MBG Dan KDMP Menjadi Investasi Tingkatkan SDM dan Ekonomi Desa
Oleh: Mahmud Sutramitajaya)*
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) menjadi bagian dari strategi pembangunan yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat di tingkat desa. Kedua program tersebut memiliki peran penting dalam menciptakan manfaat jangka panjang bagi masyarakat serta mendukung terwujudnya Generasi Emas 2045.
Tenaga Ahli Bakom RI, Hariqo Satria mengatakan pembangunan SDM perlu didukung pemenuhan kebutuhan dasar, terutama kesehatan dan gizi. Menurutnya, masyarakat membutuhkan dukungan agar dapat menjalani kehidupan yang sehat, produktif, dan sejahtera dalam jangka panjang. Upaya tersebut juga berjalan melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengetahui kondisi kesehatan secara berkala.
Namun, perhatian terhadap pembangunan SDM juga perlu berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat. Dalam konteks tersebut, KDMP diarahkan untuk memperkuat perputaran ekonomi di desa dan kelurahan sehingga aktivitas usaha tidak hanya terkonsentrasi di wilayah perkotaan. Keberadaan koperasi diharapkan dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha sekaligus memperkuat rantai pasok berbagai komoditas lokal.
Menurut Tenaga Ahli Bakom RI Hariqo Satria, penguatan ekonomi desa dapat mendorong masyarakat untuk tetap tinggal dan mengembangkan kehidupan di daerah asal. Perputaran ekonomi yang semakin kuat di desa dapat membuka peluang usaha sekaligus mendukung terbentuknya ekosistem ekonomi lokal yang lebih produktif.
Sementara itu, MBG memiliki peran strategis dalam meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak. Program tersebut terus dikembangkan melalui penerapan standar operasional prosedur (SOP), pengawasan, serta perbaikan tata kelola. Keterlibatan masyarakat, orang tua, guru, akademisi, organisasi mahasiswa, dan berbagai kelompok masyarakat menjadi bagian penting dalam mendorong penyempurnaan pelaksanaan program.
MBG juga memberikan dampak ekonomi melalui keterlibatan petani, peternak, pekebun, nelayan, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kebutuhan bahan pangan untuk program tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk masuk ke dalam rantai pasok. Dengan demikian, manfaat MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga dapat mendorong aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar lokasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Keterlibatan UMKM dalam rantai pasok MBG terus berkembang. Tenaga Ahli Bakom RI Hariqo Satria menyebut lebih dari 80 persen dapur MBG telah melibatkan sedikitnya satu UMKM yang berada di sekitar lokasi SPPG. Rata-rata dapur tersebut juga melibatkan beberapa UMKM. Kondisi ini menunjukkan terbukanya peluang bagi pelaku usaha lokal untuk memperoleh manfaat ekonomi dari pelaksanaan MBG.
Pengawasan terhadap pelaksanaan MBG turut diperkuat melalui pemanfaatan teknologi. Sejumlah inovasi seperti Kurir MBG, aplikasi Kurir MBG, dan Radar MBG dikembangkan untuk mendukung pemantauan pelaksanaan program. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk melihat kesesuaian menu dengan kebutuhan gizi sekaligus mendukung pengawasan terhadap rantai pasok bahan pangan.
Pengembangan sistem digital juga diarahkan untuk mendukung transparansi dan efisiensi. Rencana pengembangan marketplace dapat menjadi bagian dari upaya mempertemukan kebutuhan dapur MBG dengan pemasok secara lebih terstruktur. Langkah tersebut sekaligus memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal untuk terhubung dengan kebutuhan program secara lebih luas.
Di sisi lain, KDMP memiliki peran dalam memperkuat rantai distribusi komoditas masyarakat desa. Koperasi dapat menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan hasil produksi petani dan pelaku usaha dengan kebutuhan masyarakat. Sejumlah KDMP di berbagai daerah telah menunjukkan perkembangan usaha yang dapat menjadi contoh bagi koperasi lainnya.
Beberapa koperasi bahkan mencatat pertumbuhan omzet dalam waktu relatif singkat. Koperasi Kelurahan Merah Putih di Banjarsari, misalnya, disebut telah mencatat omzet sekitar Rp300 juta dalam enam bulan. Sementara itu, Koperasi Desa Merah Putih di Wonokerto, Sukorejo, Pasuruan, mengalami peningkatan omzet dari modal awal Rp2 juta menjadi rata-rata Rp260 juta per bulan. Perkembangan tersebut menunjukkan adanya peluang bagi koperasi desa untuk menjadi bagian dari penggerak ekonomi lokal.
Pengembangan KDMP tetap perlu memperhatikan potensi masing-masing daerah. Wilayah pesisir memiliki karakter ekonomi yang berbeda dengan kawasan pertanian, perkebunan, maupun daerah yang dekat dengan sentra peternakan. Karena itu, pengelolaan koperasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi masyarakat setempat agar manfaat ekonominya semakin optimal.
Kolaborasi tersebut diperlukan karena pembangunan SDM dan ekonomi desa memiliki keterkaitan yang erat. Pemenuhan gizi menjadi fondasi bagi masyarakat yang produktif, sementara penguatan ekonomi desa memberikan dukungan agar masyarakat memiliki kesempatan untuk berkembang di daerahnya. MBG dan KDMP dengan demikian saling melengkapi dalam membangun kualitas manusia sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat.
Tenaga Ahli Bakom RI Hariqo Satria menilai investasi pada kesehatan, gizi, dan penguatan ekonomi masyarakat merupakan bagian dari upaya mempersiapkan generasi Indonesia menuju 2045. Dengan sinergi pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan, MBG dan KDMP diharapkan terus memberikan manfaat nyata dalam meningkatkan kualitas SDM, memperkuat ekonomi desa, serta mewujudkan masyarakat yang sehat, produktif, dan sejahtera.
)* Penulis adalah mahasiswa Bandung tinggal di Jakarta
