3 Tips Bertahan Hidup di Ciputat Tangsel Rp2 Juta Sebulan, Kawasan Jujugan Mahasiswa dan Pekerja yang Biaya Hidupnya Supermahal

Ciputat, Tangerang Selatan, adalah kawasan serba ada dan amat strategis, tapi biaya hidupnya supermahal. Konon, dibutuhkan rata-rata biaya Rp10 juta per bulan untuk hidup nyaman di kota ini. Namun, ada tips bertahan hidup di Ciputat hanya dengan uang Rp2 juta sebulan.

***

Bagi Argi (28), Ciputat adalah kawasan yang tak pernah tidur. 24 jam sibuk dengan lika-liku kehidupan manusia. Sepuluh tahun tinggal di sini, ia nyaris tak pernah melihat kapan kota ini lenggang.

“Ciputat mboten sare!,” ujar lelaki asal Jawa Tengah ini kepada Mojok, Kamis (5/6/2025) malam.

Argi merantau ke Ciputat sejak 2014 lalu untuk kuliah di salah satu kampus negeri. Lulus saat masa pandemi Covid-19, ia memutuskan bertahan di sana karena mendapat tawaran kerja–sampai hari ini.

“Ibaratnya telanjur jatuh cinta sama Ciputat,” ungkapnya.

Ciputat, kota pendidikan “underrated” dan jujugan perantau

Ada alasan konkret mengapa Argi memilih Ciputat, Tangerang Selatan, sebagai tujuannya berkuliah 10 tahun lalu. Selain karena memang diterimanya di sini, bagi dia Ciputat memang menjadi kota pendidikan yang underrated.

“Orang tahunya kota pendidikan itu Jogja, Surabaya, Malang. Tapi bagiku, ya, Ciputat juga kota pendidikan,” kata dia.

Kalau mengacu data resmi dari Kemendikbudristek, terdapat tak kurang dari 17 kampus di kota seluas 21,11 kilometer persegi ini. Ada yang negeri, dan sebagian besar lainnya adalah swasta.

Misalnya, kalau diurutkan dari yang paling terkenal, terdapat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Universitas Pembangunan Jaya (UPJ), Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, serta sejumlah kampus lain di Ciputat.

Tak sampai di situ, Ciputat juga terkenal sebagai jujugan perantau buat mencari kerja. Alasannya, UMR di kota ini memang cukup tinggi, mengikuti upah minimum Tangerang Selatan yang sebesar Rp4,9 juta. Selisih sedikit dari Jakarta.

Maka tak heran, kalau banyak perantau, seperti Argi memilih bekerja di kota ini. Menurut catatan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Tangerang Selatan, dari tujuh kecamatan di Tangsel, Ciputat menempati peringkat kedua kunjungan perantau terbanyak sejak 2022. Jumlahnya hanya kalah dari Pamulang.

“Makanya aku bilang Ciputat nggak pernah tidur karena setiap jamnya ada saja lika-liku manusia, entah mahasiswa atau para pekerja yang sibuk urusan perut,” ujar Argi.

Tapi, biaya hidupnya amat mahal
Akan tetapi, biaya hidup di Ciputat, Tangerang Selatan, amat mahal. Bahkan ada yang bilang, cuma beda tipis dengan biaya hidup di Jakarta.

Argi sendiri mengakui, saat pertama datang ke sini buat kuliah, dirinya masih mudah menjumpai “rumah makan merakyat”. Tapi kini, susahnya minta ampun.

“Dulu waktu kuliah, dekat-dekat kampus banyak tempat makan yang 7 ribu saja sudah kenyang, dapat ayam. Sekarang, 25 ribu baru dapat, itupun masih yang tergolong harga standard,” kata dia.

Bahkan, di Facebook banyak mahasiswa yang kuliah di Ciputat menuliskan keresahan mereka soal mahalnya harga makan di sekitar kampus. Ada yang mengaku, untuk mendapatkan nasi sayur seharga Rp15 ribu saja, ia kudu masuk-masuk gang sempit, menjauh dari kampus.

Data BPS Tangerang Selatan pada 2020 lalu menyebutkan bahwa rata-rata pengeluaran per kapita penduduk Ciputat adalah sebesar Rp2,6 juta sebulan. Besaran ini merupakan biaya yang dikeluarkan untuk makan, hunian, transportasi, hingga fesyen dan hiburan.

Namun, seiring dengan inflasi, angka tersebut naik berkali-kali lipat. Kini, diperkirakan buat hidup nyaman di Ciputat, setidaknya dibutuhkan gaji Rp10 juta per bulan–menukil data BPS 2023.

“Tapi, aku ngerasain betul sih. Sekarang buat ngekos aja, kalau mau yang standard ya dapatnya paling 1,5 sampai 2 jutaan. Di bawah itu jangan harap dapat kos enak,” ujar Argi.

Tips bertahan hidup modal Rp2 juta sebulan di Ciputat, Tangerang Selatan

Sebelumnya, Mojok pernah mewawancarai Dori (27), pekerja di Ciputat yang resah dengan kotanya. Kala itu, Dori menyebut Ciputat memang menjadi kawasan penyangga ibu kota Jakarta yang amat strategis. Namun, tak semua orang cocok tinggal di sini karena panas dan macet.

Kendati demikian, Dori juga memiliki tips untuk bisa bertahan hidup di kota ini. Khususnya bagi mahasiswa pas-pasan atau para pekerja berdompet tipis.

“Karena kalau mau nurutin apa kata BPS, kudu gaji 10 juta sebulan buat hidup enak di sini, ya orang-orang di sini nggak ada yang hidup enak karena gajinya di bawah segitu. Hahaha,” ungkap lelaki yang sudah delapan tahun di Ciputat, kala kembali dihubungi Mojok, Kamis (5/6/2025).

Lantas, apa tips untuk bisa menghemat biaya hidup di Ciputat, Tangerang Selatan?

#1 Warsun adalah sebaik-baiknya tempat makan

Untuk urusan makan, kata Dori, serahkan pada Warsun alias Warung Sunda. Warsun sendiri memang amat menjamur di Ciputat. Jumlahnya tak kalah banyak dengan Warung Nasi Padang ataupun Warung Tegal (Warteg).

Berdasarkan “analisis-empirik” yang sudah Dori lakukan bertahun-tahun, Warsun adalah tempat makan dengan harga paling murah dan konsisten. Memang tiap tahun ada kenaikan. Namun, kata dia, naiknya nggak signifikan alias konsisten murahnya.

“Beda sama Warung Naspad atau Warteg, Warsun ini kayak nggak niat cari untung. Apalagi kalau yang jualan asli orang Sunda, kebangetan murahnya.”

Di dekat kantornya, ia tak kesulitan mencari Warsun dengan harga miring. Biasanya, dengan harga Rp15 ribu, ia sudah bisa makan kenyang dengan menu nasi sayur, telur, dan es teh.

“Malah kalau beruntung, masih ada warung yang kasih paketan 10 ribuan. Tapi kan ini adu murah ya, bukan adu enak. Masalah enak nggak enak balik ke lidah masing-masing,” katanya.

#2 Kos induk semang sekitar kampus

Konon, biaya hunian di Ciputat, Tangerang Selatan amat mahal. Rata-rata harga kos saja menyentuh angka Rp1 juta per bulan. Namun, Dori memiliki tips untuk menekan pengeluaran biaya hunian.

“Cari kos induk semang. Banyak di sekitaran kampus,” kata dia.

