong hilirisasi produk turunan seperti gula semut dan Virgin Coconut Oil agar manfaat ekonomi dirasakan masyarakat secara berkelanjutan.

Rangkaian kebijakan dan inisiatif tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi kini menjadi strategi komprehensif lintas sektor. Dari industri kreatif, perkebunan rakyat, hingga mineral dan energi, orientasi nilai tambah dalam negeri menjadi kunci kebangkitan ekonomi berbasis komoditas rakyat. Dengan penguatan hulu, dukungan riset dan teknologi, serta sinergi pusat-daerah, Indonesia berupaya memastikan bahwa kekayaan alam dan kreativitas rakyat benar-benar menjadi motor pertumbuhan yang tangguh di tengah gejolak global.

)* Penulis adalah seorang Analis Kebijakan

Mudik Gratis dan Makna Kehadiran Negara di Momentum Lebaran

Oleh : Nancy Dora )*

Momentum Lebaran selalu menghadirkan arus besar pergerakan manusia di Indonesia. Tradisi mudik bukan sekadar perjalanan pulang kampung, melainkan peristiwa sosial yang sarat makna kultural, emosional, dan spiritual. Dalam konteks inilah program mudik gratis yang digelar pemerintah pusat dan daerah menemukan relevansinya sebagai wujud nyata kehadiran negara di tengah kebutuhan masyarakat. Kebijakan tersebut tidak hanya menyentuh aspek transportasi, tetapi juga memuat pesan kuat tentang keberpihakan pada keselamatan, keterjangkauan, dan pemerataan akses layanan publik.

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan kembali menghadirkan program mudik gratis kapal laut untuk Lebaran 2026 dengan kuota hingga 66 ribu penumpang. Pendaftaran dibuka mulai 6 Maret 2026, dengan periode keberangkatan 11 Maret hingga 6 April 2026. Selain kuota gratis, pemerintah juga memberikan diskon tiket sebesar 30 persen untuk lebih dari 445 ribu tiket kapal kelas ekonomi pada trayek Public Service Obligation PT Pelni. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyampaikan bahwa langkah tersebut diharapkan dapat meringankan beban masyarakat sekaligus mendukung distribusi arus mudik yang lebih merata. Keselamatan pelayaran adalah prioritas utama dan tidak ada kompromi terhadap aspek keselamatan.

Kebijakan ini menunjukkan bahwa negara tidak hanya hadir dalam bentuk regulasi, tetapi juga dalam aksi konkret yang terukur. Penyediaan 841 kapal dengan kapasitas sekitar 3,2 juta penumpang selama periode Angkutan Laut Lebaran 2026 menandakan kesiapan sistemik yang dirancang untuk mengantisipasi lonjakan mobilitas. Pemerintah bersama Korlantas Polri dan Kementerian Pekerjaan Umum turut mengatur skema pemisahan pelabuhan di lintasan strategis seperti Merak–Bakauheni dan Ketapang–Gilimanuk. Direktur Jenderal Perhubungan Darat Aan Suhanan menjelaskan bahwa pengaturan tersebut bertujuan memecah kepadatan dan mencegah penumpukan di satu titik. Strategi ini mencerminkan pendekatan kolaboratif lintas sektor demi memastikan perjalanan mudik berlangsung tertib dan aman.

Di tingkat daerah, semangat serupa juga terlihat. Pemerintah Provinsi Jawa Timur di bawah kepemimpinan Gubernur Khofifah Indar Parawansa menyiapkan mudik gratis bagi 7.000 warga dengan 20 tujuan kabupaten/kota. Sebanyak 4.000 penumpang diberangkatkan melalui jalur darat menggunakan bus, sementara 3.000 lainnya melalui jalur laut dengan 12 kali pelayaran. Fasilitas pengangkutan 200 unit sepeda motor secara gratis juga disediakan guna mengurangi risiko kecelakaan akibat perjalanan jarak jauh menggunakan kendaraan roda dua. Program ini dihadirkan agar masyarakat dapat berkumpul dengan keluarga secara aman dan nyaman tanpa terbebani biaya transportasi.

