Pemerintah Serukan Peringatan HUT RI Fokus pada Merah Putih Bukan Bendera Bajak Laut

Oleh : Andika Damadewa

Menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, pemerintah mengeluarkan seruan yang kuat dan tegas: kibarkan bendera Merah Putih, bukan bendera fiksi seperti simbol bajak laut dari serial anime One Piece. Di tengah maraknya fenomena pengibaran bendera “Jolly Roger” menjelang 17 Agustus 2025, pemerintah kembali mengingatkan pentingnya menjunjung tinggi lambang kedaulatan nasional.

Langkah pemerintah ini tidak muncul dari ruang hampa. Fenomena budaya populer memang tidak bisa dibendung, terlebih ketika generasi muda menjadikannya sebagai bentuk ekspresi identitas dan pernyataan sikap. Namun, ekspresi tersebut tetap harus berada dalam koridor konstitusi dan nilai-nilai kebangsaan. Pemerintah, dalam hal ini, tidak bersikap represif, melainkan menunjukkan sikap tegas yang tetap membuka ruang dialog dan edukasi.

Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengatakan bahwa jika pengibaran bendera bajak laut hanya sebagai ekspresi, maka hal itu masih dapat dimaklumi. Namun, pemerintah menggarisbawahi bahwa dalam konteks Hari Kemerdekaan, tidak boleh ada bendera lain yang menggeser atau menyaingi posisi Merah Putih. Bendera Merah Putih adalah satu-satunya simbol resmi yang mewakili semangat dan pengorbanan bangsa Indonesia.

Sikap ini mencerminkan kepemimpinan yang moderat namun tetap berwibawa. Di tengah kemajuan zaman dan derasnya pengaruh budaya luar, kepala negara tetap konsisten dalam menjaga jati diri bangsa. Pemerintah tidak menghalangi kreativitas, tetapi menegaskan batas yang tak boleh dilewati, kehormatan terhadap simbol negara.

Sementara itu, Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, turut menyampaikan keprihatinannya. Ia menilai bahwa pengibaran bendera bajak laut, apalagi dilakukan menjelang peringatan kemerdekaan, merupakan tindakan yang tidak etis. Ia mengingatkan bahwa bendera Merah Putih bukan sekadar kain berwarna, melainkan simbol perjuangan yang telah ditebus dengan darah dan nyawa para pahlawan. Karena itu, menjadikan bendera lain lebih menonjol dalam momen sakral ini adalah bentuk pengaburan sejarah dan pengkhianatan terhadap nilai-nilai kebangsaan.

Hasanuddin juga menekankan bahwa jika ada kritik terhadap pemerintah, maka salurannya haruslah substantif dan konstitusional. Menyampaikan protes melalui simbol fiktif justru berpotensi menciptakan mispersepsi dan memperlemah spirit nasionalisme generasi muda. Pesan ini sangat relevan di tengah tren generasi digital yang mudah terseret narasi-narasi simbolik tanpa pemahaman sejarah yang mendalam.

Dari sisi yang lebih reflektif, Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira, mengatakan pihaknya menggarisbawahi fenomena ini bisa menjadi sinyal sosial bagi pemerintah. Ia melihat bahwa pengibaran bendera bajak laut merupakan bentuk kebebasan berekspresi yang dijamin konstitusi. Namun, menurutnya, ekspresi semacam ini menjadi bahan introspeksi, agar ke depan lebih peka terhadap keresahan masyarakat, terutama generasi muda. Aspirasi dan suara anak bangsa telah direspons dengan kebijakan yang inklusif dan adaptif.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tidak menutup mata terhadap dinamika sosial. Sebaliknya, pemerintah justru mendorong pendekatan yang seimbang antara penegakan hukum, penghormatan terhadap simbol negara, dan pembinaan generasi muda. Pendekatan ini jauh dari otoriterisme, justru menunjukkan kecanggihan negara dalam mengelola kebebasan berekspresi tanpa membiarkan dekadensi nasionalisme.

Melihat dinamika ini, sangat jelas bahwa pemerintah Indonesia tidak sedang anti terhadap budaya populer atau ekspresi kreatif anak bangsa. Yang menjadi titik tekan adalah konteks dan momentum. Hari Kemerdekaan Republik Indonesia bukanlah ruang bebas nilai. Ia adalah momen sakral yang mengikat seluruh elemen bangsa untuk kembali mengingat sejarah, menghormati pengorbanan, dan memperkuat identitas kebangsaan.

Justru melalui momen ini, pemerintah ingin mengajak generasi muda untuk tidak terjebak pada simbolisme yang dangkal, melainkan menggali makna terdalam dari kemerdekaan itu sendiri. Bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi momentum untuk merefleksikan kontribusi nyata sebagai warga negara. Kreativitas tentu tetap diberi ruang, namun harus dibarengi dengan kesadaran sejarah dan semangat menjaga marwah simbol negara yang telah diwariskan dengan perjuangan.

Oleh karena itu, masyarakat, terutama generasi muda, perlu disadarkan bahwa dalam setiap peringatan 17 Agustus, hanya satu bendera yang layak dikibarkan dengan penuh kehormatan yaitu bendera Merah Putih. Simbol bajak laut, betapapun populernya di kalangan anak muda, bukanlah representasi kemerdekaan, tidak memiliki akar sejarah, tidak membawa makna perjuangan, dan tentu tidak mencerminkan kepribadian bangsa.

Kemudian tanggung jawab menjaga marwah bendera Merah Putih tidak hanya ada di pundak pemerintah, tetapi juga seluruh rakyat Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, dari pelajar hingga pemimpin daerah, semua harus menjadi bagian dari gerakan nasional yang mengedepankan kebanggaan terhadap simbol negara.