Menurut Dori, mahalnya biaya kos di Ciputat karena fasilitas dan privilese yang lebih advance. Misalnya full AC, kamar mandi dalam, dan terpisah dari pemilik alias induk semang.

Namun, kalau menyingkirkan ego tersebut, masih banyak kos di sekitaran kampus yang harganya bahkan di bawah Rp500 ribu. Minusnya, ya, tidak ada AC, kamar mandi bareng-bareng, dan satu atap dengan induk semang.

“Nggak enaknya, ya nggak bebas. Tapi enaknya, selain murah, kadang kalau soal makan sering dikasih ibu kos. Hahaha.”

Saat masih kuliah, Dori mengaku tinggal di kos tipe ini selama empat tahun. Setelah kerja, ia memilih hunian yang lebih private dan bebas.

#3 Pakai transportasi umum, disclaimer: kalau sanggup macet!

Dori menjelaskan, transportasi umum di Ciputat, Tangerang Selatan sudah cukup baik. Segala moda, mulai dari angkot yang menghubungkan antarkelurahan, TransJakarta, hingga KRL Commuter, semua tersedia.

“Buat yang masih kuliah, ini membantu banget karena di UIN ada halte trans. Di kampus-kampus lain juga bisa terhubung via angkot,” jelasnya.

Namun, seperti yang pernah dia ungkapkan sebelumnya, “Ciputat tak cocok buat orang yang kesabarannya setipis tisu”. Sebab, kota ini memang sangat macet dan panas mataharinya nggak ketulungan.

“Memang ngirit pakai transportasi umum. Tapi ya lebih lama di jalan aja sih,” pungkasnya. “Kalau cara-cara tadi dilakuin, bisa lah kamu menekan biaya hidup di sini, paling nggak cuma keluar 2 juta sebulan.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

Pengalaman Katrok Naik Bus Murah Antar Kota, Merasa Gusar Selama 9 Jam Perjalanan karena Takut Salah Turun Terminal

Jangan takut bertanya adalah modal Eka Puji (24) untuk naik bus Sugeng Rahayu dari Surabaya ke Jogja. Jujur, itu adalah pengalaman pertamanya solo traveling, sekaligus menggunakan bus ke luar kota. Biasanya, ia lebih memilih kereta api untuk perjalanan antar kota.

Tapi apa mau dikata, aplikasi kereta apinya selalu ngadat sehingga ia tidak bisa memesan tiket hingga hari H. Padahal, Eka sudah mempersiapkan rencana liburan dari Surabaya ke Jogja sejak sebulan yang lalu.

“Mumpung Mei ini banyak long weekend,” katanya kepada Mojok, Senin (2/6/2025).

Beberapa tahun ini Eka memang disibukkan dengan agenda kuliah semester akhir sembari bekerja. Belum lagi urusan-urusan komunitas yang diikutinya. Oleh karena itu, ia ingin berhenti sejenak dan jauh dari hiruk pikuk Kota Surabaya. Walaupun sebenarnya, Jogja terbilang ramai apalagi di musim liburan.

Tapi karena sudah niat, Eka tak mau membatalkannya dengan percuma hanya gara-gara tidak dapat tiket kereta api. Alhasil, ia memilih berangkat dari Surabaya ke Jogja menggunakan bus Sugeng Rahayu.

Bus Sugeng Rahayu lebih ekonomis

“Kenapa nggak pesawat? Ya pasti mahal lah!” seloroh Eka saat saya tanya alasannya menggunakan bus.

Namun, karena tidak tahu bagaimana cara membeli tiket dan bus apa yang harus ia naiki, ia jadi kelimpungan sendiri dan bertanya sana-sini. Masalahnya, teman-temannya jarang menggunakan bus dari Surabaya ke Jogja, apalagi untuk liburan sendiri. Kalau pun berangkat dengan bus, biasanya mereka pergi rombongan.

“Akhirnya aku cek di mesin pencari Google, ternyata ada informasi soal jenis bus dan kisaran harganya,” ujar Eka.

Jika dilihat dari kisaran harga, Sugeng Rahayu memang terbilang paling murah dibandingkan bus lainnya, yakni sekitar Rp130 ribu. Sedangkan bus Eka seharga Rp200 ribu, tapi fasilitasnya sudah eksekutif.

Eka akhirnya memilih bus Sugeng Rahayu karena murah. Walaupun sebenarnya, ia juga tak yakin dari segi fasilitas, kenyamanan, dan keamanan. Namun, sebagai kaum yang terbiasa “mendang-mending”, Eka mantap mempertimbangkan bus dari segi ekonomis.

Bingung cara memesan tiket di Terminal Bungurasih

Kelar masalah tiket, Eka masih bingung dengan estimasi waktu perjalanan dari Surabaya ke Jogja dengan menggunakan bus Sugeng Rahayu. Ia masih belum tahu cara memesan tiket secara online, sehingga tidak tahu jam keberangkatan yang tertera.

Di mesin pencari pun ia tidak menemukan waktu yang pasti. Daripada ribet, Eka pun langsung datang ke loket terminal. Setelah itu, barulah dia tahu kalau tiket bus Sugeng Rahayu bisa dibeli langsung dalam waktu 24 jam.

“Awalnya aku berangkat Jumat sore sepulang kerja, tapi aku takut sampainya terlalu malam. Kata temanku juga jalanan dari Terminal Giwangan di Jogja sampai kosannya rawan, apalagi di atas jam 12 malam. Sudah pasti sepi dan gelap. Akhirnya, demi keamanan bersama aku memutuskan berangkat pagi,” tutur Eka.

Setelah melewati lorong-lorong Terminal Bungurasih yang dipenuhi “bapak-bapak” menawarkan tiket, Eka akhirnya tiba di lobi. Di sanalah, Eka dan temannya baru lega karena bisa langsung bertanya ke petugas resmi terminal.

Begitu tahu informasi jadwal keberangkatan bus, cara memesan tiket dan membayar, Eka jadi sadar ternyata tak sulit memesan tiket bus Sugeng Rahayu.

“Petugas informasi bilang kalau aku bisa bayar di loket dan nggak perlu bayar lagi saat dimintai uang di atas bus. Yoweslah aku ngikut arahanya,” kata Eka.

Gusar selama di dalam bus Sugeng Rahayu

Usai naik di bangku bus Sugeng Rahayu dari Terminal Bungurasih, Eka masih merasa gusar karena tak tahu rute perjalanan dari Surabaya ke Jogja secara rinci. Berkali-kali ia mengirim pesan ke temannya yang ada di Jogja untuk mengetahui estimasi tiba, tapi temannya pun tak tahu dan hanya bisa mengira-ngira.

“Mungkin sekitar 7 jam baru sampai, kata temanku. Tapi, sejak aku berangkat dari pukul 07.00 WIB hingga 12.30 WIB, busku masih ada di Sragen, Jawa Tengah,” ujar Eka.

Rupanya, perjalanan dari Surabaya ke Jogja menggunakan bus Sugeng Rahayu lebih lama dari apa yang diperkirakan Eka. Ia mengaku tak bisa tidur di sepanjang perjalanan. Takut kalau ternyata bus bablas melewati Jogja.

Akhirnya, ia memilih bermain handphone. Sesekali mengecek kerjaannya di grup WhatsApp dan membalas pesan temannya satu persatu-satu. Hingga ia tak sadar baterainya tinggal 2 persen. Sialnya lagi, tak ada colokan di dalam bus Sugeng Rahayu.

