Pemerintah Pastikan Pertumbuhan Ekonomi Tetap Stabil Lewat Stimulus Rp24 Triliun

Jakarta – Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional dengan menggulirkan paket stimulus senilai Rp24,4 triliun. Langkah ini ditempuh sebagai respons atas potensi perlambatan konsumsi masyarakat dan meningkatnya tekanan eksternal yang membayangi perekonomian global.

Stimulus yang diluncurkan pada pertengahan 2025 ini ditujukan untuk memperkuat konsumsi rumah tangga dan menjaga pertumbuhan ekonomi kuartal II tetap mendekati 5%, setelah pada kuartal I hanya mencapai 4,87 persen.

“Hal ini merupakan langkah antisipatif. Risiko global meningkat, khususnya dari ketegangan perdagangan antara negara besar. Kami ingin menjaga ekonomi domestik tetap tangguh,” ungkap Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu.

Paket stimulus yang diluncurkan terdiri atas lima program utama. Program pertama berupa bantuan langsung untuk transportasi publik senilai Rp940 miliar, yang meliputi diskon tiket kereta api sebesar 30 persen bagi 2,8 juta penumpang, pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 6 persen untuk tiket pesawat kelas ekonomi bagi 6 juta penumpang, serta potongan tarif angkutan laut sebesar 50 persen bagi 500 ribu penumpang.

Program kedua adalah potongan tarif tol sebesar 20 persen yang dibiayai melalui skema non-APBN, dengan estimasi nilai subsidi sebesar Rp650 miliar. Potongan ini diberlakukan selama libur sekolah untuk mendukung kelancaran mobilitas masyarakat.

Program ketiga berupa penebalan perlindungan sosial, melalui tambahan bantuan sebesar Rp200 ribu per bulan kepada 18,3 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Kartu Sembako selama dua bulan. Selain itu, disalurkan pula bantuan pangan berupa 10 kilogram beras per bulan.

Selanjutnya, bantuan subsidi upah diberikan kepada 17,3 juta pekerja bergaji di bawah Rp3,5 juta dan 565 ribu guru honorer.

“Penerima akan mendapatkan tambahan penghasilan Rp300 ribu per bulan selama dua bulan,” terang Febrio.

Program terakhir adalah pemberian diskon 50 persen iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) selama enam bulan bagi 2,7 juta pekerja sektor padat karya. Insentif ini berasal dari dana non-APBN sebesar Rp20 miliar.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut bahwa stimulus ini diharapkan dapat meningkatkan konsumsi rumah tangga sebesar 0,5 hingga 0,8 persen.

“Kita berupaya memastikan agar mesin pertumbuhan ekonomi, yakni konsumsi domestik, tidak kehilangan momentum. Dengan menjaga daya beli, sektor riil bisa bergerak lebih cepat,” tegasnya.

Distribusi bantuan akan mengandalkan data dari DTKS, BPJS Ketenagakerjaan, dan Bulog, dengan pengawasan ketat oleh BPKP dan lintas kementerian. Pemerintah menargetkan program ini berjalan efektif selama Juni dan Juli 2025, agar dampaknya terasa langsung pada masyarakat dan menopang kepercayaan terhadap kebijakan fiskal di tengah ketidakpastian global.

Inpres Penanganan Pulau Enggano Bukti Konkret Respon Cepat Pemerintah

BENGKULU — Pemerintah kembali menunjukkan respon cepat dan konkret dalam menyelesaikan persoalan strategis, seperti melalui penerbitan Instruksi Presiden Nomor 12 Tahun 2025 untuk Pulau Enggano.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan bahwa lahirnya Inpres tersebut menjadi bukti yang nyata dari bagaimana gaya kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang responsif dan kolaboratif.

“Kita menyelesaikan Pulau Enggano memang bersama-sama, ya ini boleh kita sebut gaya baru pemerintahan sekarang,” ucapnya.

“Kita coba responsif dan memang seharusnya, menurut kami memang seperti itu,” kata Prasetyo pada Rabu.

Prasetyo juga menjelaskan bahwa persoalan yang ada di tengah masyarakat sering terjadi secara dinamis, sehingga memang diperlukan adanya upaya yang responsif dan cepat dari pemerintah.

Ia menambahkan bahwa komunikasi dengan DPR RI kini menjadi semakin mudah sehingga permasalahan besar sekalipun, seperti salah satunya yakni keterisolasian Pulau Enggano dapat segera diatasi secara bersama.

“Komunikasi dengan DPR RI berjalan sangat lancar, apalagi beberapa pimpinan dewan pernah bertugas langsung di wilayah Enggano, sehingga memahami urgensi penanganan,” jelas Prasetyo

Terlebih, Prasetyo menambahkan bahwa beberapa dari pimpinan DPR RI memang dulunya pernah bertugas di wilayah tersebut.

Sehingga hal itu menjadikan komunikasi lintas sektoral yang terjalin antara pemerintah dengan para anggota dewan semakin lancar.

“Saya dengan pimpinan-pimpinan DPR karena kebetulan juga dulu pernah di tugas di sana,” sambungnya.

“Komunikasi yang baik memungkinkan penyelesaian berbagai persoalan secara cepat dan terkoordinasi,” jelas Prasetyo.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menegaskan pihaknya akan terus memantau bagaimana pelaksanaan Inpres tersebut untuk memastikan eksekusi bisa berjalan dengan cepat dan tepat.

“Kami masih memonitor Pelindo, yang kemudian saat ini sudah bergiat-giatnya untuk mengatasi pendangkalan pelabuhan,” kata Dasco.

