Ramadan Berjalan, Pemerintah Salurkan BPNT Rp600.000 Secara Bertahap

Jakarta – Memasuki bulan suci Ramadan, pemerintah kembali menyalurkan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) kepada masyarakat yang membutuhkan. Bantuan senilai Rp600.000 tersebut diberikan secara bertahap guna membantu meringankan beban ekonomi keluarga penerima manfaat, terutama dalam memenuhi kebutuhan pokok selama bulan puasa.

Kementerian Sosial (Kemensos) secara resmi telah memulai penyaluran bantuan sosial (bansos) reguler tahap pertama untuk tahun anggaran 2026 pada Februari. Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) menjadi fokus utama yang akan diterima oleh sekitar 18 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di seluruh Indonesia.

Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, mengatakan bahwa pencairan bansos reguler, termasuk PKH dan BPNT, sudah berjalan sejak Februari 2026. Pernyataan ini sekaligus menepis isu-isu yang menyebutkan adanya keterlambatan atau penghentian bansos pada tahun ini. Penyaluran tahap pertama ini mencakup periode Januari hingga Maret 2026.

“Yang Bansos reguler ini akan kita mulai salurkan mungkin Februari untuk sekitar 18 juta keluarga penerima manfaat, termasuk di antaranya adalah PKH dan bantuan sembako,” ujar Gus Ipul.

Untuk program BPNT atau Program Sembako, setiap KPM akan menerima bantuan sebesar Rp200.000 per bulan. Dengan skema pencairan triwulanan, total dana yang diterima KPM untuk tahap pertama ini adalah Rp600.000. Sementara itu, besaran bantuan PKH bervariasi tergantung kategori penerima. Ibu hamil atau nifas serta anak usia 0-6 tahun masing-masing menerima Rp750.000 per tiga bulan. Anak SD mendapat Rp225.000, anak SMP Rp375.000, dan anak SMA Rp500.000. Lansia usia 60 tahun ke atas serta penyandang disabilitas berat juga menerima Rp600.000 per tiga bulan.

Dana bantuan ini disalurkan secara nontunai melalui rekening Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) yang terhubung dengan bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) seperti BRI, BNI, Mandiri, dan BSI. Bagi KPM di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar), lansia, atau penyandang disabilitas yang kesulitan mengakses ATM, penyaluran juga dilakukan melalui PT Pos Indonesia. Mekanisme ini memerlukan surat undangan resmi, KTP asli, dan Kartu Keluarga (KK) saat pengambilan di kantor pos. Bahkan, layanan antar langsung ke rumah (door-to-door) disediakan bagi penerima yang sakit parah.

Dengan penyaluran BPNT secara bertahap ini, pemerintah berharap masyarakat dapat menjalani ibadah Ramadan dengan lebih tenang tanpa terbebani persoalan kebutuhan dasar. Program ini sekaligus menjadi wujud komitmen negara dalam menjaga kesejahteraan rakyat, khususnya kelompok rentan, di tengah berbagai tantangan ekonomi yang masih berlangsung.

MBG Ramah Ramadan: Menjaga Gizi, Menghormati Ibadah

*) Oleh : Hifi Wardani )*

Bulan Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Aktivitas belajar, bekerja, dan berinteraksi sosial berjalan dalam ritme yang menyesuaikan dengan ibadah puasa. Dalam konteks ini, kehadiran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu dikelola dengan pendekatan yang lebih adaptif dan sensitif terhadap kebutuhan umat Muslim. Konsep “MBG Ramah Ramadan” menjadi penting agar program pemenuhan gizi tetap berjalan optimal tanpa mengurangi kekhusyukan ibadah. Program ini bukan sekadar distribusi makanan, tetapi juga wujud kepedulian negara terhadap keseimbangan antara kesehatan dan spiritualitas.

MBG pada dasarnya dirancang untuk memastikan anak-anak dan kelompok rentan memperoleh asupan gizi seimbang. Namun, selama Ramadan, pola konsumsi masyarakat berubah signifikan. Waktu makan terbatas pada sahur dan berbuka, sementara aktivitas harian tetap berjalan. Jika tidak diantisipasi dengan baik, perubahan pola ini berpotensi menurunkan asupan energi dan konsentrasi, khususnya bagi pelajar. Karena itu, pendekatan MBG Ramah Ramadan dapat diarahkan pada penyediaan paket gizi yang bisa dikonsumsi saat berbuka atau dibawa pulang untuk sahur, sehingga manfaatnya tetap dirasakan tanpa mengganggu ibadah puasa.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menjelaskan bahwa bagi siswa muslim yang menjalankan ibadah puasa, program MBG akan tetap berjalan dengan menyediakan makanan kering yang bergizi dan mudah dibawa pulang. Menu yang disiapkan antara lain telur rebus, roti, dan kurma, yang merupakan sumber energi dan nutrisi penting untuk menjaga stamina selama berpuasa.

Penyesuaian menu ini bertujuan untuk menghormati kekhusyukan bulan Ramadan dan memastikan siswa muslim tetap mendapatkan asupan gizi yang cukup tanpa mengganggu ibadah puasa mereka. Makanan kering dipilih karena praktis, tahan lama, dan mudah dikonsumsi saat sahur atau berbuka puasa. Selain itu, kandungan gizi dalam makanan kering tersebut juga telah disesuaikan dengan kebutuhan siswa selama berpuasa.

Wakil Wali Kota Tanjungbalai, Muhammad Fadly Abdina menjelaskan program MBG selama Ramadan harus disosialisasikan dengan narasi yang menekankan penghormatan terhadap ibadah. Sekolah, orang tua, dan siswa perlu memahami bahwa program ini fleksibel dan tidak memaksa peserta didik untuk makan di siang hari. Transparansi ini akan menghindari kesalahpahaman di tengah masyarakat. Bahkan, program ini dapat menjadi sarana edukasi tentang pentingnya menjaga kesehatan selama berpuasa, termasuk anjuran minum cukup air saat sahur dan berbuka serta memilih makanan bergizi seimbang.

