Paket Ekonomi 2026: Strategi Menjaga Momentum Pertumbuhan

Oleh : Ricky Hardi Novianto

Paket Ekonomi 2026 menjadi instrumen strategis pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan nasional di tengah dinamika global yang masih sarat ketidakpastian. Keberlanjutan kebijakan stimulus yang telah dijalankan sejak 2025 menunjukkan konsistensi negara dalam merawat stabilitas ekonomi sekaligus memastikan pertumbuhan yang lebih berkualitas dan inklusif. Dengan pendekatan terintegrasi yang menyentuh sektor riil, ketenagakerjaan, perlindungan sosial, hingga deregulasi investasi, Paket Ekonomi 2026 dirancang tidak sekadar sebagai respons jangka pendek, tetapi sebagai fondasi penguatan struktur ekonomi nasional.

Pengalaman implementasi Paket Ekonomi 2025 memberikan landasan empiris yang kuat bagi kelanjutan kebijakan pada 2026. Sejumlah program akselerasi terbukti mampu menahan tekanan eksternal sekaligus memperkuat daya beli masyarakat. Program magang nasional, misalnya, telah melampaui target awal dengan menyerap lebih dari seratus ribu lulusan perguruan tinggi. Capaian tersebut mencerminkan keseriusan pemerintah dalam menjembatani dunia pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja, sekaligus menekan potensi pengangguran terdidik di tengah perubahan struktur ekonomi.

Di sisi lain, perlindungan terhadap daya beli pekerja menjadi fokus penting dalam paket kebijakan ini. Kebijakan pajak yang bersifat countercyclical, seperti penanggungan PPh Pasal 21 bagi pekerja sektor pariwisata dan industri padat karya, telah berperan menjaga konsumsi rumah tangga. Juru bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menegaskan bahwa kebijakan fiskal tersebut tidak hanya bersifat sementara, melainkan dirancang adaptif dengan memperluas cakupan penerima manfaat pada 2026. Langkah ini memperlihatkan keberpihakan negara kepada kelompok pekerja yang rentan terhadap fluktuasi ekonomi.

Perlindungan sosial juga diperkuat melalui penyaluran bantuan pangan dan bantuan langsung tunai. Realisasi bantuan beras dan minyak goreng dengan tingkat penyaluran di atas 95 persen menunjukkan efektivitas koordinasi antarlembaga dalam menjaga ketahanan konsumsi masyarakat bawah. Program BLTS Kesra yang menjangkau puluhan juta keluarga penerima manfaat turut menjadi bantalan sosial yang krusial, terutama bagi wilayah yang terdampak bencana alam. Kebijakan ini menegaskan bahwa stabilitas ekonomi nasional tidak dapat dilepaskan dari ketahanan sosial masyarakat.

Dukungan terhadap pekerja sektor informal menjadi dimensi penting lainnya dalam Paket Ekonomi 2026. Insentif jaminan sosial ketenagakerjaan melalui diskon iuran JKK dan JKM bagi pekerja bukan penerima upah di sektor transportasi dan logistik menunjukkan pengakuan negara terhadap peran besar sektor informal dalam menopang perekonomian. Dengan dasar hukum yang kuat, kebijakan ini diharapkan memperluas jaring pengaman sosial sekaligus meningkatkan produktivitas tenaga kerja.

Pada saat yang sama, pemerintah terus mendorong penciptaan lapangan kerja melalui program padat karya tunai. Realisasi anggaran yang tinggi dan serapan puluhan ribu tenaga kerja mencerminkan efektivitas program ini dalam menjaga perputaran ekonomi di tingkat lokal. Program tersebut tidak hanya memberikan pendapatan langsung, tetapi juga menciptakan efek berganda melalui pembangunan infrastruktur dasar dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Aspek deregulasi dan percepatan investasi menjadi pilar penting dalam menjaga momentum pertumbuhan 2026. Pembentukan satuan tugas penyelesaian hambatan investasi melalui kanal pengaduan terpadu menandai perubahan pendekatan pemerintah yang lebih responsif terhadap kebutuhan dunia usaha. Upaya ini sejalan dengan agenda reformasi struktural untuk menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif dan ramah bagi pelaku usaha.

Sejalan dengan itu, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen pada 2026. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memandang target tersebut realistis dengan dukungan delapan program prioritas nasional, mulai dari ketahanan pangan dan energi hingga penguatan pendidikan, kesehatan, dan UMKM. Alokasi anggaran yang signifikan untuk program Makan Bergizi Gratis diproyeksikan menciptakan jutaan lapangan kerja baru sekaligus memperkuat ekonomi lokal melalui efek pengganda yang luas.

Hilirisasi industri dan pengembangan UMKM juga menjadi motor pertumbuhan jangka menengah. Pemerintah menempatkan hilirisasi sebagai strategi untuk meningkatkan nilai tambah domestik dan memperluas basis industri nasional. Airlangga menilai bahwa investasi besar di sektor ini berpotensi menciptakan jutaan lapangan kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung, serta meningkatkan kontribusi terhadap produk domestik bruto. Dukungan pembiayaan melalui peningkatan penyaluran kredit usaha rakyat pada 2026 menjadi katalis penting bagi pertumbuhan UMKM dan koperasi.

Di tengah transformasi ekonomi digital, pengembangan gig economy dan program upskilling serta reskilling tenaga kerja menjadi agenda strategis. Pemerintah mempersiapkan ratusan ribu pekerja terampil untuk memenuhi kebutuhan industri dalam dan luar negeri, termasuk sektor manufaktur, kesehatan, dan perhotelan. Langkah ini mencerminkan orientasi jangka panjang Paket Ekonomi 2026 dalam membangun sumber daya manusia yang adaptif dan berdaya saing global.

