Pencegahan Radikalisme Digital melalui Implementasi PP TUNAS

Oleh : Ricky Rinaldi *)

Perkembangan teknologi digital telah membuka ruang baru bagi interaksi sosial, akses informasi, dan pertukaran gagasan secara cepat dan luas. Namun di balik manfaat tersebut, dunia digital juga menghadirkan tantangan serius, salah satunya adalah penyebaran paham radikalisme yang menyasar berbagai kelompok masyarakat, termasuk generasi muda. Dalam konteks ini, negara dituntut untuk menghadirkan kebijakan yang tidak hanya bersifat represif, tetapi juga preventif dan edukatif. Implementasi PP TUNAS menjadi bagian penting dalam upaya tersebut, khususnya dalam melindungi anak dan remaja dari pengaruh radikalisme digital.

Radikalisme digital berkembang melalui berbagai platform, mulai dari media sosial hingga forum daring yang sulit diawasi secara konvensional. Konten yang disebarkan sering kali dikemas secara menarik dan persuasif, sehingga mudah diterima oleh pengguna, terutama anak-anak dan remaja yang masih dalam tahap pembentukan karakter. Tanpa literasi digital yang memadai, kelompok ini menjadi rentan terhadap paparan ideologi yang menyimpang.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa perlindungan generasi muda merupakan bagian penting dari upaya menjaga ketahanan nasional. Ancaman radikalisme tidak hanya berdampak pada keamanan, tetapi juga pada masa depan bangsa. Oleh karena itu, negara perlu memastikan bahwa ruang digital tetap menjadi lingkungan yang aman dan sehat bagi tumbuh kembang generasi muda.

PP TUNAS hadir sebagai kerangka kebijakan yang memperkuat perlindungan anak di berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam ruang digital. Regulasi ini menegaskan pentingnya peran negara, keluarga, dan masyarakat dalam menciptakan ekosistem yang aman dari pengaruh negatif, termasuk radikalisme. Pendekatan yang diusung tidak hanya berfokus pada penindakan, tetapi juga pada pencegahan melalui edukasi dan penguatan karakter.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menekankan bahwa pendidikan memiliki peran strategis dalam mencegah radikalisme sejak dini. Sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan nilai dan karakter. Melalui pendidikan yang inklusif dan berbasis toleransi, siswa dapat dibekali kemampuan berpikir kritis serta kesadaran untuk menolak paham yang bertentangan dengan nilai kebangsaan.

Implementasi PP TUNAS dalam konteks digital mendorong penguatan literasi digital di kalangan pelajar. Anak-anak perlu dibekali kemampuan untuk memilah informasi, memahami risiko konten digital, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Literasi ini menjadi benteng awal dalam mencegah penyebaran pengaruh radikalisme yang sering kali disamarkan dalam bentuk konten edukatif atau keagamaan.

Selain itu, peran keluarga menjadi sangat penting dalam mengawasi aktivitas digital anak. Orang tua perlu memiliki pemahaman yang cukup mengenai dunia digital agar dapat mendampingi anak dalam menggunakan teknologi. Komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak akan membantu mengidentifikasi potensi risiko sejak dini dan mencegah anak terpapar konten berbahaya.

PP TUNAS juga mendorong kolaborasi lintas sektor dalam pencegahan radikalisme digital. Pemerintah, lembaga pendidikan, platform digital, serta organisasi masyarakat perlu bekerja sama dalam menciptakan lingkungan digital yang aman. Pengawasan konten, penguatan regulasi, serta kampanye edukasi menjadi bagian dari strategi yang harus dijalankan secara terpadu.

Di sisi lain, pendekatan pencegahan radikalisme juga perlu dilakukan melalui penguatan nilai kebangsaan. Generasi muda perlu diberikan pemahaman yang kuat mengenai identitas nasional, toleransi, dan keberagaman. Dengan fondasi nilai yang kokoh, mereka akan lebih mampu menolak ideologi yang bertentangan dengan prinsip kehidupan berbangsa.

Pemanfaatan teknologi juga dapat menjadi bagian dari solusi. Platform digital dapat digunakan untuk menyebarkan konten positif yang mengedukasi dan membangun kesadaran masyarakat. Kampanye digital yang kreatif dan relevan dengan generasi muda akan lebih efektif dalam menangkal narasi radikal yang berkembang di ruang maya.

Namun demikian, tantangan dalam implementasi kebijakan ini tetap ada. Perkembangan teknologi yang sangat cepat membuat metode penyebaran radikalisme juga terus berubah. Oleh karena itu, kebijakan yang diterapkan harus adaptif dan mampu mengikuti dinamika yang terjadi di dunia digital.

Keberhasilan pencegahan radikalisme digital melalui PP TUNAS sangat bergantung pada partisipasi seluruh elemen masyarakat. Negara tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan keluarga, sekolah, dan komunitas. Kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga ruang digital yang sehat menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan ini.

Dalam jangka panjang, perlindungan terhadap generasi muda dari radikalisme digital akan berdampak pada stabilitas nasional. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang aman dan positif akan memiliki karakter yang kuat serta mampu berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Hal ini menjadi investasi penting dalam menjaga masa depan Indonesia.

