MBG Dikebut di Daerah Tinggi Stunting, Ahli Gizi Digandeng dan Riset Disiapkan
JAKARTA Pemerintah mempercepat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di daerah dengan prevalensi stunting tinggi sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. Langkah tersebut dilakukan melalui percepatan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pelibatan para ahli gizi, serta penyusunan riset berbasis data untuk memastikan program berjalan tepat sasaran.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengatakan pemerintah telah memetakan wilayah yang membutuhkan intervensi gizi segera berdasarkan data Kementerian Kesehatan. Menurutnya, SPPG di daerah-daerah tersebut akan diprioritaskan agar manfaat MBG dapat dirasakan lebih cepat oleh masyarakat.
Kami sudah mendapatkan data daerah-daerah yang memang memerlukan sentuhan gizi segera karena angka stunting-nya tinggi. Berdasarkan data ini, dapur yang sudah dibangun segera kami operasionalkan, ujar Sudaryono.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya mempercepat pembukaan SPPG di wilayah prioritas, tetapi juga menggandeng para ahli gizi untuk menyempurnakan sasaran penerima manfaat.
Targetnya ini kita mau refine. Sekolah mana yang mau dikasih, usia mana, SD-nya di mana, lokasinya di mana, fokusnya ke daerah stunting dan lain sebagainya. Ibu hamil yang bagaimana, balitanya gimana, kata Budi. Ia menambahkan, SPPG di daerah prioritas ditargetkan mulai beroperasi sebelum 5 Agustus 2026.
Selain itu, Kementerian Kesehatan menyiapkan riset untuk memantau efektivitas MBG terhadap anak-anak yang mengalami stunting.
Semua anak yang stunting, by NIK, by name, by address sudah ada. Kita tag dia dapat MBG apa enggak, kita akan bisa ikuti setiap bulan karena ditimbang di posyandu, ucap Budi.
Menurutnya, pemantauan rutin tersebut akan menjadi dasar evaluasi sehingga kebijakan dapat terus disempurnakan berdasarkan bukti ilmiah.
Pemerintah meyakini percepatan MBG yang didukung pemetaan wilayah, keterlibatan ahli gizi, serta evaluasi berbasis riset akan memperkuat efektivitas intervensi gizi nasional sekaligus mempercepat penurunan angka stunting di berbagai daerah prioritas.
