Pemerintah Pastikan Apotek Desa Didukung Tenaga Kefarmasian Profesional

Pemerintah terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat pelayanan kesehatan di tingkat desa melalui program pembentukan Apotek Desa. Dalam kunjungan ke Desa Cangkuang Wetan, Bandung, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan bersama Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, L. Rizka Andalucia, meninjau langsung kesiapan klinik dan apotek desa sebagai bagian dari kebijakan strategis pemerintah.

Presiden Prabowo Subianto telah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Dalam inpres tersebut, salah satu unit usaha koperasi desa mencakup penyediaan layanan kesehatan berupa klinik dan apotek desa.

“Sudah ada 30 ribu Poskesdes yang bisa diintegrasikan dengan Koperasi Desa Merah Putih. Ditambah 20 ribu Pustu, total ada sekitar 50 ribu desa yang siap punya layanan kesehatan,” kata Zulkifli Hasan.

Kementerian Kesehatan menyatakan, klinik desa akan menyediakan layanan berbasis siklus hidup seperti skrining, vaksinasi, edukasi kesehatan, hingga pengobatan terbatas dan pemeriksaan laboratorium cepat.

Sementara, apotek desa akan menyediakan layanan kefarmasian meliputi pemberian obat program seperti HIV, TB, dan malaria, serta pelayanan obat resep dokter, obat bebas, herbal, suplemen kesehatan, dan alat kesehatan dasar.

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), apt. Noffendri Roestam, menilai langkah Presiden sebagai ide brilian.

“Di dalam Inpres disebutkan apotek desa akan tersebar di 80 ribu desa dan kelurahan. Ini langkah besar untuk mendekatkan pelayanan kesehatan,” ujarnya.

Namun, Noffendri menekankan pentingnya pengelolaan yang baik agar program tidak stagnan.

“Tugas kami di IAI adalah memastikan kesiapan tenaga apoteker agar program ini berjalan sesuai tujuan.” imbuhnya

Menkes Budi Gunadi Sadikin, menurut Noffendri, telah menawarkan pendekatan yang cerdas. “Tak perlu regulasi baru. Kita optimalkan saja 54 ribu sarana kesehatan yang sudah ada,” katanya.

Ketua Hisfarkesmas PP IAI, apt. Maria Ulfah, turut menyambut positif rencana penambahan tenaga apoteker.

“Ini angin segar. Dari 10.300 puskesmas, baru 68 persen yang punya apoteker. Sisanya masih diisi oleh tenaga kefarmasian vokasi,” ungkapnya.

Maria menekankan pentingnya apoteker sebagai penanggung jawab di apotek desa agar mampu memenuhi standar pelayanan, termasuk dalam pengelolaan anggaran dan pengadaan obat berbasis e-katalog terbaru. *

Apotek Desa Perluas Akses Layanan Kesehatan di Daerah Terpencil

Oleh: Olivia Anindita )*

Pemerintah menunjukkan keseriusannya dalam memperkuat sistem layanan kesehatan hingga ke pelosok dengan meluncurkan inisiatif Apotek Desa. Program ini merupakan upaya nyata menjawab tantangan yang selama ini menghambat masyarakat, khususnya di wilayah terpencil dan terluar, dalam memperoleh akses layanan kesehatan yang layak. Langkah tersebut tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan sebagai refleksi atas pengalaman masa pandemi Covid-19 yang memperlihatkan betapa terbatasnya jangkauan infrastruktur kesehatan nasional.

Kementerian Kesehatan menyadari bahwa keberadaan 10.000 puskesmas di tingkat kecamatan belum cukup untuk melayani seluruh populasi Indonesia yang tersebar di ribuan pulau dan bentang geografis yang kompleks. Ketika wabah melanda, banyak wilayah kesulitan mendapatkan layanan medis dasar, bahkan untuk sekadar konsultasi atau memperoleh obat esensial. Realitas ini menjadi pendorong utama bagi pemerintah untuk mengembangkan skema layanan kesehatan yang lebih mendekatkan diri ke masyarakat desa. Salah satu bentuk konkretnya adalah pengadaan Apotek Desa yang dikembangkan bersama dengan klinik desa dalam satu ekosistem pelayanan.

