Stok Beras Tertinggi dalam 57 Tahun, Pemerintah Optimistis Capai Swasembada Pangan 2025

Jakarta — Pemerintah menyatakan keyakinannya bahwa swasembada pangan, khususnya beras, dapat tercapai pada tahun 2025 bahkan lebih cepat. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, saat ini Indonesia berada pada posisi yang sangat strategis untuk menghentikan impor beras dan mewujudkan kedaulatan pangan nasional.

“Target dari Bapak Presiden, awalnya rencana swasembada dicapai dalam empat tahun, kemudian dipercepat menjadi tiga tahun. Mudah-mudahan tahun ini tidak ada impor,” ujar Mentan Amran.

Optimisme pemerintah tersebut bukan tanpa alasan. Mentan menyebutkan bahwa stok beras nasional saat ini telah menembus angka lebih dari 4 juta ton—angka tertinggi dalam 57 tahun terakhir. Sebagai perbandingan, pada tahun 1984 Indonesia mencatatkan rekor sebelumnya dengan stok 3 juta ton.

“Ini capaian luar biasa yang menunjukkan kerja keras dan sinergi semua pihak, dari petani, penyuluh, hingga pemerintah daerah,” tambahnya.

Selain stok beras yang melimpah, indikator lain yang memperkuat optimisme pemerintah adalah nilai tukar petani (NTP) yang terus menunjukkan tren positif. Menurut Mentan, dukungan anggaran dari Kementerian Keuangan turut mendorong peningkatan kesejahteraan petani. NTP per Mei 2025 tercatat sebesar 121, naik signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar 116.

“Angka ini menunjukkan peningkatan daya beli dan kesejahteraan petani kita. Target kami NTP mencapai 110, dan ternyata sekarang sudah di atas itu,” jelas Amran.

Senada dengan Mentan, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi juga menyampaikan pandangan optimistis terhadap capaian swasembada pangan. Ia menilai keberhasilan pemerintah dalam menekan inflasi dan menjaga stok cadangan beras pemerintah (CBP) menjadi landasan kuat dalam membangun ketahanan pangan nasional.

“Inflasi rendah dan stok beras terjaga, kami optimistis Indonesia bisa mencapai swasembada pangan,” ujarnya.

Arief menjelaskan bahwa CBP saat ini mencapai 3,1 juta ton, menjadi yang tertinggi sejak Indonesia merdeka.
“Sejak 1958, inflasi Indonesia berada pada titik terbaik, yakni 1,57 persen. Ini berkat ketersediaan beras yang juga terbaik dalam sejarah,” paparnya.

Di tingkat daerah, dukungan terhadap program swasembada pangan juga menguat. Gubernur Kalimantan Utara, Zainal A. Paliwang menyatakan komitmennya mendukung langkah pemerintah pusat, khususnya dalam hal peningkatan Luas Tambah Tanam (LTT) melalui berbagai pendekatan, mulai dari optimasi lahan, tanam reguler, hingga penanaman padi gogo.

“Menindaklanjuti arahan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Provinsi Kalimantan Utara berkomitmen penuh mendukung upaya percepatan swasembada pangan nasional,” tegas Zainal.

Program 3 Juta Rumah Wujudkan Komitmen Investasi Rp75 Triliun

Jakarta,- Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan komitmennya dalam menyelesaikan permasalahan perumahan nasional melalui program ambisius pembangunan 3 juta rumah. Program ini tidak hanya menjadi solusi atas kebutuhan hunian rakyat, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam menarik investasi raksasa senilai Rp75 triliun dari luar negeri.

Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Fahri Hamzah, mengungkapkan bahwa program ini telah menarik minat para investor internasional, terutama dari negara-negara seperti Qatar dan Turki. Berdasarkan hasil lawatannya ke sejumlah negara tersebut, Fahri menyebut telah ada komitmen investasi asing senilai US$5 miliar atau sekitar Rp75 triliun.

“Komitmen itu sebenarnya sudah siap. Kalau kita rupiahkan, US$5 miliar setara dengan Rp75 triliun,” ungkap Fahri. Namun, ia juga menegaskan bahwa realisasi dari komitmen tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan teknis, termasuk dalam hal ketersediaan lahan dan mekanisme permintaan pasar.

Kendala struktural dalam sistem perizinan juga menjadi sorotan utama. Fahri menilai penyebaran wewenang perizinan di berbagai kementerian dan lembaga menghambat kelancaran investasi. Oleh karena itu, ia mendorong implementasi mandat Satgas Reformasi Regulasi untuk menyentralisasi seluruh proses perizinan di sektor perumahan.

“Perizinan terlalu menyebar. Harus ada sentralisasi, itu mandat dari Satgas,” tegas Fahri, seraya menekankan pentingnya tindak lanjut teknis dari kementerian terkait agar komitmen investasi tersebut tidak berakhir sebagai potensi yang stagnan.

Di sisi lain, Menteri PKP Maruarar Sirait (Ara) menyampaikan bahwa keterbatasan anggaran negara menjadi hambatan utama dalam menyelesaikan target 3 juta unit rumah. Dari total anggaran APBN yang tersedia, hanya sekitar Rp3,4 triliun yang dialokasikan untuk pembangunan perumahan, cukup untuk membangun sekitar 269.779 unit rumah.

Oleh karena itu, strategi pembiayaan menjadi perhatian utama. Maruarar menyebut bahwa 2 juta unit rumah akan dibangun melalui dukungan penanaman modal dalam negeri (PMDN), sementara 1 juta unit sisanya ditargetkan melalui pendanaan penanaman modal asing (PMA) yang menjadi tanggung jawab Wakil Menteri Fahri Hamzah.

