Masyarakat Dukung Komitmen Pemerintah Terhadap Keadilan dan HAM Di Papua

Oleh: Maria Dogopia)*

Dukungan masyarakat Papua terhadap komitmen pemerintah dalam mewujudkan keadilan dan pemerataan pembangunan semakin menguat. Berbagai program strategis yang dijalankan pemerintah pusat mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di berbagai wilayah, baik pedalaman maupun pesisir. Hal ini ditegaskan oleh Tokoh Masyarakat Papua, Imanuel Nerotou, yang menilai bahwa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan ketegasan serta keberpihakan nyata bagi rakyat Papua melalui kebijakan dan langkah-langkah yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.

 

Menurut Imanuel Nerotou, masyarakat Papua melihat bahwa komitmen pemerintah terhadap keadilan bukan hanya tertuang dalam pidato atau visi misi, tetapi diwujudkan melalui program yang dieksekusi secara konkret oleh kementerian dan lembaga terkait. Ia menilai bahwa kehadiran negara kini lebih terasa, terutama karena berbagai program langsung mengatasi permasalahan yang selama ini dirasakan masyarakat, seperti ketimpangan pembangunan, akses fasilitas dasar, dan masalah penyelewengan anggaran.

 

Salah satu wujud nyata keadilan yang sangat dirasakan masyarakat adalah upaya tegas pemerintah dalam memberantas mafia korupsi. Selama bertahun-tahun, masyarakat Papua merasa dana pembangunan yang dikucurkan pusat tidak sepenuhnya sampai kepada rakyat kecil. Regulasi seperti otonomi khusus belum optimal karena praktik penyalahgunaan anggaran di berbagai tingkatan. Kini, langkah pemberantasan korupsi yang diperkuat pemerintah membuat perputaran anggaran lebih jelas dan manfaatnya mulai dirasakan masyarakat secara langsung. Bagi masyarakat Tanah Merah, ini adalah bentuk nyata komitmen pemerintah dalam menghadirkan keadilan anggaran.

 

Perbaikan kondisi ini turut berpengaruh pada stabilitas sosial. Kerusuhan dan blokade yang sempat muncul akibat ketidakpuasan masyarakat berangsur mereda seiring hadirnya program konkret yang memberikan harapan baru. Menurut Imanuel Nerotou, masyarakat kini melihat masa depan yang lebih pasti karena pemerintah memberikan perhatian langsung terhadap kebutuhan dasar, sehingga memungkinkan terciptanya kondisi sosial yang lebih aman dan kondusif.

 

Program Makan Bergizi Gratis menjadi bukti nyata bagaimana pemerintah menghadirkan keadilan bagi anak-anak Papua yang sebelumnya kesulitan mendapatkan gizi yang layak. Bantuan ini tidak hanya meringankan beban ekonomi keluarga, tetapi juga memastikan anak-anak mendapat hak dasar mereka untuk tumbuh sehat. Langkah ini dinilai masyarakat sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam menciptakan keadilan sosial bagi generasi muda.

 

Keadilan dalam pembangunan juga terlihat dari percepatan pembangunan infrastruktur. Jalan-jalan yang dulu sulit dilalui kini mulai terhubung, memudahkan masyarakat membawa hasil bumi ke pasar dan membuka peluang ekonomi yang lebih luas. Pembangunan jalur transportasi darat maupun laut dikerjakan secara terukur, menghadirkan rasa percaya masyarakat bahwa pemerintah benar-benar memprioritaskan kesejahteraan Papua.

 

Di wilayah pesisir, kehadiran bantuan perahu dan mesin tempel menjadi bukti lain dari hadirnya keadilan pelayanan publik. Masyarakat yang selama ini kesulitan menjangkau pusat kota atau pasar karena keterbatasan transportasi kini memiliki akses yang lebih baik. Bantuan ini tidak hanya mempermudah mobilitas, tetapi juga meningkatkan pendapatan keluarga pesisir yang bergantung pada hasil laut.

