Oleh : Rivka Mayangsari*)
Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) terus menggencarkan upaya pemberantasan narkoba secara komprehensif, terstruktur, dan masif. Dalam momentum tahun percepatan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN), BNN RI mengimplementasikan empat strategi utama sebagai bentuk perang melawan narkoba demi menyelamatkan masa depan generasi bangsa.
Pendekatan pertama yang diutamakan adalah soft power approach, yaitu strategi pencegahan yang fokus pada peningkatan daya tangkal masyarakat terhadap ancaman narkoba, khususnya kalangan muda. Melalui strategi ini, program edukasi, diseminasi informasi, dan advokasi gencar dilakukan. Pemerintah secara aktif memperluas jangkauan rehabilitasi yang mudah diakses dan diterima masyarakat guna membantu para penyalah guna narkoba keluar dari jerat kecanduan.
Sebagai hasil konkret, ribuan program berbasis masyarakat telah dijalankan secara nasional. Lebih dari seribu Desa Bersinar (Bersih Narkoba) telah dibentuk di berbagai pelosok negeri, menjadi pusat kegiatan pencegahan, pemberdayaan masyarakat, dan rehabilitasi. Selain itu, gerakan Sekolah Bersinar menyasar ribuan satuan pendidikan dari tingkat dasar hingga menengah, sementara ratusan perguruan tinggi turut menjadi bagian dari gerakan Kampus Bersinar. Strategi ini bahkan merambah ke dalam Lapas Bersinar dan penguatan ketahanan di 101 kabupaten/kota yang telah diklasifikasikan sebagai wilayah tanggap narkoba.
Dalam penguatan kapasitas sumber daya manusia di bidang rehabilitasi, program pelatihan teknis dan sertifikasi terus ditingkatkan. Lebih dari seribu individu telah mengikuti pelatihan kompetensi teknis, sementara ratusan lainnya menerima sertifikasi sebagai konselor adiksi. Selain itu, ribuan petugas pemulihan diberi pelatihan untuk memastikan mutu layanan tetap tinggi. Pelayanan Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM) juga telah melahirkan hampir 300 unit rehabilitasi di tingkat lokal, yang tersebar di 34 provinsi dan 173 kabupaten/kota.
Strategi kedua adalah hard power approach, yakni pendekatan penegakan hukum secara tegas terhadap sindikat jaringan narkotika. Dalam kurun waktu 2021 hingga pertengahan 2022, lebih dari 55 ribu kasus tindak pidana narkotika berhasil diungkap oleh aparat. Penindakan ini mencakup penyitaan ratusan ton ganja, puluhan hektare ladang ganja, ribuan kilogram sabu, ratusan ribu butir ekstasi, serta narkotika sintetis jenis gorilla. Tak hanya itu, pemberantasan jaringan narkoba juga disertai dengan penindakan terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dengan total nilai aset sitaan mencapai lebih dari Rp123 miliar.
Data ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak sekadar menargetkan pelaku lapangan, namun juga menyasar jantung keuangan sindikat yang selama ini menjadi tulang punggung peredaran narkoba di Indonesia. Pendekatan represif ini dijalankan secara presisi dan berkelanjutan untuk memutus rantai suplai dari hulu ke hilir.
Selanjutnya, strategi smart power approach menjadi langkah inovatif di tengah era digital. Pemerintah mengintegrasikan teknologi informasi untuk memperkuat tata kelola dan sistem administrasi penanganan narkoba. Sistem e-mindik dikembangkan sebagai alat digitalisasi administrasi penyidikan yang bertujuan meningkatkan transparansi, efisiensi, dan akuntabilitas di tingkat kelembagaan.
Tak hanya itu, sistem layanan terpadu BOSS (BNN One Stop Service) turut diluncurkan untuk memudahkan akses publik terhadap berbagai layanan BNN, termasuk layanan medis berbasis aplikasi e-medical dan layanan daring dalam urusan perizinan prekursor nonfarmasi. Pendekatan ini menjadi bagian penting dari transformasi digital dalam penanggulangan narkotika nasional, yang semakin mempercepat koordinasi lintas sektor.