Implementasi PP TUNAS dalam pencegahan radikalisme digital menegaskan bahwa negara hadir tidak hanya dalam aspek keamanan, tetapi juga dalam perlindungan dan pembinaan generasi muda. Dengan pendekatan yang komprehensif, kebijakan ini diharapkan mampu menciptakan ruang digital yang aman, edukatif, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Upaya berkelanjutan dalam penguatan literasi digital dan nilai kebangsaan akan menjadi fondasi penting dalam memastikan generasi muda mampu menghadapi tantangan era digital dengan bijak dan bertanggung jawab.

*) Pengamat Isu Strategis

Tembus 5,61 Persen, Ekonomi Indonesia Awal Tahun Tunjukkan Ketahanan Solid

Jakarta – Kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tercatat tetap kuat dengan pertumbuhan mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year/y-o-y). Angka ini dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), yang menandakan ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga di tengah dinamika global yang penuh tantangan.

BPS menyampaikan bahwa pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan capaian kuartal IV-2025 yang sebesar 5,39 persen, serta melampaui pertumbuhan pada kuartal I-2025 yang berada di angka 4,87 persen. Peningkatan ini menjadi indikasi bahwa aktivitas ekonomi domestik terus menguat dari waktu ke waktu.

Sebelum data resmi dirilis, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 berada di rentang 5,5 hingga 5,7 persen. Proyeksi ini sejalan dengan hasil yang diumumkan, sekaligus menunjukkan optimisme pemerintah terhadap kemampuan ekonomi nasional bertahan di tengah kondisi global yang tidak menentu, termasuk dampak kenaikan harga minyak dunia.

Purbaya menegaskan bahwa menjaga pertumbuhan di tengah situasi global seperti saat ini bukanlah hal mudah.

“Apabila Indonesia tetap mampu mencatat pertumbuhan dalam kondisi global yang penuh tekanan, meskipun angkanya sedikit berbeda dari perkiraan, hal tersebut tetap merupakan capaian yang sangat membanggakan,” ujarnya.

Ia juga melihat bahwa daya beli masyarakat masih cukup terjaga.

“Berdasarkan pengamatan langsung, aktivitas ekonomi terlihat masih hidup. Sejumlah pusat perbelanjaan dipadati pengunjung dan masyarakat tetap aktif melakukan konsumsi,” kata Purbaya.

Dari sisi struktur ekonomi, pertumbuhan pada awal tahun ini turut ditopang oleh sektor energi dan pertanian yang memberikan kontribusi besar terhadap penguatan ekonomi nasional. Kedua sektor tersebut menjadi penopang penting dalam menjaga stabilitas pertumbuhan.

Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan berada di kisaran 5,44 persen. Ia menilai bahwa konsumsi rumah tangga, pengeluaran pemerintah, serta investasi masih menjadi faktor utama yang mendorong laju ekonomi.

Di sisi lain, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia memperkirakan pertumbuhan berada pada kisaran 5,46 hingga 5,50 persen. Ekonom LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menyebut adanya faktor musiman yang turut memberikan dorongan terhadap ekonomi.

“Kombinasi periode Ramadan dan Idulfitri, ditambah dengan pencairan tunjangan hari raya, meningkatkan daya beli masyarakat sehingga membantu menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi di awal tahun 2026,” jelasnya.

Dengan capaian ini, perekonomian Indonesia menunjukkan fondasi yang cukup kokoh. Di tengah berbagai tantangan global, hasil tersebut menjadi bukti bahwa aktivitas ekonomi domestik masih mampu tumbuh dan beradaptasi secara berkelanjutan.

BPS Catat Pertumbuhan 5,61 Persen, Sinyal Kuat Daya Tahan Ekonomi Nasional

Jakarta – Perekonomian Indonesia pada triwulan I 2026 menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan sebesar 5,61 persen secara tahunan. Capaian ini menjadi indikasi kuat bahwa ekonomi nasional tetap mampu bertahan di tengah ketidakpastian global, dengan konsumsi rumah tangga sebagai motor utama yang didorong oleh meningkatnya mobilitas masyarakat dan dukungan kebijakan pemerintah.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.187,2 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp3.447,7 triliun. Angka tersebut mencerminkan aktivitas ekonomi domestik yang terus bergerak stabil dan produktif.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi pada awal tahun ini menunjukkan tren yang solid dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Jika dibandingkan dengan triwulan I tahun lalu, ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh sebesar 5,61 persen,” ungkapnya.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang terbesar pertumbuhan. Lonjakan aktivitas masyarakat selama Ramadan, Nyepi, hingga Idulfitri turut mendorong peningkatan pada berbagai sektor, termasuk perdagangan, transportasi, dan pariwisata.

BPS juga mencatat peningkatan perjalanan wisatawan domestik yang tumbuh 13,14 persen secara tahunan. Selain itu, jumlah pengguna transportasi umum di berbagai moda, baik darat, laut, maupun udara, turut mengalami kenaikan seiring meningkatnya pergerakan masyarakat.

Tidak hanya dipengaruhi faktor musiman, pemerintah juga berperan dalam menjaga momentum konsumsi melalui berbagai kebijakan stimulus. Program diskon tiket transportasi serta pencairan tunjangan hari raya menjadi faktor pendorong daya beli masyarakat. Sementara itu, suku bunga acuan Bank Indonesia yang berada di level 4,75 persen dinilai turut menjaga stabilitas konsumsi.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto telah memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 berada di kisaran 5,5 persen, yang kini terbukti sejalan dengan realisasi.

Airlangga menegaskan keyakinan pemerintah terhadap capaian tersebut.