 

Tidak hanya itu, masyarakat juga merasakan pemerataan keadilan pada sektor perumahan. Program pembangunan rumah yang dijalankan pemerintah pusat hingga pemerintah kampung memberikan kesempatan bagi masyarakat yang tinggal di kawasan kumuh untuk memperoleh tempat tinggal yang lebih layak. Penyediaan tanah dan fasilitas pendukung menjadi bentuk keseriusan pemerintah dalam memastikan masyarakat Papua hidup dengan standar yang lebih baik.

 

Pada sektor ekonomi, terbukanya jalur distribusi membuat harga hasil bumi lebih stabil. Masyarakat dapat memanfaatkan lahan untuk bercocok tanam, baik tanaman jangka pendek, menengah, maupun panjang. Dengan akses pasar yang lebih mudah, masyarakat dapat meningkatkan penghasilan dan memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa program pemerintah tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga memberi ruang bagi masyarakat untuk berkembang secara mandiri.

 

Selain itu, Imanuel Nerotou mengapresiasi berbagai program pemerintah di bidang hak asasi manusia (HAM), yang dinilainya mulai membawa perubahan positif di Tanah Papua. Meski kasus kekerasan masih terjadi di beberapa wilayah, ia melihat intensitasnya mulai menurun berkat langkah pemerintah yang semakin fokus pada perlindungan masyarakat kecil.

 

Perhatian serius pemerintah terhadap isu HAM mulai dari pemberantasan korupsi, tindakan anarkis, hingga kekerasan dalam rumah tangga telah berdampak nyata bagi warga Papua. Presiden Prabowo Subianto dinilainya konsisten memastikan program berjalan di lapangan, bukan hanya berhenti sebagai wacana. Hal ini memperkuat rasa percaya bahwa negara hadir untuk menjamin keadilan.

 

Transformasi yang kini terlihat di Papua, seperti pembangunan infrastruktur, ketersediaan pangan, perumahan, dan peluang ekonomi, serta khususnya pada HAM menjadi bukti bahwa kebijakan pemerintah menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Diharapkan komitmen ini terus berlanjut karena bagi masyarakat Papua, keadilan berarti kebijakan yang benar-benar hadir hingga ke wilayah paling terpencil.

 

)* Penulis adalah Mahasiswa Papua

Setahun Pemerintahan Prabowo: Swasembada Pangan dan Energi Melesat, Program SDM Panen Apresiasi

Jakarta — Satu tahun Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memperlihatkan fondasi baru pembangunan berorientasi hasil. Tiga prioritas yakni Swasembada Pangan, Swasembada Energi, dan penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) telah menunjukkan dampak nyata.

Di sektor pangan, produksi dan pasokan beras serta jagung menguat berkat perbaikan irigasi, benih unggul, dan tata niaga yang lebih tertib. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan arah kebijakan menjaga ketersediaan sekaligus kesejahteraan petani.

“Ketersediaan beras berada pada level aman, panen berlangsung berderet di banyak sentra, dan harga di tingkat petani lebih adil karena rantai pasok dipangkas serta penyerapan melalui koperasi diperkuat. Fokusnya memastikan stok stabil tanpa mengorbankan pendapatan petani,” ujar Andi Amran Sulaiman.

Penguatan kelembagaan lewat Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih berperan sebagai agregator gabah, pakan, hingga obat hewan, sehingga biaya logistik menurun dan daya saing naik.

Pada pilar energi, strategi menuju kemandirian ditempuh melalui peningkatan produksi hulu, revitalisasi kilang, serta percepatan bioenergi. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung menilai kebijakan mandatori biodiesel mempertebal ketahanan energi sekaligus menyerap tenaga kerja.

