Danantara dan Sektor Usaha Wujudkan Ekonomi Berkelanjutan

Oleh : Dirandra Falguni )*

Pemerintah Indonesia terus menunjukkan keseriusannya dalam menciptakan fondasi ekonomi nasional yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan. Salah satu instrumen utama yang kini diandalkan adalah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), sebuah entitas strategis yang dirancang untuk mengelola kekayaan negara secara profesional dan berbasis digital.

Wakil Menteri Keuangan, Anggito Abimanyu menegaskan bahwa keberadaan Danantara menjadi kunci untuk meningkatkan laju investasi nasional yang saat ini masih tergolong moderat. Pertumbuhan ekonomi kuartal I mencapai 4,87 persen (yoy), mencerminkan perekonomian domestik kita tetap kuat. Tetapi pihaknya perlu meningkatkan investasi sehingga Danantara menjadi salah satu jawaban.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa komponen investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) hanya tumbuh 2,12 persen pada kuartal pertama 2025. Perlambatan terjadi terutama pada investasi bangunan dan mesin non-kendaraan. Di sisi lain, konsumsi rumah tangga masih tumbuh solid sebesar 4,89 persen, didorong momentum libur Tahun Baru, Ramadhan, hingga Idul Fitri.

Situasi ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan dalam memperkuat fondasi investasi jangka panjang. Maka, Danantara hadir sebagai jawaban strategis yang tidak sekadar untuk mengejar profit, tetapi juga mendorong pembangunan berkelanjutan.

Presiden Prabowo Subianto mengatakan Danantara bukan sekadar platform, tetapi sebuah terobosan besar yang diharapkan dapat membawa Indonesia ke puncak kejayaan ekonomi di era digital. Menurutnya, Danantara adalah simbol transformasi pengelolaan kekayaan negara yang lebih inklusif, transparan, dan berpihak pada rakyat.

Setelah struktur organisasi terbentuk, Danantara kini tengah menyusun daftar proyek strategis yang akan menjadi portofolio awal pengelolaan investasi. CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menekankan bahwa pendekatan mereka tidak semata mengejar angka keuntungan, namun lebih kepada dampak konkret bagi masyarakat.
Pihaknya tidak hanya berfokus pada angka dan keuntungan, tetapi juga pada dampak yang nyata bagi masyarakat. Semua proses pengelolaan dilakukan dengan transparansi dan profesionalisme.

Sikap ini menandai pergeseran paradigma dalam pengelolaan aset negara: dari sekadar pencatatan administratif menjadi katalis pembangunan nasional, termasuk pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, serta pemerataan pembangunan antarwilayah.

Salah satu contoh konkret kolaborasi Danantara dengan sektor usaha adalah rencana kerja sama dengan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE). Sebagai entitas yang bergerak di sektor energi baru dan terbarukan (EBT), PGE menargetkan penambahan kapasitas geothermal hingga 1.800 Megawatt pada 2033. Pencapaian ini membutuhkan investasi senilai USD 6 hingga 7 miliar, dan PGE membuka pintu kerja sama strategis, termasuk dengan Danantara.

Direktur Keuangan PGE, Yurizki Rio, menyatakan bahwa pengembangan geothermal adalah langkah penting untuk mendukung kemandirian energi nasional. Pihaknya menerapkan berbagai teknologi untuk menekan biaya produksi dan menjawab tantangan harga listrik panas bumi yang masih rendah. Kerja sama dengan Danantara dapat membuka peluang besar bagi realisasi proyek-proyek tersebut.

Komitmen ini juga sejalan dengan target pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto untuk menambah kapasitas pembangkit EBT sebesar 75 Gigawatt pada tahun 2040. Dalam konteks ini, peran Danantara sebagai pengelola investasi akan menjadi penggerak utama pembangunan infrastruktur energi bersih di seluruh Indonesia.

Di samping penguatan investasi, pemerintah juga menjalankan strategi paralel untuk meningkatkan kapasitas ekonomi domestik, salah satunya melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Saat ini, sudah 3,4 juta anak di seluruh Indonesia yang mendapatkan manfaat dari program tersebut. Selain sebagai investasi jangka panjang dalam peningkatan kualitas SDM, program ini juga berdampak langsung pada ekonomi lokal.

Program tersebut memberikan dampak ekonomi, tercermin di dapur-dapur di berbagai wilayah Indonesia. Aktivitas belanja bahan pangan, keterlibatan UMKM lokal, dan peningkatan permintaan bahan baku menunjukkan bahwa MBG tidak sekadar program sosial, melainkan penggerak ekonomi mikro yang nyata.

Dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks, baik dari sisi geopolitik, perubahan iklim, hingga ketidakpastian pasar, pemerintah menyadari perlunya pendekatan holistik. Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa APBN akan terus diarahkan pada kebijakan yang produktif, termasuk melalui insentif seperti THR, subsidi listrik dan tol, serta pengendalian harga pangan.

Pemerintah juga menerapkan strategi deregulasi, pembentukan satgas ketenagakerjaan, hingga rekonstruksi belanja negara agar lebih efisien dan tepat sasaran. Ini penting untuk menciptakan ruang fiskal yang sehat serta menjaga daya beli masyarakat sekaligus melindungi dunia usaha dari tekanan global.

Sementara itu, Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menyebut bahwa Danantara menjadi simbol transformasi dalam tata kelola aset negara. Menurutnya, langkah tersebut memastikan bahwa kekayaan negara benar-benar bermanfaat untuk seluruh rakyat Indonesia.

Keberadaan Danantara tidak hanya menjadi tonggak dalam pengelolaan aset negara secara modern, namun juga menjadi jembatan antara pemerintah, investor, dan masyarakat. Melalui kolaborasi dengan sektor usaha, pengembangan energi bersih, dan program sosial seperti MBG, pemerintah tengah membentuk fondasi ekonomi baru yang lebih inklusif, resilien, dan berkelanjutan.