Strategi terakhir yang tak kalah penting adalah cooperation, atau kerja sama lintas sektor, baik nasional maupun internasional. Menyadari bahwa kejahatan narkotika bersifat lintas negara atau transnational crime, pemerintah Indonesia aktif memperluas jaringan kolaborasi. Terjalin ratusan nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama dengan instansi pemerintahan serta unsur masyarakat.
Pada level internasional, Indonesia mempererat koordinasi dengan 24 negara serta organisasi mitra luar negeri dalam mengantisipasi peredaran narkotika jenis baru, termasuk kokain yang mulai mengancam dari jalur Amerika Latin. Pendekatan multilateral ini membuktikan bahwa Indonesia tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari komunitas global yang berkomitmen melawan bahaya narkoba secara bersama-sama.
Kekuatan dari strategi cooperation ini terletak pada kemampuannya membangun sinergi. Pemerintah mendorong integrasi kebijakan dan program antara BNN, lembaga penegak hukum, kementerian/lembaga terkait, hingga kalangan swasta dan masyarakat sipil. Semua pihak diajak bersatu melindungi generasi muda dari bahaya narkoba yang menggerogoti masa depan bangsa.
Melalui kombinasi pendekatan lunak, keras, cerdas, dan kolaboratif, pemerintah Indonesia menunjukkan keseriusan tinggi dalam memberantas narkoba dari berbagai sisi. Strategi empat kekuatan ini bukan sekadar jargon, melainkan kerja nyata yang diimplementasikan dengan data, aksi, dan inovasi.
Gerakan ini menjadi tonggak penting dalam upaya menyelamatkan masa depan Indonesia dari ancaman narkotika. Dalam jangka panjang, keberhasilan pemberantasan narkoba tidak hanya diukur dari jumlah kasus yang diungkap, tetapi dari semakin kuatnya ketahanan sosial masyarakat terhadap pengaruh destruktif zat terlarang tersebut. Pemerintah berkomitmen menjadikan Indonesia sebagai negara yang berdaulat, sehat, dan terbebas dari bahaya narkotika demi kejayaan generasi emas 2045.
)* Pemerhati masalah sosial
Oleh : Rahayu Kirani )*
Pemerintah Indonesia terus menunjukkan komitmennya dalam mempercepat pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan melalui berbagai proyek strategis. Salah satu langkah nyata dalam mendukung agenda pembangunan nasional adalah melalui penguatan kolaborasi dengan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia), Indonesia Investment Authority (INA), serta berbagai mitra swasta dan sektor perbankan. Kolaborasi ini tidak hanya menegaskan pentingnya sinergi antar lembaga dan sektor, tetapi juga menjadi pijakan kuat dalam mewujudkan ketahanan industri nasional dan kesejahteraan masyarakat.
Danantara, INA, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk menandatangani nota kesepahaman untuk pembangunan pabrik kimia Klor Alkali – Etilen Diklorida (CA-EDC), sebuah langkah besar dalam penguatan industri hilir nasional. Proyek ini merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai investasi mencapai 800 juta dollar AS atau sekitar Rp 13,03 triliun. Fasilitas ini dirancang untuk memproduksi 400.000 ton soda kaustik padat per tahun dan 500.000 ton etilen diklorida, yang keduanya merupakan bahan utama dalam berbagai sektor industri, termasuk pengolahan nikel, penyulingan alumina, hingga produksi sabun dan deterjen.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menegaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari upaya jangka panjang membangun fondasi industri kimia yang kuat dan berkelanjutan di Indonesia. Investasi ini menurutnya memperkuat ketahanan nasional dengan mengurangi ketergantungan impor pada produk-produk penting seperti soda api dan etilen diklorida. Di Danantara Indonesia, pihaknya menyambut mitra global yang memiliki visi yang sama untuk membangun ekosistem industri yang tangguh dan bernilai tinggi dalam ekonomi Asia yang dinamis.