Dalam pelaksanaannya, program Apotek Desa tidak berdiri sendiri, melainkan menyatu dalam kerangka besar Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Melalui skema ini, unit-unit kesehatan desa tidak hanya hadir sebagai penyedia layanan medis, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan ekonomi lokal. Presiden Prabowo Subianto memberi perhatian besar pada konsep pelayanan kesehatan berbasis koperasi, karena dinilai mampu menjawab dua tantangan sekaligus: keterjangkauan layanan dan penguatan kelembagaan masyarakat desa.

Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 menjadi landasan hukum pelaksanaan program ini. Melalui regulasi tersebut, pemerintah mengamanatkan pembentukan Apotek Desa di sekitar 80.000 desa dan kelurahan di seluruh Indonesia. Penugasan ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga memerlukan dukungan sistem, sumber daya manusia, serta sinergi antar sektor. Dalam konteks ini, peran Kementerian Kesehatan menjadi sentral, terutama dalam hal penyediaan tenaga kesehatan yang kompeten.

Pemerintah mengambil pendekatan kolaboratif dengan memanfaatkan 54.000 sarana kesehatan yang telah ada, seperti puskesmas pembantu dan pos kesehatan desa. Dengan memaksimalkan infrastruktur ini, program Apotek Desa bisa dijalankan tanpa harus membangun sistem baru dari nol.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menilai bahwa solusi terbaik bukan dengan menambah regulasi, melainkan dengan optimalisasi fasilitas dan sumber daya manusia yang tersedia. Menurutnya, tenaga kesehatan seperti perawat dan mantri dapat dipadukan dengan tenaga kefarmasian, sehingga apotek desa mampu melayani kebutuhan dasar masyarakat, baik secara kuratif maupun preventif.

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia, Noffendri Roestam, menilai bahwa inisiatif Apotek Desa merupakan gagasan yang cerdas dan strategis. Baginya, kehadiran apotek hingga ke tingkat desa akan mengurangi ketimpangan layanan kesehatan yang selama ini hanya terpusat di kota-kota besar.

Noffendri juga menekankan pentingnya pengelolaan yang baik agar program ini tidak berhenti hanya pada tataran wacana atau simbolik. Pihaknya berkomitmen untuk mendukung dengan menyiapkan tenaga apoteker yang profesional dan mampu menjalankan fungsi pelayanan serta pengelolaan obat sesuai standar.

Sementara itu, Ketua Himpunan Seminat Farmasi Kesehatan Masyarakat dari PP IAI, Maria Ulfah, juga menyuarakan dukungan serupa. Ia menyampaikan bahwa tantangan saat ini bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga ketersediaan apoteker di lapangan. Berdasarkan data yang tersedia, dari sekitar 10.300 puskesmas yang ada di Indonesia, baru sekitar 68 persen yang memiliki apoteker. Sisanya masih diisi oleh tenaga vokasi atau tenaga kesehatan lain yang belum memiliki kewenangan penuh dalam pengelolaan farmasi. Oleh karena itu, menurutnya, penguatan SDM menjadi langkah kunci dalam menjamin keberhasilan program ini.

Pemerintah juga telah menyusun skema pembiayaan yang realistis. Dengan alokasi anggaran sebesar Rp700 miliar pada tahun 2025, diperkirakan sekitar 700 unit klinik dan apotek desa akan dapat dibangun dan dioperasikan. Selain itu, sinergi lintas kementerian terus dilakukan. Kementerian Kesehatan, Kementerian Koperasi, Kementerian Desa, dan Kementerian Dalam Negeri secara intensif menyusun model bisnis serta regulasi pendukung yang dapat memastikan keberlanjutan program ini dalam jangka panjang.

Presiden Prabowo Subianto, melalui kebijakannya, menunjukkan komitmen untuk membawa perubahan nyata dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Fokus terhadap desa tidak hanya menjadi wacana politik, tetapi direalisasikan dalam bentuk inisiatif yang menyentuh langsung kebutuhan dasar warga. Keterlibatan Kementerian Kesehatan, serta dukungan penuh dari organisasi profesi seperti IAI, mencerminkan adanya keselarasan visi antara pemerintah pusat dan pemangku kepentingan di sektor kesehatan.

