Koperasi Desa Merah Putih Dorong Merek Kolektif untuk Perkuat Daya Saing UMKM

Jakarta – Transformasi koperasi desa melalui program Koperasi Desa Merah Putih dinilai memiliki potensi besar dalam memperkuat ekonomi lokal, namun masih menghadapi sejumlah tantangan mendasar yang perlu segera dibenahi.

Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo, menyoroti bahwa jumlah koperasi di Indonesia sebenarnya sangat besar, tetapi belum sepenuhnya mencerminkan kualitas dan keberlanjutan yang diharapkan.

Data Kementerian Koperasi tahun 2025 mencatat sekitar 220.000 koperasi, namun banyak yang tidak aktif dan hanya menyisakan papan nama tanpa kegiatan ekonomi nyata.

Ia menjelaskan, salah satu kendala utama koperasi produksi adalah belum adanya produk unggulan dengan identitas merek yang kuat.

“Melalui merek kolektif, anggota koperasi tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Mereka terhubung dalam satu ekosistem produksi dan pemasaran yang saling menguatkan. Ini akan meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan anggota,” kata Bamsoet.

Ia menegaskan, Koperasi Merah Putih harus berfungsi sebagai motor penggerak ekonomi daerah dengan peran yang lebih luas, mulai dari produksi hingga distribusi.

“Kita ingin koperasi menjadi motor penggerak ekonomi daerah. Ketika produk lokal memiliki merek yang kuat dan sistem distribusi yang efisien, maka dampaknya akan langsung dirasakan oleh masyarakat di sekitar koperasi,” jelasnya.

Sementara itu, Menteri Koperasi, Ferry Joko Juliantono, menyatakan pemerintah tengah mempercepat pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih untuk mengejar ketertinggalan koperasi dari sektor lain.

“Kalau kemarin berapa puluh tahun badan usaha milik swastanya maju, badan usaha milik negaranya maju, tapi badan usaha koperasinya ketinggalan jauh dari sisi aset, peluang usaha, maupun partisipasi masyarakat,” kata Ferry.

Ia menambahkan bahwa langkah ini merupakan arahan langsung Presiden sejak awal pemerintahan.

“Presiden sejak awal terpilih sudah minta kepada kami untuk menjalankan pembaruan koperasi untuk mengejar ketertinggalan itu,” lanjutnya.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menilai keberhasilan koperasi sangat bergantung pada keterkaitannya dengan ekonomi lokal.

“Koperasi bukan bekerja hanya untuk koperasi, tapi untuk menggerakkan ekonomi dasar. Jadi semestinya ada efek multiplier-nya termasuk terhadap penciptaan lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya peran koperasi sebagai agregator produk lokal yang menghubungkan pelaku usaha kecil dengan pasar yang lebih luas.

Namun, ia juga mengingatkan agar pengembangan koperasi tidak justru mengganggu pelaku usaha yang sudah ada.

Investasi Kesehatan Berkualitas Anak dan Pelajar melalui Program CKG

Oleh: Alexander Royce*)

Upaya membangun sumber daya manusia unggul tidak dapat dilepaskan dari fondasi kesehatan yang kuat sejak usia dini. Dalam konteks ini, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang terus digencarkan pemerintah menjadi salah satu langkah strategis untuk memastikan anak dan pelajar Indonesia tumbuh sehat, produktif, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Di tengah dinamika global yang menuntut daya saing tinggi, investasi pada kesehatan generasi muda bukan lagi pilihan, melainkan keharusan yang mendesak.

Program CKG hadir sebagai jawaban atas kebutuhan deteksi dini berbagai potensi gangguan kesehatan pada anak dan pelajar. Pemeriksaan rutin yang terintegrasi tidak hanya membantu mengidentifikasi masalah kesehatan sejak awal, tetapi juga mendorong perubahan perilaku hidup sehat di lingkungan sekolah dan keluarga. Dengan pendekatan preventif ini, pemerintah menunjukkan komitmen kuat dalam menggeser paradigma dari pengobatan ke pencegahan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menempatkan program ini sebagai bagian penting dari strategi nasional peningkatan kualitas hidup masyarakat. Ia menekankan bahwa CKG tidak sekadar layanan kesehatan gratis, melainkan investasi jangka panjang untuk meningkatkan umur harapan hidup sehat masyarakat Indonesia, khususnya perempuan dan generasi muda. Dalam pandangannya, deteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan memungkinkan intervensi yang lebih cepat dan tepat, sehingga risiko penyakit kronis dapat ditekan sejak usia sekolah.

Lebih lanjut, Menkes juga menggarisbawahi bahwa pendekatan preventif seperti CKG akan berdampak signifikan terhadap efisiensi sistem kesehatan nasional. Dengan semakin banyak masyarakat yang sadar dan rutin memeriksakan kesehatan, beban pembiayaan untuk pengobatan penyakit berat dapat ditekan. Ia melihat program ini sebagai langkah konkret pemerintah dalam membangun ekosistem kesehatan yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

Implementasi CKG di tingkat daerah menunjukkan hasil yang semakin nyata. Pemerintah daerah mengambil peran aktif dalam memperluas jangkauan program ini, termasuk menyasar pelajar sebagai kelompok prioritas. Di Kota Cilegon, misalnya, peluncuran program pemeriksaan kesehatan gratis untuk lebih dari seratus ribu siswa menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam meningkatkan kualitas kesehatan generasi muda.

