Sinergi Lintas Sektor Percepat Realisasi Program MBG Menuju Indonesia Sehat

Oleh : Ricky Rinaldi

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam membangun generasi sehat dan unggul. Diluncurkan awal 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto, program ini diarahkan untuk menjangkau 82,9 juta penerima manfaat, termasuk anak usia sekolah, balita, ibu hamil, dan menyusui. Dengan alokasi anggaran sebesar Rp121 triliun, MBG tidak hanya ditujukan untuk menanggulangi persoalan gizi, tetapi juga memperkuat struktur sosial, ekonomi, dan pangan nasional melalui pendekatan sinergis lintas sektor.

Keberhasilan pelaksanaan MBG secara nasional sangat bergantung pada kerja sama antarlembaga. Dalam Rapat Percepatan Pelaksanaan Program MBG pada akhir Juni 2025, Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyampaikan bahwa sebanyak 5,56 juta orang telah menerima manfaat MBG melalui 1.861 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dengan penyerapan anggaran mencapai Rp5 triliun. Ia menekankan bahwa percepatan distribusi menjadi prioritas agar target nasional dapat segera dicapai. Ia juga menegaskan bahwa pemerintah mendorong percepatan pelaksanaan karena semakin banyak anak-anak Indonesia yang membutuhkan asupan gizi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan mereka. Zulkifli menyebut penyelesaian Peraturan Presiden sebagai landasan hukum merupakan salah satu fokus penting yang akan mendorong kelancaran distribusi program ke seluruh daerah.

Komitmen lintas lembaga makin diperkuat dengan dukungan dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Menteri PANRB Rini Widyantini menyatakan bahwa pelaksanaan MBG harus dilakukan melalui pendekatan kolektif, bukan sektoral. Ia menekankan pentingnya sinergi lintas instansi yang terbingkai dalam empat pilar utama, yakni sistem tata kelola, penyediaan dan penyaluran, promosi dan advokasi, serta pemantauan dan pengawasan. Rini menilai bahwa harmonisasi dari hulu ke hilir sangat menentukan keberhasilan program dan semua pihak harus terlibat aktif sesuai tugas dan fungsinya. Ia juga menyampaikan bahwa digitalisasi dan integrasi antarinstansi harus terus ditingkatkan agar pelaksanaan di lapangan menjadi lebih efisien, transparan, dan terukur.

Di tingkat pelaksana daerah, berbagai inisiatif telah dijalankan untuk mempercepat implementasi MBG. Pemerintah Kabupaten Musi Rawas Utara, misalnya, menjalin kolaborasi dengan UMKM, koperasi desa, dan kelompok tani untuk penyediaan bahan pangan bergizi. Inisiatif serupa terjadi di Bengkulu Utara dan Tulang Bawang Barat, yang memberdayakan kelompok masyarakat lokal dalam membangun dapur komunitas guna mendistribusikan makanan sehat secara rutin kepada siswa dan ibu hamil. Model pelibatan masyarakat seperti ini dinilai sangat efektif dalam menciptakan rasa memiliki dan meningkatkan keberlanjutan program.

Tak hanya di Pulau Jawa dan Sumatera, MBG juga menjangkau wilayah-wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar seperti Papua dan NTT. Di Distrik Intan Jaya, Papua Tengah, TNI bekerja sama dengan tokoh adat dan pemda dalam menjalankan SPPG berbasis kearifan lokal. Dukungan dari aparat dan tokoh masyarakat sangat penting agar penerima manfaat, terutama anak-anak di pelosok, bisa mendapatkan makanan bergizi sesuai kebutuhan dan budaya lokal. Pendekatan seperti ini menunjukkan fleksibilitas kebijakan pemerintah yang mampu menyesuaikan diri dengan kondisi wilayah.

Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan juga ikut berperan dalam memastikan sinergi antarkementerian berjalan optimal. Deputi III Kemenko PMK, Nunung Nuryartono, menyampaikan bahwa pemerintah terus memutakhirkan data penerima manfaat berbasis alamat dan prevalensi stunting agar alokasi intervensi gizi lebih tepat sasaran. Ia menekankan pentingnya keterpaduan antara data Bappenas, BPS, dan lembaga kesehatan agar keputusan alokasi dan distribusi lebih akurat. Selain itu, pangan lokal seperti maggot, kelor, dan telur ayam kampung mulai dimasukkan dalam menu MBG yang telah diuji kandungan gizinya dan efisien secara logistik.

Dari sisi tata kelola, sistem digital kini tengah dikembangkan untuk mengintegrasikan pengadaan, distribusi, pemantauan, dan pelaporan MBG dalam satu ekosistem data nasional. Pemerintah melalui SPBE (Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik) mendorong penggunaan teknologi di seluruh tahapan program. Rini Widyantini menyebut transformasi digital merupakan bentuk reformasi pelayanan publik yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, dan merupakan bagian dari upaya mewujudkan birokrasi yang responsif, adaptif, dan berbasis data.

Di sisi pembiayaan, kerja sama dengan pihak swasta dan filantropi turut memperkuat fondasi program. Hibah dari lembaga internasional seperti Gates Foundation, ditambah dengan keterlibatan BUMN pangan dan lembaga keuangan seperti BRI, memungkinkan MBG tidak hanya ditopang APBN, tetapi juga mendapat dukungan berkelanjutan dari ekosistem ekonomi nasional. Koperasi dan UMKM yang menjadi bagian dari rantai pasok pangan lokal ikut merasakan manfaat ekonomi dari program ini, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan keluarga.