Mari kita maknai kemerdekaan ke-80 ini dengan semangat yang sama seperti para pendiri bangsa, hormat kepada sang Merah Putih, setia pada Indonesia, dan teguh pada nilai-nilai kebangsaan. Di tengah tantangan zaman dan derasnya arus globalisasi, hanya identitas nasional yang mampu menjaga kita tetap utuh sebagai bangsa. Tinggalkan simbol bajak laut, tegakkan panji Merah Putih. Karena hanya dengan semangat itu, kita bisa benar-benar merdeka, lahir dan batin.

)* Penulis merupakan Pengamat Sosial

Masyarakat Adat Jadi Ujung Tombak Kesuksesan MBG di Papua

Oleh : Ricky Rinaldi

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua berkembang jauh melampaui sekadar kebijakan nasional. Kini, di kampung-kampung, program ini telah menjadi napas kehidupan yang mengalir melalui tradisi, kearifan lokal, dan cinta masyarakat adat terhadap komunitas mereka. Bupati Jayapura, Yunus Wonda, menegaskan bahwa tanpa keterlibatan masyarakat adat, MBG tidak akan memiliki akar yang kuat; tradisi berkebun, menangkap ikan, dan memanen hasil kebun yang diwariskan turun-temurun menjadi bagian vital dari rantai pangan lokal. Karena peran mereka, MBG tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menyentuh budaya dan hati masyarakat.

Pemerintah daerah kini tengah memetakan peran masyarakat adat dari proses produksi hingga distribusi untuk memastikan MBG menjadi bagian rutin kehidupan masyarakat, bukan program sesaat. Penempatan masyarakat adat sebagai pengendali utama pasokan pangan sehat ke sekolah-sekolah memperkuat posisi mereka sebagai pelaku utama keberlanjutan. Pendekatan ini dirancang sebagai intervensi jangka panjang, menyelaraskan gaya hidup sehat, tradisi, dan nilai kemandirian pangan komunitas.

Yunus Wonda menekankan bahwa keberhasilan MBG menuntut sinergi antara pemerintah, masyarakat adat, pendidikan, dan kesehatan. Kolaborasi ini diharapkan mendorong dampak nyata tidak sekadar di atas kertas terhadap keluarga dan anak-anak di kampung. Ia meyakini keterlibatan masyarakat adat akan turut memacu ekonomi lokal; kegiatan seperti berkebun, beternak, dan membudidayakan ikan dalam rangka MBG menciptakan arus ekonomi sehat dan membuka peluang usaha baru serta memperkuat ketahanan pangan desa.

Lebih dari sekadar ekonomi, MBG juga melestarikan budaya kuliner adat. Memprioritaskan pangan lokal dalam diet harian tradisi, nilai, dan rasa khas diwariskan kepada generasi muda. Ini membangun kebanggaan identitas adat dan pondasi masa depan yang sehat serta mandiri.

Dukungan MBG juga datang dari tokoh adat. Tokoh adat Sentani, Yansen Ohee, menyampaikan bahwa Papua menghadapi tantangan serius dalam pemenuhan gizi, terutama di pedalaman. Baginya, MBG adalah harapan bagi orang tua merajut masa depan anak-anak. Ia menegaskan bahwa tanpa tubuh sehat, pendidikan menjadi tak bermakna. Sekretaris Dewan Adat Suku Moy, Benhur Yaboisembut, menyatakan bahwa MBG adalah solusi nyata menekan malnutrisi dan stunting serta meningkatkan prestasi belajar. Ia melihat peluang pemberdayaan ekonomi lokal melalui suplai pangan oleh petani dan nelayan kampung, sekaligus menyambut program ini dengan rasa syukur dan harapan agar anak-anak Papua tumbuh lebih cerdas karena gizi memadai.

Lebih lanjut, Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut MBG membuka ruang partisipasi masyarakat di Jayapura. Pendamping Mitra Sukses MBG, Bagus Septiyan, menyampaikan kunjungan ke dapur SPPG Robhing di Sentani menyoroti pentingnya kebersihan, fasilitas lengkap, dan pengelolaan limbah dapur sebagai wujud kesiapan. Ia juga mencatat antusiasme tinggi masyarakat sekitar Danau Sentani. BGN percaya dapur MBG yang dikelola masyarakat adalah strategi berkelanjutan sesuai arahan Presiden.

Secara lebih luas, MBG telah dilaksanakan di empat daerah di Papua: Kota Jayapura, Sarmi, Yapen, dan Biak. Penjabat Gubernur Papua, Ramses Limbong, menyebut pelaksanaannya bersifat bertahap dan kebutuhan dapur gizi di Kota Jayapura mencakup pembangunan sekitar 20 unit, sementara baru satu yang aktif melayani sekitar 3.000–3.500 siswa. Ini menunjukkan tantangan logistik dan pentingnya penyebaran dapur demi cakupan program lebih luas.

Pelaksanaan MBG di Kabupaten Jayapura juga diperluas ke beberapa sekolah. Pada 22 April 2025, MBG dilaksanakan di SMP Negeri 1 Sentani, TK Ria Sentani, dan SD YPK Sentani dengan sekitar 3.300 siswa menikmati paket bergizi seharga Rp20.000 per porsi yang mencakup nasi, ikan goreng, tahu krispi, sayur, dan lauk lainnya. Pelaksanaan ini berlangsung bertahap untuk menjaga kualitas makanan dan efisiensi dapur.