Lebih jauh, MBG Ramah Ramadan juga dapat memperkuat nilai gotong royong. Pelibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal dalam penyediaan makanan berbuka dapat meningkatkan dampak ekonomi program. Dapur umum atau penyedia katering lokal dapat diberdayakan dengan standar kualitas yang diawasi secara ketat. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh penerima makanan, tetapi juga oleh masyarakat sekitar yang terlibat dalam rantai pasok. Ramadan menjadi momentum berbagi yang berdampak luas secara sosial dan ekonomi.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia (GAPEMBI), Alven Stony menjelaskan aspek pengawasan mutu dan keamanan pangan tetap harus menjadi prioritas. Selama Ramadan, suhu dan waktu penyimpanan makanan perlu diperhatikan agar kualitas tetap terjaga hingga waktu berbuka. Standar kebersihan dapur, pengemasan, dan distribusi harus diperketat. Pengawasan berkala terus dilakukan untuk memastikan tidak ada risiko keracunan atau penurunan kualitas makanan. Upaya ini penting agar tujuan menjaga gizi tidak justru menimbulkan persoalan baru.

Tak berhenti di dapur produksi, efek penyerapan kerja juga meluas ke rantai pasok. Sekitar 22.000 pemasok bahan pangan terlibat dalam mendukung operasional SPPG. Masing-masing pemasok setidaknya mempekerjakan tiga orang, sehingga membuka tambahan puluhan ribu peluang kerja di sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan distribusi. Dengan skema tersebut, MBG dinilai menciptakan ekosistem kerja dari hulu hingga hilir, mulai dari petani dan pedagang bahan pokok, tenaga dapur, hingga distribusi makanan ke penerima manfaat.

Dari perspektif pendidikan, MBG Ramah Ramadan juga mendukung konsentrasi belajar siswa. Puasa bukan alasan untuk menurunkan semangat akademik, tetapi memang membutuhkan manajemen energi yang baik. Dengan asupan gizi yang tepat saat berbuka dan sahur, siswa tetap memiliki daya tahan dan fokus dalam mengikuti pelajaran. Bahkan, momentum Ramadan dapat dimanfaatkan sekolah untuk mengintegrasikan edukasi gizi dalam kegiatan pesantren kilat atau kajian keagamaan, sehingga pemahaman tentang kesehatan dan ibadah berjalan beriringan.

Pada akhirnya, MBG Ramah Ramadan adalah wujud kebijakan yang responsif terhadap dinamika sosial dan keagamaan masyarakat Indonesia. Program ini menegaskan bahwa pemenuhan gizi dan penghormatan terhadap ibadah bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi. Dengan desain yang adaptif, komunikasi yang inklusif, serta pengawasan yang ketat, MBG dapat tetap menjadi instrumen peningkatan kualitas sumber daya manusia, bahkan di bulan suci. Ramadan pun menjadi ruang pembuktian bahwa kebijakan publik yang sensitif dan humanis akan lebih mudah diterima serta memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi generasi masa depan.

*) Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Pemerintah

Ayo Kawal MBG: Gizi Berkualitas untuk Generasi Emas

Oleh : Ricky Rinaldi *)

Pembangunan sumber daya manusia merupakan fondasi utama kemajuan bangsa. Tidak ada negara yang mampu melompat jauh tanpa generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. Dalam konteks tersebut, program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi langkah strategis pemerintah untuk memastikan anak-anak Indonesia memperoleh asupan gizi yang memadai sejak dini. Program ini bukan sekadar kebijakan sosial, melainkan investasi jangka panjang untuk mewujudkan Generasi Emas Indonesia.

Gizi yang baik adalah syarat mutlak tumbuh kembang optimal anak. Kekurangan gizi pada usia sekolah berdampak langsung terhadap kemampuan belajar, konsentrasi, hingga kesehatan jangka panjang. Pemerintah memandang persoalan gizi sebagai isu fundamental yang harus ditangani secara sistematis. MBG dirancang untuk menjawab tantangan tersebut dengan memastikan akses makanan bergizi yang merata, terutama bagi anak-anak dari keluarga rentan.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menempatkan penguatan kualitas generasi muda sebagai prioritas nasional. MBG diposisikan sebagai salah satu instrumen utama dalam membangun fondasi sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing global. Negara memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat dan berkembang secara optimal, tanpa terhambat oleh keterbatasan ekonomi keluarga.

Program MBG tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan, tetapi juga pada kualitas dan standar gizi yang terukur. Menu disusun dengan memperhatikan kebutuhan kalori, protein, vitamin, dan mineral yang sesuai dengan usia anak. Pendekatan ini menegaskan bahwa kebijakan publik harus berbasis pada data dan standar kesehatan yang jelas, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan secara nyata.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa intervensi gizi pada usia sekolah memiliki dampak besar dalam mencegah stunting dan masalah kesehatan jangka panjang lainnya. MBG menjadi bagian dari strategi komprehensif pemerintah dalam memperbaiki status gizi nasional. Upaya ini selaras dengan target peningkatan kualitas hidup masyarakat dan penguatan produktivitas bangsa.

Selain berdampak pada kesehatan, MBG juga memberikan efek sosial dan ekonomi yang signifikan. Program ini melibatkan pelaku usaha lokal, UMKM pangan, dan petani sebagai bagian dari rantai pasok. Dengan demikian, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh siswa penerima, tetapi juga oleh masyarakat luas yang terlibat dalam penyediaan bahan pangan. Kebijakan ini menunjukkan bahwa pembangunan manusia dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi lokal.