Dengan langkah-langkah terstruktur dan dukungan regulasi yang tepat, Apotek Desa bukan hanya menjadi jawaban atas tantangan akses layanan kesehatan, tetapi juga simbol dari keberpihakan negara terhadap masyarakat di wilayah yang selama ini terpinggirkan. Pemerintah melalui program ini mengubah pendekatan dari reaktif menjadi proaktif, memastikan setiap warga negara memiliki hak dan kesempatan yang setara dalam memperoleh layanan kesehatan yang layak. Maka dari itu, Apotek Desa bukan sekadar program layanan, melainkan cerminan semangat pemerataan pembangunan dan keadilan sosial di bidang kesehatan.

)* Penulis adalah kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI)

Hari Medsos Nasional, Masyarakat Diminta Bijak Berbagi Konten

Jakarta: Pakar Komunikasi Digital dari Universitas Indonesia (UI) Firman Kurniawan mengharapkan masyarakat berbagi konten positif di media sosial. Sehingga informasi yang dibagikan tidak merugikan orang lain.

“Memang manusia itu suka berbagi, sehingga kebahagiaannya tertular. Materi yang dibagikan itu jangan sampai hoaks, agar kabar itu menjadi berkualitas,” katanya saat berbincang dengan Pro3 RRI, Selasa (10/6/2025).

Menurutnya, peran media sosial sangat baik di era saat ini. Banyak persoalan publik yang berhasil diselesaikan oleh media sosial.

“Publik melakukan pengawasan kinerja pejabat dapat lewat media sosial. Sehingga media sosial dapat menghasilkan pengetahuan,” katanya.

Diketahui, setiap 10 Juni, masyarakat Indonesia memperingati Hari Media Sosial Nasional. Perayaan bertujuan meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya penggunaan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.

Deretan Musisi Ini Perbolehkan Lagunya Dinyanyikan Tanpa Izin

Jakarta: Perizinan membawakan lagu musisi lain masih menjadi isu penting yang memicu perdebatan di industri musik. Sebagian musisi pro terhadap penggunaan lagu tanpa izin, tetapi tetap menginginkan proses pembayaran royalti yang adil.

Kini muncul beberapa musisi Indonesia yang terbuka membolehkan karyanya dibawakan tanpa harus meminta izin langsung. Namun, penggunaan tersebut harus tetap mengikuti aturan resmi dengan membayar royalti melalui Lembaga Manajemen Kolektif (LMK).

Kebijakan ini disebut sebagai bentuk dukungan terhadap kebebasan berekspresi musisi dalam menampilkan karya orang lain. Meski terbuka, mereka tetap menekankan pentingnya menghargai hak cipta dan aturan distribusi royalti yang berlaku.

Keputusan ini disambut positif oleh banyak pelaku musik yang sering tampil membawakan lagu milik musisi populer. Dengan skema ini, musisi lokal tetap terlindungi sambil memberi ruang lebih besar bagi kreativitas dalam bermusik.

Hingga kini, beberapa nama musisi Indonesia telah menyatakan dukungan terhadap sistem terbuka dengan syarat tertentu. Melansir berbagai sumber, berikut deretan musisi yang perbolehkan lagunya dinyanyikan tanpa izin.

1. Ariel Noah

Pada April lalu, Ariel Noah sempat menjadi perbincangan setelah videonya viral karena memperbolehkan lagunya dibawakan orang lain. Dalam video itu, ia merespons permintaan maaf Momo Geisha yang sudah menyanyikan lagunya, dengan santai memberi izin asal dibawakan dengan bagus.

Ariel menolak sistem direct licensing. Ia lebih memilih agar urusan royalti diserahkan kepada Lembaga Manajemen Kolektif (LMK), yang memang bertugas mengelola hak cipta musisi.

2. Charly van Houten

Mantan vokalis ST12, Charly van Houten, juga jadi sorotan karena menyatakan dengan terbuka bahwa semua orang boleh menyanyikan lagunya. Ia bahkan menegaskan bahwa tidak perlu membayar royalti untuk memakai karyanya.

3. Kunto Aji

Sebelum isu perizinan lagu memanas, Kunto Aji telah lebih dulu memberikan izin bagi siapa pun yang ingin memakai lagunya. Ia mengizinkan penggunaan lagunya untuk keperluan non-komersial, seperti konten media sosial pribadi.

4. Rhoma Irama

Rhoma Irama, sang legenda dangdut, juga menyampaikan sikap serupa melalui podcast pribadinya. Ia menyatakan semua penyanyi dangdut bebas menyanyikan lagu-lagunya tanpa perlu membayar royalti.

