Pemerintah Tegaskan Pemblokiran E-Wallet Aktif untuk Perangi Judi Daring

Jakarta – Pemerintah melalui Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menegaskan komitmennya dalam memberantas praktik judi daring dengan menyasar jalur perputaran dana yang digunakan para pelaku. Kepala PPATK, Ivan Yustiavandana, memastikan pihaknya akan memblokir dompet digital (e-wallet) yang terindikasi aktif menerima atau menyalurkan dana hasil aktivitas ilegal tersebut.

“Banyak kasus e-wallet terkait dana ilegal sudah kami tangani. Jika ada dana ilegal masuk, kami akan mengambil langkah (pemblokiran) untuk melindungi pihak yang dirugikan,” ujar Ivan.

Berdasarkan catatan PPATK, sepanjang semester I 2025, nilai deposit judi daring yang dilakukan melalui e-wallet mencapai Rp1,6 triliun. Angka ini tercatat dari sekitar 12,6 juta kali transaksi, menunjukkan masifnya peran e-wallet sebagai sarana perputaran uang hasil judi daring.

Ivan menegaskan bahwa pemblokiran hanya akan menyasar akun e-wallet yang terbukti aktif digunakan untuk transaksi ilegal, bukan akun yang bersifat dormant atau tidak aktif. “Tidak ada pemblokiran terhadap e-wallet dormant. Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir,” tegasnya.

Kebijakan ini menjadi kelanjutan dari langkah sebelumnya, di mana PPATK memblokir sejumlah rekening bank dormant yang terindikasi digunakan untuk kejahatan finansial. Meski sempat menuai protes karena dinilai dilakukan tanpa sosialisasi, PPATK memastikan kini proses akan lebih terarah dan tepat sasaran.

Lebih lanjut, Ivan mengungkapkan pihaknya terus memperkuat koordinasi dengan penyedia layanan dompet digital, perbankan, dan aparat penegak hukum untuk memutus rantai peredaran uang hasil judi daring. “Kami tidak bekerja sendiri. Ini kerja bersama untuk menutup celah aliran dana ke aktivitas ilegal,” ujarnya.

Langkah tegas PPATK ini sejalan dengan arahan pemerintah yang menempatkan pemberantasan judi daring sebagai prioritas nasional. Aktivitas tersebut dinilai merusak sendi sosial masyarakat, menguras ekonomi keluarga, dan berpotensi memicu tindak kriminal lain.

Dengan penindakan yang terukur dan kolaborasi lintas sektor, pemerintah berharap ruang gerak pelaku judi daring semakin sempit. Pemblokiran e-wallet aktif diharapkan tidak hanya memutus aliran dana ilegal, tetapi juga memberikan efek jera bagi para pelaku dan penyedia layanan yang terlibat.

Pemerintah Ingatkan Bahaya Budaya Populer yang Promosikan Bendera Bajak Laut

Oleh: Rivka Mayangsari*)

Fenomena pengibaran bendera bajak laut yang terinspirasi dari budaya populer, seperti serial One Piece, belakangan ini memicu perhatian publik dan pemerintah. Di balik kesan hiburan dan tren anak muda, para pemangku kepentingan mengingatkan bahwa fenomena ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Ada kekhawatiran bahwa simbol-simbol tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi penyusupan budaya yang mengikis identitas nasional, terutama jika dibiarkan tanpa filter yang tepat.

Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersatu menghadapi segala bentuk upaya pemecah belah bangsa, termasuk melalui simbol-simbol budaya populer yang berpotensi memengaruhi kesadaran kolektif. Ia menyampaikan bahwa pihaknya mendeteksi adanya niat memecah persatuan melalui pengibaran bendera One Piece dan menegaskan bahwa hal itu harus ditolak serta dilawan bersama. Ia menilai tren budaya populer tidak boleh dijadikan alat untuk melemahkan ikatan kebangsaan.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Badan Siber Ansor memberikan peringatan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang memperuncing perbedaan atau mem-framing fenomena ini secara ekstrem. Ketua Badan Siber Ansor, Ahmad Luthfi, menjelaskan bahwa Indonesia dibangun tidak hanya dengan semangat merdeka, tetapi juga dengan tanggung jawab untuk menjaga dan merawat simbol-simbol kedaulatan yang telah diperjuangkan dengan darah dan air mata para pendahulu bangsa.

Ia menegaskan bahwa budaya pop tidak menjadi ancaman selama dapat dikelola dengan bijak. Menurutnya, budaya populer justru bisa dimanfaatkan sebagai media penguat semangat gotong royong, persaudaraan, dan nasionalisme, asalkan identitas bangsa tidak tergerus oleh tren global yang tidak disaring secara tepat. Ia juga mengingatkan generasi muda agar bersikap cerdas dalam menyeimbangkan antara kreativitas dan etika. Kreativitas yang tidak diiringi kesadaran nasional, menurutnya, justru dapat dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk melemahkan ketahanan budaya.