Keberhasilan MBG memerlukan pengawalan bersama. Transparansi, akuntabilitas, dan pengawasan publik menjadi elemen penting untuk memastikan program berjalan sesuai tujuan. Partisipasi masyarakat, sekolah, dan orang tua sangat dibutuhkan dalam memastikan distribusi berjalan lancar dan kualitas makanan tetap terjaga. Program besar seperti ini membutuhkan komitmen kolektif agar manfaatnya maksimal.

Sekolah memiliki peran strategis dalam mendukung pelaksanaan MBG. Selain menjadi titik distribusi, sekolah juga dapat memanfaatkan momentum ini untuk memberikan edukasi tentang pola makan sehat dan gaya hidup aktif. Pendidikan gizi yang terintegrasi akan memperkuat dampak program, sehingga anak-anak tidak hanya menerima makanan bergizi, tetapi juga memahami pentingnya menjaga kesehatan.

Di tengah tantangan global seperti krisis pangan dan perubahan iklim, MBG menjadi bukti bahwa negara hadir untuk melindungi masa depan generasi muda. Pemerintah memastikan bahwa kondisi eksternal tidak menjadi alasan untuk mengabaikan kebutuhan dasar anak-anak. Justru dalam situasi penuh ketidakpastian, investasi pada gizi dan kesehatan menjadi semakin penting.

Penguatan koordinasi lintas kementerian dan pemerintah daerah juga menjadi kunci keberhasilan program ini. Sinergi yang solid memastikan distribusi berjalan tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat kualitas. Pendekatan kolaboratif ini mencerminkan keseriusan negara dalam menjalankan kebijakan yang berdampak langsung pada rakyat.

MBG bukan sekadar program bantuan, tetapi simbol komitmen negara dalam membangun masa depan bangsa. Generasi Emas 2045 tidak akan terwujud tanpa anak-anak yang sehat dan cerdas hari ini. Setiap porsi makanan bergizi yang diberikan adalah langkah konkret menuju Indonesia yang lebih kuat dan berdaya saing.

Karena itu, mengawal Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah tanggung jawab bersama. Dukungan publik, pengawasan yang konstruktif, serta partisipasi aktif masyarakat akan memperkuat implementasi program ini di lapangan. Dengan semangat gotong royong, setiap elemen bangsa dapat berkontribusi memastikan distribusi berjalan tepat sasaran, kualitas terjaga, dan manfaat benar-benar dirasakan oleh anak-anak Indonesia.

Melalui MBG, negara menegaskan bahwa pembangunan manusia adalah prioritas utama dalam agenda nasional. Gizi berkualitas tidak lagi dipandang sebagai privilese kelompok tertentu, melainkan sebagai hak dasar yang dijamin negara. Program ini menjadi instrumen strategis untuk memutus rantai stunting, meningkatkan kualitas pendidikan, dan memperkuat fondasi kesehatan generasi masa depan.

Dengan komitmen yang konsisten, tata kelola yang transparan, dan pengawalan bersama dari seluruh pemangku kepentingan, MBG akan menjadi fondasi kokoh bagi lahirnya Generasi Emas Indonesia yang sehat, cerdas, produktif, dan berdaya saing global. Inilah investasi jangka panjang yang hasilnya akan dirasakan lintas generasi.

*) Pengamat Isu Strategis

Dukungan Menguat, MBG Didorong Jadi Pilar Ketahanan Generasi

Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kian mendapat dukungan luas dari kalangan ekonom dan pengamat pembangunan. Program ini dinilai bukan sekadar intervensi sosial jangka pendek, melainkan strategi besar dalam membangun fondasi sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang tangguh dan berdaya saing.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, menegaskan bahwa MBG harus dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan manusia. Menurutnya, orientasi utama program ini bukanlah mengejar pertumbuhan ekonomi sesaat, melainkan menyiapkan generasi yang lebih sehat, terdidik, dan produktif.

“Program MBG tidak didesain untuk memacu pertumbuhan ekonomi secara instan. Melainkan, ini merupakan investasi dalam modal manusia yang membawa hasil paling optimal saat generasi penerima mencapai usia produktif,” ujar Esther.

Penilaian tersebut didasarkan pada kajian dan simulasi model ekonomi yang dilakukan Indef bersama United Nations Department of Economic and Social Affairs. Melalui Model Overlapping Generation Indonesia (OG-IDN), penelitian itu mengukur dampak alokasi anggaran MBG terhadap berbagai indikator makroekonomi dalam jangka panjang.

Hasilnya menunjukkan bahwa manfaat terbesar program akan dirasakan ketika anak-anak penerima MBG tumbuh menjadi angkatan kerja produktif dengan kualitas kesehatan dan pendidikan yang lebih baik. Dengan demikian, MBG diproyeksikan berkontribusi pada peningkatan produktivitas nasional dan daya saing ekonomi Indonesia di masa depan.

Dalam kajian tersebut, Indef menekankan bahwa alokasi anggaran MBG merupakan investasi SDM, bukan belanja konsumtif. Sebagian besar anggaran diarahkan pada sub-fungsi pendidikan dan sebagian lainnya pada sub-fungsi kesehatan. Skema pendanaannya pun dikonstruksi melalui realokasi belanja negara, sehingga tidak menambah total belanja maupun defisit APBN.

Pendekatan ini dinilai mencerminkan kehati-hatian fiskal sekaligus keberpihakan pada pembangunan kualitas manusia. MBG bukan sekadar program bantuan, tetapi bagian dari strategi besar menyiapkan generasi unggul.