5. Ryan D’Masiv

Ryan D’Masiv juga memberikan izin kepada siapa saja yang ingin membawakan lagu-lagunya, asalkan royalti tetap dibayarkan. Ia menekankan pentingnya menghargai hak pencipta lagu melalui pembayaran ke LMK. (Najwa Anisa)

Proklamator dalam Lensa, Fadli Zon: Soekarno-Hatta Tak Tergantikan

Jakarta: Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengapresiasi terselenggaranya kegiatan Gelegar Foto Nusantara 2025. Menurutnya, sejarah Bung Karno dan Bung Hatta tidak dapat tergantikan sebagai proklamator dan pahlawan nasional.

“Luar biasa pameran ini, sejarah panjang karya fotografi dari tahun 1956 dari seorang seniman Mas Guntur. Sejarah Bung Karno dan Bung Hatta posisinya tidak dapat tergantikan sebagai proklamator dan juga pahlawan nasional, founding father yang tak tergantikan,” kata Fadli saat konferensi pers di Galeri Nasional, Jakarta, Sabtu (7/6/2025).

Ia mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk mengenang perjuangan Soekarno dan para pendiri bangsa. Salah satunya melalui acara pameran Gelegar Foto Nusantara 2025 di Jakarta.

Acara dibuka resmi oleh Presiden Indonesia ke-5 Megawati Soekarnoputri dan didampingi Guntur Soekarnoputra, putra sulung Bung Karno. Acara tersebut menampilkan ratusan karya fotografi dari putra sulung bung Karno itu.

“Foto-foto yang dihasilkan oleh Guntur Soekarno merekam perjalanan bangsa sejak tahun 1956. Di mana, menampilkan berbagai peristiwa penting, ekspresi kehidupan, hingga wajah-wajah tokoh publik dan masyarakat sehari-hari,” katanya.

Menurut Fadli, pameran tersebut membuktikan bahwa fotografi adalah seni visual yang penting. Terutama ketika dilakukan dalam kurun waktu panjang oleh putra Presiden Republik Indonesia.

“Jejak perjuangan Bung Karno, Bung Hatta, dan para pendiri bangsa terekam di sini. Jadi harus menjadi inspirasi bagi generasi mendatang,” ucap Fadli Zon.

Ngopi Sambil Kerja, Produktif Atau Sekadar Gaya Hidup?

Bukittinggi: Fenomena ‘ngopi sambil kerja’ kini jadi pemandangan umum, terutama di kota-kota besar. Freelancer, pekerja remote, dan mahasiswa menjadikan kafe sebagai kantor kedua mereka.

Tapi apakah ngopi sambil kerja benar meningkatkan produktivitas? Ataukah ini hanya bagian dari tren gaya hidup kekinian?

1. Kafe dan Suasana yang Mendukung Fokus (Kadang)

Penelitian menunjukkan suara latar pada tingkat tertentu bisa membantu meningkatkan kreativitas dan konsentrasi. Suasana kafe yang seimbang tidak terlalu bising, bisa ideal untuk pekerjaan kreatif.

Perpindahan tempat kerja dari rumah ke kafe membantu menyegarkan pikiran. Ini bisa menghindari kejenuhan saat rutinitas kerja di rumah.

2. Kafein: Penambah Fokus atau Pemicu Cemas?

Kopi adalah teman kerja bagi banyak orang karena mengandung kafein. Zat ini terbukti meningkatkan fokus, kewaspadaan, dan ketahanan terhadap kelelahan mental.

Namun, konsumsi berlebihan justru menimbulkan efek sebaliknya. Gelisah, jantung berdebar, susah tidur, dan kelelahan setelah efeknya hilang bisa muncul.

3. Distraksi Sosial dan Gaya Hidup “Estetik”

Banyak orang ke kafe bukan untuk kerja, tapi demi suasana dan tampilan estetik. Mereka sibuk memotret kopi atau membalas notifikasi daripada fokus pada pekerjaan.

Riset RescueTime tahun 2020 menyebut rata-rata fokus di kafe hanya 35 menit per jam. Sisa waktunya banyak terganggu media sosial atau interaksi sosial.

4. Biaya, Waktu, dan Energi yang Terkuras

Kerja dari kafe terdengar menyenangkan, tapi ada harga yang harus dibayar. Harus beli minuman atau makanan agar tidak dianggap “nongkrong gratis.”

