Magang Nasional Dinilai Perkuat Investasi SDM di Tengah Tekanan Global

Jakarta – Program Magang Nasional terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), seiring dengan dinamika pasar kerja dan tantangan ekonomi global. Untuk periode 2026–2027, pemerintah mengarahkan kebijakan pada peningkatan kuota peserta sekaligus penguatan kualitas program agar lebih selaras dengan kebutuhan industri.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa program magang tidak hanya berfungsi sebagai sarana transisi dari pendidikan ke dunia kerja, tetapi juga sebagai upaya sistematis untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja nasional.

“Untuk periode 2026–2027, pemerintah berencana meningkatkan kuota serta meningkatkan kualitas dan keahlian peserta magang,” ujarnya.

Program ini dirancang untuk memberikan pengalaman kerja nyata di berbagai sektor strategis seperti manufaktur, jasa, dan teknologi. Selain itu, peserta juga mendapatkan pendampingan dari mentor profesional serta insentif berupa upah bulanan, yang dinilai mampu meningkatkan daya tarik program di kalangan lulusan baru.

Tingginya minat terhadap Program Magang Nasional tercermin dari periode sebelumnya, di mana sekitar 400.000 pendaftar bersaing untuk mengikuti program yang hanya menampung sekitar 100.000 peserta.

Sementara itu, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menekankan pentingnya kolaborasi dengan dunia usaha dan lembaga pendidikan untuk memastikan peserta memperoleh keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri. Pemerintah juga mendorong integrasi program magang dengan sertifikasi kompetensi agar lulusan memiliki nilai tambah di pasar kerja.

Pemerintah akan terus memperluas jangkauan Program Magang Nasional agar mampu menjangkau pelosok negeri guna memberdayakan potensi lokal secara maksimal.

“Kita sudah harus mulai menjadikan program Magang (Nasional) ini merata sebarannya sehingga menjadi kesempatan buat putra daerah untuk mereka bisa berkarya juga di daerah mereka masing-masing,” kata Menaker.

Pengamat Ketenagakerjaan dari Universitas Gadjah Mada, Tadjudin Nur Effendi, menilai program ini sebagai bentuk investasi sosial yang efektif. Menurutnya, keberadaan program magang mampu mengurangi risiko pengangguran lulusan baru sekaligus meredam keresahan generasi muda akibat ketidakpastian ekonomi.

“Program Magang Nasional merupakan bentuk investasi sosial yang krusial bagi sumber daya manusia Indonesia,” ujarnya.

Program Magang Nasional juga memperlihatkan keterlibatan aktif sektor industri, dengan lebih dari 1.000 perusahaan dan ribuan mentor terlibat dalam pelaksanaannya.

Investasi pada kualitas SDM melalui skema magang menjadi langkah konkret untuk menjaga stabilitas ketenagakerjaan dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. #

Rantai Pasok MBG Dirapikan, Bahan Baku Lokal Lebih Efisien

Jakarta- Pemerintah terus memperkuat implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan merapikan rantai pasok pangan agar lebih efisien dan terintegrasi. Langkah ini menjadi penting untuk memastikan distribusi bahan baku berjalan lancar sekaligus mendorong pemanfaatan produk lokal secara optimal.

Deputi Bidang Keterjangkauan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Nani Hendiarti, mengatakan pemerintah tengah menyiapkan regulasi turunan untuk memperkuat sistem tersebut melalui Rancangan Peraturan Menteri Koordinator (Permenko) Bidang Pangan terkait rantai pasok bahan baku lokal untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia mengatakan pembentukan Permenko tersebut bertujuan untuk menjalankan amanat dari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 115 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis, yang mengamanatkan Kemenko Pangan untuk mengoordinasikan berbagai kementerian/lembaga dalam menjamin rantai pasok pangan pada MBG.

“Karena kalau nggak ada bahan pangannya kan nggak bisa nih berjalan programnya dan diharapkannya bahan pasokan pangan itu berasal dari lokal,” kata Nani.

Ia menegaskan bahwa penguatan rantai pasok akan memastikan ketersediaan bahan baku tetap terjaga dengan harga yang lebih stabil. Selain itu, pemerintah juga mendorong pemanfaatan bahan baku lokal sebagai bagian dari strategi penguatan ekonomi daerah. Dengan melibatkan petani dan pelaku usaha lokal, program MBG diharapkan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.

“Dengan adanya pengaturan ini, kami ingin memastikan bahan baku bisa tersalurkan secara efisien dari produsen ke dapur MBG,” katanya.

Di sisi lain, pelaku usaha yang terlibat dalam penyediaan dapur MBG menyambut baik langkah pemerintah tersebut. Penguatan rantai pasok dinilai akan membantu meningkatkan kualitas layanan sekaligus menekan biaya operasional.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI), Abdul Rivai Ras, menilai bahwa pembenahan rantai pasok menjadi kebutuhan mendesak dalam pelaksanaan program MBG. Penguatan kolaborasi diperlukan untuk menjaga keberlanjutan program.

“Program sebesar makan bergizi gratis tidak mungkin dikerjakan pemerintah sendirian. Ini membutuhkan dukungan semua lapisan masyarakat. APPMBGI hadir sebagai kekuatan sosial-ekonomi yang ikut memastikan program ini berjalan baik, terukur, dan berkelanjutan,” jelas Rivai.

Dengan langkah ini, pemerintah menunjukkan komitmennya dalam memastikan program MBG berjalan secara berkelanjutan. Pemanfaatan bahan baku lokal yang lebih efisien diharapkan mampu memberikan manfaat ganda, baik bagi masyarakat penerima maupun pelaku usaha di dalam negeri.