Dengan prinsip good governance, transparansi, dan pemanfaatan teknologi digital, Danantara diharapkan menjadi motor penggerak Indonesia menuju kedaulatan ekonomi dengan mewujudkan impian lama tentang negeri yang mandiri secara ekonomi, adil dalam distribusi kekayaan, serta sejahtera bagi seluruh rakyatnya.

)* Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Pemerintah

Cek Kesehatan Gratis Jadi Langkah Konkret Menuju Indonesia Emas 2045

Jakarta, – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai salah satu program unggulan pemerintah yang telah dilaksanakan secara nasional mulai Februari 2025, program tersebut sebagai salah satu inisiatif strategis dalam mendukung tercapainya visi besar Indonesia Emas 2045, yakni Indonesia yang maju, sejahtera, dan berdaya saing tinggi pada peringatan 100 tahun kemerdekaan.

Diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, program CKG menjadi salah satu prioritas pembangunan sumber daya manusia unggul di bidang kesehatan. Presiden Prabowo menegaskan bahwa kesehatan masyarakat adalah fondasi utama menuju kemajuan bangsa.

“Kita tidak bisa bicara masa depan jika rakyat kita masih rentan terhadap penyakit yang sebenarnya bisa dicegah sejak dini,” ujarnya.

Program CKG memberikan layanan pemeriksaan kesehatan dasar secara gratis kepada masyarakat, meliputi pengukuran tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, pemeriksaan fungsi jantung, dan konsultasi medis.

Layanan ini bisa diakses oleh seluruh warga negara Indonesia yang memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK), dan dilaksanakan di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas dan klinik mitra.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa CKG menargetkan 60 juta pemeriksaan pada tahun 2025, dengan cakupan yang akan terus ditingkatkan hingga mencakup lebih dari 200 juta penduduk pada tahun 2026. Anggaran sebesar Rp 4,7 triliun telah disiapkan melalui sinergi APBN dan APBD, mencerminkan komitmen pemerintah untuk menjadikan layanan kesehatan preventif sebagai prioritas.

“Program ini bukan hanya soal cek kesehatan gratis. Ini soal membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini. Kita ingin mengubah budaya masyarakat dari pengobatan ke pencegahan,” Ungkapnya.

Masyarakat yang ingin memanfaatkan layanan ini dapat mendaftar melalui aplikasi Satu Sehat Mobile, layanan chatbot WhatsApp di nomor 0811-1050-0567, atau datang langsung ke fasilitas layanan kesehatan terdekat dengan membawa KTP atau Kartu Keluarga. Pemeriksaan dapat dilakukan mulai dari 30 hari sebelum hingga 30 hari setelah tanggal ulang tahun warga yang bersangkutan.

Di berbagai daerah, pelaksanaan CKG mendapat sambutan positif. Antrean warga tampak mengular di sejumlah puskesmas di Surabaya, Makassar, dan Medan. Para peserta rata-rata mengaku terbantu dengan program ini, terlebih di tengah mahalnya biaya pemeriksaan kesehatan secara mandiri.

Dengan Program Cek Kesehatan Gratis, pemerintah menunjukkan komitmen konkret dalam membangun generasi yang sehat dan produktif..

Dunia Usaha Ambil Peran Strategis Lewat Program Cek Kesehatan Gratis

Bandung – Otto Pharmaceutical bersama Kementerian Kesehatan RI, Puskesmas Jayagiri, dan Halodoc menggelar program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Pabrik Otto, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Kegiatan ini berhasil menjangkau 421 warga Desa Gudang Kahuripan, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran akan pentingnya deteksi dini dan kesehatan preventif di tengah masyarakat.

Program CKG merupakan salah satu langkah nyata dunia usaha dalam mendukung agenda pemerintah melalui Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) atau Quick Win Presiden Prabowo Subianto, yang kini mulai diterapkan di seluruh Puskesmas di Indonesia. Program ini berlaku bagi seluruh kelompok usia mulai dari bayi baru lahir hingga lansia—dan bertujuan menekan biaya perawatan kesehatan jangka panjang melalui pencegahan penyakit sejak dini.

President Director PT OTTO Pharmaceutical Industries, Sugeng Budiyono Wijanto, menegaskan pentingnya kontribusi sektor swasta dalam pemerataan akses layanan dasar. “Di usia 62 tahun ini, kami ingin memberi lebih dari sekadar produk, tapi kontribusi nyata di lapangan. Kesehatan adalah fondasi pembangunan bangsa,” ujarnya.

Selain pemeriksaan kesehatan, program ini juga menyertakan edukasi mengenai pola hidup sehat dan penggunaan obat yang benar. Kepala Puskesmas Jayagiri, Anwar, menyebut kegiatan ini berdampak signifikan.

“Banyak warga yang baru pertama kali memeriksakan kondisi fisik dan kadar gula darah. Ini membantu deteksi dini dan menjadi momen edukasi yang sangat berharga,” ucap Anwar.

Program ini tidak hanya memperkuat strategi promotif dan preventif, tapi juga mendukung integrasi sistem digital melalui pencatatan peserta di platform Satu Sehat, selaras dengan transformasi sistem kesehatan nasional.

Inisiatif Otto ini merupakan bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) berkelanjutan yang fokus pada kesehatan masyarakat sekitar kawasan produksi. Perusahaan memastikan bahwa kolaborasi seperti ini akan terus dilakukan sebagai strategi jangka panjang yang berkelanjutan.

Selain itu, dukungan sektor swasta terhadap program kesehatan nasional juga mendapat perhatian global. Pendiri Microsoft, Bill Gates, melakukan kunjungan ke Indonesia untuk memperkuat kerja sama di sektor kesehatan melalui Gates Foundation.

“Kemitraan kami dengan Indonesia dan mitra lokal seperti Bio Farma mencerminkan komitmen bersama untuk memajukan kemajuan baik di tingkat regional maupun global,” ujar Bill Gates.