Biro Pengadaan Barang dan Jasa Papua mencatat bahwa pelaku usaha lokal juga memperoleh manfaat dari program MBG melalui pengadaan berbasis e-katalog. Kepala Biro, Debora Salosa, mendorong pelaku usaha orang asli Papua untuk aktif dalam sistem tersebut agar ekonomi lokal tetap berjalan meski anggaran terbatas.

Lebih banyak tokoh adat menyatakan dukungan mereka. Di Waropen, tokoh masyarakat Wonti, Kaleb Woisiri, menyebut MBG sebagai investasi masa depan anak-anak Papua. Ismail Ulof, Kepala Suku Elseng Keerom, mendesak pelaksanaan MBG di wilayahnya agar anak tetap sehat dan siap belajar. Ondoafi Kampung Senggi, Matias Manggu, siap mengawal agar program berjalan tepat sasaran. Kepala Suku Manirem Sarmi, Billy Kreuw, dan Anggota DPRK sekaligus Kepala Suku Sobey, Adolf Wersementawar, menilai kolaborasi pemerintah dan masyarakat adalah kunci keberhasilan. Di Yapen, Sekretaris Umum Dewan Adat Yapen, Alex Sangganefa, mengingatkan untuk menjaga kesinambungan program agar manfaatnya luas dirasakan. Dan di Kota Jayapura, Ketua LMA Port Numbay, George Arnold Awi, menyoroti bahwa MBG meringankan beban orang tua dan memberi solusi atas masalah gizi anak-anak Papua.

Gambaran yang muncul menunjukkan MBG bukan hanya program gizi, tetapi membentuk ekosistem kesejahteraan, ekonomi, dan budaya yang saling menguatkan. Ketika masyarakat adat menjadi pelaku aktif, manfaatnya tidak sekadar instan, tetapi menjadi bagian budaya hidup sehat yang tertanam dalam komunitas.

Kini aktivitas harian seperti berkebun, panen hasil tani, dan merawat ternak di berbagai kampung bukan hanya rutinitas, tetapi bagian dari gerakan produktif membangun masa depan. MBG bukan hanya tentang makan hari ini; ini adalah upaya mencetak generasi tangguh, memperkuat ekonomi lokal, dan menjaga warisan budaya tetap berkembang.

*) Pengamat isu strategis

[edRW]

Program MBG Wujud Komitmen Pemerintah Tingkatkan Kualitas Gizi Anak-Anak Papua

Oleh : Yakub Wonda

Pemerintah Indonesia terus memperkuat komitmennya dalam membangun sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas di seluruh pelosok negeri, termasuk di wilayah paling timur, Papua. Melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), pemerintah berupaya memastikan bahwa anak-anak di daerah ini mendapatkan asupan gizi yang memadai untuk menunjang tumbuh kembang mereka. Program ini hadir bukan sekadar sebagai bantuan pangan, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang demi masa depan generasi Papua yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.

Data Badan Pusat Statistik dan Kementerian Kesehatan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Papua masih berada di atas rata-rata nasional, meskipun tren penurunannya mulai terlihat. Inilah yang menjadi salah satu latar belakang penting bagi pemerintah untuk mengimplementasikan MBG secara serius di wilayah ini.

Melalui MBG, pemerintah memastikan setiap anak sekolah di Papua, baik di tingkat pendidikan dasar maupun menengah, mendapatkan menu makan siang yang terukur secara gizi. Menu yang disiapkan tidak hanya mengenyangkan, tetapi dirancang untuk memenuhi kebutuhan protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang anak. Setiap porsi makanan disesuaikan dengan standar gizi dari Kementerian Kesehatan, sehingga anak-anak memperoleh energi yang cukup untuk belajar dan beraktivitas. Pendekatan ini sejalan dengan visi besar pemerintah untuk membangun generasi emas Indonesia pada tahun 2045, yang dimulai dari kesehatan dan kualitas gizi anak-anak sejak dini.

Dandim 1707/Merauke, Letkol Inf Johny Nofriady menegaskan bahwa MBG sebagai langkah strategis pemerintah, maka dari itu pentingnya integrasi antara pendidikan, kesehatan, dan pemenuhan gizi dan pihaknya telah menerima perintah dari Panglima TNI, dimana setiap Kodim bertanggung jawab terhadap kesiapan SPPG di wilayah masing-masing.

Di banyak sekolah di Papua, kehadiran program ini sudah mulai dirasakan dampaknya. Guru-guru mengakui bahwa kehadiran MBG tidak hanya mengurangi angka ketidakhadiran siswa, tetapi juga meningkatkan konsentrasi mereka di kelas. Anak-anak yang sebelumnya datang ke sekolah tanpa sarapan kini mendapatkan makanan bergizi, yang membuat mereka lebih fokus mengikuti pelajaran.

Ketua Yayasan SPPG Putri Papua, Maria Dolorosa Liu, mengatakan besar harapannya agar program MBG bisa menjadi solusi nyata dalam menekan angka stunting dan gizi buruk, khususnya di wilayah Papua Selatan.

Selain aspek pendidikan, MBG juga memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat lokal. Pemerintah melibatkan petani, peternak, dan nelayan setempat sebagai penyedia bahan baku makanan. Model ini bukan hanya menjamin keberlanjutan pasokan, tetapi juga memberdayakan ekonomi masyarakat di Papua. Petani sayur di daerah pegunungan, peternak ayam di distrik-distrik kecil, hingga nelayan di wilayah pesisir merasakan langsung manfaatnya karena hasil panen dan tangkapan mereka dibeli untuk memenuhi kebutuhan MBG. Dengan demikian, program ini sekaligus menciptakan perputaran ekonomi lokal yang sehat dan berkelanjutan.