Wali Kota Cilegon Robinsar menilai bahwa program ini merupakan langkah strategis untuk memastikan pelajar tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga sehat secara fisik dan mental. Ia memandang bahwa kesehatan adalah prasyarat utama bagi keberhasilan pendidikan, sehingga intervensi melalui pemeriksaan rutin menjadi sangat penting. Menurutnya, dengan mengetahui kondisi kesehatan sejak dini, sekolah dan orang tua dapat mengambil langkah yang tepat untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Selain itu, Robinsar juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menyukseskan program ini. Ia melihat keterlibatan tenaga kesehatan, pihak sekolah, dan keluarga sebagai kunci keberhasilan implementasi CKG di daerah. Dengan dukungan yang terintegrasi, program ini tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas hidup pelajar.

Peran aktif berbagai elemen, termasuk institusi non-pemerintah, turut memperkuat implementasi program ini di lapangan. Keterlibatan TNI dalam mendukung kegiatan pemeriksaan kesehatan pelajar menunjukkan bahwa upaya peningkatan kualitas kesehatan generasi muda menjadi tanggung jawab bersama. Sinergi ini memperlihatkan bahwa pembangunan kesehatan tidak dapat berjalan sendiri, melainkan membutuhkan dukungan kolektif dari seluruh komponen bangsa.

Dansatgas Yonarmed 12 Kostrad, Letkol Arm. Erlan Wijatmoko, menegaskan bahwa kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis bagi pelajar merupakan bagian dari kontribusi nyata TNI dalam mendukung program pemerintah. Ia memandang bahwa kesehatan pelajar adalah aset penting bangsa yang harus dijaga sejak dini. Dengan kondisi kesehatan yang baik, pelajar dapat mengikuti proses belajar dengan optimal dan memiliki daya tahan yang lebih kuat terhadap berbagai tantangan.

Lebih jauh, ia juga menilai bahwa kehadiran TNI dalam kegiatan sosial seperti ini dapat memperkuat kedekatan antara aparat dan masyarakat. Selain memberikan layanan kesehatan, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bagi pelajar tentang pentingnya menjaga kesehatan dan pola hidup bersih. Ia berharap, melalui kegiatan ini, kesadaran akan pentingnya kesehatan dapat tertanam sejak usia muda dan menjadi kebiasaan hingga dewasa.

Dalam perkembangan terkini, perhatian terhadap kesehatan anak dan pelajar semakin relevan seiring meningkatnya tantangan kesehatan global, seperti penyakit tidak menular dan dampak gaya hidup modern. Pemerintah terus mendorong berbagai inisiatif untuk memperkuat layanan kesehatan berbasis promotif dan preventif, termasuk melalui digitalisasi layanan kesehatan dan peningkatan akses di daerah terpencil. Program CKG menjadi salah satu pilar utama dalam upaya tersebut, karena mampu menjangkau masyarakat luas dengan pendekatan yang sederhana namun efektif.

Dengan semakin luasnya implementasi program ini, harapan untuk menciptakan generasi muda yang sehat, cerdas, dan berdaya saing semakin terbuka lebar. Investasi pada kesehatan anak dan pelajar melalui CKG bukan hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga menjadi fondasi kuat bagi kemajuan bangsa di masa depan. Pemerintah telah menunjukkan arah kebijakan yang tepat dengan menempatkan kesehatan sebagai prioritas utama pembangunan, dan langkah ini patut didukung oleh seluruh elemen masyarakat demi terwujudnya Indonesia yang lebih sehat, kuat, dan sejahtera.

*) Penulis merupakan Pengamat Sosial

Sinergi Lintas Sektor Diperkuat, Karhutla Ditekan Sejak Dini

Pontianak – Penguatan sinergi lintas sektor menjadi langkah strategis pemerintah dalam menekan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) sejak dini menjelang musim kemarau 2026. Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, serta unsur TNI, Polri, dan lembaga terkait diyakini mampu meningkatkan efektivitas pencegahan dan respons cepat di lapangan.

Dukungan lintas sektor diperkuat melalui kebijakan pemerintah pusat. Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni menegaskan bahwa pemerintah memberikan dukungan penuh bagi daerah dalam upaya pencegahan Karhutla.

“Kami memastikan dukungan anggaran terbuka bagi daerah yang menetapkan status siaga, sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan lebih cepat dan terukur,” ungkapnya.

Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto memastikan kesiapan pendanaan untuk mendukung penanggulangan Karhutla secara optimal. Ia menegaskan bahwa kebijakan efisiensi tidak mengurangi komitmen pemerintah dalam penanganan bencana.

“Anggaran penanggulangan Karhutla disiapkan penuh sesuai arahan Presiden, sehingga seluruh upaya di lapangan dapat berjalan maksimal sejak tahap pencegahan,” jelasnya.

Selain itu, penguatan sinergi juga diwujudkan melalui peningkatan koordinasi lapangan yang melibatkan berbagai unsur, termasuk relawan dan masyarakat setempat. Peran aktif seluruh pihak dinilai penting dalam memperkuat sistem deteksi dini, mempercepat pelaporan, serta memastikan langkah penanganan dapat dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago mengatakan bahwa kesiapsiagaan harus dibangun melalui kerja sama yang solid dan terintegrasi.

“Penguatan sinergi lintas sektor menjadi langkah konkret untuk meningkatkan kewaspadaan dan memastikan Karhutla dapat ditekan sejak dini melalui pencegahan dan respons yang cepat serta terkoordinasi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Menko Polkam Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago meminta seluruh kepala daerah dan unsur terkait memastikan kesiapan sumber daya, mulai dari personel hingga sarana pendukung. Ia juga menginstruksikan penguatan patroli terpadu serta percepatan verifikasi titik panas.

“Sinergi yang kuat akan mempercepat respons, sehingga setiap potensi kebakaran bisa segera ditangani sebelum meluas dan berdampak lebih besar,” tegasnya.