Langkah Pemerintah Provinsi Aceh juga patut dicermati. Program Mudik Gratis 2026 dibuka untuk masyarakat dengan pendaftaran secara daring, mencakup berbagai rute strategis dari Banda Aceh menuju sejumlah kabupaten/kota hingga Medan. Kepala Dinas Perhubungan Aceh T. Faisal menjelaskan bahwa program tersebut merupakan arahan Gubernur Muzakir Manaf sebagai upaya menyediakan layanan transportasi yang aman dan terjangkau, khususnya pasca bencana hidrometeorologi. Penegasan larangan praktik jual beli tiket serta sanksi tegas bagi pelanggaran menunjukkan komitmen menjaga integritas program agar tepat sasaran.

Jika dicermati secara menyeluruh, program mudik gratis mengandung beberapa makna strategis. Pertama, aspek perlindungan sosial. Di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan sebagian masyarakat, subsidi transportasi menjadi bantalan yang signifikan. Biaya perjalanan yang biasanya melonjak menjelang Lebaran dapat ditekan, sehingga alokasi pengeluaran rumah tangga dapat difokuskan pada kebutuhan lain selama hari raya.

Kedua, aspek keselamatan publik. Pengalihan sepeda motor ke kapal laut, pengaturan buffer zone bagi kendaraan logistik, hingga pemisahan arus di pelabuhan strategis merupakan bentuk mitigasi risiko kecelakaan dan kemacetan ekstrem. Negara mengambil peran preventif, bukan sekadar responsif. Ini memperlihatkan paradigma pelayanan publik yang berbasis perencanaan dan antisipasi.

Ketiga, aspek pemerataan dan konektivitas wilayah. Transportasi laut menjadi tulang punggung bagi wilayah kepulauan, daerah terpencil, terluar, dan perbatasan. Dengan memperkuat layanan angkutan laut, pemerintah tidak hanya mengatur arus mudik, tetapi juga mempertegas komitmen terhadap Indonesia sebagai negara kepulauan yang membutuhkan konektivitas inklusif.

Mudik gratis adalah simbol kehadiran negara dalam ruang-ruang emosional warganya. Lebaran adalah momentum mempererat silaturahmi dan merawat ikatan keluarga. Ketika negara memfasilitasi perjalanan tersebut dengan aman dan terjangkau, sesungguhnya negara sedang memperkuat kohesi sosial. Negara tidak berdiri jauh dari warganya, melainkan hadir di titik-titik krusial kehidupan mereka. Ke depan, tantangan utama adalah memastikan pelaksanaan berjalan akuntabel, transparan, dan tepat sasaran. Pengawasan terhadap kelaikan armada, ketepatan jadwal, serta ketertiban administrasi harus terus diperkuat. Evaluasi berbasis data pasca-Lebaran perlu dilakukan agar program serupa semakin efektif di tahun-tahun mendatang.

Pada akhirnya, mudik gratis bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah refleksi dari filosofi pelayanan publik yang humanis. Di tengah kompleksitas mobilitas jutaan orang, kehadiran negara melalui kebijakan yang terencana dan berpihak menjadi fondasi penting dalam menjaga keselamatan, kenyamanan, dan persatuan bangsa pada momentum suci Lebaran.