Waktu perjalanan ke kafe bisa menyita produktivitas. Belum lagi risiko Wi-Fi lambat atau tidak kebagian colokan.

Kondisi ini berpotensi menguras energi dan membuat niat kerja jadi terganggu. Apa yang awalnya diniatkan produktif justru bisa berbalik.

Jadi, Produktif atau Cuma Gaya?

Semua tergantung pada niat dan cara kita mengatur waktu di kafe. Kamu bisa produktif bila datang dengan target kerja yang jelas.

Tentukan batas waktu, misalnya kerja dua jam lalu pulang. Gunakan mode fokus, headphone, dan matikan notifikasi agar tidak terganggu.

Tapi ngopi bisa jadi cuma gaya jika tujuannya cuma sekadar tampil keren. Tidak ada to-do list, tak buka laptop, hanya sibuk update story.

Ngopi sambil kerja bisa produktif jika disertai manajemen dan niat yang benar. Jika tidak, itu hanya kamuflase dari kemalasan yang dibungkus gaya hidup estetik. (APS)

Mengenal Komunitas Pecinta Alam dan Kemanusiaan Gunung Lawu

Surakarta: Komunitas Anak Gunung Lawu (AGL) awalnya merupakan kelompok pecinta alam yang memiliki misi mulia, yaitu menyelamatkan alam dan membantu kemanusiaan di kawasan Gunung Lawu. Untuk bergabung dalam komunitas ini, calon anggota harus memenuhi kriteria khusus.

Kriteria tersebut seperti memiliki kekuatan fisik prima, kemampuan di medan pendakian, dan kesiapan untuk bertugas sewaktu-waktu. Hal ini dikatakan Ketua AGL, Heryoko kepada RRI, beberapa waktu lalu.

Heryoko menjelaskan bahwa posko utama komunitas ini berada di Cemoro Kandang, salah satu jalur pendakian menuju puncak Gunung Lawu. Setiap hari, AGL menempatkan tiga tim dengan minimal tiga orang di posko untuk berjaga dan membantu para pendaki.

“Dari Februari 2025, ada delapan orang magang yang bergantian standby di Posko Cemoro Kandang. Selain memberikan bantuan kepada pendaki, AGL juga rutin memberikan edukasi terkait cuaca, jalur pendakian, dan aturan keselamatan,” ujarnya.

“Pendakian untuk tujuan camping masih diizinkan dengan syarat kesehatan prima dan logistik memadai. Namun, pendakian dengan tujuan membuat konten live di media sosial tetap dilarang karena berisiko tinggi terhadap keselamatan jiwa,” ujar Heryoko.

Terkait mitos di jalur pendakian, ia menyerahkan hal itu pada keyakinan masing-masing pendaki. Salah satu lokasi yang dianggap wingit adalah Cokro Suryo, meskipun tempat ini sebenarnya merupakan sabana luas dengan pemandangan indah, terutama saat musim kemarau.

Sebagai penutup, ia berpesan kepada para pendaki untuk selalu menjaga sikap, tutur kata, dan doa selama pendakian, serta mematuhi aturan yang ada demi keselamatan hingga kembali dengan selamat.

“Gunung Lawu tidak hanya soal keindahan, tetapi juga tanggung jawab dan penghormatan terhadap alam,” ujarnya.

Gempa Magnitudo 2,7 Guncang Jayapura Papua

Jayapura: Gempa bumi berkekuatan magnitudo 2,7 mengguncang Kabupaten Jayapura, Papua, Rabu (11/6/2025). Gempa bumi tersebut terjadi pada pukul 17:37 WIB.

Berdasarkan informasi dari akun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) lokasi gempa pada koordinat 2.08 lintang selatan. Atau 140.19 bujur timur.

“Pusat gempa berada di 107 kilometer timur laut Jayapura. Ini dengan kedalaman 10 kilometer,” tulis keterangan BMKG.

BMKG dalam keterangannya juga menyebut informasi ini mengutamakan kecepatan. Sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data.

“Hingga saat ini belum ada informasi lebih lanjut. Terkait dampak gempa yang terjadi,” tulisnya menambahkan.