Program 3 juta rumah ini mencerminkan sinergi antara visi sosial dan strategi ekonomi nasional. Tidak hanya menjawab kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga membuka ruang lebar bagi masuknya modal asing yang akan memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Stok Beras Melimpah, Pemerintah Optimis Capai Swasembada Pangan Nasional Lebih Cepat

Jakarta – Pemerintah terus menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional, khususnya swasembada beras, dengan capaian stok beras nasional yang kini mencapai lebih dari empat juta ton.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan rekor tertinggi dalam 57 tahun terakhir, melampaui catatan stok beras pada tahun 1984 yang mencapai tiga juta ton.

“Target awal swasembada beras kita adalah empat tahun, kemudian dipercepat menjadi tiga tahun oleh Presiden. Dengan kondisi stok yang sudah sangat melimpah, kami optimistis tahun ini Indonesia tidak perlu lagi melakukan impor beras,” ujar Amran

Ia menambahkan bahwa ketersediaan beras yang cukup tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga menjaga stabilitas harga agar tidak memberatkan konsumen.

Lebih jauh, Amran menjelaskan bahwa pemerintah menyiapkan bantuan sosial berupa beras sebanyak 360 ribu ton untuk didistribusikan selama dua bulan, khususnya kepada masyarakat di wilayah non-penghasil beras seperti Papua, Maluku, dan daerah perkotaan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi menjaga daya beli masyarakat dan memperkuat keamanan pangan nasional.

“Strategi kami adalah menjaga harga di tingkat petani agar tetap menguntungkan, sekaligus memastikan harga di tingkat konsumen tetap terjangkau,” tambah Menteri Pertanian.

Di tempat terpisah, Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Nani Hendiarti, menyatakan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada swasembada beras semata, tetapi juga memperluas upaya ketahanan pangan ke aspek keamanan dan keterjangkauan pangan bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Narasi ketahanan pangan kita merujuk pada Undang-Undang Pangan dengan prioritas utama pada komoditas beras, diikuti jagung pakan, gula konsumsi, dan garam konsumsi,” jelas Nani.

Ia menambahkan bahwa Kemenko Pangan mengimplementasikan berbagai strategi untuk memastikan pasokan pangan tetap stabil dan cadangan pangan nasional kuat.

Menurut Nani, keberhasilan menjaga ketahanan pangan nasional memerlukan sinergi antar kementerian serta pemanfaatan anggaran yang optimal, termasuk dalam menjaga daya beli petani melalui NTP (Nilai Tukar Petani) yang pada Mei 2025 sudah mencapai angka 121, jauh di atas target 110.

[edRW]

Pemerintah Targetkan Pembangunan 3 Juta Rumah dalam Lima Tahun Ke Depan

Oleh : Fahri Nur Huda )*
Salah satu tantangan besar dalam pembangunan nasional adalah menyediakan hunian yang layak, terjangkau, dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat. Terlebih bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga simbol stabilitas sosial dan pengungkit kesejahteraan ekonomi. Dalam konteks inilah, kebijakan pemerintah yang menargetkan pembangunan 3 juta rumah dalam lima tahun ke depan menjadi langkah strategis sekaligus monumental. Program ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan bagian dari misi besar mewujudkan keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan.

Anggota DPR RI, Hamka B. Kady, dalam pernyataannya menyambut optimisme terhadap terobosan pemerintah tersebut. Pihaknya meyakini bahwa pembangunan 3 juta rumah merupakan bentuk nyata keberpihakan negara terhadap kelompok masyarakat yang selama ini menghadapi kesulitan dalam mengakses hunian yang layak. Menurutnya, program ini tidak hanya penting dari sisi angka, tetapi juga dari dampak sosialnya yang besar terhadap pengurangan ketimpangan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Optimisme serupa juga diungkapkan oleh Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait. Pihaknya menegaskan bahwa program ini merupakan hasil dari keterpaduan kebijakan lintas sektor, mulai dari pembiayaan, pengadaan lahan, hingga sinergi dengan pemerintah daerah dan sektor swasta. Maruarar ingin memastikan bahwa setiap pembangunan rumah dalam program ini betul-betul menyasar mereka yang membutuhkan, dengan prinsip berkelanjutan dan berpihak pada rakyat kecil. Dengan kata lain, program ini bukan sekadar bangun rumah sebanyak-banyaknya, tetapi juga membangun ekosistem perumahan yang adil dan inklusif.

Yang membuat inisiatif ini semakin menjanjikan adalah dukungan investasi yang sangat besar. Wakil Menteri PKP, Fahri Hamzah, mengungkap bahwa terdapat komitmen investasi jumbo senilai US$5 miliar atau sekurang-kurangnya Rp75 triliun yang digelontorkan untuk mendukung percepatan pembangunan rumah. Ini menunjukkan bahwa dunia usaha dan para investor juga memandang program ini sebagai peluang yang menjanjikan dan berkelanjutan. Investasi sebesar ini bukan hanya soal dana, melainkan juga mencerminkan kepercayaan terhadap visi dan arah pembangunan yang sedang dijalankan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Dukungan terhadap program 3 juta rumah tidak hanya datang dari pemerintah pusat dan dunia usaha nasional, tetapi juga dari sektor perbankan daerah. Salah satunya adalah bank bjb yang menyatakan komitmennya untuk mendukung penuh target pembangunan ini. Di bawah kepemimpinan Direktur Utama terpilih Yusuf Saadudin, bank bjb siap menjadi bagian aktif dalam penyediaan akses hunian layak bagi MBR, khususnya di wilayah Jawa Barat. Melalui semangat gotong royong, bank bjb tidak hanya akan memberikan dukungan pembiayaan, tetapi juga meningkatkan sinergi lintas sektor agar pembangunan rumah tidak terhambat oleh hambatan teknis.