Pemerintah menyadari bahwa keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang dibagikan, tetapi juga dari keberlanjutan sistem yang dibangun. Oleh karena itu, pelatihan bagi para pengelola dapur sekolah dan penyedia makanan menjadi bagian penting dari program ini. Mereka dibekali pengetahuan tentang pengolahan makanan bergizi, kebersihan, dan manajemen stok bahan pangan. Hal ini diharapkan mampu menjamin kualitas makanan yang disajikan kepada anak-anak tetap terjaga, sekaligus meminimalkan risiko makanan yang tidak layak konsumsi.

Ke depan, pemerintah berkomitmen untuk memperluas cakupan MBG di Papua, tidak hanya di sekolah-sekolah formal, tetapi juga di pusat-pusat layanan pendidikan nonformal. Hal ini bertujuan menjangkau anak-anak yang belum masuk sekolah agar mereka pun mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat dan cerdas. Pemerintah juga tengah mengembangkan sistem monitoring berbasis digital untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan program.

Kepala Satuan Pelaksanaan Pemenuhan Gizi Wilayah Merauke, Anisa Amalia, mengungkapkan bahwa total penerima manfaat mencapai 3.963 orang, tersebar di 8 SD, 2 SMP dan SMA, serta kelompok ibu hamil, ibu bersalin dan balita dari Kelurahan Seringgu Jaya dan Samkai.

Lebih dari sekadar program bantuan pangan, MBG di Papua adalah simbol komitmen negara untuk hadir dan melindungi masa depan anak-anak di wilayah paling timur Indonesia. Setiap piring makanan yang tersaji bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga menjadi pesan kuat bahwa negara tidak membiarkan satu pun anak tertinggal dalam perjalanan menuju kemajuan. Dengan gizi yang cukup, anak-anak Papua diharapkan mampu menggapai mimpi mereka, berkontribusi bagi daerah, dan menjadi bagian dari kekuatan bangsa di masa depan.

Komitmen pemerintah melalui MBG ini membuktikan bahwa pembangunan sumber daya manusia harus dimulai dari fondasi paling dasar: kesehatan dan gizi yang baik. Papua, dengan segala tantangannya, menjadi cermin bahwa ketika ada tekad, kerja sama, dan keberpihakan pada masyarakat, program sebesar ini dapat berjalan dan memberi manfaat nyata. Jika konsistensi ini terjaga, maka generasi Papua yang tumbuh dengan gizi cukup akan menjadi bukti nyata keberhasilan sebuah kebijakan yang berpihak pada rakyat.

)* Mahasiswa UNIPA

Pemerintah Daerah Siap Tunaikan Komitmen Sukseskan Program MBG di Papua

Papua – Penjabat (Pj) Gubernur Papua, Agus Fatoni, menegaskan komitmennya untuk memastikan kualitas penyediaan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kepulauan Yapen. Hal ini ia sampaikan saat meninjau langsung dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Serui, yang setiap hari melayani ribuan anak sekolah.

“Jadi saat ini kita sedang ada di dapur Makan Bergizi Gratis yang ada di Kepulauan Yapen di Kota Seruni. Kita sedang melihat bagaimana proses penyiapan makanan ini mulai datang dari bahan-bahannya kemudian diolah hingga siap didistribusikan ke anak-anak sekolah,” ujar Fatoni dalam keterangannya.

Fatoni menyusuri berbagai fasilitas dapur, mulai dari ruang konsultasi gizi, ruang staf, ruang produksi, penyimpanan, pemeriksaan makanan, hingga pengemasan. Ia memastikan peralatan dapur, terutama kompor, aman digunakan.

Tiga dapur SPPG saat ini telah beroperasi di Kepulauan Yapen, salah satunya di Kota Serui yang telah berjalan sejak Februari 2025.

“Ini sudah cukup bagus dan ini sudah berlangsung cukup lama sejak bulan Februari 2025, di Kabupaten Kepulauan Yapen ini ada tiga dapur yang sudah beroperasi dan akan menyusul dapur yang lain,” jelasnya.

Fatoni menegaskan, dapur ini berperan penting mendukung program MBG Presiden Prabowo, dengan distribusi ke delapan sekolah, serta pemberian makanan bergizi kepada ibu hamil dan menyusui.

“Ini adalah dapur yang melayani sekolah-sekolah jadi ini didistribusikan dari jam 6 pagi hingga jam 9 pagi yang menjangkau ke delapan sekolah ini terus dilakukan sehingga makanan bisa diantarkan tepat waktu,” tuturnya.

Bupati Jayapura, Yunus Wonda, juga menegaskan pentingnya pelibatan masyarakat adat dalam menyukseskan program MBG di wilayahnya. Menurutnya, masyarakat adat memiliki sumber daya alam dan budaya yang dapat diintegrasikan dalam program ini.

“Kami tidak bisa berbicara MBG tanpa melibatkan masyarakat adat, karena merekalah yang hidup langsung dengan sumber pangan lokal seperti sayur, ikan dan hasil kebun lainnya, mereka harus diberdayakan dan dilibatkan secara aktif,” kata Yunus di Sentani.

Pemkab Jayapura kini memetakan peran masyarakat adat di tiap kampung, mulai dari produksi hingga distribusi pangan lokal, untuk menjamin keberlanjutan program.

“Kami ingin masyarakat adat bukan hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku utama. Ini penting agar program tidak hanya jangka pendek tetapi menjadi kebiasaan yang mengakar,” imbuhnya.

Yunus menambahkan, Pemkab menggandeng tokoh adat dalam sosialisasi pola makan sehat dan pemanfaatan pangan lokal, sehingga sinergi pemerintah, masyarakat adat, pendidikan, dan kesehatan bisa benar-benar meningkatkan gizi anak dan perekonomian kampung.