MBG Dorong Penguatan Rantai Pasok Lokal dari Desa ke Sekolah

Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menunjukkan dampak positif yang signifikan, tidak hanya dalam meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah, tetapi juga dalam memperkuat rantai pasok pangan lokal dari desa ke sekolah.

Keterlibatan pelaku pangan lokal dilakukan untuk memastikan ketersediaan bahan baku yang segar, aman, dan sesuai kebutuhan gizi. Selain mendukung kualitas pangan, pendekatan ini juga bertujuan memperkuat ekonomi lokal dan memperpendek rantai distribusi dalam penyelenggaraan MBG.

Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati, mengatakan bahwa pelibatan rantai pasok lokal menjadi bagian dari desain kebijakan MBG.

“Program MBG tidak berdiri sendiri. Kami melibatkan petani, peternak, dan produsen lokal agar suplai pangan terjaga sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat di daerah,” ujar Hidayati.

Pemanfaatan rantai pasok lokal juga memungkinkan penyesuaian bahan pangan dengan potensi dan karakteristik wilayah. Dengan demikian, MBG dapat dijalankan secara lebih adaptif tanpa mengabaikan standar mutu dan keamanan pangan.

“Dengan rantai pasok lokal yang kuat, pelaksanaan MBG menjadi lebih berkelanjutan. Program ini tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga menggerakkan ekonomi daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Nani Hendiarti, mengungkapkan pihaknya tengah menyusun Rancangan Peraturan Menteri Koordinator (Permenko) Bidang Pangan terkait rantai pasok bahan baku lokal untuk Program MBG.

Menurutnya, penyusunan regulasi tersebut merupakan tindak lanjut dari Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 yang mengamanatkan Kemenko Pangan untuk mengoordinasikan kementerian dan lembaga dalam menjamin rantai pasok pangan program tersebut.

“Karena kalau nggak ada bahan pangannya kan nggak bisa nih berjalan programnya dan diharapkannya bahan pasokan pangan itu berasal dari lokal,” kata Nani.

Nani juga menuturkan, saat ini pemerintah juga sedang mengembangkan proyek percontohan (pilot project), petunjuk teknis (juknis), hingga peraturan Badan Gizi Nasional (BGN) terkait ekosistem rantai pasok pangan tersebut.

Pihaknya memahami, tidak semua wilayah dapat memenuhi bahan baku dari pemasok lokal dalam waktu dekat, terutama daerah-daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T), sehingga akan diberikan anggaran tambahan untuk wilayah tersebut.

“Ada kebijakan baru untuk menambah namanya biaya tambahan untuk yang lokasi-lokasi terpencil itu setelah kami lihat tidak bisa (mendapatkan pasokan pangan lokal dalam waktu dekat), tapi dengan itu tetap mereka harus membangun ekosistem di lokasinya masing-masing ke depannya,” tutur Nani.

Rantai Pasok Lokal dalam MBG Jadi Penggerak Ekonomi Daerah

Oleh: Alexander Royce*)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini menjadi salah satu prioritas pemerintah tidak hanya dipandang sebagai kebijakan pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga sebagai strategi besar dalam memperkuat fondasi ekonomi daerah. Di tengah tantangan global berupa fluktuasi harga pangan, perubahan iklim, hingga ketegangan rantai pasok internasional, pendekatan berbasis lokal menjadi semakin relevan. Pemerintah menempatkan MBG sebagai instrumen yang tidak hanya menjawab kebutuhan gizi anak bangsa, tetapi juga menghidupkan ekosistem ekonomi dari desa hingga kota melalui integrasi rantai pasok pangan lokal yang lebih kuat, terstruktur, dan berkelanjutan.

Dalam perspektif kebijakan, penguatan rantai pasok lokal menjadi kunci agar program MBG tidak sekadar berjalan secara administratif, tetapi benar-benar memberikan dampak ekonomi riil. Pemerintah melalui koordinasi lintas kementerian mulai menyusun sistem distribusi pangan yang lebih terintegrasi, dengan menekankan keterlibatan petani, peternak, nelayan, serta pelaku UMKM daerah. Pendekatan ini diharapkan mampu menekan ketergantungan pada pasokan luar daerah sekaligus memperpendek jalur distribusi, sehingga nilai ekonomi tetap berputar di tingkat lokal dan menciptakan multiplier effect yang lebih luas bagi masyarakat.

Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kemenko Pangan, Nani Hendiarti, menegaskan bahwa pemerintah tengah menyiapkan penguatan regulasi rantai pasok pangan lokal dalam mendukung MBG. Ia menekankan bahwa skema ini dirancang untuk memastikan ketersediaan bahan baku pangan secara berkelanjutan, sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat produsen dan konsumen.

Menurutnya, integrasi sistem logistik pangan daerah menjadi salah satu fokus utama agar hasil produksi lokal dapat terserap secara optimal oleh program MBG. Dengan demikian, petani dan pelaku usaha kecil tidak hanya menjadi pemasok, tetapi juga bagian penting dari ekosistem ketahanan pangan nasional yang lebih inklusif dan berkeadilan.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana MBG tidak hanya dilihat sebagai program konsumsi, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi berbasis produksi lokal yang lebih terencana.

Wakil Ketua Bidang Usaha KKMP Punden, Akhlis Nurfuad, melihat dampak nyata dari implementasi MBG terhadap perputaran ekonomi masyarakat. Ia menyoroti bagaimana program ini mendorong pengembangan usaha budidaya ikan lele di Blora yang kini tidak hanya menjadi sumber pendapatan warga, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Akhlis menilai bahwa keterlibatan komunitas lokal dalam rantai pasok MBG telah menciptakan model ekonomi sirkular yang sehat, di mana hasil produksi warga kembali diserap oleh pasar lokal yang stabil. Hal ini memperkuat posisi desa sebagai pusat produksi pangan sekaligus memperluas kesempatan kerja baru di sektor perikanan dan pangan olahan.

