Desak Stop MBG, Tuntutan BEM UI Dinilai Salah Sasaran

Jakarta – Aksi demonstrasi yang diinisiasi Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama sejumlah elemen mahasiswa dengan membawa tuntutan penurunan harga BBM dan penghentian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuai beragam tanggapan. Aspirasi yang disampaikan dalam ruang demokrasi tetap dihormati, namun tuntutan penghentian MBG dinilai kurang tepat karena program tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, khususnya kelompok rentan.

Di tengah upaya pemerintah memperkuat perlindungan sosial dan menjaga stabilitas ekonomi, MBG menjadi salah satu program prioritas yang terus dibenahi agar manfaatnya semakin optimal. Karena itu, penghentian program dinilai tidak sejalan dengan upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan masyarakat.

Sementara terkait penyesuaian harga BBM nonsubsidi, pemerintah menilai langkah tersebut diperlukan untuk menjaga kesehatan fiskal negara sekaligus memastikan subsidi energi tetap tepat sasaran bagi masyarakat yang berhak menerimanya.

Pakar Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM), Agustinus Subarsono, menilai penolakan terhadap kenaikan BBM nonsubsidi merupakan bagian dari kebebasan berpendapat yang patut dihormati. Namun, menurutnya kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah juga mempertimbangkan berbagai kondisi ekonomi yang sedang dihadapi negara.

“Demo di berbagai tempat yang menolak kenaikan harga BBM non-subsisi sebagai bentuk kebebasan di ruang demokrasi yang perlu dihormati. Namun, dengan tidak mengurangi semangat adik-adik mahasiswa, nampaknya perjuangan mahasiswa sulit mengubah kebijakan yang sudah ada,” ujar Agustinus.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah perlu menjaga keseimbangan fiskal di tengah tekanan ekonomi dan pelemahan nilai tukar rupiah. Karena itu, berbagai kebijakan yang diambil diarahkan untuk menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang.

“Kalau pemerintah tidak menambah pendapatannya dari kenaikan BBM non-subsidi, maka akan menambah utang pemerintah untuk menutup defisit fiskal. Pilihan menutup defisit dengan utang memiliki probabilitas kecil atau bahkan tidak akan dilakukan oleh pemerintah dalam situasi rupiah yang melemah saat ini,” tambahnya.

Di sisi lain, aparat keamanan memastikan akan mengawal penyampaian aspirasi masyarakat secara humanis dan sesuai ketentuan yang berlaku. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengimbau agar seluruh aspirasi disampaikan secara konstruktif serta tetap menjaga ketertiban umum.

“Terkait kegiatan masyarakat, kami mengimbau agar seluruh aspirasi disampaikan secara konstruktif,” ujarnya.

Menurut Kapolri, kebebasan menyampaikan pendapat harus tetap diimbangi dengan tanggung jawab untuk menjaga situasi yang aman dan kondusif agar aktivitas masyarakat serta perekonomian dapat terus berjalan dengan baik.

Demo BEM UI Dinilai Berpotensi Ganggu Iklim Pembangunan

Jakarta – Rencana aksi demonstrasi yang diusung Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) dengan mengangkat narasi Reformasi Jilid II dinilai berpotensi mengganggu iklim pembangunan yang saat ini tengah dijaga pemerintah.

Di tengah fokus pemerintah memperkuat ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, stabilitas nasional dinilai menjadi faktor penting untuk memastikan berbagai program pembangunan berjalan optimal.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan pemerintah menghormati dan menerima aspirasi yang disampaikan masyarakat sebagai bagian dari kehidupan demokrasi. Namun, ia menekankan bahwa pemerintah saat ini sedang bekerja keras menghadapi berbagai tantangan ekonomi melalui koordinasi dan kebijakan yang saling memperkuat.

“Beberapa hari ini kan saudara saksikan bahwa kita juga betul-betul bekerja sama dan bekerja sangat keras untuk mengatasi masalah-masalah perekonomian kita,” kata Prasetyo.