Ia juga menyebut bahwa adanya kerja sama dengan pihak lain seperti Pelni dan ASDP membantu mengangkut masyarakat dari tengah laut.

“Di samping itu, tim yang dibentuk juga sedang membuat kajian tentang bagaimana beberapa hal lain yang perlu diperbaiki untuk ke depan, demi kemajuan masyarakat pulau terluar,” tambahnya.

Gubernur Bengkulu Helmi Hasan turut membentuk Tim Koordinasi Penanganan Keadaan Tertentu Pulau Enggano sebagai tindak lanjut Inpres tersebut.

“Semua kementerian yang tercantum dalam Inpres sudah kita libatkan dalam tim ini,” katanya.

“Kita ingin satu bahasa, satu langkah, satu tujuan: menyelamatkan dan membangun Enggano,” tegas Helmi. (*)

Pemerintah Tegaskan Terus Monitoring Pendangkalan Pelabuhan Pulau Enggano

BENGKULU — Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus memantau kondisi pendangkalan Pelabuhan Pulau Enggano guna mengatasi hambatan transportasi dan logistik masyarakat.

Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyatakan bahwa pihaknya akan terus memantau bagaimana pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 12 Tahun 2025 terkait percepatan pembangunan di Pulau Enggano.

“Kami masih memonitor Pelindo, yang kemudian saat ini sudah bergiat-giatnya untuk mengatasi pendangkalan pelabuhan,” kata Dasco.

Ia menambahkan bahwa berbagai pihak, seperti diantaranya Pelni dan ASDP juga telah bekerja sama untuk mengangkut masyarakat setempat menggunakan kapal di tengah laut.

“Dan juga kemudian kerja sama dari Pelni dan ASDP dalam mengangkut masyarakat untuk menjadi kapal yang mengangkut di tengah laut,” lanjutnya.

Dasco menegaskan bahwa DPR RI juga telah membentuk tim guna mengkaji seperti apa perbaikan yang dilakukan oleh pemerintah untuk pulau terluar seperti Enggano.

“Di samping itu, tim yang dibentuk juga sedang membuat kajian tentang bagaimana beberapa hal lain yang perlu diperbaiki untuk ke depan, demi kemajuan masyarakat pulau terluar,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menjelaskan bahwa KP Orca 05 milik KKP telah berhasil mengangkut hingga sebanyak 28 warga Enggano menuju ke Kota Bengkulu.

“Alhamdulillah, kami sudah mendapat laporan dari Nakhoda KP Orca 05 bahwa kapal telah tiba di Kota Bengkulu dengan selamat setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 12 jam dari Enggano,” kata Trenggono dalam keterangannya, Jumat.

Lebih lanjut, Direktur Jenderal PSDKP KKP Pung Nugroho Saksono (Ipunk) menambahkan bahwa keseluruhan penumpang tersebut terdiri dari sebanyak 23 dewasa dan 5 anak-anak.

“Dari 28 penumpang, 26 orang merupakan warga Enggano dan dua orang merupakan perwakilan Muspika sebagai pendamping warga,” kata Ipunk.

Ia juga menjelaskan bahwa para penumpang sejatinya memiliki kebutuhan ekonomi yang mendesak seperti diantaranya yakni membeli sembako, mengurus sekolah anak, dan bertemu keluarga mereka.

Setibanya di perairan Pelabuhan Baai, mereka diangkut ke darat menggunakan speed boat KSOP, TNI AL, Basarnas, dan DKP Bengkulu karena KP Orca 05 belum dapat bersandar akibat pendangkalan.

Ipunk menegaskan KP Orca 05 akan terus siap membantu transportasi warga Enggano hingga permasalahan pelabuhan terselesaikan. (*)

Pemerintah Tegaskan Komitmen Percepat Hilirisasi Baterai dan Transisi Energi

Oleh: Bara Winatha*)

Pemerintah terus menunjukkan keseriusannya dalam mempercepat hilirisasi industri baterai kendaraan listrik (EV) dan mendukung transisi menuju energi bersih. Langkah ini dipandang sebagai strategi jangka panjang dalam menciptakan ketahanan energi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis industri bernilai tambah tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir, hilirisasi sumber daya alam, khususnya nikel sebagai bahan baku utama baterai EV, menjadi fokus utama pembangunan ekonomi nasional.

Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PKS, Meitri Citra Wardani, mengatakan bahwa pembangunan industri baterai EV, seperti yang sedang berlangsung di Karawang, merupakan langkah strategis yang tidak hanya mendukung penguatan ekonomi nasional, tetapi juga mempercepat terwujudnya swasembada energi. Ia menilai proyek ini sebagai cerminan komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan misi Asta Cita, khususnya dalam hal hilirisasi sumber daya alam secara berkelanjutan.

Lebih lanjut, pelibatan aktif warga di sekitar kawasan industri menjadi kunci dalam mendistribusikan dampak positif pembangunan. Proyek industri baterai berpotensi menciptakan ribuan lapangan kerja baru serta mendorong tumbuhnya UMKM lokal sebagai bagian dari efek berantai ekonomi. Pentingnya kolaborasi antara Indonesia sebagai negara pemilik sumber daya mineral dan negara mitra yang menguasai teknologi pengolahan.

Pembangunan industri baterai EV yang diproyeksikan memiliki kapasitas hingga 15 GWh ini diperkirakan dapat menghemat impor bahan bakar minyak (BBM) hingga 300.000 kiloliter per tahun. Angka ini menjadi bukti bahwa kebijakan tersebut sejalan dengan semangat mencapai kemandirian dan swasembada energi di masa depan.