“Pada triwulan pertama kami memperkirakan pertumbuhan bisa mencapai atau berada di atas 5,5 persen, dan untuk keseluruhan tahun diharapkan minimal menyentuh 5,4 persen sesuai dengan asumsi dalam APBN,” jelasnya.

Dengan hasil ini, pemerintah optimistis tren pertumbuhan ekonomi dapat terus dijaga hingga akhir tahun. Dukungan konsumsi domestik yang kuat, kebijakan fiskal dan moneter yang adaptif, serta meningkatnya aktivitas masyarakat dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global.

Pertumbuhan 5,61 Persen dan Optimisme Baru Ekonomi Indonesia

Oleh: Raka Adiwijaya

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama 2026 yang mencapai 5,61 persen secara tahunan menjadi sinyal kuat bahwa fondasi ekonomi nasional tetap solid di tengah tekanan global, dengan konsumsi rumah tangga kembali berperan sebagai penggerak utama yang menjaga ritme aktivitas ekonomi tetap stabil.

Data yang dirilis Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa produk domestik bruto atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.187,2 triliun, sementara atas dasar harga konstan berada di angka Rp3.447,7 triliun, sebuah capaian yang tidak hanya mencerminkan peningkatan aktivitas ekonomi, tetapi juga menunjukkan bahwa strategi kebijakan yang ditempuh pemerintah mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama 2026 tercatat 5,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menegaskan bahwa daya tahan ekonomi domestik masih cukup kuat di tengah ketidakpastian global yang belum mereda sepenuhnya.

Momentum pertumbuhan ini tidak lepas dari meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode hari besar keagamaan seperti Ramadan, Nyepi, dan Idulfitri, yang secara tradisional menjadi pendorong konsumsi. Aktivitas masyarakat yang meningkat signifikan pada periode tersebut berdampak langsung terhadap sektor perdagangan, transportasi, dan pariwisata. Hal ini terlihat dari pertumbuhan jumlah perjalanan wisatawan nusantara yang mencapai 13,14 persen secara tahunan, serta meningkatnya jumlah penumpang di berbagai moda transportasi, baik darat, laut, maupun udara. Kondisi ini memperlihatkan bahwa konsumsi domestik masih menjadi tulang punggung utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Selain faktor musiman, peran kebijakan pemerintah juga menjadi faktor penting dalam menjaga momentum pertumbuhan. Berbagai stimulus seperti pemberian diskon tiket transportasi dan percepatan pencairan tunjangan hari raya terbukti efektif dalam mendorong perputaran uang di masyarakat. Kebijakan moneter yang akomodatif juga turut berperan, dengan suku bunga acuan Bank Indonesia yang berada di level 4,75 persen mampu menjaga keseimbangan antara inflasi dan daya beli masyarakat. Sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter ini menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya telah memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama 2026 akan berada di kisaran 5,5 persen atau lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 5,39 persen. Proyeksi tersebut terbukti cukup akurat, sekaligus memperlihatkan bahwa arah kebijakan ekonomi yang ditempuh pemerintah berada pada jalur yang tepat. Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai bahwa daya beli masyarakat masih terjaga dengan baik, yang tercermin dari tetap ramainya aktivitas belanja di pusat perbelanjaan meskipun kondisi global masih penuh tantangan.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David Sumual yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,3 persen secara tahunan. Ia mencatat bahwa meskipun terdapat indikasi perlambatan pada beberapa indikator konsumsi seperti penjualan kendaraan dan indeks belanja konsumen, namun secara keseluruhan konsumsi selama Ramadan dan Lebaran tetap menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menjadi bukti bahwa konsumsi domestik masih memiliki daya dorong yang kuat terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam perspektif yang lebih luas, capaian pertumbuhan ini juga mencerminkan keberhasilan pemerintah selama setahun terakhir dalam menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan yang inklusif. Pemerintah dinilai mampu mengendalikan inflasi dalam kisaran yang relatif aman, menjaga stabilitas nilai tukar, serta memperkuat sektor riil melalui berbagai kebijakan insentif dan program perlindungan sosial. Selain itu, percepatan belanja negara dan dukungan terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah turut menjadi faktor penting dalam menjaga daya tahan ekonomi nasional.

Keberhasilan tersebut tidak hanya tercermin dari angka pertumbuhan yang stabil, tetapi juga dari meningkatnya kepercayaan pelaku usaha dan konsumen terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan. Tingkat optimisme yang terjaga ini menjadi modal penting dalam mendorong investasi dan konsumsi, yang pada akhirnya akan memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

Meski demikian, tantangan ke depan tetap perlu diwaspadai. Ketidakpastian global, fluktuasi harga komoditas, serta dinamika geopolitik berpotensi memengaruhi kinerja ekonomi nasional, terutama dari sisi ekspor dan stabilitas pasar keuangan. Oleh karena itu, pemerintah perlu terus menjaga momentum pertumbuhan melalui kebijakan yang adaptif dan responsif terhadap perubahan kondisi global. Diversifikasi sumber pertumbuhan juga menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada konsumsi domestik semata.

Selain itu, peningkatan produktivitas dan daya saing menjadi agenda penting yang harus terus didorong. Investasi pada sektor-sektor strategis, penguatan kualitas sumber daya manusia, serta percepatan transformasi digital menjadi kunci dalam memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga berkualitas dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan dari kerja kolektif berbagai pihak dalam menjaga stabilitas dan mendorong kemajuan ekonomi nasional. Dengan menjaga sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, momentum positif ini diharapkan dapat terus berlanjut sehingga mampu membawa Indonesia menuju pertumbuhan yang lebih inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan di masa depan.