Menurutnya, berbagai langkah yang ditempuh pemerintah diarahkan untuk memberikan kepastian bagi dunia usaha sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Kepastian tersebut dinilai penting agar aktivitas investasi, produksi, dan penciptaan lapangan kerja dapat terus berjalan.

“Dengan koordinasi yang erat, dengan koordinasi yang intens, dengan kebijakan yang saling memperkuat satu sama lain, juga yang hari ini memberi kepastian juga kepada para pelaku usaha, kami yakin kita akan dapat mengatasi permasalahan ini,” ujarnya.

Prasetyo juga mengingatkan bahwa penyelesaian berbagai persoalan nasional membutuhkan proses dan kerja bersama seluruh elemen bangsa. Karena itu, dukungan terhadap upaya perbaikan yang sedang dijalankan pemerintah dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan pembangunan.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Sarmuji, menilai dinamika politik merupakan hal yang wajar dalam sistem demokrasi. Namun, menurutnya stabilitas tetap perlu dijaga agar tidak mengganggu agenda pembangunan dan penguatan ekonomi nasional.

Ia menjelaskan bahwa kondisi daya beli masyarakat, fundamental ekonomi, dan legitimasi politik merupakan faktor penting yang memengaruhi stabilitas suatu negara. Meski demikian, Sarmuji optimistis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memiliki kapasitas untuk menjaga kondisi tersebut tetap kondusif melalui berbagai kebijakan yang berpihak pada masyarakat.

Di tengah berbagai upaya pemerintah mempercepat pembangunan dan memperkuat pertumbuhan ekonomi, munculnya narasi yang berpotensi menciptakan persepsi instabilitas dinilai kurang sejalan dengan kebutuhan bangsa saat ini. Karena itu, menjaga situasi yang kondusif menjadi hal penting agar pembangunan dapat terus berjalan dan manfaatnya dirasakan secara luas oleh masyarakat.

Tuntutan Demo Mahasiswa BEM UI Dinilai Salah Sasaran, Program Rakyat Jangan Jadi Korban

JAKARTA — Aspirasi segelintir mahasiswa yang menuntut penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) sekaligus penghentian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memunculkan beragam tanggapan. Sejumlah kalangan menilai aspirasi terkait kondisi ekonomi patut dihormati, namun penghentian program yang menyasar kebutuhan dasar masyarakat justru dinilai berpotensi merugikan kelompok yang paling membutuhkan.

Pemerintah sendiri saat ini tengah melakukan penataan menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG agar program berjalan lebih efisien, tepat sasaran, dan tidak membebani keuangan negara. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan hasil evaluasi menunjukkan adanya peluang penghematan anggaran tanpa mengurangi target utama peningkatan gizi masyarakat.

“Bukan pemangkasan, tetapi dari hasil perhitungan kami meyakini akan ada pengurangan kebutuhan anggaran dari program makan bergizi gratis ini,” kata Prasetyo.

Menurut dia, pemerintah sedang membenahi sejumlah persoalan tata kelola, termasuk penataan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar distribusi layanan lebih efektif dan sesuai kebutuhan daerah. Meski demikian, pemerintah memastikan pelayanan kepada penerima manfaat tetap berjalan selama proses penataan berlangsung.

“Yang sudah berjalan tetap berjalan, tidak boleh ada gangguan. Yang sudah baik pun harus tetap diawasi supaya kualitasnya terjaga,” ujarnya.

Selain melakukan efisiensi, pemerintah juga memperluas fokus program kepada kelompok rentan, seperti ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan manfaat program benar-benar dirasakan oleh kelompok yang membutuhkan.

Di sektor energi, pemerintah juga memastikan tidak ada kenaikan harga BBM subsidi maupun LPG subsidi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan kebijakan tersebut merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto guna menjaga daya beli masyarakat.

“Hari ini atas perintah Presiden Republik Indonesia sebagai Menteri ESDM, untuk BBM subsidi dan LPG subsidi tidak ada kenaikan,” kata Bahlil.