Secara keseluruhan, Paket Ekonomi 2026 merepresentasikan upaya komprehensif pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan melalui kombinasi stimulus fiskal, perlindungan sosial, deregulasi, dan penguatan sektor riil. Dengan konsistensi kebijakan dan penguatan koordinasi, paket ini diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas jangka pendek, tetapi juga mengantarkan perekonomian nasional menuju pertumbuhan yang berkelanjutan, inklusif, dan berkeadilan.

*Penulis adalah Pengamat Ekonomi

Kebijakan Ekonomi 2026 Perlihatkan Keseriusan Pemerintah Bangun Ketahanan Nasional

Oleh: Bara Winatha*)

Pemerintah memastikan keberlanjutan Paket Stimulus Ekonomi pada 2026 sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian. Paket ekonomi ini dirancang untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi agar lebih inklusif, berkelanjutan, dan mampu menciptakan lapangan kerja secara luas. Sejumlah program yang telah dijalankan pada 2025 dinilai memberikan dampak positif terhadap konsumsi domestik, penyerapan tenaga kerja, serta perlindungan kelompok rentan, sehingga diputuskan untuk dilanjutkan dengan berbagai penyesuaian pada 2026. Arah kebijakan ini menunjukkan pergeseran fokus pemerintah dari sekadar menjaga konsumsi jangka pendek menuju penguatan ketahanan nasional yang lebih struktural.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa pemerintah optimistis ekonomi nasional pada 2026 tetap berada dalam jalur pertumbuhan yang solid. Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 5,4 persen sebagaimana ditetapkan dalam target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Target tersebut mencerminkan keyakinan pemerintah terhadap fundamental ekonomi domestik yang relatif kuat, meskipun proyeksi sejumlah lembaga internasional menempatkan pertumbuhan Indonesia pada level yang lebih moderat.

Airlangga menjelaskan bahwa strategi mencapai target pertumbuhan tersebut bertumpu pada delapan program prioritas nasional yang menjadi tulang punggung kerja pemerintah pada 2026. Program-program tersebut mencakup penguatan ketahanan nasional dengan fokus pada kemandirian pangan dan kedaulatan energi, pemberdayaan UMKM sebagai motor utama penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pemanfaatan APBN di sektor pendidikan dan perlindungan sosial. Kombinasi kebijakan tersebut dirancang untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara nyata.

Dari sisi implementasi teknis paket stimulus, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan bahwa pemerintah telah merumuskan kebijakan secara terintegrasi sejak 2025. Ia menjelaskan bahwa Paket Ekonomi 2025 dan Penyerapan Tenaga Kerja terdiri dari delapan program akselerasi pada 2025, empat program yang berlanjut ke 2026, serta lima program andalan untuk mendukung penciptaan lapangan kerja. Seluruh kebijakan tersebut dirancang untuk menjaga stabilitas ekonomi, melindungi daya beli masyarakat, dan memperkuat ketahanan sektor ketenagakerjaan nasional secara simultan.

Sepanjang 2025, implementasi paket kebijakan tersebut mencatatkan capaian signifikan. Salah satu contohnya adalah realisasi Program Magang Nasional bagi lulusan perguruan tinggi yang menjangkau lebih dari 102 ribu peserta, melampaui target awal. Capaian ini menunjukkan tingginya minat generasi muda untuk meningkatkan kompetensi sekaligus mencerminkan peran aktif negara dalam menjembatani dunia pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja. Program ini kemudian dipersiapkan untuk dilanjutkan dan disempurnakan pada 2026 agar dampaknya semakin luas.

Dalam aspek perlindungan daya beli, pemerintah telah mengimplementasikan kebijakan Pajak Penghasilan Pasal 21 Ditanggung Pemerintah bagi pekerja di sektor pariwisata dengan gaji hingga Rp10 juta. Kebijakan tersebut ditetapkan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72 Tahun 2025 dan dinilai efektif dalam menjaga konsumsi pekerja formal di sektor terdampak. Selain itu, pemerintah juga menyalurkan bantuan pangan beras dan minyak goreng kepada puluhan juta keluarga penerima manfaat dengan tingkat realisasi yang tinggi, sebagai bentuk intervensi langsung untuk menahan tekanan inflasi dan menjaga stabilitas konsumsi rumah tangga.

Selain itu, pemerintah melanjutkan Program Padat Karya Tunai atau cash for work guna menjaga penyerapan tenaga kerja dan daya beli masyarakat, terutama di wilayah-wilayah dengan keterbatasan lapangan kerja formal. Realisasi anggaran oleh Kementerian PUPR dan Kementerian Kehutanan menunjukkan serapan tenaga kerja yang signifikan. Program ini dinilai dapat berkontribusi pada pembangunan infrastruktur dasar dan pengelolaan lingkungan.

Dari sisi deregulasi dan percepatan investasi, pemerintah memperkuat Paket Deregulasi melalui pembentukan Satuan Tugas Penyelesaian Pengaduan dan Layanan Aduan Terpadu. Langkah ini bertujuan menghilangkan hambatan investasi dan mempercepat realisasi usaha. Haryo mengatakan bahwa hingga akhir 2025, satgas tersebut telah menindaklanjuti puluhan pengaduan, yang menjadi indikasi keseriusan pemerintah dalam memperbaiki iklim usaha. Upaya ini dilihat sebagai bagian dari strategi jangka menengah untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Sementara itu, penguatan ekonomi masa depan juga diarahkan pada sektor digital. Direktur Eksekutif Indonesia Information and Communication Technology Institute, Heru Sutadi mengatakan bahwa target kontribusi ekonomi digital nasional sebesar Rp155,57 triliun pada 2026 sebagaimana tertuang dalam Rencana Strategis Kementerian Komunikasi dan Digital dinilai realistis. Besarnya pasar domestik Indonesia, tingginya adopsi teknologi oleh UMKM, serta pertumbuhan sektor fintech, e-commerce, dan ekonomi berbasis data menjadi modal utama untuk mencapai target tersebut.