*) Pengamat Ekonomi dan Kebijakan Publik

Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen: Penanda Kuat Ketahanan Nasional

Oleh: Bima Aryatama

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada kuartal I-2026 menjadi sinyal kuat bahwa fondasi ketahanan nasional tetap kokoh di tengah tekanan global yang belum sepenuhnya mereda, sekaligus memperlihatkan efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas dan mendorong aktivitas ekonomi domestik. Capaian ini tidak hanya mencerminkan angka statistik semata, tetapi juga menjadi indikator bahwa daya tahan ekonomi Indonesia masih mampu bertahan di tengah ketidakpastian global yang dipicu oleh fluktuasi harga energi, tekanan geopolitik, serta perlambatan ekonomi di sejumlah negara maju. Dalam konteks ini, proyeksi yang sebelumnya disampaikan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang memperkirakan pertumbuhan berada pada kisaran 5,5 hingga 5,7 persen terbukti tidak meleset jauh dari realisasi, sehingga memberikan legitimasi bahwa arah kebijakan fiskal yang ditempuh pemerintah masih berada pada jalur yang tepat dan terukur.

Purbaya Yudhi Sadewa menilai bahwa mempertahankan pertumbuhan di tengah gejolak global, termasuk kenaikan harga minyak dunia dan efek domino yang ditimbulkannya terhadap berbagai sektor, bukanlah perkara mudah. Oleh karena itu, capaian pertumbuhan di atas lima persen patut dipandang sebagai prestasi penting dalam menjaga momentum ekonomi nasional. Ia juga menyoroti bahwa indikator konsumsi masyarakat masih relatif terjaga, terlihat dari aktivitas belanja yang tetap ramai di pusat-pusat perbelanjaan. Fenomena ini mencerminkan bahwa daya beli masyarakat belum mengalami tekanan signifikan, sekaligus menunjukkan adanya optimisme publik terhadap kondisi ekonomi saat ini. Dalam konteks ekonomi makro, konsumsi domestik memang menjadi salah satu penopang utama yang menentukan stabilitas pertumbuhan, sehingga keberlanjutan aktivitas konsumsi menjadi faktor krusial.

Data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik melalui Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti memperkuat gambaran tersebut. Produk domestik bruto atas dasar harga berlaku tercatat mencapai Rp 6.187,2 triliun, sementara atas dasar harga konstan sebesar Rp 3.447,5 triliun. Secara tahunan, angka tersebut menunjukkan pertumbuhan 5,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan hasil dari kontribusi berbagai sektor ekonomi yang bergerak secara simultan. Sektor industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertambangan menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi lebih dari 63 persen terhadap PDB nasional, mencerminkan bahwa struktur ekonomi Indonesia masih ditopang oleh sektor riil yang memiliki daya tahan tinggi terhadap guncangan eksternal.

Selain itu, sejumlah sektor mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi dan menjadi pendorong tambahan bagi akselerasi ekonomi. Sektor penyediaan akomodasi serta makanan dan minuman, misalnya, tumbuh hingga 13,14 persen, didorong oleh meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode libur nasional serta implementasi program makan bergizi gratis yang turut memperluas permintaan. Sektor jasa lainnya juga menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan mendekati dua digit, seiring meningkatnya perjalanan wisatawan domestik maupun mancanegara. Sementara itu, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,4 persen, mencerminkan meningkatnya aktivitas distribusi barang dan mobilitas manusia yang menjadi indikator penting dalam pemulihan ekonomi.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor utama pertumbuhan dengan kontribusi mencapai 54,36 persen dan pertumbuhan sebesar 5,52 persen. Hal ini menegaskan bahwa daya beli masyarakat masih menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Selain itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto juga menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 5,96 persen, yang mencerminkan meningkatnya aktivitas investasi di berbagai sektor. Kedua komponen ini secara gabungan memberikan kontribusi lebih dari 80 persen terhadap PDB, sehingga menjadi fondasi utama yang menjaga kesinambungan pertumbuhan. Bahkan konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 21,81 persen, yang didorong oleh realisasi belanja negara, termasuk belanja pegawai serta distribusi barang dan jasa kepada masyarakat.

Sejumlah ekonom turut memberikan pandangan yang relatif sejalan meskipun dengan variasi proyeksi yang berbeda. Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David Sumual memperkirakan pertumbuhan berada di kisaran 5,3 persen, dengan catatan adanya indikasi perlambatan pada beberapa indikator konsumsi seperti penjualan kendaraan dan indeks belanja konsumen. Namun demikian, konsumsi selama Ramadan dan Idulfitri dinilai tetap lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga mampu menopang pertumbuhan secara keseluruhan. Di sisi lain, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede memperkirakan pertumbuhan mencapai 5,44 persen, yang ditopang oleh kombinasi konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, serta investasi. Sementara itu, Teuku Riefky dari LPEM FEB UI menilai bahwa faktor musiman seperti Ramadan, Idulfitri, serta pencairan tunjangan hari raya memberikan dorongan tambahan terhadap pendapatan masyarakat, sehingga menjaga daya beli tetap stabil di awal tahun.