Komitmen seperti ini sangat penting mengingat kebutuhan perumahan di Indonesia masih sangat besar. Seperti yang diketahui, backlog perumahan nasional mencapai lebih dari 12 juta unit. Artinya, jutaan keluarga Indonesia masih belum memiliki tempat tinggal yang layak. Dengan target 3 juta rumah dalam lima tahun, pemerintah setidaknya berusaha memangkas secara signifikan angka tersebut. Jika program ini berjalan dengan lancar dan melibatkan seluruh elemen masyarakat dan dunia usaha, maka bukan tidak mungkin backlog perumahan bisa ditekan secara drastis.

Namun demikian, tantangan tentu tetap ada. Ketersediaan lahan, proses perizinan, keterjangkauan harga, hingga kesiapan infrastruktur pendukung di kawasan permukiman menjadi aspek penting yang harus ditangani secara terintegrasi. Oleh karena itu, sinergi antarkementerian, pemerintah daerah, pengembang, perbankan, serta masyarakat menjadi kunci keberhasilan program ini. Selain itu, keberhasilan tidak bisa hanya diukur dari jumlah rumah yang dibangun, tetapi juga dari kualitas, aksesibilitas, serta keberlanjutan sosial dan lingkungannya.

Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap rumah yang dibangun tidak hanya layak huni secara fisik, tetapi juga memiliki akses terhadap air bersih, listrik, jalan, sekolah, dan fasilitas kesehatan. Tanpa itu semua, rumah hanyalah bangunan kosong yang tidak memiliki daya ungkit terhadap kesejahteraan. Karenanya, konsep pembangunan kawasan permukiman harus mengedepankan prinsip keterpaduan dan inklusivitas, sebagaimana yang telah ditekankan oleh Menteri PKP.

Dalam jangka panjang, program pembangunan 3 juta rumah juga akan memberi dampak ekonomi yang besar. Sektor konstruksi akan bergerak, lapangan kerja terbuka, serta terjadi peningkatan permintaan bahan bangunan dan jasa terkait. Efek domino ini akan memberi kontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif. Oleh karena itu, pembangunan perumahan tidak hanya berbicara tentang kebutuhan dasar, tetapi juga menjadi lokomotif pertumbuhan yang menyasar langsung masyarakat bawah.

Dengan begitu, partisipasi aktif dalam menjaga kawasan permukiman, menciptakan lingkungan yang sehat dan aman, serta membentuk solidaritas antarwarga menjadi fondasi yang memperkuat keberlanjutan dari program ini. Pemerintah dapat membangun rumah, tetapi masyarakatlah yang akan menjadikannya sebagai rumah tangga yang harmonis dan produktif.

)* Penulis merupakan Pengamat Tata Kota.

Presiden Prabowo Pimpin Transformasi Kedaulatan Pangan Nasional 2025

Oleh: Rinanti Salim )*

Pemerintah Indonesia melangkah lebih tegas dalam mewujudkan kemandirian pangan melalui strategi penguatan cadangan pangan nasional tahun 2025. Langkah ini tidak hanya menjadi kelanjutan dari kebijakan ketahanan pangan sebelumnya, tetapi juga mencerminkan tekad politik yang kuat untuk menghadirkan kedaulatan pangan dari hulu ke hilir. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, agenda besar ini bukan sekadar wacana, melainkan menjadi prioritas strategis yang menyentuh seluruh provinsi di tanah air secara merata.

Presiden Prabowo memandang bahwa swasembada pangan tidak cukup dicapai dalam skala nasional semata. Dalam pandangannya, setiap provinsi, bahkan setiap pulau, harus mampu berdiri sendiri dalam memenuhi kebutuhan pangan warganya. Mengingat Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, pendekatan desentralisasi dalam penguatan pangan menjadi sangat relevan. Pemerataan ketersediaan dan kemandirian pangan di seluruh wilayah, terutama kawasan timur Indonesia dan daerah terpencil, menjadi bagian dari upaya pemerataan pembangunan yang lebih adil dan berkelanjutan.

Pemerintah juga memaknai swasembada pangan sebagai pilar utama bagi keamanan negara. Pemenuhan pangan secara mandiri akan memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian global dan fluktuasi pasar internasional. Dalam konteks ini, sektor pertanian bukan sekadar sektor ekonomi, melainkan bagian dari infrastruktur pertahanan non-militer. Itulah sebabnya, pemerintah melibatkan berbagai institusi untuk bersama-sama memperkuat sistem pangan nasional.

Salah satu dukungan signifikan datang dari Kepolisian Republik Indonesia. Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo menyampaikan komitmen Polri dalam mendukung terwujudnya swasembada pangan melalui penyediaan alat pertanian modern. Dukungan tersebut diwujudkan dengan pendistribusian ratusan unit alat penguji kesuburan tanah, alat pemipil jagung, pengukur kadar air, dan alat pengering kepada kelompok tani dan koperasi di lima wilayah hukum Polda: Kalimantan Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Bengkulu. Komitmen ini tidak berhenti pada bantuan alat, melainkan diperluas melalui kerja sama strategis dengan penyuluh pertanian dan sektor swasta dalam rangka memberikan edukasi dan pendampingan teknis di seluruh tahap budidaya.

Keterlibatan Polri dalam program ketahanan pangan menjadi bukti bahwa pendekatan keamanan pangan bersifat holistik dan menyentuh seluruh lini pemerintahan. Ketika institusi negara bersinergi, potensi untuk membangun ketahanan pangan jangka panjang menjadi lebih kuat dan terarah. Kehadiran Polri di lapangan membantu mempercepat distribusi peralatan, pengawasan produksi, serta memberi jaminan stabilitas dalam pelaksanaan program.