Rokok Ilegal Dianggap Hambat Upaya Pengendalian Tembakau

Jakarta: Tobacco Control Advocate, Tubagus Haryo, menyoroti masih maraknya peredaran rokok ilegal di Indonesia. Menurutnya, rokok ilegal menjadi tantangan serius dalam pengendalian konsumsi tembakau.

“Rokok ilegal tak hanya merugikan negara secara ekonomi, tetapi juga melemahkan upaya perlindungan kesehatan masyarakat,” ujar Tubagus dalam wawancara bersama Pro3 RRI, Rabu, (11/6/2025). Produk tanpa pita cukai dinilai menjadi celah besar yang menghambat efektivitas kebijakan pengendalian rokok.

Ia menyebut hal itu bukan sekadar masalah kesehatan, tetapi juga penegakan hukum. Ia mendorong sinergi antara edukasi publik dan pengawasan agar pengendalian berjalan maksimal.

Menurut Tubagus, kebijakan pengendalian harus mencakup pelacakan distribusi dan pengawasan peredaran produk ilegal. Ia juga menekankan perlunya keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat sipil.

“Rokok ilegal kerap beredar dengan harga murah dan mudah dijangkau, terutama oleh kalangan muda,” ujarnya. Ia menyampaikan, hal itu dikhawatirkan mendorong peningkatan jumlah perokok pemula jika tidak dikendalikan secara serius.

Tubagus mengajak publik untuk tidak hanya bergantung pada regulasi, tapi juga aktif dalam pengawasan lingkungan sekitar. “Penting juga membangun kesadaran kolektif terhadap bahaya rokok,” katanya.

Dengan pengawasan ketat dan partisipasi publik, ia berharap angka konsumsi rokok bisa ditekan. Terutama, agar generasi muda terlindungi dari akses terhadap produk tembakau ilegal.

(Arini Noviawati Gunawan)

Waspada Barang Bawaan, LRT Jabodebek Amankan Ribuan Barang

Jakarta: LRT Jabodebek berkomitmen menghadirkan layanan transportasi aman, nyaman, dan tepat waktu bagi pengguna. Mereka juga bertanggung jawab menangani barang tertinggal di kereta maupun area stasiun.

Executive Vice President LRT Jabodebek, Mochamad Purnomosidi mengatakan sejauh ini petugas menemukan 2.919 barang pengguna periode Januari-Mei 2025. Dari jumlah itu, 1.091 barang telah dikembalikan setelah proses verifikasi data.

“Sepanjang Januari-Mei 2025, petugas LRT Jabodebek menemukan 2.919 barang pengguna yang tertinggal baik, di kereta maupun area stasiun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.091 barang berhasil dikembalikan kepada pemiliknya setelah melalui proses verifikasi dan pencocokan data,” kata Purnomosidi, Rabu (11/6/2025).

Temuan barang beragam mulai dari kartu uang elektronik hingga laptop dan perhiasan. Semua barang tercatat rapi dan disimpan dengan prosedur keamanan standar.

Mochamad Purnomosidi, menyatakan kejujuran serta integritas petugas sebagai pilar utama. Purnomosidi menegaskan petugas rutin memeriksa kereta dan area stasiun.

“Petugas kami secara rutin memeriksa kereta dan stasiun untuk memastikan tiada barang terlupakan,” ujar Purnomosidi. “Kami menjunjung tinggi kepercayaan publik dan berupaya semaksimal mungkin mengembalikan setiap barang kepada pemiliknya,” lanjutnya.

LRT Jabodebek memaksimalkan penggunaan sistem CCTV untuk mempercepat identifikasi barang. Koordinasi lintas unit juga diterapkan untuk mendukung proses pengembalian barang.

Pengguna diimbau selalu memeriksa barang bawaan sebelum meninggalkan kereta atau stasiun. Nomor Contact Center KAI 121, alamat email cs@kai.id, dan akun media sosial resmi tersedia untuk pelaporan barang hilang.

Purnomosidi menegaskan menjaga barang pengguna merupakan bukti komitmen layanan. LRT Jabodebek akan terus memperkuat kualitas layanan untuk transportasi publik andalan masyarakat.

“Meskipun petugas LRT Jabodebek selalu siaga, menjaga barang pribadi adalah tanggung jawab utama setiap pengguna. Kami berharap kerja sama ini dapat menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih aman dan nyaman bagi semua,” tutup Purnomosidi.