Respons publik terhadap MBG juga sangat positif. Di berbagai sekolah dasar, para guru melaporkan bahwa siswa menjadi lebih fokus belajar setelah rutin menerima makanan bergizi. Di Merauke, kepala sekolah menyampaikan bahwa kehadiran siswa meningkat karena mereka merasa lebih semangat datang ke sekolah. Sementara itu, dapur komunitas yang dibentuk di beberapa daerah berhasil menyerap tenaga kerja lokal, mulai dari koki hingga pengantar makanan, yang semuanya kini terlindungi melalui BPJS Ketenagakerjaan.

Salah satu tantangan yang kini sedang diatasi pemerintah adalah peningkatan transparansi dan pengawasan di lapangan. Ombudsman RI memberikan masukan yang langsung ditindaklanjuti dengan audit dan perbaikan sistem oleh pemerintah. Pemerintah merespons cepat dengan menugaskan BGN dan pemda melakukan audit menyeluruh serta membenahi sistem pelaporan publik. Ke depan, pelibatan media lokal dan pemantauan berbasis masyarakat akan diperkuat agar tidak terjadi penyelewengan dana atau penurunan kualitas layanan.

Secara keseluruhan, MBG telah membuktikan bahwa pendekatan kolaboratif antar sektor merupakan kunci keberhasilan program sosial berskala nasional. Dengan regulasi yang semakin matang, pemanfaatan data yang akurat, dukungan anggaran besar, serta komitmen dari tokoh-tokoh seperti Zulkifli Hasan dan Rini Widyantini, MBG bertransformasi dari sekadar bantuan makanan menjadi investasi strategis bagi masa depan bangsa. Jika pola sinergi ini terus dipertahankan dan diperkuat, maka cita-cita Indonesia Sehat 2045 bukan lagi angan, melainkan kenyataan yang sedang dibangun hari demi hari.

*)Pengamat Isu Strategis

MBG Perkuat Fondasi Indonesia Sehat dan Berdaya Saing

Jakarta, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi pemerintah dinilai sebagai langkah strategis dalam membangun fondasi generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing menuju visi besar Indonesia Emas 2045.

Direktur Promosi dan Edukasi Gizi Badan Gizi Nasional (BGN), Gunalan mengatakan program ini tidak hanya menjadi solusi atas masalah gizi dan stunting, tetapi juga memberikan dampak sosial-ekonomi yang luas bagi masyarakat.

“Program ini diharapkan dapat mendukung visi Indonesia Emas 2045 dengan menciptakan generasi yang sehat, cerdas, kuat dan unggul yang mampu membawa Indonesia menjadi negara maju,” ungkapnya.

Lebih dari sekadar penyediaan makanan, MBG dirancang sebagai upaya menyeluruh untuk menjawab tantangan bangsa. Gunalan menjelaskan bahwa program ini turut menyasar isu-isu struktural seperti kemiskinan, ketimpangan ekonomi, dan rendahnya kualitas SDM.

“Melalui MBG, pemerintah juga mendorong penciptaan lapangan kerja baru dan pemberdayaan ekonomi lokal,” jelasnya.

Anggota Komisi IX DPR RI, Heru Tjahjono, menyatakan bahwa MBG merupakan bentuk investasi strategis jangka panjang bagi kesejahteraan rakyat. MBG juga bukan sekadar program penanggulangan stunting, melainkan strategi besar dalam membangun bangsa.

“Kehadiran dapur komunitas ini, menurutnya, tidak hanya mendistribusikan makanan bergizi, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian di tingkat lokal,” tutur Heru.

Salah satu contoh keberhasilan implementasi MBG dapat dilihat di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Kepala Instalasi Gizi RSUD dr Iskak Tulungagung, Ratih Puspitaningtyas, menekankan pentingnya keseimbangan gizi dalam setiap porsi makanan yang disajikan.

“Keseimbangan antara karbohidrat, protein, sayuran, buah-buahan, dan lemak sehat bukan hanya membuat anak kenyang, tetapi juga memastikan kebutuhan nutrisinya terpenuhi secara optimal,” jelasnya.

Ratih menambahkan bahwa kolaborasi dengan para ahli gizi membuat kualitas penyajian makanan dalam program MBG semakin terjaga. Dengan keterlibatan tenaga profesional, MBG mampu memberikan makanan bergizi dengan standar yang sesuai kebutuhan anak-anak, termasuk anak usia dini yang belum mengenyam pendidikan formal.

“MBG membawa dampak sosial yang signifikan. Di sejumlah wilayah, dapur komunitas yang dibentuk dalam rangka program ini membuka lapangan kerja baru dan memberdayakan masyarakat,” pungkasnya.

Secara keseluruhan, MBG merupakan langkah konkret pemerintah dalam menata masa depan bangsa. Dengan pendekatan yang holistik, program ini menyentuh aspek gizi, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat secara bersamaan.

Melalui implementasi yang konsisten dan pengawasan yang ketat, MBG diyakini mampu mendorong percepatan tercapainya target Indonesia Emas 2045. Dengan menciptakan generasi yang sehat dan unggul sejak dini, Indonesia telah menyiapkan langkah awal menuju masa depan yang lebih cerah dan berdaya saing tinggi di kancah global. (*)

Program MBG Wujudkan Visi Pembangunan Ekonomi Inklusif

Jakarta – Pemerintah terus menunjukkan komitmen kuat dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program strategis nasional, salah satunya Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini tak hanya fokus pada pemenuhan gizi anak-anak sekolah, namun juga berkontribusi besar terhadap pembangunan ekonomi yang inklusif, terutama melalui pemberdayaan UMKM dan penciptaan lapangan kerja baru.