Menurut Bahlil, subsidi energi tetap dipertahankan sebagai instrumen perlindungan masyarakat di tengah tekanan ekonomi global dan fluktuasi harga energi dunia. Stabilitas harga energi dinilai penting untuk menjaga biaya transportasi, logistik, dan kebutuhan pokok agar tidak semakin membebani masyarakat.

Sementara itu, pemerintah juga tengah menyiapkan berbagai stimulus ekonomi guna menjaga pertumbuhan dan stabilitas ekonomi nasional.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan inflasi dan kondisi pasar setelah penyesuaian harga BBM nonsubsidi.

“Sedang disiapkan. Ya, kalau udah diputus baru dikasih tahu. Laporin presiden juga,” kata Airlangga.

Soal kondisi kenaikan harga BBM dan kenaikan suku bunga yang terjadi berapa hari terakhir. Airlangga mengatakan, itu adalah proses stabilisasi nilai tukar rupiah.

“Pak kenaikan harga pertamax dan BI-Rate naik, suku bunga naik, makin menekan masyarakat kelas menengah gak? Ya, kan itu stabilisasi. Nanti kalau kalau dolarnya turun terus protes. dolarnya di rem, ah, protes juga,” ujarnya. *

Demo BEM UI Berpotensi Ganggu Iklim Pembangunan dan Kepercayaan Pelaku Usaha

Jakarta – Ajakan demonstrasi yang diusung Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) dengan mengangkat narasi Reformasi Jilid II dinilai kurang relevan dengan kondisi nasional saat ini. Di tengah upaya pemerintah menjaga stabilitas ekonomi dan mempercepat pembangunan, berbagai pihak menilai energi bangsa sebaiknya difokuskan pada penguatan sektor ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan pemerintah menghormati dan menerima aspirasi yang disampaikan masyarakat. Namun, ia menekankan bahwa pemerintah saat ini sedang bekerja keras mengatasi berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia melalui koordinasi dan kebijakan yang saling memperkuat.

“Beberapa hari ini kan saudara saksikan bahwa kita juga betul-betul bekerja sama dan bekerja sangat keras untuk mengatasi masalah-masalah perekonomian kita,” kata Prasetyo.

Menurutnya, pemerintah optimistis berbagai langkah yang ditempuh akan mampu memberikan kepastian bagi pelaku usaha sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

“Dengan koordinasi yang erat, dengan koordinasi yang intens, dengan kebijakan yang saling memperkuat satu sama lain, juga yang hari ini memberi kepastian juga kepada para pelaku usaha, kami yakin kita akan dapat mengatasi permasalahan ini,” ujarnya.

Prasetyo juga mengingatkan bahwa penyelesaian berbagai persoalan nasional membutuhkan proses dan tidak dapat dicapai secara instan. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mendukung upaya perbaikan yang sedang dijalankan pemerintah.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Sarmuji, menilai potensi gejolak politik memang selalu ada dalam sistem demokrasi. Namun, menurutnya sebuah gerakan massa besar tidak akan muncul tanpa alasan mendasar yang kuat. Ia menyebut terdapat tiga faktor utama yang dapat memicu ketidakstabilan politik, yakni daya beli masyarakat, fundamental ekonomi, dan legitimasi politik.

Meski demikian, Sarmuji optimistis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto masih memiliki kemampuan untuk menjaga kondisi tersebut tetap terkendali. Karena itu, berbagai seruan aksi yang berpotensi menciptakan persepsi instabilitas dinilai tidak sejalan dengan kebutuhan bangsa saat ini.

Di tengah fokus pemerintah memperkuat ekonomi, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, stabilitas nasional dinilai menjadi modal utama untuk memastikan pembangunan berjalan berkelanjutan dan manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Desak Stop MBG, Tuntutan BEM UI Dinilai Salah Sasaran

Jakarta – Aksi demonstrasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama sejumlah elemen mahasiswa, termasuk tuntutan penurunan harga BBM serta penghentian Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menjadi bagian dari dinamika demokrasi yang perlu dihormati.