Pandangan yang lebih tajam datang dari pakar intelijen, Salim Nuhuyanan, S.H., yang memandang fenomena ini bukan sekadar perilaku anak muda yang mengikuti tren. Ia menyampaikan bahwa ada kemungkinan pengibaran simbol bajak laut dimanfaatkan sebagai alat uji oleh aktor asing untuk membaca respons negara terhadap penyusupan budaya.

Ia menjelaskan bahwa pola seperti itu sering digunakan untuk mengidentifikasi kelemahan ideologi dan ketahanan budaya nasional. Salim menambahkan bahwa ancaman modern tidak lagi hanya hadir dalam bentuk serangan fisik atau militer, melainkan bersifat halus dengan menyusup melalui budaya, simbol, dan media sosial. Menurutnya, simbol bajak laut dapat menjadi indikator awal dari upaya sistematis untuk melemahkan imunitas ideologis bangsa, dan jika dibiarkan, akan mengikis ketahanan tersebut sedikit demi sedikit.

Fenomena ini menunjukkan bahwa peperangan ideologi di era digital sangat berbeda dengan bentuk konvensionalnya. Persaingan antarnegara kini berlangsung pula di ranah narasi, budaya, dan persepsi publik. Penggunaan simbol yang tampak sepele dapat dimanfaatkan sebagai soft weapon untuk menggeser pandangan generasi muda, terutama jika dikaitkan dengan tren global yang mereka sukai.

Pemerintah dan elemen masyarakat sipil pun didorong untuk tidak hanya fokus pada pencegahan ancaman fisik, tetapi juga memperkuat ketahanan budaya dan ideologi. Penguatan pendidikan kebangsaan, literasi digital, dan kesadaran sejarah menjadi kunci untuk menutup celah masuknya simbol-simbol yang berpotensi merusak identitas bangsa.

Selain itu, pelibatan tokoh budaya, komunitas kreatif, dan influencer nasionalis dinilai penting untuk mengimbangi narasi tren global. Budaya pop dapat dimanfaatkan untuk memperkuat nasionalisme jika dikelola dengan narasi yang berpihak pada kepentingan bangsa.

Sebagai negara besar yang kaya budaya, Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk terus menjaga kedaulatan simbol dan makna di tengah derasnya arus globalisasi. Simbol bendera Merah Putih harus tetap menjadi ikon utama persatuan, sedangkan simbol lain yang masuk dari luar perlu dipahami konteks dan implikasinya.

Fenomena bendera bajak laut menjadi pelajaran bahwa kewaspadaan tidak boleh berkurang. Perlu ada keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab menjaga integritas ideologi negara. Melemahnya kesadaran ideologis, meskipun dimulai dari hal-hal kecil, dapat membuka jalan bagi perpecahan.

Dengan bersatu, cerdas memilah tren, dan memegang teguh nilai-nilai kebangsaan, bangsa Indonesia diyakini mampu menghadapi setiap gelombang budaya global tanpa kehilangan jati diri. Dalam hal ini, peringatan pemerintah dimaksudkan bukan sebagai larangan mutlak terhadap budaya pop, melainkan sebagai ajakan untuk memanfaatkannya secara membangun, menginspirasi, dan memperkuat semangat persatuan nasional.

Arus budaya global tidak mungkin dibendung, namun dapat diarahkan agar memperkuat karakter bangsa. Pemerintah menekankan bahwa generasi muda harus menjadi garda terdepan dalam proses ini, memastikan setiap tren yang masuk ke Indonesia menjadi peluang memperkokoh nasionalisme, bukan justru meruntuhkannya dari dalam.

Kesadaran kolektif untuk menempatkan identitas nasional di atas segalanya menjadi benteng terakhir dari infiltrasi budaya yang berpotensi melemahkan bangsa. Dengan mempertahankan nilai luhur, menghidupkan kembali semangat gotong royong, dan menolak simbol-simbol yang mereduksi jati diri Indonesia, rakyat dapat memastikan bahwa kemerdekaan yang diwariskan para pendiri bangsa tetap kokoh menghadapi badai globalisasi.

*) Pemerhati hukum

Dewi Puspitorini Pemersatu Para Alumni UI Lewat Platform Digital UI Connect

Jakarta – Menjelang pemilihan Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) periode 2025–2028, sosok dr. Dewi Puspitorini muncul sebagai kandidat kuat dengan gagasan progresif dan inklusif. Dokter spesialis paru ini mengusung visi menjadikan ILUNI UI sebagai rumah besar yang menyatukan seluruh alumni lintas fakultas dan generasi melalui pendekatan digital dan semangat kebersamaan.

Mengangkat tagline “U&I Guyub, U and I become Us”, Dewi menekankan pentingnya membangun ILUNI UI yang guyub, terbuka, dan berdampak nyata bagi alumni, almamater, serta bangsa.

