Peringatan Hari Sumpah Pemuda 2025 : Semangat Persatuan dan Cita-Cita Prabowo Membangun Indonesia

Salah satu program unggulan pemerintahan Prabowo yang mendapat sorotan adalah Sekolah Rakyat, sebuah inisiatif pendidikan inklusif yang memberikan akses belajar kepada anak-anak dari berbagai latar belakang sosial dan ekonomi.

Dalam Sidang Kabinet Paripurna yang digelar di Istana Negara, Jakarta, beberapa waktu lalu, Presiden Prabowo menyebut pendidikan sebagai bentuk investasi jangka panjang yang paling penting bagi masa depan bangsa.

Selain pendidikan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi pilar penting dalam kebijakan sosial pemerintah. Program ini bertujuan memastikan semua anak Indonesia mendapatkan asupan gizi seimbang demi tumbuh kembang optimal.

“Program ini dirancang tidak hanya untuk mengatasi persoalan gizi, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia dan masa depan bangsa,” ungkap Presiden Prabowo.

Senada, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, mengatakan program MBG adalah bentuk nyata keberpihakan negara kepada rakyat kecil.

“Ini investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi Indonesia muda yang sehat dan kuat menuju Indonesia Emas 2045,” imbuhnya.

Tidak kalah penting, pemerintahan Prabowo juga fokus pada kemandirian pangan melalui program Swasembada Pangan. Melalui dukungan pada petani lokal dan teknologi pertanian modern, Indonesia diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, menilai keberhasilan menuju swasembada tidak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga pada inovasi dan peran generasi muda.

“Transformasi pertanian harus melibatkan digitalisasi dan kreativitas anak muda. Kita ingin pertanian menjadi sektor yang menarik, modern, dan berdaya saing,” ucap Wapres.

Di sisi lain, untuk menjawab tantangan dunia kerja, pemerintah meluncurkan Program Magang Nasional yang memberikan kesempatan kepada generasi muda memperoleh pengalaman kerja langsung di berbagai sektor industri.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, mengatakan Pemerintah mempercepat pelaksanaan Program Magang Nasional sebagai bagian dari strategi besar peningkatan kualitas tenaga kerja muda di Indonesia.

Menurutnya, program ini menjadi salah satu upaya nyata pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam menyiapkan generasi muda menghadapi dunia kerja dengan kompetensi yang lebih matang.

Dengan sinergi program-program tersebut, Hari Sumpah Pemuda ke-97 bukan hanya peringatan sejarah, melainkan momentum memperkuat tekad bangsa menuju Indonesia yang lebih maju, mandiri, dan berdaulat.

Pemerintahan Prabowo optimis bahwa melalui pendidikan, pangan, dan peluang kerja yang merata, cita-cita para pemuda pada 28 Oktober 1928 akan terwujud dengan nyata. (*)

Dari Sumpah Pemuda ke Asta Cita, Prabowo–Gibran Wujudkan Generasi Emas

Jakarta — Peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2025, semangat kebangkitan generasi muda kembali menemukan maknanya dalam kerja nyata pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Melalui berbagai program prioritas dalam kerangka Asta Cita, pemerintah menunjukkan kesungguhan untuk membangun generasi muda yang unggul, sehat, dan berdaya saing global.

Dari pendidikan hingga ketahanan pangan, kebijakan pemerintah tidak berhenti pada slogan, tetapi diwujudkan dalam program konkret yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat muda di seluruh pelosok negeri. Salah satu yang paling terasa adalah Program Sekolah Rakyat, Swasembada Pangan berbasis petani milenial, serta Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar anak-anak dan remaja usia sekolah.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan, Sekolah Rakyat merupakan bagian dari upaya Kementerian Sosial dalam meningkatkan akses pendidikan yang berkeadilan dan menanamkan karakter sosial bagi generasi muda.

“Program tersebut merupakan bagian dari upaya Kementerian Sosial dalam meningkatkan akses pendidikan yang berkeadilan serta menanamkan karakter sosial bagi generasi muda,” ujarnya.

Senada, Kepala Sentra Paramita Mataram, Arif Rohman, menyebut Sekolah Rakyat hadir agar generasi muda dari keluarga kurang mampu dapat mengenyam pendidikan seperti anak-anak dari keluarga yang mampu secara ekonomi.

“Sekolah Rakyat ini hadir agar generasi muda dari keluarga kurang mampu dapat mengenyam pendidikan seperti anak-anak dari keluarga yang mampu secara ekonomi. Pemerataan pendidikan menjadi landasan utama program ini hadir di tengah masyarakat,” katanya.

Selain pendidikan, pemerintahan Prabowo–Gibran juga membuka ruang luas bagi anak muda untuk terjun ke sektor pertanian modern. Transformasi pertanian kini tak lagi dipandang kuno, tetapi menjadi ruang inovasi dan teknologi yang digerakkan generasi muda.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming menekankan bahwa pertanian masa depan harus menarik bagi anak muda dan berbasis teknologi.