Ia pun hanya bisa pasrah menatap jendela kaca, sembari mengamati papan nama terminal agar tidak salah turun. Waktu terus berlalu hingga pukul 13.30 WIB dan ia baru tiba di Surakarta. 2 jam setengahnya, barulah Eka tiba di Terminal Giwangan, Jogja. Tepatnya, pukul 16.00 WIB.

“Lama banget, aku jadi nggak bisa tidur dengan tenang,” kata Eka.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

Orang Desa Pertama Kali Makan di Mie Gacoan: Demi Viral Malah Berujung Malu Perkara QRIS dan Sumpit

Bagi masyarakat daerah pinggiran seperti Rembang, Jawa Tengah, bisa mencicipi Mie Gacoan tetap merupakan kemewahan. Alhasil, momen pertama kali makan di gerai aneka mie pedas itu malah berujung bingung dan malu.

Mie Gacoan simbol daerah maju atau tertinggal
Di Rembang akhirnya ada Mie Gacoan. Beberapa akun menfess Rembang kebanyakan memakai kutipan itu untuk menyambut dibukanya Mie Gacoan di Jl. Dr. Soetomo, Leteh, Rembang kota belum lama ini.

Bukanya Mie Gacoan memberi perasaan riang bagi sebagian banyak orang Rembang, terutama anak-anak muda. Sebab, dengan bukanya gerai mie tersebut, Rembang tidak terus-menerus dianggap sebagai daerah tertinggal.

Pasalnya, di daerah-daerah kabupaten pinggiran seperti Rembang, memang ada indikator unik untuk mengukur maju atau tertinggalnya sebuah daerah. Jika suatu daerah tidak terjamah gerai modern dan ternama—misalnya Gacoan—maka dianggap tertinggal.

Di media sosial, banyak warga Rembang merasa “terharu”: akhirnya bisa merasa maju karena punya Mie Gacoan sendiri, meski agak telat dari daerah tetangga seperti Tuban, Blora, dan Pati.

Banyak warganet Rembang yang juga berharap agar kedepan makin banyak gerai-gerai modern dari beragam brand terkenal berdiri di kota pesisir pantura tersebut.

Tak mau ketinggalan dari yang viral-viral
Awal Mei 2025 lalu saat sedang pulang ke Rembang, saya pun langsung tancap gas ke Jl. Dr. Soetomo, Leteh, bersama istri, adik, dan teman adik saya.

Kami sengaja berangkat awal (di jam sebelas siang), biar tidak antre-antre amat. Karena jika melihat di media sosial, suasana berjubel dan penuh sesak akan terjadi di jam-jam sore hingga malam.

Meski begitu, siang itu banyak kursi yang terisi. Kebanyakan justru ibu-ibu bersama anaknya yang masih SD atau SMP. Hanya ada beberapa anak muda yang tampak.

“Nuruti anak ini loh, Mas. Katanya mie viral. Biasa sekarang kan nggak mau ketinggalan yang viral-viral,” ujar seorang ibu-ibu yang duduk menanti anaknya yang tengah mengambil pesanan.

Kami berbincang lantaran si ibu sebelumnya berujar, “Mau makan mie saja kok repot sekali. Harus pakai alat (maksudnya calling system). Terus harus ambil sendiri.”

Si ibu mengaku tidak tahu apa itu Mie Gacoan. Itu adalah momen pertama kalinya dia dan sang anak mencicipinya.

Bingung cara pesan di Mie Gacoan
Jujur saja, sejak di Surabaya dulu saya jarang makan di gerai-gerai terkenal. Saya pasti akan bingung bagaimana cara memesannya. Untungnya ada istri yang jauh lebih terbiasa. Jadi saya agak terbantu.

Tapi di Mie Gacoan Rembang siang itu, saya menyaksikan ada beberapa orang—mungkin orang desa dan baru pertama kali ke gerai modern seperti Mie Gacoan—benar-benar kebingungan perihal bagaimana caranya memesan.

“Saya pikir pesannya di depan. Pas mau pesan disuruh duduk dulu. Pesan lewat meja. Saya bingung,” ungkap seorang ibu-ibu yang datang bersama anaknya yang masih SD kepada salah seorang karyawan Mie Gacoan.

Sistem pesannya secara online melalui barcode yang terpajang di setiap meja. Metode seperti itu sungguh masih awam bagi masyarakat Rembang. Wajar saja jika masih banyak yang kebingungan.

Untungnya, si ibu punya inisiatif untuk tanya ke keryawan Mie Gacoan yang melintas untuk dijelaskan bagaimana seharusnya cara memesan makanan.

Malu tidak bisa pakai sumpit

Sering kali orang desa akan bermasalah jika berhadapan dengan sumpit. Dan itulah yang pernah saya rasakan sendiri saat pertama kali merantau ke Surabaya. Diajak makan pakai sumpit, jelas merucut-merucut.

Begitu juga yang terjadi siang itu. Di meja-meja terdekat saya, beberapa tampak coba-coba makan mie pakai sumpit. Tapi karena tak kunjung bisa, akhirnya memutuskan meminta ganti sendok saja.

Adik saya dan temannya pun demikian. Istri saya mengajari mereka bagaimana caranya menyumpit. Adik saya langsung bisa meski agak kaku, sementara temannya bersusah payah betul mencekeram mie di mejanya dengan sumpit.

“Angel tenan arep mangan mi wae (Susah betul mau makan mie aja),” keluh teman adik saya yang sontak kami sambut dengan tawa.

“Mentolo tak puluk wae (Keburu kumakan pakai tangan saja),” sambungnya.

Kata adik saya, sepulang dari Mie Gacoan, temannya itu mengaku malu betul karena tidak bisa makan pakai sumpit. Sementara orang-orang di sekelilingnya tampak seperti sudah menguasai metode makan dengan alat itu.

Bayar pakai QRIS itu apa?

Kebingungan pertama kali makan di Mie Gacoan masih berlanjut di meja kasir. Saat kasir menyebut nominal yang harus dibayar dan memberi pilihan: Mau (bayar) cash atau QRIS? Ada yang bisik-bisik: “QRIS itu apa?”

Masih banyak orang Rembang yang belum akrab dengan metode pembayaran QRIS. Dan memang masih banyak toko atau warung yang belum menggunakan metode tersebut.

Saya saja baru akrab dengan QRIS belakangan, karena sebelumnya sudah terlalu nyaman dengan cara konvensional.

Terlepas dari kebingungan-kebingungan itu, keberadaan Mie Gacoan setidaknya memberi rasa percaya diri bagi orang Rembang—terutama kalangan anak muda. Sehingga ketika ada yang bertanya, “Di Rembang emang ada Mie Gacoan?” Maka tinggal jawab saja dengan mantap, “Ada dong!”.

Tidak seperti sebelum-sebelumnya yang pasti berujung jadi bahan ceng-cengan sebagai daerah tertinggal.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

Ironi Kurban di Desa: Saling Jegal demi Raup Keuntungan, Orang Miskin Tak Kebagian Daging sementara Orang Mampu Berpesta

Ternyata tidak setiap desa memiliki tradisi guyub di setiap momen Idul Adha (kurban). Kendati di hari raya umat Islam ini, sedianya menjadi momen untuk berbagi—dalam bentuk daging kurban—kepada orang-orang membutuhkan.

Perbincangan dengan beberapa narasumber justru membuka tabir kusam sebuah komunitas masyarakat desa dalam menyikapi hari raya ini.

Gangguan saat jualan kambing kurban

Idul Adha tahun ini, Hasan (50) memang tidak berniat menjual banyak kambing. Tidak seperti di tahun-tahun sebelumnya. Setelah berdiskusi dengan “ahli spiritual”, persaingan di dunia jual-beli kambing ternyata masih mengerikan.