Sementara itu, Chief Executive Officer INA, Ridha Wirakusumah, menyampaikan bahwa kolaborasi ini sejalan dengan mandat investasi jangka panjang INA dalam memperkuat fondasi industri dalam negeri. Dengan meningkatkan kapasitas produksi nasional, proyek ini tidak hanya menjawab kebutuhan domestik, tetapi juga menciptakan potensi devisa dari ekspor etilen diklorida yang diperkirakan mencapai Rp 5 triliun per tahun. Di sisi lain, pengurangan impor soda kaustik akan menghemat devisa hingga Rp 4,9 triliun setiap tahunnya.
Presiden Direktur Chandra Asri Group, Erwin Ciputra, menyambut baik kepercayaan yang diberikan Danantara dan INA dalam proyek ini. Menurutnya, masuknya dua lembaga tersebut menunjukkan kepercayaan yang besar terhadap potensi pertumbuhan industri kimia nasional. Pabrik ini akan dikelola oleh PT Chandra Asri Alkali (CAA), anak usaha dari Chandra Asri Group. Proyek ini tidak hanya akan memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga mendukung agenda hilirisasi industri yang menjadi prioritas pemerintah saat ini.
Tahap pertama pembangunan akan difokuskan pada produksi dasar, sedangkan tahap kedua akan memperluas kapasitas dan mengembangkan produk turunan klorin, menciptakan efisiensi dan sinergi dalam rantai pasok nasional. Studi kelayakan juga sedang dilakukan untuk mengevaluasi potensi produk-produk hilir lainnya, yang diharapkan dapat memperkuat basis manufaktur domestik dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Selain sektor industri, pemerintah juga menaruh perhatian besar terhadap pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, terutama dalam penyediaan perumahan layak. Dalam konteks ini, Danantara kembali menunjukkan peran strategisnya melalui dukungan penuh terhadap proyek perumahan rakyat yang diinisiasi oleh Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP). Bersama dengan konsorsium bank Himbara dan Bank Syariah Indonesia (BSI), Danantara siap menyalurkan pembiayaan hingga Rp 130 triliun untuk mendukung proyek perumahan tersebut.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa pembiayaan ini telah disusun dengan skema matang dan siap untuk segera dilaksanakan. Ia mengatakan sampai akhir tahun ini, kurang lebih pihaknya telah menghitung mungkin bisa mencapai Rp 130 triliun, dan tentunya skemanya sudah dimatangkan dan bisa langsung berjalan. Ia juga menambahkan bahwa perbankan sangat antusias terhadap proyek ini karena adanya jaminan dari pemerintah serta skema subsidi bunga yang menarik. Dengan demikian, proyek ini diyakini akan berjalan sesuai dengan aturan dan memberikan dampak positif terhadap pergerakan ekonomi nasional.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, mengapresiasi dukungan Danantara terhadap proyek perumahan rakyat dan langsung menindaklanjuti hal ini dengan menugaskan Sekretaris Jenderal Kementerian PKP, Didyk Choiroel, serta Komisioner BP Tapera, Heru Pudyo Nugroho, untuk mengoordinasikan langkah-langkah teknis. Dukungan konkret dari Danantara dan sektor perbankan diharapkan dapat mempercepat realisasi proyek-proyek perumahan yang terjangkau bagi masyarakat, terutama melalui skema rumah subsidi.
Upaya kolaboratif antara Danantara, lembaga keuangan negara, BUMN, dan swasta menjadi bukti nyata bahwa sinergi lintas sektor mampu mewujudkan tujuan besar pembangunan nasional. Baik proyek industri kimia yang memperkuat ketahanan sektor manufaktur maupun proyek perumahan rakyat yang memberikan akses hunian layak, keduanya mencerminkan keberhasilan strategi pemerintah dalam menggandeng kekuatan strategis bangsa untuk menciptakan dampak jangka panjang bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial.
Melalui kolaborasi seperti ini, Indonesia bergerak semakin dekat menuju visi besar menjadi negara maju yang mandiri secara ekonomi, kuat dalam industri, dan adil dalam pemerataan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
)* Pengamat Kebijakan Pemerintah