“ILUNI UI harus menjadi rumah besar bagi semua alumni, tempat bertukar gagasan, tumbuh bersama, dan berkontribusi nyata,” ujar Dewi di Jakarta.

Sebagai wujud komitmennya terhadap transformasi digital, Dewi merancang penguatan platform UI Connect, sebuah ekosistem digital yang menghubungkan alumni di seluruh penjuru dunia. Platform ini akan menjadi jembatan kolaborasi lintas sektor, memudahkan sinergi tanpa batas ruang dan waktu.

“Digitalisasi total sistem ILUNI menjadi misi utama, agar komunikasi dan kontribusi alumni dapat berlangsung efektif dan adaptif terhadap perkembangan zaman,” katanya.

Lima misi strategis disusun Dewi dalam mewujudkan visinya, yakni: digitalisasi sistem ILUNI UI, penguatan jaringan alumni global, pemberdayaan alumni di bidang kesejahteraan dan kesehatan, kontribusi nyata untuk Indonesia yang lebih sehat dan sejahtera, serta program kepemimpinan perempuan yang inklusif.

Perhatian besar juga diberikan pada pengarusutamaan kesetaraan gender. Dewi menilai alumni perempuan harus diberi ruang lebih luas untuk tampil dan memimpin di berbagai sektor.

“Perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan. Sudah saatnya kita mendorong lebih banyak pemimpin perempuan dari lingkungan alumni,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Umum ILUNI Fakultas Kedokteran UI (FKUI), Wawan Mulyawan, menyatakan dukungannya terhadap Dewi.

“Beliau memiliki visi dan pengalaman yang relevan dengan kebutuhan organisasi alumni hari ini. Kemampuannya mempersatukan lintas fakultas dan generasi sangat dibutuhkan,” ungkap Wawan.

Pemilihan Ketua Umum ILUNI UI akan berlangsung secara e-voting pada 23–24 Agustus 2025. Dengan nomor urut 6, Dewi mengajak seluruh alumni UI untuk bergerak bersama membangun kekuatan kolektif demi menyongsong Indonesia Emas 2045.

Dewi Puspitorini Dorong Peran Strategis Melalui ILUNI UI Think Tank

Jakarta – Pemilihan Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) periode 2025–2028 menjadi momentum penting bagi masa depan organisasi alumni terbesar di Tanah Air ini.

Salah satu kandidat yang mendapat perhatian luas adalah dr. Dewi Puspitorini, SpP, MARS. Mengusung visi inklusif, progresif, dan berbasis kolaborasi, Dewi bertekad menjadikan ILUNI UI sebagai kekuatan strategis yang berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.

Dewi menegaskan bahwa ILUNI UI harus menjadi “rumah besar” bagi seluruh alumni, lintas fakultas, angkatan, dan profesi, tanpa sekat perbedaan.

“ILUNI UI harus menjadi simpul koneksi dan kolaborasi yang memperkuat kontribusi alumni dalam pembangunan nasional,” ujarnya.

Visi besarnya dituangkan dalam lima misi strategis: digitalisasi total ILUNI UI melalui platform UI Connect, penguatan jejaring alumni global, program kesejahteraan dan kesehatan alumni, kontribusi untuk Indonesia yang lebih sehat dan sejahtera, serta pemberdayaan perempuan dalam kepemimpinan.

Melalui UI Connect, Dewi ingin memperluas keterhubungan antaralumni di berbagai daerah dan sektor, memfasilitasi pertukaran ide serta kolaborasi untuk mendukung agenda pembangunan.

“Dengan jaringan alumni yang tersebar di seluruh penjuru dunia, ILUNI UI memiliki potensi besar menjadi motor penggerak inovasi dan solusi strategis bagi bangsa,” kata Dewi.

Perhatian khusus juga ia berikan pada isu kesetaraan gender. Dewi menilai, peningkatan peran perempuan dalam kepemimpinan strategis akan memperkaya perspektif dan memperkuat daya saing Indonesia.

“Kesetaraan gender adalah kunci membangun organisasi yang modern, responsif, dan tangguh,” tegasnya.

Dalam misinya, Dewi juga menginisiasi ILUNI UI Think Tank sebagai wadah kolaborasi alumni UI lintas disiplin untuk merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis data pada isu-isu strategis bangsa.

“Melalui ILUNI UI Think Tank, kami membangun forum rekomendasi kebijakan untuk isu-isu strategis bangsa. Di sini, alumni lintas disiplin bertukar gagasan, mengolah data, dan merumuskan masukan yang aplikatif bagi para pengambil keputusan, agar kebijakan yang lahir lebih berbasis bukti dan berdampak nyata bagi masyarakat,” dalam pernyataan tertulisnya.