“Program ini peluang yang sangat baik bagi masyarakat adat, karena perputaran uang akan sangat besar di kampung, untuk itu saya ajak mari berkebun dan menanam juga budidaya ikan dan ternak,” ujarnya lagi.

[w.R]

Pemerintah Tingkatkan Sinergitas Pastikan Kesuksesan Pelaksanaan MBG di Papua

Papua — Pemerintah terus memperkuat koordinasi lintas sektor guna memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan sukses di Papua. Langkah ini dilakukan untuk menjamin pemenuhan gizi seimbang bagi kelompok prioritas, sekaligus mendukung upaya menurunkan angka stunting di wilayah timur Indonesia.

Penjabat Sekretaris Daerah Papua Selatan, Maddaremmeng, menegaskan pihaknya tengah melakukan sinkronisasi penerapan program MBG dengan Badan Gizi Nasional (BGN). Menurutnya, arahan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menjadi pedoman penting bagi pemerintah daerah dalam menjalankan program strategis tersebut.

“Terkait MBG, memang kita diperintahkan dari Kemendagri untuk mencari lokasi dapurnya. Jangan sampai kami tidak menyiapkan anggarannya, karena memang kita harus merencanakan, jangan sampai BGN sudah membiayai, kita juga membiayai,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah daerah memerlukan panduan yang jelas mengenai bentuk hubungan dan koordinasi yang perlu dibangun antara pemerintah provinsi, kabupaten, dan BGN.

“Untuk itu perlu arahan kepada kita, agar supaya hubungan apa yang perlu dibangun dalam program MBG ini oleh pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten,” tegasnya.

Di tingkat kabupaten, langkah percepatan juga terus dilakukan. Pelayanan Gizi Kabupaten Fakfak, Sitanna Rida Pamila, mengungkapkan bahwa pemerintah daerah bersama instansi terkait tengah memprioritaskan pembangunan dapur sehat tambahan di sejumlah titik. Hal ini diharapkan dapat memperluas cakupan distribusi MBG hingga menjangkau seluruh sasaran.

“Kami berharap pembangunan dapur sehat segera dilakukan di beberapa titik wilayah Fakfak. Dengan begitu, cakupan distribusi MBG bisa diperluas, dan semua siswa dapat merasakan manfaatnya,” ujar Sitanna.

Ia optimistis, dengan pemerataan pelaksanaan MBG, Fakfak dapat menjadi daerah bebas stunting di masa mendatang.

Dukungan terhadap program ini juga datang dari parlemen. Anggota Komisi IX DPR RI, Cellica Nurrachadiana, menilai MBG memiliki peran vital dalam membentuk generasi emas Indonesia 2045. Menurutnya, sasaran program yang mencakup anak-anak usia dini, siswa SD hingga SMA/SMK, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD merupakan investasi jangka panjang bagi kesehatan bangsa.

“Harapannya nanti di 2045 mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang sehat badannya, lahir-batinnya, mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang kuat, anak-anak yang cerdas, anak-anak yang bebas dari stunting, yang memiliki intelektual,” ucapnya.

Cellica menekankan pentingnya keterpaduan antara program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang berada di bawah Kementerian Kesehatan dan MBG yang dikelola BGN.

“Harapannya ini linear, ini secara kesehatannya Cek Kesehatan Gratis di bawah Kementerian Kesehatan, tapi secara pemenuhan gizi seimbang ya itu adalah di bawah Badan Gizi Nasional (melalui Makan Bergizi Gratis),” paparnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa keberhasilan MBG dan CKG bukan hanya tanggung jawab pemerintah pusat. Keterlibatan pemerintah daerah, pihak swasta, dunia pendidikan, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan program di lapangan.

Upaya pemerintah dalam meningkatkan sinergitas pelaksanaan MBG di Papua ini diharapkan mampu mempercepat terwujudnya generasi sehat, cerdas, dan bebas stunting. Dengan komitmen bersama, Papua diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga contoh keberhasilan implementasi program gizi nasional di daerah.–

[edRW]

Pembangunan Fasilitas Wisata di Pulau Padar Dipastikan Tetap Ramah Lingkungan

Jakarta– Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa rencana pembangunan fasilitas pariwisata di Pulau Padar, Taman Nasional Komodo, akan mengedepankan prinsip ramah lingkungan dan tidak mengganggu habitat satwa endemik komodo (Varanus komodoensis).

“Saya akan pastikan, kalaupun pihak swasta membangun, yang paling utama adalah menjaga ekologi. Jangan sampai merusak lingkungan atau habitat komodo,” ujarnya. Ia menjelaskan, pemanfaatan kawasan untuk ekowisata tetap diperbolehkan di zona pemanfaatan, asalkan mengikuti aturan ketat dan berlandaskan kajian ilmiah.

Pulau Padar, yang berada di bawah pengelolaan Taman Nasional Komodo dan telah berstatus Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1991, memiliki izin pemanfaatan pariwisata oleh PT Komodo Wildlife Ecotourism (PT KWE) sejak 2014. Namun hingga kini belum ada pembangunan fisik. Menurut Menhut, setiap langkah pembangunan akan melewati proses panjang, termasuk environmental impact assessment yang melibatkan UNESCO.

“Kita juga akan periksa kembali rencana pembangunan, termasuk isu tentang ratusan vila. Data-data masih harus kita sempurnakan kembali,” jelasnya. Ia memastikan, jika pembangunan dilakukan, bentuknya tidak akan berupa bangunan permanen, melainkan struktur yang dapat dipindahkan sehingga tidak mengganggu ekosistem.