Di sisi lain, pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, mengatakan bahwa hilirisasi yang dilanjutkan dengan industrialisasi akan membawa Indonesia keluar dari ketergantungan pada konsumsi domestik semata. Ia menilai bahwa dengan mengembangkan sektor manufaktur melalui investasi pada industri strategis seperti baterai kendaraan listrik, Indonesia berpeluang menjadi negara maju berbasis industri. Hilirisasi ini akan meningkatkan daya saing industri nasional secara signifikan.

Investasi dalam pembangunan ekosistem industri baterai tidak cukup berhenti pada pembangunan smelter semata. Proses harus berlanjut hingga tahap akhir produksi dan perlu dilengkapi dengan komitmen transfer teknologi agar tenaga kerja lokal dapat ikut berkembang seiring kemajuan industri. Kesepakatan mengenai alih teknologi menjadi penting, terlebih ketika keterampilan tenaga kerja lokal masih dalam proses penguatan. Proyek industri baterai ini memiliki peran strategis dalam mewujudkan target emisi nol bersih (Net Zero Emission/NZE) pada 2060.

Sementara itu, di kawasan Indonesia timur, pembangunan industri baterai juga mulai menunjukkan geliat. Proyek Industri Baterai EV Terintegrasi di Tanjung Buli, Halmahera Timur, dinilai sebagai langkah konkret dalam mengangkat potensi ekonomi wilayah timur Indonesia. Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, mengatakan bahwa pemerintah daerah mendukung penuh agenda hilirisasi mineral yang menjadi prioritas nasional.

Proyek tersebut diharapkan dapat membuka akses baru bagi pembangunan ekonomi di kawasan yang selama ini relatif tertinggal. Ia menyebut bahwa masyarakat adat di wilayah tersebut telah menunjukkan komitmen tinggi dalam mendukung keberhasilan proyek. Sedikitnya 11 suku adat menyatakan kesiapan untuk berkontribusi terhadap pembangunan kawasan berbasis industrialisasi ini.

Lebih jauh, Sherly menekankan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari teknologi atau infrastruktur, melainkan dari kesungguhan semua pihak untuk memastikan bahwa semua lapisan masyarakat memperoleh manfaat yang adil. Ia menyebut proyek ini sebagai simbol kebangkitan ekonomi Indonesia timur dan wujud nyata dari pembangunan berkeadilan.

Proyek di Halmahera Timur mencakup seluruh ekosistem industri baterai, mulai dari pertambangan, pengolahan bahan baku, hingga fasilitas daur ulang dengan pendekatan ekonomi sirkular. Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), Achmad Ardianto, menyatakan bahwa perusahaan berkomitmen melibatkan pemangku kepentingan lokal dalam setiap tahapan pembangunan.

Diperkirakan lebih dari 8.000 tenaga kerja akan terserap secara langsung dalam proyek tersebut. Selain itu, ANTAM juga merancang program pelatihan untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia lokal sebagai bagian dari strategi pengembangan berkelanjutan.

Pemerintah pusat melalui Kementerian BUMN turut memperkuat langkah ini dengan memberikan dukungan konkret terhadap pembangunan ekosistem industri baterai kendaraan listrik terintegrasi. Proyek yang dikembangkan di bawah koordinasi holding Danantara mencakup kerja sama strategis antara BUMN, perusahaan tambang nasional, dan konsorsium global seperti CATL, Brunp, dan Lygend.

Nilai investasi mencapai USD 5,9 miliar, menjadikan proyek ini sebagai salah satu proyek strategis nasional (PSN) terbesar di sektor energi terbarukan. Di Karawang, pembangunan pabrik baterai dengan kapasitas awal 6,9 GWh akan dilanjutkan hingga mencapai 15 GWh dalam lima tahun mendatang, dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2026.

Proyek ini tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga diarahkan untuk melayani pasar ekspor. Dengan penguatan rantai pasok industri dari hulu ke hilir, Indonesia menempatkan diri sebagai pemain penting dalam pasar baterai kendaraan listrik internasional.

Percepatan hilirisasi baterai dan transisi energi menjadi bagian dari strategi besar menuju kemandirian energi nasional dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat lokal perlu terus memperkuat kolaborasi demi memastikan manfaat pembangunan dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

*)Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan

Pemerintah Percepat Hilirisasi Baterai Sebagai Fondasi Ekonomi Masa Depan

Oleh Dania Alam Lestari )*

Pemerintah Indonesia semakin menunjukkan keseriusannya dalam membangun fondasi ekonomi masa depan melalui percepatan hilirisasi industri baterai kendaraan listrik. Langkah strategis ini bukan hanya menjadi simbol transformasi sektor energi, melainkan juga representasi nyata dari tekad bangsa untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada sumber energi fosil. Proyek ekosistem industri baterai kendaraan listrik terintegrasi yang baru saja dimulai di Artha Industrial Hills (AIH), Karawang, menjadi tonggak penting yang menandai era baru dalam pembangunan industri berbasis energi bersih dan berkelanjutan.

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, hadir langsung dalam peletakan batu pertama proyek konsorsium ANTAM-IBC-CBL, menunjukkan bahwa hilirisasi baterai bukan sekadar kebijakan teknokratis, melainkan bagian dari visi strategis nasional. Dengan menggandeng mitra global dari Tiongkok, pemerintah menunjukkan keterbukaan terhadap kolaborasi internasional yang saling menguntungkan. Ini juga sekaligus menegaskan bahwa Indonesia siap menjadi bagian penting dalam rantai pasok global kendaraan listrik, dengan menyediakan bahan baku strategis sekaligus memproduksi komponen bernilai tambah tinggi di dalam negeri.