Anggota Komisi IX DPR RI, Alfrisco, menegaskan bahwa MBG merupakan bagian dari upaya sistematis pemerintah dalam memperkuat kualitas gizi anak sekolah sekaligus menggerakkan sektor ekonomi kerakyatan. Ia menjelaskan bahwa negara-negara yang telah menerapkan sistem serupa berhasil meningkatkan partisipasi pendidikan dan menekan angka stunting.

“Pemberian makan bergizi berdampak langsung terhadap peningkatan kehadiran anak di sekolah dan penurunan malnutrisi,” ungkapnya merujuk pada studi World Bank tahun 2024.

Sejalan dengan hal itu, Staf Khusus Badan Gizi Nasional (BGN), Ary Santoso, menyatakan bahwa MBG ditujukan untuk meningkatkan gizi berkualitas masyarakat sebagai fondasi terbentuknya SDM unggul. Ia menekankan bahwa kualitas pangan merupakan kunci bagi terwujudnya generasi emas menuju visi Indonesia 2045.

“Harapannya, gizi yang terpenuhi dengan baik akan membentuk masyarakat yang sehat dan produktif,” ujarnya.

Dampak ekonomi program MBG juga dirasakan secara nyata di berbagai daerah. Anggota DPR RI, Tutik Kusuma Wardhani, dalam kunjungan kerja di Bali menyoroti bagaimana MBG menjadi motor penggerak ekonomi lokal. Program ini terbukti membuka peluang besar bagi pelaku UMKM, petani, peternak, hingga nelayan untuk terlibat langsung dalam rantai pasok pangan bergizi.

“Dengan lebih dari 30 ribu dapur umum atau satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) ditargetkan aktif di seluruh Indonesia, diperkirakan akan tercipta hingga 1,5 juta lapangan kerja baru,” jelas Tutik.

Tenaga Ahli BGN, Ade Tias Maulana, menambahkan bahwa MBG merupakan bentuk nyata integrasi antara perbaikan kualitas hidup masyarakat dan pembangunan ekonomi nasional.

“Program ini memastikan gizi tepat sasaran serta menjadi instrumen pemerataan ekonomi,” tuturnya.

Dengan implementasi yang tepat, Program MBG tidak hanya mencetak generasi sehat dan cerdas, tetapi juga menggerakkan perekonomian rakyat dari bawah. Hal ini membuktikan bahwa kebijakan gizi bukan semata persoalan kesehatan, melainkan bagian integral dari strategi pembangunan berkelanjutan yang inklusif dan merata.

Digitalisasi Bansos Perkuat Akuntabilitas dan Efisiensi Program Sosial

Oleh: Dhita Karuniawati )*

Dalam beberapa tahun terakhir, digitalisasi menjadi elemen penting dalam reformasi berbagai sektor pemerintahan, termasuk dalam program bantuan sosial (Bansos). Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Sosial dan institusi terkait, terus mendorong transformasi digital guna memastikan penyaluran bansos lebih tepat sasaran, transparan, dan efisien. Digitalisasi dalam distribusi bansos bukan sekadar inovasi teknis, melainkan langkah strategis untuk memperkuat akuntabilitas serta meningkatkan efektivitas program sosial demi kesejahteraan rakyat.

Program Bansos merupakan jaring pengaman sosial untuk masyarakat miskin dan rentan, terutama saat menghadapi krisis ekonomi atau bencana alam. Namun, program ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari data penerima manfaat yang tidak akurat, tumpang tindih bantuan, hingga praktik korupsi dan penyalahgunaan dana.

Melalui digitalisasi, pemerintah dapat meminimalisasi berbagai permasalahan tersebut. Sistem berbasis teknologi informasi memungkinkan pengelolaan data secara terintegrasi dan real-time. Dengan demikian, data penerima Bansos dapat diverifikasi dan diperbarui secara berkala, menghindari penerima ganda dan memastikan bantuan diberikan kepada yang benar-benar membutuhkan.

Salah satu bentuk implementasi digitalisasi bansos yang sudah berjalan adalah integrasi Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) dengan sistem informasi digital lainnya, seperti Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan rekening bank. Melalui sistem ini, pemerintah bisa memastikan bahwa bantuan diterima langsung oleh penerima sah tanpa perantara yang berpotensi menyalahgunakan dana.

Teknologi juga memungkinkan pelacakan penyaluran bantuan dari pusat hingga ke tangan penerima. Penggunaan aplikasi dan sistem manajemen distribusi menjamin transparansi alur dana, mulai dari penganggaran, pencairan, hingga penerimaan di lapangan. Laporan digital yang dihasilkan juga dapat langsung diakses oleh lembaga pengawas dan masyarakat umum, sehingga mempermudah proses audit dan memperkuat pengawasan publik.

Digitalisasi juga memberi keuntungan dari sisi efisiensi. Dengan proses yang serba otomatis dan digital, biaya distribusi Bansos dapat ditekan. Misalnya, bantuan yang disalurkan melalui rekening bank atau dompet digital menghilangkan kebutuhan distribusi fisik yang memerlukan logistik besar dan berisiko kehilangan atau keterlambatan.

Selain itu, proses verifikasi dan validasi data yang dilakukan secara digital memungkinkan waktu yang lebih cepat dalam menentukan siapa saja yang layak menerima bantuan. Dalam konteks respons cepat terhadap bencana atau situasi darurat, digitalisasi mempercepat pengambilan keputusan dan pencairan bantuan.

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menyoroti pentingnya digitalisasi program bantuan sosial (Bansos) sebagai kunci agar bisa menyediakan layanan yang lebih tepat sasaran, transparan dan efisien. Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan terkait urgensi akselerasi transformasi digital layanan publik, terutama dalam sistem perlindungan sosial.