Sejalan dengan itu, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Destika Cahyana, menilai pembangunan fasilitas wisata di Pulau Padar tidak menjadi masalah selama sesuai aturan dan tidak merusak lingkungan. “Kalau secara status lahannya itu sudah sesuai aturan, itu sebetulnya no problem, mau dibangun vila juga ya sepanjang tidak merusak lingkungan dan habitat komodo. Itu yang pertama,” ungkapnya.

Destika menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam, terutama dalam penataan lahan. “Proporsi antara area hijau dan bangunan harus dijaga. Jangan sampai tanah terbuka yang berpotensi menimbulkan erosi dan merusak laut,” katanya.

Ia juga menyoroti perlunya keterlibatan masyarakat lokal secara formal, misalnya melalui koperasi atau BUMDes, agar pembangunan membawa manfaat ekonomi bagi warga. “Kalau kita biarkan tanpa ada pembangunan yang dikelola baik, Taman Nasional Komodo hanya jadi pusat perhatian internasional tanpa manfaat langsung bagi masyarakat. Sepanjang semuanya dijaga dan melibatkan masyarakat, ini justru peluang,” tutupnya.

Dengan pendekatan berbasis konservasi dan partisipasi masyarakat, rencana pembangunan di Pulau Padar diharapkan menjadi contoh pengembangan pariwisata berkelanjutan yang menjaga warisan alam sekaligus mendorong ekonomi lokal.

Pembangunan Ekowisata Pulau Padar Dipastikan Jaga Ekologi dan Libatkan Masyarakat

Jakarta– Pemerintah memastikan setiap rencana pembangunan fasilitas pariwisata di Pulau Padar, Taman Nasional Komodo, akan mengutamakan kelestarian lingkungan sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat. Pulau yang menjadi bagian Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1991 itu akan dikembangkan dengan prinsip ekowisata yang ketat.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan, setiap pihak yang membangun di kawasan tersebut wajib mematuhi aturan konservasi.

“Saya akan pastikan, kalaupun pihak swasta membangun, yang paling utama adalah menjaga ekologi. Jangan sampai merusak lingkungan atau habitat komodo,” ujar Raja Juli Antoni.

Ia menjelaskan, pemanfaatan kawasan di zona pemanfaatan tetap dimungkinkan selama berlandaskan kajian ilmiah dan melalui proses persetujuan yang ketat. Sejak 2014, PT Komodo Wildlife Ecotourism (PT KWE) telah mengantongi izin pemanfaatan pariwisata, namun hingga kini pembangunan fisik belum dilakukan. Menurutnya, setiap rencana akan melalui penilaian dampak lingkungan yang melibatkan UNESCO.

“Kita juga akan periksa kembali rencana pembangunan, termasuk isu tentang ratusan vila. Data-data masih harus kita sempurnakan kembali,” tegas Raja Juli Antoni.

Ia memastikan desain fasilitas nantinya tidak bersifat permanen, melainkan mudah dipindahkan agar ekosistem tetap terjaga.

Sejalan dengan itu, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Destika Cahyana menilai rencana pembangunan dapat berjalan tanpa masalah selama sesuai peraturan dan menjaga habitat komodo.

“Kalau secara status lahannya itu sudah sesuai aturan, itu sebetulnya no problem, mau dibangun vila juga ya sepanjang tidak merusak lingkungan dan habitat komodo. Itu yang pertama,” ungkap Destika Cahyana.

Ia menambahkan, proporsi lahan hijau harus tetap dominan untuk mencegah erosi dan kerusakan laut.

“Proporsi antara area hijau dan bangunan harus dijaga. Jangan sampai tanah terbuka yang berpotensi menimbulkan erosi dan merusak laut,” tambahnya.

Destika juga menekankan pentingnya melibatkan masyarakat lokal melalui koperasi atau BUMDes agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung.

“Sepanjang semuanya dijaga dan melibatkan masyarakat, ini justru peluang,” pungkasnya.

Dengan pendekatan konservasi yang terintegrasi dan partisipasi aktif masyarakat, Pulau Padar berpotensi menjadi model pengembangan pariwisata berkelanjutan yang menjaga keindahan alam sekaligus menggerakkan perekonomian daerah.

Pulau Padar Aman: Ekowisata yang Berpihak pada Konservasi dan Warga

Oleh: Gendhis Sathiti*)

Di tengah riuh kekhawatiran publik atas wacana pembangunan fasilitas wisata di Pulau Padar, ada peluang untuk menata ulang relasi manusia—alam—ekonomi secara dewasa. Posisi kita sederhana: konservasi adalah tujuan pertama, tetapi konservasi yang matang tidak anti-manusia—ia menuntut tata kelola yang ketat, partisipasi masyarakat, dan teknologi pengawasan yang mencegah kerusakan sejak hulu. Dari rangkaian pernyataan pejabat teknis dan peneliti, ada fondasi kuat untuk memastikan Pulau Padar tetap aman.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa setiap rencana pemanfaatan Pulau Padar harus tunduk pada prinsip kehati-hatian ekologis. Ia menyampaikan bahwa bila pun pihak swasta membangun, prioritas utama ialah menjaga ekologi sehingga habitat komodo tidak terganggu. Ia juga menerangkan, pemanfaatan untuk ekowisata dimungkinkan secara terbatas di zona pemanfaatan, sebuah koridor hukum yang justru dirancang agar pariwisata berjalan dalam pagar konservasi. Di saat yang sama, ia mengindikasikan perlunya pengetatan jumlah pengunjung agar Pulau Padar tidak lagi diperlakukan layaknya pasar wisata; menjadi sinyal bahwa daya dukung (carrying capacity) menjadi rujukan faktual, bukan jargon.