Hasan masih ingat jelas pada momen Idul Adha 2024 lalu. Menjelang hari raya penyembilan kurban, dia mengaku sangat semangat untuk menjual kambing-kambingnya di sebuah pasar hewan di Rembang, Jawa Tengah.

Dia optimis kambingnya bakal laku karena gemuk-gemuk dan sehat. Apalagi lapak dagangnya berada tidak jauh dari gapura pasar.

Namun anehnya, setiap orang yang datang ke pasar hewan seolah tidak melirik keberadaannya sama sekali. Bahkan sekalipun Hasan menyaringkan suara untuk menawarkan kambing-kambingnya. Hingga sehari sebelum hari raya kurban, hanya satu kambing Hasan yang laku di pasar.

“Setelah tanya ke orang pintar (ahli spiritual), ternyata ada yang ganggu. Jalur gaib. Dibuat seolah daganganku nggak kelihatan,” ungkapnya kepada Mojok.

Saling jegal untuk meraup keuntungan

Sementara di tahun ini, sejak bulan lalu Hasan merasa diikuti hal-hal sial. Kambing yang dia proyeksikan untuk dijual sakit-sakitan, alhasil tidak doyan makan sehingga menjadi kurus. Tentu tidak akan ada yang tertarik membeli.

“Saya sendiri juga ikut sakit. Nggak kuat cari rumput,” sambungnya.

Kata Hasan, hal semacam ini sudah dia hadapi sejak puluhan tahun bergelut di dunia jual-beli kambing. Kata Hasan, tidak heran jika beberapa temannya selalu memberi doa-doa khusus agar kambingnya tidak hanya laku, tapi juga aman dari serangan. Sementara Hasan memilih pasrah kepada Allah Swt. Senantiasa memohon pertolongannya.

“Kadang bejo (beruntung). Laku. Nggak ada gangguan. Kadang ya seperti ini. Sekali laku, ya laku keras. Sekali kena gangguan, ya ambruk seambruk-ambruknya,” katanya.

Tidak cuma di hari raya Idul Adha, gangguan serupa juga kerap Hasan rasakan di hari-hari biasa. Di balik ramah tamah para pedagang kambing di pasar, ternyata ada siasat untuk saling jegal.

Nelangsa karena orang-orang pamer

Sementara bagi Wanah (30), juga asal Rembang, Idul Adha kerap menjadi ajang pamer yang membuat orang miskin nelangsa.

Wanah sendiri sebenarnya berkecukupan. Namun, ada dua tetangga dekat rumahnya persis yang bisa dibilang kekurangan.

Kata Wanah, sering kali tetangganya itu nelangsa karena merasa belum ber-Islam secara sempurna karena dua hal: ibadah haji atau setidak-tidaknya berkurban.

“Nah, kalau ada orang pamer seperti ini, tetangga yang, mohon maaf, nggak punya, jadi merasa sedih karena merasa belum bisa beribadah dengan sempurna karena nggak bisa kurban,” sambungnya.

Hukum kurban adalah sunnah muakkadah (sunnah yang dianjurkan) bagi yang mampu. Tidak wajib. Namun, di desa, tekanan lingkungan akhirnya membentuk pola pikir bahwa kurban adalah perkara yang wajib dipenuhi.

Nama-nama orang kurban yang disiarkan

Kata Wanah, rasa nelangsa itu juga muncul lantaran mendengar nama-nama orang berkurban yang disiarkan.

Ulama-ulama Mazhab Syafii berpendapat, tidak ada larangan dalam urusan menyiarkan nama orang yang berkurban. Tidak juga diwajibkan. Artinya boleh-boleh saja.

Sebab, menyiarkan nama-nama orang yang berkurban bisa jadi menjadi jalan dakwah untuk mengajak umat Islam berlomba-lomba dalam berbuat baik.

Dengan catatan, siaran nama tersebut tidak dilebih-lebihkan apalagi sampai pada tahap berdutsa. Imam Nawawi dalam kitab al-Adzkar al-Nawawiyah bahkan menghukumi haram jika penyiaran nama cenderung hiperbolis dan dilandasi kebohongan. Di sisi lain menghukumi sunnah jika diniatkan sebagai dakwah.

Penyiaran nama itupun janganlah sampai membuat seseorang menjadi sombong dan riya (pamer). Tapi seharusnya melatih ikhlas, rendah hati, dan mendorong seseorang untuk senantiasa berbuat baik demi mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Sebab, kurban, merujuk pendapat sejumlah ahli tafsir berakar dari kata qaraba yang berarti dekat: mendekatkan diri kepada Allah Swt.

“Sayangnya, di desaku, ada saja yang berkurban dengan motif pengin sombong,” ungkap Wanah.

Orang miskin justru tak kebagian daging kurban, sementara orang mampu “berpesta”

Masih dari Wanah, sering dalam momen Idul Adha dia mendapati tetangganya yang kurang mampu hanya duduk tercenung di teras rumahnya demi menanti pembagian daging kurban. Tapi berujung tidak kebagian sama sekali.

Itulah kenapa, Wanah—belajar dari ibunya—sengaja akan beli daging sendiri menjelang Idul Adha. Daging itu untuk dia olah sendiri, biar tetap bisa merasakan suasana Idul Adha.

Sedangkan jika dapat daging kurban dari panitia, biasanya akan dia bagikan ke tetangganya yang tidak dapat.

“Setahuku dari ngaji, kalau yang utama (diberi daging kurban) itu fakir miskin,” ucap Wanah. “Ini kok fakir miskinnya sering kelewatan.”

Ada alasan kenapa situasi tersebut bisa terjadi di desa Wanah. Pembagian kurban di desanya kerap didasarkan karena faktor kedekatan. Jika dekat dengan salah seorang panitia, alhasil akan kebagian banyak.

“Masalahnya, panitia kurban di sini terbagi banyak. Masjid punya sendiri, musala sendiri, kelompok khotmil Qur’an punya sendiri. Data mereka kan mirip-mirip. Akhirnya orang yang kebagian itu-itu saja. Nggak merata,” beber Wanah.

Wanah termasuk dalam kategori orang yang dekat dengan banyak panitia kurban. Karena suaminya termasuk tokoh agama muda di desanya. Alhasil, Wanah ketiban banyak sekali daging kurban.

Karena merasa sistem itu tidak adil bagi orang tak mampu yang tidak kebagian, maka Wanah dan suaminya memilih membeli daging sendiri. Lalu daging pemberian panitia dibagikan ke tetangg.

Wanah dan suaminya menyadari mereka tidak bisa mengubah sistem yang sudah lama berlaku. Oleh karena itu, mereka mencoba mengubah dari keluarga mereka sendiri.

Gus Baha: jangan tamak saat Idul Adha

Dalam beberapa kali momen ngaji, KH. Bahaduddin Nursalim (Gus Baha) menyebut, hakikat hari raya—termasuk Idul Adha—adalah hari senang-senang: yaumu aklin (hari makan-makan).

Maka ketika seseorang merasa tidak mampu berkurban kambing atau sapi, tidak ada masalah jika menyembelih hewan lain dengan bobot di bawahnya. Tentu dengan catatan hewan tersebut halal, seperti ayam, ikan, dan lain-lain. Niatnya adalah untuk ikut merayakan hari raya. Hukum ini merujuk pada riwayat Ibnu Abbas.