“Transformasi pertanian harus melibatkan digitalisasi dan kreativitas anak muda. Kita ingin pertanian menjadi sektor yang menarik, modern, dan berdaya saing,” tegas Gibran.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pun mengajak organisasi kepemudaan dan masyarakat untuk ikut membangun kemandirian pangan melalui generasi muda.

“Kami mengajak luntuk menjadi bagian dari kebangkitan pertanian nasional. Gerakan ini diharapkan menjadi penggerak utama program pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan melalui pemberdayaan petani milenial,” ujarnya.

Sementara di bidang kesehatan dan gizi, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan investasi jangka panjang untuk kualitas generasi muda Indonesia.

“Program Makan Bergizi Gratis merupakan langkah strategis pemerintah untuk memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat dan cerdas. Program ini dirancang tidak hanya untuk mengatasi persoalan gizi, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia dan masa depan bangsa,” tegas Presiden Prabowo.

Momentum Sumpah Pemuda tahun ini menjadi refleksi bahwa semangat kebangsaan tidak hanya hidup dalam kata-kata, tetapi hadir nyata dalam kebijakan yang berpihak kepada masa depan anak muda Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. []

Sumpah Pemuda Momentum Pemerintah Pragib Ciptakan Sumber Daya Manusia Unggul

Jakarta – Peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober menjadi momentum penting bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk mempercepat pembangunan sumber daya manusia unggul. Pemerintah terus melakukan akselerasi melalui program magang nasional guna menciptakan generasi muda yang tangguh dan mampu berkompetisi di tengah ketidakpastian situasi global.

Hari Senin (20/10/2025) adalah hari pertama dimulainya program Pemagangan Nasional Lulusan Perguruan Tinggi Batch I alias magang kerja bergaji upah minimum kota/kabupaten. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat, ada 1.668 perusahaan mendaftar dengan total usulan 26.181 posisi magang.

Menteri Tenaga Kerja Yassierli mengatakan pemerintah menciptakan program magang nasional sebagai bagian strategi dari peningkatan kualitas tenaga kerja muda Indonesia.

Pemerintah akan terus meningkatkan kualitas masyarakat melalui program-program yang tepat. Tenaga kerja muda merupakan usia produktif dan mampu berkopetisi. Magang nasional akan terus dilaksanakan untuk mencetak tenaga muda yang siap bersaing. Program magang nasional bergaji itu ditargetkan bisa dimulai pada pertengahan November 2025 nanti.

” Untuk Batch I ini, pemerintah membuka kuota bagi 20.000 peserta magang bergaji tersebut” katanya.

Dengan begitu, ujar Yassierli, target 100.000 peserta magang nasional dapat tercapai tahun 2025 ini.

Jelang hari Sumpah Pemuda Pemerintah, Kabupaten Nabire kembali memperluas layanan program Makan Bergizi (MBG) dengan meresmikan Dapur Sekolah Penggerak Pangan Gizi (SPPG) Siriwini 01 pada Senin, 13 Oktober 2025.

Peresmian dilakukan langsung oleh Wakil Bupati Nabire, Burhanuddin Pawennari, menandai dapur ketiga yang resmi beroperasi di wilayah tersebut. Dalam sambutannya, Burhanuddin menyampaikan rasa bangga atas terselenggaranya program yang menjadi bagian dari kebijakan nasional dalam pemenuhan gizi masyarakat, khususnya bagi anak usia sekolah. Ia menegaskan bahwa dapur SPPG bukan sekadar tempat penyedia makanan, melainkan wujud nyata investasi bagi masa depan generasi muda.

“Program makanan bergizi ini bukan sekadar bagi-bagi makanan, tetapi merupakan investasi masa depan bangsa. Anak-anak yang tumbuh dengan gizi yang cukup akan menjadi generasi yang cerdas, kuat, dan pintar,” ungkapnya.

Program ini diharapkan mampu menjangkau lebih dari 870 siswa dari tiga sekolah penerima manfaat, yaitu TK Al Muhajirin (58 siswa), TK Raudhatul Athfal Smoker (135 siswa), dan SD Negeri Inpres Siriwini (677 siswa).

Ke depan, sejumlah program terus dioptimalkan guna meningkatkan kualitas hidup generasi muda di masa depan.***

Menjelang Hari Sumpah Pemuda: Pemerintahan Prabowo–Gibran Komitmen Perkuat Gizi Anak Muda melalui Program Makan Bergizi Gratis

Jakarta – Menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda 2025, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menegaskan kembali komitmennya membangun generasi muda yang sehat, cerdas, dan produktif. Komitmen itu diwujudkan melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah kebijakan strategis yang memadukan visi kemanusiaan, pembangunan ekonomi lokal, dan cita-cita kebangsaan untuk mencetak generasi emas Indonesia 2045.