Dengan mendukung kapasitas manufaktur serta kegiatan penelitian dan pengembangan di Indonesia yang terus berkembang termasuk melalui kerjasama dengan lembaga seperti Otto Pharmaceutical, Bio Farma, dan Gates Foundation berperan dalam menekan biaya serta memperluas akses terhadap alat-alat kesehatan esensial.

Dukungan ini tidak hanya mendorong kemajuan sektor kesehatan di Indonesia, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi jutaan orang.()

Program Cek Kesehatan Gratis Perkuat Gerakan Masyarakat Hidup Sehat

Oleh: Bara Winatha*)

Pemerintah terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat layanan kesehatan berbasis promotif dan preventif melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Program ini merupakan bagian dari upaya strategis nasional dalam memperluas akses pelayanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan masyarakat pedesaan. CKG hadir sebagai bentuk nyata gerakan kolektif menuju masyarakat yang lebih sehat dan sadar akan pentingnya deteksi dini penyakit. Program ini merupakan implementasi dari visi Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan sistem kesehatan nasional yang inklusif, efisien, dan berkelanjutan.

Pendiri Gates Foundation, Bill Gates, mengatakan bahwa langkah-langkah konkret pemerintah Indonesia dalam sektor kesehatan layak mendapat apresiasi global. Ia menilai bahwa program-program seperti CKG menjadi fondasi penting dalam mendorong masyarakat hidup sehat, sejalan dengan upaya global untuk mengurangi beban penyakit tidak menular dan meningkatkan kualitas hidup.

Gates juga memuji keterlibatan aktif pemerintah Indonesia dalam penguatan sistem kesehatan melalui adopsi vaksin baru serta program pemenuhan gizi ibu hamil. Menurutnya, Indonesia telah menunjukkan kepemimpinan dalam menangani isu-isu kesehatan masyarakat, mulai dari peluncuran vaksin hingga program suplemen bagi ibu hamil. Ia menambahkan bahwa inisiatif semacam CKG akan semakin memperluas cakupan deteksi dini terhadap berbagai penyakit dan menjadi investasi jangka panjang dalam kesehatan nasional.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa program CKG merupakan bentuk pelayanan negara kepada rakyat. Ia menegaskan bahwa program ini tidak hanya untuk masyarakat di perkotaan, tetapi juga harus menjangkau seluruh pelosok Indonesia, termasuk daerah pedalaman dan terpencil. Menkes mendorong seluruh pemerintah daerah untuk bersinergi dalam menyukseskan program ini.

Ia mencontohkan capaian Provinsi Jawa Tengah yang menyumbang hampir 40 persen dari total realisasi nasional program CKG. Hal ini disebutnya sebagai bukti bahwa dengan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, maka pemerataan layanan kesehatan dapat benar-benar terealisasi. Masyarakat diimbau agar memanfaatkan kesempatan ini, karena layanan tersebut tidak dipungut biaya dan bisa diakses secara langsung melalui puskesmas maupun aplikasi digital milik Kementerian Kesehatan.

Ketua Tim Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Nur Laila S.Kep, NS, M.Kes, mengatakan bahwa banyak masyarakat masih menunda cek kesehatan karena takut, merasa belum perlu, atau terlalu sibuk. Anggapan seperti itu perlu diluruskan, karena banyak penyakit serius tidak menunjukkan gejala awal yang jelas. Program CKG ini merupakan solusi konkret dan terjangkau bagi masyarakat untuk mengenali kondisi kesehatannya secara rutin.

Pemeriksaan kesehatan pada program ini mampu mendeteksi dini penyakit seperti hipertensi, diabetes, gangguan ginjal, kolesterol tinggi, bahkan gangguan organ vital lainnya. Masyarakat bisa menghemat biaya besar yang biasanya dikeluarkan untuk pemeriksaan mandiri, yang bisa mencapai lebih dari satu juta rupiah, hanya dengan memanfaatkan layanan CKG yang sepenuhnya ditanggung negara.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menjadi salah satu daerah yang paling agresif dalam menjalankan program ini. Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Yunita Dyah Suminar, menyampaikan bahwa keberhasilan capaian di provinsinya tidak lepas dari dukungan kepala daerah dan komitmen tenaga kesehatan di lapangan. Ia menyebut bahwa para tenaga kesehatan secara aktif menyosialisasikan manfaat program ini ke masyarakat dari rumah ke rumah maupun melalui berbagai kegiatan sosial.

Program ini juga terintegrasi dengan platform digital melalui aplikasi Satu Sehat Mobile dan WhatsApp resmi Kementerian Kesehatan, yang memungkinkan masyarakat untuk mendaftar dan memperoleh informasi mengenai lokasi dan jadwal layanan. Hal ini menjadi bagian dari transformasi sistem layanan kesehatan berbasis teknologi, yang bertujuan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, terutama generasi muda yang lebih terbiasa dengan sistem digital. Pelibatan teknologi juga diharapkan dapat meningkatkan akurasi data kesehatan nasional serta memudahkan proses evaluasi dan pemantauan.

Gerakan hidup sehat yang digencarkan melalui program ini diharapkan akan membentuk budaya baru di tengah masyarakat, yakni kesadaran bahwa kesehatan merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, melainkan membutuhkan partisipasi aktif dari semua elemen, termasuk keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial. Program Cek Kesehatan Gratis menjadi instrumen penting untuk membangun ekosistem sehat yang berkelanjutan, dengan mendorong masyarakat untuk rutin mengecek kondisi tubuh mereka dan mengambil langkah preventif sedini mungkin.

Apresiasi dari tokoh global seperti Bill Gates terhadap upaya Indonesia dalam memperkuat layanan kesehatan menambah bobot pentingnya program ini di mata dunia. Gates melihat bahwa keterlibatan Indonesia dalam inovasi vaksinasi, penanganan malnutrisi, dan penguatan layanan kesehatan primer menjadi model yang bisa diadopsi oleh negara lain. Ia menilai bahwa kolaborasi lintas sektor, seperti yang dilakukan antara pemerintah Indonesia dan Gates Foundation, membuka peluang besar untuk memperluas dampak sosial dan mempercepat pencapaian target-target kesehatan global.