Raja Juli Antoni menjabarkan bahwa perizinan fasilitas pariwisata di Pulau Padar telah dimiliki PT Komodo Wildlife Ecotourism (KWE) sejak 2014. Fakta bahwa belum ada konstruksi hingga kini menandakan proses uji tuntas yang panjang. Menurutnya, pembangunan apa pun harus melalui kajian dampak lingkungan mendalam, termasuk pelibatan UNESCO. Ia menambahkan, bentuk infrastruktur yang diizinkan akan bersifat non-permanen dan dapat dipindahkan agar tidak merusak ekosistem. Ia juga menyebut data perencanaan akan disempurnakan kembali, sebuah pengakuan bahwa tata kelola yang baik bersandar pada verifikasi ilmiah, bukan asumsi. Dengan kerangka itu, klaim “Pulau Padar akan aman” bukan retorika, melainkan komitmen operasional: zona dibatasi, desain adaptif, kuota ditegakkan, dan setiap tahap melewati review lingkungan yang ketat.

Kita tentu tidak boleh menutup mata pada kegelisahan warga. Seorang penduduk di kawasan Taman Nasional Komodo, Alimudin, menyuarakan rasa tidak adil—ia menilai lahan untuk ribuan warga jauh lebih kecil ketimbang konsesi perusahaan, dan mengingatkannya pada sejarah relokasi warga dari kawasan konservasi. Narasi ini penting—bukan untuk menolak ekowisata, tetapi untuk menata keadilan sosialnya. Di sinilah pemerintah mempertegas bahwa model ekowisata yang dipilih tidak akan mengulangi “eksklusi konservasi”; akses ekonomi warga menjadi bagian desain, bukan sisa kebijakan. Itulah sebabnya pendekatan “konservasi berbagi manfaat” (benefit-sharing) relevan: warga setempat tidak hanya menjadi penonton, melainkan tentunya menjadi mitra strategis.

Peneliti BRIN, Destika Cahyana, menawarkan dua rel pengaman yang sejalan dengan itu. Ia menekankan bahwa selama status lahan sesuai aturan dan tidak merusak lingkungan maupun habitat komodo, pembangunan tidak menjadi masalah. Ia juga menegaskan perlunya pelibatan formal masyarakat dalam setiap kebijakan dan rencana; misalnya, melalui wadah seperti koperasi atau BUMDes. Ia mengingatkan aspek teknis—proporsi ruang hijau terhadap bangunan harus dijaga agar lahan tidak berubah menjadi tanah terbuka yang memicu erosi dan merusak laut. Tentu selaun catatan teknis; ini adalah inti etika lingkungan: kita menjaga bentuk-bentuk kehidupan dari hulu (tanah dan vegetasi) agar hilir (pesisir dan laut) tetap sehat.

Pemerintah, melalui otoritas kehutanan, telah memberikan kerangka kepastian: zona pemanfaatan yang jelas, review lingkungan yang melibatkan UNESCO, dan desain struktur non-permanen. Namun agar keadilan sosial terjamin, model bisnis ekowisata harus memasukkan warga sebagai pelaku ekonomi utama. Di titik ini, masukan BRIN dapat diinstitusikan: syarat kemitraan formal dengan koperasi desa untuk setiap izin usaha; kuota keterlibatan pemandu lokal; dan skema “local content” untuk layanan logistik—dari katering hingga transportasi—yang diisi penyedia setempat. Dengan demikian, argumen agraria yang diajukan warga mendapatkan kanal solusi.

Negara memiliki kewajiban ganda: menjaga kelestarian spesies endemik dan memastikan martabat ekonomi warga setempat. Raja Juli Antoni telah menandai rambu ekologinya; Destika Cahyana memetakan rambu sosial-teknisnya. Menyatukan keduanya adalah pekerjaan kebijakan: menetapkan indikator keberhasilan yang tidak hanya mengukur jumlah kunjungan dan penerimaan nonpajak, melainkan juga luas ruang hijau pascakonstruksi, tingkat erosi, kualitas air, keterlibatan tenaga kerja lokal, sampai porsi pendapatan yang berputar di desa. Pengelolaan berbasis indikator ini wujud kehati-hatian yang dapat diaudit publik.

Garis kebijakan yang ditempuh pemerintah menjadikan konservasi sebagai tujuan, ekowisata sebagai alat, masyarakat sebagai subjek, dan ilmu pengetahuan sebagai kompas. Proses penilaian dampak melibatkan otoritas ilmiah global, struktur dirancang non-permanen, kuota disetel sesuai daya dukung, tanah hijau dipertahankan, dan warga dilibatkan secara formal, klaim “Pulau Padar aman” tidak hanya layak dipercaya—ia dapat diverifikasi.

Kita perlu menggeser cara pandang dari ketakutan total menjadi kewaspadaan cerdas. Ketakutan total membekukan; kewaspadaan cerdas menuntut rancangan, audit, dan koreksi berkelanjutan. Komodo adalah warisan dunia. Menjaganya bukan berarti mengurung Pulau Padar dari kehidupan manusia, tetapi mengajari manusia hidup selaras dalam batas-batas ekologisnya. Dengan rambu yang sudah dipasang oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, serta rambu sosial-teknis yang diingatkan peneliti BRIN Destika Cahyana, optimistisme itu ada. Bahwa Pulau Padar akan tetap aman—bukan karena janji, melainkan karena tata kelola yang bisa diuji, dilihat, dan disempurnakan bersama.