Di tengah semangat peringatan Sumpah Pemuda, MBG merefleksikan makna terdalam dari ikrar persatuan: bahwa masa depan bangsa hanya akan kuat jika setiap anak Indonesia memperoleh kesempatan tumbuh dengan gizi yang layak dan pendidikan yang setara. Program ini menjadi bentuk nyata gotong royong lintas elemen—antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha lokal, hingga dunia pendidikan—dalam memastikan kesejahteraan anak bangsa sebagai wujud tanggung jawab moral kebangsaan.

Presiden Prabowo Subianto memandang MBG bukan sekadar program sosial, melainkan investasi jangka panjang untuk masa depan Indonesia. Dalam sejumlah kesempatan, ia menegaskan bahwa peningkatan kualitas gizi anak merupakan langkah fundamental dalam memperkuat daya saing bangsa. Pemerintah, katanya, telah membangun 11.900 dapur MBG yang setiap hari melayani lebih dari 35 juta anak dan ibu hamil. Ia menilai bahwa tidak boleh ada lagi anak Indonesia yang kekurangan gizi, karena “gizi yang baik adalah titik awal kemajuan bangsa.”

Semangat yang diusung MBG sangat sejalan dengan nilai-nilai Sumpah Pemuda: cinta tanah air, persatuan, dan tanggung jawab kolektif untuk memajukan bangsa. Jika pada 1928 para pemuda bersatu melalui semangat kebangsaan, maka kini generasi muda Indonesia dipersatukan oleh misi kemanusiaan: memastikan setiap anak bangsa bisa makan bergizi setiap hari. Ini adalah bentuk perjuangan modern—bukan melawan penjajahan, melainkan melawan ketimpangan gizi dan kemiskinan struktural yang dapat menghambat kemajuan.

Pemerintah menempatkan program ini dalam kerangka pembangunan sumber daya manusia unggul, dengan pengawasan ketat di setiap tahap pelaksanaannya. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebut bahwa hingga Oktober 2025, MBG telah menyalurkan lebih dari 1,4 miliar porsi makanan bergizi di seluruh Indonesia. Ia menilai keberhasilan program ini tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal melalui pemberdayaan petani, nelayan, dan pelaku UMKM pangan.

Dalam penjelasannya, Zulkifli menegaskan bahwa MBG menghidupkan ekonomi rakyat karena bahan pangan yang digunakan sebagian besar berasal dari produksi dalam negeri. Dengan demikian, setiap porsi makanan bergizi yang dikonsumsi anak sekolah sesungguhnya juga menjadi energi bagi ekonomi daerah. Ia menilai, semangat gotong royong inilah yang membedakan MBG dari program bantuan konvensional, karena keberadaannya menyatukan berbagai sektor di bawah satu visi besar: membangun Indonesia dari desa, dari dapur rakyat.

Semangat itu juga tercermin dalam pengawasan mutu pangan yang dilakukan pemerintah. Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S. Deyang menjelaskan bahwa pemerintah kini memperketat standar higienitas di setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Seluruh dapur MBG diwajibkan menggunakan air bersih dan memenuhi syarat keamanan pangan. Kebijakan penggunaan air mineral galon untuk dapur yang belum memiliki sumber air layak menjadi langkah antisipatif pemerintah melindungi anak-anak penerima manfaat.

Pemerintah bahkan tak segan menjatuhkan sanksi tegas terhadap pelanggaran. Hingga Oktober 2025, sebanyak 112 dapur MBG ditutup sementara karena tidak memenuhi standar operasional, dan hanya 13 di antaranya dinyatakan layak beroperasi kembali setelah lulus audit higienitas dan memperoleh sertifikasi halal serta air bersih. Kepala BGN Dadan Hindayana menilai bahwa langkah tegas namun edukatif ini penting untuk menjaga kepercayaan publik. Ia menegaskan bahwa keberlanjutan program tidak boleh mengorbankan keselamatan masyarakat, karena “keamanan pangan adalah bagian dari hak asasi setiap anak.”

Konsistensi pemerintah dalam menjalankan MBG juga mendapat dukungan luas dari parlemen dan masyarakat. Anggota Komisi IX DPR RI Lucy Kurniasari menilai bahwa program ini merupakan perwujudan konkret dari visi pembangunan sumber daya manusia unggul yang menjadi fokus pemerintahan Prabowo–Gibran. Ia menekankan bahwa MBG tidak hanya menjamin hak gizi anak-anak, tetapi juga menjadi instrumen pemerataan ekonomi yang mampu menumbuhkan daya beli dan ketahanan pangan daerah.

Sementara itu, Kolonel Inf. Erin Andriyanto dari Direktorat Penyaluran Wilayah III BGN menyebut bahwa pelibatan masyarakat sebagai relawan dapur dan pemasok bahan pangan lokal adalah bentuk gotong royong modern yang menghidupkan kembali nilai-nilai kebangsaan. Menurutnya, setiap warga yang berpartisipasi dalam MBG sejatinya sedang menjalankan makna Sumpah Pemuda—bersatu, bekerja, dan berbakti untuk masa depan bangsa.