Kaidah fikihnya adalah: Ma la yudroku kulluhu la yutroku kulluhu (Sesuatu yang tidak bisa dilaksanakan semuanya (secara ideal), ya jangan lantas ditinggalkan sama sekali).

Selain agar tetap bisa bungah karena bisa menyembelih, menyembelih hewan dengan bobot yang lebih kecil itu juga mengurangi potensi tamak: berharap dapat bagian daging kurban, jika tidak kebagian merasa kesal.

Bahkan kalau memungkinkan, Gus Baha lebih menganjurkan lebih baik membeli daging sendiri untuk diolah di Idul Adha, agar jangan terlalu tamak terhadap pembagian daging kurban.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

Makna “Kurban” bagi Para Napi di Lapas Wirogunan: Memalingkan Kepentingan Pribadi demi Menjadi Pribadi Lebih Baik Lagi

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Yogyakarta atau Lapas Wirogunan merayakan Hari Raya Iduladha 1446 H dengan menyembelih sembilan ekor hewan kurban pada Jumat (6/6/2025). Adapun hewan kurban terdiri dari dua ekor sapi dan tujuh ekor kambing.

Napi di Lapas Wirogunan dapat makan daging kurban

Kepala Lapas Yogyakarta, Marjiyanto, berujar proses pemotongan dilakukan secara bertahap hingga hari tasyrik terakhir yakni Senin (9/6/2025). Penyembelihan dilakukan setelah salat Id dan dilaksanakan di lapangan tenis yang berada di dalam kompleks lapas. Adapaun serangkaian kegiatan memotong dan memasak dilakukan di halaman dapur “Bale Raos”.

“Terima kasih kami sampaikan kepada para shohibul kurban. Hari ini dipotong satu sapi dan satu kambing, dilanjutkan pada Sabtu dan Senin. Setelah dimasak di dapur lapas, daging akan dibagikan kepada warga binaan pemasyarakatan (WBP) dalam bentuk makanan siap saji sebagai tambahan gizi,” tutur Marjiyanto melalui keterangan tertulis, Jumat (6/6/2026).

Di hadapan para petugas dan WBP yang mengikuti salat Id, Marjiyanto menyampaikan harapannya agar Iduladha menjadi momen untuk memperkuat rasa syukur dan kepedulian. Ia menilai, semangat berbagi di hari raya dapat memperkuat nilai-nilai kemanusiaan di lingkungan lapas.

Kurban jadi simbol keterhubungan ruhani

Pada pelaksanaan salat Iduladha pagi tadi, Ustaz Muhammad Mahlani dari Kementerian Agama Kota Yogyakarta menyampaikan pesan tentang makna ibadah kurban. Dalam khotbahnya, ia menegaskan bahwa ibadah kurban bukan hanya wujud syukur kepada Allah, tetapi juga bentuk keterlibatan batin dalam semangat pelaksanaan ibadah haji.

“Kurban menjadi simbol keterhubungan ruhani kita dengan peristiwa agung haji. Meski tidak berhaji, kita tetap bisa mengambil bagian melalui ibadah kurban,” ujar Mahlani yang juga Koordinator Ustaz Madrasah Al-Fajar di Lapas Wirogunan.

WBP alias para napi di Lapas Wirogunan sendiri sebelumnya telah melaksanakan manasik haji pada Selasa (3/6/2025). Kegiatan itu menjadi bagian dari program pembinaan kepribadian berbasis keagamaan. Tujuannya untuk memperdalam pemahaman rukun Islam kelima dan membangkitkan semangat religius warga binaan.

Di sana, para napi diingatkan untuk tidak putus asa menjalani hidup karena penjara bukanlah akhir segalanya. Justru saat ini adalah momen paling tepat bagi mereka untuk memperbaiki diri.

Pada momentum Iduladha kali ini, Mahlani menambahkan bahwa WBP dapat belajar menjadi pribadi yang abrar, yakni sosok yang taat dalam beribadah kepada Allah (hablum minallah) sekaligus memberi manfaat bagi sesama (hablum minannas).

“Iduladha mengajarkan keberanian untuk berkorban, bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga waktu, tenaga, dan kepentingan pribadi demi menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.

Para napi menanti bebas

EA (43) salah satu napi yang ada di Lapas Wirogunan mengaku sedih karena satu tahun ini tidak bisa menikmati waktu dengan keluarga, terutama di momen kurban. Ia ketahuan menipu dan dijebloskan ke penjara pada 2024 lalu.

Namun, EA mengaku menyesal. Ia berharap bebas sebagai pribadi yang baru. Jika tidak ada kejadian yang menghambatnya, EA dikabarkan bebas satu bulan lagi setelah Iduladha.

“Sayangnya saya masih belum bebas saat hari raya kurban nanti, jadi tidak bisa bertemu keluarga. Tapi setelah bebas, saya ingin menyempatkan waktu sebulan penuh bersama mereka,” ujar EA.

Setelah puas menghabiskan waktunya bersama keluarga, EA pun sudah membuat rencana seperti saran yang disampaikan oleh Sagiran tadi. Di mana, tiga bulan selanjutnya ia akan fokus mencari kerja dan sisanya dimanfaatkan untuk menata hidup.

“Saya punya tekad dan dengan pertolongan Allah, saya bisa bangkit,” ujar EA.

Tak hanya EA yang merasa perlahan-lahan sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Rojisutanta (54), orang yang mengantarkan saya ke masjid pagi tadi juga merasa begitu. Roji sudah empat tahun ini tinggal di Lapas Wirogunan. Lagi-lagi ia tak bisa kumpul saat momen Iduladha.

Roji mengaku sudah tobat dan tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Di Lapas Wirogunan, Roji lebih banyak berlatih memainkan alat musik bersama tim karawitan di lapas yang bernama Sanggar Seni Wiroguna Budoyo.

Sembari menghabiskan waktunya di Lapas Wirogunan dengan kegiatan yang positif seperti kurban, Roji berharap saat ia bebas nanti keluarganya dapat dengan senang hati menyambutnya. Ia bercerita, anak-anaknya pernah melihat Roji bermain musik dan mereka amat senang.

“Waktu kami tampil, ada istri dan anak saya. Jujur saat itu sangat berat tapi justru merekalah yang menguatkan saya di sini,” ucapnya.

“Saya pribadi sangat merasa berdosa, karena apapun alasannya saya mengakui bahwa saya salah. Apalagi, saya adalah seorang kepala keluarga,” kata dia melanjutkan.

Jika bebas nanti, Roji berujar mungkin dia tidak akan sanggup berkata-kata, dan hanya bisa memeluk keluarganya. Sampai saat ini, ia masih bersyukur bisa diberi kesehatan dan mendapatkan kesempatan untuk berubah.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

Perjuangan Mahasiswa Baru Kuliah di UNY sampai Harus “Tinggal” di Terminal Giwangan dan Nyaris Ditangkap Polisi

Minimnya pengalaman saat merantau membuat Hendri Prayitno (26) sampai harus menginap selama tiga hari dua malam di Terminal Giwangan. Pemuda asal Banyumas, Jawa Tengah itu sejak kecil sekolah di Pulau Bangka, hingga akhirnya diterima sebagai mahasiswa baru (maba) di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Malam pertama maba UNY di Terminal Giwangan

Di tengah lalu lalang bus kota, Hendri terlelap di bangku tunggu Terminal Giwangan, Jogja. Udara dingin yang menyergap tubuhnya, tak mempan mengalahkan kantuknya saat itu. Ia kelelahan setelah menghabiskan waktu sekitar 25 jam dari Pulau Bangka menuju Jakarta dengan menggunakan kapal.