Dari sisi implementasi di lapangan, Kepala SPPG Yayasan Sulvi Yana Sehat, Rhiyal Al Qadri, menekankan pentingnya peran lembaga lokal dalam menjembatani petani dan program MBG. Ia menyampaikan bahwa yayasan yang dikelolanya aktif menampung hasil panen petani lokal untuk kemudian disalurkan dalam program pemenuhan gizi masyarakat. Menurutnya, model kemitraan ini tidak hanya membantu memastikan ketersediaan bahan pangan segar, tetapi juga memberikan kepastian pasar bagi petani kecil yang selama ini kerap menghadapi ketidakpastian harga. Rhiyal menilai bahwa kolaborasi antara pemerintah, lembaga sosial, dan UMKM menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan program MBG di tingkat akar rumput.

Jika melihat perkembangan terkini, sejumlah daerah mulai melaporkan peningkatan serapan produk lokal sejak uji coba perluasan MBG dilakukan. Beberapa pemerintah daerah juga mulai membangun sentra logistik pangan berbasis desa untuk mempercepat distribusi bahan makanan segar ke sekolah dan fasilitas pelayanan publik. Di sisi lain, stabilitas harga pangan di sejumlah wilayah relatif terjaga karena adanya kepastian permintaan dari program MBG yang bersifat rutin dan terstruktur. Hal ini turut diperkuat oleh laporan berbagai media nasional yang menunjukkan meningkatnya keterlibatan UMKM pangan dalam rantai distribusi program tersebut, mulai dari produsen sayur mayur, peternak ayam, hingga pengolah makanan lokal.

Dari berbagai dinamika tersebut, terlihat bahwa MBG bukan hanya kebijakan sosial, tetapi juga strategi ekonomi yang mampu menggerakkan sektor riil secara simultan. Dengan memperkuat rantai pasok lokal, program ini menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan antara produsen dan konsumen, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah ketidakpastian global.

Penguatan rantai pasok lokal dalam MBG membuktikan keberpihakan kebijakan pada kemandirian ekonomi daerah. Melalui kolaborasi erat antara pemerintah dan pelaku usaha lokal, program ini bertransformasi menjadi model pembangunan berkelanjutan yang menumbuhkan ekonomi dari bawah secara nyata. Dalam konteks ini, MBG menjadi fondasi strategis bagi pemerataan ekonomi nasional yang lebih inklusif dan berdaya saing.

Keberhasilan jangka panjang program ini tidak hanya diukur dari pemenuhan gizi, tetapi dari seberapa kuat kedaulatan pangan yang terbentuk di tingkat akar rumput. Dengan menjadikan produksi lokal sebagai tulang punggung, pemerintah memastikan setiap porsi makanan bergizi menjadi instrumen ganda, yaitu investasi kualitas SDM sekaligus penggerak utama roda ekonomi rakyat yang mandiri dan berdaulat.

*) Penulis merupakan Pengamat Sosial

MBG dan Penguatan Ketahanan Pangan Berbasis Lokal

Oleh : Abdul Razak)*

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kini memasuki fase krusial: penguatan tata kelola sekaligus integrasi dengan sistem ketahanan pangan nasional berbasis lokal. Dalam konteks ini, MBG tidak lagi sekadar program pemenuhan gizi, melainkan instrumen strategis yang dapat menggerakkan ekonomi daerah, memperkuat rantai pasok pangan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Rencana pemerintah meresmikan pusat kendali atau National Command Center MBG pada pertengahan Mei 2026 menjadi langkah penting dalam memperbaiki koordinasi program berskala nasional ini. Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Nani Hendiarti, menyampaikan bahwa pusat komando tersebut akan menjadi simpul utama pengendalian pelaksanaan MBG di seluruh Indonesia. Ia menyebut peluncuran direncanakan sekitar 17 Mei 2026 dan akan berlokasi di Kemenko Pangan.

Menurut Nani, keberadaan command center bertujuan meningkatkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta para pemangku kepentingan lainnya. Selain itu, langkah ini juga difokuskan pada perbaikan tata kelola dan peningkatan kualitas layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Pemerintah, kata dia, pada 2026 menaruh perhatian besar pada aspek kualitas, bukan sekadar ekspansi program. Hal ini penting mengingat MBG menyasar kelompok rentan yang membutuhkan jaminan keamanan dan kualitas pangan yang tinggi.

Upaya pembenahan tersebut terlihat dari langkah tegas pemerintah terhadap SPPG yang bermasalah. Tercatat sebanyak 1.789 SPPG diberhentikan sementara hingga 24 April 2026 akibat persoalan seperti kasus keracunan makanan dan standar higienitas yang tidak terpenuhi. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan sebelumnya yang sempat mencapai 3.000 SPPG. Meski demikian, pemerintah mengakui masih ada sejumlah permasalahan kompleks yang membutuhkan koordinasi lebih lanjut dengan Badan Gizi Nasional (BGN), termasuk kemungkinan relokasi dapur layanan.

Langkah korektif ini patut diapresiasi sebagai bagian dari komitmen pemerintah menjaga kualitas program. Namun, pembenahan tata kelola saja tidak cukup. MBG perlu diarahkan untuk menjadi pengungkit ketahanan pangan berbasis lokal. Artinya, kebutuhan bahan pangan untuk program ini dipasok dari produksi dalam negeri, khususnya dari petani, nelayan, dan pelaku usaha pangan lokal di daerah.