Pandangan tersebut sejalan dengan agenda pembangunan jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045. Dalam konteks bonus demografi, kualitas SDM menjadi faktor penentu apakah Indonesia mampu mengubah potensi jumlah penduduk usia produktif menjadi kekuatan ekonomi nyata.

Dorongan agar MBG terus diperkuat pun semakin menguat. Program ini dipandang sebagai salah satu pilar penting dalam membangun ketahanan generasi, memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat, cerdas, dan siap bersaing. Dengan investasi yang tepat sejak dini, masa depan Indonesia diyakini akan berdiri di atas fondasi manusia yang kuat dan berkualitas.

Pemerintah Perketat Standar Gizi MBG, UPF dan Menu Pedas Dilarang Selama Ramadan

Jakarta – Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) resmi memperketat standar pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan 1447 H dan periode libur nasional tahun 2026. Kebijakan ini ditegaskan dalam pedoman teknis terbaru yang mengatur komposisi menu, standar keamanan pangan, serta mekanisme distribusi selama bulan puasa. Langkah tersebut diambil sebagai bentuk penguatan kualitas program sekaligus memastikan kesehatan penerima manfaat tetap terjaga.

Dalam ketentuan terbaru, BGN melarang penggunaan produk ultra-processed food (UPF) dalam seluruh menu MBG selama Ramadan. Produk UPF dinilai berisiko karena umumnya mengandung bahan tambahan seperti pengawet, pemanis buatan, pewarna, serta perasa sintetis yang tidak sejalan dengan prinsip gizi seimbang. Selain itu, menu bercita rasa pedas juga tidak diperkenankan selama periode puasa guna mencegah gangguan lambung dan iritasi pencernaan pada penerima manfaat.

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan hasil evaluasi pelaksanaan MBG sebelumnya serta mempertimbangkan aspek kesehatan masyarakat selama Ramadan.

“Kami memastikan bahwa standar gizi tetap terpenuhi, namun komposisi menu harus disesuaikan dengan kondisi puasa. UPF dan makanan pedas kami larang demi menjaga keamanan pangan dan kesehatan penerima manfaat,” ujar Dadan.

Pemerintah juga mengatur penyesuaian mekanisme distribusi. Selama Ramadan, sebagian wilayah akan menerapkan sistem paket makanan kering atau bundling yang dapat dikonsumsi saat berbuka puasa. Skema ini dinilai lebih efektif dalam menjaga kualitas makanan selama distribusi, terutama pada periode libur panjang dan cuti bersama.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyatakan bahwa Program MBG tetap berjalan penuh selama Ramadan dengan standar pengawasan yang diperketat.

“Program ini tetap berjalan. Yang kami lakukan adalah penyesuaian agar makanan lebih aman, lebih sehat, dan sesuai dengan kebutuhan saat puasa. Tidak boleh ada kompromi terhadap kualitas gizi,” tegasnya.

Dalam pedoman tersebut, pemerintah mendorong penggunaan bahan pangan segar dan lokal seperti telur, ikan, ayam, daging olahan rumahan, buah, serta kurma sebagai sumber energi alami. Standar gizi tetap disesuaikan berdasarkan kelompok usia penerima manfaat agar kebutuhan kalori, protein, dan mikronutrien tetap terpenuhi.

Pemerintah menegaskan bahwa penguatan standar ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang dalam membangun sumber daya manusia yang sehat dan produktif. Dengan penyesuaian menu dan distribusi selama Ramadan 2026, pemerintah memastikan Program Makan Bergizi Gratis tetap berjalan optimal, aman, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat tanpa mengganggu pelaksanaan ibadah puasa.

Sekolah Garuda Usung Arah Baru Pendidikan Talenta Sains Nasional

Oleh : Antonius Googie)*

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memastikan empat SMA Unggul Garuda baru akan mulai beroperasi pada Tahun Ajaran 2026/2027 atau Juni mendatang. Program ini digadang sebagai lompatan strategis dalam membangun ekosistem talenta sains dan teknologi nasional sekaligus memperluas akses pendidikan unggul ke luar Pulau Jawa.

Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek, Ahmad Najib Burhani, menyampaikan bahwa pembangunan empat sekolah tersebut tengah dikebut dan ditargetkan rampung pada Juni 2026. Ia menjelaskan proses konstruksi melibatkan tiga BUMN karya dan menjadi bagian dari kontrak kerja yang harus dituntaskan tepat waktu. Najib menegaskan bahwa pemerintah optimistis proyek ini selesai sesuai jadwal dan meminta publik tidak meragukan komitmen tersebut.

Empat lokasi perdana Sekolah Garuda berada di Belitung Timur (Kepulauan Bangka Belitung), Soe di Kabupaten Timor Tengah Selatan (Nusa Tenggara Timur), Konawe Selatan (Sulawesi Tenggara), serta Tanjung Selor di Kabupaten Bulungan (Kalimantan Utara). Setiap sekolah berdiri di atas lahan sekitar 20 hektare dengan fasilitas lengkap, mulai dari ruang kelas modern, laboratorium sains, asrama siswa, rumah dinas guru, hingga sarana penunjang seperti taman dan lapangan olahraga.

Sekolah Garuda dirancang sebagai SMA berasrama dengan penguatan kurikulum prauniversitas berbasis pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics). Lulusan sekolah ini diproyeksikan mampu bersaing untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi top dunia, baik di dalam maupun luar negeri. Hingga 2029, pemerintah menargetkan pembangunan sedikitnya 20 Sekolah Garuda di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Mempawah, Rejang Lebong, Manokwari, Merauke, dan sejumlah titik di Maluku.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menyatakan Sekolah Garuda merupakan realisasi visi besar Presiden Prabowo Subianto untuk membawa anak-anak Indonesia dari seluruh pelosok negeri menuju kampus terbaik dunia. Stella menuturkan bahwa Sekolah Garuda menjadi cara pemerintah memperluas akses pendidikan unggul yang inklusif sekaligus meracik talenta sains dan teknologi dari anak-anak berprestasi di berbagai daerah.