Proyek ini merupakan yang terbesar di Asia Tenggara dan menjadi bentuk konkret dari pengembangan ekosistem industri baterai terintegrasi dari hulu ke hilir. Mulai dari penambangan nikel, pengolahan melalui smelter, pembuatan precursor dan katoda, hingga produksi sel baterai dan teknologi rotary kiln electric furnace (RKEF), semuanya dilakukan secara terpadu. Ini adalah bentuk hilirisasi sesungguhnya, di mana sumber daya alam tidak hanya diekspor mentah, tetapi diproses dan dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi yang mendukung kemandirian ekonomi nasional.

Dalam konteks transisi energi, proyek ini juga menjadi jawaban atas tantangan global dalam mengurangi emisi karbon. Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia ingin menjadi bagian dari solusi global atas krisis iklim, dengan mendorong energi terbarukan yang ramah lingkungan. Tidak hanya itu, proyek ini juga diproyeksikan akan menciptakan ribuan lapangan kerja hijau, yang tidak hanya menumbuhkan ekonomi lokal, tetapi juga membekali masyarakat dengan keterampilan baru yang relevan di era transisi energi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, turut menegaskan bahwa proyek ini menjadi bukti keteguhan Indonesia untuk beralih ke energi berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa dalam jangka menengah, pemerintah menargetkan pengembangan kapasitas hingga 40 GWh, sejalan dengan meningkatnya permintaan pasar untuk baterai, baik untuk kendaraan listrik maupun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Dengan potensi tersebut, Indonesia bukan hanya akan menjadi pusat produksi, tetapi juga pemain utama dalam pasar energi global.

Hilirisasi baterai juga memiliki dampak ekonomi yang luas. Dengan memanfaatkan mineral strategis seperti nikel secara maksimal, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor, memperkuat industri dalam negeri, serta meningkatkan nilai tambah ekspor. Hal ini tentu akan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi daerah, terutama di kawasan yang menjadi lokasi tambang dan fasilitas industri.

John Anis, Direktur Utama Pertamina NRE, juga menyatakan bahwa proyek ini merupakan bagian penting dari roadmap energi bersih nasional. Ia menekankan bahwa pengembangan baterai merupakan motor penggerak utama dalam transformasi energi di Indonesia. Sinergi antara BUMN seperti Pertamina NRE dengan mitra global memperlihatkan bahwa kolaborasi adalah kunci dalam mewujudkan masa depan energi yang berkelanjutan. Menurutnya, integrasi antar sektor dan lintas teknologi akan menciptakan sistem energi hijau yang efisien dan kompetitif.

Lebih jauh, langkah ini sejalan dengan agenda besar pemerintah untuk memperkuat daya saing industri nasional dan meningkatkan keberlanjutan pembangunan. Pemerintah tidak hanya memfokuskan diri pada pembangunan fisik dan teknologi, tetapi juga pada pembangunan sumber daya manusia yang akan mengelola dan mengembangkan ekosistem ini. Pendidikan vokasi, pelatihan tenaga kerja, serta peningkatan kemampuan litbang menjadi bagian integral dari strategi nasional hilirisasi baterai.

Keberhasilan proyek ini juga akan memberi pesan kuat kepada dunia bahwa Indonesia bukan hanya negara penghasil sumber daya alam, tetapi juga mampu menjadi produsen teknologi dan inovasi. Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo terus menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur hijau yang inklusif dan kompetitif, sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan manfaat langsung dari transformasi ini.

Pembangunan ekosistem industri baterai kendaraan listrik yang terintegrasi menjadi bukti nyata bahwa hilirisasi bukan sekadar jargon politik, tetapi strategi ekonomi jangka panjang yang dibangun dengan perencanaan matang, dukungan kebijakan yang kuat, dan komitmen lintas sektor. Ketika dunia bergerak menuju era kendaraan tanpa emisi dan energi bersih, Indonesia telah mengambil posisi strategis untuk menjadi pemain kunci dalam perubahan tersebut.

Dengan fondasi yang terus diperkuat melalui hilirisasi baterai, Indonesia tidak hanya sedang membangun industri baru, tetapi juga sedang merancang masa depan ekonominya. Masa depan yang tidak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah, tetapi pada inovasi, teknologi, dan keberlanjutan. Masa depan di mana energi bersih menjadi pilar utama kemajuan bangsa. Pemerintah telah menyalakan mesin transformasi, dan kini saatnya seluruh elemen bangsa bersatu padu untuk memastikan mesin ini terus melaju menuju kemandirian dan kemakmuran yang berkeadilan.

)* penulis merupakan pengamat kebijakan energi

Hilirisasi Baterai Wujudkan Energi Murah dan Berkelanjutan

Jakarta – Hilirisasi baterai menjadi tulang punggung dalam mewujudkan energi murah dan berkelanjutan di Indonesia. Pemerintah dan pelaku industri bersinergi membentuk ekosistem baterai dari hulu ke hilir untuk mendukung transisi energi bersih, menurunkan biaya, serta memperkuat ketahanan energi nasional.

Wakil Ketua Komite Hilirisasi Mineral & Batubara, Kadin, Djoko Widayatno menjelaskan hilirisasi nikel merupakan fondasi utama untuk pengembangan industri baterai EV. Ia menambahkan bahwa nilai tambah baterai sel EV bisa berlipat jauh dibanding bahan mentah – hingga 642 kali nilai bijih.

“Indonesia sudah mencetak capaian strategis dalam hilirisasi nikel. Capaian strategis Indonesia dalam hilirisasi nikel akan semakin kokoh apabila diperkuat melalui tata kelola yang baik serta pengembangan ekosistem industri yang menyeluruh,” katanya.