Dari kalangan daerah, Anggota DPRD Sidoarjo Mochamad Agil Effendi menilai bahwa pelaksanaan MBG di daerahnya telah memberi dampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa rantai pasok pangan yang tercipta dari pengadaan bahan lokal memperkuat ekonomi masyarakat desa, dari petani dan peternak hingga pedagang kecil. Ia menyebut program ini sebagai “lingkar kebaikan” yang menumbuhkan ekonomi sekaligus membangun karakter bangsa.

Momentum Hari Sumpah Pemuda ke-97 menjadi refleksi yang tepat untuk menegaskan kembali makna kebersamaan dan tanggung jawab sosial bangsa. Program MBG bukan sekadar kebijakan pangan, tetapi gerakan nasional memperkuat masa depan. Jika pemuda 1928 menyatukan bahasa dan cita, maka pemuda hari ini menyatukan tindakan nyata: bergotong royong melawan kelaparan, memperjuangkan kesehatan, dan menjaga masa depan bangsa melalui gizi yang adil untuk semua.

Di bawah semangat persatuan itu, MBG menjadi bukti bahwa nasionalisme kini bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan melalui kerja nyata yang menghidupi rakyat. Dengan sinergi pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha, Indonesia menunjukkan bahwa membangun bangsa dapat dimulai dari satu hal sederhana—memberi makan bergizi kepada anak-anaknya setiap hari. Dari dapur rakyat, semangat Sumpah Pemuda kembali menyala: bergerak bersama, bersatu, dan menyehatkan bangsa untuk Indonesia Emas 2045. (*).

Konsultan Pemberdayaan Sosial

Bentuk Nyata Semangat Sumpah Pemuda, MBG Wujudkan Generasi Muda Sehat Kuat

Oleh : Achmad Fahrezi

Dalam semangat Sumpah Pemuda hadir sebuah wujud nyata yang sederhana namun penuh makna: makan bergizi gratis. Program ini bukan sekadar bagi-bagi konsumsi, melainkan cerminan komitmen kolektif untuk memperkuat generasi muda yang sehat, produktif, dan siap berkontribusi. Seiring dengan peluncuran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh pemerintah pada awal 2025, kita bisa melihat bagaimana makan bergizi menjadi perekat sosial sekaligus investasi masa depan bangsa.

Ketika pemuda, remaja, dan anak-anak mendapatkan akses makanan bergizi tanpa dipungut biaya, maka tercipta lebih dari sekadar perut kenyang. Ada pesan moral, ada kebersamaan, ada harapan masa depan. Generasi muda yang tumbuh dengan nutrisi baik bukan hanya lebih kuat secara fisik, tapi juga memiliki potensi lebih besar untuk belajar, berprestasi, mengembangkan diri. Menurut pihak penyelenggara, MBG diarahkan untuk menurunkan angka stunting, sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dalam konteks ini, makan bergizi gratis menjadi simbol bahwa kita sebagai bangsa bersatu dalam satu tujuan: mewujudkan generasi unggul.

Lebih dari itu, momentum ini juga menjadi momen bangkit. Bangkit dari berbagai tantangan gizi yang masih membayangi, seperti rendahnya asupan protein, kurangnya variasi makanan, hingga tantangan ekonomi yang membuat keluarga tak selalu mampu menyediakan menu ideal setiap hari. Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Pratikno menegaskan bahwa gizi seimbang harus menjadi kebiasaan sehari-hari, bukan hanya di lingkungan sekolah. Melalui MBG, kita melihat kebangkitan dari kesadaran bahwa pola makan sehat adalah tanggung-jawab bersama pemerintah, masyarakat, institusi pendidikan, dan generasi muda itu sendiri.

Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat hingga 20 Oktober 2025, Program Makan Bergizi Gratis telah menjangkau 36.773.520 penerima manfaat, mencakup anak usia PAUD, siswa SD hingga SMA, serta ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Kepala BGN Dadan Hindayana mengatakan capaian lebih dari 12.500-an SPPG aktif ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memastikan Program MBG berjalan efektif dan merata. Setiap SPPG berperan penting sebagai dapur komunitas yang mengolah dan menyalurkan makanan bergizi dengan standar keamanan dan higienitas yang ketat

Program makan bergizi gratis ini juga memunculkan benih-benih pertumbuhan — tumbuh dalam makna luas: tumbuh sebagai individu, tumbuh sebagai kelompok, tumbuh sebagai bangsa. Anak yang memperoleh asupan bergizi di sekolah atau pesantren, akan lebih siap untuk berkembang fisik dan kecerdasannya. Sebuah laporan menyebut bahwa konsumsi makanan sehat berkorelasi dengan hasil belajar yang lebih baik.