Dukungan terhadap Dewi datang dari berbagai kalangan. Ketua Umum ILUNI Fakultas Kedokteran UI, Dr. Wawan Mulyawan, menyebut Dewi sebagai figur pemersatu lintas fakultas dan generasi yang memiliki rekam jejak kepemimpinan kuat.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal ILUNI UI, Ahmad Fitrianto, menekankan pentingnya memperkuat sinergi dengan Himpunan Alumni Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (HIMPUNI) dan pemerintah dalam mendorong inovasi digital, kemandirian pangan, serta peningkatan kesejahteraan rakyat.

Dewi resmi terdaftar sebagai kandidat Ketua Umum ILUNI UI dengan nomor urut 6. Pemilihan akan dilaksanakan melalui e-voting pada 23–24 Agustus 2025. Ketua Umum ILUNI UI saat ini, Didit Ratam, mengajak seluruh alumni untuk segera melakukan verifikasi akun dan berpartisipasi aktif.

Dengan visi kolaboratif, inovasi digital, dan kepedulian terhadap isu kebangsaan, Dr. Dewi Puspitorini diyakini mampu membawa ILUNI UI menjadi kekuatan alumni yang solid, berdaya saing global, dan berperan strategis dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. [-red]

[edRW]

Dewi Puspitorini Calon Terkuat Ketua Umum ILUNI UI 2025–2028

JAKARTA – Pemilihan Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) periode 2025–2028 akan berlangsung pada 23–24 Agustus 2025 secara elektronik melalui aplikasi UI Connect. Dari tujuh kandidat yang maju, dr. Dewi Puspitorini, Sp.P, MARS menjadi salah satu calon terkuat dengan dukungan luas lintas fakultas. Mengusung tagline U&I Guyub, U and I become Us, Dewi menawarkan kepemimpinan yang progresif, inklusif, dan berdampak nyata.

“Saya siap membangun ILUNI UI yang guyub, progresif, inklusif, berdampak nyata bagi alumni, almamater, dan bangsa menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Dewi Puspitorini.

Dalam visi besarnya, Dewi merumuskan lima pilar strategis. Digitalisasi total sistem ILUNI UI untuk transparansi dan efisiensi menjadi langkah awal. Penguatan jaringan alumni global, pemberdayaan berkelanjutan di bidang kesejahteraan dan kesehatan, kontribusi bagi Indonesia yang lebih sehat, serta penguatan peran perempuan dalam kepemimpinan juga menjadi prioritas.

Dr. Risman Pasaribu, Dewan Pakar KAHMI Nasional, menilai Dewi sebagai figur tepat untuk memimpin ILUNI UI.

“Mbak Dewi memiliki kapasitas tinggi dan gagasan membangun ILUNI UI ke depan, sehingga menjadi harapan besar bagi para alumni,” tegas Risman Pasaribu.

Pandangan positif juga datang dari alumni lintas angkatan. Adisti, alumni tahun 2001, mengapresiasi semangat kerja Dewi.

“Beliau pekerja keras, memiliki semangat berkarya, dan selalu mengutamakan kebersamaan,” tambah Adisti.

Sabi, alumni Teknik Sipil angkatan 2000, menyatakan keyakinan penuh.

“Di bawah kepemimpinan dr. Dewi, ILUNI UI akan semakin guyub dan berdampak nyata bagi semua alumni,” ungkap Sabi.

Konsistensi program menjadi daya tarik tersendiri. Tsabitah Addinni, alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat UI tahun 2021, menilai program “alumni UI berdaya” milik Dewi mampu menjawab tantangan peluang kerja.

“Inilah yang membuat saya memilih Mbak Dewi,” tuturnya.

Sementara itu, Ekasakti Octohariyanto, MPdKed, alumni tahun 2002, menyoroti pengalaman Dewi di bidang manajerial dan kolaborasi lintas sektor.
“Dengan jargon guyub bersama, mari kita wujudkan kebersamaan alumni UI,” pungkas Ekasakti.

Dengan rekam jejak, visi, dan dukungan luas, Dewi Puspitorini tampil sebagai kandidat yang tidak hanya siap memimpin, tetapi juga menyatukan potensi alumni UI demi kontribusi nyata bagi bangsa.

Misi Besar dr. Dewi Puspitorini Jadikan ILUNI UI Lokomotif Perubahan

Jakarta – Pemilihan Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) periode 2025–2028 akan diwarnai persaingan sehat dengan harapan arah baru yang lebih progresif. Salah satu kandidat kuat, dr. Dewi Puspitorini, SpP, MARS, tampil dengan visi besar menjadikan ILUNI UI sebagai motor penggerak kemajuan nasional melalui penguatan peran alumni lintas generasi dan sektor.

“ILUNI UI harus menjadi rumah besar bagi semua alumni, tempat bertukar gagasan, tumbuh bersama, dan berkontribusi nyata,” ujar Dewi.

Ia berkomitmen membangun ekosistem digital alumni yang terintegrasi melalui platform UI Connect untuk memperluas konektivitas antaralumni lintas daerah dan bidang, sehingga kolaborasi nyata dapat terwujud dalam berbagai program pembangunan bangsa.