Pendekatan ini akan menciptakan efek berganda. Di satu sisi, masyarakat penerima manfaat mendapatkan asupan gizi yang berkualitas. Di sisi lain, pelaku ekonomi lokal memperoleh pasar yang stabil dan berkelanjutan. Dengan demikian, MBG dapat berperan sebagai jembatan antara kebijakan sosial dan penguatan ekonomi nasional.

Namun demikian, tantangan dalam implementasi MBG juga tidak dapat diabaikan, terutama terkait aspek anggaran dan pengawasan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pentingnya memperketat proses penyaringan anggaran program ini. Ia mengakui adanya sejumlah kelemahan, tetapi menilai hal tersebut wajar mengingat MBG merupakan program baru yang masih dalam tahap penyempurnaan.

Purbaya menyatakan pemerintah akan memperbaiki mekanisme pembiayaan agar lebih efisien dan tepat sasaran. Ia juga menegaskan dukungan penuh terhadap MBG, dengan catatan penggunaan anggaran harus dilakukan secara optimal. Bahkan, Badan Gizi Nasional disebut telah melakukan langkah efisiensi, termasuk pengaturan operasional menjadi lima hari serta komitmen menekan anggaran dari alokasi awal sebesar Rp335 triliun.

Pernyataan tersebut sejalan dengan temuan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang mengidentifikasi sejumlah risiko dalam tata kelola MBG. Dalam laporan tahunannya, KPK menyoroti potensi korupsi akibat lemahnya regulasi, transparansi, serta mekanisme pengawasan. Selain itu, penggunaan skema bantuan pemerintah dinilai berpotensi memperpanjang rantai birokrasi dan mengurangi porsi anggaran yang seharusnya digunakan untuk bahan pangan.

KPK juga menemukan potensi konflik kepentingan dalam penentuan mitra SPPG serta lemahnya proses verifikasi dan pelaporan keuangan. Temuan ini menjadi peringatan penting bahwa keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan oleh niat baik, tetapi juga oleh sistem tata kelola yang kuat, transparan, dan akuntabel.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, dukungan dari sektor swasta dan asosiasi menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program. Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI), misalnya, mendorong agar MBG dapat berjalan hingga 25 tahun ke depan. Ketua Umum APPMBGI Abdul Rivai menilai keberlanjutan program sangat krusial untuk memastikan dampak jangka panjang, terutama dalam menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Ia menyebut asosiasi yang dipimpinnya berperan dalam menjaga standar keamanan pangan serta memperkuat rantai pasok bahan pangan. APPMBGI juga menjadi wadah kolaborasi antara pengusaha, pemasok, dan pengelola dapur, termasuk mitra dari sektor koperasi dan korporasi. Dengan keterlibatan berbagai pihak, diharapkan ekosistem MBG menjadi lebih solid dan berdaya tahan.

Jika dirancang dengan pendekatan berbasis lokal, MBG berpotensi menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional. Program ini dapat mendorong diversifikasi pangan sesuai potensi daerah, mengurangi ketergantungan pada impor, serta memperkuat kemandirian ekonomi desa. Misalnya, daerah penghasil beras dapat menjadi pemasok utama karbohidrat, sementara wilayah pesisir dapat menyuplai protein dari hasil perikanan.

Ke depan, integrasi antara MBG dan kebijakan pangan lokal harus diperkuat melalui regulasi yang jelas, sistem distribusi yang efisien, serta pengawasan yang ketat. Digitalisasi melalui command center juga harus dimanfaatkan untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas secara real-time.

Dengan langkah yang tepat, MBG tidak hanya akan menjadi program bantuan sosial, tetapi juga motor penggerak pembangunan nasional yang berkelanjutan. Ketika gizi masyarakat terpenuhi dan ekonomi lokal tumbuh, maka fondasi ketahanan bangsa akan semakin kokoh.

)* Analis Kebijakan Publik

Tingkat Adiksi Digital Meningkat, PP TUNAS Jadi Solusi Pengendalian

Jakarta, – Pemerintah menghadirkan langkah strategis melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 sebagai respons terhadap meningkatnya tingkat adiksi digital pada anak dan remaja. Regulasi ini dinilai sebagai kebijakan progresif yang menempatkan kepentingan anak sebagai prioritas utama dalam ekosistem digital yang semakin kompleks.

Pakar pendidikan, Najelaa Shihab, menyebut kehadiran PP TUNAS sebagai terobosan penting dalam merespons krisis global terkait dampak teknologi digital terhadap generasi muda. Menurutnya, penyusunan regulasi ini bukan hal mudah, terutama karena harus berhadapan dengan berbagai kepentingan, termasuk industri teknologi.

“Ini adalah capaian besar. Untuk pertama kalinya, kepentingan anak benar-benar menjadi dasar utama dalam regulasi digital,” ujarnya.

Najelaa menjelaskan bahwa dampak penggunaan teknologi digital, khususnya media sosial, kini telah menjadi isu global yang sejajar dengan krisis kemanusiaan dan lingkungan. Berbagai kajian internasional menunjukkan bahwa penggunaan digital yang tidak terkendali berdampak signifikan terhadap perilaku serta kesehatan mental anak.

Namun demikian, ia menilai bahwa dibandingkan isu global lainnya, persoalan digital justru memiliki solusi yang lebih konkret melalui kebijakan yang tepat. “Isu digital ini bisa kita atasi dengan langkah nyata, salah satunya melalui perlindungan anak,” jelasnya.