Secara keseluruhan, penguatan sinergi lintas sektor yang didukung kesiapan sumber daya, kebijakan yang tepat, serta langkah pencegahan yang konsisten menjadi kunci utama dalam menekan Karhutla sejak dini. Upaya terpadu ini diharapkan mampu menjaga keselamatan masyarakat, melindungi lingkungan, serta memastikan aktivitas sosial dan ekonomi tetap berjalan dengan baik selama musim kemarau.

Pemerintah Perkuat Kesiapsiagaan Karhutla, Pencegahan Dini Diutamakan

Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Pertanian memperketat langkah pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara menyeluruh dalam menghadapi potensi peningkatan risiko akibat ancaman El Nino 2026. Upaya ini menitikberatkan pada pencegahan dini sebagai strategi utama guna meminimalkan dampak kerusakan lingkungan, kerugian ekonomi, serta gangguan kesehatan masyarakat.

Plt Direktur Jenderal Perkebunan, Ali Jamil, menegaskan bahwa seluruh pelaku usaha perkebunan, baik skala kecil di bawah 25 hektare maupun korporasi besar, wajib menerapkan langkah pencegahan secara ketat dengan mengedepankan prinsip tanpa bakar. “Pelaku usaha dilarang keras membuka atau mengolah lahan dengan cara membakar. Setiap entitas wajib memiliki sistem, sarana prasarana, serta SDM pengendalian kebakaran yang memadai,” ujar Ali Jamil.

Sebagai langkah antisipasi, strategi terpadu telah disiapkan dari hulu hingga hilir. Sistem peringatan dini diperkuat melalui integrasi data titik panas (hotspot), prakiraan cuaca dari BMKG, serta pemetaan wilayah rawan berbasis spasial. Dengan pendekatan ini, respons cepat di lapangan diharapkan dapat dilakukan secara lebih efektif, terutama di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi.

Pemerintah juga meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan, simulasi, hingga pembentukan brigade pengendalian kebakaran di tingkat perusahaan maupun kebun rakyat. Dari sisi infrastruktur, pembangunan dan optimalisasi sarana pendukung seperti embung, sekat kanal, menara pantau, serta peralatan pemadaman dini terus didorong untuk memperkuat kesiapan di lapangan. Sementara, sistem pelaporan dan pemantauan dilakukan secara terintegrasi dan berkala guna meningkatkan akurasi data serta mempercepat proses penanganan.

Di tingkat daerah, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh juga meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla. Kepala Bidang Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem DLHK Aceh, M. Daud, menyampaikan bahwa pihaknya telah menginstruksikan seluruh Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), pemegang izin PBPH, dan HGU untuk menyiapkan brigade pengendalian karhutla serta membentuk masyarakat peduli api.

“Kami sudah menyurati dan mengingatkan semua pihak untuk memastikan kesiapan personel dan peralatan di lapangan,” kata M. Daud.

Ia juga mengimbau seluruh elemen masyarakat dan pelaku usaha untuk meningkatkan kewaspadaan serta tidak membuka lahan dengan cara membakar. Menurutnya, upaya pencegahan berbasis kesiapsiagaan dan pemantauan dini menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman karhutla di tengah kondisi iklim ekstrem tahun ini.

Dengan langkah terpadu antara pemerintah pusat dan daerah, diharapkan potensi kebakaran hutan dan lahan dapat ditekan secara signifikan, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan dan stabilitas ekonomi nasional. (*)

Merek Kolektif Perkuat Identitas, Koperasi Desa Merah Putih Dorong Kolaborasi UMKM

Oleh: Sindy Shanita )*

Penguatan identitas produk melalui skema merek kolektif semakin dipandang sebagai strategi efektif dalam mendorong kolaborasi UMKM di bawah naungan Koperasi Desa Merah Putih. Pemerintah menempatkan pendekatan ini sebagai bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi desa yang lebih terintegrasi, produktif, dan berdaya saing tinggi.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo, melihat bahwa koperasi di Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak ekonomi lokal. Namun, potensi tersebut masih belum optimal karena adanya berbagai kendala, terutama pada aspek kelembagaan, model bisnis, serta penguatan kualitas produk.

Data Kementerian Koperasi tahun 2025 menunjukkan jumlah koperasi mencapai sekitar 220 ribu unit. Meski demikian, sebagian besar belum aktif secara produktif. Banyak koperasi yang hanya bertahan secara administratif tanpa aktivitas ekonomi yang nyata, sehingga belum mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.

Kontribusi koperasi terhadap Produk Domestik Bruto masih berada di kisaran 5 persen. Angka ini tertinggal dibandingkan negara dengan sistem koperasi yang lebih maju. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa penguatan koperasi tidak cukup hanya dari sisi jumlah, melainkan harus menyentuh kualitas dan keberlanjutan usaha.

Dalam pandangannya, Bambang Soesatyo menilai bahwa persoalan utama terletak pada belum kuatnya identitas produk koperasi di pasar. Banyak koperasi desa memiliki potensi komoditas unggulan seperti hasil pertanian, perikanan, dan kerajinan, tetapi belum terintegrasi dalam sistem produksi dan pemasaran yang solid. Hal ini menyebabkan produk sulit bersaing, baik di pasar domestik maupun global.