Transformasi digital layanan publik berpotensi menciptakan efek berganda bagi perekonomian. Menurutnya, sinergi kebijakan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sektor swasta menjadi kunci utama keberhasilan. Investasi pada infrastruktur digital, termasuk jaringan dan pusat data, dinilai fundamental untuk memastikan pemerataan manfaat ekonomi digital. Selain itu, pengembangan sumber daya manusia menjadi faktor penentu kualitas pertumbuhan ekonomi digital nasional.

Paket Ekonomi 2026 mencerminkan optimisme pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan sekaligus memperkuat ketahanan nasional. Dari konsumsi domestik melalui perlindungan daya beli dan bantuan sosial, hingga penguatan fondasi jangka panjang melalui ketahanan pangan, energi, dan transformasi digital, kebijakan ekonomi 2026 dirancang secara komprehensif. Ekonomi Indonesia diyakini tumbuh lebih kuat dan berdaya saing di tengah tantangan global yang terus berkembang.

*)Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan.

[edRW]

Pemerintah Siapkan Paket Ekonomi 2026 untuk Kesejahteraan dan Pertumbuhan Berkelanjutan

JAKARTA – Pemerintah terus menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga stabilitas dan memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional melalui penyiapan Paket Ekonomi 2026. Kebijakan ini dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menjaga daya beli, serta menciptakan kepastian dan keberlanjutan bagi dunia usaha, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Salah satu instrumen utama yang kembali dilanjutkan dalam Paket Ekonomi 2026 adalah insentif Pajak Penghasilan (PPh) final sebesar 0,5 persen bagi UMKM. Kebijakan ini dinilai strategis karena memberikan ruang yang lebih luas bagi pelaku usaha untuk mengembangkan kapasitas produksi, memperluas pasar, serta membuka lapangan kerja baru.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menegaskan bahwa pemerintah saat ini tengah mematangkan berbagai regulasi dan dukungan anggaran agar program stimulus ekonomi dapat berjalan berkesinambungan pada 2026.

“Pemerintah terus mempersiapkan kelanjutan paket ekonomi, termasuk program magang nasional serta kepastian pemanfaatan insentif PPh final 0,5 persen bagi UMKM hingga 2029,” ujar Haryo.

Pemerintah juga telah menetapkan skema jangka waktu pemanfaatan insentif PPh final UMKM yang jelas dan terukur, sesuai dengan karakteristik wajib pajak. Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2022 sebagai bentuk kepastian hukum dan kemudahan berusaha bagi pelaku UMKM di seluruh Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa keberlanjutan insentif PPh final UMKM mencerminkan keberpihakan pemerintah terhadap sektor usaha rakyat.

“Pajak final UMKM sebesar 0,5 persen kami lanjutkan hingga 2029. Kepastian ini penting agar pelaku usaha dapat merencanakan pengembangan bisnisnya dengan lebih percaya diri,” kata Airlangga.

Menurut Airlangga, fundamental ekonomi Indonesia tetap solid dan resilien. Stabilitas makroekonomi terjaga, inflasi berada dalam rentang sasaran, pasar keuangan menunjukkan kinerja positif, dan sektor riil terus bergerak ekspansif. Kondisi ini memperkuat optimisme bahwa target pertumbuhan ekonomi sekitar 5,4 persen pada 2026 dapat dicapai.

Sejalan dengan itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan bahwa kebijakan fiskal pemerintah tetap dijalankan secara disiplin dan kredibel.

“Pemerintah telah menyalurkan stimulus ekonomi secara terukur untuk menjaga daya beli masyarakat, mendukung UMKM, dan memperkuat sektor-sektor strategis,” ujarnya.

Melalui Paket Ekonomi 2026, pemerintah optimistis mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Dukungan terhadap UMKM, penguatan sumber daya manusia, serta kepastian kebijakan diyakini akan memperkuat fondasi ekonomi nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata.

[edRW]

Paket Ekonomi 2026 Disiapkan untuk Dorong Ekonomi Riil

Jakarta – Pemerintah terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional melalui penyiapan Paket Ekonomi 2026 yang berorientasi pada penguatan sektor riil. Langkah ini menjadi respons strategis atas dinamika global yang masih penuh ketidakpastian, sekaligus upaya memastikan ekonomi domestik tetap tumbuh inklusif dan berkelanjutan. Dengan fondasi kebijakan makro yang terjaga serta kesinambungan reformasi struktural, Paket Ekonomi 2026 diarahkan untuk memperkuat daya beli masyarakat, memperluas investasi, dan meningkatkan produktivitas nasional.

Dalam berbagai kesempatan, pemerintah menegaskan bahwa kebijakan ekonomi tahun 2026 tidak disusun secara parsial, melainkan melanjutkan capaian positif dari paket-paket kebijakan sebelumnya. Fokus utama diarahkan pada kemudahan berusaha, percepatan proyek strategis nasional, penguatan UMKM, serta optimalisasi insentif fiskal dan nonfiskal agar manfaatnya langsung dirasakan pelaku usaha dan masyarakat. Pendekatan ini dinilai krusial untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin dalam angka statistik, tetapi benar-benar menggerakkan ekonomi riil di lapangan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan optimisme pemerintah terhadap prospek ekonomi nasional pada 2026.

“Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,4 persen pada 2026. Untuk mencapai target tersebut, kita akan terus mendorong konsumsi domestik, meningkatkan investasi, mempercepat hilirisasi industri, serta memperluas pasar ekspor,” ujar Airlangga.

Ia menegaskan bahwa pemerintah juga akan menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat melalui koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang erat, serta memastikan program perlindungan sosial tetap berjalan efektif.

Airlangga juga menekankan pentingnya keberlanjutan reformasi struktural sebagai penopang utama pertumbuhan. Menurutnya, penyederhanaan regulasi, percepatan perizinan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci agar Indonesia mampu bersaing di tengah perubahan ekonomi global.