)* Penulis adalah Pengamat Sosial

Program MBG Membuka Ruang Baru bagi Ekonomi Daerah

Oleh Dianita Yanuar )*

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak lagi dapat dipahami semata sebagai kebijakan pemenuhan gizi anak-anak, melainkan sebagai desain besar pembangunan ekonomi yang bekerja dari akar rumput. Di tengah tantangan stagnasi ekonomi lokal di banyak daerah, MBG hadir sebagai instrumen negara yang secara simultan menjawab persoalan kesehatan, pendidikan, dan perputaran ekonomi. Skema yang diterapkan menunjukkan bahwa negara mulai menggeser pendekatan pembangunan dari pola sentralistis menuju distribusi langsung yang lebih berani dan progresif.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menegaskan bahwa BGN menerapkan pola baru dalam tata kelola anggaran dengan menyalurkan dana langsung ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tanpa melalui pemerintah daerah. Sekitar 93 persen dari total anggaran BGN dikirim langsung ke SPPG di seluruh Indonesia. Dari total anggaran Rp268 triliun, kurang lebih Rp240 triliun beredar langsung di daerah, dari Sabang hingga Merauke. Setiap SPPG rata-rata menerima alokasi sekitar Rp500 juta per hari, sebuah angka yang mencerminkan besarnya likuiditas yang digelontorkan negara langsung ke level paling bawah.

Model ini menghadirkan perubahan mendasar dalam cara negara menggerakkan ekonomi daerah. Dana publik tidak lagi berhenti di meja birokrasi, melainkan langsung bertransformasi menjadi aktivitas ekonomi riil. Hingga saat ini, dana yang telah beredar di berbagai wilayah diperkirakan mencapai Rp36 triliun. Besarnya perputaran tersebut menjadikan MBG sebagai salah satu pengungkit ekonomi paling signifikan dalam waktu singkat, terutama karena distribusinya merata dan tidak terpusat di kota-kota besar. Banyaknya SPPG yang beroperasi di suatu daerah secara langsung menentukan besaran perputaran uang, sehingga daerah dengan basis produksi pangan yang kuat memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh.

Dampak paling nyata dari kebijakan ini terlihat pada sektor produksi lokal. BGN menjamin penyerapan hasil pertanian, perikanan, dan peternakan daerah untuk memenuhi kebutuhan MBG. Kepastian pasar yang sebelumnya sulit diperoleh petani kini hadir melalui negara. Fenomena kenaikan harga komoditas, seperti wortel di Nusa Tenggara Timur yang mengalami lonjakan signifikan, menjadi bukti bahwa intervensi negara yang tepat sasaran mampu memperbaiki posisi tawar produsen kecil. Ini bukan sekadar efek sesaat, melainkan perubahan struktur pasar yang memberi harapan baru bagi petani dan nelayan.

Kenaikan serapan produksi tersebut berkontribusi pada peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP). Rata-rata NTP yang kini berada di kisaran 125 menunjukkan bahwa pendapatan petani tidak lagi hanya cukup untuk bertahan hidup, tetapi mulai membuka ruang investasi dan peningkatan kesejahteraan keluarga. Dadan Hindayana bahkan optimistis NTP dapat terdongkrak hingga 150 seiring berjalannya MBG secara konsisten. Jika target ini tercapai, maka MBG dapat dicatat sebagai salah satu kebijakan negara paling berdampak dalam memperbaiki struktur ekonomi pedesaan.

Dari perspektif makro, besarnya perputaran dana MBG juga berfungsi sebagai stimulus ekonomi. Pada triwulan pertama tahun lalu, pemerintah menggelontorkan stimulus Rp37 triliun yang mendorong pertumbuhan ekonomi 4,7 persen. Tahun ini, hingga Maret saja, peredaran dana BGN diperkirakan mencapai Rp62 triliun. Perbedaan mendasar terletak pada cara dana itu bekerja. MBG tidak hanya mendorong konsumsi, tetapi juga mengaktifkan produksi lokal, distribusi, dan penyerapan tenaga kerja di daerah, sehingga dampak bergandanya jauh lebih luas.

Dimensi ekonomi kreatif dan perdesaan turut ditekankan oleh Teuku Riefky Harsya, yang menilai MBG sebagai investasi jangka panjang sumber daya manusia sekaligus penggerak ekonomi desa. Dorongan agar dapur-dapur SPPG memprioritaskan bahan baku lokal memperkuat rantai pasok dan memastikan uang berputar di wilayah yang sama. Dengan demikian, MBG bukan hanya program sosial, tetapi juga strategi pembangunan berbasis komunitas.