Bamsoet menekankan bahwa penerapan merek kolektif menjadi solusi strategis untuk mengatasi fragmentasi tersebut. Melalui satu identitas bersama, koperasi dapat melakukan standarisasi kualitas, memperkuat distribusi, serta meningkatkan promosi secara terpusat. Pendekatan ini memungkinkan terciptanya sinergi antar anggota koperasi dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

Lebih jauh, Bamsoet memandang bahwa konsep ini tidak hanya memperkuat posisi produk, tetapi juga meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan anggota. Dengan adanya merek kolektif, setiap pelaku usaha tidak lagi berjalan sendiri, melainkan terhubung dalam jaringan produksi dan pemasaran yang terkoordinasi.

Dalam konteks kebijakan nasional, pemerintah terus mempercepat pembentukan Koperasi Desa Merah Putih sebagai bagian dari strategi memperkuat ekonomi domestik. Menteri Koperasi, Ferry Joko Juliantono, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk mengejar ketertinggalan koperasi dari sektor usaha lainnya.

Pemerintah menargetkan pembentukan sekitar 80 ribu koperasi desa dengan dukungan pembangunan infrastruktur dan sistem operasional yang terintegrasi. Sebagian besar unit saat ini berada dalam tahap pembangunan, sementara ribuan lainnya telah siap beroperasi.

Setiap koperasi desa dilengkapi dengan fasilitas fisik, gudang, serta sistem manajemen modern. Selain itu, dukungan terhadap sumber daya manusia juga menjadi fokus agar koperasi mampu dikelola secara profesional dan berkelanjutan.

Dalam pandangan Menteri Koperasi, konsep merek kolektif memiliki peran strategis dalam penguatan koperasi. Selain sebagai identitas produk, merek kolektif juga berpotensi menjadi aset kekayaan intelektual yang dapat dimanfaatkan untuk membuka akses pembiayaan. Hal ini memberikan peluang bagi koperasi untuk berkembang lebih cepat melalui dukungan permodalan yang lebih luas.

Pemerintah juga mendorong agar produk UMKM lokal dapat masuk ke dalam jaringan distribusi koperasi desa. Dengan demikian, koperasi menjadi pusat pemasaran yang mampu menghubungkan produk lokal dengan pasar yang lebih luas, sekaligus memperkuat ekonomi rakyat.

Dukungan terhadap penguatan merek kolektif juga datang dari aspek regulasi. Menteri Hukum, Supratman Andi Agtas, menilai bahwa perlindungan kekayaan intelektual merupakan langkah penting untuk menjaga nilai ekonomi produk koperasi. Ia memandang bahwa pendaftaran merek kolektif menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda.

Dalam pandangan Supratman, tanpa perlindungan kekayaan intelektual, produk yang dihasilkan berisiko kehilangan nilai autentik dan hak ekonomi. Oleh karena itu, merek kolektif diposisikan sebagai instrumen yang tidak hanya memberikan perlindungan hukum, tetapi juga meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap kualitas produk.

Merek kolektif juga dipahami sebagai simbol identitas bersama yang mencerminkan standar kualitas dan nilai yang dijaga oleh seluruh anggota koperasi. Dengan pendekatan ini, produk yang dihasilkan memiliki diferensiasi yang jelas di pasar, sehingga lebih mudah bersaing dengan produk lain.

Pemerintah melihat bahwa kolaborasi menjadi kunci keberhasilan implementasi merek kolektif. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sektor swasta diperlukan untuk memastikan bahwa koperasi tidak berjalan sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi nasional yang terintegrasi.

Dengan pendekatan yang terarah, merek kolektif diyakini mampu menjadi instrumen efektif dalam memperkuat identitas produk, meningkatkan daya saing UMKM, serta mendorong kolaborasi yang lebih luas di tingkat desa. Pemerintah optimistis bahwa melalui kebijakan yang konsisten dan dukungan berbagai pihak, koperasi dapat kembali menjadi pilar utama dalam pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

*) Pengamat Ekonomi Kerakyatan

Kolaborasi Nasional dalam Pengendalian Karhutla Berkelanjutan

Oleh : Andika Pratama *)

Kolaborasi nasional dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berkelanjutan semakin menemukan urgensinya di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim global. Proyeksi fenomena El Nino pada 2026 yang diperkirakan mencapai puncaknya pada pertengahan tahun menghadirkan tantangan serius bagi Indonesia, terutama dengan potensi musim kemarau yang lebih panjang dan curah hujan di bawah normal di sebagian besar wilayah. Kondisi ini berimplikasi langsung terhadap meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan yang tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat, stabilitas ekonomi, serta citra Indonesia di mata dunia.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian menunjukkan langkah antisipatif dengan memperketat pengendalian karhutla secara menyeluruh. Pendekatan yang diambil tidak lagi sekadar reaktif, melainkan berbasis pencegahan yang sistematis dari hulu hingga hilir. Pelaksana tugas Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Ali Jamil, menegaskan bahwa seluruh pelaku usaha perkebunan, baik skala kecil maupun besar, wajib menerapkan prinsip tanpa bakar sebagai standar utama dalam pengelolaan lahan serta memastikan kesiapan sarana, prasarana, dan sumber daya manusia dalam pengendalian kebakaran. Pernyataan ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam membangun disiplin kolektif di sektor perkebunan sebagai salah satu titik rawan karhutla.

Penguatan sistem peringatan dini menjadi salah satu strategi kunci yang diusung pemerintah. Integrasi data hotspot, prakiraan cuaca, serta pemetaan wilayah rawan berbasis spasial memungkinkan respons yang lebih cepat dan tepat sasaran. Selain itu, pembangunan infrastruktur pendukung seperti embung, sekat kanal, hingga menara pantau turut menjadi bagian dari upaya mitigasi yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, Ali Jamil juga menekankan bahwa investasi dalam sistem pencegahan karhutla merupakan langkah strategis untuk melindungi keberlanjutan usaha perkebunan sekaligus menjaga lingkungan dan reputasi komoditas Indonesia di pasar global.