“Upaya reformasi yang sudah berjalan akan terus diperkuat agar iklim usaha semakin kondusif dan investor memiliki kepastian,” tambahnya.

Sementara itu, Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menyoroti capaian implementasi paket ekonomi sebelumnya yang menjadi landasan kuat bagi kebijakan 2026.

“Implementasi Paket Ekonomi 2025 telah mencatat berbagai capaian signifikan, mulai dari peningkatan realisasi investasi, penguatan sektor UMKM, hingga perbaikan iklim usaha. Program-program yang terbukti efektif tersebut akan dilanjutkan dan disempurnakan pada 2026,” kata Haryo.

Ia menjelaskan bahwa keberlanjutan kebijakan menjadi kunci agar dunia usaha memiliki kepastian dan kepercayaan jangka panjang terhadap arah ekonomi pemerintah.

Sejalan dengan itu, berbagai indikator ekonomi terkini menunjukkan tren yang positif. Realisasi investasi nasional terus meningkat, konsumsi rumah tangga tetap terjaga, dan inflasi berada dalam rentang sasaran. Pemerintah juga aktif mendorong percepatan belanja negara di awal tahun serta penguatan sinergi pusat dan daerah guna mempercepat perputaran ekonomi di daerah.

Dengan Paket Ekonomi 2026 yang disiapkan secara komprehensif dan berkesinambungan, pemerintah optimistis perekonomian nasional akan semakin kokoh, adaptif, dan berdaya saing. Kebijakan yang berpihak pada sektor riil ini diharapkan menjadi motor penggerak utama menuju Indonesia yang lebih maju, sejahtera, dan berdaulat secara ekonomi di bawah kepemimpinan pemerintahan saat ini.***

Pembangunan Pabrik Pupuk di Fakfak Dorong Produktivitas Petani Papua dan Ketahanan Pangan

JAKARTA – Rencana pembangunan Kawasan Industri Pupuk (KIP) di Fakfak, Papua Barat, dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di kawasan timur Indonesia. Kehadiran industri pupuk di wilayah yang dekat dengan sentra pertanian dipandang mampu menjawab tantangan struktural yang selama ini membebani sektor pertanian Papua, terutama persoalan tingginya biaya distribusi.

Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan (KEPP) Otonomi Khusus Papua, Gracia Josaphat Jobel Mambrasar (Billy Mambrasar), menilai biaya logistik pupuk selama ini menjadi penghambat utama peningkatan produktivitas petani. Kondisi geografis Papua membuat distribusi pupuk sangat bergantung pada jalur panjang dan mahal.

“Biaya pengiriman pupuk itu hampir lebih sepertiga dari biaya pertanian selain tenaga kerja. Dengan adanya hilirisasi pupuk di Papua, biaya logistik bisa jauh lebih murah,” ujar Billy Mambrasar di Jakarta, Minggu (18/1/2026).

Efisiensi distribusi tersebut diyakini akan membawa dampak langsung terhadap daya saing produk pertanian Papua. Penurunan biaya produksi membuka peluang bagi petani untuk memperoleh margin pendapatan yang lebih sehat, sekaligus memperluas akses pasar.

“Kita bisa menekan biaya hingga sepertiga dari kondisi sekarang. Artinya produk pertanian Papua bisa bersaing,” tegas Billy Mambrasar.

Selain faktor biaya, kedekatan akses pupuk juga berpengaruh besar terhadap produktivitas. Selama ini, keterlambatan pasokan kerap mengganggu jadwal tanam, terutama di wilayah dengan tantangan geografis tinggi.

“Selama ini petani harus menunggu berjam-jam bahkan berhari-hari untuk mendapatkan pupuk. Dengan ketersediaan yang lebih dekat, produktivitas pasti meningkat,” tambah Billy Mambrasar.

Billy menilai peningkatan produktivitas dan efisiensi biaya akan berdampak langsung pada stabilitas harga pangan di Papua. Kondisi tersebut dinilai penting untuk memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus menekan ketergantungan pasokan dari luar wilayah.
“Gas alam yang sebelumnya diekspor bisa dialokasikan sebagian untuk industri pupuk. Ini menciptakan nilai tambah di dalam negeri,” pungkas Billy Mambrasar .

Di tingkat daerah, komitmen percepatan pembangunan juga ditunjukkan oleh Bupati Fakfak, Samaun Dahlan, yang menempatkan proyek pabrik pupuk sebagai prioritas strategis pascakeikutsertaannya dalam Human Capital Summit 2025. Pemerintah daerah menilai kesiapan investasi harus berjalan seiring dengan penguatan sumber daya manusia lokal.

“Kami sudah sepakat dengan PT Pupuk Kaltim dan SKK Migas. Pemda Fakfak menjamin bahwa seluruh persoalan lahan akan kami selesaikan secepatnya sebagai bentuk dukungan penuh terhadap investasi ini,” ujar Samaun Dahlan.

Pertemuan dengan SKK Migas dan pihak industri menegaskan keseriusan daerah dalam mempercepat perizinan dan administrasi pendukung. Sertifikasi lahan menjadi salah satu syarat utama agar pembangunan dapat segera direalisasikan.

“Tidak ada lagi hambatan berarti. Kami hanya menunggu surat permohonan resmi dari pihak Pupuk Indonesia. Setelah itu, proses penerbitan sertifikasi lahan akan langsung kami laksanakan,” tutup Samaun Dahlan.

Dengan dukungan pusat dan kesiapan daerah, pembangunan pabrik pupuk Fakfak diharapkan menjadi fondasi baru bagi ketahanan pangan Papua sekaligus penggerak kesejahteraan petani secara berkelanjutan.