“Dengan UI Connect, kami ingin membuka ruang partisipasi yang inklusif, mempertemukan ide-ide besar dengan jejaring kuat alumni di berbagai sektor, dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat,” jelasnya.

Sekretaris Jenderal ILUNI UI, Ahmad Fitrianto, menyambut positif gagasan tersebut. “ILUNI UI tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan Himpunan Alumni Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (HIMPUNI) dan pemerintah sangat penting, terutama dalam mendorong kemandirian pangan, inovasi digital, serta peningkatan kesejahteraan rakyat,” kata Ahmad.

Dewi mengusung lima misi utama: digitalisasi total sistem ILUNI, penguatan jaringan alumni global, program pemberdayaan alumni yang berkelanjutan, kontribusi nyata untuk Indonesia yang lebih sehat dan sejahtera, serta program pemberdayaan perempuan Indonesia. “Kesetaraan gender adalah bagian dari kemajuan organisasi. Sudah saatnya perempuan diberi ruang lebih besar dalam kepemimpinan,” tegasnya.

Rekam jejak sosial Dewi menjadi modal penting. Pada 26 November 2022, ia memimpin langsung pengiriman donasi tahap pertama bagi korban gempa Cianjur bersama ILUNI Fakultas Kedokteran UI. Bantuan disalurkan dengan dukungan sejumlah pihak, serta partisipasi para dokter alumni dan mahasiswa FKUI.

“Alumni UI telah tersebar di seluruh penjuru negeri dan dunia. Inilah kekuatan kita. Jika disatukan dalam semangat gotong royong dan kontribusi nyata, maka ILUNI UI bisa menjadi pilar penting dalam mewujudkan Indonesia yang adil, maju, dan berdaya saing global,” pungkas Dewi.***

Program Rumah Subsidi Dorong Pemerataan Hunian Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat langkah nyata dalam mewujudkan hunian terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) melalui Program 3 Juta Rumah. Upaya ini bukan sekadar memenuhi kebutuhan dasar papan, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan pergerakan industri terkait.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, menegaskan bahwa pembangunan rumah subsidi menunjukkan tren positif dan memberi manfaat luas.

“Program 3 Juta Rumah sesuai arahan Presiden Prabowo membutuhkan sinergi lintas sektor, termasuk dukungan Bank Indonesia, untuk memperluas akses hunian bagi MBR,” ujar Maruarar Sirait.

Maruarar Sirait menilai rumah subsidi di kawasan Puri Delta Angsana menjadi contoh ideal dengan spesifikasi memadai, seperti luas tanah 72 meter persegi dan plafon tinggi 3,20 meter. Menurutnya, kualitas ini harus menjadi standar agar rumah subsidi tidak hanya terjangkau, tetapi juga layak huni dan estetik. Ia mengusulkan kuota subsidi tahun depan meningkat menjadi 500 ribu unit guna mempercepat target dan memperluas dampak program.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa BI mendukung penuh pembiayaan perumahan rakyat.

“BI telah menyiapkan insentif likuiditas hingga Rp80 triliun untuk mempercepat penyaluran KPR subsidi serta membeli SBN dengan alokasi Rp45 triliun bagi pembiayaan perumahan rakyat,” tegas Perry.

Perry menjelaskan, perumahan rakyat menjadi prioritas karena mampu meningkatkan kesejahteraan, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan menciptakan lapangan kerja di sektor konstruksi serta rantai pasok. Dukungan ini juga memperluas inklusi keuangan dengan memberikan akses perbankan formal kepada MBR.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menuturkan bahwa APBN berperan strategis melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk mengurangi kesenjangan sosial.

“Alokasi anggaran meningkat signifikan dari Rp29,1 triliun menjadi Rp47,4 triliun pada 2025, mencakup FLPP, Tapera, SMF, dan subsidi bunga serta uang muka,” pungkas Sri Mulyani.

Dengan dukungan fiskal, moneter, dan sinergi lintas sektor, program rumah subsidi diharapkan tidak hanya mengatasi backlog perumahan, tetapi juga membangun lingkungan permukiman sehat, tertata, dan berkelanjutan. Pemerintah menargetkan semakin banyak keluarga memiliki rumah layak sehingga kesejahteraan dan keadilan sosial dapat terwujud merata di seluruh Indonesia.

Pemerintah Tegaskan Nasionalisme Tidak Bisa Diwakili Bendera Bajak Laut

Jakarta – Pemerintah menegaskan bahwa nasionalisme sebagai semangat kebangsaan yang luhur tidak dapat dan tidak semestinya direpresentasikan melalui simbol-simbol yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan, termasuk bendera bajak laut seperti yang identik dengan serial fiksi populer One Piece. Penegasan ini menjadi respons atas fenomena maraknya penggunaan atribut bajak laut dalam berbagai aksi publik, termasuk yang mengklaim sebagai simbol “perlawanan terhadap ketidakadilan” di tanah air.