Dukungan politik terhadap MBG juga menguat. Anggota Komisi IX DPR RI, Mariana, menegaskan bahwa MBG merupakan program prioritas pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia. Dampaknya tidak berhenti pada kesehatan, tetapi juga merembet ke sektor pendidikan dan ekonomi keluarga. Anak-anak yang memperoleh asupan gizi memadai menunjukkan konsentrasi belajar yang lebih baik dan tingkat kehadiran sekolah yang meningkat, sementara orang tua terbantu karena sebagian beban pengeluaran rumah tangga berkurang.

Lebih jauh, operasional SPPG membuka lapangan kerja baru di tingkat lokal. Kegiatan memasak, pengemasan, distribusi, hingga pengadaan bahan pangan melibatkan tenaga kerja dan pelaku usaha setempat. Rantai ekonomi yang tercipta dari dapur-dapur MBG ini menjadi bukti bahwa kebijakan publik yang dirancang dengan visi menyeluruh mampu menciptakan manfaat berlapis.

MBG telah menghadirkan paradigma baru pembangunan nasional. Negara tidak hanya hadir memberi bantuan, tetapi membangun ekosistem ekonomi yang hidup di daerah. Dengan perputaran dana yang besar, jaminan pasar bagi produksi lokal, serta dampak positif pada kesehatan dan pendidikan, MBG membuka ruang baru bagi ekonomi daerah untuk tumbuh secara inklusif dan berkelanjutan. Apabila konsistensi kebijakan ini terus terjaga, maka MBG akan menjadi tonggak penting dalam sejarah pembangunan Indonesia yang berkeadilan.

)* penulis merupakan pengamat kebijakan ekonomi

MBG Jadi Motor Penggerak Ekonomi Lokal

Oleh: Nadira Citra Maheswari)*

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kian menunjukkan perannya bukan hanya sebagai instrumen pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi lokal yang berdampak luas dan berkelanjutan. Dalam implementasinya, MBG tidak sekadar menghadirkan makanan sehat bagi anak-anak sekolah dan kelompok rentan, tetapi juga membangun rantai pasok yang melibatkan petani, peternak, nelayan, pelaku UMKM, hingga koperasi desa.

Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Badan Gizi Nasional (BGN), Khairul Hidayati menegaskan bahwa MBG memiliki peran strategis di luar aspek pemenuhan gizi. Program MBG bukan sekadar membagi makanan, tetapi dirancang untuk menggerakkan ekonomi lokal dan memperkuat kedaulatan pangan nasional. Hida menambahkan bahwa keberhasilan MBG sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat dan pemerintah daerah. Ketika rantai pasok dibangun dari desa dan dikelola secara berkeadilan, MBG akan menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus fondasi kedaulatan pangan bangsa.

Penegasan tersebut sejalan dengan desain MBG yang bertumpu pada prinsip pemberdayaan. Bahan pangan yang digunakan diupayakan berasal dari produksi lokal di sekitar wilayah pelaksanaan program. Skema ini menciptakan permintaan yang stabil terhadap komoditas pertanian dan perikanan daerah. Ketika kebutuhan bahan pangan untuk dapur-dapur MBG meningkat secara konsisten, para produsen lokal memperoleh kepastian pasar.

Anggota Komisi IX DPR RI, Mariana mengatakan program MBG merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak kita. Program ini tidak hanya berfokus pada pemberian makanan, tetapi juga memiliki dampak yang luas, baik bagi kesehatan, pendidikan, maupun perekonomian masyarakat.

Dampak berganda dari MBG terlihat pada sektor pertanian. Petani sayur, beras, telur, dan komoditas hortikultura lainnya merasakan adanya lonjakan permintaan rutin yang berbeda dari pola pasar konvensional yang fluktuatif. Dengan adanya kontrak atau kerja sama pasokan, mereka dapat merencanakan musim tanam secara lebih terukur. Pola ini mendorong penerapan praktik budidaya yang lebih baik, termasuk peningkatan kualitas hasil panen agar sesuai dengan standar gizi dan keamanan pangan.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyampaikan MBG mengalami akselerasi signifikan. Perkembangan tersebut ditopang oleh partisipasi aktif masyarakat. Seluruh SPPG yang berdiri saat ini dibangun melalui pendanaan masyarakat, menjadikan MBG sebagai model kolaborasi sosial berskala nasional. Menurutnya, mekanisme ini bukan hanya mempercepat pemerataan layanan gizi, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi langsung di daerah. Skema partisipatif tersebut memperlihatkan bahwa MBG tidak berjalan secara top-down, melainkan bertumbuh dari keterlibatan komunitas yang memiliki kepentingan langsung terhadap peningkatan kualitas generasi penerus.