Industri Pupuk Fakfak Perkuat Ketahanan Pangan di Papua

Papua- Pembangunan Kawasan Industri Pupuk (KIP) Fakfak di Papua Barat dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan timur Indonesia. Keberadaan industri pupuk di wilayah tersebut diyakini mampu menjawab tantangan tingginya biaya produksi pertanian yang selama ini membebani petani Papua akibat mahalnya distribusi pupuk dari luar daerah.

Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan (KEPP) Otonomi Khusus Papua, Billy Mambrasar, menyampaikan bahwa rencana pembangunan industri pupuk di Fakfak memiliki dampak positif yang signifikan, tidak hanya bagi sektor pertanian, tetapi juga bagi perekonomian Papua secara keseluruhan. Menurutnya, pembangunan ini menjadi wujud nyata dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional berbasis wilayah timur.

“Pembangunan industri pupuk di Fakfak dapat memperkuat ketahanan pangan, sekaligus mendorong hilirisasi di kawasan timur Indonesia,” ujar Billy Minggu (18/1/2026).

Billy menjelaskan bahwa selama ini biaya logistik pupuk menjadi salah satu komponen terbesar dalam struktur biaya produksi pertanian di Papua. Kondisi geografis yang menantang menyebabkan ongkos pengiriman pupuk dari luar daerah sangat tinggi, bahkan dapat mencapai hampir sepertiga dari total biaya yang harus ditanggung petani.

“Bayangkan ketika terjadi hilirisasi pupuk, maka biaya logistiknya akan lebih murah,” katanya.

Dengan adanya industri pupuk di Fakfak, distribusi pupuk ke sentra-sentra pertanian di Papua diharapkan menjadi lebih efisien. Penurunan biaya logistik tersebut diyakini akan berdampak langsung pada penurunan biaya produksi, sehingga produk pertanian Papua memiliki daya saing yang lebih kuat di pasar regional maupun nasional.

Selain meningkatkan daya saing, akses pupuk yang lebih dekat dan mudah juga diproyeksikan akan mendorong peningkatan produktivitas petani. Ketersediaan pupuk yang stabil menjadi faktor penting dalam menjaga kesinambungan produksi pertanian dan mendukung program ketahanan pangan di Papua.

Berdasarkan rencana pemerintah, pembangunan industri pupuk di Kabupaten Fakfak diproyeksikan masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) dan akan digarap oleh PT Pupuk Indonesia. Proyek ini ditujukan untuk memperkuat ketahanan pangan, mendukung program food estate, serta menekan biaya logistik pupuk di wilayah Papua.

Industri pupuk yang berlokasi di Distrik Tomage tersebut ditargetkan mampu memproduksi sekitar 1,15 juta ton urea dan 825 ribu ton amonia per tahun, dengan nilai investasi mencapai puluhan triliun rupiah. Keberadaan bahan baku gas alam di Papua menjadi salah satu faktor pendukung utama pembangunan industri tersebut.

Billy menambahkan bahwa dampak pembangunan industri pupuk tidak hanya terbatas pada sektor pertanian. Hilirisasi sumber daya alam dinilai akan menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah, mulai dari peningkatan pendapatan masyarakat hingga penciptaan lapangan kerja baru.

“Dampak bergandanya itu luar biasa, dari sisi income, revenue, sampai penyerapan tenaga kerja,” tuturnya.

Dengan berbagai potensi tersebut, pembangunan industri pupuk di Fakfak diharapkan menjadi motor penggerak baru bagi pembangunan ekonomi Papua yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Pabrik Pupuk Fakfak Ciptakan Hilirisasi dan Masa Depan Pertanian Orang Papua

Oleh: Yohanes Wanimbo )*

Pembangunan Pabrik Pupuk di Fakfak, Papua Barat, semakin menegaskan arah kebijakan negara dan daerah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui pendekatan industrialisasi berbasis wilayah. Proyek Kawasan Industri Pupuk (KIP) Fakfak tidak hanya diposisikan sebagai investasi ekonomi semata, tetapi sebagai instrumen strategis untuk menjawab tantangan struktural pertanian Papua yang selama ini dibebani biaya logistik tinggi, keterbatasan akses sarana produksi, serta rendahnya efisiensi rantai pasok. Dalam konteks ini, pembangunan pabrik pupuk menjadi simbol keberpihakan negara terhadap petani Papua dan upaya nyata mewujudkan pembangunan yang lebih adil dan merata.

Selama bertahun-tahun, mahalnya distribusi pupuk menjadi hambatan utama bagi produktivitas pertanian di Papua. Biaya pengiriman pupuk dari luar daerah bahkan mencapai porsi yang sangat besar dalam struktur biaya produksi, sehingga margin keuntungan petani tergerus dan daya saing produk pertanian melemah. Kehadiran pabrik pupuk di Fakfak dipandang sebagai solusi mendasar karena memotong mata rantai distribusi yang panjang dan mahal. Dengan hilirisasi pupuk di Papua, biaya logistik dapat ditekan secara signifikan, membuat biaya produksi lebih efisien dan hasil pertanian lebih kompetitif di pasar.

Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Gracia Josaphat Jobel Mambrasar, melihat proyek ini sebagai momentum penting bagi transformasi sektor pertanian Papua. Menurutnya, efisiensi biaya yang dihasilkan dari kedekatan sumber pupuk akan memberikan ruang yang lebih luas bagi petani untuk meningkatkan skala usaha dan kualitas produksi. Akses pupuk yang lebih cepat dan terjangkau juga diyakini mampu mendorong peningkatan produktivitas, terutama di wilayah-wilayah dengan tantangan geografis tinggi yang selama ini paling merasakan dampak keterbatasan distribusi.

Peningkatan produktivitas dan efisiensi biaya produksi akan membawa dampak lanjutan berupa stabilitas harga pangan dan penguatan ketahanan pangan daerah. Ketika petani mampu berproduksi dengan biaya lebih rendah dan pasokan input terjamin, ketersediaan pangan lokal menjadi lebih stabil. Hal ini tidak hanya mengurangi ketergantungan Papua pada pasokan dari luar daerah, tetapi juga memperkuat fondasi kemandirian pangan sebagai bagian dari ketahanan pangan nasional.