Lebih jauh lagi, makan bergizi gratis menunjukkan bahwa solidaritas antargenerasi dan antarwilayah sangat diperlukan: kota dan desa, sekolah dan pesantren, pemerintah dan masyarakat sipil — semua bersinergi. Ketika satu anak di sekolah kecil di Lingga, Kepulauan Riau, menerima paket makan bergizi melalui kolaborasi organisasi pemuda, Koramil dan badan gizi, maka itu bukan hanya soal makanan. Itu adalah tindakan kolektif yang melampaui batas administratif dan sosial. Semangat persatuan inilah yang harus terus diperkuat agar visi besar negara bisa tercapai.

Tentu saja, tantangan juga ada. Meskipun program MBG sudah berjalan, berbagai catatan muncul: seperti kebutuhan untuk memastikan keberlanjutan, kualitas bahan makanan, keterlibatan keluarga dan masyarakat dalam mendukung kebiasaan makan sehat, hingga efektivitas dalam jangkauan dan distribusi.Tetapi justru dari sinilah semangat tumbuh berperan: melalui tantangan kita menjadi lebih kuat, lebih kreatif, lebih inovatif.

Dalam konteks pemuda Indonesia, terdapat peran-peran yang bisa diambil agar makan bergizi gratis bukan hanya program temporer tetapi peluang jangka panjang. Pemuda dapat memfasilitasi edukasi gizi di sekolah mereka, melakukan kampanye melalui media sosial, mengadvokasi menu-bergizi di kantin, membangun kebun sekolah atau kebun komunitas yang menyuplai bahan lokal, bahkan menginisiasi bisnis mikro yang terkait dengan pangan sehat. Dengan demikian, makan bergizi gratis bukan hanya makan siang gratis, tetapi ekosistem ke­sehatan dan produksi pangan yang menyeluruh — yang tumbuh di tangan generasi muda.

Saat kita menampilkan anak-anak yang tertawa bersama sambil menikmati nasi, sayur, lauk ikan atau ayam, buah segar, kita sedang melihat bukan hanya lukisan kebahagiaan sesaat. Kita sedang melihat fondasi masa depan: generasi tangguh yang berdaya saing, komunitas yang melebur menjadi satu dalam kebersamaan, dan ekonomi lokal yang menerima aliran energi baru. Semangat ini sangat sesuai dengan panggilan: Pemuda Indonesia bersatu, bangkit, tumbuh.

Akhirnya, makan bergizi gratis bukan sekadar kebijakan sosial, tetapi manifestasi nyata semangat kebangsaan, gotong-royong, dan harapan. Ketika kita semua pemerintah, masyarakat, sekolah, komunitas pemuda  bekerja bersama, maka anak-anak yang hari ini makan bergizi akan menjadi pemuda yang kelak membawa Indonesia menuju masa emas. Tugas kita sekarang adalah menjaga momentum ini, memperkuat bagian lokalnya, memastikan keberlanjutan programnya, dan menjadikan makan bergizi gratis sebagai kebiasaan yang melekat bukan program sekali-jalan.

Mari kita, sebagai generasi muda dan bangsa, menyambut dengan penuh semangat bahwa makan bergizi gratis adalah wujud nyatanya semangat bersatu, bangkit, dan tumbuh. Dan dengan demikian, Pemuda Indonesia tidak hanya bermimpi, tetapi bergerak, berkontribusi, dan berkembang bersama bangsa.

)* Pengamat Kebijakan Publik

Memperkuat Janji Sumpah Pemuda, Pemerintah Tingkatkan Kualitas Hidup Remaja Lewat Program Makan Bergizi Gratis

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rika Rachmalina mengatakan MBG dapat menjadi katalis untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat khususnya remaja.

“Peningkatan asupan gizi yang merata melalui MBG tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga memperkuat daya konsentrasi, prestasi belajar, serta kesejahteraan psikologis remaja di masa pertumbuhan,” ujarnya

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sekitar 23% remaja Indonesia masih mengalami kekurangan gizi mikro seperti zat besi dan vitamin D, yang berpengaruh langsung terhadap konsentrasi belajar dan perkembangan otak.

Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR RI, Lucy Kurniasari, menegaskan bahwa MBG membuka peluang bagi pelaku UMKM seperti peternak ayam, pembudidaya lele, dan usaha pangan lokal lainnya untuk menjadi pemasok.

”Program MBG ini luar biasa karena tidak hanya memastikan anak-anak mendapatkan makanan bergizi, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku UMKM,” kata Lucy.

Di tempat lain, Ahli gizi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Langga Lero, Kota Tambolaka, Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur (NTT), Yulius Adi Papa mengatakan melalui program MBG, pemerintah berharap angka tersebut dapat ditekan secara signifikan dalam lima tahun ke depan.

“Dalam menu MBG setiap hari sudah dipastikan bergizi atau memenuhi gizi seimbang, karena lengkap karbohidrat, protein nabati, hewani, sayur, buah,” ucap Lius.