“Implementasi biodiesel bukan sekadar substitusi impor, melainkan mesin penghematan devisa dan pengungkit ekonomi rakyat—dari kebun sawit, pabrik, hingga distribusi. Pasokan lebih terjamin, emisi turun, dan efek berantainya terasa pada transportasi serta logistik,” tegas Yuliot Tanjung.

Kinerja BUMN energi dan pelibatan swasta menjaga suplai di tengah gejolak global, memberi kepastian biaya bagi industri.

Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana menekankan skala layanan dan standar mutu gizi berjalan beriringan guna menjaga standar mutu Makan Bergizi Gratis (MBG).

“MBG menjangkau jutaan penerima manfaat dengan menu yang memenuhi standar protein, serat, dan mikronutrien. Ekosistemnya menggerakkan UMKM katering, petani, nelayan, hingga pedagang pasar sehingga gizi meningkat, ekonomi daerah ikut berdenyut,” pungkas Dadan Hindayana.

Di sisi pencegahan penyakit, Cek Kesehatan Gratis (CKG) mendorong deteksi dini faktor risiko dan mempercepat penanganan di layanan primer. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menyebut partisipasi publik tinggi berkat prosedur sederhana dan jangkauan merata.

“CKG membuat warga diperiksa lebih cepat, menemukan masalah sejak dini—dari hipertensi hingga kesehatan gigi—lalu diarahkan ke terapi yang tepat. Dampaknya menurunkan beban biaya jangka panjang dan meningkatkan produktivitas,” tambah Budi Gunadi Sadikin.

Sinergi sejumlah sektor meliputi pangan berdaulat, energi mandiri, dan SDM sehat-unggul, menjadi kerangka pembangunan inklusif setahun terakhir. Dengan tata kelola lebih efisien, investasi terarah, dan kolaborasi pusat–daerah, fondasi lompatan berikutnya kian kokoh menuju Indonesia Emas 2045.

UMKM Papua Siap Menggebrak Pasar Internasional dan Dongkrak Perekonomian Daerah

Pendiri Sasagu, Herlinda Sinaga, berinovasi membuat produk olahan sagu

Swasembada Pangan Wujud Nyata Asta Cita Presiden Prabowo

Oleh: Aditya Pranata )*

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menempatkan swasembada pangan sebagai salah satu pilar utama dalam Asta Cita. Sejak awal, Presiden Prabowo menegaskan bahwa amanat konstitusi harus diwujudkan dengan menghadirkan negara untuk menjamin kebutuhan dasar rakyat, terutama pangan dan pendidikan. Bagi Prabowo, kedua hal ini merupakan fondasi kesejahteraan bangsa sekaligus syarat mutlak untuk membangun generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.

Dalam pidatonya di Sidang Tahunan MPR/DPR, Presiden menekankan bahwa ketahanan pangan adalah bagian dari kedaulatan negara. Karena itu, pemerintah mengambil langkah besar dengan meningkatkan produksi beras dan jagung, memperluas lahan pertanian, hingga menyesuaikan harga gabah agar petani lebih sejahtera. Langkah-langkah tersebut diarahkan untuk memastikan Indonesia tidak bergantung pada impor sekaligus menjaga stabilitas harga di pasar domestik.

Pemerintah mengalokasikan perhatian besar dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026. Dana jumbo dipersiapkan untuk memperkuat cadangan pangan nasional. Dalam rancangan tersebut, alokasi Rp53,3 triliun diperuntukkan bagi lumbung dan cadangan pangan, sedangkan subsidi pupuk mencapai Rp46,9 triliun untuk 9,62 juta ton. Selain itu, Bulog diperkuat perannya dengan anggaran Rp22,7 triliun agar dapat menjaga stok pangan, melindungi petani, sekaligus memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga.