Adapun salah satu inisiatif utama yang tengah disiapkan adalah Portal Perlinsos, sebuah platform terpadu yang didukung oleh DPI, yang meliputi identitas kependudukan digital, data biometric sebagai alat autentikasi, dan SPLP sebagai Data Exchange Platform. Melalui portal tersebut, masyarakat dapat mengakses proses verifikasi, pendaftaran, hingga pengelolaan bansos secara digital, mandiri, aman, dan mudah. Pada tahap awal, dua program utama yang akan menjadi fokus pilot project adalah Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT).

Luhut mengatakan Kabupaten Banyuwangi ditetapkan sebagai lokasi percontohan nasional karena kesiapan infrastruktur digital dan komitmen pemerintah daerah dalam mendorong inovasi pelayanan publik.

Luhut juga menggarisbawahi pentingnya pelaksanaan pilot project yang solid dan terkoordinasi, disertai evaluasi menyeluruh serta penyusunan rekomendasi konkret, agar model ini dapat direplikasi secara nasional dalam waktu dekat. Proses ini sebagai simbol komitmen bersama untuk menghadirkan pelayanan publik yang inklusif, adaptif, dan berbasis data. Dengan begitu, tata kelola pemerintahan digital yang terintegrasi dan berdampak nyata bagi kesejahteraan rakyat Indonesia dapat terwujud.

Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid mengatakan pihaknya mendukung digitalisasi Program Perlindungan Sosial, khususnya dalam penyaluran bantuan melalui Program Keluarga Harapan (PKH). Pihaknya telah menyiapkan infrastruktur penting guna memastikan penyaluran bantuan sosial berjalan secara akurat, cepat, dan aman.

Meutya memastikan Sistem Penghubung Layanan Pemerintah (SPLP) yang digunakan dalam digitalisasi Bansos berjalan dengan baik dan aman dari serangan siber. SPLP ini adalah sistem penting yang menghubungkan data dan layanan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) antarkementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.

Meutya juga meminta kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah memberikan akses terhadap data yang terkait dengan Program Perlindungan Sosial agar penyaluran bantuan sosial tepat sasaran, karena didasarkan atas data yang akurat.

Keberhasilan digitalisasi Bansos sangat bergantung pada kolaborasi multipihak. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan dukungan dari sektor swasta, lembaga keuangan, organisasi masyarakat sipil, dan media untuk memperkuat sistem yang ada dan mengedukasi masyarakat.

Partisipasi publik juga penting dalam mendorong akuntabilitas. Masyarakat harus diberikan ruang untuk melaporkan penyimpangan atau ketidakadilan dalam penyaluran Bansos. Pelibatan warga dalam pemutakhiran data dan pengawasan distribusi akan meningkatkan rasa kepemilikan dan kepercayaan terhadap program pemerintah.

Digitalisasi Bansos bukan sekadar transformasi teknologi, melainkan langkah besar menuju tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan responsif. Dengan sistem yang terintegrasi, akuntabel, dan efisien, pemerintah dapat menjawab tantangan kemiskinan secara lebih tepat dan berkelanjutan. Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, digitalisasi menjadi fondasi penting untuk memastikan bahwa tidak ada warga negara yang tertinggal dari jangkauan perlindungan sosial.

*) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

Efektivitas Bansos Ditingkatkan Lewat Integrasi Lintas Kementerian

Oleh : Doni Wicaksono )*

Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pemerintah terus melakukan berbagai inovasi kebijakan yang responsif dan adaptif. Salah satu terobosan penting yang tengah dikembangkan adalah peningkatan efektivitas bantuan sosial (bansos) melalui integrasi lintas kementerian dan lembaga. Langkah strategis ini diyakini dapat menjawab berbagai tantangan dalam penyaluran bansos yang selama ini sering kali terfragmentasi, tumpang tindih, dan kurang tepat sasaran.

Integrasi lintas kementerian dalam program bansos bukanlah sekadar koordinasi administratif, melainkan sebuah pendekatan sistemik yang menyatukan data, program, dan penganggaran secara holistik. Melalui sinergi antara kementerian atau lembaga, pemerintah berupaya memastikan bahwa setiap rupiah yang digelontorkan untuk bansos benar-benar sampai ke tangan yang berhak dan memberi dampak nyata bagi kehidupan penerima manfaat.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid mengatakan pihaknya terus mendorong transformasi digital dalam penyaluran bansos guna memastikan bantuan pemerintah tersalurkan secara akurat, cepat, dan aman. Dengan terus didorongnya transformasi digital dalam program perlindungan sosial, pemerintah berharap mampu menciptakan sistem yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat fondasi Indonesia menuju era digital yang berkeadilan.

Transformasi digital dalam pengelolaan data ini merupakan kemajuan signifikan dalam mendukung tata kelola bansos yang lebih baik. Dengan sistem yang terintegrasi, pemerintah tidak hanya dapat menghindari duplikasi penerima, tetapi juga bisa memetakan kebutuhan masyarakat secara lebih spesifik, seperti lansia tanpa pengasuh, anak-anak terlantar, keluarga dengan disabilitas, hingga korban bencana. Hal ini menjadikan distribusi bansos lebih adil, inklusif, dan responsif terhadap situasi terkini.

Keberhasilan integrasi lintas kementerian juga terlihat dalam sinergi program bansos dengan program-program pemberdayaan ekonomi. Misalnya, penerima Program Keluarga Harapan (PKH) juga diarahkan untuk terhubung dengan pelatihan vokasi dari Kementerian Ketenagakerjaan atau akses permodalan dari Kementerian Koperasi dan UKM. Dengan demikian, bansos tidak hanya berfungsi sebagai jaring pengaman sosial, tetapi juga menjadi batu loncatan menuju kemandirian ekonomi keluarga penerima.