“Jadi, setelah menerima undangan dari kampus, aku harus melakukan verifikasi data di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sebagai mahasiswa baru angkatan tahun 2017,” ucap pemuda asal Banyumas itu kepada Mojok, Rabu (28/5/2025).

Setibanya di Jakarta, Hendri memutuskan singgah sebentar di Banyumas untuk mengurus pembuatan KTP. Tanpa bisa merebahkan badan barang sejenak, Ia langsung melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta. Sampai akhirnya tiba di Terminal Giwangan, Jogja pada tengah malam.

“Di jam itu, aku nggak mungkin langsung ke kampus. Jarak Terminal Giwangan ke UNY pun masih jauh. Sedangkan aku belum punya tempat tinggal dan nggak ada kenalan sama sekali,” jelasnya.

Oleh karena itu, Hendri memutuskan bermalam di ruang tunggu Terminal Giwangan. Tak lama setelah larut dalam mimpi, tubuhnya baru menggeliat sekitar pukul 03.30 WIB, ketika seorang petugas terminal membangunkannya untuk sahur.
“Saya ingat betul karena bertepatan dengan bulan Ramadan. Saya pun menggunakan fasilitas toilet di sana untuk mandi sembari membawa semua barang-barang saya agar tidak hilang,” kata Hendri.

Hampir diboyong ke kantor polisi

Pagi harinya, Hendri bertandang ke UNY untuk survei, sembari mencari kos-kosan murah dengan berjalan kaki. Namun, tidak membuahkan hasil. Rata-rata, kata dia, kos di dekat UNY memang mahal.

Harga kos dekat UNY sekitar Rp1 juta ke atas untuk tiap bulan. Sedangkan, ia memang mencari kos murah dengan fasilitas yang tak muluk-muluk. Yang penting, bisa dipakai tidur.

Karena hari semakin gelap dan tak kunjung menemukan kosan, ia akhirnya kembali ke Terminal Giwangan. Lagi-lagi, ia menghabiskan malam keduanya di terminal hingga akhirnya mengikuti proses verifikasi data di UNY esok pagi.

“Pada malam kedua, dua orang petugas polisi entah datang dari mana membangunkan saya yang sedang tidur. Mereka sempat ingin membawa saya ke kantor, tapi saya menolak,” kata Hendri.

Saat polisi memaksa dirinya bangkit, Hendri buru-buru mengeluarkan kartu identitasnya, serta berkas-berkas yang menunjukkan bahwa dirinya adalah mahasiswa baru di UNY.

Untungnya, kedua polisi itu memahami dan tidak jadi mengusir. Mereka hanya mengingatkan Hendri agar tetap waspada menjaga diri, termasuk barang-barang yang ia bawa.

“Sebelum mereka pergi dari Terminal Giwangan, saya diminta hati-hati karena tempat itu rawan terjadi tindak kejahatan,” ujar Hendri.

“Malaikat penyelamat” di Terminal Giwangan
Di hari ketiga, Hendri akhirnya mengikuti proses verifikasi data di UNY dari pagi hingga sore. Setelah kegiatan selesai, ia singgah sejenak di Masjid Kampus UNY (Masmuja). Di sela-sela istirahatnya itu, ia berkenalan dengan Bryan, salah satu mahasiswa baru di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS).

Keduanya pun sempat berbincang dan bertukar kontak, sebelum akhirnya Hendri kembali ke terminal. Hari itu, lagi-lagi, Hendri memutuskan tidur di Terminal Giwangan. Namun, saat tengah malam, Hendri dikejutkan dengan dering teleponnya sendiri.

Rupanya itu telepon dari Bryan. Ia menanyakan posisi Hendri saat itu. Hendri pun menjawab apa adanya. Tak lama setelah menutup teleponnya, Bryan tiba-tiba datang di Terminal Giwangan dan mengajak Hendri bermalam di rumah keluarganya, bahkan ikut sahur bersama mereka.

Pagi harinya, saat matahari mulai memancarkan terang sinarnya, Hendri pun izin untuk pamit dan mencari kos-kosan dekat UNY. Belum cukup memberikan tumpangan tempat tinggal, ibu Bryan yang baik hati memberikan uang saku kepada Hendri.

Bahkan, Bryan juga membantu Hendri mencari kos dengan harga bulanan yang terjangkau.

“Saat itu saya langsung merenung. Saya tidak tahu, kebaikan apa yang pernah saya lakukan sehingga Tuhan mengirimkan ‘malaikat’ dalam wujud manusia seperti Mas Bryan dan keluarganya. Saya sangat berterima kasih kepada mereka karena sudah menolong saya,” kata Hendri.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

Sosialisasi Bahaya Judi Daring, Investasi Jangka Panjang dalam Menyelamatkan Generasi Muda

Oleh : Annisa Syuhada
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, Indonesia menghadapi tantangan serius dalam bentuk maraknya praktik judi daring (online). Fenomena ini tidak hanya menggerus sendi-sendi ekonomi rumah tangga, tetapi juga menjadi ancaman nyata bagi masa depan generasi muda. Oleh karena itu, langkah preventif berupa sosialisasi dan edukasi tentang bahaya judi daring menjadi investasi jangka panjang yang amat strategis dalam menyelamatkan masa depan bangsa.

Salah satu langkah konkret telah dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai bagian dari garda terdepan dalam sistem keuangan nasional. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menegaskan bahwa penanganan judi daring membutuhkan pendekatan yang sistemik dan kolaboratif lintas lembaga. Upaya-upaya ini tidak bisa bersifat terisolasi. Misalnya hanya Komdigi bersama OJK saja, harus ada dukungan dari pihak-pihak lainnya. OJK telah menutup rekening yang terindikasi judi daring, tetapi juga memang harus dilakukan secara masif dan menyeluruh.

OJK juga telah bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan lembaga perbankan, untuk menggalakkan kampanye publik besar-besaran mengenai bahaya judi daring. Kampanye ini mencakup penyuluhan langsung ke masyarakat, pelajar, hingga pemanfaatan media sosial untuk menjangkau generasi muda yang rentan menjadi sasaran utama judi daring. OJK juga telah memulai inisiatif pertemuan intensif dengan direktur kepatuhan dari berbagai bank untuk merancang pendekatan yang lebih terstruktur dalam memberantas praktik judi online.

Dalam langkah nyata, OJK telah meminta lembaga perbankan untuk memblokir sekitar 17 ribu rekening yang diduga terlibat dalam aktivitas judi daring. Pemblokiran ini dilakukan berdasarkan data yang diperoleh dari Kementerian Komunikasi dan Digital (KemenKomdigi). Bank diminta untuk melakukan penutupan rekening yang memiliki kesesuaian dengan nomor identifikasi kependudukan serta melakukan enhanced due diligence (pengawasan lanjutan).

Langkah OJK ini mendapat dukungan luas dari pemerintah daerah. Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, menyampaikan imbauan keras kepada seluruh pelajar di wilayahnya untuk menjauhi praktik judi daring. Ia menekankan bahwa masa depan para pelajar tidak boleh dirusak oleh aktivitas ilegal yang menawarkan janji-janji keuntungan instan.

Pelajar dan generasi muda diminta untuk menjauhi judi daring karena merusak masa depan generasi muda, diharapkan anak muda fokus pada pendidikan dan cita-cita. Jangan mudah tergoda dengan iming-iming uang cepat dari aktivitas yang melanggar hukum dan merusak moral.

