Program MBG Dinilai Perkuat Kesehatan Masyarakat lewat Pemenuhan Gizi Seimbang

Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus mendapat dukungan dari berbagai pihak karena dinilai mampu memperkuat kesehatan masyarakat melalui pemenuhan gizi yang seimbang. Program ini tidak hanya berfokus pada pemberian makanan, tetapi juga menjadi langkah strategis pemerintah dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia sejak usia dini.

Anggota Komisi IX DPR RI, Lucy Kurniasari, menilai bahwa program MBG memberikan dampak positif yang luas bagi masyarakat, baik dari sisi kesehatan maupun kesejahteraan.

“Program MBG memberikan manfaat besar bagi masyarakat karena membantu meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan melalui pemenuhan gizi yang baik,” kata Lucy.

Menurutnya, program ini merupakan langkah strategis pemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dengan memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup dan seimbang sejak dini, pemerintah menyiapkan fondasi penting bagi pembangunan bangsa di masa depan.

Lucy menjelaskan bahwa program MBG menyasar berbagai kelompok masyarakat, khususnya peserta didik di berbagai jenjang pendidikan. Penerima manfaat program ini meliputi anak-anak di tingkat taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas.

Selain itu, program MBG juga menjangkau santri di lingkungan pesantren serta anak-anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan perhatian gizi secara khusus. Cakupan program yang luas ini diharapkan mampu memastikan setiap anak Indonesia memperoleh akses terhadap makanan bergizi.

Tidak hanya peserta didik, program MBG juga menyasar kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian gizi tambahan, seperti ibu hamil, ibu menyusui, serta balita. Kelompok ini dinilai sangat penting dalam upaya pencegahan masalah gizi sejak masa awal kehidupan.

“Program ini merupakan investasi besar bagi masa depan bangsa. Dengan pemenuhan gizi yang baik, kita dapat memperkuat pembangunan sumber daya manusia Indonesia,” ujar Lucy.

Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR RI lainnya, Ranny Fahd Arafiq, menegaskan bahwa program MBG tidak hanya sekadar memberikan bantuan makanan kepada masyarakat.

Menurutnya, program ini merupakan bagian dari strategi besar pemerintah untuk menyiapkan generasi masa depan yang sehat, cerdas, dan produktif.

“Program ini menjadi bentuk perhatian pemerintah agar anak-anak sebagai penerima manfaat mendapatkan asupan gizi yang cukup dan seimbang,” kata Ranny.

Ia menambahkan bahwa pemenuhan gizi yang baik pada masa pertumbuhan akan berdampak besar terhadap perkembangan fisik dan kemampuan belajar anak. Dengan kondisi kesehatan yang lebih baik, anak-anak diharapkan mampu menyerap pelajaran secara optimal di sekolah.

Selain meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, program MBG juga memberikan dampak ekonomi yang positif bagi lingkungan sekitar. Setiap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melibatkan tenaga kerja lokal serta menggunakan bahan pangan dari pemasok di wilayah sekitar.

“Program ini juga dirancang untuk mendorong aktivitas ekonomi masyarakat. Setiap dapur SPPG akan melibatkan tenaga kerja dari lingkungan sekitar sehingga turut menggerakkan perekonomian wilayah,” lanjut Ranny.

Dengan manfaat yang luas, program MBG diharapkan menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun generasi Indonesia yang sehat, kuat, dan berdaya saing tinggi di masa depan. Pemerintah pun terus mendorong penguatan pelaksanaan program ini agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat di seluruh daerah.

Takbiran dan Nyepi Beriringan, Mari Jaga Harmoni Bersama

Oleh : Khrisna Utama

Tahun 2026 menghadirkan momentum yang unik sekaligus sarat makna bagi kehidupan berbangsa di Indonesia. Pada tahun ini, malam takbiran yang menandai berakhirnya bulan Ramadan dan menyambut Hari Raya Idulfitri beriringan dengan perayaan Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu. Pertemuan dua perayaan keagamaan besar ini bukan sekadar kebetulan kalender, melainkan sebuah pengingat bahwa Indonesia dibangun di atas keberagaman yang harus terus dirawat dengan semangat saling menghormati.

Hari Raya Nyepi yang diperingati umat Hindu sebagai Tahun Baru Saka 1948 jatuh pada 19 Maret 2026. Di saat yang hampir bersamaan, umat Islam juga bersiap menyambut Idulfitri dengan tradisi takbiran yang biasanya diisi dengan lantunan takbir, kegiatan keagamaan di masjid, serta berbagai ekspresi kegembiraan umat setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh. Pertemuan dua momentum spiritual ini menghadirkan tantangan sekaligus kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk menunjukkan kedewasaan dalam menjaga toleransi antarumat beragama.

Menteri Agama, Nasaruddin Umar mengatakan adanya pengaturam pelaksanaan takbiran di Bali yang waktunya berdekatan dengan perayaan nyepi. Pelaksanaan takbiran disepakati berlangsung tanpa penggunaan pengeras suara besar dan dengan pembatasan waktu, yakni antara pukul 18.00 hingga 21.00 WITA. Melalui pengaturan tersebut, Nyepi tetap dapat dijalankan secara khidmat sesuai nilai kesakralannya, sementara umat Islam tetap dapat melaksanakan tradisi takbiran sebagai bagian dari perayaan Idulfitri.

Dalam konteks kehidupan berbangsa yang majemuk, situasi seperti ini bukanlah sesuatu yang harus dipandang sebagai persoalan. Sebaliknya, ia dapat menjadi ruang pembelajaran sosial yang penting untuk memperkuat nilai kebhinekaan. Indonesia sejak lama dikenal sebagai negara yang memiliki tradisi panjang dalam menjaga kerukunan antarumat beragama. Keberagaman agama, suku, budaya, dan bahasa yang ada justru menjadi kekuatan utama dalam membangun persatuan nasional.