Jika ditarik lebih luas, capaian ini tidak dapat dilepaskan dari berbagai keberhasilan pemerintah selama setahun terakhir dalam menjaga stabilitas ekonomi. Pengendalian inflasi yang relatif terkendali, percepatan penyaluran bantuan sosial yang semakin tepat sasaran, penguatan program makan bergizi gratis sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, hingga keberlanjutan pembangunan infrastruktur yang memperlancar konektivitas dan distribusi logistik menjadi faktor-faktor yang saling melengkapi dalam membangun fondasi ekonomi yang lebih kuat. Kebijakan fiskal yang adaptif dan responsif terhadap dinamika global juga menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas.

Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari ketahanan ekonomi nasional yang terus terjaga di tengah tantangan global. Ke depan, tantangan tentu masih akan muncul, terutama terkait ketidakpastian ekonomi dunia dan kebutuhan untuk menjaga momentum investasi. Namun, capaian ini memberikan optimisme bahwa Indonesia memiliki modal yang cukup kuat untuk terus melangkah maju. Oleh karena itu, konsistensi kebijakan, penguatan sektor riil, serta kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga mampu memberikan manfaat yang lebih merata bagi seluruh lapisan masyarakat.

*) Peneliti Kebijakan Fiskal dan Pembangunan

CKG Kesehatan Berkualitas untuk Mewujudkan Lansia Sehat dan Mandiri

Oleh: Yusuf Achsan )*

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) semakin menegaskan posisinya sebagai langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya bagi lansia. Dalam menghadapi tantangan penuaan populasi, pemerintah tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga menempatkan pencegahan sebagai prioritas utama. Pendekatan ini menjadi fondasi penting untuk memastikan lansia tetap sehat, mandiri, dan produktif dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan memandang bahwa investasi pada deteksi dini bukan sekadar intervensi medis, melainkan bagian dari strategi pembangunan jangka panjang. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menekankan bahwa CKG berperan dalam meningkatkan umur harapan hidup sehat. Deteksi dini memungkinkan penyakit dikenali sejak tahap awal sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif, sekaligus menekan biaya pengobatan yang berpotensi membebani masyarakat.

Dalam perspektif yang lebih luas, pendekatan promotif dan preventif yang diusung pemerintah melalui CKG mencerminkan transformasi sistem kesehatan nasional. Keberhasilan pembangunan kesehatan tidak lagi hanya diukur dari jumlah pasien yang sembuh, tetapi dari semakin banyaknya masyarakat yang mampu mempertahankan kondisi sehat. Hal ini menjadi sangat relevan bagi lansia yang rentan terhadap penyakit kronis, sehingga membutuhkan intervensi yang lebih terarah sejak dini.

Program CKG juga terintegrasi dengan penguatan layanan kesehatan primer, terutama melalui peran puskesmas sebagai garda terdepan. Pemerintah berupaya memastikan akses layanan kesehatan dapat menjangkau hingga tingkat desa. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan fasilitas kesehatan menjadi faktor kunci dalam memperluas jangkauan program. Pendekatan ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menghadirkan layanan kesehatan yang merata dan berkeadilan.

Selain berfokus pada penyakit tidak menular, CKG juga berkontribusi dalam penanganan penyakit menular seperti tuberkulosis. Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin P. Octavianus, memandang bahwa program ini menjadi pintu masuk penting untuk memperluas skrining dan menemukan kasus lebih awal. Pemerintah menempatkan pemberantasan tuberkulosis sebagai salah satu prioritas nasional, dengan menekankan pentingnya deteksi dini serta kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan hingga tuntas.

Tantangan penanganan tuberkulosis di Indonesia masih cukup besar, mengingat kontribusi kasus yang signifikan secara global. Kondisi ini diperparah oleh rendahnya penemuan kasus di beberapa wilayah serta belum optimalnya pelacakan kontak erat. Melalui integrasi skrining dalam program CKG, pemerintah berupaya memperkuat sistem deteksi dini sekaligus meningkatkan efektivitas penanganan penyakit menular di masyarakat.

Upaya tersebut juga didukung dengan pengembangan sistem pelaporan yang lebih responsif dan berbasis data real-time. Dengan sistem yang terintegrasi, pemerintah dapat mengambil langkah cepat dan tepat dalam menangani kasus yang ditemukan di lapangan. Pendekatan ini menjadi bukti bahwa CKG tidak hanya berfungsi sebagai layanan pemeriksaan, tetapi juga sebagai bagian dari sistem kesehatan yang adaptif dan modern.

Peran pemerintah daerah menjadi semakin penting dalam memastikan keberhasilan implementasi program ini. Wakil Menteri Dalam Negeri, Akhmad Wiyagus, menekankan bahwa dukungan kebijakan di tingkat daerah sangat menentukan efektivitas program kesehatan nasional. Intervensi yang terarah dan melibatkan berbagai elemen dinilai mampu mempercepat pencapaian target, termasuk dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan lansia.

Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kekuatan utama dalam memperluas cakupan CKG. Dengan dukungan kebijakan yang kuat, layanan kesehatan dapat menjangkau masyarakat secara lebih merata. Lansia sebagai kelompok prioritas mendapatkan manfaat besar dari pendekatan ini, karena mereka memiliki kebutuhan kesehatan yang lebih kompleks dan berkelanjutan.

Dalam implementasinya, CKG menghadirkan berbagai layanan pemeriksaan yang komprehensif, mulai dari pengecekan tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, hingga skrining penyakit menular dan tidak menular.

CGK dirancang untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi kesehatan individu, sehingga langkah penanganan dapat dilakukan secara tepat. Bagi lansia, pemeriksaan rutin ini menjadi kunci dalam menjaga stabilitas kesehatan dan mencegah komplikasi.

Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan juga terus didorong melalui berbagai program edukasi. Pemerintah berupaya membangun pola pikir bahwa menjaga kesehatan harus dimulai sebelum munculnya penyakit. Perubahan paradigma ini menjadi penting agar masyarakat, khususnya lansia, lebih proaktif dalam memanfaatkan layanan kesehatan yang telah disediakan.

Optimalisasi CKG pada akhirnya tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada pembangunan nasional secara keseluruhan. Lansia yang sehat dan mandiri akan mengurangi beban sistem kesehatan serta meningkatkan kualitas hidup keluarga dan masyarakat. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.

Dengan berbagai langkah yang telah dilakukan, CKG menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam menghadirkan layanan kesehatan berkualitas bagi seluruh lapisan masyarakat. Program ini tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang dalam membangun bangsa yang sehat. Lansia sebagai bagian penting dari masyarakat mendapatkan perhatian khusus, sehingga mereka dapat menjalani kehidupan yang lebih bermakna, mandiri, dan sejahtera di era modern.

*) Peneliti Isu Kesejahteraan Sosial

Optimalisasi CKG dalam Meningkatkan Kesehatan Berkualitas bagi Lansia

Oleh: Ayu Swastika )*

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) semakin menunjukkan peran strategisnya sebagai instrumen utama pemerintah dalam membangun kualitas kesehatan masyarakat, khususnya bagi kelompok lansia. Di tengah meningkatnya angka harapan hidup, kebutuhan akan layanan kesehatan yang bersifat preventif menjadi semakin penting.

Pemerintah secara konsisten mendorong penguatan deteksi dini sebagai pendekatan utama guna mengurangi beban penyakit kronis yang selama ini mendominasi penyebab kematian nasional.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa pemeriksaan kesehatan minimal satu kali dalam setahun merupakan langkah mendasar yang perlu dilakukan seluruh masyarakat. Penekanan tersebut didasarkan pada tingginya angka kematian akibat penyakit tidak menular seperti stroke, jantung, dan gagal ginjal.

Tingginya angka kematian akibat penyakit tidak menular ini menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum memanfaatkan deteksi dini secara optimal, padahal langkah tersebut dapat menjadi kunci dalam mencegah perkembangan penyakit ke tahap yang lebih serius.

*) Pengamat Kebijakan Sosial

Data yang dihimpun menunjukkan bahwa stroke menjadi penyebab kematian tertinggi dengan kisaran ratusan ribu kasus setiap tahun, disusul oleh penyakit jantung, kanker, dan gangguan ginjal. Fakta ini memperlihatkan bahwa ancaman penyakit kronis masih sangat nyata, terutama bagi lansia yang memiliki kerentanan lebih tinggi.

Dalam pandangan Menkes, penyakit-penyakit tersebut sebenarnya memiliki periode laten selama beberapa tahun sebelum mencapai kondisi fatal. Pada fase inilah intervensi melalui pemeriksaan rutin menjadi sangat krusial untuk menekan risiko kematian.

Upaya pencegahan tersebut dapat dilakukan melalui pemantauan indikator kesehatan dasar seperti tekanan darah, gula darah, dan kadar kolesterol. Ketiga indikator ini menjadi parameter penting dalam mengidentifikasi potensi penyakit sejak dini.

Namun dalam praktiknya, banyak masyarakat yang mengabaikan kondisi tersebut karena tidak merasakan gejala yang signifikan. Akibatnya, diagnosis sering kali baru dilakukan ketika penyakit sudah memasuki tahap lanjut, sehingga penanganan menjadi lebih kompleks dan berisiko tinggi.

Dalam konteks ini, optimalisasi CKG menjadi solusi konkret yang dihadirkan pemerintah untuk menjawab tantangan tersebut. Program ini tidak hanya menyediakan layanan pemeriksaan secara gratis, tetapi juga memastikan adanya tindak lanjut berupa pengobatan maupun rujukan medis. Dengan pendekatan yang terintegrasi, CKG mampu memperkuat sistem layanan kesehatan primer yang berfokus pada upaya promotif dan preventif.

Dukungan pemerintah daerah juga menjadi faktor penting dalam memperluas jangkauan program ini. Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menegaskan komitmennya dalam mendukung berbagai program layanan kesehatan yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.

Pemerintah daerah dinilai memiliki peran strategis dalam membangun kolaborasi dengan fasilitas kesehatan, termasuk sektor swasta, guna memastikan layanan kesehatan dapat diakses secara merata. Sinergi lintas sektor ini menjadi langkah penting dalam memperluas cakupan pemeriksaan kesehatan preventif, termasuk bagi kelompok lansia yang membutuhkan perhatian khusus.

Implementasi di tingkat daerah juga terlihat dari langkah Pemerintah Kabupaten Donggala yang memperluas layanan CKG melalui fasilitas puskesmas. Kepala Puskesmas Ita Seseibi Sabang, Nuraisyah, menjelaskan bahwa strategi pelaksanaan dilakukan dengan mempercepat waktu layanan guna menjangkau lebih banyak masyarakat. Pendekatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan partisipasi, terutama ketika kegiatan kesehatan diintegrasikan dengan momentum sosial seperti peringatan Hari Pendidikan Nasional.

Hasil pemeriksaan di lapangan menunjukkan tingginya temuan kasus dislipidemia dan kadar asam urat yang meningkat. Kondisi tersebut menjadi indikator awal meningkatnya risiko penyakit tidak menular di masyarakat.