Salah satu keunggulan utama PP TUNAS adalah kejelasan dalam mendefinisikan risiko digital secara komprehensif. Regulasi ini tidak hanya mencakup konten berbahaya atau penyalahgunaan data, tetapi juga secara tegas memasukkan adiksi digital sebagai risiko utama yang harus dikendalikan.

Menurut Najelaa, pengakuan terhadap adiksi sebagai risiko merupakan langkah maju yang jarang dilakukan oleh negara lain. “Adiksi ini kunci. Bukti ilmiah menunjukkan dampaknya setara dengan kecanduan lain seperti rokok atau alkohol, tetapi sering diabaikan,” tegasnya.

Ia juga menyoroti bahwa dampak krisis digital tidak dirasakan secara merata. Anak-anak dari kelompok rentan, terutama di wilayah terpencil dan keluarga kurang mampu, justru menjadi pihak yang paling terdampak. Oleh karena itu, keterlibatan seluruh elemen masyarakat menjadi sangat penting dalam memastikan perlindungan anak berjalan efektif.

Dalam konteks pendidikan, Najelaa menegaskan bahwa literasi digital harus dibangun di atas fondasi kemampuan dasar seperti membaca, berpikir kritis, dan interaksi sosial. Pendekatan ini dinilai penting agar anak tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga memiliki ketahanan mental yang kuat.

“Justru kreativitas dan kemampuan berpikir tumbuh dari pengalaman nyata. Setelah itu kuat, baru literasi digital bisa berkembang dengan baik,” ujarnya.

Keberhasilan implementasi PP TUNAS, lanjutnya, sangat bergantung pada sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah, sekolah, orang tua, hingga masyarakat luas. Dengan pendekatan yang komprehensif dan berbasis bukti, regulasi ini diharapkan mampu menjadi solusi nyata dalam mengendalikan adiksi digital sekaligus melindungi masa depan generasi muda Indonesia.

Pemerintah Kampanyekan “Tunda Layar”, PP TUNAS Perkuat Etika Digital

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat upaya membangun ruang digital yang sehat dan produktif melalui kampanye nasional “Tunda Layar” sebagai bagian dari implementasi Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola dan Pengawasan Platform Digital (PP TUNAS). Kampanye ini ditujukan untuk mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih bijak dalam menggunakan perangkat digital serta mengurangi ketergantungan terhadap layar.

Program “Tunda Layar” hadir sebagai respons atas meningkatnya intensitas penggunaan gawai yang berpotensi berdampak pada kesehatan mental, produktivitas, serta kualitas interaksi sosial masyarakat. Pemerintah menilai bahwa penguatan etika digital menjadi langkah penting dalam menciptakan ekosistem digital yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid menyampaikan bahwa kampanye ini merupakan bagian dari strategi besar pemerintah dalam memperkuat literasi dan etika digital.

“Melalui gerakan ‘Tunda Layar’, kami mengajak masyarakat untuk lebih sadar dalam menggunakan teknologi. Ini bukan soal membatasi, tetapi mengelola penggunaan digital agar tetap sehat dan produktif,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta.

Sejalan dengan itu, PP TUNAS memberikan kerangka regulasi yang lebih tegas terhadap platform digital agar turut berperan dalam menciptakan ruang digital yang aman. Pemerintah menekankan pentingnya tanggung jawab platform dalam mengelola konten, melindungi data pengguna, serta mendorong praktik digital yang sehat.

Selain pendekatan regulatif, pemerintah juga mengedepankan edukasi publik melalui berbagai program literasi digital yang menyasar pelajar, keluarga, hingga komunitas. Kampanye “Tunda Layar” diharapkan menjadi gerakan kolektif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk dunia pendidikan dan sektor swasta.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Digital, Semuel Abrijani Pangerapan menambahkan bahwa penguatan etika digital harus dilakukan secara berkelanjutan.

“Keseimbangan dalam penggunaan teknologi menjadi kunci. Kami mendorong masyarakat untuk memanfaatkan ruang digital secara positif tanpa mengabaikan interaksi sosial di dunia nyata,” katanya.

Pemerintah juga mendorong peran keluarga dalam membangun kebiasaan digital yang sehat, termasuk dengan menetapkan waktu bebas layar dan meningkatkan kualitas interaksi langsung. Langkah ini dinilai penting dalam membentuk karakter generasi muda yang adaptif sekaligus bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi.

Dengan kombinasi antara regulasi melalui PP TUNAS dan kampanye edukatif seperti “Tunda Layar”, pemerintah optimistis ekosistem digital Indonesia akan semakin sehat, aman, dan beretika. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen jangka panjang dalam menciptakan masyarakat digital yang cerdas dan berdaya saing.

Mengelola Risiko Digital: Peran PP TUNAS di Era Konektivitas Tinggi

*) Oleh: Dimas Arya

Transformasi digital yang berlangsung masif dalam satu dekade terakhir telah mengubah cara anak-anak Indonesia berinteraksi, belajar, dan berkembang. Namun, di balik kemudahan akses dan konektivitas tinggi, terdapat spektrum risiko yang semakin kompleks dan sulit dikendalikan tanpa intervensi kebijakan yang tepat. Dalam konteks ini, kehadiran Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS menjadi langkah strategis yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Pemerintah menegaskan komitmen melindungi anak dari risiko digital melalui regulasi ini, yang secara substansial menjawab ancaman nyata di ruang siber. Oleh karena itu, PP TUNAS tidak dapat dipandang sekadar sebagai instrumen administratif, melainkan sebagai fondasi kebijakan untuk memastikan keberlanjutan kualitas generasi masa depan di era digital.