Di sisi lain, Badan Pangan Nasional (NFA) menjadi tulang punggung dalam implementasi strategi teknis di sektor pangan. Kepala NFA Arief Prasetyo Adi memaparkan bahwa strategi tahun 2025 meliputi penyerapan hasil panen secara maksimal, pengeringan sesuai standar, serta distribusi dan penyimpanan yang efektif. Dengan memperkuat rantai pasok ini, pemerintah berharap dapat menjaga keseimbangan antara produksi dan konsumsi domestik secara berkelanjutan.

Upaya penyerapan hasil panen juga difokuskan untuk menjaga stabilitas harga dan meningkatkan kesejahteraan petani. Sepanjang tahun 2024, data Badan Pusat Statistik menunjukkan peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) secara signifikan. Angka NTP yang berada pada rata-rata 119,62 memperlihatkan bahwa daya beli petani terhadap kebutuhan produksi dan konsumsi terus membaik. Peningkatan ini menjadi indikator bahwa kebijakan pemerintah memberikan dampak langsung terhadap pelaku utama sektor pertanian.

Tak hanya fokus pada beras sebagai komoditas utama, pemerintah juga memperluas strategi penguatan cadangan pangan ke sektor jagung dan kedelai. Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung akan menjangkau peternak mandiri, dengan target distribusi sebesar 250 ribu ton. Di saat yang sama, SPHP kedelai akan menyasar pengrajin tahu dan tempe melalui alokasi 100 ribu ton. Langkah ini memperlihatkan keberpihakan pemerintah terhadap pelaku UMKM di sektor pangan olahan serta mendorong keberlangsungan ekonomi lokal.

Pemerintah juga memperkuat cadangan beras nasional yang kini mencapai dua juta ton, jumlah terbesar dalam sejarah pengelolaan pangan nasional. Dengan cadangan ini, negara memiliki kapasitas untuk melakukan intervensi pasar, menjaga stabilitas harga, dan mengantisipasi gangguan pasokan akibat faktor cuaca atau gejolak global. Selain itu, program bantuan pangan beras kepada 16 juta penerima manfaat akan berlangsung selama enam bulan, serta program SPHP beras dengan target 1,5 juta ton sepanjang tahun menjadi bagian dari desain intervensi yang menyeluruh.

Presiden Prabowo menyatakan bahwa perjuangan dalam bidang pangan akan menjadi fokus utama masa kepemimpinannya. Keberhasilan sektor ini tidak hanya akan menyejahterakan petani, tetapi juga menentukan posisi Indonesia di kancah internasional sebagai negara yang berdaulat secara ekonomi. Dengan dorongan politik yang kuat, sinergi antar lembaga, dan kebijakan berbasis data, Indonesia kini melangkah lebih percaya diri dalam membangun fondasi kemandirian pangan yang kokoh.

Tahun 2025 menjadi momentum penting dalam transformasi sistem pangan nasional. Kolaborasi semua pihak menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya persoalan sektor pertanian, melainkan misi nasional yang menggabungkan kekuatan politik, birokrasi, dan masyarakat. Dengan arah kebijakan yang jelas, program terukur, serta dukungan institusional yang kuat, strategi penguatan cadangan pangan tahun 2025 diyakini menjadi batu loncatan menuju Indonesia yang benar-benar berdaulat dalam hal pangan.

)* Penulis adalah kontributor Jeka Media Institute

[edRW}

Kebijakan Terpadu Pemerintah Dorong Indonesia Mandiri Pangan

Oleh: Zikri Warmena )*

Pemerintah Indonesia terus mengakselerasi langkah konkret untuk mencapai target swasembada pangan nasional pada tahun 2025. Melalui sinergi lintas kementerian dan dukungan dari pemerintah daerah, berbagai program dirancang secara sistematis, terukur, dan diarahkan untuk mengatasi tantangan struktural yang selama ini menjadi hambatan dalam mencapai kemandirian pangan. Kolaborasi antara Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Kementerian Pertanian menjadi poros utama dari strategi nasional ini.

Koordinasi antara dua kementerian teknis tersebut terlihat semakin intensif. Melalui rapat koordinasi lanjutan yang diadakan di Kantor Pusat Kementerian PUPR, dibahas secara mendalam mengenai optimalisasi infrastruktur pertanian, khususnya pemanfaatan bendungan dan jaringan irigasi. Upaya ini bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi merupakan bagian dari strategi menyeluruh dalam memperluas cakupan lahan tanam dan meningkatkan produktivitas pertanian secara nasional.

Pemerintah telah menetapkan dua strategi utama untuk mengejar swasembada pangan, yaitu intensifikasi dan ekstensifikasi. Strategi intensifikasi berfokus pada peningkatan luas tanam di wilayah yang sudah memiliki irigasi, dengan pendekatan berbasis teknologi dan pemanfaatan lahan yang lebih efisien. Sementara itu, strategi ekstensifikasi diarahkan untuk mencetak sawah baru dengan total luas mencapai lebih dari satu juta hektare. Kedua strategi tersebut dijalankan secara paralel dan saling melengkapi, demi memastikan keberlanjutan produksi pangan dalam jangka panjang.

Dalam skema intensifikasi, pemerintah menggarap optimalisasi indeks pertanaman (IP) melalui pemanfaatan daerah irigasi yang telah diverifikasi. Lokasi strategis seperti Bendungan Karian di Banten, Temef di Nusa Tenggara Timur, Karalloe di Sulawesi Selatan, dan Leuwikeris di Jawa Barat menjadi fokus utama. Peningkatan keandalan air dari bendungan-bendungan tersebut diyakini akan mampu menopang tanam tiga kali setahun, sehingga mempercepat pertumbuhan produksi.