Melalui program CKG, Indonesia menunjukkan bahwa pembangunan sektor kesehatan dapat menjadi upaya dalam pencegahan, edukasi, dan perubahan gaya hidup masyarakat yang lebih baik. Pendekatan ini sejalan dengan arah baru pembangunan berkelanjutan yang mengedepankan kualitas hidup manusia dan ketahanan sosial di tengah tantangan global. Program ini akan menjadi tonggak penting dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih sehat, tangguh, dan sejahtera.

*)Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan

Cek Kesehatan Gratis Jadi Bagian Strategi Nasional Bidang Kesehatan

Oleh: Wildan Deni Grahita (*

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Indonesia menunjukkan komitmen kuat dalam memperkuat sistem kesehatan nasional. Salah satu bentuk konkret dari komitmen tersebut adalah penyelenggaraan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang kini menjadi bagian penting dalam strategi nasional di bidang kesehatan. Program ini bukan hanya wujud perhatian negara terhadap kesehatan masyarakat, melainkan juga strategi preventif yang efektif untuk menekan beban pembiayaan kesehatan di masa depan.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan pentingnya deteksi dini dan skrining rutin sebagai pilar utama dalam menjaga kesehatan masyarakat. Menurutnya, pencegahan selalu lebih murah dan lebih efektif daripada pengobatan. Dia mendorong masyarakat untuk melakukan cek kesehatan gratis setidaknya satu kali dalam setahun. Ini langkah kecil yang dapat menyelamatkan banyak nyawa. Ia juga mengapresiasi sejumlah daerah yang telah mengimplementasikan program ini dengan baik, salah satunya melalui inisiatif Dokter Spesialis Keliling (Spelling) yang terbukti mampu menjangkau masyarakat di pelosok pedesaan.

Capaian program ini juga menunjukkan progres yang menggembirakan. Dari sekitar 4,8 juta peserta yang mengikuti CKG secara nasional, sebanyak dua juta peserta berasal dari Jawa Tengah. Angka ini setara dengan 40 persen dari total peserta, menjadikan provinsi tersebut sebagai kontributor terbesar, melampaui Jawa Timur dan Jawa Barat. Fakta ini menunjukkan bahwa antusiasme dan partisipasi masyarakat meningkat ketika program dijalankan secara terstruktur dan dekat dengan kebutuhan nyata warga.

Cek kesehatan gratis bukan hanya soal alat ukur kesehatan semata, tetapi juga soal edukasi dan membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan sejak dini. Langkah ini menjadi penting mengingat penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung kini menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Dengan deteksi dini, potensi beban pembiayaan akibat pengobatan penyakit kronis dapat ditekan secara signifikan.

Dalam pelaksanaannya, program ini tidak berdiri sendiri. Kolaborasi dengan sektor swasta menjadi elemen penting dalam memperluas jangkauan dan efektivitas program. Salah satunya datang dari industri farmasi nasional. President Director PT OTTO Pharmaceutical Industries, Sugeng Budiyono Wijanto, menyatakan bahwa kesehatan adalah pilar dasar pembangunan bangsa. Ia meyakini bahwa peran swasta bukan hanya sebagai penyedia produk, melainkan mitra strategis dalam mewujudkan akses layanan kesehatan yang merata. Dia menegaskan bahwa pihaknya ingin memberikan lebih dari sekadar produk, tetapi juga kontribusi nyata di lapangan. Hal ini diwujudkan melalui dukungan logistik, edukasi masyarakat, hingga penyediaan fasilitas skrining massal bersama pemerintah.

Sementara itu, Manager Dharma Dexa, Mateus Ramidi, menyampaikan bahwa pendekatan praktis dan langsung menyentuh masyarakat adalah kunci keberhasilan program ini. Menurutnya, langkah kecil seperti cek kesehatan bisa membawa perubahan besar. Inilah bentuk konkret dari semangat Expertise for the Promotion of Health yang mereka pegang teguh.

Mateus menambahkan, ketika masyarakat melihat langsung kemudahan dan manfaat dari pemeriksaan kesehatan berkala, maka tingkat partisipasi akan meningkat secara organik. Ia juga menekankan pentingnya konsistensi dan kesinambungan program agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang, terutama di daerah-daerah yang selama ini sulit dijangkau layanan kesehatan.
Inisiatif CKG tidak hanya menghadirkan layanan kesehatan secara gratis, tetapi juga menciptakan budaya sadar kesehatan di tengah masyarakat. Ini sejalan dengan transformasi layanan kesehatan berbasis promotif dan preventif yang saat ini dicanangkan pemerintah melalui berbagai instrumen kebijakan. Pemerintah pusat, melalui Kementerian Kesehatan, secara aktif mendorong pemerintah daerah untuk mengambil peran lebih besar dalam mendekatkan layanan kesehatan ke akar rumput, termasuk dengan memanfaatkan teknologi digital dan mobilisasi tenaga kesehatan spesialis.

Tak hanya sebagai solusi jangka pendek, program CKG ini diharapkan menjadi investasi jangka panjang bagi kualitas hidup masyarakat Indonesia. Dengan kesehatan yang lebih terjaga, produktivitas meningkat, dan beban pembiayaan negara di sektor kesehatan bisa lebih terkendali.

Keberhasilan pelaksanaan program ini juga menunjukkan bahwa dengan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan partisipasi aktif masyarakat, transformasi sektor kesehatan bukanlah mimpi kosong. Justru ini adalah langkah nyata menuju Indonesia yang lebih sehat, lebih kuat, dan lebih mandiri dalam menghadapi tantangan global.

Sudah Sepatutnya masyarakat menjadikan Program Cek Kesehatan Gratis sebagai gerakan bersama yang berkelanjutan. Pemerintah telah membuka jalan, tetapi keberlanjutan dan keberhasilan program ini sangat bergantung pada dukungan aktif dari seluruh elemen masyarakat. Jangan tunggu sakit untuk memeriksakan diri. Jadikan cek kesehatan sebagai gaya hidup baru demi masa depan yang lebih sehat dan sejahtera.

