Praktisi Media Tekankan Etika Jurnalistik demi Resiliensi Media di Era AI

Jakarta – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mendorong transformasi besar dalam industri media. Di tengah meningkatnya pemanfaatan AI di ruang redaksi, berbagai kalangan menilai penguatan peran jurnalis, etika jurnalistik, dan budaya verifikasi menjadi fondasi utama agar media tetap kredibel sekaligus mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi.

Praktisi media Anggi Oktarinda mengatakan, industri media saat ini masih terus mencari formulasi ideal dalam memanfaatkan AI tanpa mengurangi peran utama jurnalis sebagai penjaga kualitas informasi.

“Media masih mencari formulasi ideal untuk membagi peran dengan AI, mana yang boleh dikerjakan AI dan mana yang harus tetap menjadi ranah manusia,” kata Anggi dalam pemaparannya mengenai hasil riset penggunaan AI di Jakarta.

Menurut Anggi, AI kini telah digunakan hampir di seluruh rantai produksi jurnalistik. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut tetap harus dibatasi oleh prinsip-prinsip jurnalistik.

“Jurnalisme itu sarat nilai, norma, dan etika. Ketika bertemu dengan sistem otomatis yang tidak memiliki pertimbangan moral, muncul banyak pertanyaan mengenai batas penggunaannya,” ujarnya.

Anggi menilai langkah Dewan Pers menerbitkan Pedoman Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Karya Jurnalistik pada Januari 2025 menjadi pijakan penting bagi industri media.

“Batasnya bukan ketika AI mampu melakukan pekerjaan kita, tetapi ketika kita berhenti memahami pekerjaan kita sendiri dan terlalu banyak menyerahkannya kepada AI,” tegas Anggi.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Media Seputar Papua, Misbah Latuapo. Menurutnya, di tengah derasnya arus informasi digital dan berkembangnya teknologi AI, budaya verifikasi justru semakin penting untuk mencegah penyebaran informasi yang keliru.

“Di era digital saat ini, tanggung jawab menyampaikan informasi yang benar bukan hanya berada di tangan jurnalis profesional, tetapi juga seluruh masyarakat yang aktif menggunakan media sosial. Karena itu, budaya verifikasi harus menjadi kebiasaan bersama sebelum membagikan informasi kepada publik,” ujar Misbah.

Ia mengingatkan bahwa AI memang dapat mempercepat akses terhadap informasi, namun hasil yang dihasilkan teknologi tersebut tetap memerlukan proses pengecekan melalui sumber yang kredibel.

“AI hanyalah alat bantu. Informasi yang dihasilkan tetap harus diuji, diperiksa sumbernya, dan dibandingkan dengan data lain yang dapat dipertanggungjawabkan. Jangan sampai teknologi justru membuat kita malas melakukan pengecekan fakta,” katanya.

Misbah juga menegaskan bahwa perbedaan utama antara jurnalis profesional dan jurnalis warga terletak pada proses verifikasi serta kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik.

“Citizens journalism memiliki peran penting dalam mendokumentasikan peristiwa, namun sering kali belum melalui proses verifikasi yang memadai,” ujarnya.

Di sisi lain, Anggota Komisi II DPR RI Azis Subekti menilai penguatan literasi digital, etika informasi, serta media yang profesional merupakan bagian penting dalam membangun kedaulatan digital Indonesia di era kecerdasan buatan.

“Indonesia tidak boleh anti dunia, tetapi juga tidak boleh lugu di hadapan dunia. Keterbukaan harus disertai kemampuan mengatur diri,” kata Azis.

Berbagai pandangan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan AI tidak harus dipandang sebagai ancaman bagi industri media. Dengan penguatan etika jurnalistik, budaya verifikasi, peningkatan literasi digital, serta penegasan posisi AI sebagai alat bantu, transformasi teknologi justru dapat memperkuat resiliensi media sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap produk jurnalistik.

Literasi Digital Perkuat Advokasi Berbasis Data untuk Pembangunan Papua

Papua – Penguatan resiliensi media melalui peningkatan literasi digital, budaya verifikasi informasi, dan advokasi berbasis data dinilai menjadi langkah strategis dalam mendukung pembangunan Papua yang lebih konstruktif. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), masyarakat diharapkan semakin bijak dalam menyaring informasi agar ruang digital tetap menjadi sarana edukasi, kolaborasi, dan pembangunan.