Lebih jauh, pembangunan pabrik pupuk di Fakfak diproyeksikan mendorong penguatan ekosistem industri pertanian secara menyeluruh. Industri hulu seperti benih unggul, pupuk, dan alat mesin pertanian akan terhubung secara lebih efisien dengan industri hilir berupa pengolahan, pengemasan, dan distribusi yang dibangun dekat sentra produksi. Pola ini membuka peluang penciptaan lapangan kerja baru, meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih inklusif.

Dari perspektif pembangunan daerah, proyek ini juga memperkuat agenda hilirisasi sumber daya alam. Pemanfaatan gas alam sebagai bahan baku utama pupuk dinilai mampu menciptakan nilai tambah yang jauh lebih besar dibandingkan ekspor bahan mentah. Dengan mengalokasikan sebagian gas alam untuk industri pupuk domestik, Papua Barat tidak hanya menjadi lokasi produksi, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berbasis industri strategis nasional. Efek berganda dari investasi ini diharapkan menjalar ke berbagai sektor, mulai dari peningkatan pendapatan masyarakat, penerimaan daerah, hingga penguatan basis ekonomi lokal.

Komitmen kuat pemerintah daerah Fakfak semakin menegaskan keseriusan proyek ini. Bupati Fakfak, Samaun Dahlan, menempatkan pembangunan pabrik pupuk sebagai prioritas strategis pascakeikutsertaannya dalam Human Capital Summit 2025. Pemerintah daerah memandang bahwa kesiapan investasi harus berjalan seiring dengan penguatan sumber daya manusia lokal agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal diposisikan sebagai bagian tak terpisahkan dari agenda pembangunan industri pupuk.

Pemerintah Kabupaten Fakfak juga menunjukkan dukungan penuh terhadap percepatan realisasi proyek melalui penyelesaian berbagai aspek krusial, terutama persoalan lahan. Samaun Dahlan menyampaikan bahwa telah terbangun kesepahaman yang kuat dengan PT Pupuk Kaltim dan SKK Migas, di mana pemerintah daerah menjamin seluruh persoalan lahan akan diselesaikan dengan cepat sebagai bentuk dukungan nyata terhadap investasi strategis ini. Keseriusan tersebut tercermin dari langkah-langkah konkret dalam mempercepat perizinan dan administrasi pendukung.

Pertemuan intensif antara pemerintah daerah, SKK Migas, dan pihak industri menegaskan bahwa tidak ada lagi hambatan berarti dalam proses persiapan. Sertifikasi lahan yang menjadi salah satu syarat utama pembangunan dipastikan akan segera diterbitkan setelah adanya permohonan resmi dari pihak Pupuk Indonesia. Pemerintah daerah berkomitmen untuk bergerak cepat agar tahapan konstruksi dapat segera dimulai dan manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh masyarakat Fakfak dan Papua secara luas.

Dengan dukungan kuat pemerintah pusat, kesiapan daerah, serta sinergi dengan pelaku industri, pembangunan Pabrik Pupuk Fakfak diharapkan menjadi fondasi baru bagi ketahanan pangan Papua. Proyek ini bukan hanya menjawab kebutuhan pupuk petani, tetapi juga menjadi penggerak kesejahteraan, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia lokal. Dalam jangka panjang, Fakfak berpotensi tumbuh sebagai simpul industri strategis yang menopang pertanian berkelanjutan dan memperkokoh ketahanan pangan nasional.

)* Akademisi dan Peneliti Pembangunan Papua

Pembangunan Pabrik Pupuk di Fakfak sebagai Pilar Ketahanan Pangan Papua

Oleh: Samuel Kambu *)

Pembangunan pabrik pupuk di Papua Barat mencerminkan arah kebijakan pemerintah yang semakin menempatkan ketahanan pangan sebagai agenda strategis jangka panjang, bukan sekadar program sektoral. Selama ini, persoalan mendasar pertanian di wilayah timur Indonesia bukan terletak pada kemampuan bertani masyarakatnya, melainkan pada mahalnya input produksi yang membuat aktivitas pertanian sulit berkembang secara optimal. Dalam struktur biaya tersebut, pupuk menjadi salah satu komponen paling menentukan, baik dari sisi ketersediaan maupun ongkos distribusi.

Tingginya biaya pengiriman pupuk selama bertahun-tahun telah menciptakan beban ganda bagi petani. Selain harus menanggung harga pupuk yang lebih mahal dibanding wilayah lain, petani juga dihadapkan pada ketidakpastian waktu distribusi yang kerap mengganggu masa tanam. Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan (KEPP) Otonomi Khusus Papua, Billy Mambrasar, menilai bahwa biaya pengiriman pupuk dapat menyerap hampir sepertiga dari total biaya pertanian di luar tenaga kerja. Kondisi ini secara tidak langsung menekan produktivitas dan mempersempit margin keuntungan petani, sehingga pertanian sulit tumbuh sebagai sektor yang menjanjikan kesejahteraan.

Dalam konteks tersebut, kehadiran industri pupuk di wilayah Papua Barat menjadi jawaban atas persoalan struktural yang selama ini dihadapi petani. Pemendekan rantai distribusi memungkinkan pupuk tersedia lebih cepat, lebih terjangkau, dan lebih stabil. Efisiensi logistik yang tercipta tidak hanya menurunkan biaya produksi, tetapi juga membuka ruang bagi petani untuk meningkatkan skala usaha dan kualitas hasil panen. Billy Mambrasar menekankan bahwa penurunan biaya hingga sepertiga dari kondisi sebelumnya akan membuat produk pertanian menjadi lebih kompetitif, baik di pasar lokal maupun regional.