Pernyataan ini selaras dengan kebijakan nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto dalam kerangka besar Asta Cita, salah satunya adalah penguatan karakter bangsa dan perlindungan terhadap generasi muda dari ancaman sosial dan digital. Dalam konteks ini, pemberantasan judi online bukan hanya soal penegakan hukum, tetapi juga soal menjaga masa depan bangsa.

Dalam banyak kasus, judi daring tidak berdiri sendiri. Aktivitas ini kerap terhubung dengan kejahatan siber lainnya, seperti pencucian uang, penipuan digital, dan bahkan pendanaan aktivitas ilegal lainnya. Oleh sebab itu, sosialisasi bahaya judi daring perlu digencarkan tidak hanya di sekolah dan universitas, tetapi juga di lingkungan masyarakat umum, rumah ibadah, hingga tempat kerja.

Pemerintah perlu terus mendukung berbagai inisiatif positif dari aparat penegak hukum, OJK, dan pemerintah daerah. Edukasi tentang literasi digital, pentingnya pengelolaan keuangan pribadi, dan kesadaran hukum harus menjadi bagian dari kurikulum pendidikan formal maupun nonformal. Keterlibatan tokoh masyarakat, pendidik, tokoh agama, dan media massa sangat penting untuk menyampaikan pesan-pesan antijudi daring secara luas dan efektif.

Salah satu pendekatan yang bisa diambil adalah melalui pelibatan komunitas digital, seperti para influencer, kreator konten, hingga gamer, yang memiliki basis pengikut besar dari kalangan muda. Dengan pesan-pesan yang kreatif dan bahasa yang mudah dipahami, sosialisasi bahaya judi daring dapat lebih efektif menjangkau kelompok usia yang paling rentan.

Selain itu, penting juga untuk memperkuat sistem deteksi dini pada aktivitas keuangan mencurigakan di sektor perbankan dan e-commerce. Pengawasan terhadap transaksi digital yang tidak wajar perlu ditingkatkan dengan dukungan teknologi berbasis kecerdasan buatan dan big data analytics, agar upaya pencegahan tidak selalu menunggu hingga kejahatan terjadi.

Di tengah gencarnya upaya pemberantasan judi daring oleh pemerintah dan lembaga terkait, peran serta masyarakat sangat krusial. Tanpa kesadaran kolektif, tidak mungkin ancaman ini bisa diberantas hingga ke akar. Setiap individu, keluarga, dan komunitas memiliki peran penting dalam mencegah penyebaran dan dampak buruk dari judi daring.

Dengan begitu, diharapkan seluruh masyarakat bersama-sama menjaga masa depan bangsa dengan memperkuat edukasi dan literasi digital, menjauhi godaan judi daring, dan mendukung sepenuhnya kebijakan pemerintah dalam menciptakan ruang digital yang bersih, sehat, dan produktif. Jangan biarkan generasi muda terjebak dalam lingkaran ilusi kekayaan instan yang akhirnya membawa kehancuran.

)* Penulis merupakan Pegiat Sosial.

Tokoh Papua Serukan Perdamaian dan Lawan Kekerasan Separatis OPM

Oleh: Loa Murib

Peristiwa penembakan brutal terhadap dua pekerja bangunan yang tengah mengerjakan rumah ibadah di Kampung Kwantapo, Distrik Asotipo, Kabupaten Jayawijaya, menjadi titik nadir kekejaman yang terus dipertontonkan oleh kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM). Dalam insiden mengenaskan ini, dua warga sipil, Rahmat Hidayat dan Saepudin, kehilangan nyawa mereka secara tragis. Serangan itu tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga mengoyak nilai-nilai kemanusiaan dan kesucian tempat ibadah yang semestinya menjadi ruang damai.

Kebiadaban ini bukanlah yang pertama. Dalam beberapa tahun terakhir, deretan serangan serupa telah menunjukkan bahwa OPM semakin kehilangan arah dan legitimasi di mata rakyat Papua. Sasaran mereka bukan lagi aparat bersenjata, melainkan rakyat sipil tak bersalah—bahkan rumah Tuhan tak luput dari amukan peluru. Ironisnya, kelompok yang mengatasnamakan “perjuangan” itu justru menciptakan penderitaan mendalam bagi orang asli Papua yang mereka klaim ingin bebaskan. Alih-alih membela kepentingan masyarakat Papua, OPM justru menjadi sumber ketakutan dan trauma.

Namun, di tengah teror dan duka yang melanda, suara keberanian dan persatuan yang selaras dengan upaya pemerintah dan aparat keamanan menguat dari berbagai penjuru tanah Papua. Suara ini tidak datang dari pucuk senjata, melainkan dari lubuk hati rakyat yang menginginkan kedamaian. Suara ini datang dari tokoh agama, masyarakat, dan pemimpin daerah yang bersama-sama menyerukan perlawanan terhadap teror, bukan dengan kekerasan, tetapi dengan kekuatan moral dan persatuan.

Wakil Bupati Jayawijaya, Ronny Elopere, secara tegas menyatakan bahwa apa yang dilakukan OPM bukanlah perjuangan, melainkan pembunuhan keji yang menghancurkan hidup masyarakat Papua sendiri. Ia menegaskan bahwa orang asli Papua tidak akan tinggal diam menyaksikan kekerasan terus berlangsung. Dalam seruan moral yang menggema, Ronny menyampaikan bahwa masyarakat harus bersinergi dengan aparat keamanan untuk mengakhiri teror yang selama ini membuat rakyat hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Ini adalah momentum bagi Papua untuk berdiri tegak, menolak kekerasan dalam bentuk apa pun.

Dukungan moral yang sama datang dari Ketua Klasis Baliem Yalimo, Pendeta Eduard Su, yang mengecam keras penyerangan terhadap gereja dan warga sipil. Ia menyebut tindakan OPM sebagai penghinaan terhadap tempat suci dan nilai-nilai agama. Gereja, yang seharusnya menjadi simbol perdamaian dan harapan, berubah menjadi medan berdarah karena kebiadaban yang tidak berperikemanusiaan. Menurut Eduard, kekejaman ini tidak bisa lagi ditoleransi, dan rakyat Papua harus bersatu menolak segala bentuk teror demi masa depan yang damai dan harmonis.

Respons masyarakat tidak lagi bisa bersifat pasif, tetapi harus diarahkan untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas dan keamanan. Mereka bukan sekadar angka statistik korban, melainkan individu yang memiliki keluarga, harapan, dan masa depan. Saat rumah Tuhan dijadikan sasaran, maka yang diserang bukan hanya fisik bangunan, melainkan semangat dan iman komunitas. Maka dari itu, respons masyarakat tidak lagi bisa bersifat pasif. Ini saatnya untuk menunjukkan bahwa kekuatan Papua sejati terletak pada kebersamaan dan keteguhan hati dalam menjaga perdamaian.

Suara dari akar rumput pun turut mempertegas penolakan terhadap teror. Markus Murib, seorang warga asli Papua yang selamat dari serangan, mengungkapkan ketakutan dan kekecewaannya. Ia menyatakan bahwa masyarakat kecil tidak ingin terlibat dalam konflik yang bukan milik mereka. Harapan mereka sederhana: hidup damai, bekerja dengan tenang, dan beribadah dengan aman. Pernyataan Markus mencerminkan realitas bahwa OPM telah kehilangan simpati dari masyarakat Papua itu sendiri.