Di sisi lain, pendekatan lintas sektor yang dipimpin oleh Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan memperkuat fondasi kolaborasi nasional. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago, menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi karhutla bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk nyata kesungguhan seluruh pemangku kepentingan dalam menyatukan langkah dan meningkatkan kewaspadaan bersama. Ia juga menekankan bahwa seluruh komponen, baik pemerintah daerah, aparat keamanan, maupun relawan, harus memastikan kesiapan sumber daya, mulai dari personel hingga sistem komando lapangan.

Lebih lanjut, Djamari Chaniago menggarisbawahi bahwa strategi terbaik dalam pengendalian karhutla adalah memperkuat pencegahan dan deteksi dini, mengingat penanganan kebakaran yang sudah meluas akan jauh lebih sulit, mahal, dan berisiko. Ia juga menekankan pentingnya perlindungan terhadap wilayah strategis, permukiman, serta fasilitas publik agar dampak karhutla tidak meluas ke sektor sosial dan ekonomi. Pernyataan tersebut mempertegas bahwa pendekatan yang diambil pemerintah bersifat komprehensif dan berorientasi pada perlindungan masyarakat secara luas.

Karakteristik wilayah gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan menjadi tantangan tersendiri dalam pengendalian karhutla. Oleh karena itu, pengelolaan tinggi muka air, optimalisasi sumber air, serta kesiapan operasi lapangan menjadi aspek penting yang harus diperhatikan. Dalam hal ini, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi faktor penentu keberhasilan, terutama dalam memastikan kesiapan infrastruktur dan sumber daya di wilayah rawan.

Keterlibatan aparat TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, hingga relawan menunjukkan bahwa pengendalian karhutla merupakan tanggung jawab bersama. Patroli terpadu, verifikasi cepat terhadap titik panas, serta respons lapangan yang sigap menjadi indikator efektivitas koordinasi lintas sektor. Djamari Chaniago juga menegaskan bahwa penegakan hukum harus dilakukan secara tegas dan konsisten terhadap pelaku pembakaran lahan, mengingat dampak yang ditimbulkan sangat luas dan merugikan berbagai sektor kehidupan.

Komitmen pemerintah pusat dalam mendukung pengendalian karhutla juga tercermin dari kesiapan anggaran yang tidak terpengaruh oleh kebijakan efisiensi. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Suharyanto, memastikan bahwa anggaran penanggulangan karhutla disiapkan secara penuh sesuai arahan Presiden, sehingga daerah dapat bergerak cepat dalam melakukan mitigasi dan penanganan dini. Hal ini menunjukkan bahwa isu karhutla menjadi prioritas nasional yang memerlukan perhatian serius dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, keberhasilan pengendalian karhutla berkelanjutan sangat bergantung pada kekuatan kolaborasi nasional. Pemerintah telah menunjukkan arah kebijakan yang jelas dengan menempatkan pencegahan sebagai prioritas utama, didukung oleh penguatan sistem, infrastruktur, serta penegakan hukum. Pernyataan para tokoh kunci menunjukkan adanya kesamaan visi dalam menghadapi ancaman ini, yakni membangun sinergi yang solid dan respons yang cepat serta terkoordinasi.

Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, aparat keamanan, dan masyarakat, Indonesia memiliki peluang besar untuk menekan risiko karhutla hingga titik minimal. Upaya ini tidak hanya menjadi bentuk perlindungan terhadap lingkungan, tetapi juga investasi jangka panjang bagi keberlanjutan pembangunan nasional dan kesejahteraan masyarakat.

*) Penulis adalah Pengamat Sosial

Dari Antisipasi ke Aksi: Strategi Nasional Pengendalian Karhutla

Oleh: Bara Winatha *)

Pengendalian kebakaran hutan dan lahan atau karhutla telah menjadi agenda strategis nasional yang berkaitan dengan perlindungan lingkungan, keberlanjutan ekonomi, kesehatan masyarakat, serta komitmen Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim global. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah terus memperkuat pendekatan yang lebih sistematis, terintegrasi, dan berbasis kolaborasi lintas sektor. Strategi nasional kini diarahkan untuk memastikan bahwa setiap potensi kebakaran dapat dicegah sejak dini, sekaligus meningkatkan kapasitas penanganan di lapangan secara cepat dan efektif.

Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Ali Jamil Harahap, mengatakan bahwa kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi potensi karhutla semakin diperkuat melalui koordinasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah daerah, pelaku usaha, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Ia menjelaskan bahwa fenomena El Nino yang diprediksi menguat pada 2026 menjadi faktor utama yang harus diantisipasi secara serius, mengingat dampaknya terhadap peningkatan suhu dan penurunan curah hujan yang dapat memicu kebakaran lahan. Oleh karena itu, pendekatan preventif menjadi prioritas utama dengan memastikan seluruh pihak menjalankan langkah mitigasi secara konsisten.

Ali Jamil menegaskan bahwa kepatuhan terhadap regulasi menjadi fondasi penting dalam pengendalian karhutla. Pelaku usaha perkebunan wajib mematuhi ketentuan yang melarang pembukaan lahan dengan cara membakar. Selain itu, setiap entitas usaha juga diwajibkan memiliki sistem pengendalian kebakaran yang memadai, termasuk sarana prasarana serta sumber daya manusia yang terlatih. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan untuk menekan angka kebakaran, tetapi juga menjaga keberlanjutan sektor perkebunan sebagai salah satu penopang ekonomi nasional.