Program ini juga mendorong pertumbuhan UMKM di bidang pengolahan pangan dan jasa katering lokal. Kebutuhan pengolahan bahan mentah menjadi makanan siap saji dalam jumlah besar membuka lapangan kerja baru, mulai dari tenaga masak, tenaga distribusi, hingga tenaga administrasi. Perempuan di desa-desa banyak terlibat dalam dapur MBG, sehingga program ini turut memperkuat partisipasi ekonomi perempuan.

MBG berkontribusi pada penguatan kelembagaan ekonomi desa, terutama melalui koperasi dan Badan Usaha Milik Desa. Lembaga-lembaga ini dapat berperan sebagai agregator pasokan bahan pangan dari petani dan nelayan setempat. Dengan model agregasi, suplai menjadi lebih terkoordinasi dan memenuhi standar volume serta kualitas yang dibutuhkan. Selain itu, koperasi memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam negosiasi harga dan kontrak pasokan. Penguatan kelembagaan ini selaras dengan visi pembangunan desa mandiri yang berkelanjutan serta mempertegas arah kedaulatan pangan yang digagas melalui MBG.

Dari sisi fiskal daerah, aktivitas ekonomi yang meningkat berpotensi menambah penerimaan asli daerah melalui pajak dan retribusi. Walaupun tujuan utama MBG adalah sosial, efek ekonomi yang dihasilkan menciptakan ruang fiskal baru bagi pemerintah daerah untuk membiayai program pembangunan lainnya. Sinergi antara kebijakan pusat dan daerah menjadi kunci agar manfaat ekonomi dapat terdistribusi secara merata dan tidak terpusat pada wilayah tertentu saja.

Lebih jauh, MBG berkontribusi dalam pengendalian inflasi pangan di daerah apabila dikelola dengan tepat. Dengan memperkuat produksi lokal dan memperpendek rantai distribusi, ketergantungan pada pasokan antardaerah dapat ditekan. Stabilitas pasokan membantu menjaga harga tetap terkendali, terutama untuk komoditas yang sering mengalami gejolak musiman. Dalam konteks ini, MBG berfungsi sebagai jangkar permintaan yang terencana, sehingga produksi dapat disesuaikan dengan kebutuhan riil.

Ke depan, MBG berpotensi menjadi model pembangunan terpadu yang menggabungkan agenda kesehatan, pendidikan, dan ekonomi dalam satu kerangka kebijakan. Ketika kebutuhan gizi terpenuhi, kualitas pembelajaran meningkat, dan produktivitas generasi muda terjaga. Di saat yang sama, ekonomi lokal tumbuh melalui peningkatan permintaan dan penciptaan lapangan kerja.

Dengan desain yang inklusif dan berbasis potensi lokal, serta dukungan berbagai pemangku kepentingan, MBG dapat mempercepat perputaran ekonomi di akar rumput. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh penerima manfaat langsung, tetapi juga oleh pelaku usaha kecil, petani, nelayan, dan pekerja informal di sekitarnya. Apabila konsistensi implementasi dapat dijaga dan koordinasi lintas sektor diperkuat, MBG berpeluang menjadi salah satu pilar utama penguatan ekonomi domestik sekaligus fondasi kokoh bagi kedaulatan pangan nasional.

*) Penulis adalah Content Writer di Galaswara Digital Bureau

Operasional SPPG Serap Ribuan Tenaga Kerja, MBG Dorong Aktivitas Ekonomi Daerah

Jakarta – Pemerintah menegaskan bahwa operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi peserta didik, tetapi juga memberikan dampak ekonomi nyata melalui penyerapan tenaga kerja dan penguatan rantai pasok pangan lokal.