Prabowo memandang bahwa kebijakan besar tidak akan berjalan efektif jika regulasi masih berbelit. Karena itu, sejak awal 2025 pemerintah memutuskan untuk memangkas 145 aturan penyaluran pupuk yang dinilai terlalu rumit. Hasilnya terlihat nyata. Produksi beras meningkat, stok di gudang pemerintah melonjak hingga lebih dari 4 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah, dan harga tetap stabil. Kondisi ini memberi harapan besar bagi petani, sekaligus menjadi bukti bahwa kebijakan yang tepat dapat langsung berdampak pada kesejahteraan rakyat.

Langkah selanjutnya adalah mempercepat pencetakan lahan baru dan penyediaan fasilitas pertanian modern. Pemerintah menjamin harga pembelian gabah agar petani tetap untung, sekaligus menyiapkan pembiayaan murah sehingga mereka dapat mengembangkan usaha taninya. Dengan kebijakan ini, kedaulatan pangan yang menjadi impian lama bangsa Indonesia kini semakin dekat untuk diwujudkan.

Keseriusan pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan juga terlihat melalui pembentukan tim khusus. Presiden menugaskan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, sebagai ketua tim percepatan swasembada pangan, energi, dan air nasional. Penugasan ini didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2025, dengan tujuan agar koordinasi antar kementerian dan lembaga lebih terarah. Tugas tim ini tidak kecil karena harus mengoordinasikan 27 kementerian dan lembaga agar bergerak dalam satu visi yang sama.

Zulkifli Hasan menyebut bahwa langkah pertama yang dilakukan adalah menggelar rapat koordinasi untuk melahirkan kebijakan yang mengarah pada Proyek Strategis Nasional. Empat kawasan prioritas pun dipilih sebagai target pembangunan proyek swasembada pangan, energi, dan air, yaitu Merauke, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan.

Zulkifli Hasan menegaskan bahwa konsep swasembada yang dikejar bukan hanya pada beras dan jagung, melainkan mencakup pangan dalam arti luas, termasuk ikan, garam, sapi, susu, minyak, dan komoditas penting lainnya. Dengan demikian, pemerintah berusaha membangun ketahanan pangan yang komprehensif, bukan parsial.

Tugas besar ini memang tidak ringan. Dalam beberapa bulan terakhir terdapat hambatan berupa kendala teknis pembiayaan dan aturan yang belum terselesaikan. Namun pemerintah optimistis hambatan tersebut dapat segera diatasi. Zulkifli Hasan menekankan pentingnya kehati-hatian dan ketelitian dalam menjalankan proyek ini, agar percepatan swasembada tidak hanya cepat tetapi juga sesuai aturan dan berkelanjutan.

Dukungan juga datang dari Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Wakil Ketua DPD RI, Tamsil Linrung, menyatakan bahwa lembaganya mendukung penuh langkah Presiden untuk membuka jutaan hektare sawah baru. Menurutnya, swasembada pangan adalah fondasi kedaulatan bangsa, dan pembukaan sawah seluas dua juta hektare merupakan langkah strategis yang sejalan dengan Asta Cita.

Tamsil menekankan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh pembukaan lahan, tetapi juga oleh kemudahan akses petani terhadap pupuk, benih, dan alat pertanian tanpa birokrasi yang rumit. Ia mengapresiasi kebijakan pemerintah menaikkan harga beli gabah menjadi Rp6.500 per kilogram karena kebijakan ini diyakini langsung meningkatkan pendapatan petani. Lebih jauh, ia menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur pendukung seperti irigasi, jalan tani, dan akses logistik agar hasil panen dapat terserap optimal di pasar.

Senator asal Sulawesi Selatan itu juga mengingatkan perlunya pengawasan ketat agar tidak terjadi penimbunan maupun permainan harga yang merugikan masyarakat. Baginya, capaian historis berupa cadangan beras nasional yang menembus 4 juta ton adalah bukti bahwa negara akan kuat jika petani diberdayakan. Karena itu, ia optimistis sinergi antara pusat dan daerah akan menjadi kunci keberhasilan. Dengan kerja sama yang solid, ia percaya swasembada pangan bukan lagi sekadar mimpi, tetapi kenyataan yang bisa diwujudkan bersama.