Perlawanan terhadap teror ini tidak harus menggunakan senjata, namun harus diarahkan pada penguatan kolaborasi masyarakat dengan pemerintah dan TNI-Polri.. Ketika peluru diarahkan ke para pekerja gereja, sesungguhnya yang diserang adalah harapan akan masa depan Papua yang lebih baik. Maka, perlawanan terhadap teror ini tidak harus menggunakan senjata, tetapi dengan kekuatan kolektif untuk menolak kekerasan, melawan narasi separatisme, dan memperkuat sendi-sendi sosial kemasyarakatan yang selama ini menjadi benteng perdamaian.

Solidaritas seluruh elemen masyarakat menjadi kunci. Pemuka agama, tokoh adat, pemerintah daerah, hingga masyarakat sipil harus saling menguatkan dan menegaskan bahwa Papua adalah bagian utuh dari Indonesia yang menjunjung tinggi kedamaian dan nilai kemanusiaan. Kolaborasi dengan aparat keamanan dalam menjaga stabilitas harus terus diperkuat, namun pendekatan kultural dan kemasyarakatan juga menjadi fondasi penting untuk memutus mata rantai kekerasan.

Masyarakat Papua tidak membutuhkan senjata untuk menyuarakan identitasnya, karena pemerintah telah membuka ruang seluas-luasnya bagi aspirasi dan pembangunan yang inklusif. Papua adalah tanah yang kaya akan budaya, spiritualitas, dan potensi sumber daya manusia yang luar biasa. Masyarakat Papua tidak membutuhkan senjata untuk menyuarakan identitasnya. Yang mereka butuhkan adalah jaminan keamanan, kesejahteraan, dan ruang untuk hidup damai di atas tanah leluhur mereka.

Serangan OPM terhadap rumah ibadah di Jayawijaya adalah bentuk kebiadaban yang tidak bisa dibenarkan dalam konteks apa pun. Namun tragedi ini juga menjadi cermin yang memperlihatkan bahwa kekuatan sejati Papua terletak pada suara damai yang menolak tunduk pada kekerasan. Masyarakat Papua kini bersatu, bukan untuk membalas dengan kebencian, tetapi untuk membangun masa depan yang bebas dari rasa takut.

*Penulis adalah Mahasiswa Papua di Jawa Timur

OPM Kembali Lakukan Teror Brutal di Jayawijaya, Warga Papua Bersatu Tolak Kekerasan

JAYAWIJAYA – Jayawijaya kembali menjadi saksi kekejaman Organisasi Papua Merdeka (OPM) usai penembakan brutal terhadap dua pekerja bangunan rumah ibadah, Rahmat Hidayat dan Saepudin di Kampung Kwantapo, Distrik Asotipo. Tindakan ini tak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menodai kesucian tempat ibadah dan mengguncang nurani kemanusiaan.
Serangan terhadap warga sipil semakin mempertegas bahwa OPM kian kehilangan arah perjuangan. Alih-alih membela masyarakat Papua, OPM justru menebar teror dan luka mendalam bagi warga asli. Ironisnya, propaganda yang disebar kerap dibungkus dengan narasi palsu dan hoaks demi mengaburkan fakta keji di lapangan.
Wakil Bupati Jayawijaya, Ronny Elopere, mengecam keras aksi tersebut dan menegaskan bahwa kekerasan yang dilakukan OPM tidak merepresentasikan aspirasi rakyat Papua.
“Apa yang mereka lakukan bukan perjuangan, melainkan pembunuhan yang melukai kami semua,” ujar Ronny.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat dan aparat untuk bersinergi menjaga keamanan.
“Masyarakat tidak boleh takut. Kita harus lawan teror ini dengan persatuan dan kekuatan moral,” tambahnya.
Hal yang sama juga disampaikan Ketua Klasis Baliem Yalimo, Pendeta Eduard Su, yang menyebut tindakan OPM sebagai penghinaan terhadap nilai-nilai agama.
“Gereja seharusnya menjadi tempat damai, bukan medan kekerasan. Ini tidak bisa ditoleransi,” tegas Pendeta Eduard.
Ia mengajak seluruh umat untuk bersatu menolak teror dan tidak terpengaruh oleh propaganda separatis. Menurutnya, kekejaman OPM justru mengkhianati semangat kemanusiaan dan nilai-nilai spiritual masyarakat Papua.
Sementara itu, warga yang selamat dari serangan, Markus Murib, mengungkapkan keresahannya atas situasi yang mencekam.
“Kami hanya ingin hidup tenang, bekerja dan beribadah tanpa rasa takut,” ungkap Markus Murib.
Tragedi ini menjadi penanda bahwa narasi kebencian OPM tidak lagi mendapat tempat di hati masyarakat Papua. Kekuatan rakyat kini terletak pada suara damai dan penolakan terhadap kekerasan. Sebuah sinyal kuat bahwa Papua menolak tunduk pada teror, dan memilih jalan damai untuk masa depan yang bermartabat. (^)

Kecam Tindakan Separatis OPM, Tokoh Papua Tegaskan Komitmen Jaga Perdamaian

Papua — Meningkatnya aksi kekerasan bersenjata oleh kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) di wilayah Papua Tengah menuai kecaman keras dari berbagai tokoh masyarakat dan pejabat daerah. Mereka menilai tindakan OPM tidak hanya merusak keamanan, tetapi juga mencederai nilai-nilai kemanusiaan dan agama yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Papua.

Dalam kunjungan reses ke Nabire, Wakil Ketua DPD RI, Yorrys Raweyai, mengungkapkan kekerasan oleh OPM yang terjadi di wilayah seperti Puncak, Intan Jaya, dan Dogiyai telah menciptakan ketakutan mendalam di tengah masyarakat. Fasilitas umum seperti sekolah dan rumah sakit lumpuh, dan warga hidup dalam ketidakpastian masa depan, terutama anak-anak yang kesulitan mendapatkan akses pendidikan.

“Kami berharap seluruh unsur pemerintahan daerah bekerja sama, bersinergi dan berkolaborasi dalam menangani masalah Papua Tengah” kata Yorrys.

Sementara itu, Ketua Klasis Baliem Yalimo, Pendeta Eduard Su, menyesalkan aksi penyerangan OPM terhadap gereja yang sedang dibangun. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai penghinaan terhadap tempat suci dan bentuk kejahatan kemanusiaan yang sudah melampaui batas. Eduard menyerukan kepada masyarakat Papua untuk bersatu melawan teror dan menegakkan nilai-nilai perdamaian.

“Gereja adalah simbol damai, bukan medan pertumpahan darah. Pembunuhan terhadap dua warga yang tengah membangun rumah Tuhan adalah bentuk kebiadaban,” ujarnya.

Kecaman serupa juga datang dari Wakil Bupati Jayawijaya, Ronny Elopere. Ia menegaskan bahwa tindakan OPM bukan perjuangan kemerdekaan, melainkan teror terhadap orang asli Papua sendiri.

“Kami tidak akan tinggal diam. Ini adalah aksi terorisme. Kami akan bersinergi dengan TNI-Polri untuk mengusut tuntas dan memulihkan rasa aman masyarakat,” tegas Ronny.

Tokoh gereja Papua lainnya, Socratez Yoman, menyampaikan dukungan terhadap program-program Presiden Prabowo Subianto dan mendoakan agar beliau senantiasa diberi kekuatan dalam menjalankan tugas negara. Ia berharap pemimpin nasional dapat membawa solusi damai dan adil bagi masyarakat Papua.

Solidaritas antara pemimpin daerah, tokoh agama, dan masyarakat Papua menjadi kunci penting dalam menolak kekerasan dan mengembalikan harapan akan masa depan yang aman, damai, dan bermartabat di Tanah Papua.