Program rehabilitasi irigasi juga mendapat perhatian besar. Peningkatan infrastruktur pengairan dilakukan di daerah irigasi dengan kewenangan pusat, kabupaten/kota, hingga desa. Jutaan hektare lahan pertanian telah ditargetkan menerima manfaat dari perbaikan ini, yang diharapkan mampu meningkatkan luas tanam hingga puluhan persen. Pemerintah mengedepankan prinsip kolaborasi, di mana seluruh tingkatan pemerintahan memiliki peran konkret dalam menopang swasembada pangan.

Dalam hal ini, Menteri PUPR Dody Hanggodo memastikan bahwa pihaknya berkomitmen untuk menjamin ketersediaan air di wilayah strategis pertanian. Ia menyiapkan pergerakan teknis di lapangan di 12 provinsi prioritas yang menjadi penentu keberhasilan program nasional ini. Kesiapan infrastruktur seperti tanggul, pompa air, dan pintu air disiapkan secara terintegrasi untuk mendukung kontinuitas masa tanam sepanjang tahun.

Sementara itu, Kementerian Pertanian turut memperkuat lini produksi melalui penyediaan benih unggul, pupuk, pestisida, serta alat dan mesin pertanian modern. Kementerian ini juga memfasilitasi penerapan teknologi hemat air dan memberikan pendampingan langsung kepada petani di daerah sasaran, seperti D.I. Kamun dan D.I. Rentang, yang terbukti mampu meningkatkan produktivitas padi secara signifikan. Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, memegang peran kunci dalam pengadaan sarana produksi dan program budidaya yang ditujukan untuk mendukung tanam tiga kali setahun.

Program ini tidak hanya menargetkan petani tradisional, tetapi juga menyasar generasi muda. Kementerian Pertanian mendorong keterlibatan anak muda, termasuk milenial dan Gen Z, dalam sektor pertanian melalui program klaster pertanian. Dengan target satu tim per 200 hektare, lebih dari 3.000 pemuda telah terlibat, dan puluhan ribu lainnya mendaftar untuk menjadi bagian dari inisiatif nasional ini. Skema dukungan termasuk pemberian hibah alat mesin pertanian yang mampu meningkatkan efisiensi produksi dan menjanjikan pendapatan yang kompetitif.

Pendekatan lintas sektor juga menjadi ciri khas kebijakan ini. Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menyampaikan bahwa kolaborasi strategis ini melibatkan berbagai institusi negara, termasuk TNI dan Polri. Kementerian PUPR mendukung dari sisi irigasi dan infrastruktur dasar, sementara Kementan berfokus pada budidaya dan pengadaan sarana produksi. Adapun TNI mengambil peran dalam pengawalan distribusi pangan, dan Polri terlibat dalam sektor jagung serta ketahanan pangan di wilayah pekarangan.

Di Sulawesi Tengah, kerja sama ini tampak nyata. Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah melalui Polda dan jajarannya melaksanakan panen jagung serentak di kuartal kedua tahun ini. Menurut Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Pol Djoko Wienartono, kegiatan ini mencerminkan kesungguhan institusi kepolisian dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Dengan hasil panen mencapai ratusan ton dari lahan seluas lebih dari 200 hektare, kontribusi ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi seluruh elemen bangsa sangat penting dalam mencapai swasembada.

Berbagai langkah dan kolaborasi yang tengah dijalankan ini menegaskan bahwa swasembada pangan bukanlah sekadar cita-cita, melainkan tujuan realistis yang dapat dicapai melalui kerja keras bersama. Dukungan infrastruktur, ketersediaan sarana produksi, partisipasi lintas sektor, hingga keterlibatan generasi muda membentuk fondasi kokoh menuju kemandirian pangan yang berkelanjutan. Dengan konsistensi dan kebijakan yang terarah, Indonesia berada di jalur yang tepat untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional secara menyeluruh.

)* Penulis adalah kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

Komitmen Investasi Bukti Program 3 Juta Rumah Kebijakan Strategis Presiden Prabowo

Oleh: Mala Santika )*

Pemerintah menunjukkan langkah nyata dalam menjawab persoalan krusial sektor perumahan nasional melalui program strategis pembangunan 3 juta rumah. Di tengah tantangan backlog perumahan yang terus membayangi generasi produktif Indonesia, kebijakan ini menjadi wujud keberpihakan negara terhadap kebutuhan dasar masyarakat. Namun lebih dari sekadar program penyediaan hunian, proyek ini juga berhasil membuka pintu bagi kepercayaan dan partisipasi investor, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Komitmen investasi yang berhasil diraih dalam kerangka program 3 juta rumah menjadi indikator kuat terhadap kredibilitas kebijakan Presiden Prabowo. Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Fahri Hamzah, mengungkapkan bahwa nilai komitmen investasi dari pihak swasta untuk mendukung realisasi program ini mencapai angka fantastis, yakni sekitar US$5 miliar atau setara dengan Rp75 triliun. Angka ini bukan sekadar nominal besar, melainkan mencerminkan besarnya optimisme investor terhadap arah dan kepemimpinan pembangunan nasional saat ini.

Komitmen tersebut didapatkan melalui berbagai upaya diplomatik dan pendekatan strategis ke sejumlah negara mitra seperti Qatar dan Turki. Fakta ini menegaskan bahwa Presiden Prabowo tidak hanya mengandalkan kekuatan anggaran negara untuk membangun sektor perumahan, tetapi juga membuka ruang kolaborasi lintas batas demi mempercepat pembangunan nasional. Strategi diplomasi investasi yang dilakukan oleh jajaran pemerintah memperlihatkan bahwa Indonesia semakin mampu memosisikan diri sebagai destinasi investasi yang stabil, menjanjikan, dan berorientasi pada kebutuhan rakyat.