Lebih lanjut, urgensi regulasi ini semakin nyata ketika melihat kondisi ekosistem digital yang belum sepenuhnya ramah anak. Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN Budi Setiyono menyoroti bahwa ruang digital saat ini masih didominasi oleh desain sistem yang berorientasi pada keterlibatan pengguna tanpa mempertimbangkan aspek perlindungan anak secara komprehensif. Dalam situasi tanpa pengawasan memadai, anak-anak menjadi kelompok paling rentan terhadap paparan konten berbahaya yang berpotensi mengganggu kesehatan mental dan perkembangan kognitif mereka. Paparan digital yang berlebihan bahkan dapat memicu gangguan konsentrasi serta keterlambatan perkembangan, yang dalam jangka panjang berdampak pada kualitas sumber daya manusia. Maka, intervensi negara melalui PP TUNAS menjadi krusial untuk menata ulang arsitektur digital agar lebih adaptif terhadap kebutuhan tumbuh kembang anak.

Di sisi lain, kompleksitas risiko digital yang dihadapi anak tidak hanya terbatas pada aspek konten, tetapi juga meluas ke berbagai dimensi interaksi digital. Risiko kecemasan, depresi, hingga meningkatnya kasus perundungan siber dan eksploitasi digital menunjukkan bahwa ruang siber telah menjadi arena yang sarat potensi ancaman psikososial. Dalam konteks ini, PP TUNAS hadir sebagai instrumen regulatif yang mendorong platform digital untuk memperkuat mekanisme perlindungan berbasis usia. Regulasi ini mengarahkan penyelenggara sistem elektronik untuk tidak hanya mengejar engagement, tetapi juga memastikan sistem yang dibangun tidak bersifat eksploitatif terhadap pengguna anak. Dengan kata lain, negara mengambil posisi aktif dalam mengoreksi distorsi pasar digital yang selama ini cenderung mengabaikan aspek perlindungan anak.

Lebih lanjut, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid yang memandang PP TUNAS sebagai tonggak penting dalam perjalanan transformasi digital Indonesia. Dalam kerangka besar pembangunan nasional, perlindungan anak di ruang digital bukan lagi isu sektoral, melainkan bagian integral dari strategi pembangunan manusia. Kebijakan ini mencerminkan komitmen negara dalam menghadirkan ruang digital yang aman, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi muda. Dengan demikian, regulasi ini tidak hanya berfungsi sebagai alat kontrol, tetapi juga sebagai katalisator bagi terciptanya ekosistem digital yang lebih bertanggung jawab dan inklusif.

Namun, penting untuk menegaskan bahwa PP TUNAS tidak bertujuan membatasi akses anak terhadap teknologi digital. Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital Bidang Kepemudaan dan Start Up Alfreno Kautsar Ramadhan menekankan bahwa regulasi ini justru dirancang untuk melindungi anak dari dampak negatif platform berisiko tinggi. Pembatasan yang diatur dalam PP TUNAS bersifat selektif dan berbasis risiko, sehingga tetap memberikan ruang bagi anak untuk memanfaatkan teknologi secara produktif. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemerintah mengadopsi paradigma risk management, bukan restriction semata, dalam mengelola dinamika ruang digital.

Dalam kerangka tersebut, terdapat tujuh faktor risiko digital yang menjadi landasan utama penyusunan PP TUNAS, diantaranya contact risk, yakni potensi interaksi dengan pihak asing yang dapat berujung pada perundungan siber, penipuan, hingga eksploitasi anak. Kemudian content risk yang berkaitan dengan paparan konten negatif seperti kekerasan, ujaran kasar, dan materi tidak sesuai usia. Lalu commercial risk yang mendorong perilaku konsumtif melalui fitur transaksi digital yang belum sepenuhnya dipahami anak, dan faktor-faktor lainnya. Dengan mempertimbangkan spektrum risiko tersebut, PP TUNAS menjadi kebijakan yang berbasis evidensi dan responsif terhadap dinamika digital kontemporer. Regulasi ini tidak hanya mengatur kewajiban platform, tetapi juga mendorong terciptanya tata kelola digital yang lebih etis dan bertanggung jawab.

Kehadiran PP TUNAS menandai langkah progresif pemerintah dalam mengelola risiko digital di era konektivitas tinggi. Regulasi ini bukan sekadar respons terhadap ancaman, tetapi juga investasi jangka panjang dalam membangun generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. Dalam lanskap digital yang terus berkembang, keberanian negara untuk mengambil peran regulatif yang tegas dan adaptif menjadi faktor penentu keberhasilan. Dengan demikian, PP TUNAS layak dipandang sebagai fondasi penting dalam memastikan bahwa transformasi digital Indonesia berjalan seiring dengan perlindungan dan kepentingan terbaik bagi anak-anak sebagai aset bangsa di masa depan.

*) Analis Keamanan Data Pribadi.

PP TUNAS dan Urgensi Perlindungan Generasi dari Risiko Digital

Oleh: Bimo Kustoro )*

Perkembangan teknologi digital telah membuka ruang luas bagi masyarakat untuk berinteraksi, belajar, dan berkembang tanpa batas geografis. Kemajuan ini menghadirkan peluang besar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, mempercepat arus informasi, serta mendorong inovasi. Namun, di balik manfaat tersebut, ruang digital juga membawa tantangan serius, terutama bagi generasi muda yang menjadi pengguna paling aktif. Dalam konteks ini, Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola dan Perlindungan Anak di Ruang Digital (PP TUNAS) menjadi semakin relevan sebagai upaya menciptakan ekosistem digital yang aman dan sehat.