Temuan meningkatnya risiko penyakit tidak menular ini sekaligus mempertegas bahwa pemeriksaan rutin melalui CKG memiliki peran penting dalam mengidentifikasi faktor risiko sebelum berkembang menjadi penyakit serius. Bagi lansia, deteksi dini ini sangat menentukan dalam menjaga kualitas hidup dan mencegah komplikasi yang dapat menurunkan kemandirian.

Jenis layanan yang diberikan dalam program CKG juga semakin komprehensif, mencakup pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, asam urat, hingga pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut serta skrining penyakit menular dan tidak menular. Kelengkapan layanan ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada satu aspek kesehatan, melainkan membangun sistem yang menyeluruh untuk memastikan masyarakat mendapatkan perlindungan kesehatan yang optimal.

Keberhasilan pelaksanaan CKG juga tidak terlepas dari koordinasi yang baik antara berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, hingga dukungan logistik seperti penyediaan bahan medis. Kolaborasi ini memperkuat efektivitas program dalam menjangkau masyarakat secara luas dan memastikan pelayanan berjalan secara berkelanjutan. Pendekatan berbasis komunitas juga menjadi kunci dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia.

Dalam perspektif yang lebih luas, optimalisasi CKG mencerminkan komitmen pemerintah dalam melakukan transformasi sistem kesehatan nasional. Fokus pada upaya preventif menjadi langkah strategis untuk mengurangi beban pembiayaan kesehatan di masa depan sekaligus meningkatkan produktivitas masyarakat. Lansia sebagai kelompok yang rentan mendapatkan manfaat besar dari program ini, karena memungkinkan mereka untuk tetap sehat, mandiri, dan aktif dalam kehidupan sosial.

Dengan berbagai upaya yang telah dilakukan, CKG tidak lagi sekadar program layanan kesehatan, melainkan menjadi bagian dari investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia. Pemerintah terus mendorong masyarakat untuk lebih proaktif dalam menjaga kesehatan melalui pemeriksaan rutin. Bagi lansia, langkah ini menjadi kunci dalam memastikan kualitas hidup yang lebih baik di era modern, sekaligus memperkuat fondasi menuju masyarakat yang sehat, produktif, dan berdaya saing tinggi.

CKG Perkuat Kesehatan Berkualitas Lansia, Hidup Lebih Sehat dan Produktif

Jakarta – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) terus ditingkatkan sebagai bagian dari upaya pemerintah memperluas akses layanan kesehatan preventif. Program ini diarahkan untuk mendukung deteksi dini risiko kesehatan serta mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat secara lebih terukur.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa CKG merupakan bagian dari upaya besar pemerintah dalam meningkatkan angka harapan hidup sehat atau Healthy Average Life Expectancy (HALE), terutama bagi perempuan yang memiliki usia harapan hidup lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

“Nah di Indonesia angka Healthy Average Life Expectancy itu rata-rata 65, data dari WHO. Perempuannya 66, laki-lakinya 64. Jadi bayangkan rata-rata orang Indonesia itu meninggalnya umur 74 Tapi umur 65 tahun hidupnya sudah tidak sehat,” ujar Budi.

Oleh karena itu, pemerintah mendorong pendekatan promotif dan preventif melalui program CKG agar masyarakat dapat mendeteksi dini risiko penyakit.

“Jangan sampai sakit. Itu sebabnya Bapak Presiden Prabowo, cara jaga kesehatan yang paling baik Nomor satu Itu udah dikasih sama Bapak Prabowo Cek Kesehatan Gratis, minimal setahun sekali,” katanya.

Program ini dinilai sangat penting mengingat penyakit tidak menular seperti stroke, jantung, kanker, dan gangguan ginjal menjadi penyebab utama kematian di Indonesia.

Di sisi lain, Kemenkes juga mencatat bahwa implementasi CKG telah memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan lansia.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menyampaikan bahwa program ini telah menjangkau jutaan lansia di seluruh Indonesia.

“Hasil CKG pada kelompok lansia menunjukkan capaian besar sekaligus tantangan klinis yang nyata. CKG dilakukan pada 6 juta lansia, atau sekitar 35,5 persen dari target 16,9 juta lansia, sehingga program ini sudah menjangkau sebagian besar populasi lanjut usia,” katanya.

Temuan dari skrining tersebut menunjukkan adanya berbagai tantangan kesehatan yang dihadapi lansia, mulai dari gangguan mobilitas, penurunan fungsi kognitif, hingga masalah nutrisi dan kesehatan mental.

Hal ini menunjukkan bahwa intervensi kesehatan tidak cukup hanya berhenti pada tahap skrining, tetapi perlu dilanjutkan dengan penanganan yang komprehensif.

Lebih lanjut, pemanfaatan data dari program CKG dinilai sangat penting dalam menentukan kebijakan yang tepat sasaran. Dengan data yang terintegrasi, pemerintah dapat memprioritaskan wilayah atau kelompok masyarakat yang membutuhkan intervensi lebih intensif.
[w.R]

CKG sebagai Solusi Kesehatan Berkualitas untuk Lansia di Era Modern

Jakarta – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) semakin menegaskan perannya sebagai fondasi penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, termasuk bagi kelompok lansia.

Melalui pendekatan deteksi dini, pemerintah mendorong perubahan dari pola pengobatan menuju pencegahan untuk menekan risiko penyakit berat seperti stroke dan jantung yang banyak dialami usia lanjut.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa pemeriksaan kesehatan berkala merupakan langkah penting yang tidak boleh diabaikan.