Langkah konkret yang dilakukan pemerintah mencakup penguatan sistem peringatan dini berbasis teknologi. Integrasi data hotspot, prakiraan cuaca, serta pemetaan wilayah rawan kebakaran berbasis spasial menjadi instrumen penting dalam mendukung respons cepat di lapangan. Dengan sistem ini, potensi kebakaran dapat terdeteksi lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum meluas. Selain itu, digitalisasi pelaporan dan pemantauan juga memungkinkan koordinasi yang lebih efektif antar-instansi, sehingga setiap kejadian dapat ditangani secara terstruktur.

Pemerintah menegaskan bahwa efektivitas pengendalian karhutla kini bertumpu pada penguatan kapasitas sumber daya manusia sebagai pelengkap aspek teknologi. Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, menekankan bahwa peningkatan kualitas SDM melalui pelatihan berskala internasional sangat penting, mengingat ekosistem gambut memiliki karakteristik unik yang menuntut keahlian teknis khusus, seperti analisis perilaku api dan pemanfaatan sistem informasi geografis.

Langkah ini menjadi prioritas mengingat peran vital gambut sebagai penyerap karbon dan penyangga biodiversitas global yang harus dilindungi secara kolektif. Melalui penguasaan teknik pemadaman yang efektif dan penguatan kolaborasi internasional, pemerintah berupaya menciptakan ruang pertukaran pengetahuan antarnegara mitra. Sinergi global ini tidak hanya memperkuat kapasitas teknis petugas di lapangan, tetapi juga mengukuhkan ketahanan nasional dalam menghadapi risiko krisis iklim yang kian kompleks dan dinamis.

Sementara itu, pendekatan pengendalian karhutla juga diperkuat melalui inovasi di tingkat daerah. Menteri Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, mengatakan bahwa inisiatif seperti Green Policing yang dikembangkan di Riau menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antara aparat, pemerintah, dan masyarakat dapat menghasilkan dampak positif. Ia menjelaskan bahwa pendekatan tersebut tidak hanya berfokus pada penegakan hukum, tetapi juga mengedepankan edukasi dan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan.

Jumhur menilai bahwa program tersebut memiliki potensi besar untuk direplikasi di berbagai daerah di Indonesia. Keberhasilan Green Policing menunjukkan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam pengendalian karhutla. Dengan melibatkan masyarakat secara aktif, upaya pencegahan dapat dilakukan secara lebih efektif karena kesadaran kolektif menjadi bagian dari solusi. Selain itu, kegiatan seperti penanaman pohon juga memberikan dampak langsung dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Strategi nasional pengendalian karhutla tidak hanya berfokus pada pencegahan dan penanganan, tetapi juga pada aspek keberlanjutan. Pemerintah mendorong investasi dalam infrastruktur pengendalian kebakaran, seperti pembangunan embung, sekat kanal, dan menara pemantau. Infrastruktur ini berfungsi sebagai sistem pendukung yang memungkinkan penanganan kebakaran dilakukan secara lebih cepat dan efisien. Selain itu, keberadaan sumber air yang memadai menjadi faktor penting dalam proses pemadaman di lapangan.

Di sisi lain, penegakan hukum tetap menjadi instrumen penting dalam memastikan kepatuhan terhadap regulasi. Pemerintah bekerja sama dengan aparat penegak hukum untuk menindak pelanggaran yang berpotensi menyebabkan kebakaran. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan efek jera sekaligus mendorong pelaku usaha untuk menjalankan praktik yang lebih ramah lingkungan.

Strategi nasional pengendalian karhutla juga menempatkan masyarakat sebagai aktor penting dalam upaya pencegahan. Edukasi dan sosialisasi terus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran tentang bahaya kebakaran hutan dan lahan. Dari antisipasi yang matang hingga aksi nyata di lapangan, strategi nasional pengendalian karhutla menjadi bukti bahwa kolaborasi dan inovasi dapat menjadi solusi dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin besar.

*) Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan.

Merek Kolektif Dinilai Efektif, Kopi Desa Merah Putih Dorong Implementasi Nasional

Oleh: Fiki Wicaksana )*

Pemerintah terus memperkuat strategi pembangunan ekonomi berbasis kerakyatan melalui penguatan koperasi desa. Salah satu pendekatan yang kini dinilai semakin relevan adalah penerapan merek kolektif sebagai instrumen penguatan daya saing produk lokal. Dalam konteks ini, Koperasi Desa Merah Putih menjadi garda depan dalam mendorong implementasi merek kolektif secara nasional sebagai bagian dari upaya sistematis memperkuat ekonomi domestik.

Menteri Hukum, Supratman Andi Agtas, memandang bahwa merek kolektif memiliki peran penting dalam meningkatkan nilai produk yang dihasilkan oleh koperasi. Ia menekankan bahwa penguatan identitas produk lokal bukan lagi sekadar pilihan kebijakan, melainkan kebutuhan bersama agar produk dalam negeri mampu menjadi tuan rumah di pasar nasional. Dalam pandangannya, perlindungan kekayaan intelektual menjadi fondasi utama agar produk koperasi tidak kehilangan nilai ekonomi maupun keaslian identitasnya.

Konsep merek kolektif sendiri mencerminkan semangat kolaborasi. Produk yang dihasilkan oleh anggota koperasi dengan standar mutu yang seragam dapat dipasarkan di bawah satu identitas bersama.

Merek kolektif ini memberikan keunggulan kompetitif karena konsumen memperoleh jaminan kualitas sekaligus kepercayaan terhadap produk yang dihasilkan secara kolektif. Dalam kerangka tersebut, merek kolektif tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga representasi dari nilai, standar, dan komitmen bersama anggota koperasi.