Mari kita dukung sepenuhnya kebijakan pemerintah dalam menyelenggarakan program CKG sebagai bagian dari strategi nasional kesehatan bangsa. Dengan langkah kecil bersama, kita bisa menciptakan perubahan besar bagi Indonesia.

(* Penulis merupakan pemerhati Kesehatan publik dari lembaga Dormi Medika Center

Penutupan PUIC ke-19 Hasilkan Deklarasi Jakarta sebagai Arah Baru Diplomasi Parlemen Islam

Jakarta – Konferensi ke-19 Uni Parlemen Negara-Negara Anggota Organisasi Kerja Sama Islam (PUIC) resmi ditutup pada Kamis (15/5) di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta. Ketua DPR RI sekaligus Presiden PUIC yang baru, Puan Maharani, secara resmi menutup perhelatan yang dihadiri oleh delegasi dari beberapa negara anggota.

Dalam pidato penutupannya, Puan menegaskan bahwa Deklarasi Jakarta yang dihasilkan dari konferensi ini mencerminkan tekad kolektif negara-negara Islam untuk memperjuangkan keadilan global, memperkuat tata kelola pemerintahan, dan mengokohkan peran perempuan dalam pembangunan dunia Islam.

“Deklarasi Jakarta yang telah kita hasilkan adalah bukti nyata suara kolektif parlemen dunia Islam. Kita telah sepakat memperjuangkan keadilan bagi Palestina, memperkuat tata kelola pemerintahan, mengokohkan peran perempuan, dan mendorong tatanan dunia yang lebih adil,” ujar Puan.

Sebagai tuan rumah, Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus mengawal implementasi dari setiap resolusi yang disepakati. Puan juga mengajak seluruh delegasi untuk membawa semangat Deklarasi Jakarta ke parlemen masing-masing sebagai wujud solidaritas negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

“Saya mengajak seluruh delegasi untuk membawa semangat dan isi deklarasi ini ke ruang sidang parlemen masing-masing, sebagai komitmen bersama untuk memperkuat solidaritas negara-negara OKI,” kata Puan.

Puan, yang tercatat sebagai Presiden perempuan pertama dalam sejarah PUIC, menyerukan agar kekuatan kolektif dunia Islam menjadi kontributor positif bagi perdamaian dan kesejahteraan global. Ia juga menyampaikan harapan bahwa para delegasi membawa kesan baik selama berada di Indonesia.

“Warisan kita bukan terletak pada besarnya gedung yang kita bangun, tetapi pada martabat yang kita pulihkan bagi setiap anak, perempuan, keluarga, dan mereka yang terluka oleh perang, kemiskinan, dan ketidakadilan,” tegas Puan.

Deklarasi Jakarta yang dibacakan oleh Ketua BKSAP DPR RI, Mardani Ali Sera, memperkuat arah baru diplomasi antarparlemen negara-negara Islam. Dokumen ini menekankan pentingnya kerja sama dalam menghadapi tantangan global serta memperkuat ketahanan sosial-ekonomi dan parlemen yang inklusif.

“Kami memutuskan untuk memperkuat kerja sama antar parlemen, berbagi pengetahuan, serta membangun inisiatif bersama guna menghadapi tantangan ekonomi global dan membangun lembaga perwakilan yang lebih baik dan inklusif,” ungkap Mardani.

Salah satu poin penting dalam deklarasi adalah dorongan untuk membentuk dialog tetap antar parlemen, termasuk dengan lembaga legislatif dari kawasan lain seperti Parlemen Eropa dan Kongres Amerika Serikat.

“PUIC mendorong pembentukan saluran dialog antar parlemen secara berkala, terutama dengan Parlemen Eropa dan Kongres Amerika Serikat, untuk bersama-sama mengatasi tantangan global yang semakin kompleks,” kata Mardani.

Deklarasi tersebut juga menekankan kerja sama konkret di berbagai bidang strategis seperti pendidikan, riset ilmiah, pemberdayaan perempuan dan pemuda, perdagangan intra-OKI, serta teknologi dan digitalisasi.

“Kita tidak hanya bicara solidaritas, tapi aksi nyata. Investasi di bidang pendidikan, perdagangan intra-OKI, serta digitalisasi adalah langkah konkret membangun ketahanan dan kemandirian umat,” tegas Mardani.

Dengan penutupan ini, Konferensi PUIC ke-19 menjadi tonggak penting bagi diplomasi parlemen Islam dan menandai babak baru bagi dunia Islam yang lebih terhubung, kuat, dan bermartabat melalui kerja sama yang berkelanjutan.

PUIC ke-19 Resmi Ditutup, Parlemen OKI Sepakati Deklarasi Jakarta Demi Perdamaian Dunia

Sidang ke-19 Parliamentary Union of the OIC Member States (PUIC) atau Parlemen OKI resmi ditutup di Jakarta dengan sukses menghasilkan Deklarasi Jakarta, yang menegaskan komitmen kolektif negara-negara anggota dalam mendorong perdamaian dunia, melawan Islamofobia, serta memperjuangkan hak asasi manusia secara universal.

Sidang PUIC ke-19 kali ini dihadiri oleh 9 ketua parlemen, 14 wakil ketua parlemen, serta organisasi internasional sebagai pengamat. Total peserta mencapai kurang lebih 450 orang dari 37 negara anggota OKI.

“Alhamdulillah, sidang ini juga menandai 25 tahun perjalanan UIC, sehingga sidang ke-19 ini sekaligus menjadi perayaan ulang tahun ke-25 atau silver jubilee,” ujar Ketua DPR RI Puan Maharani, di Kompleks Parlemen DPR, Jakarta, Kamis (15/5).

Dalam momen bersejarah ini, Indonesia secara resmi menerima mandat sebagai Ketua PUIC.

“Ini merupakan sebuah kehormatan, terlebih karena untuk pertama kalinya ketua parlemen negara-negara Islam dipimpin oleh seorang perempuan. Ini merupakan suatu kebanggaan bagi kita semua,” tegas Puan.