Pemerintah bersama tokoh agama dan masyarakat juga telah melakukan berbagai langkah koordinatif agar kedua perayaan tersebut dapat berjalan dengan baik. Melalui dialog dan kesepakatan bersama, berbagai penyesuaian teknis dilakukan agar umat Hindu dapat menjalankan Catur Brata Penyepian dengan khidmat, sementara umat Islam tetap dapat melaksanakan takbiran secara tertib dan penuh penghormatan terhadap suasana Nyepi.

Di beberapa wilayah seperti Bali, panduan khusus telah disusun untuk memastikan kedua kegiatan keagamaan tersebut tidak saling mengganggu. Misalnya, umat Islam diperkenankan melaksanakan takbiran di masjid atau mushola terdekat dengan berjalan kaki tanpa menggunakan pengeras suara serta tanpa menyalakan petasan atau bunyi-bunyian lainnya. Pelaksanaan kegiatan juga dibatasi dalam rentang waktu tertentu sehingga tetap menghormati suasana hening yang menjadi inti dari perayaan Nyepi.

Kebijakan semacam ini tidak dimaksudkan untuk membatasi ekspresi keagamaan, melainkan justru menjadi bentuk penghormatan antarumat beragama. Dengan semangat saling memahami, setiap komunitas dapat menjalankan ibadahnya dengan khusyuk tanpa mengurangi makna spiritual yang terkandung di dalamnya. Penyesuaian tersebut juga mencerminkan kedewasaan masyarakat dalam mengelola keberagaman secara bijak.

Momentum beriringannya takbiran dan Nyepi pada tahun ini juga menjadi pengingat bahwa nilai toleransi bukan hanya sekadar konsep, tetapi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Toleransi tidak selalu berarti menyetujui semua perbedaan, melainkan kemampuan untuk memberikan ruang bagi orang lain menjalankan keyakinannya dengan tenang dan bermartabat.

Anggota DPRD Bali, I Wayan Puspa Negera megatakan dengan kedekatan waktu antar Nyepi dan Idul Fitri, baiknya dimaknai sebagai semangat bersama untuk menciptakan kedamaian. Perbedaan bukanlah sesuatu yang memisahkan kita, hal ini menjadi keindahan hidup bermasyarakat.

Dalam perspektif sosial yang lebih luas, pertemuan dua hari besar ini dapat dimaknai sebagai simbol harmoni. Takbiran yang identik dengan gema syukur dan kebahagiaan bertemu dengan Nyepi yang sarat dengan refleksi, keheningan, dan pengendalian diri. Kedua nilai tersebut sesungguhnya saling melengkapi dalam membangun kehidupan yang seimbang antara kegembiraan spiritual dan kedamaian batin.

Di tengah dinamika global yang sering kali diwarnai oleh konflik identitas dan polarisasi sosial, Indonesia memiliki modal sosial yang sangat berharga berupa tradisi toleransi. Modal inilah yang harus terus dirawat melalui sikap saling menghargai, dialog antarumat beragama, serta kesadaran bahwa keberagaman adalah bagian tak terpisahkan dari jati diri bangsa.

Oleh karena itu, momentum takbiran dan Nyepi yang beriringan pada tahun ini hendaknya dijadikan sebagai kesempatan untuk memperkuat semangat kebersamaan. Umat Islam dapat merayakan kemenangan setelah Ramadan dengan penuh rasa syukur, sementara umat Hindu menjalankan Nyepi sebagai waktu untuk melakukan introspeksi dan penyucian diri. Kedua perayaan tersebut dapat berjalan berdampingan selama dilandasi oleh sikap saling menghormati.

Pada akhirnya, harmoni tidak tercipta dengan sendirinya. Ia lahir dari kesadaran kolektif masyarakat untuk menempatkan toleransi sebagai nilai utama dalam kehidupan bersama. Ketika setiap individu mampu menahan diri, menghargai perbedaan, dan menjaga ketertiban sosial, maka keberagaman bukan lagi menjadi tantangan, melainkan kekuatan yang mempersatukan.

Takbiran dan Nyepi yang beriringan tahun ini adalah pengingat bahwa Indonesia mampu berdiri kokoh di atas perbedaan. Dengan menjaga harmoni bersama, kita tidak hanya merayakan hari besar keagamaan, tetapi juga merayakan persatuan sebagai bangsa.

)*Pengamat sosial kemasyarakatan

Idul Fitri dan Nyepi Beririsan, Pemerintah Tegaskan Prioritas Kerukunan

Kuningan — Pemerintah menegaskan komitmen untuk menjaga kerukunan dan toleransi antarumat beragama seiring dengan beririsan waktunya perayaan Idul Fitri dan Hari Raya Nyepi pada tahun ini. Momentum yang mempertemukan dua hari besar keagamaan tersebut dipandang sebagai kesempatan penting untuk memperkuat nilai persatuan, saling menghormati, serta menjaga stabilitas sosial di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

Kesamaan waktu antara kedua hari besar tersebut memunculkan dinamika tersendiri di tengah masyarakat. Pemerintah memandang kondisi ini sebagai bagian dari realitas keberagaman bangsa yang harus disikapi dengan kedewasaan serta semangat saling menghormati antarumat beragama. Oleh karena itu, berbagai langkah koordinasi dilakukan guna memastikan kedua perayaan dapat berlangsung secara khidmat, aman, serta tetap menjaga kenyamanan seluruh masyarakat.

Pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman juga kembali ditekankan oleh Presiden RI, Prabowo Subianto. Penegasan tersebut mengingatkan bahwa perbedaan merupakan kenyataan yang harus dikelola dengan sikap saling menghormati demi menjaga persatuan bangsa.

“Perbedaan, itu bukan sesuatu yang harus mengarah kepada perpecahan. Kita perlu untuk menggalang persatuan, menggalang kerukunan untuk menghadapi keadaan yang penuh ketidakpastian ini,” kata Presiden Prabowo.