Momentum Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa cita-cita besar bangsa hanya dapat dicapai bila generasi mudanya tumbuh sehat dan produktif. Dengan semangat persatuan dan gotong royong sebagaimana diikrarkan para pemuda tahun 1928, Indonesia dapat melangkah menuju masa depan yang lebih sehat, mandiri, dan sejahtera

Jelang Sumpah Pemuda, MBG Perkuat Fondasi Kemandirian Generasi Muda Indonesia

Direktur Promosi dan Edukasu Gizi Badan Gizi Nasional (BGN) Gunalan mengatakan, program MBG sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045. “Program ini diharapkan dapat mendukung visi Indonesia Emas 2045 dengan menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan kuat,” ujarnya.

Program MBG, lanjutnya, juga dirancang untuk dapat menyelesaikan permasalahan bangsa. Seperti kemiskinan, ekonomi yang belum merata, kualitas sumber daya manusia (SDM), dan mendorong lapangan pekerjaan baru.

Ia menilai pemenuhan gizi yang baik memiliki akan dampak langsung terhadap kemampuan anak. Khususnya dalam belajar, meningkatkan gizi berkualitas, dan kualitas SDM.

Sosialisasi program andalan Prabowo Subianto itu pun terus digencarkan di berbagai daerah, yang dilaksanakan oleh legislator. Sosialisasi dianggap sebagai salah satu langkah strategis meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.

Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, saat melakukan sosialisiasi di Kabupaten Blora mengatakan, MBG adalah wujud nyata kepedulian negara terhadap generasi penerus. Program ini tidak hanya menyasar anak sekolah, tetapi juga ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

“Pemenuhan gizi sejak dini merupakan fondasi penting untuk membangun generasi Indonesia yang sehat dan unggul,” ucap Edy.

Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR RI Muh. Haris di Kabupaten Semarang menegaskan bahwa MBG merupakan wujud nyata komitmen pemerintah dalam menekan angka stunting sekaligus memastikan anak-anak sekolah memperoleh asupan gizi seimbang.

“Program ini memastikan anak-anak sekolah memperoleh gizi yang cukup, terutama di wilayah rawan pangan. Kami ingin memastikan kebijakan ini tepat sasaran, efektif, dan menjamin keamanan pangan lintas sektor,” pungkas Haris.

BLT Oktober–Desember Wujud Nyata Kepedulian Pemerintah terhadap Generasi Muda

BLT tambahan ini diberikan sekali salur senilai Rp900.000 per keluarga penerima manfaat (KPM) mencakup bantuan tiga bulan sekaligus dan disalurkan melalui bank-bank Himbara dan PT Pos Indonesia mulai 20 Oktober 2025. Total penerima mencapai 35 juta KPM yang berasal dari desil 1 hingga 4 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Pemerintah menegaskan bahwa BLT bukan sekadar bantuan konsumtif, tetapi juga menjadi sarana penguatan ketahanan sosial dan ekonomi, terutama bagi keluarga muda produktif. Bantuan ini diharapkan menjadi jembatan menuju kemandirian ekonomi melalui pelatihan keterampilan, akses pembiayaan mikro, dan dukungan terhadap kewirausahaan muda.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa BLT tambahan ini merupakan instruksi langsung Presiden untuk menjaga stabilitas daya beli sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap keberpihakan negara.
“Bapak Presiden meminta agar bantuan langsung tunai diberikan pada bulan Oktober, November, dan Desember 2025. Penyalurannya akan menjangkau lebih dari 35 juta keluarga penerima manfaat di seluruh Indonesia,” ujar Airlangga. Ia menambahkan, pemerintah memandang penting memastikan program perlindungan sosial tidak berhenti pada bantuan tunai, tetapi juga membuka ruang bagi kemandirian ekonomi. “BLT ini diharapkan menjadi energi tambahan bagi keluarga muda untuk berani berinovasi dan mengembangkan potensi usaha,” tuturnya.

Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang sering dipanggil Gus Ipul menekankan pentingnya ketepatan sasaran, transparansi, dan keberlanjutan manfaat bantuan sosial. Ia menjelaskan bahwa Kementerian Sosial terus memperkuat basis data penerima melalui Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) agar setiap bantuan tepat sasaran. Upaya tersebut dilakukan dengan melibatkan pemerintah daerah, aparat desa, dan pendamping sosial di lapangan.

Menurut Gus Ipul, pemerintah juga menyiapkan strategi pendampingan bagi penerima manfaat, terutama kelompok usia muda yang memiliki potensi produktif tinggi. Program pendampingan ini bertujuan agar bantuan tunai tidak hanya digunakan untuk konsumsi, tetapi juga menjadi modal awal untuk kegiatan usaha mikro, pelatihan keterampilan, atau peningkatan kapasitas ekonomi keluarga.