Dengan membangun industri baterai dari ekstraksi bahan mentah, pemurnian, manufaktur sel baterai, hingga daur ulang, Indonesia tak hanya mengurangi ketergantungan pada energi fosil, tetapi juga menekan biaya energi dalam jangka panjang. Biaya produksi kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi dapat ditekan secara signifikan jika baterai diproduksi secara lokal. Hal ini berimplikasi pada peningkatan akses energi bersih yang terjangkau, terutama di wilayah-wilayah terpencil yang belum tersentuh jaringan listrik konvensional.

Direktur Utama PT Pertamina NRE, John Anis menegaskan bahwa proyek ini adalah bagian penting dari roadmap energi bersih nasional.Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi ini menunjukkan sinergi kuat antara BUMN dan mitra global demi masa depan yang berkelanjutan.

“Kami percaya bahwa pengembangan baterai ini akan menjadi motor penggerak transformasi energi di Indonesia, Pertamina NRE akan terus mengembangkan potensi energi hijau dan memastikan integrasi antarproyek agar transformasi energi dapat berjalan maksimal” ujar John Anis.

Hilirisasi baterai juga membuka peluang besar dalam penciptaan lapangan kerja berkualitas dan pengembangan riset teknologi tinggi. Kolaborasi antara pemerintah, industri, dan perguruan tinggi sangat dibutuhkan untuk mendorong inovasi dan membangun sumber daya manusia unggul di bidang teknologi baterai dan kendaraan listrik. Dengan berkembangnya ekosistem ini, Indonesia diharapkan dapat naik kelas dari sekadar eksportir bahan mentah menjadi produsen teknologi energi bersih yang diperhitungkan secara global.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Fadjar Djoko Santoso, menuturkan bahwa Pertamina mendukung langkah bisnis Pertamina NRE dalam energi transisi ini. Hal tersebut sejalan dengan upaya Pertamina untuk mendorong tercapainya bauran energi serta target net zero emission Pemerintah, selain guna mewujudkan swasembada energi nasional. Ekosistem energi baterai diharapkan bisa mempercepat pertumbuhan energi transisi di Indonesia.

“Pertamina mendukung peran Pertamina NRE untuk mengembangkan ekosistem energi baru terbarukan, termasuk mendorong sinergi dengan berbagai pihak sehingga upaya ini bisa terwujud dengan lebih cepat,” jelas Fadjar.

Lewat kombinasi strategi kebijakan, insentif, dan pengelolaan yang berkelanjutan, hilirisasi baterai bukan hanya menjadi motor penggerak energi murah, tetapi juga jembatan menuju Indonesia sebagai kekuatan utama dalam revolusi energi hijau global.

Pemerintah Genjot Hilirisasi Industri Baterai EV, Dorong Swasembada Energi dan Pertumbuhan Ekonomi

Jakarta – Pemerintah terus menunjukkan keseriusannya dalam mempercepat hilirisasi industri baterai kendaraan listrik (EV) sebagai bagian dari upaya transisi menuju energi bersih dan pertumbuhan ekonomi berbasis industri bernilai tambah. Proyek-proyek besar yang tengah digarap, seperti di Karawang dan Halmahera Timur, menjadi simbol komitmen pemerintah untuk menciptakan ketahanan energi nasional dan mempercepat pencapaian target emisi nol bersih (Net Zero Emission/NZE) pada 2060.

Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi PKS, Meitri Citra Wardani, menyebut bahwa pembangunan industri baterai EV merupakan langkah strategis. “Proyek seperti di Karawang bukan hanya penguatan ekonomi nasional, tapi juga upaya mewujudkan swasembada energi. Ini bagian dari misi Asta Cita Presiden Prabowo dalam hilirisasi sumber daya alam secara berkelanjutan,” ujarnya.

Pembangunan industri ini juga diperkirakan menciptakan efek berganda terhadap perekonomian lokal. Selain membuka ribuan lapangan kerja, UMKM di sekitar kawasan industri pun terdorong tumbuh sebagai bagian dari ekosistem pendukung.

Proyek industri baterai EV di Karawang yang diproyeksikan memiliki kapasitas hingga 15 GWh ini diprediksi bisa menghemat impor BBM hingga 300.000 kiloliter per tahun. Hal ini menunjukkan keselarasan antara kebijakan hilirisasi dan tujuan jangka panjang menuju kemandirian energi.

Pengamat ekonomi energi UGM, Fahmy Radhi, menilai bahwa hilirisasi yang dilanjutkan dengan industrialisasi merupakan jalan keluar dari ketergantungan pada konsumsi domestik. “Dengan investasi di sektor strategis seperti baterai EV, Indonesia punya peluang menjadi negara industri yang maju,” katanya. Ia juga menekankan pentingnya transfer teknologi agar tenaga kerja lokal dapat berkembang bersama kemajuan industri.

Di Halmahera Timur, Maluku Utara, proyek Industri Baterai EV Terintegrasi juga mulai berjalan. Gubernur Sherly Tjoanda Laos menyampaikan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap proyek yang dinilainya mampu menjadi motor penggerak ekonomi kawasan timur. “Pembangunan tidak hanya soal teknologi, tapi soal keadilan. Kami ingin masyarakat, termasuk 11 suku adat di wilayah ini, merasakan manfaat nyata,” ujarnya.

Proyek yang berada di bawah koordinasi holding Danantara ini juga melibatkan konsorsium global seperti CATL, Brunp, dan Lygend, dengan nilai investasi mencapai USD 5,9 miliar. Target operasional di Karawang diproyeksikan dimulai pada 2026 dengan orientasi pasar domestik dan ekspor.