Lebih jauh, Supratman melihat bahwa koperasi merupakan wadah strategis bagi masyarakat untuk bersatu, berproduksi, dan berinovasi. Namun, tanpa perlindungan hukum yang memadai, potensi ekonomi dari produk-produk tersebut tidak akan berkembang secara optimal. Oleh karena itu, penerapan merek kolektif dinilai sebagai langkah paling efektif karena mampu mengintegrasikan perlindungan hukum dengan penguatan identitas komunal yang kuat.

Pemerintah juga menunjukkan komitmen konkret melalui kebijakan yang mempermudah proses pendaftaran merek kolektif. Kementerian Hukum telah mengeluarkan regulasi yang memberikan kemudahan administratif bagi koperasi desa dalam mendaftarkan merek mereka. Dukungan ini mencakup penyederhanaan prosedur serta pemberian tarif khusus yang terjangkau, sehingga koperasi tidak lagi menghadapi hambatan dalam mengakses perlindungan kekayaan intelektual.

Kemudahan administratif tersebut menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam mempercepat pertumbuhan Koperasi Desa Merah Putih. Program pembentukan puluhan ribu koperasi desa terus berjalan dengan progres yang signifikan.

Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, mengungkapkan bahwa ribuan unit koperasi telah memasuki tahap operasional, sementara puluhan ribu lainnya masih dalam proses pembangunan. Setiap koperasi didukung dengan alokasi anggaran yang memadai untuk memastikan kesiapan infrastruktur, gudang, sarana distribusi, serta pengelolaan sumber daya manusia yang profesional.

Dalam kerangka penguatan koperasi, konsep merek kolektif dipandang sebagai inovasi yang mampu menjawab tantangan struktural. Ferry menilai bahwa merek kolektif tidak hanya berfungsi sebagai identitas produk, tetapi juga sebagai aset ekonomi yang memiliki nilai strategis. Dengan adanya sertifikasi merek, koperasi memiliki peluang lebih besar untuk mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan, sehingga memperkuat kapasitas produksi dan distribusi secara berkelanjutan.

Selain itu, penerapan merek kolektif juga membuka ruang yang lebih luas bagi produk usaha mikro, kecil, dan menengah untuk masuk ke dalam ekosistem koperasi desa. Produk-produk lokal dapat dipasarkan secara lebih terorganisir melalui gerai koperasi, sehingga menciptakan rantai distribusi yang lebih efisien. Hal ini sejalan dengan tujuan pemerintah untuk menjadikan koperasi sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat struktur ekonomi nasional dari tingkat desa.

Di tengah dinamika ekonomi global yang penuh tekanan, penguatan koperasi menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Mantan Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo, menilai bahwa koperasi memiliki peran historis sebagai pilar utama ekonomi Indonesia. Dalam situasi saat ini, penguatan koperasi melalui pendekatan modern seperti merek kolektif dinilai sebagai momentum penting untuk mengembalikan peran strategis tersebut dalam menghadapi tantangan global.

Implementasi merek kolektif juga diyakini mampu meningkatkan daya saing produk lokal di pasar yang semakin kompetitif. Dengan identitas yang jelas dan standar kualitas yang terjaga, produk koperasi dapat menembus pasar yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan anggota koperasi dan memperkuat kesejahteraan masyarakat desa.

Pemerintah melalui berbagai kementerian terus mendorong sinergi lintas sektor untuk memastikan keberhasilan program ini. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku koperasi menjadi kunci dalam mempercepat implementasi merek kolektif secara nasional. Dukungan regulasi, pembiayaan, serta pendampingan teknis menjadi elemen penting yang saling melengkapi dalam menciptakan ekosistem koperasi yang kuat.

Lebih dari itu, penguatan merek kolektif juga mendorong terbentuknya budaya produksi yang berorientasi pada kualitas. Anggota koperasi tidak hanya didorong untuk menghasilkan produk, tetapi juga memastikan bahwa setiap produk memenuhi standar yang telah disepakati bersama. Dengan demikian, koperasi tidak hanya menjadi wadah ekonomi, tetapi juga menjadi institusi yang membangun disiplin, profesionalisme, dan tanggung jawab kolektif.

*) Pengamat Strategi Marketing

MBG Jadi Motor Ekonomi Kerakyatan, Bukti Keberpihakan Pemerintah pada Rakyat Kecil

Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Prabowo Subianto kian menunjukkan perannya sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan. Tidak hanya berfokus pada peningkatan gizi masyarakat, program ini dinilai menjadi instrumen nyata dalam memperkuat daya beli dan menghidupkan aktivitas ekonomi hingga ke lapisan paling bawah.

Presiden Prabowo menegaskan bahwa MBG telah memberi dampak langsung terhadap perputaran ekonomi di masyarakat. “Dengan MBG, ekonomi kita hidup di mana-mana. Rakyat butuh telur, daging, sayur, susu, ikan. Ekonomi kita hidup, petani-petani kita dapat penghasilan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan keberpihakan pemerintah diakselerasi melalui kebijakan tersebut. “Kita gelontorkan ke rakyat. Apa yang salah?” sebagai bentuk komitmen menghadirkan keadilan ekonomi,” imbuhnya.

Lebih jauh, Kepala Negara menyebut MBG sebagai strategi pembangunan yang berangkat dari akar ekonomi masyarakat. Ia menilai program ini mendorong konsumsi rumah tangga sekaligus menggerakkan ekonomi desa dan kecamatan.

“Makan bergizi gratis telah mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga, di lapisan yang paling bawah dari ekonomi kita,” kata Prabowo.