Selain itu, kolaborasi erat dengan pemerintah daerah juga sangat krusial. Pemda memiliki peran strategis dalam mendeteksi kondisi riil di lapangan serta melakukan validasi terhadap data penerima. Pemerintah pusat kini memberikan ruang yang lebih luas bagi pemda untuk mengusulkan perbaikan instrumen secara berkala, serta mendorong pelibatan perangkat desa dan kelurahan dalam proses verifikasi faktual.

Tak kalah penting, integrasi bansos ini juga didukung oleh sistem pengawasan dan evaluasi yang semakin baik. Teknologi digital memungkinkan pelacakan distribusi bansos secara real-time, serta membuka ruang pengaduan masyarakat melalui kanal daring seperti aplikasi Cek Bansos dan layanan hotline. Ini adalah wujud transparansi dan akuntabilitas yang sejalan dengan semangat reformasi birokrasi.

Sementara itu, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, mengatakan digitalisasi bansos merupakan salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam meningkatkan kualitas layanan publik. Pihaknya juga menekankan pentingnya sinergi lintas kementerian atau lembaga dalam mempercepat penyediaan data yang akurat dan menjaga kesinambungan proyek digitalisasi ini.

Koordinasi yang erat juga menciptakan efisiensi anggaran dan mempercepat proses transformasi. Alih-alih membangun sistem sendiri-sendiri, lembaga-lembaga terkait dapat memanfaatkan satu platform terpadu dengan dukungan data bersama yang bersumber dari sistem nasional. Inilah wujud pemerintahan digital yang kolaboratif, efisien, dan berorientasi pada pelayanan publik yang cepat dan tepat.

Kemudian sebagai bagian dari inisiatif Digital Public Infrastructure (DPI), pemerintah tengah menyiapkan Portal Perlinsos, platform terpadu berbasis teknologi yang memungkinkan masyarakat melakukan verifikasi, pendaftaran, dan pengelolaan bansos secara mandiri. Portal ini akan menggunakan identitas digital dan data biometrik untuk memastikan keakuratan penerima manfaat.

Dampak dari integrasi lintas kementerian dalam penyaluran bansos sudah mulai terlihat. Misalnya, pada tahun 2024, pemerintah mencatat penurunan signifikan angka kemiskinan ekstrem di berbagai wilayah, terutama di daerah tertinggal dan 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal). Ini merupakan indikator keberhasilan bahwa bansos yang disalurkan tidak hanya cepat, tetapi juga tepat sasaran.

Tentu, masih ada tantangan yang harus dihadapi, seperti disparitas infrastruktur digital di daerah terpencil atau resistensi terhadap perubahan sistem yang lebih modern. Namun dengan komitmen kuat dari seluruh kementerian dan dukungan partisipasi aktif masyarakat, tantangan tersebut dapat diatasi secara bertahap.

Ke depan, pemerintah berkomitmen untuk terus menyempurnakan sistem integrasi ini. Tidak hanya untuk bansos reguler, tetapi juga dalam konteks respons cepat terhadap krisis, seperti pandemi, bencana alam, atau gejolak ekonomi. Sistem yang terintegrasi memungkinkan pemerintah bergerak lebih cepat dan tepat dalam memberikan perlindungan sosial kepada masyarakat yang terdampak.

Dengan pendekatan integratif ini, kita semua dapat berharap bahwa bantuan sosial di Indonesia tidak lagi sekadar menjadi solusi jangka pendek, tetapi menjadi fondasi bagi lahirnya masyarakat yang lebih tangguh, berdaya, dan sejahtera. Integrasi lintas kementerian bukan hanya strategi teknokratis, tetapi wujud nyata dari semangat gotong royong dalam tata kelola negara.

)* Pengamat kebijakan publik

Bansos Diselaraskan dengan Program Pemberdayaan untuk Tekan Kemiskinan

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat upaya pengentasan kemiskinan dengan menyelaraskan program bantuan sosial (bansos) dan pemberdayaan masyarakat. Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan bantuan tidak hanya bersifat karitatif, tetapi juga mendorong kemandirian masyarakat miskin secara berkelanjutan.

Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko menegaskan bahwa bansos sebaiknya difokuskan hanya kepada kelompok rentan, seperti lanjut usia (lansia), penyandang disabilitas, dan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Hal ini disampaikan sebagai tanggapan atas maraknya penyalahgunaan bansos untuk aktivitas judi online.

“Bansos baiknya hanya untuk yang lansia, yang mungkin difabel, mungkin yang ODGJ ya kan?” ujar Budiman.

Menurut Budiman, masyarakat miskin yang masih memiliki kemampuan fisik dan mental harus diberdayakan melalui pendekatan pembangunan yang terintegrasi. Dalam hal ini, BP Taskin telah menyusun Rencana Induk Percepatan Pengentasan Kemiskinan dengan sembilan pendekatan strategis, yakni pangan, hunian, perumahan, energi terbarukan, transportasi, pendidikan, kesehatan, industri kreatif, dan industri digital.

“Karena itulah Pak Presiden Prabowo Subianto membuat BP Taskin agar pengentasan kemiskinan approach-nya tidak sekadar memberikan pelampung,” tegas Budiman.

Ia memberikan ilustrasi bahwa sekadar memberikan berupa bantuan akan membuat masyarakat merasa cukup untuk bertahan hidup, tetapi tidak membawa mereka keluar dari arus kemiskinan. Sebaliknya, BP Taskin hadir untuk memberikan pendampingan dan pemberdayaan agar masyarakat bisa bergerak menuju kehidupan yang mandiri dan sejahtera.

Sementara itu, Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengungkapkan bahwa Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mencatat adanya penyalahgunaan bansos oleh sebagian penerima untuk bermain judi online, dengan nilai transaksi mencapai Rp957 miliar. Dari analisis atas 28,4 juta NIK penerima bansos dan 9,7 juta NIK pemain judol tahun 2024, ditemukan sebanyak 571.410 NIK yang identik.