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyatakan bahwa Program MBG dirancang sebagai investasi sosial yang berdampak langsung pada masyarakat.

“Program ini bukan sekadar soal makanan bergizi untuk anak-anak kita, tetapi juga menggerakkan ekonomi rakyat, membuka lapangan kerja, dan memperkuat usaha kecil di daerah,” ujarnya.

Presiden Prabowo menegaskan bahwa setiap SPPG didorong untuk melibatkan tenaga kerja lokal serta menggandeng petani, peternak, dan pelaku UMKM setempat sebagai pemasok bahan pangan.

“Kita ingin uang negara berputar di daerah, menghidupkan ekonomi desa dan kota, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, sebelumnya menjelaskan bahwa operasional SPPG secara bertahap telah menyerap ribuan tenaga kerja, mulai dari tenaga pengolah makanan, tenaga distribusi, hingga petugas administrasi. Seiring ekspansi program, jumlah tersebut kini meningkat signifikan.

Sementara itu, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Sony Sonjaya, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat sekitar 1.067.000 tenaga kerja yang terlibat dalam operasional 22.900 SPPG aktif, sementara total 24.320 SPPG telah terverifikasi dan seluruhnya dibangun oleh masyarakat Indonesia.

“MBG ini bukan hanya sekadar memberikan makan. Secara tidak langsung telah membuka mindset bangsa Indonesia,” ujar Sony.

Menurutnya, kehadiran MBG menghadirkan perspektif baru bahwa pembangunan bangsa tidak hanya bertumpu pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada penguatan kualitas sumber daya manusia melalui asupan gizi yang terukur dan terencana. Perubahan pola pikir tersebut mulai terlihat dari meningkatnya kesadaran anak-anak terhadap kandungan gizi dalam makanan yang mereka konsumsi.

Sony juga menekankan bahwa model Indonesia berbeda dengan negara lain.

“Negara lain lebih banyak pemerintah yang membangun infrastruktur school meal, tetapi Indonesia 100 persen infrastruktur ini dibangun oleh masyarakat,” jelasnya.

Dengan ekspansi operasional yang masif dan model kolaborasi pemerintah–masyarakat–dunia usaha, MBG diposisikan bukan sekadar program bantuan pangan, melainkan sebagai infrastruktur sosial nasional yang menggerakkan ekonomi daerah sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia secara berkelanjutan.

MBG Gerakkan Ekonomi Daerah, Perputaran Dana dan Tenaga Kerja Meningkat

Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) semakin menunjukkan dampak positifnya terhadap dinamika ekonomi daerah. Tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah, MBG juga terbukti menggerakkan roda perekonomian lokal melalui peningkatan perputaran dana dan penyerapan tenaga kerja.

Implementasi program ini dirancang melibatkan pelaku usaha lokal, mulai dari petani, peternak, pelaku UMKM, hingga penyedia jasa distribusi, sehingga manfaat ekonominya dirasakan secara langsung oleh masyarakat di daerah.

Ketua Umum Seknas Indonesia Maju (IM), Monisyah menjelaskan sejak dijalankan, MBG tidak hanya diposisikan sebagai program sosial, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi. Anggaran yang digelontorkan untuk pengadaan bahan pangan disalurkan melalui skema yang mendorong pembelian produk lokal. Hal ini menciptakan efek berganda (multiplier effect), di mana setiap rupiah yang dibelanjakan berkontribusi pada peningkatan pendapatan pelaku usaha daerah sekaligus memperkuat rantai pasok pangan nasional.