Namun demikian, beragam pandangan yang berkembang diharapkan dapat disalurkan melalui dialog yang konstruktif untuk mendukung pembangunan nasional yang inklusif dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah saat ini tengah berfokus mengawal ketahanan nasional melalui kebijakan fiskal yang terukur dan program penguatan ekonomi berbasis kerakyatan. Langkah penyesuaian harga BBM nonsubsidi, seperti Pertamax, merupakan keputusan realistis untuk menjaga kesehatan APBN yang sedang menghadapi tekanan defisit berat, sekaligus memastikan alokasi subsidi energi tetap tepat sasaran bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Pakar Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM), Agustinus Subarsono menilai tuntutan untuk membatalkan penyesuaian harga energi nonsubsidi kurang selaras dengan kebutuhan fundamental negara saat ini. Tekanan fiskal dan fluktuasi nilai tukar rupiah menuntut pemerintah mengambil kebijakan yang rasional demi mempertahankan kepercayaan pasar global.

“Demo di berbagai tempat yang menolak kenaikan harga BBM non-subsisi sebagai bentuk kebebasan di ruang demokrasi yang perlu dihormati. Namun, dengan tidak mengurangi semangat adik-adik mahasiswa, nampaknya perjuangan mahasiswa sulit mengubah kebijakan yang sudah ada,” ujar Agustinus.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa jika pemerintah dipaksa membatalkan penyesuaian harga ini, risikonya adalah pembengkakan utang negara.

“Kalau pemerintah tidak menambah pendapatannya dari kenaikan BBM non-subsidi, maka akan menambah utang pemerintah untuk menutup defisit fiskal. Pilihan menutup defisit dengan utang memiliki probabilitas kecil atau bahkan tidak akan dilakukan oleh pemerintah dalam situasi rupiah yang melemah saat ini,” tambahnya.

Di sisi lain, aparat keamanan memastikan akan mengawal dinamika penyampaian pendapat ini secara humanis, sembari mengingatkan pentingnya menjaga situasi tetap kondusif agar roda perekonomian masyarakat tidak terganggu.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengimbau seluruh elemen mahasiswa untuk menghindari eskalasi jalanan yang kontraproduktif dan beralih ke saluran-saluran komunikasi yang sehat.

“Terkait kegiatan masyarakat, kami mengimbau agar seluruh aspirasi disampaikan secara konstruktif,” ujarnya.

Kapolri menyatakan bahwa Polri sangat menghormati hak setiap warga negara untuk mengekspresikan pandangannya di muka umum. Namun, ia mengingatkan agar pergerakan massa tidak mengorbankan ketertiban umum atau hak-hak masyarakat lain yang sedang beraktivitas.

“Kami akan menjaga agar seluruh kegiatan dan aspirasi masyarakat tetap berlangsung secara konstruktif dan terukur,” pungkasnya.

Waspada Provokator di Balik Aksi BEM UI, Stabilitas Nasional Harus Dijaga

JAKARTA – Aksi demonstrasi yang diinisiasi BEM UI terkait isu perekonomian nasional perlu disikapi secara bijaksana oleh seluruh pihak. Di tengah kondisi ekonomi Indonesia yang masih relatif kuat dan stabil, berbagai kalangan mengingatkan agar masyarakat mewaspadai potensi provokasi serta pihak-pihak yang berusaha menunggangi gerakan mahasiswa untuk kepentingan tertentu yang dapat mengganggu stabilitas nasional.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pemerintah menghargai aspirasi mahasiswa dan terus bekerja keras untuk memperkuat perekonomian nasional. Menurutnya, berbagai langkah perbaikan ekonomi terus dilakukan melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga.

“Beberapa hari ini kan saudara saksikan bahwa kita juga betul-betul bekerja sama dan bekerja sangat keras untuk mengatasi masalah-masalah perekonomian kita,” kata Prasetyo.