“Sebanyak dua persen orang penerima bansos merupakan pemain judol tahun 2024 dan terdapat 7,5 juta transaksi dengan nilai Rp957 miliar,” jelas Saifullah Yusuf.

Menanggapi hal ini, Kemensos menetapkan tiga strategi utama dalam reformasi penyaluran bansos. Pertama, melanjutkan program-program bantuan sosial yang sudah berjalan, seperti PKH, Kartu Sembako, KIP Kuliah, dan PBI JKN. Kedua, mengoptimalkan penggunaan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) dan memperkuat sinergi kelembagaan serta digitalisasi bantuan. Ketiga, mendorong model bantuan yang adaptif dan berkelanjutan, dengan prinsip keadilan, inklusivitas, dan percepatan graduasi menuju kemandirian.

Langkah sinergis antara BP Taskin dan Kemensos ini menjadi angin segar dalam upaya pemerintah menekan angka kemiskinan dan mencegah penyalahgunaan bantuan sosial, sekaligus mendorong transformasi sosial ekonomi bagi masyarakat miskin Indonesia.

Bansos Berbasis Data Tunggal Pastikan Tepat Sasaran

Jakarta – Pemerintah memperkuat komitmennya untuk memastikan penyaluran bantuan sosial (bansos) tepat sasaran dengan menggunakan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai acuan utama. Kebijakan ini mulai diterapkan penuh pada penyaluran bansos Juni–Juli 2025 yang menjadi bagian dari paket stimulus ekonomi senilai Rp24,44 triliun.

DTSEN sendiri merupakan hasil integrasi dari tiga sistem data utama yakni Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek), dan P3KE. Data ini kemudian diverifikasi ulang oleh BPKP untuk memastikan keabsahan dan status terkini penerima manfaat.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan bahwa dari total 20,3 juta keluarga penerima manfaat (KPM) sejumlah data telah diverifikasi.

”Sebanyak 16,5 juta telah diverifikasi, dan sekitar 14,3 juta di antaranya berada pada desil 1 hingga 4 yang menjadi prioritas utama penerima bansos,” ujarnya.

Data Kementerian Sosial menunjukkan, hingga pekan pertama Juli 2025, penyaluran bansos Program Keluarga Harapan (PKH) telah mencapai 80 persen, sementara Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) menembus 84,7 persen dari total target 18,3 juta KPM. Total anggaran yang telah dikucurkan pemerintah untuk periode ini mencapai Rp11,93 triliun.

Ekonom dari INDEF, Esther Sri Astuti, menilai capaian tersebut menunjukkan perbaikan signifikan dalam pengelolaan bansos, terutama dalam konteks ketepatan waktu dan sasaran.

“Penyaluran yang mencapai di atas 80 persen pada minggu pertama bulan berjalan patut diapresiasi. Itu menunjukkan ada perbaikan di sisi administrasi dan data,” katanya.

Penyaluran bansos saat ini dilakukan melalui dua jalur utama: bank-bank Himbara dan PT Pos Indonesia. Proses transisi dari rekening kolektif ke rekening individu terus dilakukan. Kemensos juga menyalurkan BLT Dana Desa dan program permakanan khusus bagi lansia tunggal serta penyandang disabilitas, yang sudah mulai dicairkan sejak 10 Juli di sejumlah wilayah seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga Papua.

Penggunaan DTSEN juga didukung oleh langkah digitalisasi data bantuan. Pemerintah tengah menyiapkan infrastruktur digital publik (Digital Public Infrastructure/DPI) untuk memperkuat sistem distribusi dan pemutakhiran data bansos.

Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, menyatakan bahwa sistem digital akan mengurangi kesalahan data dan menutup celah penyaluran ganda atau tidak tepat sasaran.

“Digitalisasi ini bukan hanya soal efisiensi, tapi keadilan. Kita ingin bantuan sampai ke warga yang benar-benar membutuhkan, tanpa celah manipulasi,” ujarnya

Verifikasi lapangan dilakukan secara rutin setiap tiga bulan. Kemensos mencatat setidaknya 1,9 juta KPM telah dicoret dari daftar penerima karena tidak lagi memenuhi kriteria berdasarkan pembaruan data terakhir. Pemerintah daerah juga diminta aktif mendampingi proses ini agar pemutakhiran berjalan partisipatif dan akurat.

Sementara itu, masyarakat dapat memeriksa status penerima bansos secara mandiri melalui laman cekbansos.kemensos.go.id atau aplikasi “Cek Bansos”. Saat ini, sekitar tiga juta KPM masih dalam proses validasi lanjutan, mayoritas karena belum memiliki rekening pribadi atau terkendala kelengkapan data.

Dengan pendekatan berbasis data tunggal dan pemanfaatan teknologi digital, pemerintah berharap seluruh proses penyaluran bansos di masa mendatang dapat dilakukan dengan lebih cepat, adil, dan tepat sasaran. Kebijakan ini diharapkan tidak hanya memperkuat daya beli masyarakat miskin dan rentan, tetapi juga menjadi fondasi bagi pembangunan sistem perlindungan sosial yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Program MBG di Papua, Investasi Masa Depan Anak Bangsa

*Loa Murib

Penetapan Universitas Cenderawasih (Uncen) sebagai Regional Centre of Excellence (RCOE) untuk program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Tanah Papua merupakan langkah strategis yang patut diapresiasi. Langkah ini menandai keseriusan pemerintah dalam menempatkan isu gizi anak sebagai prioritas utama dalam pembangunan manusia, terutama di wilayah timur Indonesia yang masih menghadapi tantangan besar dalam akses dan pemerataan gizi. Program MBG yang selama ini digulirkan secara nasional, membutuhkan pusat koordinasi dan inovasi daerah agar implementasinya berjalan lebih efektif, adaptif terhadap kondisi lokal, dan berkelanjutan.