Daya saing ini memiliki implikasi strategis yang lebih luas. Ketika biaya produksi menurun dan produktivitas meningkat, pertanian tidak lagi sekadar bertahan, melainkan mulai berkontribusi nyata terhadap pasokan pangan dan perputaran ekonomi daerah. Akses pupuk yang lebih dekat juga menghilangkan hambatan waktu yang selama ini dialami petani di wilayah dengan tantangan geografis berat. Petani tidak lagi harus menunggu lama untuk mendapatkan pupuk saat masa tanam tiba, sehingga proses budidaya dapat berjalan lebih terencana dan berkelanjutan.

Lebih jauh, pembangunan industri pupuk menunjukkan keberpihakan kebijakan pemerintah pada penguatan fondasi produksi pangan, bukan hanya pada aspek hilir seperti distribusi atau stabilisasi harga. Ketahanan pangan pada dasarnya bertumpu pada kemampuan negara memastikan input produksi tersedia secara merata dan terjangkau. Dalam kerangka ini, pembangunan pabrik pupuk menjadi bagian dari upaya memperbaiki struktur ekonomi pertanian agar tidak lagi bergantung pada pasokan dari wilayah yang jauh dan mahal secara logistik.

Langkah ini juga sejalan dengan strategi hilirisasi sumber daya alam yang terus didorong pemerintah. Pemanfaatan gas alam sebagai bahan baku pupuk mencerminkan perubahan pendekatan pembangunan, dari orientasi ekspor bahan mentah menuju penciptaan nilai tambah di dalam negeri. Billy Mambrasar melihat bahwa alokasi gas alam untuk kebutuhan industri pupuk domestik bukan hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah, mulai dari peningkatan pendapatan hingga penyerapan tenaga kerja lokal.

Efek berganda tersebut menjadi semakin signifikan ketika pembangunan industri pupuk diikuti oleh penguatan ekosistem pertanian secara menyeluruh. Industri hulu seperti pupuk, benih unggul, dan alat mesin pertanian akan mendorong tumbuhnya industri hilir berupa pengolahan, pengemasan, dan distribusi hasil pertanian. Rantai nilai yang semakin lengkap ini membuka peluang kerja baru dan memperkuat posisi petani dalam sistem ekonomi, bukan lagi sebagai pihak yang selalu berada di ujung rantai dengan keuntungan paling kecil.

Dalam perspektif kebijakan publik, pendekatan ini menunjukkan bahwa pembangunan industri tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan tujuan sosial dan ekonomi yang lebih luas. Ketika industri pupuk dibangun dekat dengan sumber bahan baku dan sentra pertanian, negara tidak hanya menghemat biaya logistik nasional, tetapi juga memperbaiki keseimbangan pembangunan antarwilayah. Pertanian pun tidak lagi dipandang sebagai sektor tradisional yang tertinggal, melainkan sebagai sektor strategis yang ditopang oleh industri modern.

Ketahanan pangan nasional tidak dapat dilepaskan dari kemampuan daerah-daerah produsen untuk tumbuh secara berkelanjutan. Pembangunan pabrik pupuk di Papua Barat memperlihatkan upaya pemerintah untuk memastikan bahwa wilayah timur tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga menjadi bagian penting dari sistem produksi pangan nasional. Dengan dukungan industri, pertanian lokal memiliki peluang lebih besar untuk berkembang, meningkatkan produktivitas, dan berkontribusi terhadap stabilitas pasokan pangan nasional.

Kebijakan ini juga mempertegas bahwa pembangunan di Papua tidak semata-mata bersifat kompensatoris, melainkan strategis. Dengan memperkuat sektor pertanian melalui penyediaan input yang efisien dan terjangkau, pemerintah sedang membangun basis ekonomi yang lebih tahan terhadap guncangan, baik dari sisi harga global maupun gangguan rantai pasok. Ketahanan pangan dalam konteks ini tidak hanya dimaknai sebagai ketersediaan pangan, tetapi juga sebagai kemampuan sistem pertanian untuk bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.

Pembangunan industri pupuk di Papua Barat adalah refleksi dari pilihan kebijakan yang berpihak pada perbaikan struktur ekonomi dasar. Ketika biaya produksi ditekan, produktivitas meningkat, dan ekosistem pertanian diperkuat, ketahanan pangan tidak lagi menjadi slogan, melainkan realitas yang tumbuh dari bawah. Inilah esensi pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga keberlanjutan dan keadilan antarwilayah.

*) Pengamat Kebijakan Pembangunan Papua

Dukungan Publik Papua Mengalir untuk Kebijakan Tegas Pemerintah Soal Tambang Ilegal

Papua – Dukungan publik di Papua terus mengalir terhadap kebijakan tegas pemerintah dalam menindak aktivitas tambang ilegal yang dinilai merugikan masyarakat adat dan merusak lingkungan.

Penertiban tambang ilegal dipandang sebagai langkah penting untuk melindungi ekosistem Papua sekaligus memastikan masa depan generasi mendatang tetap terjaga. Sejumlah tokoh adat menilai kebijakan tersebut sebagai bukti nyata kehadiran negara dalam menjaga hak-hak masyarakat adat atas tanah dan alamnya.

Tokoh Adat Papua, Benhur Yaboisembut, menyatakan dukungan penuh terhadap langkah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang secara tegas menindak seluruh tambang ilegal di Tanah Papua.

Menurut Benhur, kebijakan tersebut mencerminkan komitmen kuat pemerintah dalam melindungi masyarakat adat dari dampak buruk eksploitasi sumber daya alam yang tidak bertanggung jawab.

“Kami mendukung penuh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam menindak tegas seluruh tambang-tambang ilegal yang ada di Tanah Papua,” ujar Benhur dalam keterangannya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Republik Indonesia atas keberanian dan konsistensi dalam mengambil langkah penegakan hukum di sektor pertambangan. Benhur menilai, ketegasan tersebut sangat dibutuhkan mengingat aktivitas tambang ilegal selama ini telah menimbulkan kerusakan yang luas.