Meskipun nilai komitmen investasi telah dikantongi, realisasi di lapangan masih menghadapi sejumlah tantangan teknis. Ketersediaan lahan dan mekanisme perizinan menjadi dua faktor utama yang perlu segera diatasi agar dana investasi tersebut tidak sekadar menjadi janji di atas kertas. Fahri Hamzah menegaskan bahwa koordinasi antarkementerian dan lembaga harus diperkuat agar seluruh hambatan teknis dapat segera dilenyapkan. Dalam konteks ini, arahan dari Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Pembangunan Perumahan untuk melakukan sentralisasi perizinan harus menjadi prioritas. Sistem perizinan yang tersebar dan tidak efisien hanya akan memperlambat realisasi investasi serta menurunkan minat investor untuk menanamkan modal secara berkelanjutan.

Selain hambatan perizinan, tantangan anggaran juga menjadi perhatian utama. Menteri PKP, Maruarar Sirait, menyampaikan bahwa pagu anggaran negara yang tersedia saat ini hanya mampu membiayai pembangunan kurang dari 270.000 unit rumah. Dengan kata lain, sebanyak 2,73 juta unit rumah sisanya harus dibiayai melalui sumber di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Realitas ini menunjukkan bahwa pendekatan inovatif dalam pembiayaan pembangunan menjadi keniscayaan. Maruarar secara terbuka menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan 2 juta unit rumah akan dibangun melalui dukungan penanam modal dalam negeri (PMDN), sementara 1 juta unit sisanya melalui investasi asing langsung atau Penanaman Modal Asing (PMA).

Langkah ini merupakan gambaran konkret strategi pembangunan berbasis kemitraan. Pemerintah tidak mengabaikan tanggung jawab konstitusionalnya, melainkan mengembangkan pola sinergi yang melibatkan sektor swasta dan pihak asing secara produktif dan terukur. Program 3 juta rumah tak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan papan, tetapi juga berpotensi menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Setiap unit rumah yang dibangun memunculkan rantai nilai ekonomi yang panjang: dari industri bahan bangunan, penyerapan tenaga kerja, hingga peningkatan daya beli masyarakat.

Komitmen investasi Rp75 triliun ini juga menjadi bukti bahwa arah kebijakan Presiden Prabowo mampu membangun kepercayaan pasar. Dalam kondisi global yang dinamis, kepercayaan investor merupakan aset strategis yang tidak mudah didapat. Modal ini harus dijaga melalui tata kelola proyek yang transparan, efisien, dan bebas dari praktik-praktik koruptif. Pengawasan terhadap proses pelaksanaan proyek perlu diperkuat agar sejalan dengan prinsip good governance dan menjamin bahwa setiap rupiah investasi dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat.

Program 3 juta rumah juga menjadi medium strategis untuk mewujudkan pemerataan pembangunan. Rumah tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga simbol akses terhadap kehidupan yang layak. Dengan menyebarnya pembangunan rumah ke berbagai wilayah, ketimpangan antardaerah dapat ditekan dan mobilitas sosial warga negara diperkuat. Program ini membuka harapan baru bagi jutaan keluarga Indonesia untuk memiliki tempat tinggal yang terjangkau, aman, dan manusiawi.

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, program perumahan rakyat mengalami redefinisi yang progresif. Tidak hanya sekadar proyek pembangunan fisik, tetapi sebagai bagian dari transformasi sosial dan ekonomi nasional. Pemerintah menunjukkan keberanian untuk mengubah paradigma lama, dari pembangunan berbasis anggaran menjadi pembangunan berbasis sinergi dan kolaborasi. Hal ini menunjukkan bahwa visi Presiden Prabowo untuk membangun Indonesia yang lebih adil dan sejahtera diwujudkan melalui kebijakan-kebijakan konkret yang berdampak luas.

Sebagai catatan penting, agar seluruh potensi dan komitmen tersebut dapat direalisasikan, diperlukan langkah cepat, sinergis, dan terpadu dari seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat sipil harus berada dalam satu garis perjuangan untuk mewujudkan mimpi besar bangsa memiliki rumah yang layak. Komitmen investasi Rp75 triliun adalah modal awal yang menjanjikan, namun keberhasilannya sangat bergantung pada kerja kolektif dan konsistensi kebijakan di lapangan.
Dengan demikian, program 3 juta rumah bukan hanya proyek unggulan semata, tetapi menjadi simbol komitmen nyata pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

)* Penulis adalah Pengamat Kebijakan Publik

Penundaan Pajak Usaha Jadi Upaya Pemerintah Lindungi Pekerja

Jakarta – Pemerintah terus mengambil langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan sektor padat karya yang terdampak perlambatan ekonomi global.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan bahwa berbagai insentif telah disiapkan guna menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor tersebut.

“Ini sebuah upaya kita untuk melindungi industri padat karya,” ujar Yassierli.

Sejak awal 2025, pemerintah di bawah koordinasi Menko Perekonomian telah menyusun empat insentif utama.

Pertama, fasilitas tax allowance berdasarkan PMK 16/2020 yang memberikan pengurangan penghasilan neto sebesar 60% dari investasi pada aktiva tetap, termasuk tanah.

Fasilitas ini berlaku bagi perusahaan yang mempekerjakan minimal 300 tenaga kerja dan bergerak dalam 45 bidang industri padat karya.