Puan juga menyampaikan bahwa dirinya telah melakukan lebih dari 10 pertemuan bilateral dengan berbagai negara anggota guna memperkuat kerja sama antarparlemen.

“Kami bersepakat untuk mempererat dan memperkuat hubungan antarparlemen, serta menjalin sinergi antara parlemen dan pemerintah” imbuhnya.

Salah satu poin penting hasil sidang adalah penegasan terhadap solusi dua negara untuk Palestina dan Israel, serta pembukaan akses kemanusiaan ke Jalur Gaza.

Deklarasi Jakarta juga menekankan pentingnya soft power dunia Islam melalui pendidikan, pemberdayaan perempuan, dan pemuda.

Ketua BKSAP DPR RI Mardani Ali Sera saat membacakan deklarasi menyatakan pentingnya melawan Islamofobia.

“Parlemen anggota PUIC kami serukan untuk aktif melawan Islamofobia, xenofobia, dan segala bentuk intoleransi dengan menunjukkan nilai-nilai Islam sebagai rahmatan lil-alamin. Kami juga mendorong dialog antaragama dan antarbudaya di forum parlemen.” Tuturnya.

PUIC juga menegaskan pentingnya diplomasi, dialog, dan rekonsiliasi berdasarkan Piagam OKI dan hukum internasional.

“Ini mencerminkan nilai musyawarah dalam Islam atau shoora,” ujar Mardani.

Penutupan PUIC ke-19 menandai peran strategis diplomasi parlemen dalam menciptakan dunia yang lebih damai dan inklusif.***

Hadirkan Suasana Hangat di PUIC 2025, Delegasi OKI Puji Indonesia Jadi Tuan Rumah yang Berkelas

JAKARTA – Para delegasi dari negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap penyelenggaraan Konferensi ke-19 Uni Parlemen Negara-Negara OKI atau Parliamentary Union of the OIC Member States (PUIC) yang digelar di Jakarta, 12–15 Mei 2025. Suasana hangat dan penuh semangat solidaritas tampak mewarnai sidang-sidang yang tengah berlangsung.

Ketua Parlemen Republik Pantai Gading Adama Bictogo, yang sebelumnya juga menjabat sebagai Presiden Uni Parlemen OKI, menyampaikan terima kasih secara langsung kepada Indonesia atas sambutan dan keramahan yang diberikan selama penyelenggaraan konferensi.

“Dengan penuh rasa haru dan sukacita, saya mengucapkan terima kasih kepada Indonesia atas sambutan yang begitu hangat dan keramahan yang kami terima di kota Jakarta. Penyelenggaraan konferensi ini mencerminkan komitmen kuat Indonesia dalam mempererat solidaritas antarnegara anggota OKI,” ujar Adama dalam pidato resminya.

Konferensi ini juga bertepatan dengan peringatan 25 tahun berdirinya Uni Parlemen OKI, yang menurut Adama telah menjadi “platform yang kokoh dalam membangun dialog, solidaritas, dan kerja sama antarparlemen di dunia Islam.”

Tak hanya menyampaikan apresiasi terhadap tuan rumah, Adama juga menyinggung pentingnya komitmen kolektif dalam menghadapi tantangan global. Ia menegaskan kembali pentingnya Deklarasi Abidjan yang dikeluarkan pada PUIC ke-18, yang menyerukan solidaritas menghadapi konflik global, perubahan iklim, terorisme, dan penindasan terhadap umat Islam, termasuk perjuangan untuk Palestina.

“Melalui konferensi ini, kita kembali menegaskan komitmen terhadap perjuangan Palestina, nilai-nilai keadilan dan perdamaian, serta penolakan terhadap ketidakadilan dan segala bentuk penindasan,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua BKSAP DPR RI Irine Yusiana Roba menyebut para delegasi menyambut baik kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam pembukaan konferensi. “Sebanyak 444 delegasi, itu menyatakan sangat terhormat atas kehadiran Presiden Republik Indonesia untuk pembukaan inaugurasi nanti,” ujarnya.

Konferensi PUIC ke-19 ini diikuti sekitar 500 peserta dari 37 negara anggota dan observer. Indonesia pun dinilai berhasil menunjukkan kepemimpinan regional dalam diplomasi parlementer. ****

Tutup Pelaksanaan PUIC ke-19, Dunia Puji Peran Strategis Indonesia

Oleh : Andri Wijaya )*

Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai aktor utama dalam memimpin perhelatan diplomasi global dunia Islam melalui pelaksanaan Konferensi ke-19 Persatuan Parlemen Negara-Negara OKI (PUIC) di Jakarta.

Selama empat hari penuh, dari 12 hingga 15 Mei 2025, Gedung DPR RI menjadi pusat perhatian dunia Islam sekaligus menjadi panggung yang sangat strategis dalam merumuskan bagaimana arah baru dari kerja sama antar parlemen negara-negara anggota OKI.

Penutupan konferensi tersebut tidak hanya menandai berakhirnya rangkaian agenda penting bertaraf internasional, tetapi juga sekaligus membuka babak baru bagi Indonesia sebagai pemimpin dialog dan solidaritas global.

Sejumlah pemimpin parlemen memberikan pengakuan secara terbuka terhadap bagaimana peran strategis Indonesia dalam mendorong terwujudnya transformasi PUIC. Ketua Parlemen Republik Pantai Gading, Adama Bictogo, menilai bahwa konferensi ke-19 mencerminkan adanya perubahan secara signifikan dalam dinamika internal organisasi tersebut. Di bawah kepemimpinan Indonesia, PUIC memasuki era baru yang ditandai oleh tata kelola yang lebih terstruktur dan semangat kolaboratif yang semakin kuat.

Menurut Bictogo, posisi Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar di dunia Islam memberikan legitimasi yang sangat kuat bagi peran barunya dalam membentuk bagaimana arah masa depan parlemen negara-negara OKI.