Direktur Media Seputar Papua, Misbah Latuapo, menegaskan bahwa kemampuan masyarakat dalam memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya merupakan bagian penting dari upaya membangun ekosistem informasi yang sehat. Menurutnya, tanggung jawab menjaga kualitas informasi tidak hanya berada di tangan jurnalis profesional, tetapi juga seluruh pengguna media sosial yang berperan sebagai penyebar informasi di ruang digital.

“Di era digital saat ini, budaya verifikasi harus menjadi kebiasaan bersama. Setiap informasi perlu dipastikan kebenarannya sebelum disebarluaskan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun dampak negatif di tengah masyarakat,” ujar Misbah.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi AI memberikan berbagai kemudahan dalam memperoleh informasi, namun hasil yang dihasilkan tetap memerlukan proses verifikasi melalui sumber-sumber yang kredibel. Karena itu, masyarakat didorong untuk memanfaatkan teknologi secara bijaksana dengan tetap mengedepankan ketelitian dan berpikir kritis.

Menurut Misbah, penguatan literasi digital juga akan mendukung peningkatan kualitas advokasi publik di Papua. Organisasi kepemudaan, komunitas masyarakat sipil, maupun berbagai aktor lokal diharapkan membangun setiap advokasi berdasarkan riset yang kredibel, data yang valid, dan komunikasi publik yang bertanggung jawab sehingga mampu memberikan masukan yang konstruktif bagi proses pembangunan.

Ia juga menekankan bahwa media sosial seharusnya dimanfaatkan sebagai ruang edukasi dan penyebaran informasi yang membawa manfaat bagi masyarakat, bukan sekadar mengejar popularitas. “Setiap informasi yang dipublikasikan hendaknya memberikan nilai tambah, mendorong penyelesaian persoalan, serta memperkuat partisipasi masyarakat dalam pembangunan Papua,” katanya.

Misbah turut mendorong kolaborasi antara media, pemerintah daerah, akademisi, lembaga riset, dan organisasi masyarakat sipil untuk memperkuat budaya riset dan verifikasi informasi. Sinergi tersebut diyakini akan memperkuat resiliensi media, meningkatkan kualitas advokasi berbasis data, serta mendukung lahirnya kebijakan publik yang semakin responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Dengan ekosistem informasi yang akurat, kredibel, dan bertanggung jawab, pembangunan Papua diharapkan dapat berlangsung secara lebih inklusif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat yang luas bagi seluruh masyarakat.

Penguatan Ekosistem Media Dukung Pembangunan dan Informasi Berkualitas di Papua

Sorong – Upaya memperkuat ekosistem pers sebagai penopang pembangunan dan penyedia informasi berkualitas di Tanah Papua terus didorong oleh pemerintah. Salah satu langkah yang ditempuh ialah melalui penyusunan desain implementasi Policy Sandbox Penguatan Pers dan Media Massa di Papua Barat Daya, yang dibahas bersama pemerintah daerah, insan pers, akademisi, organisasi profesi, serta pelaku usaha.

Melalui pendekatan tersebut, pemerintah berupaya merumuskan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan daerah sekaligus mampu menjawab tantangan industri media di Papua.

Direktur Ideologi, Kebangsaan, Politik, dan Demokrasi Kementerian PPN/Bappenas, Nuzula Anggeraini, menegaskan bahwa penguatan pers tidak hanya berkaitan dengan keberlangsungan industri media, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi demokrasi dan pembangunan.

“Pers dan media massa adalah bagian penting dari ekosistem demokrasi. Penguatan media berkualitas menjadi prasyarat agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat, sehingga pembangunan dapat berjalan optimal,” kata Nuzula.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi media di Papua Barat Daya meliputi keterbatasan kapasitas sumber daya manusia, tuntutan transformasi digital, minimnya infrastruktur teknologi, keberlanjutan bisnis perusahaan pers, hingga peningkatan profesionalisme jurnalistik. Karena itu, kebijakan yang disusun harus mempertimbangkan karakteristik masing-masing daerah.

“Setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda. Karena itu, kebijakan tidak bisa sepenuhnya disusun dari pusat, tetapi harus berbasis pada kondisi riil di daerah,” ujarnya.

Penjabat Sekretaris Daerah Papua Barat Daya, Yakob Kareth, mengatakan media memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi pembangunan kepada masyarakat sekaligus membangun ruang publik yang sehat dan partisipatif.

“Media memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi pembangunan kepada masyarakat. Lebih dari itu, pers juga menjadi mitra pemerintah dalam membangun ruang publik yang sehat dan partisipatif,” ungkapnya.

Selain penguatan kompetensi jurnalis dan profesionalisme perusahaan pers, pembahasan juga menyoroti pentingnya membangun model bisnis media yang lebih berkelanjutan agar tidak hanya bergantung pada belanja iklan pemerintah. Diversifikasi sumber pendapatan dipandang penting untuk memperkuat kemandirian media sekaligus menjaga independensi redaksi.

Rekomendasi yang dihasilkan melalui penyusunan Policy Sandbox diharapkan menjadi dasar lahirnya kebijakan yang mampu memperkuat ekosistem pers yang profesional, independen, dan berkelanjutan.

Dewan Pers Perkuat Perlindungan Publik melalui Standar Verifikasi Media

Jakarta – Penguatan standar verifikasi media oleh Dewan Pers dinilai menjadi langkah penting untuk melindungi masyarakat dari informasi menyesatkan di tengah pesatnya perkembangan media digital. Verifikasi tidak sekadar menjadi persyaratan administratif, tetapi merupakan instrumen untuk memastikan perusahaan pers menjalankan praktik jurnalistik secara profesional, kredibel, dan bertanggung jawab.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kalimantan Selatan, Muhamad Muslim, mengatakan seluruh pengelola media, pimpinan perusahaan pers, hingga jurnalis perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai pentingnya verifikasi Dewan Pers.

“Penting sebenarnya bagi seluruh pimpinan media maupun para jurnalis, termasuk kami di pemerintahan, untuk mendapatkan perspektif terkait perlunya verifikasi Dewan Pers terhadap seluruh media,” ujar Muslim.

Menurutnya, verifikasi memberikan kepastian regulasi yang menjadi acuan dalam pengambilan keputusan, termasuk bagi pemerintah daerah saat menjalin kemitraan dengan perusahaan media. Di tengah munculnya media yang belum memenuhi standar perusahaan pers, ia mendorong seluruh pengelola media untuk memenuhi ketentuan yang berlaku agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat dapat dipertanggungjawabkan.

Muslim menegaskan bahwa tujuan utama penerapan standar verifikasi dan kode etik jurnalistik adalah memberikan perlindungan kepada masyarakat sebagai penerima informasi.

“Muaranya adalah melindungi masyarakat yang menerima informasi atau berita. Karena kemampuan literasi masyarakat berbeda-beda, maka apa yang disampaikan media harus benar-benar diperhatikan agar dapat memberikan edukasi yang baik kepada masyarakat,” katanya.

Praktisi media Anggi Oktarinda menambahkan bahwa perkembangan teknologi di ruang redaksi harus tetap diimbangi dengan kepatuhan terhadap etika jurnalistik. Menurutnya, inovasi tidak boleh mengurangi tanggung jawab media dalam menyajikan informasi yang akurat dan dapat dipercaya.

“Jurnalisme itu sarat nilai, norma, dan etika. Ketika bertemu dengan sistem otomatis yang tidak memiliki pertimbangan moral, muncul banyak pertanyaan mengenai batas penggunaannya,” ujar Anggi.

Ia menilai pedoman yang disusun Dewan Pers menjadi rambu penting agar setiap perkembangan teknologi tetap berpijak pada prinsip transparansi, akurasi, dan akuntabilitas. Dengan penguatan standar verifikasi media, Dewan Pers dinilai semakin memperkuat perlindungan publik sekaligus menjaga kualitas informasi yang diterima masyarakat.

Kurangi Ketergantungan Impor Pemerintah Lakukan Hilirisasi di Sektor Pertanian

Jakarta — Pemerintah terus memperkuat hilirisasi sektor pertanian untuk meningkatkan nilai tambah komoditas nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor. Komoditas strategis seperti kedelai, bawang putih, kakao, pakan ternak, dan pupuk menjadi fokus pengembangan guna memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan daya saing, serta mendorong pertumbuhan industri berbasis pertanian.

Hilirisasi dilakukan melalui pengembangan rantai produksi yang terintegrasi, mulai dari budidaya hingga pengolahan. Pada komoditas kedelai dan bawang putih, pemerintah mendorong peningkatan produksi dalam negeri melalui penggunaan benih unggul, perluasan areal tanam, pemanfaatan teknologi modern, serta penguatan kemitraan dengan industri agar ketergantungan terhadap impor dapat terus ditekan.

Komitmen Kementerian Pertanian dalam memperkuat hilirisasi dan meningkatkan daya saing komoditas perkebunan juga diwujudkan melalui kolaborasi riset dan inovasi. Salah satu hasilnya adalah lahirnya lima varietas unggul baru kakao yang siap dikembangkan secara luas untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kakao nasional.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa riset dan inovasi merupakan kunci untuk mempercepat transformasi sektor pertanian menuju swasembada pangan yang berkelanjutan sekaligus mendorong hilirisasi komoditas strategis nasional.

“Hasil-hasil penelitian yang telah dihasilkan para peneliti harus segera dihilirisasikan dan dimanfaatkan secara luas agar memberikan dampak nyata bagi petani dan perekonomian nasional.” Kata Mentan Amran.

Selain kakao, pemerintah juga memperkuat industri pakan dan pupuk melalui pemanfaatan bahan baku lokal serta pengembangan pupuk berbasis sumber daya dalam negeri. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan nilai tambah produk pertanian, serta menjadikan sektor pertanian sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Peneliti komoditas kakao, Rubiyo, mengatakan bahwa dalam pertemuan kolaborasi antara Kementerian Pertanian dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan perhatian khusus terhadap inovasi yang dihasilkan para peneliti, khususnya yang mendukung program hilirisasi pertanian.

“Pak Menteri menanyakan apakah ada inovasi teknologi yang dihasilkan dari penelitian yang dahulu berasal dari Kementerian Pertanian. Saya sampaikan bahwa kami telah menghasilkan lima varietas unggul baru kakao yang siap dikembangkan dan dapat memberikan dukungan terhadap program hilirisasi kakao yang saat ini sedang didorong oleh Kementerian Pertanian,” kata Rubiyo.

Pengembangan kakao menjadi bagian penting dari agenda hilirisasi nasional karena Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan ekspor produk olahan seperti cocoa butter, cocoa powder, dan cokelat bernilai tambah dibandingkan hanya mengekspor biji kakao. (*)

Hilirisasi Pertanian Dipercepat untuk Tekan Impor Komoditas Strategis

Jakarta – Pemerintah mempercepat hilirisasi komoditas pertanian strategis sebagai langkah memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor. Kebijakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian, memperkuat industri pangan nasional, serta mendorong kesejahteraan petani melalui penguatan peran BUMN pangan dan pemanfaatan inovasi teknologi.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah tengah mematangkan Rancangan Instruksi Presiden tentang Percepatan Hilirisasi Komoditas Pertanian Strategis beserta penugasan khusus kepada BUMN pangan. Menurutnya, transformasi tersebut menjadi fondasi bagi terbentuknya ekosistem pangan nasional yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

“Intinya bagaimana restrukturisasi benar-benar tertata. Kita selesaikan persoalan yang ada sehingga BUMN pangan semakin kuat dan mampu menjadi tulang punggung pembangunan sektor pangan nasional,” kata Amran.

Ia menjelaskan percepatan hilirisasi tidak hanya bergantung pada regulasi, tetapi juga komitmen seluruh BUMN pangan untuk memperbaiki tata kelola, menyelesaikan hambatan, serta menjalankan program secara terukur. Pemerintah juga menyiapkan penguatan pembiayaan, optimalisasi aset, dan sinkronisasi program agar setiap komoditas strategis memiliki rantai nilai yang lebih efisien.

“Yang mana BUMN pangan menjadi motor penggerak hilirisasi, meningkatkan daya saing produk pertanian nasional, memperluas nilai tambah di dalam negeri, serta memperbesar manfaat ekonomi yang diterima petani Indonesia,” ujarnya.

Selain memperkuat kelembagaan, pemerintah juga mendorong percepatan hilirisasi hasil riset perguruan tinggi agar lebih cepat diterapkan di sektor pertanian. Kementerian Pertanian membuka peluang pembelian langsung berbagai inovasi yang telah siap digunakan, mulai dari benih unggul hingga teknologi pertanian modern untuk meningkatkan produktivitas nasional.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan pihaknya siap menginventarisasi berbagai hasil penelitian unggulan dari perguruan tinggi sebagai tindak lanjut kerja sama dengan Kementerian Pertanian. Menurutnya, sinergi tersebut akan mempercepat pemanfaatan inovasi kampus bagi kebutuhan petani dan industri pangan.

“Bapak Menteri Pertanian menantang perguruan tinggi untuk menunjukkan penelitian yang sudah berjalan dan siap dihilirisasi. Beliau meminta daftar produk inovasi, baik teknologi presisi maupun alat-alat pertanian modern, yang dapat didukung atau bahkan langsung dibeli oleh Kementerian Pertanian,” kata Brian.

Melalui penguatan BUMN pangan dan percepatan hilirisasi riset, pemerintah berharap produksi dalam negeri semakin kompetitif, mampu menekan impor komoditas strategis, serta memperkuat kemandirian pangan nasional dalam jangka panjang. (*)

Hilirisasi Pertanian sebagai Jalan Ganda: Kurangi Impor, Naikkan Ekspor

Oleh : Lailani Fitri

Sektor pertanian selama ini menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional sekaligus fondasi ketahanan pangan Indonesia. Di tengah dinamika ekonomi global, perubahan iklim, serta tantangan rantai pasok internasional, penguatan sektor pertanian tidak lagi cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Indonesia membutuhkan transformasi yang lebih menyeluruh melalui hilirisasi pertanian agar setiap komoditas yang dihasilkan mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi petani, industri, dan negara. Hilirisasi pertanian menjadi jalan ganda yang strategis karena tidak hanya mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor, tetapi juga meningkatkan daya saing produk nasional di pasar ekspor.

Selama bertahun-tahun, Indonesia masih menghadapi tantangan berupa tingginya ketergantungan terhadap sejumlah komoditas pangan tertentu. Kebutuhan terhadap kedelai, bawang putih, maupun beberapa komoditas strategis lainnya masih belum sepenuhnya dipenuhi dari produksi dalam negeri. Kondisi tersebut menyebabkan Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga global, gangguan distribusi internasional, serta perubahan kebijakan negara pemasok. Oleh karena itu, upaya memperkuat produksi nasional harus berjalan beriringan dengan pengembangan inovasi dan hilirisasi agar komoditas dalam negeri memiliki produktivitas, kualitas, dan nilai ekonomi yang semakin tinggi.

Langkah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang mengumpulkan civitas akademika Universitas Gadjah Mada untuk memperkuat kolaborasi inovasi dan hilirisasi pertanian menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun ekosistem pertanian yang modern dan berkelanjutan. Pertemuan yang melibatkan rektor, dekan, guru besar, peneliti, hingga mahasiswa klaster agro tersebut mencerminkan kesadaran bahwa pembangunan pertanian memerlukan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha menjadi faktor penting dalam menghadirkan solusi yang mampu menjawab tantangan sektor pertanian nasional.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam melahirkan inovasi yang mampu mempercepat transformasi pertanian modern. Pandangan tersebut sangat relevan karena kampus merupakan pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sumber daya manusia unggul. Berbagai hasil penelitian yang selama ini dihasilkan oleh perguruan tinggi memiliki potensi besar untuk diterapkan secara nyata dalam mendukung peningkatan produktivitas dan efisiensi sektor pertanian.

Hilirisasi pertanian pada dasarnya bukan sekadar mengolah hasil panen menjadi produk setengah jadi atau produk jadi. Hilirisasi merupakan proses panjang yang mencakup penguatan riset, penerapan teknologi, modernisasi budidaya, peningkatan kualitas hasil produksi, pengembangan industri pengolahan, hingga perluasan akses pasar. Melalui hilirisasi, komoditas pertanian tidak lagi dijual dalam bentuk bahan mentah dengan nilai ekonomi rendah, melainkan menjadi produk yang memiliki daya saing lebih tinggi baik di pasar domestik maupun internasional.

Salah satu contoh nyata yang didorong pemerintah adalah pengembangan komoditas kedelai dan bawang putih. Kedua komoditas tersebut memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional. Dengan dukungan riset, inovasi benih, teknologi budidaya, serta penguatan industri pengolahan, produksi nasional dapat ditingkatkan sehingga ketergantungan terhadap impor secara bertahap dapat dikurangi. Ketika produktivitas meningkat dan kualitas produk semakin baik, Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga berpeluang memasuki pasar ekspor yang lebih luas.

Selain tanaman pangan dan hortikultura, hilirisasi juga memiliki potensi besar pada sektor peternakan. Menanggapi hal ini, pemerintah telah mendorong pengembangan teknologi semen beku serta persilangan sapi Belgian Blue dengan Brahman guna menghasilkan ternak yang lebih produktif. Langkah tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi tidak terbatas pada pengolahan hasil panen, tetapi juga mencakup penerapan teknologi untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas komoditas peternakan.

Transformasi pertanian melalui teknologi juga menjadi bagian penting dalam agenda hilirisasi nasional. Penerapan sistem budidaya modern, penggunaan drone pertanian, mekanisasi, serta digitalisasi proses produksi terbukti mampu meningkatkan efisiensi usaha tani. Model budidaya padi modern yang diperkenalkan Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa teknologi dapat membantu petani menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan pendapatan. Efisiensi semacam ini menjadi faktor penting dalam membangun sektor pertanian yang kompetitif di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Sementara itu, Rektor UGM Prof. Ova Emilia menyatakan kesiapan institusinya untuk mendukung agenda pembangunan pertanian nasional melalui riset, inovasi, dan kolaborasi lintas disiplin. Komitmen tersebut menunjukkan bahwa sinergi antara dunia akademik dan pemerintah semakin kuat dalam mendorong lahirnya inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Keterlibatan kampus akan mempercepat proses transfer teknologi sekaligus memastikan bahwa hasil penelitian benar-benar menjawab kebutuhan lapangan.

Hilirisasi pertanian merupakan strategi yang sangat relevan dalam mewujudkan ketahanan pangan sekaligus memperkuat perekonomian nasional. Melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan petani, Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun sektor pertanian yang modern, produktif, dan berdaya saing global. Dengan memperkuat hilirisasi dari hulu hingga hilir, ketergantungan terhadap impor dapat ditekan secara bertahap, sementara potensi ekspor semakin terbuka lebar. Hilirisasi pertanian bukan hanya tentang meningkatkan nilai tambah komoditas, tetapi juga tentang menciptakan masa depan pertanian Indonesia yang mandiri, sejahtera, dan mampu menjadi kekuatan ekonomi di tingkat global.
*Penulis adalah Pengamat Ekonomi

Dari Riset Kampus ke Ladang Rakyat: Hilirisasi Pertanian yang Konkret

Oleh: Yusuf Rinaldi)*

Indonesia memasuki fase baru dalam pembangunan sektor pertanian dengan mengedepankan hilirisasi sebagai strategi utama untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memperkuat daya saing nasional. Setelah berhasil mencatat berbagai capaian dalam peningkatan produksi pangan, pemerintah kini mengarahkan fokus pembangunan menuju penguatan industri berbasis hasil pertanian agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat, khususnya petani.

Keberhasilan pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan menjadi fondasi penting bagi pelaksanaan agenda hilirisasi. Berbagai komoditas strategis seperti beras, jagung, cabai, bawang merah, gula konsumsi, minyak goreng, daging ayam, dan telur menunjukkan perkembangan yang semakin menggembirakan. Tingginya cadangan beras pemerintah turut mencerminkan semakin kokohnya fondasi ketahanan pangan nasional sebagai hasil sinergi antara pemerintah, petani, perguruan tinggi, aparat, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam pembangunan sektor pertanian.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa keberhasilan memperkuat swasembada pangan menjadi modal besar untuk membawa sektor pertanian memasuki tahap pembangunan yang lebih maju melalui hilirisasi. Menurutnya, pemerintah kini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga memastikan setiap komoditas memiliki rantai nilai yang lebih panjang sehingga mampu meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, memperluas kesempatan kerja, memperkuat industri nasional, serta meningkatkan kesejahteraan petani. Ia juga menilai bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen bangsa yang terus memperkuat sektor pertanian secara berkelanjutan.

Komoditas kelapa menjadi salah satu contoh besarnya potensi hilirisasi nasional. Sebagai salah satu produsen kelapa terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan berbagai produk turunan seperti virgin coconut oil (VCO), santan, coconut milk, arang aktif, serat kelapa, hingga beragam produk industri lainnya. Pengembangan rantai nilai tersebut diyakini mampu mendorong investasi, memperkuat industri berbasis daerah, menciptakan lapangan kerja baru, serta meningkatkan pendapatan petani. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kekayaan sumber daya alam Indonesia dapat dioptimalkan menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.

Dalam mendukung agenda tersebut, pemerintah terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kerja sama dengan Universitas Halu Oleo, Universitas Gadjah Mada, dan berbagai perguruan tinggi lainnya menjadi bagian dari strategi mempercepat lahirnya inovasi yang dapat diterapkan langsung di lapangan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memandang perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam menghasilkan teknologi, inovasi, dan sumber daya manusia unggul yang akan menentukan masa depan pertanian Indonesia. Menurutnya, kekayaan sumber daya alam harus dipadukan dengan kualitas sumber daya manusia agar mampu melahirkan kekuatan ekonomi berbasis pangan dan agroindustri yang semakin kompetitif.

Pemerintah juga terus mendorong perubahan paradigma penelitian di lingkungan akademik. Hasil riset diharapkan tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, melainkan mampu memberikan solusi nyata bagi kebutuhan petani dan pengembangan industri nasional. Melalui pendekatan triple helix yang mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha, berbagai hasil penelitian memiliki peluang lebih besar berkembang menjadi teknologi maupun produk yang bernilai ekonomi tinggi. Kolaborasi tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem inovasi yang mampu mempercepat transformasi sektor pertanian Indonesia.

Sejalan dengan hal tersebut, Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. Ova Emilia memandang kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi sebagai momentum strategis untuk memperkuat kontribusi dunia akademik terhadap pembangunan pertanian nasional. Menurutnya, keterlibatan para peneliti, guru besar, dosen, mahasiswa, dan pusat-pusat studi dalam berbagai program bersama Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa transformasi pertanian membutuhkan sinergi lintas disiplin. Ia juga menegaskan kesiapan Universitas Gadjah Mada untuk terus mendukung agenda pembangunan pertanian melalui riset, inovasi, dan kolaborasi yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat serta pembangunan nasional.

Komitmen tersebut semakin diperkuat melalui berbagai inovasi yang terus dikembangkan. Pengembangan riset kedelai dan bawang putih diarahkan untuk memperkuat produksi nasional sekaligus meningkatkan kemandirian pangan. Di sektor peternakan, pengembangan teknologi semen beku dan program persilangan sapi unggul diharapkan mampu meningkatkan produktivitas ternak nasional. Selain itu, inovasi Benwit atau bensin sawit hasil penelitian Institut Teknologi Sepuluh Nopember menjadi contoh nyata bahwa riset perguruan tinggi mampu berkembang menjadi teknologi strategis yang mendukung hilirisasi, memperkuat pemanfaatan sumber daya dalam negeri, serta memberikan kontribusi terhadap ketahanan energi nasional.

Transformasi sektor pertanian melalui hilirisasi mencerminkan keseriusan pemerintah dalam membangun sistem pertanian yang modern, inovatif, dan berdaya saing tinggi. Kebijakan tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga membangun ekosistem yang menghubungkan riset, teknologi, investasi, industri, dan petani dalam satu rantai nilai yang saling menguatkan.

Penguatan hilirisasi diyakini akan semakin memperkokoh ketahanan pangan nasional, meningkatkan kesejahteraan petani, memperluas kesempatan kerja, mendorong tumbuhnya industri berbasis komoditas lokal, serta meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global. Sinergi yang terus dibangun antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat menjadi modal penting dalam mewujudkan sektor pertanian yang maju, mandiri, modern, dan memberikan nilai tambah yang semakin besar bagi pembangunan ekonomi nasional secara berkelanjutan.

)*Penulis Merupakan Pengamat Ekonomi

Pemerintah Siapkan Beasiswa Doktor, Kaji Skema Dana Riset dari Keuntungan BUMN

Jakarta – Pemerintah menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat ekosistem pendidikan tinggi dan riset nasional melalui perluasan beasiswa doktor bagi dosen serta pengkajian skema pendanaan riset yang bersumber dari sebagian keuntungan badan usaha milik negara (BUMN). Inisiatif tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sumber daya manusia unggul sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.

Presiden Prabowo Subianto, menyatakan pemerintah memberikan perhatian serius terhadap berbagai usulan yang disampaikan kalangan akademisi terkait penguatan pendidikan tinggi dan riset nasional. Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia harus menjadi investasi jangka panjang yang didukung pembiayaan berkelanjutan. “Saya kira usulan-usulan ini sangat baik dan akan kita pelajari serta tindak lanjuti untuk kepentingan pembangunan bangsa,” ujar Presiden saat menerima masukan dari para guru besar dan pimpinan perguruan tinggi.

Presiden Prabowo juga menyambut positif gagasan agar sebagian keuntungan BUMN dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pendanaan riset nasional. Menurutnya, riset dan inovasi merupakan fondasi penting dalam mempercepat transformasi ekonomi menuju negara maju. “Kalau riset kita kuat, maka daya saing bangsa juga akan semakin kuat,” tegasnya.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menjelaskan bahwa pemerintah akan mengkaji berbagai usulan tersebut secara komprehensif sebelum dituangkan dalam kebijakan. Ia menyebut perluasan beasiswa doktor merupakan salah satu langkah untuk meningkatkan jumlah dosen berkualifikasi tinggi dan memperkuat kapasitas riset nasional. “Usulan yang disampaikan akan kami kaji secara menyeluruh dan dilaporkan kepada Presiden sebagai bahan penyusunan kebijakan,” jelasnya.

Brian menambahkan bahwa keberlanjutan pendanaan riset menjadi faktor penting dalam mendorong lahirnya inovasi yang mampu menjawab kebutuhan industri dan masyarakat. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan BUMN perlu terus diperkuat agar hasil penelitian dapat memberikan manfaat nyata bagi pembangunan nasional. “Ekosistem riset yang kuat memerlukan sinergi semua pihak agar inovasi dapat berkembang dan memberi dampak bagi masyarakat,” ungkapnya.

Melalui penguatan beasiswa doktor dan penyusunan skema pendanaan riset yang berkelanjutan, pemerintah optimistis kualitas sumber daya manusia Indonesia akan semakin meningkat. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi dan riset yang mampu menghasilkan inovasi, meningkatkan daya saing bangsa, serta mendukung visi Indonesia sebagai negara maju.

Aspirasi Akademisi Ditindaklanjuti, Beasiswa Doktor dan Pendanaan Riset Nasional Disiapkan

JAKARTA – Pemerintah menunjukkan komitmen untuk menindaklanjuti berbagai aspirasi yang disampaikan kalangan akademisi dalam Sarasehan Kebangsaan dengan memperkuat kebijakan di bidang pendidikan tinggi, riset, dan pengembangan sumber daya manusia. Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa seluruh rekomendasi yang disampaikan para akademisi tidak akan berhenti sebagai bahan diskusi, melainkan akan menjadi bagian dari proses penyempurnaan kebijakan pemerintah. “Saya ingin memastikan setiap usulan yang disampaikan mendapat perhatian dan akan kami telaah satu per satu sebagai bagian dari penyempurnaan kebijakan pemerintah.” Ujar Prabowo.

Prabowo menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghasilkan gagasan dan inovasi berbasis ilmu pengetahuan. Karena itu, pemerintah akan terus membuka ruang dialog dengan kalangan akademisi agar setiap kebijakan yang dirumuskan memiliki landasan ilmiah yang kuat. Selain memperkuat riset, pemerintah juga memberikan perhatian terhadap hilirisasi hasil penelitian sehingga tidak berhenti sebagai karya ilmiah, tetapi berkembang menjadi teknologi, produk, maupun inovasi yang memiliki nilai tambah bagi pembangunan nasional. Prabowo Subianto menegaskan, “Banyak gagasan yang saya nilai relevan dan realistis untuk dikembangkan. Pemerintah akan berupaya menindaklanjuti usulan-usulan tersebut sesuai kemampuan dan kebutuhan nasional.”

Komitmen tersebut sejalan dengan langkah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang kembali membuka Program Beasiswa Program Doktor untuk Dosen Indonesia (BPDDI) Tahun 2026. Program ini dirancang untuk meningkatkan jumlah dosen bergelar doktor sekaligus memperkuat kapasitas riset, sains, dan inovasi nasional. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan bahwa peningkatan kualitas dosen merupakan investasi penting bagi kemajuan pendidikan tinggi Indonesia. Brian Yuliarto mengatakan, “Dosen adalah aset terbesar dari pendidikan tinggi dan tentu kita berharap dosen tidak perlu menunggu lama bisa langsung segera kuliah.”

Program BPDDI 2026 menyediakan skema studi doktor di dalam negeri maupun joint degree atau dual degree melalui kerja sama dengan perguruan tinggi luar negeri. Selain menanggung biaya pendidikan, program tersebut juga memberikan dukungan penelitian, bantuan publikasi internasional, biaya hidup, transportasi, asuransi kesehatan, hingga fasilitas bagi dosen penyandang disabilitas.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Pembiayaan dan Asesmen Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek, Sandro Mihradi, menilai BPDDI menjadi instrumen strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia pendidikan tinggi. Sandro Mihradi mengatakan, “Harapannya ini dapat memberikan dampak untuk meningkatkan kapasitas riset, teknologi, dan sains serta mendorong inovasi dan hilirisasi.”