Pemerintah Provinsi Papua menyambut baik penetapan Uncen sebagai RCOE. Keberadaan lembaga ini diyakini mampu menjadi motor penggerak penguatan kapasitas lokal, baik dalam bentuk riset, pengembangan inovasi, maupun pelatihan tenaga lapangan seperti tenaga kesehatan, guru, hingga kader masyarakat. Selain sebagai pusat pembelajaran, RCOE diharapkan dapat berperan sebagai ruang kolaborasi lintas sektor, yang memadukan pendekatan akademis, kebijakan publik, serta kearifan lokal dalam mewujudkan ketahanan gizi di Papua.

Pelaksana Tugas Staf Ahli Gubernur Bidang Pengembangan Masyarakat dan Budaya, Matias Mano, mengungkapkan bahwa Pemprov Papua berkomitmen penuh untuk mendukung keberlanjutan program MBG. Komitmen ini tidak sekadar administratif, tetapi mencakup dorongan terhadap pelibatan multipihak dalam implementasi program, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia di tingkat akar rumput. Ia menekankan bahwa program MBG bukan semata tentang distribusi makanan, tetapi merupakan investasi sosial jangka panjang yang menyasar kelompok paling rentan: anak-anak balita, ibu hamil, serta pelajar di wilayah terpencil.

Dalam konteks Papua yang memiliki tantangan geografis luar biasa, pemerataan akses terhadap makanan bergizi menjadi sangat krusial. Ketika anak-anak tidak memperoleh asupan gizi yang cukup dan aman, maka risiko stunting, keterlambatan perkembangan kognitif, serta rendahnya produktivitas di masa depan akan terus membayangi. Oleh karena itu, MBG harus dimaknai sebagai bentuk keberpihakan negara terhadap keadilan sosial. Tidak boleh ada perbedaan perlakuan antara anak-anak di kota besar dan mereka yang hidup di kampung-kampung pelosok.

Dalam kerangka keadilan tersebut, pentingnya penguatan infrastruktur distribusi program MBG menjadi hal yang mendesak. Salah satu pendekatan inovatif yang kini mulai diusulkan adalah pembentukan dapur satelit di wilayah-wilayah terpencil. Gagasan ini disampaikan oleh Pembina Yayasan Kencana Papua Nusantara, Petrus Thokiman, yang menyuarakan harapan agar MBG benar-benar menjangkau anak-anak di daerah tertinggal, khususnya di Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Menurut Petrus, hingga kini pelaksanaan MBG masih terfokus di wilayah perkotaan. Anak-anak di kampung-kampung pelosok belum sepenuhnya merasakan manfaat program ini. Untuk menjembatani kesenjangan itu, pendirian dapur satelit MBG menjadi solusi nyata. Selain menjamin distribusi makanan sehat secara lebih cepat dan efisien, konsep ini juga memungkinkan adanya pemberdayaan masyarakat lokal. Petrus menekankan bahwa pangan lokal seperti sagu, ubi, keladi, dan sayur-mayur dari kebun masyarakat seharusnya bisa diintegrasikan dalam menu MBG. Hal ini akan mendorong ketahanan pangan sekaligus memberdayakan ekonomi lokal.

Lebih jauh, dapur satelit juga sejalan dengan semangat desentralisasi pelayanan publik yang adaptif terhadap karakteristik geografis Papua. Jika dibarengi dengan dukungan regulasi dan pendanaan dari pemerintah pusat dan mitra pembangunan, dapur-dapur ini dapat dibangun di sejumlah titik strategis, terutama yang jauh dari akses jalan raya atau berada di daerah perbukitan dan pesisir terpencil. Dengan demikian, anak-anak yang tinggal di lokasi-lokasi tersebut akan mendapat perlakuan yang setara, tidak terpinggirkan dari kebijakan nasional yang mestinya inklusif.

Penting untuk dipahami bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya bergantung pada ketersediaan makanan bergizi, melainkan juga pada tata kelola yang efisien dan partisipatif. Oleh karena itu, dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan—termasuk dari perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, sektor swasta, hingga pemerintah mitra seperti Australia, China, dan Jepang. Mereka selama ini telah berperan aktif dalam memperkuat sistem pangan dan gizi yang lebih tangguh dan berkelanjutan di Papua.

Sebagai pusat keunggulan, Uncen dapat memainkan peran strategis dalam mengembangkan modul pelatihan, riset intervensi gizi berbasis lokal, serta membangun sistem monitoring dan evaluasi berbasis data. Ini penting untuk mengidentifikasi titik-titik rawan gizi, mengevaluasi efektivitas menu yang diberikan, hingga merancang intervensi lanjutan yang lebih tepat sasaran. Kampus sebagai pusat ilmu pengetahuan memiliki posisi ideal untuk mengintegrasikan pendekatan ilmiah dengan konteks sosial dan budaya masyarakat Papua.

Langkah-langkah ini pada akhirnya bertujuan pada satu hal: memastikan bahwa setiap anak Papua memiliki masa depan yang sehat, cerdas, dan produktif. Upaya pembangunan manusia tidak bisa dipisahkan dari pemenuhan kebutuhan dasar seperti gizi yang layak. Oleh karena itu, program MBG harus ditempatkan sebagai prioritas utama, bukan hanya sebagai program sosial temporer, tetapi sebagai bagian dari strategi nasional dalam memperkuat fondasi generasi masa depan bangsa.