Indonesia dinilai sangat berhasil menghadirkan platform yang jauh lebih inklusif dan dialogis, sehingga semakin memperkuat suara kolektif umat Muslim dalam berbagai isu global. Komitmen Indonesia dalam mendorong solusi damai serta terus mempererat solidaritas antar negara Islam juga menjadi perhatian utama bagi dunia internasional.

Lebih dari sekadar tuan rumah, Indonesia melalui DPR RI menunjukkan bagaimana kapasitas diplomasi parlemen yang sangat matang. Ketua DPR RI, Puan Maharani, memanfaatkan konferensi tersebut sebagai sebuah momentum penting dan bersejarah untuk semakin memperluas jejaring kerja sama.

Dalam pertemuan bilateral dengan Ketua Dewan Rakyat Parlemen Malaysia, Tan Sri Dato’ Johari bin Abdul, Puan mendorong terwujudnya sinergi antar parlemen dalam upaya untuk mampu menjawab tantangan global secara bersama.

Melalui dialog tersebut, kedua negara sepakat untuk semakin memperkuat kerja sama di berbagai bidang strategis, termasuk sektor perdagangan digital dan penguatan UMKM, pertahanan kawasan, serta hubungan antar masyarakat.

Bagi Puan, kerja sama lintas sektor jelas menjadi sebuah dasar yang penting bagi terwujudnya stabilitas dan kesejahteraan kawasan. Ia juga menekankan mengenai betapa pentingnya membangun fondasi solidaritas melalui jalur diplomasi parlementer yang jauh lebih aktif, baik di level bilateral, regional, maupun global.

Puan melihat PUIC ke-19 sebagai ajang konsolidasi yang sangat penting untuk dapat merespons adanya tantangan global yang semakin kompleks belakangan ini, khususnya dalam isu-isu kemanusiaan.

Solidaritas antar parlemen dianggap menjadi hal yang sangat krusial untuk terus menumbuhkan ketahanan sosial di tengah dinamika geopolitik dunia yang fluktuatif seperti saat ini. Dalam forum tersebut, Puan juga menyampaikan pandangan bahwa kerja sama antar negara Muslim perlu diarahkan pada pemenuhan hak dasar, seperti pendidikan Islam yang lebih berkualitas dan upaya perlindungan anak-anak serta perempuan, terutama di wilayah konflik.

Lebih lanjut, Anggota Komisi III DPR RI, Gilang Dhielafararez, menambahkan bahwa hubungan antara Indonesia dan Malaysia sebenarnya telah lama terjalin dengan erat, baik secara budaya maupun geopolitik.

Dalam forum PUIC ke-19, relasi strategis tersebut semakin diperkuat melalui undangan secara langsung dari Ketua Parlemen Malaysia kepada Puan Maharani untuk menghadiri AIPA 2025 di Malaysia, yang menandakan betapa eratnya jejaring diplomatik yang telah dibangun Indonesia selama ini.

Konferensi PUIC ke-19 tidak hanya merayakan peringatan 25 tahun berdirinya organisasi tersebut, tetapi juga sekaligus menjadi ajang refleksi yang sangat penting atas perjalanan panjang parlemen negara-negara OKI dalam membangun solidaritas.

Sejumlah isu krusial menjadi pembahasan utama dalam forum ini, mulai dari situasi di Palestina, perlindungan kelompok minoritas Muslim, hingga resolusi terkait pendidikan dasar Islam dan Arab bagi anak-anak. Keseluruhan pembahasan mencerminkan arah baru PUIC sebagai wadah kebijakan yang lebih solutif dan berbasis nilai-nilai kemanusiaan.

Forum strategis tersebut juga menyoroti pentingnya partisipasi perempuan dalam proses politik. Minimnya keterwakilan perempuan di parlemen negara-negara anggota menjadi tantangan tersendiri.

Karena itu, dorongan untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam forum-forum global seperti PUIC mendapat perhatian serius. Di samping itu, suara-suara solidaritas terhadap anak-anak dan perempuan di wilayah konflik turut menguat, menyerukan dukungan finansial dan kemanusiaan yang lebih konkret melalui kerja sama internasional.

Rangkaian pertemuan yang berlangsung selama konferensi, termasuk pembahasan isu lingkungan, hak asasi manusia, dan dialog antar peradaban, memperlihatkan bagaimana forum PUIC telah berkembang menjadi lebih komprehensif dan relevan dengan tantangan zaman.

Dengan berakhirnya pelaksanaan PUIC ke-19, Indonesia dinilai berhasil memanfaatkan momentum tersebut untuk menegaskan peran strategisnya, bukan hanya sebagai penyelenggara, tetapi juga sebagai motor penggerak arah baru diplomasi Islam global.

Sebagai presidensi PUIC ke-19, DPR RI berhasil memikul tanggung jawab besar dalam menjaga semangat kolaboratif tersebut tetap hidup. Dunia internasional memberikan apresiasi tinggi terhadap Indonesia atas keberhasilan dalam membawa suara dunia Islam ke panggung global dengan pendekatan yang inklusif, demokratis, dan solutif. (*)

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Tutup PUIC ke-19 di Jakarta, Parlemen OKI Sepakati Penguatan Kerja Sama Ekonomi Hingga Budaya

Oleh : Cindy Ramadhani )*

Penyelenggaraan Konferensi ke-19 Parliamentary Union of the OIC Member States (PUIC) di Jakarta yang dimulai pada 12 Mei hingga 15 Mei 2025 menandai salah satu capaian diplomatik paling substansial yang berhasil diraih Indonesia dalam forum multilateral dunia Islam.

Konferensi tersebut bukan hanya menunjukkan kematangan diplomasi parlemen Indonesia, tetapi juga memperkuat posisi strategis negara ini di kancah internasional—terutama dalam menjembatani kerja sama negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Indonesia secara aktif mendorong isu-isu utama yang tidak hanya relevan secara global, tetapi juga menuntut perhatian khusus di lingkup negara-negara Muslim. Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, menekankan pentingnya kebijakan ekonomi yang responsif terhadap dinamika global.