Swasembada pangan yang dijadikan salah satu pilar Asta Cita bukan hanya soal ketersediaan pangan, melainkan juga tentang kedaulatan bangsa, kesejahteraan petani, dan masa depan generasi mendatang. Dengan strategi yang konsisten, dukungan anggaran yang besar, pembenahan regulasi, serta sinergi lintas sektor dan daerah, Indonesia berada di jalur yang tepat menuju kemandirian pangan.

Komitmen Presiden Prabowo Subianto dan dukungan seluruh pemangku kepentingan menjadikan program ini sebagai tonggak penting dalam perjalanan bangsa menuju kedaulatan yang sesungguhnya.

)* Pengamat Ekonomi

Kebijakan Pro Petani Percepat Pencapaian Swasembada Pangan

JAKARTA – Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus menjalankan kebijakan pro petani, mulai dari penyesuaian harga gabah, penyediaan pupuk subsidi, hingga bantuan alat dan mesin pertanian.

Seluruh langkah strategis ini menunjukkan keseriusan pemerintah memperkuat ketahanan pangan sekaligus mempercepat terwujudnya swasembada.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan keberpihakan nyata terhadap petani di seluruh Indonesia.

“Kebijakan ini merupakan wujud nyata keberpihakan Presiden terhadap kesejahteraan petani Indonesia,” ujarnya di Jakarta.

Ia menambahkan bahwa pemerintah optimistis langkah-langkah tersebut akan menjadi tonggak penting dalam mewujudkan swasembada pangan.

“Dengan langkah dan upaya berpihak pada petani ini, kita optimistis dapat mewujudkan swasembada pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani. Momentum HUT ke-80 RI kita jadikan lompatan besar menuju swasembada pangan,” tegasnya.

Implementasi kebijakan pro petani sudah nyata menunjukkan hasil positif yang dirasakan langsung oleh petani. Para petani kini tidak hanya terbebas dari harga panen yang merugikan, tetapi juga semakin mudah mengakses pupuk subsidi, alsintan, serta irigasi.

Hal ini terwujud setelah Presiden Prabowo menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2025 tentang pengadaan dan pengelolaan gabah dalam negeri.

Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menekankan pentingnya transformasi sektor pertanian melalui teknologi dan kolaborasi lintas sektor.

“Momentum yang kita hadapi sangat penting. Dengan kebijakan yang tepat dan kerja sama antara seluruh stakeholder, kami yakin Indonesia bisa swasembada beras pada 2025, tanpa lagi mengimpor beras, gula konsumsi, atau garam konsumsi,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah terus merespons langsung kebutuhan petani.

“Atas arahan Presiden Prabowo Subianto, kami meningkatkan kebijakan untuk memenuhi kebutuhan petani. Misalnya, alokasi pupuk bersubsidi ditambah, benih berkualitas dibagikan, dan harga pembelian pemerintah gabah ditetapkan minimal Rp6.500 per kilogram,” jelasnya.

Sudaryono menegaskan stok beras pemerintah saat ini telah mencapai 4,2 juta ton berkat penyerapan gabah oleh Bulog.

“Dengan stok beras yang kuat, kami yakin swasembada beras pada 2025 akan tercapai dan Indonesia tidak akan lagi mengimpor beras. Yang lebih penting, petani kita merasa didukung, karena negara hadir untuk mereka,” katanya.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin memastikan dukungan pertahanan terhadap program pangan nasional.

Dalam peninjauan Batalyon Teritorial Pembangunan 843/Patriot Yudha Vikasa di Bekasi, ia menegaskan kesiapan satuan baru bentukan Presiden Prabowo.

“Batalyon Teritorial Pembangunan akan mendukung program hilirisasi, mengamankan program hilirisasi, dan juga mengamankan program swasembada,” ujarnya.