PP TUNAS hadir sebagai instrumen kebijakan yang menjembatani kebutuhan perlindungan anak dengan dinamika teknologi. Kebijakan ini tidak hanya menekankan pembatasan, tetapi juga mendorong tanggung jawab bersama antara pemerintah, platform digital, lembaga pendidikan, dan keluarga. Dengan demikian, perlindungan anak menjadi komitmen kolektif dalam membangun ruang digital yang aman.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid mengatakan PP TUNAS berfungsi sebagai tonggak penting bagi Indonesia dalam menjaga generasi muda di era digital. Disampaikan pula bahwa kebanggaan patut dirasakan karena Indonesia telah menjadi salah satu pelopor negara non-Barat yang mengambil langkah tegas dalam pelindungan anak di ruang digital. Melalui penegasan tersebut, komitmen pemerintah dalam menghadirkan ruang digital yang aman dan ramah anak semakin diperlihatkan. Pernyataan ini menegaskan bahwa kebijakan yang diambil merupakan bagian dari strategi jangka panjang dalam menjaga kualitas generasi bangsa.

Dalam implementasinya, pengaturan tata kelola platform digital menjadi aspek penting. Platform didorong untuk memperkuat moderasi konten, meningkatkan sistem keamanan, serta menyediakan fitur ramah anak. Hal ini menunjukkan bahwa ruang digital tetap membutuhkan regulasi yang bertanggung jawab, sehingga tercipta keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan perlindungan kelompok rentan.

Penguatan literasi digital juga menjadi elemen penting. Literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga memahami risiko, etika, dan konsekuensi aktivitas daring. Anak-anak perlu dibekali kemampuan memilah informasi, menjaga privasi, dan berinteraksi secara sehat. Dalam hal ini, peran keluarga dan pendidikan sangat strategis dalam membentuk karakter digital yang positif.

Perlindungan anak di ruang digital juga berkaitan erat dengan ketahanan sosial. Generasi yang tumbuh dalam lingkungan digital yang tidak sehat berisiko mengalami disorientasi nilai dan gangguan perkembangan. Jika dibiarkan, dampaknya dapat meluas pada kualitas masyarakat secara keseluruhan. Karena itu, perlindungan generasi muda merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.

Asisten Deputi Pencegahan dan Peningkatan Kapasitas Keamanan Siber Kemenko Polkam, Budi Eko Pratomo mengatakan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan keamanan siber. Lebih lanjut, ditegaskan bahwa pelindungan anak di ruang digital memerlukan sinergi yang kuat antar kementerian, lembaga, dan pemangku kepentingan terkait. Melalui implementasi PP TUNAS, penguatan kebijakan yang tidak hanya responsif, tetapi juga preventif dalam menghadapi ancaman siber terus didorong. Penekanan ini menunjukkan bahwa tantangan digital membutuhkan kerja bersama yang terintegrasi.

Pendekatan dalam kebijakan ini mencerminkan adaptasi terhadap perubahan zaman. Regulasi tidak hanya menjadi alat pengendalian, tetapi juga kerangka untuk mendorong inovasi yang bertanggung jawab. Perlindungan anak tidak dimaknai sebagai pembatasan akses teknologi, melainkan memastikan pemanfaatannya tetap aman dan produktif.

Kesadaran masyarakat mengenai pentingnya keamanan digital juga semakin meningkat. Ruang digital kini dipahami sebagai bagian dari perlindungan hak dasar anak. Dalam konteks ini, kebijakan yang jelas memberikan arah agar upaya perlindungan berjalan konsisten dan terukur.

Selain itu, Pengurus Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Pusat sekaligus Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Mimah Susanti mengatakan melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, diharapkan implementasi PP Tunas dapat berjalan optimal dalam menciptakan ruang digital yang aman, sehat, dan bertanggung jawab bagi generasi muda Indonesia. Pernyataan ini menegaskan pentingnya keterlibatan semua pihak dalam memastikan keberhasilan kebijakan.

Ke depan, tantangan akan terus berkembang seiring kemajuan teknologi. Dibutuhkan fleksibilitas dalam implementasi kebijakan serta kolaborasi lintas sektor yang kuat. Pemerintah, industri, dan masyarakat perlu berjalan seiring dalam menciptakan ekosistem digital yang sehat.

Dalam konteks global, perlindungan anak di ruang digital juga menjadi perhatian banyak negara. Hal ini menunjukkan bahwa isu tersebut merupakan tantangan bersama yang membutuhkan pendekatan luas. Upaya nasional pun menjadi bagian dari kontribusi dalam menjawab tantangan global.

Pada akhirnya, keberhasilan PP TUNAS sangat bergantung pada partisipasi semua pihak. Kesadaran dan tanggung jawab bersama menjadi fondasi utama dalam menciptakan ruang digital yang aman. Perlindungan tidak hanya soal menghindari risiko, tetapi juga membangun kapasitas generasi muda agar mampu menghadapi tantangan digital.

Dengan pendekatan yang menyeluruh, generasi muda diharapkan tumbuh dengan kemampuan adaptasi tinggi, daya kritis kuat, dan karakter tangguh. Hal ini menjadi modal penting dalam menghadapi dinamika global. Di tengah arus perubahan, keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan perlindungan nilai dasar menjadi kunci. Dengan demikian, ruang digital dapat menjadi lingkungan yang aman dan produktif bagi masa depan bangsa.