Ia menambahkan bahwa penyelesaian berbagai tantangan ekonomi tidak dapat dicapai secara instan karena membutuhkan proses, konsistensi kebijakan, dan dukungan seluruh elemen bangsa.

Dari sisi keamanan, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengimbau agar setiap kegiatan penyampaian pendapat dilakukan secara tertib dan konstruktif. “Terkait kegiatan di masyarakat tentu kita selalu mengimbau agar semua kegiatan dilaksanakan dalam bentuk konstruktif,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menegaskan bahwa Indonesia tidak berada dalam kondisi yang mengarah pada kebangkrutan sebagaimana narasi yang berkembang di sebagian ruang publik. Menurutnya, Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang kuat didukung oleh kekayaan sumber daya alam dan posisi strategis dalam perekonomian global.

“Kalau ada orang yang mengatakan APBN kita bangkrut, nggak mungkin kita bangkrut. Bayangkan Indonesia ini 43 persen batu bara dunia disuplai oleh Indonesia, CPO 40 persen, nikel bahkan melebihi 60 persen,” ujar Misbakhun.

Selain menjadi pemasok utama berbagai komoditas dunia, Indonesia juga masih mencatat pertumbuhan ekonomi di atas lima persen, menjadi anggota G20, serta membukukan surplus neraca perdagangan selama 71 bulan berturut-turut. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa fundamental ekonomi nasional tetap terjaga meskipun dunia masih menghadapi berbagai ketidakpastian ekonomi global.

Berbagai pihak menilai bahwa yang perlu diwaspadai bukanlah aspirasi mahasiswa itu sendiri, melainkan kemungkinan munculnya provokator dan penunggang kepentingan yang memanfaatkan aksi untuk menyebarkan disinformasi, memperbesar keresahan publik, serta mendorong agenda tertentu yang berpotensi mengganggu persatuan dan stabilitas nasional.

Oleh karena itu, masyarakat diharapkan tetap mengedepankan sikap kritis, tidak mudah terprovokasi, serta mendukung penyampaian aspirasi yang damai dan bertanggung jawab demi menjaga iklim pembangunan, investasi, dan kesejahteraan yang terus diupayakan bersama.

MBG Papua Hadirkan Manfaat Ganda bagi Generasi Muda dan Ekonomi Daerah

Oleh: Yuliana Wenda*

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjadi salah satu kebijakan yang menghadirkan harapan besar bagi masyarakat Papua. Di tengah upaya pemerintah mempercepat pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing, program ini menunjukkan bahwa pemenuhan gizi anak-anak dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat. Kehadiran MBG tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi peserta didik, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang luas bagi petani, nelayan, peternak, dan pelaku usaha lokal di seluruh Tanah Papua.

Komitmen tersebut terlihat dari langkah Pemerintah Provinsi Papua yang terus mendorong pemanfaatan produk lokal sebagai sumber utama bahan pangan dalam pelaksanaan MBG. Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri, menegaskan bahwa kebutuhan pangan program ini harus mengutamakan hasil produksi masyarakat Papua. Kebijakan tersebut menunjukkan keberpihakan yang nyata kepada masyarakat lokal sekaligus menjadi strategi untuk memastikan bahwa setiap anggaran yang dibelanjakan pemerintah mampu memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi daerah.

Bagi Papua yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah, kebijakan ini menjadi sangat penting. Selama ini, banyak komoditas pangan yang sebenarnya dapat diproduksi oleh masyarakat setempat. Dengan menjadikan MBG sebagai pasar yang menyerap hasil pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan lokal, pemerintah sedang membangun fondasi ekonomi kerakyatan yang lebih kuat. Kehadiran program ini menciptakan kepastian pasar bagi para pelaku usaha lokal sehingga mendorong peningkatan produksi dan pendapatan masyarakat.

Gubernur Matius D. Fakhiri juga menekankan bahwa keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari tersedianya makanan bergizi bagi siswa, tetapi juga dari dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat. Pandangan tersebut mencerminkan pendekatan pembangunan yang komprehensif. Program ini tidak semata-mata berorientasi pada bantuan sosial, melainkan menjadi instrumen pembangunan yang mampu menggerakkan roda ekonomi hingga ke tingkat keluarga dan kampung.