“MBG tidak hanya diposisikan sebagai program sosial, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi. Anggaran yang digelontorkan untuk pengadaan bahan pangan disalurkan melalui skema yang mendorong pembelian produk lokal.” kata Monisyah

Di berbagai wilayah, keterlibatan dapur umum dan koperasi setempat telah membuka peluang kerja baru. Tenaga masak, tenaga distribusi, hingga tenaga administrasi direkrut dari masyarakat sekitar. Kondisi ini membantu menekan angka pengangguran, terutama di daerah dengan tingkat kesempatan kerja terbatas. Selain itu, peningkatan permintaan bahan pangan seperti beras, telur, sayuran, dan daging turut memacu produktivitas sektor pertanian dan peternakan lokal.

Dari sisi fiskal daerah, perputaran dana yang meningkat turut mendorong aktivitas ekonomi turunan, seperti perdagangan, transportasi, dan jasa pendukung lainnya. Pasar tradisional menjadi lebih bergairah karena adanya permintaan rutin dalam jumlah besar dan berkelanjutan. Dengan pola distribusi yang terstruktur dan pengawasan yang ketat, MBG juga memberikan kepastian pasar bagi produsen kecil, sehingga mendorong keberlanjutan usaha mereka.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana menjelaskan, MBG memperlihatkan bahwa kebijakan berbasis kesejahteraan sosial dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi daerah. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha lokal menjadi kunci keberhasilan implementasi program ini. Transparansi dan akuntabilitas pengelolaan anggaran terus diperkuat agar manfaatnya benar-benar optimal dan tepat sasaran.

“Kebijakan MBG memperlihatkan bahwa program berbasis kesejahteraan sosial dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi daerah. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha lokal menjadi kunci keberhasilan implementasi program ini,” ujar Dadan Hindayana.

Ke depan, konsistensi pelaksanaan dan evaluasi berkala akan menjadi faktor penentu keberhasilan jangka panjang MBG. Dengan desain yang inklusif dan berpihak pada potensi lokal, program ini tidak hanya menghadirkan manfaat gizi bagi generasi muda, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi daerah yang berkelanjutan

Program Mudik Gratis Kembali Digelar, Pemerintah Fasilitasi Puluhan Ribu Pemudik

Jakarta – Pemerintah kembali menghadirkan program mudik gratis pada masa Lebaran 2026 sebagai upaya membantu masyarakat melakukan perjalanan pulang kampung dengan aman dan terjangkau. Melalui berbagai skema transportasi darat dan laut, pemerintah menyiapkan ribuan kuota bagi pemudik di sejumlah daerah, sekaligus untuk mengurangi kepadatan kendaraan pribadi selama arus mudik.

Di Jawa Barat, program mudik gratis diselenggarakan oleh Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat (Dishub Jabar) dengan total kuota mencapai 3.040 kursi. Hingga saat ini, kuota yang masih tersedia tercatat sebanyak 660 kursi sehingga masyarakat diimbau segera melakukan pendaftaran sebelum batas waktu yang ditentukan.

Kepala Dishub Jabar, Dhani Gumelar, mengatakan antusiasme masyarakat terhadap program ini cukup tinggi. Hal tersebut terlihat dari banyaknya rute perjalanan yang sudah terisi penuh sejak pendaftaran dibuka.

“Mayoritas rute favorit telah habis dipesan, dan kini hanya menyisakan tiga rute perjalanan di wilayah Jawa Barat,” ujar Dhani.

Berdasarkan data Dishub Jabar, sejumlah rute populer yang menghubungkan Jawa Barat dengan wilayah Jawa Tengah telah habis dipesan. Tiket yang sudah tidak tersedia antara lain rute dari Bekasi menuju Tasikmalaya, Purbalingga, dan Bandung.

Program ini terbuka bagi warga yang berdomisili di Jawa Barat yang hendak bepergian keluar provinsi, maupun masyarakat dari luar daerah yang ingin menuju Jawa Barat selama periode Lebaran 2026.

Selain membantu meringankan biaya perjalanan masyarakat, program mudik gratis juga diharapkan mampu menekan penggunaan kendaraan pribadi. Dengan berkurangnya kendaraan di jalan raya, potensi kemacetan selama periode mudik Lebaran diharapkan dapat diminimalkan.