*) Penulis adalah Content Writer di Sampoerna Raya News

Kopdes Jadi Motor Penggerak Ekonomi di Wilayah Terpencil

Oleh: Livia Maharani Kusuma )*

Wajah desa kini tidak lagi dipandang sebagai pendukung semata, melainkan pusat aktivitas ekonomi yang produktif. Dengan menempatkan Koperasi Desa Merah Putih sebagai motor penggerak utama, pemerintah tengah memperkuat fondasi ekonomi mulai dari akar rumput. Kebijakan ini diharapkan mampu memecah konsentrasi pembangunan yang selama ini terpusat di kota, sehingga kemajuan ekonomi benar-benar menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Langkah percepatan yang dilakukan pemerintah menunjukkan perkembangan signifikan. Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menjelaskan bahwa lebih dari 83 ribu koperasi desa dan kelurahan telah dibentuk dan kini memasuki tahap operasional. Ribuan titik pembangunan telah selesai sepenuhnya dan menjadi fondasi penting dalam mempercepat penguatan ekonomi masyarakat desa. Dukungan dari pemerintah daerah dinilai menjadi faktor kunci dalam memastikan implementasi program berjalan efektif di berbagai wilayah.

Kehadiran Kopdes Merah Putih membawa perubahan mendasar dalam struktur ekonomi desa. Selama ini, masyarakat di wilayah terpencil kerap menghadapi keterbatasan akses terhadap barang kebutuhan pokok, distribusi yang panjang, serta harga yang tidak stabil. Dengan adanya koperasi yang terintegrasi, distribusi barang menjadi lebih efisien dan terjangkau. Koperasi mengambil peran sebagai penyedia kebutuhan utama, termasuk barang bersubsidi yang sangat dibutuhkan masyarakat.

Ferry memaparkan bahwa koperasi memiliki fungsi strategis dalam menjual dan menyalurkan berbagai kebutuhan masyarakat. Barang-barang seperti pupuk bersubsidi, gas LPG ukuran kecil, hingga bahan pangan pokok disalurkan melalui koperasi agar lebih mudah diakses oleh masyarakat desa. Dengan mekanisme ini, pemerintah memastikan bahwa subsidi benar-benar tepat sasaran dan tidak terdistorsi oleh rantai distribusi yang panjang.

Selain sebagai pusat distribusi, Kopdes Merah Putih juga berfungsi sebagai offtaker yang menyerap hasil produksi masyarakat desa. Produk pertanian, peternakan, dan berbagai hasil usaha lokal lainnya ditampung oleh koperasi sehingga masyarakat memiliki kepastian pasar. Pola ini memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan pendapatan masyarakat karena produk yang dihasilkan memiliki jalur distribusi yang jelas dan berkelanjutan.

Peran lainnya yang tidak kalah penting adalah menjadikan koperasi sebagai instrumen pelaksanaan program pemerintah di tingkat paling bawah. Berbagai bantuan dan program pemberdayaan disalurkan melalui koperasi, sehingga prosesnya menjadi lebih terstruktur dan tepat sasaran. Dengan pendekatan ini, masyarakat tidak hanya berperan sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai pelaku aktif dalam kegiatan ekonomi.

Pemerintah juga memastikan bahwa koperasi menjadi ruang bagi tumbuhnya produk lokal. Barang yang dijual di gerai koperasi tidak hanya berasal dari luar daerah, tetapi juga diisi oleh produk usaha mikro, kecil, dan menengah dari masyarakat setempat. Hal ini memperkuat ekosistem ekonomi desa sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di pasar yang lebih luas.

Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjadikan koperasi sebagai kekuatan utama dalam mengatasi kemiskinan. Ia melihat bahwa pemberdayaan ekonomi melalui koperasi mampu meningkatkan kapasitas produksi masyarakat sekaligus memperkuat kemandirian bangsa. Dengan dukungan yang berkelanjutan, koperasi diyakini dapat menjadi pilar ekonomi yang tangguh di tengah dinamika global.

Muhaimin juga menekankan pentingnya menjadikan koperasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis desa. Berbagai sektor seperti pertanian dan ekonomi kreatif didorong untuk berkembang melalui koperasi, sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik. Dengan demikian, desa tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen yang berkontribusi terhadap perekonomian nasional.

Sementara itu, Anggota Komisi XI DPR RI, Ahmad Najib Qodratullah, menilai bahwa Kopdes Merah Putih merupakan terobosan yang mampu mengubah wajah ekonomi desa secara fundamental. Ia melihat bahwa koperasi ini memberikan alternatif baru bagi masyarakat desa dalam mengakses sistem ekonomi yang lebih adil dan berpihak pada kepentingan rakyat.

Najib menyoroti bahwa salah satu permasalahan utama di desa adalah panjangnya rantai distribusi barang. Kondisi ini menyebabkan harga kebutuhan pokok menjadi lebih mahal karena melalui banyak perantara. Kehadiran koperasi dinilai mampu memangkas jalur distribusi tersebut, sehingga barang dapat diterima masyarakat dengan harga yang lebih terjangkau dan stabil.

Selain itu, koperasi juga memiliki potensi besar dalam menciptakan kemandirian logistik desa. Dengan pengelolaan yang baik, koperasi dapat membangun sistem distribusi sendiri, termasuk gudang dan transportasi. Hal ini akan mengurangi ketergantungan desa terhadap pasokan dari kota dan memperkuat ketahanan ekonomi di tingkat lokal.

Dampak yang dihasilkan tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Perputaran ekonomi yang terjadi di dalam desa memungkinkan masyarakat merasakan manfaat secara langsung. Pendapatan meningkat, akses terhadap kebutuhan menjadi lebih mudah, dan peluang usaha semakin terbuka.

Perluasan dan penguatan koperasi desa menjadi bukti bahwa arah pembangunan nasional semakin inklusif. Wilayah terpencil yang sebelumnya tertinggal kini memiliki peluang yang sama untuk berkembang. Kopdes Merah Putih hadir bukan hanya sebagai lembaga ekonomi, tetapi sebagai simbol transformasi menuju kemandirian dan kesejahteraan masyarakat desa secara berkelanjutan.

*) Pemerhati Kebijakan Publik