“Cek Kesehatan Gratis minimal setahun sekali itu semua orang harus lakukan. Kenapa?, karena kematian paling tinggi itu stroke, jantung, dan ginjal.” ucapnya

Pernyataan tersebut memperkuat pentingnya CKG sebagai langkah preventif, khususnya bagi lansia yang rentan terhadap penyakit kronis.

Data menunjukkan bahwa stroke menjadi penyebab kematian tertinggi dengan ratusan ribu kasus setiap tahun, disusul penyakit jantung, kanker, dan gagal ginjal. Menkes juga mengingatkan bahwa penyakit-penyakit tersebut sebenarnya dapat dicegah jika terdeteksi lebih awal.

“Stroke itu 300 ribu, jantung 250 ribu, kanker 234 ribu. Itu penyakit-penyakit kronis yang sebenarnya kita punya waktu 5 sampai 6 tahun sebelum kondisi menjadi fatal.” jelas Budi.

Dalam praktiknya, pencegahan dapat dilakukan dengan memantau indikator kesehatan utama seperti tekanan darah, gula darah, dan kolesterol.

“Tekanan darah harus di bawah 120 per 80, gula darah tidak lebih dari 200. Kolesterol ideal di bawah 200, atau LDL sebaiknya di bawah 100.” terang Budi.

Implementasi CKG tidak berhenti pada tahap pemeriksaan, tetapi juga mencakup tindak lanjut berupa pengobatan atau rujukan medis.

Hal ini memperkuat efektivitas program dalam menekan angka kesakitan dan kematian, sekaligus meningkatkan kualitas hidup lansia.

Di sisi lain, Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin P. Octavianus, menekankan bahwa CKG juga berperan dalam mendukung penanganan penyakit menular seperti tuberkulosis.

“Kita fokus pada pemberantasan tuberkulosis sebagai bagian dari program prioritas. CKG menjadi pintu masuk penting untuk memperluas skrining dan menemukan kasus lebih awal.” paparnya.

Pelaksanaan di daerah juga menunjukkan hasil positif. Kepala Dinas Kesehatan Donggala, Aprina Lingkeh, menyebutkan,jika CGK difokuskan untuk pendektesian awal.

“CKG difokuskan untuk mendeteksi lebih awal kondisi kesehatan masyarakat sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.” ujar Aprina.

Dengan penguatan program ini, CKG menjadi lebih dari sekadar layanan kesehatan. Bagi lansia, CKG merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga kualitas hidup, meningkatkan kemandirian, serta memastikan masa tua yang lebih sehat dan produktif di era modern.

Pemerintah Percepat Hilirisasi Peternakan untuk Perkuat Ketahanan Pangan

Jakarta – Pemerintah terus mempercepat pembangunan ekosistem hilirisasi peternakan sebagai strategi konkret memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak. Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan rantai produksi pangan tidak berhenti di hulu, tetapi terintegrasi hingga ke pasar sehingga menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan.

Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian, Makmun, menegaskan bahwa percepatan implementasi program Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor, melibatkan pemerintah pusat dan daerah, BUMN pangan, BUMD, hingga pelaku usaha lokal.

“Kita tidak ingin peternak hanya memproduksi, tetapi kesulitan menjual hasilnya. Karena itu hilirisasi menjadi kunci. Produksi harus terhubung dengan offtaker, industri, dan pasar. Kalau pasar jelas, peternak pasti semangat,” ujarnya.

Menurut Makmun, program HAT dirancang secara komprehensif dari hulu hingga hilir, mencakup pembibitan, penyediaan pakan, budidaya, rumah potong hewan unggas, pengolahan produk, hingga distribusi ke pasar. Dengan sistem terintegrasi ini, peternak tidak lagi berjalan sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem usaha yang kokoh.

“Peternak tidak boleh hanya menjadi penonton di wilayahnya sendiri. Mereka harus menjadi pelaku utama yang sejahtera. Negara harus hadir memastikan produksi berjalan, harga menguntungkan, dan pasar tersedia,” tegasnya.

Ia juga menambahkan, hilirisasi bukan semata soal investasi besar, tetapi juga upaya membangun kemandirian peternak lokal.

“Kalau peternak kuat, daerah kuat. Kalau daerah kuat, pangan nasional aman. Ini bukan proyek sesaat, melainkan fondasi ketahanan pangan jangka panjang,” lanjut Makmun.

Sementara itu, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, Indah Dhamayanti Putri, menyatakan kesiapan daerahnya untuk mempercepat pembangunan ekosistem HAT. Menurutnya, program ini akan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.

“Kami siap terlibat dan mendorong pelaku usaha lokal untuk mengambil bagian dalam budidaya broiler maupun layer. Ini bukan hanya soal investasi, tetapi bagaimana masyarakat NTB mendapatkan manfaat ekonomi secara langsung,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua DPRD Provinsi Gorontalo, Thomas Mopili, yang menilai percepatan HAT sebagai langkah strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

“Seluruh pihak pada prinsipnya mendukung rencana investasi ini. Ini adalah langkah strategis untuk memperkuat sektor peternakan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” katanya.

Ke depan, hilirisasi peternakan diharapkan tidak hanya memperkuat rantai pasok pangan, tetapi juga menghadirkan peluang nyata bagi peternak untuk berkembang dan meningkatkan taraf hidupnya. *