Model pendidikan Sekolah Garuda mengusung empat kurikulum sekaligus. Pertama, kurikulum nasional sebagai fondasi akademik utama. Kedua, kurikulum karakter untuk membangun kepemimpinan dan integritas. Ketiga, kurikulum STEM sebagai penguatan kompetensi sains dan teknologi. Keempat, kurikulum internasional atau global, termasuk International Baccalaureate (IB), untuk memperluas daya saing global peserta didik.

Najib menjelaskan penguatan STEM menjadi alasan utama pendirian Sekolah Garuda. Ia menilai kebutuhan tenaga ahli sains dan teknologi di Indonesia sangat tinggi untuk mendukung agenda industrialisasi dan hilirisasi, sementara lulusan perguruan tinggi nasional belum didominasi bidang STEM. Menurutnya, ekosistem penguatan talenta harus dimulai sejak jenjang SMA agar suplai sumber daya manusia unggul lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Lebih jauh, Najib memperkenalkan konsep the one percent rule sebagai landasan kebijakan Sekolah Garuda. Ia memaparkan bahwa negara perlu memfasilitasi sekitar 1 persen siswa dengan kemampuan sangat unggul atau jenius yang selama ini belum mendapatkan dukungan optimal. Najib menyebut bahwa ketika berbicara inklusivitas, perhatian sering tertuju pada kelompok rentan dan difabel, padahal ada kelompok kecil anak berbakat dengan potensi besar yang juga membutuhkan layanan pendidikan khusus.

Konsep ini ditegaskan berbeda dengan program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang pernah dibatalkan Mahkamah Konstitusi. Tim Aspek Akademik SMA Unggul Garuda Kemdiktisaintek, Vira Agustina, menjelaskan bahwa Sekolah Garuda dirancang khusus bagi siswa dengan kemampuan akademik istimewa atau anak gifted, yang secara umum memiliki IQ di atas 130 dan populasi sekitar 2,2 hingga 5 persen dari total global. Vira menuturkan negara berupaya menghadirkan berbagai menu pendidikan sesuai kebutuhan anak, termasuk layanan khusus bagi kelompok kecil siswa berkemampuan istimewa.

Ia menegaskan Sekolah Garuda bukan rebranding RSBI. Menurut Vira, karakteristik, konsep, dan implementasinya berbeda. Sekolah Garuda didanai penuh oleh negara, tersebar di berbagai daerah, serta membuka akses bagi siswa dari keluarga menengah ke bawah, termasuk lulusan paket B dan homeschooling, selama memenuhi persyaratan akademik.

Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif Kemdiktisaintek, Ardi Findyartini, menjelaskan tahapan seleksi meliputi pendaftaran administrasi, tes potensi akademik dan mata pelajaran inti, wawancara, hingga tes kesehatan. Ia menyebutkan hingga pertengahan Februari 2026, sekitar 1.100 calon siswa telah masuk ke sistem pendaftaran dan menyelesaikan proses administrasi.

Dengan pendekatan terintegrasi, pembelajaran berbasis asrama, serta kurikulum nasional dan global yang dikombinasikan, Sekolah Garuda diposisikan sebagai laboratorium kebijakan manajemen talenta nasional. Di tengah tuntutan transformasi ekonomi berbasis pengetahuan, sekolah ini menjadi simbol arah baru pendidikan Indonesia: memadukan pemerataan akses, penguatan karakter, dan akselerasi talenta sains demi daya saing global yang berkelanjutan.

)* Pengamat Pendidikan

Sekolah Garuda Kuatkan Pemerataan Pendidikan Unggul

Oleh: Bara Winatha*)

Program Sekolah Garuda atau SMA Unggul Garuda Baru menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam memperkuat pemerataan pendidikan unggul di Indonesia. Inisiatif yang digagas sebagai bagian dari prioritas pembangunan sumber daya manusia ini dirancang untuk membuka akses seluas-luasnya bagi talenta muda terbaik dari berbagai daerah, termasuk wilayah yang selama ini belum tersentuh fasilitas pendidikan berstandar tinggi. Dengan membangun empat sekolah baru di titik-titik strategis, pemerintah ingin memastikan bahwa pendidikan unggul tidak lagi terpusat di kota-kota besar, melainkan menjangkau seluruh penjuru negeri secara lebih adil dan merata.

Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Ahmad Najib Burhani, mengatakan bahwa empat Sekolah Garuda Baru tengah dipersiapkan dan ditargetkan siap digunakan pada Juni 2026. Ia menjelaskan bahwa lokasi pembangunan mencakup Belitung Timur di Kepulauan Bangka Belitung, Soe di Kabupaten Timor Tengah Selatan Nusa Tenggara Timur, Konawe Selatan di Sulawesi Tenggara, serta Tanjung Selor di Kalimantan Utara. Pemilihan lokasi tersebut mempertimbangkan aspek pemerataan kawasan sehingga sekolah unggulan tidak hanya hadir di Pulau Jawa, tetapi juga di wilayah timur dan perbatasan Indonesia.

Sekolah Garuda Baru dirancang untuk menampung talenta unggul dari seluruh Indonesia. Setiap sekolah akan menerima 160 siswa per angkatan sehingga total terdapat 640 siswa untuk tahun ajaran 2026–2027. Sekolah ini diproyeksikan menjadi ruang pembinaan generasi muda berprestasi yang memiliki potensi akademik kuat dan daya saing global. Dengan pendekatan ini, Sekolah Garuda tidak hanya berfungsi sebagai institusi pendidikan menengah atas, melainkan sebagai kawah pembentukan kepemimpinan masa depan bangsa.