Salah satu potensi besar yang kini terus didorong dalam pelaksanaan MBG adalah pemanfaatan hasil perikanan lokal. Papua dikenal memiliki sumber daya perikanan yang melimpah dan tingkat konsumsi ikan masyarakat yang relatif tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Karena itu, dorongan agar ikan menjadi salah satu sumber protein utama dalam menu MBG merupakan langkah yang sangat strategis.

Pemanfaatan ikan dalam menu MBG akan memberikan manfaat ganda. Dari sisi kesehatan, ikan merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang sangat dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak. Dari sisi ekonomi, peningkatan kebutuhan ikan akan memperluas peluang pasar bagi nelayan dan pelaku usaha perikanan lokal. Dengan demikian, program MBG dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi sektor kelautan yang selama ini menjadi salah satu kekuatan utama Papua.

Upaya membiasakan anak-anak mengonsumsi ikan sejak usia dini juga merupakan investasi jangka panjang bagi pembangunan Papua. Generasi yang tumbuh dengan asupan gizi yang baik akan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang menjadi sumber daya manusia yang sehat, cerdas, produktif, dan mampu bersaing di masa depan. Oleh karena itu, penguatan konsumsi pangan lokal melalui MBG memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar penyediaan makanan harian di sekolah.

Dukungan terhadap penguatan ekonomi lokal melalui MBG juga datang dari Anggota Komisi XIII DPR RI, Yan Permenas Mandenas. Dalam kunjungannya ke Kabupaten Kepulauan Yapen, ia menegaskan bahwa seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi perlu memprioritaskan penggunaan bahan pangan lokal. Menurutnya, program ini harus memberikan dampak ganda berupa peningkatan kualitas gizi siswa sekaligus peningkatan kesejahteraan petani, nelayan, dan pelaku usaha daerah. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa MBG telah menjadi instrumen pembangunan yang mendapatkan dukungan luas karena mampu menghubungkan agenda pembangunan manusia dengan penguatan ekonomi masyarakat.

Sementara itu, hasil pemantauan yang dilakukan Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Yanni, menunjukkan bahwa MBG telah memberikan manfaat nyata bagi peserta didik di sejumlah sekolah di Kota Jayapura. Kehadiran program tersebut membantu anak-anak memperoleh asupan makanan bergizi yang mendukung aktivitas belajar mereka setiap hari. Penilaian positif dari berbagai kalangan pendidikan memperlihatkan bahwa MBG telah menjadi salah satu program yang dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.

Keberhasilan awal yang mulai terlihat di berbagai wilayah Papua menunjukkan bahwa MBG memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak pembangunan yang berkelanjutan. Program ini tidak hanya memperkuat kualitas sumber daya manusia, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi yang melibatkan masyarakat sebagai bagian penting dari rantai pasok pangan. Ketika hasil panen petani, tangkapan nelayan, dan produk peternak lokal terserap oleh program pemerintah, maka manfaat pembangunan akan tersebar lebih luas dan dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

Dengan dukungan kuat dari Pemerintah Provinsi Papua, pemerintah kabupaten, DPR RI, KEPP Otsus Papua, serta berbagai elemen masyarakat, Program Makan Bergizi Gratis memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu tonggak penting pembangunan di Tanah Papua. Melalui pemanfaatan produk lokal, penguatan sektor perikanan, pemberdayaan petani dan nelayan, serta peningkatan kualitas gizi anak-anak, MBG membuktikan bahwa pembangunan yang berpihak kepada rakyat dapat diwujudkan melalui kebijakan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Program ini bukan hanya tentang menyediakan makanan bergizi, melainkan tentang membangun generasi emas Papua sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat menuju Papua yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera.