Membangun Papua tidak cukup hanya dengan membangun jalan dan jembatan. Membangun Papua adalah juga tentang membangun manusia-manusianya—dimulai dari piring makan mereka. Program MBG, bila dilaksanakan dengan serius, dapat menjadi jawaban atas tantangan multidimensi di Papua: mulai dari kemiskinan, kesenjangan pendidikan, hingga rendahnya indeks pembangunan manusia. Inilah saatnya untuk menyatukan langkah dan memperluas cakupan program ini, agar tidak ada lagi anak bangsa yang tertinggal hanya karena letak geografisnya.

*Penulis adalah Mahasiswa Papua di Surabaya

Program MBG Didorong Jadi Investasi Sosial Jangka Panjang di Papua

Jayapura — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar agenda pemenuhan gizi, melainkan bentuk nyata kehadiran negara dalam membangun keadilan sosial bagi seluruh anak bangsa, termasuk di tanah Papua. Pemerintah pusat bersama Pemerintah Provinsi Papua kini mempercepat pelaksanaan program ini melalui penguatan kapasitas daerah dan pemberdayaan pangan lokal.

Penunjukan Universitas Cenderawasih sebagai Regional Centre of Excellence (RCOE) menjadi bukti keseriusan pemerintah. Di tempat ini, pelatihan, riset, dan inovasi lokal akan tumbuh untuk mendukung pelaksanaan MBG secara adaptif terhadap kondisi Papua.

“Pemprov Papua berkomitmen penuh untuk mendukung keberlanjutan program MBG. Komitmen ini tidak sekadar administratif, tetapi mencakup pelibatan multipihak dan penguatan SDM di akar rumput,” ujar Matias Mano, Pelaksana Tugas Staf Ahli Gubernur Papua Bidang Pengembangan Masyarakat dan Budaya.

Program MBG di Papua menyasar anak-anak balita, ibu hamil, serta pelajar di wilayah terpencil yang selama ini sulit menjangkau makanan bergizi. Langkah ini sekaligus menjadi investasi sosial jangka panjang untuk membangun generasi Papua yang sehat, cerdas, dan produktif.

“Di balik sepiring makanan sederhana, tersimpan potensi besar bagi daerah,” ujar Rinna Syawal, Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Badan Pangan Nasional. Ia menambahkan, “Potensi pangan kita luar biasa besar. Tapi kita masih terbiasa makan yang itu-itu saja.”

Rinna menegaskan, Indonesia memiliki lebih dari 77 jenis karbohidrat, 75 protein hewani, dan ratusan sayuran serta buah lokal. Semua ini bisa menjadi kekuatan ekonomi daerah bila diintegrasikan dalam dapur MBG.

“Isi piring anak Papua tidak harus sama dengan di Jawa. Karena pangannya berbeda, budayanya berbeda. Dari situ kita bisa membangun kemandirian,” tuturnya.

Program ini juga mendorong pembentukan dapur satelit di wilayah terpencil. Konsep ini memastikan makanan sehat lebih cepat tersaji, sekaligus menggerakkan ekonomi desa. “Kalau bisa, anak-anak makan dari yang tumbuh di tanah mereka sendiri. Karena pangan bukan cuma soal kenyang, tapi juga soal kedaulatan,” tegas Rinna.

Membangun Papua berarti membangun manusianya. Program MBG harus dipandang sebagai fondasi utama dalam membentuk generasi masa depan yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. MBG adalah harapan baru. Ini bukan program sementara, tapi fondasi strategis untuk membangun Papua dari meja makan hingga masa depan.

Ceker Mercon, Kudapan Pedas Yang Membakar Lidah

Jakarta: Ceker, merupakan bagian dari ayam yang lazim dikonsumsi masyarakat, termasuk di Indonesia. Selain mudah didapat dan diolah, rupanya ceker juga memiliki banyak kandungan nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh.

Melansir dari lama alodokter.com, setiap 100 gram ceker ayam matang terkandung sekitar 215 kalori. Selain itu, ceker ayam juga mengandung aneka nutrisi lainnya, diantaranya:

• 19,5 gram protein
• 14,5 gram lemak
• 90 miligram kalsium
• 0,9 miligram zat besi
• 30 mikrogram vitamin A (setara 100 IU)
• 85 mikrogram folat atau vitamin B9

Ceker ayam juga mengandung fosfor, selenium, zinc, kolin, vitamin B kompleks, dan vitamin K, serta merupakan sumber gelatin dan kolagen yang baik.

Dibalik nutrisinya yg melimpah, ceker juga dapat diolah dengan berbagai macam cara. Salah satu resep ceker yang cukup populer di masyarakat adalah ceker mercon.

Berikut adalah resep olahan dari ceker ayam yaitu ceker mercon yang bisa menjadi inspirasi.

Bahan:
1 kilogram ceker ayam

Bumbu mercon:
250 gram cabai rawit
250 gram cabai keriting
(Cabai bisa disesuaikan, sesuai dengan tingkat kepedasan yang diinginkan)
2 Butir bawang putih
8 Butir bawang merah
1 butir kemiri

3 cm lengkuas (iris)
3 lembar daun jeruk
1 sdm Garam
1 sdt Gula putih
Penyedap secukupnya
Gula merah secukupnya

Cara membuat:
1. Rebus ceker ayam hingga benar-benar empuk. Setelah empuk, tiriskan.
2. Haluskan bumbu mercon. Lalu tumis.
3. Masukkan lengkuas dan daun jeruk.
4. Setelah tercium harum, masukkan ceker dan bumbu lainnya.
5. Aduk hingga merata, sampai bumbu meresap sempurna.
6. Ceker mercon siap disajikan. (Isnaeni)