Langkah ini menegaskan bahwa percepatan hilirisasi baterai EV bukan hanya soal investasi, tetapi bagian dari strategi besar menuju kemandirian energi dan pembangunan berkelanjutan yang inklusif.

Tokoh OPM Enos Tipagau Tewas dalam Operasi di Intan Jaya

Intan Jaya – Salah satu tokoh penting Organisasi Papua Merdeka (OPM), Enos Tipagau, tewas dalam kontak tembak yang terjadi di Kampung Baitapa, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, Sabtu (5/7).

Operasi penegakan hukum ini dilaksanakan oleh Satgas Operasi Damai Cartenz sekitar pukul 07.14 WIT setelah dilakukan penyelidikan intensif terhadap keberadaan Enos.

Kepala Operasi Damai Cartenz, Brigjen Pol Faizal Ramadhani, membenarkan bahwa kontak senjata terjadi sebagai hasil dari upaya penindakan terhadap target yang sudah lama dipantau.

“Penindakan dilakukan pukul 07.14 WIT. Dalam kontak tembak tersebut, Enos Tipagau tewas,” ujar Brigjen Pol Faizal dalam keterangannya.

Enos Tipagau diketahui memiliki posisi strategis dalam struktur OPM wilayah Intan Jaya. Ia menjabat sebagai komandan operasi Kodap VIII yang aktif di wilayah Dusun Tigindoga dan sekitarnya, termasuk Kampung Bilogai, Baitapa, hingga Jalai. Ia juga berafiliasi langsung dengan kelompok bersenjata yang dipimpin Undius Kogoya, salah satu tokoh penting jaringan OPM di Papua.

Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz, Kombes Pol Yusuf Sutejo, menjelaskan bahwa Enos bukan hanya anggota aktif, tetapi juga tokoh lapangan yang memiliki peran dalam berbagai aksi kekerasan di wilayah tersebut.

“Ini bagian dari upaya penegakan hukum terhadap kelompok bersenjata yang kerap melakukan aksi teror dan kekerasan di Intan Jaya,” ujar Yusuf.

Enos sebelumnya merupakan narapidana kasus pidana umum yang dijatuhi hukuman tiga tahun penjara. Namun, ia berhasil melarikan diri dari Lapas Kelas IIB Nabire dan kemudian kembali bergabung dengan kelompok bersenjata di wilayah pegunungan Papua. Sejak saat itu, namanya masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) Kementerian Hukum dan HAM karena keterlibatannya dalam sejumlah kejahatan bersenjata.

Enos tercatat terlibat dalam berbagai aksi kekerasan sejak tahun 2021. Ia pernah melakukan penembakan terhadap warga sipil, terlibat dalam kontak senjata yang menewaskan prajurit TNI, serta memimpin serangan yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dari kalangan anak-anak.

Salah satu insiden yang melibatkan dirinya adalah kontak tembak di Kampung Mamba yang menewaskan Prada Ginanjar, serta serangan pada Oktober 2021 yang menewaskan balita dan melukai warga sipil serta anggota TNI. Ia juga diketahui memerintahkan pembakaran kios dan mobil ambulans milik Bandara Bilorai, serta aktif dalam pengiriman senjata dan rencana penyerangan lainnya.

Pihak kepolisian menegaskan bahwa operasi ini merupakan bagian dari strategi penegakan hukum untuk menumpas kekerasan bersenjata yang masih terjadi di Papua, khususnya di wilayah Intan Jaya.

Penindakan terhadap tokoh seperti Enos Tipagau menjadi langkah penting dalam melemahkan jaringan OPM yang selama ini kerap menebar ancaman terhadap keamanan masyarakat.

Penegakan Hukum Tegas sebagai Pilar Stabilitas Keamanan Papua Tengah dan Pegunungan

Oleh : Yohana Itlay )*

Operasi penegakan hukum di Papua terus menunjukkan hasil konkret dalam upaya menjaga stabilitas wilayah dan melindungi masyarakat sipil dari ancaman kelompok bersenjata. Dalam peristiwa terbaru, tim berhasil menetralisir ancaman yang berasal dari seorang tokoh penting dalam jaringan kelompok kriminal bersenjata (KKB), Enos Tipagau, melalui tindakan terukur yang dilakukan di Kampung Baitapa, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, pada Sabtu, 5 Juli 2025.

Kepala Operasi Damai Cartenz, Brigjend Pol Faizal Ramadhani, menyampaikan bahwa tindakan ini merupakan hasil dari rangkaian penyelidikan panjang terhadap keberadaan dan aktivitas Enos Tipagau. Ia merupakan narapidana pelarian yang diketahui kembali bergabung dengan jaringan KKB usai melarikan diri dari Lapas Kelas IIB Nabire. Langkah tegas yang diambil oleh aparat keamanan ini menjadi penanda kuat bahwa hukum tidak memberikan ruang bagi kelompok yang secara terang-terangan melakukan kekerasan terhadap warga dan aparat.

Kehadiran dan ketegasan Satgas Ops Damai Cartenz bukan hanya penting dalam konteks keamanan fisik, tetapi juga memberi rasa keadilan bagi masyarakat yang menjadi korban aksi kekerasan kelompok bersenjata. Enos Tipagau tercatat memiliki keterlibatan dalam sejumlah tindakan brutal, mulai dari penembakan terhadap warga sipil, kontak tembak yang menewaskan prajurit TNI, hingga pembakaran fasilitas umum seperti mobil ambulans dan kios masyarakat. Ia juga berperan dalam mendistribusikan senjata dan memobilisasi serangan bersama kelompok yang dipimpin Undius Kogoya.

Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz, Kombes Pol Yusuf Sutejo, menegaskan bahwa tindakan ini merupakan bagian dari proses penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan bersenjata yang selama ini menciptakan teror dan ketidaknyamanan bagi masyarakat. Komitmen untuk menjaga keamanan akan terus dijalankan melalui patroli intensif dan penyelidikan aktif di wilayah-wilayah rawan. Hal ini tidak saja mengedepankan pendekatan represif, tetapi juga menunjukkan keseriusan negara dalam menegakkan keadilan dan memberi perlindungan bagi warga negara di wilayah paling terluar sekalipun.

Selang sehari sebelum baku tembak di Intan Jaya, peristiwa mengenaskan juga terjadi di Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Seorang pegawai honorer Pemkab Yahukimo, Joy Jonathan Boroh, ditemukan tewas dengan luka parah akibat kekerasan senjata tajam. Peristiwa ini memunculkan kembali urgensi akan pentingnya kehadiran negara yang kuat di tengah masyarakat, terutama dalam menghadapi pola kekerasan yang disinyalir dilakukan oleh jaringan KKB pimpinan Elkius Kobak.

Kepala Operasi Damai Cartenz, Brigadir Jenderal Polisi Faizal Ramadhani, menyatakan bahwa peristiwa pembunuhan ini telah memicu langkah cepat aparat keamanan untuk melakukan penyelidikan dan menindaklanjuti dugaan keterlibatan kelompok separatis. Pernyataan dari akun media sosial milik Sebby Sambom yang mengklaim bahwa korban adalah personel militer justru menunjukkan adanya manipulasi informasi publik yang dilakukan untuk mengaburkan fakta dan menggiring opini.

Sementara itu, hasil identifikasi menyebut bahwa korban merupakan warga sipil yang tidak memiliki keterkaitan dengan institusi keamanan. Hal ini semakin mempertegas bahwa tindakan kekerasan oleh KKB bukan merupakan bagian dari perjuangan ideologis, melainkan rangkaian aksi teror yang menyasar siapa saja tanpa pandang bulu. Dalam konteks ini, penguatan informasi faktual menjadi bagian penting dalam meredam propaganda kelompok separatis yang kerap memelintir fakta demi memperoleh simpati.

Tindakan cepat Satgas Ops Damai Cartenz dengan menerjunkan tim investigasi ke lokasi kejadian, disertai pengumpulan barang bukti dan pemeriksaan saksi, menegaskan bahwa negara hadir tidak hanya dalam peristiwa besar, tetapi juga dalam tragedi yang menimpa satu nyawa warga. Respons ini menunjukkan bahwa tak ada peristiwa kekerasan yang dianggap remeh, terlebih jika menyangkut keselamatan masyarakat sipil.

Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz, Kombes Pol Yusuf Sutejo, menyampaikan imbauan penting kepada masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu tidak benar yang disebarkan melalui media sosial. Keterlibatan masyarakat dalam menjaga ketertiban dan menyampaikan informasi kepada aparat menjadi kunci penting dalam membangun ketahanan sosial di tengah ancaman disinformasi dan agitasi.

Penanganan dua peristiwa besar dalam waktu berdekatan ini memperlihatkan bahwa Satgas Ops Damai Cartenz bekerja secara terstruktur, strategis, dan adaptif. Penegakan hukum dijalankan tanpa kompromi, tetapi tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip profesionalisme dalam perlindungan terhadap hak sipil. Upaya ini juga mencerminkan kehadiran negara yang tidak hanya memburu pelaku kejahatan, tetapi juga menjaga moralitas publik dari upaya pembenaran kekerasan melalui narasi separatis.

Ke depan, integrasi antara penegakan hukum, perlindungan sipil, dan penguatan komunikasi publik menjadi fondasi penting dalam menyelesaikan persoalan keamanan di Papua secara berkelanjutan. Stabilitas wilayah bukan hanya dibangun melalui senjata dan operasi militer, melainkan juga lewat ketegasan hukum dan kepercayaan masyarakat terhadap negara.

Dua kasus ini menjadi pengingat bahwa keamanan nasional tidak boleh dikompromikan. Negara memiliki tanggung jawab mutlak untuk melindungi setiap jengkal tanah air, dan setiap warga negara berhak mendapatkan rasa aman tanpa intimidasi dari kelompok bersenjata. Maka dari itu, setiap tindakan penegakan hukum yang dilakukan oleh Satgas Ops Damai Cartenz layak diapresiasi sebagai langkah konkret menjaga kedaulatan dan ketenteraman hidup bersama.

)* penulis merupakan pemerhati pembangunan Papua

Program Apotek Desa Solusi Persoalan Pemerataan Nakes di Indonesia

Program Apotek Desa Solusi Persoalan Pemerataan Nakes di Indonesia

Oleh: Irfan Nurmaji)*
Program Apotek Desa kini tengah berjalan secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia sebagai langkah strategis pemerintah dalam mendekatkan layanan kesehatan ke masyarakat desa. Melalui pendekatan yang menggabungkan layanan farmasi, edukasi kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi desa, program ini telah menjadi titik terang dalam menjawab tantangan pemerataan tenaga kesehatan (nakes).