Dengan cakupan penerima manfaat yang telah mencapai puluhan juta orang, pemerintah melihat MBG sebagai bukti nyata kehadiran negara dalam memenuhi kebutuhan dasar rakyat. “Kita sudah memberi makan puluhan juta orang dan akan terus kita lanjutkan sampai tuntas,” tegasnya.

Dukungan terhadap program ini juga datang dari kalangan pemerintah. Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, menilai MBG memiliki efek berganda yang signifikan.

“Program Makan Bergizi Gratis adalah investasi strategis bangsa, bahwa bukan sekedar komitmen kita kepada generasi muda yang memiliki kualitas sumber daya manusia yang unggul, tetapi juga berdampak ekonomi secara nyata,” ujar Menko PM.

Menurutnya, program ini menjadi bentuk nyata politik anggaran yang berpihak kepada rakyat, di mana setiap belanja negara diarahkan untuk memberikan dampak langsung dan merata.

“Politik anggaran inilah salah satu yang menjadi komitmen Presiden Prabowo, menggeser orientasi cara kerja pemerintah dalam mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan. Politik anggaran yang berdampak langsung sangatlah tepat melalui program MBG ini, di mana tidak sedikit yang mendapatkan manfaat,” ucap Menko Muhaimin.

Senada, Ketua Umum PC Jakarta Pusat Pemuda Muslimin Indonesia Amirullah Hijrian melihat MBG sebagai bentuk pertahanan ekonomi rakyat. Program ini dinilai mampu memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat dari bawah, sekaligus menciptakan ekosistem produksi dan distribusi yang melibatkan pelaku usaha lokal.

“Ketika negara membeli bahan pangan seperti beras, sayur, dan telur dari pasar lokal, terjadi perputaran ekonomi yang nyata. Petani, pedagang, dan pelaku usaha kecil mendapatkan kepastian permintaan,” jelas Amirullah.

Menurut dia, program MBG berpotensi membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja lintas usia, serta mendorong inovasi di sektor pangan. Program ini tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga menjadi fondasi kekuatan ekonomi di masa depan.

Sinergi Lintas Pihak Perkuat Ekosistem Pangan Papua untuk Sukseskan Program MBG

JAKARTA – Pemerintah terus memperkuat sinergi lintas kementerian, lembaga, dan pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem pangan yang kokoh di Papua guna menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penguatan ini dinilai krusial untuk memastikan keberlanjutan pasokan serta efektivitas pelaksanaan program prioritas nasional tersebut.

Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung implementasi MBG, khususnya melalui penguatan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Papua.

“Kami dari tim Ekspedisi Patriot berkomitmen untuk ikut membantu dari arahan Bapak Presiden, ada lebih dari 2.500 SPPG yang akan dibangun di Papua,” ujar Iftitah.

Ia menekankan bahwa dukungan pemerintah tidak hanya terbatas pada pembangunan fasilitas, tetapi juga mencakup penguatan seluruh ekosistem pendukung, mulai dari penyediaan bahan pangan hingga rantai pasok di kawasan transmigrasi.

“Untuk MBG, karena ini program besar pemerintah, kami akan melakukan supporting yang cukup baik di semua ekosistem SPPG tersebut,” katanya.

Menurut Iftitah, langkah tersebut didasarkan pada hasil riset dan pemetaan potensi ekonomi di 154 kawasan transmigrasi sepanjang 2025, yang menjadi fondasi pengembangan ekonomi sekaligus penguatan ketahanan pangan di Papua.

Sejalan dengan itu, Ketua Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Velix Vernando Wanggai, menyebut pembangunan SPPG sebagai prioritas nasional yang membutuhkan kolaborasi kuat lintas sektor.

“Ini adalah komitmen bersama antara Komite Eksekutif Papua dan Kementerian Transmigrasi,” kata Velix.

Ia menambahkan bahwa peran Kementerian Transmigrasi sangat strategis dalam menyiapkan kawasan produksi yang mampu menopang kebutuhan SPPG melalui penguatan rantai pasok lokal.

“Pendampingan ini bertujuan mendekatkan pasar offtaker di tingkat lokal, termasuk untuk kebutuhan SPPG,” ujarnya.

Velix juga menekankan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam memastikan ketersediaan komoditas pangan seperti protein hewani, sayur-mayur, dan karbohidrat, sekaligus memperkuat inovasi di sektor produksi.

Di sisi lain, Anggota Komite Eksekutif Presiden Otonomi Khusus Papua, Billy Mambrasar, mengingatkan bahwa tantangan rantai pasok pangan di Papua perlu ditangani secara komprehensif agar tidak mengganggu keberhasilan program MBG.

“Papua menghadapi tantangan struktural dalam rantai pasok pangan. Ketika suplai ikan, ayam, telur, dan daging terbatas, maka dampaknya langsung terasa, bukan hanya pada harga melainkan juga pada program strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis,” ungkapnya.

Untuk itu, ia mendorong penguatan produksi lokal berbasis masyarakat, pembangunan infrastruktur logistik seperti cold storage, serta intervensi distribusi agar pasokan tetap stabil.

Sementara itu, implementasi program MBG di Papua Barat Daya menunjukkan progres signifikan. Hingga saat ini, lebih dari 74.000 penerima manfaat telah merasakan dampaknya, didominasi oleh pelajar dan kelompok rentan.

Ketua Satgas MBG Papua Barat Daya, Ahmad Nausrau, menegaskan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam menekan angka kemiskinan dan stunting.

“Ini adalah program prioritas nasional, sehingga semua pihak harus terlibat aktif agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Dengan sinergi lintas pihak yang semakin kuat, pemerintah optimistis ekosistem pangan di Papua akan semakin tangguh, sehingga pelaksanaan MBG dapat berjalan optimal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal secara berkelanjutan.