Dari sisi strategi pembelajaran dan sistem, Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Ardi Findyartini, menekankan bahwa Sekolah Garuda tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kualitas proses pendidikan. Kebijakan ini dirancang agar siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu tetap memperoleh kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan unggulan.

Ia juga menjelaskan bahwa proses seleksi siswa menerapkan standar akademik yang tinggi. Calon siswa diwajibkan memiliki nilai rapor minimal 85 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika, atau memiliki prestasi di bidang STEM yang telah terkurasi oleh Pusat Prestasi Nasional. Hingga pertengahan masa pendaftaran, lebih dari seribu calon siswa dari berbagai daerah telah melakukan registrasi dalam sistem daring. Hal ini menunjukkan antusiasme nasional terhadap hadirnya sekolah unggulan berbasis pemerataan.

Sekolah Garuda dirancang untuk memfasilitasi siswa agar dapat menembus perguruan tinggi terbaik, baik di dalam maupun luar negeri. Siswa akan mendapatkan pemetaan kemampuan bahasa Inggris serta fasilitasi pendaftaran ke perguruan tinggi internasional, termasuk dukungan dalam proses aplikasi untuk memperoleh letter of acceptance. Dengan demikian, sekolah ini tidak hanya berfungsi sebagai institusi pendidikan menengah, tetapi juga sebagai jembatan strategis menuju pendidikan tinggi kelas dunia.

Dalam aspek tenaga pendidik, pemerintah tengah melakukan rekrutmen 96 guru dan tenaga kependidikan untuk ditempatkan di empat sekolah tersebut, dengan komposisi 24 orang per sekolah. Seleksi dilakukan secara ketat untuk memastikan guru yang terpilih memiliki kompetensi akademik, karakter kuat, dan kemampuan global. Persyaratan meliputi usia maksimal 32 tahun, kepemilikan sertifikat pendidik melalui Program Pendidikan Profesi Guru, IPK minimal 3,25, kualifikasi magister, serta kemampuan bahasa Inggris dengan skor tertentu pada tes internasional.

Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mengatakan bahwa dirinya mendukung penuh kebijakan Sekolah Garuda yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai program ini sebagai langkah penting untuk mengejar ketertinggalan bangsa dalam bidang teknologi dan rekayasa. Menurutnya, negara-negara maju telah lebih dahulu mempersiapkan generasi muda mereka dalam bidang sains dan engineering, sehingga Indonesia perlu melakukan lompatan strategis agar tidak tertinggal dalam kompetisi global.

Abdul menjelaskan bahwa Sekolah Garuda disiapkan sebagai inkubator bagi siswa berbakat agar terhubung langsung dengan perguruan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri. Orientasi pendidikan dipandang perlu bergeser ke penguasaan teknologi terapan dan penguatan kompetensi STEM. Dalam kerangka ini, Sekolah Garuda menjadi salah satu instrumen kebijakan untuk memastikan bahwa anak-anak Indonesia yang memiliki potensi unggul memperoleh pembinaan maksimal.

Masyarakat diharapkan melihat program ini sebagai bagian dari strategi besar pengembangan sumber daya manusia nasional. Menurutnya, penguatan sektor pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kolaborasi antara pemerintah, legislatif, dan masyarakat. Dukungan terhadap Sekolah Garuda dinilai sebagai bentuk investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi global.

Melalui sinergi antara perencanaan strategis, dukungan anggaran, seleksi siswa berbasis merit, serta rekrutmen guru berkualitas, Sekolah Garuda diharapkan menjadi model penguatan pendidikan unggul nasional. Pemerataan menjadi kata kunci dalam program ini. Dengan lokasi yang tersebar di berbagai wilayah luar pusat pertumbuhan tradisional, sekolah ini membawa pesan bahwa talenta unggul dapat lahir dari mana saja. Dengan langkah ini, pemerintah menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan unggul yang inklusif, kompetitif, dan merata bagi seluruh anak bangsa.

*) Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan

Sekolah Garuda Hadir dengan Skema Beasiswa Penuh di Tahun Pertama

Jakarta – Pemerintah resmi menghadirkan Sekolah Garuda atau SMA Unggul Garuda Baru sebagai bagian dari strategi memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. Pada tahun pertama penyelenggaraannya, Sekolah Garuda memberikan beasiswa penuh atau 100 persen kepada seluruh murid yang diterima. Kebijakan ini diharapkan membuka akses seluas-luasnya bagi talenta muda terbaik bangsa untuk memperoleh pendidikan menengah berkualitas tinggi dan berdaya saing global.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menegaskan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan prioritas utama pemerintah. Menurutnya, pembangunan nasional tidak hanya bertumpu pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada investasi jangka panjang melalui pendidikan yang unggul dan inklusif.
“Kita menginginkan adanya talenta-talenta unggul dari bangsa kita yang dapat bersaing di kancah global,” tutur Menteri Brian.

Lebih lanjut, Brian menjelaskan bahwa program Beasiswa Garuda dirancang untuk menyeleksi talenta terbaik bangsa agar dapat mengenyam pendidikan kelas dunia. Pemerintah juga menyiapkan perluasan skema studi lanjutan. Mulai 2026, kesempatan belajar akan diperkuat melalui program joint degree dan double degree dengan perguruan tinggi luar negeri.

“Kita juga akan memilih talenta-talenta terbaik itu untuk bersekolah di kampus-kampus top di Indonesia, tapi dengan tambahan joint degree atau double degree ke sekolah-sekolah di luar negeri,” jelas Menteri Brian.