Melalui Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, program Apotek Desa dimandatkan sebagai bagian integral dari transformasi layanan publik di wilayah pedesaan. Kebijakan ini sekaligus menjadi pengakuan bahwa layanan farmasi harus menjadi bagian dari hak dasar masyarakat yang tidak boleh terpusat hanya di kota.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengatakan sebanyak 30.000 pos kesehatan desa (poskesdes) dan 20.000 puskesmas pembantu (pustu) akan diintegrasikan ke dalam koperasi desa. Artinya, sekitar 50.000 desa berpotensi memiliki akses terhadap layanan kesehatan terpadu. Integrasi ini menjadi fondasi penting bagi pemerataan layanan nakes dan penyediaan obat-obatan dasar secara lebih efisien dan inklusif.

Tak hanya menjadi tempat distribusi obat, klinik dan apotek desa juga akan menyediakan layanan skrining kesehatan, vaksinasi, edukasi kesehatan masyarakat, pengobatan terbatas, serta tes laboratorium cepat. Layanan ini dirancang untuk merespons kebutuhan dasar warga desa yang sebelumnya harus menempuh jarak jauh untuk sekadar memperoleh layanan serupa.

Program Apotek Desa juga akan mendistribusikan obat-obatan program nasional seperti HIV, TB, dan malaria, serta obat resep dokter, obat bebas, herbal, suplemen, dan alat kesehatan dasar. Konsep layanan menyeluruh ini bertujuan memastikan masyarakat desa memperoleh akses kesehatan yang setara tanpa harus mengorbankan waktu dan biaya yang besar.

Langkah ini merupakan refleksi kebijakan strategis pasca pandemi Covid-19, di mana keterbatasan jangkauan infrastruktur kesehatan terbukti menjadi titik lemah utama dalam merespons krisis. Pemerintah belajar dari pengalaman tersebut dan kini mendorong agar layanan kesehatan hadir di garda terdepan, yakni di desa-desa.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan optimalisasi sumber daya manusia yang sudah tersedia menjadi kunci. Pandangan yang disampaikan menekankan bahwa pemerataan tidak harus selalu dilakukan dengan merekrut nakes baru, melainkan dengan mengombinasikan tenaga kesehatan yang sudah ada secara efisien. Perawat, mantri, dan tenaga kefarmasian dapat bekerja sama dalam sistem terpadu, sehingga apotek desa benar-benar fungsional dan melayani dengan baik.

Apotek Desa tidak berjalan sendiri, tetapi menjadi bagian dari kerangka besar koperasi desa yang mendorong sinergi antara kesehatan dan ekonomi. Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, program ini mendapat perhatian serius karena mampu menjawab dua persoalan strategis sekaligus peningkatan akses layanan kesehatan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.

Dengan mendekatkan akses farmasi ke masyarakat, program ini turut membantu mengurangi beban rumah sakit dan puskesmas di tingkat kecamatan. Masyarakat tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan obat atau pemeriksaan dasar, karena semuanya dapat diakses di lingkungan mereka sendiri.

Skema koperasi kesehatan ini memungkinkan partisipasi aktif masyarakat. Pendekatan yang digunakan menjadikan masyarakat tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai bagian dari pengelolaan layanan kesehatan itu sendiri. Hal ini memperkuat rasa memiliki terhadap fasilitas kesehatan di desa, sekaligus menjamin keberlanjutan program jangka panjang.

Instruksi Presiden yang menjadi dasar hukum program ini mewajibkan pembentukan Apotek Desa di sekitar 80.000 desa dan kelurahan. Tantangan yang dihadapi tentu besar, namun potensi yang dapat diraih juga sangat menjanjikan jika implementasi dilakukan secara konsisten dan terkoordinasi antar lembaga.

Pemerintah juga mengedepankan prinsip efisiensi dengan memanfaatkan 54.000 fasilitas layanan yang sudah ada. Langkah ini memungkinkan alokasi anggaran yang lebih hemat namun tetap berdampak luas. Pendekatan ini memperlihatkan keberanian pemerintah untuk berinovasi tanpa harus membangun sistem dari awal.

Apotek Desa bukan hanya tempat menebus obat. Program ini menjadi simbol hadirnya negara di tengah masyarakat. Ketika masyarakat desa merasa dilayani dengan layak, kepercayaan terhadap pemerintah pun tumbuh dan memperkuat stabilitas sosial secara keseluruhan.

Keberadaan Apotek Desa membuka peluang kerja bagi tenaga kefarmasian lulusan baru. Peluang karier di luar kota besar menjadi lebih terbuka, yang pada gilirannya memperbaiki distribusi tenaga kesehatan secara nasional.

Dari sisi pendidikan masyarakat, program ini berperan dalam meningkatkan literasi kesehatan. Kegiatan edukasi yang dilakukan secara rutin di klinik desa membantu masyarakat memahami pentingnya pencegahan penyakit dan penggunaan obat yang bijak.

Program ini sejalan dengan arah pembangunan nasional yang mengedepankan keseimbangan antar wilayah. Pemerataan layanan kesehatan melalui Apotek Desa adalah strategi jangka panjang yang tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga terhadap kualitas pembangunan manusia secara menyeluruh.

Melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis komunitas, potensi besar Apotek Desa untuk menjadi solusi atas ketimpangan distribusi tenaga kesehatan kian terbuka lebar. Pemerintah telah membuka jalan, dan kini semua pihak diharapkan turut berperan dalam menyukseskan implementasinya.

Program Apotek Desa akan menjadi bukti bahwa transformasi layanan kesehatan tidak harus mahal dan rumit. Dengan keberpihakan yang jelas, keberanian untuk bertindak, dan keterlibatan semua elemen bangsa, program ini bisa menjadi lompatan besar dalam sistem pelayanan kesehatan nasional.

)* Penulis adalah mahasiswa tinggal Bandung