Anggota Komisi I DPR, TB Hasanuddin mengatakan bahwa tindakan tidak etis dan menodai sakralitas perjuangan bangsa. Apalagi, hal tersebut dilakukan bertepatan dengan momen sakral 17 Agustus, hari di mana bendera Merah Putih sebagai simbol kedaulatan bangsa seharusnya dikibarkan dengan penuh khidmat.

“Bendera Merah Putih diperjuangkan oleh para pahlawan dengan darah dan nyawa, sampai dengan kemudian diproklamirkan pada 17 Agustus. Mengibarkan bendera selain Merah Putih pada tanggal tersebut tidak hanya tidak etis, tetapi juga menyinggung kewibawaan dan makna dari Bendera Negara,” kata TB Hasanuddin

Dalam konteks ini, pemerintah mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali memperkuat identitas nasional dengan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur Pancasila, mempererat persatuan dalam keberagaman, dan terus membangun bangsa dengan semangat optimisme. Mengedepankan simbol-simbol lokal dan sejarah perjuangan nasional bukan hanya soal kebanggaan, tetapi juga soal ketahanan budaya dan ideologis bangsa di tengah derasnya pengaruh budaya global.

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Budi Gunawan mengingatkan ada ancaman pidana dari tindakan yang mencederai kehormatan bendera merah putih. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 Pasal 24 ayat (1) berbunyi Setiap orang dilarang mengibarkan bendera negara di bawah bendera atau lambang apa pun.

“Ini adalah upaya untuk melindungi martabat dan simbol negara,” kata Budi

Menurutnya, dalam beberapa hari terakhir, mencermati serius adanya upaya provokasi dari sebagian kelompok untuk menurunkan marwah merah putih dan menggantinya dengan bendera simbol fiksi tertentu. Menurut dia, hal itu sangat memprihatinkan.

“Saya mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menghargai pengorbanan para pejuang dan pahlawan yang telah berkorban,” tegas Budi.

Pemerintah akan mengambil tindakan hukum secara tegas dan terukur jika ada unsur kesengajaan dan provokasi. Tujuannya, memastikan ketertiban dan kewibawaan simbol-simbol negara.

“Mari kita rayakan HUT ke-80 Kemerdekaan RI dengan penuh rasa syukur dan juga harapan bahwa bendera tersebut akan terus berkibar selamanya di bumi pertiwi Indonesia,” pungkas Budi

Program Rumah Subsidi Langkah Nyata Pemerintah Wujudkan Hunian Terjangkau

Oleh : Nakula Wijayanto*)

Pemerintah kembali menunjukkan komitmen kuatnya terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat melalui Program 3 Juta Rumah, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Program ini tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan dasar akan hunian, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan pergerakan sektor industri terkait. Langkah ini menjadi bukti bahwa pemerintah tidak berhenti pada janji, melainkan benar-benar mewujudkan kebijakan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (Menteri PKP), Maruarar Sirait (Ara), menyampaikan bahwa pembangunan rumah subsidi saat ini menunjukkan tren kenaikan positif dan telah memberi manfaat luas. Menurutnya, Program 3 Juta Rumah sebagaimana arahan Presiden Prabowo memerlukan sinergi lintas sektor, termasuk dukungan dari Bank Indonesia. Rumah subsidi juga berkontribusi membuka lapangan pekerjaan, terutama di sektor konstruksi dan industri pendukung. Lebih jauh, masyarakat sektor informal seperti pedagang kecil kini memiliki peluang yang lebih besar untuk memiliki hunian layak.

Ara mengapresiasi kualitas rumah subsidi yang dibangun di kawasan Puri Delta Angsana. Ia menilai spesifikasi seperti luas tanah 72 meter persegi, tinggi plafon 3,20 meter, dan penataan lingkungan yang rapi menjadi contoh ideal rumah subsidi berkualitas. Kualitas ini penting untuk memastikan rumah subsidi tidak hanya terjangkau dari segi harga, tetapi juga layak secara fungsi dan estetika. Ara pun mengusulkan agar kuota subsidi tahun depan dapat ditingkatkan menjadi 500 ribu unit. Peningkatan kuota ini diharapkan mempercepat pencapaian target dan memperluas dampak positif program.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menegaskan bahwa BI berkomitmen mendukung penuh pembiayaan perumahan rakyat. BI telah menyiapkan insentif likuiditas hingga Rp80 triliun untuk perbankan guna mempercepat penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi. Selain itu, BI membeli Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp155 triliun, di mana sekitar Rp45 triliun dialokasikan untuk pembiayaan perumahan rakyat. Perry menjelaskan tiga alasan utama menjadikan perumahan rakyat sebagai prioritas, yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan menciptakan lapangan kerja di sektor konstruksi serta rantai pasoknya. Kebijakan ini menunjukkan sinergi kuat antara instrumen moneter dan kebijakan sosial.