Di wilayah timur Indonesia, pemerintah juga menghadirkan program serupa melalui moda transportasi laut. Kementerian Perhubungan menetapkan program tiket kapal laut gratis bagi masyarakat Papua selama periode Angkutan Laut Lebaran 2026 atau 1447 Hijriah.

Plt Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Papua, Mathius Wally, menyampaikan bahwa program tersebut merupakan bentuk dukungan pemerintah pusat terhadap usulan Pemerintah Provinsi Papua untuk mempermudah mobilitas masyarakat saat Lebaran.

“Pelayanan mudik gratis angkutan laut intra Papua telah ditetapkan oleh Kementerian Perhubungan sesuai permintaan Gubernur Papua, sebagai upaya memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam melakukan perjalanan selama masa Lebaran,” ujar Wally.

Program mudik gratis melalui jalur laut ini diharapkan dapat memperlancar arus transportasi antarwilayah di Papua sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik bagi masyarakat. (*)

Pemerintah Petakan Kebutuhan Guru Sekolah Rakyat di Sejumlah Daerah

Jakarta – Pemerintah memetakan kebutuhan tenaga pendidik Sekolah Rakyat karena distribusi guru belum merata di berbagai daerah. Kementerian Sosial (Kemensos) memastikan penambahan fasilitas dan pengajar terus dilakukan guna mendukung kegiatan belajar siswa dari keluarga prasejahtera.

Ketersediaan guru merupakan hasil pemetaan bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, yang terdiri atas ASN dan lulusan PPG, sebagaimana dijelaskan Dirjen Kemensos Agus Zainal Arifin.

“Hasil pemetaan Dikdasmen (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah) terkait kebutuhan guru yaitu ketersediaan ASN dan ketersediaan lulusan PPG saat ini mencapai 10.235. Karena itu, dari jumlah yang 89 ASN ini, jumlah PPG 10.146, ini total jumlahnya 10.235,” ujar Agus

Meski jumlahnya dinilai mencukupi secara nasional, tantangan utama terletak pada distribusi. Agus mengakui, beberapa daerah mengalami kelebihan guru, sementara daerah lain justru kekurangan.

“Meskipun jumlahnya sangat banyak, di beberapa daerah kayaknya kesulitan karena ini memang tidak merata distribusinya. Di daerah tertentu berlimpah, di daerah lain kekurangan. Ini sedang dilakukan strategi-strategi berikutnya sebagaimana disampaikan tadi,” kata Agus.

Sejalan dengan itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan pemerintah masih mengidentifikasi kebutuhan tambahan guru di sejumlah titik. Koordinasi dilakukan bersama Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan kementerian terkait.

“Kita masih bahas kebutuhannya bersama teman-teman BKN. Karena memang di beberapa titik masih ada kekurangan guru,” ujar Saifullah

Saifullah menambahkan, guru yang direkrut telah melalui proses seleksi ketat oleh Kemendikdasmen bersama BKN dan didampingi Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Para tenaga pendidik tersebut merupakan guru bersertifikat yang telah mengikuti PPG dan mayoritas berusia di bawah 30 tahun.

“Rata-rata guru masih muda dan sudah beradaptasi selama enam bulan terakhir,” katanya.

Dalam pemetaan kebutuhan, Kemendikdasmen mencatat kebutuhan 63 kepala sekolah, dengan 159 calon kepala sekolah saat ini tengah diseleksi. Sementara itu, kebutuhan guru pengajar mencapai 941 orang. Agus menyebut, meskipun dalam data awal tercatat ketersediaan masih nol untuk formasi tersebut, ribuan guru sebenarnya telah disiapkan untuk penugasan.

“Kemudian guru kebutuhannya 941 orang, ketersediaannya tertulis masih 0. Namun demikian, rapat hari Kamis kemarin Bu Dirjen sudah menyampaikan ada sekian ribu yang sudah siap,” ujar Agus.

Pemerintah optimistis, dengan pemetaan kebutuhan guru yang lebih presisi dan strategi distribusi yang tepat, pelaksanaan Sekolah Rakyat akan semakin merata dan efektif dalam menjangkau anak-anak yang membutuhkan.