“Kami memberikan apresiasi kepada Bapak Presiden Republik Indonesia atas tindakan tegas terhadap seluruh tambang ilegal di Tanah Papua,” katanya.

Menurut Benhur, dampak tambang ilegal tidak hanya dirasakan dalam bentuk kerusakan lingkungan, tetapi juga mengancam kehidupan sosial dan budaya masyarakat adat. Hutan yang rusak, sungai yang tercemar, serta hilangnya sumber pangan tradisional menjadi konsekuensi nyata dari praktik pertambangan tanpa izin. Kondisi ini, lanjutnya, membuat masyarakat adat berada pada posisi yang paling dirugikan.

“Kami sangat setuju dengan langkah pemerintah dalam penertiban tambang-tambang ilegal yang selama ini merugikan masyarakat adat, merusak ekosistem dan alam Papua, serta mencemari lingkungan hidup masyarakat adat,” tegas Benhur.

Ia menambahkan bahwa tanpa penindakan yang tegas dan berkelanjutan, kerusakan lingkungan dikhawatirkan akan semakin parah dan sulit dipulihkan.

Lebih lanjut, Benhur mengajak seluruh masyarakat Papua untuk bersama-sama mendukung kebijakan pemerintah dalam memberantas tambang ilegal di wilayah adat. Ia menekankan bahwa dukungan publik menjadi elemen penting agar kebijakan tersebut dapat berjalan efektif di lapangan.

“Kami mengajak seluruh masyarakat Papua untuk mendukung penuh kebijakan Bapak Presiden Prabowo Subianto dalam menindak tegas tambang-tambang ilegal di wilayah adat Tanah Papua,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa penertiban tambang ilegal bukan hanya soal penegakan hukum, melainkan upaya menjaga masa depan Papua.

Dengan lingkungan yang terjaga dan pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab, generasi Papua yang akan datang tetap memiliki kesempatan untuk merasakan keindahan alam dan kekayaan Tanah Papua.

Dukungan masyarakat, menurut Benhur, menjadi kunci agar Papua dapat tumbuh melalui pembangunan yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat adat.

Tokoh Adat Papua: Penindakan Tambang Ilegal Bukti Negara Hadir Lindungi Masyarakat Adat

Papua – Penindakan tegas terhadap aktivitas tambang ilegal di Tanah Papua dinilai sebagai bukti nyata kehadiran negara dalam melindungi masyarakat adat dan kelestarian lingkungan.

Langkah pemerintah ini mendapat dukungan luas dari berbagai elemen masyarakat Papua, khususnya tokoh adat yang selama ini menyaksikan langsung dampak kerusakan lingkungan akibat praktik pertambangan tanpa izin.

Penertiban tambang ilegal dipandang bukan sekadar penegakan hukum, tetapi juga upaya menjaga masa depan Papua agar tetap lestari bagi generasi mendatang.

Tokoh Adat Papua, Benhur Yaboisembut, menyatakan dukungan penuh terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang menindak tegas seluruh tambang ilegal di Tanah Papua. Menurutnya, ketegasan tersebut menunjukkan komitmen negara untuk berpihak pada kepentingan masyarakat adat yang selama ini dirugikan.

“Kami mendukung penuh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam menindak tegas seluruh tambang-tambang ilegal yang ada di Tanah Papua,” kata Benhur dalam keterangannya.

Benhur juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Republik Indonesia atas keberanian dan konsistensi dalam mengambil langkah tegas terhadap praktik pertambangan ilegal. Ia menilai, kebijakan tersebut merupakan bentuk perlindungan nyata terhadap hak-hak masyarakat adat yang hidup bergantung pada kelestarian alam.

“Kami memberikan apresiasi kepada Bapak Presiden Republik Indonesia atas tindakan tegas terhadap seluruh tambang ilegal di Tanah Papua,” ujarnya.

Lebih lanjut, Benhur menjelaskan bahwa aktivitas tambang ilegal telah menimbulkan berbagai dampak negatif, mulai dari kerusakan hutan, pencemaran sungai, hingga hilangnya sumber penghidupan masyarakat adat.

Kerusakan ekosistem tersebut tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengancam keberlanjutan budaya dan kehidupan sosial masyarakat Papua. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa langkah penertiban yang dilakukan pemerintah sudah tepat dan harus terus dilanjutkan.

“Kami sangat setuju dengan langkah pemerintah dalam penertiban tambang-tambang ilegal yang selama ini merugikan masyarakat adat, merusak ekosistem dan alam Papua, serta mencemari lingkungan hidup kami,” tegas Benhur.

Ia menambahkan bahwa tanpa penindakan tegas, kerusakan yang terjadi dikhawatirkan akan semakin meluas dan sulit dipulihkan. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menghilangkan hak generasi Papua untuk menikmati alamnya sendiri.

Benhur juga mengajak seluruh masyarakat Papua untuk bersama-sama mendukung kebijakan pemerintah dalam memberantas tambang ilegal di wilayah adat. Menurutnya, dukungan masyarakat menjadi faktor penting agar kebijakan tersebut dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.

“Kami mengajak seluruh masyarakat Papua untuk mendukung penuh kebijakan Bapak Presiden Prabowo Subianto dalam menindak tegas tambang-tambang ilegal di wilayah adat Tanah Papua,” katanya.

Ia menekankan bahwa dukungan tersebut bukan semata-mata untuk kepentingan saat ini, tetapi demi masa depan Papua. Dengan alam yang terjaga dan pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab, generasi mendatang tetap memiliki kesempatan merasakan keindahan dan kekayaan alam Papua.

Penindakan tambang ilegal, menurut Benhur, adalah langkah penting untuk memastikan pembangunan di Papua berjalan adil, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat adat.