Gus Ipul juga menegaskan, semangat kemandirian menjadi nilai utama dalam setiap kebijakan perlindungan sosial. Ia menyebut bahwa kehadiran BLT merupakan wujud komitmen pemerintah dalam memberikan perlindungan bagi masyarakat rentan sekaligus membangkitkan potensi ekonomi di tingkat akar rumput.
“Bantuan sosial bukan hanya bentuk kepedulian negara terhadap rakyatnya, tetapi juga instrumen untuk menggerakkan perubahan. Kami ingin bansos menjadi jembatan menuju kemandirian, bukan ketergantungan. Generasi muda harus menjadi pelaku utama kebangkitan ekonomi bangsa,” pungkasnya.

Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk memeriksa status penerimaan BLT melalui situs resmi Cek Bansos Kemensos serta ikut mengawasi proses penyaluran di lapangan. Melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat, program BLT 2025 diharapkan tidak hanya menguatkan ekonomi rumah tangga, tetapi juga menumbuhkan generasi muda yang mandiri, kreatif, dan berdaya saing.

Langkah berkelanjutan ini menjadi bukti nyata bahwa kebijakan pemerintah hadir untuk memberdayakan rakyat, memperkuat ketahanan ekonomi nasional, dan membangkitkan semangat kemandirian bangsa menuju Indonesia Maju.

Momentum Sumpah Pemuda, Pemerintah Tegaskan Komitmen Ekonomi Kerakyatan Lewat BLT Kesra

JAKARTA – Menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2025, pemerintah menunjukkan komitmen kuat dalam memperkuat kesejahteraan rakyat dan pemberdayaan generasi muda melalui Program Bantuan Langsung Tunai Kesejahteraan Rakyat (BLT Kesra).

Program ini menjadi simbol nyata perhatian pemerintah terhadap rakyat kecil serta wujud nyata semangat kebangsaan untuk menumbuhkan kemandirian ekonomi keluarga Indonesia.

BLT Kesra dirancang sebagai langkah konkret memperkuat daya beli masyarakat dan menstabilkan perekonomian nasional. Program ini menyasar 35,4 juta keluarga penerima manfaat di seluruh Indonesia dengan total anggaran sebesar Rp30 triliun. Pemerintah memastikan seluruh bantuan tersalurkan secara transparan dan tepat sasaran melalui Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan PT Pos Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, penyaluran BLT Kesra berlangsung mulai Oktober hingga Desember 2025 sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekonomi masyarakat.

“Sebanyak 35 juta keluarga akan mendapatkan bantuan secara bertahap melalui jaringan bank nasional dan PT Pos Indonesia,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa program ini merupakan bentuk nyata kehadiran pemerintah di tengah rakyat untuk memastikan kesejahteraan menjadi prioritas utama pembangunan nasional.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menambahkan, bantuan yang diterima masyarakat mencapai total Rp1,5 juta per keluarga selama triwulan keempat. Selain sebagai perlindungan sosial, BLT Kesra menjadi momentum pemberdayaan keluarga agar lebih mandiri dan produktif.

“Bantuan ini diharapkan menjadi modal ekonomi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok sekaligus mendorong perputaran ekonomi di tingkat lokal,” katanya.

Pelaksana Tugas Direktur Utama PT Pos Indonesia, Haris, juga menegaskan kesiapan pihaknya dalam menyalurkan bantuan hingga ke pelosok negeri dengan sistem digitalisasi yang menjamin kecepatan dan transparansi. Langkah ini memperkuat efisiensi dan akuntabilitas program sekaligus memperluas akses keuangan bagi masyarakat.

Program BLT Kesra mencerminkan arah baru kebijakan sosial pemerintah: tidak sekadar memberikan bantuan, tetapi mendorong transformasi ekonomi rakyat menuju kemandirian. Semangat ini sejalan dengan nilai-nilai Sumpah Pemuda yang meneguhkan tekad “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa”, kini diwujudkan dalam semangat satu tujuan — membangun Indonesia yang sejahtera dan berdaya.

Dengan hadirnya BLT Kesra, pemerintah tidak hanya membantu rakyat yang membutuhkan, tetapi juga membangun fondasi kemandirian dan optimisme. Inilah bukti nyata bahwa semangat Sumpah Pemuda terus hidup dalam langkah-langkah kebijakan pemerintah untuk menyejahterakan rakyat dan memajukan bangsa. *

Pemuda Bangkit Bersama Bansos: Penyaluran BLT Oktober–Desember Ikut Dorong Kemandirian Generasi Muda

Oleh : Andika Pratama )*

Pemerintah kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga daya beli rakyat sekaligus membuka ruang pemberdayaan bagi generasi muda melalui kebijakan ganda yang berpihak kepada masyarakat bawah dan kaum muda produktif. Program Bantuan Langsung Tunai Sementara (BLTS) Kesra dan Program Magang Nasional yang baru saja diluncurkan menjadi bukti nyata bahwa negara hadir tidak hanya sebagai penyedia bantuan sosial, tetapi juga sebagai fasilitator tumbuhnya kemandirian dan kreativitas anak bangsa.