Dukungan BI terhadap program perumahan rakyat merupakan bagian dari strategi menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus memperluas inklusi keuangan. Dengan memperlancar pembiayaan rumah subsidi, masyarakat berpenghasilan rendah memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengakses layanan perbankan formal. Hal ini diharapkan tidak hanya membantu pemenuhan kebutuhan papan, tetapi juga memperkuat fondasi perekonomian melalui peningkatan daya beli dan perputaran ekonomi di daerah.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, juga menegaskan peran penting Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam mendukung program rumah subsidi. Melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), APBN membantu menyediakan hunian bagi MBR, mengurangi kesenjangan sosial, dan memperkuat pemerataan pembangunan. Ia menekankan perlunya percepatan di semester kedua untuk mencapai target tahunan. Alokasi anggaran program ini pun meningkat signifikan dari Rp29,1 triliun menjadi Rp47,4 triliun pada 2025, mencakup FLPP, Tapera, SMF, serta subsidi bunga dan uang muka.

Dari sisi kebijakan fiskal, pemerintah tidak hanya fokus pada jumlah unit rumah yang dibangun, tetapi juga memastikan keberlanjutan pembiayaan jangka panjang. Dukungan anggaran diarahkan untuk memberikan subsidi bunga agar cicilan rumah tetap terjangkau bagi MBR. Pemerintah juga bekerja sama dengan perbankan dan pengembang agar proses pengajuan KPR menjadi lebih mudah dan cepat. Dengan kolaborasi lintas sektor, program ini memiliki potensi besar untuk mengatasi backlog perumahan nasional.

Selain memberi dampak ekonomi, program rumah subsidi turut membentuk lingkungan permukiman yang sehat dan tertata. Rumah yang layak huni akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga keamanan sosial. Pemerintah akan terus memastikan bahwa rumah subsidi memenuhi standar kualitas bangunan yang baik, serta memiliki akses ke fasilitas umum seperti sekolah, pusat kesehatan, dan transportasi publik. Dengan demikian, program ini tidak hanya menyediakan tempat tinggal, tetapi juga membangun ekosistem kehidupan yang berkelanjutan bagi keluarga penerima manfaat.

Pemerataan akses rumah subsidi juga membantu memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat. Ketika warga memiliki rumah yang aman dan layak, stabilitas sosial cenderung meningkat, mengurangi potensi konflik akibat ketimpangan. Di sisi lain, pembangunan rumah subsidi yang merata di berbagai wilayah mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Hal ini menciptakan efek ganda yang menguntungkan masyarakat secara keseluruhan.

Kerja keras pemerintah dalam menyinergikan kebijakan perumahan rakyat patut diapresiasi. Program rumah subsidi telah menjadi bukti bahwa kebijakan yang dirancang dengan sinergi lintas sektor mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Ke depan, dengan kuota yang terus ditingkatkan dan kualitas yang dijaga, semakin banyak keluarga Indonesia akan memiliki hunian layak. Harapannya, tidak ada lagi warga yang kesulitan memiliki rumah sendiri. Inilah langkah nyata menuju pemerataan kesejahteraan dan keadilan sosial di seluruh Indonesia.

)* Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Publik

Kolaborasi Antar Instansi Percepat Implementasi Program Rumah Subsidi

Oleh: Rahman Prawira)*

Perumahan layak dan terjangkau merupakan salah satu kebutuhan paling pokok bagi masyarakat. Keberhasilan mewujudkannya secara masif melalui Program Rumah Subsidi menjadi salah satu tonggak prestisius pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Dalam beberapa pekan terakhir, kolaborasi antar instansi negara menduduki peran sentral dalam mempercepat implementasi program ini baik dari sektor pembiayaan, pembangunan, hingga distribusi.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, menekankan pentingnya sinergi dengan lembaga keuangan untuk mempercepat realisasi rumah subsidi. Adanya dukungan dari Bank Indonesia (BI) adalah bentuk dari sinergi lembaga keuangan dalam program rumah subsidi Presiden Prabowo. Hingga saat ini pembangunan rumah subsidi masih menunjukkan tren positif sehingga program 3 juta rumah ini perlu melibatkan berbagai pihak dan bersinergi termasuk dengan BI.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengatakan bahwa BI mendukung program perumahan termasuk perumahan rakyat melalui dua hal. Pertama, pemberian insentif likuiditas kepada perbankan yang menyalurkan kredit. Yang kedua, BI juga mendanai dan melakukan sharing untuk program khusus perumahan rakyat.