Kedua, subsidi pembiayaan kredit investasi sebesar Rp20 triliun untuk revitalisasi mesin industri.

Insentif ini tersedia untuk pinjaman antara Rp500 juta hingga Rp10 miliar dengan suku bunga rendah dan tenor fleksibel 5–8 tahun.

Ketiga, insentif PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah (DTP) diberikan untuk pekerja di sektor tekstil, alas kaki, furnitur, dan kulit.

Insentif ini berlaku bagi pegawai dengan penghasilan bruto maksimal Rp10 juta per bulan, sepanjang tahun 2025.

Keempat, bantuan iuran sebesar 50% untuk Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) sebagaimana diatur dalam PP 7/2025, khusus bagi perusahaan industri padat karya tertentu.

Deputi Kementerian PPN/Bappenas, Maliki, menyatakan bahwa Program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) juga terus diperkuat.

Program ini memberikan uang tunai selama enam bulan, pelatihan kerja, dan akses informasi pasar kerja bagi pekerja korban PHK. Dana program ini ditanggung penuh oleh pemerintah.

“Langkah-langkah ini untuk memberikan kepastian perlindungan lebih luas bagi pekerja/buruh,” jelas Maliki.

Sementara itu, sektor otomotif yang juga padat karya mendapat perhatian melalui penundaan penerapan opsen pajak kendaraan bermotor (PKB dan BBNKB) di 25 provinsi.

Direktur Jenderal ILMATE Kemenperin, Setia Diarta, mengatakan langkah ini penting untuk menjaga pertumbuhan industri yang sedang tertekan akibat daya beli menurun dan suku bunga tinggi.

“Penundaan ini diharapkan bisa menjaga daya saing sektor otomotif dan mencegah PHK,” ungkapnya.

Dengan kebijakan ini, pemerintah menegaskan komitmennya melindungi pekerja, mendorong iklim usaha tetap kondusif, dan menekan angka PHK nasional.

Pemerintah Fokus Atasi Tantangan Industri Demi Cegah PHK

Jakarta – Pemerintah bergerak cepat dalam merespons tantangan dunia industri yang berdampak pada meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK).

Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mempersiapkan pembentukan Satuan Tugas (Satgas) PHK sebagai langkah konkret untuk mengatasi permasalahan ketenagakerjaan dari hulu ke hilir.

Dalam keterangannya, Yassierli menjelaskan bahwa Satgas PHK akan melibatkan berbagai kementerian dan lembaga terkait guna memastikan pendekatan yang komprehensif.

“Sesuai dengan diskusi dan harapan dari beberapa kementerian yang lain, kami menginginkan Satgas PHK ini tidak hanya di hilir, tapi juga hulu. Sehingga diskusi dan rancangan yang kita buat terintegrasi, melibatkan lintas kementerian dan koordinasi,” ujar Yassierli.

Langkah ini juga sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang menekankan pentingnya perlindungan terhadap pekerja serta keberlanjutan sektor industri nasional.

Menurut Yassierli, Satgas ini akan menjadi forum koordinasi antar instansi yang bertujuan menyelesaikan akar persoalan yang selama ini kerap menjadi pemicu gelombang PHK.

Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin), Faisol Riza menilai bahwa pemerintah terus mengantisipasi potensi lonjakan PHK, meskipun sejumlah indikator saat ini menunjukkan tren positif.

“Pergerakan investasi ke Indonesia belakangan ini justru kembali positif. Beberapa sektor seperti industri pengolahan dan pertambangan mulai menunjukkan geliat yang baik,” ungkap Faisol.

Ia menambahkan, dengan tren tersebut, dirinya yakin bahwa angka PHK akan mampu ditekan.

Untuk memperkuat ketahanan industri dalam menghadapi tekanan global, dukungan dari sektor keuangan juga terus diperkuat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) misalnya, kini fokus memperkuat pembiayaan berkelanjutan, khususnya pada sektor Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT), yang menghadapi tantangan serius akibat kompetisi global dan dinamika pasar.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk membangun ekosistem industri TPT yang tangguh.

“Industri TPT nasional memiliki potensi besar, baik dari sisi pasar domestik maupun ekspor. Namun, tantangan struktural seperti biaya logistik dan konsentrasi pasar ekspor masih menjadi perhatian utama yang tengah ditangani secara komprehensif,” terang Dian.

Ia menambahkan bahwa solusi yang ditawarkan melalui pendekatan Indonesia Incorporated dapat menjadi jalan keluar dari berbagai hambatan yang dihadapi pelaku industri. Dalam pendekatan ini, sinergi antara pemerintah, BUMN, perbankan, dan pelaku industri menjadi kunci untuk menciptakan iklim usaha yang sehat dan berkelanjutan.

Dengan langkah-langkah ini, pemerintah dapat menjaga stabilitas sektor industri nasional dan meminimalkan dampak sosial ekonomi akibat PHK. Koordinasi yang kuat antar lembaga serta respons kebijakan yang cepat menjadi kunci dalam menjaga daya saing industri Indonesia di tengah ketidakpastian global. [-red]

[ed

Pemerintah Bangun Ekosistem Kerja Baru untuk Cegah PHK Jangka Panjang

Oleh: Fikri Permana )*

Pemerintah Indonesia terus menunjukkan keseriusannya dalam membangun ketahanan sektor ketenagakerjaan secara jangka panjang. Salah satu langkah strategis yang menandai hal ini adalah pembentukan Satuan Tugas Pemutusan Hubungan Kerja (Satgas PHK), yang digagas langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi terhadap dinamika global dan disrupsi teknologi yang berpotensi menimbulkan gelombang pemutusan hubungan kerja di berbagai sektor industri.