Momentum beririsan antara Idul Fitri dan Nyepi dipandang sebagai cerminan nyata semangat Bhinneka Tunggal Ika yang selama ini menjadi perekat kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam keberagaman keyakinan, masyarakat diharapkan mampu menunjukkan sikap saling menghargai dan menjaga harmoni sosial sebagai kekuatan bangsa.

Selain itu, pentingnya peran tokoh agama dalam menjaga harmoni sosial turut menjadi perhatian pemerintah. Dalam momentum sejumlah hari besar keagamaan yang berlangsung berdekatan bahkan bersamaan tahun ini, yakni Nyepi, Idul Fitri, dan Paskah, para tokoh agama dipandang memiliki peran strategis dalam memperkuat pesan damai dan persaudaraan di tengah masyarakat.

Ajakan tersebut disampaikan oleh Nasaruddin Umar selaku Menteri Agama agar para pemuka agama terus mengedepankan nilai-nilai kerukunan dalam setiap momentum keagamaan.

“Para tokoh agama memiliki peran penting dalam menjaga harmoni dan damai di tengah masyarakat. Momentum hari-hari besar keagamaan ini harus menjadi penguat persaudaraan, bukan sebaliknya,” ujar Menag.

Momentum beririsan antara Idul Fitri dan Nyepi pada tahun ini diharapkan menjadi simbol kuat persatuan bangsa Indonesia. Dalam perbedaan keyakinan, masyarakat tetap mampu hidup berdampingan secara damai, menjunjung tinggi toleransi, serta menjaga persaudaraan sebagai bagian dari identitas nasional.

Jelang Lebaran, Ketahanan Energi Wajib Dijaga Bersama

Oleh : Ricky Rinaldi

Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 H, kebutuhan energi masyarakat meningkat seiring dengan melonjaknya mobilitas mudik dan aktivitas ekonomi. Pemerintah memastikan stabilitas pasokan energi, seperti bahan bakar minyak (BBM) hingga LPG tetap terjaga di tengah konflik global, agar masyarakat dapat beraktivitas dengan aman dan nyaman. Namun di sisi lain, kesadaran publik untuk menggunakan energi secara bijak juga menjadi kunci penting agar keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan energi tetap terpelihara.

Energi memiliki peran strategis dalam menggerakkan berbagai sektor kehidupan. Transportasi darat, laut, dan udara yang mengangkut jutaan pemudik membutuhkan pasokan bahan bakar yang terjamin. Di sisi lain, distribusi bahan pangan dari sentra produksi menuju berbagai daerah juga sangat bergantung pada kelancaran pasokan energi. Oleh karena itu, pengelolaan energi menjelang Lebaran harus dilakukan dengan perencanaan yang matang dan koordinasi lintas sektor yang kuat.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memandang ketahanan energi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ketahanan nasional. Pasokan energi yang stabil memberikan fondasi penting bagi kelancaran aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Dalam momentum Lebaran yang melibatkan mobilitas besar-besaran, kesiapan sistem energi menjadi salah satu indikator penting kemampuan negara dalam mengelola kebutuhan strategis masyarakat.

Pemerintah memastikan bahwa cadangan energi nasional berada dalam kondisi yang memadai untuk menghadapi peningkatan konsumsi selama periode Lebaran. Pemantauan terhadap stok bahan bakar minyak, gas, serta pasokan listrik dilakukan secara intensif untuk memastikan distribusi berjalan lancar hingga ke berbagai daerah. Sistem pemantauan berbasis data memungkinkan pemerintah mengambil langkah cepat apabila terjadi lonjakan permintaan di wilayah tertentu.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM Bahlil Lahadalia menekankan bahwa kesiapan infrastruktur energi menjadi prioritas dalam menghadapi periode mobilitas tinggi seperti Lebaran. Pemerintah bersama badan usaha energi memastikan terminal penyimpanan, jaringan distribusi, serta fasilitas penyaluran energi beroperasi secara optimal. Langkah ini dilakukan untuk memberikan kepastian bahwa kebutuhan energi masyarakat dapat terpenuhi tanpa gangguan.

Selain menjaga ketersediaan stok, stabilitas distribusi juga menjadi perhatian utama. Sistem logistik energi diperkuat agar penyaluran bahan bakar dan pasokan listrik dapat menjangkau seluruh wilayah secara merata. Penguatan distribusi ini penting untuk menghindari potensi kelangkaan di daerah yang mengalami lonjakan mobilitas masyarakat.

Ketahanan energi juga berkaitan erat dengan stabilitas ekonomi nasional. Ketika pasokan energi terjaga dengan baik, aktivitas produksi, distribusi, dan perdagangan dapat berlangsung tanpa hambatan berarti. Hal ini membantu menjaga stabilitas harga berbagai kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan masyarakat menjelang Hari Raya.

Momentum Lebaran juga memperlihatkan bagaimana energi menjadi tulang punggung berbagai aktivitas sosial masyarakat. Dari perjalanan mudik hingga kegiatan ibadah dan silaturahmi, semuanya bergantung pada kelancaran sistem energi nasional. Karena itu, pengelolaan energi pada periode ini tidak hanya berorientasi pada aspek teknis, tetapi juga pada pelayanan publik yang menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung.

Dalam perspektif yang lebih luas, ketahanan energi juga mencerminkan kapasitas negara dalam mengelola sumber daya strategis secara efektif. Negara dengan sistem energi yang kuat mampu menjaga stabilitas sosial, ekonomi, dan keamanan dalam berbagai situasi, termasuk ketika terjadi lonjakan konsumsi musiman seperti pada periode Lebaran. Oleh karena itu, penguatan tata kelola energi harus terus menjadi prioritas dalam kebijakan pembangunan nasional.

Upaya menjaga ketahanan energi tidak dapat dilakukan oleh pemerintah saja. Partisipasi masyarakat juga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pasokan. Penggunaan energi secara bijak serta menghindari pembelian berlebihan dapat membantu menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan energi di lapangan.