Peluncuran BLTS Kesra triwulan terakhir untuk periode Oktober–Desember 2025 menjadi langkah strategis pemerintah di tengah situasi ekonomi global yang masih bergejolak. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa bantuan ini menyasar 46,7 juta keluarga penerima manfaat dari desil 1 hingga 4, dengan potensi menjangkau 140 juta jiwa. Penyaluran dilakukan melalui Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) serta PT Pos Indonesia, dan telah dimulai secara simbolis kepada penerima baru.

Airlangga menyebut bahwa program ini tidak sekadar bentuk perlindungan sosial, tetapi juga bagian dari strategi mempertahankan stabilitas ekonomi nasional hingga akhir tahun. Pemerintah berupaya memastikan bahwa masyarakat tetap memiliki daya beli yang kuat, sekaligus melindungi kelompok rentan dari dampak inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Kebijakan ini menjadi bukti nyata bahwa keberpihakan negara kepada masyarakat kecil bukan hanya jargon, melainkan langkah nyata dalam menjaga kesejahteraan rakyat.

Selain bantuan tunai, pemerintah juga menaruh perhatian besar pada generasi muda yang menjadi motor penggerak pembangunan bangsa. Melalui Program Magang Nasional, pemerintah membuka kesempatan bagi lulusan perguruan tinggi untuk terjun langsung ke dunia kerja. Program ini diikuti oleh 20.000 peserta pada gelombang pertama dan ditargetkan meningkat menjadi 80.000 peserta pada November mendatang. Dengan dukungan lebih dari 1.600 perusahaan yang menyediakan lebih dari 26.000 posisi magang, langkah ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja.

Kebijakan ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari penguatan sumber daya manusia. Pemerintah memahami bahwa kesejahteraan hanya akan berkelanjutan jika diiringi dengan peningkatan kualitas dan produktivitas masyarakat, terutama generasi muda. Dengan memberikan ruang belajar, bekerja, dan berkontribusi, pemerintah sejatinya sedang menyiapkan generasi masa depan yang tangguh, adaptif, dan berdaya saing.

Di sisi lain, pemerintah juga memastikan bahwa akses pendidikan tetap terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa Program Sekolah Rakyat yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto menjadi langkah konkrit dalam memberikan kesempatan belajar bagi anak-anak yang sempat terputus pendidikannya. Hingga saat ini, sudah terdapat 165 sekolah rakyat yang tersebar di seluruh Indonesia. Program ini tidak hanya berorientasi pada pendidikan akademik, tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan praktis, pemenuhan gizi, dan tempat tinggal yang layak.

Teddy menjelaskan bahwa keberadaan Sekolah Rakyat dan program bantuan sosial seperti BLT saling melengkapi sebagai bentuk tanggung jawab negara terhadap rakyatnya. Pemerintah tidak hanya mengeluarkan kebijakan ekonomi, tetapi juga memastikan bahwa kebijakan tersebut berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat. BLT tambahan yang disalurkan hingga akhir tahun berasal dari efisiensi anggaran negara yang mencapai Rp30 triliun, dengan sasaran 35,4 juta keluarga penerima manfaat. Bantuan sebesar Rp300 ribu per bulan selama tiga bulan diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar, mendukung biaya pendidikan anak, serta memperkuat daya beli keluarga.

Kombinasi antara bantuan sosial dan kebijakan pemberdayaan pemuda menjadi simbol penting dari arah baru pembangunan nasional. Pemerintah tidak ingin rakyat hanya bergantung pada bantuan, tetapi justru menggunakan momentum ini untuk bangkit dan mandiri. Bagi generasi muda, ini adalah kesempatan emas untuk menunjukkan bahwa semangat produktivitas dan kreativitas dapat menjadi modal utama menuju kesejahteraan berkelanjutan.

Dalam satu tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, berbagai langkah nyata telah diambil untuk memperkuat fondasi ekonomi dan sosial bangsa. Kolaborasi lintas sektor, efisiensi anggaran, serta kebijakan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat membuktikan bahwa arah pembangunan sedang bergerak pada jalur yang tepat. Ke depan, harapan besar tertuju pada peran generasi muda yang bukan hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku perubahan di tengah masyarakat.

Program BLT dan magang nasional bukan sekadar intervensi jangka pendek, melainkan investasi sosial jangka panjang bagi masa depan bangsa. Dengan dukungan kebijakan yang inklusif dan berpihak pada rakyat, Indonesia tengah melangkah menuju kemandirian ekonomi yang berbasis pada semangat gotong royong, kerja keras, dan inovasi generasi mudanya.

Semangat “Pemuda Bangkit Bersama Bansos” menjadi cerminan bahwa bantuan sosial bukan hanya instrumen ekonomi, melainkan juga gerakan sosial untuk menumbuhkan kemandirian, memperkuat solidaritas, dan membangun harapan baru bagi masa depan Indonesia. Pemerintah terus menunjukkan komitmen untuk memastikan tidak ada warga negara yang tertinggal, serta memastikan setiap pemuda Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, bekerja, dan berkarya bagi kemajuan bangsa.

)* Penulis adalah pengamat sosial