Ia secara tegas menyuarakan keprihatinan terhadap kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat yang berdampak pada sektor industri nasional. Dalam forum PUIC, Indonesia menyampaikan perlunya langkah konkret untuk melindungi industri dalam negeri dari tekanan eksternal, termasuk melalui kerja sama lintas negara anggota PUIC yang saling menguatkan.

Upaya itu tidak semata bertujuan mempertahankan daya saing ekonomi nasional, melainkan juga menegaskan peran Indonesia sebagai pemimpin dalam membentuk solidaritas antarnegara Islam.

Rahayu mendorong pertukaran budaya sebagai instrumen strategis untuk memperkuat solidaritas tersebut. Menurutnya, pemahaman yang mendalam antarbudaya akan membuka ruang kesetaraan dan inklusivitas di antara bangsa-bangsa Islam, meski Indonesia sendiri bukan negara Islam secara konstitusional. Justru melalui pendekatan ini, Indonesia mampu membangun posisi sebagai aktor sentral dalam pembentukan aliansi baru yang lebih dinamis, adil, dan progresif di lingkungan PUIC.

Dalam bidang ekonomi, Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP), Ravindra Airlangga, menyoroti stagnasi volume perdagangan antarnegara anggota OKI yang masih terjebak di angka 19 persen dari total perdagangan luar negeri dalam periode 2019 hingga 2023.

Angka tersebut tergolong rendah dibandingkan dengan integrasi ekonomi yang dicapai oleh kawasan lain seperti Uni Eropa atau ASEAN. Ravindra menyampaikan bahwa kondisi itu menjadi sinyal kuat bahwa kerja sama ekonomi antarnegara Islam masih jauh dari optimalisasi.

Sebagai langkah ke depan, Indonesia menginisiasi pentingnya pembentukan rantai pasok halal lintas negara, peningkatan konektivitas logistik, serta penguatan kebijakan perdagangan berbasis syariah.

Potensi pasar halal global yang diperkirakan mencapai 2,4 triliun dolar AS pada 2026 menjadi alasan utama mengapa negara-negara OKI perlu bergerak cepat dan strategis. Indonesia, dengan infrastrukturnya yang kian membaik dan basis produksi halal yang luas, berpotensi menjadi katalisator utama dalam mendorong ekonomi berbasis halal antarnegara anggota PUIC.

Sementara itu, Anggota BKSAP DPR RI, Mohamad Sohibul Iman, mengangkat isu yang tak kalah penting: perlindungan komunitas Muslim minoritas. Diskriminasi terhadap kelompok ini di berbagai belahan dunia dinilai tidak bisa lagi direspons secara sporadis.

Sohibul mengusulkan pembentukan panitia khusus PUIC yang bertugas memantau perkembangan regulasi di negara-negara di mana Muslim menjadi minoritas. Menurutnya, diskriminasi struktural yang muncul dari regulasi negara sangat sulit diubah jika sudah terlembagakan dalam bentuk undang-undang. Oleh karena itu, pemantauan sejak dini diperlukan untuk mencegah pembentukan kebijakan diskriminatif tersebut.

Usulan Sohibul itu sekaligus memperlihatkan arah baru diplomasi Indonesia yang kini semakin menjangkau isu-isu kemanusiaan transnasional, terutama dalam kerangka hak-hak minoritas dan inklusivitas global. Posisi Indonesia dalam menyuarakan perlindungan terhadap komunitas Muslim minoritas menjadi semakin kuat berkat reputasinya sebagai negara demokrasi Muslim terbesar di dunia.

Salah satu bukti konkret keberhasilan diplomatik Indonesia dalam PUIC ke-19 tercermin dalam pertemuan bilateral dengan Wakil Ketua Parlemen Qatar, Hamda Binti Hassan. Diskusi strategis antara kedua delegasi membahas peluang kerja sama pertahanan, termasuk produksi alutsista dan pelatihan militer bersama, yang diarahkan dalam kerangka Perjanjian Kerja Sama Pertahanan. Kolaborasi ini diharapkan mempererat kemitraan strategis dan membuka ruang pertukaran kapasitas di sektor militer antarnegara Muslim.

Tak hanya di bidang pertahanan, pembahasan juga menyentuh kerja sama ketenagakerjaan dan diplomasi budaya. Kontribusi lebih dari 24 ribu tenaga kerja Indonesia di Qatar menjadi titik masuk penguatan hubungan bilateral yang lebih inklusif. Pemerintah Qatar bahkan menunjukkan komitmen dalam pelindungan hak-hak tenaga kerja, sebuah langkah penting dalam membangun hubungan yang lebih setara.

Penguatan diplomasi budaya menjadi sorotan tambahan, khususnya pasca-penunjukan Indonesia sebagai negara mitra dalam program Year of Culture 2023. Inisiatif lanjutan yang melibatkan pemuda, seniman, dan pelaku kreatif dari kedua negara dinilai menjadi fondasi kuat untuk menumbuhkan pemahaman lintas budaya secara berkelanjutan.

Apresiasi dari berbagai negara anggota, termasuk dari Parlemen Qatar dan Gambia, atas kesuksesan penyelenggaraan PUIC ke-19 di Jakarta, menjadi validasi nyata atas diplomasi efektif yang dijalankan Indonesia. Forum ini tidak sekadar menjadi ruang diskusi, tetapi menjelma sebagai momentum akseleratif yang mendorong terciptanya jejaring kerja sama konkret lintas sektor dan negara.

Melalui pendekatan multiarah yang mencakup sektor industri, ekonomi halal, diplomasi budaya, hingga perlindungan minoritas Muslim, Indonesia menunjukkan kapasitasnya sebagai aktor sentral yang tidak hanya menyuarakan nilai, tetapi juga menghadirkan solusi. PUIC ke-19 menjadi panggung strategis yang memperkuat reputasi Indonesia sebagai penggerak diplomasi Islam yang moderat, inklusif, dan berbasis kerja sama nyata. (*)

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute