Swasembada Energi, Motor Efek Berganda bagi Kesejahteraan Rakyat

Oleh: Gilang Dwi Kusuma )*

Swasembada energi kembali mengemuka sebagai agenda strategis nasional yang relevan dengan tantangan zaman. Ketidakpastian global, gejolak geopolitik, dan fluktuasi harga energi dunia menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada pasokan luar negeri menyimpan risiko besar bagi stabilitas nasional. Dalam konteks tersebut, kebijakan pemerintah untuk memperkuat kemandirian energi patut dibaca sebagai langkah antisipatif sekaligus progresif. Energi bukan hanya urusan teknis produksi dan konsumsi, tetapi berkaitan langsung dengan daya saing ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Ketika energi dikelola secara mandiri, negara memiliki ruang lebih besar untuk melindungi kepentingan publik.

Presiden Prabowo Subianto, baru-baru ini, menyampaikan gagasan besar untuk memperluas lahan sawit sebagai bagian dari strategi menuju swasembada energi nasional. Gagasan ini mencerminkan keberanian pemerintah dalam memanfaatkan potensi domestik secara optimal. Sawit selama ini dikenal sebagai komoditas unggulan ekspor, namun perannya sebagai bahan baku bioenergi memiliki nilai strategis yang lebih luas. Dengan mengolah sawit menjadi energi terbarukan, Indonesia tidak hanya mengurangi impor energi fosil, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi berbasis sumber daya sendiri. Langkah ini menunjukkan bahwa swasembada energi dirancang sebagai kebijakan lintas sektor.

Dari sisi ilmiah dan ekologis, sawit memiliki karakteristik yang sering luput dari perhatian publik. Sawit mampu menyerap karbon dioksida dari udara dan mengubahnya menjadi biomassa dengan volume yang jauh lebih tinggi dibandingkan tanaman komersial lainnya. Biomassa tersebut tersimpan di akar, batang, dan daun, sehingga berkontribusi pada penyerapan karbon secara signifikan. Bahkan, hingga saat ini belum ada komoditas komersial lain yang laju fotosintesisnya melampaui sawit. Fakta ini memperkuat argumen bahwa sawit, jika dikelola secara ramah lingkungan dan berkelanjutan, dapat menjadi pilar swasembada energi sekaligus instrumen mitigasi perubahan iklim.

Tentu saja, rencana perluasan lahan sawit memunculkan perhatian dan diskursus publik, terutama terkait isu deforestasi. Pemerintah menegaskan bahwa perluasan tersebut tidak akan dilakukan dengan mengorbankan hutan alam. Komitmen ini menjadi krusial untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Swasembada energi tidak boleh dicapai dengan mengorbankan keberlanjutan jangka panjang. Justru di sinilah tantangan kebijakan diuji, yakni bagaimana menghadirkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, hijau, dan bertanggung jawab.

Di luar sektor bioenergi, industri hulu minyak dan gas bumi tetap memegang peran penting dalam agenda swasembada energi nasional. Pelaku industri migas berkomitmen untuk terus mendukung penguatan kapasitas nasional dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi. George N.M. Simanjuntak, Kepala Divisi Formalitas SKK Migas menegaskan bahwa kontribusi industri hulu migas tidak hanya tercermin dari produksi dan penerimaan negara. Dana Bagi Hasil dan Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat menjadi instrumen nyata yang menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat. Dengan demikian, sektor migas juga menciptakan efek berganda yang signifikan bagi perekonomian daerah.

Efek berganda inilah yang menjadikan swasembada energi relevan bagi kesejahteraan rakyat. Ketika industri energi tumbuh, lapangan kerja tercipta, usaha lokal berkembang, dan pendapatan masyarakat meningkat. Program sosial yang dijalankan industri migas turut memperkuat kapasitas masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi produktif. Hal ini menunjukkan bahwa swasembada energi bukan semata soal ketersediaan pasokan, tetapi juga distribusi manfaat. Energi menjadi alat pemerataan pembangunan ketika dikelola dengan kebijakan yang tepat.

Penguatan kapasitas nasional juga menjadi sorotan penting dalam sektor hulu migas. Kenneth Gunawan dari IPA Supply Chain Committee menekankan bahwa optimalisasi rantai pasok dalam negeri adalah kunci kemandirian. Saat ini, perusahaan nasional telah memegang peran signifikan dalam rantai pasok migas, sementara perusahaan asing difokuskan pada sektor yang membutuhkan teknologi tinggi. Pendekatan ini mencerminkan strategi realistis dan berimbang dalam membangun industri energi nasional. Dengan melibatkan pelaku domestik secara maksimal, nilai tambah ekonomi dapat dinikmati di dalam negeri.

Di tengah fase transisi energi, sektor hulu migas tetap memiliki peran krusial dalam menopang perekonomian dan ketahanan energi. Kenneth juga menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan energi dan agenda transisi energi. Transisi yang terlalu tergesa tanpa kesiapan dapat menimbulkan guncangan ekonomi, sementara stagnasi akan menghambat inovasi. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah yang mengedepankan keseimbangan patut diapresiasi. Swasembada energi harus dicapai dengan langkah bertahap, terukur, dan adaptif terhadap dinamika global.

Jika ditarik lebih luas, swasembada energi adalah motor penggerak efek berganda bagi perekonomian nasional. Kemandirian energi memperkuat stabilitas fiskal, mengurangi tekanan neraca perdagangan, dan meningkatkan daya saing industri. Pada saat yang sama, rakyat merasakan manfaat melalui harga energi yang lebih stabil dan akses yang lebih merata. Kebijakan Presiden Prabowo dalam memanfaatkan bioenergi sawit, memperkuat migas, dan mendorong kapasitas nasional menunjukkan pendekatan komprehensif. Ini bukan kebijakan sektoral, melainkan strategi pembangunan jangka panjang.

Keberhasilan swasembada energi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga dukungan masyarakat. Publik memiliki peran penting dalam mendukung langkah pemerintah dengan bersikap terbuka terhadap inovasi energi dan menggunakan energi secara bijak. Swasembada energi adalah upaya kolektif untuk meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan semata proyek negara.

*) Pengamat Energi Baru Terbarukan.

Sejumlah Unit Kampung Nelayan Merah Putih Telah Beroperasi

Jakarta – Sejumlah unit Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) kini telah beroperasi di berbagai daerah pesisir sebagai bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kesejahteraan nelayan. Kehadiran unit-unit tersebut diharapkan mampu memperkuat aktivitas ekonomi, memperbaiki rantai produksi perikanan, serta mendorong kemandirian masyarakat pesisir.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat sebanyak 19 unit KNMP telah selesai dibangun dan sudah beroperasi penuh. Pada tahap I pembangunan KMNP ini, pemerintah menargetkan sebanyak 65 KMNP telah terbangun pada Mei 2026.

Presiden Prabowo Subianto telah mencanangkan program strategis “Kampung Nelayan Merah Putih” untuk memodernisasi 12 juta kampung nelayan di seluruh Indonesia. Tak hanya infrastruktur, pemerintah juga memfasilitasi berbagai teknologi perikanan.

Dalam rencana besar ini, pemerintah berencana menyalurkan kapal penangkap ikan berukuran 5 gross tonnage (GT) hingga 30 GT guna meningkatkan kapasitas melaut dan kesejahteraan nelayan lokal. Presiden menargetkan setidaknya setiap desa nelayan nantinya mampu mengoperasikan satu unit kapal berukuran 30 GT.

“Kita sudah punya pilot project di Biak (Papua) yang telah terbukti meningkatkan hasil petani hampir 60 persen peningkatannya,” kata Presiden Prabowo.

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Humas dan Komunikasi Media, Doni Ismanto mengatakan dari 65 unit KMNP yang akan dibangun 19 unit rampung dan sisanya masih dalam proses pembangunan dengan progres 80 persen.

“Dari 65 titik yang kita bangun, 19 sudah selesai 100 persen dan beroperasi. Sisanya rata-rata progresnya sudah mencapai 80 persen,” ujar Doni.

Beberapa lokasi yang telah beroperasi penuh, yaitu Tolitoli, Bumiharjo, Pujiharjo, Lebetawi, Gebang Mekar, Karang Duwur, hingga Poncosari. KNMP Bentenge di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, mencatatkan prestasi membanggakan telah mengekspor hampir satu ton ikan segar ke Arab Saudi pada 9 Januari 2026 lalu.

“Sudah ada yang ekspor dari kawasan Indonesia Timur. Komoditasnya tergantung potensi masing-masing daerah,” ucapnya.

Danantara Jadi Instrumen Negara Perkuat Kedaulatan Investasi

Oleh: Bara Winatha )*

Perhatian publik terhadap arah pembangunan ekonomi nasional pada 2026 semakin menguat seiring hadirnya Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara sebagai sovereign wealth fund (SWF) Indonesia. Lembaga ini diproyeksikan menjadi instrumen utama negara dalam memperkuat kedaulatan investasi sekaligus memastikan pembiayaan proyek-proyek prioritas berjalan berkelanjutan. Salah satu langkah yang tengah dipertimbangkan adalah keterlibatan Danantara dalam struktur kepemilikan Bursa Efek Indonesia melalui skema demutualisasi guna memperdalam pasar keuangan domestik.

Di tengah fragmentasi ekonomi global, meningkatnya rivalitas geopolitik, serta kecenderungan proteksionisme di berbagai kawasan, kemampuan negara untuk menjaga kontrol terhadap sumber pembiayaan pembangunan menjadi semakin vital. Ketergantungan berlebihan pada modal jangka pendek berisiko menimbulkan volatilitas, terutama ketika sentimen pasar berubah cepat. Karena itu, kehadiran lembaga investasi negara seperti Danantara tidak hanya relevan, tetapi juga menjadi kebutuhan strategis untuk menjaga kesinambungan pembangunan.

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa tahun 2026 menjadi fase krusial bagi lembaga tersebut untuk meningkatkan kontribusi terhadap pembiayaan pembangunan. Setelah mulai aktif menempatkan investasi sejak Oktober 2025, Danantara bersiap memperbesar skala penanaman modal di berbagai sektor prioritas.

Menurut Rosan, penguatan peran Danantara tidak dimaksudkan menggantikan swasta, melainkan menjadi katalis yang mendorong kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan pelaku usaha. Keberhasilan menarik investasi, ujarnya, tetap sangat bergantung pada kepastian regulasi, kemudahan perizinan, serta konsistensi kebijakan ekonomi. Dalam konteks ini, Danantara diharapkan berfungsi sebagai jangkar keuangan yang menjaga arus investasi tetap stabil di tengah dinamika global.

Lebih jauh, sovereign wealth fund pada dasarnya merupakan instrumen yang banyak digunakan negara untuk mengelola kekayaan jangka panjang sekaligus meredam guncangan ekonomi. Sejumlah negara berhasil memanfaatkan skema ini untuk mempercepat transformasi struktural dan meningkatkan daya saing industri. Indonesia kini bergerak ke arah yang sama dengan menempatkan investasi negara sebagai bagian dari strategi besar menuju kemandirian ekonomi.

Optimisme tersebut sejalan dengan target pemerintah merealisasikan investasi sekitar Rp2.100 triliun pada 2026. Kehadiran Danantara diyakini dapat memperkuat basis penanaman modal domestik sekaligus meningkatkan kepercayaan investor asing terhadap prospek ekonomi Indonesia. Ketika modal dalam negeri menjadi fondasi utama, ruang gerak ekonomi nasional akan jauh lebih tahan terhadap tekanan eksternal.

Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Patria Sjahrir, mengungkapkan bahwa target penempatan dana investasi sepanjang 2026 mencapai sekitar 14 miliar dolar AS yang bersumber dari dividen perusahaan portofolio. Lonjakan ini, menurutnya, mencerminkan semakin matangnya strategi investasi serta kesiapan proyek yang akan dibiayai.

Dalam horizon 12 hingga 24 bulan mendatang, fokus investasi diarahkan ke sektor energi terbarukan dan transisi energi, infrastruktur digital, layanan kesehatan, ketahanan pangan, serta hilirisasi industri. Selain berpotensi menghasilkan imbal hasil finansial, sektor-sektor tersebut dinilai mampu menciptakan nilai tambah jangka panjang dan memperkuat struktur ekonomi nasional. Arah ini juga menunjukkan pergeseran paradigma pembangunan dari sekadar pertumbuhan menuju kualitas pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Sejumlah proyek telah disiapkan untuk memasuki tahap awal pembangunan. Di Kalimantan Barat, misalnya, tengah dikembangkan fasilitas peleburan aluminium dan produksi alumina guna memperkuat rantai nilai industri dari hulu ke hilir. Sementara di Cilacap, Jawa Tengah, direncanakan pengembangan bioavtur untuk mendukung transformasi energi di sektor penerbangan. Adapun fasilitas bioetanol di Banyuwangi ditujukan memperluas kapasitas energi terbarukan nasional.

Di sektor agrikultur, Danantara turut menjajaki pengembangan pabrik garam untuk memasok kebutuhan industri chlor-alkali serta fasilitas budidaya unggas terintegrasi yang diharapkan dapat mendukung program Makan Bergizi Gratis sekaligus menjaga stabilitas pasokan. Selain itu, proyek pengolahan limbah menjadi energi di sejumlah kota juga masuk dalam pipeline investasi. Inisiatif pembangunan kawasan layanan haji di Mekkah pun disebut masih berada pada tahap penjajakan kerja sama.

Langkah-langkah tersebut menegaskan bahwa orientasi Danantara tidak semata pada profit, tetapi juga pada penciptaan dampak ekonomi dan sosial. Penguatan peran di pasar modal dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus memperbesar kontrol nasional terhadap arah pembangunan. Dengan kata lain, investasi negara diarahkan bukan hanya untuk mengejar pertumbuhan, tetapi juga memperkuat resiliensi ekonomi.

Ketua Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Ekonomi Pesantren (BP2EP), Muzayyin Arief, menilai 2026 akan menjadi periode penting untuk menguji rasionalitas kebijakan investasi negara. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan Danantara tidak seharusnya diukur hanya dari besarnya dana kelolaan, melainkan dari ketepatan keputusan investasi awal.

Menurut Muzayyin, sejak awal Danantara perlu diposisikan sebagai instrumen investasi jangka panjang, bukan sekadar perpanjangan fiskal atau proyek berorientasi jangka pendek. Penempatan dana pada aset industri berumur panjang, katanya, akan membantu mengunci nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri sekaligus memperkokoh fondasi industrialisasi.

Pada akhirnya, kehadiran Danantara mencerminkan evolusi cara pandang negara dalam mengelola pembangunan, dari pendekatan reaktif menjadi lebih strategis dan antisipatif. Ketika investasi ditempatkan sebagai alat untuk membangun kapasitas nasional, bukan sekadar menutup kebutuhan pembiayaan, maka kedaulatan ekonomi tidak lagi menjadi slogan, melainkan arah kebijakan yang terukur.

Dengan pengelolaan aset yang profesional, strategi investasi yang terarah, serta sinergi lintas sektor, Danantara diproyeksikan menjadi salah satu penggerak utama transformasi ekonomi Indonesia. Lebih dari sekadar lembaga investasi, kehadirannya merefleksikan komitmen negara untuk membangun kemandirian ekonomi dan memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan secara berkelanjutan.

*)Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan.

Danantara Tancap Gas Menjaga Kesinambungan BUMN

Oleh: Yusuf Rinaldi )*

Dalam beberapa tahun terakhir, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Indonesia telah mengambil langkah berani dan strategis dalam menjaga kesinambungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia. Di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah telah meluncurkan berbagai inisiatif untuk mengelola dan mengonsolidasikan aset-aset BUMN yang sebelumnya terpecah dan tersebar di berbagai perusahaan.

Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa kekayaan negara ini dapat dikelola secara optimal, efisien, dan transparan. Salah satu langkah besar yang diambil adalah pembentukan Danantara Indonesia, yang berfungsi sebagai pengelola aset negara dengan fokus pada konsolidasi dan transformasi BUMN, untuk mencapai laba yang lebih tinggi, memperkuat akuntabilitas, dan memberi kontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional.

Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya menekankan pentingnya penyatuan aset BUMN yang tersebar di ribuan perusahaan. Dengan lebih dari 1 triliun dolar Amerika Serikat yang berhasil dihimpun dalam satu pengelolaan melalui Danantara, upaya ini diharapkan dapat memperkuat pengelolaan kekayaan negara dalam satu manajemen terpadu. Sebelumnya, aset-aset negara yang tersebar membuat pengelolaannya menjadi kurang efektif dan efisien, yang berdampak pada kinerja ekonomi nasional yang belum optimal.

Penyatuan ini bukan hanya soal menggabungkan berbagai aset fisik dan finansial, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan tata kelola perusahaan-perusahaan BUMN agar dapat mengoptimalkan kontribusinya terhadap perekonomian negara. Sebagai bagian dari upaya tersebut, Presiden Prabowo juga menegaskan komitmennya untuk memberantas praktik korupsi yang dapat merugikan negara dengan melakukan pemanggilan terhadap mantan pimpinan BUMN yang terlibat dalam penyalahgunaan kekuasaan.

Selain konsolidasi, Danantara juga fokus pada program transformasi yang melibatkan proyek-proyek strategis yang dapat meningkatkan kontribusi BUMN terhadap perekonomian Indonesia. Salah satu langkah yang sangat signifikan adalah hilirisasi sumber daya alam Indonesia, seperti pengolahan bauksit menjadi alumina, pengembangan biofuel, dan berbagai proyek hilirisasi lainnya yang akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional.

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa pada 2026, Danantara menargetkan laba BUMN mencapai sekitar Rp350 triliun, seiring dengan selesainya 41 proyek yang tengah dikerjakan, termasuk proyek hilirisasi dan program transformasi yang melibatkan merger dan konsolidasi BUMN. Menurutnya, pencapaian ini akan mendongkrak return on asset serta memperkuat kontribusi BUMN dalam setoran pajak dan peran sosial.

Tak hanya fokus pada sektor manufaktur dan sumber daya alam, Danantara juga mulai membenahi sektor asuransi yang selama ini dianggap memiliki banyak masalah, terutama dalam hal tata kelola yang tumpang tindih. Dalam sektor ini, langkah besar yang diambil adalah pemisahan antara General Insurance dan Credit Insurance (Penjaminan). Langkah ini penting untuk menyelamatkan mandat Askrindo dan Jamkrindo sebagai tulang punggung program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang memiliki peran vital dalam mendukung pembiayaan sektor UMKM di Indonesia.

Dony Oskaria menjelaskan bahwa pemisahan bisnis ini bukan hanya soal struktur, tetapi juga terkait dengan risiko yang dihadapi. Jika kedua lini bisnis ini digabungkan, maka akan sulit untuk memisahkan antara risiko asuransi kerugian biasa dengan risiko penjaminan kredit. Oleh karena itu, Danantara melakukan kajian mendalam untuk memastikan bahwa bisnis penjaminan tetap terpisah dengan risiko asuransi kerugian.

Konsolidasi sektor asuransi ini diharapkan dapat mengurangi risiko dan memastikan perusahaan-perusahaan asuransi BUMN berjalan secara efisien dan sehat, baik secara finansial maupun operasional. Dengan pendirian Indonesia Financial Group (IFG) sebagai holding perusahaan asuransi BUMN, Danantara mengharapkan adanya pengelolaan yang terpusat dan profesional, untuk memperkuat kinerja perusahaan asuransi BUMN dan memberi dampak positif terhadap perekonomian nasional.

Danantara juga berkomitmen untuk memotong jumlah perusahaan asuransi BUMN yang terlibat dalam sektor ini dari 15 menjadi hanya 3 perusahaan pada 2026. Ini merupakan langkah besar yang diambil untuk memastikan perusahaan-perusahaan asuransi negara memiliki spesialisasi yang jelas dan fokus dalam menjalankan tugasnya. Langkah konsolidasi ini bukan hanya soal efisiensi operasional, tetapi juga untuk memastikan bahwa setiap perusahaan memiliki ruang usaha yang jelas dan terstruktur.

Dalam hal ini, Danantara juga melakukan koordinasi intensif dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memastikan proses pemisahan dan konsolidasi berjalan sesuai dengan peraturan yang berlaku dan tidak menimbulkan risiko besar terhadap sistem keuangan negara. OJK juga menyambut baik langkah ini, dengan menekankan pentingnya pemisahan yang jelas antara lini usaha, karena hal ini akan meningkatkan ketahanan modal dan manajemen risiko yang sangat dibutuhkan untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.

Transformasi besar yang dilakukan Danantara Indonesia merupakan langkah maju dalam menjaga kesinambungan BUMN dan memperkuat kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia. Dengan berbagai proyek hilirisasi, pemisahan lini bisnis di sektor asuransi, dan konsolidasi BUMN, Danantara siap menjadi motor penggerak ekonomi nasional yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

)*Penulis merupakan Pengamat Ekonomi

Danantara Bergerak Cepat Pastikan BUMN Sehat

Jakarta – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) terus bergerak cepat memastikan seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berada dalam kondisi sehat, profesional, dan berdaya saing tinggi.

Sejak resmi beroperasi, Danantara langsung mengambil langkah strategis melalui konsolidasi aset, penguatan tata kelola, serta optimalisasi investasi jangka panjang yang berorientasi pada pertumbuhan berkelanjutan.

Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa kesehatan BUMN menjadi prioritas utama lembaga yang dipimpinnya.

“Danantara dibentuk untuk memastikan aset strategis negara dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel. Fokus kami adalah memperkuat fundamental BUMN agar mampu tumbuh sehat dan memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian nasional,” ujar Rosan.

Menurut Rosan, Danantara tidak hanya berperan sebagai pengelola investasi, tetapi juga sebagai katalis transformasi BUMN. Upaya tersebut dilakukan melalui evaluasi kinerja, sinergi antarperusahaan pelat merah, serta penataan portofolio investasi agar lebih efisien dan produktif.

“Kami ingin BUMN tidak sekadar bertahan, tetapi menjadi pemain utama di tingkat regional dan global,” tambahnya.

Sementara itu, Chief Operating Officer BPI Danantara, Dony Oskaria menyampaikan Danantara Indonesia menargetkan laba badan usaha milik negara (BUMN) mencapai sekitar Rp350 triliun pada 2026, seiring dengan pelaksanaan puluhan proyek strategis dan percepatan konsolidasi BUMN.

“Untuk tahun 2026, rencana kerja kami menargetkan laba BUMN sekitar Rp350 triliun,” ujar Dony.

Dony menjelaskan, secara kinerja historis, laba BUMN pada 2025 secara normalisasi mencapai Rp332 triliun. Namun, angka tersebut disertai dengan pencatatan impairment sebesar Rp55 triliun sebagai bagian dari upaya perbaikan fundamental.

“Laba BUMN 2025 secara normalisasi mencapai Rp332 triliun, tetapi setelah impairment, realisasinya berada di kisaran Rp280 triliun hingga Rp295 triliun,” katanya.

Ia menegaskan, konsolidasi dan transformasi BUMN ditujukan untuk meningkatkan return on asset serta memastikan kontribusi BUMN terhadap perekonomian nasional tetap kuat, tidak hanya dari sisi laba, tetapi juga melalui setoran pajak dan peran sosial.

Danantara akan terus mempercepat langkah konsolidasi dan transformasi, sejalan dengan visi pembangunan nasional. Dengan BUMN yang sehat dan kuat, Indonesia diyakini mampu menghadapi tantangan global serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Danantara Aktif Kejar Target Investasi Pasar Modal

Jakarta – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara memperkuat perannya sebagai motor penggerak investasi nasional dengan mempercepat penempatan dana di pasar modal. Langkah agresif ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah mendorong pendalaman pasar keuangan sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia sepanjang 2026.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir mengungkapkan bahwa sekitar 50 persen dari total pendanaan investasi Danantara tahun ini akan dialokasikan ke pasar modal. Dari target penyaluran investasi sebesar USD14 miliar sepanjang 2026 atau setara Rp235 triliun, sekitar USD7 miliar atau sekitar Rp117,5 triliun direncanakan masuk ke instrumen publik.

“Jadi mungkin untuk tahun ini bisa dibilang dari pendanaan Danantara setengah akan masuk ke public market,” ujarnya.

Menurut Pandu, strategi ini dijalankan secara terukur melalui manajer investasi yang ditunjuk, dengan fokus pada saham berlikuiditas tinggi, fundamental kuat, serta memiliki arus kas yang sehat. Danantara juga telah menyiapkan kriteria saham prioritas yang menjadi target akumulasi secara bertahap.

“Kami ingin menarik partisipasi para pemain yang sudah ada. Kami memberi arahan kepada manajer investasi yang kami tunjuk agar membeli saham dengan pertumbuhan baik, fundamental kuat, likuiditas tinggi, dan arus kas sehat,” tuturnya.

Danantara sendiri telah mulai masuk ke pasar modal Indonesia sejak akhir Desember 2025 dan akan terus meningkatkan aktivitas investasinya secara konsisten. Pandu menegaskan pendekatan ini penting agar setiap keputusan investasi memiliki dasar yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Kami akan terus berinvestasi sepanjang minggu depan, mulai Senin hingga Kamis, karena kami melihat ada nilai yang baik dalam banyak bisnis di Indonesia,” katanya.

Ia menambahkan bahwa Danantara akan menjadi pelaku pasar aktif baik di pasar saham maupun obligasi, sejalan dengan komunikasi dan koordinasi bersama OJK serta Bursa Efek Indonesia.

Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani menekankan bahwa penguatan pasar modal memiliki dampak strategis terhadap arus investasi yang lebih luas, termasuk investasi langsung asing atau foreign direct investment (FDI).

“Kepercayaan terhadap investasi, terutama FDI, salah satu indikator utamanya adalah kepercayaan kepada pasar modal terlebih dahulu,” kata Rosan.

Ia menjelaskan bahwa pasar modal kerap menjadi pintu masuk awal investor global karena tingkat likuiditasnya lebih tinggi dibandingkan investasi langsung jangka panjang. Karena itu, penguatan kualitas pasar menjadi agenda utama selain pertumbuhan ukuran kapitalisasi.

“Yang paling penting adalah di tahap berikutnya bagaimana kita memastikan pasar modal kita ini terus berkembang, tapi dengan standar kualitas yang baik, yang mempunyai dampak positif dan dampak yang sangat besar,” ujarnya.

Dengan kontribusi investasi yang mencapai sekitar 28–29 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, langkah Danantara mempercepat penempatan dana di pasar modal dinilai sebagai strategi konkret memperkuat ekosistem pembiayaan. Kebijakan ini sekaligus mempertegas komitmen pemerintah membangun pasar keuangan yang likuid, transparan, dan berdaya saing global.

Kampung Nelayan Merah Putih Mulai Beroperasi, Sebagian Telah Lakukan Ekspor

JAKARTA — Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang dicanangkan pemerintah mulai menunjukkan hasil konkret. Sebanyak 19 kampung nelayan telah rampung dibangun dan kini beroperasi. Bahkan, sebagian di antaranya sudah mampu mengekspor hasil perikanan, menandai penguatan ekosistem usaha nelayan berbasis kawasan.

Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Humas dan Komunikasi Media, Doni Ismanto, mengatakan kampung-kampung tersebut telah menjalankan aktivitas produksi dan distribusi hasil tangkapan secara terintegrasi.

“19 saja sudah operasi. Kan sudah ada yang ekspor,” ujar Doni.

Sebanyak 19 Kampung Nelayan Merah Putih itu tersebar di Bumiharjo, Jepara; Pujiharjo, Malang; Lebetawi, Maluku; Gebang Mekar, Cirebon; Karangduwur, Kebumen; serta Poncosari, Bantul. Keseluruhannya merupakan bagian dari proyek tahap pertama yang dikerjakan di 65 titik di berbagai daerah.

Doni menambahkan, pembangunan 46 Kampung Nelayan Merah Putih lainnya kini telah mencapai progres sekitar 80 persen dan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir Januari.

“Sudah 80-an persen itu tinggal cuman paling bersih-bersih jalan,” katanya.

Setiap kampung nelayan dirancang memiliki komoditas unggulan yang disesuaikan dengan potensi lokal. Pemerintah membangun ekosistem bisnis nelayan secara terintegrasi, mulai dari penangkapan ikan, penyimpanan melalui cold storage, hingga penjualan. Model tersebut telah berjalan di Kampung Samber dan Kampung Binyeri di Pulau Biak, Papua, yang menjadi proyek percontohan.

“Kalau di Biak itu dia sudah ke Semarang terus dia ekspor, sudah jalan. Kan pilot project-nya di Biak,” jelas Doni.

Sementara itu, Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari menegaskan bahwa Program Kampung Nelayan Merah Putih bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan langkah konkret negara agar nelayan dapat bekerja lebih produktif dan aman, serta memperoleh penghidupan yang lebih layak.

“Program Kampung Nelayan Merah Putih ini bukan hanya membangun fasilitas, tapi bagaimana nelayan kita bisa bekerja lebih produktif, lebih aman, dan pada akhirnya bisa tersenyum karena penghidupannya semakin membaik,” kata Qodari.

Ia menjelaskan, fasilitas yang disediakan meliputi tempat sandar kapal, tempat pelelangan ikan, kios usaha, cold storage, hingga bengkel mesin. Qodari pun berharap pembangunan tersebut tidak hanya menghadirkan perubahan fisik, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan nelayan secara berkelanjutan.

“Di sini ada kios-kios, nelayan kita nanti bisa jualan. Kemudian ada tempat pelelangan, tempat sandar ikan, cold storage, bahkan musala dan masjidnya juga bagus. Kelihatan nyata program ini membawa suasana baru,” ujarnya.

“Mudah-mudahan bukan hanya suasana baru, tetapi juga membawa tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi bagi masyarakat nelayan,” kata dia.

Ia menilai, antusiasme dan kebahagiaan warga nelayan menjadi sinyal positif bahwa program unggulan Presiden Prabowo Subianto tersebut benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat pesisir.

Publik Dukung Tindakan Tegas Apkam Hentikan Teror Bersenjata di Papua

PAPUA – Gelombang kecaman terhadap kekerasan kelompok bersenjata di Papua Pegunungan terus menguat setelah serangan brutal menewaskan seorang pekerja bangunan sekolah di Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo. Aksi tersebut dinilai sebagai bentuk teror terbuka yang secara langsung mengancam keselamatan warga sipil sekaligus merusak sendi pembangunan pendidikan di wilayah pedalaman.

Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia (BMP RI), Ali Kabiay, menilai serangan terhadap pekerja fasilitas pendidikan sebagai tindakan biadab yang tidak dapat ditoleransi dalam kondisi apa pun. Menurutnya, kekerasan semacam ini menunjukkan wajah asli kelompok bersenjata yang selama ini mengklaim perjuangan, tetapi justru menyasar rakyat kecil.

“Aparat keamanan harus mengejar dan menangkap pelaku kekerasan ini karena tindakan mereka sangat mengganggu stabilitas hidup damai,” tegas Ali Kabiay di Nabire, Kamis (5/2/2026).

Serangan tersebut terjadi saat korban berinisial DD (41), warga asal Tana Toraja, Sulawesi Selatan, tengah merakit meja dan kursi untuk kebutuhan siswa SMP YPK Yakpesmi. Aktivitas sederhana yang bertujuan mendukung proses belajar mengajar itu berubah menjadi tragedi ketika kelompok bersenjata menyerang secara tiba-tiba dan brutal di lingkungan sekolah.

Bagi Ali Kabiay, peristiwa ini tidak sekadar tindak kriminal biasa, melainkan pesan teror yang ditujukan untuk menciptakan ketakutan massal dan menghentikan roda pembangunan. Pendidikan disebut sebagai sasaran strategis karena menjadi simbol masa depan Papua yang damai dan sejahtera.

“Tindakan ini sangat bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan cita-cita kesejahteraan masyarakat Papua,” ujar Ali Kabiay.

Ia menegaskan bahwa negara tidak boleh ragu mengambil langkah tegas melalui aparat keamanan guna memastikan pelaku tidak terus berkeliaran dan mengulang kekejaman serupa. Penegakan hukum yang kuat dinilai penting untuk memulihkan rasa aman, khususnya bagi tenaga pendidik, pekerja pembangunan, dan masyarakat sipil lainnya.

Selain mendukung tindakan tegas aparat keamanan, Ali Kabiay juga mengimbau masyarakat Yahukimo agar tidak terprovokasi oleh narasi yang berpotensi memperkeruh suasana. Kewaspadaan lingkungan dan komunikasi aktif dengan aparat dinilai sebagai bagian penting dalam menjaga stabilitas daerah.

“Laporkan segera kepada pihak berwajib apabila menemukan aktivitas mencurigakan agar langkah pencegahan dapat dilakukan sedini mungkin,” tambah Ali Kabiay.

Pasca-kejadian, aparat gabungan TNI-Polri meningkatkan status kewaspadaan dan melakukan penyisiran intensif di sekitar lokasi kejadian hingga jalur hutan yang diduga menjadi rute pelarian pelaku. Olah tempat kejadian perkara juga dilakukan untuk mengumpulkan bukti dan memastikan proses hukum berjalan maksimal.

Serangan terhadap institusi pendidikan ini memantik keprihatinan luas karena dinilai melanggar prinsip perlindungan warga sipil dan fasilitas umum. Publik menaruh harapan besar agar negara hadir secara nyata, tidak hanya melalui pernyataan, tetapi lewat tindakan tegas dan terukur demi menjaga keamanan serta keberlanjutan pembangunan di Papua.

Eks Panglima TPN OPM Serukan Damai, Kutuk Keras Aksi Brutal yang Rugikan Warga Sipil

Keerom- Eks Panglima Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN OPM) Markas Victoria, Lambert Pekikir, menyerukan perdamaian di Tanah Papua serta mengutuk keras aksi-aksi brutal yang merugikan masyarakat sipil. Pencetus inisiatif Keerom Damai pada 2014 itu menegaskan bahwa situasi keamanan di Kabupaten Keerom hingga kini tetap aman dan kondusif berkat komitmen bersama seluruh elemen masyarakat dalam menjaga stabilitas daerah.

Menurut Lambert Pekikir, berbagai isu yang menyebutkan adanya konflik atau perpecahan di tengah masyarakat Keerom tidak sesuai dengan kondisi nyata. Ia menilai informasi yang tidak jelas kebenarannya kerap dimanfaatkan pihak tertentu untuk memprovokasi dan merusak persatuan yang telah terbangun selama ini.

“Situasi di Keerom sampai hari ini aman dan terkendali. Tidak benar jika ada isu yang mengatakan masyarakat terpecah atau terjadi konflik. Justru masyarakat hidup rukun dan saling menghargai,” ujar Lambert Pekikir pada Selasa, 3 Februari 2026.

Ia menjelaskan bahwa stabilitas di Keerom merupakan hasil kerja bersama antara masyarakat adat, tokoh agama, pemerintah daerah, serta aparat keamanan. Kondisi tersebut dinilai menjadi modal penting bagi kelangsungan pembangunan dan kehidupan sosial yang harmonis di wilayah perbatasan tersebut.

Lambert Pekikir menekankan bahwa masyarakat Keerom, baik penduduk asli maupun pendatang, selama ini hidup berdampingan dengan baik. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu yang belum tentu benar dan dapat memicu kesalahpahaman.

“Masyarakat Keerom hingga saat ini, baik penduduk asli maupun pendatang, hidup berdampingan dan tidak terpecah belah hanya karena isu-isu yang tidak jelas adanya,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh pihak, termasuk TNI-Polri, organisasi kemasyarakatan, paguyuban, dan dewan adat, untuk terus berperan aktif menjaga perdamaian. Menurutnya, kedamaian di Keerom bukan hasil satu pihak semata, melainkan buah dari kolaborasi banyak elemen.

“Kedamaian ini bukan dibangun oleh satu pihak saja, tetapi hasil kerja bersama. Karena itu mari kita jaga bersama-sama, jangan mudah terprovokasi,” tegasnya.

Dalam pernyataannya, Lambertus juga menyampaikan kritik keras terhadap aksi-aksi kekerasan yang masih terjadi dan berpotensi menyeret warga sipil. Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak bersalah tidak boleh menjadi korban dalam konflik apa pun.

“Hindari hal-hal yang dapat merugikan kita semua. Teruntuk Barisan OPM yang sedang menunjukkan eksistensinya, saya minta jangan libatkan masyarakat sipil dan masyarakat yang tidak bersalah, terlebih menggunakan aksi-aksi kekerasan. Mari kita jaga kedamaian bersama-sama di Tanah Papua ini,” ujarnya.

Seruan eks panglima tersebut dipandang sebagai pesan moral penting di tengah upaya menjaga stabilitas keamanan Papua. Ajakan untuk mengedepankan dialog dan menghindari kekerasan diharapkan dapat memperkuat rasa aman masyarakat, sehingga aktivitas sosial dan ekonomi dapat berjalan dengan baik serta mendukung peningkatan kesejahteraan warga di Papua.

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei*

Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-cita besar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamika keamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapat ditawar.

Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimo menggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadaran kolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadar bangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagi anak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuh dan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkah tegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok.

Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikan pandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutan pembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalah prasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuat komunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertiban bersama.

Sikap serupa juga disuarakan oleh Lambertus Pekuikir, tokoh yang memiliki pengalaman panjang dalam dinamika Papua dan kini konsisten mendorong perdamaian. Ia menekankan bahwa kedamaian di Keerom terjaga berkat kerja bersama masyarakat adat, tokoh agama, pemerintah daerah, dan aparat keamanan. Pesan moral yang ia sampaikan meneguhkan keyakinan bahwa harmoni sosial bukan hasil satu pihak, melainkan buah kolaborasi yang terus dirawat. Kehidupan rukun antara penduduk asli dan pendatang dipandang sebagai kekuatan sosial yang harus dilindungi dari isu-isu menyesatkan.

Penguatan narasi positif ini menunjukkan arah yang jelas: Papua damai adalah tujuan bersama. Kehadiran negara melalui penegakan hukum yang profesional dan humanis menjadi jangkar stabilitas. Aparat TNI-Polri bekerja memastikan keamanan tanpa mengabaikan pendekatan persuasif, sementara pemerintah terus mendorong pembangunan layanan dasar, pendidikan, dan ekonomi lokal. Sinergi ini menegaskan bahwa keamanan dan kesejahteraan berjalan beriringan, saling menguatkan.

Di tingkat masyarakat, partisipasi aktif menjadi kunci. Kewaspadaan lingkungan, pelaporan dini terhadap aktivitas mencurigakan, serta penguatan jejaring sosial antarwarga memperkecil ruang bagi gangguan keamanan. Ketika masyarakat terlibat, rasa memiliki terhadap kedamaian tumbuh, dan provokasi kehilangan panggung. Budaya gotong royong yang mengakar di Papua menjadi modal sosial yang ampuh untuk merawat ketertiban dan mempercepat pemulihan kepercayaan.

Pendidikan kembali menempati posisi sentral dalam narasi kemajuan. Melindungi guru, pekerja pendidikan, dan fasilitas sekolah berarti melindungi masa depan Papua. Negara hadir memastikan proses belajar mengajar berlangsung aman, sementara masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan sekolah sebagai ruang suci bagi tumbuhnya ilmu dan karakter. Investasi pada pendidikan adalah investasi pada perdamaian jangka panjang, karena generasi terdidik adalah agen persatuan dan pembangunan.

Optimisme juga tercermin dari meningkatnya kepercayaan publik terhadap langkah negara. Penanganan keamanan yang terukur, transparan, dan berkeadilan memperkuat legitimasi kebijakan. Setiap keberhasilan menjaga ketertiban memberi sinyal positif bagi aktivitas sosial dan ekonomi, mendorong roda pembangunan berputar lebih cepat. Papua yang aman membuka peluang kerja, memperluas layanan publik, dan mempercepat peningkatan kesejahteraan warga.

Pada akhirnya, meneguhkan Papua damai adalah pilihan moral dan strategis. Bangsa ini sepakat bahwa kekerasan tidak memiliki tempat dalam perjuangan apa pun. Jalan terbaik adalah persatuan, dialog, dan pembangunan berkelanjutan dengan perlindungan penuh bagi warga sipil. Dengan dukungan masyarakat, ketegasan aparat, dan kepemimpinan yang menyejukkan, Papua melangkah mantap menuju masa depan yang aman, adil, dan sejahtera. Papua damai bukan sekadar harapan, melainkan komitmen bersama yang terus diperjuangkan demi Indonesia yang utuh dan bermartabat.

*Penulis merupakan Jurnalis Papua dan Pengamat Sosial