Mendiktisaintek juga menekankan bahwa proses seleksi Beasiswa Garuda Sarjana dilakukan secara objektif, transparan, dan terbuka bagi seluruh peserta dari berbagai latar belakang daerah. Prinsip meritokrasi menjadi landasan utama agar kesempatan yang sama dapat dirasakan oleh seluruh anak bangsa.

Sementara itu, Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Ardi Findyartini, menjelaskan bahwa beasiswa 100 persen diberikan khusus pada tahun pertama. Pada tahun-tahun berikutnya, pemerintah tetap memberikan dukungan beasiswa sekurang-kurangnya 80 persen bagi murid Sekolah Garuda. Kebijakan ini dinilai cukup untuk menjaga keberlanjutan program sekaligus mendorong kemandirian siswa.

Ardi juga mengungkapkan bahwa pemerintah menyediakan berbagai fasilitas pendukung bagi siswa Sekolah Garuda. Fasilitas tersebut mencakup pemetaan kemampuan Bahasa Inggris, pendampingan akademik, serta fasilitasi pendaftaran ke perguruan tinggi dalam dan luar negeri.

“Nanti ada fasilitasi pendaftaran untuk ke perguruan tinggi luar negeri terutama yang memang harus aplikasi untuk mendapatkan letter of acceptance (LoA),” ujarnya.

Terkait penerimaan murid baru, Ardi menegaskan bahwa Sekolah Garuda terbuka bagi seluruh anak Indonesia yang memiliki tingkat kecerdasan luar biasa. Seluruh anak dari daerah mana pun dapat mendaftar selama memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Dengan skema ini, Sekolah Garuda diharapkan menjadi motor lahirnya generasi unggul yang siap membawa Indonesia bersaing di tingkat global. (*)

Sekolah Garuda Terapkan Kurikulum Perkuat Talenta Sains dan Tekonologi

Jakarta – Direktur Jenderal Sains dan Teknologi (Dirjen Saintek), Ahmad Najib Burhani mengatakan Sekolah Garuda memiliki motivasi untuk memperkuat talenta-talenta terbaik bangsa dalam bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika), yang harapannya dapat meningkatkan minat, memenuhi kebutuhan industri, serta menghadirkan ahli-ahli di bidang STEM.

Menurut Najib, penguatan STEM menjadi salah satu alasan utama pendirian Sekolah Garuda. Ia menilai kebutuhan tenaga ahli sains dan teknologi di Indonesia tinggi, terutama untuk mendukung industrialisasi dan hilirisasi. Namun, minat dan ekosistem pendidikan STEM dinilai masih terbatas.

“Lulusan perguruan tinggi kita belum didominasi bidang STEM, padahal kebutuhan industri sangat besar. Karena itu, ekosistemnya harus dimulai sejak SMA,” ujarnya.

Selain itu, menurut Najib sekolah garuda dirancang dengan landasan yang ia sebut sebagai the one percent rule. Maksudnya adalah gagasan bahwa negara perlu memfasilitasi sekitar 1 persen siswa dengan kemampuan sangat unggul atau jenius dan sangat bertalenta yang selama ini dinilai belum mendapat dukungan optimal.

“Sering kali ketika kita bicara inklusivitas, fokusnya pada kelompok difabel dan kelompok rentan lainnya. Tapi ada komponen masyarakat yang sering terlewat, yaitu anak-anak yang sangat berbakat. Mereka jumlahnya kecil, tetapi potensinya besar,” kata Najib.

Ia juga menyatakan Sekolah Garuda merupakan program strategis untuk mewujudkan pemerataan pembangunan pendidikan nasional.

“Sekolah ini tidak dibangun di Pulau Jawa, melainkan ditempatkan di wilayah yang memiliki potensi besar namun masih menghadapi tantangan dalam akses serta percepatan pembangunan pendidikan. Kita yakin banyak potensi di daerah yang tidak kalah dengan yang ada di Jawa,” ujar Najib.

Senada, Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif (SSPT) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Ardi Findyartini mengatakan terdapat empat kurikulum unggulan yang membedakan SMA Unggul Garuda dengan sekolah lain pada umumnya.

“Akan ada empat kurikulum yang akan digunakan, diantaranya kurikulum penguatan STEM, kurikulum nasional, kurikulum pengembangan karakter peserta didik di sekolah berasrama, kurikulum Internasional,” kata Ardi.

Ke depan, lanjut dia, para lulusan juga dipersiapkan untuk mengikuti Program Beasiswa Garuda untuk dapat memberikan akses kepada seluruh talenta terbaik negeri tanpa melihat latar belakangnya untuk dapat bersaing di kancah global.

“Program ini akan memberikan kesempatan kepada talenta terbaik, baik yang berada di Sekolah Umum maupun Sekolah Garuda untuk berkompetisi dan berkuliah sarjana di Luar Negeri,” ujarnya.

Dengan penerapan kurikulum inovatif ini, Sekolah Garuda diharapkan menjadi katalis dalam mencetak generasi unggul yang siap membawa Indonesia melangkah lebih maju di panggung global.

Indonesia Bangun Kolaborasi Strategis Jangka Panjang Lewat Kunjungan Kerja Presiden Prabowo

Oleh: Rania Kartika Dewi )*

Kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke sejumlah negara mitra strategis, termasuk Amerika Serikat dan Inggris, menandai babak baru diplomasi Indonesia yang semakin progresif dan terarah.

Agenda luar negeri tersebut dirancang sebagai bagian dari strategi besar pemerintah dalam memperluas jejaring kerja sama internasional yang berdampak langsung pada penguatan ekonomi nasional.

Pemerintah memanfaatkan momentum kunjungan kerja ini untuk membangun kolaborasi jangka panjang yang tidak hanya menguntungkan secara politik, tetapi juga menghadirkan manfaat konkret bagi pembangunan dalam negeri.