Wujud konkret kolaborasi ini adalah dukungan finansial dari BI berupa insentif likuiditas senilai Rp 80 triliun melalui penurunan Giro Wajib Minimum (GWM), yang sudah disalurkan perbankan untuk sektor perumahan rakyat. Selain itu, BI juga telah berkontribusi melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 155 triliun, sekitar Rp 45 triliun di antaranya difokuskan untuk perumahan rakyat. Langkah ini mencerminkan komitmen BI dalam mendorong pertumbuhan sektor perumahan yang inklusif dan berdampak luas.

Langkah strategis lainnya dijalankan melalui kerja sama dengan perbankan nasional. Dalam acara penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI), untuk pertama kalinya dalam sejarah, pemerintah menetapkan kuota rumah subsidi tahun ini sebanyak 350.000 unit, serta mendorong BRI memperluas penyaluran sebagai bank utama penyalur KPR Subsidi (KPRS). Dengan MoU ini, diharapkan realisasi rumah subsidi dapat lebih cepat, lancar, dan menjangkau lebih banyak masyarakat.

Selain itu, Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, telah menyalurkan lebih dari 101.000 unit KPRS hingga Juni 2025. Penyaluran itu dilakukan dengan outstanding pembiayaan hampir Rp 14 triliun dan 97% diantaranya melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). BRI juga telah melampaui target Juli dengan penyaluran sebesar 105,88 persen dari kuota 17.700 unit.

Selain dengan lembaga keuangan kolaborasi ini juga berlangsung lintas kementerian. Rumah subsidi akan hadir di seluruh penjuru negeri sebagai wujud keadilan sosial. Dukungan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sangat konkret melalui Nota Kesepahaman antara Kemendagri dan Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera). Melalui perjanjian tersebut, Kemendagri menyediakan kuota khusus 2.000 rumah subsidi bagi pegawai negeri, memfasilitasi pendaftaran 1.190 pegawainya dalam program KPR FLPP, dan mempercepat proses administratif seperti Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) demi memperlancar akses perumahan layak bagi ASN.

Dalam acara penyerahan kunci rumah subsidi yang diberikan secara simbolis kepada pegawai Kemendagri, Maruar mengatakan bahwa angsuran KPR FLPP bagi pegawai hanya sebesar Rp 1,7 juta per bulan, lebih ringan dibandingkan ongkos sewa sekitar Rp 2–3 juta per bulan. Pihaknya juga memuji Kemendagri yang mendukung program pro rakyat. Karena dukungan yang dilakukan Kemendagri dalam proses ini dilaksanakan dengan cepat serta penuh pengawasan.

Langkah kolaboratif tidak terbatas pada lembaga pemerintahan saja. Kementerian PKP, juga menjalin kemitraan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Penandatanganan MoU antara Kementerian PKP dan MUI serta pemberian kunci simbolis untuk guru ngaji dan aktivis Islam menunjukkan perhatian pemerintah terhadap kelompok sosial yang selama ini jarang tersentuh program perumahan. Selain itu, dengan dukungan pembiayaan syariah melalui Bank Tabungan Negara (BTN) dan BP Tapera, ditargetkan sebanyak 5.000 unit rumah subsidi dapat segera disalurkan kepada kalangan dai, guru ngaji, dan aktivis Islam dalam tahun 2025.

Kolaborasi yang telah dilakukan antar instansi mulai dari Bank Indonesia, perbankan nasional, Kementerian Dalam Negeri, hingga lembaga keagamaan Majelis Ulama Indonesia telah membentuk ekosistem yang semakin solid. Integrasi dukungan pendanaan, perluasan kuota, penyederhanaan birokrasi, hingga penyediaan data dan distribusi sosial menjadi kunci mempercepat pencapaian target rumah subsidi. Pemerintah telah membuktikan bahwa kebijakan ini sangat pro rakyat, inklusif, dan terstruktur.

Masyarakat perlu merespons semangat ini dengan antusiasme. Hal ini merupakan hal positif bagi masyarakat yang belum memiliki rumah dengan manfaatkan kesempatan ini melalui skema KPR FLPP. Pemerintah mendapatkan apresiasi atas langkah-langkah konkret dalam mendukung percepatan penyediaan hunian layak. Arahnya yang jelas mencerminkan perhatian terhadap peningkatan akses perumahan. Sinergi antara Kementerian PKP, Bank Indonesia, dan BRI menunjukkan adanya koordinasi dalam menyediakan dukungan finansial.

Kemendagri juga memudahkan proses melalui penyederhanaan regulasi, sementara keterlibatan tokoh-tokoh keagamaan mencerminkan dimensi sosial yang diperhatikan. Lewat kolaborasi ini, pemerintah menegaskan komitmen untuk menjangkau hunian layak hingga pelosok negeri, sambil memastikan kebijakan menyentuh kebutuhan langsung masyarakat. Seluruh langkah ini menjadi bukti nyata bahwa kebijakan pro rakyat berkembang ke seluruh lapisan sosial melalui program Rumah Subsidi dalam menghadapi tantangan backlog perumahan nasional.

*)Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Pemerintah

[edRW]