Negara Hadir Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Papua

PAPUA TENGAH – Pemerintah kembali menegaskan komitmen membangun Papua melalui tatap muka langsung dengan kepala suku, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda, dan perwakilan organisasi masyarakat di Nabire, Papua Tengah, Selasa (12/8). Acara ini berlangsung di Papua Tengah dan juga diselenggarakan secara daring di lima provinsi Papua lainnya, yakni Papua, Papua Selatan, Papua Barat, Papua Barat Daya, dan Papua Pegunungan. Kehadiran lintas wilayah ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memastikan partisipasi masyarakat secara luas, meski terpisah jarak geografis.

Mengusung tema Papua Bersatu, Indonesia Maju: Menuju Generasi Sehat, Ekonomi Mandiri, dan Kampung Terpadu, acara dihadiri langsung Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal TNI (Purn.) M. Herindra, Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi, Menteri Desa PDTT Yandri Susanto, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana, Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa, serta pejabat daerah dan tokoh masyarakat.

Sebagai wujud kehadiran negara yang nyata, rangkaian kegiatan ini juga mencakup penyaluran bantuan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan, pemeriksaan kesehatan gratis yang melibatkan tenaga medis setempat, serta peletakan batu pertama pembangunan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di enam titik strategis, yakni Nabire (Papua Tengah), Jayapura (Papua), Wamena (Papua Pegunungan), Merauke (Papua Selatan), Sorong (Papua Barat Daya), dan Manokwari (Papua Barat). Langkah ini diharapkan mempercepat akses masyarakat Papua terhadap layanan kesehatan dan gizi yang merata.

Meki Fritz Nawipa menekankan pentingnya kolaborasi program pusat dan daerah, salah satunya melalui percepatan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai memiliki dampak berantai terhadap ekonomi lokal dan kesehatan masyarakat.

“Kami memandang MBG memiliki multiplier effect besar, mulai dari peningkatan pendapatan petani, pemberdayaan ibu-ibu sebagai juru masak, hingga peningkatan gizi anak,” ujar Meki Nawipa.

Pemerintah juga mengembangkan Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) serta memperkuat koperasi desa sebagai motor ekonomi rakyat. Meki optimistis langkah ini dapat menggerakkan ekonomi lokal sekaligus memperkuat kemandirian desa.

Kepala BGN, Dadan Hindayana menjelaskan perkembangan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Papua yang mencapai 101 unit di seluruh wilayah Papua.

“Kami berharap setiap kampung di Papua memiliki SPPG yang memanfaatkan potensi bahan baku lokal, dikelola oleh masyarakat setempat, sehingga perputaran ekonomi terjadi di wilayah sendiri,” tegas Dadan Hindayana.

Pendekatan tersebut, menurutnya, tidak hanya menjamin ketersediaan pangan sehat, tetapi juga memperkuat sektor pertanian, peternakan, dan perikanan lokal. Dadan menargetkan seluruh infrastruktur SPPG di Papua selesai pada akhir Oktober, sehingga manfaatnya dapat dirasakan penuh pada November mendatang.

Menteri Desa PDTT, Yandri Susanto menegaskan pembangunan Papua akan berjalan dengan prinsip pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan melalui penguatan desa.

“Membangun kampung di Papua sejatinya membangun Indonesia. Pemerintah pusat tidak pernah memiliki niat untuk menganaktirikan Papua,” pungkas Yandri Susanto.

Ia menambahkan, dana desa di Papua Tengah tahun ini mencapai Rp1,089 triliun dan akan difokuskan pada pemberdayaan ekonomi desa serta penguatan koperasi. Program TEKAD dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menjadi instrumen utama untuk mendorong kemandirian desa dan membuka lapangan kerja.

Menteri Koperasi, Budi Arie Setiadi menyampaikan bahwa KDMP bukan sekadar wadah usaha, melainkan sarana memperkuat kepercayaan dan gotong royong masyarakat.