Selain itu, komunikasi publik yang jelas mengenai kondisi pasokan energi menjadi bagian penting dalam menjaga ketenangan masyarakat. Informasi yang akurat membantu masyarakat memahami bahwa sistem energi nasional berada dalam kondisi terkendali. Dengan demikian, potensi kekhawatiran yang tidak berdasar dapat diminimalkan.

Kerja sama antara pemerintah, badan usaha energi, serta aparat terkait menjadi fondasi penting dalam memastikan kesiapan sistem energi nasional. Koordinasi yang kuat memungkinkan pengawasan distribusi dilakukan secara efektif serta memastikan respons cepat terhadap berbagai situasi yang mungkin muncul selama periode Lebaran.

Lebaran merupakan momentum kebersamaan yang memiliki nilai sosial dan spiritual yang sangat besar bagi masyarakat Indonesia. Negara berkepentingan memastikan bahwa seluruh masyarakat dapat merayakan hari besar ini dengan rasa aman dan nyaman. Ketersediaan energi yang stabil menjadi salah satu faktor penting dalam mewujudkan kondisi tersebut.

Dengan cadangan energi yang memadai, sistem distribusi yang terjaga, serta partisipasi masyarakat dalam penggunaan energi secara bijak, ketahanan energi nasional dapat dipertahankan dengan baik. Ketika seluruh elemen bangsa bekerja bersama, berbagai aktivitas menjelang Lebaran dapat berlangsung lancar tanpa gangguan berarti.

Pada akhirnya, menjaga ketahanan energi bukan sekadar tugas teknis pengelolaan sumber daya, tetapi juga bagian dari upaya menjaga stabilitas kehidupan masyarakat. Dalam momentum penting seperti Lebaran, energi yang tersedia secara stabil menjadi fondasi yang memungkinkan masyarakat merayakan kebersamaan dengan penuh ketenangan dan kebahagiaan.

)Pengamat Isu Strategis

Mitigasi Energi Disiapkan Pemerintah Jelang Lebaran, Masyarakat Diminta Tidak Boros

Jakarta – Pemerintah memastikan kesiapan sektor energi nasional menjelang perayaan Idulfitri dengan menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi di seluruh wilayah Indonesia.

Upaya ini dilakukan untuk memastikan masyarakat dapat merayakan Lebaran dengan aman dan nyaman tanpa gangguan pasokan energi.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyatakan masih memiliki waktu hingga akhir bulan ini untuk menyiapkan mitigasi dampak kenaikan harga dan pengetatan pasokan minyak dunia terhadap cadangan bahan bakar minyak (BBM) di Tanah Air.

“Kita masih ada waktu sampai akhir Maret. Kita masih bisa menghadapi ini, walaupun tadi pagi saya rapat di kantor sudah mulai ada April nih ada sedikit pemikiran yang harus effort, extra effort. Karena kita menyiapkan April itu sekarang, kalau sekarang kondisi yang tidak stabil, tidak bisa kita manfaatkan, maka April ini kita menghadapi masa-masa sulit,” kata Laode.

Laode mengungkapkan sejumlah negara di Asia Tenggara sudah menghadapi masa sulit tersebut sumber minyak sejak Maret, sementara Indonesia diklaim sudah mengamankan seluruh pasokan BBM dan minyak mentah untuk bulan ini.

Dengan begitu, dia mengklaim Kementerian ESDM bakal melakukan usaha ekstra untuk memastikan stok komoditas energi nasional tidak menurun secara drastis dan menimbulkan masalah selepas Idulfitri.

“Nah, kita sedang berpikir juga untuk setelah Maret, bagaimana prosesnya sedang kita lakukan inovasi-inovasi agar nanti kebutuhan dari komoditas yang saya bacakan tadi tidak menurun secara drastis dan menimbulkan masalah pada April dan ke depan,” tegasnya.

Sementara itu, Area Manager Communication, Relations, & Corporate Social Responsibility (CSR) Regional Jawa Bagian Tengah Pertamina Patra Niaga, Taufiq Kurniawan, mengatakan pihaknya telah mengantisipasi kenaikan kebutuhan BBM sejak Ramadan hingga Idulfitri.

“Dan di seluruh wilayah Jawa Tengah dan DIY kami pastikan aman, kami telah menyiapkan skenario untuk mengantisipasi konsumsi mulai momen Ramadan sampai pada saat nanti Idulfitri,” kata Taufiq.

Untuk mendukung kelancaran arus mudik, Pertamina menyiagakan 40 SPBU di jalur nontol yang beroperasi 24 jam. Selain itu, disiapkan pula SPBU kantong dan layanan motoris untuk mengantisipasi lonjakan permintaan maupun antrean kendaraan, khususnya di jalur tol.

“Kemudian ada SPBU siaga di jalur nontol, itu ada 40 SPBU yang buka 24 jam, untuk mengantisipasi para pemudik. Kemudian ada mobile storage atau kantong BBM yang diperbantukan untuk memangkas jarak suplai waktu tempuh,” ujarnya.

Langkah mitigasi ini diharapkan mampu menjaga kelancaran distribusi energi serta memberikan kenyamanan bagi masyarakat saat merayakan lebaran.

Pemerintah Pastikan Pasokan Energi Jelang Lebaran Terjaga, Publik Diajak Konsumsi Bijak

Makassar – Pemerintah memastikan pasokan energi nasional, khususnya bahan bakar minyak (BBM) dan _liquefied petroleum gas_ (LPG), tetap terjaga menjelang perayaan Idulfitri. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat selama periode mudik dan libur Lebaran dapat terpenuhi dengan baik di berbagai wilayah Indonesia.

PT Pertamina Patra Niaga bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) melakukan peninjauan ke sejumlah infrastruktur energi di Sulawesi Selatan menjelang Idulfitri 1447 Hijriah. Kegiatan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan pasokan dan keandalan distribusi energi selama masa Ramadan dan Lebaran.

“Kami dari tim Satgas Ramadan Idulfitri dari ESDM datang ke Kota Makassar ini untuk melihat ketersediaan tentunya BBM, juga nanti listrik dan elpiji supaya meyakinkan bahwa seluruh infrastruktur dan pasokan aman untuk menghadapi Idulfitri di mana arus mudik juga menuju wisata pastinya sangat tinggi,” ujar Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Investasi dan Ekonomi, Muhammad Mahmud Azhar Lubis.

Peninjauan dilakukan di sejumlah infrastruktur energi strategis, antara lain Aviation Fuel Terminal (AFT) Hasanuddin, Integrated Terminal Makassar, Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) Patra Trading, serta SPBU 74.901.15 Samratulangi. Kegiatan ini merupakan bagian dari pemantauan Satuan Tugas Ramadan dan Idulfitri untuk memastikan pasokan BBM, LPG, dan avtur tetap terjaga.

Mahmud mengatakan bahwa hasil pengecekan di lapangan menunjukkan kondisi pasokan energi dalam keadaan aman dan mencukupi.

“Tadi sudah kita cek ketersediaan LPG, BBM cukup. Jadi kami harapkan konsumen pun merasa aman dan tidak perlu menyimpan stok banyak-banyak (tidak perlu _panic buying),_ ” kata Mahmud.

Sementara itu, Direktur Pemasaran Korporat Pertamina Patra Niaga, Alimuddin Baso mengatakan perusahaan telah membentuk Satuan Tugas Ramadan dan Idulfitri 2026 guna memastikan layanan energi bagi masyarakat tetap berjalan optimal selama periode libur keagamaan tersebut.

“Kami telah membentuk Satuan Tugas Ramadan dan Idulfitri dan tentu kita memastikan bahwa layanan kita selama Ramadan dan Idulfitri ini akan tercukupi. Kita ingin memastikan teman-teman yang sedang berlibur bisa terlayani dengan baik,” jelas Alimuddin.

Mahmud menambahkan Integrated Terminal Makassar memiliki peran penting dalam menopang distribusi energi di kawasan Indonesia Timur.

“Hampir 60% _backbone supply_ BBM itu dari Timur, khusus di Sulawesi dari sini,” ungkap Alimuddin.

Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah optimistis kebutuhan energi masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri dapat terpenuhi dengan baik. Sinergi antara pemerintah, BUMN energi, serta masyarakat diharapkan mampu menjaga kelancaran distribusi dan memastikan perayaan Lebaran berlangsung aman, nyaman, dan lancar di seluruh Indonesia.

Sinergi Pemerintah dan Masyarakat Kunci Sukses Jaga Ketahanan Energi Jelang Lebaran

Oleh : Andika Pratama )*

Ketahanan energi merupakan salah satu fondasi penting bagi stabilitas ekonomi dan sosial sebuah negara. Di Indonesia, isu ketahanan energi selalu menjadi perhatian strategis, terutama menjelang momen besar seperti Ramadan dan Idul Fitri yang identik dengan peningkatan mobilitas masyarakat dan lonjakan konsumsi energi. Dalam konteks ini, sinergi antara pemerintah, pelaku industri energi, serta masyarakat menjadi kunci utama dalam memastikan pasokan energi tetap aman, stabil, dan terjangkau. Upaya kolektif tersebut semakin relevan di tengah dinamika geopolitik global yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi dunia.

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, yang melibatkan sejumlah negara besar, kembali memicu kekhawatiran terhadap volatilitas harga minyak global. Konflik yang berpotensi mengganggu jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz dapat berdampak pada perdagangan minyak dunia. Bagi Indonesia yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak mentah, BBM, dan LPG, kondisi ini tentu perlu diantisipasi secara serius. Dalam situasi seperti ini, ketahanan energi tidak hanya menjadi isu teknis sektor energi, tetapi juga berkaitan erat dengan stabilitas ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat.

Anggota Komisi VI DPR RI Christiany Eugenia Tetty Paruntu menekankan pentingnya langkah antisipatif dalam pengadaan dan distribusi energi nasional. Stabilitas energi menurutnya merupakan fondasi penting bagi stabilitas ekonomi nasional. Pandangan tersebut mencerminkan kesadaran bahwa ketersediaan energi memiliki dampak luas terhadap berbagai sektor kehidupan, mulai dari aktivitas industri hingga mobilitas masyarakat sehari-hari. Oleh karena itu, penguatan kebijakan ketahanan energi menjadi agenda yang tidak bisa ditunda.

Pemerintah bersama Badan Usaha Milik Negara di sektor energi terus mengambil langkah strategis untuk menjaga ketersediaan pasokan energi nasional. Salah satu upaya nyata terlihat dari optimalisasi operasional kilang domestik yang menjadi tulang punggung pengolahan minyak nasional. Kilang Pertamina Patra Niaga Refinery Unit II Dumai misalnya, memainkan peran penting dalam memastikan pasokan bahan bakar minyak bagi wilayah Sumatera bagian utara, terutama menjelang periode Ramadan dan Idul Fitri.

Kilang ini berada dalam kondisi optimal untuk memproduksi berbagai jenis bahan bakar yang dibutuhkan masyarakat. Kilang Dumai sendiri memiliki kontribusi signifikan terhadap kapasitas pengolahan nasional, dengan kemampuan produksi mencapai ratusan ribu barel per hari. Keandalan fasilitas pengolahan seperti ini menjadi salah satu faktor utama yang memastikan distribusi energi tetap berjalan lancar meskipun terdapat dinamika global yang berpotensi memengaruhi pasar energi.

Di sisi lain, pemerintah juga melakukan pemantauan langsung terhadap sistem distribusi bahan bakar hingga tingkat stasiun pengisian bahan bakar umum. Pemantauan stok melalui sistem digital seperti Automatic Tank Gauge menunjukkan bahwa ketersediaan solar maupun bensin berada dalam kondisi aman. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memastikan pelayanan energi kepada masyarakat tetap terjaga dengan baik selama periode peningkatan konsumsi.

Sistem energi Indonesia sebenarnya memiliki ketahanan yang cukup kuat untuk menghadapi dinamika geopolitik global. Infrastruktur energi nasional telah dirancang untuk mengantisipasi berbagai potensi gangguan eksternal, termasuk fluktuasi harga minyak dunia. Pengelolaan pasokan dan distribusi energi juga dilakukan melalui perencanaan yang matang sehingga mampu menjaga stabilitas ketersediaan bahan bakar di berbagai wilayah.

Tantangan terbesar dalam pengelolaan energi Indonesia justru lebih banyak berkaitan dengan faktor geografis. Sebagai negara kepulauan dengan ribuan pulau, distribusi energi memerlukan sistem logistik yang kompleks dan terintegrasi. Namun pengalaman panjang Indonesia dalam menghadapi berbagai krisis energi global menunjukkan bahwa sistem nasional memiliki kemampuan adaptasi yang cukup baik.

Momentum menjelang Idul Fitri telah menjadi pola tahunan yang selalu diantisipasi oleh pemerintah dan pelaku industri energi. Setiap tahun, berbagai langkah persiapan dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan konsumsi bahan bakar akibat meningkatnya mobilitas masyarakat. Mulai dari penguatan cadangan operasional, optimalisasi kilang domestik, hingga peningkatan koordinasi distribusi menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas pasokan energi.

Namun keberhasilan strategi tersebut tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan masyarakat. Kesadaran publik untuk menggunakan energi secara bijak serta tidak melakukan pembelian secara berlebihan merupakan kontribusi nyata dalam menjaga stabilitas distribusi energi nasional. Dalam konteks ini, ketahanan energi sejatinya merupakan tanggung jawab bersama antara negara dan masyarakat.

Dengan kolaborasi yang solid antara berbagai pihak, Indonesia memiliki modal kuat untuk menghadapi berbagai tantangan di sektor energi. Pengalaman panjang menghadapi dinamika global menunjukkan bahwa sistem energi nasional memiliki kemampuan adaptasi yang baik. Oleh karena itu, menjaga ketahanan energi menjelang Idul Fitri tidak hanya menjadi tugas pemerintah atau perusahaan energi semata, melainkan juga memerlukan partisipasi aktif masyarakat.

Pada akhirnya, keberhasilan menjaga ketahanan energi nasional akan sangat bergantung pada sinergi yang kuat antara seluruh elemen bangsa. Ketika pemerintah memastikan kebijakan dan infrastruktur berjalan optimal, industri energi menjaga operasional dan distribusi tetap andal, serta masyarakat berperan aktif menjaga stabilitas konsumsi, maka ketahanan energi nasional dapat terjaga dengan baik. Dengan semangat kebersamaan tersebut, Indonesia dapat menghadapi berbagai tantangan global sekaligus memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi secara aman dan berkelanjutan, termasuk pada momen penting seperti Idul Fitri.

)* Penulis adalah seorang Pengamat Sosial

MBG dan Diplomasi Kesehatan Indonesia di Panggung PBB

Oleh : Abdul Razak )*

Komitmen Indonesia dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan gizi masyarakat semakin mendapat perhatian di tingkat internasional. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program prioritas nasional kini juga diperkenalkan sebagai bagian dari diplomasi kesehatan Indonesia dalam forum global, termasuk pada rangkaian kegiatan Sidang Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (Dewan HAM PBB) Sesi ke-61 di Jenewa, Swiss.

Pemerintah Indonesia mengangkat program MBG dalam sebuah side event bertajuk Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia: Investasi Berbasis Hak Asasi Manusia yang diselenggarakan di Markas Besar PBB, Jenewa. Forum ini menjadi sarana bagi Indonesia untuk menunjukkan bahwa kebijakan pemenuhan gizi tidak hanya berdimensi kesehatan, tetapi juga merupakan bagian dari pemajuan hak asasi manusia.

Kegiatan di Jenewa ini juga menghadirkan sejumlah panelis internasional, di antaranya perwakilan dari Food and Agriculture Organization (FAO), World Food Programme (WFP), serta perwakilan tetap Prancis, Kuba, dan Finlandia untuk PBB di Jenewa. Diskusi tersebut dihadiri oleh berbagai delegasi negara dan organisasi masyarakat sipil yang membahas penguatan hak atas pangan sebagai bagian dari pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Direktur Jenderal Pelayanan dan Kepatuhan HAM Kementerian Hukum dan HAM, Munafrizal Manan, menjelaskan bahwa hingga Maret 2026 program MBG telah menjangkau sekitar 61,6 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Penerima manfaat tersebut meliputi anak sekolah, balita, serta ibu hamil dan menyusui yang dilayani melalui lebih dari 24.000 fasilitas layanan di berbagai daerah.

Program MBG dirancang untuk meningkatkan status gizi generasi saat ini sekaligus mempersiapkan generasi masa depan yang lebih sehat dan produktif. Ia menilai pemenuhan gizi yang memadai akan berkontribusi langsung terhadap peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah dan produktivitas masyarakat dalam jangka panjang.
Selain memberikan dampak pada sektor kesehatan dan pendidikan, program ini juga membawa manfaat ekonomi yang luas. Implementasi MBG telah menciptakan lebih dari satu juta lapangan kerja dan melibatkan sekitar 35.000 pemasok pangan di berbagai daerah. Pemasok tersebut terdiri dari koperasi serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi bagian penting dalam rantai pasok program.

Program MBG juga memiliki dimensi penting dalam pemajuan hak asasi manusia, khususnya terkait pemenuhan hak atas pangan, kesehatan, pendidikan, jaminan sosial, serta standar hidup yang layak. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan pembangunan sosial dapat menjadi instrumen efektif dalam memperkuat kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.

Implementasi program MBG juga mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat. Ketua Umum Asosiasi Dapur Mandiri Indonesia (ADMIN), Bambang Purnomo Edi, menegaskan bahwa program MBG bukan sekadar pembagian makanan, melainkan sebuah ekosistem ekonomi kerakyatan yang terstruktur. ADMIN melihat bahwa program MBG mampu menghidupkan aktivitas ekonomi masyarakat di berbagai daerah. Program ini dinilai mampu menyerap tenaga kerja lokal sekaligus memberikan kepastian pasar bagi petani, peternak, serta pelaku usaha pangan skala kecil.

Bambang menyoroti dinamika opini yang berkembang di media sosial terkait implementasi program MBG. Menurutnya, tidak semua informasi yang beredar mencerminkan kondisi di lapangan. Bambang menilai program MBG justru menjadi salah satu penggerak ekonomi rakyat karena melibatkan banyak pelaku usaha lokal dalam rantai pasok pangan. Bambang mengajak masyarakat untuk tetap optimis dan tidak mudah terpengaruh oleh konten yang menyudutkan program secara keseluruhan hanya berdasarkan kasus-kasus tunggal. Ia menilai langkah penertiban yang dilakukan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) terhadap unit pelayanan yang tidak memenuhi standar operasional justru menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengawasi pelaksanaan program.

ADMIN saat ini berkoordinasi dengan BGN untuk memastikan lebih dari 1.200 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada di bawah naungan organisasi tersebut dapat beroperasi secara patuh, bersih, dan profesional. Pihaknya berkomitmen untuk menjaga kualitas dan transparansi dalam setiap porsi makanan yang disajikan kepada masyarakat.

Dampak ekonomi program MBG juga terlihat jelas di berbagai daerah. Permintaan bahan pangan untuk kebutuhan dapur produksi program tersebut mendorong peningkatan aktivitas ekonomi pada sektor pertanian, perikanan, serta UMKM. Kondisi ini membuat banyak pelaku usaha lokal mendapatkan tambahan permintaan dalam jumlah besar. Petani, peternak, dan nelayan pun terdorong untuk meningkatkan kapasitas produksi mereka guna memenuhi kebutuhan bahan baku bagi dapur MBG.

Di Kota Serang, Banten, dampak ekonomi program ini bahkan dinilai sangat signifikan. Wakil Wali Kota Serang, Nur Agis Aulia, menyampaikan bahwa keberadaan dapur MBG telah memberikan perputaran ekonomi yang besar bagi daerah tersebut. Saat ini terdapat sekitar 80 hingga 90 dapur MBG yang beroperasi di Kota Serang. Aktivitas dapur tersebut memicu perputaran ekonomi hingga mencapai sekitar Rp100 miliar setiap bulan atau hampir Rp1,2 triliun dalam satu tahun.

Ini berdampak sangat besar bagi perekonomian daerah karena banyak UMKM serta pelaku usaha lokal yang menerima pesanan dalam jumlah besar. Bahkan sejumlah produsen makanan mengalami lonjakan permintaan yang signifikan sejak program MBG berjalan. Dengan pendekatan yang menggabungkan aspek kesehatan, pembangunan ekonomi, dan diplomasi internasional, program Makan Bergizi Gratis menunjukkan bahwa kebijakan sosial dapat menjadi instrumen strategis untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus memperluas peran Indonesia dalam agenda pembangunan global.

)* Penulis adalah seorang Analis Kebijakan

Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Gejolak Geopolitik Global

Oleh: Rivka Mayangsari*)

Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, Indonesia menunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat. Pemerintah memastikan bahwa stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga melalui pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang disiplin, adaptif, dan responsif terhadap dinamika global.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa APBN Indonesia saat ini menunjukkan kinerja yang solid dan mampu berfungsi sebagai **shock absorber** di tengah gejolak ekonomi global. Konflik geopolitik yang memicu fluktuasi harga energi dan pasar keuangan dunia memang memberikan tekanan terhadap banyak negara, namun fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap berada dalam kondisi yang sangat kuat.

Salah satu indikator yang menunjukkan stabilitas tersebut terlihat dari perkembangan harga minyak mentah Indonesia. Hingga Maret 2026, rata-rata harga Indonesian Crude Price (ICP) berada di level sekitar USD68 per barel. Angka ini masih berada di bawah asumsi harga minyak dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar USD70 per barel. Kondisi ini menjadi sinyal positif bahwa tekanan terhadap fiskal negara masih dapat dikelola dengan baik, meskipun harga minyak mentah Brent sempat menembus level USD100 per barel di pasar global.

Stabilitas fiskal tersebut juga diperkuat oleh performa sektor riil yang menunjukkan tren penguatan signifikan. Aktivitas industri manufaktur Indonesia, misalnya, mencatatkan kinerja yang sangat menggembirakan. Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Februari 2026 mencapai level 53,8, yang merupakan angka tertinggi dalam dua tahun terakhir. Capaian ini menempatkan Indonesia dalam posisi yang lebih baik dibandingkan sejumlah negara besar seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Australia dalam hal ekspansi sektor manufaktur.

Selain sektor industri, indikator daya beli masyarakat juga menunjukkan kondisi yang stabil. Data terbaru memperlihatkan bahwa Mandiri Spending Index meningkat hingga mencapai level 360,7 persen pada Februari 2026. Peningkatan ini mencerminkan aktivitas konsumsi masyarakat yang tetap tinggi. Hal tersebut juga diperkuat oleh pertumbuhan penjualan mobil yang mencapai dua digit, yaitu sekitar 12 persen.

Menkeu menepis berbagai anggapan yang menyebut bahwa daya beli masyarakat sedang melemah. Menurutnya, indikator kepercayaan konsumen justru menunjukkan tren yang positif. Indeks Keyakinan Konsumen tetap berada di atas level 100, yang menandakan bahwa masyarakat masih memiliki optimisme terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun prospek ekonomi ke depan.

Sementara itu, inflasi yang tercatat sebesar 4,76 persen secara tahunan pada Februari juga dinilai tidak mencerminkan tekanan harga yang permanen. Purbaya menjelaskan bahwa angka tersebut dipengaruhi oleh faktor temporer berupa **low base effect** akibat kebijakan diskon tarif listrik pada tahun sebelumnya. Jika faktor tersebut dikeluarkan dari perhitungan, tingkat inflasi sebenarnya diperkirakan hanya berada di sekitar 2,59 persen, masih berada di bawah target inflasi yang ditetapkan pemerintah.

Stabilitas ekonomi juga didukung oleh koordinasi yang erat antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter yang dijalankan oleh Bank Indonesia. Salah satu langkah strategis yang dilakukan pemerintah adalah penempatan kas negara sebesar Rp200 triliun di sistem perbankan. Kebijakan ini terbukti mampu menjaga likuiditas perbankan nasional sehingga penyaluran kredit kepada sektor usaha dapat berjalan lebih optimal.

Dari sisi fiskal, kinerja APBN hingga akhir Februari 2026 juga menunjukkan tren yang sangat positif. Pendapatan negara tercatat mencapai Rp358 triliun atau sekitar 11,4 persen dari target tahunan. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 12,8 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Penerimaan pajak menjadi salah satu kontributor utama dalam penguatan pendapatan negara. Hingga Februari, penerimaan pajak tercatat tumbuh sangat kuat hingga mencapai 30,4 persen secara tahunan. Peningkatan ini mencerminkan aktivitas ekonomi yang terus berkembang serta efektivitas kebijakan perpajakan yang semakin baik.

Di sisi lain, pemerintah juga mempercepat realisasi belanja negara sebagai bagian dari strategi mendorong pertumbuhan ekonomi sejak awal tahun. Belanja negara hingga akhir Februari mencapai Rp493,8 triliun atau sekitar 12,8 persen dari pagu APBN. Angka tersebut melonjak hingga 41,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Akselerasi belanja negara ini merupakan langkah strategis pemerintah untuk memastikan bahwa stimulus ekonomi dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat. Belanja negara yang lebih cepat diharapkan mampu memperkuat daya beli masyarakat, mendorong aktivitas ekonomi daerah, serta mempercepat pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik.

Meskipun belanja negara meningkat signifikan, kondisi fiskal tetap berada dalam batas yang sehat. Hingga akhir Februari 2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp135,7 triliun atau sekitar 0,53 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut masih berada jauh di bawah batas defisit yang ditetapkan dalam kerangka fiskal nasional.

Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, APBN Indonesia kembali membuktikan perannya sebagai fondasi stabilitas ekonomi nasional. Dengan fundamental ekonomi yang kuat, koordinasi kebijakan yang solid, serta pengelolaan fiskal yang disiplin, Indonesia memiliki modal besar untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap stabil sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional di masa mendatang.

*) Pemerhati ekonomi

Di Tengah Gejolak Dunia, APBN Indonesia Tetap Tangguh

Jakarta – Pemerintah memastikan perekonomian nasional tetap kuat meski dunia menghadapi eskalasi konflik geopolitik dan ketidakpastian global. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan APBN berperan sebagai _shock absorber_ untuk meredam guncangan ekonomi dan menjaga stabilitas dari tekanan eksternal. Hal tersebut disampaikan dalam Konferensi Pers APBN KiTa di Jakarta pada 11 Maret 2026 lalu, sekaligus memaparkan sejumlah indikator yang menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia.

“Sejauh ini masih terdapat ruang fiskal untuk mengantisipasi risiko kenaikan harga dalam pelaksanaan APBN 2026. Nanti kalau ke depan keadaan menekan lagi, kita akan tentunya mengatur APBN, tapi kita semua dalam berawal dari posisi yang kuat APBN-nya. Jadi teman-teman gak usah khawatir,” ujar Purbaya.

Kinerja APBN hingga akhir Februari 2026 menunjukkan tren yang positif. Pendapatan negara tercatat mencapai Rp358 triliun atau sekitar 11,4 persen dari target tahunan dan tumbuh 12,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penerimaan pajak bahkan meningkat signifikan dengan pertumbuhan 30,4 persen secara tahunan.

Sementara itu, belanja negara telah mencapai Rp493,8 triliun atau sekitar 12,8 persen dari total pagu anggaran, meningkat 41,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebagai bagian dari strategi pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi sejak awal tahun. Meski demikian, defisit APBN masih berada dalam batas aman yakni Rp135,7 triliun atau sekitar 0,53 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Pemerintah juga terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika pasar global dengan memperkuat fundamental ekonomi nasional.

“Selama fondasi ekonomi kita bagus, mengendalikan rupiah lebih mudah dibandingkan jika kondisi ekonomi sedang tidak baik,” ujar Purbaya.

Menanggapi kenaikan harga minyak dunia, ia menegaskan kondisi fiskal Indonesia masih cukup kuat untuk menyerap tekanan tersebut.

“Kita masih aman, masih kuat. Kenaikan ini baru terjadi beberapa hari,” ujarnya.

Perhitungan subsidi energi dalam APBN menggunakan asumsi harga minyak rata-rata tahunan sehingga fluktuasi harga jangka pendek belum berdampak signifikan terhadap anggaran negara. Dengan indikator tersebut, pemerintah optimistis perekonomian Indonesia tetap stabil dan tangguh menghadapi dinamika global.

“Jadi secara keseluruhan kombinasi pendapatan negara yang tumbuh positif, belanja yang terakselerasi untuk mendorong ekonomi, serta defisit yang tetap terkendali, menunjukkan bahwa APBN terus berperan optimal sebagai instrumen stabilisasi sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi nasional,” tutup Purbaya.