*Penulis merupakan Aktivis Pemberdayaan Masyarakat Papua

Kepala BGN Pastikan Program MBG Libatkan Ahli Gizi untuk Perkuat Kualitas Layanan Gizi Nasional

Jakarta – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S. Deyang memastikan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan semakin diperkuat melalui keterlibatan para ahli gizi dan tenaga kesehatan dalam proses pengambilan kebijakan.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan program prioritas pemerintah berjalan tepat sasaran dan berbasis kaidah ilmiah di bidang gizi serta kesehatan anak.

“Di Dewan Pengarah ini akan kami isi dengan profesi ahli gizi dan dokter anak. Nanti yang akan meng-guideline kami mungkin di antara 7 orang itu, 5 dari pakar gizi,” ungkapnya.

Menurutnya, keberadaan Dewan Pengarah yang didominasi pakar gizi menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas kebijakan dan implementasi Program MBG. Dengan dukungan tenaga profesional, BGN dapat memastikan setiap langkah program didasarkan pada kebutuhan gizi penerima manfaat dan standar kesehatan yang tepat.

Selain memperkuat aspek keilmuan, BGN juga melakukan pembenahan menyeluruh terhadap pelaksanaan program agar semakin efektif dan berkelanjutan. Salah satu langkah yang ditempuh adalah melakukan efisiensi anggaran melalui moratorium sementara pembukaan dapur baru dan penataan kembali kapasitas dapur yang telah beroperasi.

Saat ini BGN mencatat terdapat 27.877 dapur operasional berdasarkan virtual account yang sedang dievaluasi untuk memastikan kesesuaian antara kapasitas layanan dan jumlah penerima manfaat. Penataan juga dilakukan guna mengatasi ketimpangan distribusi dapur yang masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.

“Jadi kita mau nata, mau nata misalnya Jawa Tengah ini harusnya butuh berapa, Jawa Barat ini butuh berapa, DKI butuh berapa, dan lain-lain Jawa Timur. Karena memang dari datanya Ibu Arumsari, dapur ini masih menumpuk di Jawa. Kemudian, setelah kami menata baru ya kami hitung apakah perlu kami membuka kembali atau tidak,” ujar Nanik.

BGN juga melakukan refocusing penerima manfaat agar bantuan gizi lebih diprioritaskan kepada anak-anak dan kelompok yang benar-benar membutuhkan.

Ke depan, BGN akan memperkuat pengawasan operasional dapur dan kualitas makanan yang disalurkan agar Program MBG tidak hanya menjangkau lebih banyak penerima manfaat, tetapi juga memberikan manfaat gizi yang optimal.

Keterlibatan ahli gizi dan dokter anak dalam Dewan Pengarah menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan pelaksanaan program berjalan berdasarkan standar kesehatan dan kebutuhan gizi yang tepat.

Survei Ungkap Program MBG Perkuat Kepercayaan Publik pada Pemerintahan Prabowo

Jakarta – Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan tren positif. Survei terbaru Poltracking Indonesia mencatat sebanyak 72,2 persen masyarakat merasa puas terhadap kinerja pemerintah, menandakan tingginya kepercayaan publik terhadap berbagai program prioritas nasional yang tengah dijalankan.

Hasil survei tersebut memperlihatkan bahwa mayoritas masyarakat menilai kebijakan pemerintah telah memberikan dampak nyata bagi kehidupan mereka. Dukungan publik ini juga menjadi indikator kuat bahwa program-program strategis pemerintah mendapat respons positif dari berbagai kalangan.

Peneliti Utama Poltracking Indonesia, Masduri Amrawi, menjelaskan bahwa angka kepuasan tersebut berasal dari gabungan responden yang menyatakan sangat puas dan cukup puas terhadap kinerja pemerintahan saat ini.

“Sebanyak 6,2 persen responden menyatakan sangat puas dan 66 persen menyatakan cukup puas terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran,” ujar Masduri dalam pemaparan hasil surveinya.