Arahan Presiden ini menegaskan bahwa negara tidak boleh tinggal diam saat pekerja menghadapi ketidakpastian. Satgas PHK dirancang untuk menjadi motor utama dalam merespons situasi ketenagakerjaan dengan cepat, mencegah PHK massal, serta menjaga stabilitas pasar tenaga kerja. Tidak hanya itu, satgas ini juga bertugas memastikan hak-hak pekerja tetap terlindungi dengan pendekatan berbasis inklusi dan gotong royong antara pemerintah, serikat pekerja, pelaku industri, dan akademisi. Keberadaan satgas mencerminkan pandangan bahwa stabilitas ekonomi nasional sangat bergantung pada keberlanjutan hubungan industrial yang harmonis.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan memiliki peran penting dalam mendukung operasional Satgas PHK. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyampaikan bahwa kementeriannya telah menyusun Matriks Risiko Sektor Industri, yang digunakan sebagai dasar untuk mengidentifikasi sektor-sektor yang rentan terhadap PHK. Matriks ini memungkinkan pemerintah merancang kebijakan berbasis data yang lebih akurat, efisien, dan adaptif terhadap perkembangan lapangan. Selain itu, kementerian juga mengoordinasikan program pelatihan ulang (reskilling) dan peningkatan keterampilan (upskilling) yang diarahkan pada penguatan daya saing pekerja.

Program-program pelatihan tersebut tidak hanya difokuskan kepada pekerja yang sudah terdampak, tetapi juga dirancang sebagai instrumen pencegahan agar tenaga kerja nasional memiliki kemampuan lintas sektor. Dengan begitu, para pekerja dapat lebih mudah beradaptasi dengan perubahan pola kerja akibat otomasi dan transformasi digital. Pemerintah meyakini bahwa pengembangan kapasitas individu merupakan kunci utama untuk membangun ekosistem kerja yang tangguh dan tidak rentan terhadap guncangan eksternal.

Sementara itu, sektor pendidikan vokasi turut menjadi pilar penting dalam pembangunan sistem kerja baru yang lebih adaptif. Salah satu contoh sukses dapat dilihat dari peran Politeknik Industri Petrokimia Banten (PIPB) yang merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Perindustrian dan sektor swasta. Direktur PIPB, Supardi, memandang lembaga pendidikan vokasi yang dipimpinnya sebagai bagian dari solusi jangka panjang atas tantangan ketenagakerjaan. Ia menilai bahwa keterlibatan industri secara langsung dalam perencanaan kurikulum, penyediaan fasilitas praktik, hingga seleksi mahasiswa menciptakan kualitas lulusan yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Kolaborasi erat antara PIPB dan Chandra Asri Group menjadi contoh nyata sinergi yang berhasil menjembatani dunia pendidikan dengan dunia industri. Chandra Asri Group memberikan dukungan berupa lahan kampus, fasilitas praktik industri, hingga membuka kesempatan kerja langsung bagi lulusan PIPB. Pada tahun 2025, sebanyak 33 persen lulusan angkatan pertama PIPB langsung diterima bekerja di perusahaan tersebut. Ini merupakan bentuk investasi jangka panjang yang menunjukkan bahwa pemberdayaan sumber daya manusia harus menjadi bagian integral dari strategi industrialisasi nasional.

Lebih jauh, Supardi mengungkapkan bahwa PIPB juga menjalin kemitraan dengan lebih dari 30 perusahaan di sektor strategis seperti petrokimia, baja, dan pulp. Proses seleksi mahasiswa pun melibatkan perusahaan sejak awal, dengan sistem penyaringan ketat hingga tahap pemeriksaan kesehatan. Pendekatan ini memastikan bahwa lulusan tidak hanya unggul dari sisi akademik, tetapi juga siap kerja secara menyeluruh. Dengan mayoritas mahasiswa berasal dari Cilegon dan sekitarnya, PIPB juga menjadi instrumen pemberdayaan lokal yang mendorong pemerataan akses pendidikan dan pekerjaan.

Pemerintah daerah juga tidak tinggal diam. Sejumlah kepala daerah seperti Wali Kota Cilegon dan Bupati Serang telah menjalin komunikasi aktif dengan PIPB untuk menyiapkan skema beasiswa daerah. Tujuannya adalah agar semakin banyak pemuda lokal bisa mendapatkan akses ke pendidikan vokasi berkualitas yang relevan dengan kebutuhan industri di wilayahnya. Sinergi lintas sektor dan lintas wilayah ini menjadi fondasi penting dalam menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang menyatu dan berkesinambungan.

Semua langkah tersebut menggambarkan bagaimana pemerintah saat ini membangun sistem ketenagakerjaan bukan hanya untuk menjawab persoalan hari ini, tetapi juga untuk menyiapkan fondasi masa depan. Kepemimpinan Presiden Prabowo, dukungan kementerian teknis, serta peran aktif lembaga pendidikan vokasi seperti PIPB menunjukkan bahwa pembangunan ekosistem kerja baru adalah hasil dari kerja kolaboratif yang terencana dan terukur.

Dengan pendekatan seperti ini, Indonesia tidak hanya membentengi diri dari ancaman PHK, tetapi juga menyiapkan angkatan kerja yang lebih produktif, fleksibel, dan kompetitif. Pembangunan sumber daya manusia yang unggul, penguatan dialog sosial, dan revitalisasi pendidikan vokasi menjadi tiga pilar utama dari strategi besar pemerintah dalam menjaga stabilitas ketenagakerjaan nasional. Hal ini sejalan dengan cita-cita besar Asta Cita, yang menempatkan pembangunan manusia sebagai fondasi utama kemajuan bangsa.

)* pengamat kebijakan publik