*) Pemerhati Lingkungan

Pemerintah Hadir Perluas Layanan Kesehatan Gratis di Papua

Nabire – Berbagai program layanan kesehatan gratis digelar di sejumlah wilayah Papua, mencakup pemeriksaan mata, pembagian kacamata untuk pelajar, hingga pemeriksaan kesehatan umum bagi masyarakat. Kegiatan ini berlangsung melalui kerja sama pemerintah daerah dengan sejumlah mitra, dan menyasar pelajar serta masyarakat umum.

Di Nabire, pemerintah setempat menggelar edukasi dan pemeriksaan mata bagi 1.043 pelajar SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 4. Sebanyak 487 kacamata dibagikan gratis kepada pelajar yang membutuhkan. Kegiatan yang berlangsung pada 5–8 Agustus 2025 ini menjadi bagian dari bakti sosial peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia, didukung oleh PT Freeport Indonesia (PTFI), RSUD Nabire, Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI), dan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK).

Selain pemeriksaan mata untuk pelajar, pemerintah daerah juga menyiapkan operasi katarak yang akan dilaksanakan pada 11–14 Agustus di RSUD Nabire. Proses screening telah menjangkau lebih dari 600 warga, dengan target 80 orang menjalani operasi.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, Dina Pidjer, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan ini.

“Anak-anak yang mungkin belum pernah memeriksakan matanya kini ada kesempatan dari PTFI, sehingga mereka bisa datang langsung ke sekolah untuk memeriksakan mata,” ujarnya.

Di Kabupaten Merauke, program nasional Cek Kesehatan Gratis (CKG) mulai dijalankan sejak awal Agustus. Program ini menyasar lebih dari 50 ribu anak sekolah dari tingkat SD hingga SMA.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke, dr. Nevile Muskita, mengatakan program sudah berjalan di seluruh puskesmas.

“Sudah kita laksanakan, teman-teman di Puskesmas sudah mulai jalan di bulan Agustus ini,” ujarnya.

Untuk tahun pertama, CKG di Merauke menargetkan 180 ribu penduduk dengan capaian minimal 30–40 persen.

“Sasaran kita 180 ribu lebih, sekarang yang sudah periksa sudah 34 ribu. Targetnya minimal 30-40 persen dari 180 ribu sasaran untuk tahun ini karena inikan program baru, mungkin kedepan baru meningkat tahun berikutnya. Kalau anak sekolah bisa 100 persen kayanya bisa, kita sekarang sudah mencapai 20 persen untuk keseluruhan sasaran,” jelas Nevile.

Pelaksanaan pemeriksaan mata, pembagian kacamata, hingga program CKG menjadi bukti nyata hadirnya pemerintah dalam menjamin hak dasar masyarakat Papua untuk mendapatkan layanan kesehatan. Dukungan dari berbagai pihak memperkuat jangkauan layanan, sehingga manfaatnya bisa dirasakan hingga ke wilayah pesisir dan pedalaman.

Kolaborasi Lintas Sektor Dorong Keberhasilan MBG Papua Barat Daya

PAPUA BARAT DAYA – Pemerintah Papua Barat Daya menargetkan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi yang terbaik di seluruh tanah Papua. Upaya ini didukung oleh kolaborasi lintas sektor guna memastikan program berjalan optimal, aman, dan berkelanjutan.

Wakil Gubernur Papua Barat Daya sekaligus Ketua Satuan Tugas Percepatan MBG, Ahmad Nausrau, menegaskan bahwa pengalaman keberhasilan daerahnya dalam percepatan pembentukan Koperasi Merah Putih menjadi modal penting untuk merealisasikan target tersebut.

“Kita telah menjadi yang terbaik dalam percepatan pembentukan Koperasi Merah Putih, sehingga diharapkan percepatan pembentukan MBG bisa menjadi yang terbaik dengan kolaborasi bersama semua pihak terkait,” ujar Ahmad Nausrau.

Menurutnya, keberhasilan program ini membutuhkan antisipasi sejak awal terhadap potensi hambatan yang mungkin muncul. Ia menyebutkan beberapa tantangan yang harus diperhatikan agar pelaksanaan MBG di Papua Barat Daya tidak hanya berjalan sesuai rencana, tetapi juga memberi dampak positif jangka panjang.

“Ada beberapa hal yang harus diantisipasi di antaranya potensi inflasi harga pangan lokal, tantangan logistik dan distribusi, hingga masalah kualitas dan kebersihan makanan, serta potensi terjadinya korupsi dan penyelewengan. Maka ini perlu diantisipasi saat berjalannya Makan Bergizi Gratis,” tegas Ahmad Nausrau.

Ia menambahkan, keberhasilan MBG tidak semata dilihat dari proses penyaluran makanan, tetapi juga dari kemampuan program dalam membangun sistem yang kuat dan transparan. Dengan begitu, manfaat yang dihasilkan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat, khususnya pelajar yang menjadi sasaran utama.

Satgas Percepatan Pembentukan MBG Papua Barat Daya menilai bahwa percepatan pelaksanaan program akan berkontribusi besar pada peningkatan kualitas sumber daya manusia di wilayah tersebut. Perbaikan gizi di kalangan generasi muda diharapkan memperkuat daya saing dan produktivitas mereka di masa depan.

“Harapannya, Program Makan Bergizi Gratis di Papua Barat Daya dapat segera terlaksana sehingga tujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui perbaikan gizi dapat terwujud,” pungkas Ahmad Nausrau.

Dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya, Papua Barat Daya optimistis dapat menjadi percontohan pelaksanaan MBG yang efektif dan berkelanjutan di tanah Papua.