Menurut Masduri, terdapat sejumlah faktor yang menjadi pendorong utama tingginya tingkat kepuasan masyarakat. Salah satu yang paling dominan adalah berbagai program bantuan pemerintah yang dinilai mampu menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

“Alasan terbesar masyarakat merasa puas adalah karena bantuan pemerintah dinilai tepat sasaran dengan angka mencapai 14 persen,” katanya.

Selain itu, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu kebijakan yang memperoleh perhatian dan apresiasi luas dari masyarakat. Program unggulan pemerintah tersebut tercatat memiliki tingkat popularitas sebesar 13,8 persen dan menjadi salah satu alasan utama masyarakat memberikan penilaian positif terhadap pemerintahan saat ini.

“Program Makan Bergizi Gratis atau MBG menjadi salah satu faktor penting yang mendorong kepuasan masyarakat dengan tingkat popularitas mencapai 13,8 persen,” ungkap Masduri.

Ia menambahkan bahwa gaya kepemimpinan Presiden Prabowo yang dinilai tegas dan mampu memberikan rasa aman, serta kondisi ekonomi nasional yang tetap stabil di tengah tantangan global, turut memperkuat optimisme masyarakat terhadap arah pembangunan nasional.

Survei Poltracking Indonesia melibatkan 1.220 responden dari berbagai wilayah Indonesia dengan margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa dukungan masyarakat terhadap pemerintahan Prabowo dan keberlanjutan program prioritas seperti MBG masih sangat kuat, sekaligus menjadi modal penting dalam mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat di berbagai daerah.

Pemerintah Evaluasi MBG, DPR Sambut Baik Moratorium Dapur Baru

Jakarta – Langkah pemerintah mengevaluasi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui penghentian sementara pembangunan dapur baru mendapat respons positif dari DPR.

Kebijakan yang ditempuh Badan Gizi Nasional (BGN) itu dinilai sebagai upaya memperkuat kualitas layanan, menata tata kelola program, serta memastikan intervensi gizi lebih tepat sasaran bagi kelompok yang membutuhkan.

Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris menyambut baik sejumlah langkah pembenahan yang diumumkan BGN, termasuk moratorium pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG baru.

“Kami menyambut baik berbagai langkah pembenahan yang diumumkan Kepala BGN, khususnya kebijakan moratorium pembangunan dapur SPPG baru, refocusing penerima manfaat, serta pergeseran fokus dari kuantitas menjadi kualitas MBG,” kata Charles.

Menurutnya, keputusan tersebut memberi ruang bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola program. Selain menahan ekspansi pembangunan dapur baru, BGN juga menata kembali dapur yang telah beroperasi melalui peningkatan standar layanan, perbaikan fasilitas, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia.

Charles menilai arah kebijakan baru ini sejalan dengan kebutuhan untuk memastikan setiap anggaran yang dikeluarkan menghasilkan dampak nyata bagi perbaikan gizi masyarakat. “Fokus baru kebijakan ini adalah yang selama ini kami tunggu untuk memastikan program berjalan lebih efektif, efisien, dan memberikan dampak nyata terhadap perbaikan status gizi masyarakat,” tuturnya.

Sebelumnya, Kepala BGN Nanik S Deyang menjelaskan bahwa lembaganya kini lebih menitikberatkan pada kualitas layanan ketimbang mengejar target jumlah penerima manfaat. “Jadi kami tidak akan mengejar ke 82 juta tapi bagaimana dapur-dapur ini sehat, memberikan makan yang bergizi,” ujar Nanik.

BGN juga memprioritaskan kelompok yang membutuhkan intervensi gizi, seperti ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan siswa sekolah dasar. Selain itu, pemerintah menyiapkan skema pelaksanaan khusus di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) dengan tetap memperhatikan efisiensi anggaran.

“Jadi kami fokus kepada efisiensi anggaran,” kata Nanik.

Keberhasilan MBG ke depan tidak semata diukur dari banyaknya penerima manfaat, melainkan dari kemampuannya menurunkan masalah gizi, meningkatkan kesehatan anak, dan memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia.*