Dalam berbagai pertemuan tingkat tinggi, Presiden Prabowo menegaskan komitmen Indonesia untuk menjadi mitra global yang stabil, kredibel, dan visioner. Pendekatan yang diusung pemerintah menitikberatkan pada kemitraan strategis yang terukur dan berkelanjutan.

Diplomasi yang dilakukan tidak semata bertujuan mempererat hubungan bilateral, melainkan memastikan adanya implementasi kerja sama yang jelas serta memberi nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Salah satu capaian penting dalam rangkaian kunjungan tersebut adalah penguatan kerja sama dengan Inggris yang menghasilkan peningkatan status hubungan menjadi kemitraan strategis.

Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menyampaikan bahwa pertemuan antara kedua pemimpin negara menghasilkan komitmen investasi bernilai signifikan yang difokuskan pada sektor maritim dan industri pendukungnya. Investasi tersebut diarahkan untuk pembangunan ratusan kapal penangkap ikan yang akan diproduksi di galangan dalam negeri sehingga memperkuat kapasitas industri nasional.

Menurut Teddy, proyek tersebut dirancang bukan hanya sebagai bentuk kerja sama ekonomi, melainkan sebagai strategi penciptaan lapangan kerja dalam jumlah besar dan penguatan rantai pasok domestik.

Pemerintah memastikan bahwa setiap kesepakatan investasi memiliki skema pelaksanaan yang berpihak pada kepentingan nasional. Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjadikan diplomasi ekonomi sebagai instrumen pembangunan.

Selain sektor maritim, kolaborasi juga mencakup penguatan pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Dalam agenda pertemuan dengan sejumlah institusi pendidikan tinggi terkemuka di Inggris, Presiden Prabowo mendorong terbentuknya kerja sama akademik yang lebih luas.

Pemerintah membuka peluang pertukaran mahasiswa, kolaborasi riset, hingga pengembangan program pendidikan bersama yang dapat mempercepat transfer teknologi dan peningkatan kapasitas nasional.

Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menilai langkah Presiden Prabowo sebagai bentuk konsistensi pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang semakin kompetitif. Ia berpandangan bahwa stabilitas politik dan arah kebijakan ekonomi yang jelas menjadi faktor utama meningkatnya kepercayaan mitra internasional terhadap Indonesia. Menurutnya, kunjungan kerja tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai negara tujuan investasi yang prospektif dan berorientasi pada kemitraan jangka panjang.

Pandangan positif juga disampaikan oleh Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey. Ia memandang bahwa pertemuan antara kedua pemimpin negara menjadi tonggak penting dalam memperdalam hubungan bilateral. Peningkatan status kerja sama menjadi kemitraan strategis dinilai sebagai refleksi kesamaan visi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Kunjungan ke Amerika Serikat turut memperluas cakupan kolaborasi Indonesia dengan mitra global utama. Pemerintah memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperkenalkan berbagai peluang investasi di sektor prioritas, termasuk hilirisasi industri, energi, dan pengembangan infrastruktur. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa diplomasi Presiden Prabowo tidak bersifat sporadis, melainkan dirancang sebagai rangkaian strategi terpadu untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Pemerintah menegaskan bahwa setiap kerja sama internasional harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Oleh karena itu, kolaborasi yang dibangun tidak hanya berfokus pada peningkatan nilai perdagangan, tetapi juga transfer teknologi, pengembangan kapasitas industri lokal, serta peningkatan kualitas tenaga kerja. Strategi ini memastikan bahwa Indonesia tidak sekadar menjadi pasar, melainkan mitra produksi yang setara dalam rantai nilai global.

Penguatan kemitraan strategis juga mempertegas komitmen pemerintah terhadap prinsip pembangunan berkelanjutan. Investasi yang masuk diarahkan pada sektor-sektor produktif yang mendukung transformasi ekonomi jangka panjang. Dengan demikian, diplomasi luar negeri berjalan seiring dengan agenda reformasi struktural di dalam negeri.

Kunjungan kerja Presiden Prabowo menunjukkan bahwa pemerintah bergerak proaktif dalam menjawab dinamika global yang semakin kompleks. Di tengah persaingan ekonomi internasional, Indonesia tampil sebagai negara dengan prospek pertumbuhan yang solid dan arah kebijakan yang konsisten. Stabilitas domestik menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan mitra luar negeri.

Langkah diplomasi yang ditempuh pemerintah juga memperkuat posisi tawar Indonesia dalam forum internasional. Dengan memperluas jejaring kemitraan strategis, Indonesia memiliki ruang yang lebih luas untuk memperjuangkan kepentingan nasional dalam berbagai isu global. Pendekatan ini mencerminkan kebijakan luar negeri yang adaptif tanpa meninggalkan prinsip kedaulatan dan kepentingan rakyat.

Secara keseluruhan, kunjungan kerja Presiden Prabowo ke Amerika Serikat dan Inggris menjadi bukti bahwa pemerintah serius membangun kolaborasi strategis jangka panjang. Sinergi antara investasi, penguatan industri, dan pengembangan sumber daya manusia dirancang untuk mempercepat transformasi ekonomi nasional. Diplomasi yang dijalankan tidak hanya mempererat hubungan antarnegara, tetapi juga memperkokoh fondasi Indonesia menuju negara maju yang berdaya saing tinggi.

Melalui langkah yang terukur dan konsisten, pemerintah menunjukkan bahwa kolaborasi internasional merupakan bagian integral dari strategi pembangunan nasional. Dukungan dari berbagai pemangku kepentingan semakin memperkuat optimisme bahwa arah kebijakan yang ditempuh berada pada jalur yang tepat. Indonesia pun semakin mantap membangun kemitraan global yang memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat dan masa depan bangsa.

*) Jurnalis Senior Bidang Politik dan Perdagangan Global